Numinous

numinous

presented by

two deers

starring

SNSD’s YoonA x EXO-K’s Sehun

Credit poster goes to; APAREECIUM (a.k.a. Vi!) thank you for this amazing and glorious poster! -insert smooches emojis-

>//////<

numinous

(adj.) an experience that makes you fearful yet fascinated,

awed yet attracted– the powerful, personal feeling

of being overwhelmed and inspired.

>/////<

Kuas berbalur cat hitam itu kembali menari diatas kanvas, terdiam untuk beberapa saat, lalu kembali bergerak lagi. Dengan gerakan cepat, ujung kuas itu akan menyapu permukaan palet, merubah warna hitam pekat itu menjadi biru muda yang terang. Bila si pemegang kuas sedang bingung, kuasnya hanya akan menari-nari diatas palet, mengaduk campuran warna yang acak. Lalu kuas itu akan kembali menari diatas kanvas lagi, dan menciptakan goresan-goresan indah.

having fun painting the sleeping me, Oh Sehun?”

Sehun menyembulkan kepalanya dari balik kanvas, hanya untuk bertukar pandang dengan gadis yang menjadi objek lukisannya. Kuasnya kembali menari dengan lincah diatas kanvas, melanjutkan garis yang tadi ia buat.

Gadis itu bangkit, hanya berbalut selimut putih di tubuhnya yang polos, tanpa tambahan lainnya. Rambutnya jatuh ke bawah bahunya, agak berantakan tapi dengan warna coklat yang indah diterpa matahari pagi. Ia sedikit meringis saat telapak kakinya mengenai keramik yang dingin, tapi lalu berangsur mendekati Sehun.

“Cantik sekali.” Gumam Sehun dengan senyum puas pada kanvas berwarna-warni dihadapannya.

“Aku, atau lukisannya?” Tanya gadis itu, meletakkan kepalanya di pundak Sehun dan memandangi dirinya didalam lukisan.

Sehun mengangkat bahu lalu meletakkan kuas dan paletnya. “Lukisannya, Yoona.”

Yoona mengernyit. “bahkan jika aku objeknya?” Tanya Yoona, yang disambut anggukkan dari Sehun. “well, terserah kau saja.”

Yoona memunguti pakaian dalamnya yang berceceran di lantai dan cepat-cepat mengenakannya. Udara pagi Seoul bertambah dingin, dan hanya dilapisi selimut bukan pilihan yang bagus untuk menghangatkan diri. Dengan hot pants dan kamisole putih, gadis itu menuju dapur yang tak jauh darisana.

“sudah sarapan?” tanya Yoona seraya menguncir rambutnya dalam satu ikatan yang tinggi. Tangannya meraih pintu kabinet dan mengecek isi didalamnya. Mie cup dan beberapa jajanan ringan. Merasa tak puas, ia beralih ke kulkas.

“aku akan sarapan di kampus.” Balas Sehun, kini merapikan goresan-goresan pada lukisannya.

Yoona mengernyit, lalu menoleh pada Sehun. “sarapan disini jauh lebih baik.” Ucapnya tegas.

Sehun tersenyum tipis. Itu bukan anjuran, tapi perintah yang tak boleh dibantah yang datang dari seorang Yoona Im. Dan sebagai Oh Sehun yang sangat patuh pada gadis itu, Sehun akhirnya mengangguk.

Yoona mengambil 2 butir telur dari kulkas, 4 potong roti tawar gandum, kotak susu, dan sebotol mayonnaise. Setelah menggoreng telur mata sapi di atas kompor, Yoona meletakkan 4 potong roti tadi diatas piring. Dengan cekatan, Yoona telah membuat sarapan mereka untuk pagi itu dalam waktu yang singkat.

Sehun menoleh dari kanvasnya, dan tersenyum saat melihat Yoona yang sibuk menyiapkan sarapan dengan senyum di wajah polosnya. Sehun selalu menikmati saat-saat ‘lengah’ dari gadis itu. Saat ia terlalu larut dalam sebuah lagu dan melupakan dunia sekitarnya. Saat ia asik menyusuri baju-baju di butik favoritnya dan menghiraukan yang lainnya. Dan saat ia sedang terlelap, memejamkan kedua matanya dengan ekspresi paling damai dan tenang yang pernah Sehun lihat.

Tuhan, dia sangat mencintai gadis ini.

“tidak mau sarapan?” tanya Yoona yang kini berada di meja makan dengan 2 piring dihadapannya.

Sehun buyar dari lamunannya, lalu bangkit dan duduk dihadapan gadis itu. “Jadi? Roti dan telur lagi?”

Yoona mengunyah roti telur di mulutnya dengan kening yang dikernyitkan. Sehun pasti akan mengomentari lagi menu buatannya yang terlalu gampang. “aku menambahkan mayonaisse. Jadi itu bukan ‘roti dan telur lagi’ tapi ‘roti dan telur dengan tambahan mayonaisse’.” Bantah Yoona.

Sehun tersenyum geli. “Baiklah.”

Keduanya menikmati sarapan mereka dalam diam. Mereka hanya akan bertukar kata saat  Sehun meminta botol mayonaisse, atau Yoona memberikan pinggiran roti yang ia tak suka pada Sehun. Yoona tidak terlalu suka bicara saat makan, dan Sehun tidak keberatan dengan hal itu.

Tring!

Bunyi notifikasi ponsel membuyarkan keheningan mereka. Yoona bangkit dan berjalan menuju kasur, lalu mencari-cari handphonenya diantara lipatan selimut yang tebal. Yoona mencermati layar i-phone-nya dengan kening yang berkerut, menyelusuri notif-notif yang menumpuk. Pesan Kakaotalk dari Taeyeon, notifikasi grup, pesan singkat dari teman kampusnya, dan……….. 2 panggilan tidak terjawab.

Yoona mencermati waktu panggilan dari kontak ia sangat ia kenali itu. 5 menit yang lalu. Berarti ia akan menelepon lagi…….

Sebuah panggilan masuk muncul di layar handphonenya. Yoona menghela napasnya. Sekarang.

“Hal—“

Yoona?”

Yes, Mum?” Mendengar tak ada balasan, pasti si penelepon ingin Yoona menjelaskan kenapa ia tidak menjawab panggilan sebelumnya. “Sorry, i was caught up with something.”

Sehun menoleh pada Yoona dengan raut wajah heran. “Siapa?” tanya Sehun.

Yoona menggumamkan ‘mama’ yang pelan, membuat raut wajah Sehun kini berubah. Yoona menarik kursi disebelah Sehun, lalu duduk disana. Sehun menatap gadis itu lekat-lekat, penasaran dengan yang akan dibicarakan oleh ibu dari gadis itu.

“Tidak apa-apa. Yoona, mama menelepon karena akan ada….”

dinner di Golden City Restaurant?”

SI penelepon terdiam sejenak, terkejut akan kemampuan menebak anaknya yang makin akurat.

Ya. Mama ingin makan sup gurita yang enak disana. Bagaimana kalau jam….”

“8 malam?” Terka Yoona lagi.

correct. Perlu mama jemput di apartemen Taeyeon?”

Yoona menggigit bibir bawahnya. “uhmm…. no need to. Aku akan pergi kesana sendiri.”

“well then. Ah, jangan lupa untuk mengajak Sehun, okay? Tadi ayahnya bilang, Sehun tidak dapat dihubungi.

Yoona melirik Sehun sebentar. “Sure thing, Mum. Aku akan pergi dengan Sehun oppa nanti malam.”

Ibu Yoona tersenyum puas dari seberang sana. “great. Take care, hon.”

“Pasti. Take care, mum.”

Yoona menghela napas saat ibunya memutuskan panggilan. Selalu begitu. Panggilan dari wanita yang menjadi ibunya itu bukannya menenangkannya, tapi malah membuatnya semakin gundah. Padahal dulu, nada keibuannya mampu menenangkan Yoona yang bahkan sedang panik sekalipun. Tapi kali ini hanya mendengar namanya saja membuat darah Yoona berdesir lebih cepat.

“Jadi?” Sehun angkat bicara. “Beralasan menginap di Taeyeon nuna, lagi?” Sindirnya.

Yoona menggigit bibir bawahnya. “Bukan itu masalahnya.” Gadis itu bangkit, mengambil piring Sehun yang ludes isinya, dan piringnya yang bersisa setengah potong roti tadi. Ia menuju bak cuci piring didapur, lalu menyalakan keran kencang-kencang.

Sehun menyadari perubahan mood pada gadis itu, lalu ikut bangkit. “Yoona.” Ucapnya pelan.

“mama mengajak makan malam lagi. Aku. Kita. Kita berempat.” Yoona menghela napas, lalu membuang sisa makanan ke tempat sampah dengan kasar. “aku benci ini.”

Sehun bersandar di dinding pembatas antara kamar makan dan dapur, memandangi Yoona yang bersusah payah menahan emosinya. Gadis itu mengambil spons berbusa, lalu menggosok piring-piring tadi dengan kasar, dan membilasnya. Gerakannya kaku dan canggung seperti biasanya, tapi dari gerakan pundaknya yang naik turun dengan cepat, Sehun bisa merasakan emosi gadis itu.

Prang!!!

Pecahan piring itu berhamburan di bak cuci piring dan menimbulkan bunyi yang keras, membuat Sehun terlonjak. Yoona terisak, lalu meraih pecahan-pecahan piring tadi.

“Yoona!” Sehun menarik pundak itu kasar, mencegah Yoona menyentuh pecahan piring tadi.

Kini Yoona menoleh ke arah Sehun sepenuhnya. Bola matanya memerah dan pipinya basah. Sehun menatap gadis itu dengan kening yang berkerut. Dengan cepat, Sehun meraih tangan gadis itu. Tetesan darah mengalir dari jari tengahnya, tak banyak, tapi cukup untuk membuat kecemasan pria itu bertambah. Sehun memastikan tidak ada pecahan yang menyangkut disana, lalu menghisap darah dari jemari gadis itu.

“Yoona.” Ucap Sehun kembali, kali ini menatap bola mata gadis itu lekat-lekat. “santai, oke? Ceritakan padaku.” Bujuk Sehun, lalu mengusap pipi kiri gadis itu dengan lembut.

“kita akan makan malam lagi, Sehun. Tapi ini bukan makan malam seperti biasanya lagi.” Yoona memejamkan matanya rapat-rapat, seiring dengan air mata yang mengalir di pipinya. “Ibu sudah merencanakannya.”

Sehun mengusap air mata Yoona dengan jempolnya. “Rencana apa?”

Yoona kembali terisak, dan kini ia terlihat sangat lemah dengan tatapan matanya yang hancur itu. “Pernikahannya sudah direncanakan. Bulan depan, Sehun. Ibu memberitahuku 2 hari lalu.”

Sehun menghela napas, lalu meletakkan kedua tangannya di kiri dan kanan gadis itu, menghimpit tubuh gadis itu dengan dirinya begitu dekat. Sehun mengecup kening Yoona lembut. Gadis itu masih terisak, dan kali ini membenamkan wajahnya di dada Sehun.

it’s okay. Pasti akan ada jalan keluarnya. Pasti, Yoona.” Gumam Sehun pelan, berusaha meyakinkan Yoona dan dirinya sendiri.

Yoona mengangkat kepalanya, dan kali ini menatap Sehun dengan matanya yang basah. “there’s no way out, Sehun. Kau tahu itu.” Ucapnya dengan suara yang serak.

“Sstt.” Sehun mengelus pundak kepala gadis itu dengan lembut, lalu memeluknya pelan, membiarkan wangi susu dari rambut gadis itu masuk ke penciumannya. “we’ll figure it out somehow.”

Yoona terdiam. Isakannya semakin mereda, dan kini hanya terdengar sesenggukannya sesekali. Sehun tetap mengelus kepalanya dalam gerakan yang pelan dan lembut. Yoona yang biasanya kuat dan menarik, kini terlihat lemah dihadapannya. Hanya dihadapannya. Sehun tidak menyukai tangisan Yoona. Tidak sama sekali. Tapi melihat sisi lemah Yoona yang hanya gadis itu tunjukkan padanya, Sehun merasa tenang. Kekanakan, mungkin. Tapi hanya inilah momen dimana Yoona akan sangat bergantung padanya.

kiss me, Sehun.” Yoona mengangkat kepalanya. “Cium aku sekarang.”

Sehun menatap gadis itu terkejut. “are you fine now?”

Yoona mengalungkan lengannya di leher Sehun, mempersempit jarak tubuh mereka. “never been better.”

Yoona mempertemukan kedua bibir mereka dalam hitungan detik, dan sedikit menggigit bibir Sehun disana. Sehun awalnya terkejut, tapi begitu merasakan bibir manis itu, dengan senang hati ia menyambutnya. Tangan Yoona yang awalnya terkalung di leher Sehun kini beranjak menuju punggung pria itu, dan mencakar bagian belakang bajunya. Kedua mata mereka terpejam rapat, dan tenggelam dalam ciuman hangat itu.

Tangan Sehun kini beralih pada kedua paha Yoona, mengangkat gadis itu keatas meja dapur. Ia melepaskan ciumannya dengan nafas tersenggal-senggal. “may i?” tanya Sehun dengan senyum nakal.

Yoona tidak membalas, dan kembali menciumi bibir pria dihadapannya. Yoona tidak akan pernah merasa cukup dengan bibir pria itu. Manis tapi pahit, karena sisa asap rokok disana. Hal itu malah menambah keinginan gadis itu untuk melanjutkan ciuman mereka.

Sehun menyelipkan jemarinya yang dingin dibalik kamisole tipis gadis itu, membuat Yoona sedikit terlonjak. Tangan kirinya mengepal dan bersanggah diatas meja dapur, dan tangan kanannya kini masuk ke dalam kamisole Yoona. Yoona tersenyum tipis dan tetap larut dalam ciuman mereka berdua. Bunyi bibir yang bertemu dan desahan samar dari Yoona membuat kepalan di tangan kiri Sehun semakin mengerat.

Kali ini Yoona yang melepas ciuman mereka untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Sehun mengecup kening gadis itu cepat. “should we….?” tanyanya dengan alis kanan yang terangkat.

Yoona tersenyum miring dan melingkarkan kakinya di pinggang Sehun. “yes is the only answer.”

///

Sehun ingat satu hal yang pernah dikatakan Yoona. Gadis itu ingin bercinta dengan alunan Adore You oleh Miley Cyrus sebagai background-nya. Sehun langsung tertawa dan menolak mentah-mentah permintaan gadis itu. Menurut Oh Sehun (yang cukup berpengalaman dengan wanita, terutama yang lebih tua, mind you), lagu hanya akan mengalihkan perhatiannya, dan tentu saja, menutupi suara desahan yang menurut Sehun adalah hal terseksi yang bisa keluar dari bibir wanita.

Tapi malam ini, Sehun membiarkan handphone diatas meja disebelah tempat tidurnya berbunyi, membiarkan suara rendah dan dalam dari Miley mengisi malam mereka. Hanya malam milik Sehun dan Yoona. Malam dimana mereka tak lagi mementingkan akal sehat atau pendapat dari orang lain.

Hanya mereka, berdua. Ditemani sinar bulan yang mengintip dari jendela.

Sehun memandangi Yoona. Gadis itu, berada tepat dibawahnya dengan kedua mata yang terpejam rapat. Alisnya mengernyit dan ada sedikit jejak air mata di ekor matanya. Bibirnya sedikit terbuka, dan kadang gadis itu akan menggigit bibir bagian bawahnya.

Damn, she’s gorgeous.

Menurut kebanyakkan pria (termasuk Oh Sehun), ada 2 momen dimana wanita terlihat sangat cantik, effortlessly. Pertama, saat mereka baru bangun di pagi hari. No one can resist any girls’ innocent looks with their spacing out mind and sexy messy hair. Dan kedua, well of course, when they’re having sex. Tatapan yang mengundang, bibir yang digigit, dan, moans. Disitulah saat seorang perempuan benar-benar…. perempuan.

Dan kali ini, Yoona yang berada tepat dibawah Sehun, adalah Yoona yang paling cantik yang akan pernah dilihat pria itu.

Sehun mengagumi bagaimana rambut hitam pekatnya tergerai begitu saja dan berantakkan, tapi terlihat sangat lembut dan Sehun bisa menciumi harumnya dari atas gadis itu. Kulit porselennya yang ditimpa sinar bulan malam itu. Bibir merah mudanya yang terlihat menggoda. Damn, he’s lucky to have her.

“Yoona?” Sehun berhenti saat melihat satu tetes air mata mengalir di wajah gadis itu. “are you okay?”

Yoona memalingkan wajahnya ke samping, tak ingin Sehun melihat wajahnya. “i am.” Jawabnya dengan suara serak. “aku hanya….”

Jemari Sehun mendekati wajah gadis itu, lalu membelai pipinya lembut. “kepikiran tentang yang tadi?” tebak Sehun.

“aku takut.” Ungkap Yoona, kini satu tetes air mata lagi mengalir di pipinya. “makan malam besok…. makan malam besok berarti hal ini akan jadi semakin sulit.”

“Hal ini?”

the whole meeting you, having breakfast together and…. like this. Makan malam besok akan merubah segalanya, Sehun. Kita akan bertemu sebagai……” Yoona menghela napas. “Kau tau, aku tidak menyukainya.”

Sehun mengernyitkan alisnya. “tidak. Kita akan tetap seperti ini. Kau akan tetap jadi Yoona, Im Yoona yang akan selalu jadi objek lukisanku.” Jemari Sehun meraih helaian rambut Yoona yang tergerai, lalu menciumnya. “you’ll always be my muse. My one and only muse. Aku tidak akan melukis gadis lain selain, kau, Yoona, muse-ku.

Senyum tipis terkembang di wajah Yoona. “you’re always such a sweet talker.” Ledeknya.

i’m your sweet talker.” Balas Sehun, lalu kini mengecup kening gadis itu. “may i continue, miss?” Kini Sehun menjilat sedikit bibirnya, lalu melirik ke bawah.

Yoona tergelak. Tawa lebar yang selalu disukai Sehun. “you may.”

Dan mereka melalui malam itu dengan kecupan-kecupan dalam lainnya.

///

Hanging out with friends is always an alternative option to relax your tense body, beside smoking, alcohol, and of course, sex.

Yoona kagum pada dirinya sendiri, bahwa dari kepribadiannya yang “unik” dan kadang membuat orang menjauhinya, masih ada orang yang mau berada disisinya sebagai seorang sahabat. Disaat orang lain mengumbar-umbarkan kemesraan mereka dengan pacar, Yoona justru malah akan dengan bangga memamerkan sahabat dekatnya.

Jieun, misalnya. Si kutu buku yang tak sengaja Yoona temui di perpustakaan. Beruntung Yoona bisa menemukan buku untuk tugas dari dosennya, semuanya karena Jieun. Awalnya Yoona merasa tidak akan cocok dengan gadis itu. Tapi setelah beberapa kali pertemuan (di perpustakaan, because whereelse would Jieun be?), mereka berteman dan Lee Jieun adalah orang pertama yang menjadi sahabat Yoona –well, sebenarnya kedua, kalau kita menghitung Taeyeon yang jadi teman sejak kecil Yoona- dan bisa bertahan menghadapi gadis itu.

Lalu ada juga Kwon Yuri, manajer pemilik bar bawah tanah yang juga sekaligus menjadi bartender disana. Dari tangannya, Yoona bisa merasakan martini terenak yang akan pernah ia rasakan. Yuri yang terkadang dingin dan cuek, tapi memberi perhatian pada Yoona seperti adiknya sendiri. She’s like the tsundere type sometimes. Sulit mengekspresikan rasa sayang, padahal hatinya lembut. Tapi bukankah orang yang terlihat paling cuek biasanya adalah yang paling sayang?

Yeri yang tergolong anak manja (mind you, she’s the only daughter of the-so-called 3rd richest company in South Korea), juga masuk dalam kategori sahabat bagi Yoona. Kecintaan Yoona pada SFW (Seoul Fashion Week) membawanya pada Kim Yerim, yang magang sebagai asisten salah satu designer disana. Short to be said, they become those kind of fashion buddy. Any kind of new fashion items that Yoona has, harus dengan persetujuan dari gadis itu dan sebaliknya.

Yang terakhir, ada Taeyeon. Kim Taeyeon. Mahasiswi kedokteran tahun ketiga yang juga notabene adalah teman Yoona sejak kecil. Setiap sore sepulang kuliah selalu menjadi volunteer di panti jompo dekat kampusnya, pada hari minggu akan ke gereja lalu menanam bibit bunga di taman dekat rumahnya. Tinggal di apartemennya sendiri dengan kerja sambilan di bar Yuri pada malam hari, itupun karena Yoona memaksanya, dan Yuri sangat butuh tambahan pekerja. Tipikal gadis alim yang tidak pernah tahu dunia. Yoona selalu menjulukinya Virgin Mary, karena sifat gadis itu. Taeyeon yang selalu tegas dan lembut pada Yoona, yang terkadang malah seperti ibu bagi Yoona.

Dan Yoona selalu menyukai saat-saat mereka berkumpul bersama, seperti yang kali ini.

family dinner or date?”

Yoona melirik Yeri dari cermin dihadapannya. “both.”

Yeri menggeleng lalu terlihat berpikir sejenak. “kalau date, tentu aku akan menyarankan yang ini.” Tangannya mengangkat sebuah mini dress hitam yang ketat, dengan bordiran kupu-kupu di bagian bawahnya. “tapi kalau ini family dinner….” Kerutan di dahi gadis itu semakin dalam.

Taeyeon yang daritadi sibuk mengatur rambut Yoona, kini menghela napas. “pilih dress yang lebih sopan, Yeri. Jangan pilih yang bagian dadanya terlalu terbuka.” Tegur Taeyeon.

Yeri mengerucutkan bibirnya, lalu kembali meletakkan mini dress hitam ke atas kasur. Gadis itu kembali ke closet Yoona yang penuh dengan baju, sepatu, dan aksesoris lainnya. Ia larut dalam pencariannya untuk menemukan dress yang cocok, dan pasangan aksesorisnya.

Yuri yang sedaritadi bermain games di tabletnya, kini mengangkat kepala. “harus menggunakan dress?” tanyanya heran.

Taeyeon menghela napas dan kali ini mengangguk. “Tentu saja, Kwon Yuri. Kau mau dia pergi dengan memakai jeans dan kaos oblong?”

Yuri mengangkat kedua bahunya. “aku kira kita bisa melakukan hal itu.” Tanggapnya, yang langsung dibalas tatapan tajam dari Taeyeon.

FOUND IT!!!” Seruan Yeri membuat keempat gadis lainnya terlonjak, dan menatapi gadis itu dengan terkejut. Yeri kembali dari closet dengan sebuah dress di  tangan kirinya dan sepasang sepatu di tangan kanannya. “aku sudah menemukan baju yang cocok!!!”

“easy, kiddo.” Gumam Yuri yang bangkit, lalu meraih dress dari tangan kiri Yeri. Gadis itu mencermati gaun hitam yang kini ada di tangannya, “ini lumayan.” Ucap Yuri sambil mengangguk-angguk.

Taeyeon menoleh kebelakang, lalu kembali kedepan, fokus pada rambut Yoona yang sedang ditatanya. “warna hitam? Apa Yoona akan menghadiri acara pemakaman? Coba cari sesuatu dengan warna yang lebih—“

“itu bagus.” Ucap Yoona yang sedari tadi terdiam. “black suits me better.”

Yuri, Taeyeon, dan Yeri menyadari perubahan pada suara gadis itu. Yuri berdeham lalu kembali sibuk pada tabletnya sementara Yeri kembali ke closet dan memilih aksesorisnya. Suasana menjadi canggung untuk beberapa saat.

“well, kurasa semuanya sudah beres.” Gumam Taeyeon memecah keheningan. “aku sudah tau akan menata rambutmu seperti apa. Pakaian sudah siap, dan Jeep Yuri sudah siap mengantarmu kesana.”

sebentar lagi jam 8.” Ujar Yuri, mengingatkan.

Yoona memandangi pantulan dirinya sendiri di cermin. Taeyeon telah memberikan basic foundation dan sedikit lipgloss pada bibirnya, eyeliner pada matanya, dan akan ditambahkan lagi saat Yoona mengenakan dress-nya. Jeep Yuri baru keluar dari bengkel dalam keadaan prima, dan siap mengantar gadis itu. Semuanya sudah sempurna. Kecuali satu.

“Sudah siap?” Pintu kamar terbuka, dan sosok Jieun muncul disana. Gadis itu terlihat berpakaian rapi, dengan rambutnya yang dikuncir dalam satu ikatan. Ia akan ikut pergi dengan Yuri dan Yoona, karena ada pesta ulang tahun salah satu teman pustakawannya didekat restoran.

Taeyeon tersenyum lega. “akhirnya kau datang, Jieun. Kau tidak tahu betapa sulitnya kami menentukan dress yang akan Yoona pakai.” Keluh Taeyeon.

Jieun mengambil gaun dari atas tempat tidur, lalu mencermatinya dengan senyum tipis di wajahnya. “ini manis.”

“tentu saja!” Yeri merangkul lengan Jieun, lalu tersenyum lebar. “aku memilih ini dari koleksi musim semi tahun kemarin, dress ini termasuk dalam the most wanted one karena bahannya yang sulit didapat dan jahitan dari tan—“

“oke, oke.” Sela Jieun. “ini sudah bagus. Tapi bukankah masih ada yang belum siap?”

Taeyeon terlihat agak panik dan mencoba mengingat hal-hal yang harus disiapkannya. Pakaian. Rambut. Sepatu. Mobil. “Apa lagi?”

Jieun tersenyum tipis dan kini mendekati Yoona yang duduk didepan meja rias. Perlahan, gadis itu merapikan rambut Yoona yang tergerai. “kau sudah menyiapkan hati?”

Semuanya terdiam, menunggu jawaban Yoona.

Jieun meletakkan kedua tangannya diatas pundak Yoona, sementara Taeyeon memandangi gadis itu dengan raut wajah khawatir. Seisi ruangan mendadak diisi dengan keheningan yang canggung. Bahkan Yeri, yang biasanya menjadi chatter kini membungkam mulutnya sendiri. Semuanya tahu apa yang akan dihadapi Yoona saat ini tidak mudah.

“Yoona.” Jieun akhirnya angkat bicara dan tersenyum tipis. “ini akan jadi sulit, sangat sulit kalau boleh jujur. Kami berusaha mencari solusi, tapi semuanya buntu. Jalan keluar terbaik adalah yang akan paling menyakiti semuanya. Tapi kita tidak bisa melakukan hal itu kan?”

Jieun merangkul leher gadis yang lebih muda daripadanya itu dengan erat, lalu tersenyum tipis. “anything that would happen, ingatlah kalau kami akan siap untuk membantumu.”

Yoona membalas rangkulan gadis itu erat.

///

Setelah menimbulkan bunyi berdecit yang lumayan keras, jeep putih itu kini berhenti tepat didepan restoran mewah, diantara parkiran mobil mewah lainnya. Sebagai satu-satunya mobil yang terbilang sederhana, sontak saja jeep itu menjadi pusat perhatian.

Yuri menghela napas lega. “safe.” Gumamnya setelah melihat jarak bagian depan jeep dengan mobil dihadapannya yang lumayan jauh.

“sekarang jam 8 lewat 5 menit.” Jieun mengecek jam tangan di pergelangan tangan kirinya. “sebaiknya kau segera masuk, Yoona.”

Yoona mencengkram dompet hitam ditangannya erat. Tangannya basah karena keringat, dan tatapannya kosong. Jieun memperhatikan hal itu, lalu menepuk pundak Yoona. “semuanya akan baik-baik saja.”

Senyum tipis terkembang di wajah Yoona. Gadis itu turun dari jeep, lalu sedikit merapikan rambutnya yang tertiup angin. Saat hampir di pintu masuk, Yoona menoleh pada Yuri dan Jieun yang sedari tadi memandanginya. Jieun menggumamkan ‘good luck’ yang samar, sementara Yuri mengacungkan jempolnya. Tak lama, jeep putih itu menghilang di belokan kedua.

Seorang pelayan membukakan pintu masuk, dan udara dingin langsung menerpa wajah gadis itu. Yoona berjalan menuju resepsionis, sambil melihat ke sekelilingnya. “ada yang bisa saya bantu?” tanya petugas resepsionis ber-name tag Jiae itu ramah.

“pemesanan meja Nyonya Im, jam 8.”

Petugas itu mengetik sesuatu di keyboard, lalu menggeleng pelan. “tidak ada, nona.”

Yoona menghela napas. “Pemesanan meja Nyonya Oh, jam 8.” Gumamnya.

Kali ini petugas itu mengangguk, memanggil seorang rekannya untuk mengantar Yoona ke meja yang dimaksud. Yoona mengikuti langkah pelayan dengan name tag bertuliskan Min Yoongi melewati beberapa meja, sebelum sampai di meja tempat ibunya berada.

Genggaman Yoona pada dompetnya semakin mengeras.

Setelah bersusah payah menggerakkan otot mulutnya, sebuah senyuman dengan sukses dilontarkan oleh Yoona. “annyeonghaseyo.” Ucap Yoona sopan dan membungkuk dalam.

“Yoona.” Ibu gadis itu, dengan wajah yang hampir mirip, tersenyum sumringah. “kemari, ibu baru saja memesan spaghetti kesukaanmu.”

Yoona mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah ibunya, dan saat itulah tatapan mereka bertemu.

Oh Sehun.

Oh Sehun dengan black suit dan grey tie-nya yang terlihat baru, terka Yoona mengingat setelan lainnya tanpa sengaja ia kotori dengan noda es krim di bagian kerah. Oh Sehun dengan rambut yang disisir rapi, not the sexy messy hair she used to see in the middle of their ‘activities’. Oh Sehun dengan senyum yang lembut, tapi kali ini tidak penuh cinta. Itu senyum seorang……. kakak.

“Ibu sudah membicarakan rencana pernikahan ini pada Sehun, saat kau belum datang.” Suara Ibu Yoona membuat keduanya menoleh dan tatapan mereka terputus. “Sehun terkejut dan ia bilang ia sangat senang mendengar berita pernikahan ini.” Ucap ibu Yoona diiringi dengan senyum lebarnya.

Yoona melirik Sehun dan tersenyum miring. What a good actor.

Sehun memainkan gelas red wine-nya. “aku tahu cepat atau lambat, bibi dan ayah akan segera melaksanakan pernikahan. Tapi aku tidak menyangka akan secepat ini. Pilihan timing yang sangat berani dan….”

“dan menarik.” Sambung Yoona, membuat ketiga orang di meja itu menoleh ke arahnya. “timing yang sangat menarik.”

Pesanan mereka datang. Ayah Sehun dan Ibu Yoona dengan sup gurita, Yoona dengan spaghetti dan Sehun dengan le foie gras-nya. Yoona mencemooh pilihan makanan Sehun yang terlalu mewah disaat-saat menyebalkan seperti ini, tidak seperti dirinya yang hanya memesan spaghetti biasa.

Ibu Yoona mengawali pembicaraan, “Sehun, bagaimana dengan kuliahmu? Semuanya baik-baik saja?”

Sehun mengiris hidangannya dan tersenyum tipis. “ada beberapa tugas sulit dari dosen, tapi aku bisa mengatasi semuanya.” Ucapnya penuh percaya diri.

Senyum bangga dan puas terkembang di wajah ibu Yoona, seolah sehun adalah anak kandungnya sendiri. “masih membuat lukisan? Kudengar dari Yoona, kau sering sibuk melukis di waktu senggang. Yoona sering menceritakan kegiatanmu pada bibi, dan bibi sangat senang mendengar kecintaanmu pada melukis masih besar.”

Sehun melirik Yoona. Menceritakan keseharianku, hm?

Yoona mengangkat kedua alisnya. Just play along with it.

Sehun tersenyum tipis. “aku menyelesaikan beberapa lukisan akhir-akhir ini, tapi tidak sebagus yang bibi pikirkan.” Ucapnya merendah.

“lukisan pemandangan?” tanya ibu Yoona sebelum menikmati sup guritanya.

Sehun tertawa kecil. “Pemandangan….” kali ini tatapannya mengarah pada Yoona, “dan lainnya.”

Ibu Yoona tak menyadari perubahan nada pada suara Sehun dan mengangguk senang. “apa kau bisa melukis Yoona? Bibi ingin sekali memasang salah satu potret Yoona di rumah kita nanti.”

Yoona mengernyitkan alisnya, lalu cepat-cepat merubah ekspresinya. Sehun tersenyum, “sebenarnya aku sudah melukis beberapa gambar Yoona.”

Kedua bola mata ibu Yoona melebar, dan ia tersenyum senang. “oh ya? Bisa kau tunjukkan pada bibi kapan-kapan?”

Ups.

Yoona meringis. Kebanyakkan lukisan Sehun berupa dirinya yang sedang… well, half-naked. Kalau itu wajar bagi seorang calon kakak tiri untuk memiliki lukisan calon adik tirinya yang setengah telanjang, sih, Sehun pasti sudah menunjukkannya pada ibu Yoona sejak dulu.

“tentu, Bibi. Aku akan menunjukkannya di pameran yang akan datang.” Balas Sehun.

Yoona mengerutkan keningnya. Pameran?

“Pameran?” Ibu Yoona menatap Sehun kaget, dengan senyum berseri-seri. “Jadi sekarang kau akan terfokus pada seni, eh?”

Sehun terkekeh. “Tidak, aku hanya menitipkan beberapa lukisanku pada pelukis kenalan Ayah, dan ia setuju untuk memajangnya di pameran nanti.”

Ibu Yoona kini menoleh pada Ayah Sehun. “Benarkah, sayang?” tanyanya lembut.

Ayah Yoona tersenyum, dan kali ini angkat bicara sejak Yoona tiba di meja itu. “Kau bisa percaya kalau Sehun tidak akan mengecewakan kita.” Ucapnya meyakinkan.

Kali ini Ibu Yoona menoleh ke arah keduanya. “Ibu sangat senang kita berempat bisa ada disini.”

Dan inilah bagian yang tak Yoona suka.

“Awalnya Ibu khawatir, karena Yoona anak yang keras kepala dan tidak suka pada perubahan seperti ini.” Ibu Yoona tersenyum pada anaknya, yang berusaha memaksakan senyumnya. “dan Ibu kira, kalian takkan akur. Tapi sekarang, kalian bahkan lebih akur daripada kakak adik biasanya. Bibi sangat senang melihatnya.”

Sehun menatap gelas wine-nya yang tinggal setengah. “Yoona anak yang manis dan patuh. Kadang dia memang keras kepala, tapi semuanya beralasan. Dan menurutku, Yoona bisa menjadi seorang adik yang baik.”

“Ia kadang agak cengeng dan terlalu perasa, bahkan ia akan menangis saat menonton Finding Nemo.” Tawa berat Sehun terdengar. “ Dia selalu memilih film romantis yang cengeng seperti A Walk to Remember, tapi ada saatnya dia akan menonton Fast and Furious bahkan yang seperti Final Destination.”

“Dia tidak suka kecap yang berlebihan, paha ayam, telur dadar dan bawang merah yang dicampur, dan nasi bambu.” Sehun tersenyum pada ibu Yoona. “tapi dari semua kebiasaan yang terlihat buruk itu, menurutku Yoona tetaplah yang terbaik.”

Yoona pernah mencoba bungee jumping. Kegiatan menantang yang memacu adrenalinnya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Dan mencintai Oh Sehun, sama seperti bungee jumping. Ia akan mengangkatmu keatas, menjatuhkanmu ke bawah, tapi pada akhirnya akan ada senyum di wajahmu.

Yoona bersumpah, dia tak pernah mencintai orang segila ini. Segila cintanya pada Oh Sehun yang duduk didepannya, dengan senyum tipis di wajahnya dan gelas wine yang kini telah kosong di tangannya. Yoona mencintainya. Gadis itu tidak mencintai Sehun seperti ia menyukai gula pada tehnya, topping cokelat pada wafflenya, bagian ujung eskrim, atau selimut hangat di pagi yang dingin. Yoona mencintai Sehun dengan cara mencintai yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Dengan cara mencintai yang hanya akan diberikan padanya untuk Sehun.

well,” Ibu Yoona angkat bicara, membuyarkan lamunan Yoona. “aku tahu dan percaya kalau Sehun bisa menjadi seorang kakak yang baik bagi Yoona. Benar, ‘kan, sayang?” Tanya Ibu Yoona pada Ayah Sehun yang mengangguk pelan.

“Tentu, bibi.” Sehun tersenyum tipis, dan menoleh pada Yoona. “aku akan menjadi seorang kakak yang baik bagi Yoona.”

///

“Apa ini juga bagian dari rencanamu?”

Yoona mengambil kaca dari dompetnya, lalu merapikan poninya. Sehun tersenyum tipis. “rencana apa?”

“menyuruh Ibu dan Paman pergi ke aula pernikahan selarut ini.” Yoona menatap Sehun malas dan menyimpan kembali cerminnya. “supaya kita bisa pulang bersama?”

Sehun tertawa, lalu kali ini menyalakan mesin mobilnya. “itu ide yang bagus, sebenarnya. Tapi kali ini aku akan mengantarkanmu ke apartemen Taeyeon.”

Senyum Yoona yang awalnya merekah kini memudar. “Oh.” Gumamnya pelan. “malam ini sibuk?”

Sehun mengontrol setir, dan kini membawa mobil itu keluar dari kompleks restoran. “sedikit.” Balasnya setelah mengintip ke spion samping. “aku ada urusan malam ini.”

Yoona mengangguk, menuruti. Ia mengambil handphone-nya dan mengirimkan pesan singkat pada Taeyeon.

Taeyeon unnie~

Tak lama, balasan datang dari Taeyeon. Tampaknya ia belum tidur, padahal sudah selarut ini.

Apa yang kau perlukan Yoona-ya?

Yoona terkekeh. Taeyeon seolah dapat membaca pikirannya bahkan hanya melalui pesan singkat.

Unnie, aku akan menginap disana malam ini! Jangan lupa siapkan bantal favoritku, okayy?

Kembali, nama Taeyeon tertera di layar handphone Yoona.

Aigu~~ bagaimana dengan Sehun? Tidak menginap disana malam ini?

Dia ada urusan malam ini. It’s finally our girls’ time!

Yoona kembali meletakkan handphone-nya ke dalam dompet, saat Sehun berhenti di sebuah halte yang tak jauh dari apartemen Taeyeon. Gadis itu mengernyit. “ada apa?”

Sehun menatap stirnya cukup lama. “aku hanya bisa mengantarmu sampai disini.”ucapnya singkat.

“apa?” tanya Yoona refleks.

“aku hanya bisa mengantarmu sampai disini.” Ulang Sehun.

Yoona merasa ada bagian dari dadanya yang sakit. Sehun tidak pernah seperti ini. Biasanya ia akan mengantar Yoona hingga didepan apartemen Taeyeon, bahkan tinggal disana untuk beberapa menit untuk memastikan bahwa Yoona aman. Atau saat tak ada mobil, Sehun akan mengantar Yoona dengan berjalan kaki, apalagi kalau sudah selarut ini.

“oh.” Jawab Yoona, kali ini mempertahankan sisa-sisa harga dirinya. “baiklah. Sampai jumpa besok.”

Yoona melepas seat belt-nya, dan membuka pintu mobil. Gadis itu diam sebentar. “Oh Sehun.” Ucap Yoona, dan kali ini menoleh pada pria itu. Senyum tipis tersungging di bibirnya. “i’ll call you tonight.”

Sehun menarik kedua sudut bibirnya sedikit. “sure.

Dan malam itu, Sehun tidak mengangkat panggilan sama sekali.

///

3 setengah botol soju.

Well, sebenarnya Yoona tidak merasa soju akan cocok dengan indra perasanya. Tapi kali ini ia merasa apa yang orang-orang katakan selama ini benar. Meminum soju adalah cara paling ampuh untuk menghilangkan stress dan memecahkan masalah. Dan memang, sensasi saat cairan itu masuk melewati tenggorokan, it feels like smoking weed. Yoona memang belum pernah mencobanya, tapi ia tahu rasanya pasti akan seenak itu.

Tapi akan lebih baik kalau meminum soju takkan membuatnya terbangun dengan kepala sakit.

Yoona duduk di tempat tidurnya, dengan rambut yang acak-acakkan dan kernyitan dalam di keningnya. Gadis itu memijat-mijat keningnya sendiri, lalu bangkit menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka, menyikat gigi dan menyisir rambutnya, kini Yoona berjalan ke dapur. Tidak ada tanda-tanda bahwa Taeyeon ada disana, tapi ada memo yang ditinggalkan diatas meja bersama dengan beberapa french toast.

Aku harus ke kampus pagi ini, tidak bisa menemanimu. Aku membuat memo karena kau tidur lelap tadi, dan ponselmu mati. Aku sudah membuatkan sarapan, makan ini dan jangan lupa minum air putih yang banyak. Aku akan pulang jam 6 lalu ke bar. Tinggalkan kunci di pot mawar kalau kau ingin pergi.

Yoona mendengus. Apa Taeyeon sedang membuat novel? Memonya panjang sekali, hingga gadis itu malas membacanya. Padahal kepalanya masih pening, tapi sudah disuguhi kalimat-kalimat panjang seperti itu. Gadis itu mengernyit saat menyadari ada tambahan kalimat di bagian paling bawah kertas.

P.S.: tadi pagi Sehun datang mengantarkan undangan, ada diatas kulkas.

Yoona melirik ke arah kulkas, dan menyadari ada setumpuk surat-surat disana. Gadis itu mengambilnya, lalu mencari hingga menemukan sebuah undangan pameran yang masih tersegel rapi.

“hari ini?” tanya Yoona pada dirinya sendiri setelah membaca tanggal pada undangan itu. “kenapa dia tidak memberitahuku….”

Yoona terduduk di kursi meja makan, lalu menghela napas. Perfect. Kepalanya sakit karena terlalu banyak minum soju, Taeyeon yang akan sibuk hari ini, Yeri yang keluar kota dengan keluarganya, Jieun yang ikut seminar di kota sebelah, Yuri yang menemani Jieun, dan Sehun yang mendadak jadi brengsek.

Menurut Yoona, Oh Sehun seperti langit. Ia indah, tapi susah ditebak. Kadang ia akan menjadi seorang gentleman yang akan membukakan pintu mobil untukmu, atau seperti anak SMA yang kadang manja, bahkan menjadi seorang… uhm, a horny one? Tapi dari semua sisi Oh Sehun yang pernah Yoona lihat, tak ada satupun yang ia benci. Well, Oh Sehun memang kadang menyebalkan. Tapi ia tak pernah sebrengsek kemarin.

Tapi Yoona mencintainya. Mencintai pria itu. Persetan dengan status ‘adik tiri’ yang sebentar lagi akan didapatnya, persetan dengan ibunya yang memaksa Yoona untuk menjadi adik dari pria yang dicintainya. Yoona tetap akan mencintainya. Tetap mencintai Oh Sehun, yang akan segera menjadi kakak tirinya.

Yoona menghela napas. A perfect start for a perfect day. Gadis kembali ke tempat tidur dan menenggelamkan kepalanya diatas bantal, berharap suara tangisannya tak terdengar.

///

“wake up, princess.”

Setelah mengerjapkan matanya beberapa kali dan berguling ke sisi tempat tidur yang lain, Yoona akhirnya memutuskan untuk duduk diatas tempat tidurnya. Masih setengah sadar, ia melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar dan melihat sosok Taeyeon yang tersenyum tipis.

“aku sudah membangunkanmu dari tadi.” Ucap Taeyeon sambil membereskan bukunya diatas meja belajar. “mandilah sekarang, aku akan menyiapkan bajumu.”

Yoona memandangi jam dinding di kamarnya. “aku tidak mau pergi.”

Taeyeon mengernyitkan keningnya. “kita masih punya banyak waktu. Aku sudah meminjam jeep Yuri untuk mengantarmu ke tempat pameran.”

“aku tidak mau pergi.” Ulang Yoona, kali ini membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya. “aku tidak mau bertemu Oh Sehun.”

Taeyeon tersenyum tipis lalu mendekati gadis itu. “mungkin ia sedang ada urusan semalam, atau mood-nya sedang tidak baik. Kita tidak bisa menyalahkan Sehun sepenuhnya, kan?”

“tapi ini menyebalkan.” Keluh Yoona. “it’s as if i wanted him more and he didn’t want me enough. Rasanya menyebalkan sekali, unnie.”

Taeyeon membelai puncak kepala Yoona dengan lembut. “sshh. Jangan berkata seperti itu. Sehun sendiri bilang kalau ia sangat mencintaimu, ‘kan? Bagaimana kalau kau mencoba percaya padanya?”

“i’ve tried!” Yoona mengangkat kepalanya. “aku sudah mencoba semua cara dan menganggapnya benar, tapi Oh Sehun selalu saja punya cara untuk membuatku merasa lemah.”

“no, you’re not weak.” Taeyeon menggenggam tangan Yoona erat. “dengar, sweetie. Awalnya aku—kami berempat, menentang hubunganmu dengan Sehun. Tapi kau tahu apa yang ia lakukan saat ia mendengar hal itu darimu?”

Yoona menatap Taeyeon dengan kening yang berkerut.

Taeyeon tersenyum tipis. “ia datang menghampiri kami berempat disini, dan meminta restu dari kami. He said that he would cherish you, and he said that with such sincere eyes. Bahkan Yuri yang awalnya mati-matian menentang pun akhirnya luluh, bukan?”

“apa…?” Yoona menatap Taeyeon tidak percaya. “tapi kapan…?”

“malam sebelum kau datang kesini dan membawakan 2 box pizza dihari ulang tahun Yeri. Ingat?”

Yoona masih tampak tak percaya, dan Taeyeon hanya tersenyum tipis. “Yoona, aku yakin kalau Sehun yang terbaik. Dia berusaha memperjuangkanmu selama ini, bukan? Bagaimana kalau kali ini kau berusaha memperjuangkannya juga?”

Yoona terdiam. Taeyeon kini menepuk pundak gadis itu dan tersenyum lebar. “now go and wash yourself, aku akan membuatmu terlihat lebih cantik daripada biasanya, oke?”

Senyum tipis terukir di wajah gadis itu, lalu ia merangkul Taeyeon erat. “terima kasih, unnie.”

Taeyeon membalas rangkulan gadis itu, dan Yoona bersumpah ia adalah orang paling bahagia di dunia karena memiliki Taeyeon disampingnya.

///

“jadi?”

Yoona menatap Taeyeon lalu tersenyum tipis. “aku harus turun.” Ucapnya.

Taeyeon yang menyadari rasa gugup di kedua bola mata sahabatnya, langsung tersenyum lembut dan menggenggam tangannya. “calm down. Malam ini tidak akan seburuk itu, aku yakin Oh Sehun juga pasti menyesali perbuatannya semalam. Jadi, nikmati saja, oke?”

Yoona menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Kali ini eskpresi wajah gadis itu tak setegang sebelumnya. “aku akan berusaha, unnie.”

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Taeyeon, Yoona turun dari jeep putih itu, lalu masuk ke dalam gedung pameran. Seorang penjaga menyapa Yoona dengan senyum sopan, lalu meminta undangan sebagai tiket masuknya.

“nama anda?”

“Yoona Im.”

Penjaga itu tampak mencermati list di tangan kirinya, lalu mengangguk. “anda sudah ditunggu Tuan Oh di meja VIP 7.” Setelah mengucapkan itu, penjaga dengan name tag Nam Taehyun itu berjalan dan meminta Yoona mengikuti langkahnya.

Yoona bisa merasakan isi perutnya terputar saat makin mendekati meja yang ditempati oleh ibunya, ayah Sehun, dan Oh Sehun sendiri. Setelah membungkuk kecil sebagai tanda hormat, Yoona menarik kursi dan duduk disebelah ibunya, dihadapan Oh Sehun.

“apa tadi macet di jalan?” tanya ibu Yoona, setelah memastikan bahwa putrinya telat 7 menit dari waktu yang telah dijanjikan.

“sedikit.” Jawab Yoona singkat.

Ibu Yoona tersenyum tipis, lalu menoleh pada Sehun. “sepertinya hari ini pengunjungnya padat sekali, sampai kita tidak bisa memesan meja 4 orang, hm?” ucapnya seraya melirik satu kursi tambahan diantara Yoona dan Sehun.

Sehun yang sedaritadi sibuk memainkan ponselnya, kini mengangkat kepalanya lalu tersenyum tipis. “sepertinya begitu.”

Lalu kembali semuanya terdiam. Ibu Yoona dan ayah Sehun memilih untuk tenggelam dalam pembicaraan mesra mereka, Sehun yang sibuk berkutat dengan ponselnya dan Yoona yang menghabiskan waktunya dengan meminum air dingin dihadapannya.

Yoona sesekali melirik pada Sehun yang tampak acuh tak acuh dengan sekitarnya. He’s in his own bubble now. Tidak peduli pada apa yang terjadi disekitarnya, dan tampaknya tak ada seorang pun yang mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan.

Kalau melihat Sehun yang sekarang, Yoona yang dulu pasti akan menyimpulkan kalau pria berwajah dingin ini adalah seorang introvert. Tapi setelah mengenal Oh Sehun yang half-drunk di bar malam itu, first impression Yoona padanya berubah. Memang pada awalnya Sehun terlihat seperti seorang playboy nyentrik dengan rambut peraknya. Tapi sekarang, Oh Sehun terlihat lebih…. charming?

Yoona baru ingin mengajak Sehun bicara, saat sesosok wanita menghampiri meja mereka dan membungkuk dalam. Kernyitan dalam terukir di wajah Yoona saat ia mendaratkan pandangannya pada gadis itu.

annyeonghaseyo, paman, bibi.” Sapa gadis itu dengan senyum sopan, tampak berseri-seri dengan senyum dan pipinya yang memerah.

Yoona melirik ibunya, berpikir kalau gadis ini adalah satu kenalan ibunya. Tapi melihat raut wajah terkejut dan heran dari ibunya, Yoona kini melirik ayah Sehun. Pria tua itu memberikan ekspresi yang sama melalui kedua bola matanya yang terbelalak. Yoona mengernyitkan alisnya.

“Shinbi.”

Suara Sehun terdengar lembut, dan ia menarik kursi diantaranya dan Yoona supaya gadis itu bisa duduk. Shinbi tersenyum tipis dan menggumamkan ‘terima kasih’ yang samar. Ibu Yoona dan ayah Sehun hanya menatap pria itu, menunggu penjelasan mengenai kehadiran wanita ini.

“ayah, bibi, perkenalkan ini Hwang Shinbi.” Sehun tersenyum tipis, dan Shinbi sekali lagi membungkuk pelan. “dia teman sekampusku, dan juga…” kali ini tangan Sehun meraih tangan kanan Shinbi lalu ia tersenyum, “dia pacarku.”

Shinbi tersipu malu, wajahnya memerah dan gadis itu menundukkan kepalanya. Sehun tersenyum melihat reaksi manis gadis itu, lalu mengeratkan genggamannya dan mengucapkan ‘jangan malu’, pada kekasihnya itu.

Ibu Yoona terlihat terkejut, lalu bertukar pandang dengan ayah Sehun dan mengembangkan senyumnya. “wah, itu kabar yang baik. Sejak kapan kalian berkenalan?” tanya ibu Yoona antusias.

“kami sering berpapasan beberapa kali di kampus, dan kebetulan mempunyai teman yang sama. Shinbi juga beberapa kali membantuku dalam menyelesaikan tugas. Bisa dibilang, kami bertambah dekat sejak saat itu.” Jawab Sehun dengan senyum terukir di wajahnya.

Ayah Sehun kali ini angkat bicara, “kau tidak pernah bercerita pada ayah soal hal ini.”

Sehun menyunggingkan senyumnya, “aku merahasiakannya sebagai kejutan. Karena kalian telah mengejutkanku dengan berita pernikahan kemarin, kali ini giliranku.” Balasnya.

“jadi?” ayah Sehun mengangkat sebelah alisnya, “ini hubungan yang serius?”

“kami sudah membicarakannya.” Shinbi mengangkat kepalanya, dan tersenyum tipis sambil sesekali melirik ke arah Sehun. “Sehun oppa bilang, kita akan melanjutkan hubungan ini perlahan-lahan.” Jawabnya.

Ibu Yoona melirik ayah Sehun dan tersenyum. “sayang, bagaimana menurutmu? Mereka terlihat serasi, bukan?” puji ibu Yoona.

Ayah Sehun tersenyum tipis, dan memilih untuk menyibukkan diri dengan gelas wine-nya.

Kali ini ibu Yoona menoleh ke arah putrinya yang tidak bersuara sejak tadi. “Yoona? Bagaimana menurutmu?”

Crash.

Unbreak My Heart sebagai background music malam itu entah kenapa terasa pas, dan seluruh adegan dihadapannya menjadi sebuah slow motion. Pelayan yang mengantarkan piring makanan, pemain biola diatas panggung, dan suara riuh rendah dari meja seberang. Semuanya menjadi blur, dan hanya pemandangan Shinbi yang tersipu malu, Sehun yang tersenyum dan menggenggam tangannya yang bisa Yoona lihat sekarang.

Yoona berharap ia bisa lari dari situ sekarang.

“serasi.” Gadis itu tersenyum. “kalian berdua terlihat sangat cocok.”

///

“ini lukisan dari Kim Taewoong, pelukis jalanan terkenal dari daerah Mokpo yang baru melejitkan namanya di awal tahun 2011. Karyanya terkenal karena nuansa gelap dan misterius didalamnya. Lukisannya kali ini, Crush, menggambarkan tentang perasaan seseorang yang hancur dan tak dapat dideskripsikan dengan kata-kata.”

Mereka berlima berdiri didepan sebuah lukisan bernuansa hitam, dengan gambar abstrak manusia yang berteriak dengan bagian kepalanya yang meledak seperti scrambled eggs. Agak seram kalau dibandingkan dengan lukisan yang lain, tapi Yoona menyukai lukisan ini.

Shinbi angkat bicara, “lukisan ini diciptakan setelah istri dan anak-anak dari Kim Taewoong meninggalkannya hanya dengan selembar surat permohonan cerai.” Jelas Shinbi. “memang sangat kejam, namun luapan emosi Kim Taewoong dapat disampaikan dengan sangat baik melalui lukisan ini yang membuat harganya melejit sekarang.”

Ibu Yoona mengangguk antusias, sementara ayah Sehun mengamati lukisan itu dengan alis yang dikernyitkan. Shinbi terlihat lega saat penjelasannya terdengar lancar, membuatnya tersenyum lebar pada Sehun. Keduanya bergandengan tangan lalu berjalan kembali menuju lukisan selanjutnya.

Kalau ada hal yang Yoona benci selain teh dan roti panggang dengan bacon, itu adalah berpura-pura.

Yoona benci berpura-pura. Berpura-pura tersenyum setiap kali ibunya menoleh dan mengucapkan ‘lukisan ini indah!’ atau ‘kau menyukainya?’ dengan antusias. Berpura-pura tertarik mendengar penjelasan Shinbi dan Sehun tentang setiap lukisan yang mereka lihat seolah menghafal semuanya diluar kepala. Berpura-pura tidak ingin muntah setiap kali melihat Sehun berbisik di telinga Shinbi, yang akan membuat gadis itu tertawa lepas.

Ini menjijikkan.

“dan lukisan kali ini…” Shinbi menoleh pada Sehun dan tersenyum lebar. “ini karya Sehun oppa.”

Muse.

Hanya satu kata sebagai judul lukisan itu yang tertera diatas nama Sehun, Oh yang tercetak jelas di plat dibagian bawah lukisan.

Lukisan ini terlihat kelam dengan dominasi warna hitam, tapi yang membuatnya menarik adalah sosok wanita yang menjadi objek lukisan ini. Wanita di lukisan itu membelakangi mereka dengan punggung telanjang dan hamparan kain yang hanya menutupi bagian bawahnya. Wajahnya sedikit menoleh ke belakang dengan senyum yang samar dan kulit yang pucat.

“ini hasil lukisanmu, Sehun?” tanya ibu Yoona.

Sehun mengangguk. “tentu saja, bibi.”

“ini tidak seperti lukisanmu yang lain.” Komentar ayah Sehun. “sejak kapan kau mulai melukis wanita? Bukannya kau hanya melukis pemandangan saja?”

well, aku ingin mencoba sesuatu yang baru.” Jawabnya santai.

“apa wanita didalam lukisan ini, Shinbi?” tanya ibu Yoona yang memandangi lukisan itu dengan kagum. “cantik sekali.”

Sehun tersenyum tipis. “ini bukan Shinbi.”

Shinbi terkekeh. “kau harus mencoba melukisku sesekali, oppa!” ucapnya, lalu menoleh pada Ibu Yoona. “apa bibi tahu? Sehun oppa tidak pernah melukisku! Kata oppa, aku tidak cocok menjadi muse-nya. Kejam sekali, bukan?” gerutunya.

Ibu Yoona membalas keluhan dengan nada canda dari Shinbi itu dengan tawa. “kenapa tidak mencoba melukis Shinbi, Sehun-ah? Bibi yakin, Shinbi akan jadi model lukisan yang baik.”

Sehun menggeleng, dan memfokuskan pandangannya pada wanita dalam lukisan itu. “i promise her that i won’t paint any other girl besides her.” Gumamnya pelan, tidak terdengar oleh yang lainnya.

Ibu Yoona tersenyum. “bagaimana menurutmu, Yoona? Bukankah lukisan ini bag—eh?”

Mereka berempat seketika menoleh, dan tidak menemui sosok Yoona yang sedaritadi mengekor mereka. Ibu Yoona menoleh kesana kemari dengan bingung, mencari-cari sosok anaknya diantara keramaian galeri malam itu.

“kemana dia?” tanya ibu Yoona pada yang lainnya, yang dibalas gelengan dari semuanya. “apa dia ke toilet?”

“aku akan menyusulnya.” Tawar Shinbi.

Sehun menarik tangan gadis itu, lalu tersenyum tipis. “aku yang akan mencarinya. Temani ayah dan bibi disini, oke?”

///

Gosh, you look pathetic.

Yoona memandangi pantulan dirinya didalam cermin. Make up-nya masih dalam keadaan utuh, kecuali lipstiknya yang agak luntur. Rambutnya juga masih rapi, curly-nya bertahan cukup lama. Riasan di matanya juga masih sesempurna tadi. Tapi ia terlihat lelah.

Harus ia akui, bertemu dengan Oh Sehun membuatnya jadi wanita yang menyedihkan. Sebelumnya, jangankan komitmen, seorang Yoona Im adalah one night stander yang datang dan pergi begitu cepat. Satu pria untuk satu malam. Glad that she’s not infected by those genital illness. Yoona tidak pernah menetapkan dirinya hanya untuk satu pria. Paling lama- well, 3 hari, mungkin? Itupun karena pria itu sangat jago, dan damn, he was hot enough for her to bang.

Tapi pada Oh Sehun, Yoona seolah telah menancapkan dirinya disana. Dan kalau boleh jujur, Yoona bahkan tidak pernah ciuman dengan laki-laki lain setelah ia berciuman dengan Sehun untuk pertama kalinya.

Kapan kedua kalinya mereka ciuman?

Di toko buku. Tempat yang menantang, memang. Ayah Sehun meminta mereka untuk mengambil buku pesanannya di hari minggu dan… it just happens like that. Every hot kisses mostly started from a long stare. Dan Yoona akui, tatapan mata Sehun sangat memikat. Sangat dalam dan mampu menelanjangi pikiran gadis itu, hingga tak ada pilihan tersisa selain untuk menghisap bibir pria dihadapannya dan tenggelam dalam ciuman-ciuman panas.

Yoona sudah mendedikasikan dirinya, waktunya, dan segalanya untuk Oh Sehun. And now what? Sehun punya kekasih? Sehun pasti sudah gila. Atau Shinbi-Shinbi itu yang gila. Atau mungkin Yoona-lah yang gila. Tidak pernah ada yang normal dalam hubungan gila yang mereka jalani ini.

Yoona mengambil dompetnya, dan menghela napas. Kembali, ia memandang bayangannya di cermin. Untuk beberapa jam kedepan ia harus memaksakan senyumnya hingga otot pipinya putus, dan memaksakan tawanya saat Shinbi itu mencoba melucu dengan suara cemprengnya. Yoona keluar dari toilet, berharap ia bisa langsung pulang ke rumah saja sekarang.

Dan saat itulah, tatapannya bertubrukan dengan Oh Sehun.

Oh Sehun, bersandar di dinding dengan kedua lengan yang dilipat didepan dada. Raut wajahnya datar dan tatapannya menusuk. Ia tampak menunggu Yoona sedari tadi.

Yoona mengeratkan genggamannya pada dompet di tangan kanannya. Ia baru mau angkat bicara saat Sehun sudah membuka mulutnya, “ayah dan bibi sudah menunggu.” Ucapnya dingin.

Yoona memalingkan tatapannya. “aku akan pulang.” Balasnya dengan nada cuek.

Sehun tampak tak senang mendengar jawaban gadis itu dan mengernyitkan keningnya. “jangan membuatku kesal.” Pria itu beranjak dari tempatnya semula, mendekati Yoona dan menarik tangannya kasar. “kita akan kesana sekarang, dan kau akan menjadi adik tiriku. Deal?”

You owe me an explanation, you bastard.” Maki Yoona dengan suara bergetar. “apa kau seorang pedophile? Jadi seleramu sekarang seorang wanita yang memakai rok  berkibar dengan suara cempreng?”

Sehun menghela napas, dan menarik gadis itu menjauh darisana. Yoona memang memberontak, tapi kekuatan Sehun jauh lebih besar dan ia menggenggam tangan gadis itu sangat erat.

Yoona mengigit bibir bawahnya. “Hwang Shinbi itu PSKmu yang baru? Atau gadis yang secara acak kau pungut dari jalanan?”

Sehun tetap tidak menjawab, dan membawanya melalui kerumunan orang banyak disana. Genggamannya pada lengan Yoona mengeras, tak peduli pada gadis itu yang mengaduh kesakitan. Keduanya menjadi pusat perhatian dan Sehun memutuskan untuk membawa gadis itu melalui salah satu pintu gudang didekat sana.

“Let me go!” sentak Yoona kasar seraya melepaskan genggaman Sehun di tangannya.

Sehun berbalik, dan menatapnya dengan alis yang dikernyitkan. Nafasnya tersengal dan ada sedikit keringat di dahinya. Tapi Yoona terlalu marah untuk menyadari detail-detail seperti itu.

Helaan nafas keluar dari bibir Sehun. “kau ingin penjelasan yang seperti apa?” tanyanya dengan nada ringan, seolah tak memperdulikan emosi Yoona yang kian memuncak.

“yang seperti apa, katamu?!” tanya Yoona kembali dengan nada tinggi. Gadis itu menghela napas kasar. “are you out of your fucking mind, Oh Sehun?”

Sehun bersandar pada tiang tangga, “kalau ini tentang Hwang Shinbi, maka semuanya sudah jelas.”

“kalau jelas yang kau maksud adalah membawa gadis yang tidak jelas asal usulnya, memperkenalkannya pada orangtuamu sebagai seorang kekasih, maka aku tidak mengerti jalan pikiranmu!” Balas Yoona.

“apa lagi cara agar kau mengerti?!” kali ini giliran Sehun yang menyentak gadis itu. “Hwang Shinbi adalah kekasihku. Period. I don’t think i’ll have to explain the rest to you.”

Yoona menggigit bibir bawahnya dan mendengus. Tawa sinis terkembang di wajahnya. “apa kau sedang mempermainkanku? Ada apa dengan dirimu akhir-akhir ini? Bertingkah menyebalkan dengan mood yang berubah-ubah. Apa hanya aku saja yang menyadari perubahanmu ini?” tanyanya kini dengan suara yang lebih tenang.

Diam. Sehun memejamkan kedua matanya rapat, sibuk bergumul dengan pikirannya. Sementara itu, Yoona mati-matian menahan air mata yang akan segera menetes di pipinya. Terlihat lemah dihadapan Oh Sehun yang sekarang jadi brengsek ini malah akan semakin melukai harga dirinya.

“ini tidak akan berhasil.”

Tatapan mereka bertemu.

Sehun menghela napas. “this is the end, Yoona.”

Yoona menahan nafasnya. “the end to what? Akhir dari apa? Kita bahkan tidak memulai apapun selama ini, bukan?”

“kita harus berhenti melakukan ini.” Kali ini nada Sehun terdengar lebih tegas. “kita akan segera menjadi saudara, Yoona.”

“saudara tiri.” Potong Yoona cepat, membuat Sehun mengangguk.

“saudara tiri.” Ulang Sehun, “dan kita akan menjadi kakak adik, bukan?”

Yoona mendengus. “kau kira aku tidak tahu tentang hal itu?”

“Yoona. Kita berhenti disini. Oke?” Ucap Sehun jelas. “aku selalu menganggapmu sebagai adik selama ini, dan kita akan melanjutkan itu untuk kedepannya. Bisa?”

you what, Oh Sehun?” Yoona membelalakkan kedua bola matanya tak percaya, “adik? Adik, katamu?! Kakak mana yang akan berhubungan dengan adiknya, hah? Jawab aku!”

Sehun menghela napas dan menyisiri rambutnya dengan jemarinya, tambah membuatnya terlihat berantakan. Yoona terlihat kacau dihadapannya, dengan wajah yang memerah karena marah dan nafas yang tersengal-sengal. Hanya terdengar suara nafas yang tak beraturan dari Yoona, dan helaan nafas Sehun.

Yoona membuang nafasnya kasar, lalu tertawa pelan. “well, okay. Aku sudah tahu kalau ini akan terjadi. The only way out of this is to let go. Mungkin kau benar. Ya, mungkin kau benar, Oh Sehun.”  Ucapnya terbata-bata.

Sehun hanya menatap gadis itu dengan riak yang tak terbaca di kedua bola matanya. Ia tak berniat untuk membalas perkataan Yoona, dan hanya bungkam dihadapan gadis itu.

Yoona memejamkan kedua matanya cukup rapat, lalu membukanya kembali dengan senyum di wajahnya. “okay. Tidak apa-apa. I understand. People will get sick of me eventually, but i had no idea that you could be one of them. Baiklah, Oh Sehun.” Ucapnya meyakinkan Sehun, atau dirinya sendiri.

Yoona melangkah menjauhi Sehun dengan harga dirinya yang masih tersisa, berusaha untuk tidak meledak didepan pria itu. Cukup. Ia sudah cukup bodoh dengan mencintai orang yang tak merasakan hal yang sama selama ini, dan akan lebih bodoh lagi baginya untuk berdiri dihadapan pria itu dan memohonnya untuk tidak pergi. Tidak. Yoona masih punya harga diri untuk pergi dari sana, dan tidak menangis dihadapan Sehun.

one last question, Oh Sehun.” Yoona berbalik saat ia mendekati pintu, dan menatap Sehun. “pertanyaan terakhir dariku. Did you have sex with her?”

Sehun menatap gadis itu, “why wouldn’t i?”

Yoona membalasnya dengan senyuman dan tidak berbalik lagi.

///

///

A/n: Hello! Sebenernya lagi hiatus, tapi aku gatel bgt pengen ngepost ini. Yeap, fic ini punya kesamaan sama Revenge, karena aku pengen bikin dimana Yoona juga jadi bad dan semoga aja berhasil di ff yang (pastinya)bakal ada kelanjutannya ini ya hehe. Tolong kasih kritik, kalau ada kesalahan (esp typo because i made it in hurry)

Untuk readers yang penasaran sama Revenge & Saudade, here’s the answer:

Aku bakal tetep ngelanjutin Revenge sama Saudade, dan bakal diusahain sampai selesai. TAPI, writer block akut ini kambuh lagi dan aku gatau mau ngapain 2 cerita itu. Ada saran atau usulan buat kelanjutan cerita/endingnya? I’m accepting all requests! Atau apa kalian punya lagu/film yang menurut kalian cocok sama kedua cerita diatas tadi? Ada pengalaman pribadi yang bisa ngeinspirasi? Aku terbuka sama semua usulan yang masuk. Dan kalau kalian ada saran buat cerita baru, in other’s name, request, i’m all ears!

Thank you for reading! 

P.S.: originally Numinous (Sehun x Joy ver) 

95 thoughts on “Numinous

  1. ahh baru sempet nengok cerita ini😛 nyesel bgt deh gga ngikutin cerita yoonhun dari awal😄 ahh yoong kamu punya temen yg keren2 banget … calon saudara tiri opsss haha

  2. Ini udh ending ato blm yaaa .. ?? Bukannya sehun dr awal gaa bakal nyerah sama hub mreka. Tp knapaa skrng malah sehimun yg mundur kaya gitu. Yaa udh lahh yaa yooona sama yg lain ajaa biar sehunnha nyesel ..

  3. Omona keren banget thor >_< ?!!!
    Tadinya aku kira yg nikah itu Yoona sama Sehun eh rupanya orang tua mereka yg malah nikah😀

  4. Greget sma Kisah cinta YoonHun -_- tdi aq udh baca chapt 1 dan 2 thor,,cumam blumnt coment.. Skrng tinggalin jejak dulu =D Maafkan readers sprt aq yha thor =D

  5. Thoooorrrrrr. Gila ini keren bgt. Huaaaaaa. Sehun anjirr dah lu, shinbi2 apaan lagiii, yuh. Gw smpe kebawa2 tau thor. Keep writing thor🙂

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s