(Freelance) In Your Eyes (Chapter 12)

in-your-eyes-new-poster

IN YOUR EYES
(Chapter 12)

Author: PinkyPark & Potterviskey || Cast: SNSD’s Yoona, EXO’s Chanyeol & Jongin, Jung Sooyeon & OC || Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama || Length: Chaptered || Rating: G || Disclaimer: We own this fic’s plot and idea only. Cast belongs to God. So please respect with your comment. Don’t copy-paste or plagiarism! Thanks, enjoy reading guys🙂

.

.

Hujan paling besar yang pernah diturunkan Tuhan adalah hujan dari kedua kelopak matanya. Dan hujan paling hangat yang pernah Park Chanyeol rasakan adalah ketika ditangisinya.

.

Park Minhwa berdiri di ambang pintu dengan mata yang membelalak, napasnya tidak beraturan—dia baru saja berlari entah dari mana. Seingat Chanyeol; terakhir kali,adiknya itu sedang bermain di halaman belakang dengan kucingnya—mungkin gadis itu berlari dari sana.

Park Chanyeol tidak bertanya apa-apa; dia tahu ada sesuatu yang akan diberitahukan oleh adiknya, melihat ekspresi dan keadaannya yang kelelahan—sesuatu itu pasti adalah hal yang penting. Saking pentingnya sebagian hati Chanyeol menolak untuk mendegarkannya.

Minhwa berjalan ke arah kakaknya, berdiri tepat di hadapan kakaknya yang kini juga menatapnya dengan was-was. Gadis itu menarik napas panjang, suaranya gemetaran. “Oppa—tadi Youngran menelepon,” dia berujar dengan suara yang tercekat, kemudian melanjutkan. “Dia bilang, Yoona Eonni dibawa oleh banyak pria berseragam hitam. Dia sudah menghubungi kakaknya, tapi mereka bingung harus mencari kemana.”

Seperti disiram air dingin, Chanyeol merasakan darahnya surut hingga sebatas kaki. Dunianya seperti berputar dan untuk sesaat pria itu linglung saat kakinya terasa seperti jelly. Mulutnya terbuka dan menutup lagi. Pria itu seakan mendapat serangan asma mendadak dan gangguan penglihatan.

Minhwa memegangi kakaknya yang hampir ambruk. Pria itu segera sadar dan dengan sekali gerakan melangkahkan kakinya ke luar kamar. Minhwa mengikuti dari belakang dengan langkah kaki terantuk-antuk. Dia cukup ngeri membayangkan akan kemana langkah kaki kakaknya menuju. Dan kemudian Minhwa mematung saat pintu besar di hadapannya terbuka dengan gerakan yang berisik. Kakaknya baru saja masuk ke dalam ruangan Ayahnya.

Park Chanyeol sudah berdiri di depan meja kerjanya. Pria tua itu sedang memakai kaca mata bacanya dan memperhatikkan beberapa dokumen yang tidak pernah Park Chanyeol pedulikan.

Park Chanyeol mengepalkan tangannya, wajahnya memerah. “Abeoji—” suaranya rendah, namun cukup membuat ayahnya memalingkan perhatiannya dari dokumennya dan membuka kaca matanya.

Mata kecil Ayahnya menatap Chanyeol dengan puas, dia berkata, “Jadi apa aku perlu melakukan sesuatu dulu agar kau mau berbicara denganku?”

“Kau yang melakukannya,” ujar Chanyeol kepada dirinya sendiri. Dia menatap Ayahnya dengan marah. “Kau benar-benar melakukan itu pada Yoona?”

Ayahnya tersenyum kecil, kedua tangannya disatukan dan pria itu menatap Chanyeol dengan yakin. “Aku hanya sedang memberimu petunjuk tentang apa yang sebaiknya kau pilih.”

Abeoji!”

“Beraninya kau berteriak padaku?” Ayahnya memicingkan matanya saat baru saja Chanyeol berteriak. Chanyeol sudah benar-benar kehabisan kesabarannya, pria itu balas menatap ayahnya dengan berani.

Chanyeol menggebrak meja kerja ayahnya, “Apa yang kau lakukan padanya,Abeoji!”

Ayahnya tertawa melihat perilaku anaknya, dia sangat tenang—berbeda dengan Chanyeol yang begitu gelisah dan penuh dengan gelagat amarah. Pria tua itu memandang anaknya satu kali lagi. “Aku suka caramu yang keras kepala dan begitu menjaga. Aku pikir itu akan bagus untuk perusahaanku nanti. Tapi tentu saja tidak dengan gadis itu.”

“Dimana dia?”

Ayahnya mengangkat sebelah alisnya, “Apa yang akan aku dapatkan jika aku memberitahukannya padamu?”

Park Chanyeol menggertakan giginya untuk kesekian kali, matanya tegas menatap ayahnya dengan marah. Pria itu membentuk garis tegas di bibirnya. Otot-otot wajahnya menegang, kemudian dia berkata dengan pelan, “Aku akan menerima perjodohan itu—aku akan menerimanya asalkan kau tidak pernah menyentuh Im Yoona.”

Merasa mendapatkan apa yang diinginkan, Ayahnya menyandarkan dirinya ke sandaran kursi dan menatap Chanyeol puas. Kali ini dia tersenyum menang, “Kau bisa memegang ucapanmu?”

“Aku tidak akan main-main jika menyangkut tentang Yoona.”

Ayahnya mengangguk paham, kemudian memakai lagi kacamatanya. “Dia ada di Cheonju. Kau bisa menemukannya di lantai empat pabrik tembakau lama.”

Park Chanyeol tidak ingin berbasa-basi apapun, dia berbalik pergi dan keluar dengan langkah yang lebar. Untuk sesaat dia berhenti menatap Minhwa yang mematung di ambang pintu—gadis itu mendengar semuanya. Park Chanyeol segera melewatinya dan adiknya mengikutinya dari belakang dengan tertatih-tatih.

Oppa apa yang akan kau lakukan?”

Park Chanyeol berhenti melangkah lalu berbalik, menatap adiknya dengan tajam. Dia merogoh ponselnya lalu menekan panggilan. “Kim Jongin ini aku, dia ada di Cheonju, pabrik tembakau lama di lantai empat. Cepatlah, aku juga akan kesana.” Pria itu menutup telponnya kemudian kembali menatap Minhwa yang masih terkejut. “Minhwa, aku akan kesana. Kau diam disini, laporkan semua tentang pergerakan Ayah, mengerti?”

Park Minhwa menatap kakaknya dengan bingung, dia tidak menjawab sampai kakaknya berbalik dan pergi. “A-aku mengertiOppa.”

.

Aku bersembunyi di dalam lemari; tubuhku kecil, jadi aku bergelung memeluk lututku dengan takut. Aku mendengar derap langkah itu mendekat—aku tahu aku akan ketahuan jadi aku memejamkan mataku.

Aku tidak melihat apa-apa selain merasakan lenganku ditarik dan rambutku juga terasa sakit. Aku masih memejamkan mataku saat aku tahu Ayahku mabuk lagi malam ini. Aku tahu saat ini aku sedang meringkuk di lantai, dan Ayahku berdiri menatapku dengan mata merahnya.

Aku tidak boleh menangis. Tapi yang sudah-sudah, sekuat apapun aku ingin tidak menangis, pada akhirnya aku akan menangis. Dan aku akan kesakitan jika aku menangis.

Oh—aku menangis lagi. Dan Ayah mulai menggeram, aku mulai takut dan bersiap untuk segalanya. Lalu dia berteriak dan mulai menendangku, terus menendangku walau aku sudah menjerit kesakitan. Aku takut—aku ingin bersama Ibuku. Aku takut—tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.

“Berhenti menangis dan bersikap seolah kaulah yang paling tersiksa!”

“Kau! Kau lah yang telah membuat aku kehilangan istriku!”

Bahkan dari semua kesakitan yang aku rasakan, aku paling tidak ingin mendengar kata-kata itu—kata-kata itu jauh lebih menyakitkan dari apapun, dan ketika aku berteriak, “Appa tolong hentikan!”

Dia akan terus menendangku dan menginjakku seolah aku adalah batu, dan yang paling aku takutkan adalah dia mengatakan, “Kau sudah membuat ibumu mati!”

Kau sudah membuat ibumu mati.

Kau sudah membuat ibumu mati.

Kau sudah membuat ibumu mati/

Im Yoona bergerak gelisah dengan tangan dan kaki yang terikat. Wajahnya tertutup oleh kantung kain hitam dan membuatnya tidak bisa melihat apa-apa. Dia meracau—dan dia tidak sadarkan diri.

Appa, maafkan aku.”

Appa, tolong berhenti.”

Appa, tolong.Ini benar-benar sakit.”

Lalu Kim Jongin berlari kencang dan kemudian menjatuhkan dirinya di samping Yoona. Dalam sedetik membuka penutup kepala berwarna hitam dari wajah Yoona, melepas tali yang mengikat tangan dan kaki Yoona, lalu mengguncang tubuh wanita yang tak sadarkan diri itu dengan keras. Yoona masih memejamkan matanya, dahinya berkeringat dan dia terus meracau tidak jelas.

“Astaga Yoona ini aku!” teriak Jongin frustasi, pria itu masih berusaha membangunkan Yoona. “Yoona kumohon bangunlah!”

Gadis itu membuka matanya—dan itu membuat Jongin mencelos seketika saat dilihatnya Yoona tengah menatapnya dengan tatapan ketakutan. Gadis itu buru-buru memeluk Jongin dengan erat, tangannya masih gemetaran. Jongin mendekap Yoona denganerat. Hatinya juga ikut terluka melihat keadaaan gadis dihadapannya itu.

“Jongin-aa” bisik Yoona dengan suara yang hampir tidak terdengar. Tangannya yang kurus meremas kemeja Jongin.

“Aku disini.”

“Jongin-aa” Yoona mengeratkan lagi pelukannya, kemudian berbisik—dan itu membuat Jongin benar-benar ingin menangis. “Aku takut.”

“Tidak apa, aku ada disini. Mereka sudah pergi.”

Yoona melepaskan pelukannya, menatap Jongin sesaat lalu menatap sekelilingnya dengan bingung. Gadis itu membuang napas lega, lalu menatap Jongin dengan berkaca-kaca. “Bagaimana kau bisa kesini?”

Jongin tersenyum dengan enggan, “Apa kau baik-baik saja? Apa mereka melukaimu?”

Yoona menurunkan tatapannya dari wajah Jongin, beralih menatap kancing ketiga kemeja Jongin yang hampir lepas. “Mereka sedikit memukulku, dan aku—jadi teringat ayahku.”

Jongin baru saja mendengar sesuatu yang benar-benar menghancurkan hatinya. Dari sekian banyak rasa sakit, dia merasa paling sakit melihat Yoona seperti ini. Jongin memeluknya lagi. “Aku tidak akan membiarkan itu lagi—sekarang aku akan membawamu pulang.”

Park Chanyeol berhenti melangkah saat matanya menatap Yoona yang kini ada di punggung Jongin. Gadis itu sangat pucat dan ujung bibirnya berdarah. Melihat itu membuat Chanyeol benar-benar marah. Dia menyaksikan saat Jongin susah payah memasukkan Yoona ke dalam taksi lalu mereka berdua menghilang dan pergi. Pria itu disini, menatap kosong udara di hadapannya. Entah kenapa dia merasa semua ini adalah salahnya, dan sepertinya pria itu akan terus menyalahkan dirinya sendiri tentang kejadian ini.

Chanyeol menundukkan kepalanya, “Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk memilih.”

.

Jongin berjalan keluar dari kamar Yoona dengan langkah gontai hingga akhirnya menghempaskan diri di sofa, Youngran disampingnya hanya menatap kosong televisi dengan mata sembab—padahal sekarang itu tengah tayang program televisi favoritnya.

Lelaki itu memijat kepalanya yang sedikit pening, Jongin masih tidak menyangka adegan-adegan penculikan di film action yang biasa ia dan kawan-kawannya tonton akan terjadi dalam hidupnya—adiknya itu lebih tidak menyangka lagi.

“Kau baik-baik saja?” Jongin melempar tanya pada adiknya itu yang sudah seperti mayat hidup. “Yoona yang mengalaminya, kenapa kau yang terlihat sangat menderita?”

Youngran enggan menjawab, matanya berkaca-kaca lagi. “Aku benar-benar tidak percaya ini,” Katanya setelah membiarkan hening diantara keduanya cukup lama. “Aku memang menyukai drama tapi tidak seperti ini juga.” Ujarnya lagi sembari mencoba menahan tangis.

Jongin mengangguk setuju, “Aku juga.”

Youngran menarik napas teramat panjang, beralih menatap seksama kakaknya yang kini menatap langit-langit ruangan. “Apa yang kau rasakan sekarang?”

Alis Jongin berjinjit cukup tinggi, “Apa maksudmu?”

Youngran menggigit bibirnya ragu, menatap Jongin dengan pandangan menelisik, “Maksudku, beberapa hari yang lalu kupikir kau masih menyukai Yoona Eonni. Apa—sekarang—setelah—ini semua—kau akan semakin—err—bagaimana mengatakannya ya?”

Jongin memejamkan mata beberapa sekon, dia mengerti kemana arah pembicaraan adiknya itu. “Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi, tidak. Tentu saja tidak. Jadi berhenti berpikir yang tidak-tidak. Kau benar-benar terlalu banyak nonton drama, tahu?”

Youngran memincingkan matanya, “Benarkah? Aku tidak percaya padamu.”

“Pada akhirnya aku menyadari dan mengerti, bahwa aku tidak bisa meminta seseorang untuk mencintaiku,” Jongin berujar pelan, suaranya tenang. Lelaki itu menatap Youngran dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia tersenyum dan melanjutkan. “Aku sadar bahwa perasaanku salah. Aku mencintainya dengan alasan yang salah.”

Youngran tidak bisa menyembunyikan senyumnya, gadis itu tidak ingin menunjukkan rasa bangganya kepada Jongin. Jadi dia berdehem, “B–begitukah?”

“Apa hanya itu tanggapanmu?”

Youngran terkekeh kali ini, dia memeluk bantalan kursidengan erat. “Aku merasa bangga padamu, karena kau berani merelakannya dan menerima keadaan. Bagaimanapun kalian itu sepupu, kau dan Yoona Eonni—tidak pernah diperbolehkan. Tentu saja kau boleh menyayanginya, tapi hanya sebatas perasaan keluarga. Kau tahu batasannya kan?”

“Aku mengerti—aku hanya akan melindunginya sebagai keluarga juga menyayanginya sebagai keluarga. Apa kau puas?”

Youngran tersenyum lebar, dia merebahkan punggungnya ke sandaran sofa lalu memandang langit-langit ruangan dengan lega. “Aku sangat lega kau mengakhiri perasaanmu, Oppa kau yang terbaik!” Youngran berbicara tanpa berpikir panjang sembari mengacungkan jempolnya di depan wajah Jongin, namun setelah ia menyadari apa yang ia katakan, gadis itu segera mengalihkan pandangan dan fokus menonton acara di televisi.

Jongin terkejut dan menatap adiknya dengan geli, “Kau mengejutkanku Kim Youngran, kau menyebutku Oppa dan keren. Apakah kau sedang sadar tadi?”

“Aku mengigau..” jawab Youngran dan itu membuat Jongin tertawa pelan.

“Kalau begitu mengigaulah terus dan katakan hal-hal baik tentangku.” Jongin mengulum senyum, hanya sejenak sampai wajahnya menampakkan ekspresi serius lagi. “Tapi bukan berarti, aku akan membiarkan Yoona dan Park Chanyeol begitu saja.”

Youngran terdiam, tampak berpikir keras. “Ya, kurasa keluarga Minhwa memang agak berbahaya.” Katanya rendah, meski begitu suaranya dapat terdengar oleh sang Ibu yang baru saja keluar dari kamar Yoona dengan handuk basah dan wadah air ditangannya—sepertinya telah selesai membersihkan tubuh Yoona.

“Keluarga Minhwa?” Mrs. Kim memekik terkejut. Jongin dan Youngran mengalihkan pandangan serempak dan ikut-ikutan terkejut.

Omong-omong, sepulangnya Jongin bersama Yoona dipunggungnya, kakak-beradik itu telah berencana untuk tidak mengatakan apapun pada sang Ibu lantaran takut jika Ibu mereka akan semakin khawatir atau mungkin lebih dari itu. Namun, sekarang sepertinya mencari rencana B pun akan sia-sia saja, sang Ibu terlanjur tahu dan mereka tak bisa berkilah lagi.

“Kim Youngran, kau bilang kemarin wanita yang sebelumnya datang adalah Ibu temanmu Minhwa dan teman Yoona,” Mrs. Kim menatap kedua anaknya yang kini terdiam seolah tertangkap basah mencuri uang didompetnya—mereka kehabisan kata-kata.

“Jangan bilang yang melakukan ini pada Yoona adalah mereka?”

.

Mr. Park duduk tenang di kursi nya, sesekali menyeruput kopi hitam yang masih mengepulkan asap di genggamannya. Pria paruh baya itu seolah tidak terusik dengan suasana tegang yang menyelimuti ruangan kerjanya itu dari beberapa menit yang lalu.

“Jadi, benar kalian yang melakukannya?” Mrs. Kim bertanya dengan ekspresi datar tanpa melirik satu pun orang disana. Diam-diam menahan geram yang siap meledak kapan saja.

Berbeda dengan Mr. Park yang tenang-tenang saja, Mrs. Kim kebalikannya. Wajahnya sedikit pucat dan raut cemas kentara sekali di sorot matanya.

Mr. Park menaruh kembali cangkirnya di atas meja, “Selalu ada bayaran untuk apa yang seseorang lakukan, Yujin-aa. Dalam kasus gadis itu, wajar saja ia menerima resiko un—”

“Kau bilang wajar? Tidakkah kalian itu berlebihan? Kalian menyakitinya!” Mrs. Kim memekik tak terima, kedua matanya mulai memerah dan berkaca-kaca setiap kali teringat lebam di wajah Yoona. “Kalian benar-benar tak punya hati nurani.”

Suasana semakin menegang namun setelah itu tak ada lagi yang berbicara. Detik demi detik hanya melanglang sia-sia sampai Mrs. Kim untuk pertama kalinya menatap Mr. Park dengan sorot tajam.

“Ini kah balasan dari apa yang telah dulu Yoomi Eonni lakukan untuk kalian? Cih,” Mrs. Kim beralih menatap Mrs. Park yang membisu di tempatnya. “Kakakku, apa yang akan dia rasakan jika ia tahu kalian berlaku kejam pada Yoona? Tidakkah kalian pernah berpikir?”

Mr. Park termenung, tubuhnya mendadak beku ketika nama itu didengarnya lagi setelah sekian lama. Namun sebelum kenangan masa lalunya itu kembali diingatnya, Mr. Park berdehem lantas meraih selembaran kertas tebal yang terbungkus rapi dengan sebuah lilitan pita merah di atas nakas kecil di samping sofa yang ia duduki.“Lusa adalah hari pertunangan anakku, kau boleh datang jika kau mau, Kim Yujin.”

“Apa?” Dua wanita di dekatnya itu membulatkan mata mereka tak percaya—terlebih lagi Mrs. Kim. “Oh astaga. Kau benar-benar berubah Seokwang-sshi.”Mrs. Kim bangkit dari duduknya, bibirnya mengulum senyum tipis.

“Aku benar-benar tidak percaya kakakku pernah berteman dengan orang tak punya hati seperti kalian.” Katanya kemudian segera angkat kaki dari ruangan itu. Meninggalkan Mrs. Park yang kini menatap suaminya tak percaya. “Kenapa kau melakukannya?”

Mr. Park melirik sang istri lewat kaca matanya; tak berniat menjawab pertanyaan sang istri, pria paruh baya itu bangkit dari duduknya dan berpindah ke kursi dibalik meja kerjanya.

Tahu ia tak akan mendapat jawaban, Mrs. Park angkat suara lagi. “Apakah kau harus bertindak sekejam itu hanya untuk—“

“Jika aku tidak mengambil tindakan, Tuan Jung akan membatalkan pertunangannya, Minjung-aa.” Mr. Park memotong, tangannya sibuk membalikan lembaran dokumen di hadapannya.

“Kalau begitu, bukankah itu bagus? Kau jelas tahu, perjodohan ini tidak akan berhasil.”

“Kau salah, Minjung-aa. Anakmu itu, Park Chanyeol, sudah menyetujui perjodohannya.” Ujar Mr. Park dengan senyum puas di bibirnya, pandangannya masih tak beralih dari dokumen-dokumen di hadapannya.

“Apa?” Mrs. Park tak bisa untuk menutupi keterkejutannya. Meski pada awalnya ia memang mendukung perjodohan itu; tapi belakangan dirinya sadar, kebahagiaan sang anak memang bersama gadis itu, Im Yoona.

“Sedari awal, anak itu memang sudah menjatuhkan pilihan yang salah karena mencintai gadis itu.”

Mrs. Park menatap sang suami dengan mata yang mulai berkaca-kaca, sembari membangkitkan diri dari sofa ia berkata, “Tidak. Yang salah disini adalah, karena Park Chanyeol punya Ayah yang tak punya hati nurani sepertimu, Seokwang,” Mr. Park yang sebelumnya tak sedetik pun mengalihkan pandangannya, kini menatap sang istri dengan terkejut.

Mrs. Park tersenyum sendu, “Sekarang, lakukan apapun yang kau mau. Tapi jangan harap, aku dan anak-anakku bisa bahagia lagi setelah ini.”

.

“Dia baik-baik saja?”

Minhwa menggeleng, bukan berarti jawabannya tidak, “Youngran belum membalas pesanku.” Katanya sembari berspekulasi kenapa karena akhir-akhir ini Youngran sering kali tidak membalas pesannya.

Chanyeol menghela napas, Jongin pasti selalu di sisi Yoona jadi seharusnya dia baik-baik saja—batinnya dalam hati.

Minhwa melirik ponselnya untuk ke sekian kalinya kemudian beralih menatap Park Chanyeol yang sama sekali tidak terlihat baik, lelaki itu hampir muram disetiap saat. Wajahnya tidak pernah berseri-seri lagi seperti dulu. Mungkin karena kakaknya itu tertekan, Minhwa tahu betapa menyiksanya ketika kakaknya itu sangat merindukan Yoona Eonni dan bahkan tidak bisa meneleponnya untuk sekedar mendengar suaranya. Keduanya juga tahu—Ayahnya sudah mengenalkan batasan, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Dan segala sesuatu tentang Yoona, termasuk ke dalam kelompok hal-hal yang tidak boleh dilakukannya.

Hening menyelimuti keduanya, Chanyeol tidak bisa berhenti memikirkan Yoona sementara Minhwa hanya diam dalam hati mengkhawatirkan Chanyeol yang tampak kacau sekali. Gadis itu memekik rendah kala Mong—kucing kesayangannya tiba-tiba bergelung dengan kakinya.

“Hey, Mong!”

Minhwa tertawa cekikikan saat ekor kucingnya bergerak-gerak ketika gadis itu menggendong kucingnya dan bergerak-gerak manja di dekapannya. “Kucing pintar. Kau tahu harus pergi kemana ketika merindukanku huh?”

Minhwa mengelus bulu kucingnya yang berwarna putih salju dengan sayang, kemudian termangu ketika menyadari ucapannya. “Oppa, kenapa kita tidak pergi menemui Yoona Eonni saja?”

Chanyeol sedikit berjingkat dari duduknya. “Apa?”

“Aku akan beralasan membawa Mong ke salon, kau akan mengantarku—lalu sepulangnya kita ke rumah Yoona Eonni.”

Park Chanyeol menjadi gugup mendengar rencana Minhwa—lelaki itu menggeleng. “Akan berbahaya jika Ayah tahu aku menemuinya lagi.”

Minhwa menatap kakaknya sebentar, lalu mengelus kucingnya lagi. “Ayah sepertinya pulang malam, seharusnya tidak ada masalah.” Minhwa mengendikkan bahunya asal, kali ini dia menurunkan kucingnya, “Lagi pula aku tahu ada banyak hal yang ingin kau katakan kepadanya—kau harus mengakhirinya bukan? Setidaknya akhiri dengan manis.”

“Tidak ada akhir yang manis.”

Minhwa menggeleng, “Kau salah. Mencintai yang paling sejati adalah saat kau merelakannya dan membiarkannya bahagia. Aku tahu ini terdengar jahat, tapi kau tidak bisa membuatnya sakit hati terus seperti sekarang ini.”

Chanyeol menatap adiknya lekat-lekat, manik mata yang mirip dengan miliknya itu kini tengah menatapnya dengan yakin. Chanyeol mengangguk, “Baiklah, walaupun aku yakin orang suruhan ayah akan mengikuti kita. Aku akan menemuinya.”

Minhwa menatap kakaknya dengan sedih, dia tahu senyuman yang ditunjukkan kakaknya saat ini adalah seratus persen palsu, jadi dia merentangkan tangannya. “Oppa—aku ingin memelukmu,”

“A-ap—”

Minhwa memeluk kakaknya dalam sekali gerakan, dia berkata “Aku tahu kau tidak sekuat ini, tapi aku bangga karena kau berani mengambil keputusan. Kau bukannya tidak menyayangi Yoona Eonni—kau hanya tidak ingin mendewakan perasaanmu sendiri. Aku tahu kau tidak baik-baik saja, jadi mungkin pelukan dari adikmu ini bisa sedikit menenangkanmu.”

Chanyeol tersenyum lebar untuk pertama kalinya semenjak seminggu ini, dia balas memeluk adiknya. “Park Minhwa terimakasih—karena selalu ada bersamaku.”

.

Kau sudah absen dua hari, Im Yoona. Kami tidak akan bisa berhenti khawatir jika belum melihatmu. Setelah pulang sekolah kami akan mampir ke toko buku sebentar lalu ke rumahmu. Jadi, jangan pergi kemana-mana, oke?

Yoona tersenyum kecil setelah membaca pesan dari Sooyoung. Hari ini Kim Ahjumma dan kedua anakanya—tentu saja—menyarankannya untuk jangan dulu pergi ke sekolah karena kondisinya yang memang belum stabil, dan Yoona tidak ingin menjadi anak yang tidak tahu terima kasih dengan tidak menurutinya. Jadi, disinilah dia. Duduk di kursi taman tidak jauh dari rumahnya; menikmati angin sore dengan langit yang mendung—serasi dengan keadaan hatinya.

Yoona mengeratkan genggaman pada ponselnya, menatap sendu foto Chanyeol yang dulu ia ambil ketika mereka ‘berkencan’ di pameran lukisan. Yoona tersenyum pahit, ia ingin sekali melihat senyuman lebar Chanyeol seperti dalam foto lagi, tapi entah kenapa lelaki yang dirindukannya itu belum menunjukkan batang hidungnya juga.

Apa Chanyeol tidak penasaran bagaimana keadaannya? Mengapa Chanyeol tidak menghubunginya?

Pertanyaan-pertanyaan sejenis itu terus mengganggu pikirannya, terlebih dari itu, apa Chanyeol tidak merindukannya?

Hingga akhirnya, pikiran-pikiran negatif selalu menjawab berbagai pertanyaannya yang semula buntu, bagaimana pun itu naluri wanita. Selalu berprasangka negatif dan penuh curiga.

Yoona menghela napas teramat panjang, mencoba menjernihkan pikirannya dengan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Gadis ituterdiam, ketika mendapati sosok jangkung itu tengah berdiri tidak jauh darinya. Park Chanyeol disana, menatapnya dalam dan tak kunjung melakukan pergerakan.

“Chanyeol,” Yoona bergumam lirih, hendak bangkit dari duduknya namun potongan kejadian beberapa hari yang lalu seolah melumpuhkan kakinya. Yoona tak bisa bergerak, ia sama terdiam ditempatnya, menanti Chanyeol menghampirinya selagi ingatan itu menyeruak menggerogoti relung hatinya.

Kenapa rasanya begitu sakit ketika melihatmu Park Chanyeol? Apa ini pertanda buruk?

Sementara Yoona yang kini menundukkan kepala, Chanyeol tertegun melihat Yoona yang kini duduk diam di tempatnya. Gadis itu tidak menaikkan wajahnya, hanya menunduk menatap jari-jari tangannya yang kurus. Chanyeol ingin waktu berhenti, dia ingin terus menatap Yoona seperti ini. Dia tidak ingin ini berakhir,walaupun dia tahu ini harus. Menatap Yoona yang diam seperti sekarang ini nyaris membuat tekadnya ciut, dia tidak ingin menyakiti Yoona, juga tidak ingin terus menyakitinya lagi dan lagi.

Lelaki itu memberanikan diri mendekati Yoona, setiap langkahnya terasa begitu berat—meski tidak seberat beban di hatinya. Chanyeol menutup matanya rapat-rapat ketika dirinya hanya tinggal mengambil satu langkah terakhir untuk bisa sampai di hadapan Yoona.

Apakah dirinya siap dengan keputusannya sendiri?

Chanyeol mengambil ruang kosong disamping Yoona. Kursi taman itu cukup panjang jadi masih ada jarak yang memisahkan mereka. Keduanya terdiam cukup lama sampai akhirnya Chanyeol membuka pembicaraan, “Kau baik-baik saja?”

Yoona menatapnya kali ini, Chanyeol ingin menangis saat sadar mata indah itu mungkin tidak bisa dilihatnya lagi seperti sekarang ini. “Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?”

Chanyeol menganggukan kepalanya, “Aku baik.”

Yoona tersenyum sedih saat melihat ekspresi Chanyeol yang tertekan, dia tahu semuanya sangat rumit dan tidak baik-baik saja. Gadis itu berkata, “Melihat dari gelagatmu, kurasa, aku tahu apa yang membawamu kemari. Akhirnya, kau sudah memilih.”

Chanyeol menggeleng, “Aku tidak pernah memiliki pilihan Yoona, aku tidak diizinkan untuk memilih.”

“Kalau begitu apa yang akan kau katakan padaku adalah yang terbaik,” tutur Yoona tenang, membuat Chanyeol terkejut karena gadis itu sangat cepat mengerti.

“Aku minta maaf—”

“Kalimat itu dilarang untuk saat ini, aku tidak ingin mendengarnya,” gadis itu memotong ucapan Chanyeol. Dia berhenti menatap mata lelaki itu yang rapuh, jika Yoona terus menatapnya, dia bisa menangis.

“Yoona?” Chanyeol menarik tatapan Yoona untuk kedua kalinya, kali ini gadis itu sudah menatapnya lagi—matanya sudah berkaca-kaca. “Lebih baik kita berpisah.” Ucapnya—sedikit ragu.

Yoona menatap lelaki itu, gadis cantik itu memang sudah siap dengan perkataan Chanyeol—tapi dia tetap saja tidak bisa untuk tidak menunjukkan kesakitannya, gadis itu mengernyit saat air matanya jatuh, tapi dengan cepat menghapusnya.

“Aku ingin kau menungguku untuk selamanya, tapi aku pikir selamanya terlalu lama.” Chanyeol berucap lagi dengan suara tercekat. Dia jelas-jelas melihat Yoona menahan tangis.

“Jadi?” Yoona bertanya dengan suara yang bergetar.

Aku ingin bersama denganmu selamanya. “Aku ingin kita tidak perlu berhubungan lagi—aku ingin kau bahagia, dan aku tahu itu tidak denganku,” jawab Chanyeol tegas. Sebenarnya hatinya hancur saat ini.

Yoona tidak menunjukkan ekspresi kuatnya kali ini—dia menatap Chanyeol dengan tatapan takut, “Kau tidak berhak mengatur dengan siapa aku harus bahagia.”

“Aku tahu,” Chanyeol berusaha mati-matian untuk menahan air matanya juga, “Seseorang mengatakannya padaku, mencintai yang paling sejati adalah saat kau merelakannya dan membiarkannya bahagia.”

“Berhenti berbicara seolah kau benar tentang segalanya!” Yoona mulai kehilangan kendali, dia gemetaran. “Kau jelas tahu ini bukan cara untukku bisa bahagia.” Suaranya melemah.

Seolah mewakili perasaan keduanya, langit yang mendung itu kini ikut menangis juga, hujan mulai turun membasahi keduanya. Alih-alih mencari tempat berteduh, keduanya masih tak bergerak ditempatnya.Membiarkan air dingin itu menyamarkan air mata di kedua pipi mereka, membiarkan luka di hati mereka membeku dan membuka lagi luka yang baru, membiarkan ke-tidak-adilan itu menghujani mereka yang bahkan tak memberikan mereka celah untuk bahagia.

“Bertemu denganmu, kupikir aku akan bahagia namun kenyataannya tidak. Jadi, dimana bagian kau membiarkan aku bahagia sementara kau adalah alasan terbesar aku terluka?” Ujarnya perih yang bukan hanya menyayat hatinya sendiri tapi juga lelaki dihadapannya.

Pandangan Chanyeol mengabur karena hujan yang semakin deras, hatinya lebih perih lagi menyaksikan Yoona yang mulai kedinginan. Dia mencelos, dia sudah goyah—dia terbawa suasana dan lelaki itu begitu ingin meraih Yoona yang kini tampak begitu rapuh ke dalam dekapannya. Chanyeol begitu ingin menghentikan semuanya, menghentikan air mata Yoona, menghentikan Ayahnya, juga menghentikan takdir yang seolah mempermainkan mereka. Tapi Chanyeol juga sadar betul, ia tak bisa, tak akan pernah bisa.

“Kita akhiri saja.” Chanyeol berkata dingin. Menyeret pandangan Yoona menembus jauh ke dalam pandangannya. Lelaki itu mulai limbung saat mata Yoona yang berkaca-kaca menatapnya dengan berani.

“Semudah itukah?” Yoona mengusap air hujan diwajahnya dengan kedua telapak tangan, “Setelah semua ini, semudah itukah kau menyerah?”

Chanyeol memejamkan matanya, mengingat dengan jelas wajah pucat Yoona di punggung Jongin saat itu, mengingat itu membuatnya yakin sekali lagi. Dia membuka matanya, “Sekarang aku menyesal,”

Yoona yang sempat tertunduk, menatapnya lagi. Secercah harapan bersinar dimatanya. Hanya sejenak, tidak sampai hitungan ketiga, hatinya benar-benar Chanyeol hancurkan menjadi kepingan kecil—sangat kecil hingga Yoona merasa hatinya benar-benar mati dan tak bisa ditata kembali.

“Aku menyesal mencintaimu, Im Yoona.”

“Tidak. Kau—”

Chanyeol memotongnya, “Aku tahu dengan keputusanku, aku harus melepaskanmu dan itu adalah yang terbaik untuk kita. Aku akan bertunangan dengan Sooyeon lusa—dan mungkin kelak akan menikahinya, aku tidak peduli.”

“Park Chanyeol…”

Yoona makin tercekat, pasokan oksigen dalam paru-parunya seolah terserap tak bersisa seiring dengan hujan yang semakin deras. Kakinya melemas dan pandangan Yoona mengabur lamat-lamat.

“Aku tidak bisa melihatmu terluka lagi, mulai sekarang hiduplah dengan bahagia,” Park Chanyeol mengakhirinya dengan gerakan canggung saat dia melangkah mundur, iamenatap Yoona sekali lagi—terakhir kalinya. Kemudian tersenyum, “Aku pergi.”

Chanyeol membalikkan tubuhnya, hendak melangkahkan kakinya pergi namun sebuah teriakan menghentikannya.

“Yoona!”

Lelaki itu jelas tahu pemilik suara itu adalah Kim Jongin, pahlawan memang selalu datang di akhir bukan?—pikirnya sembari tersenyum kecil. Setidaknya akan selalu ada Jongin di samping Yoona, dan Chanyeol sedikit banyak merasa lega.

Chanyeol hendak melangkah lagi, namun langkah kakinya tertahan lagi ketika suara ribut bergerilya di balik punggungnya. Dan Chanyeol tidak bisa untuk tidak menoleh. Kakinya lemas ketika menemukan Yoona tahu-tahu sudah berada dalam dekapan Jongin tak sadarkan diri dengan dua gadis—yang Chanyeol ketahui adalah teman Yoona—berteriak histeris di sampingnya.

Chanyeol terkejut bukan main—tentu saja. Apa yang telah ia lakukan pada Yoona?

“Im Yoona. Bangunlah!” Jongin tak henti menggoncangkan tubuh Yoona, raut cemas terpatri jelas di wajahnya. Yoona perlahan membuka matanya, menganggukan kepala seolah memberitahu ketiganya bahwa ia tidak apa-apa. Meski kenyataannya tidak. Dan Chanyeol hanya mematung ditempatnya—sekuat hati untuk tidak berlari memeluk gadis itu dan menangis bersamanya.

Youngran di kejauhan berlari tergopoh-gopoh dengan sebuah payung kelabu ditangannya, ia memberikan payung itu pada Yuri yang kini berusaha memapah Yoona pergi bersama Sooyoung.

Meninggalkan dirinya, Youngran, dan Jongin yang berkilat marah menatapnya.

“Kau puas sekarang?” Jongin bertanya sarkatis, tatapannya lebih dingin dari biasanya.

Chanyeol menarik napas panjang, lantas tersenyum palsu diantara derasnya hujan. “Seharusnya pertanyaan itu untukmu bukan?” lelaki itu mendesis, “Apa kau puas hubungan kami akhirnya berakhir?”

Jongin memincingkan matanya. Jika itu pertanyaan untuk dirinya yang dulu, Jongin mungkin akan menjawab ‘ya’, namun sekarang keadaannya sudah berubah. “Kau—seharusnya aku memang tak pernah mempercayaimu untuk menjaga Yoona.” Katanya dengan tegas. Detik setelahnya, Jongin melangkah panjang mendekati Chanyeol dan dalam sekali gerakan melayangkan tinjunya pada pipi lelaki itu hingga Chanyeol sedikit terhuyung ke belakang.

Chanyeol tidak terlalu terkejut—berbeda dengan Youngran yang membulatkan kedua matanya. Lelaki itu telah jauh-jauh hari mengeskpetasikan hal-hal apa yang akan dilakukan Jongin padanya jika mereka bertemu—melihat dari perangai Kim Jongin, mendapat pukulan seperti itu rasanya wajar saja.

Oppa!” Suara melengking Minhwa muncul dari arah utara. Gadis itu berlari sekuat tenaga dengan payung merah muda yang digenggamnya sia-sia dan tubuhnya tetap basah kuyup—Minhwa teramat mengkhawatirkan sang kakak hingga ia tidak terlalu peduli dengan payung itu.

Belum sampai hitungan ke lima, Jongin melayangkan tinjunya lagi ke pipi yang satunya. Chanyeol tidak melawan—lelaki itu membiarkannya begitu saja sementara Minhwa sudah berteriak histeris ketika melihat darah segar keluar dari sudut bibir sang kakak.

“Kim Youngran, apa yang kau lakukan? Hentikan kakakmu!”

Seolah tersadar dari keterkejutannya, Youngran mencoba menarik Jongin yang terus memukuli Chanyeol dengan brutal. “Oppa, hentikan!” katanya berteriak meski akhirnya suaranya hanya tersamarkan derasnya hujan. Sementara Minhwa di sisi lain mulai menangis merutuki kebodohan sang kakak yang hanya diam saja.

“Jongin! Yoona Eonni akan semakin terluka jika kau seperti ini!” Youngran berteriak lagi—lebih kencang dan lebih tegas hingga pergerakan Jongin akhirnya berhenti.

Jongin menatap Chanyeol yang kini tersungkur di tanah dengan terengah. “Aku tidak pernah menyangka kau adalah seorang pengecut, Park Chanyeol,” Jongin menengadah, kemudian kembali berkata, “Kau tahu? Saat Yoona terluka karena ulah Ayahmu itu, dia tetap menggumamkan namamu dalam tidurnya—Yoona kami tidak pernah menyerah padamu meski ia terluka.”

Chanyeol memejamkan matanya, hatinya teriris ketika mendengar apa yang dikatakan Jongin. Dirinya juga tidak ingin menyerah—jika ia boleh memilih.

“Kau pengecut, Park Chanyeol.”

“Kakakku tidak seperti itu!” Minhwa berteriak berang, menatap Jongin tajam dengan matanya yang berlinang. Gadis itu terisak, “Asal kalian tahu, Oppa-ku melakukan semua ini demi—“

Chanyeol segera memotong ucapan Minhwa dengan meraih tangan dingin sang adik. Lelaki itu menggeleng ketika pandangan Minhwa bersirobok dengan miliknya. Minhwa yang mengerti maksud Chanyeol memutar bola matanya tak setuju.

“Demi bisnis keluargamu kan?” Youngran yang sedari tadi hanya diam akhirnya bersuara, membuat Minhwa lebih tercengang lagi.

“Youngran, kau—”

Youngran berbicara lagi bahkan ketika Minhwa belum sempat menyelesaikan kalimatnya, “Kupikir, Chanyeol Oppa adalah pria terbaik untuk Yoona Eonni. Kupikir. Tapi nyatanya, melindungi Eonni saja ia tak bisa.” Katanya lirih. Gadis itu menatap Chanyeol yang masih terduduk di tanah dengan lekat. “Oppa. Kau bilang kau akan menjaganya, melindunginya bahkan meski kau terluka. Perkataanmu itu bahkan masih terngiang jelas di ingatanku. Tapi sekarang apa? Kau malah semakin menyakitinya!” Youngran berbicara panjang—dengan penuh penekanan di setiap katanya. Hujan mulai reda dan mereka bisa melihat bulir-bulir air mata mengalir di pipinya.

Minhwa tertawa palsu, tak percaya jika kini orang-orang mulai menyudutkan kakaknya yang jelas-jelas Park Chanyeol sama terlukanya. Jari telunjuk gadis itu teracung; sambil berkata, “Kau—ah tidak. Kalian—kalian tidak tahu apa-apa.”

“Kalau begitu apa yang kalian tahu? Tidak tahukah seberapa menderitanya Yoona Eonni? Seberapa terguncangnya Eonni karena dipukuli? Dan seberapa menyakitkannya melihat Eonni masih bertahan meski justru ia begitu terluka?”

Park Chanyeol diam-diam mengepalkan kedua tangannya; lelaki itu marah, bukan kepada siapa-siapa tapi pada dirinya sendiri. Betapa menyakitkannya tahu Yoona sangat terluka tapi dirinya tak bisa melakukan apa-apa. Jadi, haruskah Chanyeol menyesal sekarang?

Terlalu banyak yang Park Chanyeol sesali. Mungkin yang terbaik untuk sekarang hanyalah pergi.

Chanyeol bangkit, meluruskan kedua kaki panjangnya dan menatap kosong partikel-partikel udara di hadapannya. Lelaki itu menghela napas, sudut bibirnya tertarik dan sebuah smirk terpatri disana.

“Aku tidak tahu, dan tidak peduli. Minhwa, ayo kita pulang.”

.

Waktu berjalan begitu cepat—setidaknya bagi Park Chanyeol yang kini diam-diam menatap kosong foto berharga dalam dompetnya. Fotonya bersama Yoona dengan ekspresi konyol sekaligus bahagia ketika mereka melakukan photobox dulu. Berbanding terbalik dengan dirinya yang sekarang, masih bisakah ia bahagia?

Hari ini pesta pembukaan cabang baru perusahaan Ayahnya. Sekaligus acara pertunangannya. Banyak pengusaha datang, dan semua orang ingin tahu siapa anak dari pengusaha sukses yang kini melebarkan sayapnya ke seluruh penjuru Korea. Jadi disinilah mereka, Park Chanyeol yang terlihat sangat tampan dengan tuxedo hitam dan dasi abu-abunya, Park Minhwa yang terlihat bosan juga cantik dengan gaun merah tua yang melekat di kulitnya. Juga di sisi lain tidak jauh dari mereka, Jung Sooyeon yang menatapnya genitdengan gaun shocking pink-nyayang cukup mengekspos tubuh indah gadis itu—dan Chanyeol adalah satu-satunya orang yang tidak tertarik akan hal itu.

Acap kali Minhwa melirik Chanyeol dan menepuk bahunya—mencoba memberi kekuatan pada sang kakak yang tampak begitu tertekan secara psikologis. Minhwa bahkan khawatir jika kakaknya itu bisa gila saking menderitanya.

“Aku bisa mengacaukan pestanya jika kau mau, Oppa.” Katanya bersungguh-sungguh—meski Chanyeol hanya menganggapnya lelucon untuk menghiburnya saja.

Chanyeol menggeleng, menyesakkan dompetnya lagi ke dalam saku, lalu mengusap kepala Minhwa. “Terima kasih. Kau benar-benar adikku yang terbaik, Park Minhwa.”

Minhwa tersenyum kecil, ucapan kakaknya itu terdengar seperti remaja putus asa yang perlu dikasihani—baginya. “Oppa, semangat! Selalu ada hal baik dibalik semuanya. Dan kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu—jika sudah saatnya.”

Chanyeol tersenyum—meski kepahitan tersamar dalam senyuman itu. Jika sudah saatnya? Sayangnya, ‘saatnya’ itu nyatanya tidak pernah datang padanya. Kebahagiaan tidak pernah memihaknya.

“Ya, semoga saja.”

Sementara itu, di bagian kota Seoul yang lain. Yoona hanya duduk diam di balik jendela. Angin malam berhembus cukup kencang namun gadis itu tak berniat untuk menutup jendela dan pergi menghangatkan tubuhnya di bawah selimut ataupun bergabung dengan yang lainnya di ruang tengah dan berbagi canda.

Gadis itu menghela napas teramat panjang lantas bergumam ‘sudah-saatnya’.

Yoona kembali menengadahkan kepala, memandang langit hitam dengan bintang-bintang yang menghiasinya. “Eomma,” gumamnya rendah. Setetes air mata mengalir di pipinya tanpa Yoona sadari.

“Haruskah aku melupakannya, Eomma?”

.

TBC

40 thoughts on “(Freelance) In Your Eyes (Chapter 12)

  1. sedih ih baca nya , ya ampun chanyeol ayo peejuangin cintanya buat yoona eonnie. yah ayah nya chanyeol menyebalkan ya tuhan

  2. satu kata untuk mndeskrisikan ff ini..
    DAEBAK!!!
    komplit bnget ffnya, ada humor, serius, sad n happy, wow bnget deh pkoknya (y)
    pcy, berjuanglah untuk yoona !!

  3. Dddaaaeebbbaakkk!!!
    ceritanya WOW banget!!
    mian bru leave comment skrang, soalnya keenkan bc ffnya sih. ckckckc..
    critanya keren bnget, humornya ada, seiusnya ada, sad sma happy nya juga ngenak banget. pokoknya kmplit (y)
    next chap dong, thor.. jebal TT_TT

  4. Tidaaak… Jangan lupakan pcy, Yoonaaa! Lu kayak ngga tau aja authornya udah bikin hepi ending buat ff ini, iya ngga sih thor?#KedipGenitKeAuthor #ngareep

    Seperti byasa yah thor, sesuatuh. Apa karna aku slalu baca ff ini dikamar sendiri malem malem, imbasnya jadi gampang banget menitikkan air mata huwaa😥

    Bagus sekali ff nya.. Dammit! Salut deh sama author yg dengan sabar menulis untuk In Your Eyes inih. Jieh, udah chap 12, kayak jlh member exo dulu ajah *sialan gue flashback*

    Thanks alot udah hadir di dunia ini thor…#lebay. Tanpamu, aku tak akan pernah bisa membaca ff yg menguras emosi ini. Abisin tuntasin ludesin ff ini ya thor. Aku setia kasi komentar dan pendapat kok. Love you thor bye muaahh

  5. Aku kesel bnget sama Mr Park
    Egois bnget, mentang2 mereka orang kaya seenaknya aja sama Yoona eonni
    Aku pengen Yoona eonni bahagia sama Jongin
    Terserah deh mau Chanyeol menderita BODO AMAT !!
    Biar aja Mr Park yg ngurus dia tuh

  6. Apadah thor. Dari kemaren gue ngebut baca nih ff. Jadi maaf cuma di chapter ini komennya. Duhh.. maaf sekali lagi. Dan yahh.. papanya chanyeol minta dibegal. Swear ngga tahan, jessica juga. Kmvrt lah, nyebelin-,- golok mana golok. Pengganggu cih, I hate it. Dihh.. kebawa cerita mangap:3 next chapter jan lama-lama yaa.. please, kepo weh

  7. Ish,gemes aku, CY kok gitu sih? Gampang menyerah hah?ihh gemes aku..
    Itu bapaknya CY mentingin dirinya sendiri lagi..Udh bagus ibunya CY sadar klo anaknya memang bahagia jika bersama dgn Yoona..
    Eh ya ampun, semoga ada seseorang yg ngancurin pertunangan itu,siapapun tolonglah..Kasihan Yoona sm CY

  8. Yaampun sedih bgt critanya😥😥
    Seriusan deh hiks hiks
    Hampir nangis bacanya :’)
    Kasian yoona😦
    Tapi juga gak bisa nyalahin chanyeol😦
    Semoga aja pertunangannya batal…
    Ayahnya chanyeol ngeselin banget soalnya -.-
    Ditunggu chapter slanjutnya ya thor, bagus ffnya!! Keren…

  9. Yoona Chanyeol sama” tersakiti :3
    Semoga ayahnya chanyeol sadar..
    terus orangtuanya yoona udh nolong apa ke keluarganya chanyeol?
    makin penasaran…
    chapter selanjutnya dipercepat ya thoorr *maksa :

    keep writing ya…
    fighting…

  10. Aduuuh… gmn cranya biar bisa nydarin ayah chanyeol yaaah…. ktrlaluan.. aku kasian ama chanyeol ama yoona.. ngg tega liat nya… keep fighting thoor lanjut… ^^

  11. Makin seru :3 Chanyeol dan Yoong sama-sama tersakiti T.T
    Oh kemarin aku kira Ayah Jes yang nyelakain Yoong😀 ternyata Ayah Chanyeol :3
    Feeling aku sih Ayah Chanyeol bakalan sadar *mulaisoktahu .-.
    Next ya ^^
    Fighting!❤

  12. ah kasiannnn.. sedih banget ih, mereka sama sama tersakiti, ngena bgt thor!! ditunggu kelanjutannya, fighting!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s