(Freelance) My Love Story (Chapter 4)

MLS [4]

By Cherryoong

Sad, romance, school life

Im Yoona, Oh sehun, Xi luhan and other.

Disclaimer :This story is mine . Cast are belong god. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Warning ! bahasa ngawur , alur acak-acakan, virus typo bertebaran.

“Cinta itu memang sangat sulit !”

HAPPY READING

~

 

Gadis itu melangkah perlahan. Mendongak keatas, lalu menghirup udara segar yang memenuhi dunia ini. Menikmati segarnya udara disana sembari memejamkan matanya. Detik berikutnya, dia membuka matanya perlahan. Menatap langit yang berwarna biru. Dihiasi dengan burung-burung yang berterbangan.

“ huh.. dunia baru. Sikap baru. Sahabat baru dan .. nama baru” batin gadis itu.

           

Semenjak dia SMA , dia menjadi sangat suka ketika terpaan angin menerpa wajahnya. Lalu gadis itu menghirup udara segar itu dalam-dalam. Sedangkan surai pirangnya berterbangan.

 

“Roxe, do you want to café with me?” tanya seseorang yang menghampiri gadis tadi.

“ okey. Iam hungry” jawab gadis itu- Roxanne Im dengan menyunggingkan senyum manisnya. Lalu mereka membalikkan tubuh mereka menuju café yang berada di universitas itu.

 

“Roxe, I have a good news” ucap gadis tadi yang mengajak Roxanne untuk ke café bersama.

“ Jessica, please speak in Korean. You’re korean” balasRoxannesambil memutarkan bola matanya dengan malas.

“ okey”

“ jadi apa berita yang menurutmu baik itu?” tanyaRoxanne.

“ kau tahu? Ada Senior kita yang sangat populer dan dia sangat tampan. Dia baru pindah kesini. Dan kau tahu? Ternyata dia orang korea juga” ucap Jessica heboh tanpa koma saat berbicara.

“ jadi itu berita baiknya ?” tanya Roxanne jengkel.

“ kenapa reaksinya seperti itu?” tanya Jessica balik.

“ karena itu tidak penting bagiku” jawab Roxanne dengan malas, lagi-lagi gadisyang mempunyai nama panjang Jessica jung itu hanya membicarakan berita tidak pentingnya itu. Ya, memang Roxanne akui bahwa Jessica sangat update. Tapi karena terlalu update, berita tidak penting pun dia sebarkan.

“ oh ayolah. Kau pasti akan tertarik padanya, aku yakin” ujar Jessica penuh keyakinan.

 

Lalu keduanya duduk diatas kursi Café. Lalu Jessica memanggil pelayan untuk memesan makanan.

“ 1 spaghetti and 1 hot chocolate “ ujar Jessica pada pelayan itu.

“ Roxe, kau tidak ingin memesan makanan?” tanya Jessica yang melihat Roxanne hanya terdiam dan tidak memesan makanan.

“ okey. 1 hot chocolate” ujar Roxanne pada pelayan itu.

“ kau tidak memesan makanan?” tanya Jessica

“ kenapa? Aku ini yang memesan, kenapa kau yang keberatan?” ujar Roxanne sinis.

“ what ever” Jessica memutarkan bola matanya malas.

“Andai aku belum menjadi kekasih kris, akan aku incar Senior itu” gumam Jessica.

“ cih, aku menjadi tak yakin kau benar-benar mencintai Kris” ujar Roxanne yang ternyata masih mendengar jelas ucapan Jessica.

“ KARENA ITU !” teriak Jessica yang membuat Roxanne hampir tersedak karena terkejut.

“ karena aku tidak bisa menjadi kekasih Senior itu. aku akan membuatmu menyukainya dan kau akan menjadi kekasihnya… dan kau akan terkenal di kampus ini, aku juga akan… “ ucapan Jessica terpotong karena Roxanne sudah menyelanya.

“ berhentilah mengkhayal nona. Kau membuatku muak dengan khayalanmu itu. dan menyukainya ? yang bear saja , aku bahkan tidak mengetahui namanya” sela Roxanne karena terlalu malas membicarakan ini. Sedangkan Jessica hanya mengerucutkan bibirnya. Tapi Jessica tidak akan pernah mau menyerah dengan pendiriannya.

“ baiklah akan kuberitahu profilnya. Namanya Steven Oh. Lahir di Seoul, tanggal 12 April 1994. Dia anak konglomerat. Sifatnya dingin terhadap gadis lainnya tapi kurasa akan berubah ketika dia sudah mempunyai pasangan. Dia anak sulung. Dia tampan. Dia masuk jurusan bisnis sama seperti kau dan Nathalie .Dia-“

“ sudah cukup. Bagaimana kau mengetahuinya ? “

“ dia itu kakak kelasku saat aku SMA “ Balas Jessica.

“ oh..”

“bagaimana tertarik ? “ tanya Jessica.

“ tidak” jawab Roxanne singkat.

“ aku akan memberitahu semua social media nya deh..” tawar Jessica.

“ tidak akan “

“Roxe, kumohon”

“ Tidak. Tidak. Tidak. Apa itu cukup untuk menjawab semua permintaan bodohmu itu? jika kau ingin menjadi kekasihnya. Putuskan Kris dan mintalah Siapa tadi ? S-Stev ah aku ingat , Steven itu menjadi kekasihmu. Selesai . jadi jangan melibatkan aku” tolak Roxanne.

 

Lalu keheningan terjadi. Jessica yang sedang kesal karena Roxanne menolak permintaanya sibuk berkutat dengan Iphonenya untuk mencari berita terbaru, sedangkan Roxanne sibuk dengan game di smartphonenya. Namun detik selanjutnya, Jessica menjadi heboh karena kehadiran Jennifer kwon , Tiffany hwang , Summer choi , dan Nathalie kim. Mereka termasuk Roxanne dan Jessica adalah orang korea.

“ hey kalian ! sungguh membosankan jika roxanne yang berada disampingku. Lebih baik aku bersama kalian “ adu Jessica pada ke empat orang yang baru datang itu.

“ hahaha sudah kubilang. Jangan mengajak Roxanne jika kau ingin membicarakan update-an darimu” ujar Summer lalu mereka ber-4 duduk di kursi Café.

“ hahaha dasar Roxanne. Si gadis paling muda diantara kita yang selalu membuat nona Ice princess ini kesal karena sikapnya” Ucap Jennifer sambil tertawa.

“bukan itu. aku punya rencana, karena diantara kita hanya Roxanne yang belum mempunyai pasangan. Aku akan membuat Roxanne menyukai Steven. Tapi dia malah menolaknya” gerutu Jessica.

“ itu tidak masalah. Aku setuju” ujar Tiffany.

“ aku juga setuju “Seru Summer.

“ Hey ! perasaan tidak bisa dipaksakan “Nathalie akhirnya membuka suaranya.

“ aku setuju dengan mu, Nath” ujar Roxanne.

“ tapi kalau berusaha pasti akan bisa” bela Jessica.

 

“wah.. he so handsome… .”

            “ wah..”

Sorak sorai terdengar di penjuru Café karena datangnya seorang pria disana. Semua orang memandang pria itu dengan berbinar-binar terutama Para gadis disana. Manik Pure Hazel milik pria jangkung itu mencari tempat yang kosong untuk ia tempati. Dan tempat yang kosong itu berada disamping meja Roxanne.

“ Roxe, You’re So Lucky !” bisik Jessica. Sedangkan Roxanne hanya mengeryitkan dahinya.

“ Kenapa?” tanya Roxanne.

“ Disebelahmu itu… “ ucapan Jessica memanjang dan Jessica mengarahkan pandangannya kearah samping diikuti oleh Roxanne.

“ Dia? Siapa?” tanya Roxanne yang masih bingung dengan sahabatnya yang satu ini.

“ Kau tidak ingat ?” goda Jessica.

“ siapa ?”

“ Aish.. itu Steven, bodoh “ kesal Jessica lalu menjitak kepala Roxanne. Roxanne hanya meringis pelan.

“ katamu dia populer. Tapi mengapa tidak ada yang mengetahuinya ?” tanya Roxanne dengan pandangannya yang masih menghadap Steven.

“Ayolah. Dia baru pindah saja sudah banyak yang mengetahuinya. Kau saja yang kurang Update” cibir Jessica.

“jangan menghinaku” ucap Roxanne sambil mengerucutkan bibirnya.

“ apa kau tertarik? Sedari tadi kau terus memandanginya” goda Summer.

“ tidak. Dan tidak akan pernah. Aku terus memandanginya karena aku melihat darimana sisi tampannya. Luhan bahkan lebih tampan darinya“ bantah Roxanne.

“ cih, si pria cantik itu ? haha seleramu. Sudahlah jangan mengelak. Kau pasti sudah tertarik bukan ?” goda tiffany.

“ tidak”

“ ayolah, Roxe. Dia sangat tampan . apa kau mempunyai nomor teleponnya Jess?” tanya Tiffany.

“ Aku punya “ jawab Jessica.

“ Roxe, kau sudah beruntung mempunyai sahabat yang ingin membantumu untuk dekat dengan steven. Jadi kau tak perlu repot lagi untuk mencari nomor teleponnya, atau social medianya. Itu semua sudah tersedia” oceh Jessica.

“ Roxe, apalagi kekurangannya? Bibir tipisnya sudah oke, rambutnya keren, kulitnya putih, tinggi, kaya, apalagi kekurangannya hemm?” tanya Summer.

“ BERHENTILAH MEMAKSAKU UNTUK MENYUKAINYA “ teriak Roxanne menggebrak meja lalu tangannya menunjuk kearah Steven membuat seluruh penjuru Café menatapnya bingung. Sungguh sekarang Roxanne mati kutu. Dia sangat malu, tubuhnya membeku. Keringat terus mengalir dari dahinya. Nafasnya juga masih memburu karena terlalu marah.

‘bodoh sekali dirimu’ rutuk Roxanne pada dirinya sendiri. Sedangkan sahabat-sahabatnya masih menatap dirinya tak percaya karena mereka tidak tahu kalau Roxanne akan marah seperti itu. Steven? Entahlah Roxanne tidak berani memperhatikannya. Dengan Keberanian yang secuil , akhirnya Roxanne melirik Steven. Namun ada perasaan lega di hatinya karena Steven tidak terlalu menghiraukannya dan melanjutkan acara minum Coffenya.

Setelah lama Roxanne terdiam. Akhirnya dia menarik Jennifer untuk menemaninya keluar dari café yang terkutuk itu.

“ Aku tidak suka dipaksa” ucap Roxanne sebelum meninggalkan café itu. Jennifer yang ditarik Roxanne pun hanya pasrah karena dia sudah biasa dengan sikap Roxanne yang semaunya.

“ kasihan Jennifer, dia selalu menjadi sasarannya” ujar Summer.

“ haha jika aku menjadi Jennifer, aku akan memarahinya habis-habisan” ucap Tiffany.

 

///

Gadis berambut Blonde itu menatap kearah jendela , memandangi pemandangan yang hanya terlihat awannya saja serta koridor depan. Sesekali dia mengunyah permen karetnya karena bosan dengan pelajaran yang penuh dengan statistik atau diagram. Buku catatannya sudah penuh dengan bentuk-bentuk itu. Roxanne benar-benar tidak mood untuk belajar sekarang. Dia mengetuk-ngetukan bolpoinnya pelan diatas meja. Tiba-tiba tubuhnya menginginkan dia untuk buang air.

“ shit ! kenapa harus sekarang “ batinnya.

Sungguh dia sudah tidak bisa menahannya. Kalau dia menahannya , maka akan keluar disini tapi jika ia harus izin untuk ke toilet ditengah dosen yang killer dan membosankan ini ? ah entahlah berapa banyak kalimat ceramah-ceramah itu akan keluar dari mulutnya. Atau permintaan-permintaan bodoh yang akan membebaninya.

“ eumm.. Excuse me sir, May I go to the Toilet?” Roxanne akhirnya meminta Izin kepada dosennya karena ia sudah tidak bisa menahannya.

“ oke. Ten minutes” suruh dosennya.

Apa dosen itu masih waras , pikir Roxanne. masa iya ke toilet diberi waktu 10 menit. Itu tidak akan cukup. Belum lagi dia harus melewati koridor yang sangat panjang ini. Huh, itu membuat Roxanne harus berlari secepat mungkin. Lebih cepat daripada saat dia mengikuti Maraton. Tapi dengan berlari membuat dia semakin seperti cacing kepanasan. Hasrat untuk buang air semakin menjadi-jadi.

“ aduh.. bagaimana ini ? aku sudah tidak kuat sampai toilet” keluh Roxanne.

Karena ia berlari tapi tak memperhatikan jalan. Membuat dia menabrak seseorang.

 

BUGHH !!

 

Roxanne terjatuh bersamaan dengan Pria yang ia tabrak. Keduanya kehilangan keseimbangan. Roxanne akhirnya terjatuh dilantai dan Pria itu pun juga terjatuh dengan file-file yang berserakan.

“ untung aku tidak menindihnya” batin Roxanne.

“ Mian .. eh Iam sorry. It was done by mistake “ ucap Roxanne sambil menggelengkan kepalanya karena salah mengucapkan kata maaf. Belum sempat dijawab oleh Pria itu , Roxanne langsung berdiri lalu berlari karena dia sudah tidak tahan. Sedangkan si pria hanya meratapi kepergian Roxanne.

“ apa gadis tadi juga orang korea ?” gumam pria itu. Lalu pria itu menggelengkan kepalanya saat mengingat sikap gadis tadi yang kurang sopan. Ya, walaupun berada di negeri orang tetaplah bersikap sopan, sebagaimana gadis itu tinggal dikorea yang hidupnya penuh dengan sopan santun. Pria itu membereskan file-file yang berserakan karena kejadian tadi. Namun manik berwarna hitam jernih itu melihat sebuah kalung dengan tali yang terlepas.

“ punya siapa ini ? apa punya gadis tadi ?apa gadis itu… ” batin pria itu sembari bangkit kemudian berjalan sesuai tujuan awalnya.

 

Roxanne POV.

Akhirnya lega juga. Aku sangat tersiksa tadi. Hingga membuatku seperti cacing kepanasan dan berlari seperti orang gila. Aku melangkahkan kakiku keluar dari toilet dan berjalan di koridor kampus menuju kelasku. Aku melewati tempat dimana aku menabrak seorang pria. Dan aku baru menyadari bahwa tadi aku bersikap tidak sopan.

“ matilah kau Yoon- eh Roxanne. Jika kakekmu melihat dari sana” batinku.

Mengapa sejak kejadian dimana aku menabrak seorang pria , bicaraku selalu salah. Sepertinya ada masalah dalam tubuhku sekarang. Omong-omong pria tadi siapa ya ? aku tidak sempat melihat wajahnya. Kalian tahu sendiri , bagaimana rasanya ingin buang air dan itu sudah di ujung. Sungguh menyiksa. Oh tuhan, hari ini sial sekali hidupku. Aku menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak gatal . Tunggu, ada yang janggal dileherku. Aku kembali meraba leherku untuk mencari tahu apa yang kurang disana. Otakku terus bekerja untuk mencari kejanggalan dileherku. Dan aku ingat.

“ ah iya, kalungku tidak ada “gumamku. Dan detik berikutnya aku terkejut.

“ APA ?! KALUNGKU HILANG “ pekikku mungkin jika ada orang disini , orang itu akan membenciku karena suara melengkingku keluar dari mulut ini begitu saja.             Aku mencari kalung itu di lantai. Tidak ada kalung disana. Aku ingin menangis rasanya.

“ eommaaa… kalung dari sehun hilang..” batinku. Aku merasa sangat bersalah karena telah menghilangkan barang pemberian sehun sebelum ia berangkat ke Amerika. Ayolah, aku tidak berlebihan saat ini tapi kalian tahu kan bagaimana rasanya kehilangan benda yang telah kau simpan bertahun-tahun dan parahnya benda itu adalah pemberian cinta pertamamu sebelum orang itu pergi meninggalkanmu untuk mengikuti orang tuanya yang bekerja diluar negeri. Aku sangat kehilangan sekarang.

“ oh god. Apalagi selanjutnya kesialanku ?” ucapku sambil duduk diatas lantai itu. kakiku melemas. Tak kuat berjalan kekelas. Ah iya ada sesuatu dikelas. Tapi apa ? apa aku tercipta sebagai orang yang pikun. Ooh aku benci ketika aku sedang lupa.

“AH IYAA !!! dosen memberiku waktu 10 menitt ! matilah aku “

Aku langsung berlari menuju kelas. Pikiran tentang hukuman-hukuman itu selalu terbayang. Lalu saat aku sampai didepan pintu kelas. Aku berdoa semoga dosen itu sudah keluar. Dan tada ! dosen itu keluar. Aku lega juga. Lalu Nathalie menghampiriku.

“ Roxe, kau dipanggil Mr. Smith. Kau disuruh keruangannya. Mungkin dia akan menghukummu karena kau tidak kembali saat diberi waktu 10 menit. Berjuanglah kawan !” ucap Nathalie sedikit meledek.

“ Nath, bisakah kau membantuku ? ayolah, aku sedang sial hari ini. Pertama aku malu saat di café tadi, kedua aku menabrak pria saat aku terburu-buru ketoilet dan itu memotong waktuku yang hanya diberi waktu 10 menit. Ketiga, kalungku dari sehun hilang. Ke empat, aku dipanggil Mr. Smith. Nath, kau kan sahabatku . bantulah aku ! kumohon “ ucapku semelas mungkin agar Nathalie mau membantuku.

“ baiklah aku akan membantumu “ ucap Nathalie. Dan saat aku mendengar itu , mataku langsung berbinar dan kembali semangat.

“ tapi dengan doa, kekeke” Nathalie malah terkikik. Ayolah aku tidak ingin bercanda sekarang.

“ Nath, aku serius”

“ baiklah , aku akan ,mengantarmu sampai depan pintu ruangan Mr. Smith “ucap Nathalie.

“ hanya itu ? “

“ mau tidak ? “ tawar Nathalie.

“ oke , aku mau “ aku terpaksa menerimanya karena ini terdesak. Ya, walaupun Cuma sampai depan pintu saja. Itu sudah cukup bagiku.

Lalu kami mengambil tas kami sebelum kami – eh tidak, maksudnya aku masuk kedalam ruangan seperti neraka itu. kami menuruni anak tangga karena ruangan Mr.Smith berada dilantai paling bawah. Sungguh melelahkan. Dari lantai 5 turun kelantai 1 . tapi itu sudah biasa karena setiap hari kami melakukannya , naik dan turun. Ingat setiap hari ! ditambah anak tangga ini sangat banyak. Ya, hitung-hitung untuk olahraga. Atau bisa saja untuk memperlancar program dietku.

“ Roxe, sudah sampai ! selamat berjuang! Semangat !” ucap Nathalie padaku. Mengapa cepat sekali? Perasaan baru tadi aku berjalan. Waktu memang tak pernah bersahabat denganku. Tubuhku terus gemetar. Tanganku sudah berkeringat dingin. Keringat didahi juga semakin deras mengalir. Sebelum memegang knop pintu itu aku menarik nafas dalam-dalam.

‘semoga baik-baik saja’

Lalu aku memegang knop pintu dan membuka pintu itu perlahan. Lalu melihat ruangan itu. Udara dingin yang berasal dari AC menyambutku. Kemudian aku menutup kembali pintu itu rapat-rapat. Aku melihat kearah meja Mr.Smith. ternyata Mr.Smith tidak sendirian. Dia bersama seorang pria yang berambut hitam dengan jambulnya yang membuatnya tampak keren. Sepertinya dia seniorku, tapi aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.

“Excuse me, sir “ ucapku membuat pria itu serta Mr. Smith menoleh kearahku.

“ AH DIA KAN!! Orang yang ada di café itu ! matilah aku “ batinku.

///

 

Waktu berjalan begitu cepat. Langit sudah berwarna Orange. Matahari yang tadinya berada diufuk timur perlahan berjalan keufuk barat. Sore hari adalah waktu yang pas untuk berkumpul dengan sahabat. Termasuk keenam orang bersahabat ini. Lima orang gadis tertawa karena ucapan salah satu sahabatnya yang sedang sial hari ini. Mereka tertawa sangat kencang karena sahabatnya yang satu itu menceritakannnya dengan ekspresi yang lucu.

“ jadi, kau disuruh membantu Steven membawa file-file memusingkan itu selama seminggu ? dan ternyata steven dihukum karena kau menabraknya dan akhirnya dia juga terlambat ? dan.. kalian berdua dihukum ? kau keterlaluan, Roxe. Tapi itu bagus. Semakin dekat kau dengan steven, lama-lama kau akan menyukainya” ujar Tiffany.

“ jangan memulai lagi, tiff. Sudah cukup kesialanku hari ini” balas Roxanne dengan memutarkan bola matanya.

“ tapi memang benar apa yang dikatakan oleh tiffany” celetuk Jennifer.

“ Jeny, jangan ikut-ikutan. Ah mengapa kalian jadi seperti ini ?” kesal Roxanne karena sahabat-sahabatnya selalu mendesaknya untuk menyukai Steven. Tapi apa daya ? cinta tak bisa dipaksakan. Lalu Roxanne – gadis berambut pirang itu menyesap white coffe yang diwadahkan oleh cangkir.

“ haha kau terlihat imut saat kau marah ,Roxe “ ucap Nathalie.

“ haha … Roxannee.. jangan ngambek! Kami kan hanya ingin kau mempunyai pasangan. Kan tidak enak jika kami berkencan , tapi kau malah menjadi nyamuk disana” ujar Jessica.

“ aku bisa mencari pasanganku sendiri. Berhentilah menjodohkanku dengan Steven” marah Roxanne.

Disaat sahabat-sahabat Roxanne menggoda Roxanne. Tiba-tiba pria berambut hitam itu datang menghampiri mereka.

 

BRUK !!

 

File-file itu ditaruh diatas meja Café itu dengan kasar. Membuat mereka yang berada di meja itu terkejut dan menoleh kearah sumber suara.

“Mr. Smith memberimu ini! Ini semua karena kau” ucap pria itu- Steven .

“ Hey ! mengapa hanya menyalahkanku ? kau disini juga salah” marah Roxanne dan langsung berdiri menantang Steven.

“ Sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu. Mr.Smith menyuruh kita- em maksudku, menyuruh kau membawa ini ke lantai 6 ke ruang Ekonomi. Filenya akan dipakai untuk Mrs. Christine besok” ujar Steven.

“lalu kau ? kau tidak membawa file-file ini ?”

“ aku sudah mengantar file ke lantai 1. Tinggal kau yang belum “

“ aish.. kau curang ! seharusnya kau yang pria, mengantar file itu ke lantai 6. Aku curiga dengan gendermu”

“ sudahlah. Tugasku sudah selesai hari ini” ucap steven.

“ berhati-hatilah di lantai 6.. ini sudah sore, dan menurut sejarah kampus ini , dilantai 6 adalah lantai yang paling horror jadi berhati-hatilah jika disana kau akan bertemu dengan HANTU !!”

“ AAAA!! “

Steven sengaja berteriak di kata’hantu’ untuk menakuti Roxanne. Dan benar saja Roxanne teriak begitu kencang. Bulu kuduk Roxanne langsung berdiri. Dia jadi enggan untuk mengantarkan file itu ke lantai 6.

“Selamat tinggal” ujar steven lalu pergi meninggalkan Roxanne dengan perasaan takut dengan makhluk astral itu.

Lalu Roxanne kembali melihat kearah sahabat-sahabatnya yang sedang menatapnya dengan tatapan menggoda.

“ teman-teman, temani aku ya” mohon Roxanne.

“ aku tidak mau” jawab Jessica.

“ aku tidak meminta bantuanmu” ketus Roxanne.

“terserah. Yang lain juga tidak mau” ujar Jessica lalu memalingkan wajahnya dari Roxanne.

“ kalian ayolah temani aku”

“ maaf ,Roxe. Tapi aku, Nathalie, Tiffany dan Summer akan pergi ke toko buku” ujar Jennifer.

“ BAIKLAH ! AKU ROXANNE IM. AKU BISA PERGI SENDIRI TANPA BANTUAN KALIAN” marah Roxanne lalu membawa file itu pergi dan berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya membuat sneakersnya berbunyi dilantai marmer itu.

 

 

Sesampainya di gedung kampusnya. Dia –Roxanne menatap gedung itu dari lantai paling bawah hingga lantai paling atas. Lalu gadis itu menelan salivanya kuat-kuat.

 

“ aku tidak sanggup kesana sendiri” gumamnya. Dia berniat untuk kabur dari kampus itu tapi jika ia tidak mengantarnya sampai kelantai 6, maka Steven akan tertawa melihatnya dihukum karena tidak patuh. Lalu dia memantapkan niatnya untuk naik kelantai 6 sendirian. SENDIRIAN.

“semangat Roxanne Im “ ucapnya pada dirinya sendiri untuk menyemangatkan dirinya sendiri. Miris sekali , tidak ada yang memberinya semangat.

Lalu dia berlari sekencang mungkin agar dia cepat sampai lantai 6 dan kembali secepatnya. Sesampainya dilantai 6, bulu kuduk Roxanne mengangkat.

“ Merinding sekali “ ujar Roxanne sambil mengelus-eluskan lengannya. Lalu dia membuka pintu kelas Ekonomi dilantai 6. Gelap sekali. Itulah yang Roxanne katakana jika dia disuruh mengidentifikasi keadaan sekarang. Dia menyalakan lampu dan berjalan kemeja dosen diruang ekonomi. Lalu dia berlari dan menutup kembali pintu itu rapat-rapat.

“ astaga. Aku lupa mematikan lampunya” Roxanne kembali membuka pintu itu dan mematikan lampu kelas itu. lalu menutup kembali pintu itu. tak lupa mengunci pintu itu.

‘cepatlah. Aku ingin pulang sekarang’ batin Roxanne. Dia benar-benar ketakutan. Gerakannya tidak sabaran. Kemudian dia membalikkan tubuhnya.

 

“ AAAAA!!!! HANTUUUU !!” teriak Roxanne sambil memukuli orang yang berada didepannya.

“Aww!! Aww!! Sakitt !” pekik orang itu. lalu Roxanne membuka matanya perlahan.

“AAA !! KAU- kenapa disini?” tanya Roxanne yang terkejut karena pria berambut hitam itu muncul lagi dihadapannya. Sedangkan pria itu masih meringis karena sakit sehabis dipukuli oleh Roxanne.

“ aku tak tega melihat seorang gadis naik kelantai 6 sendirian. Dan sahabat-sahabatnya tidak ada yang mau menemaninya. Aku sebagai pria, sangat kasihan padamu. Jadi aku kesini untuk menemanimu. Tapi kau membalasnya dengan pukulan mautmu” jelas Steven.

“ cih, kau pikir aku gadis apa huh? Aku tak perlu dikasihani olehmu, Pria menyebalkan” ketus Roxanne.

“ Diam kau nenek sihir! Lebih baik aku tidak usah menyusulmu tadi. Percuma saja. Kau turunlah sendiri. Aku tidak mau menemanimu lagi” ucap Steven lalu dia melangkahkan kaki panjangnya itu menuju anak tangga.

 

JEDEEERR!!!

 

Bunyi petir terdengar jelas di gendang telinga Roxanne membuat gadis itu ketakutan dan lari menyusul Steven yang tak jauh darinya. Dan dia memeluk Steven karena dia sangat ketakutan. Hal yang paling dia benci adalah ketika petir datang dan hujan turun serta cerita horror yang membuatnya semakin ketakutan. Sedangkan steven yang terkejut , karena Roxanne tiba-tiba memeluknya dia hanya terdiam.

“ jangan tinggalkan aku , kumohon. Aku takut” ucap Roxanne yang sedang ketakutan. Kemudian Steven membawa tubuh Roxanne agar berada disampingnya. Steven yakin bahwa itu gerakan reflek karena Roxanne takut dengan petir atau hantu. Steven tahu karena itu pernah terjadi pada gadis masa kecilnya.

 

“ wajahnya, kalungnya, bahkan hal yang paling dia takuti pun juga sama dengan dia. Apa benar bahwa Roxanne adalah dia ?” batin steven.

 

Lalu mereka berdua turun melalui tangga dengan posisi Roxanne yang memeluk erat steven ,dan steven yang berusaha meredakan ketakutan Roxanne.

 

Sesampainya dilantai paling bawah. Steven melihat bahwa hujan turun begitu derasnya.

“emm.. Roxe, bisa kau lepas ? aku sulit bernafas” ujar Steven , lalu Roxanne sadar bahwa dia baru saja memeluk Steven dengan sangat erat.

“ mian..eh maksudnya Sorry itu Reflek” ucap Roxanne. Lalu mereka berdua dilanda kecanggungan. Sebenarnya hanya Roxanne yang canggung .

“ tak apa meminta maaf menggunakan bahasa korea. Aku juga orang korea kali” celetuk Steven setengah terkekeh.

“aku juga tahu itu” balas Roxanne. Lalu steven mengajak Roxanne untuk berteduh dikoridor lantai 1.

“ oh iya, nama koreamu apa? Aku yakin nama Roxanne itu bukan nama aslimu” tanya steven berusaha mencairkan suasana yang tadi sempat canggung.

“ Im yoona. Kau ?” jawab Roxanne lalu dia berbalik tanya kepada Steven. Steven terdiam.

‘namanya bahkan sama’ batin Steven. Steven semakin yakin bahwa Roxanne adalah gadis masa kecilnya. Namun steven berusaha menutupi semuanya karena jika benar bahwa Roxanne adalah yoona kecilnya, dia akan membiarkan itu semua, dan membiarkan Roxanne mengetahuinya sendiri.

 

“ nama yang bagus” ucap steven berusaha mengalihkan pertanyaan Roxanne.

“ tentu saja. Orang tuaku yang memberikannya. Lalu, nama koreamu apa?” tanya Roxanne.

‘shit! Dia masih menanyakannya’Batin steven.

“ kau ingin tahu saja . apa kau suka padaku?” goda Steven.

“ Percaya dirimu tinggi sekali, tuan” ucap Roxanne sambil tertawa.

“ haha itu bagus” balas Steven.

 

 

TBC

Author’s Note : Hai ! nah, sesuai janji ,di chapter 4 sehunnya harus muncul. Udah kan ? walaupun semua cast aku pakein nama inggrisnya :3 aku sempet bingung nama baratnya yoona itu Roxanne apa callista tapi aku srek sama Roxanne. Lebih gimana gitu :3 di chap 4 ini ceritanya tentang kehidupan baru yoona di amerika, ditambah dia ketemu lagi sama sehun(steven), tapi disini baru sehun(steven) yang nyadar kalo Roxanne itu gadis waktu kecilnya. oh iya maaf kalau bahasa inggris aku ga danta :v. atau alurnya yang kecepetan atau ceritanya kependekan. Sengaja aku bikin segini dulu. Biar ga ancur, soalnya kalo aku bikin panjang-panjang nanti ga mood . soalnya aku bikin ff sesuai mood :v Udah ya , bingung mau ngomong apalagi. Bye ! jangan lupa Commentnya.

                       

 

49 thoughts on “(Freelance) My Love Story (Chapter 4)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s