Numinous (p. 3)

numinous

Proudly presented by

Twodeers

Starring

SNSD’s YoonA x EXO’s Sehun

 

Numinous

(adj.) an experience that makes you fearful yet fascinated,

awed yet attracted– the powerful, personal feeling

of being overwhelmed and inspired.

Credit poster goes to APAREECIUM (i don’t have to mention how great she is, you guys must have known about it already. Thank you so much, Vi!)

a/n: this part was inspired by The Innocent Man (EUNMAROO FTW!). Bahasa asing, flashback, dan suara hati (anjass suara hati–, more like character’s inner god(ess) kali ya) ditulis dalam italic. R-18 for swearing words and Oh Sehun who won’t fail looking smokingly hot, seducing af and make us dry the down-down there.

Also read:

Numious (p. 1)

Numious (p. 2)

///

 

“aku benci bau soju.”

“jam berapa dia datang semalam?”

“sekitar jam 2 lewat.”

“he looks teribble.”

Pandangannya tak fokus, tapi Sehun bisa mendengar dengan jelas suara wanita… 2 orang…? Mereka terus bercakap-cakap dengan suara yang setengah pelan, tapi tertangkap dengan jelas oleh Sehun. Dari apa yang ia lihat, ada kira-kira 4 orang wanita yang duduk didekat sana. Sehun mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali. Dimana aku?

Yeri yang duduk paling dekat dengan Sehun, menoleh dan menyadari bahwa pria itu sudah sadar. “oh, dia bangun.” Ucap Yeri, yang langsung membuat ketiga gadis lainnya terdiam dan menoleh.

Sehun mengerang, dan merasakan pegal-pegal di seluruh otot tubuhnya. Kepalanya terasa berat dan matanya berkunang-kunang. Dengan bertumpu pada kedua sikunya, Sehun akhirnya bisa terduduk dengan susah payah. “….dimana…..”

“kau sudah bangun, Oh Sehun.” Taeyeon yang pertama kali angkat bicara dan mendekati Sehun. Gadis itu meraih handuk dari kening Sehun, dan mencelupkannya ke baskom berisi air dingin. “Yeri, termometer.”

Yeri dengan sigap memberikan termometer pada Taeyeon. Taeyeon mengernyit saat melihat suhu tubuh Sehun yang tertera disana. “demamnya baru turun sedikit.” Gumamnya resah. “Yuri, berikan aku obatnya.”

“obat yang mana?” tanya Yuri, kebingungan melihat tumpukkan obat di kotak P3K mereka.

Taeyeon memutar kedua bola matanya. “obat penurun panas didalam plastik biru.” Begitu menemukan hal yang dimaksud, Yuri menyodorkan obat berbentuk pill itu pada Taeyeon. “thanks.”

“apa yang terjadi?” tanya Sehun kebingungan, mengernyit karena rasa sakit di kepalanya semakin menjadi.

Taeyeon membuka kemasan obat tadi, dan mengambil gelas berisi air diatas meja disebelahnya. “aku akan menceritakan semuanya padamu nanti. Ceritanya panjang. Untuk sekarang, minum ini dulu agar kau cepat sembuh.”

Sehun menatap Taeyeon heran, tapi tetap menerima obat dan segelas air yang diberikan gadis itu. Dengan cepat, ia menelan pil itu, dan langsung menghabiskan segelas air dingin tadi. “ceritakan sekarang.”

Taeyeon mengambil gelas kosong dari tangan Sehun dan meletakkannya diatas meja. “semalam kau mabuk. Lalu-“

“tunggu.” Potong Sehun cepat. “apa ini apartemen Yoona? Semalam aku mabuk disini?”

“semalam kau mabuk di tempat lain, dan dibawa kesini.” Jelas Taeyeon.

Sehun mengernyit lalu kali ini kembali merebahkan tubuhnya keatas sofa. Kepalanya terus berdenyut dan kelopak matanya semakin berat. “dimana Jongin?” tanyanya setelah melihat ke sekeliling, dan tak menemukan sosok sahabatnya dimanapun.

“Jongin pulang duluan semalam.” Kali ini Yeri yang berbicara, “adiknya sakit, dan ia tidak bisa meninggalkannya terlalu lama.”

“dan mengantarkanku kesini?” Sehun berdecak kesal. “si bodoh itu…”

“harusnya kau berterima kasih.” Yuri menyilangkan kedua tangan didepan dadanya. “kami bangun tengah malam dan mengurusimu yang meraung-raung, membuat kerIbutan sepanjang malam.”

Sehun menghela napas. Pria itu memang tahan pada whiskey, bahkan vodka. Tapi untuk soju….. it’s not his forte at all. “terima kasih dan maaf karena sudah merepotkan.”

Taeyeon tersenyum tipis. “tidurlah. Kurasa obatnya mulai bekerja sekarang. Sebentar lagi kau akan sembuh, jadi beristirahatlah dulu, oke?” ucap Taeyeon, lalu bangkit berdiri membawa baskom air dan gelas kosong tadi. Yuri dan Jieun mengikuti langkahnya dari belakang, masih kelihatan tidak senang dengan adanya Sehun disana.

Sehun bisa merasakan kelopak matanya yang makin berat, dan suara Yuri dan Taeyeon di dapur yang semakin memelan. Wangi roti bakar coklat yang manis makin membuainya dalam tidur. Pria itu memejamkan kedua kelopak matanya, dan otot-otot tubuhnya menjadi rileks. Perlahan-lahan, ia bisa merasakan kesadarannya yang mulai menghilang, dan tertidur.

///

Yoona benci bawang dan telur yang dicampur, menghindari paha ayam, mati-matian membenci orang yang bermuka dua dan sangat lebih memilih mengerjakan 300 soal kimia saat SMA daripada harus mencoba nasi bambu buatan Ibunya. Tapi dari semua itu, ada satu hal yang tidak ia sukai; bertemu kembali dengan pria yang pernah tidur dengannya.

“jadi, Yoona, kau bisa membantuku, kan?”

Choi Junhong, si pria berambut merah itu entah kenapa bisa menemukan nomor telpon gadis itu dan mengajaknya bertemu di kafe pagi ini. Yoona menghela napasnya. “dengar, Choi Junhong, aku—“

i beg you, Yoona.” Pinta Junhong dengan nada memelas. “kau tahu kan, kalau Jiyeon noona itu menyeramkan? Kumohon, Yoona, aku hanya bisa meminta ini padamu.”

“pertama,” Yoona mengangkat jari telunjuknya, “aku tidak suka berpura-pura menjadi pacarmu supaya Jiyeon-mu itu akan memutuskan hubungan kalian.”

Junhong mengatupkan kedua tangan didepan wajahnya dan menatap Yoona seolah gadis itu adalah satu-satunya penolongnya. “Yoona-ya, kumohon….”

Yoona memutar kedua bola matanya. “kedua, aku tidak mengenal Jiyeon-mu sama sekali dan kalau ia benar menyeramkan seperti yang kau katakan, aku akan lebih memilih untuk tidak ikut campur.” Jawab Yoona malas. “bagaimana kalau dia benar-benar seorang psycho? Maaf saja ya, aku tidak mau mati terbunuh dengan tragis.”

“dia hanya over-protective!” Bantah Junhong,”tapi…. well, dia memang berpotensi besar untuk menjadi psycho.”

“dan ketiga,” kali ini Yoona mengangkat 3 jarinya ke udara, “that’s not my fricking business, kita tak ada hubungan apa-apa, dan aku tidak punya waktu untuk duduk disini lebih lama lagi.” Ucap gadis itu seraya bangkit dan mengambil tasnya.

Junhong membelalakkan kedua bola matanya dan menarik tangan Yoona dengan cepat. “Im Yoona!” Serunya, membuat semua tamu disana menoleh ke arah keduanya. “please let me get out of this hell, aku hanya bisa meminta ini padamu, karena—“

“CHOI JUNHONG!!!”

Deg. Jantung Junhong berhenti berdetak untuk sejenak. Ia kenal betul suara cempreng ini, suara dari…….. Kim Jiyeon.

Jiyeon berdiri disana, berkacak pinggang dengan wajah memerah karena marah. Gadis itu terlihat kumal dengan mascara-nya yang luntur dan rambutnya yang acak-acakkan. Sorot matanya berteriak ‘aku akan membunuhmu, Choi Junhong’ dan gestur tubuhnya menandakan bahwa ia benar-benar marah. Choi Junhong is in a great trouble right now.

“oh Tuhan….” gumam Junhong pelan saat Jiyeon berjalan ke arah mereka berdua dan menatap Junhong lekat-lekat.

Jiyeon menatap Junhong sinis, pada genggaman tangannya ke Yoona, dan pada Yoona sendiri, lalu ia kembali menatap Junhong. “aku meninggalkanmu 2 jam yang lalu, dan sekarang ini yang kau lakukan, Choi Junhong????” bentak Jiyeon dengan nada tinggi.

Yoona yang menyadari kecemburuan gadis itu langsung menyentak tangan Junhong kasar. “Jiyeon-ssi, hubungan kami tidak seperti yang kau pikirkan.”

Jiyeon membelalakkan kedua matanya. “kau baru saja menyentak tangan Junhongku??????” teriaknya. “dasar gadis gila!”

Byuur!

Isi dari gelas orange juice tadi kini telah melayang dan membasahi tubuh Yoona. Junhong menahan nafasnya, karena ia tahu jelas reaksi Yoona selanjutnya. Tapi Yoona tetap tenang, dan menghela napas dalam. Jiyeon yang kesal karena reaksi pasif gadis itu, langsung kembali menyambar gelas kopi dari meja dan mengangkatnya di udara.

“kau wanita jal—“

“nona, anda mengganggu pelanggan yang lain.”

Si pemilik suara mencekal tangan Jiyeon dengan cepat, sebelum seluruh isi gelas itu kembali tumpah di tubuh Yoona. Yoona tersenyum miring saat mengenali suara berat itu. Belum cukup ia terperangkap dalam situasi memalukan ini, sekarang ia malah harus bertemu orang yang tidak seharusnya melihatnya.

“Yoona.” Kim Jongin menarik tangan Yoona, dan menyeret gadis itu keluar dari sana dengan cepat. Junhong sudah memeluk Jiyeon untuk menghentikan gadis itu mengejar Yoona dan menyiramnya kembali, lalu menciptakan adegan-adegan seperti di drama yang akan sangat memalukan.

Jongin menyeret Yoona dengan terburu-buru hingga mereka keluar dari kafe. Sontak saja, kondisi Yoona yang basah kuyup membuatnya menjadi bahan perhatian, apalagi dengan Jongin yang menarik tangannya dengan wajah panik. Yoona bisa merasakan amarah Jongin melalui genggaman pria itu yang semakin mengeras. Gadis itu tersenyum tipis. Setelah sekian lama, akhirnya ada orang yang marah karena memperdulikannya.

“bagaimana kau bisa terlibat dengan mereka?” tanya Jongin begitu mereka berhenti dipinggir jalan, menunggu lampu tanda menyebrang menyala.

Yoona mengangkat kedua bahunya. “Choi Junhong itu sepupu Chanmi. Kami lumayan dekat dulu, dan ia ingin minta bantuanku untuk pura-pura menjadi pacarnya, supaya pacarnya yang psycho itu menjauhinya.” Jawab Yoona dengan jelas.

Jongin menghela napas dalam. “kau beruntung aku bekerja sambilan disana dan shift-ku sudah selesai. Kalau tidak, kau akan kelihatan lebih kacau daripada ini.” Ucap Jongin, lalu kembali menarik tangan Yoona untuk menyebrang bersama puluhan pejalan kaki lainnya.

“kita mau kemana?” tanya Yoona saat menyadari jalur yang mereka tuju berlawanan dengan arah rumahnya.

“tempatku.” Jawab Jongin cepat tanpa melihat ke arah Yoona.

Yoona mengernyit saat mereka sudah sampai diseberang jalan. “bagaimana dengan Yoojung?”

“dia di rumah pamanku.”

wait, Kim Jongin.” Yoona berhenti, membuat pria itu menoleh dan menatapnya dengan heran. “bisakah kita berjalan lebih santai? It’s not like we’re being followed by satan, right?”

“kau kebasahan, bodoh. Bagaimana kalau kau masuk angin?”

Yoona terkekeh. “aku tidak mudah sakit. Ayolah Jongin, aku juga agak lelah. Kita berjalan santai saja, oke?” tawar Yoona.

Jongin menghela napas, dan memelankan langkahnya. Pria itu agak kesulitan menyesuaikan langkah kakinya yang besar dan cepat dengan langkah kaki Yoona yang kecil dan lambat. She’s a woman, afterall, pikir Jongin.

Jongin tidak tahu apa yang membuatnya begitu terikat dengan seorang Im Yoona. Apa karena wajahnya yang cantik, selera humornya yang menarik, dan tawanya yang manis? Atau karena cara gadis itu membuatnya tersenyum effortlessly? Atau karena cara gadis itu tersenyum menggoda dan menggigit bibir bawahnya, dan tertawa sangat lebar hingga Jongin pun ikut tertawa?

Entahlah. Mungkin segudang alasan itu-lah yang membuat nama Yoona selalu terngiang-ngiang. Atau mungkin ia merasa seperti memiliki seorang adik bandel yang harus selalu dituntun jalannya. Atau karena gadis ini adalah (mantan) kekasih sahabatnya? Jongin bisa menuliskan berbagai macam alasan ia begitu terhisap ke dalam diri gadis itu, tapi ia tetap takkan memahami perasaannya sendiri.

Tapi yang Jongin tahu, hanya dengan menggenggamnya tangannya seperti ini pun sudah lebih dari cukup.

“kau pernah ke taman bermain?” tanya Yoona tiba-tiba, membuyarkan lamunan Jongin disebelahnya.

Jongin tersenyum tipis. “dulu lumayan sering. Terakhir kali kami berempat kesana saat ulang tahun Yoojung yang ke-4.” Ucapnya, kembali mengingat kenangan-kenangan lamanya.

“itu sudah lama sekali…” gumam Yoona, “ah iya, bagaimana dengan orangtuamu? Masih sering menghubungi kalian?”

Jongin menggumam pelan. “yeah, lumayan. Mereka sering menanyakan kabar Yoojung dan mengirimi uang bulanan.”

Yoona mengernyitkan keningnya. “lalu kenapa kau masih bekerja sambilan? Apa karena uangnya tidak cukup?” tanya Yoona tanpa basa-basi.

Jongin terkekeh. Yoona and her straight-forwardness, another reason to add on the ‘why did i fucked up about Yoona so much’ versi Jongin. “mereka selalu mengirimnya dalam jumlah yang tidak masuk akal. Aku bisa menghabiskannya dengan membeli 10 Hermes’ bags setiap harinya dalam sebulan dan akan selalu ada sisa lebih. It’s like infinite money, Yoona.” Jawab Jongin. “tapi, tidak. Aku hanya menggunakan uang mereka untuk keperluan Yoojung. Selebihnya kutabung untuk uang pendidikan Yoojung nanti.”

Yoona menatap Jongin penuh kekaguman. “Kim Jongin,apa kau benar-benar manusia?

“apa?” tanya Jongin heran mendengar pertanyaan yang dilontarkan gadis disebelahnya.

you’re just beyond perfect. Maksudku- kau tampan, selalu mendapat beasiswa, mandiri dan dewasa, romantis, sangat sayang pada adikmu, pandai memasak, pandai menari, dan…. wait, perlukah kusebutkan semuanya?”

Jongin tertawa senang, hingga kedua matanya menyipit dan pipinya memerah. “apa kau sedang memujiku sekarang?”

Yoona tersenyum tipis. “i should be falling in love with you at the first place, instead of him.” Gumamnya dengan suara pelan.

Tepat saat Yoona berbicara, segerombolan anak TK lewat didekat mereka dengan celoteh riang dan ramai, membuat Jongin tak sempat menangkap perkataan Yoona tadi. “tadi kau bilang apa?” tanyanya begitu suasana disekeliling mereka menjadi lebih tenang.

Yoona menggeleng dan tersenyum. “aku bilang, aku ingin chocolate cake. Apa kau bisa membuatkannya untukku nanti?”

Jongin mengernyitkan keningnya, mencoba mengingat-ingat isi kulkasnya tadi. “kita hanya kekurangan beberapa bahan. Ayo singgah kesana sebentar.” Ajak Jongin, menarik lengan Yoona untuk masuk ke salah satu supermarket didekat mereka.

Begitu masuk kesana, keduanya langsung disambut udara dingin yang membuat Yoona menggigil. Jongin menyadari itu dan mengernyitkan keningnya. Pria itu melepaskan jaket jinsnya dalam sekali gerakan dan meletakkannya di pundak Yoona. “kurasa telurnya ada dibagian sebelah sana.” Ucap Jongin sambil mengambil trolley belanjaan.

Yoona yang awalnya terkejut, kini mengembangkan senyum di wajahnya. Gadis itu mengikuti langkah Jongin dengan patuh dan hanya mengamati pria itu yang sibuk mencermati bahan-bahan masakan disana. Yoona dapat mencium dengan jelas wangi buah-buahan, sake, daging ikan segar di pojok dan wangi selai. Biasanya Yoona menolak mati-matian ke supermarket dan memutuskan untuk pergi ke Circle K atau mall besar lainnya, tapi dengan Kim Jongin, ia melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.

“Kim Jongin, aku ingin membeli ini.” Yoona mengangkat sebuah semangka ditangannya dan tersenyum lebar.

Jongin mengernyit dan mengetuk semangka itu. “yang ini tidak matang. Cari lagi yang lain.” ucap Jongin dan kembali sIbuk dengan berbagai merk pengembang adonan dihadapannya.

Yoona mengerucutkan bibir bawahnya. “tapi aku mau yang ini.” Gerutunya.

Jongin menghela napas. “semangka yang itu belum matang, Yoona. Coba cari yang jarak antara garis hijau tua dan hijau mudanya lebih lebar, lalu bawa kepadaku.” Jelas Jongin dengan sabar.

“tapi yang ini imut.”

Dan untuk keberapa kalinya hari ini, Jongin menghela napas. “Im Yoona.”

“aku mau yang ini.”

“Yoona.”

“yang ini.”

“Yoona.”

“Jongin oppa~” keluh Yoona seraya mendekap semangka itu dalam pelukannya erat dan menggoyangkan pundaknya, lalu mengeluarkan jurus ampuhnya; Yoona’s aegyo attack. “kita beli ini, oke? Oke? Oke?”

Jongin yang awalnya berwajah kesal, kini tersenyum tipis. “oke, oke. Kita akan membeli itu.” Ucapnya, mengalah.

Yoona tersenyum lebar. “yeay!” serunya senang, sambil meletakkan semangka tadi ke dalam trolley. “ah, aku juga ingin snack!” ucap Yoona tiba-tiba.

Baru saja Jongin ingin melarangnya, Yoona sudah berlari ke arah rak snack kegirangan seperti anak kecil. Gadis itu menyilangkan kedua lengannya didepan dada, dan memandang ke sederetan snack itu dengan kening yang berkerut. Tangannya meraih ke keripik kentang dihadapannya, tapi ia terlihat ragu dan meletakkannya kembali di rak lalu mengambil snack lainnya.

Jongin menumpukan lengannya diatas trolley dan memandang gadis itu dengan senyum di wajahnya. Yoona punya banyak sisi yang tak terduga. Kadang ia akan terlihat dewasa dengan pembawaan yang tenang dan tatapan yang dingin. Tapi kadang juga ia akan terlihat seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru; bola matanya bersinar dan senyumnya sangat lebar. Atau ia akan terlihat kosong dan hampa, dengan tatapan yang selalu memandang jauh. Seringkali Jongin akan mendapati gadis itu tersenyum, tapi kedua bola matanya tidak ikut tersenyum sama sekali.

Dan Kim Jongin sama sekali tidak keberatan dengan semua sisi yang Yoona tunjukkan padanya.

///

Setelah menyuapkan sendok terakhir dari black forest cake buatan Jongin, Yoona merebahkan kepalanya keatas meja makan dan memegangi perutnya yang terasa penuh. Bibirnya belepotan coklat, dan gadis itu tidak menyadarinya sama sekali. Ia terlalu kenyang bahkan untuk menyadari sebagian besar coklat itu kini ada di wajahnya.

Jongin yang sedaritadi duduk dihadapannya, memangku dagu dengan tangannya dan memandangi Yoona dengan senyum puas. “enak?”

“YaTuhan, Kim Jongin. Kau harusnya berhenti kuliah di fakultas kedokteran dan membuka toko rotimu sendiri.” Gumam Yoona sambil memejamkan matanya, masih merasakan kenikmatan coklat tadi di mulutnya. “ini enak sekali, Jongin.”

Jongin tersenyum mendengar pujian tulus dari gadis itu. “aku kira kau tidak suka coklat.” Ucapnya.

Yoona mengangkat kepalanya. “well, sebenarnya itu karena…..” karena Sehun tidak suka bau coklat.

Jongin menyadari perubahan ekspresi pada wajah Yoona, dan mengernyit. “Yoona? Ada apa?” tanyanya khawatir.

Dengan cepat, Yoona menggeleng dan tersenyum tipis. “tidak apa-apa.” Ucap Yoona, menutupi ekspresinya. Menyadari akan ada udara canggung yang menyerbak, Yoona cepat-cepat mengganti topik pembicaraan mereka. “ah iya, mau main truth or dare? Aku sudah lama tidak bermain itu!”

Jongin mengangguk. “baiklah. Kau yang mulai duluan, oke?” tanya Jongin, yang langsung dibalas anggukkan dari Yoona. “so… truth or dare?”

“truth!” jawab Yoona mantap.

Jongin tampak berpikir sebentar. “it’s just my curiousity, but, siapa pria pertama yang tidur denganmu?” tanya Jongin hati-hati.

wait, tidur dalam artian ini atau….” Yoona melirik Jongin, “…itu?”

Jongin mendeham pelan. “itu.”

Yoona mempertemukan kedua alisnya dan tampak berpikir sebentar. “uhmm… dia sepupu temanku saat SMA, yang juga pacarku.” Jelas Yoona, tampak agak canggung.

“jadi? Siapa namanya?” tanya Jongin yang makin penasaran.

Yoona terkekeh. “one question only, darling.” Ucap gadis itu. “sekarang giliranmu. Truth or dare, Kim Jongin?”

truth.”

Yoona mengangkat sudut bibirnya. “siapa nama gadis yang pertama kali kau tiduri?” tanyanya cepat.

Jongin terlihat terkejut, dan menatap gadis itu ragu-ragu. “haruskah……?”

Yoona mengangguk mantap. “relax, Jongin. I won’t spill it, anyway.” Ujar Yoona menenangkan.

Tapi Jongin bungkam dan memainkan jarinya diatas meja, menciptakan irama yang tak beraturan. Yoona menatap Jongin tak sabaran, menjadi semakin penasaran karena Jongin terlihat menolak menceritakannya. Jongin tak menatap kedua bola mata Yoona, karena ia tahu ia takkan dapat berbohong saat berhadapan dengan gadis itu. A man’s greatest weakness is his lover’s eyes, indeed.

Yoona memangku dagu dengan tangan kanannya. “baiklah, Jongin. Kalau kau tidak mau bicara sebaiknya aku per—“

“Hwang Shinbi.”

what?”

Jongin menghela napas, melirik ekspresi Yoona sekilas dan kembali menatap jemarinya diatas meja. “Hwang Shinbi adalah gadis pertama yang aku tiduri.” Jawabnya singkat dan padat.

Yoona merasa dihadapannya ada kepingan-kepingan puzzle yang awalnya tak beraturan, kini mulai menyatu dan membentuk gambar yang kian absurd. Shinbi menyukai Jongin, dan keduanya pernah bercinta? Tapi Shinbi adalah kekasih Sehun, dan Sehun adalah sahabat Jongin, dan…… damn it’s just getting more and more complicated.

Yoona menyisir rambutnya dengan jemarinya, dan menghempaskan tubuhnya kembali didepan Jongin. “game is over, and we’ve got a real talk here.” ucap gadis itu tegas. “ceritakan padaku, Kim Jongin. Apa hubunganmu dengan Shinbi sebenarnya?”

Jongin baru ingin membuka mulutnya dan mengeluarkan pembelaan-pembelaan dari sana, tapi sorot mata Yoona menandakan bahwa ia hanya ingin kejujuran sekarang. Jadi Jongin menghela napas, dan membenarkan posisi duduknya. “kami berteman sejak SMA.”

“itu mengejutkan.” Gumam Yoona dengan kening berkerut.

Jongin mengangkat alisnya sedikit. “Shinbi sangat terkenal di sekolah kami waktu itu. Ia cantik, baik, polos, dan dia punya aura menyenangkan yang dapat membuat siapapun tertarik.”

Kali ini Yoona yang mengangkat kedua alisnya. “itu sangat mengejutkan.”

“kami berteman karena lingkaran sosial yang sama. Dia bergabung di klub cheerleaders dan aku bergabung di klub rugby. Typical high school’s drama, huh? Singkatnya, kami menjadi semakin dekat dan…”

“dan tidur bersama?” potong Yoona dan melanjutkan ucapan Jongin.

Jongin mengangguk ragu. “waktu itu ada pesta perayaan kemenangan kami di bar, dan kebiasaan mabukku saat SMA sangatlah buruk.” Jawab Jongin. “aku tidak menyangka kami akan masuk universitas dan jurusan yang sama. Well, sejauh ini kami tidak lebih dari kenalan saat SMA saja.”

Yoona mengurut keningnya dan memejamkan kedua kelopak matanya rapat. “apa kau…” Yoona mengangkat kepalanya, dan menatap pria itu tepat di kedua bola matanya. “…punya perasaan padanya, Jongin?”

Jongin menatap Yoona lurus, dan menggeleng. “tidak, Yoona. Aku tidak pernah punya perasaan yang lebih pada Hwang Shinbi.” Jawabnya tegas, tanpa keraguan sedikitpun disana.

Yoona baru saja ingin membalas, saat handphone di sakunya berbunyi. Dengan cepat, gadis itu meraihnya dan mengecek caller id yang tertera di layar. Taeyeon, K.

“ada apa, unnie?” tanya Yoona langsung begitu ia mengangkat panggilannya.

“Yoona, kau dimana?” Suara Taeyeon terdengar seperti bisikan, dan ada keramaian dibelakangnya.

Jongin menatap Yoona seolah bertanya ‘siapa itu?’ dan Yoona menggumamkan nama Taeyeon, yang membuat Jongin mengangguk. “aku di apartemen Jongin. Ada apa, unnie?”

“sebaiknya kau cepat kesini…” sebuah suara dari belakang memanggil nama Taeyeon, dan Yoona harus menunggu cukup lama hingga suara kembali muncul dari seberang.

unnie? Apa yang terjadi?” tanya Yoona, yang tidak diindahkan oleh siapapun diseberang sana. Sayup-sayup, Yoona dapat mendengar omelan Yeri dan suara berat Yuri, membuatnya mengernyitkan keningnya.

“Taeyeon unnie-“

“Yoona?”

Yoona membatu begitu mengenali suara itu. Suara berat dan serak dari seseorang yang sangat ia kenal. Suara yang selama ini ia rindukan. Suara yang selama ini ingin ia dengar bukan melalui voicemail, suara yang selama ini selalu mengingatkannya untuk makan dan tidur teratur, suara yang sering hadir di masa kecilnya, suara yang sering melantunkan lagu pengantar tidur setiap malamnya. Suara dari pria yang paling ia cintai di dunia.

“d-daddy?” tanya Yoona dengan suara tercekat, menahan tangis.

Walau tak melihatnya, Yoona bisa merasakan senyum pria itu terkembang begitu lebar. “Ayah pulang, Yoona.”

Yoona menutup mulutnya dengan tangan dan air mata kini mengalir di kedua pipinya, sementara Jongin hanya memandanginya dengan heran, tak mengerti apapun yang ada dihadapannya. “Ayah…. Ayah, i miss you so much. Aku–, kapan Ayah kembali ke Korea? Lalu… lalu bagaimana dengan pekerjaan Ayah disana? Apa Ayah datang kesini karena pekerjaan? Atau karena—“

“Ayah datang kesini untuk membawamu bersama Ayah, ke Jerman.”

Dan untuk pertama kalinya, entah kenapa Yoona lebih suka mendengar voicemail.

///

Ayah sudah membicarakannya dengan Ibu, dan ia sangat menyetujuinya. Kami menemukan kampus yang bagus dan dekat dari rumah  dan ada 2 mobil klasik milik Ayah disini, kau bisa menggunakannya, Yoona. Aunt Emily dan Jackson sudah menunggumu disana. Kau merindukan mereka, bukan? Kita akan berangkat kapanpun yang kau mau. Ayah akan tinggal di hotel dekat rumah sakit, hubungi Ayah kapanpun kau siap, sayang.”

Yeri beberapa kali mondar-mandir di hadapan mereka semua yang duduk di sofa ruang tamu. Gadis itu akan menggigiti kuku jarinya, menggoyang-goyangkan tangannya, menarik nafas berulang kali bahkan hingga melompat-lompat pelan. Ia akan melakukan segala hal yang ada untuk mengurangi beban pikirannya sekarang.

“apa Jerman itu jauh?” Yuri yang pertama kali angkat bicara, dan dibalas dengan helaan nafas dari Taeyeon.

“kalau jaraknya hanya seperti dari sini ke taman seberang, kami tidak akan secemas ini, Kwon Yuri.” Balas Taeyeon sarkastis.

Yuri mengangkat bahunya dan memutuskan untuk bungkam.

Taeyeon duduk disebelah Yoona dan mengelus pundak gadis itu tanpa berkata apa-apa. Tidak ada satupun yang tahu apa kata yang tepat untuk menenangkan Yoona. Situasi saat ini sangat rumit. Hubungan Yoona dan Sehun yang kian pelik, Jongin yang makin dekat dengannya, dan Ayahnya yang tiba-tiba mengajaknya ke Jerman. Bahkan Jieun yang biasanya berkepala dingin, tak melontarkan sepatah katapun sejak Ayah Yoona pergi dari apartemen itu. Semuanya berusaha mencari jalan keluar, tapi semakin mereka menggali, akan semakin sering mereka menemui jalan buntu.

“kita harus beritahu Sehun terlebih dahulu.”

Yuri memutarkan kedua bola matanya. “ide bagus, Kim Taeyeon.” Gerutunya. “tadi dia pergi begitu saja dengan buru-buru tanpa pamit sama sekali. Sekarang Yoona harus berpamitan dengannya sebelum pergi ke Jerman?”

Jieun menatap Yoona lama, mencoba mengerti ekspresi hampa gadis itu. “apa ini yang kau inginkan, Yoona?” tanya Jieun, membuat keempat orang lainnya di ruangan itu menoleh padanya. “apa kau benar-benar ingin pergi kesana?”

“ya.” Jawab Yoona cepat, tanpa keraguan. “aku selalu ingin pergi ke Jerman. Jackson sering kali mengirimiku email tentang betapa bagusnya Jerman dan kualitas pendidikannya yang bermutu. Aku selalu ingin pergi kesana, tapi Ayah dan Ibu tak pernah menyetujuinya.”

“kalau begitu ini kesempatan bagus.” Ucap Jieun. “apa lagi yang kau ragukan? Sekarang hubungi Ayahmu dan kalian pasti bisa berangkat besok. Aku punya teman di agen penerbangan, dan dia bisa langsung mencarikan tiket penerbangan pagi besok.” Jieun mengambil ponsel Yoona dari atas meja dan menyodorkannya pada gadis itu.

Yoona hanya menatap ponsel di tangan Jieun dan menghela napas. “aku tidak bisa meninggalkan Korea.” Jawabnya kemudian. “disini ada kalian, ada Ibuku, ada semua kenangan tentang keluarga kami dan…..”

“dan Sehun?” Potong Yuri, dan melihat reaksi pasif Yoona yang seolah menyetujuinya, emosi gadis itu memuncak. “seriously, Yoona? Bahkan saat dia sudah menjadi orang brengsek yang mencampakkanmu berkali-kali, kau tetap akan kembali padanya?”

Taeyeon menoleh dan menatap Yuri tajam. “Kwon Yuri.” Tegurnya. “kontrol emosimu.”

Yuri yang awalnya bersender pada dinding, kini berdiri tegak dan berkacak pinggang. “okay, we’ve got to talk about it. Aku muak oke? Aku muak melihatmu disakiti terus menerus oleh Sehun, dan kau yang masih mengharapkannya. I trusted him. Believe me, i did. Tapi setelah melihatnya memporakporandakan isi hatimu berulang kali, rasa percaya itu sudah menghilang. They are completely gone!”

Taeyeon berdiri, dan mendekati Yuri. “ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan itu, Yuri.” Selanya. “Kita tidak bisa ikut campur dalam hal ini terlalu dalam.”

“dan membiarkan gadis ini jadi gila karena Oh Sehun?? Apa kau pikir aku akan membiarkannya begitu saja, Kim Taeyeon?” bentak Yuri. “she’s all broke and messed up because of that jerk, dan kau mau aku membiarkannya menghancurkan dirinya sendiri, lagi?”

“dia benar.” Kali ini Jieun angkat bicara. “Yuri benar. Aku juga tidak ingin Yoona menghancurkan dirinya sendiri, tapi ini adalah keputusan yang harus dIbuatnya sendiri. Kita bisa memberi saran dan masukkan, tapi Yoona-lah yang akan memutuskan semuanya.”

Yuri mengernyitkan keningnya. “tapi dia terus menerus membuat keputusan yang bodoh! Dan semakin dia bertindak, semakin ia membuat dirinya sendiri berada di ujung tanduk. Apa kalian kira aku tidak lelah, hanya diam, memberi saran, dia membuat keputusan bodoh, dan kembali menangis?!”

“KWON YURI!”

Teriakan Taeyeon mampu melenyapkan suara apapun di ruangan itu, menyisakan suara nafas tak beraturan miliknya dan cegukan Yeri karena terkejut yang langsung ditahan oleh gadis itu.

Yuri membelalakkan kedua bola matanya, terkejut melihat luapan emosi Taeyeon yang jarang sekali muncul itu. Gadis itu mendengus dan masuk ke kamar, mengambil barang-barangnya. Begitu ia keluar, ia mengambil dompet dan meletakkan beberapa lembar puluhan rIbu diatas meja dihadapan Yoona.

“ini biaya menginap dan makanku semalam.” Ucapnya dingin.

Yuri berjalan ke arah pintu, mengambil sepatunya dan menghempaskannya ke lantai dengan kasar. Yoona terdiam dan hanya menatap uang diatas meja tadi. Ia tak tahu harus bereaksi apa karena serangkaian kejadian yang melintas dihadapannya. Jieun terlihat bingung, dan Yeri hanya menatap keempat sahabatnya dengan tatapan ‘apa yang terjadi disini?’.

Sebelum benar-benar keluar dari apartemen itu, Yuri menoleh dan menatap Yoona lama.

“aku hanya tidak ingin kau membodohi akal sehat karena cintamu, sepertiku dulu.”

Begitu Yuri berlalu, tak ada satupun suara yang terdengar disana. Yeri kini sudah berhenti mondar-mandir dan duduk disebelah Yoona, menggenggam erat tangan gadis itu. Jieun pergi ke dapur dan mengambil minuman untuk menenangkan sahabatnya.

Taeyeon menghela nafas dalam dan memejamkan kedua matanya rapat-rapat. “aku akan menyusul Yuri.”

///

“Yuri-ya, aku sudah bosan padamu. Kau tidak menarik dan terlalu keras kepala, aku sudah menemukan gadis yang jauh lebih manis dan penurut daripadamu. Kita akhiri saja sampai disini, jangan hubungi aku lagi.”

Bahkan dengan suara musik yang berdentum-dentum di klub malam ini, Yuri masih merasa ada sepi yang tak tertahankan. Suasana di klub malam ini masih sama seperti malam-malam lainnya. Ramai, penuh bau alkohol dan parfum wanita yang menyengat, dan segerombolan pemuda-pemudi saling menggoyangkan tubuh mereka ke satu sama lain untuk menarik perhatian. Yuri pikir keramaian bar-nya dapat menghilangkan rasa bersalahnya karena kejadian tadi.

Oke, dia memang bodoh karena sudah membiarkan emosinya meledak begitu saja, disaat Yoona paling membutuhkan dukungan sahabat-sahabatnya. Tapi Yuri merasa ia ada benarnya juga. Yoona adalah orang pertama yang tak menganggapnya sebelah mata karena ia meneruskan bar milik kakaknya. Gadis itu memahami sikapnya yang keras kepala dan cuek, bahkan tanpa Yuri memintanya. Dan kalau ditanya apakah Yoona berharga baginya jawabannya adalah; she will always be.

Yoona yang selalu tangguh dan tak terkalahkan, menjadi lembek dan cengeng hanya karena pria brengsek yang bahkan tak bisa membuatnya tersenyum dengan tulus? Harusnya Yuri tahu, membiarkan Yoona menjalani kisah cinta dengan calon kakak tirinya yang brengsek itu adalah pilihan terburuk yang ia buat. Harusnya ia melarang Yoona mendekati Oh Sehun. Harusnya Yuri lebih sering ada untuk Yoona, agar Sehun tidak bisa mengobati kesepian hati Yoona. Harusnya Yuri menyanggupi ajakannya ke pesta ulang tahun Chanmi saat itu, agar Yoona tidak dapat bertemu dengan Sehun. Harusnya.

“nona bartender, aku minta satu minuman.”

still or sparkling?” tanya Yuri sambil tetap membersihkan gelas dengan kain dalam gerakan yang sama. Mendengar tak ada respons dari pelanggannya, Yuri mengangkat kepalanya.

Kim Taeyeon. “hey.” Sapanya sambil tersenyum. “sudah kuduga, kau akan kesini.”

Yuri menghela napas dan meletakkan gelas tadi keatas meja. “pulanglah.”

“apa kau memecatku sekarang, bos?” goda Taeyeon sambil memangku dagu dengan tangannya.

Yuri yang awalnya berwajah kesal kini menyunggingkan senyumnya. “ini bukan shift-mu. Go home before i kick that naughty ass of yours.”

Taeyeon tertawa dan mengambil salah satu permen disana dan mengulumnya. “oke, kita harus bicara.” Ucapnya yang kini serius. “kau marah tentang Yoona?”

Yuri mengangkat kedua bahunya. “tidak juga.”

“bohong.” Tepat sasaran. Raut wajah Yuri langsung berubah, tapi gadis itu cepat menyembunyikannya. “kau masih belum bisa melupakan kejadian itu, ‘kan?”

Yuri mengambil botol air putih dan menyerahkannya pada Taeyeon. “itu masa yang berat bagiku. Dan aku tidak Yoona ikut merasakan hal yang sama.” Jawabnya.

“aku juga tidak ingin, Yuri-ya.” Taeyeon menerima botol itu dan tersenyum tipis. “tapi saat kita mencintai seseorang, kita seperti memberikan sebuah pistol penuh peluru di tangannya dan membiarkan itu mengarah di pelipis kita dan kita hanya berharap dia tidak menarik pelatuknya.”

but Sehun pulls the freakin’ trigger.” Sela Yuri dengan nada yang meninggi. “aku tidak tahu apa yang terjadi di otak si brengsek itu, tapi yang jelas, aku ingin sekali memukulnya.”

Taeyeon menghela nafas. Yuri memang jarang menunjukkan emosinya sama seperti Jieun, tapi gadis itu hanyalah bom waktu yang menunggu waktu yang tepat untuk meledak. Dan kali ini adalah waktu yang menurutnya tepat. Yuri sudah menahan semua emosinya selama ini. Mulai dari awal sejak Yoona bercerita tentang ketertarikannya pada Sehun, dan kenyataan bahwa Sehun adalah calon kakak tirinya. Yuri telah menahannya dengan baik, tapi pada akhirnya emosi itu meluap juga.

“noona, aku hanya bisa meminta bantuanmu.”

Taeyeon kini memandangi Yuri yang terfokus pada kegiatan membersihkan gelasnya dengan kening yang berkerut. Suara pria itu kembali terngiang, dan Taeyeon cepat-cepat menggelengkan kepalanya.

“tolong jangan beritahu siapapun, terutama Yoona.”

Taeyeon menghela napas. Ia meminta maaf pada suara itu dalam hatinya, dan kini menatap Yuri.

“kau tahu, Yuri,” Yuri mengangkat kepalanya dan menatap Taeyeon. “ada hal yang belum kau ketahui tentang Sehun.”

///

Sehun memandangi tiket penerbangan dan passport di tangannya. Passport baru, karena…. kapan terakhir kali ia pergi keluar negeri? Ah, Disneyland. Surga bagi seluruh anak kecil di seluruh dunia. Ia ingat pergi kesana saat masih duduk di bangku SD dengan kedua orangtuanya. Mereka juga pernah mengecap indahnya menara Eiffel di pagi hari, udara dingin dan hiruk pikuk Times Square, keantikkan Coloseum, dan suasana megah yang diberikan oleh Vatikan. Sehun cukup bangga karena bisa menjejakkan dirinya ke negara-negara tersebut. Dan tentu saja, negeri asing mengingatkannya pada Ibunya.

Kepalan tangan Sehun mengeras mengingat Ibunya. Ibu, wanita yang paling ia sayangi di dunia ini. Ibu yang mengandung dan melahirkannya, Ibu yang telah berkorban banyak baginya. Ibu yang dulu suka memasakkan bekal dan menjemput Sehun setiap pulang sekolah. Ibu yang merawatnya saat sakit dan menyemangatinya di festival olahraga sekolah. Ibu yang mengorbankan nyawanya karena keserakahan Ayahnya sendiri.

Sehun menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi bandara dan memejamkan matanya. Sekelibat kenangan melintas, dan Sehun tak bisa menahan kerutan dalam di keningnya.

.

“eomma, apa itu sakit?” Sehun masih dengan seragam SMP-nya yang baru, berdiri disamping ranjang rumah sakit dan menatap Ibunya dengan khawatir.

Ibu Sehun menggeleng, dan mengusap puncak kepala putranya dengan lembut. “aigu… lihat anak eomma disini. Rasanya baru kemarin Ibu mengganti popokmu, sekarang kau sudah mengenakan seragam SMP.” Ucap Ibunya dengan wajah yang berseri.

“eomma!” keluh Sehun kesal, “aku bukan anak kecil lagi!”

Ibu Sehun menumpukan berat badan pada kedua sikunya, lalu duduk dan bersender pada bantal. “Sehunnie, kau bahkan tidak bisa mengikat dasimu dengan benar.” Gumam Ibunya sambil membetulkan ikatan di dasi Sehun yang berantakan.

Sehun mengamati Ibunya yang sIbuk membetulkan dasinya, dan menghela nafas. “apa eomma sakit? Aku dengar dari bibi Kim, eomma tiba-tiba pingsan tadi. Apa yang terjadi? Apa sakitnya parah? Apa yang dokter katakan?” tanya Sehun tak sabaran, karena Ibunya yang tak bereaksi. “apa perlu aku menelepon Ayah?”

“tidak perlu, Hun-ah.” Potong Ibunya cepat, dan tersenyum pada anaknya. “nah, sekarang dasimu sudah rapi. Kalau tidak ada eomma, siapa yang akan merapikan dasimu? Kau tahu kan kalau gadis-gadis suka laki-laki yang rapi?”

Sehun mengerucutkan bibir bawahnya dengan kesal. “makanya eomma tidak boleh sakit. Aku tidak akan membiarkan wanita lain merapikan dasiku!”

Ibu Sehun tertawa pelan, diikuti oleh senyum yang terkembang di wajah Sehun.

 

.

Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi atau berada diluar jangkauan. Tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.

“a-Ayah?” suara Sehun pecah dan bergetar, tapi ia berusaha menahan isakannya. “operasi eomma…. sekarang. B-bisa Ayah datang? Kumohon, Ayah…. temani aku dan eomma kali ini, oke?” pinta Sehun.

Tangan Sehun mencengkram erat ponsel ditangannya. Ponsel yang diberikan Ayahnya, supaya ia gampang dihubungi. Ponsel merk terbaru yang melampaui standar bagi anak-anak seusianya. Tapi apa gunanya ponsel mewah saat ia bahkan tidak dapat menghubungi Ayahnya?

Seorang dokter keluar dari dalam ruang operasi, membuat Sehun refleks berdiri dan berlari ke arahnya. “dokter, bagaimana keadaan eomma? Apa eomma baik-baik saja?”

Sehun mengharapkan dokter itu akan melepas masker di mulutnya, lalu mengucapkan kata ‘Ibumu baik-baik saja, ia akan bangun 2 jam lagi’ dan tersenyum lebar. Tapi dokter itu melepas maskernya dan mengulas senyum dan memberikan tatapan yang paling Sehun benci. Tatapan kasihan.

“kami sudah berusaha semampu kami.”

 

.

 

Sehun keluar dari kamarnya dengan setelan hitam yang elegan dan dasinya. Ia akan makan malam dengan Ayahnya, Yoona, dan Ibu gadis itu, dan pertemuan canggung ini bukan alasan baginya untuk tampil berantakan. Jadi Sehun mengambil setelan barunya dari dalam lemari, dan mengenakannya. Pria itu merapikan bagian lengannya saat keluar, dan menangkap sosok Ayahnya yang sedang duduk di meja makan.

Sehun berjalan melewati meja makan menuju kulkas didekatnya, dan mengambil botol air putih dari dalam sana. Dengan cepat, Sehun membiarkan air dingin itu membasahi tenggorokannya yang sudah kering sedari tadi. Pria itu mengambil kunci mobil dari gantungan didekatnya, dan kembali berjalan melewati meja makan untuk keluar dari rumah mereka.

“Oh Sehun.”

Suara berat Ayahnya membuat Sehun menghentikan langkahnya. Pria itu butuh waktu 5 detik untuk menghela napas dan menjawab Ayahnya tanpa menoleh sedikitpun. “apa?”

Sehun menanti ceramahan dari Ayahnya tentang dirinya yang terlalu fokus pada lukisan, atau kehadirannya yang bisa dihitung dengan jari dalam rapat perusahaan. Well, Sehun memang suka melihat beberapa pria tua bermata duitan mempermasalahkan tentang beberapa won yang terbuang dalam suatu proyek. Biasanya Sehun hanya akan diam dan menertawakan debat sia-sia mereka itu; karena tak perduli bagaimana mereka berkoar, keputusan terakhir ada di tangan Ayahnya selaku CEO disana.

“perusahan memutuskan akan menandatangani kontrak penyerahan Fusaki resort pada Sejin group.”

Sehun mematung, dan senyum di wajahnya hilang seketika. Ia menoleh ke Ayahnya dengan cepat. “apa?”

Ayah Sehun mengambil bungkus rokok dari sakunya dan mengambil sepuntung rokok darisana. “kita akan membutuhkan dana 50 milyar won untuk proyek pembangunan lab biokimia di Shanghai. Hasil penjualan Fusaki resort bisa menutupi kekurangan dana itu dan penyelesaian proyek kita di Singapura.”

Sehun menatap Ayahnya tidak percaya. “apa…. tapi kenapa Fusaki? Apa tidak ada aset lain yang dapat dijual?”

Ayah Sehun menyalakan rokoknya dalam sekali gerakan. “selama 5 tahun ini Fusaki tidak memberikan keuntungan seperti yang diperkirakan. Para pemegang saham sudah setuju.” Ucapnya lalu menjepitkan puntung rokok tadi di bibirnya.

“apa kau gila?” tanya Sehun dengan nada yang meninggi. “itu penuh kenangan akan Ibu!!! Apa kau begitu tergila-gila pada uang hingga mau membuang resort Ibu itu?!”

Ayah Sehun menyunggingkan senyum di wajahnya. “ah…. Kim Juri. Dia telah melahirkan anak yang bahkan tidak tahu sopan santun.” Sedetik kemudian, Ayah Sehun melemparkan tatapan dingin pada putranya. “apa aku mendidikmu selama ini hanya untuk melihatmu merendahkanku seperti ini?”

“kau benar-benar gila.” Gumam Sehun sambil tersenyum sinis. “Ibu mendirikan resort itu dengan kerja keras, dan bahkan sampai saat terakhirnya, ia ingin aku merawat resort itu dengan baik. Sekarang kau ingin menjualnya, Oh Jinhyuk?!”

Ayah Sehun mengetukkan jarinya ke atas meja. “aku akan memberimu penawaran.”

Sehun mati-matian menahan emosinya yang bisa meledak kapan saja, dan menarik nafas dalam-dalam. “penawaran apa?”

“aku akan mencari jalan lain untuk menutupi pendanaan proyek di Shanghai, dan tidak akan menyentuh Fusaki resort sama sekali. Aku bahkan akan merubah kepemilikannya menjadi namamu. Lalu aku akan membeli tanah sekitar agar ada perluasan area. Bukankah itu yang kau mau?” tanya Ayah Sehun tanpa melirik anaknya sama sekali.

Sehun mengepalkan tangan kanannya. “apa yang kau mau?” tanya Sehun kembali, karena ia tahu, seorang Oh Jinhyuk takkan melakukan kebaikan kalau tak ada motif licik dibaliknya.

Kali ini, Ayah Sehun menatap putra semata wayangnya, dan Sehun bisa merasakan kebusukkan dibalik senyum kebapakannya itu.

“putuskan hubunganmu dengan Yoona.”

Apa?

Sehun membelalakkan kedua bola matanya, dan cepat-cepat menggantinya dengan ekspresi bingung. “apa yang kau bicarakan?”

Ayah Sehun mengambil amplop coklat tebal dari sebelahnya dan melemparkannya tepat diatas lantai dihadapan Sehun, menimbulkan bunyi yang kencang. Sehun awalnya ragu, tapi akhirnya tangannya meraih amplop itu dan membuka isinya.

“Ayahmu ini bukan orang bodoh, Oh Sehun. Aku sudah menyelidiki Ibu Yoona, bahkan Yoona dan kehidupan pribadinya. Dia anak yang bandel, huh? Banyak sekali pria yang pernah ia tiduri. Padahal Ibunya seperti malaikat, aku tak mengerti kenapa anaknya malah seperti pelacur.”

“jaga bicaramu, Oh Jinhyuk!!!” bentak Sehun.

Ayah Sehun bangkit berdiri, dan berjalan ke arah Sehun. “aku punya mata-mata yang mengawasi kalian berdua selama 24 jam. Disana ada semua bukti foto kalian saat bersama. Kalian pernah pergi ke supermarket bersama, makan es krim di Baskin Robbins, berciuman di taman, dan kalian pernah tidur bersama kan?” senyum licik diulas di wajahnya, saat ia berdiri dihadapan Sehun. “apa itu hal yang akan dilakukan oleh saudara tiri?”

Sehun mengeraskan rahangnya. “aku mencintainya.”

“aha! Sudah kuduga kau akan menjawab seperti itu.” Ejek Ayah Sehun. “dengar, Oh Sehun. Kau mungkin percaya kalau gadis itu adalah cinta sejatimu, tapi percayalah, dalam 2 tahun ke depan kau bahkan tidak bisa menyebutkan namanya tanpa memaki kesal dalam hatimu.”

“oh, apa kau dulu juga merasakan hal yang sama pada Ibu?” balas Sehun, kini menatap balik Ayahnya dengan dingin.“dengar, Oh Jinhyuk. Aku mencintai gadis ini, dan aku bisa membayangkan masa depanku dengannya. Mungkin kau akan tetap menjadi orang yang busuk dan berusaha menghancurkan kami, tapi aku akan tetap berada disisinya dan memegangnya erat. Kami akan memiliki masa depan, dan kau tidak akan ada didalamnya.”

Ayah Sehun tertawa mengejek, membuat emosi Sehun makin melunjak. “apa yang bisa dilakukan olehmu, huh? Kau bahkan tidak punya kemampuan untuk menjalankan perusahaan, dan sekarang kau berbicara tentang masa depan?” ejek pria itu lalu membuang puntung rokoknya diatas lantai. “kau tidak bisa serakah. Pilih salah satu, Oh Sehun. Ibumu, atau…. Im kYoona?”

Sehun mencengkram amplop coklat di tangannya erat dan menatap Ayahnya lekat-lekat. “aku akan memperjuangkan keduanya, dan aku tidak akan kehilangan apapun. Karena kau tahu? Orang yang memperjuangkan orang yang mereka cintai tidak akan merasa kehilangan sedikitpun.”

 

.

 

Sehun membuka matanya saat nomor penerbangannya disebutkan. Beberapa puluh manusia telah berbaris di gate 7, membuat Sehun bangkit dan mengambil kopernya. Pria itu mengantri cukup lama hingga petugas memeriksa tiket dan passport-nya, dan Sehun dipersilahkan masuk.

Untuk terakhir kalinya, Sehun mengecek wallpaper ponselnya dan tersenyum. Ia bahkan belum menggantinya sejak terakhir kali; foto Yoona yang sedang tersenyum lebar yang diambil tanpa sepengetahuan gadis itu.

Sehun tahu, perjuangannya kali ini tidak sia-sia.

///

Diantara kerumunan gadis-gadis itu, hanya Yeri-lah yang paling diam. Gadis itu sering mengecek ponselnya, dan berdecak kesal saat notif Kakaotalk yang ia dapat bukanlah dari Yoona. Yeri sudah mengirimkan berpuluh-puluh pesan, melakukan panggilan yang tak terhitung pada ponsel Yoona. Belum 2 jam sejak Yoona tiba-tiba kabur dari apartemennya setelah pertengkarannya dengan Yuri. Jieun langsung menyuruh Yeri pulang karena khawatir orang tuanya akan mencarinya. Yeri mematuhinya dan pulang, tapi LINE ajakkan dari Jane membuatnya langsung melaju ke klub langganan mereka.

“jadi, how have you guys been doing?” Jane membuka percakapan diantara teman-temannya, dan tersenyum senang. Sudah lama mereka tidak berkumpul seperti ini karena kesIbukan mereka masing-masing. “kudengar kau sudah putus dengan Chanhee, Saeron-ah?”

Saeron mengangguk dan meneguk minumannya dengan kesal. “kami bertengkar dan ia menyinggung tentang mantan pacarku. Tentu saja, aku kesal.” Gerutu Saeron.

Sohyun tertawa dan ikut mengambil minumannya. “kalian akan baikan beberapa hari lagi. Trust me, Chanhee won’t just let you go like that.”

“wow, kalian semua berbicara tentang pacar dan aku merasa seperti satu-satunya yang kesepian disini.” Ucap Yein. “bahkan Umji pun sudah menggandeng pacar barunya.”

“’bahkan’? Yaa!” Umji memukul pundak Yein kesal, “bukan hanya kau yang tidak punya pacar disini, Yeri juga, ‘kan?”

Gerombolan gadis itu kini menoleh pada Yeri, yang seluruh perhatiannya tertuju pada ponselnya. Setelah sadar bahwa teman-temannya menatapnya heran, Yeri mengangkat kepalanya. “huh?”

Jane memutar kedua bola matanya dan tersenyum tipis. “i think she’s got one already. Sejak dia datang, dia bahkan tidak berhenti menatap ponselnya!” canda Jane, membuat yang lainnya tertawa.

sooo….” Sohyun memangku dagu dengan tangan kanannya. “siapa pacar barumu kali ini? Kau sudah putus dengan Taeyong?”

Umji membelalakkan kedua matanya. “dia pacaran dengan Taeyong??? Taeyong yang itu??? Well, he’s hot and all, tapi aku tidak mengerti kenapa semua orang tergila-gila padanya.”

“bukannya kau digosipkan dengan seniormu di sekolah? Siapa itu namanya….” Yein berusaha mengingat-ingat, “ah, Chang Jiwook, bukan?”

Yeri terkekeh. “seriously?”

Yein mengedipkan sebelah matanya. “rumour spreads fast, baby girl. Kudengar kau bahkan ditindas oleh fans club-nya di sekolah. Apa dia setampan itu?”

“uhmm…” Yeri mengambil minumannya dan tersenyum tipis, “he’s a chaebol?”

so what?” Sela Saeron, “dia boleh memiliki seluruh gedung di Gangnam, tapi kalau wajahnya so-so…. aku lebih baik menikahi Nam Woohyun.”

Yein tersedak minumannya. “kau mengincar Nam Woohyun? Damn it, Kim Saeron, bukankah dia terlalu tua untukmu?” tanya Yein.

Sohyun memutar kedua bola matanya. “they’re just 4 years apart.” Selanya. “kusarankan kau tidak mencari urusan dengannya, dia sudah punya pacar di kampusnya.”

Saeron menghela napas panjang. “sudah kuduga. Pantas saja dia terlihat makin tampan.” Keluh Saeron, membuat Sohyun dan Yein memutar kedua bola matanya.

well, well, guys?” Jane membuat seisi meja itu terdiam dan menatap ke arahnya. “tebak apa yang baru kudapatkan!” Jane mengangkat tabletnya dengan senyum kemenangan.

Sohyun meraih tablet itu dan membelalakkan bola matanya. “seriously? Kau punya jadwal penerbangan dan nama penumpang setiap maskapai di Seoul?” tanyanya tak percaya.

Saeron ikut melihat isi daftar itu dan berdecak kagum. “kau meng-hack komputer Ayahmu?”

Jane mengangkat kedua alisnya. “call it, the thing a heiress would do to get the throne. Aku akan menjalankan perusahaan penerbangan itu nantinya, jadi informasi ini sangat mudah didapatkan.” Ucapnya bangga. “tapi bukan itu point-nya.”

Jane mengambil kembali tablet tadi dari tangan Sohyun, lalu menoleh pada Yeri. “Kim Yeri, kau ingat pernah meminta bantuan kami menyelidiki seseorang, kan?”

Yeri menoleh dan menatap Jane. “Oh Sehun?”

Jane mengangguk. “Oh Sehun yang kau selidiki itu menaiki pesawat dan pergi ke Jepang kemarin malam.

Yeri membelalakkan kedua bola matanya. “he—what?”

“ah, pantas saja ia melakukan hal itu.” Potong Umji, “Ayah bilang ada masalah di Daegu group, tempatnya menanam saham.”

Yein mengernyitkan alisnya. “maksudmu, masalah penyerahan Fusaki resort pada Sejin group? Gosip ini sudah tersebar luas. Katanya, Fusaki resort itu peninggalan istri Oh Jinhyuk, tapi ia bersikeras ingin menjualnya untuk proyek di Shanghai.”

that’s nuts.” Sambung Sohyun. “Oh Jinhyuk memang terkenal sebagai orang yang menyeramkan, tapi yeah, he’s rich. Ibuku bilang bahkan saat istrinya meninggal, Oh Jinhyuk tidak menangis sama sekali.”

Yeri menatap sahabat-sahabatnya itu terkejut, lalu tersenyum puas. “gosh, i’m really glad to have amazing bitches around me.”

“awww.” Jane memeluk Yeri erat. “kami khawatir melihatmu down akhir-akhir ini. Glad that we could make you smile again.”

“jadi, apa yang akan kau lakukan tentang informasi-informasi ini?” tanya Yein begitu Jane melepas pelukannya pada Yeri.

Yeri tersenyum tipis dan mengambil ponselnya, lalu dengan cepat melakukan panggilan. “unnie? We’ve got an emergency meeting tomorrow morning.”

///

i’ll call you tonight.”

Sehun mati-matian menahan dirinya untuk tidak memeluk gadis itu. Yoona sekarang menatapnya dengan tatapan tersedih yang pernah pria itu lihat. Sehun menarik sudut bibirnya sedikit. “sure.”

Yoona membalikkan badannya, dan berjalan dengan langkah gontai menjauh dari  mobil itu. Sehun menyalakan kembali mesin mobilnya dan melajukannya di jalanan yang lumayan sepi. Perlahan, Sehun mengikuti langkah Yoona dengan mobilnya dari jarak yang lumayan aman, sehingga gadis itu tak mengetahuinya. Tatapannya tak pernah lepas dari gadis itu, dan Sehun tahu kalau Yoona sangat hancur.

Yoona, gadis pertama yang tidak hanya memiliki tubuhnya tapi juga mengacaukan pikirannya. Keras kepala, tidak dapat ditebak, angkuh, tapi Yoona bagaikan medan magnet yang menarik Sehun kuat dan tak berniat melepaskannya kembali. Sehun berada sepenuhnya dalam genggaman Yoona, dan gadis itu bahkan tidak mengetahuinya.

Sehun masih ingat saat kedua kalinya mereka berciuman. Bibirnya manis dan lembut, jauh lebih manis daripada rokok yang selama ini selalu memuaskan dirinya. Sehun tidak pernah menganggap sebuah ciuman itu istimewa tapi saat bibirnya bertemu dengan bibir Yoona, seolah-olah hal lain tidaklah penting. Sehun menginginkan lebih, Sehun menginginkan semua dari gadis itu, Sehun ingin menguasainya, merengkuhnya, menyimpan Yoona untuk dirinya sendiri.

Sehun mengernyitkan keningnya saat melihat Yoona singgah di bar soju pinggir jalan dan membawa plastik berisi botol soju. Soju is not her thing, ever. Yoona menyukai semua jenis minuman kecuali Soju. Sehun ingat betul semua makanan dan minuman kesukaan gadis itu, terutama yang paling ia benci.

Sehun menghela napas. Dia tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. Fusaki resort milik Ibunya berada dalam bahaya, dan Sehun bisa kehilangan Yoona kapan saja. Sehun harus berpikir dan bertindak cepat untuk menyelamatkan keduanya dari tangan licik Ayahnya.

Jemari Sehun meraih ponselnya, lalu meletakkannya di telinga kanannya. “hyung?” ucapnya saat panggilan itu terhubung. “Junmyeon hyung, aku minta bantuanmu.”

“kau tahu pukul berapa ini Sehun?” gerutu Junmyeon diseberang setelah menguap. “bantuan apa yang kau perlukan selarut ini?”

Sehun menghela napas. “aku akan langsung ke intinya. Ayah mengetahui hubunganku dengan Yoona yang bisa saja menghentikan pernikahan mereka dan mengancam akan menjual Fusaki resort milik Ibu. Aku harus mencari cara lain untuk menutupi kekurangan dana sebelum rapat pemegang saham selanjutnya. Kami memiliki lebih dari 300 aset yang bernilai, dan kita harus menemukan aset yang paling pantas dijual tanpa menimbulkan kerugian yang besar.”

“Ayahmu menyeramkan.” Ucap Junmyeon, langsung menyimpulkan. Ia bangkit dan menuju ke mejanya yang penuh tumpukkan-tumpukkan berkas dan memakai kacamata bacanya. “pertama, berikan aku daftar aset Daegu group dan perhitungan harganya. Kedua, kau harus membatalkan penandatanganan kontraknya apapun yang terjadi. Aku akan mencari cara untuk meyakinkan para pemegang saham.”

“aku akan ikut membantu tentang perhitungan harga asetnya, hyung.” Gumam Sehun. “ada lagi yang bisa kubantu?”

Junmyeon terdiam untuk beberapa saat dan melepaskan kacamata bacanya perlahan. “ketiga, putuskan hubunganmu dengan Yoona.”

Kernyitan di kening Sehun semakin dalam. “apa maksudmu?”

“Oh Sehun.” Junmyeon menghela napas. “kau mungkin tidak percaya, tapi bawahan Oh Jinhyuk sedang bergerak. Ia sedang bersiap menancapkan cakarnya untuk menghancurkan Yoona. Tidak mungkin ia menyerang Ibu Yoona, apalagi langsung ke Yoona sendiri, itu malah akan berbahaya baginya. Jadi, kau tau siapa yang dia incar, kan?”

Sehun membelalakkan matanya. “tidak mungkin….. jangan bilang dia mengincar…..”

“Ayah Yoona.” Sambung Junmyeon. “menurut informasi yang kudapat, ada masalah penggelapan dana di rumah sakit tempat Ayah Yoona bekerja. Oh Jinhyuk bisa saja memutarbalikkan fakta dan membuat semua bukti mengarah pada Ayah Yoona. Ini berbahaya, Oh Sehun.”

Sehun mencengkram erat stirnya. “si brengsek itu….” gumamnya, geram. “jadi apa yang harus kulakukan, hyung?”

Junmyeon menghela napasnya dalam. Ia tahu Sehun takkan menerima sarannya kali ini, tapi ia tetap harus memberitahu Sehun dan mencegah hal buruk lainnya terjadi. “kau harus meyakinkan Ayahmu bahwa hubunganmu dengan Yoona benar-benar berakhir. Oh Jinhyuk tidak bodoh, jadi kau harus menyiapkan rencana yang matang. Lalu….” Junmyeon terdiam sebentar. “…menjauhlah dari Yoona.”

“apa?” potong Sehun cepat.

“aku tahu kau tidak bisa melepaskan diri dari Yoona, jadi….” Junmyeon mengurut keningnya diseberang sana, “buatlah supaya dia menjauh darimu.”

“hyung, kau gila.”

“ke depannya, ini akan jadi sulit dan berbahaya. Yoona tidak bisa terlibat. Kalau Oh Jinhyuk tahu kau masih berhubungan dengan Yoona, semua yang akan kita rencanakan ini pasti hancur berantakkan. Jangan buat ini hancur bahkan sebelum dimulai.”

Sehun menyandarkan keningnya pada stir mobilnya, dan memejamkan kedua matanya. “ini sulit sekali.” Gumamnya.” mempertahankan Fusaki resort jauh lebih mudah daripada menjauhkannya dariku, hyung. Aku tidak tahu apa aku bisa menahannya…”

Junmyeon menghela napas. “aku tahu, Oh Sehun. Tapi kau harus mengorbankan Yoona untuk sekarang. Saat dia menangis, saat dia marah dan saat dia benci padamu. Kau harus menahannya, supaya bisa mempertahankan baik Fusaki resort dan Yoona sendiri.”

 “dia pasti akan memanggilku brengsek.” Ucap Sehun sambil tertawa pelan.

“ini jalan yang terbaik, Sehun.” Gumam Junmyeon pelan sebelum mematikan panggilannya.

Sehun menghela napas dan menutupi matanya dengan tangan kanannya. “maafkan aku, Yoona.”

///

Jongin punya berbagai macam koleksi puzzle. Kedua orangtuanya lebih sering berada diluar rumah, Yoojung sering keluar masuk rumah sakit dan peneman Jongin hanyalah kepingan-kepingan puzzle yang berserakan. Jongin selalu suka bermain puzzle. Saat bermain puzzle, kita sudah tahu apa langkah pertamanya dan bagaimana hasil akhir puzzle itu.

Tapi gadis yang sedang tidur diatas sofa ruang tamunya ini, adalah puzzle tersulit yang takkan bisa Jongin pecahkan. Im Yoona.

Yoona rumit tapi sangat simple disaat yang bersamaan. Jongin mengetahui beberapa hal tentang Yoona. Yoona pandai di matematika dan bahasa inggris, membenci geografi dan ekonomi. Yoona suka masakan Jepang, dan tidak terlalu menyukai masakan cina. Yoona, Yoona, Yoona. Tapi tidak seperti puzzle, saat semua hal tentang Yoona ia satukan, malah membuatnya makin rumit.

Jongin tidak menyukai hal yang rumit, tapi Yoona adalah pengecualian.

“kau tidak mau bercerita?” tanya Jongin sambil memainkan gelas berisi teh ditangannya.

Yoona membuka matanya perlahan, tapi tak menatap Jongin sama sekali. “Yuri unnie marah padaku.” Gumamnya pelan. “pertengkaran ini terjadi karena aku.”

Jongin menghela napas dan menyesap tehnya. “kau harusnya mengabari mereka kalau kau ada disini. Mereka pasti panik mencarimu kemana-mana.”

“hmm.” Yoona tersenyum tipis. “dimana Yoojung?”

“tidur.” Jawab Jongin. “seharian ini dia memaksaku untuk pergi ke kebun binatang.”

Yoona langsung duduk dan menatap Yoona dengan mata yang berbinar. “kalau begitu, ayo!”

“apa?” Jongin mengernyitkan keningnya.

“Kita akan pergi ke kebun binatang! Lalu kita ke planetarium, atau pergi piknik… ah, apa perlu kita mendaki gunung? Tapi Yoojung pasti kelelahan… haruskah kita pergi ke pulau Jeju? Aku sudah lama ingin lIburan seperti ini. Kita bertiga akan pergi berjalan-jalan, bagaimana kalau kita menyewa sebuah van untuk piknik?”

Jongin menghela napas. “aku sudah mendengar apa yang terjadi.”

“apa yang terjadi?” tanya Yoona masih dengan senyum di wajahnya.

Jongin menatap gadis itu. Dia suka senyum Yoona, tapi melihatnya tersenyum dengan sinar mata yang hampa seperti itu malah membuatnya kesal. “Ayahmu ingin membawamu ke Jerman. Kau ingin pergi, tapi tidak ingin meninggalkan Sehun disini.” Ucap Jongin lancar. “benar, bukan?”

Yoona tidak mengangguk, tapi senyum lemah di wajahnya seolah tanda bahwa perkataan Jongin benar. “kau mengenalku dengan sangat baik, Kim Jongin.”

“Im Yoona, dengar—“

Teet!

Keduanya menoleh ke  pintu apartemen Jongin, dan pria itu bangkit berdiri. “mungkin itu Taeyeon nuna. Tadi aku memintanya menjemputmu.”

Jongin membuka pintu apartemennya, tanpa mengecek melalui kamera. Dan wajah pertama yang ia lihat bukanlah wajah Taeyeon, tapi wajah yang tak pernah ia sangka.

“Hwang Shinbi?”

Shinbi  tersenyum tipis melihat ekspresi terkejut di wajah Jongin. “Hey, Kim Jongin.” Sapanya. “maaf mengganggumu malam-malam begini.”

Jongin mengernyitkan keningnya. “aku tidak menyangka kau akan kesini. Ada perlu apa, Shinbi?”

Shinbi tertegun mendengar betapa kasualnya Jongin memanggil namanya. Sama seperti dulu. Entah sejak kapan panggilan itu berubah menjadi Hwang Shinbi atau Shinbi-ssi, yang membuatnya merasa sesak. “Suji ingin aku memberikanmu ini.” Ucap Shinbi sambil mengeluarkan flashdisk dari tasnya. “ada bahan untuk tugas dari kalian, dan film Night at The Museum 2 yang kau inginkan.”

Jongin tersenyum tipis. “thanks.”

“uhm, sama-sama.”

Sesaat, ada kecanggungan yang menguar di udara. Jongin menggaruk tengkuknya, dan Shinbi hanya menatap ke lantai. Semuanya sudah berubah, gumam Shinbi dalam hati. Jongin yang biasanya mengajaknya bermain PS saat Shinbi ada disana, Jongin yang akan merangkulnya secara kasual, Jongin yang akan menoyor keningnya saat melihat Shinbi berpakaian tipis. Kemana Jongin yang dulu?

“kenapa tidak masuk?” Yoona tiba-tiba muncul dari belakang Jongin, membuat Shinbi terbelalak.

“apa kalian….?”

nope. Aku baru saja sampai.” Ucap Yoona santai, lalu kembali masuk ke dalam.

Jongin hanya tersenyum tipis. “mau masuk?” tawar Jongin pada Shinbi.

“oh, tentu.”

Yoona sudah duduk bersila diatas sofa ruang tamu dan sibuk bermain dengan ponselnya. Shinbi duduk dihadapannya, sementara Jongin berjalan ke arah dapur untuk  menyiapkan minuman.

you should thank me.” Ucap Yoona saat Jongin benar-benar pergi.

Shinbi mengangkat kepalanya dan bertemu dengan tatapan mengejek Yoona. “apa?”

“well,” Yoona mengangkat kedua bahunya, “aku sudah membantumu masuk ke apartemen pria yang kau sukai, hal yang tak bisa kau lakukan, bukan?”

Shinbi menggigit bibir bawahnya. “kau ingin aku berterima kasih?”

Yoona mengangkat alisnya, dan menggeleng. “aku tidak butuh lagi.”

“Yoona!” seru Jongin dari dapur. “tea or coffee?”

“coffee!” balas Yoona. “apa kau ingin aku pergi keluar agar kalian bisa berduaan?”

Shinbi menggeleng. “aku ingin memberitahumu sesuatu.” Ucapnya pelan.

“apa itu?” tanya Yoona tanpa melihat Shinbi dan terfokus pada game di ponselnya.

Shinbi menghela napas. Mungkin ia akan menyesal memberitahu gadis ini karena telah melanggar perjanjian dengan Sehun. Tapi Shinbi tidak bisa selamanya berpura-pura, gadis itu juga merasa bersalah karena Yoona tidak tahu apa yang terjadi dibelakangnya.

“Yoona, sebenarnya….”

///

“kau Hwang Shinbi?”

Shinbi yang sedang asik menyeruput es mocca sambil bercengkrama dengan teman-temannya, kini menoleh dan menatap Sehun heran. Gadis itu tahu Sehun dari gosip-gosip yang beredar, tapi dengan Sehun yang berdiri dihadapannya dan menyebut namanya, kerutan di keningnya malah semakin dalam.

“ya. Ada yang bisa kubantu?” tanyanya sopan.

 “jadilah pacarku.”

“maaf?”

Sehun menghela napas. “kita harus bicara.” Sehun melirik kedua gadis disebelah Shinbi, lalu kembali menatap gadis itu. “berdua.”

Shinbi tersenyum pada Yerin dan Yuju yang tadi duduk disebelahnya, seolah meyakinkan kedua sahabatnya untuk pergi. Keduanya awalnya ragu tapi akhirnya menjauh dari sana. Shinbi kembali menatap Sehun. “bisa jelaskan?”

“kau tahu namaku, tidak perlu berpura-pura tidak tahu.”

Shinbi menatap Sehun tidak percaya lalu mendengus. “bagaimana aku bisa tahu nama—“

i’m popular enough, dan…” Sehun menarik sudut bibirnya sedikit, “aku sahabat dari orang yang kau sukai bukan?”

Kali ini Shinbi membelalakkan kedua bola matanya, terkejut. “bagaimana kau….”

“aku punya penawaran.” Sehun menghempaskan tubuhnya diatas bangku taman, tepat disebelah Shinbi. “berpura-puralah jadi pacarku. Kau anak teater kan? Berakting pasti hal yang mudah bagimu.”

Shinbi menghela napas setelah berpikir sebentar. “apa yang akan kudapatkan sebagai gantinya?”

Sehun tersenyum. “Kim Jongin.” Ucapnya, langsung membuat Shinbi menatapnya kaget. “aku akan membantumu mendapatkan Jongin. Itu yang kau mau, kan?”

“aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu.” Shinbi mengambil tasnya dan bangkit berdiri.

Sehun tergelak. “kau bisa membohongiku tapi kau tak bisa membohongi dirimu sendiri, kan?” Sehun bangkit, dan mendekati gadis itu. Jarak diantara wajah mereka hanya beberapa inci, membuat Shinbi menahan nafasnya. “kau menginginkan Jongin. Kau mencintainya, kau menyukainya, atau apapun itu.”

“kau dan Kim Jongin dulu saling kenal kan? Tapi sejak kalian tidur bersama, Jongin mulai menjauh darimu karena merasa bersalah. Kau yang awalnya senang karena mengira kalian sudah dekat, akhirnya terpukul dan membangun imej ‘sempurna’-mu, supaya Jongin jatuh cinta padamu kan?” Sehun mendengus. “Kim Jongin mungkin bodoh dan tidak peka, tapi aku tidak.”

Shinbi menggigit bibir bawahnya. “stop it.” Potongnya cepat, lalu gadis itu menghela napas. “Aku menerima tawaranmu.”

Sehun tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya dengan Shinbi lalu mendaratkan kecupan singkat di pipi gadis itu. “terima kasih,” bisiknya pelan, “Shinbi-ya.”

///

Jongin mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Sinar matahari yang menembus tirai kamarnya, membangunkannya perlahan. Sontak, Jongin langsung terduduk di tempat tidurnya. Sekarang sudah pagi? Pria itu melihat ke sekeliling kamarnya, lalu mengambil ponselnya.

08:30

Jongin bangkit dan berjalan keluar dari kamarnya. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara dari dapur, yang membuatnya mengernyit. Ah, itu pasti Yoona.

“Yoona?” Jongin berjalan menuju dapur sambil mengucek matanya berkali-kali.

Jongin berharap dapat melihat Yoona, tapi entah kenapa malah Hwang Shinbi yang ada disana dengan celemeknya. Shinbi yang awalnya terkejut karena kehadiran Jongin, akhirnya tersenyum tipis. “morning, Jongin.” Sapanya lembut.

morning.” Balas Jongin singkat, masih bingung dengan kehadiran Shinbi disana.

Shinbi tersenyum tipis dan menyodorkan teh hangat pada Jongin. “ini teh madu, sangat ampuh menghilangkan pengaruh alkohol di tubuhmu, Kim Jongin.”

Alkohol? “apa semalam aku minum alkohol?” tanya Jongin lalu membiarkan teh hangat itu mengaliri tenggorokannya yang kering.

“well,” Shinbi duduk dihadapan Jongin, “semalam Yoona memberimu alkohol yang lumayan banyak. Kau tidak akan membiarkannya pergi semalam, jadi Yoona melakukan hal itu. Tadi sekitar jam 4 dia sudah kembali ke apartemennya.”

Jongin mengernyitkan keningnya. “apa terjadi sesuatu?” tanya Jongin heran.

Shinbi menggumam sebentar. “hmm…… ini tentang Sehun.” Gumam Shinbi. “sesuatu terjadi, dan…. aku tidak terlalu mengerti tapi Yoona tampak panik tadi.”

Jongin langsung bangkit berdiri. “aku harus pergi.” Ucap pria itu cepat.

Jongin berjalan dengan cepat ke arah kamar mandi, melakukan quick shower lalu cepat-cepat mengganti bajunya. Pria itu mengambil ponsel dan dompetnya dan meletakkannya dalam saku. Begitu keluar dari kamar, Jongin melihat Shinbi di ruang tamu dengan wajah khawatir.

“aku akan pergi sebentar. Tolong jaga apartemen dan titipkan Yoojung ke pamanku.” Ucap Jongin memberikan instruksi pada Shinbi.

Jongin baru ingin berjalan menuju pintu apartemen, saat Shinbi menarik tangannya. “aku ikut denganmu.”

Jongin menghela napas, “Hwang Shinbi….”

“setidaknya biarkan aku bersamamu!” seru Shinbi, membuat Jongin terdiam. “aku sudah menyia-nyiakan waktuku denganmu selama ini, berpura-pura baik-baik saja saat kau menganggapku orang asing, berpura-pura baik-baik saja saat kau berubah!”

Keduanya terdiam, dan Jongin menahan nafasnya saat melihat air mata mengalir di pipi Shinbi. Gadis itu menangis karenanya. Shinbi terisak pelan, dan mengeratkan genggamannya pada tangan Jongin. “kalau kau tidak bisa tetap tinggal bersamaku, setidaknya biarkan aku ikut denganmu.” Pintanya lemah. “kumohon, Jongin.”

Jongin merangkul Shinbi, membiarkan tangisan gadis itu teredam oleh pelukannya. “maafkan kebodohanku dulu, Shinbi-ya.” Bisiknya lembut. “maafkan aku.”

///

“Taeyeon nuna.”

Taeyeon mengangkat kepalanya dan menatap sosok yang berdiri dihadapannya dengan terkejut. “Oh Sehun?” tanyanya. “apa yang kau lakukan disini?”

Sehun tersenyum tipis dan duduk di kursi didepan Taeyeon. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan meletakkannya diatas buku-buku perpustakaan yang dipinjam Taeyeon. “tolong berikan ini pada Yoona.” Pinta Sehun.

Taeyeon mengambilnya dan mencermati tulisan yang tercetak disana. “undangan pameran? Kenapa tidak memberikannya langsung pada Yoona?” tanya Taeyeon heran.

Sehun membetulkan posisi duduknya, lalu tersenyum tipis pada Taeyeon. “nuna, bisa aku minta bantuanmu kali ini?”

“tentu.” Jawab Taeyeon cepat.

“aku akan menjelaskannya dengan singkat.” Sehun mendeham pelan, lalu melanjutkan. “Ayah mengetahui hubunganku dengan Yoona, dan ingin aku memutuskannya, kalau tidak ia mengancam akan menjual Fusaki resort milik Ibuku dan aku akan pergi ke Jepang dan mencari cara untuk membatalkannya.”

“dia—apa?”

Sehun menghela napas. Masih ada keheranan yang tergambar jelas di wajah Taeyeon. “untuk sementara ini aku akan menjauhi Yoona. Mungkin aku akan menyakitinya dan membuatnya menangis berkali-kali. Tapi kumohon, jangan pernah meninggalkannya, nuna.”

“tunggu, tunggu.” Potong Taeyeon cepat. “aku mengerti tentang pembatalan penjualan resort milik Ibumu, tapi kenapa kau harus menjauhi Yoona? Bukannya itu tidak masuk akal? Kau bisa mendapatkan resort itu kembali dengan bantuan Yoona, dan tentu saja kami juga akan ikut membantu. Menyakiti Yoona itu diluar aturan, dan aku tidak akan membiarkanmu melakukannya.”

Sehun mengurut keningnya, ia sudah tahu reaksi Taeyeon akan seperti ini. “karena ini berbahaya bagi Yoona.” Jelasnya dengan sabar. “Ayahku sangat licik. Dia tidak akan menyerang Yoona langsung, tapi melalui Ayahnya. Ini baru perkiraanku dan Junmyeon hyung, tapi Oh Jinhyuk bukan orang yang toleran dengan pembalasan dendam.”

Taeyeon terdiam dan berusaha mengelola tumpukkan informasi yang tiba-tiba saja memenuhi otaknya. Bahkan daftar nama latin yang sedari tadi ia hafal kini hilang bagaikan tak bersisa. Taeyeon menatap Sehun dengan kening berkerut. “kau baik-baik saja?”

Kini giliran Sehun yang tampak heran. “apa?”

“begini, Oh Sehun. Yoona pasti akan terluka dan menangis. Tapi kalau kita bicara tentang siapa yang paling sakit hati disini—bukannya itu kau?” Sehun tampak tertegun mendengar pernyataan Taeyeon. “kau harus menyakiti orang yang paling kau cintai dan berpura-pura menjadi brengsek, apa kau sudah memikirkan tentang kemungkinan bahwa Yoona akan sangat membencimu?”

Sehun tersenyum tipis dan memangku dagu dengan tangan kirinya. “aku akan membuatnya jatuh cinta padaku, lagi dan lagi.”

 

.

Jieun mengurut keningnya. Apa ia sedang membintangi drama chaebol sekarang? Apa-apaan dengan semua masalah ini? Penjualan Fusaki resort? Ayah Sehun yang mengincar Yoona? Hubungan Yoona dan Sehun ketahuan? Sehun pergi ke Jepang?

Tadi malam Yeri mengirimkan pesan pada mereka semua untuk berkumpul di apartemen Yoona keesokan paginya.  Dan begitu semuanya telah berkumpul, Yeri langsung menceritakan rangkaian peristiwa yang menurut Jieun lebih mirip drama para chaebol ketimbang kisah nyata. Taeyeon juga langsung menimpali dan menceritakan pertemuannya dengan Sehun dan bagaimana pria itu meminta Taeyeon merahasiakannya selama ini. Well, Oh Sehun memang chaebol, tapi Jieun tak menyangka masalahnya akan serumit ini.

Jieun sedikit memuji tanggapan cepat Sehun pada ancaman Ayahnya dan bagaimana ia mati-matian melindungi Yoona. Jieun pikir Sehun hanyalah pria brengsek yang menyakiti perasaan Yoona seenaknya. Tapi ternyata Oh Sehun adalah pria brengsek jenius yang bisa menyembunyikannya dengan rapat selama ini.

“jadi?” Yeri yang pertama kali angkat bicara, memecah keheningan diantara kelimanya. “apa yang akan kita lakukan dengan informasi-informasi ini?”

Jieun yang biasanya selalu punya ide, kini hanya menggeleng lemah pada Yeri dan melirik sahabat-sahabatnya yang lain. Kepalanya terlalu pening untuk memikirkan solusinya.

Yuri bertukar pandang dengan Taeyeon lalu menghela napas. Yuri mendekati Yoona, membuat gadis itu menatapnya terkejut. “aku minta maaf soal yang kemarin.” Ucapnya singkat.

Senyuman terkembang di wajah Yoona. “tidak apa-apa, unnie. Aku juga minta maaf.” Ungkap Yoona tulus.

Yuri tersenyum tipis dan mengacak puncak kepala Yoona. “jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“aku akan pergi ke Jepang.”

Keempat gadis di ruangan itu menatap Yoona terkejut. Taeyeon akhirnya menghela napas dan bangkit berdiri. “aku juga akan pergi.” Ucapnya tegas.

Yoona menatap Taeyeon terkejut. “tapi unnie…..”

no buts, Im Yoona.” Sela Taeyeon sambil tersenyum tipis. “aku akan ikut denganmu kesana.”

Jieun tersenyum tipis dan mengangkat tangannya. “aku akan ikut dengan Yoona dan Taeyeon.” Ucapnya lalu melirik ke arah Yuri.

Yuri mengangkat kedua bahunya. “aku ikut.” Gumamnya. “aku harus memberi pukulan di wajahnya setidaknya sekali karena sudah membuatmu menangis.”

Yeri tersenyum lebar lalu ikut bangkit berdiri. “i will go, too!!!” serunya bersemangat.

Baru saja Yoona ingin membuka mulut dan melarang semua sahabatnya pergi, bel apartemennya berbunyi dan kelima orang disana langsung menoleh ke pintu apartemen Yoona. Yoona langsung bangkit dan membuka pintu apartemennya.

“hey.” Sapa Jongin. Shinbi berdiri dibelakangnya, melemparkan senyuman sekedarnya pada Yoona. “boleh kami masuk?”

Begitu masuk kedalam, keduanya langsung disambut tatapan heran dari Taeyeon, Yeri, Yuri dan Jieun. Mereka tidak terlalu terkejut dengan kehadiran Jongin disana, tapi melihat sosok Shinbi tentu saja mereka sangat keheranan.

Shinbi menyadari tatapan heran dan asing dari orang-orang disana, dan langsung membungkuk sopan. “halo, aku Hwang Shinbi.”

“aku sudah mendengar tentang Sehun dari Shinbi.” Jongin menoleh pada Yoona. “aku akan membantu sebisa mungkin.”

Taeyeon mengangguk. “makin banyak bantuan malah makin bagus.” Ucapnya mantap. “kami berencana pergi ke Jepang untuk membantu Sehun.”

“penandatanganan kontraknya besok pagi.” Sambung Yeri. “kita sudah harus ada disana sore ini. Sekarang pukul 10.47, kita masih punya banyak waktu sebelum sore hari.”

“aku akan menyelidiki tentang Sejin group yang akan menandatangani kontraknya.” Ucap Jongin, menawarkan bantuan.

Jieun ikut bicara, “aku akan membantumu.”

“lalu?” Yuri bangkit berdiri, “apa lagi yang kita butuhkan?”

“tiket pesawat!” seru Yeri. “aku akan meminta bantuan Jane untuk ini.”

Taeyeon mengambil ponsel dari sakunya dan membuat alarm pengingat. “kita akan berkumpul di bandara jam 2. Siapkan semua barang yang kalian butuhkan dan kita akan langsung berangkat saat mendapat tiket pesawat nanti. Ada pertanyaan lagi?.” Tanya Taeyeon. Tak ada satupun yang bersuara, jadi gadis itu langsung menoleh pada Yoona. “Yoona? Ada yang ingin kau katakan?”

Yoona menatap semua orang di ruangan itu tidak percaya lalu tersenyum tipis. “terima kasih, semuanya.”

///

“kadang aku berpikir supaya kita lari saja.”

Yoona mengangkat kepalanya dari dada Sehun dan menatap Sehun. Gadis itu tersenyum tipis. “lari?” tanyanya, mengulang perkataan Sehun.

Sehun menatap layar televisi mereka, Warm Bodies yang sedari tadi mereka tonton tentang kisah saat wabah zombie menyebar luas di Amerika dan diambil dari sudut pandang si zombie pria itu. Harus Sehun akui, akan sangat keren bergaul dengan segerombolan zombie yang saling tak mengetahui nama tapi memiliki satu tujuan; memuaskan rasa lapar mereka.

something like…. eloping, maybe?” Sehun mengernyitkan keningnya. “kadang itu terdengar seperti jalan keluar yang baik.”

Yoona terkekeh mendengar perkataan Sehun. “menurutku itu ide yang mengagumkan.”

Sehun tersenyum lebar. “aku punya tabungan atas namaku, kita bisa pergi ke luar kota atau luar negeri dan membuat rumah disana.”

“membuat?” Yoona mengernyitkan keningnya.

“aku lumayan jago dalam hal pertukangan, kau tahu.” Sehun menghirup wangi madu dari puncak kepala Yoona. “aku ingin rumah di tepi danau.”

“aku lebih suka yang di tepi pantai.” Bantah Yoona. “rumah dengan kaca yang besar sehingga kita bisa langsung melihat ke pantai, menikmati sunrise dan sunset setiap harinya.”

Sehun terkekeh dan mengeratkan pelukannya pada pundak Yoona. “di pantai jauh lebih bagus. Anak-anak bisa belajar berenang disana, bukan?”

Yoona tampak terkejut. “anak-anak?”

“yeah.” Gumam Sehun. “aku ingin anak perempuan yang banyak. Apa 10 anak perempuan terdengar bagus?”

Yoona menggeleng cepat. “aku lebih suka anak laki-laki.” Balasnya. “dan kau tahu kan, if we have sons, we only worry about his dick, but if we have a daughter, we worry about all the dicks that come to her. Jadi, aku lebih suka anak laki-laki.”

Sehun tertawa pelan. “satu anak perempuan dan satu anak laki-laki. Kau selalu ingin anak laki-laki duluan kan?”

Yoona mengangguk dan mengeratkan rangkulannya pada pinggang Sehun. Sehun baru saja mengganti channel menjadi sebuah acara humor yang disukainya. “kau tahu, Sehun….” gumam Yoona pelan. “kita bicara hal ini terlalu mudah, seakan-akan ini pasti akan terjadi.”

Sehun mengernyit. “apa maksudmu?”

Yoona melepas pelukannya dan bersandar pada bantal disebelah Sehun. “semua ini tidak akan terjadi, Oh Sehun. Kau yang paling tahu hal ini. We can’t have that bright future that we’ve always been dreamed of. Itu tidak mungkin, karena—“

“hey.” Sehun menggenggam erat tangan Yoona. Ia tahu kalau gadis itu akan menangis sebentar lagi. “maaf karena aku menyinggung tentang itu.”

Yoona terdiam dan menggeleng. “it’s okay.” Gumamnya pelan.

Sehun mencium punggung tangan Yoona, lalu mengulas senyum tipis pada gadis yang paling ia cintai itu. “aku akan—tidak. Kita, kita akan menemukan jalan keluarnya bersama. Okay? Jadi jangan menyerah sekarang. Aku akan mengusahakannya, dan walaupun itu terlihat tidak mungkin, aku akan tetap melakukannya. Jadi tetaplah disampingku dan jangan mengkhawatirkan hal itu sekarang. Kita pasti akan menemukan jalan keluarnya bersama. Pasti.”

 

.

Mobil-mobil terlihat seperti semut-semut yang berbaris rapi, dan gedung-gedung tampak seperti miniatur koleksi milik Ayahnya di rumah dulu. Yoona memangku dagu dengan tangan kirinya dan memandang Seoul yang terlihat makin kecil dari atas sana.

“ada yang mau minum?” Yeri muncul dan tersenyum pada Yoona, lalu duduk disebelah Yuri yang berhadapan dengan Yoona. “Jane ingin aku menyampaikan permintaan karena tak bisa memberikan tiket pesawat biasa dan hanya meminjamkan kita pesawat jet ini.”

Yuri mengernyitkan keningnya. “’hanya?’” Ulangnya.

Yeri mengangguk. “kami biasa memakai jet yang lebih besar saat berpergian bersama dengan Sohyun, Yein, Umji dan Saeron. Sayangnya, jet yang besar sedang dipinjam kakak sepupunya dan hanya ini jet yang luang.”

Yuri berdecak pelan dan menggeleng. “aku tidak mengerti pemikiran para chaebol.” Gumamnya.

Taeyeon tersenyum tipis pada Yeri. “sampaikan terima kasih kami pada Jane. Ini sudah lebih dari cukup.” Ucap Taeyeon.

Yoona yang sedari tadi diam dan tidak ikut dalam pembicaraan kini melepas earphone yang menyumbat telinganya, lalu bangkit berdiri. Yeri mengernyitkan keningnya. “mau kemana, unnie?”

“Jongin.” Jawab Yoona singkat, lalu berjalan menuju tempat duduk Jongin, Shinbi dan Jieun. Ketiganya sedang sIbuk mencermati sesuatu di tablet yang dipegang Jongin dengan kening yang berkerut.

Yoona duduk dihadapan Jongin, dan langsung membuat pria itu tersenyum. “Yoona, take a look at these.” Ucap Jongin seraya menyodorkan tablet itu pada Yoona.

Yoona menyambut tablet itu dan membelalakkan kedua matanya. Gadis itu menatap Jongin tidak percaya. “bagaimana…..”

“Masih ingat Byun Baekhyun, pewaris Namhan corporation?” tanya Jongin, mengingatkan Yoona pada pria mungil dengan perawakan bagai perempuan, salah satu teman dekat Jongin. “Namhan pernah hampir bekerja sama dengan Sejin 2 tahun lalu. Tapi setelah menyelidiki latar belakang Sejin, mereka menemukan ini dan langsung memutuskan kerja samanya. Baekhyun memberikanku data ini karena ini sangat membantu.”

Jieun mengangguk. “tidak mudah untuk orang biasa mencari latar belakang sebuah perusahaan besar. Untung saja Jongin punya koneksi.” Puji Jieun sambil tersenyum.

Jongin terkekeh pelan. “kita bisa menyerang Sejin dengan ini.” Ucapnya mantap. “sekarang tinggal bagaimana Sehun menemukan pengganti dananya. Tadi aku meminta bantuan Junmyeon hyung, dan tampaknya Sehun juga sudah meminta hal yang sama padanya. “

“itu bagus.” Gumam Yoona, merasa agak lega. Gadis itu lalu menatap Jongin dan tersenyum. “hey. Terima kasih. Aku tidak akan bisa melakukan semua ini sendiri tanpa bantuan kalian.”

Jongin mengelus punggung tangan gadis itu lalu menggenggamnya erat. “i won’t leave, Yoona. I won’t.”

///

Hime-chan!!!”

Seorang wanita muda di awal 20-annya dengan wajah ramah berlari menghampiri Yoona dan yang lainnya, begitu mereka sampai di Narita airport. Yoona bisa merasakan suasana Jepang kuno saat melihat Yukata dan Bakiak yang dikenakannya. Sudah jarang melihat hal itu di Jepang yang makin modern sekarang.

Yoona mengernyit saat menyadari wanita muda itu mengenali salah seorang dari mereka. Ia langsung menoleh pada Yeri dengan tatapan ‘apa kau mengenalnya?’ dan tentu saja Yeri membalasnya dengan gelengan cepat dan wajah bingung.

Ai-chan.” Shinbi keluar dari gerombolan mereka dan mendekati wanita tadi, lalu memeluknya erat. “maaf sudah membuatmu jauh-jauh kesini.”

Ai langsung menggeleng cepat, membuat kuncir kudanya ikut bergoyang kesana kemari. “tidak, Hime-chan!!!” bantahnya cepat. “tuan muda Taehyung senang sekali mendengar kedatangan Hime-chan kesini! Kami bahkan sudah memesan takoyaki di restoran kesukaan Hime-chan!!”

Shinbi tertawa kecil. “aku senang mendengar hal itu. Tapi sebelum itu….” kali ini Shinbi menoleh pada Yoona dan yang lainnya. “aku harus melakukan sesuatu dengan mereka”.

Ai menatap wajah-wajah asing dihadapannya dan mengernyit. “siapa mereka, Hime-chan?”

“mulai dari kiri, itu Kim Jongin, Im Yoona, Kwon Yuri, Lee Jieun, Kim Taeyeon dan Kim Yeri. Mereka semua teman-temanku. Kami akan pergi ke Fusaki resort untuk mengurus sesuatu. Apa kau membawa mobil yang kusuruh tadi?”

Ai mengangguk. “Hisato-kun sudah menunggu daritadi. Akan kutunjukkan jalannya, Hime-chan.”

Ketujuh orang disana langsung mengikuti langkah Ai yang pelan dan teratur menuju sebuah mobil hitam besar yang tampak mewah. Shinbi duduk disebelah sopirnya—Hisato, sedangkan Yoona dan Ai duduk di bagian kedua dengan Jongin dan Yuri dibelakangnya, lalu Jieun, Taeyeon, dan Yeri duduk di paling belakang.

Yuri mengernyitkan keningnya saat mobil telah melaju meninggalkan Narita airport, dan mencondongkan tubuhnya ke arah Yoona. “apa Hwang Shinbi itu punya 2 nama? Daritadi orang disebelahmu ini terus-terusan memanggilnya Hime. Apa dia salah orang?” tanya Yuri heran.

Yoona baru ingin membalas pertanyaan Yuri, saat terdengar tawa dari Shinbi didepan. “Hime itu artinya putri. Itu kebiasaan yang diterapkan Ayah sejak kecil, supaya semua orang memanggilku Hime.”

“benar!” seru Ai, kali ini dalam bahasa Korea. “Hime-chan tinggal disini sampai usianya 7 tahun lalu kembali ke Korea. Sudah lama Hime-chan tidak mengunjungi kami, makanya aku dan Hisato-kun langsung cepat-cepat menjemputnya. Benar, kan, Hisato-kun?”

Pria bernama Hisato itu melirik Ai dari spion depan. “ya.” Ucapnya singkat.

Perjalanan itu selanjutnya diisi dengan keheningan. Hisato menawarkan supaya mereka menyalakan radio, tapi Shinbi menolaknya dengan alasan supaya yang lainnya dapat beristirahat dengan tenang. Sesekali Ai dan Shinbi akan berbincang dengan suara yang pelan. Taeyeon, Yeri, Jieun dan Yuri telah tertidur lelap setelah mendengarkan musik dari earphone. Jongin menonton film dari tabletnya dan Yoona hanya memandang keluar jalan.

Yoona menghela napas dan kali ini menatap langit yang mulai kekuningan karena matahari terbenam. Ia berharap semuanya akan segera berakhir. Semoga saja.

///

Salah. Salah. Salah.

Sehun membiarkan ujung pulpennya mencoret hasil perhitungan panjangnya tadi. Bahkan setelah bergulat dengan angka-angka itu selama lebih dari 10 jam, tak ada hasil akhir yang dapat Sehun temukan. Pria itu mengecek jam dinding. Jam 8 malam. Penandatanganan kontrak akan dilaksanakan besok pada pukul 8 pagi. 12 jam lagi, batin Sehun.

Sehun menghela napas dalam dan bangkit dari kursinya. Ia tidak bisa begini terus. Sejak tiba di Fusaki resort ini, Sehun terus mengurung dirinya didalam kamar dan mencari semua berkas tentang aset perusahaan Ayahnya dengan bantuan Junmyeon melalui telpon. Sudah banyak gumpalan kertas hasil hitungan Sehun yang salah dan memenuhi tempat sampah.

Sehun melangkah keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju hamparan rumput luas didepan kamarnya. Perlahan, pria itu merebahkan tubuhnya disana. Langit sangat cerah dan Sehun bisa melihat ratusan bintang berkelap-kelip diatas sana. A breath-taking view that he couldn’t find anywhere.

Andai saja Yoona ada disini.

Kalau ada Yoona disana, pasti gadis itu akan memeluk Sehun dengan hangat lalu berbisik ‘don’t push yourself too hard’ dan akan membantu perhitungan Sehun dengan otaknya yang encer. Yoona akan melontarkan guyonan-guyonan atau keluhan konyol yang dapat membuat Sehun tertawa dan rileks kembali.

Yoona seperti obat penenang untuknya. Saat Sehun merasa ia tidak bisa melakukan sesuatu, Yoona akan memeluknya dan membiarkan pria itu menikmati wangi tubuhnya yang manis.

Yoona akan menyisiri rambut Sehun dengan jemarinya dengan lembut. (‘aku lebih suka sampomu yang ini. Haruskah kita membelinya lagi?’)

Yoona akan berbaring dan meletakkan kepalanya di paha Sehun sambil memainkan tabletnya diatas rumput taman yang hijau. (‘kau sudah tahu tentang artis ini? Dia selingkuh dibalik istrinya dan bermain dengan gadis yang lebih muda.’ Atau ‘baju ini manis. Haruskah kupesan?’)

Yoona akan membiarkan Sehun berbaring dan meletakkan kepalanya di paha gadis itu sambil membaca novel Sherlock Holmes yang dikoleksinya. (‘kalau teori dalam The Davinci Code itu benar, menurutmu apakah keturunan Yesus benar-benar ada sekarang?’ atau ‘kurasa kita harus ke toko buku besok. Minseok oppa bilang Conan edisi terbaru sudah ada.’)

Yoona akan mencoba resep baru dari internet, membeli bahan-bahannya tapi hanya membuatnya setengah jalan dan membiarkan Sehun menyelesaikannya. (‘ugh padahal ini terlihat gampang’ dan ‘ternyata kau jago masak, tidak seperti tampangmu.’ ‘maksudmu, kau tampan. Sedikit tampan.’)

Yoona, Yoona, Yoona. Sehun merindukan Yoona. Sangat.

Angin sejuk meniup wajah Sehun, dan wewangian cemara membuainya menuju tidur yang lelap. Sehun memejamkan kedua matanya, dan ia  membayangkan wajah Yoona sebelum benar-benar terlelap. Andai saja Yoona ada disini.

///

Sehun mengetik dengan lincah di layar ponselnya, dan tersenyum. Sudah 2 minggu ini ia bertukar pesan dengan Yoona, gadis yang ditemuinya di klub waktu itu. 2 minggu ini mereka sering bertemu, entah di taman, klub, toko crepes, kampus Yoona, dan tempat lainnya. Sehun menemukan banyak hal yang ia sukai dari Yoona; ia lucu, menarik, seksi, dan Sehun tidak akan kehilangan bahan pembicaraan dengannya.

“Oh Sehun.” Ayah Sehun membuka suara,dan menatap anaknya. “matikan ponselmu. Calon Ibu dan adikmu akan segera datang. Berikan mereka kesan pertama yang baik.”

Sehun memutar kedua bola matanya. Ia benci ini. Ayahnya memutuskan untuk menikah kembali, dan calon Ibu tirinya mempunyai anak yang umurnya hanya 2 tahun dibawah Sehun. Hal itu sangat menyebalkan bagi Sehun. Ia mati-matian menentang keputusan Ayahnya untuk menikah lagi, tapi bukan Oh Jinhyuk namanya kalau ia mendengarkan perkataan Sehun.

Sehun tidak tahu apa yang lebih menyebalkan. Ayahnya yang menikah lagi atau ia yang akan mempunyai adik tiri? Sehun tidak suka mempunyai saudara. Menurutnya, lebih enak menjadi anak tunggal. Sehun tidak mau merepotkan dirinya dengan menambah saudara yang pastinya akan sangat mengganggunya.

Ayah Sehun mendeham. “mereka disini.” Ucapnya lalu bangkit berdiri.

Sehun ikut bangkit dan mendapati seorang wanita berusia awal 40-an, tersenyum ramah pada Sehun dan Ayahnya. Wanita itu terlihat pintar dan elegan, tepat dengan deskripsi pekerjaannya sebaagai seorang pengacara. Sehun bisa langsung membayangkan wajah anaknya yang pasti terlihat culun dan polos. Tck. Membayangkannya saja sudah membuatnya kesal.

Dan saat tatapan Sehun bertemu dengan sosok dibelakang calon Ibu tirinya, pria itu tidak bisa menahan rasa terkejutnya.

“Im Yoona?”

“Oh Sehun?”

 

.

 

BYUUUURRRR!!!!

what the fuck?!?!” seru Sehun.

Padahal rasanya baru sedetik lalu ia berbaring diatas rumput yang sejuk, sekarang sekujur tubuhnya bertemu dengan air kolam yang dingin. Dan yang dimaksud Sehun dengan dingin adalah; sangat dingin hingga sendi-sendinya menjadi kaku dan sarafnya membeku.

Sehun merapikan rambut yang menutupi wajahnya, untuk melihat apa atau siapa penyebab ia bisa tercebur di kolam dangkal ini.

wake up, you fat ass.”

Sehun membelalakkan kedua bola matanya. “Yoona…..?”

Yoona menyilangkan kedua lengannya didepan dada dan tersenyum miring. Disebelahnya ada Jongin, Jieun, Yuri, Taeyeon, Yeri, dan Shinbi. Kelima orang itu kaget melihat Yoona dan Jongin yang bekerja sama membopong tubuh berat Sehun lalu melemparkannya kedalam kolam.

“kau tidur terlalu lama.” Ucap Yoona kemudian. “sekarang sudah jam 3 pagi, kita hanya punya waktu 5 jam hingga penandatanganan kontrak nanti, kan?”

Sehun menatap satu persatu orang disana dengan heran. “apa yang kalian lakukan disini?” tanya Sehun, masih tidak percaya dengan apa yang dilihat kedua matanya.

Jongin mengulurkan tangannya pada Sehun untuk membantu pria itu berdiri. “kami disini untuk membantumu.” Ujar pria itu sambil tersenyum lebar. “kau sudah melakukan perhitungannya?”

Sehun mengangguk dan bangkit berdiri. Pria itu memeras air dari kausnya, dan menyibakkan rambutnya. “hasilnya buntu. Aku punya semua datanya didalam kamar.”

Jongin langsung menoleh pada Jieun dan Shinbi, dan kedua gadis itu mengangguk. Ketiganya berjalan menuju kamar Sehun diikuti oleh Yuri, Taeyeon, dan Yeri. Setelah mereka semua masuk ke kamar Sehun, hanya tinggal Yoona yang ada disana berdiri sambil memegang handuk.

Yoona menyodorkan handuknya. “ini.” Ujarnya. “mandilah sebentar, aku akan membantu Jongin dan yang lainnya.”

Melihat Yoona yang berbalik dan akan pergi, Sehun dengan cepat menarik tangan gadis dihadapannya. “Yoona.” Gumam Sehun, dan menatap gadis itu tepat di matanya. “maafkan aku.”

Yoona awalnya terkejut, tapi gadis itu cepat-cepat menggeleng dan tersenyum. “kita akan bicarakan itu nanti. You owe me a lot of explanations. Untuk sekarang, cepat mandi dengan air hangat dan kita batalkan kontrak itu, oke?”

Sehun tersenyum tipis lalu melepaskan genggamannya pada tangan Yoona. “i get it.”

///

Sebagai satu-satunya perwakilan resmi Daegu group, Yoo Kijoon terlihat paling mencolok disana. Dengan setelan jas baru dan wajahnya yang tegang, ia menjadi bahan perhatian para perwakilan Sejin group yang duduk dihadapannya.

Kontrak baru saja selesai ditandatangani, dan kebanyakkan orang disana sIbuk menikmati wine mereka dan berbincang-bincang tentang keadaan ekonomi Korea Selatan yang sedang terombang-ambing. Kijoon sendiri tidak terlalu memperhatikan pembicaraan mereka karena sIbuk memperhatikan ponselnya.

Kijoon menerima kabar dari bawahannya kalau Sehun datang ke Fusaki resort dan ingin membatalkan kontrak. Tapi sedari tadi batang hidung Sehun tak tampak sekalipun. Ya, Kijoon juga tak ingin Fusaki resort ini berada dibawah tangan orang asing. Ibu Oh Sehun, sekaligus bibinya adalah orang yang paling Kijoon hormati setelah Ibunya sendiri. Tapi apa bisa seorang Yoo Kijoon membantah perintah Oh Jinhyuk? Jawabannya; tidak. Maka itu, Kijoon mengarapkan Oh Sehun. Hanya Oh Sehun yang bisa menghentikan Oh Jinhyuk, Ayahnya sendiri.

Beberapa pelayan wanita masuk dan membawa piring-piring sushi dan wine mahal diatasnya, membuat suasana di ruangan itu entah kenapa makin meriah. Wangi hidangan yang lezat langsung menarik perhatian semua orang di ruangan itu, dan suasana disana menjadi semakin rileks.

“kami tidak memesan ini.” Ucap salah satu perwakilan Sejin group, heran.

Pelayan wanita tadi tersenyum dan membungkuk sopan. “ini khusus dari Fusaki resort, dihidangkan untuk tamu-tamu spesial yang ada disini. Silahkan dinikmati.”

Hidangan-hidangan dibagikan merata pada seluruh tamu disana, wine-wine mengisi gelas yang mulai kosong dan membuat pertemuan penandatanganan kontrak itu lebih mirip seperti sebuah pesta.

Perwakilan Sejin group berkacamata itu menyunggingkan senyum sinis. “Daegu group sudah menangani resort ini dengan baik.” Pujinya dengan nada yang tidak tulus.

Yoo Kijoon hanya mengulas senyum tipis, lalu mengecek kembali ponselnya. Tak ada pesan atau panggilan tidak terjawab, bahkan tak ada notif dari LINE dan Kakaotalk miliknya. Sehun tidak menghubunginya sama sekali. Padahal semalam, Sehun sudah mewanti-wanti Kijoon untuk memberitahunya kalau penandatanganan kontrak akan dimulai. Kijoon sudah menghujani baik LINE dan Kakaotalk Sehun, tapi tak ada respon sekalipun dari adik sepupunya itu.

Byur!!!

Kijoon refleks berdiri, saat mendengar suara tumpah didekatnya. Botol wine tadi pecah di meja dihadapannya, tepat diatas……. surat kontraknya.

“apa-apaan ini????” Pria perwakilan Sejin group itu berdiri dan memaki-maki pelayan wanita yang tampaknya tak sengaja memecahkan botol wine tadi. “apa yang baru saja kau lakukan?!?! Surat kontraknya basah, apa kau tidak menggunakan matamu?!”

Pelayan wanita tadi tampak panik dan kelihatan hampir menangis, membuat Kijoon menghela napas. Ia membantu pelayan wanita tadi untuk menyingkirkan pecahan botol wine tadi diatas meja. “kita bisa mengeringkannya, dan……” perkataan Kijoon terhenti, saat tangannya menyentuh cairan yang keluar dari botol wine tadi dan membasahi surat kontraknya.

Tinta.

Apa yang dianggap orang-orang disana adalah tumpahan anggur merah diatas kertas, ternyata adalah tinta hitam pekat yang menimbulkan bau yang menyengat. Kijoon tak bisa menahan senyum di wajahnya. Ia tahu siapa dalang dibalik ini sekarang.

“sekarang kontraknya tidak berlaku lagi, bukan?”

Sehun muncul entah darimana, dan sudah berdiri dibelakang Kijoon. Pria itu tersenyum hambar lalu mendekati perwakilan Sejin group tadi. “Daegu group tidak akan menyerahkan resor ini pada Sejin…. ah, tidak, Solhwa group, benar kan?”

Pria itu mendehem beberapa kali dan tampak panik. “kurasa anda salah orang. Kami dari Sejin group, bukan Solhwa group.” Bantahnya tegas.

“Sejin…..” Yoona muncul dan berdiri disebelah Sehun, “…dan Solhwa. Bukannya keduanya sama saja?”

Kali ini giliran Jongin yang hadir, dan mengangkat sebuah dokumen tebal di tangannya. “kalian merubah nama kalian secara tiba-tiba 5 tahun lalu, dan Namhan group pernah membatalkan kerja sama mereka 2 tahun lalu setelah menyelidiki latar belakang Sejin group. Mengapa hal itu bisa terjadi?”

“itu karena—“

“karena tumpukkan gugatan hukum akibat pembuangan bahan kimia didekat gunung dan sungai di resort kalian yang di Cina, apa aku betul?” Shinbi yang masih berpakaian sebagai pelayan kini bangkit dan menyilangkan kedua lengannya didepan dada.

Yuri maju kedepan dan menatap pria itu dingin. “kau belum puas dengan Cina, makanya kau berpikir kalau sekarang adalah giliran Jepang, ‘kan? Tck, dasar manusia rendahan, kalian merusak alam tanpa bertanggung jawab tentang hal itu sedikitpun.” Ucapnya kesal.

“itu betul!” seru Yeri yang langsung berdiri disebelah Yuri. “ahjussi, apa kalian tidak malu? Kalau penduduk disekitar Fusaki resort ini mengetahui tentang kebusukan kalian, apa yang kira-kira akan terjadi?”

Jieun mengangkat ponselnya, “dengan kumpulan tuntutan ini, kami bisa langsung membuat Sejin group-mu itu luluh lantak tak bersisa. Hukuman penjara juga mungkin tak bisa dihindari, bukan?”

Perwakilan Sejin group itu menoleh kesampingnya, dan mendapati beberapa pemegang saham bertukar kata dan menatapnya jijik. Jemari pria itu bergetar dan dadanya naik turun dengan cepat, ia menatap Kijoon dengan marah. “KAMI TIDAK TERIMA!!! Apa-apaan ini?! Apa kalian menjebak kami  dalam bualan bocah-bocah ini?!” bentaknya dan menunjuk Sehun, lalu melempar pandangan pada semua pemegang saham disana. “apa kalian akan percaya pada ucapan mereka begitu saja?!?!?!”

ahjussi.”

Taeyeon yang sedari tadi diam kini membuka mulutnya dan mengulas senyum pada perwakilan Sejin group tadi. “pencurian alat-alat rumah sakit dan penggunaan propofol pada bulan Januari lalu di Kangsan hospital, Sejin group juga terlibat didalamnya kan? Ah, dan penggunaan propofol tanpa rujukan dokter dalam jumlah besar. Apa itu ada hubungannya dengan penyelundupan propofol ke Cina yang ada di berita itu? Dalangnya belum ketahuan, ‘kan?”

Deg. Raut wajah pria itu seketika berubah pucat dan lidahnya menjadi kelu. Ia tak mampu mengeluarkan argumen lainnya, karena bukti-bukti kuat yang mereka tunjukkan dihadapan para pemegang saham. Dengan geram, ia mengambil kertas kontrak penuh tinta tadi dan menghempaskannya keatas lantai.

“aku tidak pernah diekspos dan dipermalukan seperti ini. Kalian menjijikkan.” Ucapnya geram sebelum meninggalkan ruangan itu.

Para pemegang saham disana kebingungan, tapi meninggalkan ruangan satu persatu dan sIbuk membicarakan kebusukkan Sejin group yang baru saja diekspos secara detail dihadapan mereka semua.

Kijoon menghela napas lega setelah ruangan itu kembali senyap. “Oh Sehun!” serunya sambil merangkul Sehun erat. “kukira kau takkan datang.”

Sehun terkekeh. “i’m a man of my words, hyung. Terima kasih karena sudah memberitahuku soal waktu penandatanganan kontraknya.”

Kijoon menggeleng lalu menepuk pundak Sehun. “aku berutang banyak padamu, Sehun-ah.” Gumamnya tulus. “ah, apa mereka teman-temanmu?”

“yeah.” Sehun mengangguk pelan. “Yuri, Jieun, Taeyeon, Shinbi, dan Jongin. Kau lebih tua daripada mereka semua, hyung.”

Kijoon membungkuk sopan, lalu tersenyum ramah. “salam kenal semuanya, namaku Yoo Kijoon, sekertaris II Presiden Direktur Daegu group.”

Yoona menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Kijoon. “Kijoon oppa, lama tidak bertemu.” Sapanya hangat.

Kijoon tersenyum lebar. “Yoona! Aku sudah lama tidak mendengar kabarmu. Apa kau baik-baik saja selama ini? Kudengar pernikahannya akan dilaksanakan bulan depan, eh? Kami sangat kewalahan menjaga kerahasiaan informasi ini dari press. Presdir tidak ingin pernikahan ini terlalu digembor-gemborkan, ia baru ingin memberitahukannya pada media setelah mereka berbulan madu.”

Yoona tersenyum canggung dan mengangguk. “ah… baguslah.” Gumamnya pelan.

hyung, bisa antarkan mereka semua ke kamar mereka masing-masing?” potong Sehun cepat. “kurasa mereka sudah bekerja terlalu keras semalam dan butuh istirahat yang banyak.”

“ah, kau benar.” Kijoon mengangguk, dan tersenyum pada Yuri dan yang lainnya. “silahkan ikut aku, masih ada banyak kamar kosong disini.”

Yoona baru ingin mengikuti langkah Kijoon dan yang lainnya, saat Sehun menarik tangannya. Gadis itu menatap Sehun heran. “kita sekamar.” Jelas Sehun singkat.

“apa tidak apa-apa?”

Sehun menggeleng dan menarik tangan gadis itu ke arah yang berlawanan dengan Kijoon. “Kijoon hyung memang pintar, tapi ia tidak peka. Aku bisa menginap dengan perempuan manapun selama berhari-hari dan tidak keluar kamar, dan Kijoon hyung tidak akan berpikir macam-macam.”

Yoona mendengus. “jadi aku hanya perempuan lainnya, eh?”

Sehun berhenti dan menatap gadis itu dengan kening berkerut. “kau tidak seperti mereka, Yoona. Kau berbeda.”

Yoona tersenyum,dan Sehun membawanya menuju kafetaria yang luas dan didominasi oleh warna coklat kayu yang teduh. Yoona bisa langsung melihat rimbunnya pepohonan dan gumpalan awan cerah di langit sana melalui kaca sebagai pengganti dinding kafetaria. Resort ini memberikan kenyamanan yang sulit ditemukan di tempat lainnya. Dan Yoona tidak tahu apa ia merasa nyaman karena keindahan resort ini atau karena genggaman hangat tangan Sehun yang ia rindukan selama ini.

resort ini indah.” Puji Yoona begitu mereka keluar dari kafetaria dan melewati jembatan diatas kolam.

“Ibuku yang merancang resort ini.”

Yoona tampak kagum. “Ibumu seorang arsitek?”

Sehun mengangguk kecil. “arsitek jenius yang membuang karirnya demi menjadi istri seorang pria licik dan melahirkan putra dari pria licik tadi. Dan bahkan sampai saat terakhirnya, Kim Juri hanya dikenal sebagai istri Oh Jinhyuk, bukan sebagai arsitek jenius yang karyanya melegenda.”

“kau tahu, Oh Sehun, kurasa resort ini bukan hanya berlandaskan rasa cinta Ibumu pada Ayahmu.” Gumam Yoona pelan. “melalui resort ini, Ibumu ingin supaya kau dapat terus mengingatnya, mengingat karya-karyanya, kehebatannya, talentanya, dan bisa membanggakan Ibumu pada semua orang. Ibumu merancang resort ini bukan hanya untuk Oh Jinhyuk, tapi juga Oh Sehun.”

Oh Sehun tidak langsung membalas dan mengeratkan genggamannya pada tangan Yoona. Pria itu berhenti melangkah, lalu menoleh dan menatap gadis itu lembut. “lalu apa yang bisa kulakukan agar kau tetap mengingatku, Yoona?” bisiknya pelan, sambil mengelus rambut hitam gadis itu.

Senyum terkembang di wajah Yoona, dan gadis itu melingkarkan lengannya di pinggang Sehun dan memeluknya erat. “just don’t leave me alone again, Oh Sehun. Don’t do it anymore.”

///

unnie, aku masih merasa belum puas.”

Yeri berguling dan berbicara pada Taeyeon yang sIbuk mengoleskan masker di wajah Jieun. Keempatnya baru saja bangun dari tidur siang, dan menurut seorang Kim Yeri, masker dapat membuang kulit-kulit mati yang dihasilkan selama mereka bekerja keras 2 hari ini. Jadi disinilah mereka berempat, dengan wajah Yeri, Taeyeon, dan Jieun yang dilumuri masker dan Yuri yang sIbuk memakan ketimunnya.

Taeyeon mengernyit, membuat masker kering di bagian kening retak. “kita sudah membatalkan kontraknya, kan?”

“kita bahkan menemukan pengganti dananya.” Sambung Jieun. “sekarang tinggal bagaimana Oh Sehun akan mempertanggungjawabkan informasi tadi pada Ayahnya. Kita tidak bisa ikut campur untuk hal itu.”

“bukan begitu maksudku!” seru Yeri kesal. “aku belum puas karena hubungan Sehun oppa dan Yoona unnie masih belum jelas. Mereka masih berstatus sebagai saudara tiri dan Ayah Ibu mereka akan menikah bulan depan!”

Taeyeon terdiam sebentar lalu menghela napas. “kau benar. Kita terlalu sIbuk memikirkan tentang resort ini, hingga tak sempat memikirkan tentang Yoona dan Sehun.” Gumamnya sambil mengoleskan masker di pipi kiri Jieun.

“ugh. Kurasa lebih mudah mempertahankan 10 resort ketimbang memecahkan masalah Yoona unnie dan Sehun oppa.” gerutu Yeri, lalu berbaring disebelah Jieun yang tidur di paha Taeyeon.

Taeyeon memukul kening Yeri dengan kuas maskernya, membuat gadis itu mengaduh kesakitan. “kedua hal itu berbeda, Yeri. Masalah Yoona dan Sehun jauh lebih rumit dari yang kita pikirkan. Sebagai orang biasa, tentu saja aku ingin supaya Ayah Sehun dan Ibu Yoona cepat-cepat menikah. Tapi sebagai sahabat Yoona, aku hanya ingin ia bahagia.”

“Taeyeon benar.” Yuri yang sedari tadi diam kini membuka mulutnya. “sekarang kita hanya bisa memberikan waktu bagi Sehun dan Yoona untuk berpikir dan memutuskan apa yang terbaik bagi mereka. Kurasa kita tidak boleh disini terlalu lama lagi.”

Yeri menghela napas. “baiklah, unnie.”

///

Setelah memeras air dari handuk dan memastikan handuk itu tak terlalu basah, dengan cekatan Jongin meletakkannya di kening Shinbi setelah menyapu poni gadis itu. Sesekali juga Jongin akan mengelap tangan Shinbi dengan handuk basah, dan menaikkan selimut yang menutupi tubuh gadis itu.

Shinbi tersenyum tipis saat tangan besar dan hangat Jongin menyentuh keningnya. “kau terlihat sering melakukan hal ini.” Gumamnya setengah berbisik.

“jangan banyak bicara dulu, Hwang Shinbi.” Tegur Jongin. “panasmu belum turun juga dan suaramu malah makin serak. Lihat? Kau batuk lagi. Sudah kuduga aku harus membuat sup jahe untukmu.”

Shinbi menarik lengan Jongin yang tadinya akan bangkit, lalu menggeleng. “Aku tidak butuh sup jahe. Aku akan baikan sebentar lagi.” Ucapnya. “jangan pergi, Kim Jongin.”

Jongin menghela napas dan kini mengambil termometer dari laci meja. “kau sudah demam sejak di pesawat, ‘kan? Pantas saja suhu badanmu berubah waktu itu. Kenapa tidak memberitahuku dari awal?”

Shinbi enggan menjawab dan memejamkan matanya, tapi Jongin tahu bahwa ia sedang mendengarkan.

“kutebak, wajahmu tadi pucat saat di ruang rapat bukan karena pria menyeramkan itu, tapi karena demam kan?” tanya Jongin, lalu mengecek suhu tubuh gadis itu. “apa kau bodoh, Hwang Shinbi? Kesehatanmu harus diprioritaskan melebihi segalanya. Kau bisa saja tumbang di ruang rapat tadi, untung kemampuan aktingmu dapat menyelamatkanmu. Tapi tubuhmu tidak bisa menahannya lagi, Hwang Shinbi.”

37,8 oC. Jongin berdecak kesal dan kembali meletakkan termometer itu diatas meja. “demammu tidak turun-turun juga. Aku akan memanggil Taeyeon noona kesini.” Ucap Jongin seraya mengambil ponsel dari sakunya.

“Kim Jongin, jangan.”

“Kau sedang sakit, Hwang Shinbi!!!” seru Jongin, membuat gadis itu kaget.

Shinbi menarik ujung baju Jongin pelan. “apa kau…. khawatir padaku?”

“ya.” Jawab Jongin cepat. “aku khawatir padamu karena demammu tak mau turun, tenggorokanmu makin serak dan suaramu bisa hilang, tapi kau tidak membiarkanku membantumu sama sekali.”

Shinbi tersenyum tipis. “aku akan segera sembuh. Tidak usah memanggil Taeyeon, mereka pasti masih kelelahan.”

“sekarang pukul 3 sore, dan demammu belum reda sejak 2 jam lalu. Apa kau ingin supaya aku tetap tenang disini?” omel Jongin, merasa kesal dengan reaksi Shinbi.

Shinbi menatap Jongin lama, lalu menatap langit-langit. “Kim Jongin….. boleh aku tanya sesuatu?” tanyanya dengan suara serak.

“kalau kau bisa menanyakannya dengan kalimat sependek mungkin, itu akan lebih bagus.” Jongin menghela napas.

Shinbi memejamkan kedua matanya dan menutupnya dengan lengan kirinya. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “apa kau menjauhiku karena kau merasa bersalah tentang hal itu, atau karena aku terlihat menyedihkan?” tanyanya dengan suara bergetar.

Jongin tahu gadis itu mengumpulkan seluruh keberanian dan harga dirinya untuk menanyakan hal itu, jadi pria itu terdiam sebentar. “ya, dan tidak.” Jawabnya, membuat Shinbi menoleh dan menatapnya heran. “ya, aku menjauhimu karena merasa bersalah. Aku merasa sangat bersalah. Tapi aku tidak pernah menganggapmu menyedihkan. Aku malah tidak ingin kau menganggapku menjauhimu karena kau terlihat menyedihkan.”

Shinbi menggigit bibir bawahnya. “kenapa?” tanyanya dengan suara serak.

Jongin meraih jemari gadis itu, lalu menggenggamnya. “kau adalah sahabatku, Shinbi. Kau sering membantuku dan Yoojung dulu, dan aku merasa berhutang banyak padamu.” Ucap Jongin tulus, mengingat semua kebaikan Shinbi padanya. “aku tidak ingin kehilangan sahabatku yang lainnya.”

Shinbi tidak membalas perkataan Jongin, dan pria itu mengelus keningnya sambil tersenyum lembut. “tidurlah. Kau akan segera sembuh kalau istirahat yang cukup. Aku akan ke kafetaria dulu, oke?”

Setelah Jongin berlalu keluar dari kamarnya, Shinbi bersusah payah untuk duduk di tempat tidurnya dan memeluk kedua lututnya erat. Mungkin menjadi sahabat adalah jalan keluar yang terbaik. Mungkin.

///

“ramyun disini enak.”

Yoona mengharapkan ucapan ‘i love you’ dari Sehun setelah pria itu melampiaskan rasa rindunya, tapi yang keluar dari bibir pria itu adalah ungkapan tentang ramyun yang ada di kafetaria.

seriously, Oh Sehun?” tanya Yoona sambil terkekeh.

Sehun menyenderkan punggung polosnya ke dinding dan menatap Yoona dengan kening berkerut. “aku serius. Kurasa kau akan sangat menyukainya.”

Yoona hanya mengangguk, dan bertumpu pada kedua lengannya. Gadis itu menatap Sehun yang bersandar di dinding dan menghisap sebatang rokok di bibirnya. “Oh Sehun. Kurasa kita harus segera mencari jalan keluarnya.” Gumam Yoona. “maksudku, tentang hubungan kita.” Lanjut Yoona cepat karena ia melihat kernyitan di kening Sehun semakin dalam.

Sehun menghembuskan asap rokok di udara, membentuk lingkaran yang sempurna. “aku sudah memikirkannya. Aku akan memberi kesan baik pada pemegang saham mulai rapat nanti, dan membuat Oh Jinhyuk menyerahkan kekuasaannya padaku. Itu akan mempermudah keadaan.”

Yoona menatap Sehun tidak percaya. “berapa lama?” tanyanya. “berapa lama hingga hal itu bisa terjadi?”

Sehun memainkan batang rokok tadi diantara jarinya. “aku sudah tahu caranya membatalkan pernikahan mereka. Jadi, kira-kira perlu 6 bulan hingga hal itu bisa terjadi. Cukup cepat, eh?” gumamnya.

Yoona menggigit bibir bawahnya. “apa tidak bisa dipercepat?”

“ada apa memangnya?” tanya Sehun dengan kening yang berkerut.

Ayah kembali dan mengajakku ke Jerman bulan depan, aku akan menetap disana dan mungkin tidak akan kembali ke Korea. Kalimat itu menyangkut di ujung lidah Yoona, dan gadis itu buru-buru menggeleng. “the faster the better, right? Tapi kalau kau membutuhkan waktu 6 bulan….. itu juga tidak apa-apa.”

Sehun mematikan rokoknya, lalu merebahkan dirinya disebelah Yoona. Pria itu tersenyum tipis dan mengelus pipi gadis dihadapannya. “bersabarlah, Yoona. It’s not like you’re gonna run away soon, right?” candanya.

Yoona tersenyum tipis dan merangkulkan lengannya di pinggang Sehun. “you’re right.”

///

Yoona melambaikan tangannya beberapa kali, lalu tersenyum tipis setelah sosok keempat sahabatnya hilang ditelan kerumunan manusia. Pukul 4 pagi tadi, Yoona langsung dibangunkan oleh Yeri yang memintanya mengantar mereka ke bandara. Agak terkejut dan setengah hati (tentu saja, karena ia sudah berencana akan jalan-jalan dengan mereka menuju Tokyo Tower), Yoona akhirnya menyanggupi permintaan Yeri.

Sehun mengalungkan lengannya di pundak Yoona. “aku pikir mereka akan tinggal disini lebih lama.” Ucap Sehun lalu mengajak Yoona menjauh dari sana, diikuti oleh Jongin dibelakangnya.

Yoona menggeleng. “Taeyeon dan Jieun unnie banyak tugas dari dosen, Yuri unnie tidak bisa terlalu lama meninggalkan bar tanpa pengawasannya, dan Yeri punya janji dengan teman-temannya.” Jelas Yoona, lalu menghela napas. “padahal aku ingin jalan-jalan ke Tokyo Tower dengan mereka. “

“kita bisa melakukan itu berempat saat Shinbi sudah sembuh nanti.” Sambung Jongin, lalu berjalan disebelah Yoona membuat gadis itu diimpit oleh kedua pria jangkung di kiri dan kanannya.

Sehun mendecakkan lidahnya. “aku tidak suka double date. Lebih baik hanya berduaan, untuk menebus waktu yang selama ini kubuang. Right, babe?” tanya Sehun pada Yoona, yang dibalas senyuman oleh gadis itu. Sehun ikut tersenyum lalu mengecup puncak kepalanya cepat.

Jongin memutar kedua bola matanya. “i’m not going out with her.” Bantahnya. “berhentilah melakukan PDA, kalian berdua.”

Yoona terkekeh. “though you did? Tapi tidak apa-apa. Kita berempat akan ke Tokyo Tower bersama nanti. Bisa, kan, Sehun?” tanya Yoona pada Sehun.

Sehun mengangguk, lalu ketiganya masuk kembali ke dalam mobil yang dikendarai Hisato. Jongin duduk disebelah Hisato, sedangkan Sehun dan Yoona duduk dibelakangnya. Perjalanan mereka kali itu lumayan sepi, tanpa Ai yang biasanya meramaikan suasana.

“sebenarnya aku agak kaget saat Shinbi meminta kita untuk tidur di rumahnya mulai sekarang.” Ucap Yoona tiba-tiba. “negara ini sudah seperti rumah keduanya, eh?”

“dia sudah tinggal disini sejak kecil.” Jelas Jongin. “saat masuk SMP, ia pindah ke Korea karena Ayahnya takut Shinbi takkan bisa berbahasa Korea dengan lancar. Tapi setiap tahunnya ia selalu berkunjung ke Jepang untuk mengunjung Ai dan Hisato yang merupakan teman masa kecilnya. Aku benar, kan, Hisato?” tanya Jongin pada Hisato, yang dibalas anggukkan oleh pria pendiam itu.

Sehun mendengus. “dan kau bilang kalau kalian tidak berkencan.” Sindirnya.

“kami hanya berteman.” Bantah Jongin cepat.

“terserah kau saja, Kim Jongin.” Balas Sehun malas, lalu menoleh pada Yoona. “apa kau sudah membawa barang-barangmu?”

well, sebenarnya….” Yoona menyengir, “aku tidak membawa apapun kesini.”

“apa?” Sehun mengernyit.

“aku hanya membawa paspor, ponsel, uang tunai, dan kartu kredit. Kukira kita akan langsung pulang setelah masalah ini selesai. Jadi…” Yoona mengangkat kedua bahunya, “begitulah.”

what about underwears?” tanya Sehun cepat. “Jangan bilang…..”

Yoona menggeleng lalu menyengir. “i can use yours. Right?”

Sehun menghela napas melihat sifat Yoona yang kadang terlalu spontan. “nevermind. Kita akan membeli pakaianmu nanti. My treat.” Potong Sehun.

“yay!” Yoona tersenyum lebar. “kita akan jalan-jalan nanti, oke?”

Sehun meraih tangan Yoona lalu menggenggamnya erat, seolah takut kehilangannya lagi. “we will.” Gumamnya lembut.

Tanpa keduanya sadari, Jongin melirik mereka melalui spion dan sibuk meredam teriakan dalam hatinya.

///

“permainan yang bagus.”

Jongin mengangkat kepalanya, dan bertemu dengan Shinbi yang menatapnya sambil tersenyum. Gadis itu menyodorkan botol berisi minuman isotonik pada Jongin yang disambut pria itu dengan ucapan terima kasih yang samar. Keduanya duduk di bangku stadion dan menatap lapangan tempat pertandingan rugby yang tadi pria itu ikuti tadi. Jongin masih dengan pakaiannya, dan pelindung kepala disamping kanannya, meneguk isi botol tadi hingga bersisa setengah.

Shinbi menghela napas lalu tersenyum lega. “ini permainan terakhir di bangku SMA, kan?” tanyanya seraya meregangkan kedua tangannya yang pegal.

Jongin mengangguk. “aku tidak akan bermain lagi saat kuliah nanti.”

“apa?” Shinbi tampak terkejut dan menatap Jongin tidak percaya. “waktu itu kau bilang ingin bermain di liga profesional. Bukankah kau sangat menyukai rugby?”

Jongin tersenyum tipis. “aku bukan hanya seorang atlet tapi juga penari, Shinbi-ya. Aku suka rugby, tapi minat terbesarku hanyalah menari.” Jelas Jongin. “dan juga….. aku harus menjaga Yoojung. Ayah dan Ibu akan bekerja diluar negeri mulai tahun ini, jadi aku harus meluangkan banyak waktu untuk Yoojung.”

Shinbi tertegun. “tapi….”

“apa kau masih bercita-cita menjadi seorang cheerleader profesional?” tanya Jongin dengan senyum di wajahnya.

Aku ingin menjadi cheerlader supaya bisa menyemangatimu setiap saat, Kim Jongin, batin Shinbi. “tidak.” Balas gadis itu sambil menggeleng. “kurasa aku tidak cukup baik dalam bidang ini.”

Jongin mengernyitkan keningnya. “siapa bilang? Kau cantik, badanmu bagus, dan senyummu membuat siapapun yang bermain akan semangat melihatnya. Kau ketua klub cheerleader 3 tahun berturut-turut, kan? Itu karena semua orang mempercayaimu. Semuanya menyukaimu, Shinbi-ya. Kau jauh lebih mengagumkan daripada yang kau pikirkan.” Puji Jongin tulus.

Untung saja lampu di stadion saat itu hanya memberi kesan remang-remang dan menyembunyikan rona merah di kedua pipi Shinbi, kalau tidak gadis itu pasti akan langsung kabur darisana karena malu. Shinbi bisa menyembunyikan pipinya yang merona, tapi tidak dengan matanya yang berkilat senang dan senyumnya yang langsung terkembang. “terima kasih.” Gumamnya pelan, setengah berbisik.

Jongin mengangguk. “ah, benar juga. Aku lupa menanyakanmu sesuatu.”

Shinbi menoleh pada Jongin. “apa itu?” tanyanya.

“akhir-akhir ini ada rumor beredar kalau kau menyukai seseorang.” Ucap Jongin. “semua teman sekelas terus menanyaiku, karena akulah yang paling dekat denganmu. Kau tahu ketua kelas 12-7 kan? Dia suka padamu dan terus menerus memborbardirku dengan pertanyaan.”

“ah.” Shinbi menggumam, teringat pada Bang Yongguk yang sering bertukar pesan singkat dengannya. “aku memang sedang menyukai seseorang.”

“ohya? Siapa dia?” tanya Jongin girang. “apa orangnya baik? Apa aku mengenalnya?”

Shinbi tersenyum tipis lalu melempar pandangannya ke lapangan. “dia….. orang yang sangat baik.” Gumam Shinbi. “rajin, ramah dan setia kawan, dia sangat menyayangi keluarganya, bertanggung jawab, dan….. dia terlalu sempurna untukku.”

Jongin mengernyitkan alisnya. “kalau seorang Hwang Shinbi yang sangat hebat ini sampai merendah diri, sehebat apa pria yang kau sukai itu?”

“dia hanya terlalu mengagumkan, Jongin-ah. Dia seperti berada di dunia yang berbeda denganku. Aku sudah melakukan segalanya untuk berada sejajar dengannya, tapi aku tidak bisa. Aku belajar mati-matian hingga malam, mengikuti les di hari libur, menyewa guru privat, dan mendapat juara 1 kelas setiap tahun. Aku pergi ke salon kecantikan, diet dan olahraga untuk menjaga bentuk tubuhku, bahkan masuk ke klub cheerleader supaya bisa menarik perhatiannya. Aku belajar masak, belajar bahasa asing, belajar mengendarai kendaraan, aku ingin melakukan segalanya supaya menjadi sempurna sama sepertinya.”

“dan kau berhasil.” Ucap Jongin.

Shinbi menggeleng lemah. “aku gagal, Jongin.” Jawabnya pelan. “bahkan setelah semua usaha yang kulakukan, ia tak menatapku sama sekali. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya, aku tak tahu apa posisiku dalam hidupnya. Aku…. aku ingin dia memikirkanku seperti aku memikirkannya. Aku ingin ia mencintaiku seperti aku mencintainya. Tapi aku gagal, Jongin. Aku sudah gagal bahkan sebelum aku memulainya.”

“Shinbi-ya.” Jongin meletakkan tangannya diatas tangan Shinbi lalu menggenggamnya erat. Kekhawatiran terlihat jelas dari kedua bola matanya yang kini bertemu dengan bola mata Shinbi yang berkaca-kaca menahan tangis. “aku akan membantumu, oke? Kalau dia menganggapmu kurang sempurna, aku akan membantumu untuk jadi lebih baik lagi. Siapapun orang yang kau cintai, ia adalah orang paling beruntung karena dicintai setulus ini olehmu.”

Shinbi menggigit bibir bawahnya, menahan dirinya sendiri untuk berteriak ‘kaulah orang yang ku cintai, bodoh’ pada wajah Jongin. “kenapa….. kenapa kau mau melakukan ini?”

Jongin tertegun, lalu tertawa pelan. “kurasa sekarang aku tahu kekurangan yang harus kau perbaiki, Hwang Shinbi.”

“apa itu?”

Jongin menghela napas pelan lalu mengembangkan senyum di wajahnya. “Saat seseorang mengulurkan tangannya untuk membantumu, hal pertama yang kau katakan bukanlah ‘Terima kasih’ tapi ‘kenapa kau membantuku? Kenapa kau mau melakukan ini? Kenapa?’.” Jongin menirukan Shinbi, membuat gadis itu tersenyum tipis. “kita dibantu orang lain karena sebuah alasan, tapi bukan alasan itu yang harus dipertanyakan, melainkan kepantasan kita untuk menerima bantuan itu. Dan menurutku kau pantas, Shinbi-ya.”

Shinbi menengadahkan kepalanya dan mati-matian menahan air mata yang akan mengalir di detik selanjutnya. “dan…. dan mengapa kau menganggapku pantas, Jongin?”

“karena aku menyayangimu.”

Shinbi tertegun. Ia tidak percaya dengan kita kata yang baru saja dilontarkan Jongin dengan tegas dan cepat, tanpa keraguan sedikitpun pada suaranya. Jantung gadis itu berhenti sejenak, lalu berdegup lebih kencang hingga Shinbi khawatir pria itu bisa mendengar detak jantungnya disela angin malam yang bertiup.

“kau adalah sahabat terbaikku, Shinbi-ya.”

Ah. Shinbi menyesali semua les tambahan, guru-guru privat yang disewanya, dan semua ilmu yang diserap dan dihafalnya mati-matian selama ini, karena semuanya tak membuatnya lebih pintar. Tentu saja, bodoh. Kau adalah sahabat bagi Jongin, dan Jongin adalah sahabatmu. Kenapa Shinbi jadi sangat bodoh kalau menyangkut Jongin?

Jongin meletakkan tangan kirinya di bahu Shinbi dan tersenyum lembut. “walaupun aku punya Park Chanyeol dan Kim Myungsoo sebagai sahabatku, kau adalah yang terbaik, Shinbi-ya. Kau selalu menjadikan aku sebagai prioritasmu yang utama, kau bahkan sangat menyayangi Yoojung dan kau memahamiku dengan baik. Kau tahu saat aku marah, kecewa, sedih, kesal, putus asa. Kau tahu dan kau selalu ada disana untukku. Bahkan saat aku menyuruhmu pergi, kau tetap tinggal dan memarahiku karena menjauhkan semua orang yang peduli padaku, kan? Itulah kenapa aku sangat menyayangimu, Shinbi-ya.”

Air mata mengalir di pipi kanan gadis itu, lalu diikuti oleh tetesan lainnya. Bulir-bulir air mata itu terus berjatuhan, dan Shinbi tidak dapat menahan isakannya. Gadis itu menutup mulutnya dengan tangan kiri dan pundaknya mulai berguncang karena tangis.

Jongin tak melontarkan kata-kata apapun lagi dan merangkul gadis itu dengan kedua lengannya. Tangisan Shinbi teredam oleh pelukan Jongin yang erat dan hangat. Jongin tak berbicara dan meletakkan wajahnya diantara helaian rambut Shinbi dan mencium wangi lembut sampo yang menguar darisana. Tangisan Shinbi mereda dan hanya terdengar isakkan pelan darinya, dan saat itulah Jongin melepas pelukannya.

Jongin tersenyum dan menyapu sisa air mata di pipi Shinbi dengan jemarinya. “jangan menangis lagi, oke? Tangisanmu membuatku sesak. Tersenyumlah, Shinbi-ya. Kau terlihat jauh lebih cantik saat kau tersenyum.”

Shinbi mau tak mau tersenyum saat Jongin melontarkan kalimat yang manis itu padanya. “dasar playboy. Pasti kau melontarkan kalimat itu pada semua pacarmu kan?” ejek Shinbi.

Jongin terkekeh. “kau adalah wanita kedua yang mendengar kalimat itu dariku setelah Yoojung.” Ucap Jongin dengan nada ringan, namun mampu membuat jantung Shinbi kembali berdebar cepat.

Shinbi hanya menundukkan kepalanya supaya senyumannya tidak terlihat.

Jongin lalu bangkit berdiri dan meregangkan sendi-sendinya yang kaku. “sebaiknya kita pergi sekarang. Akan ada pesta kemenangan di bar, klub cheerleaders juga ikut, kan? Ayo kita pergi, pasti pestanya sudah dimulai.”

Jongin mengulurkan tangannya pada Shinbi, dan gadis itu menyambutnya cepat. Jongin menggenggam tangan Shinbi dan membawa gadis itu melalui kursi-kursi stadion yang kosong, dibawah kerlap-kelip sebagian lampu stadion yang masih menyala. Angin berhembus kencang, tapi Shinbi merasa hangat karena genggaman erat Jongin dan punggung lebar pria dihadapannya yang seolah-olah melindunginya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Hwang Shinbi tidak merasa menyesal mencintai orang sedalam ini.

 

.

 

“…. Yuri unnie lalu mencengkram kerah pria itu dan menatapnya seperti singa kelaparan. ‘kau cari mati, tikus kecil?’ Whoaa, kami semua langsung terpana!!! Tak ada yang membuka mulutnya sama sekali, hanya termangu saat Yuri unnie mendaratkan pukulan di wajahnya.”

Dengan kedua bola mata yang berkilat senang, Yoona menceritakan kejadian saat Yuri melihatnya digoda oleh seorang pria mabuk di barnya. Sehun dan Jongin menyimak ceritanya dengan seksama, dan menahan tawanya melihat sifat riang Yoona yang jarang sekali muncul ini.

Sehun mengambilkan potongan pancake bertabur meses yang sudah dipotongnya tadi, lalu menyuapkannya pada Yoona. “lalu apa dia pingsan?”

Yoona menyambar potongan pancake itu dan mengangguk cepat. “ya! Beberapa karyawan harus memanggil polisi yang kemudian menginterogasinya lebih lanjut. Aku dan Yuri unnie juga ikut untuk memberikan keterangan pada mereka.” Jawabnya dengan penuh semangat.

Yoona baru ingin meminum orange juice-nya saat gadis itu menyadari gelasnya sudah kosong. “aku ingin membeli minuman. Ada yang mau ikut?” tanya Yoona pada Sehun yang langsung menggeleng. Kopi hitamnya bahkan belum disentuh sama sekali. “Jongin?” Jongin menggeleng dan tersenyum tipis.

“Hwang Shinbi?”

Ketiga orang di meja itu menoleh pada Shinbi yang memainkan sedotan pada chocolate milkshake yang belum disentuhnya sejak mereka masuk dan memesan di cafe itu. Pantas saja sedari tadi Shinbi tidak ikut nimbrung dalam cerita Yoona seperti yang Jongin dan Sehun lakukan sedari tadi, gadis itu tidak mendengarkan dan tenggelam dalam dunianya sendiri.

Yoona mendehem pelan, membuat Shinbi mengangkat kepalanya. “ah, kurasa aku akan ke toilet dulu.” Ucapnya lalu melirik Sehun dan Jongin, lalu ke Shinbi. “Hwang Shinbi, temani aku.”

Belum sempat Shinbi merespon, Yoona sudah bangkit dan menarik tangannya untuk pergi dari sana. Shinbi masih kebingungan bahkan saat keduanya sudah sampai di kamar mandi wanita yang sepi itu.

“oke, Hwang Shinbi, i’m all ears now.”

“apa?” Shinbi mengernyitkan keningnya bingung. “aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

Yoona memutar kedua bola matanya malas. “let’s make it fast. Kau melamun tentang Jongin dari tadi, kan? Matamu berkaca-kaca seakan kau bisa menangis kapan saja disana. Apa aku akan membiarkan itu? Tidak. Itu akan membuat yang lainnya panik. Sehun dan Jongin tidak terlalu peka untuk menyadari kondisi emosionalmu dan sebagai satu-satunya makhluk dengan sisi emosional yang berfungsi dengan benar, aku bertanggung jawab untuk menyeretmu dari sana dan mendengar semua keluhanmu.”

“jadi, ceritakan padaku.” Ucap Yoona kemudian.

Shinbi menghela napas lalu menatap bayangannya di kaca besar dihadapannya. “aku menyukai Jongin. Kau tahu tentang hal ini. Sehun juga. Sepertinya semua makhluk hidup di alam semesta ini kecuali Jongin menyadari perasaanku padanya.” Keluh Shinbi.

Yoona mengangkat kedua bahunya. “what an idiot.” Gumam Yoona kesal. “manusia itu memang tidak peka tentang perempuan. Dia terlalu tumpul, aku tidak menyangka tipe yang seperti itu malah populer. Jeez, dunia ini makin aneh dengan adanya makhluk-makhluk yang tidak peka.”

Shinbi tersenyum pahit. “aku menyayanginya, Yoona. Sejak SMA, sejak awal kami bertemu. Dan semakin aku mengenalnya, semua sisi baik dan buruknya, kelebihan dan kemelahannya, itu yang membuatku jatuh semakin dalam. Rasanya sesak sekali saat ia hanya menyebutku sebagai sahabatnya, it hurts like hell.”

“hey.” Yoona meletakkan tangannya di kedua bahu Shinbi. “aku akan membantumu. Kalau perlu aku akan membenturkan kepala si bodoh itu ke dinding berkali-kali supaya ia sadar kalau ia sedang menyia-nyiakan seorang wanita yang mencintainya dengan tulus selama bertahun-tahun.”

Shinbi tertawa geli dan tak bisa menahan senyumnya.

Yoona tersenyum tipis. “Sehun pasti sudah banyak merepotkanmu selama ini. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf dan ucapan terima kasih dari kami berdua.” Ujar Yoona. “mulai sekarang, kau tidak boleh menahannya lagi, oke? Ungkapkan perasaanmu padanya. Persetan dengan gengsi, kau akan menyesal kalau tidak mengutarakan perasaanmu pada Jongin. So now, get back there and smile and laugh ‘till your cheeks hurt, make him fall in love with you like how you’ve been all this time. Kau bisa melakukannya?”

Shinbi mengangguk mantap. “ya.”

///

“dia semangat sekali hari ini.”

Jongin memandangi sosok Yoona yang menarik Shinbi menuju toilet dengan semangat. Sehun meniup kopi hitamnya perlahan lalu meneguknya, membiarkan cairan pahit itu mengaliri tenggorokannya. “mood-nya sedang bagus. Kurasa sudah lama sejak ia keluar negeri dan berjalan-jalan seperti ini.” Ucap Sehun.

Jongin mengangguk. “pasti kau senang, eh? Bisa mempertahankan resort milik Ibumu dan kembali mendapatkan gadis yang kau sayangi. Perjuanganmu tidak sia-sia. Aku sudah mendengar bagaimana kau memohon pada Junmyeon hyung untuk membantumu menjaga rahasia tentang semua ini.”

Sehun tersenyum tipis. “kau juga ikut membantuku. Thanks, dude.” Ucap Sehun tulus.

don’t mention it.”  Gumam Jongin lalu menelan potongan pancake bertabur keju dari piringnya. “apa rencanamu sekarang?”

Sehun bersandar pada kursinya dan terlihat berpikir sejenak. “aku akan melaporkan ini pada Ayah dan melihat wajahnya saat merasa kalah untuk pertama kalinya. Itu akan sangat memuaskan.” Ujar Sehun sambil tersenyum. “dan…. aku ingin melamar Yoona.”

Jongin hampir saja tersedak, kalau saja ia tidak cepat-cepat menelan air mineral yang dipesannya. “kau—apa?”

Sehun tertawa kecil. “aku tidak main-main, Kim Jongin. Kita sudah bukan anak kecil lagi, dan kurasa Yoona akan senang mendengar ide ini. Aku akan segera melamarnya setelah pernikahan Ayah dan Ibu kami dibatalkan, dan semua masalah ini selesai. Bagaimana menurutmu? Apa kau mau menjadi best-man-ku nanti?”

Jongin menggenggam garpunya erat, melampiaskan emosi yang membuncah di dadanya disana. Pria itu memaksakan senyumnya dan menatap sahabatnya. “kalau kau mau mendengar jawabanku, sebaiknya kau menghabiskan pancake itu sebelum aku menghabiskan pancake-ku ini.” Tantang Jongin.

Sehun menyanggupi tantangan Jongin lalu mulai melahap pancake madu bagiannya yang belum disentuh sama sekali. Jongin juga ikut menyantap pancake miliknya, dan sesekali Sehun akan tertawa saat melihat pipi sahabatnya itu mengembung.

“hey.” Gumam Jongin tanpa menatap Sehun, dan masih asik melahap pancake-nya. “aku ingin mengakui sesuatu padamu.”

“mengakui kalau kau gay?” canda Sehun tanpa melirik Jongin dan menyunggingkan senyumnya, membalas tantangan sahabatnya itu dengan ikut menyantap pancake miliknya yang sisa setengah.

“aku tidur dengan Yoona.”

Tangan Sehun berhenti bergerak. Tatapan pria itu kali ini mengarah pada Jongin.

Jongin mengangkat kepalanya dan menatap Sehun. “aku tidur dengan Yoona saat kau tidak ada.” Ulangnya lagi dengan nada yang tegas. “aku mencintai Yoona, Oh Sehun.”

BRUKKKKKK!!!!!

Pukulan Sehun mendarat tepat di wajah Jongin dan dalam waktu sedetik tubuh pria itu terlempar dari kursinya. Sehun bangkit dan mengangkat kerah pria itu, dan kembali melemparkan pukulan bertubi-tubi disana. Terdengar suara melengking dari para pelanggan wanita dan teriakan panik yang lainnya disana. Tapi Sehun tidak menghiraukannya. Pandangan pria itu menjadi gelap dan satu-satunya hal yang ada di pikirannya sekarang adalah untuk mendaratkan pukulan lainnya di wajah Jongin yang kini berdarah.

“OH SEHUN!!!”

Yoona dan Shinbi yang keluar dari kamar mandi karena mendengar kerIbutan diluar, dan akhirnya menyadari bahwa sumber kerIbutan itu adalah Sehun dan Jongin.

Yoona menarik tubuh Sehun yang menindih Jongin dengan sekuat tenaga, mencegah pria itu kembali mendaratkan pukulan lain di wajah Jongin yang sudah babak belur. “apa yang kau lakukan?!?!?!” seru Yoona dengan suara kencang, berharap Sehun sadar.

Shinbi menghampiri Jongin dan membantu pria itu berdiri, masih tidak memahami situasi yang ada dihadapannya ini. Padahal tadi mereka masih melempar candaan ke satu sama lain, tapi sekarang saling melayangkan pukulan? Tidak, tidak. Lebih tepatnya, Sehun yang membabi buta menghajar Jongin yang tidak membalas sama sekali.

“come and face me like a man, you asshole.” Ucap Sehun geram, dengan tangannya yang dipegang oleh Yoona dengan erat. “katakan itu sekali lagi, Kim Jongin, and i promise you won’t see sunlight for the rest of your life.”

Jongin tersenyum mengejek dan menghapus darah dari sudut bibirnya. “hanya ini, Oh Sehun?” tanyanya dengan nada meremehkan. “should i explain the details for you? Sahabat itu seperti ini, kan? Selalu menceritakan hal menyenangkan yang terjadi pada sahabatnya?”

“Kim Jongin, you bastard!!!!”

KIM JONGIN!!!” Yoona menarik Sehun, menahan pria itu untuk kembali menghajar Jongin. Gadis itu menoleh pada Shinbi yang masih tampak kebingungan. “Shinbi, bawa Jongin keluar dari sini. CEPAT!!!” seru Yoona saat melihat Shinbi yang tampak tak mengerti kalimat yang ia ucapkan.

Shinbi dengan cepat menyeret Jongin keluar dari sana dengan susah payah, karena pria itu tak dapat berjalan dengan benar setelah dipukul dengan membabi buta oleh Sehun. Sebelum keluar dari cafe itu, Shinbi melirik Sehun yang masih dipenuhi amarahdan Yoona yang berusaha menenangkannya dengan susah payah. Shinbi tidak tahu dengan benar apa yang terjadi diantara mereka berdua, tapi kali ini gadis itu tahu, ada hal yang belum terselesaikan diantara ketiganya.

///

a/n: -drum rolls- yay! Setelah ngehabisin berhari-hari dan puluhan drakor (+ western movies) buat ngatasin writer’s block ini, akhirnya Numious p.3 keluar juga : “ D the whole Fusaki resort thingy came from The Innocent Man (thank you scriptwriter-nim for the amazing plot! T__T). Anyway aku coba banyakkin Jongin x Shinbi disini karena aku tadi kepikiran bakal coba bikin cerita mereka secara terpisah, dan ngupload di YoongEXO dengan cast Jongin x Yoona tapi gatau juga soalnya masih mikir mikir hehe. Ada lumayan banyak error disini kayaknya soalnya aku selalu bikinnya pas tengah malem hehe : “ 3 (Numious kalau ditaruh di word skrg udah hampir 100 halaman yaampun ga kerasa :”D) makasih ya buat komennya di part sebelumnya, you guys are the reason i’m writing and uploading this fic to yoongexo. Kalau kalian nemuin kesalahan atau hal yang ga pas, tolong kasitau yaaa. Drop your opinions and suggestions on the comment section, i will read and reply it asap!😀

thank you for reading!❤

p.s.: Kim Jiyeon yang muncul dalam adegan Junhong-Yoona-Jongin itu bukan T-Ara’s Jiyeon tapi Lovelyz’s Kei.

168 thoughts on “Numinous (p. 3)

  1. Aku geregetan sama kamu thor….. kapan cerita ini dilanjut? Huhuhu im craving for the update!
    Dan kenapa author selalu php di bagian final huhuhuhu waktu ff revenge, stuck… mana pas dibagian finalnya huhuhu dan ini juga…. aku nunggu luamaaa bangetttttt….. ayo dong thor dilanjut 😭😭😭😭
    Based on the characters. Im on the side of yoona and kai. I dont know but they fit each other hahahahaahaa kai was….extremely hot and one step closer to be called perfect guy on this story!!
    Please update~~~~

  2. Huhu… kapan nominousnya d lanjutin.. sudah kangen banget sm kelanjutannya.. sediiih banget tiap buka exoyoong belom ada kelanjutannya.. 😢😭😭😭

  3. greget aihhh kasian sinbi jongin friendzone an:”D author semangat yaa chapter 4 nya sangat ditunggu, ff ini masuk dalam list ff yang palingaku tunggu:”D

  4. brrr sekai pas akhir tuhhh arghhh… kirain pas di part2 kai cuman nganggep yoona adeknyaa ehh ternyataaa >_< woow perjuangaannya shinbi buat kai tuh badai bangetzzz tapi si doi gga pekaa Zzzz… yoonhun<3<3

  5. Ahh gika keren abis, kai nya itu lho bikin greget omg. Klo aku sih maunya yoona sma duaduanya aja hahaha..
    Pas kai bilang dia tidur sma yoona tuh aduhh kyk ada yg meledak di otak aku. Sumpah bikin penasaran abis, next jgn lama2 yhaaaa

  6. Nyesel ga buka internet selama berhari – hari -_- and ini apaaaaaaa? ohmygod keren bgt! Sama kaya yang lain, kok mikir kalo Yoona mending sama Kai aja ya haha. Kai karakternya dewasa, hangat, pokoknya perfect bgt. penyuka drakor juga? recommend some for me, maybe? Nice guy is good enough😀 ditunggu kelanjutannya jangan lama lamaaaaaa😀

    • YESSS!!! i love movies, tapi aku gaterlalu flexible kalau soal genre jadi mentok2nya di romance/melodrama :”D

      Kalau drakor udah pasti The Innocent Man, High School Love On (kalau km suka something cheesy dan agak cringy gitu tapi berbau highschool), Shut Up Flower Boyband (hotties everywhere), Gu Family Book (suzy is stunning, really), You’re All Surrounded, Ma Boy (Kim Sohyun x that guy who looks like a girl), Kill Me Heal Me, Pinnochio, I Hear Your Voice, Stairway to Heaven, Obsessed (again, a rated M one tapi plotnya seru), Baby n’ Me, MOMO, My Mighty Princess (Shin Minah x that guy)!
      Kalau western aku saranin: The Theory of Everything, The Butterfly Effect, Pitch Perfect (i guess this one is a thing already?), The Other Woman, The Notebook, The Davinci Code (!!!), No Strings Attached (bed scenes everywhere, Ashton Kutcher and his dayum abs), Paranormal Activity: the marked ones
      kalau buat Thai; First Kiss (bukan 1st love yang ada mario maurer my luv sama baifern), ATM (rom-com), 407 Dark Flight (creepy one)
      nah kalau cina; You’re The Apple of My Eye (ini juga udah mainstream bgt tapi rom-comnya keren), I’m Not Stupid Too (family-friendship)
      Kalau Jepang; Koizora (TEARS TEARS), Kimi ni Todoke (this one is cute), The Girl in The Sun (oh, the freakin’ plot twist), LDK (THE LEAD GUY IS HOT), Crows Zero (metal bgt tapi genji is seducing af), Ao Haru Ride (both live action+anime), sama Kenshin
      kalau yang india– mungkin gaterlalu minat ya but this one is worth to watch; English Vinglish (mostly about family)

      udah itu aja aku udah jarang nonton akhir2 ini tapi kayaknya kebanyakkan udh kamu nonton ya :””D yaampun ini reply kayaknya panjang bener :””D

      anyway ditunggu Numinous part-4nya~~~~

      • untuk yang korea aku udah nonton semuaaa haha. kecuali sama MOMO, My Mighty Princess & Obsessed. The moon that embraces the sun sudah nonton kah? Drama tahun 2012 sih, tapi seru bgt. Rooftop prince juga keren, banyak lah😀
        Beberapa udah ada yang nonton, tapi ada juga yang belum.
        Iyaaaa update a.s.a.p yaaa, anyway ada twitter kak? Minta dong, pengen aku follow😀

      • Obsessed seru bgt kalau dijadiin fanfic anyway :3 sudah sudahhh!!! tapi belum selesai gitu deh aku baru suka bgt sama movies akhir2 ini juga lagiannn. Ada ada! ada fangirl acc tp aku jrg on, ada PA tapi aku nyampah bgt :””) mau yang manaa?

      • haha two is better😀 kalau ada yang bener seru dan melo bgt (kaya you who came from the star, gu family book. the moon that embraces the sun, etc) kasih tau yaaa.

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s