[Fanfiction Request] Love in Spring

yy
.

a fiction-request by DeeRabbit

scriptwriter; chiharu

Love in Spring

starring by Im Yoona and Xi Luhan

support by Oh Sehun

Genre and Rating
Romance, Fluff, semi-Sad | PG15

Disclaimer
Garis besar cerita dibuat oleh pe-request, DeeRabbit—dikembangkan dan ditulis oleh Chiharu (saya sendiri). Sumber gambar dari Google.

2015

.


Aku selalu aneh ketika melihat sorot mata itu. Mata itu mengingatkanku pada Sehun, walaupun bisa dilihat dengan jelas jika mata mereka memang jauh berbeda. Kurang lebih seminggu yang lalu, aku selalu melihat lelaki itu datang kesini—ke taman yang sama denganku, tapi sebelumnya aku tidak pernah melihat dia. Dia selalu sama, datang dengan kamera yang menggantung di lehernya dan senyum yang selalu tersungging lebar.

Aku jelas suka memerhatikan mereka yang datang kesini, secara tidak langsung. Boleh dibilang juga aku tahu sudut-sudut taman ini, sebelumnya tidak seramai ini—aku lupa, sekarang adalah musim semi, destinasi sebagian orang pasti taman—setidaknya saat musim semi, tidak sepertiku yang sejak lama selalu datang kesini—alasannya adalah Sehun, kekasihku yang meninggal dua bulan lalu.

Sebagai orang yang suka datang kesini, jelas aku hapal siapa-siapa saja yang sering kulihat disini. Dan entah kenapa aku merasa aneh terhadap lelaki berwajah em… manis itu—aku tidak tahu, apa mungkin perasaanku saja? Aku selalu merasa kalau dia memerhatikanku, bahkan aku sempat curiga kalau dia diam-diam memotretku juga. Entahlah, walaupun begitu aku berusaha menepisnya karena semua orang berhak datang kesini—apalagi di musim semi—musim favoritku.

Ya, seperti keseharianku, aku sedang ada di taman—sama seperti sore-sore biasanya, dan tentu saja aku mendapati lelaki ‘asing’ itu. Lelaki itu sedang duduk di bangku dekat lampu taman, dihadapannya tepat ada sepasang suami-istri dari Eropa yang kira-kira sudah berumur 70-an. Mereka membuat anak muda iri karena mereka begitu romantis—masa tua yang diisi dengan duduk-duduk dan beristirahat bersama orang yang mereka cintai—tak terkecuali aku, aku juga iri pada mereka, belum lagi kalau aku ingat Sehun—bahkan awal-awal aku melihat mereka, aku sempat menangis karena kesal.

Aku agak mengernyit saat lelaki itu bangkit dari duduknya dan terlihat memotret pasangan paruh baya itu. Huh, sejujurnya itu membuatku kesal. Aku menggigit bibir bawahku dan menekan tanganku ke bangku taman—tunggu, ada yang beda. Aku kaget, ternyata disana ada sebuket bunga mawar merah muda—tentu saja banyak sekali pertanyaan dibenakku, salah-satunya adalah ‘kenapa aku tidak menyadari ini dari tadi?’

Dan sial, kenapa ada saja yang membuatku sedih. Aku teringat pada Sehun karena dia suka memberikan ini padaku.

Dengan penasaran, aku mengambil secarik kertas yang ada di dalamnya.

Kau pasti kaget! Kau tidak salah, bunga ini memang benar untukmu.

Namaku Xi Luhan,

Aku tahu kau suka dengan bunga mawar warna merah muda.

Aku selalu memperhatikanmu.

Aku diberi amanat oleh saudaraku, kelak aku akan menikahimu.

Perasaanku mulai aneh, aku menolehkan kepalaku ke belakang dan beberapa kali ke samping—mencoba memastikan apa ini sebenarnya? Apa hanya kebetulan? Atau orang lain yang salah menyimpan bunga? Ah jelas-jelas ini seperti sebuah terror.

“Halo,”

Tidak! Aku sangat kaget saat lelaki ‘asing’ itu tepat berada dihadapanku, dia tersenyum lembut. “Mau difoto?”

Aku tidak bisa berbicara banyak dan kesulitan untuk mengontrol diriku, aku hanya mengiyakan apa yang ia tawarkan—karena ia sudah mengangkat kameranya dan bersiap memotretku. Aku tersenyum tipis tanpa ada gaya apapun—mungkin aku akan terlihat kaku.

“Bolehkah aku duduk disini?” dia menunjuk tempat duduk disebelahku, aku hanya mengiyakan dengan mengangguk, tanpa mengatakan apapun.

“Maaf, kenapa kau terlihat kaget? Oh ya, bunganya sangat cantik.”

“Benarkah?—Mmm, aku tidak tahu bunga ini dari siapa, mungkin ada orang yang keliru.” jawabku dengan canggung.

“Kau yakin? Jelas dalam tulisannya bahwa kau memang tidak keliru.” dia berbicara santai sambil tersenyum—senyum yang ia tunjukkan seenaknya, membuatku teringat akan mendiang Sehun dan tentunya membuatku kaget dengan kalimatnya. “Aku adalah orangnya.”

///

Sudah seminggu lamanya aku mengenal lelaki asing itu, akhirnya aku tahu namanya, Xi Luhan. Aku tidak habis pikir kalau perasaanku memang benar—dia memang suka memerhatikanku. Ternyata cukup lama juga, dia baru berani mengajakku berkenalan setelah seminggu dia melihatku, dan saat itu—keesokan harinya, dia menyampaikan maksudnya padaku, kalau dia memang saudara Sehun, dia bilang Sehun menitipkanku padanya. Aku tidak tahu harus merespon apa—aku hanya diam saat dia berbicara seperti itu.

Bersamaan dengan bubble tea yang aku pegang, aku mulai berjalan menuju tempat dudukku biasanya. Agak aneh, bahkan sekarang aku tidak melihat pemandangan seperti biasa—pasangan paruh baya itu tidak ada di tempat mereka, dan Luhan sama sekali tidak terlihat di bangku ‘milikku’, padahal sebelumnya, dia selalu datang lebih awal dariku.

Merasa aneh, aku mencoba duduk dan tidak menghiraukan suasana yang sebelumnya membuatku berpikir. Toh, aku tidak peduli dengan kegiatan orang-orang disini—yang sekarang mereka menghilang entah kemana—taman ini terlihat kosong.

Aku mulai membuka fish and chips yang baru saja ku beli. Aku mencoba memakannya dengan tenang—tapi entah rasa empatiku yang tinggi, aku tidak bisa memakannya dengan tenang. Lagi-lagi aku melihat sekeliling dan kembali bertanya-tanya ‘kemana orang-orang itu?’

Pandanganku terhenti saat aku melihat sebuah kertas kecil persisi menempel diatas sepatu kets milikku, aku memungutnya.

Ikuti jalanan yang ditandai dengan daun-daun warna coklat.

Kumohon.

Astaga! Aku baru sadar jika jalanan di hadapanku ini berhiaskan daun-daun warna coklat—aku baru menyadarinya, ini kan musim semi? mana mungkin ada daun-daun tua berserakan seperti itu. Baiklah, aku mulai menyadari kalau ini hanya buatan.

Dan, siapa yang membuat ini?

Dengan cepat, aku mulai berjalan mengikuti jalur berdaun coklat itu. Sepanjang aku berjalan, aku tidak henti-hentinya berpikir dan menduga-duga, apakah ini surprise? Aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi penarasan sekaligus ‘pede’ yang kini tengah menghinggapiku. Sesekali, aku meminum bubble tea yang masih aku pegang.

Tunggu. Aku berhenti sejenak saat memasuki jalalan yang rimbun dengan pepohonan—bahkan hampir tertutup. Dengan agak ragu, aku kembali berjalan mengikuti jalur ini—dengan menunduk melihat dau-daun coklat itu, sampai akhirnya kakiku tak lagi menginjak jalanan berdaun coklat itu. Masih menunduk, lantas aku berpikir dan bertanya-tanya. Aku merasakan suasana aneh di sekitarku. Dengan agak ragu, aku mendongkak.

Dia.

Mereka.

Aku masih berdiri disana, jauh dari mereka—dengan mematung. Aku tidak bisa merespon banyak. Apa ini semua?

Disana, dihiasi oleh balon-balon berwarna putih dan ungu muda. Disudut sana, tepat ada beberapa pemain biola yang tersenyum padaku—semuanya tersenyum padaku. Lalu, ada banyak orang—mereka pengunjung taman ini—yang memegang bunga mawar putih, semuanya melihat padaku. Dan tentu saja, aku tidak habis pikir—dia, Luhan berada ditengah-tengah mereka sambil tersenyum lembut—aku tidak bisa memungkiri kalau kurva di wajahnya itu sangat manis.

Tapi bukan itu.

Semua ini, tata letak dan segala komponennya—sama persis seperti apa yang aku bilang lima bulan yang lalu pada Sehun—aku berkata padanya dengan asal kalau aku ingin dilamar dengan semua kompenen yang saat ini ada di depan mataku. Taman, Pemain biola, Balon putih-ungu, Orang banyak—dan tentunya kebahagiaan. Dan aku lupa, hari ini adalah hari dimana Sehun merencanakan sesuatu untukku. Aku tidak tahu sebelumnya.

“Yoona-ssi.” aku baru tersadar saat Luhan menggumamkan namaku, lebih tepatnya memanggil.

Dengan mata yang agak berbayang, aku tetap diam di tempat—Luhan mulai berjalan ke arahku sambil membawa satu kotak kecil. Dia setengah berjongkok dihadapanku, kemudian berkata dengan lembut, “Will you marry me?”

Tepat saat itu, air mataku mulai meluncur bebas. Bukan ini. Saat ini aku tidak ingat dengan siapapun, persetan dengan Luhan yang melamarku dengan manis atau apa—aku ingat Sehun, dan semuanya tidak secepat ini—tidak secepat ini aku melupakan Sehun. Aku menggeleng dengan pelan sebelum lelaki itu mengganti raut wajahnya.

///

Semilir angin musim semi memanjakan siapa saja yang ikut menikmatinya. Bunga-bunga dan pohon-pohon yang tumbuh dengan subur dan mamanjakan mata terlihat menghiasi taman ini. Tidak jauh dari pohon Sakura, seorang lelaki terlihat cemas sambil terjaga dalam duduknya. Beberapa kali ia terlihat melirik arlojinya dan bergantian menatap sebuket bunga mawar merah muda yang tersimpan asal di sampingnya.

Dua hari berlalu, setelah lelaki itu—Luhan, memberanikan diri menjalankan amanat saudaranya, ia kembali datang ke tempat ini. Walaupun saat itu, ia dilanda perasaan yang amat sedih. Bukan karena malu kehancurannya disaksikan banyak orang, tapi ia tidak tahu kenapa hatinya sakit saat gadis itu menolaknya dalam diam. Belum lagi, khawatir bagaimana keadaan Yoona sekarang. Gadis itu pasti akan sedikit menutup diri dan ia khawatir kalau gadis itu tidak datang lagi kesini karenanya.

Sebenarnya, saat semasa Sehun masih hidup, Luhan sudah sering melihat Yoona. Hanya saja ia tidak pernah langsung bertatap muka dengannya. Saat Sehun merencanakan akan menyatakan cintanya pada Yoona, sebenarnya hati kecil Luhan tidak menerima itu—karena diam-diam ia juga menyimpan perasaan pada gadis itu. Tapi demi Sehun, ia simpan saja semuanya—lagipula saat itu ia tidak berani bilang pada Yoona. Lagipula juga, yang lebih berani akan lebih dihargai, daripada orang yang memendam dan terus menunggu—setidaknya itu pemikiran Luhan saat itu.

Untuk kesekian kalinya, ia kembali melirik arlojinya. Ini sudah pukul lima sore, dan biasanya Yoona akan pulang dari taman—ini artinya gadis itu tidak kesini lagi, sama seperti kemarin.

Luhan menghembuskan nafas berat, sekaligus membesarkan hatinya. Ia melirik sebuket bunga itu sekilas, sebelum akhirnya ia bangkit dan pergi dari sana.

.

1 minggu kemudian,

Bangku kayu coklat itu tak bertuan semenjak seminggu kebelakang. Tidak ada penghuni rutin yang biasanya akan duduk disana.

Disana hanya ada sebuket bunga yang sudah layu, tidak ada yang memindahkannya.

.

4 hari kemudian,

Bangku itu tetap tidak berpenghuni, hanya ada sebuket bunga yang sudah layu, sama seperti beberapa hari sebelumnya.

Bunga itu semakin layu, kelopaknya berwarna coklat tua, kering dan beberapa tertiup angin. Musim semi terlihat seperti musim gugur.

///

Kakiku berjalan dengan sedikit kaku karena aku masih ragu. Terhitung kurang lebih sudah dua minggu aku tidak datang ke taman. Aku memegang sebelah tanganku sambil berjalan dengan ragu.

Sama sekali tidak bisa dimengerti, aku merasa bahwa tidak ada yang bisa disalahkan dalam situasi beberapa waktu yang lalu. Mungkin, saat itu aku hanya kaget dan belum siap. Aku juga tidak mengerti bahwa di hari-hari sebelumnya aku sadar kalau Sehun tidak mungkin memberiku seseorang yang salah, lagipula aku percaya di dunia ini tidak ada kebetulan, everything’s permitted. Sekarang, aku berdiri disini—di tempat yang agak jauh dari bangku yang biasa aku tempati—aku akan menemuinya lagi.

Aku belum beranjak dari tempatku sekarang, tepat di bawah pohon Sakura. Bangku itu terlihat kosong, tidak ada yang menempati. Apakah pengunjung taman ini hapap betul kalau aku yang selalu duduk disana, sehingga tidak ada satupun dari mereka yang duduk disana?

Dan benar saja, aku tidak mendapati Luhan berada disana. Tentu saja! Aku memberinya penolakan dan pengabaian lebih dari satu minggu—hanya laki-laki gila yang bersedia menunggu setiap hari disini—untuk diriku yang bahkan mengabaikannya.

Aku minta maaf.

Kakiku mulai berjalan menuju bangku itu dan berdiri sejenak di depannya. Hatiku seolah bertanya-tanya saat mendapati sesuatu disana. Sebuket bunga mawar yang sudah layu, kering, dan warna kecoklatan. Aku tidak tahu harus bereaksi apa, tapi diriku merasa terenyuh—dia tetap seperti itu walaupun aku tidak ada.

Aku meraih sebuket bunga berpotret musim gugur itu kemudian aku duduk. Sebenarnya aku tidak tahu apa maksudku datang kesini—mungkin aku akan mencoba, tanpa… melupakan Sehun? Mungkin dengan alasan menghargai Sehun, tapi disisi lain aku juga ingin minta maaf, pasti Luhan sangat kecewa.

“Permisi,”

“Luhan?”

Ternyata bukan, malah seorang lelaki bersepeda yang menyunggingkan senyum padaku. Dia tepat berhenti di depanku. “Ada apa?”

Kata-kataku sama seperti saat aku bertemu dengan Luhan.

“Bersediakah jika nona duduk di jok belakang sepedaku? Hanya untuk berjalan-jalan.” lelaki itu sekilas melirik jok belakang sepedanya.

“Untuk berjalan-jalan?”

“Ya,” dia tersenyum sambil membunyikan lonceng sepedanya. “Ayolah.” bahkan sekarang dia menarik tanganku agar aku segera berdiri—dan dengan sialnya, pantatku sudah duduk saja di jok sepedanya dan lelaki itu sudah menggoes sepedanya.

“H-hei!” geramku padanya.

///

Sialan. Kenapa aku harus percaya pada lelaki tadi? Bahkan sekarang aku ditinggalkan di tengah jalan seperti ini, di dekat pantai. Aku berdiri di tepi jalan menghadap ke pantai—dengan di depanku adalah jurang kecil yang ditumbuhi bunga-bunga berwarna kuning.

Aku menunduk, bahkan saat aku ditarik naik sepeda tadi, aku tidak sadar kalau aku masih memegang sebuket bunga yang kering ini.

Huh, lelaki itu bilang kalau dia akan kembali dan membawaku ke taman itu lagi—lelaki bodoh itu pergi dengan alasan membelikanku minum. Aku ini gadis bodoh macam apa, sih? Aku bahkan terkesan memiliki pikiran yang sangat pendek.

“Permisi,”

“Kau kemana saja, si—”

Kalimatku tidak terselesaikan diikuti oleh diriku yang tiba-tiba saja tidak tahu harus berbuat apa. Reaksiku hanya mematung setelah kemudian aku dipaksa membuka suara.

“Lu-luhan?” gumamku lirih. Lelaki itu hanya membalas dengan senyuman manis, seperti biasa. “Ma-maafkan aku.” hanya itu yang bisa ku ucapkan.

“Sudahlah, sekarang naik saja.” ucapnya sambil sekilas melirik joka belakang sepeda yang dinaikinya. Tanpa pemikiran apapun, aku langsung duduk di jok belakang itu—entahlah.

Dia mulai menggoes sepedanya. Saat perjalanan ini berlangsung, kami tidak membuat percapakapan apapun. Aku hanya memegang sebuket bunga itu sambil melihat pemandangan pantai dan dimanjakan oleh angin musim semi yang menyejukkan.

“Kau masih memegang bunga bodoh itu?”

“Ah, ya…” ucapku reflek karena Luhan tiba-tiba saja buka suara.

“Maafkan aku.” ucapnya kemudian.

“Tidak! Aku yang harusnya meminta maaf.” sanggahku dengan cepat. Aku bisa mendengar nada suara Luhan yang santai.

“Bukan begitu, lagipula cinta memang tidak bisa dipaksakan. Mau membuat hal seindah bagaimana juga, tetap saja cinta tidak bisa dipaksakan.”

Aku kembali terdiam mendengar perkataannya. Tidak mungkin dia menyimpan luka, dia kan hanya menjalankan amanat saudaranya.

“Tidak seharusnya kau melakukan ini, kau pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku.” akhirnya aku membuka suara sambil menunduk, memegang beberapa kelopak kering yang ada di pangkuanku.

“Aku mungkin sudah salah arah. Aku bahkan sudah melihatmu sejak dulu.”

“Maksudmu?”

Dia hanya terkekeh pelan tanpa melanjutkannya dengan kalimat apapun. Kakinya masih menggoes sepeda ini dengan santai.

Melihat?

Apa maskudnya… Dia sudah mengenalku sejak dulu?

“Ah, lupakan saja tentang kalimat terakhirku, tidak usah dipikirkan.” ujarnya dengan santai.

Lagi-lagi kami diam untuk waktu yang cukup lama. Entah sudah berapa lama kami duduk bersamaan seperti ini, bersepda di jalan yang langsung menghadap ke pantai. Mungkin hanya beberapa menit, tapi ini terasa sangat lama bagiku.

Tapi aneh juga, apa ia tidak marah padaku? Bahkan sekarang ia rela memboncengku—orang sudah mempermalukannya saat di taman.

“Im Yoona,”

Dia membuka suara membuatku menggeserkan kepala, “Ya?”

“Apa aku boleh jika aku melanjutkan niatku?”

Huh, lagi-lagi aku terdiam. Aku sebenarnya tidak mengerti dengan ingatanku, kalau hari-hari sebelumnya aku selalu ingat lelaki ini, Xi Luhan.

Senyumannya, tatapannya yang hangat, bagaimana cara dia bicara dan menatapku. Aku bahkan berusaha menyembunyikannya dari diriku sendiri—berusaha mendoktrin diriku kalau aku memang tidak merasakan hal apapun terhadap Luhan. Tapi aku mengingatnya terus-menerus, apalagi barusan, saat ia menyatakan kalimat yang membuatku agak bangkit.

“Niatmu?” aku bertanya memastikan dengan nada suara yang agak kaku.

“Kau bersedia jika aku melamarmu?”

Aku terdiam—lagi untuk sejenak. Kemudian aku menatap bunga kering yang ada di pangkuanku.

Itu buktinya. Kenapa aku masih membawa bunga itu?

“Baiklah, kita coba dulu.”

.

FIN

.

HAHA? PANJANG2 ENDINGNYA CUMAN AMBIGU BEGINI DOANG????!!!?

Hah, maafkan aku pemirsa. Apalagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya buat DeeRabbit yang request ff ini, maaf sekali atas keterlambatannya yang sangat-sangat terlambat ini, terlebih ending yang aneh itu. Tapi, semoga kamu suka ya😀 ohya, aku rada ubah dikit, aku tambahin Luhan pernah suka sama Yoona—soalnya kalo tanpa latar belakang ‘cinta/?’ begitu aku susah buatnya, maafkan aku dear:((((

maaf banget ya kalo ini kacauuuuuu bgt, atau sangat bertele-tele… writers block mulai nyerang nih /please deh, gak usah melakukan pembelaan!/

SEMOGA SUKA YA GUYS, TERUTAMA BUAT YANG REQUEST INI❤❤

.

25 thoughts on “[Fanfiction Request] Love in Spring

  1. luhan keren bgt..
    dia bisa trima waktu sehun ngungkapin prsaannya ke yoona duluan
    aq salut deh sma skap luhan
    cowok idaman..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s