(Freelance) Red Bean (Chapter 1)

red-bean1

Author:

Nikkireed

Cast :
Im Yoona
Kim Suho
Do Kyung Soo as Kim Kyung Soo
Kim Jongdae
Zhang Yi Xing

Genre :
Chaptered 17+ action

Kyung Soo masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk.
“Kurasa kita perlu bicara.” Ia berdiri sambil berkacak pinggang, menatap marah lawan bicaranya. Suaranya dibuat sedatar mungkin, tapi yang terdengar malah seperti geraman menahan amarah. Dadanya naik turun karena sehabis terburu-buru menuju ruangan itu.
Lawan bicaranya yang sedang menulis sesuatu di kertas, tidak merubah posisi. Masih menyelesaikan tulisannya.
“Hyung.” Panggil Kyung Soo, ia berjalan menuju meja dan mengetuk meja tersebut.
Akhirnya yang dipanggil hyung terdiam. Lalu meletakkan penanya. Ia mendongak pada Kyung Soo.
“Kau sungguh dengan keputusanmu? Dengan menerima si nona kurus itu?” Jelas, Kyung Soo frustasi dengan keputusan hyung-nya itu.
“Dia punya nama.”
“Yah, apalah namanya.” Kyung Soo memutar matanya. Suaranya masih terdengar emosi.
“Lalu apa yang salah dengannya? Kau bahkan tidak tahu siapa dia.”
“Hyung, Suho hyung! Suho hyung!” tiba-tiba Jongdae masuk ke ruangan tersebut, mendadak seperti Kyung Soo. Bedanya, Kyung Soo masuk dengan emosi keterkejutan atas keputusan hyung-nya sedangkan Jongdae masuk dengan keterkejutan yang lain.
Suho mendongak pada Jongdae dengan tatapan ‘apa’.
“Aku melihat perempuan cantik, astaga. Apa ia yang baru?” Jongdae langsung duduk di kursi di depan meja Suho. Ia menepuk-nepuk meja, seperti baru saja melihat sesuatu yang aneh. Padahal hanya perempuan cantik.
Kyung Soo mendecak kesal, “Seriously, hyung.”
Jongdae seperti tidak menyadari kehadiran Kyung Soo yang sedang marah, ia menoleh padanya, “Kau kenapa?” Jongdae mengedarkan pandangan bertanya pada Suho juga.
Suho kembali menulis sesuatu di kertas tersebut, tidak menghiraukan kekacauan kedua adiknya tersebut.
Toktok!
Kyung Soo memutar badannya menghadap pintu sambil melipat tangan di depan dada. Lalu kembali menghadap hyung-nya. “Itu dia?” Nada pertanyaannya seperti pernyataan.
“Itu dia!” Jongdae menggebu-gebu girang, bertanya pada Suho yang masih menulis.
Suho menutup penanya dan membereskan kertasnya. “Kalian bisa tunggu diluar? Aku perlu bicara dengan si kurus ini.” Suho menekan kata kurus dan melirik Kyung Soo.
Kyung Soo kembali mendecak sebal dan melangkah menuju pintu. Jongdae bangkit berdiri mengikutinya.

Yoona’s POV
Aku merapihkan kerah kemeja berwarna oren yang kukenakan siang ini. Rok hitam selututku sangat tidak nyaman, membuatku menyesal telah memakainya. Aku juga sempat menyelipkan rambutku ke belakang telinga sebelum aku mendengar sesuatu. Secara tidak sengaja mendengar sesuatu.
“Itu dia?”
“Itu dia!”
“Kalian bisa tunggu diluar? Aku perlu bicara dengan si kurus ini.”
Apa? Si kurus ini? Maksudnya, aku? Siapa mereka membicarakan aku? Yang benar saja.
Aku sudah sebisa mungkin memaksakan diri berpikir positif tentang pekerjaan ini.
Ceklek.
Dua lelaki keluar dari ruangan tersebut, perawakan mereka tidak terlalu tinggi tapi tidak pendek, yang satu beralis mata tebal dan jika aku tidak salah menduga, ia terlihat seperti sedang marah. Dan yang satu lagi berwajah seperti anak-anak, ia malah tersenyum padaku, membuatku tersenyum juga padanya. Mereka berdua berjalan sambil mengatakan sesuatu tentang perempuan kurus, kuharap itu bukan aku yang mereka bicarakan.
Aku melongo ke dalam ruangan, memastikan.
“Masuklah.”
Aku masuk lalu menutup pintu dengan pelan. Lalu langsung duduk di hadapan lelaki itu.
“Baik, nona Im. Kau resmi di terima disini. Aku akan menjelaskan beberapa hal padamu.” Ia menggeser selembar kertas padaku di mejanya.
“Baca ini dalam hati.” Perintahnya. Aku menurutinya.
Peraturan #1 : Do your part.
Peraturan #2 : Jangan menarik perhatian.
Peraturan #3 : Jangan jatuh cinta.
Sekarang, pikirkan satu nama jahat yang cocok menggambarkan dirimu. Pikirkan dan jangan sebut. Tapi tulislah disini.
Ia memberikan sebuah pena padaku.
Aku menatapnya terkejut. Nama jahat. Aku. Tidak. Tahu. Harus. Menulis. Apa.
Ia menautkan alisnya dan melihatku mengambil pena tersebut. Aku memejamkan mata enam detik. Lalu menulis Red Bean di kertas tersebut. Ia menarik kertas tersebut dan membaca dalam hati, lalu menahan senyumnya.
“Not bad. Apa kau sanggup menaatinya?” Matanya mengarah pada kertas tersebut lalu kembali melihatku.
Aku mengangguk mantap, “Ya.” Bukan peraturan yang sulit. Hanya melakukan tugasku, tidak mencolok dan tidak jatuh cinta. Lagipula, apa aku percaya pada cinta.
“Okay, mulai besok, kau bisa mulai bekerja. Aku akan mengirimkan tugas pertamamu. Ingat, ini Water Office.” Ia menyipitkan matanya.
Aku menyanggupinya.
Yoona’s POV end

Suho duduk memutar armchair-nya menghadap ke jendela di belakangnya. Kepalanya berpikir. Disaat yang satu mengatakan ia mengambil keputusan yang tepat, disisi lain berkata ia harus berhati-hati. Jika ini bukan karena tuntutan, ia tidak mau duduk di posisi ini sekarang.
Bisa saja, Kyung Soo atau Jongdae yang mengambil alih posisinya. Bisa saja. Jika surat perintah itu tidak meng-atasnama-kan nama Suho, mungkin akan lebih baik.
Kenyataannya, ia yang harus menjabat sebagai Kepala Kim disini.
Dan itu membuatnya susah mengambil keputusan. Ia tahu, ia bisa saja melepaskan tanggung jawab ini pada Kyung Soo. Kyung Soo bahkan lebih berbakat dalam hal memimpin, mengatur, membuat siasat dan yang lain. Ia juga heran kenapa bukan Kyung Soo saja yang dipilih ayahnya.
Karena tentu bukan Jongdae, ia masih terlalu muda. Dan pengalamannya tidak cukup. Mungkin akan lebih baik jika Jongdae yang mengajarkan trik-trik kecil pada Im Yoona nanti.
Im Yoona. Si kurus itu. Red bean.
Itu nama jahat yang dipilihnya. Suho menahan tawanya jika ia kembali memikirkan itu. Bagaimana bisa kacang merah menjadi nama jahat. Terkesan seram sedikitpun tidak.
Suho mengambil kertas hasil komunikasinya dengan Yoona tadi. Membaca dalam hati.
Memang, begini cara kerjanya. Tidak boleh menarik perhatian. Mereka juga tidak boleh berkomunikasi tentang pekerjaan ini dengan bersuara. Karena menurut Suho, suara, sejauh apapun jaraknya akan tertangkap di seluruh gedung ini. Jadi, demi keselamatan pekerjaannya ia mengambil cara berkomunikasi lewat kertas.

Suho keluar dari mobilnya. Mengambil tas kerjanya di jok samping dan langsung masuk ke apartmentnya. Apartment khusus untuk ia dan adik-adiknya.
Ia masuk disaat yang tepat. Makan malam.
“Hyung, kau baru pulang?” Jongdae langsung bertanya. Suho berjalan menuju meja makan. Kyung Soo dan Jongdae sudah duduk disitu.
Bibi Nam datang dengan membawa makanan Suho begitu ia meletakkan tas kerjanya sembarangan di kursi.
Suho duduk dan mengangguk pada Jongdae. “Hmm, hanya memikirkan beberapa pertimbangan.”
Jongdae mengambil sendok makannya, “Jadi bagaimana si kurus tadi? Siapa namanya?” Pertanyaan Jongdae membuat Kyung Soo yang sedari tadi terdiam, mendongak terang-terangan pada Suho, menunggu jawabannya.
Suho menyadari perubahan suasana meja makan tersebut tersenyum canggung, “Ya, ia diterima dan akan mulai bekerja.” Suho mengambil sendok makannya dan langsung makan dengan cuek.
“Siapa namanya?” Jongdae mengulang pertanyaannya. Kyung Soo masih menatap Suho yang makan seperti tanpa masalah. Memang tanpa masalah.
“Red Bean.”
“Bahahahahahahha.” Jongdae tak kuasa menahan tawanya, ia bahkan tersedak karena tawanya. Sedangkan Kyung Soo yang disampingnya malah mengerutkan kening.
“Lucu sekali. Kacang merah. Hahahaha. Aku bahkan tidak sempat memikirkan kacang merah. Astaga.” Jongdae masih tertawa lepas di ruangan itu. Lalu karena merasa aneh ia terdiam dan melirik kedua hyung-nya yang diam juga.
“Kapan ia mulai bekerja?” Kyung Soo bertanya sebelum memasukkan sendok makannya ke mulut.
“Besok.” Suho menjawab singkat.
“Hyung, apa menurutmu ia akan sanggup?” Jongdae memajukan wajahnya dan mengecilkan suaranya. Ia menatap lekat-lekat hyung-nya itu.
Suho sempat melirik Kyung Soo sebelum menjawab, “Tentu. Aku membutuhkanmu untuk membantu ia training.” Suho mengadap Kyung Soo terang-terangan, “Dan aku membutukanmu untuk menjaganya.”
Jongdae menarik diri dan tersenyum riang. Tapi Kyung Soo mengerutkan keningnya, “Kenapa harus aku?”
Jongdae mendongak pada Kyung Soo di sebelahnya, “Kau tidak mau? Biar aku saja, hyung jika Kyung Soo menolak.” Jongdae beralih pada Suho.
Suho menggeleng sebelum menjawab, “Tidak. Aku ingin Kyung Soo yang mengawasinya bekerja. Aku selesai.” Suho mengelap bibirnya dengan serbet dan bangkit berdiri. Ia berjalan membawa segelas air dan tas kerjanya menuju kamar. Meninggalkan dua adiknya di meja makan tersebut dengan keterkejutan yang berbeda.

“Ini Kim Jongdae.” Suho mengenalkan Jongdae pada Yoona, keduanya tersenyum sopan. Tidak, hanya Yoona tersenyum sopan sedangkan Jongdae tersenyum girang.
“Dan ini Kim Kyung Soo.” Suho menuding Kyung Soo yang berdiri disebelah Jongdae. Ia tidak tersenyum, melainkan berwajah datar tapi Yoona tetap memberikan senyum sopan.
“Mereka akan membantumu bekerja, jika ada yang perlu ditanyakan, kau bisa bertanya pada mereka.” Suho beralih menuju mejanya, mengambil sebuah amplop file berwarna cokelat. Lalu memberikannya pada Yoona.
Yoona menerima amplop tersebut.
“Ini tugas pertamamu. Bekerjalah dengan baik.” Yoona mengangguk jelas mengerti.

Yoona’s POV
Setelah diluar ruangan Kepala Kim, yang bernama Jongdae mendekatiku. Entah mengapa ia sedikit berbeda dari yang terakhir kutemui kemarin. Terakhir bertemu, ia hanya memakai kemeja polo hijau lengan pendek dan celana selutut jeans, dan sekarang ia terlihat lebih gentle dengan setelan jas navy blue tanpa dasi.
Jongdae mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu lalu mengarahkan layar ponselnya padaku. Siapa nama aslimu, nona Red Bean?
“Im Yoona.” Jawabku sopan.
Jongdae kembali mengetik sesuatu di ponselnya, Ini nomor aktivasimu 123db34n.
Aku mengerutkan kening, apa aku harus menghafalnya?
“Baik, sekarang kita lihat apa tugas pertamamu?” Jongdae memasukkan ponselnya ke saku jasnya. Lalu melipat tangan di depan dada, menunggu.
Kyung Soo masih terdiam. Seolah tidak ada kehadirannya sedari tadi. Tapi aku melihatnya melirikku saat aku membuka amplop coklat ini.
Isinya selembar kertas, dua buah foto, dan sebuah kaliber (isi peluru). Tapi mana pistolnya?
Saat aku mengeluarkan semuanya, Kyung Soo bergerak mengambil kertas dan foto tersebut, membacanya dengan sangat serius, terlihat dari kerutan keningnya. Sedangkan Jongdae lebih terfokus pada kaliber tersebut. Ia seperti sedang meneliti (?)
“Kita ke Water Room.” Kyung Soo berjalan cepat membawa lembaran kertas tersebut. Kemudian Jongdae menyusul dan aku ikut.

Yang dimaksud Water Room adalah ruang kedap suara. Komunikasi alternatif kedua setelah menggunakan kertas. Ruangan ini terbuat dari kaca pantulan bukan kaca bening, tapi tidak panas sama sekali. Dan tidak ada air sama sekali. Water Room hanyalah sebuah kiasan.
Ruangan ini terdapat 3 buah meja berbentuk persegi dengan kursi di semua sisinya. Ditata dengan rapi, bahkan suara detakan kaki di lantai tidak terdengar. Aku sempat curiga apa suara perut lapar akan terdengar disini.
“Duduklah, Red Bean.” Jongdae dan Kyung Soo sudah duduk di satu meja, mereka menatapku aneh.
Aku menurutinya.
“Disini hanya terdengar suara yang keluar dari mulut. Bahkan jika kau berbisik, atau hembusan nafasmu, itu akan terdengar. Semua kecuali itu.” Kyung Soo menjelaskan pelan.
Jongdae mengangguk setuju, “Dan ingat, tidak boleh ada yang masuk ke Water Room ini kecuali agen, hanya kau, aku, Kyung Soo dan Kepala Kim.” Ia menunjukku dengan pena ditangannya.
Kyung Soo menghela nafas sambil membolak-balik kertas, “Kau harus ingat, tidak boleh ada yang tau nama jahatmu. Dan kau harus menghafal kode aktivasimu.”
“Berapa kodemu?” Jongdae bertanya dengan smirk-nya.
“Eh, hah, ak – aku.. 123db34n.” Jawabku terbata-bata.
“Ingatanmu lumayan. Kodemu tidak boleh sampai ketahuan siapapun, mengerti?” Kyung Soo bertanya seperti mengancam. Aku mengangguk cepat sebagai respon.
Jongdae berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan menuju ujung sisi ruangan, menekan sebuah tombol. Tiba-tiba sisi kanan ruangan tersebut terbelah, dan terbukalah sebuah lemari yang lagi lagi terbuat dari kaca. Di dalam lemari tersebut ada ratusan pistol berjejer dengan rapi, peluru dengan berbagai ukuran, pisau berbagai ukuran, aksesoris wanita dan payung. Aku memikirkan kegunaan dua barang terakhir dalam misi ini.
“Sudah kutebak ini Walther P99. Bagaimana menurutmu, Kyung Soo?” Jongdae mengambil sebuah pistol berwarna perak dari lemari kaca tersebut.
“Sebaiknya kau perkenalkan mainanmu itu pada nona ini, sebelum ia mati terkejut. Aku akan mengkaji masalahnya dulu.” Kyung Soo berdiri dan berpindah meja.
Jongdae berjalan menghampiriku, “Baik nona, sebaiknya kuperkenalkan kau dengan ini.” Jongdae membantuku berdiri. Aku berjalan mengikutinya menuju sisi lemari tersebut.
“Ini Walther P99. Peluru yang kau dapat,” Ia menunjukkan isi peluru yang kudapat dari amplop coklat tadi, “Ini bisa terbang 180 km/jam tanpa suara. Dan ini yang akan kau gunakan untuk tugas pertamamu.”
Aku hanya mengangguk.
“Kau bisa menembak?” Tanya Jongdae setelah berjalan mendekatiku. Senjata api. Tidak pernah mencoba.
“Aku tidak pernah mencobanya.” Jawabku.
“Baik, aku akan mengajarkanmu.” Jongdae beralih menuju belakangku. Tunggu. Ini bukan posisi yang.. astaga.
“Pertama, tanganmu harus seperti ini.” Ia meletakkan pistol tersebut ditanganku, ia sedikit memelukku dari belakang dan menarik pelatuk pistol ditanganku. “Kau tinggal menekan ini.” Ia akhirnya berada di depan pistolku.
“Kau ingin aku menembakmu?” Tanyaku, polos.
“BAHAHAHAHA! Nona ini lucu sekali, Kyung Soo.” Jongdae tertawa memenuhi ruangan. Ia memanggil Kyung Soo yang tahu-tahu sudah berada di belakangku. Aku berbalik untuk menghadapnya. Baru kusadari ia memakai semacam syal di lehernya. Kaus putih dan blazer abu dengan celana hitam berpadu pas di badannya. Ditambah dengan syal merah melingkar di lehernya. Hmm, bagaimana aku mendeskripsikan manusia yang satu ini? Ia terlihat lebih santai daripada Jongdae yang berpakaian formal.
“Kau harus mendapatkan miniatur ini.” Kyung Soo membuyarkan lamunanku dengan memberikan sebuah foto. Itu foto patung yang pernah kulihat sebelumnya.
“Terracotta Army?” Tanyaku begitu aku mengingat nama patung di foto itu.
Kyung Soo agak terkejut dengan pertanyaanku, “Bagaimana kau bisa tahu?”
Jongdae mendekatiku setelah ia meletakkan pistol yang tadi kupegang di lemari. “Kau tahu pemiliknya?”
Aku mengangguk sekali, “Ini patung dari dinasti Qin di China. Aku pernah melihatnya di museum saat aku ke China.”
“Tapi ini yang asli. Dan ini ukuran yang paling kecil. Hanya ada satu di dunia.” Kyung Soo menjelaskan dengan pelan. “Tugas pertamamu harus mendapatkan patung kecil ini.” Ia menuding foto yang kupegang.
“Kau tahu siapa pemiliknya?” Jongdae mengulang pertanyaannya karena tidak ada yang menjawab tadi. Aku menoleh pada Kyung Soo meminta jawaban.
“Namanya Zhang Yi Xing.”
Yoona’s POV end

“Zhang Yi Xing. Pengusaha muda, terlalu muda untuk memiliki perusahaan yang diturunkan dari keluarganya. Penggila barang antik. Itu mengapa Terracotta Army itu ada padanya.” Kyung Soo sedang mempresentasikan profil pemilik Terracotta Army itu pada Yoona dan Jongdae di lapangan terbuka lantai atas sebuah rumah.
“Ia mendapatkan patung tersebut karena menang tender pelelangan di Swiss beberapa minggu lalu. Jadi, kau, Im Yoona, harus mendapatkan kembali patung tersebut. Tapi bukan dengan pelelangan.” Kyung Soo menatap Yoona lekat-lekat. Walaupun dari jauh, Yoona merasa gelisah di tatap seserius itu oleh Kyung Soo.
“Kau harus membunuhnya.” Jongdae mengakhiri kalimat Kyung Soo.
Yoona sebisa mungkin tidak terkejut, tapi perubahan cara berdirinya membuat Jongdae menahan tawa, jelas sekali karena Yoona terkejut. Ia harus membunuh seseorang hanya untuk mendapatkan sebuah patung. Yang benar saja.
Yoona mendeham pelan, “Baik. Tidak masalah.”
Jongdae yang masih menahan tawanya menyerahkan Walther P99 yang sudah berisi satu kaliber berwarna perak, “Kaliber itu memang sudah didesain untuk membunuh Zhang Yi Xing. Jangan sampai lolos.” Jongdae tersenyum.
“Kau akan menemukannya dibawah atap ini. Tepat dibawah sini.” Kyung Soo membuka layar PC, sebuah rekaman siaran langsung kamar Zhang Yi Xing. Terlihat Zhang Yi Xing sedang duduk bersandar di kepala ranjang memainkan ponselnya.
Kyung Soo menyentuh pelan layar PCnya, lalu men-zoom-kan satu sisi jendela, “Disini Terracotta Army-nya.” Patung tersebut masuk dalam sebuah detektor di PC otomatisnya Kyung Soo.
“Jadi kau akan turun diam-diam, mengarahkan pistol padanya, menembaknya tepat di sasaran dan masuk mengambil patung tersebut.” Kyung Soo menarik kuat-kuat tali yang terpasang di tubuh Yoona. Yoona sedikit tertarik mendekat pada Kyung Soo, membuatnya menahan nafas sebentar.
“Kau siap?” Jongdae menepuk pundak Yoona.
Yoona gugup, ia tahu dan ia sadar. Tapi ini tugas pertamanya. Ia harus menang melawan rasa takutnya.
Katrol. Mereka menggunakan katrol untuk mengerek Yoona masuk lewat jendela samping. Mudah sekali karena posisi jendela yang langsung mengarah pada ranjang tempat tidur Zhang Yi Xing. Dan cukup mudah untuk Yoona memposisikan dirinya untuk tidak mencolok, sesuai peraturan kedua.
“Ingat, Im Yoona. Hanya satu kesempatan.” Kyung Soo melongok ke bawah, memastikan Yoona mendengar bisikannya.
Treq! BUSHHHHH!

Annyeong ^^ Nikkireed comeback dengan chaptered action, merayakan setahunan freelancer di YoongExo dari Juni 2014 lalu. Haha. Maaf karena post part1 nya kelamaan. Kalo boleh jujur, this is not finish yet. Baru setengah. Jadi aku minta komen ide atau saran kritik. Thanks to apareecium for the poster. Thanks for reading Olympians.

35 thoughts on “(Freelance) Red Bean (Chapter 1)

  1. Yoona pembunuh bayaran atau seorang detektif ?
    Makin penasaran kenapa yoona bisa dapat pekerjaan itu.
    next chapter jangan lama-lama yah thor
    Keep Writing

  2. w.o.w action! ! keren! !

    tapi sebenernya pekerjaan Yoona itu apa sih? masih bingung :3

    ditunggu next chapter nya ya?!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s