Who Are You? – 1

CYMERA_20150511_205749

by FN

cast : Yoona, Kai, Sehun, Yuri and others

genre : family, friendship, complicated

all rated

desclaimer : ini cuma fiksi yang keluar dari pikiranku. kalau nggak suka nggak usah ngebash, coba buat ngehargai karya orang lain. mungkin ini ceritanya rada absurd tapi aku berusaha buat nyempurnain sesempurna mungkin. dan saya cuma minjem semua nama cast yang ada disini

note : jika ada salah tanda baca, typos yang nggak bisa dihindari dan bahasa yang cukup amburadul.

—-

kau mencurinya, sejak pertama kali dan itu tak membuatku akan baik-baik saja

—-

Siang itu Yuri berulang kali harus menggoncangkan tubuh Yoona yang terus tergelung oleh selimut tebal di kamarnya. Yuri benar-benar tahu jika Yoona tidur sangat larut dan itu sudah menjadi kebiasaan Yoona sejak dua bulan yang lalu. Sebenarnya itu cukup mengusiknya

“Ya! Yoong! Ireona!!!”

“aku tahu ini akhir pekan tapi bukan berarti kau harus bangun siang bolong seperti ini!!!”

“Yoona!” teriak Yuri kesal

“Yoona!!”

“YOONA!!!!”

Cklek

“kalian berisik sekali sih” omel Jessica dari arah pintu kesal menatap kedua adik kembarnya

“Yoona tak mau bangun, eonni” adu Yuri

“biarkan saja anak itu, jika dia lapar dia akan segera bangun”

Setelah mendengar perkataan Jessica, Yuri memilih mengalah dan meninggalkan Yoona yang masih tertidur dengan amat sangat lelap.

“bagaimana menurutmu?” tanya Sehun menggoda temannya yang sedang kesal

“apa yang kau bahas?” Kai melirik kesal

“tentu saja Disc Jockey” Sehun menaik-turunkan alis matanya, menggoda Kai, yang tak ayal membuat Kai memukul kepala Sehun hingga lelaki itu hampir terjungkal dari kursinya

“duniaku terasa runtuh” sambung Kai

“akui saja kau kalah”

“Kai tidak pernah kalah, okay? You know me right?”

“ya…ya…ya… whatever tapi jika boleh jujur kau terlalu percaya diri. Hey! You are not the only one in this world, so many people like you and I think they are much better than you. Just like David Guetta, the best DJ in this world. For me” jawab Sehun polos

Oh… yeah. Perkataan Sehun membuat Kai semakin mendidih karena sahabatnya sendiri merendahkannya dan dia mengingat tentang kejadian tadi malam

“oh… shit! Kau meminum racun pagi tadi? Kau sangat menyebalkan seperti kecoa terbang!” Kai berlalu tak lupa dengan melempar bantal tepat ke wajah Sehun

Sehun terkiki geli, ini merupakan kesempatan besar untuk merendahkan harga diri Kai. Menurut Sehun, Kai itu terlalu narsis dan sering memperkenalkan dirinya sebagai DJ terbaik seantero Korea. Bukan karena Sehun iri atau bagaimana, dia hanya ingin mengurangi kenarsisan yang dimiliki oleh sahabat baiknya itu. Setidaknya, meskipun hanya sedikit.

Kai kembali memasuki Klub dengan nama RockTN itu. Sehun tentu saja mengekor dibelakangnya. Klub itu memang belum buka tapi untuk Kai tentu saja pegawai disana akan membiarkannya masuk dengan Cuma-Cuma

“dia merasa dilecehkan” adu Sehun pada Tiffany, salah satu bartender cantik dengan eye smile yang sangat menawan dimata semua orang

“kalian tak ada tugas sekolah?”

“tak masalah dengan tugas, noona. Aku hanya ingin melihat kegigihan Kai lagi” Sehun terkikik geli yang mampu ditangkap oleh Tiffany yang juga tersenyum kecil

“jangan katakan kau menertawakanku noona. Just like that idiot do” Kai menatap Sehun galak yang semakin membuat Sehun terpingkal

“don’t be mad, dude” Sehun bereforia hingga suara music yang Kai mainkan berbunyi dan meredam tawa ejekan dari lelaki itu

Sehun mengambil tempat disebuah sofa empuk jauh dari tempat Kai yang sibuk dengan alat-alat bodohnya—menurut Sehun, karena dia tak mengerti dengan hal yang berkaitan dengan DJ kecuali hanya penikmat—Sehun hanya menyukai yang berhubungan dengan gambar, contoh saja graffiti. Jika ada tembok bersih dia akan menggambarnya dengan sesuatu yang sangat dia suka bahkan jika dia tak membawa pilox dia selalu sedia pulpen di sakunya

“apa yang salah dengan ini?” gerutu Kai

“tak ada yang berubah dengan gaya musikmu”

“itu ciri khasku bodoh. mana mungkin aku bisa mengubah cirri khasku” dengus Kai

“bukan merubah sedikit mendominasikan dengan yang lain tentu harus kau coba kan?”

“masa bodoh, dia tak akan datang lagi. Beraninya dia mengambil semua fansku”

Sehun memutar matanya jengah, “whatever. Ayo kita pulang sebelum kita kembali lagi kemari nanti malam dan jangan lupakan untuk tidur jika kau tak ingin dihukum oleh guru killer Kim besok”.

—-

Yoona menatap seragam sekolahnya yang tampak rapi tapi ada sesuatu yang menyerang otaknya pagi ini. Dia kurang tidur dan otaknya benar-benar berdenyut-denyut. Tak mengayalkan tugasnya akhir-akhir ini yang membuatnya begadang tanpa henti

Cklek

“jangan lelet, ayo berangkat” suara Yuri membuat Yoona mendecih kecil dan mengikuti kembarannya itu

Yoona menatap sekolahnya lagi, Yuri yang mengetahuinya langsung melenggang pergi. Dia tak peduli dengan sikap aneh kembarannya itu akhir-akhir ini. Mereka kembar tapi percayalah mereka benar-benar tak sangat dekat. Yuri lebih dekat dengan Jessica, kakak keduanya sedangkan Yoona lebih dekat dengan Yunho, kakak tertua.

Sulit menjaga rahasia tapi untuk apa aku menceritakan pada anak bodoh itu? Music saja dia tak suka

Hentakan kakinya yang keras disusul dengan tendangan sebuah batu kecil itu sedikit melepaskan rasa kesal milik Yoona. Tapi keinginan langkah gontainya mengurungkannya ketika dua—ralat—tiga orang lelaki berdiri menghalangi jalannya

“kau menghalangi jalan, tuan” Yoona bersendekap menatap ketiga lelaki didepannya

Lelaki berkulit tan yang berada ditengah mendengus, “kau harus meminta maaf karena ini”

Yoona menaikkan alisnya tak peduli, “apa maksudmu? Itu bukan milikku” sanggahnya

Lelaki berdarah China disamping kiri lelaki itu menaikkan senyum remehnya, “aku jelas melihatmu menendang batu ini”

“itu bukan batu tapi kerikil”

“kau tak ingin meminta maaf? Tadi mengenai kepalanya” kali ini lelaki berkulit pucat menyahut

“maaf, tak sengaja. Annyeong”

Lelaki itu—Tao, Kai dan Sehun—menatap tak percaya pada Yoona yang berjalan menjauh

“bag—”

“sepertinya dia tak mengenal si hitam”

BUG!

“sekali lagi kau menghinaku, kau tak aman pulang sendirian” bukan takut Sehun justru tertawa keras

“aku tak main-main, Sehun. Aku tak memiliki mood baik gara-gara wanita BeatBox itu”

Sehun diam tak merespon perkataan Kai. Matanya sedang terfokus pada sesuatu yang mengingatkannya pada hal lain yang terasa sedikit familiar di ingatannya

Mungkin aku salah.

Yoona bukan tipe seorang gadis seperti Yuri bahkan bisa dikatakan Yoona dan Yuri bukan seperti saudara kembar tetapi mirip seperti cermin. Terbalik. Yuri kapten cheerleaders dan juga termasuk jajaran top 5 gadis paling menawan disekolah mereka. Yuri juga disebut sebagai gadis berkulit indah dengan tubuh ideal meskipun nilai akademik Yuri bukan yang terbaik tetapi Yuri termasuk dalam peringkat 15 besar disekolahnya dengan jumlah seluruh murid berkisar 150 orang

Sedang Yoona, dia hanya gadis pas-pasan dengan badan tergolong kurus. Tak memiliki nilai baik di olahraga maupun akademik. Dia bukan seorang gadis yang bodoh tetapi tentu saja teman-temannya selalu membandingkannya dengan Yuri yang berada jauh diatas Yoona

Hari ini seperti biasanya Yoona duduk sendirian menikmati makan siangnya di taman sekolah, jika pun memaksa memakan didalam sudah tak ada meja lagi untuknya. Yoona terbiasa sendirian, sejak dulu Yoona memang selalu sendirian tanpa teman bukan karena Yoona tak mau mungkin bisa dikatakan trauma.

Yoona pov

Aku memasang satu headsetku mendengarkan aliran music milik David Guetta yang benar-benar sangat mengalir indah. David Guetta tak seperti DJ lainnya menurutku. Aku bahkan bisa dengan sangat cepat mengenali musiknya dengan sekali dengar

“Without You by David Guetta”

Aku menolehkan pandanganku pada lelaki yang berdiri disampingku dengan kedua tangan yang masuk kedalam celananya

Ah… Oh Sehun. Kelas 12E. kelas dimana Yuri berada dan juga anak-anak terkenal lainnya

“kau menyukainya?”

Aku melirik aneh pada lelaki ini. Ini kali pertama kami bertemu dan dia bersikap seolah kami sudah saling mengenal sebelumnya

“ah… aku Oh Sehun, kelas 12E” dia mengulurkan tangannya padaku dan menyunggingkan sedikit senyumnya

“ini bukan Amerika” jawabku pelan, “Im Yoona, kelas 12A”

“kelas murid pintar” dia menatapku tak percaya

“kelas paling idiot” sahutku tak peduli

Aku kembali menyendok makan siangku dengan penuh kenikmatan aku tak peduli dengan lelaki yang berada disampingku yang—menurutku—tengah menatapku

“Avicii! Aku sangat menyukainya”

Perkataan lelaki ini benar-benar tak menarik perhatianku. Aku tak meresponnya dan menyibukkan diriku lagi dengan makan siangku hingga dia kembali membuka suara

“Zedd! Aku suka ketika dia berkolaborasi dengan Hayley Williams dari Paramore”

“are you gonna stay the night? Are you gonna stay the night? Oh~oh~oh~oh are you gonna stay the night”

Aku mendengarnya bersenandung pelan dengan nyanyian sang wanita cantik dari band Paramore itu. Sehun juga bersenandung lagu milik Calvin Harris-Summer

“kau menyukai music seperti itu?” tanyaku pelan

Dia menoleh dan mengangguk menatapku, aku menangkap sebuah senyuman kecil di ujung bibirnya meskipun tak kentara tapi aku tahu

“tentu, meskipun aku lebih menyukai graffiti dan skateboard tapi untuk bersenang-senang music electronic sepert itu tak ada salahnya”

Aku mengangguk menyetujui, memang benar music dengan aliran EDM, electronic, techno, daft punk dan sejenisnya itu memang benar-benar amat sangat menarik terutama ketika di klub malam. Bukan aku menyarankan untuk ke klub malam, tapi music seperti itu juga bisa dinikmati dirumah

Aku membereskan makan siangku dan berniat pergi

“ehm… bisakah kau meminta maaf pada temanku untuk soal yang tadi pagi?” sontak aku menoleh dan menatapnya bingung

“batu yang kau tendang”

Aku hanya ber-oh ria, “aku sudah meminta maaf”

“kau tak tulus dan temanku masih uring-uringan akan hal itu dan—dahinya sedikit berdarah tadi”

Aku menahan nafasku seketika. Aku tak berani berbalik untuk bertanya lebih lanjut dan memaksakan kakiku berjalan pergi dari tempatku tadi

Benarkah berdarah? Apa aku sekasar itu menendangnya tadi?.

Aku menarik-narik tasku sejak tadi. Bel pulang sudah berdering sejak 15 menit yang lalu tetapi lelaki yang terkena lemparanku tadi tak segera keluar. Aku hanya menebak saja bahwa dia juga kelas 12E sama seperti Sehun

Aku mendengar suara gelak tawa dari arah lorong. Aku tak bergeming hingga aku mendapati ketiga trio itu berjalan bersamaan. Sehun—lelaki pucat itu juga berada disana, mengikuti guyonan tak jelas menurut pendengaranku

“chakkaman” seruku ketika mereka melewatiku. Lebih tepatnya aku menghadang jalan mereka bertiga

“Kim Jongin-ssi” panggilku

Kim Jongin atau Kai itu menoleh menatapku dan kemudian raut wajahnya berubah. Aku sendiri mengangguk mengerti, tentu saja dia mengingat siapa yang menendang krikil hingga mengenai dahinya

“kau—”

“aku minta maaf soal yang tadi pagi” potongku

Mereka bertiga menatapku bersamaan. Tao, lelaki China itu dan juga Sehun mengangguk-angguk mengerti sedangkan Kai tampak sedang berpikir

“apa—kita pernah bertemu sebelumnya?”

Bertemu?

“wajahmu seperti familiar menurutku”

Apa dia sok kenal?

“mungkin kau salah orang, aku tak mengenalmu” jawabku, “annyeoong”

Aku meninggalkan mereka bertiga yang masih terdiam satu sama lain. Masa bodoh dengan lelaki seperti mereka. Aku tak ingin sesuatu buruk menghampiriku lagi sama seperti mereka yang terus membandingkanku dengan Yuri.

Kai pov

Aku tak berbohong ketika aku tak sengaja menatap mata gadis tadi, aku seperti pernah melihat tatapan matanya yang begitu familiar menurutku. Terasa tak asing dan aku benar-benar pernah merasakan tatapan mata itu sebelumnya

“jangan katakan kau mulai menyukainya?” pertanyaan itu menghilangkan lamunanku dan menatap Tao tajam

shut up, panda!” seruku berjalan pergi

Entah apa yang terjadi dengan kedua bocah itu, mereka menjadi benar-benar sangat menyebalkan beberapa hari ini. Sehun yang mulai meledekku habis-habisan, Tao yang mulai usil denganku. Biasanya kedua manusia itu akan benar-benar sangat diam tapi mungkin saja mereka baru saja meminum racun tikus dan membuat mereka menajdi seperti ini.

Aku merebahkan tubuhku. Mungkin aku memang teramat lelah. Aku tinggal seorang diri dirumah ini, bersama dua orang pembantu tentu saja. Aku anak tunggal dan kedua orang tuaku berada di Singapura dengan pekerjaan mereka. Mereka hanya pulang satu tahun sekali, itupun jika mereka sempat mencuri-curi liburan

Flashback

Aku melakukan pekerjaanku seperti biasanya. Memainkan alat-alat yang setiap harinya menjadi makananku sehari-hari juga tambahan untuk tabunganku sendiri

Salah satu bartender mendekatiku dan membisikkan sesuatu padaku, sekilas aku menatap kepada bosku dan bosku mengangguk untuk menyetujui apa yang dikatakan oleh bartender tadi. Dengan amat sangat terpaksa aku menghentikan pekerjaanku yang membuat semua orang yang berada didalam langsung berseru heboh

“nyalakan musiknya!!!”

“nyalakan musiknya!!!”

“huuuu!!!!”

Aku hanya menatap bosku yang tampak tenang di atas ruangan gelap ini tiba-tiba saja terdengar bunyi yang cukup aku kenali ditengah-tengah keramaian. Mereka yang awalnya rebut karena aku menghentikan pekerjaanku sekarang justru terdiam dan membentuk sebuah lingkaran dengan ditengahnya seorang gadis dengan topi—what? Topeng?

Mereka terdiam satu sama lain pada awalnya tetapi ketika Luhan—salah satu dancer hiphop bersama dengan Lay meliuk-liukkan tubuhnya diikuti suara beatbox dari gadis bertopi itu orang-orang langsung berteriak

“dia sangat keren”

“ya, gadis ini benar-benar hebat”

“wanita beatbox!”

Aku memincingkan mataku menatap gadis yang tengah sibuk dengan beatbox nya

“sepertinya saingan baru”

Aku tak peduli darimana asalnya anak itu muncul dan tiba-tiba sudah berada disampingku

“siapa dia?” Sehun mengangkat bahunya tak tahu

Segera aku menghampiri bosku yang tampak santai dengan segelas wine ditangannya. Mengangguk-angguk mengikuti alunan suara beatbox dari gadis itu. Jujur itu menggangguku

“bos—”

“nikmati saja Kai, hanya untuk malam ini” potongnya santai

Setelah setelai dengan beatbox-nya, gadis itu mendongakkan kepalanya menatapku dengan senyuman remeh sebelah bibirnya yang sangat mampu aku tangkap dan juga pincingan matanya yang tampak sangat menantangku

Dia sedang meremehkanku?!

Kemana dia?

Dia sudah tak berada ditempatnya tadi, aku mencarinya hampir keseluruh ruangan klub ini tapi dia sudah tak ada disana lagi. Aku tak tahu bagaimana wajahnya tetapi aku sangat hafal dengan tatapan matanya yang mengejek itu.

Flashback off

“argh! Dia benar-benar mirip dengan wanita itu!”

“tapi ini kali pertama aku bertemu dengannya. Apa aku salah? Babo!” runtukku

Aku harus memastikannya besok. Harus. Jika dia benar-benar wanita itu maka aku akan benar-benar menghabisinya dan satu lagi yang membuatku tak terima. Bosku memberiku setengah bayaran gara-gara gadis beatbox itu.

Author pov

Kai bergegas mencari Baekhyun, pikirnya Baekhyun pasti mengetahui tentang gadis bernama Yoona itu karena Baekhyun sering di juluki orang aneh karena tahu tentang segala hal—itu kata Sehun.

“hoy! Baekhyun!”

Baekhyun yang kala itu sedang sibuk dengan bukunya menoleh malas

“kau tahu Yoona?” tanya Kai tak sabar

“Yoona? Im Yoona maksudmu? Kembaran Im Yuri?” tanya Baekhyun mengeluarkan lollipop yang tadi sedang dilumatnya

“kembaran Yuri?” Kai bingung dengan perkataan Kai

“ne, Im Yoona kembaran Im Yuri”

“bagaimana bisa kembar? Mereka sangat berbeda” sanggah Kai

“ya memang, kau tak pernah dengar tentang si kembar cermin itu?” Kai menggeleng polos

“aku malas menjelaskan, kenapa kau mencari Yoona?” Baekhyun menatap Kai memojokkan

“sedikit urusan” jawab Kai cuek

“urusan apa dengan gadis tak tenar disekolah?”

“kau terlalu banyak bertanya. Cepat beritahu saja dimana kelasnya”

Baekhyun mendecih, “tak ada yang gratis”

“sejak kapan kau menjadi perhitungan padaku?” kali ini Kai berdecak

“12 A”

Setelah mendapatkan jawabannya Kai langsung ke kelas Yoona. Tapi ketika sampai disana, tatapan seluruh orang dikelas itu langsung mengintimidasi Kai yang tampak seperti makhluk asing. Kai menelan ludahnya pelan

“aku mencari Yoona”

Suara yang keluar dari mulut Kai membuat semua mata tertuju pada sesosok gadis di pojok kelas dengan headset menggantung ditelinganya serta manga dengan hangul bertuliskan Detektif Conan. Kai bergegas masuk dan menghampiri Yoona yang tampak tenang tanpa terganggu dengan tatapan teman sekelasnya

“Yoona” dia tak merespon

“Yoona”

“Im Yoona”

Kai langsung menarik sebelah headset Yoona. Gadis itu menatap datar kearah Kai yang tampak kesal

“wae? apa aku mengenalmu?”

“aku ingin bicara sesuatu” kata Kai tanpa mengindahkan perkataan Yoona

“shireo” jawab Yoona enteng dan kembali memasang headsetnya

Kai kembali melepas headset Yoona, “luang—”

“aku tak ada waktu untuk seseorang yang tak aku kenal lagipula guru Song sudah berada di ambang pintu menatapmu karena kau mengganggu kelas 12 A”

Kai tersenyum mengejek, “kau pikir aku takut dengan ancamanmu?”

“terserah” acuh Yoona mengeluarkan buku pelajaran matematika

Kai berdecak, “kau—”

“apa kau sudah selesai?”

Suara bass berat  itu mengalir ketelinga Kai dengan cepat. Siapa yang tak tahu guru Song. Guru killer kedua setelah guru Kim

“jwesonghamnida” Kai membungkuk rendah

“kembali kekelasmu” perintah guru Song galak

Kai langsung berlari pergi tanpa mendapatkan hasil apa-apa dari kelas Yoona. Dan sialnya guru Nam sudah memasuki kelasnya yang membuat Kai memasuki ruang UKS dengan alasan bermasalah dengan perutnya.

“kemana 2 jam terakhir tadi?” tanya Sehun

“UKS” singkat Kai

“apa yang terjadi denganmu?” Sehun tahu ada yang salah dengan sahabatnya ini

“engg—kau tahu sesuatu?—tak jadi” jawab Kai

“ya! Waeyo? Cepat katakan, bodoh!” seru Sehun

“kau akan mengejekku nanti”

Sehun tersenyum kecil, “aku usahakan tak akan menertawakanmu” janjinya

bullshit” decih Kai

“ayolah, tak ada Tao disini” Kai menatap Sehun menimbang. Sehun sebenarnya memang sangat bisa dipercaya daripada Tao yang benar-benar tak bisa menjaga rahasia karena kejujuran dialam bawah sadarnya yang kelewat batas

“Yoona—kau tak merasa sesuatu dengan gadis itu?”

“memangnya ada apa dengannya?” tanya Sehun balik

“ingat gadis beatbox yang mencuri setengah penghasilanku selama 3 hari dan tersenyum remehmerendahkan sembari menatapku?” Sehun mengangguk pelan

“aku merasa dia adalah wanita beatbox itu”

Tawa Sehun langsung meledak, dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Kai ditambah wajah Kai benar-benar membuatnya tak bisa menahan tawanya. Kai langsung kesal pada Sehun. Sehun mengingkari janji yang di ucapkan oleh mulutnya sendiri

“aigo. Kai, maaf… maaf… bukan aku meremehkanmu atau menertawakanmu—”

“aku tak sedang bercanda, Hun. Dan aku sangat mengenal pancaran matanya” potong Kai serius

“oke, begini. Aku juga berpikiran sama ketika aku menatap mata gadis itu”

“kita berpikiran sama?!” seru Kai

“tapi aku tak yakin kebenarannya. Setiap kali aku ingin bertanya dia selalu menghindar” jawab Sehun

“tadi aku juga akan menanyakan padanya tetapi guru Song datang dan membuatku harus mengurungkan niatku kembali” kata Kai, “jika memang iya maka aku akan membuat perhitungan padanya” seringai Kai.

Malamnya Kai bersiap berangkat bekerja. Sehun mengatakan bahwa dia sudah berada disana karena menemani Tao yang sedang mengincar Tiffany, bartender eyesmile itu. Tiffany memang menjadi gaya tarik di klub itu memang dan bosnya tidak pernah membiarkan seorang pun menyentuh Tiffany karena bosnya pikir Tiffany itu adalah asset yang paling berharga.

Ketika ia sampai di klub, dia mendengar suara music yang berbeda. Apa ada DJ baru? Kai langsung bergegas tanpa harus permisi pada bodyguard yang menjaga klub malam itu. Sesampainya didalam, Kai menatap tak percaya pada wanita yang tengah menggantikan pekerjaannya itu—wanita beatbox—yang dicari oleh Kai. Kai hendak mendekatinya tetapi penjaga bae itu menariknya dan membawanya kedepan bosnya

“biarkan dia memainkannya” bosnya berkata tenang

“tapii itu pekerjaanku bos” Kai benar-benar tak terima

“tak setiap hari, Kai. Tunggulah hingga tiga hari lagi maka alat-alat disana kembali menjadi milikmu seutuhnya”

“kenapa tak sekarang?”

“karena ini waktu untuk gadis itu”

“bos—”

“aku tak ingin mendengar kabar miring tentang kau dan gadis itu, okay? Sekarang nikmatilah klub ini bersama teman-temanmu” potong bosnya tersenyum kecil

“ah… Kai” kaki Kai yang hendak melenggang pergi mendadak terhenti, “jangan lupa nikmati wine” tambahnya

“kau ingin membunuh sekolahku?” sinis Kai yang hanya mendapat tawaan kecil.

Kai berjalan cepat kearah Sehun yang sedang menemani Tao yang tengah asyik dengan Tiffany. Sehun sendiri terlihat tak tertarik mengikuti percakapan itu, dia hanya menatap gadis DJ diatas panggung. Sehun cukup salut sebenarnya, karena gadis itu tak menggunakan pakaian yang mengekspos liuk bentuk tubuhnya. Gadis itu justru memakai pakaian santai dengan sebuah kemeja berwarna hitam kotak-kotak

“kehilangan job, lagi?”

“diamlah. Don’t make a joke with me” sembur Kai

Sehun tersenyum kecil, “lihatlah khas gadis itu. Menarik bukan?”

“aku tak tertarik” tolak Kai

“dia lebih bagus darimu”

“geez! Kenapa kau sangat menyebalkan, Hun? Gara-gara kau tak mempunyai kekasih, heh?” dengus Kai

“don’t be mad, boy. Just kidding” Sehun membentuk tanda peace pada kedua jari tangannya dan tersenyum konyol

“aku ingin menarik topeng gadis itu”

“jangan gila!”

“aku bisa melakukannya sekarang”

“Kai, jangan main-main” sergah Sehun

“bos tak akan memaafkanmu jika kau melakukannya” sahut Tiffany yang ternyata mendengar perbincangan Kai dan Sehun, “dia seperti jewelry di klub ini. Kau 3 hari tak datang dan dia yang menggantikannya. Keuntungannya, ketika dia melakukan beatbox dan menjadi DJ banyak orang yang datang kemari untuk melihatnya. Bisa dikatakan seperti Sehun tadi”

“tapi tenang saja, Kai. Tunggu saja hingga 3 hari, bos bukan seseorang yang mengingkari janji” imbuh Tiffany tersenyum

Kai memincingkan matanya menatap gadis yang tengah asyik dengan pekerjaan yang seharusnya menjadi milik Kai. Tapi lambat laun Kai menikmati musiknya, terasa membius seluruh tubuhnya. Kai terus terdiam tak mengalihkan pandangannya sedikitpun, ekor matanya terus menyeruak penasaran

“jika kau menatapnya seperti itu kau akan terbius olehnya” Kai mendengus mendengar teguran Tiffany.

Yoona pov

“Yoona-ya”

“oppa!” seruku

Aku langsung berlari memeluknya. Sudah lama dia tak datang kemari dan tentu saja aku sangat merindukannya

“maaf, aku baru menemuimu”

Aku mengangguk sebagai jawaban, setidaknya aku sudah tak sendirian lagi.

Aku berangkat seperti biasa, tanpa Yuri. Wanita itu pasti lebih memilih berangkat dengan mobil mewah milik Sooyoung. Bukan aku juga ingin tetapi menaiki bus jauh lebih menyenangkan menurutku dan juga mengurangi polusi

Buugg

“ahh… pelanlah” runtukku ketika seseorang duduk dengan amat sangat keras disebelahku

“maaf, aku buru-buru” jawabnya

Aku memincingkan mataku menatap lelaki disampingku. Bukankah dia Kai?

“kau—Yoona?”

Skak

Aku langsung menolehkan wajahku menghadap keluar. Berusaha mati-matian agar lelaki ini tak mengatakan apapun padaku. Aku tahu dia sedang menata posisinya untuk menatapku. Oh Tuhan….

“kau bisa—menyukai music?”

Aku tak meresponnya

“Yoona?”

Aku tetap tak meresponnya

“apa kau tak diajari sopan santun untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh orang lain?” aku mendengarnya mendengus kecil. Masa bodoh

“kita tak sedekat itu” acuhku

“tapi kita satu sekolah” jawabnya

“itu tak merubah apapun”

“setidaknya kita berseragam sama”

“tapi kita tak mengenal satu sama lain”

“kau tahu namaku dan aku tahu namamu”

“argh!” jeritku pelan

Dia tersenyum kecil menatapku, “jadi—kau menyukai music?”

“ne” jawabku malas

“music seperti apa?”.

Kai pov

“waeyo?” tanyanya

Sial. Aku tak memperhitungkan alasan aku menanyakan hal ini. Dia terus memincingkan matanya menatapku

“er—hanya ingin tahu, mungkin saja—selera kita sama” jawabku asal

jazz, aku menyukainya. Do you?”

Kakiku melemas. Jazz? Dia tak bohong kan? Sangat jarang aku menemukan wanita yang menyukai music jazz. Kebanyakan dari mereka lebih menyukai music pop dengan dance kuat, seperti EXO yang sedang tenar-tenarnya saat ini atau jika tidak yang music pop dengan gaya cute, seperti Lovelyz

“jazz?” tanyaku tak percaya

“aku orang berkelas” sahutnya

“yang lain?” tanyaku sekali lagi

“ehm—pop dan slow rock yang lain aku tak suka” jawabnya enteng

“kau termasuk penyuk—“

“tidak” sanggahnya, “Aku tahu kau sedang membahas tentang boy grup EXO yang sedang naik daun itu”

Aku mengangguk-angguk mengerti dan memutar lagi otakku. Berusaha menggali sesuatu yang mungkin saja disembunyikan olehnya tapi sorot matanya terlihat sangat tenang, seperti air mengalir di sungai tanpa ada riak. Apa aku salah orang? Tidak! Aku yakin pada keyakinanku. Aku bisa mengenal seseorang hanya dari tatapan matanya tapi dia benar-benar meragukan!! Dia terlalu tenang dan santai!

“music hip hop atau sejenisnya?” tanyaku terus berusaha mengkorek informasi darinya

“kau mirip petugas sensus. Minggir, aku sudah sampai ditujuanku”

Dia mendorong kakiku agar aku membuka jalan untuknya. Apa dugaanku salah tentang gadis beatbox itu? Tidak, matanya benar-benar mirip dengan Yoona bahkan aku bisa merasakannya. Meskipun aku tahu Yoona kembar dengan Yuri ketika aku menatap mata Yuri tak seperti aku menatap mata Yoona. Benar menurut perkataan teman-teman si kembar cermin. Semua berbanding terbalik

“hey, nak! Kau tak turun?”

“m—mwo? Aigo, jwesonghamnida” aku membungkukkan badanku berulang kali dan hanya mendapatkan tatapan seolah ‘kau membuang waktu kami’

Aku langsung bergegas turun dan tepat Tao menghampiriku bersama Sehun yang tampak sibuk dengan ponselnya. Lelaki ini memang benar-benar addicted dengan game terutama Get Rich

“apa yang sedang kau mainkan?” tanyaku

COC, sedang tenar sekarang ini” jawabnya tanpa beralih

“bisa kau sepulang sekolah kerumahku?”

Dia mematikan ponselnya, memasukkannya kedalam sakunya dengan gaya bak seorang model miliknya yang kadang membuatku hampir ingin muntah. Aku sungguh-sungguh mengatakannya

“untuk?”

“menggambar tembokku” jawabku, “dan kali ini aku akan membayarmu” imbuhku

Sehun tersenyum kecil dan mengangguk. Aku sering menyuruhnya menggambar ditembok rumahku tetapi dengan tariff gratis dan kali ini aku benar-benar ingin dia menggambar sesuatu yang menurutku cukup menarik perhatianku.

“hanya ini?!” Sehun hampir berteriak di telingaku

“lalu?” cengoku

“sejak kapan jiwa kesenian dalam dirimu menurun menjadi rendah seperti ini Kai?” Sehun menganga tak percaya menatapku

“berisik. Kau mau melakukannya atau tidak? Aku bisa—”

“jelas mau tapi sejak kap—”

“kau seperti nenek-nenek bawel” potongku meninggalkannya, berniat membawa beberapa makanan dan minuman untuknya.

Aku menyuruhnya untuk menggambar sebagian kecil dari tembok kamarku yang sudah aku cat ulang dengan warna putih. Sebelumnya gambar seorang DJ tengah sibuk dengan peralatannya tapi aku bosan dengan gambar itu jadi aku berkeinginan mengubahnya dengan gambar yang tak sengaja aku dapatkan dari ponselku. Aku bukan memiliki bakat menjadi fotografer tetapi menurutku ini adalah gambar yang paling baik

Aku hanya memberikan Sehun seperempat dari gambar itu agar dia tak tahu maksud dari gambarku.

Tak butuh lama untuk ukuran Sehun menggambarnya, dia termasuk satu dari yang tercepat—aku akui itu

“mana bayaranku?” tangannya mengadah

“aku transfer” singkatku

“kau tak ingin menawariku makan?” tanyanya

Aigoo bocah ini memang benar-benar, “tidak, cepat pulang dan aku bisa tidur tenang” usirku.

Author pov

Yuri menggunakan jaket beserta kacamatanya. Tadi sepulang sekolah dia baru bertengkar hebat dengan kakak tertuanya, Yunho yang selalu membela kembarannya. Jessica juga berada disana dan wanita itu tentu memihak Yuri. Mereka berempat tak pernah akur terutama Yunho dan Jessica, Yoona dengan Yuri, padahal sudah jelas mereka saudara kembar

“kau mau kemana?” suara tajam itu menghentikan gerakan Yuri

“clubbing” entengnya

“bisa kau ulangi?” Yunho menyipitkan matanya

clubbing” ulang Yuri penuh penekanan

“Ya Tuhan! Kau baru 18 tahun, Im Yuri!”

Dia memuakkan

“setidaknya aku bukan 16 tahun” Yuri tersenyum mengejek

Yuri bergegas pergi tetapi tangannya tertahan oleh sosok kakaknya yang menggenggam tangannya erat

“masuk”

“shireo” tolak Yuri

“aku bilang masuk kekamarmu!”

“aku bilang tak mau!”

“Im Yuri, jangan macam-macam dengan perkataanku!” ancam Yunho dengan penuh kesabarannya

“dan oppa tak bisa macam-macam dengan perkataanku. Kenapa oppa tak mengurusi adik tercinta oppa? Im Yoona yang tersayang lagipula aku muak satu atap dengan oppa!” sekali hentakan, genggaman tangan Yunho terlepas

Dia tak bisa melakukan apa-apa lagi, perkataan adiknya menjadi sebuah pedang yang menusuknya. Dia menyayangi Yuri sama seperti dia menyayangi Yoona tapi Yuri berpikiran lain tentang hal itu

Ya Tuhan.

Sehun memandang kertas dengan tulisan nomer handphone seseorang disana. Berulang kali ia mengetik nomer ponsel itu tapi dengan hasil akhir dia menghapusnya karena dia tak yakin dengan apa yang dia lakukan

Aku kan hanya bertanya kenapa harus seperti ini?

Bodoh, dia pasti akan mengejekku

Sehun kembali menimang-nimang. Hari ini Kai tak datang ke klub jadi dia tak perlu datang ke klub untuk menemani Kai. Jujur saja Sehun tak suka jika harus menemani Tao karena nantinya Tao akan lebih menyibukkan diri dengan Tiffany

“ini aku Sehun”

“ah… waeyo?” suara wanita dari sebrang itu menjawab lembut

“aku hanya ingin meminta sesuatu, bolehkan?”.

to be continued

hey…hey…. sori kalau chapter 1 nya kelamaan. aku harus bolak balik revisi dulu, karena waktu mau post aku baca lagi sekilas ffnya kok aneh jadi aku cancel dan aku pending sampe mood ngerubah. ini ff emang belum perfect tapi aku akan tetep berusaha jadi aku minta saran dan kritikan dari kalian apa yang kurang dan apa yang kelebihan. gini2 aku juga masih butuh bimbingan lebih lanjut dari pembaca.

aku suka banget sama musik #EDM. ajep2 gitu dan buat pikiran fresh😀 aku tiap hari juga muter musik2 EDM kaya punya Zeed sama David Guetta, mereka keren abis bis biss😀 trus pas SNSD ngeluarin single CMIYC aku ngerasa excited banget. EDM kan musiknya ngebeat banget dan itu nyentuh banget menurutku😀 apalagi GG. huwaaa rasanya kek terbang ke langit tuju *apaan thor._.*

lah thor kok curhat? berisik deh😀

terus buat pertanyaan2 di teaser yang aku post. liat aja yaa pairingnya sama siapa😀 dan juga aku ketawa waktu ada yang komen “kalau YoonKai, Sehunnya jangan dipasangin sama Yuri ya thor” . bwhahaha… tenang aja kok, Sehunnya nggak akan sama Yuri tapi bakalan sama author. ntar mau author ajak kawin lari *timpuk sendal* *ngacir*

oh… iye… musik EDM kadang juga ngebantu aku dapet wangsit buat bikin ff. contohnya aja kayak ini ff😀 saran aja sih ini dan mungkin bisa juga jadi bantuan buat kalian. tapi itu sih terserah selera masing2. pasti ada yang suka dan ada yang nggak suka sama musik tipe2 kayak gini😀

thor panjang amat? udah kelar belom?

iye2 sori… #bahak . see you aja yeth. tetep semangat buat kalian semua aje dan mohon bimbingannya dari saya😀

See You :*

cup….cup…muah…muaah *tebar cium dari Om Sooman #korbansalahgaul*

55 thoughts on “Who Are You? – 1

  1. Hi aku reader baru.. kebetulan cerita nya menarik aku banget tapi kesel juga gara2 keluarga Im gak pernah akur but.. overall bagus!! aku akan usahain koment terus agar gak jadi silent reader.

  2. hai aku new reader disini hehe
    karena aku gamau diaanggap silent reader jd aku bakal ngasih komentar di ff yg udh di post
    maaf krn baru koment

  3. Masih blum ktebak gmana perasaan sehun ke yoona apakah cinta segitiga antara sehun yoona dan kai atau ntar chanyeol dateng ?

  4. Entah waktu ini dipost aku kelewatan atau gimana jadi baru baca sekarang
    Aku suka sih sama ff nya
    Ini Yoona jadi anak yang kuper gitu kan?
    Ini pairingnya yoonkai atau yoonhun?
    Kalo liat chapt 1 nya sih kayaknya yoonkai
    Izin baca next chapt thor

  5. Ff nya seru
    Baru nemu alur cerita ff yoona kaya gini, bikin penasaran isinya, salah satunya siapa wanita beatbox itu dan knp yuri sm yoona ga akur?

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s