(Freelance) In Your Eyes (Chapter 9)

in-your-eyes-new-poster

IN YOUR EYES

Author: PinkyPark & Potterviskey || Cast: SNSD’s Yoona, EXO’s Chanyeol &Jongin, Jung Sooyeon & OC || Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama || Length: Chaptered ||Rating: G || Note: Already posted at EXOShiDae Fanfiction and our personal blog || Disclaimer: We own this fic’s plot and idea only. Cast belongs to God. So please respect with your comment. Don’t copy-paste or plagiarism! Thanks, enjoy reading guys🙂

.

Terkadang; ketika seseorang hanya diam, bukan berarti dia tak peduli. Dan ketika seseorang pergi, bukan berarti dia tak akan kembali.

.

“AKU MENCINTINYA AYAH!” Chanyeol berteriak berang. Kegelisahannya bercampur dengan gelagak amarah. Sudah lebih dari cukup bagi sang ayah menyulut emosinya. Ini sudah keterlaluan. Ayahnya sudah keterlaluan.

“K-kau berani membentakku?” kedua mata sang ayah membelalak tak percaya. Sementara Chanyeol masih berdiri disana dengan kaki gemetar serta keringat yang mengucur di pelipisnya.

Sejujurnya, tadi itu Chanyeol tidak ada niatan sama sekali untuk membentak sang ayah. Berbicara dengan rahang mengeras pun tak pernah terlintas dalam benaknya. Ini baru pertama kalinya Chanyeol melakukan hal itu dan ia tidak tahu bahwa rasanya akan menegangkan sekaligus menyenangkan seperti ini.

“Ayah sendiri tahu, aku selalu menuruti semua keinginan Ayah dari dulu bahkan sebelum aku mengenal duniaku sendiri. Selama itu, apa yang Ayah inginkan selalu aku penuhi, apa yang Ayah perintahkan selalu aku turuti meski aku tak yakin dengan diriku sendiri. Aku melakukannya karena aku selalu berpikir Ayah selalu benar, semua yang Ayah lakukan itu semua untuk masa depanku. Aku tahu itu. Dan selama itu aku selalu menjadikan Ayah seorang figur motivasiku. Apa Ayah tahu, setiap aku berulang tahun aku selalu berdoa agar aku bisa menjadi orang sepertimu, kau punya segalanya. Ya, segalanya yang Ayah mau,” Chanyeol mengambil jeda pendek—bilangan sekon itu Chanyeol gunakan untuk memperhatikan raut wajah sang Ayah.

“Apa Ayah ingat? Ayah selalu berkata padaku bahwa aku harus hidup mandiri. Aku sudah berumur lebih dari tujuh belas tahun sekarang. Lalu? Kapan Ayah bisa mempercayaiku untuk memilih jalanku sendiri? Kapan aku bisa merasakan resiko dari pilihanku sendiri? Aku selalu menunggu saat-saat itu bahkan rasanya lebih melelahkan daripada menunggu hari natal tiba. Dan sekarang aku sadar, hari dimana kau membiarkanku hidup mandiri memang tak akan pernah datang. Nyatanya, kau memang tak pernah percaya padaku, Ayah”

“Hentikan omong-kosongmu dan bergegaslah ti—“

“Tidak. Biarkan aku menyelesaikannya Ayah! Aku bahkan tidak tahu kapan aku memiliki keberanian untuk berbicara padamu seperti ini lagi. Dengarkan aku, sekali saja”

Chanyeol menarik napas barang sejenak, “Aku akan selalu menurutimu jika aku pikir aku memang harus. Tapi ini berbeda, Ayah tidak perlu repot-repot mencampuri urusan cintaku. Ini bukan hanya tentang masa depanku, tapi juga kebahagiaanku. Aku tidak seperti Ayah yang bahagia dengan dunia bisnis Ayah. Kebahagianku ada padanya. Gadis bernama Im Yoona yang entah sejak kapan mengalihkan duniaku. Jadi kumohon Ayah, jangan sentuh dia dan biarkan dia tetap disisiku!”

Urat-urat pria tua itu menegang, tangannya terkepal dan mukanya merah padam. Ditatapnya wajah anak yang selama ini dianggapnya penurut itu, “Park Chanyeol! Beraninya kau—” sang Ayah berseru dengan suara menggelegar, tangannya terangkat hendak menampar Chanyeol namun pintu terbuka lebar sekali, membuat bunyi gebrakan yang cukup keras.

“Astaga apa yang hendak kau lakukan pada anakmu!” Ibu Chanyeol melangkah lebar-lebar, kemudian berdiri diantara Chanyeol dan ayahnya. Dia memandangi kedua orang yang tengah bersitegang itu dengan khawatir, keadaan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. “Park Minhwa!” Ibu berseru dengan suara yang sedikit bergetar.

Tidak butuh waktu lama, dalam hitungan detik suara derap langkah Minhwa sudah terdengar dan gadis itu tiba dengan wajah yang sama khawatirnya dengan sang ibu. “Bawa kakakmu ke atas,” titah sang ibu kepada Minhwa. Tanpa bertanya-tanya gadis berusia enam belas tahun itu lekas menyeret lengan kakaknya dengan paksa. Mereka menghilang dibalik pintu dan sang ibu menatap suaminya dengan lelah.

“Apa yang terjadi? Mengapa kau bisa begitu kasar pada anakmu?” Ayah tidak menjawab, hanya diam kemudian duduk di sofa. “Ini pertama kalinya aku melihat kau semarah itu, apa yang sebenarnya terjadi?” Ibu mengikuti Ayah duduk di sofa, tangannya terangkat untuk memijat pelipis kirinya yang pusing, dan suaminya masih saja diam tak bersuara.

“Bagaimana bisa kau lalai seperti ini?” suara berat Ayah membuat Ibu menatapnya dari balik bulu mata, ditatapnya suaminya itu dengan bingung, “Bagaimana bisa kau membiarkan Chanyeol bergaul dengan wanita itu?” suara Ayah meninggi, Ibu yang memang tidak tahu apa-apa hanya menatapnya dalam diam.

“Apa maksudmu?”

Ayah menghembuskannapas berat, menatap istrinya tajam,“Chanyeol menolak perjodohan kita,” ucapnya pelan-pelan. Ibu tidak langsung menjawab, hanya diam menatap suaminya yang keras kepala.

“Siapa gadis itu?” Ibu bertanya pelan.

“Apa?”

“Siapa gadis yang dicintai Chanyeol? Aku tahu dia akan menolak jika memang dia memiliki seseorang yang dia cintai, jadi siapa gadis yang dicintainya itu?”

Ayah mengalihkan pandangannya, menatap lurus kedepan kemudian menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. “Namanya Im Yoona.”

.

Park Minhwa menutup pintu kamar Chanyeol kemudian menguncinya dari dalam. Gadis itu meniup poninya sekilas sebelum akhirnya berjalan kearah kakaknya yang duduk diam di samping ranjang.

“Kau baik-baik saja?” tanya Minhwa sembari duduk di samping kakaknya.

Chanyeol enggan membuka suara, dirinya hanya memejamkan mata untuk beberapa sekon lalu membukanya lagi.

“Aku tahu belakangan ini kau merasa sangat tertekan,” ucap Minhwa, kali ini menolehkan kepalanya untuk menatap Chanyeol yang terdiam. Chanyeol tidak menjawab lagi, hanya menghembuskan napasnya sesekali.

Minhwa paham betul bahwa apapun yang dikatakannya sekarang benar-benar tidak akan mendapat jawaban apa-apa dari kakaknya, jadi gadis itu meraih ponselnya kemudian menekan beberapa tombol lalu menaruhnya ditelinga. Gadis itu menunggu untuk beberapa detik sebelum akhirnya suara di ujung telepon terdengar.

“Halo Youngran, kau sedang apa?”

“Aku? Hmm, aku sedang menonton drama, kau tidak menonton?”

Minhwa menoleh sedikit untuk melihat reaksi Chanyeol, tapi sepertinya pria itu tidak begitu tertarik. “Tidak, aku tidak menonton. Aku sedang lelah sekarang.”

Youngran hanya meng-oh-kan saja karena mungkin kini fokusnya sembilan puluh persen tertuju pada drama yang ia tonton, tak lama kemudian gadis itu berbicara lagi, “Lalu untuk apa kau menelponku? Tumben sekali.”

Minhwa menoleh lagi, dan Chanyeol benar-benar bergeming. “Bagaimana kabar Yoona Eonni?” gadis itu kali ini mengeraskan suaranya, kemudian tersenyum menang saat Chanyeol menatapnya setelah dirinya mengucapkan nama itu.

“Yoona Eonni?” Youngran balik bertanya, Minhwa dapat mendengar Youngran menghela napasbeberapa sekon sebelum akhirnya gadis di seberang itu menjawab, “Eonni baik-baik saja, hanya sedikit lebih pendiam dari biasanya.”

“Benarkah? Aku sungguh tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini.” Minhwa melebih-lebihkan ekspresinya, dan kali ini Chanyeol benar-benar sudah tertarik. “Apakah dia makan dengan baik?”

“Dia makan seperti biasanya, tapi apa maksudmu dengan akhir yang seperti ini? Apakah ini benar-benar sudah berakhir? Maksudku, Yoona Eonni dan kakakmu benar-benar …”

Minhwa berdiri kemudian melangkah ke jendela, menyandarkan tubuhnya di dinding kemudian tertawa kecil. “Entahlah, kita lihat saja bagaimana ini semua akan terjadi.”

Youngran terdiam sebentar, “Apa Chanyeol Oppa baik-baik saja?”

Minhwa melirik Chanyeol yang kini juga sudah berdiri di sampingnya, “Tidak begitu baik Entahlah. Yasudah, aku tutup dulu. Sampaikan salamku pada Yoona Eonni ya. ”

Minhwa menutup telponnya kemudian mengubah arah hadapnya untuk menatap Chanyeol. “Apa?”

“Bagaimana kabar Yoona?”

Minhwa memutar bola matanya kemudian melipat kedua tangannya di dada. “Tsk! Giliran tentang Yoona Eonni saja kau bertanya, tadi sebelumnya aku tanya kau bahkan tidak menatapku.”

Chanyeol hanya menatap Minhwa, “Bagaima kabar Yoona?”

“Dia baik-baik saja, dia makan dengan baik, jadi sementara dia menjalankan hidupnya dengan baik, kau juga hiduplah dengan baik. Jangan bertingkah menyedihkan seperti ini!” Minhwa berbicara tanpa jeda, kemudian berlalu melewati Chanyeol. Gadis itu membuka kunci pintunya, “Selamat tidur.”

Pintu tertutup dan Chanyeol hanya diam menatapnya.

.

“Aku pulang,”

Jongin berseru lemah; melempar tas ransel dengan sembarangan lantas menjatuhkan diri diatas sofa berwarna merah memudar yang termakan waktu. Lelaki itu pulang bersama sejumlah luka lebam yang menghiasi wajahnya, pula ditambah ujung bibirnya yang berdarah. Kim Jonginmemutar kedua bola matanya ketika sekonyong-konyong Youngran telah berdiri dihadapannya dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada dan maniknya yang menatapnya lejar.

Youngran mendesah,acap kali menggumamkan kata ‘aigoo’ sembari membenahi sepatu Jongin yang tergeletak serampangan di dekat sofa.

“Kau berkelahi lagi?” Youngran melempar Tanya, tungkainya tengah merajut langkah malas menuju dapur. Di dapur sana, Youngran mengutarakan bagaimana leganya ia karena sang ibu tidak ada dirumah dan terus mengoceh hingga kembali ke hadapan Jongin berbekal wadah berisi air es (ada beberapa bongkahan es batu juga) dan sebuah handuk kecil berwarna peach.

Alih-alih menjawab; Jongin malah meraih remotetelevisi, mengalihkan channel nya berulangkali tanpa minat—sebuah usaha untuk mengabaikan adiknya.

Paboya!Apa kau tidak menyayangi wajah tampanmu?” Youngran menyingkirkan satu kaki Jongin yang tersampir di ujung sofa, mengabaikan tatapan tajam sang kakak lantas mendudukan diri di samping Jongin bersama wadah dan handuk di pangkuannya.

Jongin menatapnya malas, semerta-merta mengangkat tangan kanan setinggikepala—memberi isyarat ‘sana-pergi’ kepada Youngran tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

Youngran membelalak, “Aku berniat baik ingin mengompres memarmu dan ini balasannya? Ya ampun ya ampun, Lihat si idiot ini. Kau—“

“Kim Youngran …”

Youngran menghela napas, memutar kepala lima puluh derajat hingga manik teduh milik Im Yoona bersirobok dengan miliknya. “Biar aku saja,” katanya sembari berjalan mendekat.

Youngran mengangguk, dirinya pasrah saja toh ia tengah malas berdebat dengan Jongin. Ah, bahkan baru kemarin sore Jongin membelikan coklat dan es krim kepadanya dan lihat apa yang terjadi sekarang? “Awas saja, akan kulaporkan kepada Ibu jika dia pulang,” Youngran bangkit, menyerahkan wadah air dan handuknya pada Yoona dengan bibir mengerucut.

Jongin tak mau kalah, lelaki itu menatap sang adik sebal sembari berkilah bahwaia tidak takut. Yoona terkekeh kecil, menyuruh Youngran segera masuk kamar dan mendudukan diri disamping Jongin.

“Kau harusnya sadar betapa Youngran sangat mengkhawatirkanmu, Jongin.” Yoona memeras handuk kecil yang beberapa sekon lalu telah ia basahi; kendati begitu, sorotan matanya menatap lurus pada Jongin yang juga menatapnya. Manik mereka bersirobok dalam sejemang sebelum Jongin buru-buru mengalihkan pandangan ke televisi dengan gambar agak runyam itu.

Jongin hanya menggumam rendah sampai akhirnya ia mengaduh kala Yoona mulai mengompres wajahnya. Keduanya diselimuti keheningan untuk waktu yang lama—selain dari suara berisik dari televisi—sampai tahu-tahu Yoona telah selesai berurusan dengan memar Jongin.

Alih-alih mengatakan terima kasih, lelaki itu melempar tanya. “Kau masih cuti bekerja?”

“Besok aku sudah mulai kerja.” Jawab Yoona pelan, gadis itu membereskan wadah dan handuk dari pangkuannya kemudian berdiri, “Tidur dan istirahatlah.” Yoona berlalu, dan Jongin hanya diam menatapnya.

.

Suasana Cafetaria Daeyoung HighScool selalu ramai, sekumpulan gadis-gadis yang merasa dirinya paling cantik sekaligus berkuasa ada di tengah-tengah. Jung Sooyeon yang memang terlihat paling mendominasi kelompok itu kini sibuk memainkan rambutnya. Yang lainnya tak jauh berbeda, memakai lipbalm atau membolak-balik halaman majalah fashion.

“Kudengar Minha baru saja mendapat kekasih, dia anak termuda pemilik grup Doosan.”Sojin berucap manja, dia melirik Minha yang kini tersenyum bangga.

Sooyeon tidak merespon, dia berpikir sejenak kemudian mengeluarkan ponselnya. “Keluargaku juga sudah menyiapkan pertunangan untukku.”

Gadis lain sibuk menyimpan barangnya kemudian menatap Sooyeon dengan penuh tanda tanya. “Benarkah? Dengan siapa?” Hyura bertanya cepat. Sooyeon hanya tertawa pelan.

“Dia putra satu-satunya dari SK Group. Park Chanyeol.”

Omo! Ayahku beberapa kali melakukan perjanjian dengan perusahaan itu, itu keren! Yang mana Park Chanyeol? Apakah dia tampan?” Sojin setengah berteriak, Hyura dan Minha hanya menatap Sooyeon penuh minat.

“Dia sangat tampan, kalian ingin melihatnya? Tunggu sebentar—”

Sooyeon menunjukkan ponselnya, disana muncul foto Park Chanyeol sedang tersenyum lebar dengan kaca mata hitam dan rambut yang tertiup angin pantai. Gadis-gadis lain menggumamkan banyak kata dengan cepat. Sooyeon hanya diam menikmati kebanggaannya.

“Tunggu sebentar, aku akan menelponnya dulu.” Sooyeon mengambil ponselnya kemudian menekan layar ponselnya dan meletakkannya di telinga.

Ini aneh, Sooyeon tidak pernah menunggu seseorang mengangkat telepon dalam hitungan selama itu. Dan pria itu, bahkan membuat Sooyeon menghubunginya berkali-kali. Pria itu, Park Chanyeol—tidak mengangkat teleponnya.

Sooyeon menelan ludahnya saat sekali lagi dia mencoba menghubungi Park Chanyeol. Namun kali ini Sooyeon tidak bisa menutupi ekspresi terkejutnya, kali ini pria itu tidak mengaktifkan ponselnya. Apa-apaan ini?

Teman-teman Sooyeon mengerutkan keningnya, Sooyeon menurunkan ponselnya kemudian berdehem singkat. “Dia terkadang sibuk. Aku bisa meneleponnya nanti.”

“Benarkah? Memangnya sesibuk apa dia? Bukankah dia hanya murid SMA?” Minha bertanya menyelidik dengan raut wajah meremehkan, tapi hanya sebentar sebelum Sooyeon menatapnya tajam.

“Sudah kubilang dia itu sibuk. Lagi pula dia itu pewaris SK Group! Tentu saja dia sangat sibuk belajar untuk meneruskan perusahaan ayahnya.”

Sojin bertanya pelan, “Apakah kalian sudah sangat dekat?”

“Tentu, kami sangat dekat.”

.

Yoona baru saja mengganti baju kerjanya, dia meraih tasnya kemudian berjalan keluar ruang ganti. Jam di dinding café menunjukkan pukul sembilan malam, waktu dimana dia bisa pulang dan beristirahat untuk aktifitas esok hari.

“Han Sajangnim saya pamit pulang.” Yoona berucap sopan sembari menunduk hormat. Pria setengah baya itu tersenyum lebar kemudian menganggukan kepalanya.

“Ya, terimakasih untuk hari ini. Kembali lagi besok,”

Ne, Sajangnim.”

Gadis itu melangkah keluar, lonceng di atas pintu bergerak kecil—menimbulkan suara dentingan yang khas. Dalam sekejap angin malam menyeruak menyentuh kulit gadis itu. Yoona merapatkan jaketnya, kemudian hendak melangkah lagi sebelum matanya menampak siluet familier berada tidak jauh darinya.

Jongin disana, dengan seragam dan tas yang disimpaikan dengan asal. Rambutnya berantakan seperti biasa, dia bersandar pada dinding yang dingin, kemudian menatap Yoona dan tersenyum kecil. “Ayo pulang.”

Yoona mengerutkan keningnya, “Apa yang kau lakukan disini?” dia menatap Jongin yang masih menggunakan seragam sekolahnya, “Kau belum pulang ke rumah, Jongin-aa?”

Jongin tidak memperhatikan pertanyaan Yoona. Dia hanya tertawa pelan kemudian mengalungkan tangannya di bahu Yoona. “Ayo pulang.”

Yoona menoleh sekilas, kemudian dengan perlahan melepaskan tangan Jongin dari bahunya, “Ayo.”

Jongin terdiam, merasakan sakit di dadanya saat Yoona berjalan mendahuluinya. Gadis itu berjalan pelan-pelan, kepalanya menunduk dan Jongin mengerti di detik itu, Yoona masih terluka.

“Kau ingin minum kopi? Ada yang ingin aku katakan sebentar.” Jongin sudah mensejajarkan langkahnya dengan Yoona, Yoona menghentikkan langkahnya—gadis itu tak langsung menjawab, hanya mengangguk kemudian duduk di salah satu kursi besi.

.

“Sebentar, aku cari dulu,” Youngran berbicara setengah kesal, tangan kanannya mengaduk-ngaduk laci nakas disamping ranjang sementara tangan kirinya menahan sebuah ponsel ditelinga.

“Awas saja jika kau menghilangkannya!” Minhwa berseru di seberang telepon dengan nada mengancam, gadis itu terus mengomel bahwa ia tidak akan meminjamkan lagi CD yang ia punya jika Youngran selalu saja lupa mengembalikannya dan bahkan ia tidak ingat menyimpannya dimana. “Apa kau yakin aku yang meminjamnya?” Youngran bertanya untuk ke sekian kalinya.

“Ya. Kau meminjamnya seminggu yang lalu, Kim Youngran!”

“Mungkin aku sudah mengembalikannya,” Youngran berkilah, ia meninggalkan nakas ketika dirasanya barang yang ia cari tak ada disana dan beralih pada meja belajar di dekat jendela.

Minhwa semakin mengomel, “Hey, dalam seminggu ini kita belum bertemu.” Katanya mengingatkan.

Youngran mengangguk, dalam hati membenarkan ucapan Minhwa. Minhwa mengomel lagi di seberang telepon hingga akhirnya Youngran berteriak kegirangan. “Aku menemukannya!”

“Benarkah? Ah, terimakasih Tuhan,” Minhwa terus saja mengucapkan serangkaian kata syukur meski sesekali mengumpat pada Youngran.

Youngran baru saja akan keluar kamar ketika CD yang ia pegang tanpa sengaja menyenggol kalendar yang ada di atas meja, dengan segera Youngran memungutnya kembali.

“Kau harus mengembalikannya besok sebelum CD itu hilang!” Minhwa berbicara lagi, tapi Youngran tidak mendengarkan karena fokusnya ada pada salah satu tanggal dalam kalender yang diberi tanda bulatan dengan spidol biru. Youngran mengerutkan kening, itu adalah kalender Yoona dan ia sangat tahu bahwa tanggal yang dibulati itu bukan salah satu hari ulang tahun anggota keluarganya.

“Tanggal 18?” Gumam Youngran rendah sembari terus memikirkan ada apa di tanggal 18 April.

“Youngran? Kau masih disana? Kim Youngran!” Minhwa nyaris berteriak, dan Youngran segera sadar bahwa sambungan mereka belum terputus. “Ya, aku disini.”

“Sebenarnya daritadi kau mendengarkan tidak?” Minhwa bertanya garang.

“Ya, aku mende—Ah benar, aku ingat!” Youngran berseru dengan tiba-tiba, membuat Minhwa kebingungan diujung telepon. “Apa? Ingat apa?”

“Minhwa-yaa, apa Chanyeol Oppa ada dirumah besok?”

Minhwa belum menjawab, sepertinya tengah berpikir, “Besok? Sepertinya dia tidak akan kemana-mana. Kenapa kau bertanya hal itu?”

Youngran tersenyum, “Aku akan kesana mengembalikan CD ini besok. Sekaligus ada yang ingin kubicarakan dengan Chanyeol Oppa

.

Jongin datang dengan dua cup coffee panas yang masih mengepulkan asap. Yoona tersenyum singkat sembari menggumamkan kata ‘terima-kasih’ saat Jongin memberikan coffee kepadanya. Pria itu duduk di samping Yoona, ada jarak diantara mereka.

“Yoona?”

Gadis itu menoleh, “Hm?”

“Kau tahu ini sangat buruk bagiku, jadi tentu saja ini juga sangat buruk bagimu,” Jongin berujar pelan, tidak menatap Yoona.

“Apa maksudmu?”

Pria itu berusaha untuk bertemu pandang dengan binar hitam Yoona, dan dia berhasil. Mata indah itu disana, menatapnya dengan rapuh. Sekujur tubuh Jongin mendingin, jantungnya memang sudah berdetak cepat sedari tadi, mulutnya mendadak kering dan pria itu mulai merasa pening.

“Aku—aku mencintaimu. Aku mencintaimu Yoona.”

Mata itu bergerak, mungkin bening disana hampir pecah. Mata mereka tidak lagi bertemu, Yoona kemudian tertawa cukup keras. “Kalau begitu aku juga,” ucapnya perlahan, “Tentu saja karena kita adalah saudara, bukankah sesama saudara harus saling mencintai?”

Jongin menggigit bibirnya, kemudian menggeleng keras. “Tidak, yang ini bukan perasaan seperti itu. Kau tahu, seperti perasaan pria kepada wanita. Itu perasaanku padamu.”

Yoona menatap Jongin satu kali lagi, kali ini mata itu bergerak menatap Jongin dengan gusar. Ada kalut disana. Dan gadis itu tidak percaya.

Yoona menunduk lama sekali. Dan Jongin dengan setia menunggu.

Yoona akhirnya mengangkat kepalanya, gadis itu berdiri “Kim Jongin aku lelah, ayo kita pulang.” Kemudian dia berjalan, meninggalkan Jongin yang hanya diam menatap punggungnya.

Hari ini aku mengatakan perasaanku padanya, dia hanya diam kemudian pergi. Dan pada saat itu—untuk pertama kalinya, aku menyesal dengan apa yang sudah aku katakan kepadanya.

.

.

TBC

22 thoughts on “(Freelance) In Your Eyes (Chapter 9)

  1. ah jongin andweeee , kenapa dia bilang gt sih kan entar yoona nya jadi jauh sama jongin 😔, semoga hubungan chanyeol dan yoona bisa kembali lagi

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s