(Freelance) Still You (END)

still you

Still You (End)

 

 

Author                        : Chobi
Tittle               : Still You
Cast                 : Kim Jongin,
Im Yoon Ah

Support cast    : JB,Tao, Sehun

Genre              : Action, Romance (?)
Rating                         : PG
17
Length             : Chapter

Disclaimer       : FF ini murni, asli buatan aku sendiri. Semua cerita yang ada disini cuma karangan aku aja, GAK NYATA. Typo bertebaran bak daun-daun yang berguguran di musim gugur. Jadilah pembaca yang baik.

 

 

Lepaskan mereka!!” Perintah Jongin dengan menatap dalam mata Jino.

Jino berjalan mendekat kearah Jongin dengan terus mengarahkan pistolnya ke wajah Jongin.

Jackson mengeratkan balok yang ada ditangannya, lalu dengan tenaga yang ia punya ia melemparkan balok itu kearah dua orang yang ada di belakang Agnes, dan balok itu tepat mengenai kepala seseorang itu sekaligus mengenai kepala seseorang yang ada dibelakang Jiwon.

Aakk!!” Darah segar keluar dari kepala salah seorang dan satunya lagi tak sadarkan diri karena ketika ia terjatuh kepalanya membentur tumpukan besi yang ada di sebelahnya.

Mendengar teriakan itu Jino berbalik.

 

DOR!!

Peluru melesat kencang dari pistol yang digenggam Jino kearah Jackson dan mengenai dadanya.

Eemmpp!!” Ringis Jackson, nafasnya langsung terengah-engah menahan sakit.

Jackson!!!” Teriak JB sembari berlari mendekati tubuh sahabatnya.

Mendengar teriakan JB, Jino segera berbalik dan mengarahkan pistolnya ke arah JB, Jongin yang mengetahui apa yang akan di lakukan Jino, ia berlari kencang dan menarik JB ke belakang.

DOR!!

 

Emmp!” Peluru kedua tepat mengenai lengan kanan Jongin.

JB tersungkur jatuh, ia langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Jongin yang menatap ke arahnya sembari memegang lengannya yang tertembak.

Darah terus keluar dari lengan Jongin. Ia menggigit bibirnya sendiri untuk menahan sakit akibat timah panas yang bersarang di lengannya.

Mark mengeratkan kepalan tangannya, dengan cepat ia memberontak dan membuat kedua penjaga yang memegangnya terhentak ke belakang.

Jino kembali mengarahkan pistolnya ke arah Mark. Namun lagi-lagi Jongin bertindak lebih cepat, ia berbalik dan menendang Jino yang berada di jangkaunnya tepat di dadanya.

 

BUG!!

“Akkh!!”

Jino tersungkur dan pistolnya terlempar jauh darinya.

Segera JB berlari ke arah Jackson yang tergelatak dilantai, darah terus mengucur dari tubuhnya, ia berusaha menghentikan darah yang keluar.

Kim Jongin..” Panggil Mark yang melihat Jongin dengan cemas, ia melihat darah terus menetes ke lantai.

Tanpa berbalik Jongin berkata. “Urus saja Adikmu..

Mark mengikuti apa permintaan Jongin, ia berlari ke arah tempat dimana kedua gadis yang amat disayanginya sedang terikat, sempat ragu, akhirnya Mark memilih untuk membantu adiknya terlebih dahulu.

Di saat yang bersamaan Sehun dan Jihyun datang menghampiri Jongin. “Hyung,, aku tidak menemukan Tao” lapor Sehun pada Jongin.

Oh.. Jongin-ah,, lenganmu” Jihyun menyadari lengan Jongin terus menerus mengeluarkan darah.

Jiwon..” Ucap Jongin lemah.

Jihyun terlihat semakin khawatir. “Jongin-ah..

Bantu dia..” Ucap Jongin, wajahnya mulai dipenuhi oleh keringat.

Jihyun meninggalkan Jongin dan menghampiri Jiwon yang masih terikat. Ia segera melepaskan tali yang ada di tubuh Jiwon.

Hyung.. Pergilah ke rumah sakit, aku yang akan mencari Tao” ucap Sehun dengan wajah yang gelisah.

Jongin mengabaikan ucapan Sehun, ia berjalan mendekati Jino dan di saat itu juga ia menginjak dada Jino. “Dimana dia?” Ucapnya penuh penekanan.

Jino tersenyum meremehkan. “Yak Kim Jongin, kau pikir sampai kapan kau akan bertahan?” Tanya Jino sembari melihat lengan Jongin yang terus menerus mengeluarkan darah.

Jongin semakin menekan kakinya di dada Jino. “DIMANA DIA??” Teriak Jongin.

Sehun berdiri di sebelah Jongin dengan wajah yang cemas.

Hyung..

Di saat itu juga datang segerombolan polisi dan langsung mengamankan beberapa penjahat yang sudah tergeletak.

JB berlari ke salah satu polisi dan menariknya ketempat Jackson tak sadarkan diri. “Kumohon selamatkan dia!!

Polisi itu melihat luka tembak di dadanya, ia memanggil beberapa rekan polisinya dan langsung membawa Jackson pergi kerumah sakit, JB mengikuti polisi itu.

Mark melihat Jiwon sedikit membuka matanya dan melihat kearahnya sebelum tubuh Jiwon dibopong oleh salah satu polisi untuk dilarikan ke rumah sakit, Mark akhirnya membopong tubuh Agnes mengikuti jejak polisi yang membawa Jiwon.

Dimana dia??!!” Teriak Jongin lagi sembari mencekik leher Jino, Sehun mencoba menjauhkan Jongin dari Jino, ia tidak ingin hyung kesangannya ikut masuk kedalam penjara karena membunuh, Sehun membiarkan polisi memborgol Jino dan membawanya pergi.

AAARRRGGHH!!!” Teriak kesal Jongin.

Di saat itu juga, tiba-tiba matanya terfokus akan sebuah gagang pintu yang berada tepat dibawah kursi yang sempat diduduki Agnes, ia menyingkirkan kursi itu dan berjongkok, memegang gagang pintu itu lalu mengangkatnya.

Beberapa Tangga terlihat dan sebuah penerang lampu berwarna kuning, Sehun bergegas turun mendahului Jongin ke bawah menggunakan tangga itu. Sehun berlari kesebuah lorong untuk mencari Tao.

Kim Jongin..” Panggil Jino, ia berhenti sejenak.

Jongin yang hendak ikut menuruni tangga pun menoleh ka arah Jino.

Bu-San” ucap Jino tanpa mengeluarkan suara sembari tersenyum licik, lalu ia kembali berjalan pergi dengan dua orang polisi yang memegangnya.

Sembari terus memegangi lengannya, Jongin mengerutkan keningnya, ia masih menerka-nerka apa yang baru saja di ucapkan Jino.

Hyung!!” Teriak Sehun.

Jongin mengabaikan ucapan Jino dan segera turun menghampiri Sehun.

Ia berlari ke arah sumber suara, bau amis sudah menusuk indra penciumannya dan matanya terbelalak melihat seseorang dengan wajah ditutup kain putih yang berada di atas meja panjang dengan keadaan bagian tengah tubuh yang sudah membelah dan banyak sekali darah berceceran.

H-h-yung..” Sehun memegang pergelangan tangan Jongin, kakinya mendadak lemas dan bergetar.

Jongin berjalan gontai, ia sudah banyak kehabisan darah, matanya sayup-sayup memandang sekitar dengan buyar, namun ia tetap mendekat ke arah mayat diikuti Sehun dibelakangnya, tangannya memegang kain putih yang ada di wajah seseorang tersebut, ia menguatkan keberaniannya terlebih dahulu untuk memastikan siapa seseorang di balik kain putih itu.

Perlahan Jongin membuka kain itu dengan menahan nafasnya, Sehun yang tak sanggup menerima jika itu adalah Tao, ia lebih memilih menutup kedua matanya dan menyembunyikan dirinya dibelakang Jongin.

Jongin bernafas lega ketika wajah mayat itu bukanlah Tao, mendengar suara Jongin Sehun membuka lebar matanya.

Tao-yaa” ucapnya lemas.

BRUG!!

Tiba-tiba Jongin jatuh ke lantai, nafasnya terengah-engah, tubuhnya semakin melemas.

Hyung!!” Teriak Sehun kaget, ia segera membantu Jongin berdiri dan membawanya pergi.

Hyung.. Kau masih sadar kan? Hyung!! Kumhon!!” Sehun berusaha membawa Jongin yang masih tersadar, namun sudah tak betenaga.

Ketika sampai di tangga, dengan mata yang masih sedikit terbuka Jongin melihat sebuah pintu. Ia menahan Sehun untuk berhenti.

Di sa na” tunjuk Jongin.

Sehun mengerti maksud Jongin, ia pun membawa Jongin ke pintu yang di tunjuk. Sehun membuka pintu itu dan semakin terkejutlah ia mendapati sahabatnya Tao dalam keadaan yang sangat sangat sangat memprihatinkan. Kemeja putih seragam sekolahnya sudah berwarna merah darah, wajahnya babak belur, tangan terikat, kaki terikat, bahkan jika bukan Jongin atau Sehun yang melihatnya tidak akan ada yang mengenali wajah Tao saat itu.

Tao-ya!!” Panggil Sehun menahan air mata yang nyaris membasahi pipinya.

Di saat yang bersamaan Jongin hilang kesadaran dan jatuhlah lah ia ke lantai, di susul Sehun karena ia tidak bisa mengimbangi Jongin.

Seoul

12.00 siang

TUT TUT TUT

Terlihat Tao berada di atas tempat tidur dengan perlengkapan rumah sakit yang membantu dirinya untuk bernafas. Insiden kemarin harus membuat dirinya terbaring koma.

Di rumah sakit yang sama, terlihat Jongin tengah terbaring lemah tak sadarkan diri dengan jarum infus yang menancap di tangannya, wajahnya sangat pucat.

Jiwon berada tepat di samping Jongin, matanya terlihat membengkak. Sedari pagi, Jiwon tengah berusaha menghubungi posel Yoona, namun ponselnya sedang tidak aktif.

Jiwon berdiri, ia membenarkan selimut Jongin lalu bergegas pergi.

Di saat Jiwon pergi, sedikit demi sedikit mata Jongin mulai terbuka, lalu ia memandangi ruangan yang menurutnya asing.

Ia memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Ia mulai memutar memory kejadian kemarin yang membuat dirinya harus terkapar tak sadarkan diri.

Tiba-tiba mata Jongin membuka lebar, sontak ia bangun dan duduk di atas tempat tidurnya. Ia teringat akan ucapan Jino, ia baru sadar bahwa Jino mengucap kata ‘bu san’.

Jongin segera mengambil ponsel yang ada di mejanya, ia mengaktifkannya lalu dengan segera menghubungi Yoona, namun tak ada jawaban, di saat yang bersamaan, ia mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal, pesan itu berisikan sebuah alamat dan ancaman keselamat Yoona.

Setelah menyadari apa yang sedang terjadi, Jongin mencabut infusnya dan pergi berlari meninggalkan ruangannya dengan masih memakai pakaian rumah sakit.

Jiwon memergoki kakaknya tengah berlari kencang dan menghentikan sebuah taksi. “Oppa!! Jongin Oppa!!” Teriak Jiwon.

Melihat Jongin melesat pergi. Ia segara menghubungi Sehun dan berlari menhentikan taksi dan segera manaikinya.

Di jam yang sama dan di tempat yang berbeda, Yoona tengah berada di ruangan dengan mata tertutup dan kaki tangannya terikat.

Tiba-tiba masuklah seorang pria dan membawa Yoona keluar. Yoona terus memberontak dan berteriak minta di lepaskan.

TOLONG!! Kumohon siapapun tolong aku!!” Teriak Yoona sembari terus memberontak.

Diam!!” Bentak si pria.

Tolong!!!” Teriak Yoona lagi.

Yak!!” Si pria mendorong Yoona dan membuat tubuh mungilnya membentur sebuah tumpukan besi.

Ah..” Ringis Yoona.

Cepat atau lambat, kau dan kekasihmu akan pergi dari dunia ini. Hahaha” ucap si pria sembari berjalan mendekati Yoona.

Akh!!” Ringis Yoona karena rambutnya baru saja di tarik.

Kau tahu, seluruh bisnisku keluargaku hancur! Seluruh pekerja dan keluargaku di penjara! Menurutmu apa yang pantas kau dapatkan atas perbuatan kekasihmu dan teman-temannya? Eoh?

Akhh” ringis Yoona sembari menangis. Kulit kepalanya terasa sangat perih karena rambutnya terus menerus di tarik.

Sakit? Apa ini sakit?

Akkkkhh..” Yoona berteriak kesakitan ketika rambutnya semakin di tarik.

Lalu bagaimana denganku? Siapa lagi yang akan bersamaku sekarang? Mereka membantuku terbebas dari polisi, kini saatnya aku membalas kebaikan mereka. Aku akan membunuhmu!” Ucap si pria dengan penuh penekanan.

Tolo..

PLAK!!

Akh..

Belum sempat Yoona menyelasaikan ucapannya, pipinya terasa sangat panas karena tamparan keras dari si pria.

Tunggulah beberapa saat, kekasihmu akan datang dan kalian akan menjemput kematian bersama” pria itu tersenyum licik.

Yoona sudah tidak punya tenaga lagi walau hanya untuk sekedar berucap.

Semalam setelah kepergian Jongin, ia berniat menyusul kekasihnya ke Seoul. Ketika di perjalanan, tiba-tiba saja ada seorang yang memakasanya masuk ke dalam mobil dan membawa dirinya sampai di tempat yang sekarang.

Satu jam kemudian

Jongin tiba di tempat yang dituju, ia memasuki sebuah gudang besar dengan lankah seribu. Yang ada dipikiranna sekarang adalah keselamatan kekasihnya.

Dari kejauhan, Jongin melihat sesosok gadis tengah berbaring di dalam ruangan yang cukup besar dan sedikit tertutup asap. Jongin berlari kencang dan masuk ke dalam ruangan itu.

Jongin menghampiri Yoona yang terkapar lemah. “Yoona-ah.. Im Yoona!!” Jongin menggerak-gerakan tubuh Yoona.

 

BUM!!

Jongin menoleh ke arah belakang, ternyata pintu ruangan tersebut sudah tertutup. Ia baru menyadari bahwa dirinya dan Yoona berada di dalam ruangan pendingin.

Ia bergegas jalan ke arah pintu dan berusaha membukanya, sebisa mungkin ia menarik pintu gagang untuk membukanya, namun sia-sia saja, karena pintu hanya bisa dibuka dari luar.

Jongin-ah..

Jongin menoleh ke arah Yoona, ia bergegas menghampiri kekasihnya dan mengangkat tubuh Yoona ke dalam pangkuannya. Miris sekali ia melihat wajah kekasihnya penuh dengan lebam.

Yoona-ah..” Jongin memegangi wajah Yoona yang terasa sangat dingin. Saat itu juga ia membuka kaos yang dipakainya yakni kaos rumah sakit dan melilitkannya di tubuh Yoona, sehingga ia bertelanjang dada.

Yoona memegang pipi Jongin lalu tersenyum. “Kau baik-baik saja?” Ucapnya terbata.

Jongin tidak menjawabnya, melainkan ia membawa Yoona dalam dekapannya untuk menghangatkannya.

Apa kita akan mati disini?” Tanya Yoona lagi.

Tidak!! Jangan pernah berfikir seperti itu!” Jongin mengeratkan pelukannya.

Jongin membawa Yoona kedalam pelukannya.

Aku merindukanmu~” ucap Yoona.

Jongin menatap Yoona, tidak dipungkiri bahwa ia juga memikirkan bahwa bisa saja mereka akan mati bersama di tempat itu, memikirkan hal itu ia semakin cemas.

Melihat Jongin terus menatapnya, Yoona tersenyum pada Jongin. “Boleh aku bertanya?” Dengan suara yang lemah, tangannya menggenggam jemari Jongin.

Jongin mengangguk.

Sebenarnya sampai saat ini, apa status hubungan kita?” Pertanyaan yang keluar dari mulut Yoona membingungkan Jongin.

Hemm??” Jongin menatap bingung Yoona.

Yoona menarik Jongin kedalam pelukannya. “Apa aku hanya sebatas teman kecilmu saja?

Jongin tersenyum lalu menarik wajah Yoona untuk menatapnya. “Apa kau ingat yang aku katakan 13 tahun yang lalu di pantai Haeundae?

Yoona menggeleng.

 

CUP

Dengan kilat Jongin mengecup singkat bibir Yoona. “Kubilang padamu…. Ketika kita bertemu lagi kau masih tetap menjadi kekasihku!!

Yoona terdiam, entah kenapa matanya semakin terasa sulit terbuka. “Maafk..

 

CUP

Jongin mendaratkan bibirnya pada bibir Yoona membuat Yoona berhenti berbicara.

Lalu tak lama ia melihat mata Yoona perlahan mulai menutup.

Yoona-ah.. Yak.. Im Yoona” Jongin kembali menggerak-gerakan tubuh Yoona. Namun Yonna tak memberi respon dan matanya tertutup rapat.

IM YOONA!!” Teriak Jongin.

Di saat yang bersamaan, pintu ruangan pendingin terbuka.

Seoul

11.00 Siang

Hujan yang deras jatuh membasahi kota Seoul, sejak pagi sampai siang hari, matahari pun enggan menampakan sinarnya, seakan akan mereka turut merasakan bagaimana sedihnya kehilangan sahabat terbaik untuk selama-lamanya. Setelah bertahan tiga hari dari komanya, Jackson harus meninggal karena kekurangan banyak darah.

Ibu Jackson tidak henti-hentinya menitikan air matanya di depan makam sang anak. Begitu pun dengan teman-temannya yang tak kalah sedihnya. Air mata mereka mengalir bersamaan dengan air hujan.

Got’s3 Basacamp

18.30

Setelah berdiam diri di makam Jackson begitu lama, Mark dan JB kembali ke basecamp tempat dimana banyak kenangan Jackson bersama mereka.

Dengan masih menggunakan pakaian yang sama dengan yang dipemakaman, Mark masuk kedalam kamar Jackson dan berjalan menuju ke meja dimana sebuah foto terpampang disana, foto dirinya bersama dengan Jackson dan Agnes, ia mengambilnya lalu Mark duduk di tepian tempat tidur.

 

Flashback

 

“Aaakk!! Hyung!! Mark Hyung!!” Teriak Jackson yang lehernya sedang dijapit oleh lengan Agnes.

 

“Rasakan itu Wang Jackson!!” Teriak JB yang sedang membalikan daging yang sedang di panggang.

 

“Hyung!! Kurasa adikmu memakan besi setiap harinya!!” Teriak Jackson.

 

“HAHAHAHA” Mark tertawa terbahak, sebenarnya bisa saja Jackson lepas dari japitan Agnes dengan mudah, namun ia memilih untuk menerima apa saja yang diperlakukan Agnes padanya.

 

“Agnes!! Yak!!” Teriak Jackson sembari tertawa.

 

“Rasakan ini!! Hahaha” Agnes semakin erat menjapit leher Jackson.

 

Flashback end.

 

Mark mengulang kembali semua memori yang terekam di otaknya ketika bersama Jackson.

Di lain tempat, JB sedang memandangi motor Jackson yang selalu menemani kegiatan apapun yang dilakukan Jackson.

 

Flashback

 

“Hyung.. Maafkan aku sekali ini saja” Jackson mengikuti kemana perginya JB demi untuk mendapatkan kunci motornya kembali.

 

Ketika JB hendak masuk kedalam kamarnya, Jackson menahannya dengan jari-jarinya, namun karena JB terlalu keras dan cepat untuk menutup pintunya, akhirnya tiga jari Jackson terjepit disana. “Aakkkkkk!!! Hyungg!! Aaakkkkk!! Sakittt!!” Jerit Jackson kesakitan.

 

“Oh.. Yakk!! Aishh!! Kenapa kau jepitkan jarimu disana?!” JB panik melihat Jackson yang kesakitan, bayangkan saja betapa kuat dan kerasnya kayu jati yang menjepit jemari Jackson.

 

“Aakkkhh~” Jackson akhirnya duduk di lubang pintu kamar JB dan menangis sembari memegangi jemari tangannya.

 

“M-maafkan aku..” JB berlari ke arah dapur, ia mengambil es batu di dalam kulkas untuk mengompres jari Jackson agar tak membengkak besar.

 

Selagi JB mengompres jari-jari Jackson, Jackson menyandarkan kepalanya di bahu JB.

 

“Eeei!! Minggir!!” JB menggoyangkan bahunya.

 

“Aahhh Hyung~” Jackson memaksa menyandarkan kepalanya disana.

 

“Selesai!! Kembali ke kamarmu sekarang” JB berdiri sehingga membuat Jackson jatuh kesamping karena sandarannya tiba-tiba menghilang.

 

Jackson menyodorkan kedua tangannya ke arah JB. “Hyung.. kembalikan kunci motorku” pinta Jackson dengan ucapan dan gaya yang dibuat seimut mungkin.

 

JB merinding bukan main melihat Jackson bertingkah seperti itu, ia tidak tahan lagi melihatnya.

 

“Ini.. Pergilah!!” JB menaruh kunci motor Jackson di atas telapak tangan Jackson.

 

“Aaaakkkk… Hyung!! Terimakasih banyak!! Saranghaeyooooo Hyung!! Mwaaahhhh!!” Jackson mendaratkan bibirnya di pipi JB lalu mengibrit lari keluar kamar.

 

“Akkkkk!!!” Teriak JB tidak terima.

 

Flashbank end.

JB tertawa mengingat kejadian beberapa tahun silam yang pernah dialaminya bersama Jackson. Ia mengusap kedua matanya yang sudah menampung banyak sekali air mata yang hanya sekali kedip saja bisa langsung menumahkan semua air mata yang telah ditampungnya.

Mianhae… Saranghae….” Ucap JB sangat pelan.

Rumah Jackson

19.00

Ibu Jackson bersama dengan Agnes sedang berada di kamar Jackson, mereka berada di atas tempat tidur dan saling berhadapan. Ibu Jackson meminta langsung kepada Agnes agar mau menemaninya tidur satu malam dikamar Jackson bersamanya, Agnes sempat terpikir untuk menolak karena ia pasti hanya akan merepotkan namun akhirnya ia memenuhinya.

Ini..” Ibu Jackson memberikan sebuah cincin berwarna perak kepada Agnes.

Ini cincin milikmu, Ibu?” Agnes mengambilnya dan melihatnya.

Ibu Jackson mengangguk sembari tersenyum.

Cantik sekali..” Puji Agnes, lalu hendak mengembalikannya pada Ibu Jackson.

Cincin itu untukmu” ucap Ibu Jackson.

Ne?? Untukku?” Agnes tampak bingung.

Beberapa hari yang lalu, Jackson datang dan ia menangis sejadi-jadinya dipangkuanku

Flashback

Jackson sedang menangis tersedu dipangkuan Ibunya. “Kau kenapa nak?? Ceritakan pada Ibu?” Ucap Ibu Jackson penuh rasa khawatir.

 

“Aku menyakitinya Bu..” Ucap Jackson dengan terus menangis.

 

“Siapa yang kau maksud?”

 

Jackson semakin menangis kencang. “Agnes?” Tanya Ibu Jackson lagi.

 

Jackson mengangguk.

 

“Kenapa kau menyakitinya? Apa yang kau lakukan padanya?” Ibu Jackson mengelus puncak kepala anaknya.

 

“Aku terlalu cemburu.. Tidak seharusnya aku seperti itu Bu” jawab Jackson polos.

 

Ibu Jackson tersenyum.

 

“Apa yang membuatmu cemburu? Lalu kau melakukan apa padanya?”

 

“Aku..” Jackson bangun dari tidurannya lalu menatap Ibunya.

 

“Apa aku tidak tampan? Apa aku kurang baik Bu?”

 

Ibu Jackson tersenyum lagi.

 

“Kau tampan.. Kau baik.. Kau sempurna dimataku.. Tapi Ibu tidak tahu bagaimana dirimu dimata orang lain kekeke”

 

“Aish!! Ibu!! Sainganku untuk mendapatkan Agnes kembali sangatlah sulit Bu, dia lebih tinggi dariku,,, dia lebih tampan dariku, dia lebih baik dariku,, dia lebih semuanya dariku.. Dan aku akui dia memang sempurna,, maka dari itu aku sangat membenci bocah tengik itu”

 

“Ssttt!! Kau tidak boleh berkata seperti itu. Tuhan menciptakan manusia dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing.. Bersyukur dengan apa yang kau punya sekarang” Ibu Jackson membelai sayang pipi Jackson.

 

Jackson mengangguk.

 

“Aku tidak akan memaksanya lagi untuk tetap berada disisiku.. Ibu benar cinta tidak bisa dipaksakan, mungkin aku hanya akan menyiksanya jika aku memaksanya lagi”

 

“Begitulah.. Itu yang harus kau lakukan.. Jika memang kau berjodoh dengannya dia akan kembali padamu bagaimanapun itu caranya..”

 

Jackson mengambil sesuatu di kantung celananya. “Ku kembalikan padamu Ibu…” Jackson menyerahkan cincin berwarna perak pada Ibunya.

 

“Kenapa kau kembalikan??”

 

“Ibu bilang, aku harus menyerahkan cincin ini kepada calon istriku kan?”

 

Ibu Jackson mengangguk.

 

“Calon istriku sudah ada yang punya sekarang,, aku mempercayai dia untuk menjaga Agnes dikemudian hari,, Huang Zi Tao, itu namanya Bu, jika kau bertemu dengannya kau harus memberinya hukuman kekeke.. Anni.. Aku hanya bercanda.. Aku benar-benar sudah merelakan jika Agnes bersamanya”

 

“Umurmu masih sangat muda Jackson, kau masih punya banyak waktu untuk mencari calon istrimu yang lain” ucap Ibu Jackson.

 

“Aku tidak akan menikah Bu”

 

“Kenapa?”

 

“Aku ingin bersama dengan Ibu selamanya,, sampai kapanpun aku akan bersama Ibu.. Tinggal bersama Ibu, pergi keluar negeri bersama Ibu, semua kegiatanku akan kulalui bersama dengan Ibu” Jackson memeluk tubuh Ibunya.

 

“Ibu Saranghaeyooo”

 

“Ibu, Agnes dan kedua Hyungku sampai kapanpun tetap ada dihatiku selamanya… Aku sangat bersyukur mempunyai kalian disekelilingku”

 

Flashback end.

 

Agnes kembali menitikan air matanya setelah mendengar cerita dari Ibu Jackson. “Tidak.. Aku tidak pantas menerimanya Bu” Agnes menyerahkan kembali cincin itu pada Ibu Jackson.

Ibu Jackson menghapus air mata yang membasahi wajah Agnes, lalu menarik tangan kiri Agnes dan memasangkan cincin itu di jari manis tangan Agnes. “Siapapun nanti yang akan menjadi pendampingmu, kau harus mengenalkannya padaku. Kau mengerti?

Bu..

Hemm?

Maafkan aku.. Maafkan aku Bu” Agnes semakin terisak.

Ibu Jackson mendekat kearah Agnes dan memeluknya, tanpa disadari air matanya pun juga ikut menetes membasahi wajah pucatnya.

Lima hari kemudian..

Pantai Heundae, Busan

17.00

JB dan Yoona terlihat sedang berjalan menyusuri tepian pantai. JB meminta dikirimi alamat Yoona yang di Busan karena ia ingin menemuinya.

Aku cukup mengenalnya.. Dia anak yang ceria, aku selalu tertawa jika berada di dekatnya” ucap Yoona mengingat kenangannya bersama Jackson.

Beberapa hari sebelum kepergiannya, aku selalu mengabaikannya… Aku sangat menyesalinya” sesal JB.

Pelajaran untukmu… Jangan mengabaikan siapapun yang berada didekatmu,, atau kau akan menyesalinya ketika orang itu pergi

JB menoleh kearah Yoona.

Benar!! Kalau begitu kau tidak boleh mengabaikan perasaanku atau kau akan menyesalinya!!” JB tersenyum penuh arti.

Eemmm…. Kurasa itu berbeda topik!!” Sanggah Yoona.

Haha.. Bagaimana keadaanmu?” JB teringat akan insiden yang menimpa Yoona.

Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja” balas Yoona.

Dimana Jongin?

Dia pergi ke Amerika menemui Orangtuanya” Jawab Yoona santai.

Jawabanmu terdengar sedih” goda JB.

Tidak!!” Bohong Yoona. Bagiamana ia merasa tak sedih, setelah ia tersadar dari pingsan karena kejadian beberapa waktu lalu, Jongin sudah tidak ada di Korea.

Aku sudah tidak punya kesempatan kan? Baiklah, aku meresteuimu. Berkencanlah dengannya” JB sudah mengetahui bahwa Jongin dan Yoona adalah sepasang kekasih, setelah ia pernah diselamatkan oleh Jongin ia berniat membalas kebaikan Jongin dengan merelakan Yoona.

Siapa kau? Aku tidak memerlukan restumu” ucap Yoona tajam.

Mwo?” JB menoleh ke arah Yoona.

Yoona membalasnya dengan menjulurkan lidahnya.

JB tertawa melihat tingkah Yoona, ia merangkul pundak Yoona dan memeluknya. “Terimakasih atas waktu yang telah kau berikan padaku!

Aakk!! Lepas!!” Yoona menjulurkan lidahnya kembali lalu berlari menjauh dari JB.

Kemari kau!!” JB berlari sekencang mungkin, ia mendapati Yoona dan langsung membopongnya, dibawalah Yoona ke tepian pantai yang dangkal airnya hendak menjeburkan Yoona kesana.

Akkk!! Shireo!! Akkkk!! JB!! Shireo!!!!!” Teriak Yoona sembari mengeratkan kedua tangannya dileher JB supaya ia tidak bisa dilempar begitu saja.

JB membawa Yoona terus menjauh dari tepian sehingga setengah tubuhnya sudah terendam air, dan disaat itu ia menenggelamkan tubuhnya dan otomatis Yoona ikut terbawa kedalam air.

Tak lama JB mengangkat tubuhnya dan membenarkan rambutnya disusul Yoona dengan menunjukan muka marahnya.

YAKKKKKKKK!!!

JB tersenyum, dilanjut dengan menyipratkan air ke arah Yoona.

Kau jarang mandi kan?? Ayo cepat mandi!!

Aakk!! Yak!!” Yoona menampik air itu menggunakan kedua tangannya.

 

 

 

 

 

2 TAHUN KEMUDIAN….

 

Sogang University, Seoul

Pukul 11.00 siang

Universitas itu berdiri di pusat kota Seoul, tepatnya di wilayah Mapo-gu. Dengan mengedepankan moto ‘Be Proud of Sogang, as Sogang is Proud of You’, student yang belajar disana pun sangat antusias. Standard pengajarannya bagus, bisa dilihat dari berbagai afiliasinya dengan Organisasi internasional seperti International Federation of Catholic Universities (IFCU) dan Association of Christian Universities and Colleges in Asia (ACUCA). Berbicara tentang area studinya, kampus itu memiliki beberapa program yang tergolong favorit antara lain : Arts, Humanities, Business, Social Sciences, Engineering, Science, Economics, Culture dan Technology.

Mark memarkirkan motornya lalu berjalan memasuki area kampus, selang beberapa detik ponselnya berdering menandakan ada sebuah panggilan, ia pun langsung mengangkatnya.

Eoh??” Jawab Mark pada seseorang yang sedang berbincang dengannya di telpon.

Aku tahu!! Kau mau mengabariku berapa kali?? Aish!!” Jawabnya kesal, sembari terus melangkahkan kakinya memasuki ruangan belajar mengajar dan duduk di bagian tengah.

Hyung!!!” Panggilan seseorang dari arah pintu membuat Mark menoleh, ia melambaikan tangannya dan seseorang itu datang menghampiri Mark.

Baiklah..” Mark mematikan panggilan ditelponnya.

Seorang lelaki tampan nan tinggi yang masih mengenakan pakaian basketnya yang tadi memanggil Mark berbisik ditelinga Mark.

Mata Mark membuka lebar setelah mendengar informasi yang didapat darinya, ia berlari meninggalkan kelas.

Hyung!! Good luck!!” Teriak lelaki itu.

Di pinggir lapangan terlihat seorang perempuan sedang terduduk di sebuah kursi panjang, ia berpakain sangat feminim dengan rok pendek diatas lutut berwarna tosca, memakai kemeja panjang berwarna hitam serta flatshoes berwarna tosca dan rambut gelombangnya dibiarkan teruai, ia sedang sibuk memperhatikan beberapa lelaki yang sedang asik bermain basket dan sesekali matanya menatap layar ponsel yang ada di pangkuannya.

Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang duduk bersebelahan dengannya, spontan perempuan itu mengambil tasnya yang ia taruh disebelah agar tak memakan tempat.

Kim Jiwon-ssi kau calon mahasiswa baru disini? Kenapa kau baru masuk sekarang? Adikku dan kedua temanmu sudah lebih dulu berkuliah disini” Mark bertanya sembari menoleh kearah perempuan yang ada disebelahnya.

DEG!!

Suara yang sangat dikenali oleh Jiwon membuat detak jantungnya seakan berhenti. Perempuan yang mempunyai nama lengkap Kim Jiwon itu menoleh perlahan kearah Mark.

Aku hanya ingin menundanya,,” jawab Jiwon.

Mark tersenyum.

Kau tidak terlalu terkejut dengan kehadiranku disini?

Jiwon menghela nafasnya, menstabilkan detak jantungnya agar tidak terlalu berdetak cepat.

Aku tahu kau kuliah di kampus ini Oppa,, hanya saja aku tidak memperkirakan kau akan datang menyapaku seperti ini” Jiwon mengalihkan pandangannya kearah lapangan.

Ini..” Mark memberi Jiwon sebuah minuman kaleng yang sudah terlebih dahulu ia buka.

Jiwon menerimanya dan langsung menegaknya sedikit demi sedikit.

Kau mengambil jurusan apa?” Tanya Mark yang masih setia menatap Jiwon.

Manajemen” jawab Jiwon singkat.

Aku bisa membantumu berkeliling kampus ini

Jiwon menoleh kerah Mark dan tersenyum. “Tidak perlu.. Seseorang yang sedang kutunggu akan mengajakku berkeliling kampus ini

Siapa?” Tanya Mark cepat.

Jongin?? Apa dia sudah kembali?” Mark menebak.

Oppa~ kau tidak ada jam masuk kelas sekarang?

Emm~

Jiwon-ah!!” Terdengar suara laki-laki.

Kris Oppa!!

Sebelum Mark menjawab suara laki-laki dari arah belakangnya menghentikannya karena tiba-tiba Jiwon berdiri dan meninggalkannya, Jiwon memeluk tubuh lelaki yang tingginya jauh berbeda dengannya dan lelaki itu tampak seperti orang bule bercampur mandarin.

Mark semakin merasa terabaikan ketika Jiwon dan Kris pergi begitu saja tanpa menoleh kearahnya. “Aish!!” Mark berdecak kesal.

Setelah kejadian yang menimpanya dan kawan-kawannya dua tahun yang lalu, Mark langsung mengakhiri hubungannya dengan Jiwon, karena ia merasa bersalah atas insiden tersebut. Namun ketika waktu berlalu, seolah ia menyesali keputusannya, dan ia mulai mencari tahu lagi tentang Jiwon.

Rumah Jackson

Pukul 15.00

Tampak seorang wanita tua berdiri menghadap ke sebuah foto besar yang terpampang didinding tanpa mengedip sekalipun.

 

Jackson-ah,, Ibu sangat merindukanmu… Ucap Ny. Wang dalam hati dan setetes air mata turun membasahi pipinya. Ia mengusap air matanya lalu berbalik pergi, ketika ia membalikan badannya ia dikejutkan oleh sesosok pria tampan berdiri tak jauh dihadapannya.

Oh!! Tao-ya…

Tao tersenyum, ia merentangkan kedua tangannya lalu berjalan menghampiri Ibu Jackson dan memeluknya. “Ibu.. Kau pasti sangat merindukannya kan? Peluk aku sepuasmu, walaupun tidak sepenuhnya memuaskan rindumu padanya

Ibu Jackson menepuk punggung Tao beberapa kali dan mengelusnya.

Setahun yang lalu, seminggu pasca kepergian Jackson, Ibu Jackson mengajak pergi Agnes untuk menjenguk Tao yang masih di rawat di rumah sakit, walaupun sempat menolak, namun akhirnya Agnes mau mengikuti perkataan Ibu Jackson yang sudah di anggap sebagai Ibunya, semenjak hari itu, kini hubungan mereka terus berjalan dan semakin dekat saja, bahkan Ny Wang lah yang menjadi jembatan agar Tao dan Agnes bisa memadu kasih tanpa terus di bayang-bayangi meninggalnya Jackson. Tao tak pernah absen untuk datang menemui Ibu Jackson setiap harinya, sekaligus untuk bertemu dengan Agnes yang ikut tinggal bersama Ibu Jackson.

Ny Wang pergi ke kamarnya. Tao melihat Agnes berada di dapur, lalu ia pergi menghampirinya.

Apa yang kau masak hari ini?” Tanya Tao yang berdiri di samping Agnes.

Makanan kesukaan Ibu..” Jawab Agnes sembari menoleh ke arah Tao.

Tao mengelus puncak kepala Agnes dengan lembut.

Sudah!!! Hentikan drama romantis kalian!!” Mark sudah berdiri menghadap Tao dan Agnes.

Oppa~” Agnes langsung berbalik menghadap Kakaknya.

Nanti malam,, kau pergi dengan siapa?” Tanya Mark pada adik semata wayangnya.

Tentu saja denganku Hyung” jawab Tao mendahului Agnes.

Kau pergi bersamaku” Ucap Mark pada Agnes.

Dan kau bawa Jiwon ke acara nanti malam!!” Pintanya pada Tao.

Hyung!! Jiwon sudah pasti datang bersama saudara sepupunya,, karena saudara seppupunya menjalin kerjasama dengan perusahaan JB Hyung

Saudara sepupu?” Tanya Mark lagi memastikan sembari memikirkan lelaki yang tadi bertemu dengannya saat di kampus.

Hemm” jawab Tao sembari mengangguk.

Kris?” Tanya Mark lagi.

Hemm.. Kau tahu dari mana?” Tanya bingung Tao.

Ahhhhh jadi dia saudara sepupunya…

Hyung!!” Panggil Tao.

Mark menoleh kearah Tao.

Dekati Kris Hyung.. Karena Jiwon banyak bercerita tentangmu ke Kris Hyung maupun istrinya

Bercerita tentangku?” Tanya Mark lagi.

Tao mengangguk.

Fighting Hyung!!” Tao memberi semangat Mark.

Oppa fighting!!” Agnes mengikuti ucapan Tao. Mark berlalu meninggalkan begitu saja Tao dan Agnes.

JB’s House

Pukul 19.00

Eonni~” Jiwon berjalan mendekati Yoona yang sudah menyambutnya di dekat pintu masuk.

Kau cantik sekali Jiwon-ah” puji Yoona yang melihat gaun berwarna pastel yang dikenakan Jiwon.

Kau lebih cantik dariku” Jiwon pun juga memuji gaun berwarna merah muda yang dikenakan Yoona.

Bagaimana denganku?” Canda Kris yang setia berada disamping Jiwon.

Kris!!” Sapa Yoona, ia tidak menyadari kehadiran Kris disana.

Kris membalas sapaan Yoona dengan senyuman.

Masuklah.. Akan kupanggilkan JB” Yoona menuntun Kris dan Jiwon masuk kedalam dimana acara akan segera dimulai.

Yoona mencari keberadaan JB, akhirnya ia melihat JB sedang berbincang dengan rekan kerjanya dari Amerika, Yoona pun menghampiri JB.

Yoona berbisik di telinga JB, setelah mendengar ucapan Yoona ia pun langsung menoleh kearah yang ditunjuk Yoona dan melambaikan tangannya pada Kris dan Jiwon, JB pun membungkuk sopan pada tamu yang sedang berbicara dengannya tadi untuk berpamitan pergi.

JB berjalan mendekati Kris dan mereka saling berjabat tangan, berbeda dengan Jiwon yang mendapat pelukan hangat dari JB. “Kau cantik Kim Jiwon” ucap JB sambil tertawa.

Tentu saja.. Dan kau tidak tampan sama sekali mengunakan setelan jas seperti itu” ejek Jiwon sembari melihat penampilan JB dari ujung kaki sampai rambut.

Ucapan Jiwon membuat JB, Kris dan Yoona tertawa.

Jae Bum atau biasa dipanggil JB baru saja membuka bisnis sorum motor sport di Korea, setelah Ayahnya meninggal ia bertekad untuk melanjutkan bisnis Ayahnya walaupun di berbeda negara, dan bisnis yang ada di Amerika sudah sangatlah besar dan yang memimpin adalah Ibunya.

Di awal bisnisnya, JB mengajak Yoona untuk menjadi sekertarisnya dan Yoona langsung menerimanya karena gajinya juga yang sangat menggiurkan, dan sampai akhirnya resmi dibuka, Yoona masih setia mendampingi kemana perginya JB berbisnis sekalipun keluar negri.

Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan, tak terkecuali Mark yang datang seorang diri, Mark berjalan mendekati JB dan Kris yang sedang berbincang.

Bisa aku berbicara denganmu??” Tanya Mark langsung kepada Kris.

Kris tertawa. “Dengan senang hati

Kalian saling mengenal?” Tanya JB bingung.

Jiwon yang memperkenalkan kami… Aku keluar sebentar” ucap Kris lalu meninggalkan JB.

Tao dan Agnes sedang berpamitan pada JB dan Yoona untuk pulang duluan sebelum acara selesai, tak lama Kris dan Jiwon juga berpamitan pulang.

Jiwon dan Kris jalan menyusuri halaman. “Aku sudah memanggilkan taksi untukmu, aku juga sudah memberikan alamat apartamenmu, dan biayanya kau bayar sendiri..

Yak~” rengek Jiwon.

Kris dan Jiwon tiba di depan taksi, kris membukakan pintu untuk Jiwon dan Jiwon pun masuk kedalam.

Aku mau langsung ke Bandara,, salam untuk Jongin jika dia pulang nanti” ucap Kris.

Pengantin baru susah sekali berpisah sebentar” canda Jiwon.

Kau tahu itu Kim Jiwon kekek

Taksi Jiwon melesat pergi, Kris melambaikan tangannya pada Jiwon sampai taksi itu hilang disebuah tikungan.

30 menit kemudian

Sungai Han

Pukul 00.40

Jiwon tertidur pulas di dalam taksi, bahkan ketika taksi itu tidak mengantarkannya ke apartemennya ia tidak tahu.

Supir taksi itu membuka topinya, ia melihat kearah belakang dan menggeleng tidak percaya. “Ckckck.. Dia mudah sekali jadi korban penculikan. Apa yang akan Jongin lakukan jika dia tahu adiknya sangatlah ceroboh

Mark keluar dari taksi yang disewanya, ia menghirup udara malam yang dinginnya bukan main, tak lama ia masuk lagi kedalam taksi dan duduk disebelah Jiwon di kursi belakang.

Jaket Jiwon terbuka, membuat Jiwon merasakan dingin di sekitar dadanya dan tidurnya menjadi terusik. Mark yang melihat itu dengan sigap membenarkan jaket Jiwon agar Jiwon tetap hangat.

Mark memautkan jemari tangannya dengan jemari-jemari halus Jiwon. Ia mendekatkan telapak tangan Jiwon ke dadanya dan menatap kedua mata terpejam Jiwon. Aku tidak tahu bahwa selama ini kau masih menyayangiku.. Lalu kenapa kau selalu bersikap jutek padaku? Jika itu rencanamu untuk membuatku semakin merindukanmu,, kau sangat berhasil Kim Jiwon, rencanamu dengan Kris Family sangat berhasil. Aku sangat menyesal pernah melepaskanmu.. Maafkan aku,,, pasti aku sangat menyakitimu..

 

Eemm” Jiwon merubah posisi tidurnya dan tidak sengaja kepalanya menyandar di pundak Mark.

Mark memegang pipi Jiwon dengan salah satu tangannya lagi, ia menatap wajah Jiwon sangat lama, sampai akhirnya sedikit demi sedikit kepalanya mendekat dan bibir Jiwon dengan bibirnya sudah sangat dekat jaraknya, namun tiba-tiba mata Jiwon terbuka dan langsung terdiam layaknya batu, Mark pun sontak berhenti ketika mata Jiwon menatapnya.

 

Apa ini mimpi? Oppa~ aku tidak ingin bangun… Jiwon kembali menutup kedua matanya. Mark sempat ragu untuk melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda, namun akhirnya ia menempelkan bibirnya pada bibir Jiwon.

 

Eoh.. Apa dunia mimpi seperti ini? Kenapa jantungku berdetak sangat tidak karuan. Dengan mata tertutup Jiwon masih bergulat dengan pikiran-pikirannya.

Ini bukan mimpi!! Tidak!! Ini pasti mimpi!!” Jiwon mendorong Mark menjauh.

Akk!!” Kepala Mark terbentur pintu. Ia mengelus bagian kepalanya yang terasa sakit.

Kau baik-baik saja? Ahhh maafkan aku” ucap Jiwon.

Mark hanya bisa mengusap kepalanya yang sakit.

Benar!! Ini bukanlah mimpi” ucap Jiwon menyadarinya.

Oppa!! Bagaimana bisa kau ada disini?? Cepat jelaskan!!” Tuntut Jiwon.

Kris Hyung sudah menceritakan semuanya, bahkan kini ia lebih tahu tentangku daripada diriku sendiri.. Maafkan aku Kim Jiwon” Mark menarik Jiwon dan memeluknya erat.

Kim’s Apartemen

Pukul 08.00

Hari libur yang sangat suram untuk Yoona. Ia sudah menunggu sosok kekasih yang seharusnya pulang minggu yang lalu namun Jongin menunda kepulangannya dari Amerika karena ada pertemuan mendesak dengan Ayahnya dan rekan kerjanya. Mirisnya lagi kabar itu ia dapati dari sekertaris Jongin.

9 bulan yang lalu. Jongin memutuskan untuk mengambil cuti kuliahnya dan pergi ke Amerika menemui Ayahnya untuk belajar berbisnis, Ayahnya sudah menuntutnya untuk melanjutkan bisnisnya karena ia merasa sudah semakin berumur dan tidak bisa bekerja terlalu keras lagi. Jongin kembali ke Korea setiap 3 bulan sekali, dan itu hanya untuk melihat keadaan adiknya dan kekasihnya, setelah itu ia kembali ke Amerika.

Yoona sedang memasak ramyeon untuk dirinya dan Jiwon. Jiwon sendiri hanya terduduk diam di depan meja makan sembari menatapi ponselnya.

Keberangkatanmu jam berapa?” Tanya Yoona sembari menaruh semangkup ramyeon.

Jam 11 siang” jawab Jiwon.

Berapa lama kau disana? Kau sudah memberitahu Jongin?

Tentu saja sudah. Aku pergi ke Amerika bukan hanya untuk berlibur dengan Mark, Eonni, aku juga merindukan orang tuaku” jawab Jiwon.

Pertemuan dua keluarga maksudmu? Aish!! Kau masih muda jangan berpikir untuk menikah!” Ucap Yoona.

Haha.. Eonni, kau cemburu padaku ya? Haha. Kau sudah tidak sabar menjadi Ny Kim rupanya hahaha” Jiwon tertawa puas.

Yak!!” Kesal Yoona.

Akan ku laporkan nanti setelah aku bertemu dengan Jongin Oppa

TUK!

Akk” ringis Jiwon, karena Yoona memukul kepalanya menggunakan sumpit.

Eonni~” rengek Jiwon.

!@#$%^&* !@#$%^&* !@#$%^&*

Di saat yang bersamaan, Jiwon dan Yoona mendengar seseorang yang sedang memasukan password agar bisa masuk ke apartemennya.

Mereka berlari ke arah pintu. Yoona sangat yakin bahwa orang itu adalah Jongin, karena tidak ada yang tahu password apartemen mereka kecuali dirinya, Jiwon dan Jongin.

Di sisi lain, Jiwon ingin tertawa terbahak melihat wajah Yoona yang sangat berharap bahwa seorang yang akan datang adalah Jongin, sedangkan ia tahu bahwa orang itu adalah Mark.

Pintu terbuka dari luar, dan terlihatlah Mark.

YAK??!!” Kaget Yoona sekaligus kesal, harapannya tidak terkabulkan.

Ada apa?” Wajah Mark memancarkan kebingungan.

HAHAHAHA Eonni~ kau kasihan sekali, Hahaha” Jiwon tertawa sembari berjongkok menahan sakit diperutnya karena terus tertawa.

Yak!! Bagaimana bisa kau masuk?” Tanya Yoona pada Mark.

Mark menjawab pertanyaan Yoona dengan melirik ke arah Jiwon yang masih tertawa terpingkal.

Kau!!” Yoona berjongkok dan memukul berkali-kali bokong Jiwon.

Akk.. Ahahha.. Akk..” Jiwon berteriak sembari terus tertawa.

Siapa yang mengizinkanmu memberi password rumah pada orang lain? Eoh? Kau benar-benar!” Yoona terus memukuli Jiwon sembari beroceh ria.

Sudah hentikan!!” Mark menarik Yoona agar menjauh dari Jiwon, lalu ia pun membantu Jiwon berdiri.

Eonni, memang kau saja yang bebas memasukan pria kesini? Enak saja! Aku juga bisa” Jiwon menjulurkan lidahnya, ia menarik Mark ke dalam dan meninggalkan Yoona.

Apa? Pria? Yak!! Pria itu adalah Kakakmu Kim Jiwon!!” Bentak Yoona sembari berjalan masuk mengikuti Jiwon.

Pukul 23.00

Yoona tengah berdiri di depan kasir swalayan terdekat dari tempat tinggalnya. Ia hendak membeli keperluannya yang sudah mulai menipis.

Setelah selesai membayar, Yoona kembali ke apartemennya dengan menjinjing dua plastik putih besar. Ia memasukkan password, dan terbukalah pintu apartemennya. Namun tiba-tiba ia terdiam memandangi sepasang sepatu yang berada dilantai .

Jongin.. Ucapnya dalam hati.

Tiba-tiba Yoona tersenyum penuh arti. “Ahh.. Kau menunda penerbanganmu untuk mengerjaiku Kim Jiwon

Yoona menaruh belanjaannya di atas meja dan berteriak memanggil Jiwon dan Mark. “Yak!! Kim Jiwon! Mark!! Kalian pikir kalian bisa menipuku lagi eoh?

Yoona berjalan menuju kamar Jiwon, namun ia tak menemui siapa pun. Kakinya pun melangkah ke kamar Jongin, dan ia membuka pintunya.

AAAAKKKK!!!” Jerit Yoona melihat Jongin yang tidak mengenakan pakaian atasnya dan hendak membuka celana panjangnya, dengan cepat ia menutup pintunya kembali.

Yoona berdiri menyandar di pintu tersebut sembari menstabilkan detak jantungnya yang tidak karuan.

Hampir saja..” Ucapnya dengan terengah.

CEKLEK!!

Aaak~” Yoona terhuyung kebelakang ketika Jongin membuka pintu kamarnya, namun Jongin secara reflek menangkap tubuh Yoona yang hampir menyentuh lantai.

Jongin menatap dalam mata kekasihnya yang sudah lama tak dilihatnya.

Detak jantung Yoona semakin tak karuan ketika Jongin menatap dalam matanya, terlebih lagi Jongin masih dalam keadaan yang sama yakni tidak memakai pakaian atasannya. Ia pun menelan ludahnya sendiri dan segera berdiri tegak.

Kau kapan sampai?” Tanya Yoona untuk menghilangkan kegugupannya.

Baru saja..” Jawab Jongin sembari menarik salah satu tangan Yoona dan membawanya dalam pelukan.

Yoona kembali terdiam dan saat itu juga wajahnya semakin bersemu merah ketika kedua tangannya menyentuh kulit punggung Jongin.

Akkk..” Yoona menjauhkan dirinya dari tubuh Jongin. Ia teringat akan kekesalannya pada Jongin karena tak pernah mengabarinya.

Ia mendengus sebal. “Kau! Tidak pernah mengabariku jika kau menunda kepulanganmu! Sesibuk itu kah dirimu di sana!! Eoh?

Jongin mengabaikan keluhan kekasihnya itu, ia menarik tubuh wanitanya agar mendekat ke tubuhnya, tangan kirinya menelusup ke leher Yoona yang tertutup rambut, dan tangan kanannya ia lingkarkan di pinggang ramping Yoona.

Perlahan namun pasti, Jongin mendekatkan bibirnya ke bibir mungil Yoona, seakan tersihir oleh tatapan Jongin, Yoona menutup kedua matanya dan ia pun melingkarkan kedua tangannya di tubuh ramping Jongin. Bibir Jongin menempel di bibir merah muda Yoona.

Pukul 07.00 Pagi

Yoona mengulat di atas tempat tidur milik Jongin, dengan selimut halus yang menutupi setengah tubuhnya. Sedangkan bagian atas tubuhnya masih ditutupi dengan pakaian yang sama seperti semalam.

Matanya perlahan membuka dan sosok pertama yang dilihatnya adalah Jongin yang sedang tersenyum padanya. Yoona pun balas tersenyum dan semakin mendekatkan tubuhnya pada Jongin.

Jongin membawa Yoona dalam pelukannya, ia mengecup berkali-kali puncak kepala kekasihnya itu.

Terimakasih.. Sudah menjagaku” Ucap Yoona pelan.

Sudah kubilang, aku tidak ingin melakukannya sebelum ada ikatan pernikahan..” Jawab Jongin yang menanggapi ucapan Yoona.

Yoona membalasnya dengan tersenyum, ia memegang kedua sisi kepala Jongin dengan kedua tangannya.

CUP

Yoona mengecup kening Jongin.

CUP

Yoona mengecup kedua pipi Jongin.

CUP

Yoona mengecup pucuk hidung Jongin yang mancung.

Yoona tersenyum kembali. “Cepat bangun! Akan kusiapkan sarapan untukmu

Yoona hendak bangun dari tempat tidurnya, namun Jongin menahannya. “Kau harus adil!!” Ucap Jongin sembari memajukan bibirnya.

Aahh sudah cepat bangun!!” Yoona menolaknya dan segera meninggalkan Jongin.

Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan nanti jika kau tak mau melakukannya sekarang!” Ucap Jongin yang sudah duduk di atas tempat tidurnya.

Mendengar ucapan kekasihnya itu, Yoona sontak menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik. Ia berjalan mendekat ke tempat Jongin dan dengan cepat menarik leher Jongin agar mendekat kearahnya.

Yoona memandang mata Jongin yang sedikit terkejut. Tak membuang waktu lama, ia menempelkan bibirnya pada bibir Jongin. Ia menggoda Jongin agar membalas kegiatannya, namun ketika Jongin hendak membalasnya, Yoona menyudahinya.

Dengan senyuman yang menyebalkan menurut Jongin, Yoona beranjak pergi. “Cepat mandi!” Ucapnya tanpa berbalik.

Aish!! YAK!! Kau Lihat saja nanti!!” Kesal Jongin sembari melempari bantal yang ada didekatnya ke segala arah. Saking kesalnya Jongin pun melanjutkan tidurnya tanpa mempedulikan perintah Yoona.

30 menit kemudian…

Yoona sudah menyiapkan omurice buatannya di meja makan. Namun Jongin tak kunjung keluar dari kamarnya, ia pun pergi ke kamar Jongin dan mendapati Jongin tengah tertidur pulas.

Yoona yang mengetahui betapa lelah kekasihnya itu pun membiarkan Jongin tidur, ia menutup pintu dengan perlahan dan pergi ke kamar Jiwon untuk mandi.

45 menit kemudian….

Jongin keluar dari kamarnya dengan menggunakan celana pendek dan kaos oblong tak berlengan warna hitam, tubuhnya terasa segar dan rileks setelah kesibukan yang dialaminya tanpa membiarkan dirinya beristirahat.

Jongin berjalan ke arah dapur dan melihat Yoona tengah duduk dan menaruh kepalanya di atas meja makan.

Jongin menghampiri Yoona dan mengusap ujung kepalanya, lalu ia duduk di sebelah kiri Yoona. “Apa yang kau pikirkan?

Yoona mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Jongin. “Kapan kau kembali ke Amerika?

Jongin memalingkan wajahnya, lalu mulai menyantap makanan yang sudah disiapkan Yoona.

Apa tidak bisa kau bekerja di Korea saja?” Tanya Yoona lagi.

Jongin mengabaikan semua pertanyaan Yoona, ia mengarahkan sesendok omurice ke mulut Yoona, dan Yoona memalingkan wajahnya dengan maksud menolak.

Jongin menghela nafas. “Apa setiap bertemu kita harus selalu bertengkar?

Tidak!” Yoona menggeleng, lalu ia mengarahkan tangan Jongin yang memegang sendok ke arah mulutnya.

Kau lucu sekali.. Ucap Jongin dalam hati dengan diiringi senyum evil.

Bukan pertengkaran yang Yoona inginkan, hanya saja ia ingin Jongin lebih memikirkan dirinya yang selalu ditinggal jauh dan lama.

Setelah menelan omuricenya, Yoona menunduk menahan air matanya yang hendak keluar. Ia menahan betapa sedihnya dirinya kala Jongin hendak pergi meninggalkannya lagi. Ia ingin sekali bisa berkencan layaknya pasangan kekasih lain, seperti banyak menghabiskan waktu berdua.

Jongin menyadari akan sikap Yoona, segera ia berdiri di belakang Yoona, tangannya berputar mengelilingi leher Yoona dan mendekapnya erat.

Beri aku waktu sebulan untuk mempersiapkan kepindahanku ke Korea..” Ucap Jongin.

Mendengar ucapan Jongin, Yoona mengangkat kepalanya lalu menoleh ke arah Jongin. Ia mengkerutkan keningnya bingung.

Aku sudah memutuskan akan pindah ke cabang perusahaan Ayah yang ada di Korea..” Jelas Jongin.

Benarkah??” Tanya Yoona antusias dengan mata berbinar-binar.

Tidak, aku berbohong!” Jongin melepaskan pelukannya.

Apa? YAK!!” Yoona beranjak dari kursinya dan hendak melayangkan pukulannya ke lengan kanan Jongin.

Jongin berhasil menangkap tangan Yoona yang berada di udara. Lalu ia menariknya kencang, sehingga Yoona semakin mendekat ke arahnya. “Setelah aku pindah ke Korea, dimana aku harus tinggal?

Tentu disini, apartemen ini milikmu Kim Jongin..” Jawab Yoona.

Benar.. Aku dan kau akan tinggal bers..

Tidak!! Aku akan pergi dari tempat ini, mana mungkin kita tinggal di atap yang sama tanpa adanya ikatan pernikahan?” Tolak Yoona.

Semalam kau dan aku tidur di kamar yang sama..” Jawab Jongin.

Ne??” Pipi Yoona bersemu merah.

Jongin tersenyum. “Sampai kapan aku harus menunggumu? Jika kau selalu saja menghindari pembicaraan tentang pernikahan?

Yoona terdiam.. “Maafkan aku… Jika memang kau sudah tidak bisa lagi menungguku, menikahlah dengan gadis lain

Benarkah?” Tanya Jongin antusias.

Mwo?? YAK!!

PLAK!!

Kali ini Yoona berhasil memukul lengan Jongin dengan sangat kencangnya.

Akk!!” Ringis Jongin sembari memegangi lengannya yang terasa sangat panas.

Wae?” Tanya Jongin dengan muka yang masam.

Kau ingin menikahi gadis lain? Eoh?” Tanya Yoona sembari menatap tajam Jongin.

Kau yang menyuruhku..” Jawab Jongin asal.

Baik!! Menikahlah dengan gadis lain!! Pergi kau dari sini!!” Bentak Yoona.

Kenapa aku harus pergi? Ini apartemen milikku” jawab Jongin.

Mulut Yoona membuka lebar, ia tidak percaya Jongin akan berkata seperti itu. “Yaa Kim Jongin.. Kau benar-benar akan seperti ini?” Tanya Yoona dengan suara yang lemah, matanya mulai memerah.

Tiba-tiba Jongin tersenyum. “Bagaimana? Aktingku bagus kan?

Yoona meneteskan air matanya. “Kau bilang ini bercanda?

Jongin mengannguk.

YAKKKKKKKK!! INI TIDAK LUCU SAMA SEKALI!!” Yoona berteriak kencang lalu pergi meninggalkan Jongin dan memasuki kamar Jongin lalu menguncinya.

Yaak.. Yaakk.. Yoona-ah..” Jongin mengejar Yoona.

Dug!! Dug!!

Im Yoona!! Buka pintunya!!

Yak!!

6 BULAN KEMUDIAN..

Area Balap, Seoul

Pukul 03.00 Sore

Tampak terlihat motor sport warna hitam pekat milik Jongin.

Jongin dan Yoona sedang duduk di sebuah tempat duduk yang terlindung dari terik matahari sembari menunggu kedatangan teman-temannya.

Mengapa mereka lama sekali!” Keluh Yoona.

Mereka butuh meyakinkan diri, karena perjanjian ini tidak akan mudah untuk kita yang memang hobi balap” jawab Jongin sembari menyeruput minuman dingin.

Saat itu datanglah dua motor sekaligus, yakni Tao dan Sehun. Mereka memarkirkan motornya lalu menghampiri pasangan kekasih yang sudah menunggu mereka.

Hyung..” Sapa Tao sembari berhigh-five, Sehun pun mengikuti. Sedangkan Agnes membungkuk sopan.

Noona annyeong..” Sapa Sehun. Walaupun Sehun dan Tao bersahabat dekat dengan Jongin, namun mereka kurang akrab dengan Yoona, karena mereka baru kedua kalinya bertemu, mereka tahu banyak hal tentang Yoona dari cerita saja.

Annyeong..” Sapa Yoona ramah.

“Noona!! Kau luar biasa bisa menaklukan Hyung ku ini” puji Tao yang membuahkan lirikan tajam dari Jongin.

Yoona tertawa membalas celotehan Tao.

Saat itu juga tiba sebuah mobil berwarna hitam, keluarlah sepasang suami istri yang datang langsung dari Kanada, Jihyun dan Ji Hwang. Mereka menghampiri Jongin dan kawan-kawan.

Jihyun menikah dua tahun yang lalu karena perjodohan yang dilakukan orangtuanya. Sempat menolak, namun akhirnya ia bisa mencinta Ji Hwang maupun sebaliknya.

Mendengar berita pernikahan Jihyun, Sehun sempat merasakan kegalauan yang luar biasa sebelum akhirnya ia bisa merelakan Jihyun berumah tangga.

Woah.. Noona! Dimana motormu?” Tanya Tao yang sangat menyayangkan Jihyun tidak membawa motornya.

Dia tidak bisa ikut balapan terkahir karena ada buah hati kami di dalam sini” jawab suami Jihyun sembari memegang perut istrinya.

Woah.. Selamat Eonni!” Yoona menghampiri Jihyun dan memberinya pelukan.

Selamat Hyung atas anak kedua mu..” Ucap Sehun sembari membungkuk, ia lalu duduk di kursi yang sempat diduduki Yoona.

Kapan kau akan menyusulku Kim Jongin?” Tanya Jihyun menggoda.

Tanyakan saja padanya!” Jawab Jongin dengan melirik Yoona. Ia sangat menginginkan pernikahannya dengan Yoona segera terlakasana.

Yoona tersenyum canggung. “Ahhhaha.. Kami belum berpikir ke arah sana Eonni, aku ingin keluargaku hidup dengan bahagia dulu dengan hasil jerih payahku

Mendengar jawaban Yoona, Jihyun kembali melirik ke arah Jongin. “Bersabarlah beberapa waktu lagi Kim Jongin

“Oh Eonni kata-katamu bijak sekali. Kasian sekali Oppaku” saut Jiwon yang tengah berjalan bersama Mark mendekat ke arah Yoona.

Mark mendekat ke arah Jongin dan memegang pundaknya. “Apa kau akan mengizinkan kami menikah lebih dulu?” Candanya.

Lakukanlah. Aku tahu umurmu sudah mulai menua” Jawab ketus Jongin. Walaupun butuh beberapa waktu untuk meresteui hungan Adiknya dengan Mark, kini Jongin sangat mempercayai Mark untuk tetap berada di sisi Adiknya, tentunya dengan syarat agar Mark berhenti berbalap liar maupun resmi.

Hahahhaaha” Tao, Sehun dan Mark tertawa puas mendengar jawaban Jongin.

OPPA!!” Bentak Jiwon tidak terima.

Tak lama JB datang seorang diri.

Kini, JB, Jihyun, Tao, Jongin, Sehun, Mark, Jiwon, Agnes, Ji Hwang, dan Yoona saling berangkulan membentuk lingkaran. Mereka akan mengucapkan sumpah untuk tidak melakukan balap liar lagi setelah balapan terakhir yang akan dilakukan sebentar lagi. Jongin memimpin kalimat sedangkan yang lain mengikutinya.

Jongin dan kawan-kawan tengah mempersiapkan diri. Mereka baru saja menyelesaikan pembacaan perjanjian. Setelah itu mereka mulai bubar dan mengambil motor masing-masing untuk melakukan balapan terakhir, kecuali Jihyun tentunya.

Yoona membantu Jongin memakaikan helm dan memakaikan jacket. Setelah selesai ia mengenggam tangan Jongin. “Dengar! Aku tidak suka jika kau berada di posisi pertama, kau harus membawa motormu dengan pelan!! Ingat itu!!

Shireo!! Apa itu bisa disebut dengan balapan?” Jongin menolak permintaan Yoona, karena ini merupakan balapan terakhir, Jongin menginginkan berada di posisi terbaik.

Kim Jongin!!” Yoona merengek memanggil nama kekasihnya. Berharap Jongin mau mengikuti keinginannya, entah apa yang dipikirkan Yoona, yang pasti perasaannya sangat tidak tenang jika Jongin hendak berbalap, mengingat kekasihnya pernah mengalami luka tembak di lengan kanannya pasti akan mempengaruhi skil Jongin.

Jongin tampak berpikir sejenak. Lalu ia tersenyum penuh arti. “Baiklah.. Apa yang kau janjikan untukku?

Yoona tersenyum, ia menunjuk bibirnya sendiri sembari memajukannya untuk menggoda Jongin.

Shireo!!” Jongin mengerti maksud bahasa isyarat kekasihnya itu, namun ia menginginkan hal yang lebih dari itu.

Mwo?” Yoona tampak terkejut, ia sangat malu karena mendapat penolakan yang pertama kalinya dari kekasihnya.

Menikahlah denganku.. Jangan khawatirkan orangtuamu, aku bukan hanya menikahimu, tapi keluargamu juga.. Aku akan membantumu membahagiakannya Yoona-ah..” Ucap Jongin sembari menatap dalam mata Yoona dengan penuh harap.

Yoona terdiam. Sudah berapa kali dirinya menghindari pembicaraan pernikahan, ia bukan tidak ingin menikah dengan Jongin, hanya saja ia ingin membahagiakan kedua orangtuanya dulu dengan memapankannya, karena ia punya keinginan jika sudah berkeluarga ia tidak ingin menjadi wanita karir, melainkan seorang Ibu dan istri yang baik.

Melihat kekasihnya terdiam, Jongin mencoba untuk mengerti, ia menarik Yoona dalam pelukannya, dan berbisik di telinganya. “Maafkan aku, jangan dipikirkan apa yang baru saja kuucapkan. Aku akan berada di posisi terakhir untukmu..” Jongin menepuk pelan punggung Yoona.

HYUNG!! Cepatlah!!” Teriak Tao kepada Jongin yang sedari tadi sudah menunggu di area balap bersama Agnes.

Jongin melepaskan pelukannya, ia tersenyum ke arah Yoona dan menarik tangan kekasihnya untuk mendekati area balap.

Kini, JB, Jongin, Mark, Tao dan Sehun sudah berada di posisi masing-masing, mereka saling memandang satu sama lain.

Yoona memandang Jongin yang berada jauh darinya, setelah pembicaraan tentang pernikahan bersama Jongin, ia merasa sangat bersalah telah membuat Jongin menunggunya terlalu lama, entah keberanian apa yang dia punya, ia berlari mendekati Jongin.

Semua mata pun mengikuti kemana arah perginya Yoona. Kini semua pasang mata melihat Jongin dan Yoona.

Jongin pun menoleh ke arah sang Kekasih. Ia memandangi Yoona dengan bingung.

Perlahan Yoona membuka kaca helm milik Jongin, dan ia mendekatkan wajahnya. “Menikahlah denganku Kim Jongin

Sontak ucapan Yoona membuat Jongin terdiam, apa benar ucapan yang dilontarkan kekasihnya itu untuk dirinya.

Yoona tersenyum, lalu dengan cepat ia mengecup bibir Jongin.

Oh My God” ucap Mark yang berada di kiri Jongin.

Aish!! Mereka pikir ini tempat apa? Selama aku berkencan dengannya, tidak sekalipun aku melakukan hal itu di depan umum ck!” Kesal JB.

Wwwoooooww.. Selamat Hyung atas pernikahanmu” teriak Tao dengan gembira.

Yak Huang Zi Tao! Mereka belum menikah” cela Sehun.

Setelah terjadi insiden tak terduga, akhirnya balapan akan segera terlaksana, Jihyun berdiri di tengah jalan, ia mengangkat slayer berwarna merah di udara. Ketika ia mengucapkan angka tiga, slayer pun berterbangan mengikuti angin.

Jongin, JB, Mark, Tao dan Sehun melaju dengan sangat kencang.

 

 

 

“Aku ingin merasakan cinta sejati. Bertemu dengannya, menikah & hidup bahagia. Itulah harapanku”

-Jongin-

 

 

 

“Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan dengan getaran hatiku yang berdetak kencang. Hatiku melesat ke arahmu bagaikan anak panah. Seluruh hatiku, hanya untukmu”

 

-Yoona-

~END~

Finish….. Masih tetep yaa moment YonKai nya kurang? Iyaa aku ngerasa itu,, maaf selama ini udah mengecewakan kalian,, aku banyak banyak banyak belajar dari komentar yang kalian tinggalin buat aku, semoga di kemudian hari kesalahan fatal aku yang begini gak ke ulang dan aku bisa menulis dengan lebih baik lagi. Aamiin…

Terimakasih atas kritik dan saran kalian semua… Terimakasih buanyak udah mau baca ff yang masih banyak kekurangannya ini,,

*BOW*

Kalo kalian gak kapok buat baca ff ku,, tunggu kisah-kisah selanjutnya dari aku ya.. Hihi

Annyeong

19 thoughts on “(Freelance) Still You (END)

  1. Daebak thor! Moment YoonKai nya sweet banget dan lebih banyak daripada chapter sebelumnya
    Dan entah kenapa aku berharap Yoona sama JB bukan sama Kai, terus bangKai menderita *plakk😄
    Oh ya, moment Mark-Jiwon nya juga sweet jadi bayangin kalo itu aku sama J-Hope (terlalu berkhayal)
    Keep writing!! 😃

  2. Authooor aku pen ketawa pas baca yoona mencium hidung kai yang mancung hehehehe. #kebawavirusjambansalahgaul. Hehehehe tapi daebak ffnya. Aaaah so sweet. Terus berkarya thor

  3. Bagus thorrr
    Moment yoona sama jongin udah lumayan banyak kok😀
    Udah lebih banyak dari yg sebelumnya
    Heheheh
    Sequel dong thor heheh
    Pengen tau gimana yoona yg akhirnya mau nikah sama jongin :3

  4. aku suka bangettt duh jongin sosweet bangetlah idaman banget:”D bikin lagi yang genre action ya thorr semangat!!

  5. Keren thor walaupun moment yoonkai nya kurang sih tapi tetep feel nya dapet bangettt yoonkai so sweet,ada sequel mereka setelah nikah nyabgak thor?.-.

  6. Kurang moment Yonkai? Banget!

    Author-nim yang baik hati dan tidak sombong, pliss buat ff YoonKai lagi ya… YoonKai Only,

    Aku kangenn bnget ama YoonKai, mengingat tidak ada satupun author yang membuat ff YoonKai di bulan ini.😥

    Hatiku sakit, ribuan jarum berdiri tegak di uluh hati. Ingin rasanya menjerit, namun bibir merah ini terkatup. tak ingin mengeluarkan rontaan! #Plak *readers sarap*

    Aku pastiiiii tunggu ff buatan eonni, apalagi klo maincastnya Yoonkai.

    Ffnya KERENNN!! SUWER DOWER EWER2!

  7. yoong eonni pengen ambil peran😀
    berkali2 dilamar jongin ditolak
    eh trnyata eonni pengennya nglamar buman dilamar😀
    sehun oppa sma aku aja..😀

  8. Eh,gk kerasa udh habis aja,perasaanku waktu baca ni ff kyk lg nonton drama gitu,bagus..
    Feel nya berasa,aku sempat banjir air mata d bagian percakapan jackson dgn ibu nya itu,sedih banget,ternyata dia cowok yg baik ya,maaf jackson aku salah menilai karaktermu d ff ini…
    Semua moment YoonKai nya berasa,TOP banget deh…
    Akhir kata/?/ makasih utk author yg udh bikin ni ff epic,nerima saran&kritikan,semoga d project ff selanjutnya makin baik,salam YEHET!

  9. Waaa bagus kok endingnya hehee yoonkainya juga so sweetnyaa mwamwa heh:D tenang aku akan menunggu ff mu lagi hehehe. Dan gomapsemnida uri sehun gak sama siapa siapaaa. Aku parah ya? Tapi aku gak rela heheh mian eonnieya😀 aku tunggu ffmu selanjutnyaa keep writing eonni~

  10. PERTAMA SAYA BERTERIMAKASIH BANYAK THOR UDAN MAU MENERIMA SARAN. DAN MINTA MAAF KALAU KOMENTARNYA KURANG BERKENAN DIHATI, SAYA HANYA MENYALURKAN PENDAPAT SAJA. TIDAK TERASA TERNYATA STILL YOU UDAN FINAL. TAPI ENDINGNYA SERU THOR YOONKAI MOMENTNYA SO SWEET DAN RASANYA MOMENTNYA LEBIH HANGAT. THIS IS A SWEET AND GOOD ANDING. AND THE BIG THANKS FOR AUTHOR. AND I’M SORRY FOR MANY MISTAKE. THANKS

  11. yoonkainya so sweet hah.. akhirnya happy ending juga
    ^^ gk dha sequel yoonkai di khdpan rmah tngganya kah? u,u
    jackson knapa hrus mninggal hah sdih pas bgian dia
    buat author ttp buat krya bru yah aku slalu mnunggumu haha klo bsa bkin ff nya yang romance fluff haha plak abaikan ajha ok😉

  12. Akhirnya happy ending…
    Meskipun YoonKai momentnya sedikit tp tetep bagus kok ..

    Pas Jackson meninggal feelnya dapet banget..sampe nangis aku bacanya..:(

    Makasih ya udah buat FF sebagus ini..🙂
    Ditunggu karya lainnya^^
    Keep writing!!😉

  13. Huaaa keren , bikin yang balu donk yang action2 gtu aku sukaa , sukaa banget *gananya* ^^ yoonkai momentnya sweet , keep writing ^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s