Secret [1]

Secret-01luckyspazzer

Secret by luckyspazzer

copyright © 2015 luckyspazzer

starring SNSD’s Yoona and Lu Han

and the other minor-casts

AU!based, Romance, slight!Mystery // PG13 // Chapters

Own nothing, ex. the poster and the plot of this story!

Beberapa rahasia memang lebih baik tidak terkuak.

pre: PROLOGUE

Luhan keluar dari kamarnya, melirik adiknya—Mei, yang masih terduduk kaku disofa. “Mei?” tanya Luhan, lalu menaruh secangkir teh panas dihadapan Mei.

Adiknya tersebut—Mei, baru saja pulang dari rumah ayah dan ibunya di Busan. Luhan tidak bisa menyempatkan dirinya pergi karena urusan pekerjaannya sehingga Luhan meminta Mei menitipkan salamnya untuk kedua orangtuanya. Namun, sepulang Mei dari Busan, gadis itu justru tampak syok dan panik, dan tidak berkata apa-apa. Terus menerus mengunci mulutnya.

“Mei? Kamu sakit?” Luhan sebagai sosok kakak yang baik, segera berlutut dihadapan sang adik, dan menempelkan punggung tangannya didahi sang adik. “Tidak panas,” gumamnya.

Mei menggeleng, bergerak untuk kali pertamanya sejak pulang dari Busan tadi. “Op—“ dia tiba-tiba mengunci mulutnya dengan bimbang. Dia memegang tangannya, dan menunduk.

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Luhan.

Oppa, aku ingin jjajangmyeonnya Song Ahjumma,” kata Mei.

Luhan bertanya-tanya, mengapa sang adik menginginkannya. Mengingat Luhan adalah kepala chef sekaligus pemilik sebuah restoran. Namun, adiknya, Mei, benar-benar menggemari jjajangmyeon buatan Song Ahjumma. Pendapat Mei, karena rasanya hampir menyerupai jjajangmyeon buatan Eomma-nya dan Luhan. Dan mengenai jjajangmyeon buatan Luhan, pendapat Mei: “Ini terlalu Luhan, aku tidak menyukainya. Terlalu banyak Luhan didalamnya.”, sesuatu yang tak bisa dipahaminya hingga sekarang.

Luhan beranjak dari tempatnya, dan meraih mantelnya yang berada dikasur Mei. “Ya sudah, aku pergi dulu, ya.”

“Jangan!” teriak Mei.

Luhan mengernyit. Ada yang tidak beres dengan adiknya, Luhan tahu itu. Hanya saja …, sang adik terus menerus bungkam dan tidak mau menceritakan apa yang terjadi seolah-olah dia baru saja melihat sesuatu—atau merasakan sesuatu? —yang mengejutkan. “Mei, yang benar, ada apa denganmu?” Luhan melirik Mei, tajam.

Sang adik masih menunduk. “Ya sudah, belikan,” kata Mei.

Luhan menghela napas. Luhan bukan tipikal orang yang bisa membujuk apalagi menghibur orang, jadi dia sudah berusaha semampunya agar Mei mau berbicara dengannya. Luhan baru akan menutup pintu rumah kecilnya dengan Mei kala gadis itu menyelanya.

“Tapi yang cepat, ya.”

Luhan mengganguk. Restoran kecil Song Ahjumma tidak jauh, kenapa Mei meminta begitu?

//

Luhan tersenyum pada Song Ahjumma. “Song Ahjumma! Dua jjajangmyeon, yang cepat, ya!” kata Luhan. “Dibawa pulang,” sambungnya.

Song Ahjumma tersenyum lebar, lalu memasak jjajangmyeon bagi untuk keduanya. Tidak terlalu lama, sampai akhirnya Song Ahjumma membungkusnya, dan menyerahkannya pada Luhan. Luhan menaruh uang dimeja-dapur Song Ahjumma, membungkuk, lalu akhirnya melambai pada wanita berusia 50-tahunan tersebut. “Selamat malam, Ahjumma!”

Luhan mencepatkan laju langkahnya, mengingat pesan terakhir Mei. Namun, saat Luhan mendekat, matanya membulat.

Pintu rumahnya terbuka, dan … terdengar jeritan Mei!

Luhan berlari, membuka pagar rumahnya dengan cepat. Ia yakin benar ia sudah menutup pagarnya, dan …, apakah ia belum menutup pintu? Luhan berteriak dirumah besarnya yang kosong tersebut. “Mei! Mei!” Ia menaruh plastik berisi jjajangmyeon dimeja ruang tamu. “MEI!” teriaknya untuk ketiga-kalinya, ia berlari dengan kalap menuju lantai dua, dan memasuki kamar Mei yang berada tak jauh dari tangga. Bau anyir langsung tercium olehnya, yang semakin membuatnya ketakutan akan apa yang terjadi pada adik satu-satunya tersebut.

Dan benar saja, apa yang ia lihat, lebih mengerikan dari bau anyir yang diciumnya.

Seseorang—dan Luhan yakin, itu laki-laki—dengan topi dan pakaian serba hitam tampak berdiri didekat sosok Mei. Luhan berlari, menghampiri laki-laki tersebut, yang rupanya lebih tangkas darinya. Dia berlari keluar, dan Luhan mengejarnya sampai keluar kamar.

“HEI! KAU!” teriaknya, namun dia teringat akan Mei … Gadis itu …

Luhan memutar arah larinya, dan kembali pada rumahnya. Persetan mengenai si pembunuh, pikirnya. Barangkali Mei dapat diselamatkannya. Luhan memasuki kamar Mei, dengan handphone ditangan, barangkali dia harus menelpon ambulans.

Wajah Mei menghadap pada tembok, sehingga Luhan tidak bisa melihat jelasnya. Luhan terdiam, lalu berteriak keras, “Mei?”

Namun hening. Ia mendekat, tampaknya tidak ada yang salah dengan gadis itu. Mengapa dia …, pingsan? Luhan mendekat, dan membuat arah kepala Mei menghadap padanya. Matanya tiba-tiba membulat. Apa yang ada di leher gadis itu sukses membuat Luhan tidak bisa berkutik. Laki-laki itu—ralat, pembunuh itu telah menyayat leher adiknya.

Dan Luhan, sejurus kemudian, segera menelepon ambulans dengan suara serak, dan mata berkaca-kaca panik.

//

Sosok berpakaian serba-hitam mendekati seorang pria berbadan gemuk-tinggi yang sedang duduk disebuah sofa marun, dengan tumpukan uang didekatnya. Ia tersenyum mengerikan.

“Kau berhasil membunuh kedua orangtua itu?” Pria gemuk-tinggi bertanya, sambil menuangkan anggur pada gelasnya.

Sosok berpakaian hitam itu mengganguk.

“Tidak hanya keduanya.” Sosok serba-hitam itu menghela napas. “Aku membunuh anaknya; yang perempuan.”

“Kenapa kau membunuhnya?” Nada si pria-gemuk berubah tidak senang.

“Bukannya tanpa alasan,” katanya—si Serba Hitam. “Dia adalah saksi pembunuhan, dia melihatku. Bila dia melaporkan polisi, bisa gawat. Apalagi dia mengetahui identitasku, aku harus membunuhnya. Aku mengejarnya dari Busan ke Seoul. Ada laki-laki—antara kekasih atau kakaknya—yang melihatku membunuhnya; Mei, kalau tidak salah. Namun, dia tidak mengetahui diriku. Jadi …, sepertinya impas. Dia tidak tahu aku, dan aku tidak tahu dia.”

Pria-gemuk bertepuk tangan, menyeringai. “Kau memang yang paling pintar.”

Serba Hitam terdiam. “Aku memutuskan keluar.”

Pria-gemuk mengernyit tidak suka, “Kenapa?” tuntutnya. “Kau satu-satunya yang paling pintar dan tidak perlu kubentaki setiap waktunya untuk mengerti maksud dari perintahku. Apa alasannya?”

Serba-Hitam melepas topinya. “Karena aku ingin merasakan menjadi diriku sendiri.”

Dan dia menghilang, ditelan kegelapan.

Pria-gemuk tersenyum. “Dia memang sosok yang tangguh.”

//

Luhan terbangun dengan mata memerah. Teringat olehnya kala dirumah sakit, ia sedang menunggui kabar adiknya—yang ironisnya, meninggal—dan teleponnya berdering. Dari ibunya. Namun, yang menelepon bukan ibunya.

Luhan mengernyit, mendapati telepon dari sang ibu. Ia menggeser opsi menjawab, lalu mengarahkan speaker smartphone pada telinga. “Halo, Eomma?”

“Bukan Eomma, Luhan.” Terdengar suara Rim Ahjumma. Rim Ahjumma adalah bibi yang tinggal dirumah orangtuanya untuk membantu bisnis keduanya sebagai pemilik restoran Cina.

“Rim Ahjumma?” katanya.

“Sayang sekali, Bibi disini menyampaikan sebuah berita duka.” Terdengar nada menyesal dari suaranya. Dan Luhan perlahan merasakan matanya berkaca-kaca. Semoga sebatas sakit, tidak wafat, tidak wafat, harapnya. Namun, rupanya dia salah.

“Orangtuamu dibunuh, Lu.”

Luhan tidak menyahut, dan segera memutuskan hubungan teleponnya. Ia menangis, dalam diam. Ketiga orang yang sangat dicintainya wafat dalam satu-hari, dalam beberapa jam, ia langsung sebatang-kara.

Luhan tiba-tiba mengernyit. Orangtuamu dibunuh, bagaimana mungkin …

Ketiga orang yang dicintainya sama-sama dibunuh?

//

Seorang gadis keluar dari kamarnya dengan rambut yang masih rapih, dan gaun panjang. “Halo, eomma,” sapanya. Tersenyum tipis.

“Ah, Yoona! Kau sudah bangun?” Sang eomma tersenyum.

Yoona mengganguk, dan duduk dihadapan sang eomma. Ia melirik pada kursi diujung meja yang kosong. Sudah 4.5 tahun kursi itu kosong. Kursi yang harusnya ditempati oleh sesosok ayah …

“Sudah cukup lama sejak Appa meninggal,” katanya dengan suara sedih. “Namun, aku masih tidak bisa melupakan sosok Appa.”

Eomma memasang raut sedihnya, namun, beliau tak berlama-lama berada didepan meja makan. “Eomma harus mengurus butik, eomma duluan, ya.”

Yoona mengganguk. Ia terdiam. Merenungi hari kematian ayahnya.

Sanggat menyedihkan, Appa meninggal karena terbunuh. Aku bertanya-tanya, siapa orang yang tega melakukannya …

//

Luhan sedang berada dirumah duka. Beberapa pelayat—dan yang dimaksud dengan ‘beberapa’ adalah ‘begitu banyak—datang dan mendoakan Mei-Ayah-Ibunya. Berbuket-buket bunga krisan berada didepan bingkai Mei-Ayah-Ibunya yang berjejer rapih. Arlojinya menunjukkan sudah pukul tujuh lewat dua puluh lima menit, yang bertanda … kira-kira ia sudah berada dirumah duka tersebut selama 5 jam didalamnya. Merenung dan menyapa pelayat. Sudah waktunya untuk pulang, pikirnya.

Tak lama kemudian, Luhan berjalan keluar dari rumah duka, dengan tangan didalam sakunya. Pemuda China itu menghidupkan mesin mobilnya, lalu memasuki mobil tersebut. Ia menghela napas. Setelah setengah dari harinya dihabiskan untuk berada dirumah duka dan menjumpai pelayat, Luhan merasakan beberapa bebannya hilang dari pikulan. Namun, Luhan yakin betul, apa yang sangat ia butuhkan sekarang adalah udara segar dan sedikit ‘jalan-jalan’.

Perlahan, mobil yang dimiliki Luhan keluar dari wilayah rumah duka, dan mengembara mengelilingi perkotaan sesak Seoul. Ia tidak mengerti apa yang dilakukannya sekarang, namun ia hanya ingin berjalan-jalan sebentar. Tidak ingin ada masalah, ataupun ucapan ‘aku turut berduka’ yang akan kembali mengingatkannya dengan keluarganya.

Luhan menelungkupkan kepalanya diatas dasboard, tanpa menyadari bahwa mobilnya tetap bergerak. Ia tidak menyadarinya—namun, akhirnya ia sadar ketika …

BRAK!

Luhan segera terbangun, dan menghentikan mobilnya. Seolah-olah mendapat kode, ia meminggirkan mobilnya dari jalan. Begitupula dengan mobil yang ditabraknya, mobil itu bergerak mendekati pinggir jalan. Luhan menghela napas—maksudnya untuk berjalan-jalan bukanlah mendapat masalah, tetapi untuk menyingkirkan masalah. Ia mematikan mesin, dan keluar dari mobil.

Seorang gadis dengan gaun elegan yang dipadukannya dengan mantel berwarna krem pucat, serta tak lupa, kacamata hitam branded yang bertengger diatas hidung mancungnya. Ia melirik bagian belakang mobilnya dan mengeluh. “Aish,” gerutunya. Ia melepas kacamata hitamnya, memasukkan dalam saku mantel, dan melirik Luhan. Dengan lambaian tangannya, ia memberi kode untuk Luhan agar mendekat.

“Hei, kau!” teriaknya. Bersedekap. “Kau tahu, betapa mahalnya mobil ini?” katanya, sedikit menyombong, sepertinya.

Luhan mengganguk—well, padahal sebenarnya dia tidak tahu.

Si gadis juga mengganguk, tampak sangat senang. “Ya, jadi berapa harganya?”

Luhan menggaruk-garuk kepalanya, yang bahkan tidak gatal (tapi otaknya gatal memikirkan alasan), lalu dengan nada bertanya dia menyahut, “Mahal?”

Gadis itu mendengus, agak jengkel. “Bilang saja kau tidak tahu,” katanya. “Tapi, ya, memang. Memang cukup mahal. Dan kau tahu, berapa mahal biayanya untuk membenarkan mobil ini?” tuntutnya, melotot pada Luhan.

Luhan, untuk kedua kalinya, menyahut, “Sama mahalnya?”

“Ya, bagus,” kata si Gadis. “Kau tidak tahu, berapa yang harus kubayarkan ketika aku membelinya! Ini adalah mobil yang kubeli dari kerja-kerasku, dan kau …, menabrak kerja kerasku!” omelnya, tampak frustasi. Namun, Luhan tampak tidak peduli, dan hal itu tampaknya membuat si Gadis semakin jengkel. Penabrak tidak mau tahu, mungkin yang ada dibenaknya.

“Kau harus membayarnya, mengganti ruginya.” Gadis itu mengatakannya dengan intonasi yang berlebihan.

“Tentu saja, kau mau aku membawanya?” kata Luhan. “Aku akan membawamu ke bengkel, oh, ralat. Kau akan membawa mobilmu ke bengkel—“

“Bagus!” Gadis tersebut bersorak, tampak sedikit terhibur oleh pernyataan yang diberikan Luhan.

“Eits, aku belum selesai.” Ucapan Luhan merusak sedikit kebahagiaan gadis itu. “Kau akan membawanya ke bengkel, besok. Karena aku ada urusan untuk diselesaikan, aku akan memberi kartu pengenalku, dan beri tahu biayanya. Beri tahu besok, aku tidak mau tahu andai sebelum aku tidur nanti ada pesan masuk mengenai biaya kerusakannya. Beri tahu aku besok; atau aku tidak mau ganti rugi.”

Luhan menyodorkan kartu pengenalnya pada si Gadis, yang menerimanya dengan raut masam. “Selamat malam, dan terimakasih untuk pertanyaan kurang bergunanya.”

Luhan berjalan pergi, dan si gadis melirik kartu tanda-pengenal Luhan dengan muka jengkel. “Astaga, orang tidak bertanggung-jawab macam apa dia?! Sudah merusak mobilku parah-parahan, dan dia bahkan mengancamku tidak mau bayar?! Aigo, mengapa dia begitu menyebalkan!” gerutunya. Ia melirik kartu tanda-pengenal Luhan, lalu tiba-tiba ia tampak terkejut.

“Tunggu-tunggu, aku sepertinya pernah mendengar namanya!” kata Gadis tersebut, lalu ia memandanginya dengan seksama. “Restoran ‘God of Foods’, astaga! Apa dia pemiliknya? Pantas aku pernah mendengar namanya, dan mukanya, tentu saja!” Gadis itu memasuki mobilnya, dan segera mengarahkannya pergi.

//

Restoran God of Foods, 08.45 AM

Luhan sedang berada didapur restorannya, menyelesaikan beberapa order yang sudah berentetan, bahkan ketika waktu masih sepagi itu ketika smartphonenya berdering kencang. Ia melirik beberapa bawahannya, dan segera keluar, menuju teras. Ia melihat layar, dan mendapati nomor asing masuk dan meneleponnya.

Aish, pasti si gadis menyebalkan itu, pikirnya. Ia menggeser pilihan menjawab, dan mengarahkan layar smartphone ditelinga.

“Halo?” katanya.

Luhan-ssi?” tanya sebuah suara diseberang.

“Bagaimana kau bisa tahu namaku?” tanya Luhan, heran.

Kau memberiku kartu pengenalmu; astaga, apakah kau sebodoh itu, ya?” kata si gadis. “Mengenai biayanya, sepertinya tidak begitu mahal. Hanya 500 Won, bisakah kau membayarnya sekarang juga?

“Baiklah, memangnya kau dimana?” Luhan menyahut.

Bengkel langgananku. Kau tahu lokasi tempat kita bertabrakan kemarin? Coba belok kearah Utara, dan cari restoran ‘Nation Top Foods’, disampingnya; tepat disampingnya, ada bengkel. Aku didepan, aku tunggu sampai setengah jam lagi atau kuanggap kau berbohong.

Terdengar bunyi tut yang berdengung, menandakan sigadis sudah menuntaskan telepon. Nation Top Foods? pikir Luhan. Tidak terlalu jauh dari restorannya, namun bukan berarti ia bisa berlama-lama dan terus menerus disana, bermalas-malasan. Luhan melirik bawahannya. “Aku ada urusan, kalian bisa jaga restoran, bukan?” katanya, setelah mendapat jawaban pasti, dia segera berjalan terburu-buru ke basement, dan menghidupkan mesin mobil.

Tak sampai tiga menit, sampai kau bisa melihat mobil berwarna silver Luhan sudah berada dijalan raya. Luhan melirik bagian kanan jalanan, melihat bangunan restoran Nation Top Foods yang berciri khas elegan dan begitu bangsawan. Lalu, iris cemerlangnya menangkup sosok gadis yang tengah menunggu didepan sebuah bengkel. Gadis tersebut memakai kacamata hitam branded sama seperti gadis yang kemarin, sehingga Luhan segera mengarahkan mobilnya kearah bengkel tersebut.

Luhan keluar dari mobil miliknya, dan mendekati gadis tersebut. “Apa aku harus bayar sekarang?” tanyanya.

Gadis itu memutar bola matanya. “Ya! Tentu saja! Memangnya kau pikir kapan? Besok?” katanya, menyindir Luhan, dan segera menurunkan kacamatanya. “Kau harus bayar sekarang, urusanmu, ‘kan? Aku tunggu disini, menunggu kau menuntaskan urusanmu.”

Ia melirik punggung Luhan yang masuk kedalam bengkel, yang dalam hitungan detik segera keluar lagi. “Sudah kutuntaskan. Aku bis—“ Ucapan Luhan disela gadis itu.

“Kau tampak kacau kemarin, sekalipun wajahmu seperti sekarang; dingin, apa ada masalah?” tanya gadis itu, dengan raut penuh tanya.

“Kau tidak perlu tahu.” Luhan berketus, dengan dingin.

Gadis itu tampak penasaran, terlepas dari wajahnya yang sebelumnya jutek menyebalkan, dia berubah menjadi begitu manis dan cantik. “Ayolah!” katanya. “Kau tahu, menceritakan masalahmu dengan orang bisa membuat masalahmu berkurang—karena kau akan membaginya dengan orang lain. Tidak apa-apa, kok, kau membaginya denganku. Kan, kau baru saja menabrak mobilku, masalahmu bertambah dobel, ‘kan?”

Harus Luhan akui, gadis itu pandai dalam membujuk. Dan Luhan sendiri, pandai dalam hal terbujuk.

“Baiklah,” Luhan menyerah. “Ketiga orang yang kucintai baru saja meninggal, sehingga aku merasa begitu banyak masalah. Bisa kau bayangkan? Tiga orang sekaligus! Yang kucintai, keluargaku!” kata Luhan.

Si Gadis menepuk bahu Luhan. “Aku pernah merasakannya, tapi tidak tiga sekaligus. Hanya seorang,” katanya pelan. “Ah, kau merasa lebih ringan sekarang?”

Luhan mengganguk, sedikit menyunggingkan senyumnya. “Kupikir ini aneh. Kau mengenalku dan tahu namaku, dan sepertinya aku sendiri tidak tahu mengenaimu.”

Gadis tersebut membelakakan matanya. “Kau yakin tidak tahu? Ah, pasti kau kuno dalam hal fashion,” kata gadis itu, menyusuri Luhan dari ujung sepatu, sampai ujung kepala. “Aku Im Yoon Ah, puteri dari pemilik ‘J&Y’, dan aku, menjabat peran sebagai desainer pakaian wanita disana. Tidak hanya pakaian, bahkan aksesorisnya.” Dia tersenyum, dan menjulurkan tangan, “Kita belum berkenalan, ‘kan?”

“Ah, ya. Itu menjelaskan mengapa kau begitu modis,” kata Luhan, membalas uluran tangan Yoona. Gadis itu tersenyum. “Dan jutek.”

Yoona mendengus, “Astaga.”

“Kalau kau adalah desainer jutek-modis asal ‘J&Y’, maka aku pemilik sekaligus kepala chef tampan asal God of Food, senang berkenalan denganmu.” Luhan tersenyum. Dan Yoona menjulingkan bola matanya.

“Tampan katamu? Alih-alih tampan, mengapa aku melihat sosok cantik didepanku, ya?” ejek Yoona.

Luhan memelototi gadis itu, yang mulai tertawa lepas. “Itu tidak lucu, Jutek,” tukas Luhan.

Yoona meraih tangan Luhan, dan tersenyum riang. “Kau mau jalan-jalan?” tanya Yoona. “Aku tahu tempat yang cocok untuk menghilangkan beban; yang benar-benar akan menghapus bebanmu walau sementara! Ayo ikut aku!” kata Yoona, dan segera menarik tangan Luhan, masuk kedalam mobil pemuda itu.

Luhan melirik gadis itu, Dia pikir yang punya mobil siapa?

//

Yoona menyuapkan seseondok es krim rasa strawberry kedalam mulutnya. Ia lalu mengerjap, merasakan betapa lembutnya tekstur es-krim tersebut ketika bertemu papila lidahnya. “Tidakkah ini enak?” katanya, memandang Luhan yang sedang menyolek permukaan es krim cokelat miliknya.

Keduanya sedang berada dikafe spesial es krim ‘Creamy Cafe’, diteras lantai atas, lebih tepatnya. Tempat dimana kau disuguhkan beberapa jenis es krim dengan topping spesial dan diteras lantai atas, kau diperlihatkan lukisan alam yang menampilkan jejeran bukit hijau, hembusan lembut angin, gumpalan halus awan, dan langit berwarna biru cerah.

“Aku selalu disini ketika ada masalah.” Yoona tersenyum, melirik arah bebukitan. “Aku senang melihat bukit-bukitnya, dan semak-semak dengan bunga cantik yang bersembunyi dibalik pepohonan. Apalagi ketika angin meniup kearahku, semuanya semakin nikmat!” kata Yoona, kembali melirik pada iris cemerlang Luhan.

Luhan mengganguk, dan menyendokkan sesuap es krim kedalam mulutnya. Memang enak, seperti kata Yoona. “Lumayan,” kata Luhan. “Aku harus mencoba menambahkan es krim dalam menu restoranku.”

“Itu bagus.” Yoona menimpali, “Buat yang enak, atau aku tidak akan datang kesana.”

“Memangnya aku membuat es krim hanya untukmu?” kata Luhan, mengangkat salah satu alisnya.

“Dan aku akan membuat ulasan buruk, jadi kau harus membuatku menyukainya dulu, baru aku akan memberi ulasan yang bagus dan akan mempromosikannya pada teman-temanku,” kata Yoona. “Untuk saran, kurekomendasikan ada 6 rasa. 3 rasa yang sudah biasa ditemui, dan 3 lainnya yang belum familiar. Tidak ada salahnya, ‘kan, menyebrangi sisi aman?”

Luhan mengganguk. Dan menyuapkan sendok es krim keduanya. “Dan menurutmu, untuk topping?”

“Terserah.” Yoona mengangkat bahu. “Kalau rasanya sudah enak, topping hanya berguna untuk semakin memperlezat atau terkadang hiasan. Coba saja yang cocok, kalau tidak cocok, malah tidak enak. Tapi ini opini pribadi,” tukasnya.

“Hm, kau memang penikmat es krim sejati,” kata Luhan. Entah maksudnya meledek, atau memuji. Tapi, Yoona menggangapnya sebagai pujian.

“Terimakasih.” Yoona tersenyum, dan menyendokkan es krim kedalam mulutnya. “Aku selalu menyukai es krim sejak umurku 5 tahun. Apalagi dengan ceri! Ah, ya. Di es krimmu, juga harus ada ceri, maka aku akan memberi nilai A plus, plus, plus, plus, plus, plus, plus!” katanya, dan memberi aksen imut pada kata ‘plus’.

Luhan tertawa kecil. “A plus plus saja tidak ada. Bagaimana bisa sebanyak itu plusnya?” ledek Luhan.

Yoona tersenyum lebar. “Aku sukses membuatmu tertawa!” kata Yoona. “Plus sebanyak itu hanya agar orang-orang mau membeli, apalagi ulasannya bagus. Kau tidak ingin, ‘kan, kuberikan nilai A minus, minus, minus, minus, minus, minus?”

“Terserahmu saja, deh.” Luhan berkata, sampai akhirnya memikirkan sesuatu. “Bagaimana dengan mobilmu? ‘Kan, kita tinggalkan dibengkel?” tanyanya.

“Tidak apa-apa. Toh, selesainya besok. Rusaknya cukup parah. Terimakasih sudah mau telat waktu, tapi kemarin kau benar-benar menyebalkan. Ingin ganti rugi, sih, iya. Tapi bagaimana bisa kau ganti rugi tapi memberiku ancaman? Kau benar-benar dingin kemarin, jadi aku tidak menduga kau bisa sehangat ini,” kata Yoona, mencerocos panjang lebar.

Luhan menyunggingkan senyum kecil. “Jadi, hutangku terbayar, ‘kan?”

“Belum.” Yoona berkata. “Aku selalu sendirian dirumah, jadi aku butuh teman. Kau ingin, ‘kan, menjadi teman untukku?” pintanya.

Luhan mendengus. “Mustahil ada yang namanya teman diantara pria dan wanita,” katanya.

“Jadi kau ingin kita berpacaran?” tanya Yoona, meledek.

Luhan menggeleng, melirik Yoona. “Kau salah tanggap sepertinya. Aku cuma bercanda tadi. Tapi baiklah, aku akan jadi temanmu. Tidak perlu meminta, aku sudah anggap kita sebagai teman,” kata Luhan. “Idemu lumayan bagus, dirumah, aku juga tidak perlu teman.”

Yoona tertawa. “Sepertinya kita jodoh,” katanya, bercanda.

Luhan tersenyum. “Ya, sepertinya.”

//

Luhan memasuki restorannya kala waktu sudah setengah sebelas. Tampak Suho—salah satu bawahannya disana sedang menghias ‘temuan’ barunya. Seperti biasa, Suho akan berusaha mempraktekan suatu resep baru—terkadang membuatnya sendiri—, bila menurutnya enak dan punya tipikal ‘God of Foods’, maka tanpa ragu Suho akan memasukannya dalam list menu. Namun, terkadang ia harus membahasnya dengan sang pemilik; Luhan.

“Halo, Suho,” sapanya, menyapa sahabat karibnya tersebut.

Suho berhenti menghias makanannya, dan mendongak, melihat sahabat karibnya tersebut. Ya, Luhan dan Suho memang sahabat karib semasa SMA-nya. Ketika Luhan mendirikan restoran tersebut, Suho mendaftar lowongan kerja tanpa mengetahui Luhan adalah pemiliknya. Dan manisnya, keduanya kembali bertemu.

Dia menarik kursi, dan menaruh resep barunya dimeja. “Hei, kau baru saja berkencan, ya?” kata Suho, dengan senyum yang berupaya menggoda Luhan.

Luhan membelakakan matanya. “Apanya yang kencan?” protesnya.

Suho tersenyum dan menunjukkan layar smartphonenya. “Ini apa? Kau bersama seorang gadis, berdua saja. Astaga …! Luhan sudah besar rupanya, ya?” ledeknya. “Aku saja belum berkencan, bagaimana bisa kau mendahuluiku?”

“Itu bukan kencan, dia memaksaku,” protes Luhan. Lalu dia menyuap makanan buatan Suho, dan menelannya. “Kau akan menjadi kepala chef sekarang. Dan untuk catatan; aku juga lebih tua darimu.”

Suho membelalak. “Ada apa tiba-tiba?” Kadang-kadang, Luhan bisa menyuruh ini-itu seenaknya saja, dan kadang-kadang hal itu membuat Suho berpikir pemuda itu main-main dengan posisinya. Seperti bermain boneka saja—namun, keputusan Luhan berarti adalah sesuatu yang harus dijalankan, dan sifatnya final; itu pendapat Suho dan beberapa bawahan Luhan lainnya.

Luhan meregangkan ototnya. “Aku akan pulang, kamu yang tutup, oke, Kepala Chef Kedua?” kata Luhan, masih seenaknya. Dan yang membuat Suho semakin kagum; pemuda itu bisa membuat jabatan baru kapan saja, semaunya, tanpa tahu itu hal yang lumrah maupun pasti.

//

Busan, 11.32

Rim Ahjumma menyapu kamar Tuan dan Nyonya Lu, dan menyadari sesuatu berada dimeja kerja Tuan Lu. Matanya membulat, mengingat sesuatu, dan ia segera menyimpan barang pentingnya tersebut. Ia segera berjalan keluar, menuju rumahnya.

“Aku harus memberitahu Luhan, segera,” tekadnya dengan nada suara panik.

Namun, Rim Ahjumma tampaknya tidak menyadari. Dibalik sebuah pohon mapel, seorang pria berkepala botak sedang melihat apa yang dilakukan wanita paruh baya tersebut, dan segera menghidupkan ponselnya.

“Halo? Panggil dia, kita harus membereskan mengenai pembunuhan ini—seseorang mengetahuinya, dan camkan. Ini darurat. Panggil dia, panggil dia!” bentaknya, sampai akhirnya ia mematikan teleponnya kembali, dan menghilang ditelan malam.

To Be Continued

Halo~ Aku tahu, kok, ini cepat banget. Ini sedikit menjelaskan mengenai ‘siapa Mei’ itu, ‘kan? Aku lagi buat konsep awal buat part keduanya. Lama apa enggak, sih, lanjutnya? Hm, aku enggak tahu juga. Tapi besar kemungkinannya, sih, lama😀 Berhubung aku orangnya itu kadang-kadang suka menunda (duh, jangan ditiru, bukan contoh yang baik~), dan kadang-kadang suka kena wabah writter-block (itu mah, nyebelin banget, udah datang, enggak ada salam, datang-pergi seenaknya gitu -_- #ya emang writterblock orang, datang-pergi salam#

Buat part berikutnya, tunggu aja ya❤ Lama iya, cepat enggak :’D Maaf kalau ada typo (tadi sempet diedit ulang, ada bahasa yang belibet, tapi buat typo enggak sempat dicek, males~ (jangan ditiru ya :3) Dan maklumi kemalasan saya ._.v Dan maaf kalau part ini nyatanya masih gajelas dan belibet alurnya😀 Annyeong~

by the way, maaf karena ini terlambat sehari dari yang aku janjikan. aslinya mau kemarin, tapi koneksinya buruk masa .-. ya sudah, sekarang aja, sekalian, mau edit sedikit dulu😀

luckyspazzer

32 thoughts on “Secret [1]

  1. Jangan-jangan pembunuh ortu Yoona sama Luhan sama lagi wkwkk
    Siapa sih pembunuhnya? Penasaran dengg😱😱

    Ditunggu next chapnya thoorr
    Update soon yakk
    Keep writting😁😁

  2. Wah penasran sebenernya siapa dan apa motip tu pembunuh,, huwaaa aku suka karakter yoona disini, ditunggu lanjutannya jangan lma-lma ne😀

  3. Penasaran sama kelanjutannya, apakah akan ada konflik ? aku harap ada tapi tentang percintaan ya thor
    Next chapter jangan lama-lama dan lebih panjang lagi dong thor.
    Keep Writing

  4. Sebenernya siapa sih orang yg udah bunuh keluarga luhan?😱 aku suka deh sama karakter yoona disini friendly gitu walaupun terkesan sksd juga sih haha. Ditunggu kelanjutannya author^^

  5. Wah, kterlaluan nih LuYoonya😀 kterlaluan d’sni it bkn ap, tp stiap mrka brtemu kyak jdoh gtu aplg lngsung akrab dan Yoona menyuruhnya mnjd tman.
    Siapa sih pembunuh it? Tega bnget. Tp kyaknya dia pembunuh byaran krn dia mau brhenti dr pkerjaan kejinya it.

    next chap d.tnggu ^^
    fighting!
    Keep writting thor!

  6. Wah, kterlaluan nih LuYoon nya😀 kterlaluan d’sini it bkn ap, tp stiap mrk brtemu kyak jdoh gtu aplg lngsung akrab dan Yoona menyuruhnya menjd tman.
    Siapa sih pembunuh it? Tega bnget. Tp kyakx dia pembunuh byaran, krn dia mau brhenti dri perbuatn kejinya it.

    Next chap d.tnggu ^^
    fighting!
    Keep writting thor!

  7. keren thor… ak suka ff y… jd makin penasaran… adik luhan tau kl pembunuh it akn bunuh dia.. mk y nyuruh luhan pergi… di tggu kljtn y…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s