Cinderella – Chapter 2

c1
.

a fiction by chiharu @chiharuu98

Cinderella

starring by Im Yoona and a former member of EXO, Xi Luhan

Genre and Rating
Marriage-life, Romance, Angst | PG15

mine, don’t claim this as yours (the plot and story)

.

SET BELT FIRST

.

“Ji..jiyeon?”

Yoona melirik Luhan sekilas saat lelaki itu menyebut sebuah nama, itu memang tidak penting—lagipula ia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Namun ia agak heran saat Luhan menyebutnya dengan nada yang kaget, bahkan raut wajahnya menunjukkan hal yang sama.

“Ya..ya, ku dengar begitu. Dia memang pergi ke Paris beberapa waktu yang lalu.” sambung Luhan masih dengan ekspresi yang sama, namun kali ini ia terlihat lebih tenang. Suster Park hanya mengangguk mengerti. Yoona bisa menyimpulkan kalau mereka mengenal gadis yang disebut-sebut itu, sepertinya cukup dekat.

“Kapan dia akan kembali?” Suter Park kembali melontarkan sebuah pertanyaan.

Luhan merasa kalau dirinya sudah tidak bisa menjawab pertanyaan Suster Park. Menagapa dia datang disaat yang tidak tepat? Bagaimanapun juga, dia bukan orang jahat yang sembarangan membenci seseorang, dia juga harus menjaga perasaan Im Yoona, istrinya—yang sekarang tengah tergabung bersama mereka. Gadis itu memang tidak tahu, tapi sepertinya akan cukup tidak adil kalau Suster Park menyampaikannya (secara tidak langsung) sekarang, gadis itu pasti cukup kaget.

“Pesanan sudah datang, dua porsi Jajangmyeon dan dua gelas Lemon Tea.”

Luhan bisa bernafas lega karena paman Han datang disaat yang tepat.

“Sepertinya kalian akan makan siang, maaf jika aku sempat mengganggu waktu kalian.” ucap Suster Park kemudian, karena mungkin ia merasa tidak enak.

“Ti..tidak, apa kau mau makan bersama kami? Biar kami pesankan juga untukmu.” sanggah Yoona dengan ramah, namun Suster Park menolaknya dengan halus dan segera pergi dari sana. “Padahal kelihatannya dia sangat capek.” gumam Yoona pelan.

“Lupakan hal itu. Tadi kau bilang mau memesankan makanan? Siapa yang bayar? Memangnya kau punya uang? Enak saja.” Luhan kembali berceloteh hal konyol yang sama sekali tidak dapat Yoona pikirkan. Lelaki itu memang benar-benar menyebalkan.

“Astaga, kau adalah orang pelit yang pernah ku temui.” maki Yoona pada Luhan, kemudian dia buru-buru tutup mulut saat Luhan menatapnya dengan tatapan horror, Yoona lupa kalau Luhan adalah salah-satu orang penting disini, citranya sebagai dokter bisa-bisa akan hancur karena celotehannya barusan. “Baiklah, aku minta maaf.” Yoona mendengus sebelum ia mulai menyantap makan siangnya.

Luhan menggigit bibir bawahnya saat ia menatap Yoona, gadis itu terlihat menyantap makanannya tanpa ada beban sedikitpun. Akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan dirinya, dia harus memikirkan dua orang yang berbeda, tentunya itu akan membuatnya semakin pusing. Luhan menyesali keputusannya untuk tidak memberi tahu Jiyeon. Kalian bisa bayangkan seorang lelaki yang sudah menikah memiliki satu orang perempuan lagi? Tentu itu bukan pilihannya, dan dia juga tidak mau menyalahkan dirinya sendiri.

“Kau memikirkan apa?”

Luhan membuang nafasnya berat saat ia mendapati wajah polos Im Yoona, gadis itu masih memegang sumpitnya dengan wajah yang terlihat bertanya-tanya.

“Aku tidak apa-apa. Kita lanjutkan saja makannya.” sangkal Luhan sambil buru-buru menyantap Jajangmyeon yang sedari tadi ia biarkan.

“Aku akan pulang sekarang.”

Luhan mendongkak dengan raut wajah yang bertanya-tanya. “Kenapa?”

“Aku harus menyiapkan kuliahku, lusa aku mulai kuliah lagi. Kau tidak lupa, kan, kalau aku ini masih kuliah?”

“Aku tidak lupa, tentu saja. Ya sudah, kalau mau pulang, pulang saja sana.”

“Sifat menyebalkannya kembali terlihat.” gumam Yoona sangat pela agar lelaki itu tidak mendengarnya. Setelah itu, Yoona menggigit bibir bawahnya karena ia lupa sesuatu, ia lupa kalau ia tidak membawa uang dari rumah, ia membayar ongkos taksi dengan uang yang ada di dompet Luhan. Ia menggaruk-garuk kepalanya disertai dengan senyum canggung. Luhan yang sadar bahwa Yoona belum beranjak dari sana, segera mendongkak dan memberikan tatapan seolah bertanya-tanya.

“Kenapa masih disini?”

Yoona tidak langsung menjawab, ia masih menggaruk kepalanya. “Sebenarnya aku tidak punya ongkos untuk pulang.” ucapnya dengan tawa yang hambar, agak canggung juga. Ia terus memaki dirinya kalau ia bodoh—tentu saja Luhan akan merendahkannya.

“Huh, jadi karena itu? Kau ini—” Luhan tidak menyelesaikan perkataannya, ia baru sadar kalau ternyata ia dan Yoona sedang diperhatikan oleh seisi kafetaria rumah sakit.

Ia juga baru sadar kalau dirinya adalah dokter paling muda disini, belum lagi dengan kenyataan bahwa dia adalah dokter yang cukup banyak disenangi oleh kaum hawa—karena dia memang tampan, jadi dia cukup terkenal disini—oh ya, dia juga anak dari pemilik rumah sakit ini. Beberapa orang yang mengenalnya terlihat memerhatikan mereka berdua. Ia tidak ingat perkataan apa saja yang telah ia lontarkan pada Yoona sejak tadi. “Sayang, maafkan aku karena aku tidak bisa mengantarmu pulang, kau tahu kalau aku ini dokter yang sibuk?”

Yoona terperanjat kaget saat kedua tangannya diraih begitu saja oleh Luhan. Dan kalian dengar kata-kata barusan? Itu sungguh membuatnya geli, apa lelaki itu sedang berakting? Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melihat tatapan dari beberapa orang yang ada disana.

Mukanya agak memerah karena malu, Luhan terlalu berlebihan dan terkesan sangat dibuat-buat. “Apa yang kau lakukan?” bisik Yoona dengan wajah risihnya. Luhan agak bangkit dari duduknya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Yoona, kemudian ia berbisik, “Kita harus kelihatan romantis di depan mereka.” Yoona mendengus mendengarnya. Luhan memberikan uang yang telah ia siapkan dengan cepat pada Yoona. “Ini memalukan.” gumam Yoona pelan.

///

Beberapa suster yang tengah berada di bagian resepsionis tengah berbincang-bincang, sepertinya ada sesuatu yang seru. Namun seperti biasa, mereka akan agak berisik kalau tidak ada tamu yang datang atau sekedar meminta bantuan—seperti saat sekarang ini.

“Suster Park, kau bilang kau bertemu dengan Dokter Lu dan juga istrinya di kafetaria?” salah-satu dari mereka bertanya pada Suster Park Hyomin yang tengah sibuk memasukkan beberapa data ke komputer. Dia hanya mengangguk pasti.

“Aku sangat menyayangkan akhirnya Dokter Lu menikah dengan gadis yang sama sekali tidak pernah kita kenal, apalagi dengan penampilannya yang aneh itu. Sayang sekali.” Suster Gong berceloteh sambil memainkan bolpoin yang tengah ia pegang. Suster Park yang notabene mengenal Luhan dan ‘kekasihnya’ hanya diam saja, walaupun ia juga masih kaget. Dia hanya tahu kalau Jiyeon dan Luhan sudah putus—walaupun sebenarnya ia sangat menyangkan keputusan Luhan. Ia belum tahu kalau Luhan dan Jiyeon sama sekali belum putus—karena ia juga tidak datang ke pernikahan Luhan beberapa waktu yang lalu… Ia berpikir kalau Luhan sudah putus dengan Jiyeon—tapi kenyataannya tidak, mereka sama sekali belum putus, dan Luhan boleh lega dengan hal yang satu ini, karena tidak ada satu orangpun yang tahu.

“Ah ya, bagaimana nasib Nona Jiyeon ya, dia kan sangat cantik dan juga seorang model, kan? Aku tidak bisa berpikir kalau Dokter Lu akan berpindah dari Nona Jiyeon ke… rrrr angsa buruk rupa seperti istrinya itu.” celoteh Suster Shin yang membuat Suster Park sukses melihat ke arah mereka dengan tatapan tegas. Suster Gong buru-buru menepuk pundak rekannya itu, “Hus, kau tidak boleh bicara sembarangan.” Kemudian kedua suster itu membungkukkan badannya ke arah Suster Park sebagai tanda meminta maaf, karena mereka tahu kalau Suster Park adalah teman dekat dari Park Jiyeon dan Dokter Lu.

///

Matahari mulai melenceng sedikit dari titik tengah, tepatnya sedikit ke arah Barat. Sudah dua puluh menit Yoona menunggu bis disini. Ia benar-benar benci hari ini, semuanya karena Xi Luhan yang sebenarnya tidak penting itu. Kalau boleh, ia tidak mau memasukkan Luhan dalam daftar orang penting dalam hidupnya. Ia juga baru sadar kalau hari ini ia belum mandi…. Uh jorok sekali. Ia benci hari ini karena ia tidak suka menunggu, dan hari ini banyak sekali part mengesalkan seperti itu. Mulai dari menunggu Luhan selesai menangani pasien, menunggunya di kafetaria rumah sakit… karena ia tidak punya uang untuk pulang, dan sekarang menunggu bis yang lama itu. Ya Tuhan, badannya sudah lengket karena keringat, dan ia ingin segera mandi.

Beberapa detik kemudian, ia merasa kalau bangku halte yang ia tempati benar-benar sangat sempit dan terasa sesak. Apa orang-orang tidak bisa berdiri saja kalau melihat bangku sudah penuh? Ini benar-benar aneh. Tapi ia melihat kalau ada beberapa orang yang yang berdiri… Dan siapa yang memaksakan diri untuk tetap duduk? Ia menolehkan kepalanya ke arah ujung bangku yang lain—karena satu ujungnya lagi ditempati oleh ia sendiri. Ia melihat ke arah sana, dan betapa menyebalkannya, ternyata orang yang memaksakan duduk itu adalah seorang laki-laki. Yoona bangkit dan segera menghampiri lelaki yang duduk di ujung sana. Ia sedang sensi karena ia benar-benar lelah.

“Hei kau! Kau tidak lihat kalau bangku ini sudah penuh?” maki Yoona sambil bertolak pinggang. Beberapa orang yang ada disana terlihat memperhatikan mereka. Lelaki ‘tersangka’ itu kemudian bangkit dari duduknya.

“K..kau bicara denganku?” Yoona mengangguk. “Maafkan aku, tapi seharusnya kau tidak usah memakiku.” ucap lelaki berperawakan jangkung itu.

Yoona tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak dan menyadari kalau ada sesuatu yang aneh. Ia memerhatikan laki-laki itu lekat-lekat. Lelaki itu berperawakan jangkung, mengenakan kacamata agak besar—sama seperti dirinya, memiliki telinga yang lebar dan mata yang bulat.

“Park Chanyeol?”

///

Dunia memang sempit, Yoona tidak habis pikir kalau dia akan dipertemukan lagi dengan Chanyeol—teman semasa kecilnya. Walaupun ia sebal karena Chanyeol sempat tak mengenalinya, tapi tidak apa-apa. Setelah insiden di halte bis tadi, Yoona mengurungkan niatnya untuk segera pulang ke rumah, karena Chanyeol memaksanya untuk jalan-jalan sebentar—belum lagi, ia juga sudah lama sekali tidak bertemu dengan lelaki konyol itu. Sekarang mereka sedang berada di atas jembatan, melihat sungai dan memakan permen kapas—makanan yang selalu mereka beli bersama semasa kecil.

“Aku sangat merindukanmu, kau tahu?” ucap Chanyeol sambil merangkul bahu Yoona dengan akrab.

“Kau tahu? Aku belum mandi… Kau masih berani merangkulku dengan akrab begini?” Yoona memberikan skakmat pada Chanyeol, lelaki itu buru-buru menarik tangannya.

“Benarkah? Kau jorok sekali.” ujar Chanyeol sambil mendengus pelan.

“Ada sedikit emergency hari ini, jadi ya… aku belum sempat mandi.”

“Ah tapi tidak apa-apa. Kau kan teman dekatku, lagipula aku sangat merindukanmu.” Chanyeol kembali merangkul bahu Yoona dengan akrab. “Aku satu-satunya lelaki yang tidak jijik saat kau belom mandi. Aku ini kan cinta pertamamu, hm?” ucap Chanyeol dengan nada yang terdengar menggoda.

“Terdengar menyedihkan. Tapi ngomong-ngomong, aku sudah menikah.”

“Me…menikah?”

///

Jiyeon keluar dari pintu kedatangan bandara, ia berjalan dengan elegan mengenakan dress selutut warna maroon dan lengkap dengan kacamata hitam yang ia pakai. Ia menarik satu koper hitam dan menjinjing satu tas kecil. Ia berhenti sejenak untuk memastikan, apakah benar-benar tidak ada yang menjemputnya hari ini? Menyedihkan. Meninggalkan kenyataan itu, ia segera berjalan hingga keluar dari bandara dan segera menaiki taksi yang telah ia pesan.

Ini adalah hari pertama ia menginjakkan kaki di Seoul setelah beberapa waktu lalu menjalani pemotretan di Paris. Ia juga tidak habis pikir kalau tidak ada seorangpun yang akan menjemputnya disini. Belum lagi dengan kecemasannya saat Luhan—kekasihnya sangat jarang mengangkat telepon, lelaki itu hanya mengirimkannya sms, apa lelaki itu sedang benar-benar sibuk? Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Luhan—tapi dengan akhir yang sama, ia agak membanting ponselnya ke dalam tas—untuk apa ia menelpon lelaki itu kalau akhirnya selalu sama? Geram. Apa laki-laki tidak paham kalau perempuan bisa lebih khawatir dan itu bisa saja membuat mereka terlihat gila.

“Pak, kita ke Xi Central Hospital.”

///

Kedatangan Jiyeon membuat sebagian suster heran, dan tidak sedikit dari mereka yang terlihat heboh, terutama suster yang bertugas di bagian resepsionis, yaitu Suster Gong dan Suster Shin. Bahkan mereka begitu kaget saat Jiyeon mengaku kalau ia masih berstatus sebagai kekasih Dokter Lu.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sepertinya ada yang tidak beres.” gumam Suster Shin dengan wajah penasarannya.

Beralin dari bagian resepsionis, kini Jiyeon tengah berada di ruangan Luhan, masih lengkap bersama koper dan tasnya, tak lupa juga dengan kacamata yang masih ia pakai. Luhan sama sekali tidak menyangka kalau Jiyeon akan pulang secepat ini dan tanpa ada kabar sebelumnya—dan parahnya langsung menemuinya ke rumah sakit.

“Kau tahu? Aku sangat khawatir, kenapa kau selalu tidak megangkat teleponku, kenapa kau hanya mengirimku sms? Kau tidak pernah mengabariku duluan, apa kau benar-benar sibuk, sehingga lupa denganku?” Jiyeon berhasil menyuarakan kejanggalannya dan tentu saja membuat Luhan serba salah.

“Kau datang secepat ini?” ucap Luhan kaget—ia tidak tahu harus bicara apa.

“Kau bahkan tidak merindukanku.” Jiyeon mendesah pelan sambil membuka kacamatanya.

“Bu..bukan begitu, aku hanya kaget saja kau tiba-tiba ada disini.”

Luhan tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Jiyeon. Ia memang menyadari kalau ia bersalah—bahkan sangat menyadarinya. Ia tidak mau menyakiti perasaan Jiyeon dengan memberitahu perihal pernikahannya dengan gadis lain, disisi lain, ia juga tidak mau melawan perintah keluarganya untuk menikahi Yoona. Ia sudah berpacaran dengan Jiyeon kurang lebih tiga tahun, ia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Jiyeon, mengingat sifat gadis yang itu sangat sensitif.

“Kenapa diam saja? Percuma aku marah-marah kalau kau tidak memberikan respon. Jangan-jangan kau tidak ingat kalau dua hari lagi adalah anniversary kita yang ke-4?” Jiyeon kembali lagi bersuara dengan nafasnya yang memburu dan matanya yang mengkilat seolah menahan air mata.

“Kau bicara apa? Tentu saja aku ingat kalau dua hari lagi kita anniv.” ujar Luhan mencoba memperkecil masalah diantara mereka—tapi sepertinya tidak, ini akan sangat panjang.

“Benarkah? Bagaimana kalau aku tidak percaya?”

Luhan membuang nafasnya gusar, ia sudah cukup lelah dengan hari ini. “Baiklah, kau mau hadiah apa untuk anniv kita?”

///

Luhan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan cepat. Ia meletakkan sebuah boneka teddy bear besar warna coklat yang berkacamata. Sesudah mengantar Jiyeon pulang, ia sengaja membeli ini karena hadiah untuk anniversary-nya dengan Jiyeon. Ia tidak terpikirkan membeli barang lain karena ia sudah terlalu lelah dan ingin segera pulang ke rumah.

“Kau sudah pulang?” Yoona yang juga sedang ada disana menyapanya—seadanya saja. “Oh! Lihat itu! Boneka teddy bear dengan kacamata?” ucapnya setelah melihat boneka itu di dekat pintu. Ia segera mengulum senyum dan berpikir kalau itu untuknya, namun Luhan kembali merusak moodnya.

“Tidak, bukan untukmu. Aku hanya kebetulan membeli yang berkacamata.” jawab Luhan datar dan seadanya karena ia malas membahas hal yang membuatnya pusing, setelah itu ia dengan cepat pergi ke kamar mandi.

“Ada apa dengannya? Wajahnya terlihat aneh.” gumam Yoona sambil berjalan menuju boneka teddy bear besar itu. Ia mulai berpikir bahwa boneka itu untuk wanita lain, tapi untuk siapa?

Yoona kembali mengingat-ngingat kalau lelaki itu menyuruhnya untuk tidak saling jatuh cinta, lalu pertanyaan dari seorang suster yang menanyakan seorang gadis. Yoona juga bisa merasakan kalau gadis yang disebut-sebut itu cukup dekat dengan Luhan.

Ia membuang nafasnya. Kenapa hidupnya harus menyedihkan seperti ini? Walaupun ia terlihat ceria di luar dan terkesan tidak peduli… Tapi siapa yang tahu, tidak ada orang yang benar-benar tahu pasti isi hati seseorang.

.

-continued-

.

Hai haiiii

mo ngomong apa nih bingung w, pokoknya thanks aja udah baca. Jangan lupa komennya, ehehe intinya sih itu aja.

Sori banget kalo momen LuYoon nya baru dikit dan sori banget jg kalo ceritanya emang susah untuk dimengerti. DAN INI TUH DRAMA BGT, TAU GA? PARAH KANNN YG BIKIN INI?-_- Em, betewe aku lagi kangennnn nih sama mas Luhan.-. Dimanakah dirimu maz? Rencananya sih pgn bikin sweet-sweet momennya mereka… Habis aku baper sih sama Jongsuk, ih dia manisnya minta digampar /curhat/ ceritanya aku terinspirasi dari dia gitu… Ah Dal Po ahjussi AILOPYU…. (kenapa jadi kesini ih gak nyambung) ketauan banget ya stalkers Drakor RCTI, ketauan juga kudetnya parah… Baru nonton sekarang. Gapapa kok, da aku mah gini adanya, cuman bisa nunggu tayang tipi aja😦

dan oh ya, buat DeeRabbit yg ff requestnya di take sama aku, tunggu ya… lagi on going kok hehe😀

doain aja ya supaya ff ini tamat, cepet lanjutnya jugaaa

ppai kisseu nicc❤❤

.

47 thoughts on “Cinderella – Chapter 2

  1. LuYoon jjang… momentnya kurang banget… aduh keg nya konflik mulai panas, Mb Yoona udah ketemu ama Abang Canyul trus abang Luhan udah ketemu ama Mb Jiyeon terusan nunggu lanjutannya deh..😀 Oke Keep writing and FIGHTING

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s