(Freelance) Don’t Call Me Idiot : Protect You

qawaqawaqawaa@HSG

(Series) Don’t Call me Idiot : Protect You

Author : AlienGator02

Main Cast : Im Yoona, Oh Sehun, Big Gangster, Xi Luhan, Kris Wu

Other Cast : Find it by Your self

Genre : Fiction, AU, Sad, Naughtiness

Length : Series

Poster : qawaqawaa @HSG

Rating : General

Disclaimer : This story is pure my idea.

A/n : I don’t coerce you to leave the comment.

Warning : Ada beberapa italic yang mengandung makna flash back, namun juga ada yangtidak. Becareful!

Happy Reading

**~~**~~**

 

Lelaki itu sibuk berkutat dengan lembaran kertas dimejanya. Kedua matanya terfokus pada ribuan tulisan yang ada di atas kertas itu. lelaki berotak Einstein itu seolah tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.

Seluruh pasang mata menatapnya iri, mereka yang ada dikelas XI-H itu terus menggunjingkan lelaki berotak Einstein itu. Semua siswa dikelas itu berharap agar Sehun segera mati, ataupun pergi dari Coreland. Jika sampai Sehun keluar, pasti mereka bisa mendapat peringkat yang lebih bagus.

“Park Seonsaengnim datang!” teriak seorang murid bermarga Jung itu.

Seluruh siswa dikelas XI-H membungkuk hormat. Namun ada seorang siswa yang tidak membungkuk, lelaki yang tak lain adalah Sehun sibuk pada buku bacaan yang ia baca. Semua pikirannya hanya tertuju pada buku tersebut.

Sebuah bolpen melayang mengenai kepala lelaki bertampang aneh itu. Sehun segera mendongak, kedua matanya menatap kaget seorang guru tua berkaca mata tebal. Sehun segera berdiri lalu membungkuk, ia mengucap “Saem maaf… bodoh.. Sehun,”

Park Seonsaengnim sang guru killer yang dibenci oleh semua siswa menatap Sehun garang. Ia mengucap kalimat kasar pada murid yang tidak berdosa itu, “Kau!! Cepat kau keluar dari kelas ini! Tidak salah jika semua siswa Coreland membencimu! Apa kau tidak sadar jika kelakuanmu sangat tidak sopan? Apakah otakmu gila?”

“Hahahaha~” tawa semua siswa di kelas itu.

Sehun menunduk, sebenarnya ia lelah dengan semuanya. Ia lelah dengan semua orang yang menghujatnya. Sehun mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Tiba-tiba saraf otak Sehun menyuruhnya untuk melempar pulpen tersebut kearah Park Seonsaengnim.

Gemparlah semua siswa dikelas ketika melihat Sehun melempar sebuah bulpen pada guru killer. Beberapa dari mereka memanfaatkan kesempatan yang tidak akan datang sekali. “Keluarkan anak idiot itu saem?!”

“Benar! Keluarkan! Dia tidak pantas di sekolah elit ini! Apa jadinya jika Coreland yang terhormat menampung siswa berotak idiot itu!”

Sehun terdiam. Tidak! Ia tidak pernah ingin untuk melempar bullpen itu pada Park seonsaengnim. Sehun adalah anak yang patuh akan aturan, ia tidak pernah berani dengan siapapun. Tapi tadi saraf yang ada ditangannya melakukan itu semua. Sehun tidak berbuat apapun. Sungguh!

“Maaf… Tidak.. itu Sehun.. bukan.” Ujar Sehun sambil membungkuk,

“Kau memang pantas untuk dikeluarkan dari sekolah ini anak idiot!” bentak Park seonsaengnim.

Sehun bersimpuh di kaki Park seonsaengnim, air mata milik Sehun kembali mengucur. Ia meminta Park seonsaengnim agar tidak mengeluarkannya. Jika sampai ia dikeluarkan dari Coreland. Sehun tidak akan pernah bisa bersekolah lagi, mana ada sekolah yang mau menerima anak yang berwajah tampan sejenius Einstein.

“Sehun.. m-mohon.. tidak sadar, sungguh!”

Park Seonsaengnim menendang Sehun dengan kakinya hingga membuat lelaki sejenius Einstein itu tersungkur ke lantai. Dengan mata elangnya Park seonsaengnim membentak “Pergi kau dari kelas ini! Jangan pernah mengikuti kelasku!”

Sehun menunduk ia bangkit dan pergi dari kelas terkutuk itu diselingi dengan ribuan cacian dan hinaan yang masuk ke telinga Sehun. Bahkan satu dari jutaan cacian yang paling menyakitkan adalah, “Aku tidak tau bagaimana orang tuanya mau menerima jika idiot itu adalah anaknya.”

Sehun sadar bahkan sangat sadar, ia tau kenapa semua orang menatap jijik padanya. Ia tau kenapa semua siswa membencinya. Ia juga tau kenapa Coreland mau menerima siswa bertampang idiot seperti Sehun. Karena satu hal, mereka ingin memanfaatkan kecerdasan Sehun dengan perantara orang lain.

 

Sehun menaiki tangga itu, bahkan jika boleh berharap ia sangat ingin jatuh dari tangga itu. Lelaki sejenius Einstein itu ingin tau apakah masih ada orang yang mau menoleh kearahnya? Sehun tersenyum miris. Perbandingan yang mau menolong Sehun dan yang tidak adalah satu dibanding satu juta.

Sehun sampai di balkon itu, ia merentangkan kedua tangannnya dan merasaka angin yang menerpa wajah tampannya. Ia menatap langit yang terus cerah di hari ini, ia tersenyum seolah dirinya tidak peduli apa yang telah terjadi.

Lelaki bertubuh tinggi itu tertawa keras, hampir terbahak-bahak. Tapi tidak dengan mata dan hatinya. Walaupun raut mukanya tampak kebahagiaan namun tidak dengan hatinya. Hatinya perih, sangat perih, ia kesakitan dan lemah.

Sehun terduduk, ia meratapi semua nasibnya. Ia mengingat ketika ibunya yang meninggal karena sebuah kanker ditubuhnya. Ia ingat dengan jelas ketika ia memohon pada ayahnya untuk segera mengoperasi ibunya, Sehun justru mendapat cacian.

Bahkan ketika ia tinggal di Amerika siswa disana juga membully Sehun. Bahkan lebih, tidak ada satupun orang yang peduli pada Sehun.

Tapi tidak, Sehun tidak pernah membenci sedikitpun orang yang membully-nya. Sehun tidak pernah membenci Hyung dan Appanya yang menelantarkan Sehun. Lelaki itu juga tidak pernah membenci takdir yang diberikan oleh tuhan.

Karena satu hal yang menjadi pedoman Sehun, walaupun seluruh manusia di dunia ini membencinya. Walaupun Jung ahjumma yang sangat baik pada Sehun berubah menjadi seorang yang sangat membencinya. Sehun tidak apa, ia rela dibenci semua orang dan dikatakan idiot. Karena satu hal Tuhan akan selalu melindungi Sehun, karena Sehun tau jika Tuhan selalu ada disamping Sehun ketika ia sendiri.

Sebuah kapur masuk ke indra penglihatan Sehun, lelaki itu tersenyum dan mengambilnya. Ia mencoret-coret tembok dengan kapur itu, ia menuliskan semua rumus yang ada diotaknya. Lelaki itu juga membuat soal yang sulit untuk dirinya sendiri.

 

X2 – 5x – 6 = ?

-5(X-4) > 3(12-X) = ?

**~~**~~**

Banyak siswa dari Core land tengah tertidur di kelas. Mereka seolah tak menghiraukan sebuah kicauan dari seorang seonsaengnim tersabar di dunia. Salah satunya adalah lelaki bernama Park Chanyeol. Lelaki itu tengah menguap lebar dan melenguh pelan.

“Aissh! Benar-benar, kenapa Jung Seonsaengnim tidak cepat pergi saja? Bukankah ia tau jika aku sangat bosan dengan pelajaran menjijikkannya itu –Fisika-” dengus Chanyeol.

Kini giliran seorang pewaris tahta perusahaan ternama dunia menimpali –Do Kyung Soo- “Benar, bagaimana jika kita izin pergi saja?” tawar Kyung Soo pada teman sebangkunya itu.

Lelaki ber-eyeliner tebal itu mengusap dagunya pelan, menunjukkan sisi imut dan coolnya secara bersamaan. “Kau benar! Baiklah ayo jalankan rencana kita!”

Sret!

Semua perhatian mengarah ke seorang Do Kyung Soo yang tiba-tiba berdiri sambil mengangkat tangannya tinggi, lelaki bermata bulat itu langsung memegang perutnya dan ber-akting kesakitan, “Seonsaengnim. Perut, saya.. sudah tidak kuat, saya tidak bisa menahan ini.”

Jung seonsaengnim menghela nafas pelan, ia tersenyum tipis. “Baiklah kau bisa-”

Dan dengan lantangnya lelaki ber-eyliner tebal menyela dengan sangat tidak sopan.

“Ah, Seonsaengnim. Saya tak kuat menahan cairan ini.” Seorang Baekhyun menyela sambil ber-akting memegang- Kau tau apa yang dimaksud bukan?

 

Jung seonsaengnim tersenyum melihat tingkah kekanakan mereka, ia mengangguk pelan. “Kalian bisa ke-”

Mungkin setelah ini Jung seonsaengnim akan meledak ketika mendengar ucapan tak sopan. “Seonsaengnim! Aku tidak ingin ke toilet, aku hanya mau keluar dari kelas yang membosankan ini! Aku malas mendengar ocehanmu saem.” Terang Chanyeol.

Sementara itu Kyung Soo dan Baekhyun hanya melongo mendengar penuturan sahabat besarnya itu, bagaimana mungkin seorang Park Chanyeol cucu dari seorang presiden republic korea selatan berkata seperti itu?

Tanpa rasa bersalah lelaki ‘giant’ itu melenggang pergi diikuti kedua sahabatnya yang masih mempertahankan acting mereka. Jika kalian bertanya reaksi Jung Seonsaengnim, beliau hanya mengelus dada dan menggumam kata ‘Murid yang tidak patuh aturan’ pikirnya.

**~~**~~**

Seorang gadis tengah berkeliaran di lorong-lorong kelas. Ia sama sekali tidak peduli jika suara langkah kakinya yang mengganggu para siswa yang sedang berkutat dengan angka-angka yang membuat mual.

Gadis yang tak lain bernama Im Yoona membawa sebuah gitar coklat tua dibalik tubuhnya. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat kesukaannya untuk bermain gitar. Yoona malas mengikuti pelajaran yang memuakkan baginya, toh tidak ada guru yang berani pada dirinya. Karena Yoona adalah anak dari pemilik sekolah ternama yang tak lain adalah Coreland.

Yoona yang tomboy itu menaiki deretan tangga yang menjulang untuk menunjukkan sebuah tempat yang sangat nyaman. Ketika ia menaiki deretan tangga yang terakhir, sebuah suara masuk ketelinganya.

Suara rintihan kesakitan dan suara gelak tawa yang asing. Yoona mengusap tengkuknya, pikiran negatif mulai berkecamuk dalam otaknya. Sedikit rasa takut juga menghampirinya. Haruskah Yoona mengurungkan niatnya dan kembali?

**~~**~~**

Lelaki bername tag Oh Sehun itu terus berkutat dengan sebuah batang kapur putih yang ada ditangannya. Ribuan rumus muncul di otaknya hingga sebuah lengkungan tipis muncul di bibirnya. Ia membuat sebuah formula matematika yang sangat sulit.

“Hei anak idiot!”

Sebuah suara masuk ke telinga milik Sehun, lelaki jenius itu mendongak. Terlihat tiga orang lelaki berdiri tak jauh di hadapannya. Rasa ketakutan mulai menghampirinya. Sehun mengigiti kukunya secara refleks.

Kepalanya menunduk membuktikan jika ia tengah ketakutan, Sehun terus mundur selangkah demi selangkah. “Jangan… pergi!” hanya kalimat itu yang bisa ia lontarkan.

Sekelompok Gang yang sangat Sehun takuti kini mendekat kearahnya. Gang itu bukanlah gang yang di pimpin oleh seorang lelaki tinggi yang bernama Chanyeol. Bukan! Mereka bukan Big gangster!

Kedua iris hazel milik Sehun menatap seorang lelaki berkulit putih yang berdiri disamping lelaki berkulit gelap itu. Lelaki yang tak lain adalah kakaknya sendiri menatap tajam kearahnya.

Sehun menatap mereka pasrah. Lelaki dengan otak Einstein itu tau apa yang akan terjadi pada dirinya. Sehun tak berani menolak ataupun menghindar dari gang yang satu ini.

Sebuah kelompok yang terkenal akan kekayaannya. Sehun menunduk ketika sepatu seorang Kai ada dihadapannya.

Kai menendang kaki Sehun dengan keras. Hingga lelaki jenius itu mengerang kesakitan. “Apa kau terlalu idiot untuk mengetahui jika tempat ini adalah markas kami?”

Sehun menggeleng keras lalu tertawa keras, “Tidak… bukan seperti itu.”

Kini giliran lelaki yang sangat dikenal Sehun tertawa dengan lengkungan sinis di bibirnya. Lelaki yang tak lain berstatus sebagai kakak kandungnya sendiri mengangkat wajah Sehun agar menatap seorang kakak yang tidak mau menganggap adiknya sendiri.

“Tidak! Bukan seperti itu! tidak! Bukan seperti itu!” ejek Luhan sambil tersenyum sinis.

Gelak tawa muncul dari bibir kedua lelaki yang berdiri dihadapan Sehun. mereka terus mengejek Sehun dengan mengulang kalimat yang telah dilontarkan oleh Sehun sebelumnya. Ayolah! Ada yang salah dengan kalimat Sehun?

“Hahahah! Anak ini memang idiot!” tanya lelaki yang bernama Kris Wu.

“Bukan.. Savant syndrome.. idiot.. bukan.” Terang Sehun.

Kris tersenyum meremehkan. Lelaki keturunan Canada itu menarik kerah Sehun dan menatap tajam iris hazel itu, “Tidak. Kupikir kau bukanlah anak yang terkena savant syndrome, tapi kau itu memang idiot! Apa keluargamu juga begitu hmm?”

Luhan membeku. Ia menatap seorang Sehun dengan geram. Ia tidak menyalahkan Kris yang telah menghinanya, tapi ia menyalahkan Sehun. Seorang lelaki penghancur yang naasnya berstatus sebagai adik seorang Luhan.

“Kupikir orang tuanya tidak mau menganggapnya sebagai seorang anak. Bahkan jika aku menjadi Hyungnya, aku akan membunuhnya dengan cara yang kejam.” Timpal Luhan,

Cukup! Sehun kesakitan. Berapa banyak cacian yang ia terima dari semua orang? Tidak bisakah lelaki yang berstatus sebagai kakaknya sendiri menolehkan sedikit perhatiannya pada Sehun? Tidak bisakah?

Sehun menatap ketiga orang lelaki yang berdiri dihadapannya. Sehun bisa menangkap pancaran meremehkan dari mata mereka. Buliran air mata mulai mengucur dari pelupuk mata milik Sehun. Walaupun matanya tengah menangis namun tidak dengan bibirnya. Bibir mungil milik Sehun justru menampakkan lengkungan senyum.

“Hentikan! Hahaha! Sehun.. anak baik,” ujarnya.

Bugh~

Entah apakah Luhan gila atau tidak. Tanpa alasan apapun Luhan memukul adiknya sendiri. Lelaki berwajah innocent itu tersenyum sinis sambil melontarkan kalimat,

“Aku benci melihat kelakuanmu yang idiot itu! sungguh! Aku tidak tau bagaimana bisa kau bermarga Oh! Bisakah kau menghapus marga itu? itu menjijikkan! Bahkan aku rela membunuhmu dengan tanganku agar aku tidak melihat wajah idiotmu itu.” cerca Luhan.

Kris tersenyum sinis lalu mengangguk. Tangan besar milik Kris menjambak lelaki yang tidak berdosa itu. “Kau benar! Lelaki ini sangat tidak pantas ada di Coreland. Tapi kenapa lelaki idiot ini masih disini?” tutur Kris.

“Kupikir Coreland memberi kita mainan. Bukankah Coreland tau jika kita sangat bosan dengan sekolah ini?” terang Kai.

Tendangan keras membuat Sehun tersungkur di lantai marmer itu. Sehun meringis kesakitan ketika Kai menendangnya dengan sangat keras. Belum lagi luka di wajahnya belum sembuh total. Kapan Sehun akan kehilangan luka di wajah dan tubuhnya jika setiap harinya semua siswa mengganggu Sehun?

Air mata milik Sehun mengucur dengan deras. Lelaki bermarga Oh itu tidak peduli dengan usianya yang sudah tujuh belas tahun. Sehun tau kenapa Hyung-nya membencinya. Sehun juga sangat tau jika ketiga lelaki didepannya ini ingin mempermainkan Sehun.

“Oh My Godness! Anak idiot ini menangis?” tanya Kris.

“Kuharap kau tidak mengadukannya pada orang tuamu. Ah, bahkan orang tuamu pasti tidak mau menunjukkan jika kau anaknya.” Tutur Kai.

“Hentikan perbuatan kalian!”

Sebuah suara malaikat yang masuk ketelinga Sehun mampu membuatnya bernafas lega. Seorang gadis berambut pirang dengan gaya tomboynya berdiri di belakang ketiga lelaki berketurunan konglo merat.

Ketiga lelaki tampan yang terbentuk dalam Delinquency gang menoleh ketika sebuah suara gadis masuk ke telinga mereka. Luhan tersenyum sinis ketika melihat gadis yang berpenampilan aneh itu.

“Oh! Ternyata anak ini, seorang Im Yoona anak dari pemilik Coreland yang berpenampilan seperti wanita murahan?” ejek Luhan.

“Kau benar tuan Oh Luhan! Aku adalah anak yang kau anggap sebagai wanita murahan itu! Cih, kau seperti tidak sadar jika kau jauh lebih buruk dariku. Kupikir seharusnya yang dipanggil idiot disini adalah kau tuan Oh!” ujar Yoona sambil menunjuk Luhan dengan dagunya.

“Apa kau bilang?!”

Tangan milik Luhan terangkat untuk menampar gadis yang bermarga Im itu. Memang benar apa yang dikatakan Yoona jika Luhan sangat pantas dipanggil idiot dibandingkan Sehun, Bagaimana mungkin seorang lelaki berkelakuan seperti itu?

Tangan milik Luhan ditahan oleh seorang lelaki yang sering dipanggil idiot itu. Lelaki yang tak lain adalah Sehun berbicara dengan logatnya. “Wanita.. tidak boleh… Eomma.. ingat,”

“Cukup! Ayo kita tinggalkan dua orang idiot ini!” ajak Kai.

Sehun menatap kepergian tiga orang yang telah menghina dan mencacinya. Namun kedua matanya teralihkan pada sesosok wanita yang sedang berdiri dihadapannya itu.

Sehun melihat gadis itu mengeluarkan sebuah benda dan melemparkannya tepat diwajah Sehun. Gadis yang tak lain bernama Im Yoona itu menatap Sehun tanpa rasa iba sedikitpun.

“Obati lukamu itu dengan plester yang kuberikan.” Tutur Yoona.

Sejujurnya Sehun berharap Yoona akan menolongnya dan bertanya apakah Sehun baik-baik saja? Tapi itu hanya harapan palsu Sehun. Lelaki jenius yang menderita Savant syndrome itu tertawa mengingat fakta jika tidak akan ada orang yang mau menolongnya.

Yoona berbalik, namun sebelum itu ia mengucap. “Anggap kita impas! Kau telah menolongku dulu.” Ujarnya sambil berjalan meninggalkan Sehun sendiri.

“Gamsa… habnida.. Y-Yoona-sshi,” ujar Sehun sambil membungkuk beberapa kali.

Yoona tersenyum kecil ketika mendengar perkataan Sehun. memang jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin menolong lelaki itu dan mengobati lukanya. Tapi, ada satu perasaan aneh ketika langkah kaki milik Yoona mulai menjauh dari lelaki bernama Sehun itu. sebuah perasaan ingin melindungi.

**~~**~~**

 

Ketiga lelaki itu tertawa seraya mengejek satu sama lain. Mereka adalah sekumpulan lelaki tampan yang berjiwa bak pemimpin. Oh tidak! Jangan lupa dengan lelaki yang tidak lain adalah cucu dari presiden Korea Selatan, Park Jun Hyung.

Salah satu dari mereka melihat langit yang sangat cerah. Bahkan sinar mentari yang menyengat membuatnya mengeluh pelan, tangan porselen milik Baekhyun mengambil sebuah benda yang berwarna pink dari saku jas nya.

“Astaga Tuan Byun! Apa yang kau lakukan dengan kipas pink itu? Memalukan!” tutur seorang Kyung Soo sambil menatap jijik kearah Baekhyun dan dibalas decihan oleh lelaki berwajah imut itu.

Chanyeol selaku ketua gang menghela nafas pelan. Ia menyerobot kipas yang sedang digunakan oleh Baekhyun, “Kau benar-benar! Apa kau tidak sadar jika sebagian siswa di Coreland ini takut kepada kita! Sungguh menjijikkan! Kau pantas dipanggil idiot”

Baekhyun melongo ketika Chanyeol menyerobot kipas pink miliknya. Tidak! Yang lebih mengagetkan lagi, bagaimana mungkin orang yang telah menghinanya karena menggunakan kipas itu. kini berbalik menggunakan kipas yang katanya menjijikkan! Ayolah siapa yang gila saat ini?

“Hya! Dasar telinga gila!” ejek Baekhyun.

“Dasar anak idiot!” tutur Chanyeol.

Baekhyun mengepalkan kedua tangannya dan memukul lengan Chanyeol keras membuat lelaki bermarga Park itu mengaduh kesakitan. “Aku bukan anak idiot bodoh! Seharusnya kau yang idiot telinga gila!”

Chanyeol menatap tajam Baekhyun. Ia sama sekali tidak berniat untuk melanjutkan pertengkaran konyol ini. Helaan nafas tercipta dari bibir Chanyeol. Hari ini ia merasa bosan, ia butuh hiburan.

“Idiot itu masih di kelasnya kan?” tanya Chanyeol.

Kyung Soo menatap kearah Chanyeol. “Tidak biasanya kau bertanya tentang idiot itu.” sindir Kyung Soo.

Chanyeol tersenyum tipis. Sebenarnya ia juga merasa kasihan terhadap Sehun. banyak sekali orang yang membencinya. Sejujurnya, lelaki bermarga Park itu kadang tidak tega jika melihat hinaan yang diberikan ke Sehun. tapi ia juga ikut menghina Sehun karena ia merasa jenuh dan bosan. Dengan menjahili atau membullying anak itu, ia sedikit terhibur. Alasan yang cukup konyol! Untuk membully anak yang tidak berdosa.

“Bagaimana jika kita memberikan Greek gift padanya?”

Chanyeol menatap kearah Baekhyun yang telah melontarkan kalimat itu. Chanyeol berpikir mungkin sedikit ‘greek gift’ tak apa kan?

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Kyung Soo.

Baekhyun tersenyum smirk. Ia sudah merencanakan sebuah rencana yang matang di pikirannya. “Lihat saja nanti! Kajja kalian ikut aku,” ajak Baekhyun.

**~~**~~**

 

Sehun menempelkan plester itu ke ujung bibirnya yang sedikit membengkak. Lelaki itu mengaduh pelan ketika rasa perih menjalar di permukaan wajahnya. Setelah itu Sehun bangkit dari duduknya dan berjalan menuruni tangga.

Langkah demi langkah ia tempuh, Sehun menatap iri siswa yang berkutat dengan angka. Hari ini adalah pelajaran yang menjadi favorit Sehun. yakni Matematika, ribuan rumus dengan alfabet yang sangat menarik untuk dipecahkan. Menurut Sehun ‘Matematika adalah Sebuah Game’

Sehun mengintip pelajaran yang ada di kelas lain melalui jendela. Lelaki bermarga Oh itu melihat seorang Seonsaengnim yang menjelaskan rumus matematika dengan sangat detail. Beberapa kali Seonsaengnim itu memberikan pertanyaan pada muridnya, namun tak ada satupun yang menjawabnya.

Sehun kembali menghela nafas kecil, ia melanjutkan perjalanannya ke Lokernya. Dalam perjalanannya kepalanya terus menunduk tak berani menatap sekitar. Namun otaknya masih saja berkutat dengan rumus-rumus yang telah dijelaskan Seonsaengnim tadi.

Menurut lelaki berotak Einstein itu. Matematika bukanlah hal yang sangat sulit. Tidak! Matematika tidak pernah membuat kita begadang semalaman dan menghafal ribuan kalimat yang membingungkan.

Matematika adalah sebuah permainan, ketika kita berada di level selanjutnya. Semakin banyak rintangan dan otak kita harus berpikir lebih keras. Sehun mencintai matematika sama seperti ia bermain Playstation. Bukankah lebih baik bemain dengan Matematika dibanding dengan play station?

Kedua mata milik Sehun menatap loker yang terbuka. Lagi! Sehun terkejut! Loker yang terbuka itu adalah lokernya. Sekarang apalagi yang akan diterima oleh Sehun? Ribuan coretan memenuhi loker milik Sehun. tulisan tersebut menunjukkan jika ‘Idiot tak pantas disini!’. Lagi, tulisan itu dibaca oleh Sehun.

“I-idot, Kau lebih baik mati!”

Sehun terdiam. Sedikit rasa sesak didadanya, namun saraf otaknya justru menyuruhnya untuk menampilkan sebuah lengkungan senyum tipis tercipta dari bibirnya. Dan yang membuat Sehun terduduk di lantai marmer itu adalah.

Buku yang susah payah Sehun beli harus rusak. Buku tebal yang berisi rumus-rumus cipataannya basah. Sehun membuka lembar demi lembar buku itu, coretan abstrak kembali memenuhi kertas itu.

Dalam hati Sehun membatin, kenapa mereka tidak memukul Sehun saja? Kenapa mereka tidak menghina Sehun saja? Kenapa mereka tidak mengusir Sehun saja? Kenapa mereka tidak membunuh Sehun saja? Bukankah itu lebih baik?

Sehun mengambil oksigen dengan sulit. Seharusnya Sehun memang keluar dari sekolah ini menjadi anak gila yang tidak perlu sekolah. Lagi pula Sehun sekolah dengan keringatnya sendiri! Bukan meminta pada orang lain!

Sehun mengambil buku itu dan pergi dari Coreland. Lebih baik ia menenangkan dirinya terlebih dulu, masa bodoh dengan ocehan aneh seonsaengnim! Toh mereka yang membutuhkan Sehun sekolah disini. Walaupun mereka mebutuhkan kecerdasan Sehun untuk menunjukkan jika siswa Coreland tidak hanya kaya namun juga cerdas. Ayolah! Bualan macam apa lagi!

 

**~~**~~**

Langkah kaki milik Sehun membawanya kesebuah tempat yang dipenuhi anak kecil. Ratusan anak yang nasibnya jauh lebih buruk dibandingkan Sehun. setidaknya, Sehun masih bisa melihat wajah keluarganya.

Sehun tersenyum ketika mendengar tawa mereka. Gadis-gadis kecil itu tertawa dengan lepas seolah tak ada beban dipunggungnya. Anak-anak kecil yang bermain di sebuah taman panti asuhan.

Sebuah tangan menyentuh pundaknya. Sehun menoleh menatap wanita paruh baya yang tersenyum lembut padanya. Wanita paruh baya itu duduk disamping Sehun.

“Mereka mengganggumu lagi Sehun-ah?”

Suara lembut penuh kasih sayang masuk ke telinga milik Sehun. lelaki bermarga Oh itu mengangguk pelan. “Ne, mereka… buku, buku rusak. Ahjumma,” ujarnya sambil menunduk.

Jung ahjumma seorang ketua panti yang bekerja sebagai koki di restaurant ternama di Seoul. Sama seperti Sehun, hanya saja profesi mereka berbeda. Sehun hanya diberi tugas sebagai ‘Dry Cleaning’

Jung Ahjumma mengelus rambut Sehun dengan penuh kasih sayang. Wanita paruh baya yang telah menganggap Sehun sebagai anaknya sendiri itu bisa merasakan dengan jelas penderitaan yang dialami Sehun.

“Bersabarlah Sehun-ah. Hidup ini seperti roda yang terkadang diatas dan terkadang dibawah,” nasehat Jung Ahjumma.

Sehun tersenyum lalu mengangguk, kedua iris hazelnya menatap puluhan anak-anak kecil yang tertawa penuh kebahagiaan. Mereka seolah tidak sadar jika mereka belum sempat untuk bertemu orang tuanya. Dan Sehun patut bersyukur, setidaknya ia bisa bertemu dengan orang tua, Hyung, dan Jung Ahjumma.

Tangan milik Sehun meraba saku dibalik jas sekolahnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop yang berisi beberapa lembar won. Lelaki berhati malaikat itu menyodorkannya pada Jung Ahjumma.

“Ini… uang Sehun.. untuk mereka,”

Jung Ahjumma tersenyum tipis, wanita paruh baya itu tidak tau apa yang ada dihati Sehun. Mungkin hati milik Sehun terbuat dari emas yang sangat berharga. Jung ahjumma menggeleng pelan,

“Untuk apa kau beramal jika kau masih membutuhkannya Sehun-ah? Jung Ahjumma masih punya cukup uang untuk membiayai mereka semua.”

Sehun menggeleng, “Anio, Sehun menabung… untuk m-mereka.” Ujarnya.

Jung ahjumma menerima bantuan dari Sehun. ia mengelus rambut Sehun dengan penuh kasih sayang, “Kau anak yang baik. Tidak sepatutnya mereka menghinamu,” ujar Jung Ahjumma.

“Ah, aku lupa. Sehun-ah, Jung ahjumma harus menyiapkan makanan untuk anak kecil disini. Ahjumma pamit dulu,” lanjutnya.

Sehun mengangguk dan menatap kepergian Jung ahjumma. Ia memfokuskan keduamatanya pada segerombolan anak yang tertawa kebahagiaan. Hingga sebuah tangan menyentuh pundaknya dan membuyarkan lamunannya.

“Untuk apa kau disini? Bagaimana dengan lukamu?”

Sehun menatap seorang gadis yang berdiri didekatnya. Lalu Gadis bermata rusa itu mendudukkan dirinya disamping Sehun. Lelaki berotak Einstein itu tidak menjawabnya, ia terkejut ketika melihat gadis yang sangat dingin itu.

“Hya! Kenapa kau tidak membalas pertanyaanku anak idiot?” tanya Yoona sambil memukul lengan Sehun pelan.

“Sehun.. baik, baik… tidak apa-apa. Sehun anak baik,”

Yoona cukup mengerti apa yang dikatakan Sehun.

“Kenapa kau ada disini? Mereka mengganggumu lagi?” tanya Yoona.

Sehun tersenyum lebar dan mengangguk. Sehun tidak ingin membalas ucapan Yoona, karena Sehun terlalu lelah mengingat apa yang terjadi pada dirinya.

“Kenapa kau tidak keluar saja dari Coreland? Bukankah mereka selalu membully mu?”

Pertanyaan itu cukup membuat Sehun terkejut. Keluar? Dari Coreland? Bahkan ketika Sehun pertama kali menginjakkan kakinya di sekolah megah itu. Sehun ingin segera pindah dan pergi sejauh-jauhnya.

Sehun menunduk, lagi-lagi rasa sesak didadanya menjalar ke uluh hatinya. Sehun mencoba kuat. “Tidak… akan pernah bisa.” Ujarnya.

Yoona menatap Sehun. gadis tomboy itu bisa melihat sorot kesedihan dari iris milik Sehun. dan tak lama pun, Yoona mendengar sesenggukan kecil dari bibir milik Sehun. jujur! Gadis itu terkejut! Ia tidak pernah melihat orang menangis, tidak pernah. Kecuali tangisan kakaknya.

Sedikit tersentuh, tangan milik Yoona mengusap punggung Sehun mencoba menenangkan. Yoona menatap air mata yang diluncurkan oleh pelupuk milik Sehun. entahlah! Sedikit rasa sesak menyentuh hati beku milik Yoona.

“Kau justru terlihat menyedihkan ketika menangis. Mereka akan lebih senang melihatmu menangis,” Ujar Yoona.

Sehun menoleh, ia terkejut ketika melihat gadis monster yang berubah menjadi malaikat. Dengan air mata yang masih membasahi pipi milik Sehun. ia mengucap, “Sehun… idiot… mereka benci.. Sehun tidak,”

Tangan indah itu menyentuh wajah Sehun. Gadis yang bernama Im Yoona menghapus air mata Sehun dengan ibu jarinya, ia cukup mengerti apa yang dirasakan Sehun.

“Kenapa kau tidak membunuh mereka? Kenapa kau tidak menghancurkan mereka? Kenapa kau justru tidak membenci mereka?” tanya Yoona.

Sehun menggeleng, “Tidak.. tidak boleh.. eomma bilang.. benci tidak boleh,”

Yoona tertegun dengan ucapan yang keluar dari bibir Sehun. lalu, bagaimana dengan dirinya sendiri? Hati milik Yoona penuh akan dendam dan kebencian. Yoona menatap lelaki yang masih menangis karena teringat apa yang terjadi di hidup lelaki itu.

“Jangan menangis, eomma-mu pasti akan sedih.”

Grep!

Yoona membelalak kaget ketika merasakan tubuh jangkung Sehun memeluk dirinya. Lelaki itu membenamkan kepalanya dibahu Yoona, gadis itu masih bisa mendengar lirihan yang cukup menyayat hatinya.

“Eomma… tidak… eomma tidak boleh menangis, Sehun nakal!” lirih Sehun.

Yoona membalas pelukan milik Sehun, ia mengusap punggung Sehun mencoba untuk menenangkan. Lelaki yang dianggap Yoona berotak idiot, memiliki hati suci yang tidak dimiliki oleh siapapun. Gadis itu juga bisa merasakan pundaknya yang basah karena air mata Sehun. Dan Yoona berjanji, pada dirinya sendiri.

Yoona akan mencoba untuk melindungi Sehun.

 

END FOR THIS SERIES

Sehun bukan idiot. Hanya temannya yang memanggil Sehun idiot.

Sehun menderita Savant Syndrome. Sebuah kelainan yang membuat orang berotak jenius diatas rata-rata bertingkah laku seperti orang idiot. Savant syndrome hampir sama seperti Autisme.

Maaf ya author belum ganti poster. Cause, kemarin waktu author coba request nggak ada yang mau nge-take L ada yang bisa buatin author poster buat ff Series Don’t Call me idiot ini? Siapa tau dari cerita ini kalian bisa dapetin gambar yang cocok gitu.😄

Kalo ada, kirim ke e-mail author ya disindang. Alliengator1028@gmail.com kalo nggak gitu mention aja ke twitter aku @IamTheXXI1

Just wait for the next series.

66 thoughts on “(Freelance) Don’t Call Me Idiot : Protect You

  1. Setiap baca ff ni ikut ngerasain skit hati sehun.. Ga kbayng ma aku klo aku jd sehun, mngkin lbh baik mati.. Itu luhan tega bgt mukulin sehun..
    Untung yoona ga benci sehun juga.. lindungin aja sehun trs.. klo bsa pacaran*ahay
    Keren bgt deh ni cerita.. Author Daebak

  2. gatau kenapa setiap baca lagi. Hati mencelos gitu. Melow juga .seharusnya sehun butuh perhatian lebih tapi dia malah dpt bullyan, sekuat apa hatinya sehun menghadap org yg bencinya. Bruntungnya ada yoona :’). Big gangster lucuu ehehe aku suka

  3. Kshan bgt sh sehun…
    luhan tega bgt pukulin sehun…
    untung yoona udh mulai bsa ngertiin sehun n bsa jagain sehun dri bully

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s