Possessive and Obssesion ( Chapter 2 )

Possessive and Obsession { Chapter 2 }

poster ff possessive chapter 2 copy copy

A Story by Vifasha Flory
Starring Im Yoona, Oh Sehun, Park Chanyeol
Support Cast : Ahn Jaehyun, Kwon Yuri, Kim Soohyun
With Genre Romance, AU
Length : Chapter

Disclaimer : The Cast Is Belong To God. I Just use Their Name to My Story. The Story is PURE Mine. It is PURE from my IMAGINATION. DON’T PLAGIAT THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!!!.

DON’T BE SILENT READERS! LEAVE A COMMENT OR LIKE IT! BE A GOOD READER

Sorry for Typo(s). Kesalahan tanda baca, alur cerita yang kurang disukai readers, cerita yang menurut kalian kurang menarik, kurang kreatif dan lain sebagainya.

Dipublish juga di storyofyoonhae.wordpress.com ( dengan cast yang berbeda )

Aku tak yakin dengan perasaanku dan perasaannya di masa depan nanti…

Aku tak yakin ia akan mencintaiku…

Sepertinya ia tipe pria yang sulit didekati…

Hope You Like It

.

Yoona berjalan masuk ke rumahnya. Dengan raut wajah sedih yang menandakan suasana hatinya sedang benar – benar buruk. Setelah masuk ke kamarnya, ia segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size itu. Yoona mendesah pelan. Kemudian memejamkan matanya perlahan – lahan dan mengusap wajahnya.

Mengapa ia harus sedih? Ketika pria itu bersikap dingin padanya?

Bukankah yang diharapkannnya bukanlah pria ‘beku’ itu?

Entahlah. Hatinya merasakan sesuatu yang lain

Sesuatu yang sama rasanya seperti dulu

.

Gadis itu sama sekali belum mengganti dress yang ia pakai dengan piyamanya. Terlalu malas untuk melakukan itu semua. Tiba – tiba telinganya menangkap sebuah suara. Tak salah lagi, itu adalah suara pintu kamarnya yang diketuk seseorang.

“Yoona… Buka pintunya” Yoona sudah bisa menebak siapa pemilik suara itu.

“Apa ini dikunci?” Mulut Yoona terasa kaku untuk menjawabnya.

‘Cklekkkk’ Pintu bercat putih gading itu terbuka. Menampakkan seorang gadis yang berumur 2 tahun lebih tua darinya. Yuri. Kwon Yuri.

“Kenapa kau tidak mengganti dress mu?”

“Aku malas, eonni” Yuri menghembuskan nafasnya pelan. Kemudian berjalan mendekati Yoona.

“Bagaimana dengan kencanmu?”

“Apa? Itu bukan kencan!”

“Ah… Aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Bagaimana rupa putra teman appa? Apa dia benar – benar cacat fisik?”

“Dia tidak cacat fisik, eonni”

“Apa?”

“Dia sempurna. Tanpa cacat fisik sedikitpun” Yoona menatap Yuri. Kemudian bangkit menjadi duduk di sebelah gadis berambut hitam pekat itu.

“Jadi… Appa berbohong?”

“Ya”

“Pria itu benar – benar…!!!” Yuri mengepalkan tangannya kuat – kuat. Matanya tampak menyala – nyala. Amarahnya kembali membuncah. Gadis itu benar – benar snagat mudah terpancing amarahnya.

“Sudahlah Eonni… Lagipula ini bukan salah appa. Memang teman appa yang bilang kepada appa bahwa putranya cacat fisik. Ia ingin mengujinya”

Kedua alis Yuri terpaut. Tak mengerti apa maksud dari perkataan adik semata wayangnya itu.

“Apa maksudmu?”

“Ia ingin tahu apakah Appa lebih mementingkan perusahaannya ataupun perasaan putrinya”

“Ternyata ia lebih mementingkan uang dan bisnis daripada perasaan putrinya” Yoona menundukkan kepalanya. Matanya mulai berkaca – kaca. Pikirannya kembali berputar saat pria paruh baya itu berkata begitu sinis padanya saat di caffe tadi.

“Aku sudah menduganya”

“Sifat appa memang seperti itu… Aku tidak tahu lagi caranya agar ia kembali seperti appa yang dulu” Mata Yuri juga mulai berkaca – kaca.

“Appa yang hangat dan selalu menyayangi keluarganya. Appa yang tak pernah pulang tengah malam dan tak pernah melewatkan makan malam bersama kita. Semua itu berubah ketika ia membangun perusahaan terkutuk itu. Kemudian sifatnya makin berubah ketika ia sukses dan punya banyak uang. Hidupnya selalu tergantung pada harta dan kekayaan. Eommapun juga begitu. Yang tadinya wanita sederhana dan hangat berubah menjadi wanita yang gemar barang – barang mewah. Termasuk aku. Aku juga berubah… Perkataanku entah mengapa bisa menjadi tajam dengan sendirinya…”

Yuri mulai meneteskan airmatanya. Yoona hanya mampu mengusap pundak Yuri lembut.

“Uljima…”

.

.

Yoona POV

Tak terasa hari sudah pagi kembali. Ah… Padahal aku masih ingin tidur di ranjang empukku. Tapi waktu benar – benar tak mengizinkan. Belum lagi jam kuliahku yang benar – benar padat hari ini. Pffftt…

Aku berjalan sendirian di sepanjang jalan ini. Terus melangkah dan melangkah. Udara pagi ini benar – benar sejuk. Udaranyapun masih sangat segar. Masih sepi. Belum terlalu banyak kendaraan yang lewat.

Sesampainya di halte bus, aku melihat Chanyeol Sunbae bersandar di salah satu tiang halte bus ini sambil memakai earphone hijaunya. Dia benar – benar sangat tampan!

Sambil menunggu bus, aku terus memperhatikannya. Iris hazel pria itu memandang lurus ke depan. Orang – orang yang menunggu bus di halte inipun masih sedikit. Dapat kupastikan bus pertama masih cukup lama datang. Membuat waktuku untuk memperhatikannya semakin lama…

Saat ia menoleh ke arahku, kepalaku refleks kembali memandang ke depan. Menghindari tatapan matanya yang bisa membuat jantungku berdetak tak karuan.

Dapat kulihat dari ekor mataku, ia berjalan ke arahku. Apa yang akan ia lakukan?

.

“Annyeong…” Aku mendengar suara merdunya. Ia berada disampingku! Disampingku! Dan menyapaku!

“An… Annyeong… Sunbae” Sial! Kenapa aku jadi gugup di saat – saat penting seperti ini?

“Bolehkah aku berkenalan denganmu? Kau yeoja yang di bus kemarin bukan?”

“Ten… Tentu saja boleh Sunbae. I… Iya itu aku Sunbae”

“Kenapa kau memanggilku sunbae? Apa kita satu kampus?” Tanyanya sambil menautkan kedua alisnya. Kau semakin tampan jika seperti itu Sunbae!

Ya Tuhan! Apa ia sama sekali belum pernah melihatku di kampus?

Miris sekali kau Im Yoona….

“Iya…”

“Darimana kau tahu?”

“Aku sering melihatmu, sunbae” Tentu saja! Kau sunbae yang kusukai!

“Ah… Begitu. Kenalkan aku Park Chanyeol” Ia menjulurkan tangannya padaku. Ya Tuhan! Mimpi apa aku tadi malam?

“Aku Im… Im Yoona” Tangan kami saling bersentuhan untuk yang kedua kalinya! Tangannya masih terasa hangat. Jantungku serasa ingin lompat saat ini juga. Segera aku pasang senyum termanis yang aku punya. Mungkin saja ia akan terpesona oleh kecantikanku, kemudian jatuh cinta kepadaku. Dan kita kan bersama!

Tapi… Bagaimana dengan Sehun? Bagaimana dengan perjodohan itu? Entah mengapa hatiku menjadi sakit jika mengingat itu semua.

.

.

“Yoona”

Aku mendengar sebuah suara memanggil namaku. Aku merasa tak asing dengan pemilik suara itu. Tak salah lagi, ia pasti Oh Sehun. Orang yang baru saja kupikirkan tadi.

Aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara. Kulihat ia berada di dalam sebuah mobil yang digunakannya ketika mengantarku tadi malam. Ia menatapku dan Chanyeol Sunbae. Dingin. Tajam. Dan Menusuk.

“Masuk”

Hey! Apa – apaan dia? Menyuruhku masuk ke dalam mobilnya?

Aku tetap diam tak bergeming. Aku melirik Chanyeol sunbae. Ia menatapku bingung.

Kulihat Sehun sedikit berdecak kesal. Kemudian pria bersurai coklat itu membuka seatbelt yang melingkar di tubuhnya, dan keluar dari mobil itu. Ia berjalan menghampiriku.

Ia langsung menarik tanganku kasar. Kemudian membawaku masuk ke dalam mobil.

Ia menjalankan mobilnya dengan sangat cepat. Ia sungguh gila!

Aku melihat rauh kemarahan terpancar di wajahnya. Wajahnya mengeras dan bibirnya terkatup rapat sedangkan matanya tetap fokus ke jalanan tanpa melirikku sedikitpun.

Cukup! Aku sungguh tak tahan dengan ini semua!

“Apa yang kau lakukan?”

“Kau pikir apa yang kau lakukan?”

“Apa maksudmu?”

“Kau itu tunanganku! Kau seharusnya tidak boleh dekat namja siapapun! Hanya aku namja yang boleh dekat denganmu selain ayahmu!”

Aku menatapnya tak percaya. Apa – apaan dia ini?

“Apa kau gila, eoh?”

“Tidak”

“Lantas, apa hakmu untuk melarangku seperti itu?”

“Karena aku tunanganmu”

“Ck… Kau belum menjadi tunanganku! Aku sungguh tak tahan jika aku punya tunangan yang sangat posesif sepertimu! Kau sungguh suka mengatur kehidupan orang lain! Memangnya kau siapa? Apa kau punya hak untuk melakukan ini semua?” Sahutku sambil menatapnya remeh. Sepertinya perkataan tajam Yuri Eonni telah menurun kepadaku.

“Tentu saja”

“Kau tidak boleh dekat dengan namja siapapun termasuk namja yang di halte bus tadi”

.

.

.

.

Aku berdiri di gerbang kampus ini. Menunggu Sehun oppa menjemputku. Tapi, kemana pria itu? aku sudah berdiri disini selama 15 menit. Tapi pria itu belum juga mneunjukkan menunjukkan batang hidungnya. Mobilnyapun aku belum melihatnya.

Aku mulai bosan berdiri disini.

“Hai” Tiba – tiba kurasakan sebuah tangan menepuk pelan pundakku dari belakang. Aku segera menoleh. Apa itu Sehun oppa? Tapi mengapa suaranya tak sama?

Ternyata itu Chanyeol sunbae!

“Sun… Sunbae?”

“Ne… Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau belum pulang?”

“Aku menunggu seseorang…”

“Hm… Apa kau menunggu… Pria yang di halte bus tadi pagi?”

“Ne…”

“Memangnya, pria itu siapa?”

“Ia Oh Sehun. Calon tunanganku. Dan sebentar lagi kami akan bertunangan. Di pesta pertunanganku nanti, aku janji akan mengundang Chanyeol Sunbae. Sunbae tentu akan datang, bukan?”

Kulihat ekspresi di wajah Chanyeol Sunbae berubah. Ia seperti merasakan sesuatu. Kecewa, tak suka, dan sebagainya. Aku merasa bingung. Mengapa ia memasang raut wajah seperti itu?

“Sunbae, kau tak apa?”

“Ne… Aku tak apa” Ia tersenyum ke arahku. Senyumannya membuat aku ingin terbang ke angkasa! Sangat menyejukkan hati…

“Kalau begitu, aku pulang duluan ya… Annyeong”

“Annyeong”

Ia melangkah keluar gerbang kampus ini. Entah mengapa hatiku kembali merasa sepi setelah ia pergi. Jantungkupun berhenti berdebar – debar.

Aku tetap berada di posisiku. Membelakangi pintu gerbang kampus ini.

“Bukankah sudah kubilang. Jangan pernah dekat namja siapapun”

Aku tersentak. Sebuah suara lagi mengejutkanku. Tak salah lagi. Ini pasti Sehun.

Aku membalikkan badanku menghadapnya. Menatap kedua iris pearl grey nya yang menatapku datar nan dingin. Mengapa ia selalu menatapku seperti itu? tak pernah sekalipun ia tersenyum kepadaku.

“Kau?! Bagaimana kau-“

“Apa kau terlalu fokus kepadanya hingga tak mendengar suara mobilku yang sudah ada di belakangmu sejak kau dan namja itu berbincang?”

Ia benar. Aku terlalu fokus memikirkan Chanyeol Oppa hingga tak menyadari keberadaannya. Bodoh! Kau bodoh Im Yoona!

Aku hanya diam. Tak mampu menjawab pertanyaannya.

“Dengarkan aku Im Yoona! Jangan pernah dekat namja siapapun! Kau milikku sekarang dan selamanya! Tak ada siapapun yang boleh menyentuhmu selain aku!”

“MWO?! Apa katamu?! Apa hakmu untuk berkata seperti itu?”

“Karena kau tunanganku” Katanya santai. Nada suaranya yang terdengar tak ada beban sama sekali semakin merangsang amarahku untuk segera melampiasakannya.

“Hey! Kita bahkan belum-“

Perkataanku terputus. Kurasakan sebuah bibir menempel di bibirku. Aku terkejut. Badanku membeku tak dapat digerakkan. Jantungku kembali berdebar snagat kencang. Aku mengedipkan mataku berkali – kali. Memastikan ini semua hanyalah mimpi. Mimpi yang sangat buruk bagi seorang Im Yoona!

“Ini bukan mimpi. Kau 100% sadar sekarang” Ia mencubit pipiku pelan. Sambil tersenyum puas. Pipiku memanas. dapat kupastikan semburat merah sudah terpantri jelas di wajahku saat ini.

“Yak! Apa – apaan kau ini?”

“Sudahlah… Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik turuti perkataanku atau aku akan menciummu lagi” Ia menyeringai. Aku sedikit bergidik melihat seringaiannnya yang sangat menyeramkan.

“Lihat! Pipimu sudah memerah bahkan sebelum aku menciummu!. Hahaha” Ia tertawa lepas. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum apalagi tertawa. Ia terlihat sangat tampan jika seperti itu.

Hey! Apa yang kau pikirkan Im Yoona?!

Aku segera menyingkirkan semua pikiranku tentangnya. Tidak… Tidak… Aku tidak boleh jantu cinta padanya.

Sadar sadar Im Yoona! Dimana Im Yoona yang sangat menyukai sunbaenya?

“Hey! Ada apa denganmu? Mengapa kau menggeleng – gelengkan kepalamu seperti itu?” Oh Sehun menatapku bingung. Oh! Apa yang kulakukan?

“Ah… Tidak apa – apa”

“Baiklah. Sekarang cepat masuk ke mobilku atau aku akan menciummu” Ujarnya ambil menyeringai. Aku bergidik ngeri melihat seringai jahatnya. Bisa – bisanya ia mengambil kesempatan dalam kesempitan!

.

.

“Kau ingin membawaku kemana? Rumahku seharusnya belok kiri. Bukannya lurus!” Aku menatap kesal ke arahnya. Apa pria ini sedang mabuk? Tapi tak mungkin ada orang mabuk di siang hari seperti ini.

“Tenanglah. Aku tidak mabuk bodoh! Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat” Bagaimana bisa dia tahu apa yang kupikirkan saat ini? Apa ia bisa mendengar suara hati seseorang? Atau hanya sekedar menebaknya?

“Kau mau mengajakku kemana?”

“Itu akan menjadi kejutan” Ucapnya sambil melirikku dan tersenyum singkat padaku. Sepertinya ia mempunyai dua sisi. Aku tahu. Sebenarnya ia adalah orang yang sangat hangat dan murah senyum. Namun tertutup oleh sebuah topeng tebal yang dingin dan angkuh.

.

Ia memberhentikan mobilnya di depan sebuah toko. Toko yang berukuran tidak terlalu kecil ataupun besar. Bercat putih dan bergaya modern yang tampak megah dan mewah di setiap sisinya. Toko yang bernama ‘Diamond Jewelry’. Jewelry? Apa jangan – jangan…

“Sehun-ssi, mengapa kau mengajakku kesini?”

“Kau sudah bisa menebaknya bukan?”

Ia membuka pintu mobilnya. Kemudian berjalan ke sisi lain mobil ini dan membukakan pintu untukku. Aku seperti merasa seperti putri kerajaan saja. Sebab ini pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini oleh seorang pria ataupun wanita. Karena selama hidupku aku belum pernah sekalipun mempunyai kekasih. Berlebihan memang.

Ia menggenggam tangan kananku. Genggaman tangannya terasa hangat dan nyaman. Sepertinya ia sudah mulai berubah…

.

“Cincin ini untuk apa?” Tanyaku pura – pura tak mengerti. Setelah sampai di depan sebuah counter. Di dalamnya terdapat banyak sekali perhiasan – perhiasan yang sangat indah dan mewah. Kilaunnya tampak berkelap – kelip di depan mataku. Semuanya bagus. Tak ada yang buruk sama sekali. Harganya pasti sangat mahal.

“Tentu saja untuk pernikahan ehm maksudku pertunangan kita” Ia mengusap lehernya gugup. Ia seperti salah tingkah. Apa yang terjadi padanya?

“Apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau terlihat gugup?”

“Ah tidak apa – apa. Jangan mengkhawatirkanku. Sekarang kau pilih cincin mana yang kau suka”

“Tapi harganya pasti-“

“Kau tidak perlu khawatir. Itu semua biar aku yang akan mengurusnya”

“Tapi tidak bisa begitu. Bukankah ini pertunangan kita berdua?”

“Sudahlah. Mengapa kau banyak bicara sekali? Sekarang kau hanya perlu memilih mana yang kau suka. Mudah bukan? Jangan bicara lagi atau aku akan menciummu!” Ucapnya sambil lagi – lagi menyeringai. Sebuah seringai mesum yang benar – benar aku benci!

.

“Kenapa kau pilih cincin yang itu? Disini masih banyak cincin yang lebih bagus dari itu. Dan berliannyapun lebih besar”

“Bukankah katamu tadi aku hanya tinggal memilih mana yang aku suka? Inilah yang paling kusuka dari semua cincin disini”

Aku memilih sepasang cincin berlian putih yang di setiap sisinya terdapat ukiran – ukiran indah dan di sisi depannya terdapat satu permata berukuran sedang. Permata inilah yang paling ukurannya paling kecil di toko ini. Semuanya besar dan mewah. Aku tidak suka hal – hal yang terlalu berlebihan. Lagipula inikan hanya pertunangan karena perjodohan….

“Baiklah. Terserahmu saja. Ahjumma aku ambil yang ini” Ia memandang kesal ke arahku. Aku hanya bisa tertawa kecil melihatnya.

Ia benar – benar beda sejak aku pertama kali bertemu dengannya

.

Oh Soohyun benar – benar tidak berbohong dengan ucapannya. Dalam sekejap mata, setelah Im Jaehyun menandatangani perjanjian itu, perusahaan Im Jaehyun kembali seperti semula. Tak ada lagi teriakan para karyawan kantor yang berdemo sepanjang hari di depan kantor. Semua kembali seperti semula. Para pekerja yang di PHK kembali tersenyum senang karena mendapatkan pekerjaan mereka kembali.

“Aku tidak berbohong bukan?” Ucap Oh Soohyun sambil menyeruput secangkir teh hangatnya. Saat ini ia dan Im Jaehyun berada di sebuah caffe yang terletak di kawasan gangnam.

“Ya… Kau memang temanku. Terimakasih banyak. Aku tak tahu trik apa yang kau pakai untuk ini semua. Hahaha” Jawab Im Jaehyun sambil tertawa renyah. Oh Soohyun yang mendegarnya hanya tersenyum kecil.

“Jadi, kapan pernikahannya akan dilaksananakan?”

“Mereka akan bertunangan terlebih dahulu”

“Pertunangannya kapan dilaksanakan?”

“Lusa”

“Lusa?!”

“Ya. Lusa. Lebih cepat lebih baik bukan?”

“Tapi, apa tidak terlalu cepat?”

“Kenapa? Apa kau mau-“

“Ah tidak – tidak. Lusa tidak masalah”

“Tenang saja. Aku akan menyiapkan segalanya. Jangan sampai anakmu kabur atau membatalkan pertunangannya. Karena jika itu terjadi, kesepakatan ini juga akan batal. Dan perusahaanmu akan kembali Terpuruk dan Hancur”

“Baiklah… Akan kupastikan Yoona tidak akan membatalkan ataupun kabur di pesta pertunangannya nanti”

*

*

*

*

“Wah… Im Yoona ternyata kau akan bertunangan ya… Padahal aku berniat menyatakan perasaanku padamu selama ini pulang kuliah nanti, tapi ternyata takdir berkata lain ya…” Ucap Siwon sedih setelah menerima undangan pertunganku. Sebenarnya aku juga sangat sedih karena harus mengorbankan perasaanku demi semua orang yang kusayangi…

“Tapi tidak apa – apa. Aku mengerti” Ucapnya lagi sambil tersenyum manis. Tunggu! Ia bilang ia ‘mengerti’. Mengerti apa? Apa jangan – jangan…

“Ya… Aku mengerti. Kau lebih baik bersama orang yang mencintaimu lebih dariku” Oh… Syukurlah…. Semua belum terbongkar.

Tetapi…. Oh Sehun kan tidak mencintaiku….

Tapi, kau harus tetap percaya Im Yoona! Lambat laun ia pasti akan jatuh cinta padamu! Pasti!

Tapi bagaimana dengan Chanyeol sunbae?

Ah, mengapa jika aku memikirkan Sehun, Chanyeol sunbae selalu terbesit di pikiranku?

Begitu juga sebaliknya?

.

.

Author Pov

“Chanyeol sunbae!” Yoona setengah berlari menuju Chanyeol. Sebuah senyuman terlukis jelas di wajahnya. Sebuah senyum kebahagiaan.

Chanyeol membalikkan badannya. Kemudian tersenyum kecil melihat siapa yang berlari ke arahnya.

“Ada apa Yoona?”

“Ini sunbae. Undangan pertunanganku. Kuharap kau datang sunbae” Yoona menyerahkan sebuah undangan pertunangan yang berada di gennggamannya ke Chanyeol sambil tersenyum lebar.

Sebuah ekspresi tak terbaca terukir jelas di wajah pria bersurai hitam tersebut. Antara kecewa, senyum paksa, merasa kehilangan, dan lainnya. Chanyeol menerima undangan itu dengan ekspresi tak terbacanya.

“Ah… Jadi kau akan benar – benar bertunangan ya”

“Iya sunbae… Apa ada yang salah, sunbae?” Yoona merasa bingung dengan pria dihadapannya ini. Bingung dengan ekspresi yang dijelaskan di wajah tampan sunbae favoritnya ini.

“Tidak apa – apa. Terimakasih atas undangannya. Tapi….”

“Sepertinya aku sudah kehilangan untuk mendapatkanmu. Apa aku masih bisa mendapatkanmu?” Lirih Chanyeol pelaan, sangat pelan sebelum pria itu pergi dari hadapan Yoona.

Seluruh badan Yoona mematung seketika. Jantungnya mendadak berhenti berdetak sesaat. Apa benar yang ia dengar tadi? Ataukah pendengarannya yang sedang bermasalah?

Tapi itu tidak mungkin! Mungkin benar pendengarannyalah yang salah. Sepertinya ia harus ke dokter THT pulang kuliah nanti. Gila! Tentu saja ia tak akan melakukan itu!

“Aku pasti salah dengar. Sunbae tidak mungkin mengatakan itu” Ucap Yoona pelan sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.

Apa jangan-jangan….

.

.

“Aku menyerah eomma. Ia akan bertunangan. Kesempatanku untuk mendapatkannya semakin tipis. Lagipula aku belum terlalu dekat dengannya. Sepertinya aku mencari gadis lain saja”
“Tidak! Kau tidak boleh menyerah! Jika kau belum terlalu dekat dengannya, mengapa gadis itu memberimu undangan pertunangannya? Mungkin saja ia mempunyai perasaan tersembunyi untukmu. Mungkin saja pertunangan ini hanya paksaan atau perjodohan mungkin? Bukankah kau sudah berjanji, akan mendapatkannya? Akan membawanya ke rumah kita yang sederhana ini? Kumohon jangan menyerah Chanyeol… Lambat laun kuyakin kau pasti akan mencintainya juga. Aku tahu ia gadis yang baik. Ia cocok bersanding denganmu. Aku sudah terlanjur menyukainya sejak pertama kali menatap iris hitamnya…”

“Tapi, perasaan tidak bisa dipaksakan eomma”

“Oleh karena itu, kau harus membuat perasaan itu menjadi sukarela dan tidak memaksa”

“Baiklah aku akan berusaha semampuku eomma”

.

.

.

.

Pesta pertunangan itu diadakan sangat meriah. Pestanya diadakan di sebuah gedung yang sangat mewah dan besar. Makanan dan minuman yang tersaji sangatlah lezat dan mampu membuat selera makan bangkit seketika. Pesta itu benar – benar dirancang sangat apik dan glamour, mulai dari gaun, tata lampu, tata panggung, tata ruangan, dan lainnya.

Yoona masih terdiam. Gadis itu menatap kosong cermin dihadapannya yang memantulkan wajah cantiknya. Wajahnya sudah dioles dengan make up natural yang pastinya dirias oleh tata rias profesional. Rambut coklat emasnya ditata ikal dan dikaitkan sebuah mahkota kecil di puncak kepalanya semakin menambah kecantikannya. Gaun putih panjang tanpa lengan yang dipakainya terjulur manis ke bawah.

Ia memikirkan sesuatu. Apakah yang ia putuskan ini sudah benar? Apakah ia harus merelakan perasaanya demi kemajuan perusahaan ayahnya?

Mungkin ia harus belajar mencintai pria bermuka dua itu suatu saat nanti. Ia harus meyakinkan dirinya. Bahwa ia pasti akan mencintai pria itu dan melupakan Chanyeol.

Tapi tentang perkataan Chanyeol waktu itu….

Apa maksudnya?

Perkataan pria bermata hazel itu seolah – oleh menjadi riddle yang sulit dipecahkan bagi dirinya.

Yoona mendesah. Ia harus meyakinkan dirinya. Bahwa ia sudah memilih jalan yang terbaik.

.

.

.

.

Kini tiba saatnya. Ya… Saat dimana kedua insan itu saling menautkan cincn ke masing – masing jari ‘pasangan’ sebagai tanda bahwa mereka sudah terikat dalam sebuah hubungan yang lebih ‘dalam’.
Sehun meraih salah satu tangan Yoona, kemudian memakaikan sebuah cincin pertunangan diantara jari jemari lentik gadis itu.
Yoona meraih salah satu tangan Sehun, kemudian memakaikan sebuah cincin pertunagan diantara jari jemari pria itu.

Kini tiba saatnya kedua insan itu saling menautkan bibir. Sehun mendekatkan kepalanya pada Yoona, kemudian mempersatukan bibirnya dengan bibir merah ranum gadis itu. Melumat bibir tipis itu lembut, sangat menikmatinya.

Sejujurnya Yoona juga menikmati pagutan yang diberikan pria itu, namun jauh di dalam lubuk hatinya ada secerca rasa sakit yang tertancap di hatinya.

Dari ekor matanya, gadis itu melirik ke arah pria berkemeja putih yang duduk paling depan.

Pria itu menatap mereka tajam. Datar. Dingin. Dan…. Penuh kebencian.

Aku tidak akan menyerah

Aku akan mendapatkan gadis itu

Gadis itu MILIKKU

TBC

Maaf kalo alurnya kecepetan… Karena aku orangnya gak terlalu bisa basa – basi… Jadinya langsung to the point

Maaf kalo part ini kurang bagus. Kalo soal komentar, itu sesuai dengan kata hati nurani kalian saja… #Asekkk

Apakah aku masih bisa berharap, kalo yang nungguin kelanjutan ff ini masih ada?

Bye…

Thanks for Read and RCL😀

49 thoughts on “Possessive and Obssesion ( Chapter 2 )

  1. Ternyata sehun duluan yg suka ama yoong dan kayanya dia udah tau kalau itu cinta masa kecilnya:D gimana nasib ceye? Lanjut part 3 hihi

  2. Sehun beruntung dengan kesederhanaan yoona, yoona juga beruntung dengan ketampanan dan kekayaan sehun siapa si yang bakal nolak yaaa walaupun sehunnya ngekang yoona banget tapi ya itu karna sehun terlalu sayang uri yoona kekeke. Woahh chanyeol segera beraksi nih rupanya ~~

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s