( Drabble ) Emergency

tumblr_m1bpb98Xq11qbalato1_500

Pimthact present

Starring by Yoona Im and Luhan Xi

PG13+ – romance

“it just drabble series for celebrate yoona birthday”

enjoy for read this fanfiction — hope u like it

 xiumin

Sorakan-sorakan dan teriakan para gadis tadi sekarang digantikan dengan kesunyian. Semuanya diam melihat seseorang yang terjatuh di tengah lapangan hanya karena kaget dengan lemparan bola. Tunggu-tunggu—- bukan masalah bola itu terlempar sekencang apa, tapi siapa yang terkena bola itu.

Bagaimana ketua basket itu bisa selemah itu? Tapi yang namanya kejadian bisa terjadi kapan saja, kan? meskipun itu memalukan atau tidak. Maksudku,hey— sebisa apapun dia bermain, tapi tetap saja kan kerebohoan bisa terjadi.

Tapi yang diruntuki sang kapten basket itu adalah-sialnya, dia melakukan saat para gadis menonton-nya. Oh, hilang sudah image dan prioritasnya. Dia merasakan jarinya mengeluarkan darah karena luka nya yang besar. Saat ia berdiri ia meringis. Tapi bukan lah luka itu yang membuatnya meringis, namun tatapan kaget semua orang yang mengarah padanya.

Untuk mencairkan suasana, Jongsuk maju selangkah mendekati ketua tim basket itu atau bisa disebut dengan namanya, Luhan. “Kau harus pergi ke ruang kesehatan, selain jarimu, kaki kirimu sepertinya juga mengeluarkan darah,”

Luhan hanya mengangguk kaku kemudian menjauh dari lapangan. Beberapa gadis yang dilewatinya menawarkan pertolongan, tapi Luhan hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia bisa melakukan itu sendiri.

Sesampainya di ruang kesehatan, ia melihat hanya satu orang gadis saja disitu. Namun gadis itu membelakanginya.  Luhan mengira gadis itu adalah petugas piket ruangan kesehatan itu. Maka dari itu Luhan duduk di dekat pintu dan sedikit membuat kegaduhan untuk mencari perhatian petugas piket ruang kesehatan itu.

Seperti mendengar suara yang dibuat Luhan, gadis itu membalikan tubuhnya untuk melihat siapa yang membuat suara itu. Namun saat gadis itu berbalik, kedua nya langsung terdiam sambil menatap satu sama lain.

Selama beberapa saat bertatapan, gadis itu yang mengakhiri tatapan itu dan kemudian berjalan mendekat Luhan. tidak-tidak, bukan Luhan yang ia tuju, tapi meja yang terletak di sebelah Luhan. Gadis itu kemudian duduk di meja itu sambil menatap Luhan dengan tatapan datar.

Gadis itu kemudian duduk di belakang meja itu dengan kursi yang sudah disediakan. Dia membuka buku tanda hadir. “Ada masalah apa?”

“Kaki-ku dan jari-ku mengeluarkan darah,” ucap Luhan gugup menahan malu, tapi ucapan-nya itu hanya mendapatkan satu alis yang terangkat dari gadis yang berada di-hadapannya, “Jatuh saat bermain basket.”

Gadis itu menuliskan sesuatu di buku tanda hadir tanpa mengucapkan sepatah kata-pun. Luhan bisa melihat jelas poni gadis itu yang bergerak-gerak sendiri saat gadis itu menghapus tulisan-nya. Gadis itu kemudian sedikit terkejut saat melihat Luhan menatapnya dengan tatapan—idiot?

“Tunggu sebentar,” pinta gadis itu sambil berjalan ke-arah kotak obat. Saat sudah selesai memilih obat, Gadis itu kemudian berjongkok dihadapan Luhan untuk melihat luka di kaki Luhan.

Kemudian Gadis itu langsung memberikan tissue yang baru saja diberi alkohol agar tidak menyebabkan infeksi di luka itu. Selanjutnya gadis itu mempersiapkan obat merah dan menuangkan-nya dikapas. Kapas itu kemudian ditekan-tekan ke arah luka Luhan.

Luhan mengerang pelan, dan gadis itu kemudian meringis pelan. “Tahan sedikit, ini sedikit perih,”

Saat kaki Luhan sudah selesai yang diakhiri dengan memberinya sedikit balutan mitela di kakinya-Gadis itu kemudian duduk disebelah Luhan dan melihat jari Luhan dan langsung memegang-nya. Sontak itu membuat Luhan terkejut.

Gadis itu kemudian memberikan tissue yang tadi diberikan alcohol seperti tadi. Kemudian memberikan sedikit betadine. Saat gadis itu hampir memberikan handsaplast, sontak Luhan menarik jarinya.

Gadis itu kaget dan langsung menatap wajah Luhan yang ternyata memiliki jarak yang sangat dekat dengan-nya. Luhan langsung kalap saat gadis itu meminta penjelasan melewati matanya. Oh shit, she has a beautiful eyes, batin Luhan.

“Jangan memakai handsaplast bisa kan? kau tau itu sedikit mengganggu jika aku sedang bermain basket,” tutur Luhan yang membuat gadis itu menatapnya bingung.

“Oh ayolah, benda kecil ini tak mungkin mengganggumu. Tapi terserah, jika kau ingin luka itu cepat sembuh dan tertutup, kau bisa keluar dari ruangan kesehatan ini sekarang.” ucap Gadis itu tanpa basa-basi.

Luhan malah menatap lama gadis itu kemudian tersenyum, “apa kabar?”

“Kau bisa kel–“

“kau banyak berubah ya, sudah mulai cerewet seperti dulu. Kupikir karena putusnya hubu—“

“Jangan mengungkit masalah yang lalu. Kau bisa keluar sekarang,” ucap gadis itu penuh tekanan yang membuat Luhan langsung terdiam.

Jadi sekarang, biar aku perjalaskan mengapa menjadi terbelit-belit seperti ini. Luhan adalah mantan gadis itu-as known as Yoona. Yoona adalah mantan Luhan. Mereka dulu dibilang pasangan paling serasi dan kemudian untuk bulan ke-7 hubungan mereka, mereka berpisah. Dan bulan itu adalah rekor bagi Luhan dengan subjek ‘bulan terlama berpacaran’. Oh ayolah, mereka berpisah dikarenakan Luhan menduakan Yoona dengan gadis lain.

Meskipun Luhan memiliki sifat yang baik, jangan salah bahwa dia adalah seorang playboy. Bahkan hampir semua gadis cantik di sekolah-nya dia pacari, termasuk Yoona. Entah itu berpacaran didasari sebuah perasaan atau tidak. Dan kabarnya, hubungan-nya dengan Yoona menjadi kacau dan sangat hancur ketika kejadian itu. Bukan, bukan Luhan yang hancur, tapi Yoona.

Jadi Yoona menjadi dingin dan tak ‘berperasaan’ juga karena Luhan. Jika ada pilihan orang yang paling dibenci oleh gadis itu, maka gadis itu langsung menunjuk Luhan sebagai pilihan yang pertama. Maka dari itu, Yoona sekarang hanya terdiam saat Luhan menatap-nya instens.

“Baiklah, pasang-kan handsaplast itu dijariku,” pinta Luhan dengan pelan. Yoona kemudian mengangguk dan langsung memasangkan handsaplast itu dengan hati-hati di jari Luhan. Sedangkan Luhan?

dia menatap wajah Yoona yang begitu dekat ini. Semuanya tidak berubah, masih cantik, seperti dulu. Mendadak, dada Luhan bergemuruh, ingin segera memegang wajah itu segera. Untung dia memiliki etika dan otak yang bisa ia andalkan, dan beruntungnya, dia bisa menahan sikapnya.

Namun, matanya tak bisa ia andalkan, matanya terus terpaku pada wajah Yoona. Yoona yang akhirnya sudah selesai memasangkan handsaplast itu, kemudian terkejut-lagi, karena tatapan Luhan yang menguncinya.

“Walau kau berubah, kenapa kau tetap membuatku jatuh dalam pesonamu?” Dan kali ini, Yoona ingin menampar mulut Luhan yang daridulu selalu berbicara sekenanya.

FIN

Luhan & Xiumin done, who’s next?

28 thoughts on “( Drabble ) Emergency

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s