(Freelance) Mutlichapter : Thunder (Chapter 2)

img_20140810_082149(1)

Author : Pastelanina96

Main cast : EXO Kai | SNSD Yoona | EXO Sehun

Other cast : EXO Baekhyun | Find by yourself

Genre : Comedy, Romance, Fantasy

Rating : Teen

Length : Chaptered

Disclaimer : Ini real 100% imaginasi Author, no copas, no plagiarism, etc.

Note : Bahasa agak nyeleneh dan agak gak baku, sorry mungkin Author bisa belajar buat ff gak jaim kayak gini T.T . Tapi, author coba belajar jaim!! soalnya Author pernah jadi admin di Fanpage EXOsomplak, jadi kebawa-bawa deh. hehehehe ><

–Don’t forget to like + comment!–

“Aku tidak punya waktu untuk berurusan denganmu, mian.” Yoona menepis kasar tangan Kai dan terus berjalan acuh tak acuh.

“Hei orang aneh! Bajuku ini mahal, bahkan kau tak sanggup untuk membelinya!” Yoona terus mengabaikan Kai seperti angin yang menumpang lewat. Seketika Kai mulai mengetak giginya dan mulai marah sehingga tangan Kai yang panjang sudah mencengkram rambut hitam panjang Yoona.

“Kuperingatkan kau. kalau kau tidak mengganti bajuku yang kotor, akan kubunuh kau!” Yoona belum berbalik, ia malah menunduk dan terkekeh. “kkk~ hahahaha!! Bajumu tidak kotor sama sekali bodoh. Kau sakit mata? Atau mau kubelikan kaca untuk melihat wujud bajumu?”

Yoona berbalik dan menggenggam pergelangan tangan.

“AKU.TIDAK.MAU.MENGGANTI.BAJUMU!!!”

Yoona berlari secepat yang ia bisa dan tentunya Kai mengejarnya dari belakang , Kai semakin menggeram seperti singa yang mengamuk. Dengan kaki panjangnya adalah hal yang mudah untuk mengejar seorang Yoona. Tapi itu tak terjadi karena Yeoja itu cerdik seperti kancil.

Berlari layaknya di kejar setan, Yoona akhirnya pun memutuskan untuk bersembunyi lagi di sebuah rumah.Tidak tampak seperti rumah manusia, tapi seperti rumah berbentuk jamur berwarna coklat. Yoona pun masuk seraya membungkuk karena pintu rumah itu kecil.

Gelap, sempit, sesak, itulah yang dirasakan Yoona di dalam. Tiba-tiba timbulah suara seperti kerincingan kereta santa. Seketika itu juga rumah jamur kecil yang sempit dan gelap berubah menjadi seperti padang rumput hijau dan sangat luas, hanya ada pepohonan dan ilalang gandum.

Yoona mulai bangkit dari duduknyadan berjalan kaku seraya melihat ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan, tanda ia sangat tidak percaya dengan tempat itu.

“Whoaa, tempat apa ini?Indah sekali. Tapi, tidak ada seorang pun di sini. Aneh sekali..” Yoona mendengar suara misterius yang entah asalnya dari mana.

“Im Yoona… Im Yoona, kau kah Im Yoona?” Suara misterius itu menanyakan Yoona, “Ne, aku Yoona. Tapi apa urusanmu?” Yoona menengok ke langit-langit mencari asal suara.

“Hahahaha, kau datang ke tempat yang tepat.” Suara misterius itu tertawa seperti raksasa. Tapi, ketika berbicara seperti suara yang terbuat dari kain sutra. Yoona mendongakan lagi kepalanya ke atas untuk mencari sumber suara.

“Hey, kau di mana? aku tidak melihat wujudmu di sini.”

“Aku di sini.”

Suara misterius itu mendekat dan jelas. “Kau dimana? aku tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama di sini, aku harus kabur!” Ucap Yoona berteriak ke atas. Yeoja itu terus berjalan dengan kepala mendongak ke atas, sehingga..

“Hey, bisakah kau tidak menginjak kepalaku?!” Tepat sekali Yoona menginjak sumber suara misterius itu.

“Aaah… Ups, sorry. Aku tidak melihatmu tadi, kau siapa? Kau sendirian? Bagaimana ada meja kecil di sini? Bagaimana bisa?” Yoona terheran-heran karena ‘penampakan’ itu.

“Hahahahaha!!” Lagi-lagi suara tertawa terdengar lagi dari mulut yeoja misterius itu. “Kau tidak perlu tahu bagaimana semua ini bisa di sini dan mengapa tempat ini seluas ini. kau tak perlu tahu..” pungkas Yeoja itu lembut dan datar.

“Apa maksudmu memakai baju berkera rumbai-rumbai? Kau tampak seperti akar serabut.”

“Ini adalah baju ‘kebesaran’ tanda lulusnya aku sebagai permala termuda di kerajaan Mimi”

“Lalu mengapa kau memakai kalung di kepala? Bola listrik, menapa kau menghabiskan hidupmu di sini?” Yoona menggaruk tengkuknya

“Kemarilah dan duduk di depan bola listrik ini.”Perintah Yeoja misterius itu, Yoona duduk bersimpuh dengan wajah datar.

“Kulihat kau di mangkuk di ajaib ini, kau sedang di kejar oleh Laki-laki untuk kedua kalinya karna masalah sepele? benarkah?” Tanya Yeoja itu. Shock, Yoona melotot dan sedikit mundur.

“Aku cenayang.”

“Oh, baiklah. lanjutkan.” Yoona menghela nafas.

“Lalu aku pikir sebagai seorang Cenayang, aku harus membantumu menyelesaikan masalah seperti orang lainnya yang meminta batuan padaku.”

Hembusan angin mengitari seluruh padang rumput hijau saat itu dan menusuk kulit ari Yoona dan Cenayang itu. keheningan terjadi. “Lalu jika kau seperti peramal, tetap…. APAKAH ITU GRATIS?!” Yoona melotot dan mendekati wajah Cenayang itu. “Ne, begitulah.” Jawabnya datar.

“Baiklah, aku punya pil yang dapat menghilang. jika kau menelan pil ini, kau bisa tak terlihat. Kau juga bisa menyentuh orang walaupun dalam keadaan kasat mata.”

“Aigoo~ Daebak! Aku bisa terlundungi darinya! Yoohoo!” Yoona meloncat tinggi saking gembiranya dan menari-nari. “Tapi pil ini.. –” Yoona berhenti layaknya di pause.

“Efek pil hanya bertahan selama 30 menit, setelah itu kau akan terlihat wujudmu lagi. Makanlah, tapi jangan lebih dari satu. Jika kau memakannya berlebih, maka akan ada efek samping yang lumayan mematikan.”Yeoja itu agak berbisik untuk meyakinkan Yoona.

“Ini pilnya. Jika pil ini sudah habis atau kau membutuhkan bantuanku, kau hanya cukup mengingat mantra ini, dengarkan baik-baik.” Yoona memanggutkan kepalanya tanda ia mengerti. “Memperbaiki yang gosong menjadi ikatan, mengkokohkan jalan setapak, mencari sapi di tumpukan jerami tidak akan memaksamu.”

“Mwo?! Kata-kata macam apa itu?” Yoona mengantukan wajahnya seraya mendengus.

“Tersareah kau. Jika kau membutuhkanku, sebutkan saja mantar itu sambil menutup matamu.” Yeoja itu menghilang secepat angin, tempat yang tadinya padang rumput luas sekarang menjadi jalan raya besar yang banyak sekali mobil berlalu lalang. Yoona hanya bisa tercengang di tengah jalan sekarang, membuat mobil-mobil mengklaksoninya dan hampir bertabrakan.

TIIIN TIIIN

“Ah, ne. Mian, aku salah. permisi..”

TIIIN TIIIN

Yoona berlari dan berusaha menyampingkan tubuhnya agar bisa melewati mobil-mobil yang mengepungnya dan akhirnya Yoona berhasil lolos, dan sekarang berjalan seperti orang bungkuk dengan hoodie bagian lengan yang menenggelamkan jari tangannya juga ekspresi memelas.

Dia terus menggigit bibir bawahnya bahwa ia sedang merengek atau kesal. Yoona terus berjalan di trotoar untuk pulang ke rumah.

Langit Seoul sekarang menampakan warna serikaya orangenya dan ibu dari cahaya bumi ini pun mengikutinya. Sekarang sudah menunjukan pukul 17:00 KST alias pukul 5 sore. Bukan hal yang berat bagi Yoona untuk pergi dari rumah dan pulang larut malam hanya karena membaca komik seharian di toko buku Sooman Ahjussi.

Tapi, mungkin hari ini adalah ‘ucapan selamat datang pertama’ untuk besok yang masuk dalam daftar sejarah Yoona. Kini Yoona telah melanting jauh ke Myeondeong karena insiden ‘kejar-kejaran’ dan bertemunya dengan penyihir cenayang.

.

.

.

.

.

“Kemana larinya Gadis sialan itu ya?” Kai bertolak pinggang seraya melihat sekelilingnya. “Awas saja kalau tertangkap, tak kuberi ampun sampai mati!”

Kai langsung murka dan menendang tempat sampah di depannya,

PAAANG

Lalu ia naik taksi untuk pulang.

.

.

.

.

.

“Eomma, Yoona belum pulang. Aku coba menelponnya tetapi dia tidak mengangkatnya.” Baekhyun mendesak Eommanya agar mencari bantuan.

“Baek, kau itu anak laki-laki satu-satunya di rumah ini, bukan Eommamu yang seperti cacing kepanasan.”

BRAK

Seseorang mendobrak pintu, seseorang dengan sepatu kets abu-abu melangkahkan kaki ke depan pintu dengan rambut berantakan dan wajah kusut. “Eomma, Baekhyun, aku pulang…” Yoona langsung menenggelamkan badannya ke sofa usangnya.

“Yoona kau sudah pulang? Eomma mencemaskanmu nak.” Eomma Yoona terus menanyakan keadaan Yoona. Sedangkan Yoona tidak menyahut.

“Eomma, mungkin dia hanya berpura-pura seperti biasanya.” Baekhyun mencari kebiasaan buruk Yoona padahal ia tidak tahu yang sebenarnya. “Kau ini, jangan begitu!” Eomma Yoona menggoncang-goncangkan tubuh Yoona seraya mengocehi Baekhyun.

“Aigoo, Yoona panas sekali. Baekhyun, cepat bopong Yoona ke kamarnya!” Perintah Eomma Yoona panik.

“Baiklah!” Baekhyun pun akhirnya membopong Yoona yang di bantu Eommanya.

.

.

.

.

.

TEET

TEET

TEET

Suara bel rumah tingkat lima presdir terkenal di korea pemilik agency dancer terbesar di korea ‘Lanuna’ berbunyi. Tiba-tiba pintu dibukakan oelh pelayan rumah memakai seragam hitam putih.

KLECK

“Ah, tenyata Tuan muda. Ayo cepat masuk Tuan muda, bersihkan dirimu.” Pelayan tadi menuntun Kai ke dalam bathub dan kamar mandi yang besar.”Suho, gomawo sudah mengurusiku.” Kai membungkuk pelan.

“Ne Tuan muda, ini memang sudah tugasku. Tapi kenapa anda pulang jalan kaki? Apakah tuan muda terluka? Aku sudah menyiapkan air panas untuk mandi dan makan malam Tuan muda.” Pelayan Kai cemas atas keadaan Kai yang kusut.

“Aku tidak apa-apa. Mobilku aku parkirkan di sembarang tempat, aku lupa meletakannya di mana. Ya sudah, aku bisa minta mobil sport baru dengan Appa.” Kai melipat kedua tangannya.

” Baiklah Tuan muda, aku mengerti. Tapi, Appa Tuan muda menitipkan pesan sebelum beliau pergi meeting di LA tadi. Tuan muda harus mandiri selama Appa pergi, tetapi semua uang yang kau butuhkan Appa taruh di brankasmu. Begitu kata Appa tuan muda. Kalau begitu aku permisi.” Pelayan Kai pergi meninggalkan Kai di depan kamar mandi luas itu.

.

.

.

.

.

Kaki Kai mulai memasuki bathub panjang yang berisi air panas dan perlahan-lahan badannya sudah di dalam bathub itu, hanya menyisakan kedua tangan yang berpegangan kiri dan kanan bathub dan kepala yang terbaring. Kai mendesah pelan dan menajamkan matanya perlahan.

“Ssshhh, hangat sekali. Lelah sekali hari ini,padahal jika tidak ada insiden kejar-kejaran dengan Gadis gila tadi tidak begini jadinya, sshh…” Kai bergumam, membayangkan rambut panjang Yoona di tarik kai atas kejadian tadi.

Setelah berlama-lama di kamar mandi, Kai pun segera memakai baju tidur dan pergi ke kemarnya untuk tidur. Kali ini Kai melewatkan makan malam untuk kesekian kalinya.

Pelayan Kai yang di depan meja makan hanya bisa menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala mereka karena sudah sering melihat kelakuan kai begini.

.

.

.

.

.

Apgujeong, 20:00 KST in Yoona bedroom

“Nak, bangun nak. huhuhu, ibu mencemaskanmu”

“Noona, bangun. Aku tidak punya teman main PS lagi.”

Baekhyun dan Eommanya merengek seraya menggoncang-goncangkan badan Yoona. Tiba-tiba, mata rusa itu terbuka.

“Apa yang kalian lakukan?!” Yoona menempelkan kepalanya dengan kantong kompres sambil meringis.

“Nak, kau ini anak permepuan satu-satunya di rumah ini. jadi wajar kami khawatir padamu.” Baekhyun hanya mengikuti perkataan Eommanya saja.

“Ne, ne. Baiklah Eommaku dan Baekhyunku yang tampan dan cantik.” Mereka pun berpelukan seperti 10 tahun tidak bertemu.

“Nak, ibu sudah siapkan baju seragam SOPA untukmu besok. Sekarang ayo kita makan malam.” Yoona menolak ajakan Eommanya, dia begitu badmood satu hari penuh ini.

“Apa? aku tidak mau. Eomma tidak mengerti perasaanku.” Yoona pergi ke atap dan mengunci pintu loteng dan menyendiri di sana.

.

.

.

.

.

@Kitchen, 08:30 KST

“Sampai kapan Yoona Noona seperti ini, dia tidak bersyukur sama sekali.” Baekhyun menekan-nekan sendok ke arah piring. “Sudahlah, kau makan saja. Ini urusan Eomma.”

Beliau selalu saja membela anak sulungnya apapun yang terjadi, Yoona dulu adalah kebalikan Yoona yang sekarang. Ia terkadang keras kepala namun terkadang baik. Tetapi itu semua adalah bukan masalah besar untuk Yoona.

Mungkin ada milyaran gadis tomboy berambut panjang, kurus dan sebagainya. Tapi ini mungkin musibah untuk teman barunya di SOPA mungkin juga tidak. Yoona tidak bisa membayangkan jika ia membuat onar di sekolah yang ia anggap neraka.

Dia ingin cepat-cepat di keluarkan dari sekolah super kaya dan elit itu. Tapi sayangnya Yoona harus menjadi murid SOPA sampai ia selesai SMA dan kelulusan.

Semoga saja Yoona bisa menerimanya,

semoga saja…

.

.

.

.

.

“Baekhyun!!! Cepat, nanti kita ketinggalan bus!!!” Yoona teriak sekencang-kencangnya karena Baekhyun baru mengikat tali sepatunya, mereka berdua berlari seperti di kejar anjing. Baekhyun mengunjuk giginya yang kecil karena saking semangatnya. Sedangkan Yoona mengangkat roknya tinggi-tinggi dan menampakan celana trainingnya.

Ia menggerutu. “Aku benci memakai rok dan jas kuning jelek ini.” Baekhyun hanya bisa terkekeh melihat Noonanya menggerutu.

Akhirnya mereka menemukan mini bus khusus mengantar anak sekolah. “Ppali naik ke busnya baekhyun!” Kata Yoona seraya menarik lengan Baekhyun.

Baekhyun sedang bermalas-malasan ke sekolah hari ini karena ia sudah menjadi kakak kelas.

Di dalam bus, di tempat duduk paling terakhir, duduklah dua kakak beradik Yoona dan Baekhyun. Berantakan dan kusut padahal mereka datang lumayan pagi.

“Noona, kau sudah siap hari ini?” Baekhyun meyakinkan Yoona yang akan menjadi murid SOPA.

“Siap?” Yoona menggeram “Siap apanya? Aku muak memakai jas kuning ini!” Yoona berusaha ingin melepasnya, Baekhyun terkekeh lagi.

“Ada apa? Apanya yang lucu?!” Yoona menampar pelan pipi putih Baekhyun.

“Sudahlah Noona, aku saja ingin masuk SMA itu jika paman mau membiayaiku lagi.”

“Jika saja kita bertukar jiwa…” Yoona menopang dagunya dengan ekspresi datar.

.

.

.

.

.

Yoona akhirnya pun sampai di SOPA dan Baekhyun pun sudah sampai di sekolahnya tadi. Untuk pertama kalinya, Yoona menginjakan kakinya di tempat yang menurutnya neraka itu.

“Ya tuhan, tolong selamatkan hidupku..” Yoona memejamkan matanya dan menghela nafas kasar. Baru saja ia ingin melangkahkan kaki, tiba-tiba…

PLEK

Ia tidak sengaja menginjak kotoran anjing, sialnya Yoona hari ini. Baru hari pertama di SOPA saja sudah ada ‘ucapan selamat datang’, apalagi sampai ia kelulusan? Yoona jelas-jelas tidak akan bisa membayangkan semuanya.

“AIGOO, MENGAPA SEMUA INI HARUS TERJADI KEPADAKU DAN DI NERAKA INI!!!” Yoona menjerit , berteriak, meloncat-loncat, menggoncang-goncangkan bahu setiap murid SOPA yang melewatinya.

Mereka saling berbisik dengan tatapan asing dan perlahan menjauh dari Yoona

“Ssst, dia kenapa?”

“Aneh sekali..”

“Dia sepertinya murid baru.”

Yoona menggerutu di dalam hati dan mengepal keras kedua tangannya. Bahkan wajah putihnya memerah bagaikan menelan cabai berkantung-kantung. Lalu ia memilih terus melanjutkan perjalanannya ke kantor kepala sekolah untuk meregistrasi ulang.

Yoona akhirnya memberanikan diri lagi untuk masuk ke gedung raksasa sopa. Ia menggerutu seraya harap-harap cemas dengan kelas barunya nanti.

Yoona berjalan kebingungan hingga akhirnya ia sampai di kantor kepala sekolah.

“Sekaranga ku sudah sampai di depan pintu ini. APA YANG HARUS KULAKUKAN!” Yoona mengernyitkan dahinya dan berkeringat dingin. murid-murid melewatinya saling memberikan tatapan untuk Yoona yang sedari tadi teriak-teriak, padahal Yoona hanya membuat suara aneh, bukan berteriak.

Yoona menghela nafas kasar untuk kesekian kalinya. Ia kali ini nervous dan gugup sekali, bahkan sangat.

KREK

Pintu ruangan kepala sekolah sudah di buka Yoona sedikit. Keluarlah udara dingin menyengat dari Ac bersuhu 17 derajat celcius. Harum semerbak dari pengharum ruangan aroma jeruk menelusup rongga-rongga hidung Yoona.

Meja, kursi, lemari, piagam, piala, semuanya yang biasa menghiasi ruangan kepala sekolah tampak sangat bersih, elit, dan berkelas. Deretan benda itu berteret rapi di lemari kaca yang hampir tidak bisa di lihat dengan kasat mata. Saking beningnya kaca, ada ribuan penghargaan berteret rapi di mana-mana.

Yoona melihat beberapa guru dan kepala sekolah sedang berbicara bersama murid laki-laki tinggi berambut cokelat yang setiap menit mengacak-acak rambutnya. Yoona hanya menongolkan kepalanya saja dan bercelingak-celinguk ria.

”Woah, tambah luas aja ruangan ini. lebih mewah dari lima tahun yang lalu.” Yoona tercengang lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aaa… Tidak mungkin aku menimati neraka ini…”

Yoona pun akhirnya melangkahkan kaki dan masuk ke ruangan itu dengan canggung dan menunduk.

“Selamat datang Im Yoona, sudah siap untuk hari pertama sekolah di surganya anak muda?” Seorang penjaga pelang pintu menyambut Yoona dengan ramah. “Jungmin ahjussi! Wa… Sudah lama tidak bertemu. Tidak usah menyambut repot-repot seperti ini, aku ‘kan bukan orang penting di sini.” Yoona merendah karena ia tahu kehidupan sebenarnya.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Ayo, ku antarkan ke hadapan meja Mr.Young Geun.” Penjaga yang Yoona anggap kakeknya sendiri itu menuntun Yoona di meja Kepala sekolah yang bening dan di sana sudah ada seorang murid laki-laki.

“Jeseonghamnida, Mr.Yeong Geun. Ini murid baru yang waktu itu saya ceritakan”

Yoona menunduk. “Annyeonghasiminika, Mr.Yeong Geun seongsaengnim.” Yoona membungkuk dan berusaha bicara seformal-formalnya.

“Kalau begitu, saya pergi dulu.” Penjaga itu tersenyum dan menepuk bahu Yoona agara Yoona semangat.

“Jadi, namamu Im Yoona nak? Kelihatannya bukan anak pejabat ya? Ah, tapi itu bukan masalah. Pamanmu sudah bernegoisasi, jadi kau tak perlu khawatir.” Kepala sekolah tersenyum.

“Ne, Mr.” Kata Yoona mengangguk pelan. Yoona tahu murida Namja di sampingnya adalah laki-laki yang…

“Kuperingatkan kau. Kalau kau tidak mau mengganti bajuku yang kotor, akan ku bunuh kau!”

 

Yoona menggeleng cepat. Ia baru saja mengingat kejadian kemarin yang membuatnya risih bukan kepalang.

“Ah, Mr.Yeong Geun. Aku pergi mencari kelasku, permisi.” Yoona membungkuk dan cepat-cepat keluar dari ruangan itu.

“Cepat sekali dia lari, dasar.” Kai menyunggingkan sedikit senyum ejekan.

.

.

.

.

.

Sepatu high heels berdetak menggema di lorong-lorong kelas di SMA SOPA yang hendak menuju sebuah kelas 10.

ZREK

Pintu geser modern itu membuat seisi kelas 10 SM Ent B menjadi tempat pemakaman yang awalnya seperti pasar lelang. Seluruh murid duduk rapi, mengunci mulut mereka rapat-rapat, dan melipat rapi tangan mereka.

“Annyeonghasiminika semuanya” Ucap Victoria Seongsaengnim lantang. Sang ketua kelas baru, Choi Minho memerintahkan seisi kelas untuk hormat dan berdiri.

“Attention everybody!!” Teriak Minho.

“Annyeonghasiminika!!” Tiga puluh murid kelas 10 SM Ent B pun membungkuk 90 derajat.

“Okay, aku sekarang akan menjadi wali kelas kalian selama kalian berada di kelas 10. Jadi pekenalkan, Naneun Victoria song imnida dan juga aku orang China.” Pernyataan terakhir yang membuat murid berbisik adalah Victoria Seongsaengnim bukan orang korea.

“Cukup!” Beliau memukul papan tulis, sekali saja para murid langsung diam. “Langsung saja kita mulai pe..”

ZREK

“Ah, hosh hosh, jeseonghamnida seongsaengnim. Aku telat, hosh..hosh..” Tampak sepatu dengan tali terlepas dan rambut panjang tak teratur dengan tas gendong yang miring. Sangat berantakan keadaan Yoona saat itu.

“Ah, selamat datang. Gwaenchana, silahkan duduk.” Ucap Victoria Seongsaengnim dengan nada terheran-heran. Para murid melihat Yoona menuju tempat duduknya dalam keadaan saling berbisik seolah-olah Yoona adalah alien yang tiba-tiba masuk ke kelas.

“Baiklah, kita mulai pe…”

ZREK

Lagi-lagi Victoria Seongsaengnim harus menahan amarahnya. Terlihat seorang murid Namja tampan berkulit agak coklat dan berambut yang teracak membuat seluruh seisi murid yeoja di kelas itu kecuali Yoon berteriak histeris.

“AAH!! Kai EXO!!!”

“Aku mencintaimu!!”

“Saranghae!!! Marry me Kai oppa!!”

Para murid yeoja saling menunjukan kecintaan mereka pada Kai, membuat Kai memutar bola matanya karena melihat pemandangan yang selalu sama ketika ia bertemu para murid yeoja. Yoona terheran-heran melihat Kai, karena mungkin ia pernah bertemu dengannya tapi ia tidak ingat.

“Omo! Kurasa aku pernah melihat dia, tapi di mana ya?” Yoona mencoba mengingat-ingat insiden kejar-kejaran kemarin.

“Dia itu laki-laki yang…”

“Kuperingatkan kau. Kalau kau tidak mau mengganti bajuku yang kotor, akan ku bunuh kau!”

“Aha! Dia Namja yang waktu itu aku tabrak di pinggir jalan dan dia juga yang berada di kantor kepala sekolah. Astaga, Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku akan bersembunyi di balik buku saja.” Guam Yoona seraya menutupi wajahnya dengan buku.

“Cukup teriak-teriaknya!!” Victoria seongsaengnim merasa kesal karena kelas ini ribut seperti pasar akibat kedatangan Kai.

“Nah, Kau Kai yang berasal dari group EXO ‘kan? Di mana kelasmu? Ada keperluan apa kau kemari?” Victoria mengeluarkan suara tegasnya.

“Ne, aku salah satu dari membernya. Aku kelas 10 SM Ent A. Aku ke sini ingin mendata seluruh murid kelas 10 yang ingin masuk ke kelas bakat dan ekskulnya. Ini atas perintah Sooman Seongsaengnim dengan menyebutkan biodatanya.” Kai tersenyum membuat para murid yeoja berteriak histeris lagi.

“Ah, kalau begitu silahkan mendata. Di mulai dari meja kiri dan jangan berisik” Victoria memberikan ultimatum pada para murid. Sedikit demi sedikit Kai mulai mengunjungi meja-meja setiap murid. Mereka menutup mulut mereka seperti cacing kepanasan setiap Kai mencatat biodata mereka.

“Aigoo, bagaimana ini? Dia akan menghampiriku dan menanyakan biodataku, Arkgh!! Apakah buku ini selalu menjadi topeng tiap kali bertemu Namja itu?” Yoona bergumam lagi hingga tangan dan kakinya membeku dan basah.

Tidak terasa sekarang Kai sudah berada di meja orang di sampingnya dan jelas sekali setelah itu adalah Yoona.

“Baiklah, berikutnya kau” Kai menunjuk Yoona, Yoona tetap menutupi wajahnya dengan buku dan menunduk.

“Namamu?”

“Im Yoona”

“Tempat, tanggal, lahir?”

“Apgujeong, 30 Mei 1999”

“Apa bakatmu?”

“Dance dan akting”

“Ingin ekskul apa?”

“Basket”

“Hobi dan keseharianmu?”

“Sepak bola dan penjaga toko”

“Tinggi dan berat?”

“168 cm, 48 kg”

“Pekerjaan ayah dan ibu?”

“Ayah meninggal dan ibu, ibu rumah tangga.”

“Cita-cita?”

“Dancer profesional dan atlet basket”

“Jika boleh tahu, kenapa kau menutupi wajahmu dengan buku?”

Kai pun berhasil membuat Yoona seperti patung. Kini Yoona benar-benar berkeringat. “Aku sedang flu. Cepat pergi sebelum kau tertular!” Yoona memberikan sedikit ancaman halus terhadap Kai agar Namja itu segera pergi dari kelas.

“Baiklah. Victoria Seongsaengnim, aku pergi dulu. Datanya sudah kucatat. Terima kasih, annyeong.” Kai keluar dari kelas itu dengan bahasa yang tidak baku.

“Huft..” Yoona pun menyudahi buku yang di wajahnya karena Yoona sudah merasa lega dan penyamarannya berhasil.

“Baiklah semua, pelajaran tentang pengenalan seni akan di mulai.” Victoria seongsaengnim menerangkan pelajaran selama 2 jam dan hingga bel istirahat berbunyi, semua murid SOPA berhamburan keluar kelas untuk ke kantin SOPA.

.

.

.

.

.

Yoona keluar dari kelas karena tak tahan berlama-lama di kelas yang menurutnya neraka.

“Cepatlah pulang. Aku tak ingin berlama-lama di gedung ini..”

Yoona berjalan menuju belakang sekolah untuk mencari angin. Ketika Yoona melanjutkan langkahnya ke area tembok batu bata di belakang sekolah, ia mendengar percakapan seseorang di area yang tak jauh dari Yoona berpijak.

“Ne, seorang gadis yang terlalu ‘bagak’ itu membuat masalah denganku dan Sehun dan katanya ia juga bersekolah di sini.”

“Ne, kalau ia benar-benar ada. Awas aja.”

Yoona kembali menyandarkan kepalanya ke dinding dengan mata mendelik karena ia sangat terkejut. Segerombolan murid Namja sedang membicarakannya lalu Yoona mencoba mendengarkannya lagi.

“Baiklah, kalau begitu aku ke kantin, Bye!”

“Bye Kai.” Para gerombolan Namja itu saling high five dan meninggalkan Kai. Yoona pun cepat-cepat berlari karena Kai mulai berjalan mendekat. Tapi nihil, Kai malah melihat Yoona berlari.

“Hey! Nuguya?! Jangan kabur!” Kai berlari secepat cheetah mengejar Yoona. Akhirnya, sudah ke 3 kalinya insiden kejar-kejaran ini terjadi dan kali ini Yoona nyaris tertangkap kai.

SRET

Getaran listrik terjadi pada punggung bagian belakang Yoona, saluran pernafasan Yoona terasa membeku, kaget bukan kepalang. Mata rusa Yoona mendelik sekuat yang ia bisa, lunturan keringat di pelipis Yoona perlahan terjatuh.

Deg

Deg

Degupan jantung Yoona berdesir kencang.

“Kau Yeoja yang kemarin. Hahahaha, tak sia-sia aku mencarimu!” Kai mengeluarkan smirknya walaupun Yoona masih membelakangi Kai.

“Kau lagi, Cih. Aku muak melihatmu.” Yoona mencoba tenang dan menutupi kegugupannya. “Aku minta kau memutar tubuhmu atau aku yang memutarnya.”

Kai mengancam Yoona sekarang. Yoona tetap bersi keras diam di tempatnya.

“Aku tidak mau, dasar bodoh.”

“Kalau begitu kau yang meminta membangunkan beruang tidur.”

Kai membalikan badan Yoona dengan cepat dan mendorong kuat ke tembol tanpa cat itu. “Aw! Apa yang kau lakukan?! punggungku sakit!”

“Aku tidak peduli.”

Rahang Kai mulai mendekati ke telinga Yoona perlahan. “Aku tidak mempermasalahkan lagi soal baju yang kotor kemarin, aku akan mengampunimu jika kau mau meminta maaf dan bertekuklutut mencium kakiku di depan semua murid.” Kai menaikkan nada suaranya itu membuat Yoona menutup matanya dan agak meringis.

“Aku tidak mau! Cih, untuk apa aku melakukan hal paling bodoh dan tidak berguna itu!” Yoona membalas bentakan Kai.”Ow, jadi kau hanya berani melawanku saja, huh?! beraninya melawan perempuan!”
DUG

“AW! APA YANG KAU LAKUKAN!!” Kai menutupi ‘aset’ terpenting dalam hidupnya karena baru saja di tendang oleh Yoona.

“Memangnya aku peduli!” Yoona berlalu dengan angkuh meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Tak jauh dari tempat Yoona berjalan di koridor SOPA, ia tak sadar bahwa sedari tadi ada yang membuntutinya.

“Ternyata ia cukup tangguh untuk gadis seumuranku.” Namja tadi mengintip dari balik tiang-tiang pondasi yang besar seraya membetulkan kacamatanya yang lumyan besar.

-To Be Continued-

29 thoughts on “(Freelance) Mutlichapter : Thunder (Chapter 2)

  1. Uwaa gak sabar pengen baca kelanjutannyaa. Sehun kapan muncul dah? Kangen ih *lol
    ohh yaa author keep writing eaa. Nextnya ditunggu lho thor, take your time aja. Tapi jan lama2 juga deng, ntar lumutan wkww

  2. Waahhh semakin penasaran sama kelanjutannya thor kayaknya bakalan seru nih
    next chapter jangan lama-lama yah thor dan lebih panjang lagi biar puas bacanya
    keep writing

  3. Baekhyun nya lucu~ aku gk bsa bayangin kalo ini di khidupan nyataa.. Yoona gk kyk cewe biasa, saoloh thor cepeet dong chapter 3 nya ++

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s