Hidden Scene [12]

hidden-scene1

HiddenScene

fanfiction by aressa.

starring

GG’s Yoona and EXO’s Sehun along with ex-GG’s Jessica

and

former member of EXO, Kris

.

.

.

.

.

.

“Siapa dia, Sehun-ah?”

Sehun menoleh dan menatapnya datar, “Maaf jika ini kasar” Sehun berdecih, “Siapapun dia. Itu bukan urusanmu, Jessica”

Jessica menggigit bibirnya. Perkataan Sehun benar benar menyakitinya. Tatapan dingin dan suara tajam itu merobek Jessica ke serpihan terkecil.

“Jangan seperti itu”

Yoona bergumam pelan. Wanita itu menghembuskan nafasnya dan kembali mendudukan diri di sofa. Tatapannya tidak tertebak saat dia menatap Sehun, “Kemana etika berbicaramu Oh Sehun? Biar bagaimanapun dekatnya kalian, Jessica eonnie tetaplah lebih tua dibanding dirimu”

Lelaki jangkung itu menatap Jessica meremehkan, “Biar bagaimanapun, aku tidak suka ada orang yang ikut campur urusanku” kemudian dia menatap Jiyeon, “Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Jiyeon. Apa kau masih butuh waktu untuk mengenalku?”

Jongin menyentuh pundak Sehun. Dia bisa melihat kondisi emosi Sehun yang sedang tidak stabil. Jongin cukup peka untuk sadar kalau Yoona dan Sehun sepertinya berada dalam masalah. Karena tatapan yang diberikan wanita itu mematikan. Aura Sehun juga berbeda. Jongin harus membawa Sehun keluar dari sini dan menenangkan dirinya, “Jangan salahkan Jiyeon. Mereka datang tiba tiba. Aku saja kaget”

“Dan apa yang kau lakukan disini?”

“Menemuimu” Jongin tersenyum. Satu satunya cara mematikan bom waktu adalah dengan tetap tenang. Saat ini Sehun siap meledak kapan saja. Jika Jongin memancingnya, bisa saja hal buruk terjadi, “Mau minum malam ini Sehun-ah? Ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu”

Sehun memejamkan matanya, “Tidak bisa. Aku ada janji malam ini”

“Mau kemana?” kali ini Jessica bertanya hati hati.

“Kau tak perlu tahu” Sehun menatap Jongin dengan seksama, “Bagaimana kalau sekarang Jongin? Sudah lama sekali aku tidak hang out denganmu”

“Baiklah. Jadi Oh Sehun merindukanku rupanya” Jongin tertawa dan atmosfir menjadi lebih hangat. Thunder yang daritadi berdiri menghembuskan nafas lega. Jiyeon pun lebih rileks saat Sehun tersenyum.

“Apa kalian akan minum minum dan pulang larut malam dalam keadaan mabuk?” Jessica melangkah dan memposisikan dirinya diantara kedua pria itu. Tatapannya terlihat tegas, “Jika iya, aku ti—“

“Kenapa? Mau ikut?” Yoona pikir Sehun yang berbicara seperti itu. Karena Yoona tahu betul kalau emosi Sehun sedang tidak stabil. Nada itu terasa sangat Sehun. Turn out, that is Kim Jongin everyone.

Wanita yang dijuluki ice princess itu tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu. Bukan pertanyaannya. Tapi nadanya yang membuat Jessica emosi. Jongin terdengar seperti meremehkannya. Seperti mengejeknya.

“Bukankah kau memang seperti itu?” dan tanpa di duga duga, Myungsoo datang dan menyahut tenang. Tangannya disampirkan di bahu Jiyeon sementara kekasihnya itu menatap Myungsoo tidak percaya.

“Apa masalahmu, L?” Jessica menggeram. Ada apa dengan semua orang hari ini? Kenapa mereka semua memojokkannya?

Myungsoo memutar bola matanya, “Kau pikir kami disini bodoh?”

“Apapun itu aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan” Jessica berkilah tajam, “dan sebagai tambahan. Aku tidak berpikir kalian bodoh” dia menatap dua pasangan itu mematikan.

Untuk sesaat, udara merapat dengan tensi yang menyesakan. Jessica masih mencoba mengontrol amarahnya. Marah kepada Kim Jongin hanya membuang tenaga. Anak kecil tidak pernah mau kalah. Sama halnya dengan Jongin. Rasanya dia ingin sekali menendang Jessica ke kutub utara agar dia tidak perlu melihat wajah menggelikannya itu. Jongin tidak pernah dekat dengan Jessica—dan tidak mau dekat. Jessica Jung itu sama sekali bukan tipe wanita yang akan Jongin pilih untuk berbicara. Realita kalau Jessica menyukai Sehun itu mengganggunya dengan cara yang tidak bisa Jongin terima.

Dia jengah. Seolah Jessica hama paling menyebalkan yang pernah hidup.

Namun pada akhirnya, Sehun yang memecah ketegangan yang membuat Jiyeon serasa berhenti bernapas. Laki laki itu berdehem dan meraih jaket kulitnya yang tersampir di lengan sofa, “Kemana dan apa yang akan kulakukan dengan Jongin bukan urusanmu, Jessica Noona”

“Kris menyuruhku menjaga kalian!” seru Jessica tinggi. Dia benci perkataan Sehun. Dia benci nada yang digunakannya. Dia benci tatapan meremehkan yang dilontarkan iris cognac itu.

“Memangnya aku anak kecil!”

Jongin dengan cepat menghampiri Sehun dan menepuk nepuk pundaknya. Mencoba meredakan emosi Sehun. Sial, dia harus membawa Sehun keluar dari sini secepatnya. Sementara itu, Jessica tampak sekali lagi membeku. Tidak percaya dengan reaksi yang Sehun berikan. Wanita itu membelak, menatap Sehun yang terengah engah.

“Aku pria dewasa, Jessica-ssi. Aku berhak melakukan apapun yang aku mau” mata elangnya memangsa Jessica. Mencengkram wanita itu dalam ketakutannnya, “aku punya masalah” matanya sedikit memutari ruangan, “ dan Kris serta dirimu, Jessica-ssi, tidak berhak mencampurinya”

Bingo!

Itu adalah limitnya. Jessica perlahan mundur karena perasaan yang menguasainya. Dia terlalu takut menghadapi Sehun. Dia terlalu takut menatap mata itu. Dirinya seketika dipenuhi oleh ketidakberdayaan.

Sebuah kertas menimpuk kepala Sehun.

Dengan emosi pria itu berbalik mencari tahu siapa pelakunya. Oh, moodnya benar benar sedang berada di level terbawah. Rasanya dia ingin memakan orang hidup hidup. Tapi kemudian matanya menemui pandangan bosan milik wanita itu.

“Cepat pergi dari sini, kalian berdua” dia melambaikan tangannya kearah pintu, “Too much drama in this room. Kalian membuatku muak” dia mengernyit sinis. Tatapannya mengeras, “Pergi atau kupatahkan leher kalian berdua”

Dan Oh Sehun tidak percaya ketika Im Yoona menatapnya dingin dan menarik Jessica melewati pintu keluar.

//

Jessica hanya bisa menatap langit berwarna biru terang diatasnya. Deru nafasnya tenang tapi pikirannya berkecamuk seperti lebah yang berdengung. Disampingnya, Yoona membuang pandangan pada sekelompok merparti yang bercicit tidak jauh dari mereka.

“Aku tidak mengerti”

Yoona menoleh hanya untuk mendapati pandangan sedih Jessica, “Kenapa Sehun bersikap sekasar tadi? Apa kesalahanku, Yoong?”

Wanita itu menggigit bibir. Yoona tahu letak kesalahan Jessica. Yoona tahu alasan Sehun bertingkah seperti itu. Tapi Yoona tidak bisa mengatakannya pada Jessica. Yoona sendiri sedang pusing dengan pikirannya. Yoona sendiri sedang tidak bisa memilih mana yang benar mana yang salah.

Yoona tersenyum tipis, meskipun dia tahu senyumnya terlihat tidak tulus, “Sehun hanya terguncang dengan kedatangan Park Nami” dan pertengkaran kami membuatnya semakin buruk.

“Darimana kau tahu Park Nami?” Jessica bertanya dan mendudukan dirinya disamping Yoona. Gadis itu mengikat rambutnya yang nyaris pirang. Matanya tidak lepas dari wajah jelita adiknya. Memperhatikan setiap ekspresi yang ditunjukannya.

Yoona menghela nafas, “Sehun memberitahu-ku. Dan aku pernah membantunya menyelesaikan beberapa masalah dengan Nami”

Kebohongan yang sempurna, gumam Yoona dalam hati. Dia rasa dirinya sudah ahli dengan kebohongan.

“Masalah apa?”

“Aku benci mengatakannya” Yoona menatap tajam membernya itu, “Eonnie, berhentilah mencampuri urusan orang lain”

Jessica tanpa sadar tertawa sinis, “Ada apa dengan semua orang hari ini? Kenapa semuanya bersikap seolah aku lintah pengganggu?”

“You are”

Yoona adalah membernya yang jarang mengumpat. Wanita itu lebih suka mengatakan kebaikan di mulutnya. Dia tidak sering mengejek dengan kata kata kasar dan dia sangat berhati hati dengan bicaranya. Itu semua karena Yoona dibesarkan di kalangan atas yang menjunjung tinggi etika. Oleh karena itu, Jessica suka berada di dekat Yoona. Anak itu membuat Jessica nyaman dengan dirinya.

Tapi Jessica tidak percaya Yoona akan mengatakan hal itu. Untuk pertama kalinya pada Jessica.

“Apa?”

Yoona menghembuskan nafasnya keras. Jarinya memintal mintal rambut coklatnya, “Semua orang tahu kau sedang mencampuri urusan Sehun, eonnie. Dan percayalah, Sehun benci ada yang mengusik masalahnya kecuali dia mengizinkan” kemudian iris caramelnya memandang lautan biru, “dan jelas, dia tidak mengizinkanmu untuk itu”

Mata Jessica terasa panas mendengarnya. Seperti ada panah beracun yang ditembakan ke hatinya. Meracuni Jessica dan membuatnya lemah. Dia mengingat semua perlakuan Sehun hari ini.

Lupakan tentang ciumannya, Oh Sehun jauh lebih sering menyakitinya hari ini.

Jessica menunduk. Mencoba menyembunyikan air matanya. Dia tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Dia bahagia mengingat apa yang terjadi tadi pagi, tapi mengingat ucapan Sehun beberapa saat lalu merenggut kebahagiaan itu.

Apa yang harus Jessica lakukan? Lagi lagi dia dihadapkan oleh dua pilihan yang Jessica takut untuk hadapi.

Apa Jessica harus melepas Sehun?

Atau Jessica harus mempertahankan perasaannya?

Jika Jessica melepas Sehun, itu artinya Jessica kalah. Kalah dengan dirinya sendiri. Kalah dengan rasa ketidakpercayaannya. Dan jujur, Jessica gengsi jika dia harus menyerah. Dia memulainya bersama Kris, setidaknya dia ingin terus berjuang sampai akhir.

Tapi jika dia bertahan, dia tidak tahu apalagi yang akan digunakan Sehun untuk menyakiti hatinya. Jessica merasa terpedaya. Dia tidak bisa berbuat apa apa. Tatapan Sehun sangat tajam seolah menembus kepala Jessica. Aura dingin dan suara rendahnya membuat Jessica takut.

Takut dengan Sehun. Takut dengan perasaannya. Takut dengan kemungkinan yang bertebangan di kepalanya.

Tangan Jessica menggapai Yoona yang menatapnya nanar. Wanita itu akhirnya meraih Yoona dan menangis tersedu sedu di bahunya. Tangisannya semakin pecah tatkala Yoona mengelus rambut Jessica halus.

Yoongie, apa yang harus kulakukan? Perasaan ini membunuhku perlahan, Yoona. Aku tidak kuat”

Jessica tidak tahu apa yang harus dipilihnya. Katakan dia pengecut, tapi Jessica benar benar tidak bisa memilih. Dia tidak tahu sikap apa yang perlu dia lakukan untuk mengatasi masalah ini. Pilihan itu seperti mencekiknya. Yang satu meminta jantungnya, yang satu meminta hatinya.

“Aku mencintai Sehun, Yoona. Sangat mencintainya. Tapi kenapa dia seperti itu?” Jessica terisak. Air matanya mengalir deras. Mengabaikan fakta bahwa Yoona bergetar dalam pelukannya, Jessica mencengkram Yoona seolah itu adalah pegangan terakhirnya.

“Bantu aku Yoona. Aku mohon tolong aku mendapatkan hatinya dan menyelesaikan hal ini”

//

Yoona terdiam. Dia tampak seperti orang bodoh. Tatapannya menyentuh vas di meja tapi pikirannya terbang kemana mana. Dia masih memikirkan keputusannya. Dan kembali dia merasa bodoh karena terlalu plin plan. Dia tidak bisa membuat komitmen tentang ini.

Ada cinta dalam senyum dibalik foto itu. Ada kehangatan dibalik setiap rangkulan yang ada di foto foto yang berserakan di depannya. Ada masa masa indah yang tidak bisa Yoona hancurkan.

Rasanya baru kemarin Sehun menyatakan perasaannya. Di dapur di tempat yang sama. Rasanya baru kemarin Yoona duduk di sofa yang sama, dengan Sehun yang tak pernah berhenti menciuminya. Masih segar dalam ingatannya, saat dia memberikan dirinya seutuhnya kepada Sehun. Masih terngiang bagaimana desah suara Sehun memanggil namanya.

Terlalu banyak kenangan manis dalam apartemen Sehun.

Dia pikir dia bisa melakukannya. Mengakhiri ditempat semuanya dimulai. Di sofa yang sama saat dia membuat keputusan menyedihkan itu. Yoona benci harus bertemu dengan Sehun ditempat yang bahkan debu pun masih ingat kenangan manis mereka.

“Sudah lama aku tidak melihatmu duduk disini”

Sofanya menjadi berat. Suara itu tidak dingin. Suaranya santai dan ringan, seperti tidak terjadi apa apa dalam periode waktu tersebut.

Yoona masih mengatur napasnya. Dia tidak tahu harus memulai darimana. Dia takut untuk mengucapkan kata kata. Dia takut dia akan membunuh dirinya sendiri.

Yoona memang belum siap dengan keputusannya. Dia tahu itu betul. Tapi Yoona sudah terlalu lelah dengan segalanya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tapi dia harus memilih. Sama seperti dia setuju untuk sembunyi beberapa tahun yang lalu. Jadi, Yoona membalikan tubuhnya menghadap Sehun. Yang nyatanya, tidak melepaskan pandangannya dari tubuh kecil wanita itu.

Tapi sekali lagi, Yoona tidak bisa membuka mulutnya. Dia hanya diam, membiarkan hening mengisi mereka. Membiarkan dirinya tenggelam dalam cognac termanis yang pernah dirasakannya. Oh lihatlah, bagaimana debu dengan indahnya membawa kenangan itu kembali pada hatinya yang bimbang.

“Aku tidak suka melihat kau mabuk, tahu?”

“Aku tidak akan mabuk Sehun-ku sayang”

Sehun menghela nafasnya, “Bicaramu ngawur” sekitar jam makan siang, Yoona menghubunginya. Menangis tersedu sedu mengatakan antifans ada yang menghinanya karena fotonya dengan Lee Minho.

“Apa aku tidak boleh memanggilmu sayang?” Yoona mengembilkan bibirnya. Botol Jack Daniels berhenti diputar putarnya.

Sehun gemas sekali. Dia harus tegas kepada wanita itu. Terkadang, seseorang menjadi mengerikan dengan stress dan alcohol. Dan percayalah, sudah berapa kali sejak Yoona duduk di hadapannya dia meneguhkan iman untuk tidak menyerang wanita itu? Butuh keberanian besar untuk menghadapi orang mabuk asal kau perlu tahu saja. Terlebih wanita—yang sialnya dicintainya.

“Dengarkan aku sayang”dia menekan dikata sayang, “Kau mabuk dan aku tidak suka. Selain mulutmu bau—tenang saja, tidak mengurangi cantikmu kok, sedikitpun tidak—kau juga berpotensi membuatku tak berdaya dengan mata dan bibirmu itu. Terlalu banyak alcohol juga tidak baik untuk kesehatanmu. Dan kalau perlu kutambahkan, aku tidak su—“

Yoona menghentikannya dengan bibirnya. Tangan dinginnya meraba tengkuk Sehun dan mengecup pipinya sekilas, “Jangan cerewet” kemudian bibirnya mengecup hidung Sehun lamat lamat, “Seharusnya kau menghiburku, bukan memarahiku”

“Hanya tindakan antisipasi” gumam Sehun dan dalam sepersekian milidetik bibirnya mengulum Yoona lembut. Wanita itu menyambutnya dengan senang hati, mengeratkan dekapannya di tubuh besar kekasihnya. Menikmati setiap getaran, setiap cinta, setiap nafsu yang melingkupinya.

Sehun menahan nahan dirinya sendiri. Hal yang paling tidak disukainya dari mabuknya Yoona adalah Yoona sendiri. Jauh dalam dirinya, Sehun tahu bahwa Yoona itu pemalu dan terkadang ragu. Ragu terhadapnya, terhadap dirinya sendiri. Selama ini itu menjadi bagian Yoona yang paling Sehun sukai. Karena Yoona adalah Yoona-nya yang manis dan pemalu. Yang butuh waktu lama baginya untuk yakin pada Sehun dalam apapun. Setiap dekapan wanita itu menenangkan dan penuh emosi. Membuat Sehun yakin dengan dirinya saat bersama Yoona.

Sekali, Yoona mabuk berat. Dia tidak akan melupakannya. Dia mengerikan. Matanya masih seperti dulu, bibirnya semanis madu. Namun dia berani. Agresif dan kuat. Yoona yang berbeda dengan Yoona-nya. Tangannya tidak memeluk Sehun lembut. Dekapannya terasa penuh gairah dan cinta yang menggebu gebu. Dia begitu pintar menggodanya. Membuatnya hilang kendali dan butuh waktu lama untuk mengusir itu dari pikirannya. Not to mention, Sehun sangat sangat suka. Yoona agresif saat dia mabuk, permainan semakin panas dan Sehun sangat menyukai itu. Tidak akan lupa di ingatannya bagaimana rasanya. Well, itu berakibat fatal bagi akal sehatnya. Seperti yang sudah dia katakan, butuh waktu lama untuk menghilangkan gairah itu dalam tubuhnya.

“Antisipasi? Memangnya kau takut padaku, Sehun-ah?” bisik wanita itu di telinganya. Sial.

“Aku takut pada diriku sendiri, Yoona” Lelaki itu memejamkan matanya dan membukanya. Hanya untuk bertemu pandang dengan iris caramel itu, “Sekarang dengarkan aku”

“Aku tidak pernah melarangmu minum alcohol, sayangku. Hanya saja aku menginginkanmu minum dengan batas wajarmu. Minum tidak baik untuk tubuhmu. Dan kau butuh banyak sekali tubuh sehat untuk menghadapi hari harimu” Sehun kemudian mendesah kalah dan memelankan suaranya sampai tingkat ke rendah, “dan menghadapi sisi liar diriku”

Sehun mungkin pusing dengan Yoona yang mabuk dan masalah pengontrolan dirinya. Tapi Yoona begitu mencintai mata itu! Iris yang menatapnya putus asa itu begitu indah. Tak pernah Yoona sadari itu—dan dia merasa bodoh sekarang. Warnanya mengingatkan Yoona pada cognac, salah satu minuman yang sejujurnya tidak terlalu disukainya. Tapi cognac itu manis. Lembut dan tidak akan menyakiti tubuhnya atau apapun kata Sehun.

Yoona jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada Sehun. Matanya yang begitu tenang dan dewasa akan selalu memperhatikannya. Mata itu akan selalu memantulkan dirinya dalam ketenangan. Mata yang begitu disukainya, yang selalu mampu membuatnya terasa seperti spons.

Sekali lagi, mata itu terpejam, menikmati ciuman yang diberikan sang kekasih yang jelita.

“Aku mencintaimu, Sehun-ah. Sangat”

Sehun berbisik manis, “Seperti aku mencintaimu, mi querida”

Terbawa oleh kenangan, Yoona melakukannya sama persis seperti dulu. Di sofa yang sama, dia mencium Sehun. Tidak peduli dengan segala kebimbangannya. Tidak peduli dengan keputusan bodohnya. Dia mencintai Sehun dan matanya yang luar biasa!

“Yoona” desah pria itu.

Sehun tidak berusaha menghentikan Yoona dan itu bagus. Tapi tangan Sehun menggenggamnya, ketika jari jemarinya begitu lihai membuka kemeja birunya. Dan sekonyong konyong, pria itu menguasai permainan. Dia mendorong Yoona menjauh, hanya untuk menciumnya lebih leluasa. Yoona melupakan segalanya, dia melupakannya semudah hujan menghapus noda. Tapi Sehun terkendali dan kuat.

“Kau tidak datang untuk ini” bisik pria itu ditelinganya dan dalam hitungan detik, Sehun melepas dirinya. Bangkit dan melenggang santai ke dapur. Seolah olah Yoona tidak pernah mencoba menggodanya.

Dan Yoona kembali sadar.

Bahwa Sehun-nya berbeda.

Sehun tidak pernah menolak Yoona. Catat itu. Tidak pernah. Karena Yoona selalu tahu apa kelemahan Sehun. Mencium Sehun hanyalah satu dari sekian cara untuk merobohkan pertahanan Sehun.

Yoona mendesah kalah. Ya, Sehun sudah mengalahkannya. Tangannya terulur mengambil salah satu foto yang berserakan di meja.

Detik berikutnya, Yoona kembali sadar.

Bahwa perasaan itu masih sama.

Yoona menyentuh jantungnya yang berdebam. Foto itu diambil hampir sekitar 6 bulan yang lalu. Diambil dengan tripod di apartemen yang sama. Sehun yang tertawa melingkarkan tangannya di perut Yoona. Sedangkan dirinya, tertawa mencoba melepas back hug Sehun. Yoona menyentuh Sehun. Mengusapnya lembut. Mengasihi saat waktu menjadi milik mereka.

Itu aneh, bagaimana hanya dalam jangka sebulan, Kepercayaan itu, keputusan, perasaan, semua hal yang selalu Yoona percayai hancur semudah merobek kertas.

Yoona ingin percaya hatinya benar. Jika Sehun memang harus diakhiri. Yoona tidak ingin tersiksa. Dia ingin bahagia.

Dan Yoona tidak akan pernah bahagia jika Sehun masih seperti ini.

Dengan memantapkan hatinya, Yoona memberanikan diri menatap Sehun yang memejamkan matanya. Pria itu kembali dengan membawa sebotol Martini dan dua pitcher bening. Nafasnya pendek pendek dan tangannya mengepal. Sehun mengeratkan matanya rapat rapat. Tidak terpejam dengan tenang.

Tapi melihat Sehun yang seperti itu menyakiti Yoona. Sudah berapa lama mereka tidak seperti ini? Sudah berapa lama Yoona tidak mengagumi Sehun? Sudah berapa lama perasaan sakit hatinya menghapus sosok Sehun sebenarnya? Yoona mendesah, tidak bisa menghentikan tangannya yang menyentuh bahu Sehun. Mendekat dan mengasihi wajah kekasihnya.

“Kau terlihat lelah, mia” bisiknya. Sehun menatapnya murung, kemudian kembali memejamkan matanya saat jemari Yoona membelai wajahnya. Tangannya terangkat, menggenggam tangan Yoona yang menyentuh pipinya.

Yoona tidak bisa berbuat apa apa, saat Sehun mencium jemarinya penuh perasaan. Mata pria itu masih terpejam. Sehun terlihat ketakutan dan gelisah, “Don’t be afraid, I’m here”

“Will you?”

Yoona tertohok. Dia tidak menyangka Sehun-lah yang akan membawa topic itu keluar, “Don’t leave me, Yoon Ah” bisik pria itu.

Yoona menggigit bibirnya. Melihat Sehun yang seperti itu menggoyahkannya. Yoona merasa sakit sekali. Seolah ada tombak yang dilempar ke dadanya. Menyesakkan.

“Bukankah pada akhirnya kita saling menyakiti, Sehun-ah?” iris cognac itu terbuka. Menampilkan ketakutan yang nyata. Sehun melepas tangan Yoona dipipinya. Dan mengalihkan pandangannya dari mata Yoona. Sehun tidak sanggup melihat mata itu, tangannya meraih selembar foto di meja.

“Bukankah ini indah?” gumamnya memperhatikan foto polaroid itu. Dirinya sedang menatap Yoona penuh cinta.

Yoona mendesah, “Aku tid—“

Sehun menciumnya. Lembut sekali. Hingga Yoona lupa kapan terakhir kali Sehun menciumnya penuh perasaan seperti ini, “Maafkan aku, mi amour. Maafkan aku” Sehun bergetar dalam pelukan Yoona.

Dengan perasaan campur aduk, Yoona berusaha tidak lemah. Tidak membalas dekapan Sehun hanyalah salah satunya. Yoona menggigit bibirnya. Dia tidak sanggup mengatakannya. Sangat tidak sanggup.

“Hubungan ini…..Sehun-ah, membunuhku perlahan”bisiknya akhirnya.

Sehun melepaskan diri dari Yoona. Menatap wanita itu dengan pandangan tidak tertebak, “Kenapa Sehun? Kenapa kau memaksaku melakukannya?” Nada tinggi Yoona membuat Sehun terluka. Pria itu menarik lengan Yoona kasar, memaksa Yoona menatapnya.

“Jangan pernah berpikir bahwa hanya kau yang tersiksa, Yoona” geramnya, “Apa kau pikir aku mau melakukan semua ini? Apa kau pikir aku dengan senang hati melakukannya? Apa kau—“

“Then why! Give me one logical reason why this shit happening between us! Kena—“ Nada suara Yoona tinggi tapi dia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Dia tersengal sengal dan tanpa sadar air mata jatuh dari pelupuk matanya.

“Tidakah Donghae hyung cukup untukmu?” melihat Yoona yang meneteskan air mata, Sehun jadi tersentuh juga. Tangannya menggapai wajah wanita itu, hanya untuk ditepis oleh sang kekasih, “Aku sudah bilang sayang, aku tidak sanggup jik—“

“Bullshit!” Sehun kaget mendengar jerit yang keluar dari Yoona. Pria itu bahkan belum sempat bereaksi saat akhirnya Yoona meledak marah di depannya, “JIKA KAU MENCINTAIKU, KAU AKAN MEMBERITAHU SAHABATMU! JIKA KAU MENGINKANKU, KAU AKAN MEMBERITAHU DUNIA BAHWA AKU MILIKMU! JIK—“

“DAN KENAPA SEMUA ITU PENTING BAGIMU NOONA? KENAPA KAU MENGIGINKAN PENGAKUAN DISAAT KAU TELAH MELAKUKAN KESALAHAN YANG SAMA DENGAN ITU!? YOU’RE NOT THE SAME WOMEN I HAVE DATED ONE YEAR AGO!”

“THEN LEAVE ME! END THIS. I’M NOT THAT GIRL ANYMORE!”

Dan Sehun mundur ke belakang dengan perasaan terkejut. Hatinya mengkerut mendengar Yoona. Dihadapannya, wanita itu marah dengan wajah berlinang air mata. Sehun tidak bisa menahan dirinya sendiri. Matanya berputar. Terlalu sakit untuk menatap Yoona

“Kau memintaku meninggalkanmu, Yoona” Sehun bergetar mengangkat martini-nya, “dan jawabanku adalah tidak”

Yoona hancur melihat Sehun. Lelaki itu tampak tak bisa menguasai dirinya sendiri. Sehun kembali duduk, berusaha menuangkan martini dengan benar ke gelasnya. Yoona mereda, badannya maju kea rah Sehun “Tolong Sehun-ah. Ak—“

“FUCK OFF!” Sehun akhirnya meledak juga. Tapi hatinya masih sakit dan dia tidak yakin dia sanggup bertahan memaki keadaan. Pitchernya pecah berkeping keeping dan Sehun meludah kasar“You will be here. Stay with me forever and ever” itu bukan permohonan, namun perintah.

Yoona berusaha menggerakan kakinya yang lemas bagai jelly untuk mencapai Sehun. Tubuh pria itu menjauhinya. Masuk ke dalam kamarnya sendiri. Yoona bisa saja keluar dari apartemen itu sekarang. Menghapus semua kenangan dengan Sehun, membakar hatinya dengan cinta yang kosong. Memutuskan bahwa mereka berakhir tanpa perlu persetujuan Sehun.

Tapi Yoona tidak bisa. Sehun terluka olehnya dan Yoona tidak sanggup untuk itu. Dia tidak peduli sudah seberapa banyak luka yang telah Sehun ciptakan. Dia hanya tidak sanggup melihat Sehun seperti itu. Ini adalah kali pertama Yoona, dan dia tidak ingin Sehun mengganggunya selanjutnya. If this is the end, she want the good ones.

Sehun bersandar di dinding. Memandang lantai dengan kejam. Dia bahkan tidak menoleh ketika Yoona membuka pintu kamarnya. Kamar mereka.

“Katamu kau membencinya” Yoona berusaha mengabaikan penolakan Sehun, “tapi kenapa kau melanjutkannya Sehun-ah?”

“Aku egois!” bentak Sehun dan Yoona terkejut, “Aku tahu Yoona. Aku tahu itu. Aku menyakitimu sekian kalinya. Aku membiarkanmu menangis karenaku. Aku menyangkal bahwa kau adalah milikku. Aku membiarkanmu terluka karena kebodohanku. Aku tahu itu semua!”

Sehun berbalik, dia mendorong Yoona ke dinding. Menahan Yoona diantara tangan dan pemandangan malam Seoul. “Tapi apa yang bisa kulakukan? Membiarkan mereka tahu? Membiarkan mereka merebutmu dariku? Membiarkan mereka menyakitimu?” suaranya melembut, tangannya membelai helaian rambut yang terlepas dari ikatan Yoona, “Kau milikku. Hanya aku yang boleh mencintaimu. Hanya aku yang akan membuat hatimu berdebar. Oleh karena itu hanya aku yang akan menyakitimu Yoona. Aku tidak sanggup jika harus melihatmu sakit karena mereka”

“Katakan aku gila. Katakan aku maniak. Aku tidak peduli selama kau bersamaku. Aku menginginkanmu untuku seorang. Aku egois. Aku bodoh. Aku tidak memiliki perasaan. Tapi aku butuh dirimu. Kau merubahku. Kau mencintaiku dan itu sudah cukup” Sehun terpejam. Dan ketika dia menyerah, air mata meluncur bebas darinya, “Bukankah itu cukup? Bukankah bahagia sesederhana mengetahui bahwa kau mencintai seseorang yang mencintaimu?”

Yoona akhirnya menemukan satu cara terakhir sebelum hatinya berubah. Dia meneguhkan hatinya dan bertahan untuk tidak terbakar melihat mata Sehun, “Siapa bilang aku mencintai—“

Ciuman itu terasa kosong. Sehun menangis dalam ciumannya dan Yoona berusaha lepas. Tapi Sehun lebih kuat. Yoona tidak nyaman dari jeratan Sehun. Karena ciuman itu penuh dengan rasa sakit yang bahkan tidak bisa digambarkan oleh iris cognac itu

Dahi Sehun menempel pada Yoona. Matanya terpejam, “Jangan katakan itu. Tolong jangan. Kau boleh memakiku atau menangis dihadapanku sampai kau puas. Tapi tolong jangan katakan itu” Sehun tersenyum hampa, “Hubungan ini sudah cukup memuakan, Yoon Ah”

Yoona sudah kalah. Dia tahu itu dengan baik. Dia bahkan membenci dirinya sendiri. Sehun seperti penyihir. Menguasai Yoona. Membuat Yoona lelah. Dia tidak sanggup dengan perasaannya sendiri, tapi memikirkan hidupnya tanpa ada Sehun di dalamnya mengirimkan jutaan rasa sakit ke tubuhnya.

Tapi setan menguasainya. Dia harus menang. Demi Jessica

“Tiffany dengan Nickhun. Sungmin dengan Saeun. Kangta dan Ivy. Jiyeon dan Myungsoo. Minho dan Yuri eonnie! What happen to them? Did th—OH!“

Sehun meninju dinding di sebelah Yoona. Membuat wanita itu terkejut bukan main, “Jonghyun dengan Se Kyung. Siwon dan Stella. Eunhyuk dengan IU. Park Nami. Jo Hana. Kim Yejin. Dan perlu kuingatkan, kau dan Donghae!?” Sehun membara oleh amarah, tangannya menahan tangan Yoona di dinding, “Apa semua itu belum cukup untukmu? Apa aku harus menyebutkan lebih banyak lagi percintaan yang kandas karena agensi!?” Yoona menggeleng kuat kuat, dia kembali menangis tersedu sedu sementara Sehun semakin menekan tangannya ke dinding. Sakit. Itu yang dia rasakan, “Jawab aku Im Yoon Ah! Bantah aku! JAWAB!”

“TIDAK!” Yoona menangis tersedu sedu. Sehun menakutkan, tapi kenyataan lebih menakutkan, “Bagaimana jika agensi memperbole—“

“KAU DAN AKU TERPAUT 4 TAHUN NOONA! 4 TAHUN! DAN APA KAU INGAT BAHWA AKU ADALAH VISUAL DARI BOYBAND DENGAN SESAENG TERBESAR!?” bentak Sehun. Persetan dengan Yoona. Wanita itu tampak seperti seseorang kehilangan arah.

“Aku ti—“

“DAN KAU MEMINTAKU MENYERAHKAN DIRIMU KEPADA KEGILAAN ITU? TIDAKKAH KAU TAHU BAHWA AKU MEMBUTUHKANMU DISISIKU!?”

Yoona tidak sanggup. Dia ingin mati sekarang. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rupa Sehun saat ini. Sehun tidak pernah marah. Sehun tidak pernah membentak Yoona. Sehun selalu menjaganya dengan baik. Membuatnya tertawa dan mencintainya. Yoona melakukan kesalahan fatal. Dia mengganggu riak air yang tenang dan ki—

Matanya membulat. Sehun menciumnya. Penuh dengan ketakutan, rasa sakit dan perasaan yang tidak bisa Yoona gambarkan. Ciuman Sehun menuntut dan kasar. Menyakitkan hatinya. Lelaki itu tidak bergerak bahkan ketika Yoona jelas jelas menolak ciumannya. Dan bahkan ketika Yoona benar benar tidak bisa bernafas, Sehun masih menciumnya.

Yoona ketakutan. Dia tidak bisa melawan. Sehun begitu berbeda. Dia tidak mengenal Sehun yang sedang menciumi lehernya kasar. Dia tidak mengenal kekuataan dibalik cengkraman Sehun di lengannya

“Hentikan. Oh Sehun hentikan” desahnya. Ya desah. Apa yang bisa dia lakukan? Sehun seratus kali lebih kuat darinya. Dan Yoona sudah terlalu lelah bahkan untuk melawan. Percuma, dia tidak akan menang.

“Sehun-aaahhh” Sehun meremas payudaranya. Membuatnya sepenuhnya berada dalam kendali pria itu. Akal warasnya masih mencoba menghentikan tangan Sehun yang membelainya kasar. Tapi gelombang kenikmatan justru menenggelamkannya. Dan ketika tangan Sehun menyentuh titik sensitivenya. Yoona tahu dia sudah kalah.

Sialan, Oh Sehun benar benar tahu apa kelemahannya.

//

Yoona terbangun dengan mimpi buruknya.

Dia menoleh kesamping. Merasa luar biasa lega melihat Oh Sehun tertidur dengan damai. Jantungnya melambat. Yoona melupakan mimpi buruknya ketika jemarinya menyentuh wajah Sehun.

Demi tuhan, Yoona sudah lupa kapan dia melihat Sehun tertidur.

Sehun mengeluarkan dengkur halus. Wajahnya polos dan tenang. Membuat Oh Sehun tampak seperti bayi besar.

Jemarinya menyentuh matanya yang terpejam. Mengagumi bulu matanya yang lentik namun manly. Saat terbuka, biasanya biji matanya menatapnya lembut dan menggetarkan. Kemudian Yoona menyusuri hidungnya yang mancung tanpa cela. Lalu ke bibirnya yang tipis dan berwarna merah lembut. Yoona berlama lama disitu. Mengingat keahlian bibir itu menggodanya.

Sehun melenguh pelan tapi tidak terbangun. Yoona kemudian terkekeh dan menyusuri lengan Sehun yang kecil namun berotot. Menyusuri bisepnya, mengagumi kulitnya yang lembut. Turun ke badan dengan abs sempurnanya. Yoona sangat menyukai tubuh atas Sehun. Dulu, Sehun sering half naked hanya karena Yoona suka memandang absnya. Ya, Sehun tidak memiliki abs sekeren Choi Siwon—dan Yoona tidak pernah berharap begitu—tapi dia sangat menyukainya. Sangat sexy—karena abs seperti Siwon membuatnya geli dan kepingin muntah. Tangannya sampai ke selimut di pinggang Sehun.

Wajahnya seketika memerah. Oh lupakan perkataannya, tubuh bawah Sehun jauh lebih disukainya.

Dengan senyum mengembang, Yoona beranjak dari tempat tidur. Memakai kemeja Sehun yang tergeletak di lantai asal—lebih karena bajunya sudah tidak dapat diselematkan—dan berjalan tertatih tatih ke dapur. Air dingin menyegarkan Yoona. Masih pukul 2 pagi dan Yoona tidak ingin tidur lagi. Dia sendiri di dapur dengan sedikit pencahayaan, memikirkan semua hal yang berubah.

Bukankah bahagia sesederhana mengetahui kau mencintai seseorang yang juga mencintaimu?

Ya. Seharusnya bahagia sesederhana itu. Tapi Yoona memutuskan menyerah untuk Jessica Jung.Dia tidak sanggup lagi harus melihat Jessica menangis tersedu sedu seperti tadi. Mengingatnya membuat Yoona tertawa. Apa yang sudah Jessica lakukan untuknya? Jessica memang keluarganya, sahabatnya, tapi Jessica tidak berhak menghakimi miliknya.

Dia tidak sanggup kehilangan Sehun. Tapi dia tidak yakin hatinya akan bertahan dengan semua omongkosong ini.

Sehun selama ini tahu. Sehun juga tersiksa. Dia menyakitiku. Dia egois dan dia menjadi gentleman dengan mengakui semua itu. Yoona menempelkan dahinya ke meja yang dingin. Merasa nyaman dengan keheningan. Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Itu seharusnya cukup. Aku bukanlah wanita yang tergila gila dengan romansa. Ya, benar. Semua orang pantas dengan kesempatan kedua,’kan?

Jadi Yoona memutuskan untuk mencoba lagi. Sehun penting untuknya. Menghapus Sehun sama saja menyuruhnya bunuh diri. Yoona sudah lelah dengan perlakuan Sehun, tapi bukankah seharusnya dia menerima itu? Bukankah ketika mereka hanya berdua, Sehun memperlakukannya layaknya putri raja? Sehun hanya tidak ingin kehilangan Yoona. Begitupula dengan Yoona.

Dengan hati bimbang, Yoona masuk kembali ke kamar. Duduk memeluk lutut di lantai yang dingin. Kaca memantulkan bayangan hickey di sekeliling bahu dan lehernya. Yoona tersenyum geli. Sial, dia harus mencari alasan yang bagus untuk itu.

Memikirkannya membuat Yoona mau tak mau merah juga. Permainan mereka panas sekali. Pada ronde pertama, Sehun masih dipenuhi amarah hingga Yoona tidak bisa mengimbanginya. Setiap gerakan Sehun menyakitinya, setiap sentuhannya mengandung kemarahan yang nyata, setiap air mata yang jatuh dari Yoona mengakibatkan Sehun menusuknya kasar. Tapi harus Yoona akui, tadi adalah seks paling menegangkan yang Yoona pernah alami. Penuh dengan perasaan yang tidak bisa Yoona pahami (dia hanya mampu mengartikan setiap gerakan kasar Sehun sebagai kemarahan). Pria itu tampak begitu berbeda di ranjang (seharusnya dia tidak terkejut). Sarat dengan emosi yang membingungkan. Yoona bahkan berani bersumpah, ketika Sehun mencapai klimaksnya, dia merasakan airmata Sehun jatuh di dadanya.

Badan Yoona sakit semua, namun hasratnya membuncah. Dia bahkan tidak bisa berjalan tanpa mengernyit. Tapi dorongan kegalauan membuat Yoona berjalan mendekati ranjang. Menggoyangkan badan Sehun pelan.

“Yoongieee” lenguh Sehun. Yoona berdecak dan akhirnya menciumi wajah Sehun. Membuat pria itu akhirnya bangun dan mendorong Yoona menjauh.

“Ini masih jam 2 pagi, Yoona. Aku lelah sekali dan ing—“

“Shut up Oh Sehun and lets have some fun”

Sehun mengacak rambutnya kesal. Dia masih mengantuk sekali. Yoona bahkan dipenuhi dengan bintang bintang di matanya, “Permainan macam apa dijam 2 pagi? Tidurlah, kau butuh tenaga untuk jadwalmu besok”

Yoona mengerling nakal dan akhirnya loncat kepangkuan Sehun, “A game with thrust and pleasure”

Dan mata Sehun terbuka lebar. Bagaimana tidak? Yoona duduk pahanya dengan tiba tiba. Dan setelah dia mengerjapkan matanya. Wanita itu memanyunkan bibirnya.

“Game—What?” tapi otaknya masih terlalu mengantuk dengan guyonan Yoona.

Yoona mengeluh, “This game” tangannya menyentuh sesuatu dibalik selimut.

Beberapa detik kemudian, mata Sehun dipenuhi nafsu yang nyata. Dia mengeluarkan smirknya, seraya tangannya mulai bergerak menggerayangi Yoona, “Your wish is my command, ma’am”

//

Sehun terbangun dengan aroma daging panggang. Perutnya kelaparan dan ponselnya berisik. Ketika Sehun sudah benar benar sadar, dia menyadari kalau Yoona tidak ada disampingnya. Pria itu panik. Bayangan kejadian kemarin membuatnya takut. Dia meloncat bangun dari kasur dan berlari rusuh ke pintu kamar, sebelum nada dering lain menghentikannya.

Dia mendesah lega. Di nakas dekat kasurnya, tas tangan berwarna hitam berada disana. Sepasang sepatu, tas make-up dan barang barang wanita lainya. Tapi Iphone putih itu lebih menarik. Dia membuka Call-log nya, semua pesannya.

From: Wu Yifan

Yoona-ya, bisa kita bertemu?

From: Wu Yifan

Maaf

From: Wu Yifan

Kau dimana? Apa kau belum pulang? Kau baik baik saja?

Sehun tersenyum tanpa arti. Dan meletakan ponsel Yoona kembali. Bajunya semalam tidak ada, jadi dia asal mengambil baju dari lemarinya.

Wanita itu membelakanginya. Memakai hotpants hitam super pendek dan kemeja biru Sehun—yang jelas jelas kebesaran di tubuh kurusnya. Rambutnya diikat tinggi, dan Sehun mengenali instrumen Ave Maria menemani setiap gerakan kekasihnya.

“Ah, kau sudah bangun?”

“…”

Kapan terakhir mereka seperti itu? Dengan Sehun menyender di dinding dan Yoona yang sibuk dengan peralatan masaknya. Lelaki itu tersenyum lembut dan melangkah, mendorong Yoona ke kitchen bar. Menciumnya.

“Selamat pagi” gumam Sehun.

Dia terkekeh, “Pagi” Yoona mendorong Sehun menjauh, “Biarkan aku menyelesaikan ini”

“Tidak”

“Kau tidak lapar?”

“Kau membuatku kenyang”

“Aku bukan makanan”

“Memang bukan” Sehun mencium bibirnya sekilas, “Tapi kau semanis madu”

Kali ini Yoona tertawa. Wajahnya merona. Membuat Sehun gemas dan mencubit pipinya, “Bagaimana bisa kau sangat imut?”

“Sungguhan, aku lapar sekali” keluh Yoona. Dia menatap Sehun dengan puppy eyesnya, berharap Sehun akan melepaskan tangannya dari pinggulnya.

Kali ini pria itu tersenyum lebar. Serindu rindunya Sehun dengan Yoona, dia tidak akan membuat wanita itu melewatkan jam makannya. Oh, Yoona memang harus makan dengan baik sebelum Sehun jadi gila karena khawatir. “Baiklah master chef. Apa yang bisa kubantu?”

Sehun akhirnya membantu Yoona memanggang roti dan membuat teh. Dan dalam waktu singkat, sarapan lezatnya tersaji dengan menggiurkan di meja makan. Mereka makan seperti pagi pagi biasanya. Dipenuhi dengan tawa dan gombalan Sehun.

“Jam berapa kau berangkat?” tanya Sehun akhirnya tepar juga. Perutnya sudah penuh dan moodnya tidak terlalu buruk. Sedangkan Yoona masih sibuk memakan kentang gorengnya.

“Tidak tahu”

“Apa jadwalmu hari ini?”

“Drama. Dan shooting Beatle’s code” wanita itu tersenyum bosan, “Kau?”

“Padat. 2 pemotretan dan 1 CF dengan Luhan, Kai dan Kris hyung”

Wajah Yoona sedikit berubah mendengar nama Kris. Wanita itu termenung. Sepenuhnya lupa dengan Kris. Dari semenjak kejadian pagi itu, Yoona tidak mengangkat dan membalas pesan Kris. Bukan karena dia takut, Yoona hanya tidak ingin terpengaruh dengan itu. Sudah banyak pria yang menciumnya dan Kris hanyalah salah satunya. Kemudian ketika melihat Sehun menyesap tehnya pelan pelan, Yoona merasa bersalah. Apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus memberitahukan ini kepada Sehun? Apa reaksi Sehun nantinya? Apa nanti Yoona membuat hubungan Sehun dan Kris merenggang? Banyak sekali pertanyaan di otaknya.

Tapi mau tak mau, Yoona mengingatnya juga.

Saat Jessica memerah karena Jiyeon mengungkit tentang kiss scene nya. Saat Jessica mengatakan kalau dia sangat menyukai Sehun. Saat Kris menciumnya. Amarah Sehun tadi malam. Dia dibuat pusing juga akhirnya.

Yoona berjalan mendekati Sehun. Wanita itu tidak sedang bersama tubuhnya. Dia hanya sedang mengikuti apa kata hatinya. Tangannya menyentuh nasi yang ada di pipi Sehun.

“Anak kecil” kekehnya. Sehun hanya diam. Menikmati mentari pagi menghangatkan mereka berdua. Menikmati iris Caramel itu hanya untuk dirinya.

Tapi kemudian Yoona menciumnya dan sekali lagi Sehun membiarkan Yoona mendominasinya. Dia memeluk pinggang Yoona dan mendekapnya hangat.

“Kau milikku, Sehun. Hanya milikku” bisik Yoona

Sehun tersenyum. Dia mengeratkan tangannya di pinggul Yoona. Membuatnya semakin dalam mendengar detak jantung hatinya. Sedang, wanita itu meletakan dagunya di kepala Sehun, menikmati ketenangan untuk dirinya sendiri.

“Maaf, Yoongie” gumam Sehun. Dia terpejam erat. Merasa sangat bodoh dan egois. Yoona melepas dekapannya, menatap Sehun yang menunduk.

“Maaf untuk segalanya” ucap Sehun lagi, kemudian Sehun mendongak, tersenyum rapuh pada Yoona, “Dan untuk masalah kiss scene itu……kau juga tahu aku tidak bisa menolaknya, ‘kan?”

Yoona mengangguk. Dia tahu Sehun tidak berbohong. Jessica bilang begitu. Dia hanya sedang kalut. Memikirkan Jessica membuatnya ketakutan. Tapi saat Sehun menekan kepalanya di dada Yoona, dirinya tahu bahwa Sehun miliknya. Dia mempertaruhkan itu. Dia tidak peduli bagaimana prosesnya, tapi Yoona bertaruh bahwa Sehun hanya miliknya.

Yoona akhirnya memeluk Sehun lagi. Membiarkan keheningan bersama mereka. Sehun menikmati debaran lembut jantung Yoona. Mencintainya dalam hatinya yang terdalam

“Sehun?”

“Ya?”

“Jangan dekati Jessica, ya?”

//

“Sehun mana?” tanya Kris

Member EXO sedang berkumpul di meja makan. Mengeliling panekuk, omelet, nasi goreng yang dibuat oleh Yixing dan Chen. Tidak ada yang sadar kalau adik bungsu mereka tidak ada ditempat. Atau hanya Kris saja yang tidak sadar?

“Tidak tahu” sahut Chanyeol ogah ogahan. Mulutnya dipenuhi oleh panekuk dan tangannya sudah sibuk mengupas jeruk. Dia tidak terlalu peduli kemana Sehun pergi. Bocah yang satu itu—menurut Chanyeol—seperti hantu. Datang sesuka hatinya, pergi sesuka hati. Chanyeol sudah sering memarahinya karena kebiasaan buruknya itu, tapi Sehun hanya akan tersenyum seperti anak idiot dan mengulanginya lagi. Chanyeol ‘kan kesal.

“Ya!”

Joonmyeon menghela nafas keras, “Dia pulang ke apartemennya. Katanya dia terlalu lelah untuk menyetir kesini”

“Seharusnya kau menarik mobilnya Joonmyeon. Maksudku, dia tidak bisa dibebaskan membawa mobil sesuka hatinya kan?” Minseok yang penuh dengan roti menyahut dari samping Kris.

“Dan menghadapinya amukannya? Ugh, aku pernah meminjam mobilnya tanpa izin—bukan salahku juga, aku ingin sekali mencoba Audi R8 seharga milyaran dollar itu—dan dia marah marah sepanjang hari” gerutu Baekhyun mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Dia ingat betapa tajamnya tatapan Sehun hari itu. Seolah siap menguliti Baekhyun dan dijadikan santapan makan malam. Baekhyun tidak pernah takut dengan Sehun. Member yang lain senang sekali menghindari Sehun kalau Sehun sudah badmood, tapi Baekhyun malah senang membuat Sehun semakin badmood. Tapi untuk kejadiaan mobil itu, adalah pengecualian. Baekhyun bersumpah dia tidak akan menyentuh mobil Sehun—yang sukses membuat Baekhyun gatal ingin mencobanya.

Chen dan Chanyeol tertawa, melihat wajah tampias Joonmyeon mendengar perkataan Baekhyun. Menurut mereka, Joonmyeon itu lucu. Dia leader dan lebih tua dibanding Sehun, tapi Joonmyeon lebih sering ketakutan pada setan kecil itu. Jongin geleng gelek dan menepuk nepuk pundang Joonmyeon. Mencoba menenangkan leader kesayangannya yang sedang termakan dilemma itu “Jangan coba utak atik barang barang Sehun, hyung. Biarkan saja anak itu hidup seperti seharusnya”

“Hidup seperti seharusnya? Maksudnya pergi sesuka hati saat tidak ada jadwal?” kata Joonmyeon sebal. Masalahnya, Sehun suka sekali pulang malam. Meskipun tahu kalau Sehun bisa menjaga dirinya sendiri, tetap saja, diluar sana banyak orang jahat yang tidak menyukai Sehun. Dan itu membuat Suho khawatir setengah mati setiap kali Sehun belum pulang.

Jongin mengunyah omeletnya pelan pelan, “Biar bagaimanapun, Sehun itu berbeda dengan kita semua”

“Ah, sama sama makan nasi” kata Tao tidak jelas. Mata lelaki itu bahkan sedang menggerayangi setumpuk omelet di piring Yixing.

“Maksudku, Sehun itu chaebol yang masuk entertainment. Dia punya cara sendiri untuk melepas penatnya”

“Aku tidak mengerti apa katamu, Jongin. Tapi kurasa Sehun pasti punya alasan sendiri kenapa dia lebih suka berpergian dengan mobilnya dibandingkan dengan van kita” mata Luhan berkilat dengan misteri, “Oh, iya, apa Kyung belum pulang?”

“Belum” gerutu Jongin. Teman sekamarnya itu Kyungsoo dan Sehun. Dan sialnya, dua orang itu tidak kelihatan batang hidungnya semalam. Yang satu katanya terlalu lelah menyetir ke dorm. Padahal Jongin tahu jarak antara tempat shooting dengan dorm EXO lebih dekat dibandingkan jarak ke apartemen mewah lelaki itu. Yang satunya lagi katanya sedang merindukan ayahnya, makanya pulang ke rumah. Padahal Jongin juga tahu kalau ayah dan Ibu Kyungsoo baru mengunjungi Kyungsoo tiga hari sebelumnya. Jongin jadi tidur sendirian, seharusnya dia senang. Tapi melihat kasur sampingnya yang kosong, dia jadi kehilangan juga.

“Hyung, aku pernah dengar, katanya kalau ada idol yang sering bawa mobil, katanya akan menjadi target paparazzi” Tao bertanya pada Joonmyeon. Dia agak takut juga, soalnya dia lagi dekat dengan salah satu member girl group.

“Ah iya, aku pernah mendengarnya. Netizen bilang kalau seorang idol sering kedapatan dengan mobilnya, maka itu artinya dia sedang dekat dengan perempuan. Konyol” dengus Chen.

Kris yang mendengar percakapan itu sedikit termenung. Dia memang sudah mendengar tentang hal itu. Tapi baru sekarang dia benar benar memikirkannya, “Apa menurutmu Sehun dekat dengan perempuan?”

Kris terkejut dengan ucapannya. Dia tidak tahu kenapa dia membuka mulutnya untuk pertanyaan itu. Sekeliling meja makan terdiam. Mencerna pertanyaan Kris yang jika dipikir pikir masuk akal dengan kondisi Sehun.

Jongin lah yang terkekeh memecah keheningan itu, “Apa menurutmu hanya karena Sehun sering berpergian naik mobil itu artinya dia sedang dekat dengan perempuan?”

“Bisa saja. Masalahnya, Sehun sering bertindak mencurigakan”

“Lucunya, Sehun sudah sering naik mobil bahkan saat dia masih SMA. Kan sudah kubilang, Sehun itu chaebol yang masuk dunia entertainment. Mobil hanyalah satu dari sekian hobi mahalnya. Seperti Siwon hyung, kau tidak bisa mengekang jalan hidupnya”

Jawaban Jongin ada benarnya juga. Sehun memang begitu dari dulu. Dia tidak suka diperintah namun juga tidak suka memerintah. Sehun hidup sesuai dengan apa yang dia inginkan, apa yang ia sukai. Hanya ada sedikit waktu dimana Sehun benar benar mendengarkan perkataan hyungnya. Well, kecuali dengan perusahaan.

“Jujur, sampai saat ini aku masih penasaran” gumam Chen, “Jongin, apa Sehun benar benar tidak tertarik dengan perempuan?”

“Maksudmu dia gay? Ya tuhan, otakmu kesengat apa sih?” itu Luhan yang menatap lelaki pendek itu prihatin.

“YA! Bukan itu maksudku! Sehun itu tampan, kaya raya, cerdas meskipun masih bocah, dan dia sangat terkenal pula. Apa dia tertarik menjalin hubungan?” Chen bertanya pada Jongin yang masih terdiam. Sebenarnya dia kesal juga. Membernya tidak ada yang berani menanyakan hal seperti ini langsung ke Sehun. Dan biasanya Jongin yang akan diberondong pertanyaan jika Sehun mulai bertindak yang aneh aneh. Jongin jadi sebal, memangnya dia babysitter Sehun?

“No comment” selain karena Jongin sebal, dia juga masih ingin melindungi privasi Sehun. Meskipun dia tahu apa jawaban pertanyaan Chen, Jongin rasa ada baiknya jika hanya dirinya yang tahu. Sehun itu teman Jongin dari pertama kali mereka menjadi trainee. Kalau dipikir dipikir, mereka berdua menghabiskan masa puber bersama. Main game bersama dan banyak hal dengan kata ‘bersama’ dibelakangnya. Jongin jadi tahu bagaimana sifat Sehun yang menyebalkan itu.

Jongin dan Sehun itu berbeda. Ayah Jongin seorang pegawai Negeri, Ayah Sehun pengusaha. Rumah Jongin sederhana, rumah Sehun besar sekali (Saking besarnya, dia pernah tersesat didalam sana). Jongin punya dua kakak perempuan, Sehun punya satu kakak laki laki. Jongin pergi sekolah naik bis, Sehun diantar sedan mewah. Jongin berkulit tan, Sehun putih seperti mayat. Hidung Jongin tidak terlalu mancung, hidung Sehun seperti perosotan. Bibir Jongin tebal, bibir Sehun tipis. Ya, Jongin dan Sehun begitu berbeda dalam segi fisik maupun kehidupannya. Tapi entah kenapa, Jongin sayang sekali dengan Sehun. Jongin dan Sehun itu berbeda, tapi Jongin selalu tahu apa yang sedang dirasakan Sehun.

Dari semua waktu yang telah Jongin habiskan dengan Sehun, Jongin menyimpulkan kalau Sehun itu selalu punya alasan dibalik semua tindakannya.

Seperti ketika Sehun kedapatan menemani Hana belanja di butik mahal yang Jongin tahu Hana tidak akan sanggup membeli pakaiannya. Jongin sudah meninju Sehun tanpa pikir panjang lagi, sampai akhirnya Sehun bilang dia menemani Hana belanja baju yang akan dipakainya untuk pesta ulang tahun Jongin. Sehun bilang, dia bingung mau memberi Jongin hadiah apa, jadi dia pikir dengan membuat Hana menjadi sangat cantik sudah cukup untuk Jongin. Yang membuat Jongin malu sekali rasanya.

Sehun itu tidak pernah bertindak gegabah. Seperti halnya kejadian dengan Hana, Jongin tahu Sehun pasti punya alasan yang logis kenapa dia tidak memberitahu Jongin tentang hubungannya dengan Yoona.

Ugh, memikirkan tentang Sehun dan Yoona membuat Jongin pusing. Alasan yang kemarin Yuri berikan cukup masuk akal mengingat sifat Sehun. Tapi kenapa Sehun perlu menyembunyikannya dari Jongin juga?

Lalu ada apalagi dengan Jessica Jung?

Kwon Yuri mengatakannya dengan wajah tertekan. Kalau Jessica Jung menyukai Oh Sehun. Tidak, malah kemungkinan besar sudah menjadi perasaan cinta. Jongin saat itu bertanya dengan bodoh.

“Apa peduliku?” dia mendengus, “Percaya deh, Jessica itu bukan tipe Sehun sama sekali”

“Kau harus peduli, Jongin” Yuri terus mendesaknya.

Jongin memutar mutar cangkir kopinya, “Baiklah, katakana aku peduli. Apa yang akan kulakukan? Sehun bukan tipe pria yang akan cheat with other girl”

“Masalahnya, Jessica itu tipe wanita ambisius” Yuri semakin terlihat tertekan, “Dan yang lebih buruk lagi, sepertinya Yoona sudah sadar kalau Jessica menyukai Sehun”

Jessica Jung yang ambisius menyukai Sehun.

Im Yoona yang sensitive mengetahui hal itu.

Oh Sehun yang bodoh, entah bagaimana semua masalah ini berlabuh pada dirinya.

Kim Jongin mengacak ngacak rambutnya frustasi. Dia sedang sendirian dikamar. Dan sedang mencoba membuka kotak logam biru gelap dengan kunci digital yang dia ambil dari lemari Sehun. Ya, kotak yang disembunyikan Sehun diantara tumpukan baju bajunya. Jongin punya perasaan kuat yang mengatakan kotak itu pasti berhubungan dengan Yoona.

Tapi akhirnya Jongin menyerah. Kotak itu seperti brankas supermini. Awalnya dia pikir, itu hanya dilindungi oleh gembok biasa yang bisa Jongin lepas dengan mudah menggunakan kawat. Nyatanya, Sehun ternyata sangat pintar dengan memasang kunci digital.

Ugh, kotak itu pasti berisi sesuatu yang sangat penting. Sampai sampai Sehun menjaganya sedemikian rupa. Kemudian Jongin tertawa dengan pemikirannya. Tentu saja, kotak itu pasti berisi segala hal yang berhubungan dengan Im Yoon Ah. Lelaki macam apa yang mengisi mini brankas (Yeah, benda itu lebih terlihat sebagai kotak seharga ribuan dollar dimata Jongin) dengan barang barang–couple–kekasihnya? Jongin jadi berpikir, sepertinya Sehun benar benar tidak ingin ada yang tahu tentang hubungannya itu. Lelaki itu memang benar benar total saat mengiginkan sesuatu.

Dan entah kenapa Kim Jongin merasa kalau Sehun tidak baik baik saja.

///

Hell-o gays. It’s been a long time since my last update right? Lol. Just please, dont blame me for being such a snail. I’ve been busy with school (sucks) and exams and organisation and homework and blahblahblah. And when i’ve got my time, I just stuck in front of MSoffice, wandering what should i write😥 Yeah, that famous writers block eat me up.

And here’s my apology. This chapter is longer than usual right? Absolutely. And just like wiseman said, “The fire is here!”

“Katakan aku gila. Katakan aku maniak. Aku tidak peduli selama kau bersamaku. Aku menginginkanmu untuku seorang. Aku egois. Aku bodoh. Aku tidak memiliki perasaan. Tapi aku butuh dirimu. Kau merubahku. Kau mencintaiku dan itu sudah cukup” Sehun terpejam. Dan ketika dia menyerah, air mata meluncur bebas darinya, “Bukankah itu cukup? Bukankah bahagia sesederhana mengetahui bahwa kau mencintai seseorang yang mencintaimu?”

Sumpah deh, gua baper banget di chapter ini gaboong. Yoona-Sehun bicker part that gosh, I love that part the most. Baper banget sial, kata kata Sehun itu loh….dalem, nusuk, nyelekit, right on the feels banget. Gua kalo jadi Yoona mah udah gasanggup kali (re.Lari meluk ala bollywood/gak)

Karena aku pikir part ini part yang, mixed banget feelingnya. Up and down. Tapi tetep aja, favorite aku yang diatas itu.  I’ve told you mine, so what’s yours?

Okay, kayanya kepanjangan. So, see you in next chapter

.

156 thoughts on “Hidden Scene [12]

  1. entah kenapa disini jadi benci banget sama jessica -_- padahal aslinya aku suka banget sama couple yoonsic :3
    daebak thor!

  2. OMG, baru pulang bimbel dan langsung nyari hp mumpung ga ada ortu, langsung nyari nih ff dan huaa… ketinggalan dan chap 13 udah ada aja. Tuh si yoonhun udah baikankan, syukur deh. Jess please, nambah greget deh sm nih anak. Emang bener kta authornya feelnya dapet banget apalagi pas di apartemen.

  3. Wahhh sudah lama ga update ya thor. Figthing! Ditunggu ya next chapter nya. Sehun nyerah akhirnya narik Yoona untuk pengakuan sama agency dah apa ada paparazi yang ngespot mereka. Uda lama banget ini cerita gak ketahuan2 😂😂😂😂😂

  4. aku setuju sama kamu thor, part ini bener bener campur aduk bangettttt.. Aku ga tahan buat ga gigit bibir sama jari akuu, saking dapet banget feelnyaaaa.. Bener bener nusuk banget pertengakaran yoonhun, lumayan panas juga sama ya yang itu hahaha sampe senyam senyum sendiri wkwkwk
    Ditunggu part selanjutnya author sayang *yoonasaid😀

  5. Aku baca ff ini hampir seharian.. Dan ini hebat.. Sangking keren nya ni ff aku baru komen di part ini *mian thor hehe* jadi kapan next chapnya thor?? Aku harap secepatnya😀 ceritanya udah bagus tapi banyakin percakapn nya dong thor.. Aku mulai lelah baca prolog nya hihi *mian* oke fighting thor!! 😘

  6. Wahhh kerennnnn
    Makin seru nih pastinyaa
    Penasaran sama chap selanjutnya
    Buruan dilanjutin dong thorr T.T
    Gak sabar banget nunggu kelanjutannyaaaa
    Pasti lebih seru dan greget/? Lagiii:’v

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s