7 Times

7-times-by-apareecium

7 Times

apareecium // SNSD Yoona and Tao // Romance-Drama // All Rated

qintazshk @ Poster Designer

Bau khas rumah sakit menyeruak saat pintu kaca yang bergeser secara otomatis terbuka untuk seorang pria yang bertubuh jangkung. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit tersebut sambil menjinjing sebuah paper bag berwarna pastel. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya yang tampan ketika melihat seorang perawat yang biasanya ia temui di ruang rawat inap temannya. Perawat tersebut yang selalu mendengar curahan hatinya ketika menjaga temannya yang masih koma.

“Selamat siang, Zi Tao.” Sapa perawat tersebut. Oh, iya. Hanya perawat tersebut yang memanggilnya dengan sebutan Zi Tao—Huang Zi Tao.

“Selamat siang, Han ahjumma.” Dan sepertinya hanya Tao yang memanggil perawat tersebut dengan embel-embel ahjumma.

“Aku baru saja mengontrol keadaan Nyonya Im dan disana ada kedua orang tuanya.” Kata Han ahjumma tiba-tiba. Bahkan Tao tidak menanyakan hal tersebut.

Tao hanya tersenyum, lalu mengangguk dan menunduk pelan sambil melanjutkan langkahnya menuju ruang rawat inap yang dipanggil oleh Han ahjumma dengan sebutan Nyonya Im tadi. Ia berhenti tepat di depan lift. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka dan muncul dua insan yang ia kenal, kedua orang tua Nyonya Im—Im Yoona.

“Oh. Selamat siang, Im ahjussi dan Im ahjumma.” Sapa Tao sambil menunduk pelan.

“Siang, Tao-ya,” Balas Im ahjumma sambil menepuk pundak Tao pelan, “Kami akan makan siang. Tolong jaga Yoona, ya?” Lanjut Im ahjumma.

Arrasseo, ahjumma.” Balas Tao sambil tersenyum ke arah mereka.

“Atau kau juga ingin makan siang? Yuk, makan bersama saja.” Ajak Im ahjussi.

Tao menggeleng pelan, “Tidak. Terima kasih. Aku akan langsung ke ruang Yoona.”

“Baiklah. Kau memang anak baik.” Balas Im ahjussi.

“Kami duluan, ya?” Tambah Im ahjumma.”

“Oh, ne. Silahkan.” Tao tersenyum lebar hingga deretan giginya yang putih terlihat sempurna. Ia bisa melihat kedua orang tua Yoona memunggunginya sambil berjalan menuju kafetaria yang ada di rumah sakit ini. Saat ia melangkahkan langkah pertamanya hendak masuk ke dalam lift, ia mendengus pelan, “Sial. Tertutup lagi.”

.

.

.

Dinginnya knop pintu rumah sakit yang terbuat dari besi menusuk kulit Tao hingga ke tulang-tulangnya yang mampu membuat dirinya sedikit merinding. Tao menekan knop pintu tersebut, lalu mendorongnya agar terbuka. Ia masuk ke dalam ruang inap tersebut sambil menutup pintu kembali, tapi kedua matanya tetap terarah ke seorang wanita yang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit ini. Ia tersenyum pelan, lalu melangkahkan kakinya ke arah wanita tersebut dan duduk di bangku yang terletak tepat di sebelahnya.

Tao mengeluarkan sebuah kotak berbentuk persegi panjang dari paper bag yang ia bawa. Tiga buah cupcakes yang baru ia beli dari sebuah toko kue di ujung jalan tadi. Tangannya yang besar membuka penutup trasnparan yang melindungi cupcakes tersebut. Ia tersenyum pelan sambil memandangi cupcakes tersebut, “Tahun pertama, Yoong.”

Tao meraih paper bag yang telah ia letakkan di atas lantai sebelumnya, lalu mengeluarkan tiga lilin kecil dari sana dan menancapkannya tepat di atas tiga cupcakes tersebut. Setelah itu, ia mengeluarkan korek api dari saku celananya dan menyalakan tiga lilin tersebut.

Ia menghela napas pelan, lalu tersenyum lebar.

Happy birthday Yoona. Happy birthday Yoona. Happy birthday. Happy birthday. Happy birthday, Im Yoona.

.

.

.

7 tahun sebelumnya..

Seorang gadis berumur 18 tahun tengah menggali tanah basah halaman belakang sekolahnya. Air hujan yang baru saja berhenti membuat tanah tersebut basah dan ditambah dengan beberapa tetesan air matanya yang terjatuh bagaikan air hujan yang menyusul ke atas tanah.

“Dimana? Hiks..” Isaknya. Ia terus menggali tanah tersebut seperti mencari sesuatu.

“HUAAAA! DIMANA?!” Pekiknya hingga membuat seorang lelaki yang baru saja turun dari tangga belakang berhenti untuk mengecek suara tersebut. Lelaki itu mengerutkan alisnya ketika ia mendapati seorang gadis yang masih berpakaian lengkap dengan seragam sedang berlutut sambil menggali tanah halaman belakang dengan kedua tangannya sendiri.

Aneh, tapi rasa ingin tahunya lebih besar.

Ia melangkahkan kakinya dan..

KREK!

Setangkai yang mungkin terjatuh dari pohon terinjak oleh lelaki tersebut.

“Oh, sial!” Gerutunya sambil menatap apa yang ia telah ia injak.

“Mau a-apa kau?”

Suara yang sangat terdengar pilu. Lelaki itu langsung mendongakkan kepalanya menatap ke asal suara. Lagi-lagi ia mengerutkan dahinya kebingungan. Sepertinya, ia mengenal gadis yang berada di hadapannya tersebut dan satu lagi, seragam putihnya sudah bercampur dengan tanah basah yang berwarna coklat kemerahan.

Dan Tao—lelaki tersebut, tidak menyukainya.

“Mau apa? Mau pulang!” Balas Tao dengan nada tingginya. Ia bisa melihat gadis tersebut mencibir pelan. Ah, ia ingat! Tao ingat siapa gadis ini. Im Yoona. Siswi dari tingkat akhir, kakak kelasnya yang selalu menjadi bahan bully oleh semua murid.

“Aku pikir…Ah, sudahlah.”

Setelah mendengar balasan dari Yoona, Tao sadar. Ada yang salah disini. Ia berjalan mendekati Yoona, lalu bertanya, “Yoona sunbae, betul?”

Yoona yang mendengar namanya disebut dengan layak dan dibuntuti dengan embel “sunbae” membuat aktivitasnya, yaitu menggali menjadi terhenti. Ia langsung mendongakkan kepalanya ke asal suara.

Dengan bibirnya yang bergetar, ia memberanikan dirinya, “Ka-Kau memanggilku apa tadi?”

“Yoona sunbae. Iya, kau kakak kelasku ‘kan? Apa terdengar aneh?” Tanya Tao.

Yoona menunduk lagi dan menggeleng pelan, “Tidak. Aku hanya terkejut mendengarnya dan…. aneh.”

Tao mengendikkan bahunya sekali, lalu mengedarkan pandangannya. Langit yang mulai berubah menjadi warna oranye membuatnya sadar bahwa petang mulai mendekat. Ia menyandarkan tubuhnya ke pohon yang berada tepat di belakangnya, “Sunbae tidak pulang? Bukankah sudah sore? Gerbang akan segera ditutup.”

“A-Aku..” Yoona berusaha menjawab pertanyaan Tao. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, “A-Aku harus mencari sesuatu.” Lanjutnya.

Tao menoleh ke Yoona, “Mencari apa?” Dahinya mengerut ketika ia berhasil melihat kaki Yoona yang telanjang, ia bisa melihat jari-jari kecil Yoona yang sudah penuh dengan tanah, “Sepatumu? Kau dikerjai lagi?”

“Iya.” Jawab Yoona singkat.

Tao menghela napasnya pelan, lalu membuka tas ranselnya, mengeluarkan sepasang sepatu olah raganya dan melemparkannya kepada Yoona. Ya, melemparnya pelan.

“Pakai ini saja, sunbae.”

Yoona melirik pelan ke sepatu yang baru saja mendarat tepat di sebelah kanannya, “Tapi—“

“Pakai saja. Aku yakin kau tidak akan menemukan sepatumu.” Potong Tao.

Yoona memegang kedua sepatu Tao, “Terima kasih.”

Yoona langsung memakai kedua sepatu tersebut dan Tao baru sadar. Sepatu bagian dalamnya pasti sudah penuh dengan tanah. Sekali lagi, Tao tidak suka itu.

Tao menggarus pelan kepalanya, “Ehm. Sunbae, sepatunya untukmu saja.”

“Ne?” Respon Yoona. Sepertinya ia tidak mendengar suara Tao dengan jelas. Memberikan sepatunya? Apa tidak salah?

“Sepatunya untukmu saja.” Ulang Tao.

“Untukku?” Yoona berusaha menyakinkan kedua pendengarannya agar tidak salah dengar.

“Iya. Untukmu.”

Akhirnya sebuah senyuman terurai di wajah cantiknya. Ia menatap Tao, lalu memberikan senyuman terbaiknya, “Terima kasih. Ini kado pertamaku untuk hari ini.”

“Hari ini? Kau ulang tahun?”

“Iya. Ulang tahun ke delapan belas.” Balas Yoona.

“Oh. Selamat ulang tahun kalau begitu.”

“Ne. Terima kasih banyak.” Yoona sedikit menunduk sebagai tand aucapan terima kasihnya.

Dan ketika Yoona kembali berdiri. Tao sadar. Gadis kurus yang berada di hadapannya ini memang cantik walaupun ada sisa-sisa tanah yang menempel di pipinya yang bersemu itu.

.

.

.

1 tahun kemudian..

Kesempatan Tao untuk bertemu Yoona di depan gerbang utama di sebuah universitas besar sangat kecil. Mungkin 2 dari 10? Tapi siapa peduli? Ia tetap duduk di atas motor besarnya dengan helm yang menjadi tumpuan kedua tangannya. Masker berwarna hitam dengan beberapa stud hitam yang menghiasi masker tersebut tetap menutupi setengah wajanya. Tidak lupa dengan jaket kulit hitamnya yang menutup seragamnya dan oh, Tao selalu memakai jeans yang serupa dengan warna celana seragam sekolahnya.

Tao tidak terlihat seperti murid yang hilang ‘kan?

Kedua matanya yang tajam berhasil menangkap seorang gadis yang baru saja melangkah keluar dari gerbang utama universitas tersebut.

Gadis yang terakhir kali ia temui ketika hari kelulusan sekitas 10 bulan yang lalu. Kini gadis tersebut tampak berbeda. Ia terlihat lebih percaya diri. Rambutnya yang berwarna coklat tua dikuncir satu. Dulu rambutnya selalu ia biarkan terurai agar ia bisa menutupi wajahnya jika bertemu dengan orang-orang yang tak ia harapkan.

“Yoona sunbae!” Panggil Tao.

Gadis yang ia perhatikan sedari tadi menghentikan langkahnya dan berputar ke asal suara. Dahinya mengerut kebingungan, lalu ia berjalan menghampiri lelaki yang duduk di atas motor besar tersebut.

“Tao? Huang Zi Tao?”

“Iya. Ini aku.” Kata Tao sambil membuka maskernya dan tersenyum.

Yoona juga ikut tersenyum, “Ternyata kau. Ada apa kesini? Kau mau daftar?”

Tao menggeleng pelan, “Tidak. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.”

“Apa itu?” Tanya Yoona langsung.

“Saengil Chukkae, sunbae. Ulang tahun ke-19 ‘kan?”

Wajah Yoona langsung berseri. Ia tak menyangka bahwa seseorang dari masa lalunya bisa ingat tanggal ulang tahunnya.

“Terima kasih, Tao. Aku senang atas ucapanmu.” Balas Yoona dengan wajah yang penuh dengan senyumannya, “Aku senang sekali.”

.

.

.

1 tahun kemudian..

To: Tao

Kau dimana? Aku membawa bekal untukmu. Ayo, makan siang bersama! Anggap saja aku menraktirmu makan di hari ulang tahunku.

Yoona langsung duduk di atas bangku panjang yang terletak di taman kampusnya. Ia mengeluarkan dua kotak bekal yang telah ia masak dari rumah. Ia memegang kotak bekal tersebut, lalu tersenyum, “Untunglah. Masih hangat.”

Tiba-tiba ponselnya bergetar tanda pesan masuk.

From: Tao

Aku di belakangmu.

“BOOO!” Teriak Tao berusaha mengejutkan Yoona, tapi ia tidak berhasil. Bahkan kedua bahu Yoona tidak bergerak karena teriakkan Tao tersebut. Tentu saja, siapa yang takut dnegan suara melengking milik Tao? Bisa-bisa orang tertawa mendengarnya.

“Sudahlah. Yuk, makan. Aku tahu kau sudah lapar, hm?” Ajak Yoona sambil memberikan kotak bekal kepada Tao.

Tao menerima kotak bekal tersebut, lalu duduk tepat di sebelah Yoona, “Terima kasih.”

Tao membuka penutup kotak bekal tersebut, lalu terkekeh pelan, “Ini tahun ketiga aku mengenalmu dan tahun ketiga juga aku ada di hari ulang tahunmu. Kau tidak merasa aneh?”

Yoona mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan Tao, “Maksudmu?”

“Astaga. Sudah tiga tahun aku tidak memberikanmu kado, Im Yoona.” Jawaban Tao disusul oleh helaan napasnya.

“YAK! Kau memanggilku Im Yoona? Aku butuh noona di ujungnya.” Protes Yoona.

Tao tertawa, “Tidak. Tidak mau! Sudahlah, aku mau makan.”

Sebuah suapan masuk ke dalam rongga mulutnya. Kedua mata Tao terbelalak. Rasanya…..tidak bisa dideskripsikan.

“Woah. Enak sekali. Ngomong-ngomong,” Tao menoleh ke arah Yoona, “Selamat ulang tahun, Yoona noona. Kau sudah berkepala 2. Sering-seringlah mengajakku makan, okay?”

.

.

.

1 tahun kemudian..

Setangkai bunga mawar yang masih segar berada di genggaman Huang Zi Tao. Ia menyandarkan tubuhnya ke tembok lorong kampus tepat depan kelas Yoona sebelum jam bubar. Ia sengaja kabur pada saat kelasnya berlangsung dan membeli setangkai mawar ini untuk Yoona.

Suara gaduh dalam kelas mulai terdengar. Tao langsung menyembunyikan setangkai mawar tersebut ke belakang tubuhnya. Ia menarik napasnya pelan, lalu tersenyum. Ini adalah kado pertamanya untuk Yoona selama 4 tahun ini. Semoga Yoona menyukainya. Ia mengintip dari jendela kecil yang berada di pintu. Mencari sosok wanita yang selalu bersamanya selama ini.

Dan….Oh, ya! Dapat!

Tapi ada sebuket mawar merah dan putih di pelukannya. Mawar merahnya tersusun membentuk hati dan mawar putihnya mengelilingi di sekitarnya. Tao langsung membuang setangkai mawar yang ia genggam.

Bukan. Bukan hanya itu yang berhasil membuat Tao terkejut. Ia yakin bahwa ia melihat teman sekelas Yoona yang berambut coklat muda itu berdiri tepat di samping Yoona dan setengah memeluk pundaknya. Langkah Tao yang menjauhi kelas tersebut semakin cepat. Siapa pria itu? Apa ia harus mencari tahu? Helaan napas terdengar dari mulut Tao dan sosoknya telah menghilang dari lorong tersebut.

Pintu kelas Yoona terbuka dan Yoonalah orang pertama yang keluar disusul oleh pria berambut coklat muda tadi. Perhatian Yoona terpusat pada setangkai mawar merah yang tergeletak di atas lantai. Ia menunduk, mengambil setangkai bunga mawar tersebut dan ia baru sadar ada catatan kecil berada di tengah-tengah tangkainya. Ia membuka catatan tersebut.

Selamat ulang tahun, Yoona noona.

Yoona tersentak. Ini tulisan Tao. Siapa lagi yang mempunyai tulisan berantakan dan berhasil membuat matanya sakit? Yoona mengedarkan pandangannya mencari sosok Huang Zi Tao, tapi sebuah tepukan di pundaknya membuatnya tersadar.

“Yoong, yang lain mau lewat.”

Suara berat nan lembut yang terdengar dari si pria berambut coklat itu membuat dirinya bergeser memberi ruang untuk teman-temannya agar bisa keluar dari kelas, tapi kedua matanya tetap memerhatikan lorong kampus ini.

Dimana Tao?

.

.

.

1 tahun kemudian..

“Tao.” Suara lembut milik Yoona memanggil nama seorang lelaki yang berambut hitam pekat yang duduk tepat di hadapannya. Lelaki yang dipanggil Tao tersebut melepaskan bibirnya yang sedari tadi menyedot bubble tea rasa coklat yang baru saja ia beli.

“Kenapa, noona?” Tanya Tao.

“Aku putus dengan Luhan.” Kata Yoona langsung pada poinnya.

Tao mengerucutkan bibirnya, lalu menaikkan salah satu alisnya, “Sungguh?”

Yoona mengendikkan bahunya sekali, “Dia mengatakan hal itu kepadaku sekitar 3 hari yang lalu,” Yoona memuatr-mutarkan sedotan miliknya, “Mungkinkah ia akan membuat kejutan untukku? Hari ini?” Lanjutnya.

Kali ini Tao yang mengendikkan bahunya, “Entahlah.”

“Lho? Kenapa kau seperti ini, Tao? Ada yang salah?” Tanya Yoona langsung.

Tao menggeleng pelan, “Tidak ada yang salah. Karena yang salah selama ini adalah aku, noona.”

Balasan dari Tao membuat Yoona bertanya-tanya. Ia memiringkan kepalanya, lalu berusaha menatap kedua mata Tao yang sedari tadi menunduk seakan-akan tidak memberikan kesempatan kepada Yoona untuk melihat wajahnya.

“Tao?”

Tidak ada jawaban.

“Tao?”

Lagi-lagi tidak ada jawaban.

“YAK! TAO!”

Teriakan Yoona berhasil membuat Tao mengangkat kepalanya menatap Yoona tepat ke kedua mata rusa miliknya. Bibirnya bergetar seakan menahan kata-kata yang mendobrak keluar bibirnya.

“Noona, aku menyukaimu.”

.

.

.

1 tahun kemudian…

Sebuket bunga mawar merah segar berada di genggaman Tao yang sedang bersandar ke tembok di salah satu kedai kopi dekat kampus yang pernah menjadi tempat ia belajar tahun lalu. Ia mengetukkan sepatunya ke atas aspal trotoar sembari memerhatikan jam tangan yang mengalung di lengan kirinya hingga ia mendengus pelan.

“Sudah tiga puluh menit.”

Ya, sudah tiga puluh menit Tao menunggu kedatangan Yoona di depan kedai kopi. Hari ini adalah ulang tahun Yoona ke-23 dan tahun ke-6 untuk Tao merayakan ulang tahun Yoona bersama. Ia mengerutkan bibirnya tak sabar. Keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya mulai mengalir dari dahinya. Dengan segera, ia menghapus keringat yang baru saja mengalir.

“Lebih baik aku tunggu di dalam saja.” Putusnya sambil melangkah ke arah pintu masuk kedai kopi. Baru saja ia membuka pintu tersebut. Namun ada panggilan masuk ke ponselnya.

Tak mau menunggu lama, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menerima panggilan tersebut. Ya, Tao tahu siapa yang menghubunginya. Karena nada panggilan masuk ini berbeda dengan yang tak lain adalah Im YoonA.

“Halo?” Ucapnya.

“Tao-ya, Yoona kecelakaan.”

.

.

.

1 tahun kemudian…

Happy birthday Yoona. Happy birthday Yoona. Happy birthday. Happy birthday. Happy birthday, Im Yoona.” Tao menipu ketiga lilin yang menyala usai menyanyikan lagu untuk Yoona.

Air mata yang sudah tak terbendung lagi akhirnya jatuh dari kedua mata sipit milik Tao. Air matanya mengalir dengan lancar di atas pipi Tao. Hari ini adalah hari dimana ia hendak mengungkapkan perasaannya lagi dan hari dimana Yoona kecelakaan dan koma.

Satu tahun sudah dan Tao baru menyadarinya ketika ia melihat tanggal di rumahnya tadi pagi. Ketika ia melihat tanggan 30 May di kalender membuatnya mengingat apa yang terjadi 7 tahun ini. Tahun pertama disaat pertama kali ia bertemu dengan Yoona dan ia tak pernah menyangka bahwa tahun ketujuh ini adalah tahun pertama ia merayakan hari ulang tahun Yoona dengan keadaan seperti ini.

Bahkan Tao sendiri tidak tahu dimana Yoona sekarang.

Apa Yoona berada di ruangan ini? Melihat dirinya menangis?

Apa Yoona berada di tempat lain?

Apa Yoona masih ada disini?

Atau Yoona sudah…

Tao menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia juga menghapus sisa-sisa air mata yang berada di pipinya. Sedetik kemudian, sebuah senyuman muncul di wajah Tao.

“Selamat ulang tahun, noona. Aku mencintaimu.”

END

Jangan protes pelissssss. Aku yang nulis aja gak nyangka endingnya begini jadi, jangan nagih sequel yaks!😀

Happy birthday Yoona❤

17 thoughts on “7 Times

  1. Akh Thor! Knapa harus sad end? Nanya yoonanya bangun gtu😀 #impian
    Kalau bsa d buat sequel Thor
    Keep writing~

  2. Mwo? Jelas2 endingx ngegantung, jd butuh sequel nih thor😦
    ahh, perjuangan Tao it loh dan kbersamaan mrka, perlu d’acungin jempol..
    Joha, neomu daebak. Feelnya pas, dapet bnget akunya.

    Keep writting thor!

  3. Aduh, feelnya dapet😥
    Entah kenapa aku terharu banget bacanya
    7 tahun dan setiap tahunnya Tao selalu ngucapin selamat ulang tahun sama Yoona
    Miris lho di tahun ke-7 dia ngucapinnya dalam kondisi seperti itu

    Konsep ceritanya bagus, aku suka❤

  4. Sampe sekarang yoona masih koma? Gws dengs~
    Overall ini bagus. Jarang nemu pairing yoontao yang serius begini hahaha.
    Good job!

  5. Ahh, smga Yoong eonni nya dnger ucapan Tao dan akhirnya sadar,
    Ok dtunggu karya slnjutnya !!
    FIGHTING !!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s