Numinous (p. 2)

numinous

Presented by

Two deers

 

Starring

SNSD’s YoonA x EXO’s Sehun

 

a/n: tidak ada perubahan tempat dari bagian terakhir part 1 dan bagian pertama part 2. Flashback dalam tulisan italic. 

Credit poster goes to; APAREECIUM (a.k.a. Vi!) thank you for this amazing and glorious poster! -insert smooches emojis-

also read: NUMINOUS (p.1)

///

 

Yoona merindukan ayahnya.

Yoona merindukan ayahnya yang wangi asap rokok bercampur deterjen kesukaan ibu. Yoona merindukan ayahnya yang menyukai roti panggang dengan bacon untuk sarapan, dan teh di sore hari. Yoona merindukan ayahnya yang pergi ke kantor dari pagi buta hingga larut malam, dan menghabiskan hari sabtunya dengan memperbaiki kandang anjing di halaman belakang. Yoona merindukan ayahnya yang akan membaca dongeng The Little Prince dengan versi yang berbeda setiap malamnya sebelum Yoona tertidur, dan ayahnya akan mencium keningnya dan merapikan selimutnya.

Ayah memang telah bercerai dengan ibu, tapi bukan berarti ia tidak lagi menjadi ayah yang Yoona cintai, bukan? Itulah kenapa Yoona tidak suka konsep perceraian. Saat satu pihak pergi, semua menganggap bahwa si anak akan membenci yang pergi ini. Tapi Yoona tidak. Ia tetap menyayangi ayahnya, karena menurutnya ini adalah jalan yang terbaik. Ibu Yoona bukan hanya menyakiti ayah Yoona dengan perselingkuhannya, tapi juga Yoona sendiri.

Yoona selalu membayangkan kehidupan pernikahan ayah dan ibunya ideal. Ayahnya seorang dokter ternama, ibunya memiliki firma hukum yang memiliki reputasi baik, mereka tinggal bertiga disebuah rumah dengan halaman belakang yang luas dan memelihara seekor golden retriever bernama Hero, makan di restoran setiap sabtu dan pergi ke gereja pada hari minggunya. Semuanya baik-baik saja selama 16 tahun, sampai pada malam itu.

Yoona terbangun di  tengah malam, dan berharap itu bukan hantu. Tapi hantu tidak akan bersuara seperti teriakan ibunya, kan? Jadi Yoona mengintip sedikit dari celah pintunya, dan mendapati kedua orangtuanya bertengkar. Ibu tidak pernah terlihat semarah itu, dan ayah, hanya diam menanggapi dan sesekali memanggil nama ibunya dengan lembut. Pertengkaran itu berakhir dengan ibu Yoona yang pergi, dan ayahnya yang menangis di balkon dalam diam.

Esoknya, ibu Yoona membawa gadis itu ke rumah dan sekolah barunya, dan ia resmi berstatus sebagai kids with divorced parents.

Yoona selalu menelepon ayahnya sejak saat itu, setiap kali ada peristiwa penting dalam hidupnya. Ulang tahun, naik kelas, handphone baru, teman yang menusuk dari belakang, pacar pertama, bahkan akan mengeluh tentang ibunya. Ayahnya akan menasihatinya dengan lembut, dan membuat Yoona meneteskan air matanya dan memohon ayahnya untuk kembali. Yoona biasa melakukan itu hingga ia masuk kuliah. Nomor ayahnya tetap sama, tapi beliau jarang mengangkat telepon yang membuat Yoona hanya berhadapan dengan voice mail.

Jadi saat Yoona memencet speed dial 1 di teleponnya, ia tidak terkejut saat ia diminta meninggalkan pesan suara.

“ayah? Ini Yoona. Aku baru pulang dari pameran lukisan. Ada Ibu, calon ayah tiri dan saudara tiriku. Kami melihat banyak lukisan. Tadi aku melihat satu lukisan yang sepertinya akan ayah sukai, haruskah aku membelinya?” tak ada balasan suara rendah dan lembut darisana, yang membuat gadis itu terisak.

Yoona terdiam dan menggigit bibir bawahnya. “daddy, i miss you. Aku merindukanmu. Aku ingin mendengar suara ayah. Bisa menjawab telfonku, sekali saja? Aku tidak ingin meninggalkan pesan suara lagi, aku ingin menemui ayah.”

Kali ini Yoona terisak pelan. “daddy, it’s really hard. Aku sangat lelah. Aku ingin pulang, aku—i can’t do this anymore. Aku ingin pulang, daddy. Aku tidak mau menjadi dewasa, aku tidak mau menjadi seperti ini, i still want to be daddy’s little girl. Aku benci ini, daddy.”

Air mata kini mengalir di kedua pipi gadis itu, dan isakannya semakin kencang. “daddy, i miss you. Telfon aku kembali nanti.” Yoona mematikan panggilan, berharap tangisannya tidak terlalu terdengar oleh ayahnya. Ia cepat-cepat menghapus air matanya dan kembali menenangkan dirinya.

Tiin Tiin!

Bunyi klakson mobil yang tak asing itu membuat Yoona terlonjak. Gadis itu menghela napas, dan langsung mengenali mobil hitam itu. Ia membuka pintu mobil lalu duduk di jok depan.

Pria dibalik setir itu mematikan rokoknya, “a daddy’s little girl, huh?” ejeknya.

Yoona melemparkan tatapan tajam padanya. “shut your mouth, Kim Jongin.” Ucap Yoona kesal. “bawa aku ke rumah.”

Jongin melajukan mobil itu menjauh dari tempat pameran, dan menyalakan radio. “rumah yang mana? Rumah ibumu, apartemenmu, Taeyeon, atau Sehun?” tanya Jongin. “or my house? You choose.”

“as if.” Yoona mendengus. “bawa aku ke apartemenku.”

Jongin terlihat kecewa. “kita tidak akan pergi ke Taeyeon nuna kali ini? Aww.” Keluhnya. “padahal aku merindukannya.”

Yoona memutar kedua bola matanya, dan menatap Jongin dengan kesal. “don’t you dare to hit on her. Taeyeon adalah malaikat, dan kau hanya setan kecil yang tak bisa mengontrol ‘adik kecilmu’ itu.”

Jongin tertawa lepas, lalu mengacak puncak kepala Yoona dengan satu tangannya yang bebas. “selera humor yang keren.” Pujinya. “jadi, care to tell me? Kau meneleponku jam segini sambil setengah menangis, dan kau berhutang penjelasan padaku.”

Tapi Yoona tidak menjawab, yang membuat Jongin melirik gadis itu dan menghela napas. Yoona memangku dagu dengan tangan kirinya, dan memandang keluar lewat jendela. Gadis itu tampak bungkam dan enggan bicara.

c’mon, Im Yoona , apa susah—“

“Sehun menyudahinya.”

Jongin baru ingin melontarkan candaan lain saat Yoona membuka mulutnya, dan mengucapkan 2 kata itu dengan nada pelan. Pria itu menatap Yoona heran. “menyudahi apa?” tanyanya.

Yoona menatap Jongin seolah pria itu adalah makhluk paling idiot di dunia ini. “hubungan kita, bodoh.” Balas Yoona.

Jongin masih tampak tidak percaya dan tertawa. “april fools sudah lewat.”

“ayolah, Kim Jongin.” Yoona memutar kedua bola matanya malas. “kau mau aku menjelaskannya berapa kali lagi? Sehun dan aku tidak memiliki hubungan apa-apa lagi selain kakak adik tiri. Jangan membuatku terlihat menyedihkan dengan mengulangnya berkali-kali.”

Jongin tampak menyadari nada kesal dan frustrasi pada suara gadis itu, lalu mendehem canggung. “oh.” Ucapnya. “jadi, apa dia punya pacar baru atau semacamnya?”

“Hwang Shinbi. Katanya dia di kampusmu juga, kau kenal?” tanya Yoona malas.

Setelah mendengar nama itu terucap, Jongin membelalakkan kedua bola matanya tidak percaya. “Hwang Shinbi??? You’ve got to be kidding me.” Bantahnya dengan nada kesal.

“apa kau tuli dan aku harus mengulang namanya berkali-kali?” tanggap Yoona.

Jongin mengacuhkan pernyataan kasar gadis itu, dan masih terjebak dalam kekagumannya. “damn, he sure hit the jackpot. Aku tidak menyangka ia akan benar-benar memacarinya.”

Yoona mendengus. “what’s so great about this girl?”

Jongin mengangkat satu jarinya dan menggeleng pelan. “dia tipe ideal hampir semua pria di kampus kami, kau tahu. Manis, polos, berpendidikkan, berasal dari keluarga baik-baik dengan masa lalu yang bersih, lembut dan…. no guy can resist those feminine aura. Sial, aku tidak menyangka Oh Sehun akan mendapatkannya.” Keluh Jongin.

Yoona mengernyitkan keningnya. “kau tidak tahu kalau mereka selama ini dekat?”

well,” Jongin membanting setirnya ke kanan, “dia tidak pernah bercerita lagi tentang wanita disekitarnya, dan aku juga malas bertanya.”

Yoona membalas pernyataan Jongin tadi dengan decakkan tidak puas. Sebagai salah satu sahabat Oh Sehun yang mengenalnya dan juga notabene sahabat Yoona, bukankah Kim Jongin harusnya memberikan informasi yang lebih berguna? Si bodoh ini, keluh Yoona dalam hati.

“kita mampir dulu disini.” Ucap Yoona tiba-tiba.

Jongin menekan rem, dan mengernyitkan keningnya saat menyadari tempat yang dimaksud Yoona adalah bar pinggir jalan. Pria itu menatap Yoona tidak percaya. “seriously?” tanyanya.

Yoona membuka pintu mobil dan tersenyum pada Jongin. “kita akan bersenang-senang malam ini.”

///

“aku sedang tidak mood.”

Jinah tampak tak memperdulikan pernyataan gadis itu, dan tetap menarik tangannya melewati kerumunan manusia banyak. Suasana di lantai dansa semakin memanas, apalagi saat DJ memainkan musik yang temponya lebih cepat. Bau minuman keras menyebar di udara, bercampur asap rokok dan wangi parfum menyengat para wanita. Melewati kerumunan yang sedang bergoyang itu bukan pekerjaan mudah bagi kedua gadis tersebut.

“oh, ayolah, Yoona!” gerutu Jinah setengah berteriak agar Yoona mendengar suaranya. “the bet is all on me! Ini hari ulang tahunku, ingat?”

Kalau bukan karena ulang tahun sahabat SMA-nya yang sedang liburan dari Jepang ke Seoul, pasti Yoona memilih untuk pulang. Bukannya berlagak alim, tapi ia sedang tidak ingin bermabuk-mabukkan dan pulang dengan setengah sadar atau menikmati one night stand lainnya. Kepalanya pening sejak pagi tadi, dan minum alkohol adalah pilihan yang buruk untuk menghabiskan waktu.

Jinah mengajak Yoona ke kerumunan kelompoknya, dan memperkenalkan gadis itu disana. “guys!” serunya kencang, membuat semua orang yang mengelilingi meja besar itu kini melihat ke arah mereka. “ini Im Yoona, teman SMA-ku. Yoona, these guys right here are my buddies!”

Seorang pria dengan snapback memberi gestur tangan pada Yoona untuk duduk diantaranya dan teman-temannya. Pria itu tersenyum lebar saat Yoona sudah duduk didekatnya. “Park Jinyoung. Kau bisa memanggilku Junior.” Ucapnya sambil menepuk pundak Yoona.

Yoona tersenyum tipis. “panggil aku Yoona saja.”

“baiklah, Yoona saja.” Canda Junior. “is this your first time here?”

Yoona baru saja ingin menjawab, saat Jinah menyelanya. “bullshit! Dia bukan tipe perempuan baik-baik seperti mukanya, Junior. Dulu saat di SMA, dia bisa menghabiskan 3 botol whiskey dalam waktu 1 menit! Dia boleh kelihatan alim dan polos, but she’s a bitch, actually.” Ledek Jinah lalu menjulurkan lidahnya.

Yoona mengangkat kedua alisnya dan mengangguk. “terima kasih atas penjelasan yang tidak diperlukan itu.” Sindirnya, membuat Jinah tertawa lepas dan kembali meneguk minumannya.

Junior terlihat bingung dan mengernyitkan alisnya. “jadi ini bukan yang pertama kalinya? Tapi kau terlihat sangat canggung tadi.” Tanyanya.

Yoona memangku dagu dengan tangan kanannya. “aku sedang tidak mood, sebenarnya. Jinah memaksaku kemari.”

Pria itu menggeleng dan mendecakkan lidahnya. “kau akan menyesal kalau melewatkan malam ini!” ucapnya, lalu mendekati telinga Yoona dan berbisik. “kudengar Jinah sudah menyewa male stripper untuk melakukan lap dance bagi setiap tamu wanita. Bukannya wanita menyukai hal itu?”

Yoona tertawa dan membalas kalau ia tak terlalu berminat pada hal itu, tapi kedengarannya cukup menarik. Junior kembali membalas dan mereka terlarut dalam percakapan yang ramai. Sesekali Junior akan menghisap rokoknya atau bermain dengan handphone-nya, tapi percakapan mereka tak pernah berhenti. Yoona merasa sakit di kepalanya berangsur hilang. Mungkin yang ia perlukan adalah teman bicara, pikir Yoona.

“hey, bisa bantu aku?”

Sontak, semua orang yang mengelilingi meja itu berhenti melakukan kegiatannya dan terfokus pada sumber suara. Seorang pria yang kira-kira seumuran dengan mereka, kini berdiri dengan senyum dihadapan mereka semua. Rambut peraknya membuatnya terlihat mencolok, tidak cocok dengan ekspresi wajahnya yang bisa terbilang dingin.

Seorang gadis berambut coklat panjang –Yoo Jiae-, angkat bicara, “bantu apa?” tanyanya.

Pria itu menoleh ke belakang, pada teman-temannya di meja seberang yang tertawa jahat dan mengacungkan jempol mereka. Setelah berdecak kesal pada teman-temannya, ia kembali tersenyum pada gerombolan Jinah. “tadi kami membuat taruhan, aku tidak mau kalah dan kehilangan porsche-ku selama sebulan. Bisa kalian bantu aku?”

Jiae mengangkat kedua alisnya dan menoleh pada Jinah. Kali ini giliran gadis itu yang bersuara, “itu taruhan yang berisiko. Jadi? Apa yang harus kami lakukan?” tanya Jinah, merasa tertarik.

Pria berambut perak itu tersenyum puas. “ada dari kalian yang bisa menciumku?” Gerombolan Jinah langsung heboh, dan menarik perhatian orang-orang disekitar mereka. “girls only.” Lanjut pria itu dengan senyum miring yang membuat tawa mereka makin meledak.

Jinah memasang wajah sedih. “awww. You’re hot, but i’ve got a boyfriend already.” Keluhnya.

Gadis berkuncir kuda yang sedari tadi menyimak percakapan itu –Seolhyun-, membelalakkan kedua matanya. “you’re still with him? That Takuya guy?!” tanyanya tak percaya.

Jinah mengangkat 2 jarinya. “2 years already.” Ucapnya lalu mengerlingkan sebelah matanya.

Pria berambut perak itu tampak tak sabar. “well? Apa kalian bisa membantuku?” tanyanya lagi.

Jinah menoleh ke arah teman-temannya. “anyone?” tanyanya, melirik satu persatu temannya. “ada yang bisa membantunya?”

“ada.”

Semuanya serentak melihat ke sumber suara. Junior terlihat santai walau dihujani tatapan kaget dan heran dari teman-temannya. Pria berambut perak itu terlihat kaget dan menatap Junior geli. “uhm, i said girls only.”

Junior mengangguk. “bukan aku, tapi dia.”

Dan seketika, semua pasang mata tertuju pada Yoona yang sama kagetnya dengan mereka. Yoona menyadari kalau ia-lah yang dimaksud, dan menatap Junior dengan tatapan ‘apa yang kau lakukan?!’.  Junior membalasnya dengan tersenyum lebar dan berbisik pelan, “ini hiburan untukmu.”

Jinah terlihat antusias dan meneriakkan nama Yoona, diikuti oleh seluruh teman-temannya disitu. “Im Yoona! Im Yoona!” seru mereka sambil bertepuk tangan, membuat suasana semakin memanas.

Yoona awalnya menolak mati-matian, tapi dia bukan tipe gadis yang akan membunuh kesenangan orang lain. Lagipula, akan lebih canggung kalau ia menolak dan membiarkan pria berambut perak itu mencari sasaran lainnya. Jadi Yoona bangkit, membuat sorakan dari teman-temannya bertambah kencang. Ia melewati Junior hingga Jiae yang duduk di bagian paling luar, dan sampai tepat disebelah pria berambut perak itu.

Pria berambut perak itu tersenyum puas. “namaku Oh Sehun. Terima kasih karena sudah menawarkan diri.” Ucapnya.

Yoona memutar kedua bola matanya. “okay, Oh Sehun. Aku akan membuatnya cepat.” Ucapnya. “lihat ke arah sana.”

Baru saja Yoona berjinjit untuk mengecup pipi Sehun, saat Sehun menoleh dengan cepat dan bibir pria itu malah mendarat di bibirnya.

Yoona membelalakkan kedua matanya dan terlihat kaget, tapi tangan kanan Sehun menahan lehernya dan tangan kirinya merangkul pinggang gadis itu. Sehun memejamkan matanya, dan kali ini menolehkan kepalanya ke kanan. Pria itu menggigit dan menghisapi bibir Yoona, membuat gadis itu ikut terlarut dan membalas ciumannya. Sesekali keduanya akan melepas ciuman mereka untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, lalu kembali tenggelam dalam ciuman yang didominasi oleh Sehun itu.

Gerombolan Jinah semakin riuh, saat melihat ciuman yang seharusnya di pipi itu malah menjadi ciuman bibir yang liar. Apalagi Sehun terlihat seperti a good kisser, dan memang benar adanya yang membuat Yoona terlihat takluk padanya.

Begitu Yoona melepas ciuman mereka, Jinah dan yang lainnya langsung berseru kesal, dan meminta mereka untuk melakukannya lagi. Yoona menjulurkan lidahnya ke arah Jinah, dan menggumamkan ‘enak saja’, membuat tawa gadis itu meledak.

“bisa aku pinjam tanganmu?” tanya Sehun.

Yoona tertawa pelan. “tadi bibirku, sekarang tanganku?” ejek Yoona, tapi akhirnya mengulurkan tangan kanannya pada Sehun.

Sehun menarik tangan kiri Yoona, lalu meletakkan tangan kedua gadis itu di pundaknya. Dengan gerakan cepat, pria itu merogoh saku jins Yoona, dan menarik telepon genggam gadis itu dari sana. “aku pinjam sebentar.”

Yoona menatap pria itu heran, daritadi tindakannya selalu tak disangka-sangka. Sekarang jemari-jemari pria itu menari lincah diatas layar, dan tak lama terdengar bunyi dan getaran handphone dari saku pria itu. Sehun menyerahkan kembali handphone Yoona pada gadis itu, lalu mengecek handphonenya sendiri.

Pria itu tersenyum miring. “terima kasih.”

Yoona tertawa pelan. “kurasa kau harus menjelaskannya padaku.”

Sehun membuat gestur tangan menyuruh gadis itu mendekatkan telinganya, dan Yoona menurutinya. Jinah dan yang lainnya tentu saja penasaran, apalagi setelah melihat ekspresi Yoona yang berubah kaget lalu tersenyum lebar.

Sehun tersenyum tipis dan mengangkat handphonenya. “i’ll call you tonight.” Ucapnya, lalu kembali pada kerumunan teman-temannya yang menyambutnya dengan tawa yang meledak.

Yoona menggelengkan kepalanya. “you jerk.”

Yoona kembali di tempat duduknya, disebelah Junior dan langsung dihujani pertanyaan dari mereka semua. Jinah-lah yang terlihat paling antusias dan kini berpindah tempat duduk disebelah gadis itu. Kegiatan mewawancarai Yoona tiba-tiba berhenti saat segerombolan male stripper turun langsung dari panggung menuju meja mereka. Dan segera, mereka terlarut dalam suasana erotis yang diciptakan oleh gerombolan pria topless itu.

Junior mematikan rokoknya. “jadi? Apa yang dia bisikkan tadi?” tanyanya.

Yoona menoleh lalu memukul pundak pria itu pelan. “you’re a jerk too.”

Junior hanya tertawa, lalu kembali meneguk minumannya. Ia tidak bertanya lebih lanjut dan membiarkan Seolhyun dan Yookyung yang duduk disebelah Yoona meluncurkan pertanyaan-pertanyaan mereka. Yoona hanya tersenyum dan menghiraukan keantusiasan gadis itu, dan ia kembali mengingat suara berat dan rendah tapi manis dari pria itu di telinganya.

“soal taruhan itu bohong. Junior temanku, dan ia ikut bersandiwara tadi. Sorry about the kiss, but i do think you’re hot. So, another round next week?”

Dan Yoona menghabiskan malam itu di telepon dengan Oh Sehun, pria berambut perak yang membuat gadis itu sulit tidur di malam-malam selanjutnya.

 

Batang rokok itu ia selipkan diantara bibirnya, lalu gadis itu menghisapnya dalam-dalam. Perlahan, gumpalan asap menyelusup keluar dari celah bibirnya. Gadis itu memejamkan kedua kelopak matanya. Ia terduduk diatas tempat tidurnya, dengan selimut yang menutupi lututnya. Walau jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, tampaknya Yoona enggan bangkit darisana.

“sarapan?” suara Jongin terdengar dari arah dapur.

Yoona berhenti menghisap puntung rokoknya. “ya.” Balasnya cukup kencang untuk didengar oleh Jongin.

Terdengar suara kompor dari arah dapur, dan langkah kaki Jongin yang bolak-balik menuju kulkas. Pria itu dan kecintaannya pada memasak. Entahlah, saat pertama kali dikenalkan oleh Sehun, Yoona tidak menyangka kalau pria ini… well, singkatnya seorang husband material who comes with a full package. He’s great at sex, he cooks well, dan menurut salah satu gadis yang pernah ia kencani, Jongin seperti tipe-tipe pemain protagonis pria pada drama yang sangat romantis.

Yoona mendengus. Entah pria itu memasak karena ia suka atau karena ia merasa bersalah karena semalam. Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya, dan meringis saat kedua kakinya bertemu lantai keramik yang dingin. Wangi dan suhu yang asing, batin Yoona.

Saat Yoona tiba di dapur, Jongin baru saja meletakkan sarapan mereka diatas meja. Jongin terkejut melihat Yoona, tapi tersenyum tipis. “morning.” Ucapnya. “aku membuatkan sarapan.”

Keduanya duduk berhadapan dan menikmati sarapan mereka. Scrambled eggs with mashed potato, salah satu menu yang jarang Yoona sentuh. Jongin memakannya dengan lahap, sementara Yoona kelihatan ogah-ogahan. Jongin memperhatikan hal itu dan mengernyitkan keningnya.

“tidak enak?”

Yoona menggeleng cepat. Masakkan Jongin bisa dibilang lebih enak daripada buatannya sendiri. “aku masih agak mual.” Bantah gadis itu.

Jongin kembali menyuapkan sesendok mashed potato ke dalam mulutnya. “kau minum terlalu banyak semalam.” Gumam Jongin, kembali mengingat kejadian semalam. “aku tidak menyangka kau akan menyukai soju.”

“hobi baru.” Balas Yoona.

Jongin tersenyum pelan. “how does it feel like?”

“what? Minum 4 setengah botol soju dan muntah di pinggir taman, lalu pulang dan bercinta dengan sahabat dekat dari kakak tiri yang selama ini melakukan hubungan terlarang denganmu?” Ada nada sarkasme yang sangat kental pada suara Yoona. Gadis itu memutar kedua bola matanya. “sangat menakjubkan, Kim Jongin.”

Jongin mendehem dengan canggung. “sorry about last night. Kau tahu, memang canggung rasanya tidur dengan adik temanmu sendiri. Aku jadi merasa bersalah pada Seh—“

no need to.” Potong Yoona dingin. “Ini untuk kenikmatan kita masing-masing, kan? Kau tidak perlu membawa-bawa Sehun dalam kehidupan pribadimu, walau ia sahabat terdekatmu sekalipun.”

Jongin mengangguk dan tidak berkomentar.

Kini acara makan pagi mereka diisi dengan keheningan dan suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Yoona hanya mengaduk-aduk isi makanan di piringnya, membuat Jongin menghela napalirs.

“ada kegiatan hari ini?” Jongin yang pertama kali angkat bicara, memecah keheningan.

Yoona memasukkan sesendok lain kedalam mulutnya dengan terpaksa. “uhm. Aku ada kelas jam 2 nanti. But i’ll pass.” Ucap Yoona mengingat-ingat.

“sekarang baru jam 8.” Jongin melirik jam pada dinding. “jadi pagi ini tidak ada kegiatan?”

Yoona mengangkat kedua bahunya. “mungkin. Kenapa?”

Senyum di wajah Jongin melebar dan matanya berkilat. “aku akan membawamu ke tempat yang asik.”

///

seriously, Kim Jongin?” adalah kalimat yang pertama kali ia ucapkan saat turun dari mobil Jongin. Ia menatap pria itu kesal, membuat Jongin tertawa dan mengacak puncak rambutnya.

“setidaknya aku tidak seperti Jieun yang akan membawamu ke perpustakaan.” Canda Jongin, mengingat dia merupakan salah satu kenalan Jieun, yang membuat dirinya dan Yoona semakin dekat. “tidak ada salahnya kan kesini?”

Yoona tersenyum dan menggeleng, lalu menarik nafas dalam-dalam. Ia memandangi kompleks kampus mewah tempatnya berdiri sekarang. Seoul University. Menarik. Bangunannya dibuat dari batu bata merah, dan bahkan hingga lampu dan hiasan tamannya terlihat sangat klasik, seperti terlempar kembali ke tahun 1980-an. Yoona bisa merasakan sejuknya udara disana yang bercampur sedikit dengan wangi rumput sehabis hujan. Tempat yang sempurna.

“jadi?” Yoona kini menoleh pada Jongin. “apa tujuan kita kemari?”

Jongin mengangkat kedua bahunya dan tersenyum. “tidak ada. Hanya berjalan-jalan untuk menyegarkan pikiran.” Jawab Jongin. “bagaimana menurutmu?”

Yoona mendengus lalu tersenyum. “sangat kuno.” Komentarnya.

Jongin mengangkat sebelah alisnya yang tebal. “dalam artian baik?”

Yoona tersenyum jahil. “dalam artian baik.”

Keduanya berjalan menuju laboratorium, tempat berlatih Judo, lapangan basket, taman tengah yang luas, bahkan hingga aula timur yang biasa digunakan untuk pesta. Hampir semua tempat disana telah mereka lewati. Yoona beberapa kali mengambil foto, karena pemandangan yang disuguhkan sangat menarik. Gadis itu menikmati tur di Seoul University yang dipandu oleh Kim Jongin. Well, pria itu memang kadang menyebalkan tapi untuk kali ini, ia telah memperbaiki mood gadis itu.

“aku lelah sekali.” Keluh Yoona saat keduanya sudah duduk di bangku dekat lapangan tengah. Jongin ikut duduk didekatnya dan menawarkan gadis itu sekaleng softdrink. thanks.”

Jongin tersenyum tipis. “my pleasure.” Jawabnya.

“Kim Jongin?”

Yoona mengutuk dirinya sendiri karena ia dapat mengingat dengan baik siapa pemilik suara cempreng itu. Ugh. Kim Jongin sekampus dengan Oh Sehun, dan Oh Sehun sekampus dengan….

Jongin menoleh, terkejut. “Hwang Shinbi?”

Shinbi tersenyum dan mendekati keduanya. “aku tadi melihatmu, dan seingatku kau tidak ada kelas hari ini.”

“yeah, aku mengajak anak ini jalan-jalan.” Jawab Jongin sambil menunjuk ke arah Yoona.

Shinbi mencermati wajah Yoona lalu tersenyum manis. “Yoona! Kita bertemu lagi. Kebetulan sekali, kan?” ucap Shinbi ramah.

Yoona memaksakan senyumnya. “yap. Kebetulan yang…” gadis itu menoleh ke Jongin dan mengangkat kedua alisnya, “…sangat menyenangkan.”

Jongin menahan senyumnya, karena ekspresi wajah Yoona yang terlihat kaget bercampur jijik. Setelah mengenal Yoona cukup lama sebagai kekasih dari sahabatnya, ada satu hal yang ia tahu tentang Yoona. Gadis itu benci berpura-pura. Apalagi pura-pura menyukai orang yang ia masukkan ke dalam blacklist-nya.

“ah iya.” Shinbi membuka tasnya, lalu mengambil selembar kertas disana. “Suji menitipkan kertas ini padamu. Ini tugas kelompok kalian kan?”

Jongin melebarkan kedua bola matanya. “shit! Aku lupa kalau deadline-nya hari ini.” Maki Jongin, terlihat panik. “apa tadi kau lihat dosen Kim Jaekwang?”

Shinbi mengangguk. “tadi kalau tidak salah masih ada Yuhwan yang mengumpulkan tugasnya ke dosen Kim. Sebaiknya kau cepat, Jongin-ah.”

Jongin bangkit dan menepuk pundak Shinbi. “thanks, kau penyelamatku.” Ucapnya dan tersenyum lebar. Pria itu kini menoleh pada Yoona. “aku ke ruang dosen dulu, tunggu disini, oke?”

Yoona mengangguk malas dan memandangi Jongin hingga pria itu berbelok ke dalam gedung. Gadis itu menghela napas dan bangkit dari kursi taman, berharap ia takkan terjebak bersama Hwang Shinbi yang juga ada disana.

“tunggu.” Shinbi menarik lengan Yoona, membuat gadis itu menatapnya dengan kening yang berkerut. “kau mau kemana?”

Yoona berdecak kesal dan menghempaskan genggamannya dengan kasar. “bukan urusanmu.” Ucap gadis itu seraya melangkah pergi.

“Kim Jongin!” seru Shinbi dengan suara yang bergetar, membuat Yoona menoleh dan menatapnya heran. “jauhi dia.”

Yoona terlihat terkejut, lalu mendengus. “are you his mom or something?”

Shinbi menggigit bibir bawahnya, gadis itu tak menjawab dan menoleh ke arah lain.

Kali ini kedua bola mata Yoona terbelalak. Ia menatap gadis itu tak percaya. “wait, jangan bilang kau…..”

“aku menyukai Jongin.” Ungkap gadis itu tanpa menatap Yoona sama sekali.

Yoona melebarkan kedua bola matanya, “wow, ini seperti drama.” Gumamnya, dan menggeleng dengan kening berkerut. “aku tidak akan ikut campur, jadi jangan mencurigai yang macam-macam. We have no feelings toward each other.”

Shinbi mengangkat sedikit kepalanya. “apa…. apa kau mengatakan ini untuk menenangkanku?” tanyanya ragu mendengar pernyataan Yoona.

Yoona mendengus. “aku hanya tidak mau kau akan membalas dendam dengan menggantung hewan mati didepan apartemenku, seperti di Vampire Diaries. Tidak, deh. Lagipula aku bukan orang yang akan ikut campur seenaknya saja.”

Shinbi terlihat agak lega setelah Yoona berjalan menjauh darinya. Tapi gadis itu teringat sesuatu, dan menoleh. “Hey!” serunya. “ini tentang Sehun….”

shut up.” Potong Yoona kasar. “aku membiarkanmu seperti ini bukan berarti kau bisa menyebut nama orang itu sembarangan. Jangan pernah berani menyebutnya lagi dihadapanku.”

Shinbi menghela napas, dan melangkah pergi. Gadis yang menyulitkan.

///

To: Jongin, K.

Aku pergi ke suatu tempat dulu. Jangan tunggu aku. – Yoona.

Yoona meletakkan kembali handphone ke dalam tasnya dan bersender pada dinding didekat gerbang sekolah. Chuunsok High School. Gerombolan pelajar berseragam dengan rok melambai. Hiasan rambut yang meriah. Teriakan-teriakan melengking dan suara riuh rendah yang menggosipkan nama orang lain. Untuk beberapa saat, berdiri didepan sekolah ini membuat Yoona merindukan SMA-nya.

Gadis itu mendengus. Great memories comes with the bad ones. Ia ingat saat SMA, ada pelacur bermuka plastik dari kelas 11-6 yang entah kenapa senang sekali mengganggunya. Yoona dan Jinah membalas gadis itu dengan menyiramkan seember penuh bekicot keatasnya. Menyenangkan sih, tapi mereka berakhir di ruang BP lagi dan lagi. Membuat surat permintaan maaf, membawa orang tua ke sekolah, apalagi mereka harus berhadapan dengan ibu gadis itu yang wajahnya seperti Dolores Jane Umbridge, kepala sekolah sementara di Hogwarts saat Dumbledore dituduh melawan  kementrian (yeap, Yoona menonton Harry Potter hingga ratusan kali). Like, duh, ibu dan anaknya sama saja.

Yoona melirik gerombolan gadis SMA didekatnya. Selalu berkelompok, tak suka menyendiri. Mereka pikir, sendiri itu menyedihkan. Sendiri itu hanya untuk pecundang yang tak bisa bersosialisasi atau orang yang pantas dijauhi karena catatan kriminal. People and their closed minds, dengus Yoona.

“berapa hargamu untuk semalam?”

Yoona dan beberapa pelajar disana menoleh ke sumber suara. Segerombolan gadis yang mengerumuni seseorang, dengan lengan yang mereka lipat di dada dan tatapan meremehkan. Yeah, setiap sekolah pasti selalu ada pem-bully yang entah kenapa kebanyakkan wanita. Benar kata orang, woman’s greatest enemy is another woman.

Gadis berkulit paling pucat dengan name tag Jung Jihye disana melemparkan tatapan tajam pada korban mereka. “kudengar kau menggoda Jiwook oppa lagi. Mencoba menggoda pacar orang seperti itu, kau cari mati?” bentaknya.

Seorang gadis berambut pendek menyanggupi perkataan sahabatnya itu. “aku melihatnya berkencan dengan Jiwook oppa–“ Jihye langsung melempari tatapan tajam pada gadis itu, yang membuatnya gugup. “—maksudku, Jiwook sunbae-nim.”

Jihye kini menatap korbannya dengan senyum sinis. “kau masih punya keberanian untuk muncul di sekolah, Kim Yerim? Bukannya kau seharusnya absen untuk beberapa hari kedepan, hm? Lagipula tidak ada yang merindukanmu disini.”

Yoona memutar kedua bola matanya. Ternyata korban dari penindasan itu adalah Yeri, sahabatnya sendiri. Geez. Bagaimana bisa anak itu terperangkap dalam situasi seperti ini? Ini benar-benar bukan sepertinya, terlibat dengan geng-geng iljin yang suka mencari masalah.

“bitch.”

Jihye yang awalnya ingin pergi, kini menoleh pada Yeri dan menatap gadis itu tidak percaya. “excuse me? Kau bilang apa tadi?” tanyanya dengan nada suara yang meninggi.

Yeri merapikan poni dengan jemarinya, lalu menghela napas. Ia menatap gerombolan gadis itu dengan dingin dan menyilangkan kedua lengan didepan dadanya. “bisa kau diam? Nafasmu bau sekali.”

Jihye membelalakkan kedua bola matanya. “apa kau—“

“kau.” Yeri menodongkan jemarinya tepat didepan wajah Jihye. “Chang Jiwook bukan pacarmu, dan aku tidak mengejarnya. Ia memohon-mohon padaku untuk berkencan dengannya, kau tahu? Pagi, siang, malam, dia menghujani Kakao talk, LINE, dan emailku dengan ajakkan berkencan. Bagaimana denganmu? Bahkan pesan singkatmu pun tak dibalasnya, kan? Bagaimana dengan ajakkanmu pada Chang Jiwook untuk ke bioskop? Dia menolaknya, kan?”

Wajah Jihye memerah, dan gerombolan gadis disana mulai berbisik satu sama lain. “k-kau bicara apa?”

Yeri memutar kedua bola matanya. “minggir.” Ucapnya pada gerombolan gadis tadi yang langsung membuka jalan baginya. Mereka menatap Yeri takut-takut, waspada pada hal yang akan keluar dari bibirnya selanjutnya.

Yoona memandangi kejadian dihadapannya dengan kagum. Whoa. Sahabatnya itu seperti berkepribadian ganda. Sweet but deadly. Yeri yang biasanya cerewet dan selalu tersenyum, kini tampak seperti orang yang berbeda dengan tatapan sinisnya.

“Yoona unnie!” seru Yeri saat ia mengangkat kepala, dan mengenali sosok Yoona yang berdiri didepan gerbang. Yoona melambaikan tangannya lalu tersenyum.

Jihye memandangi sosok Yeri yang membelakanginya dengan geram. Gadis itu mati-matian menahan emosinya, membuat wajahnya memerah. Sementara gerombolan gadis yang mereka bawa kini bubar satu persatu, tak ingin terlibat masalah itu jauh lebih dalam.

“Ah iya.” Yeri yang baru saja ingin menggandeng tangan Yoona, kini berhenti di tempatnya dan menoleh ke belakang. Gadis itu mencermati wajah Jihye yang memerah lalu tersenyum. “lain kali, tolong jangan tambah silikon di dada dan bokongmu. Sebaiknya perbaiki wajahmu dulu.”

Yoona tertawa lebar, lalu menggandeng Yeri dan mengajaknya pergi dari sana. Gadis bernama Jung Jihye tadi kini berdiri mematung disana dengan wajah yang kian memerah, dan gerombolan orang yang berbisik dengan senyuman geli. Tamparan keras untuk gadis yang selalu berpikir dialah yang paling sempurna. Setidaknya dengan ini, dia akan jera.

“jadi?’ Yoona menoleh pada Yeri. “where are we going, captain?”

Yeri tersenyum lebar dan menyeret lengan Yoona, dan keduanya menghabiskan waktu di jalan mereka dengan candaan dan guyonan. That’s why Yoona loves having her as a company, afterall.

///

“unnie, aku bersumpah, kalau ada pria yang melamarku dengan parfait coklat ini, aku akan langsung menikahinya tanpa ragu-ragu. Lalu kami akan kawin lari, karena ayah masih bersikeras menjodohkanku dengan si kunyuk itu. Kami akan tinggal di daerah pedesaan, dan memiliki 6 orang anak. Bagaimana menurutmu, unnie?”

Yoona menelan parfait vanilla-nya lalu tersenyum geli. Yeri dan imajinasinya, pikir Yoona.“dan mengabaikan SFW sabtu nanti?”

Yeri terlihat ragu-ragu. “mungkin aku akan mempertimbangkannya lagi.”

Keduanya menikmati parfait mereka, sambil diselingi candaan-candaan segar. Yeri sibuk menikmati parfait cokelat kesukaannya dan sesekali mengecek handphone-nya, sedangkan Yoona menatap ke arah jalanan.

“jadi?”

Yoona menoleh pada Yeri. “hm?”

Yeri mematai gadis itu dengan cermat. “apa terjadi sesuatu tadi?” tanyanya.

Yoona mengerutkan keningnya dan mengangguk pelan. “tidak terlalu penting, tapi; ya.” Jawab Yoona.

Yeri memajukan badannya, dan menatap Yoona dengan raut wajah penasaran. “tell me!” pintanya. “apa ini tentang Sehun?”

Yoona agak mengernyit saat nama Sehun disebut. “ya, dan….. tidak.” Balas gadis itu dan mengambil sesendok parfait lagi. “i had sex with Jongin last night.”

Yeri berdecak kagum. “aigu. Padahal aku ingin mengincarnya, unnie. He looks smoking hot, by the way.” Keluh Yeri setengah bercanda. “hanya itu saja?”

“uhh…” Yoona menggumam pelan. “Shinbi menyukai Jongin. A lot. Kelihatannya mereka berasal dari SMA yang sama. Kurasa Jongin belum menyadari perasaan Shinbi sama sekali.”

Kali ini Yeri melebarkan matanya. “Hwang Shinbi? That bitch???? Oh YaTuhan.” Seru gadis itu tak percaya, dan kali ini mengipasi wajahnya dengan tangan. “wait… lalu kenapa ia berpacaran dengan Sehun?”

Yoona menggeleng. “i had no idea.” Komentarnya singkat.

Yeri menghela napas, dan kali ini hanya menatapi Yoona, yang termenung melempar pandangannya keluar jendela. Gadis itu mengutuk dalam hatinya, karena kisah cinta rumit dan menyebalkan yang dialami sahabat kesayangannya itu.

Yoona doesn’t deserve this. Dia adalah orang terbaik yang pernah Yeri kenal dalam hidupnya. Memang sih, Yoona agak kasar dan terkadang sombong, arogan, dan egois (begitu kata orang lain). Tapi bagi seorang Kim Yerim, Yoona is nowhere near that. She’s strong against the strong, and weak against the weak. Mungkin ia terlihat mengintimidasi dan penyendiri, tapi Yoona memiliki soft spot yang hanya ditunjukkannya pada beberapa orang saja. Dan Oh Sehun adalah salah satunya.

Oh Sehun. Yeri masih ingat saat Yoona bercerita tentang orang yang disukainya dalam keadaan mabuk, dan ia menangis. Yeri tidak mengerti apapun tentang keadaan Yoona, tapi lambat laun, ia bisa ikut merasakan sakit yang dihadapi gadis itu. Dan Yeri akan menggunakan cara apapun, untuk mengurangi rasa sakit gadis itu.

“unnie.” Gumam Yeri sambil tersenyum. “pajamas party sounds fun, right?”

///

“kita akan begadang semalaman, oke? Yang tidur, akan dihukum memakai koyo cabe seharian!”

Yoona mendengus, dan tertawa geli. Gadis yang tadi dengan semangat mengatakan itu, kini sudah tertidur pulas disebelahnya. Taeyeon pun ikut tidur disebelahnya, dengan raut wajah kelelahan sehabis bekerja. Yuri dengan rambut singanya tepat disebelah Taeyeon, diikuti oleh Jieun yang terlelap disebelahnya. Kelimanya berbaring di tempat tidur king size itu. Well, itu jauh lebih baik daripada harus tidur sendiri semalaman diatas kasur yang dingin.

Setelah mempertemukan kedua telapak kakinya dengan lantai, Yoona mengumpulkan tenaganya untuk bangkit. Tangannya meraih telepon genggam yang ada diatas meja, dan cepat-cepat menyalakan fitur kamera. Gadis itu memotret keempat sahabatnya yang sedang tertidur pulas dengan senyum geli di wajahnya.

Can’t stop thanking God for having them by my side. Smooches! x

P.S.: they snore. A LOT.

Setelah mengetik caption dan menandai keempat sahabatnya, Yoona meng-upload­ foto itu ke akun Kakaotalk miliknya. Ia bisa membayangkan reaksi mereka saat melihat foto itu. Pasti Yeri-lah yang akan paling banyak mengomel. Mungkin Yuri tidak akan menghiraukannya, dan Jieun hanya akan menertawai foto itu. Kalau Taeyeon…., yeah, dia sudah pasti akan menceramahi Yoona, tapi akan menertawakan foto itu juga pada akhirnya.

Notif tanda ada chat masuk berbunyi, dan Yoona mengeceknya dengan cepat. Dari Jongin.

Still up? Aku butuh bantuanmu. Bisa datang ke taman dekat apartemen?

Yoona mengecek jam, dan membelalakkan kedua matanya. Jam 2 pagi dan Jongin memintanya ke taman? Gadis itu menghela napas. Pasti ada sesuatu yang salah, pikirnya.

Yoona membuka lemarinya, mengambil pakaian yang cukup hangat dan cepat-cepat mengenakannya. Ia bahkan tidak memikirkan untuk menyisir rambutnya yang tergerai berantakan seperti singa sekarang.

Dengan agak cepat, Yoona keluar dari apartemennya dan menyusuri lorong apartemennya yang sepi. Tak tampak ada satu makhluk pun disana, tapi Yoona tak memperdulikan hal itu. Pesan dari Jongin tadi membuat perasaannya tidak enak dan gelisah. Yoona menekan tombol lift dan cepat-cepat masuk kedalamnya.

“Yoona?”

Yoona mengangkat kepalanya, dan bertemu dengan sepasang mata hitam pria dihadapannya. Senyum terulas di wajahnya, “Joongki oppa.”

Song Joongki, pemilik kamar apartemen tepat di lantai diatasnya. Keduanya lumayan dekat, mengingat ia merupakan pelanggan tetap bar Yuri. Melihat pria itu berdiri didalam lift dengan pakaian kasual yang lumayan rapi, tentu saja Yoona keheranan. “keluar selarut ini?” tanya Yoona heran.

Joongki menekan tombol lift, dan pintunya kembali tertutup. “aku pergi membeli ayam goreng dan bir diluar.” Jawabnya.

insomnia strikes again?”

Joongki menggeleng. “football. Beberapa temanku datang menonton pertandingan bersama di kamar.” Jawabnya setengah tersenyum. “apa kau terganggu mendengar suaranya?”

“tidak, kok. Kami tidur terlalu nyenyak, aku bahkan tidak sadar kalau ada suara dari atas.” Jawab Yoona.

Kernyitan muncul di kening Joongki. “kami…?” Ekspresi heran pria itu berubah, dan kali ini ia mengangguk. “having fun that much, huh?”

Yoona mengerucutkan bibir bawahnya. “ini tidak seperti yang kau pikirkan, oppa.” Bantah Yoona. “aku tidak mengajak pria, tapi Taeyeon dan yang lainnya menginap malam ini.”

“ah, i see.” Joongki mengangguk. “apa ada Yuri?”

Senyum terkembang di wajah Yoona. “Aigu. Apa Joongki oppa sedang jatuh cinta sekarang?” goda Yoona, sambil mencolek pundak Joongki.

Joongki tertawa. “let’s get that aside, sedang apa malam-malam begini? Pergi menemui seseorang?” tanya Joongki mengalihkan pembicaraan.

Yoona menganggukkan kepalanya. “Jongin memintaku bertemu. Sepertinya terjadi sesuatu.”

“Jongin….” Joongki terlihat berusaha mengingat-ingat. “ah, dia Kim Jongin yang pernah membantu menyiapkan kejutan ulang tahun Yeri disini kan? Aku tadi melihatnya didekat Circle K dekat sini, pantas saja rasanya familiar.”

Yoona mengangguk. “ah, begitu…” gumam Yoona.

Pintu lift terbuka, dan keduanya sudah sampai di lobi. Hanya ada beberapa staff dan segelintir orang disana, dan bau kopi semerbak di udara. TV di pojok ruangan menyiarkan pertandingan sepakbola, dan beberapa orang tampak antusias menontonnya.

“ah, aku baru ingat. Tadi resepsionis menelpon karena ada titipan.” Ucap Joongki. “maaf Yoona, oppa tidak bisa mengantarmu keluar.”

Yoona tersenyum dan menggeleng, “tidak apa-apa. Aku duluan, oppa. Jangan lupa belikan ayam goreng untukku juga!” seru Yoona seraya berlalu.

Tepat saat gadis itu keluar, udara dingin langsung menerpa wajahnya. Yoona menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dan menempelkannya di pipi. Udara Seoul di malam hari tidak bisa diajak kompromi. Belum semenit ia keluar, ujung hidungnya sudah memerah.

Yoona mengeratkan cardigan-nya dan menyebrangi jalan menuju taman. Tak terlihat satupun orang disana, membuat Yoona mengecek handphone-nya dan memencet tanda dial pada kontak Jongin.

“kau dimana?” tanya Yoona tanpa basa-basi saat panggilan itu diangkat.

“dibawah lampu taman dekat pohon besar…” suara Jongin memelan. “damn it! Berhentilah menangis, dude, aku sedang memanggilnya kesini.”

Yoona mengernyit saat mendengar suara di background, “kau sendiri?” tanyanya.

“demi Tuhan Yoona, you better come here as soon as possible before i throw this motherfucker to Han River.” Gerutu Jongin dari seberang. “aku akan menutup telponnya. Cepat kemari.”

Segera setelah panggilan dimatikan, Yoona mempercepat langkahnya. Walau ia tak tahu maksud Jongin, tapi ia tahu siapa yang pria itu maksud dengan motherfucker. Yoona memalingkan kepalanya kesana kemari, berusaha mencari sosok pria itu. Dan tepat seperti penjelasannya, Jongin duduk di kursi taman dibawah lampu dekat sebuah pohon besar. Pria itu terlihat gelisah dengan kening yang berkerut.

Dan Oh Sehun ada disebelahnya.

Oh Sehun disana. Oh Sehun dengan tubuhnya yang menempel di bangku taman, dan sesekali mengernyitkan alisnya. Oh Sehun hanya dengan kemeja dan celana panjangnya, tanpa jaket sama sekali. Oh Sehun yang beberapa kali mengerang dan membuat Jongin makin terlihat gelisah.

Oh Sehun… Oh Sehun, sudah berapa lama Yoona tidak melihatnya? Rasanya baru 2 atau 3 hari lalu, but it feels like ages.

Jongin menoleh, dan mendapati Yoona berdiri tak jauh darisana, hanya memandangi keduanya dalam diam. Pria itu sontak berseru, “Im Yoona!”

Seruan Jongin membuat Yoona tersentak, dan mendekati mereka. “apa yang kau lakukan disini?”

Raut wajah Jongin terlihat lega. “kukira kau takkan datang. Aku hampir saja ingin meninggalkannya disini. Kau tau aku tidak bisa meninggalkan apartemenku terlalu lama, ‘kan?”

Yoona tak dapat melepaskan pandangannya dari Oh Sehun, dan kini menghela napas. “apa yang terjadi?” tanyanya pada Jongin.

Jongin mengangkat kedua bahunya. “dia menelponku dalam keadaan mabuk sambil menangis. He sounds desperate as fuck, dan aku langsung menemuinya. Saat aku sampai, dia sudah dalam keadaan tak sadar.”

Yoona kembali mematai Oh Sehun yang tertidur diatas bangku. Oh Sehun dengan kedua mata yang terpejam rapat, namun bibirnya akan komat-kamit mengeluarkan racauan yang tidak jelas. Rambut peraknya agak berantakkan, dan ada bekas tumpahan soju di celananya. Yoona mengernyit saat menyadari bibir pria itu yang memucat dan keringat di pelipisnya. Refleks, Yoona mendaratkan tangannya disana.

“dia demam.”

“dia memang demam.” Ulang Jongin. “aku sudah menyuruhnya untuk berhenti, tapi dia tetap menolak.”

Yoona melirik ke jam besar di taman. 2:07, gumamnya dalam hati. “kenapa dia keluar selarut ini…”

“tadi ia menggumamkan sesuatu tentang ‘ayah brengsek’, jadi kupikir mereka sedang bertengkar. Aku membawanya kesini, karena aku tidak bisa meninggalkan apartemen terlalu lama, Yoona.”

Yoona menggigiti kukunya dengan gelisah. “Yoojung sakit lagi?”

“ya.” Ada sorot kesedihan di bola mata Jongin, tapi pria itu menutupinya dengan senyuman. “anak itu menolak dibawa ke rumah sakit.”

Yoona menatap Jongin dengan raut khawatir. “aku minta maaf karena telah merepotkanmu, sungguh.” Gumamnya.

chill. Aku akan membantumu membawanya kedalam.” Ucap Jongin, menawarkan bantuan.

Jongin mengangkat Sehun perlahan-lahan, lalu menggendongnya hingga tubuhnya bergantung pada tumpuan pundak Jongin dan Yoona. Yoona menawarkan beanie yang ia kantongi sedari tadi untuk dikenakan oleh Sehun. Well, sebenarnya dua orang yang menggendong pria dewasa tidak sulit sih, tapi kalau pria dewasa itu dalam keadaan mabuk, meracau hal yang tidak jelas, dan merupakan kakak tiri yang juga mantan pacarmu, yang tiba-tiba memutuskan hubungan secara sepihak beberapa waktu lalu, itu baru sulit.

Sehun melantur. Sebentar-sebentar ia akan membicarakan hasil pertandingan sepakbola kemarin dengan Jongin (yang dibalas dengan ‘hm’ ‘yeah’ ‘i know, right?’ ‘c’mon dude, Messi melakukan yang terbaik kemarin’ oleh Kim Jongin), dan tiba-tiba ia akan membicarakan tentang rasi bintang dan bagaimana ia menghafal semuanya dengan jelas.

Yoona merasa lega saat ketiganya telah sampai didalam lift, dan ia segera memencet tombol untuk naik ke lantai apartemennya.

”oh, Jongin.” Sehun mengerjapkan matanya berkali-kali dan tersenyum tipis. “kita di apartemenmu? Dan, siapa ini?”

Sehun menoleh pada Yoona, membuat wajah mereka begitu dekat. Yoona bisa mencium dengan jelas bau soju yang pekat dari tubuhnya. “kau mabuk, Oh Sehun.” Gumamnya pelan dan memalingkan wajahnya cepat-cepat.

Sehun mengernyit, dan kali ini menoleh pada Jongin. “ini Kim Yoojung? Adikmu? Bukannya ia sakit?”

Jongin menoleh pada Yoona, dan gadis itu menghela napas. “well, sebaiknya kau diam, dude. Kau berat.” Ucap Jongin, berusaha membungkam Sehun.

Tapi Oh Sehun yang dalam keadaan mabuk itu menolak untuk mematuhi perkataannya dan menoleh pada Yoona. “Yoojung-ah, kau bertumbuh dengan cepat, eh? Rasanya baru kemarin kau mengepang rambutmu menjadi 2…” Sehun terkekeh, “Jongin selalu latihan dari tutorial di youtube untuk mengepang rambutmu. That makes him looks like a sissy.”

Jongin memutar kedua bola matanya.

Kini dahi Sehun mengernyit dan senyumannya memudar. “Yoojung-ah, kau mengingatkanku padanya.” Yoona mendongak, dan tatapan mereka bertemu. “ya, benar. Kau mengingatkanku pada Yoona. Masih ingat padanya?”

Yoona membuang mukanya dengan cepat.

“ah… Yoona. Yoona Park. Adik tiriku, huh?” gumamnya. “kau benar-benar terlihat sepertinya. Tapi senyum kalian beda. Yoona… Yoona, dia, tidak pernah tersenyum padaku dengan lembut. Yoona selalu…..” Sehun memejamkan kedua matanya rapat dan mengangguk-angguk. “…sedih. Yoona selalu terlihat sedih….. atau marah, atau kesal…. tapi dia tidak pernah tersenyum seperti itu.”

Sehun menghentakkan kakinya, kesal. “god damnit!” serunya. “aku… aku kakak tirinya.. ironis, eh? Aku… aku benar-benar menyedihkan. A loser. A foooooool. Aku benar-benar bodoh.”

Jongin mendehem beberapa kali. “dude, kau akan menyesal kalau membuka mulutmu lebih dari ini.”

Sehun tertawa kencang, mengisi lift yang hanya diisi oleh mereka bertiga. Tapi lambat laun, suara tawanya memudar, dan kali ini ia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan irama tak tentu sambil bersenandung. “Yoojung-ah.” Sehun melepaskan rangkulannya pada Yoona, kali ini menumpukan seluruh berat badannya pada Jongin. Ia mencengkram pundak Yoona, dan membuat gadis itu sepenuhnya berbalik ke arahnya. “tersenyumlah. Coba…. coba tersenyum. Show me. Show me with that face, cara Yoona tersenyum. Tersenyumlah seperti kau adalah… Yoona, Yoona, Yoona, Yoona Park.”

Yoona mengeratkan kepalan tangannya. Apa pria brengsek dihadapannya ini adalah pria yang dulu ia cintai? Pria yang lebih berharga dari hidupnya sendiri? Pria yang sangat berarti hingga ia rela mengorbankan apapun demi dirinya? The man who used to fill the spaces between her fingers and occupy her mind? Pria ini? Oh Sehun yang dalam keadaan mabuk dan menyedihkan, dan meracaukan nama adik tirinya sendiri?

are you a retard, Oh Sehun?”

Jongin terlihat kaget. “Yoona.”

Yoona menggigit bibir bawahnya, dan menahan air matanya yang sudah membendung. “are you an idiot? Menyuruh orang lain untuk tersenyum sepertiku, what are you, a complete idiot? Stop blurting out shits, and shut the fuck up. Aku juga lelah, kau tahu?!” serunya dengan nada yang meninggi.

Dan bukannya terkejut, Sehun malah tersenyum tipis. “….bagus, Yoojung-ah. Kau benar-benar mirip dengannya. Tentu saja, Yoona tidak akan tersenyum… apalagi setelah yang waktu itu… she would definitely beat the shit out of me with her tiny hands and fight back like a hamster…. God, i miss her.”

Kali ini, air mata mengalir di pipi Yoona dan gadis itu cepat-cepat menghapusnya dengan punggung tangannya. Pintu lift terbuka, dan mereka telah sampai di lantai apartemen Yoona. Yoona dengan cepat meninggalkan lift dan berjalan menuju apartemennya, disusul Jongin yang berusaha menggendong Sehun seorang diri. Well, ia takkan menyalahkan Yoona yang menjadi seperti itu. Sehun can’t control that ‘open that big mouth of yours and spill out everything’ habit of him when he’s drunk.

Yoona membuka pintu apartemennya, disaat Jongin dan Sehun berada tepat dibelakangnya. Jemari gadis itu menemukan saklar lampu dalam ruangan yang gelap kurang dari 10 detik, lalu menutup kembali pintu apartemennya.

“baringkan dia diatas sofa, aku akan memanggil Taeyeon unnie.” Perintah Yoona tegas, tanpa menoleh pada Jongin dan masuk kedalam kamarnya.

Jongin mematuhi perkataan gadis itu, dan membaringkan sahabatnya keatas sofa. Sehun sudah setengah tertidur, dan berkali-kali membolak-balikkan badannya. Suara Yoona terdengar dari dalam kamar, dan tak lama, ia keluar dengan Taeyeon yang masih mengantuk dibelakangnya.

Taeyeon terlihat kaget dan langsung sadar saat melihat Jongin ada di ruang tamu. Ia melirik ke arah Yoona, meminta penjelasan, yang gadis itu balas dengan tatapan ‘akan kujelaskan nanti’. Taeyeon mendekati Sehun dan berjongkok didekatnya. “dia mabuk?” tanya Taeyeon setelah mencium bau alkohol dari tubuh pria itu.

“kelihatannya dia sudah minum dari jam 12 tadi.” Jawab Jongin.

Taeyeon meletakkan tangannya di dahi Sehun, lalu di pergelangan kiri pria itu. “kelihatannya dia demam dan masuk angin.” Gumam Taeyeon. “Yoona, ambilkan air hangat dan handuk kecil, Jongin, ambil tumpukkan selimut dan termometer di kamar Yoona.”

Keduanya dengan sigap melakukan hal yang diperintahkan Taeyeon. Jongin pergi ke kamar Yoona setelah mendengar instruksi dari Yoona tentang letak termometer dan selimut, sementara Yoona langsung bergegas ke dapur dan menyiapkan hal yang Taeyeon butuhkan. Tak lama, gadis itu kembali dengan 2 handuk kecil dan air hangat di tangan kanannya.

Taeyeon dengan susah payah mengubah posisi Sehun menjadi duduk dan melepaskan jaketnya, lalu menidurkannya kembali. “aku ingin kau menyeka tubuhnya.”

“apa?”

“aku ingin kau menyeka tubuhnya, Yoona Im.” Ulang Taeyeon tegas. “dia berada diluar terlalu malam dengan pakaian setipis ini, dan meminum terlalu banyak alkohol. Aku mencium sedikit bau muntah, jadi dia perlu dihangatkan segera.”

Yoona baru ingin membuka mulutnya dan menolak perintah itu, tapi Taeyeon sudah pergi ke kamar Yoona, menyusul Jongin yang terlalu lama disana.

Yoona menatap Sehun dan menghela napas. Perlahan ia menggulung lengan kemeja pria itu, dan membuka setiap kancingnya perlahan. Setelah mencelupkan handuk kecil tadi kedalam air hangat, Yoona mempertemukannya dengan kulit pucat Sehun. Dari wajahnya, keringat di pelipisnya, rahangnya, menuju ke lehernya, dadanya, hingga perutnya. Yoona melakukan hal yang sama pada lengannya dan kaki pria itu setelah melepas sepatunya.

“bodoh.” Gumamnya pelan, dan kini kembali menyeka tubuh Sehun dengan handuk kecil lainnya. Pria itu hanya bergumam pelan setiap kali handuk hangat itu bertemu dengan tubuhnya yang dingin. Yoona melakukan itu berulang-ulang, hingga Taeyeon datang dengan Jongin dan memutuskan untuk membungkus pria itu dengan selimut yang tebal.

Jongin pamit pulang karena ia harus melihat keadaan Yoojung, dan Taeyeon mengantarkannya hingga ke lobi. Sekarang hanya tinggal Yoona dan Sehun. Dengkuran halus terdengar dari Sehun, dan Yoona menghempaskan tubuhnya di sofa dekat Sehun.

Bahkan saat Sehun menjatuhkannya berkali-kali tanpa ingin menangkapnya, Yoona akan selalu menopang pria itu setiap kali ia akan jatuh. She would fall for him over and over again like a fool, but that’s what love do to us.

///

a/n: and it takes more than15k words to tell this shitty love story of Yoona and Sehun to all lovely readers of YoongEXO. Here comes, Numious p.2!! *drum rolls* i messed up a little at the 1st part, though. Dan yay, akhirnya part 2 dari Numious keluar. Aku seneng bgt liat reaksi positif kalian di Numious p.1, termasuk reaksi greget dari para pembaca soal tokoh Sehun yang brengsek (which i made him to,) dan Yoona yang ga cengeng. Please do give me feedbacks on comment section, i will appreciate them a lot!😀 (kalau ada typo atau kesalahan lainnya, langsung kasitau ya :D)

88 thoughts on “Numinous (p. 2)

  1. ahhh pertemuan pertamananyaaa yoonhun XDXD dang sehun nyebelinnya tinglat tinggi😐 yoonkai yuhuu <3<3 disini karakter kai perfect banget ihhh jadi pingin mesen satu XDXD

  2. Kadang aku suka gak mudeng sama bahasa inggrisnya thor xD yeah if you know aku gak terlalu lancar lalo soal bahasa inggris begitu -___-
    Tapi okelah tetep keren kok~
    Yoona ngerokok juga disini? Huh, jujur aku gak terlalu suka yg berhubungan dengan rokok ._.
    Kalau Shinbi sukanya sama Jongin ngapain dia pacaran sama Sehun, Sehunnya buat Yoona aja😀

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s