(Freelance) SongFic : Painkiller

Painkiller

[SongFic] PAINKILLER

Im Yoona

Romance, Angst

Painkiller, T-ara ft. Seeya & 5 dolls

IceKrystal

‘Can I Have Some Painkiller?’


Sarangeun motdoen gieogiya
Cinta adalah kenangan yang buruk
Sarangeun dachin chueogiya
Cinta adalah kenangan yang melukai

Ku sentuh sebuah handle pintu. Sejenak ku hembuskan perlahan nafasku. Ku langkahkan kaki kecilku memasuki ruangan tersebut. Pengap, itulah yang menusuk indra penciumanku saat berhasil menembus ruangan tersebut. Tas koper yang sedari tadi bertengger manis dalam genggamanku, kini berhasil medarat mulus menyentuh dinginnya lantai. Ku sapukan pandanganku pada seluruh ruangan, mengamati satu persatu benda yang masih tertata dengan apik di apartemenku. Dengan langkah gontai, kaki kecilku menapaki satu persatu lantai menuntun ku untuk meletakkan tas tanganku pada sebuah ranjang yang tertutup kain putih.
Lelah, penat, itulah yang kurasakan hingga aku menyentuhkan bokongku pada sebuah sofa yang juga berselimutkan kain putih. Ku telusuri kain putih selimut sofa dengan jemariku. Disinilah aku terbiasa duduk bersamanya. Diruangan inilah segala kenangan tercipta. Sakit, benar-benar sakit jika otak ku dipaksa untuk mengingatnya. Tidak, aku telah bangkit dari keterpurukan.

Eonjejjeum gwaenchanha jiryeona
Kapan semuanya membaik?
Haeneun eonje dasi tteuryeona
Kapan mentari terbit lagi?
Wollae ibyeori da ireoke
Seperti inikah perpisahan itu? Menyakitkan seperti ingin mati
Jugeul deusi apeunyago
Aku tercekik
Mogi maeyeo sumdo mot swigo
Bahkan aku tak dapat bernafas
Sigani gado soyongeobseo
Meski waktu berlalu, tak ada gunanya
Jogeumina useul su itge
Obatilah hati ku
Nae mam jom chiryohae jwoyo
Agar aku bisa sedikit tersenyum

Ku hembuskan nafasku perlahan, sebuah senyum terpatri dibibirku. Beranjak dari sofa, ku hempaskan beberapa kain penutup yang menyelimuti benda-benda dihadapanku.
Membuangnya asal, hingga mendaratkannya ada sebuah lantai yang dingin. Hingga langkahku terhenti pada sebuah kaca yang hampir sama tinggi dengan ku. Ku tatap kembaranku yang berada di dalam sana, terlihat sangat menyedihkan. Dengan tatapan kosong, tak ada harapan, tubuh kurus seolah aku tak pernah bertemu makanan selama sebulan, kantung mata yang menghitam layaknya tak tertidur selama berbulan-bulan.
Miris, menyedihkan, menjengkelkan, itulah yang ada dalam benak ku saat melihat pantulan diriku sendiri dalam kaca. Cukup, aku tak ingin melihatnya lagi. Iris mataku beralih pada sebuah jendela yang tertutup rapat. Tangan ku bergerak menarik pengait yang ada, agar aku dapat merasakan hangatnya sinar mentari. Berharap bahwa hatiku kembali menghangat. Aku tersenyum, entah apa yang ada dalam pikiranku, namun aku tersenyum. Sebuah senyum tanpa sebab yang kini perlahan memudar saat sekelebat memori berlarian dalam kepala ku.

Inomui dutongi natjil anhayo
Sakit kepala ini tak kunjung membaik
Du pare begaereul kkeureo anhayo
Aku mendorong bantal di kedua lenganku
Gasiga simjangeul jakku jjilleoyo
Duri ini terus menusuk jantungku
Bul kkeojin bangane bimyeongeul jilleoyo
Aku berteriak dalam kamar yang gelap

Jidokhan gamgineun natjil anhayo
Demam keras ini tak kunjung membaik
Mul eobsi duseal yageul samkyeoyo
Aku menelan dua, tiga pil tanpa air
Deoreoun achim jidokhan gamgie
Demam keras, pagi yang buruk
Wae tto gichim
Mengapa aku terbatuk?

Jugeuldeusi apado ne saenggangman
Meskipun sakit seakan hampir mati, aku hanya memikirkan mu
Jeongmallo geudaen naui yagingabwa
Sepertinya, hanya kaulah obatku sesungguhnya
Imi kkeutnabeorin yaegingabwa
Sepertinya cinta telah berakhir
Naega naega unda
Aku, aku menangis

Gamgineun dangchwe natjiranhayo
Demamku tak membaik sepenuhnya

Jemari tangan ku bergerak melucuti satu persatu kancing yang menjaga agar isi dalam koperku tidak tumpah. Ku raih sepotong pakaian, sejenak sebuah bulan sabit kembali terkembang. Ku langkahkan kakiku menuju almari yang berdiri dengan gagah disudut ruangan. Pandanganku teralih pada sebuah pakaian lelaki yang tergantung rapih dalam almari. Halusnya bahan pakaian tersebut dapat kurasakan melalui indra perabaku.
‘Pakaian ini’ batinku miris. Ku dekap erat sweater wol berwarna biru dongker tersebut. Pakaian ini, pakaiannya. Pakaian yang selalu ia kenakan, sweater pemberianku. Sakit, kepalaku berdenyut sakit. Otak ku memutar memori dimana ia mengatakan bahwa sweater ini, ia sangat menyukainya. Aku jatuh terduduk pada sebuah ranjang, air mataku mengalir dengan derasnya. Tubuh ku bergetar memanas. Nafasku tersenggal, aku mengingatnya.
Saat-saat seperti ini, aku merasakan seolah malaikat maut sedang berdiri dihadapanku, menatap ku dengan pandangan yang menusuk kedalam iris mataku, mengacungkan sebilah pedang mengkilap yang seolah siap untuk menebas urat leherku. Meskipun ku rasa nyawaku berada di ubun-ubun, aku hanya memikirkannya.
Ku hempaskan sweater miliknya. Tangan ku beralih menyambar tas tangan yang terduduk di sampingku. Ku raih sebuah botol kaca didalamnya. Tanpa pikir panjang, ku tuangkan beberapa pil dan menelannya tanpa air yang membuatku terbatuk.
Lenyap, lenyap sudah segala pemikiran buruk ku. Ku rebahkan tubuh lelahku pada ranjang, manik mataku menatap langit-langit apartemen. Dia, dia ada disana, melemparkan sebuah senyum manis untukku, senyuman yang sangat ku rindukan. Pikiran ku tenang, tubuhku tenang, air mataku terhenti. Namun jauh dalam lubuk hati, luka itu masih menganga dengan lebar, membuatnya merasakan kepedihan yang teramat dalam. Hanya ia yang aku inginkan. Hanya pria itu yang dapat menyembuhkan luka ini.

Jintongje pillyohae
Aku butuh obat penahan rasa sakit
Help me take my pain away
Bantu aku menyingkirkan rasa sakitku
Neul naege neoneun haeroun
Aku selalu berpikir
Aeyeotdago saenggakhaetgeonman
kau terlalu berbahaya untuk ku
My mistake
Aku salah

Geudae eobsi nan mossaneunde
Aku tak dapat hidup tanpa mu
Nae momhana chaenggiji motaneunde
Aku bahkan tak dapat menjaga tubuhku
Ireul eojjae aigo ya
Apa yang harus aku lakukan?
Ireodaga saram japgenne
Orang ini, ini akan membunuhku

Aku terjaga dari tidurku. Ia berjanji untuk selalu menghubungi ku setiap pagi. Ku raih ponsel ku yang tergeletak manis di atas nakas. Tak ada panggilan, kemana ia? Dengan hati berselimut rasa gundah, aku menekan beberapa tombol. Nomor ponselnya. Aku mengingatnya dengan jelas, nomornya. Ku persempit jarak antara ponsel dan daun telingaku, dengan perasaan gundah aku menunggu sapaan manisnya. Tak ada, aku sama sekali tak mendengar kata-kata manis iu meluncur dari bibirnya. Berulang kali ku lakukan hal yang sama. Namun nihil.

‘Ia tak kan pernah mengangkat telfon mu.’

Sebuah bisikkan halus ditelingaku membuatku sontak melemparkan telephon genggam ku. Air mata yang mulai beku, kini meleleh kembali menggenangi pelupuk mata dan turun secara perlahan menuju pipiku. Sudut mataku menangkap bayangan sebuah botol kaca yang seolah memanggilku untuk menelan beberapa pil yang terkandung di dalamnya. Ku alihkan pandanganku dari botol tersebut. Jemari kecil ku bergerak meremas seprei tak berdosa yang ku duduki.

Tatapanku berubah kembali menjadi kosong. Aku hidup, namun aku tak sepenuhnya hidup. Aku tak dapat merasakan apapun. Hanya bagaikan sebuah robot, tak berhati tak berjiwa. Hati dan jiwa ku telah ku serahkan sepenuhnya untuk pria itu. Ia telah membawa semua bersamanya. Dan kini, aku sendiri. Tanpa dirinya, tanpa hati dan jiwaku.

Jugeuldeusi apado ne saenggangman
Meskipun sakit seakan hampir mati, aku hanya memikirkan mu
Jeongmallo geudaen naui yagingabwa
Sepertinya, hanya kaulah obatku sesungguhnya
Imi kkeutnabeorin yaegingabwa
Sepertinya cinta telah berakhir
Naega naega unda
Aku, aku menangis

Gamgineun dangchwe natjiranhayo
Demamku tak membaik sepenuhnya

Kaki kecil yang beralaskan beludru hingga tak dapat merasakan dinginnya lantai. Fikiranku menuntun kakiku bergerak menuju kamar mandi. Langkah ku terhenti pada sebuah cermin yang tergantung dengan apik di tembok. Ku tatap kembali bayangan mengerikan diriku di dalam sana. Tersenyum, ku coba untuk mengembangkan sebuah senyum di bibirku. Miris, kapan terakhir kali aku tersenyum tulus?
Hening, hanya gemericik dan tetesan air yang menelusup telingaku. Perhatian ku kini teralih pada sebuah botol kaca berlabel kan ‘EMOTION’. Tutup yang berputar mengikuti alurnya kini terlepas begitu saja dari leher botol tersebut. Ku persempit jarak antara hidungku dan leher botol yang membuat indra penciumanku mendapatkan sebuah rangsangan.
Bau ini, bau yang sangat menenangkan. Aku menjatuhkan diriku dengan posisi terduduk disamping bathub. Botol yang sama, ku angkat sejajar dengan wajahku dengan posisi terbalik hingga tetesan-tetesan air didalamnya jatuh membasahi lantai yang dingin itu.
Saat ini, fikiranku benar-benar kosong. Mataku pun hanya metap kosong pada cairan opium yang menetes hingga membentuk sebuah alunan musik tersendiri dalam kepalaku. Aku hanyalah tubuh yang dipaksa hidup tanpa jiwa. Hanyalah jantung yang dipaksa berdetak tanpa darah dan paru-paru yang dipaksa bernapas tanpa udara. Karena hanya ia lah jiwa, darah, dan udara bagiku.

Jugeuldeusi apado ne saenggangman
Meskipun sakit seakan hampir mati, aku hanya memikirkan mu
Jeongmallo geudaen naui yagingabwa
Sepertinya, hanya kaulah obatku sesungguhnya
Imi kkeutnabeorin yaegingabwa
Sepertinya cinta telah berakhir
Naega naega unda
Aku, aku menangis

Gamgineun dangchwe natjiranhayo
Demamku tak membaik sepenuhnya

Tteonaganeun bareul butjapgo
Aku ingin berpegangan pada kakiku yang pergi
Aewonhago sipjiman
Aku mengharapkannya, namun
Geumanhan yonggido
Aku terlalu sakit
Eobseul mankeum nan neomu apa
Aku bahkan tak memiliki keberanian sebesar itu

Sebuah meja dengan sepasang kursi berhadapan, di atasnya tertata beberapa makanan. Dan dengan aku yang duduk di salah satu kursinya, tersenyum ceria menanti kehadirannya. Dengan hati berbunga-bunga, ku pandangi pintu di hadapanku. Berharap dirinya membuka pintu dan tersenyum padaku. Aku tersenyum, membayangkan betapa indahnya hari kami nanti. Di meja ini, kami akan menghabiskan makanan dengan melempar candaan satu sama lain. Membayangkannya sungguh menyenangkan.
Beberapa saat aku menunggu, ia tak kunjung datang, membuatku berharap-harap cemas. Aku takut ia tak kan datang.

‘Tidak, ia pasti datang.’ sanggah ku, meyakinkan diri.

Untuk beberapa saat keyakinan itu bertahan menenangkan diriku, hingga untuk kesekian kalinya, aku terbatuk. Cairan merah kental berhasil menodai dress berwarna putih milikku. Aku menatap telapak tanganku yang kini berwarna merah. Dan disitulah aku tersadar, bahwa ia tak akan pernah datang.
Hal itu membuat diriku kembali bergejolak, dengan sekuat tenaga aku bangkit dan meraih piring-piring makanan tersebut. Menjatuhkannya, membantingnya dengan asal. Jemariku menggenggam botol kaca yang selama ini menjadi hidupku. Mata ku memicing meilhatnya. Ku langkahkan kaki ku dengan gontai menuju kaca. Dengan cekatan ku lepar botol tersebut hingga membuat bayanganku dikaca menjadi tak berbentuk.
Dan disinilah aku tertawa, tertawa sinis, meledek diriku sendiri. Tawa yang kemudian berganti dengan tangisan yang mengerikan. Im Yoona, kau benar-benar. Berulangkali hal itu terjadi, ku pandangi darah yang menggenang dilantai bercampur dengan spaghetti dan pecahan piring, yang membuatku kembali tertawa, diakhiri dengan diriku yang menangis telungkup sembari menggenggam tangan yang ternoda oleh darah.

Inomui dutongi natjil anhayo
Sakit kepala ini tak kunjung membaik
Jidokhan gamgido natjil anhayo
Demam keras ini tak kunjung membaik
Geunyeoneun jeonhwado batjil anhayo
Meskipun ku telfon ia tak kan mengangkatnya
Sarangi dasi nal chatji anhayo
Cinta tak menemukanku lagi
Inomui dutongi natjil anhayo
Sakit kepala ini tak kunjung membaik
Jidokhan gamgido natjil anhayo
Demam keras ini tak kunjung membaik
Geunyeoneun jeonhwado batjil anhayo
Meskipun ku telfon ia tak kan mengangkatnya
Sarangi dasi nal chatji anhayo

Hari ini, ia berjanji untuk menemui ku. Aku terduduk di sofa, memandangi jam di atas meja menunggu kehadirannya. Pukul 11.25 KST, mengapa ia belum tiba? Ia tak mungkin menemuiku saat hampir tengah hari. Perasaan ku kembali gundah, ku raih jam diatas meja ku putar jarum jam tersebut menunjuk pukul 10.00 KST.
Seolah mengejek ku, jarum jam tersebut kembali berputar dengan cepat kearah semula -11.25 KST. Berulang kali ku lakukan hal yang sama, namun lagi-lagi, jam itu seperti tiada hentinya mengejekku dengan kembali menunjuk pukul 11.25 KST.
Dengan sekali hentakan, jam kecil itu mendarat dengan tepat diatas meja yang benimbulkan bunyi ‘Tak’ membuatku semakin jengkel. Sudut mataku menangkap bayangan ‘botol kehidupan’ ku yang tergeletak dengan isi berserakan di sudut meja. Jemariku meraih botol itu dan menuangkan beberapa pil pada telapak tangan ku. Dan lagi, aku menelan beberapa tanpa air yang membuatku terbatuk.
Suara denting jam yang menelusup telingaku, membuat ku kembali menatapnya. Secara perlahan tanganku tergerak untuk meraih jam tersebut. Tanpa diminta, jarum jam berputar berbalik arah, seolah memutar kembali waktu. Dengan perasaan bahagia ku dekap erat jam kayu tersebut.
Menangis, membuat kelopak mataku berat, seolah tergantung beberapa kilo beban disana. Damai, perasaan itu lah yang kini menyelimuti hatiku. Perlahan namun pasti, kelopak mataku tertutup diiringi desah nafas yang kini mulai tak terdengar. Dengan adanya itu, aku dapat melihat kekasihku, Lay, berdiri dengan menggunakan tuxedo hitam di ambang pintu seraya tersenyum, membuatnya berlipat-lipat kali lebih tampan. Oh apakah ini nyata? Lay? Aku berharap ini bukanlah mimpi semata.
Lay meberikan isyarat padaku agar mendekat padanya. Ini nyata, aku tak bermimpi.
Seketika aku beranjak dari tidurku dan berjalan dengan wajah berseri menuju Lay yang tak pernah melepas senyumnya sedikitpun.
Ku tautkan jemariku pada Lay. Yang membuat senyumku semakin mengembang. Ku dengar bisikan Lay menelusup indah di telingaku.

“Aku merindukanmu.” suara itu, aku sangat merindukannya.

“Ku mohon jangan tinggalkan aku.” lirihku.

“Tidak akan.” ia mengeratkan genggamannya pada jemari tangan ku.

Seolah mengajakku untuk segera pergi dari tempat mengerikan ini. Ku langkahkan kaki ku, mengekor pada Lay. Sejenak aku terhenti. Ku tolehkan kepalaku kebelakang. Iris mataku menangkap seorang gadis sedang tertidur dengan damai dengan jam kecil dalam pelukannya. Sebuah senyuman mengembang diwajahku. Sekarang demam mu telah mereda, Im Yoona. Batuk dan sakit kepalamu kini juga telah hilang. Sekarang aku tak membutuhkan painkiller itu lagi. Karena disini, aku bersamanya, bersama Lay. Kekasihku, obatku yang sebenarnya.

KKEUT

A/N : Jujur aku ngga tau mau ngomong apa disini, aku ngerasa ini ff gaje banget. Ini ff murni karangan aku, terinspirasi dari lagu sama MV nya, si Jiyeon actingnya disitu keren banget. Disitulah muncul ide bikin ff berdasarkan MV sama lagunya dengan cast Yoona sama Lay. Tapi maaf disini Lay nya cuma nongol bentar doang, soalnya aku bikin bener-bener dari sudut pandangnya si Yoona, biar feel nya lebih kerasa. Tapi, kayaknya sama aja, hehehe. Kalo kalian masih nggak ngerti sama ceritanya, aku saranin buat liat MV nya sendiri. Maaf, disini aku belum terlalu pro soal EYD, jadi kaya gini adanya. Udahan deh, dasar bawel. Hahaha. Semoga kalian suka. Oh iya, makasih buat admin yang udah mau ngepost ff gaje ku ini.

Im Yoona

Romance, Angst

Painkiller, T-ara ft. Seeya & 5 dolls

IceKrystal

‘Can I Have Some Painkiller?’

Sarangeun motdoen gieogiya
Cinta adalah kenangan yang buruk
Sarangeun dachin chueogiya
Cinta adalah kenangan yang melukai

Ku sentuh sebuah handle pintu. Sejenak ku hembuskan perlahan nafasku. Ku langkahkan kaki kecilku memasuki ruangan tersebut. Pengap, itulah yang menusuk indra penciumanku saat berhasil menembus ruangan tersebut. Tas koper yang sedari tadi bertengger manis dalam genggamanku, kini berhasil medarat mulus menyentuh dinginnya lantai. Ku sapukan pandanganku pada seluruh ruangan, mengamati satu persatu benda yang masih tertata dengan apik di apartemenku. Dengan langkah gontai, kaki kecilku menapaki satu persatu lantai menuntun ku untuk meletakkan tas tanganku pada sebuah ranjang yang tertutup kain putih.
Lelah, penat, itulah yang kurasakan hingga aku menyentuhkan bokongku pada sebuah sofa yang juga berselimutkan kain putih. Ku telusuri kain putih selimut sofa dengan jemariku. Disinilah aku terbiasa duduk bersamanya. Diruangan inilah segala kenangan tercipta. Sakit, benar-benar sakit jika otak ku dipaksa untuk mengingatnya. Tidak, aku telah bangkit dari keterpurukan.

Eonjejjeum gwaenchanha jiryeona
Kapan semuanya membaik?
Haeneun eonje dasi tteuryeona
Kapan mentari terbit lagi?
Wollae ibyeori da ireoke
Seperti inikah perpisahan itu? Menyakitkan seperti ingin mati
Jugeul deusi apeunyago
Aku tercekik
Mogi maeyeo sumdo mot swigo
Bahkan aku tak dapat bernafas
Sigani gado soyongeobseo
Meski waktu berlalu, tak ada gunanya
Jogeumina useul su itge
Obatilah hati ku
Nae mam jom chiryohae jwoyo
Agar aku bisa sedikit tersenyum

Ku hembuskan nafasku perlahan, sebuah senyum terpatri dibibirku. Beranjak dari sofa, ku hempaskan beberapa kain penutup yang menyelimuti benda-benda dihadapanku.
Membuangnya asal, hingga mendaratkannya ada sebuah lantai yang dingin. Hingga langkahku terhenti pada sebuah kaca yang hampir sama tinggi dengan ku. Ku tatap kembaranku yang berada di dalam sana, terlihat sangat menyedihkan. Dengan tatapan kosong, tak ada harapan, tubuh kurus seolah aku tak pernah bertemu makanan selama sebulan, kantung mata yang menghitam layaknya tak tertidur selama berbulan-bulan.
Miris, menyedihkan, menjengkelkan, itulah yang ada dalam benak ku saat melihat pantulan diriku sendiri dalam kaca. Cukup, aku tak ingin melihatnya lagi. Iris mataku beralih pada sebuah jendela yang tertutup rapat. Tangan ku bergerak menarik pengait yang ada, agar aku dapat merasakan hangatnya sinar mentari. Berharap bahwa hatiku kembali menghangat. Aku tersenyum, entah apa yang ada dalam pikiranku, namun aku tersenyum. Sebuah senyum tanpa sebab yang kini perlahan memudar saat sekelebat memori berlarian dalam kepala ku.

Inomui dutongi natjil anhayo
Sakit kepala ini tak kunjung membaik
Du pare begaereul kkeureo anhayo
Aku mendorong bantal di kedua lenganku
Gasiga simjangeul jakku jjilleoyo
Duri ini terus menusuk jantungku
Bul kkeojin bangane bimyeongeul jilleoyo
Aku berteriak dalam kamar yang gelap

Jidokhan gamgineun natjil anhayo
Demam keras ini tak kunjung membaik
Mul eobsi duseal yageul samkyeoyo
Aku menelan dua, tiga pil tanpa air
Deoreoun achim jidokhan gamgie
Demam keras, pagi yang buruk
Wae tto gichim
Mengapa aku terbatuk?

Jugeuldeusi apado ne saenggangman
Meskipun sakit seakan hampir mati, aku hanya memikirkan mu
Jeongmallo geudaen naui yagingabwa
Sepertinya, hanya kaulah obatku sesungguhnya
Imi kkeutnabeorin yaegingabwa
Sepertinya cinta telah berakhir
Naega naega unda
Aku, aku menangis

Gamgineun dangchwe natjiranhayo
Demamku tak membaik sepenuhnya

Jemari tangan ku bergerak melucuti satu persatu kancing yang menjaga agar isi dalam koperku tidak tumpah. Ku raih sepotong pakaian, sejenak sebuah bulan sabit kembali terkembang. Ku langkahkan kakiku menuju almari yang berdiri dengan gagah disudut ruangan. Pandanganku teralih pada sebuah pakaian lelaki yang tergantung rapih dalam almari. Halusnya bahan pakaian tersebut dapat kurasakan melalui indra perabaku.
‘Pakaian ini’ batinku miris. Ku dekap erat sweater wol berwarna biru dongker tersebut. Pakaian ini, pakaiannya. Pakaian yang selalu ia kenakan, sweater pemberianku. Sakit, kepalaku berdenyut sakit. Otak ku memutar memori dimana ia mengatakan bahwa sweater ini, ia sangat menyukainya. Aku jatuh terduduk pada sebuah ranjang, air mataku mengalir dengan derasnya. Tubuh ku bergetar memanas. Nafasku tersenggal, aku mengingatnya.
Saat-saat seperti ini, aku merasakan seolah malaikat maut sedang berdiri dihadapanku, menatap ku dengan pandangan yang menusuk kedalam iris mataku, mengacungkan sebilah pedang mengkilap yang seolah siap untuk menebas urat leherku. Meskipun ku rasa nyawaku berada di ubun-ubun, aku hanya memikirkannya.
Ku hempaskan sweater miliknya. Tangan ku beralih menyambar tas tangan yang terduduk di sampingku. Ku raih sebuah botol kaca didalamnya. Tanpa pikir panjang, ku tuangkan beberapa pil dan menelannya tanpa air yang membuatku terbatuk.
Lenyap, lenyap sudah segala pemikiran buruk ku. Ku rebahkan tubuh lelahku pada ranjang, manik mataku menatap langit-langit apartemen. Dia, dia ada disana, melemparkan sebuah senyum manis untukku, senyuman yang sangat ku rindukan. Pikiran ku tenang, tubuhku tenang, air mataku terhenti. Namun jauh dalam lubuk hati, luka itu masih menganga dengan lebar, membuatnya merasakan kepedihan yang teramat dalam. Hanya ia yang aku inginkan. Hanya pria itu yang dapat menyembuhkan luka ini.

Jintongje pillyohae
Aku butuh obat penahan rasa sakit
Help me take my pain away
Bantu aku menyingkirkan rasa sakitku
Neul naege neoneun haeroun
Aku selalu berpikir
Aeyeotdago saenggakhaetgeonman
kau terlalu berbahaya untuk ku
My mistake
Aku salah

Geudae eobsi nan mossaneunde
Aku tak dapat hidup tanpa mu
Nae momhana chaenggiji motaneunde
Aku bahkan tak dapat menjaga tubuhku
Ireul eojjae aigo ya
Apa yang harus aku lakukan?
Ireodaga saram japgenne
Orang ini, ini akan membunuhku

Aku terjaga dari tidurku. Ia berjanji untuk selalu menghubungi ku setiap pagi. Ku raih ponsel ku yang tergeletak manis di atas nakas. Tak ada panggilan, kemana ia? Dengan hati berselimut rasa gundah, aku menekan beberapa tombol. Nomor ponselnya. Aku mengingatnya dengan jelas, nomornya. Ku persempit jarak antara ponsel dan daun telingaku, dengan perasaan gundah aku menunggu sapaan manisnya. Tak ada, aku sama sekali tak mendengar kata-kata manis iu meluncur dari bibirnya. Berulang kali ku lakukan hal yang sama. Namun nihil.

‘Ia tak kan pernah mengangkat telfon mu.’

Sebuah bisikkan halus ditelingaku membuatku sontak melemparkan telephon genggam ku. Air mata yang mulai beku, kini meleleh kembali menggenangi pelupuk mata dan turun secara perlahan menuju pipiku. Sudut mataku menangkap bayangan sebuah botol kaca yang seolah memanggilku untuk menelan beberapa pil yang terkandung di dalamnya. Ku alihkan pandanganku dari botol tersebut. Jemari kecil ku bergerak meremas seprei tak berdosa yang ku duduki.

Tatapanku berubah kembali menjadi kosong. Aku hidup, namun aku tak sepenuhnya hidup. Aku tak dapat merasakan apapun. Hanya bagaikan sebuah robot, tak berhati tak berjiwa. Hati dan jiwa ku telah ku serahkan sepenuhnya untuk pria itu. Ia telah membawa semua bersamanya. Dan kini, aku sendiri. Tanpa dirinya, tanpa hati dan jiwaku.

Jugeuldeusi apado ne saenggangman
Meskipun sakit seakan hampir mati, aku hanya memikirkan mu
Jeongmallo geudaen naui yagingabwa
Sepertinya, hanya kaulah obatku sesungguhnya
Imi kkeutnabeorin yaegingabwa
Sepertinya cinta telah berakhir
Naega naega unda
Aku, aku menangis

Gamgineun dangchwe natjiranhayo
Demamku tak membaik sepenuhnya

Kaki kecil yang beralaskan beludru hingga tak dapat merasakan dinginnya lantai. Fikiranku menuntun kakiku bergerak menuju kamar mandi. Langkah ku terhenti pada sebuah cermin yang tergantung dengan apik di tembok. Ku tatap kembali bayangan mengerikan diriku di dalam sana. Tersenyum, ku coba untuk mengembangkan sebuah senyum di bibirku. Miris, kapan terakhir kali aku tersenyum tulus?
Hening, hanya gemericik dan tetesan air yang menelusup telingaku. Perhatian ku kini teralih pada sebuah botol kaca berlabel kan ‘EMOTION’. Tutup yang berputar mengikuti alurnya kini terlepas begitu saja dari leher botol tersebut. Ku persempit jarak antara hidungku dan leher botol yang membuat indra penciumanku mendapatkan sebuah rangsangan.
Bau ini, bau yang sangat menenangkan. Aku menjatuhkan diriku dengan posisi terduduk disamping bathub. Botol yang sama, ku angkat sejajar dengan wajahku dengan posisi terbalik hingga tetesan-tetesan air didalamnya jatuh membasahi lantai yang dingin itu.
Saat ini, fikiranku benar-benar kosong. Mataku pun hanya metap kosong pada cairan opium yang menetes hingga membentuk sebuah alunan musik tersendiri dalam kepalaku. Aku hanyalah tubuh yang dipaksa hidup tanpa jiwa. Hanyalah jantung yang dipaksa berdetak tanpa darah dan paru-paru yang dipaksa bernapas tanpa udara. Karena hanya ia lah jiwa, darah, dan udara bagiku.

Jugeuldeusi apado ne saenggangman
Meskipun sakit seakan hampir mati, aku hanya memikirkan mu
Jeongmallo geudaen naui yagingabwa
Sepertinya, hanya kaulah obatku sesungguhnya
Imi kkeutnabeorin yaegingabwa
Sepertinya cinta telah berakhir
Naega naega unda
Aku, aku menangis

Gamgineun dangchwe natjiranhayo
Demamku tak membaik sepenuhnya

Tteonaganeun bareul butjapgo
Aku ingin berpegangan pada kakiku yang pergi
Aewonhago sipjiman
Aku mengharapkannya, namun
Geumanhan yonggido
Aku terlalu sakit
Eobseul mankeum nan neomu apa
Aku bahkan tak memiliki keberanian sebesar itu

Sebuah meja dengan sepasang kursi berhadapan, di atasnya tertata beberapa makanan. Dan dengan aku yang duduk di salah satu kursinya, tersenyum ceria menanti kehadirannya. Dengan hati berbunga-bunga, ku pandangi pintu di hadapanku. Berharap dirinya membuka pintu dan tersenyum padaku. Aku tersenyum, membayangkan betapa indahnya hari kami nanti. Di meja ini, kami akan menghabiskan makanan dengan melempar candaan satu sama lain. Membayangkannya sungguh menyenangkan.
Beberapa saat aku menunggu, ia tak kunjung datang, membuatku berharap-harap cemas. Aku takut ia tak kan datang.

‘Tidak, ia pasti datang.’ sanggah ku, meyakinkan diri.

Untuk beberapa saat keyakinan itu bertahan menenangkan diriku, hingga untuk kesekian kalinya, aku terbatuk. Cairan merah kental berhasil menodai dress berwarna putih milikku. Aku menatap telapak tanganku yang kini berwarna merah. Dan disitulah aku tersadar, bahwa ia tak akan pernah datang.
Hal itu membuat diriku kembali bergejolak, dengan sekuat tenaga aku bangkit dan meraih piring-piring makanan tersebut. Menjatuhkannya, membantingnya dengan asal. Jemariku menggenggam botol kaca yang selama ini menjadi hidupku. Mata ku memicing meilhatnya. Ku langkahkan kaki ku dengan gontai menuju kaca. Dengan cekatan ku lepar botol tersebut hingga membuat bayanganku dikaca menjadi tak berbentuk.
Dan disinilah aku tertawa, tertawa sinis, meledek diriku sendiri. Tawa yang kemudian berganti dengan tangisan yang mengerikan. Im Yoona, kau benar-benar. Berulangkali hal itu terjadi, ku pandangi darah yang menggenang dilantai bercampur dengan spaghetti dan pecahan piring, yang membuatku kembali tertawa, diakhiri dengan diriku yang menangis telungkup sembari menggenggam tangan yang ternoda oleh darah.

Inomui dutongi natjil anhayo
Sakit kepala ini tak kunjung membaik
Jidokhan gamgido natjil anhayo
Demam keras ini tak kunjung membaik
Geunyeoneun jeonhwado batjil anhayo
Meskipun ku telfon ia tak kan mengangkatnya
Sarangi dasi nal chatji anhayo
Cinta tak menemukanku lagi
Inomui dutongi natjil anhayo
Sakit kepala ini tak kunjung membaik
Jidokhan gamgido natjil anhayo
Demam keras ini tak kunjung membaik
Geunyeoneun jeonhwado batjil anhayo
Meskipun ku telfon ia tak kan mengangkatnya
Sarangi dasi nal chatji anhayo

Hari ini, ia berjanji untuk menemui ku. Aku terduduk di sofa, memandangi jam di atas meja menunggu kehadirannya. Pukul 11.25 KST, mengapa ia belum tiba? Ia tak mungkin menemuiku saat hampir tengah hari. Perasaan ku kembali gundah, ku raih jam diatas meja ku putar jarum jam tersebut menunjuk pukul 10.00 KST.
Seolah mengejek ku, jarum jam tersebut kembali berputar dengan cepat kearah semula -11.25 KST. Berulang kali ku lakukan hal yang sama, namun lagi-lagi, jam itu seperti tiada hentinya mengejekku dengan kembali menunjuk pukul 11.25 KST.
Dengan sekali hentakan, jam kecil itu mendarat dengan tepat diatas meja yang benimbulkan bunyi ‘Tak’ membuatku semakin jengkel. Sudut mataku menangkap bayangan ‘botol kehidupan’ ku yang tergeletak dengan isi berserakan di sudut meja. Jemariku meraih botol itu dan menuangkan beberapa pil pada telapak tangan ku. Dan lagi, aku menelan beberapa tanpa air yang membuatku terbatuk.
Suara denting jam yang menelusup telingaku, membuat ku kembali menatapnya. Secara perlahan tanganku tergerak untuk meraih jam tersebut. Tanpa diminta, jarum jam berputar berbalik arah, seolah memutar kembali waktu. Dengan perasaan bahagia ku dekap erat jam kayu tersebut.
Menangis, membuat kelopak mataku berat, seolah tergantung beberapa kilo beban disana. Damai, perasaan itu lah yang kini menyelimuti hatiku. Perlahan namun pasti, kelopak mataku tertutup diiringi desah nafas yang kini mulai tak terdengar. Dengan adanya itu, aku dapat melihat kekasihku, Lay, berdiri dengan menggunakan tuxedo hitam di ambang pintu seraya tersenyum, membuatnya berlipat-lipat kali lebih tampan. Oh apakah ini nyata? Lay? Aku berharap ini bukanlah mimpi semata.
Lay meberikan isyarat padaku agar mendekat padanya. Ini nyata, aku tak bermimpi.
Seketika aku beranjak dari tidurku dan berjalan dengan wajah berseri menuju Lay yang tak pernah melepas senyumnya sedikitpun.
Ku tautkan jemariku pada Lay. Yang membuat senyumku semakin mengembang. Ku dengar bisikan Lay menelusup indah di telingaku.

“Aku merindukanmu.” suara itu, aku sangat merindukannya.

“Ku mohon jangan tinggalkan aku.” lirihku.

“Tidak akan.” ia mengeratkan genggamannya pada jemari tangan ku.

Seolah mengajakku untuk segera pergi dari tempat mengerikan ini. Ku langkahkan kaki ku, mengekor pada Lay. Sejenak aku terhenti. Ku tolehkan kepalaku kebelakang. Iris mataku menangkap seorang gadis sedang tertidur dengan damai dengan jam kecil dalam pelukannya. Sebuah senyuman mengembang diwajahku. Sekarang demam mu telah mereda, Im Yoona. Batuk dan sakit kepalamu kini juga telah hilang. Sekarang aku tak membutuhkan painkiller itu lagi. Karena disini, aku bersamanya, bersama Lay. Kekasihku, obatku yang sebenarnya.

KKEUT

A/N : Jujur aku ngga tau mau ngomong apa disini, aku ngerasa ini ff gaje banget. Ini ff murni karangan aku, terinspirasi dari lagu sama MV nya, si Jiyeon actingnya disitu keren banget. Disitulah muncul ide bikin ff berdasarkan MV sama lagunya dengan cast Yoona sama Lay. Tapi maaf disini Lay nya cuma nongol bentar doang, soalnya aku bikin bener-bener dari sudut pandangnya si Yoona, biar feel nya lebih kerasa. Tapi, kayaknya sama aja, hehehe. Kalo kalian masih nggak ngerti sama ceritanya, aku saranin buat liat MV nya sendiri. Maaf, disini aku belum terlalu pro soal EYD, jadi kaya gini adanya. Udahan deh, dasar bawel. Hahaha. Semoga kalian suka. Oh iya, makasih buat admin yang udah mau ngepost ff gaje ku ini.

13 thoughts on “(Freelance) SongFic : Painkiller

  1. Feelnya dapet bnget menurutku. .dari awal hingga akhir langsung klop ama ni ff. .sudut pandang yo0na kereen. Dan akhir yang cukup mengesankan, karena kini yo0na tidak akan merasa kesakitan lagi,
    gaya bahasanya gw paling suka ada kiasannya jadi gak b0sen bacanya
    ditnggu karya lainnya

  2. Huhuhuhuhu,baper jadinya nih..
    Yoona nya tersiksa banget karena gk ada Lay d sisinya..Kirain Lay pergi karena ada cewek lain gitu, eh ternyata dia meninggal ya..
    Serius,aku bayangin waktu Lay tersenyum seperti yg ada d cerita,cuma bayangin aja aku udh senyum2 gaje lho,hihihi..
    Gk gaje kok ff nya,malah kata2 yg ada d dlm ff ini nyesek banget,aku suka sampe bayangin adegan demi adegan slm ff ini

  3. Huaa.. In keren. Neomu neomu Daebak. Johaa..
    Aigoo, it yoona ktergantungan dgn Painkiller yah krn kmatian Lay?
    Tp mungkin arwah lay oppa gk tnang ngelht kekashnya trsiksa, akhrnya dia mengajak dgn Yoona.

    Keep writting thor!

  4. Wah jdi yg jdi obat yoona itu trnyta lay ya..
    Brarti lay ny udh mti? Trs yoona jga ?
    Trs bsa brtemu,ato yoona hnya brmimpi sja,,wah kren thor,,
    Ya meskipun sdikit bngung,tpi feel ny dpet kok..

  5. Lay udh mati y? Yoong jga akhir.a ikut mati? Wloupn rdak bingung tpi ff.a kren kok thor😀 d.tnggu krya” slanjut.a🙂

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s