[Fanfiction Request] Hey You for Indri

hey-you-by-fn1

by FN

poter by : qintazshk @ yoongexo poster shop

// GG’s Yoona and EXO’s Baekhyun //

happy, sad, hurt

special for Indri

“Yoona, kau dimana?”

“diamlah, biarkan aku berpikir sejenak” ucap Yoona lelah

“jangan kabur lagi Yoona”

Ucapan itu menyinggungnya, desahan nafas berat keluar dari mulutnya dan tanpa mengucapkan apa-apa lagi, dia memutus sambungan itu sebelah pihak. Masa bodoh jika temannya itu nanti akan uring-uringan tak jelas padanya. Yoona merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Pekerjaannya cukup membuatnya ingin mati beberapa hari ini ditambah masalah dengan bosnya tadi. Ya, Yoona baru saja mengucapkan hal yang seharusnya tak dia ucapkan pada bosnya tapi—ego menguasai pikirannya dan membuatnya mengeluarkan kata-kata itu

“ahh… lupakan…lupakan…” dia bergumam berkali-kali memukul kepalanya pelan agar melupakan apa yang dipikirkannya.

Merasakan tiupan angin yang terus membuatnya enggan meninggalkan tempat yang dipijakinya saat ini. Sungai Han memang beda—setidaknya bagi Yoona—ini tempat yang membuatnya bisa merasakan seperti masalah yang tertimbun dipikirannya ditarik pergi oleh angin yang berhembus pelan.

Sekali lagi Yoona melebarkan tangannya, ingin meraup semuanya, menghilangkan apapun yang ada diotaknya saat ini. Setidaknya, agar dia mampu berpikir lebih rileks daripada sebelumnya

“ahh… segar” ucapnya pelan

Dia mengedarkan pandagannya pada air yang terbentang didepannya. Melipat kedua tangannya didada tapi sosok lain mengalihkan perhatiannya. Membuatnya terhenti sejenak dari apa yang dilakukannya tadi. Memperhatikan dengan amat cermat seorang lelaki yang sibuk dengan kamera SLR ditangannya. Memperhatikan semua gerak-geriknya, berjalan kesana kemari dan sesekali mengarahkan kameranya pada pemandangan yang menurutnya menarik untuk dia abadikan.

Yoona terdiam—iris madunya meniti kemanapun lelaki itu melangkah, meloncat atau apapun yang cukup menariknya dalam lamunan panjang yang tak dia sadari sedikitpun. Dia terlalu terpesona hingga dia tak menyadari bahwa lelaki itu sudah tak berada dalam pandangannya lagi.

Yoona mendesah kecewa. Baru kali ini dia menemui lelaki itu disini, meskipun dia sering datang kemari tapi lelaki itu benar-benar tampak asing baginya.

Dia mengusap wajanya dengan kedua telapak tangannya, menghilangkan pikiran-pikiran lain dan segera bergegas untuk pulang. Ponselnya bergetar—dari Yuri—mengatakan bahwa bos ingin menemuinya besok pagi. Yoona menyelipkan rambutnya, berharap bisa menemui lelaki itu lagi—ah… apa yang aku pikirkan?.

-Hey You-

Sepulang kerja, Yoona bergegas pergi. Dia akan kembali ke Sungai Han, entah kenapa dia ingin datang kesana lagi. Masalahnya sendiri sudah selesai dan bosnya masih tetap mempertahankannya untuk bekerja. Yuri tak sedikitpun dia ajak bicara karena dia cukup malas berdebat dengan gadis berkulit tan itu—ya, meskipun Yuri sudah meminta maaf. Mungkin ini alasan lain yang membuat kakinya dengan cepat bergerak kearah sungai dengan air tenang yang mampu menenangkan setiap orang yang menikmatinya.

Yoona hanya duduk diam, dengan kopi yang dibelinya tadi sebelum berjalan kemari. Suasana tak cukup ramai kecuali dengan dua pasang kekasih yang tampak sibuk dengan pekerjaan mereka

“kekasih?”

Yoona tertawa kecil ketika otaknya mengeluarkan satu kata yang tak menjamah kehidupannya selama 3 tahun ini. Yoona terlalu sibuk dengan sekolah dan pekerjaannya jadi dia tak memiliki waktu untuk menjalin hubungan tapi Yoona tak sadar hatinya mulai berdesir kembali sejak dia bertemu dengan seseorang yang bahkan tak dikenalnya sama sekali.

Lelaki itu ada disana, mengarahkan kameranya kesana kemari. Memotret keindahan alam pemberian sang pencipta yang bisa dinikmati secara bebas. Dia tahu ada gadis yang memperhatikannya. Dia bertemu gadis itu kemarin, bukan bertemu tepatnya tapi ketidaksengajaan yang membuatnya bertemu. Saat itu dia sedang sibuk dengan kameranya tapi tanpa sengaja dia memotret seorang gadis yang tengah termenung di pinggir sungai. Dia hanya tersenyum dengan hasil jepretan yang dia lakukan—puas lebih tepatnya.

Yoona kembali terdiam, mendiamkan diri dan memfokuskan pandangan matanya pada lelaki yang cukup jauh darinya. Yoona menyunggingkan senyumannya ketika lelaki itu mengedarkan pandangannya dan memperlihatkan wajah sempurna yang dimilikinya.

“siapa dia?” gumamnya pelan

Hatinya berteriak tetapi perasaan lain mengatakan padanya agar dia diam saja duduk disini, mengurungkan niatan utamanya ingin berkenalan dengan lelaki itu dan tampaknya lelaki itu juga tak terlalu memperdulikan kehadiran Yoona disana.

Yoona mengetukkan bolpoin yang sedari tadi ditangannya. Sudah seminggu dan tak ada pekerjaan penting hingga hari ini, selain panggilan dari bosnya untuk mengecek lahan perusahaan tempatnya bekerja untuk mendirikan sebuah apartemen, itupun 3 hari yang lalu. Dia sudah berbicara dengan Yuri meskipun hanya kata-kata singkat yang jarang mereka lakukan sebelumnya

“Yoona?”

Yoona mengangkat kepalanya, “wae?”

“tak ingin makan siang bersama? Aku lapar” ucap Yuri. Yuri sedang berusaha memperbaiki hubungan pertemanannya dengan Yoona gara-gara masalah tempo hari

Yoona tersenyum kecil, “tak buruk makan di kantor”

Senyum Yuri merekah dan dia merasa berhasil dengan apa yang dilakukannya tadi. Yoona juga tampak tersenyum dan juga Yoona tak risih tangan Yuri menggantung dilengannya sejak tadi.

“ah… Yoona”

Yoona mengalihkan pandangannya dan menatap Yuri yang tampak serius dengan ucapan yang masih tertahan di bibirnya

“ehm… aku—beberapa hari yang lalu aku melihatmu di sungai Han. Kau tak sedang ada masalah, kan?”

Yoona menggeleng, “ani, aku memang sering kesana bukan?”

“kau hanya kesana jika kau ada masalah” ucap Yuri

“aku hanya ingin kesana, toh itu rasanya memperluas pikiranku” jawab Yoona seadanya

“dan alasan lain?” Yuri bertanya curiga

“alasan lain? Tak ada Yul” sangga Yoona tertawa awkward

“tsk, dasar. Kau tak pandai berbohong didepanku” ucap Yuri mengernyit

Yoona tertawa kecil melihat ekspresi Yuri, sebenarnya dia rindu suasana ini seminggu yang lalu tapi Yoona terlalu gengsi untuk memulai jadi dia diam saja hingga Yuri yang memulainya terlebih dahulu.

“jadi, ada apa?” Yuri kembali bertanya, dia masih penasaran dengan Yoona

“apanya?”

“jangan bodoh, Im Yoona. Cepat katakan padaku” jawab Yuri

“arrasheo” ucap Yoona tersenyum, “aku beritahu tapi setelah kau ikut denganku pergi ke sungai Han”

Yuri tersenyum cerah, dengan anggukan cepat dia menyetujui perkataan Yoona.

Yoona pov

Hari ini aku kembali datang ke sungai Han dan aku menemukannya sudah berada disana lebih dulu. Sama seperti yang biasanya dia lakukan, memotret. Aku cukup penasaran dengan itu. Dia memotret setiap hari dan objeknya adalah Sungai Han. Tak ada yang berubah dengan sungai Han kecuali orang-orang yang menyempatkan waktu berkunjung kesana melepas rasa lelah atau berkencan dengan kekasih mereka.

Aku mengedarkan pandanganku, mencari-cari seseorang yang mungkin berkaitan dengan lelaki itu. Entah itu kakak, adik, saudara sepupu, teman atau bahkan—kekasih

Ah… tidak

Ada yang aneh ketika aku menyebut satu kata itu. Bukan karena aku tak pernah lagi memiliki seorang kekasih tapi perasaan aneh menyebut kata ‘kekasih’ pada lelaki itu. Seolah-olah aku tak ingin mengatakannya.

Aku kembali menarik ulur nafasku, menghirup udara untukku sebanyak yang aku mau. Agar paru-paru dalam tubuhku bisa lega dan juga jantungku bisa berdetak normal seperti biasa tapi—hal lain membuatku terpaku. Ketika mata kami tak sengaja bertemu saat aku mendongakkan kepalaku dan dia tersenyum ramah padaku—tapi itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum dia kembali sibuk dengan kamera ditangannya.

“kau pulang larut?”

“aku ada sedikit urusan, eomma” jawabku tersenyum. Setidaknya ini bisa membuat ibuku tenang

“istirahatlah. Sudah makan? Ingin eomma buatkan apa?” tawarnya

Aku menggeleng lemas. Aku tak tertarik dengan hal lainnya, yang aku inginkan hanyalah tidur dengan rilakkuma yang selalu menemaniku. Tapi ketika aku berusaha menutup mataku, bayangan itu kembali merasuk dalam otakku—senyuman lelaki itu—amat sangat manis. Aku tak bisa melupakannya hingga saat ini. sejak seminggu pertemuanku dengannya ini kali pertama dia tersenyum padaku.

Aku sudah menduganya sejak kemarin, Yuri akan sangat excited dengan perkataanku kemarin. Bahkan dia menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya, dia juga sangat sabar menungguku tanpa melontarkan kata ‘lelet’ yang sering dia ucapkan karena aku sedang malas.

“kau terlihat sangat bahagia” ucapku mengemasi barang-barangku, bersiap pulang

“tentu saja” jawabnya, “sudah selesai?” tanyanya

Aku mengangguk, “kajja, kita ke sungai Han”

Senyuman lebarnya menyambutku diiringi tarikan pada pergelangan tanganku. Hari ini menaiki mobil Yuri karena dia memaksaku tadi pagi agar berangkat bersamanya dan dia berjanji akan mengantarku pulang dengan senang hati.

Kami mengambil tempat tepat dipinggir sungai dengan coke dan juga makanan kecil yang Yuri beli di supermarket tak jauh dari sini.

Aku menemukan lelaki itu sedang duduk santai, tangannya digunakan untuk menahan tubuhnya dengan posisi hampir 1200. Dia memperhatikan langit-langit yang berwarna kebiruan. Aku tersenyum melihatnya. Seorang manusia ciptaan Tuhan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Angin sepoi juga menerbangkan rambut cokelat kemerahan miliknya. Aku merasakan matanya tertutup, menciba meresapi angin yang berhembus sekarang ini.

Bagaimana aku tahu?

Percayalah, aku juga sering melakukan hal itu.

“jadi, apa alasanmu?” pertanyaan itu mengubah pandanganku pada lelaki itu berganti menatap Yuri yang menopang dagunya penasaran

Aku tersenyum kecil, “tengoklah seseorang dibelakangmu” ucapku

Yuri melakukannya, menolehkan pandangan matanya pada seseorang yang duduk cukup jauh dibelakangnya memperhatikan langit

“lelaki itu?” tanya Yuri

Aku mengangguk, “ne, aku sedikit penasaran dengannya”

“kau mencintainya?”

Pertanyaan itu membuatku kaget, sekian hari ini aku tak pernah memikirkan perkataan itu akan muncul dariku sendiri ataupun dari mulut orang lain

“apa maksudmu? Aku hanya penasaran apa yang dilakukannya setiap hari disini” ucapku

“kau menjadi penguntit?”

Oh… aku sedang serius saat ini, “jangan bercanda, Kwon Yuri”

“arraseho. Apa kau mengenalnya?” aku menggeleng

“lalu kenapa kau penasaran?”

Geez, apa dia tak mendengarkan jawabanku tadi?

“oke, aku ingat jawabanmu tapi kau sama saja membuang waktumu, Yoong. Lebih baik kau segera mencari kekasih”

Aku tersenyum, “diamlah”

Aku kembali mengarahkan pandanganku pada lelaki itu. Dia sibuk dengan kameranya, memotret langit yang entah kenapa benar-benar indah menurutku hari ini. yuri terdiam, aku tak tahu apa yang dipikirkannya tapi yang aku tahu Yuri sudah tak penasaran denganku dan mungkin hanya menganggap ini lelucon yang sedang aku buat.

Itu bagus bukan? Jadi, dia tak aku tak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol yang keluar dari mulutnya yang kadang tak bisa direm.

Author pov

Semakin hari Yoona semakin sering datang kesana. Menikmati waktunya sendiri selain memperhatikan sungai Han yang mengalir tenang juga memperhatikan lelaki dengan kamera SLR yang sepertinya tak bisa diganggu

Seperti hati Yoona yang terus berteriak ingin mengetahui lebih dalam tentang lelaki itu. Dia tak tahu siapa namanya, rumahnya, nomer ponsenya bahkan bersapa dia tak pernah melakukannya. Ehm… setidaknya, dia sekali dia hampir mencoba menyapa lelaki itu. Berharap bisa mengenalnya lebih baik akan tetapi ketika langkah Yoona memperkecil jarak mereka, lelaki itu justru menjauh dan setelah itu menghilang dari pandangan Yoona.

Itu membuatnya menyimpulkan, lelaki itu tak ingin mengenal Yoona. Jadi, Yoona hanya diam, memperhatikan lelaki itu melakukan apa yang biasa mereka lakukan. Kadang Yoona sampai tak sadar terlalu memperhatikan lelaki itu.

Tapi disaat itu semua ada hari dimana Yoona tak menemukan lelaki itu di berada dijangkauan matanya. Biasanya lelaki itu akan setia disana, berdiri dengan kamera ditangannya tanpa teman ataupun keluarganya. Lelaki itu sering menghilang, Yoona hampir menyerah ketika tiba-tiba lelaki itu tak pernah datang ke sungai Han selama hampir satu bulan.

-Hey You-

“apa?! New York selama satu tahun?” mata Yoona membelalak tak percaya ketika mendengar informasi dari Yuri

“ne, kau senang bukan?” Yuri mendecih kecil

Yoona tersenyum lebar, “tentu saja. Hahaha… jangan iri”

“bukan iri tapi siapa yang akan menguilimu disana?”

Yoona memutar kedua matanya malas. Sahabatnya ini memang sedikit menjengkelkan. Tapi mengingat apa yang baru saja diberitahukannya tadi pikirannya menerawang jauh ketempat hamparan air itu. Dimana seorang lelaki yang selalu mengusik pikirannya. Dimana seorang lelaki yang mampu menarik semua perhatian yang ada padanya.

Yoona berjalan cepat ke sungai Han berharap menemui lelaki itu disana. Setidaknya dia bertemu dengan lelaki itu meskipun untuk terakhir kalinya. Yoona tak bisa berharap bertemu dengan lelaki itu lagi suatu hari nanti. Meskipun mereka bertemu lagi, dia tak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan mereka saat itu.

Yoona menyibak rambutnya. Kakinya lelah mengitari sungai Han demi bertemu dengan lelaki itu. Nihil. Dia tak menemukan lelaki itu disana. Hanya angin yang membawa bayangan lelaki itu sedang berjalan dengan kamera yang mengarah ke segala arah mengambil gambar yang bahkan Yoona tak mengerti sedikitpun.

Kau tak datang?

Dia menutup matanya rapat. Sia-sia saja menurutnya datang kemari bahkan mencarinya disini. Dia tak akan bisa bertemu dengan lelaki itu lagi. Dan itu membuat pikirannya menyerah. Menyerah meninggalka segala yang ada dipikirannya.

Bahkan aku tak tahu namanya. Kenapa aku sekecewa ini?

Yoona tersenyum kecil atas kebodohannya. Dengan langkah berat, dia meninggalkan sungai Han yang begitu tenang. Menikmati sekali lagi sebelum dia benar-benar pergi.

One years later…

Seorang wanita menarik koper biru miliknya. Kacamata hitam itu masih setia menggantung dihidungnya. Sebenarnya dia sudah bisa pulang seminggu yang lalu tetapi bosnya menunda kepulangannya dan menyuruh Yoona menyelesaikan pekerjaan terakhir disana sebelum dia benar-benar pulang.

Yoona melirik arloji ditangannya. Matanya menyebar mencari Yuri yang berjanji menjemputnya. Ini sudah sepuluh menit setelah dia turun dari pesawat bahkan dia tidak bertemu dengan hidung Yuri sejak tadi

“Yoona!!”

Teriakan itu mengalihkannya. Seorang gadis terburu-buru berlari kearahnya dan tersenyum kecil tak lupa memberikan sebuah pelukan rasa rindunya pada sahabatnya yang pergi satu tahun ini

“kau telat” ucap Yoona

“arrasheo. Macet, kau tentu tahu bagaimana Seoul” jawab Yuri menarik segera tangan Yoona meninggalkan bandara itu.

Mobil yang dibawa Yuri melewati sungai Han. Sungai yang begitu berarti baginya dan ingatannya tentang lelaki itu kembali membuka memori-memori yang bahkan tersimpan apik didalam lemari di otaknya. Mau tak mau itu membuat Yoona tersenyum mengingatnya

“bisakah kita berhenti sebentar?” ucap Yoona pelan. Yuri tanpa merespon hanya melakukan apa yang diinginkan Yoona.

Yoona berdiri dipinggir sungai, melebarkan tangannya sama seperti waktu itu. Merasakan udara sejuk Negara tempat kelahirannya. Yoona menyukainya sangat menyukainya. Sungai ini adalah tempatnya meluapkan segara perasaannya dan sungai ini adalah saksi dimana dia jatuh cinta dengan seorang lelaki yang bahkan tak dikenalnya sedikitpun.

“ada apa?” tanya Yuri. Wanita ini tampaknya juga menikmati, seperti yang dilakukan oleh Yoona

Yoona menggeleng pelan. Membungkam bibirnya sendiri. Bukan tak ingin bercerita pada Yuri tapi dia sedang tak ingin menceritakannya.

“besok ikutlah denganku ke pameran foto”.

-Hey You-

“jadi, sejak kapan kau menyukai hal seperti ini?” tanya Yoona. Foto-foto disana memang cukup menarik perhatiannya

“kau lupa kakakku seorang fotografer?”

Ah…Yoona lupa. Yoona tak begitu mengenal kakak Yuri karena selain kakak Yuri yang tak terlalu ramah juga karena kakak Yuri bukan seseorang yang hobi berada didalam rumah. Jika Yoona datang kesana, lelaki itu tak berada dirumah dengan alasan memotret.

“ah! Yoong!” Yuri memekik dan menarik Yoona dari sebuah potret rumah tradisional Korea

“apa sih?” Yoona sedikit kesal karena mereka menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung disana

“lihatlah!”

Yuri menunjuk sebuah foto dengan seorang gadis tengah menunduk. Rambut cokelatnya menutupi wajah gadis itu. Disamping foto kanan itu juga terdapat foto yang sama akan tetapi dengan posisi yang berbeda dan disamping kiri foto sebelumnya juga terdapat foto yang sama tapi wajah gadis elok itu mendongak. Sedetik setelahnya kedua sahabat itu tertegun

“Yoona, bukankah itu kau?” Yuri bertanya pelan

Yoona tak merespon. Dia mengamati setiap inchi dari foto yang ada didepannya. Berharap bahwa matanya sedang mengalami gangguan. Gadis di foto itu dirinya. Dirinya yang sedang berada di sungai Han. Yoona sangat ingat kenapa dia datang kesana. Foto pertama karena dia sedang ada masalah dengan bosnya, foto kedua ketika dia datang kesana karena ingin menemui lelaki itu dan foto ketiga adalah ketika terakhir kali dia di Korea sebelum berangkat ke New York

“Yoong”

Yoona terpaku ditempatnya. Bahkan menjawab panggilan Yuri pun terasa kaku dibibirnya. dia tak tahu bahkan dia tak mau tahu tentang dunia seperti ini dan ini kali pertamanya dia memasuki gedung pameran galeri. Dan dia tak akan pernah menyangka jika ada potret dirinya disana

‘Hey You…-Byun Baekhyun’

“bukankah dia gadis itu?”

“jinjayo?”

“wahh…”

Tap…tap…tap…

Suara detak sepatu mewah itu mengiringi seorang lelaki dengan jas hitam rapi mendekati kerumunan tempat dimana Yoona dan Yuri masih diam tak percaya dengan apa yang dilihat dihadapan mereka. Lelaki itu merapikan jas hitam miliknya. Membuat tatapan beberapa orang yang awalnya pada potret itu beralih pada lelaki itu. Parasnya tampan dan itu seperti sebuah candu yang membuat mereka enggan mengalihkan pandangan mereka

“Im Yoona-ssi” panggilan sopan itu mengalihkan Yoona. Membuat gadis itu tetap bungkam. “aku tahu kau akan datang kemari’

“apa aku—?”

“bisa ikut denganku? Ada suatu hal yang perlu aku jelaskan”.

-Hey You-

Yoona melipat kedua kakinya, menyembunyikan kepalanya dan menangis dalam diam. Hanya sungai Han tempatnya bersandar kali ini. Hatinya teriris mendengar apa yang diucapkan oleh lelaki di pameran galeri tadi. Dia datang kesana bukan karena ajakan Yuri tetapi karena lelaki itu mengundangnya dengan menggunakan Yuri sebagai alasannya. Tapi bukan itu masalah yang sedang ada dipikirannya saat ini

“namanya Byun Baekhyun, dia sahabatku sejak kecil. Itu hanya sebagian foto saja yang dipasang disana” lelaki itu menyerahkan satu album penuh foto-foto yang diambil oleh lelaki bernama Byun Baekhyun

“dan ini” lelaki itu menghentikan ucapannya, mengambil nafas sejenak untuk mengisi paru-paru miliknya. “semua fotomu”

“well, aku melarangnya untuk memamerkan ini di galeri tapi ini permintaan terakhirnya sebelum dia pergi. Aku harap kau mengerti”

Yoona tak menjawab apapun yang dikatakan oleh lelaki itu. Tangannya bergetar hebat melihat seluruh koleksi foto yang ada di album mini yang diberikan oleh lelaki itu. Ingin Yoona membuka suara tetapi sesuatu terasa mengganjal ditenggorokannya yang menyebabkan hanya suara serak dan berat yang bahkan tak didengar oleh lelaki tadi

“Baekhyun… dia benar-benar ingin bertemu denganmu secara langsung. Berkenalan denganmu dan mengetahui namamu sebelum dia pergi” lelaki itu tampak menarik nafasnya lagi, seperti menahan tangis yang hendak keluar dari mata bening miliknya. “tapi dia tak bisa melakukannya selain hanya menatapmu dari jauh. Seperti yang dia lakukan saat itu”

Alzheimer

Lelaki itu menderita penyakit yang bahkan tak diinginkan oleh siapapun. Pergi ketika diharapkan dan kembali dalam sekejap mata. Itu yang menjadi alasan bagi seorang Byun Baekhyun menahan perasaannya sendiri pada gadis yang mampu menarik perhatiannya selama itu. Dia hanya terlalu takut akan melupakan seseorang yang dicintainya.

“dia jatuh cinta padamu. Aku berusaha membantunya untuk mencari tahu tentangmu tapi—waktu itu dia melupakan segalanya bahkan dia sempat mengusirku dari rumahnya lantaran dia tak mengingatku sebagai sahabatnya”

“dia sangat menyukai semua foto-fotomu. Setiap kali dia berhasil mendapatkan fotomu, dia akan tersenyum seharian dan menceritakan padaku soal foto-foto yang dia ambil. Jujur, aku tak suka saat aku tahu Baekhyun menyukaimu—bukan karena aku membencimu tapi karena kalian tak mengenal satu sama lain. Tapi melihat kesungguhan mata Baekhyun, aku mulai menerimamu dan berusaha mempersatukan kalian tapi pada saat terakhir pun—aku gagal melakukannya”

“aku tahu tentangmu dari Kwon Jun, aku tak percaya saat itu padanya sampai dia memberiku bukti bahwa kau teman dari adiknya. saat terakhir dalam hidupnya aku ingin memberitahu namamu padanya tapi aku tak bisa melakukannya karena aku terlambat datang menemuinya. Pekerjaan bodoh itu yang membuatku terjebak di kantor” kali ini lelaki ini benar-benar menangis penuh penyesalan

“dia meninggal seminggu yang lalu. Penyakit leukemia itu membunuhnya secara perlahan. Dan hari terakhir saat dia melihatmu di sungai Han sebelum kau pergi itu adalah hari dimana kondisinya semakin drop tapi dia—dia—”

Laki-laki itu—Park Chanyeol mengusap matanya yang berair. Bibirnya bergetar ketika dia berusaha melanjutkan cerita yang dia miliki pada gadis yang dicintai sahabatnya

“dia—dia—dia tetap memaksakan dirinya datang kesana setiap hari. Demi menemuimu. Melihat gadis semu yang bahkan menurutnya tak bisa digapainya sama sekali setiap hari. Tapi dia memaksa hingga kau tak pernah datang kesana lagi. Dia tak tahu jika kau pergi. Dia pikir kau tak datang kesana karena kau tahu bahwa dia sering memotretmu. Hingga hari itu mencapai klimaks dalam hidupnya. Dia pingsan sebelum aku berada disana”

“dia mencintaimu, sangat. Aku tak pernah tahu tatapan mata yang dimiliki Baekhyun waktu itu, tatapan penuh cinta yang bahkan belum pernah aku lihat sebelumnya”

“dan yang membuatku menyesal, aku tidak memberitahu siapa namamu padanya”.

Yoona menangis semakin keras. Cerita itu layaknya pukulan hebat yang merambat masuk kedalam otaknya. Dia tak pernah berpikir bahwa akan seperti ini. dia juga mencintai lelaki itu tetapi sama seperti langit dan bumi. Dia tak akan pernah menggapainya lagi. Karena Tuhan telah mentakdirkan sesuatu yang lain pada mereka berdua.

Jika aku memulainya lebih awal, aku tidak akan pernah semenyesal ini.

Jika kau melupakanku, maka aku yang akan selalu mengingatkan tentangku padamu agar kau tak melupakanku dengan semudah itu.

Aku memang berharap takdir yang lain tetapi jika seperti ini, aku berharap aku bisa memutar waktu kembali.

END

Nama Requester : Indri
Judul Fanfiction : Hey You
Main Cast (prioritas) : Yoona & Baekhyun
Cast (pilihan lain) : Yoona & Luhan
Genre : Romance, angst
Length (Drabble/Ficlet) : Kalau bisa sih ficlet, tapi terserah aja ;D
Summary : Baek itu seorang photographer, tapi dia penderita alzheimer. Setiap hari dia selalu datang ke sungai Han. Suatu hari Yoona liat Baek yg lg motret dan langsung cinta pd pandangan pertama, tapi Yoona ga mau ngenalin diri duluan karena dia malu.sampe udah 1 bulan Yoona dateng terus ke sungai Han cuma buat liat Baek. Yoona penasaran bgt kenapa baek selalu ada disitu tiap hari. Suatu hari yoona harus pindah dari seoul. Waktu dia balik ke seoul 1 tahun kemudian temennya ngajak yoona ke pameran galeri foto, dia kaget kenapa ada foto dia di galeri itu. Ternyata itu hasil foto dari baek, tapi sayangnya baek udah meninggal 1 minggu lalu karena penyakitnya. Dan alasan baek ke sungai Han cuma buat motret yoona. Dia ga mau kenalan karena takut ngelupain yoona.
Contact Person (Twitter/E-mail) : @614park / indriyanti229@gmail.com

haiii Indri😀 mianhe ngepostnya kelamaan😦 dan maaf banget kalau ceritanya agak ngawur dan keluar dari jalur. maaf juga buat ending yang huaah jauh dari bayangan kamu. hope you like it aja deh hehehe🙂.

see yaa😉

39 thoughts on “[Fanfiction Request] Hey You for Indri

  1. sdih bget liat yoonbaek
    sling suka , tpi ga prnh ngmg sama skali ..
    smpe si baek ny udh ga ad bru terbongkar semua
    nyesek bgett .. 😦

  2. Ini aku yang salah baca atau gimana? . .penyakit baekhyun itu yang sebenernya apa ya? . .alzhaemer atau leukhimia? . .cuma itu yang ganjel pikiranku. .mian
    endingnya sedih, tpi aku suka. .

  3. Kyaaaa,, ffnya bagus banget, sesuai harapan, aku suka banget deh,, makasih ya udah buatin ffnya,
    aku suka banget waktu kamu ngedeskripsiin baekhyunnya waktu lagi di sungai han, feel nya kerasa banget.
    pokonya keren.. love youuuu
    semangat ya buat bikin ff lainnya😀

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s