(Freelance) In Your Eyes (Chapter 10)

in-your-eyes-new-poster

IN YOUR EYES
(Chapter 10)

Author: PinkyPark & Potterviskey || Cast: SNSD’s Yoona, EXO’s Chanyeol & Jongin, Jung Sooyeon & OC || Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama || Length: Chaptered || Rating: G || Note: Already posted at EXOShiDae Fanfiction and our personal blog || Disclaimer: We own this fic’s plot and idea only. Cast belongs to God. So please respect with your comment. Don’t copy-paste or plagiarism! Thanks, enjoy reading guys🙂

.

Kelak, akan ada saatnya kau akan jatuh cinta, patah hati, lalu mencintainya kembali; dia, satu orang yang sama.

.

“Kau mau teh?” Minhwa bertanya sesaat setelah Youngran duduk di ujung ranjangnya, dia menutup pintu kamarnya, kemudian terdiam untuk menunggu jawaban dari Youngran.

Youngran menjawab pelan, “Tidak usah, aku tidak akan lama.”

Minhwa mengangguk lalu berjalan mendekat bermaksud menjatuhkan dirinya di samping Youngran sebelum akhirnya berteriak girang ketika Youngran menyerahkan CD kesayangannya di depan mata. “Whoa, aku hampir lupa dengan CD-nya.” Katanya dengan mata berbinar lantas berbalik menuju rak putih di dekat pintu—menempatkan CD nya bersama yang lain kemudian berlari kecil kembali mendekati Youngran. “Terima kasih ya,”

Youngran hanya mengangguk saja ketika tahu-tahu Minhwa sudah duduk bersila di sampingnya.“Jadi ada apa?”

“Kakakmu ada?”

“Dia di kamarnya, belakangan ini dia tidak keluar kamar.” Jawab Minhwa, “Terakhir kali ChanyeolOppa bertengkar dengan Appa,aku tahu Oppa sangat menghormati Appa, tapi kemarin semuanya menjadi berbeda.”

Youngran berjengit, gadis itu tak bisa untuk tak menunjukkan keterkejutannya. “Bertengkar bagaimana?”

Minhwa mengendikkan bahunya seraya menarik napas dalam, seakan-akan tidak ingin mengingat kejadian kala itu. “Oppa menolak perjodohan dan Appa sangat marah. Sejak kecil kami sangat segan kepada Appa, tapi baru kemarin aku melihat Oppa seberani itu.”

“Lalu bagaimana?” Youngran bertanya lagi. Minhwa menoleh sebentar, kemudian terdiam sejenak.“Tidak ada yang terjadi, Appa tetap pada keputusannya.” Jawab Minhwa. “Tapi aku jadi khawatir, sepertinya Appa sudah mencari tahu tentang Yoona Eonni,” tambahnya.

Youngran terperanjat kali ini, dia bertanya. “Lalu akan bagaimana jika sudah seperti itu?”

Minhwa sedikit ragu, “Aku takut, meskipun dia adalah Ayahku—tapi aku tahu Appa bukan orang yang ramah.” Kali ini terdengar ketakutan di suara Minhwa, dia menggigit bibirnya.Youngran membuka mulutnya karena terkejut, dia mengerjapkan matanya berulang kali, menatap Minhwa yang kini juga menatapnya dengan sedikit gugup.

“A—apa Yoona Eonni akan dalam bahaya?” Tanya Youngran berbisik, Minhwa menggigit bibirnya kemudian tertunduk.

“Aku tidak tahu, tapi aku takut.”

Kemudian keduanya terdiam, Youngran tampak berpikir keras dan Minhwa tidak melakukan apapun selain menarik napas panjang dan membuangnya dengan keras. Sepuluh menit berlalu dan pintu terbuka, Park Chanyeol disana—hanya menggunakan T-shirt putih dan celana jeans. “Minhwa, kau melihat—oh, Youngran? Kau ada disini?”Chanyeol melempar tanya—sedikit terkejut, dia berjalan pelan kemudian duduk di atas sofa, menghadap kedua gadis itu.

“Lama tidak bertemu, Chanyeol Oppa.” Youngran menundukkan kepalanya—memberi salam, “Sebenarnya, ada yang ingin aku katakan padamu, Oppa.” Tuturnya, tanpa sadar mulai mengabaikan Minhwa dan hanya memberikan fokusnya pada lelaki di hadapan mereka.

Chanyeol mengangguk, “Katakanlah.”

“Tanggal 18 nanti adalah hari kematian Ahjumma—maksudku ibu Yoona Eonni,” ujarnya pelan, “Jika kau kesulitan untuk menemuinya, mungkin nanti kau bisa bertemu dengannya disana. Yoona Eonni pasti akan datang kesana. Aku tahu harus ada yang dibicarakan diantara kalian.”

“Benarkah?”

Youngran mengangguk pelan, sadar pikirannya saat ini bukan tentang hal itu lagi—tapi tentang fakta bahwa ayah Park Chanyeol mungkin sudah membayar orang untuk mencari tahu segala hal tentang Yoona. Memikirkan itu, membuatnya merinding seketika.

“Youngran-aa? Kau baik-baik saja?” Minhwa menyentuh bahu Youngran saat melihat ekspresi Youngran yang linglung. Gadis berambut sebahu itu mengerjap, menatap Minhwa dan Chanyeol bergantian. Tatapannya masih bingung.

“A—aku, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.”

“Apa itu?” Tanya Chanyeol—sedikit penasaran dengan apa yang ada di pikiran Youngran.

Youngran mengepalkan kedua tangannya, dengan perlahan menatap Chanyeol dengan tatapan menilai. “Oppa, kau akan menjaga Yoona Eonni bukan?”

Seperti dentuman jarum jam, seperti angin yang berhembus, seperti gerimis yang mulai turun, Park Chanyeol mengangguk begitu saja—sangat yakin dengan jawabannya. “Tentu.”

Jawaban itu belum menghilangkan ketakutan Youngran, jadi gadis itu menatap Chanyeol lebih dalam. “Kau akan melakukan apapun untuk melindunginya bukan? Bahkan jika itu akan menyakitimu, kau akan melindunginya bukan?”

“Kim Youngran, kau ini kenapa?” suara Minhwa terdengar setelahnya, tapi Youngran tidak berhenti.

“Aku tidak ingin Yoona Eonni terluka, jadi kau bisa memastikan bahwa kau akan melindunginya bukan?”

Ada jeda setelah itu, tidak ada yang bersuara. Minhwa beralih ikut-ikutan menunggu jawaban kakaknya, dan Chanyeol masih menatap Youngran seperti sebelumnya.

“Aku akan melakukannya, bahkan jika aku harus terluka.”

.

Park Minhwa sudah bosan berdiam diri di kamar, jadi kali ini dia duduk di ruang tengah. Ditemani oleh televisi yang menyala juga beberapa camilan di meja. Gadis itu menopang dagunya dengan tangan kiri sambil bersandar ke sofa, menatap televisi di depannya atau sesekali melirik beberapa orang dengan jas dan dasi yang beberapa kali keluar masuk ruangan ayahnya.

Ibunya ada di rumah hari ini, setidaknya ini pertama kalinya Minhwa melihat wajah ibunya lagi setelah satu minggu. Belakangan ibunya sibuk dengan cabang butik di Jeju. Ibunya adalah wanita yang baik, rambutnya dicat kecoklatan, parasnya manis dan anggun. Jika saja ibunya tidak memikirkan bisnis dan diam di rumah saja, tentu dia adalah ibu yang sempurna.

“Kau lapar?” Tanya sang Ibu sambil mendudukkan dirinya di samping Minhwa, yang ditanya hanya menggeleng dengan wajah bosannya. “Kau mau kubuatkan teh?”

“Tidak usah.”

Ibu menatap Minhwa dengan sabar, tahu betul dengan karakter anaknya yang keras kepala. Dia kemudian memutar otaknya, memikirkan hal lain yang mungkin bisa menjadi jembatan antara dirinya dengan gadis cantik itu.

“Park Minhwa—” ujar Ibu dengan secarik senyum kecil di wajahnya, Minhwa menolehkan wajahnya—menatap ibunya dari samping. “Kau sangat mirip denganku dulu, kau keras kepala, menyebalkan, dan cengeng.”

Kali ini Ibu menatap Minhwa, gadis itu diam sejenak. “Apa Eomma sedang mengejekku?”

“Apa terdengar seperti itu?”

“Tidak, Eomma benar. Aku memang keras kepala dan menyebalkan.”

“Tapi kau juga cantik, matamu berkilau dan senyummu indah,” kali ini Ibu mengatakannya dengan senyuman lebar, “Kau bahkan jauh lebih cantik dari aku dulu.”

Minhwa tidak bisa menyembunyikan senyumannya, dia mengulum senyum. “Benarkah?”

Ibunya mengangguk, Minhwa tersenyum semakin lebar dan memeluk ibunya. Menyadari bahwa seperti apapun wanita itu tetap ibunya, dan tidak ada Ibu lain yang Minhwa inginkan selain dia. Minhwa tidak peduli dengan rutukannya selama seminggu ini—bahwa dia akan marah kepada Ibunya dan tidak akan bersikap baik kepada Ibunya jika Ibunya pulang nanti karena sudah sangat sibuk seminggu ini. Gadis itu memeluknya, merasa bersyukur masih bisa melakukan itu. Memang tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk menyayangi seseorang, tapi jika bukan sekarang—kapan lagi?

Eomma aku merindukanmu,” gumam Minhwa, “Sebenarnya aku kesal karena kau sangat sibuk belakangan ini. Aku sempat berpikir tidak bisakah kau menjadi seorang ibu yang normal saja.”

Ibunya mengelus kepala Minhwa dengan sayang, dia tersenyum. “Aku tahu, maafkan aku.”

Suara ribut dari arah tangga mengalihkan perhatian Ibu dan Minhwa, mereka baru saja melihat Chanyeol menuruni tangga dan berlalu pergi.

“Kau tahu dia akan kemana?” Tanya Ibu sambil menatap Minhwa.

“Dia akan bertemu Yoona Eonni hari ini,” Minhwa mengatakannya begitu saja, kemudian menyesal di detik selanjutnya. Dia tersenyum aneh, “Maksudku dia ada janji dengan Baekhyun Oppa—”

“Yoona itu—dia seperti apa?”

Minhwa menggeleng, “Aaa Eomma, bukankah sudah kubilang Oppa akan bertemu Baekhyun Oppa. Dia tidak akan menemui Yoona Eonni,” Minhwa mengelak dengan sangat mencurigakan, Ibu hanya memicingkan matanya kemudian mencubit lengan Minhwa.

“Ceritakan padaku! Aku Ibunya, beraninya kau tidak membiarkan aku tahu siapa yang sudah membuat anakku jatuh cinta?”

Eomma tapi—”

“Ceritakan semuanya, dari awal.”

.

Park Chanyeol baru saja tiba di kolumbarium. Setelah beberapa saat berputar-putar mencari, akhirnya dia menemukan satu milik Ibu Yoona yang bernomor 242—serupa dengan apa yang tertulis di secarik kertas di tangannya, pemberian Youngran beberapa hari yang lalu.

Chanyeol menoleh ke sekitar, siapa tahu akan melihat Yoona di suatu tempat. Namun nihil, tak ada gadis itu dimana-mana dan juga tak ada tanda-tanda seseorang datang—dilihat dari tidak adanya ikatan bunga di loker bernomor 242 itu.

Chanyeol menarik napas panjang kemudian membungkuk dalam, meletakkan seikat bunga lili putih yang dibawanya disana. Chanyeol memperhatikan satu-satunya figura foto seorang wanita, dalam sekejap mengerti dari mana Yoona memiliki paras secantik itu.

Lelaki dengan jaket hitam itu tersenyum, “Annyeong haseyo Eommo—nim. Namaku Park Chanyeol,” Chanyeol berkata pelan, mengambil jeda sejenak kemudian melanjutkan. “Maaf karena aku baru datang sekarang, maaf karena aku datang agak terlambat. Padahal beberapa bulan ini aku mengenal Yoona.”

Eommo—nim, aku ingin berterimakasih kepadamu—aku berterimakasih karena kau sudah melahirkannya. Kau sudah membuatnya tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik, aku benar-benar berterimakasih. Aku sangat berterimakasih karena kau telah melahirkan gadis baik yang kini membuatku jatuh cinta. Aku tidak tahu harus dengan apa aku berterimakasih kepadamu.”

Mungkin, dengan membuatnya bahagia.

Park Chanyeol menarik napas dalam, “Aku minta maaf, jika sudah membuat anakmu menangis aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu apakah aku pantas mengatakan ini, tapi aku benar-benar menyangi anakmu, bukan hanya perkataan dari seorang anak SMA, tapi aku benar-benar mencintainya. Aku sudah memikirkan rencana ke depannya, aku akan melanjutkan ke perguruan tinggi dan melanjutkan bisnis Ayah—kemudian aku akan menikahi Yoona dan aku akan menjaganya—juga menjaga anak-anak kami kelak.” Kali ini Chanyeol tersenyum malu—pipinya bersemu tanpa dia sadari. Chanyeol menatap foto ibu Yoona sekali lagi. “Aku benar-benar malu untuk mengatakan ini, tapi bisakah kau merestui kami?”

Terhitung sudah sepuluh menit Chanyeol terdiam. Dia mengakhiri kebisuannya dengan seulas senyum, kemudian memberi hormat, “Aku akan kemari lagi suatu hari nanti, jadi aku harap Eommonim tidak akan bosan melihatku nantinya.” Chanyeol terkekeh kecil, hanya sebentar lalu berbalik untuk pergi. Mungkin Yoona tidak datang, tuturnya dalam hati.

Setelah Chanyeol pergi, langkah kaki yang lain mendekat dan berdiri tepat dimana Chanyeol berdiri sebelumnya. Yoona disana, dia menangis, menggengam sebuket bunga dan meletakannya di samping bunga yang Chanyeol taruh. Gadis itu terus menangis.

“Bagaimana Eomma? Kau menyukainya? Dia pria yang baik bukan?” Yoona bersuara di tengah isakkannya, gadis itu tidak menghapus buliran yang jatuh di pipinya pun mengedipkan matanya untuk menjatuhkan buliran lain yang menggenang di pelupuk matanya. Yoona terisak, menatap foto ibunya sambil terus menangis.

Eomma, aku mencintainya.”

.

Jongin sedang berbaring di lantai, sibuk dengan permen karetnya juga tayangan televisi di hadapannya. Lelaki itu beberapa kali membuat balon, kemudian memecahkannya, membuatnya lagi, dan terus seperti itu.

Jongin membuat balon satu kali lagi, cukup besar namun dalam sekejap pecah begitu saja saat Youngran memecahkannya dengan jarinya. Gadis itu duduk begitu saja seperti tidak terjadi apa-apa. Jongin bangun dari posisinya, tidak habis pikir dengan tingkah adiknya yang kembali menyebalkan.

“Bagaimana bisa aku memiliki darah yang sama dengan gadis ini?” Jongin menggerutu, yang dimaksud tidak peduli, hanya terus memainkan ponselnya seolah tidak ingin tahu.

“Dia adikmu, dia menyebalkan karena kau juga menyebalkan,” sang Ibu menjawab sembari mengacungkan bolpoinnya kepada Jongin. Jongin tertawa tak percaya, sedangkan adiknya itu tengah tersenyum puas sembari masih saja memainkan ponselnya.

“Apa ibu yakin tidak memungutnya di pasar?”

Kali ini Youngran menoleh, mendelik kepada Jongin dan mengumpat pelan.

Jongin menjauhkan badannya sedikit, “Apa kau baru saja mengumpat padaku? Eomma, lihat dia mengumpat padaku tadi!”

“Aku tidak melakukan apapun, semua orang tahu dari tadi hanya kau yang terus mengoceh seperti orang bodoh,” Youngran berkilah.

Eomma kau tidak mendengarnya?”

Kali ini Ibunya itu sudah kehabisan kesabaran, dia menutup bukunya kemudian menatap Jongin kesal. “Aku tidak mendengarnya! Jadi kau diam saja dan jangan berisik! Kenapa akhir-akhir ini kau bersikap seperti anak kecil? Kepalaku benar-benar pusing karenamu.” Omel Ibu sembari berlalu ke kamarnya, Jongin tercengang karena sekarang dirinyalah yang dianggap bersalah, setelah semua yang adiknya lakukan.

Youngran menahan tawa, “Wah wah, sejak cintamu ditolak kau jadi begitu mengkhawatirkan ya,” gadis itu menggelengkan kepalanya berulang kali “Kasihan sekali.” tanpa menunggu Jongin membalas, Youngransegera bangkit dari duduknya lalu melenggang ke dapur, membuat Jongin lagi-lagi tertegun dengan sikapnya.

“Apa katamu? Kau ini adikku atau bukan?” Jongin berteriak frustasi, mengacak rambutnya yang hitam dengan kesal.

Decitan pintu membuat kedua kakak adik itu berhenti berdebat, Yoona menatap mereka berdua bergantian. Kemudian duduk di samping Jongin. “Kenapa kalian terus bertengkar? Kalian bisa membuat Ahjumma sedih, tahu?”

“Oh, kau sudah pulang?” Jongin mengusap tengkuknya yang tidak gatal—masih sedikit canggung dengan kejadian tempo hari. Setelah Yoona mengangguk, Jongin baru menatapnya. “Tunggu. Matamu sembab.” Ujar Jongin kemudian, Yoona memalingkan pandangannya.

“Tidak apa-apa. Aku hanya merindukan ibuku,” jawab Yoona.

Youngran kembali dari dapur dengan segelas es jeruk, “Eonni, kau mau?”

Yoona tersenyum manis, menatap Youngran yang kini hanya memakai celana dan jaket training berwarna biru dengan rambut yang tidak disisir—begitulah keadaannya jika hari libur. Yoona menggeleng, “Tidak, terima kasih.”

“Aku mau,” Jongin menyahut tiba-tiba, hendak mengambil gelas yang baru saja Youngran sodorkan kepada Yoona. Namun kemudian gadis itu menjauhkannya.

“Kau ambil saja sendiri, enak saja.”

Yoona menatap Youngran, “Kim Youngran.” Katanya dengan mata memincing.

Youngran mendesah, kemudian menyerahkan gelas itu kepada Jongin, “Aku kan adik. Kenapa selalu aku yang mengalah?” katanya menggerutu, setengah hati memberikan es jeruknya pada Jongin. “Ini ambillah cepat!”

“Kau ini tidak sopan sekali pada kakakmu.” Jongin berujar, meski sebenarnya dia sudah terbiasa.

“Kau juga tidak pernah berbaik hati padaku!”

Yoona memejamkan matanya saat perdebatan kembali dimulai, beruntung ponselnya bergetar dan menyelamatkannya dari medan perang itu. Yoona mengangkat telepon begitu saja kemudian berlari ke kamarnya.

“Halo?”

Suara yang tak asing, mengalir lembut di telinganya. “Ini aku, Park Chanyeol.”

.

Chanyeol sudah duduk di ayunan semenjak sepuluh menit yang lalu, sepuluh menit yang lalu juga dia menelepon Yoona dan kemudian memintanya untuk datang kesini. Yoona memang tidak mengiyakan, tapi Chanyeol tetap menunggunya.

Sepuluh menit itu berubah menjadi dua puluh menit, lalu tiga puluh, hingga enam puluh menit. Chanyeol mulai putus asa setelah berbagai kegiatan tak bermakna yang dilakukannya sejam ini. Saat dia sudah akan menyerah, sepasang sepatu itu tiba. Chanyeol mengikuti gerak matanya, menelusuri tubuh itu dari bawah hingga pada sepasang mata yang sembab disana.

“Kau datang,”

“Kau bodoh,”

Chanyeol tersenyum, memperhatikkan Yoona yang kini melewatinya untuk duduk di atas ayunan yang lain—berdampingan dengannya.

“Kenapa?”

Chanyeol menoleh, keningnya berkerut tak mengerti. “Apa?”

“Kenapa kau menungguku?”

“Karena aku ingin.”jawab Chanyeol apa adanya, sembari sedikit menggerakkan ayunannya. “Kau marah?”

Yoona menatapnya, “Apa yang membuatmu berpikir aku marah padamu?”

“Kau menjauh akhir-akhir ini.”

Yoona menatap kerikil-kerikil kecil didekat kakinya. Dia tidak menjawab untuk rentang waktu enam puluh detik, dan Chanyeol tetap diam untuk menunggu.

“Aku marah agar kau mengerti. Aku menjauh, itupun juga agar kau mengerti.”

Chanyeol terdiam sejenak, “Apa yang kau ingin aku mengerti?”

Yoona menatap Chanyeol dalam, membiarkan kedua manik mereka bersirobok. “Hatiku, dan tentu hatimu.”

.

Chanyeol mengerang saat adiknya terus menerus mengetuk pintu kamarnya. Pria itu menyerah lalu membuka pintu itu dengan kesal.

“Apa?” tanyanya galak.

Minhwa sedang memeluk boneka beruangnya yang besar telunjuknya menyentuh perut Chanyeol dan membuat pria itu mundur, lalu gadis itu masuk dan membuat Chanyeol mengerang lagi.

“Apa maumu? Ini sudah malam dan aku ingin tidur, aku lelah.” Chanyeol melewati Minhwa dan kembali ke ranjangnya. Pria itu menutup seluruh badannya dengan selimut.

“Aku ingin membuat pengakuan dosa,” Minhwa berujar pelan, masih sedikit ragu.

Chanyeol menurunkan selimutnya, “Dosa apa?”

Minhwa berjalan mendekat ke ranjang Chanyeol. “Kau janji tidak akan marah padaku?”

“Apa itu? Mengapa aku harus marah? Kau mengambil uang saku-ku lagi ya?” Chanyeol menatap Minhwa curiga.

Minhwa terbelalak. “Tidak, tidak. Bukan itu!” elaknya lantas mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Chanyeol, “Janji dulu tidak akan marah padaku.”

Chanyeol menatapnya jengah, meski begitu ia tetap menautkan jari kelingkingnya lalu menggerutu. “Baiklah, jadi apa?”

Minhwa menyembunyikan wajahnya di belakang kepala bonekanya sebelum menjawab cepat—secepat mobil di lintasan balap yang sering Chanyeol tonton. “AkumenceritakansemuahaltentangYoonaEonnikepadaEomma.”

Chanyeol menggertakkan giginya, berharap tidak terkena penyakit darah tinggi. “Apa? Kalau bicara itu pelan-pelan!”

Minhwa mendesah, matanya menatap was-was pada sang kakak seolah dihadapannya itu adalah seekor binatang buas. “Aku, aku—menceritakan semua hal tentang—“ Minhwa menggantungkan ucapannya, membuat kakaknya itu semakin tidak sabar, “Tentang apa?”

Minhwa menggigit bibirnya, “Tentang Yoona Eonni—kepada Eomma.”

“Apa? Ya! Park Minhwha—” Chanyeol bergumam tidak percaya, “Kau benar-benar mengatakannya? sekarang Eomma tahu semuanya?”

“Ya dan ya.”

Park Minhwa menghitung mundur sampai akhirnya kakaknya benar-benar meledak, gadis itu memejamkan matanya mengetahui kakaknya akan berteriak. “Oppa, kau sudah berjanji tidak akan ma—“

“Apa yang kau lakukan!”Chanyeol berteriak, Minhwa sedikit terkejut, gadis itu memeluk erat bonekanya, “Mian, Eomma memaksaku.” Jawab Minhwa takut, “Tadinya aku tidak akan mengatakannya padamu, tapi aku tidak bisa tidur dan Youngran bilang cepat atau lambat kau akan tahu. Jadi aku kesini dan berkata jujur padamu.”

“Sekarang bagaimana? Eomma sudah tahu dan aku harus bagaimana? Mengapa kau membuat semuanya menjadi semakin rumit Park Minhwa!”

Mianhae! Aku sudah bilang aku minta maaf, lagi pula ini Eomma bukanlah Appa. Dia ibumu, setidaknya dia ingin tahu tentang gadis yang membuatmu jatuh cinta. Setidaknya dia akan menggunakan perasaannya dan tahu bagaimana posisimu.” Minhwa berteriak kali ini, dia menurunkan bonekanya menatap Chanyeol dengan mata berkaca. “Kau selalu memikirkan dirimu sendiri!”

Gadis itu berlari meninggalkan kamar, Park Chanyeol merasa sedikit menyesal sudah membuat Minhwa menangis lagi. “Park Minhwa, bukan begitu maksudku.”

.

Youngran sibuk menata meja—sesekali menanggapi ocehan Jongin yang marah tentang apapun. Ibu sudah lelah, jadi tidak begitu banyak menanggapi perilaku kedua anaknya. Kali ini di meja makan ada banyak sekali makanan, Ibu bilang hari ini dia ingin makan makanan laut, jadi tadi pagi Yoona pergi ke pasar dan memasak sup makanan laut.

Hidangan sudah tertata rapi, hampir memenuhi seluruh meja makan. Tapi Yoona belum tiba—tadi dia pergi keluar untuk memberikan sup buatannya kepada Chanyeol. Ya, mereka belum lama ini mulai berbaikan.

Selang beberapa menit, pintu terbuka dan Yoona disana. Dia masuk diikuti dengan Park Minhwa yang kini terlihat manis dengan rok pendek juga kardigan abu-abu yang dipakainya. Rambutnya diikat kuda, seperti biasa—dia mengeriting bagian bawahnya sedikit.

“Halo, Ahjumma. Lama tidak bertemu,” Minhwa memberi salam pada Ibu Kim yang dibalas senyum ramah, kemudian duduk di kursi kosong berhadapan dengan Youngran.

“Kalian datang bersama?” Youngran bertanya heran, menatap Minhwa dan Yoona yang kini duduk bersebelahan bergantian.

“Tidak, tadi kami bertemu di gerbang.” Jawab Yoona seadanya.

“Bukankah Eonni baru saja menemui Chanyeol Oppa? Memangnya Minhwa tidak datang bersama Chanyeol Oppa?”

Minhwa mendesis pelan, “Aku tidak datang bersamanya, kami sedang menjadi musuh. Aku datang bersama supirku,” terangnya dengan mata yang berbinar menatap hidangan lezat di hadapannya.

Jongin diam-diam menarik napas berat, “Jadi kapan kita akan makan? Apa ada lagi yang akan datang?” katanya tidak sabar.

“Chanyeol Oppa tidak ikut makan disini?” Youngran bertanya seolah tidak peduli pada gerutuan kakaknya, matanya menatap Minhwa dan Yoona lagi bergantian.

“Tidak.”

“Kenapa?” Youngran bertanya lagi—masih penasaran, kali ini Jongin sudah melotot dan mencengkram sendoknya dengan gemas.

“Tidak saja.” Jawab Yoona mengakhiri pembicaraan.

Jongin mengulum senyum, hendak memulai acara makannya hingga suara ibunya memotong. Membuat dirinya memejamkan mata dan berusaha untuk bersabar. “Kenapa? Bukankah dia temanmu? Lain kali kau ajak dia kesini.”

Jongin menatap sendoknya gemas. “Eomma sudahlah, kapan kita akan makan?” Jongin berseru kesal. Membuat semua orang menghentikkan pembicaraan mereka dan membenarkan ucapan Jongin.

Eomma kan hanya bertanya. Dan juga, sampai kapan kau akan bersikap kekanakan seperti itu?”

Youngran menatap Ibunya, “Eomma, dia akan bersikap normal jika patah ha—“

Jongin buru-buru membungkam mulut Youngran dengan tangannya. “Kau bicara lagi, bantal Kyuhyun kesayanganmu itu kubakar ya!”

Ibu menatap mereka jengah, “Sudah sudah. Ayo kita makan.”

Jongin menarik kembali tangannya, masih beradu tatapan dengan Youngran kemudian keduanya mendelik bersamaan. Lelaki itu makan dalam diam, kadang-kadang Ibu memarahinya karena dia makan seperti orang kelaparan. Youngran dan Minhwa sesekali terkikik di tengah pembicaraan mereka atau saat mereka mengejek satu sama lain karena belum bisa memasak. Ibu hanya tersenyum, memberikkan beberapa potong ikan kepada Minhwa ataupun Youngran. Sesekali Jongin mengambil jatah makan Youngran saat gadis itu sibuk berbincang dengan Minhwa, yang kemudian keduanya beradu sendok dan berakhir dengan omelan sang Ibu.

Eonni yang memasak sup ini?” Minhwa bertanya sesaat setelah menghabiskan air di gelasnya, “Ini enak sekali!”

Yang dipuji hanya tersenyum, kadang-kadang ekor matanya memperhatikkan Jongin dan Youngran yang tidak bisa diam.

“Beruntung sekali aku tidak seperti Oppa-ku, jadi aku bisa menikmati makanan yang enak ini.” Minhwa berujar lagi dan disahut oleh Youngran. “Chanyeol Oppa kenapa?”

“Dia alergi makanan laut, jika dia memakannya sedikit saja—dia akan gemetaran dan tubuhnya akan demam,” jawab Minhwa sekenanya, gadis itu menyuap lagi makanannya. Tidak sadar dengan ekspresi Yoona yang terkejut bukan main.

“Yoona, kau kenapa?” Jongin bertanya dengan mulut yang penuh dengan makanan—membuat Ibu, Minhwa dan Youngran menatap Yoona juga.

Eonni?” Youngran membantu menyadarkan, namun Yoona masih terkejut.

Empat kepala itu tampak bingung. Sampai akhirnya Youngran teringat sesuatu. “Tunggu. Tadi kan Eonni membawa sup dan—“

Minhwa memotong, “Eonni, kau tidak memberikan sup ini kepada Chanyeol Oppa kan?”

Kemudian Youngran dan Minhwa menatap Yoona sekali lagi—sama terkejutnya.

Tangan Yoona bergetar, ia menatap Minhwa panik.

“Park Minhwa ….aku—”

.

“Ini—aku membuat sup untukmu, makanlah.”

“Benarkah? Whoa, sepertinya enak—Ini sup apa?”

“Aku menaruh udang, kerang, dan kepiting, aku sangat mahir memasak ini.”

“Be-benarkah?”

“Kau tidak mau memakannya?”

Tidak, bukan begitu. Aku—”

“Kenapa?”

“A—aku akan memakannya, tentu saja aku akan memakannya,”

Yoona memejamkan matanya lagi mengingat apa yang diucapkan Chanyeol sebelumnya, gadis itu takut—takut dengan apa yang mungkin terjadi. Park Chanyeol menghabiskan supnya tadi, dan itu tidak lain karena Yoona yang memintanya. Park Chanyeol bodoh, jika saja dia jujur dan mengatakan yang sebenarnya—mungkin Yoona tidak akan memintanya.

Bagaimanapun ini salahku, Yoona berucap dalam hati.

“Kau yakin tidak apa-apa?” Youngran bertanya untuk kesekian kalinya kepada Minhwa yang kini berjalan cepat memasuki rumahnya.

Minhwa tidak menoleh, “Bukan itu yang terpenting sekarang—”

Youngran terus meracau tidak jelas, takut orang tua Minhwa sedang di rumah, masalahnya kali ini Yoona ikut bersama mereka.

“Ini kamar Oppa—” Minhwa bergumam sambil membuka knop pintu dengan cepat. Benar saja, Park Chanyeol sedang terbaring di lantai dengan tubuh yang gemetar. Pria itu mengeluarkan banyak sekali keringat dan napasnya sangat tidak beraturan.

Minhwa berlari kemudian terduduk di samping kakaknya, “Oppa! Bangun! Kau tidak apa-apa?” gadis itu sangat panik, dia menggerak-gerakkan tubuh kakaknya yang demam, gadis itu kebingungan.

Yoona tidak kalah terkejut, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan ikut menjatuhkan diri di samping Park Chanyeol. Pria itu membuka mata sedikit, samar-samar menemukan wajah cantik Yoona yang kini menatapnya khawatir.

“Yoon—” gumamnya pelan.

Eonni—kau jaga dia dulu,” Minhwa berkata kepada Yoona sembari bangkit berdiri dengan kedua kaki yang gemetar.

Yoona menyentuh wajah Chanyeol yang berkeringat, “Chanyeol—“

Bodohnya, Chanyeol tersenyum—sebelum matanya tertutup dan wajah cantik Yoona tidak terlihat lagi.

Lalu suara Minhwa terdengar lagi, napasnya tersenggal. “Tuan Park cepatlah! Kita bawa Oppa ke rumah sakit.”

.

TBC

 

25 thoughts on “(Freelance) In Your Eyes (Chapter 10)

  1. ceritanya makin seru aka nih , yak chanyeol baik banget mau makan sup dari yoona padahal dia alergi … semoga chanyeol ga kenapa napa yaaaa

  2. Yaahh yaahh kok makin rumit sihh, ahh park chanyeol kenpa di ff ini kau begitu memukau??
    Aku suka aku suka, lanjut yaa

  3. wahh…makin seru,,semoga tidak terjadi apa” dgn chanyeol..
    gawat klo eomma dan appa chanyeol tahu,duhh…bisa tama rumit nih buat yoona eonni.
    nexttt..kajja jgn lm..

  4. Aaaaah… aku pgen ada slh stu orang tua chanyeol yg ngedukung hub yoonyeol.. mksudnya.. ibu chanyrol gtuuh dan brusaha bwt mreka bersama dan bahagia… hehe lanjyt thor.. keep fighting..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s