(Freelance) Series: Don’t Call Me Idiot : Yoona’s Birthday

req-5aomi

(Series) Don’t Call me Idiot : Your Birthday
Author : AlienGator02
Main Cast : Im Yoona, Oh Sehun, Big Gangster, Xi Luhan,
Other Cast : Find it by Your self
Genre : Fiction, AU, Sad, Naughtiness
Poster : Aomi @ HSG
Length : Series
Rating : General
Disclaimer : This story is pure my idea.
A/n : Please Keep RCL! Sebelum saya memutuskan untuk mempassword ff ini.
Happy Reading




**~~**~~**


Hari Minggu.
Hari dimana semua siswa bersenang-senang. Namun tidak bagi seorang lelaki berpostur tinggi yang tengah duduk di sofa coklat. Hari ini, adalah hari yang sangat membosankan bagi seorang Park Chanyeol. Ia harus menghabiskan waktunya untuk sendirian di rumah megah itu.
Tentu saja, kedua sahabatnya yakni Baekhyun dan Kyung Soo sedang menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga mereka. Sayangnya, Chanyeol tidak pernah menghabiskan waktunya dengan orang tuanya. Bahkan saling bertegur sapa dan menanyakan kabar hanya sekali dalam tiga bulan.
Menjadi anak konglo merat bukanlah hal yang menyenangkan bagi Chanyeol. Mungkin, diluar sana banyak sekali anak konglo merat menghabiskan uangnya untuk Clubbing, bermain, atau mungkin membeli Koka dan Heroine.
Tapi tidak dengan Chanyeol, walaupun ia cukup bodoh di fisika dan matematika tapi Ia tidak bodoh di Biologi, bahkan nilai biologi Chanyeol lebih unggul dibandingkan lelaki sejenius Sehun. maka itu, jangan melihat semua dari sampulnya. Tapi jika masalah perhitungan dan permainan angka, Chanyeol akan sangat frustasi dan selalu mendapat nilai terendah di kedua pelajaran itu. Bukankah tiap orang memiliki keahlian sendiri-sendiri?
“Andaikan Koka dan Heroin tidak membahayakan. Setidaknya aku tidak perlu diam dirumah tengik ini dan aku bisa berfantasi seperti orang gila,” Gumamnya.
Suara deringan ponsel membuyarkan lamunan Chanyeol. Lelaki bermarga Park itu mengambil ponsel yang ada di meja. Dan membuka pesan yang masuk, lelaki itu cukup terkejut siapa yang mengiriminya pesan.
“Yoona, ada apa dengan gadis aneh itu?” batinnya.
Lelaki itu memutar kedua bola matanya kesal ketika membaca pesan tersebut. Chanyeol mengambil kunci motor yang ada di atas meja. Ia akan berkeliling Seoul, hanya untuk melepas penat. Tenanglah! Walaupun Chanyeol suka mengganggu dan menyakiti Sehun. dia bukan tipe orang yang suka mabuk dan bermain narkoba atau mungkin Clubbing. Tidak masalah kan?
**~~**~~**
Dengan kemeja pendek coklat yang ia kancingkan hingga keatas dipadukan dengan celana jeans yang cukup ketat. Lelaki bermarga Oh itu mendekat kearah cermin, ia terlihat sangatlah tampan tanpa kaca mata Harry potter yang selalu menemaninya.
Sehun menatap pantulan tubuhnya di cermin, ia sama sekali tidak ingin untuk membuka kancing atasnya agar terlihat lebih cool. Tak lupa, Sehun juga memasukkan kemeja bagian bawah dibalik celana jeansnya. Penampilan seperti itu, justru membuat tingkat ketampanan Sehun memudar.
Sehun mengambil tas selempangnya yang ada diatas meja. Sebelum ia melangkahkan kakinya keluar kamar. Ia menyempatkan diri untuk menatap jam yang setia menempel di dinding. Hari ini, Sehun kembali melakukan rutinitasnya, apalagi jika bukan bekerja sebagai Dry Cleaning.
Sehun melangkahkan kakinya keluar dari kamar kecil miliknya dan menutup pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara gesekan. Sehun keluar dari rumah megahnya melalui pintu belakang. Sebuah deruman mobil membuat Sehun harus bersembunyi dibalik tembok besar.
Lelaki bermarga Oh itu melihat sebuah van berwarna hitam keluar dari gerbang. Sehun hanya bisa menatap kepergian van hitam itu dengan tatapan sedih, lelaki jenius itu sangat tau jika ada dua orang yang sedang menumpangi mobil itu dengan senyuman diwajahnya.
‘Apakah jika Sehun ikut mereka juga tetap tersenyum?’ tanyanya dalam hati.
Sehun menghela nafas pelan ketika mobil itu sudah tidak terlihat lagi oleh kedua matanya. Sehun melangkah menuju gerbang, tak lupa ia juga menyapa lelaki paruh baya yang tidak lain adalah Security di rumah mewah itu. dan dibalas dengan senyuman hormat oleh lelaki berkepala empat itu.
1
2
3
Sehun menghitung berapa langkah yang ia tempuh menuju restaurant. Mulutnya terus bergumam angka-angka yang membuat orang disekitarnya menatap aneh padanya. Langkahnya berhenti, mulutnya merasa lelah karena terus menghitung angka satu sampai tujuh ratus sembilan puluh.
Sehun menarik oksigen sebanyak-banyaknya. Kembali, ia melanjutkan hal yang sangat tidak berguna itu.
**~~**~~**
Seorang gadis tampak menaiki motor besarnya. Ia memasukkan kunci motornya dan menyalakan mesin. Deruman suara motor balap terdengar. Lagi, gadis itu mencoba mengeluarkan deruman suara motor balap yang membuat orang sekitar menutup telinga mereka.
Gadis cantik bernama Im Yoona itu menjalankan motornya, ia akan menuju suatu tempat dimana ia bisa menemukan orang yang ia cari. Kedua matanya fokus terhadap jalanan Seoul. Dengan seribu keyakinan yang ada gadis bermarga Im itu yakin jika ‘lelaki’ yang ia cari ada di tempat biasa.
Yoona memperlambat laju motornya ketika ia melihat seorang lelaki yang sedang berjalan dengan pelan. Yoona yakin jika ia mengenal lelaki berpostur tinggi berpenampilan aneh, Yoona menghadang lelaki itu dengan motor besarnya.
Gadis itu tersenyum dibalik helm-nya ketika ia melihat seorang Sehun yang menggigiti kukunya karena takut. Yoona mematikan mesin motornya, ia turun dari motor itu dan mendekat kearah Sehun.
“Siapa? Kau… siapa?” tanya lelaki itu dengan langkah mundur kebelakang.
Yoona tersenyum tipis, ia melepas helm yang ada di kepalanya. Helaan nafas lega masuk ke telinga milik Yoona. gadis itu mendekat kearah Sehun yang sedang mengelus dada, Yoona bisa menebak jika Sehun takut atau mungkin terkejut dengan penampilannya.
Gadis itu menyodorkan sebuah pucuk surat pada Sehun disertai lengkungan senyum di bibirnya. “Nanti malam, kau harus datang ke pesta ulang tahunku. Ingat! Kau tidak perlu membawa apapun, aku akan membunuhmu jika kau tidak datang!” ujar Yoona pada Sehun.
Lelaki itu menerima surat itu dengan alis yang tertaut, Sehun terlalu bodoh untuk mengerti apa itu perayaan ulang tahun. Bahkan Sehun sendiri sama sekali tidak tau kapan ulang tahunnya. Dalam otaknya hanya tertulis tanggal 24 April, ulang tahun ibunya.
Yoona mengacak rambut lelaki yang lebih tinggi darinya itu, “Kalau begitu aku akan pergi. Lanjutkan pekerjaanmu,” Ujar Yoona sambil menaiki motor besarnya.
Sehun menatap kepergian gadis itu dengan motor besarnya. Sekarang yang paling membingungkan baginya apa yang harus dipakai ketika perayaan ulang tahun? Lelaki jenius ternyata tidak bisa menjawabnya.
**~~**~~**
Seorang lelaki tengah mengendap-endap dalam rumahnya layaknya seorang pencuri. Lelaki itu menoleh kesemua arah berharap jika tidak ada satu orangpun yang melihat keberadaan dirinya. Sehun menyelinap menuju ruangan besar yang terletak disebelah kamar ayahnya.
Kedua matanya menatap sekelilingnya dengan waspada. Tak lupa ia juga menjaga suara langkah kakinya yang bisa terdeteksi oleh pendengaran manusia. lelaki itu masuk ke kamar besar yang tidak ada penghuninya,
Sehun menatap lemari yang berdiri kokoh. Senyuman tercipta dari bibirnya ketika lemari tersebut tidak dikunci. Artinya Sehun bisa mendapat peluang yang lebih besar untuk mengambil kain dibalik lemari itu.
Dengan perlahan tanpa menimbulkan sedikit decitan Sehun membuka lemari itu. dan ia bisa melihat belasan atau mungkin puluhan baju tergantung disana. Tanpa berkata apapun Sehun mengambil kemeja hitam yang ukurannya pas dengannya.
Sehun memasukkan kemeja hitam itu ke tas kecil yang ia tenteng. Lelaki itu menutup lemari itu kembali dan segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar terkutuk milik hyung-nya. Ketika tangannya memegang knop pintu. Ada dorongan dari luar.
Sehun terkejut bukan main, lelaki itu buru-buru bersembunyi dibalik pintu. Helaan nafas tercipta dari bibir milik Sehun ketika seseorang yang masuk itu bukanlah hyung-nya. Tapi Park ahjumma yang mengambil pakaian kotor milik Luhan.
Ketika Sehun melihat Park ahjumma yang membelakanginya, lelaki itu buru-buru keluar tanpa sepengetahuan wanita paruh baya itu.
Sehun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan kamar milik hyungnya,
“Apa yang kau lakukan di kamarku?”
Deg!
Tubuh Sehun bagaikan disengat listrik dengan voltase dua ratus dua puluh. Lelaki itu mendesah dalam diam, kiamat telah berdiri di belakangnya. Bahkan Sehun bisa merasakan aura kekejaman dari sang malaikat maut.
“S-Sehun… tidak.. melakukan apapun.. tidak,” bohongnya disertai dengan gelengan kuat yang membantah.
Lelaki bermarga Oh berwajah baby face itu menatap adiknya dengan tatapan curiga. Luhan mendekat dan menjambak rambut lelaki yang lebih tinggi darinya dan membenturkannya ke dinding. “Jika kau melakukan apapun pada kamarku, aku bersumpah akan menghancurkan harimu.” Ancam Luhan.
Sebuah tas dari kain yang terus digenggam Sehun kuat menarik perhatian seorang Luhan. Lelaki yang berstatus sebagai kakak Sehun itu menyerobot tas berwarna coklat itu.
Tubuh Sehun melemas seolah tak berdaya ketika Luhan mengambil tas itu dan membukanya, lelaki itu hanya pasrah pada takdir yang akan tuhan berikan padanya. Welcome to the pain world Sehun-ah.
Luhan membanting tas itu kearah Sehun, dengan wajah merah padamnya. “Jangan pernah masuk ke kamarku lagi. Aku tidak mau virusmu itu menyebar di kamarku! Dan buang syal bodohmu itu!” bentak Luhan seraya meninggalkan Sehun.
Sehun menghela nafas, untungnya ia menutupi kemeja Luhan dengan syal yang ia punya. Untuk pertama kalinya, Sehun merasa selamat dari kiamat besar.
**~~**~~**
Ruangan besar dihiasi dengan dekorasi yang manly tapi tetap elegan. Ribuan huruf yang membentuk kalimat terpajang di dinding aula gedung besar itu. nuansa pesta berwarna abu-abu dan hitam menambah kesan berkelas dan mahal.
Sayangnya yang mempunyai pesta itu bukanlah seorang lelaki dengan wajah tampan. Melainkan seorang gadis berambut panjang berambut pirang dan bergaya tomboy itu. gadis itu sama sekali tidak menggunakan gaun mewah yang harganya ratusan juta. Tidak!
Kemeja abu-abu dipadukan dengan jas hitam wanita yang ia lipat hingga siku tangannya. Gadis itu juga tidak menggunakan hiasan dikepalanya layaknya seorang putri raja. Rambutnya hanya dikuncir kuda, namun wajah cantiknya dibalut dengan make up tipis yang membuatnya lebih cantik dari pada dewi kahyangan.
Gadis itu memang tidak terlalu ‘niat’ untuk membuat acara besar ini. Menurutnya bermain gitar dan mengendarai motor besarnya lebih baik dari pada mengadakan pesta yang membosankan ini.
Satu-persatu tamu undangan datang dengan pakaian mewah, jas elegan, gaun yang sangat cantik juga dandanan yang berkelas internasional. Semua undangan itu mengucapkan kalimat yang tidak pernah berubah.
Gadis itu memutar kedua bola matanya kesal ketika semua undangan mengucapkan ‘Saengil Cukha hamnida.’ Yoona mendesah, apakah tidak ada kata selain saengil cukha hamnida?
Lengkungan senyum lebar terlihat dari bibir milik Yoona. gadis itu tersenyum lebar ketika seorang lelaki yang sangat ia harapkan kedatangannya datang. Yoona mengacak rambut lelaki yang lebih tinggi dari dirinya.
“Kupikir kau tidak datang.” Ujar Yoona pada lelaki berkaca mata besar itu.
Lelaki yang tak lain adalah Sehun mengangguk pelan. Kedua iris hazelnya menatap gadis yang hari ini terlihat sangat cantik dengan pakaian tomboy ditubuhnya. Entahlah, tiba-tiba dada Sehun merasa sesak. Lelaki itu menyentuh dadanya yang bergetar tak karuan,
“Hya! Waeyo? Apa kau baik-baik saja?” tanya Yoona khawatir ketika Sehun yang menyentuh dada bidangnya dan memukulnya perlahan. Gadis itu berpikir jika Sehun sakit asma ataupun jantung.
Sehun mengangguk, ia mengambil nafas sebanyak-banyakya dan mengontrol detak jantungnya yang tidak teratur. Lelaki itu merasa jika katub jantungnya tidak berjalan dengan baik. Atau mungkin atrium dan ventrikel jantung Sehun yang bermasalah?
“Anio.. G-gwaenchana, Sehun gwaenchana.” Ujarnya.
Yoona mengangguk, lalu ia menggandeng tangan Sehun menuju sebuah tempat yang indah. Tempat yang dikelilingi oleh bunga bunga cantik. Tempat yang menunjukkan ribuan manusia menatapnya kaget sekaligus jijik.
Sehun menunduk ketika dia bisa merasakan aura tajam dari mereka semua.
Tangan milik Sehun menggenggam erat jemari Yoona, sebagian besar dari mereka tidak dikenal oleh Sehun. namun lelaki jenius itu masih bisa melihat ada tiga orang lelaki berjas hitam menatapnya kaget. Sehun menatap Yoona dengan wajah ketakutannya.
“Kau tidak perlu takut Sehun-ah, ada aku disini.” Ujar Yoona.
Lelaki itu mengangguk cepat, jemarinya masih menggenggam erat tangan Yoona dan tidak mau melepasnya. Jujur, Sehun tidak menyukai keramaian. Dalam kata ‘keramaian’ ada ribuan makna menurut Sehun. yang paling Sehun benci dari makna keramaian adalah intimidasi dan hinaan.
Lelaki itu bisa merasakan jika jemari milik Yoona mulai mengendur. Lelaki itu menatap Yoona terkejut, Sehun takut jika gadis disampingnya ini memang merencanakan ini semua untuk membully-nya. Lelaki itu menunduk ketika pikiran negatif menghampirinya.
“Sehun, kau disini dulu nanti aku akan kembali. Aku harus menerima banyak tamu,”
Kalimat itu membuat lelaki bermarga Oh bergetar ketakutan. Keringat mulai membasahi dahinya, Sehun mengalihkan pandangannya untuk melihat punggung gadis itu yang semakin lama semakin jauh dan tidak masuk kedalam retinanya.
Refleks.
Lelaki jenius itu menggigiti kukunya ketika tiga orang lelaki berjas hitam dengan tampang kaya mendekat kearahnya. Tanpa Sehun sadari, langkah kakinya mundur dengan perlahan. Hingga ia menabrak seorang yang ia kenal, sosok lelaki paruh baya.
‘Appa’ batinnya.
Tuan Oh memandang Sehun dengan tatapan tajamnya. Pria paruh baya dengan kumis tebalnya itu menggumam kalimat penuh penekanan, “Untuk apa anak sepertimu ada dipesta ini?” tanya Tuan Oh.
“A-Aku datang… chingu, ya chingu.” Ujar Sehun pelan namun masih bisa didengar di telinga Tuan Oh.
Pria paruh baya itu mendecih dan menatap Sehun tajam. Tuan Oh benar-benar membenci kehadiran anaknya di pesta ini. Tuan Oh takut jika Sehun sampai mengungkapkan jika Sehun anaknya. Tentu saja Tuan Oh sangat malu ketika mengingat fakta jika pria terkaya di pesta ini mempunyai anak idiot.
“Jika kau mengungkapkannya. Jangan harap kau tinggal di rumah itu,” ancamnya sambil berlalu pergi.
Sehun mengangguk patuh, lelaki jenius itu tidak mempedulikan uluh hatinya tersayat dengan pisau yang sangat tajam. Senyuman lebar dengan tawa keras membuat semua orang menoleh kearahnya. Tawa dengan kesakitan yang sangat dalam, sayangnya semua orang di pesta itu kaget melihat wajah idiot dengan tawa terbahaknya.
Brak!
Sehun tersungkur ke tanah dengan rumput artificial itu. Ia menatap tiga orang lelaki dengan wajah angkuh berdiri didepannya. Tiba-tiba tangan Sehun ditarik keras oleh lelaki bermarga Byun, lalu Sehun diseret menuju sebuah tempat yang cukup sepi namun masih ada beberapa orang yang ada disana.
Lagi, Sehun didorong keras oleh lelaki bermarga Park yang tak lain adalah seorang cucu dari presiden Korea selatan. Sehun bisa melihat senyuman sinis tercipta di bibir lelaki bermarga Park itu. Chanyeol menatap Sehun tajam,
“Apa kau tidak sadar jika seorang anak idiot tidak boleh datang ke pesta ini?” tanya Chanyeol tajam.
Sehun menunduk, ya Sehun sangat menyadari jika ia tidak pantas di pesta ini. Walaupun ia memakai kemeja mahal milik Hyung-nya. Sehun sadar jika pakaian itu tidak cocok dengan kacamata Harry potternya juga dengan dasi kupu-kupu merahnya.
Baekhyun menumpahkan jus jambu tepat dikepala Sehun. warna pink jambu menutupi sebagian kecil kemeja hitam milik Sehun. lelaki jenius itu menatap tumpahan jus jambu. Bisakah Sehun membeli kemeja baru untuk Luhan? Bisakah ia? Tentu tidak.
“Ooopss… Maaf, aku tidak sengaja. Kau jangan mengadukan hal ini pada orang tuamu .”
Dan untuk kesekian kalinya, Baekhyun menumpahkan nasi kari yang telah ia serobot dari sahabatnya yakni Kyungsoo. Baekhyun sangat menyukai hal yang berbau ‘Bullying’ menurutnya Bullying adalah hal yang menyenangkan.
“Kali ini aku sengaja, haruskah aku meminta maaf padamu Sehun-ah?”
Bugh~
Lelaki idiot seperti Sehun mengepalkan tangannya dan meninjunya tepat pada pipi milik Baekhyun hingga membuat lelaki berwajah imut itu tersungkur ke tanah. Sehun menatap ketiganya dengan tatapan yang sangat tajam. Bahkan seorang Chanyeol bergidik ngeri melihat tatapan itu.
Sehun mengambil kayu yang ada disamping kirinya, lalu ia memukul ketiga lelaki itu dengan kayu tanpa ampun. Lalu sarafnya berhenti, ia sadar apa yang telah ia lakukan. Sehun menjatuhkan kayu itu, lalu ia menatap semua orang yang tengah terkejut menatapnya. Bahkan mereka memandang Sehun dengan tatapan tajam dan penuh penghinaan. Tidak! Sehun tidak pernah bermaksud melawan ketiga orang ini.
Lelaki penderita Savant syndrome itu segera berlari menjauhi mereka, tak peduli dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Sehun bersalah, ia bersalah dengan semua ini. Berani-beraninya ia memukul seorang manusia. bukankah Sehun tidak pernah membunuh seekor semut?
**~~**~~**
Lelaki itu terus berjalan dengan senyuman yang tetap tercipta di bibirnya. Lelaki bermarga Oh itu seolah melupakan tumpahan jus jambu dan hinaan yang ia terima di pesta ulang tahun temannya, ya satu-satunya teman yang ia miliki.
Sehun menatap kemeja hitam pekat yang kini penuh akan tumpahan jus dan makanan. Lelaki itu mendesah pelan, kemeja yang ia gunakan bukanlah miliknya. Tepatnya, kemeja itu milik Hyungnya, Luhan.
Sebut saja Sehun meminjam tanpa sepengetahuan Luhan. Karena, Sehun tidak pernah memiliki kemeja mahal yang harganya jutaan. Dibandingkan Sehun membeli kemeja yang berharga selangit itu, Sehun memilih untuk membantu sesama.
Kedua mata milik Sehun menatap jalan beraspal didepannya. Jalan itu lurus, tanpa berbelok seperti yang terlihat. Namun, tidak ada yang tau ada apa di ujung jalan itu. kerikil? Atau mungkin tikungan tajam? Sehun tidak tau,
Sehun menyadari, ia datang ke pesta tersebut dengan niat baik. Ia ingin menghadiri perayaan ulang tahun temannya. Tapi Sehun tidak pernah tau, apakah ia akan dihina dipesta itu? atau mungkin dibully? Hidup sama seperti jalan yang sedang ia pijaki bukan? Tidak tau apa yang ada didepannya.
Tepat di ujung jalan beraspal tersebut, dua buah belokan yang membingungkan terlihat. Sehun harus memilih salah satunya. Sayangnya, Sehun tidak tau manakah yang terbaik untuknya. Apakah belokan kiri terdapat kerikil? Atau mungkin kerikil itu ada di belokan kanan?
Sama seperti hidup lelaki berkacamata Harry potter itu. ia memilih Coreland karena ia memang harus memilihnya, Sehun sama sekali tidak pernah tau jika semua siswa Coreland akan membully-nya lebih keras dibanding di Amerika dulu, tapi Sehun yakin jika jalan yang ia pilih terbaik untuknya.
Yang Sehun bisa lakukan untuk saat ini adalah terus bersabar. Kalimat ‘Sabar disayang tuhan’ adalah kalimat yang sangat membosankan jika didengar di telinga manusia. Tapi tidak dengan Sehun, lelaki itu yakin bahkan sangat yakin jika tuhan pasti akan menyayangi Sehun. bukankah hanya tuhan yang selalu melindungi Sehun ketika ia dihujat oleh semua orang?
“Sehun! Berhenti!”
Suara itu, suara yang sangat Sehun kenal dengan baik. Rasa bersalah mulai menjalar di hatinya, seharusnya Sehun tidak datang ke pesta itu. mungkin ia tidak akan menghancurkan pesta yang direncanakan mewah, namun berakhiran murahan.
Tangan porselen milik gadis cantik itu menyentuh pundak Sehun. gadis yang tak lain bernama Im Yoona itu menatap Sehun khawatir, ia membalikkan tubuh Sehun agar bisa menghadapnya. Wajah yang ceria, senyum di bibir dan raut kebahagiaan terpancar dari wajah Sehun.
Namun, gadis bernama Yoona sangat mengetahui jika ada ribuan kesakitan di balik pancaran mata milik Sehun. “Apakah kau baik-baik saja?”
Sehun mengangguk dengan senyum yang ia paksakan.
Grep.
Yoona memeluk Sehun erat, jika boleh jujur sebenarnya ia tau jika Sehun tidak kuat dengan apa yang telah ia pilih. Sehun tidak kuat dengan cacian yang ia terima. Tapi Sehun seolah baik-baik saja, tidak. Sehun sangat tidak baik.
Air mata Sehun mulai meluncur dari pelupuk matanya, entahlah ketika ia disamping Yoona. ia bisa meluapkan apa yang ia rasakan. Sehun menangis. Bukankah ia lelaki berjiwa anak kecil yang terjebak dalam tubuh besarnya?
“Maaf.. Maafkan Sehun, karena Sehun… maaf,”
Yoona menggeleng mendengar penuturan Sehun. ia melepas pelukan Sehun dan mengusap punggung lelaki itu pelan.
“Bukankah aku selalu bilang padamu untuk berhenti meminta maaf dan menangis?” tutur Yoona.
Sebenarnya hari ini bukanlah hari ulang tahun Yoona. bukan, ia membohongi semuanya dan mengajak Sehun datang ke pestanya. Ia ingin semua orang menghargai Sehun paling tidak untuk berhenti menghina Sehun. namun ia salah, rencana yang ia susun hancur berantakan karena sekelompok ‘Big gangster’
Yoona melepas pelukan mereka, gadis itu memberikan senyum termanisnya. Lagi, kedua ibu jarinya menghapus air mata yang turun dari pelupuk mata Sehun. “Haruskah aku bilang lagi? Lawan mereka jika itu keterlaluan, jangan pernah diam ketika mereka menghinamu.” Ujar Yoona. Oh mungkin yoona tidak tau apa yang telah Sehun lakukan pada mereka
Dengan nafas yang masih sesenggukan dan air mata yang masih senantiasa meluncur membasahi matanya. Sehun menggeleng, “Diam… lemah, tidak..”
Yoona tertegun mendengarnya, apa yang diucapkan oleh Sehun memang sangatlah benar. Yoona tau itu, ‘Diam memang bukanlah suatu hal yang bisa disamakan dengan kata payah ataupun lemah.’
Kedua tangan Yoona menangkup pipi Sehun, “Lalu, apa kau hanya diam ketika mereka semua menghinamu? Apa kau hanya diam ketika ibumu menangis? Apa kau hanya diam ketika semua orang menjauhimu? Apakah kau hanya diam ketika dunia ini menyudutkanmu?” tak terasa suara Yoona naik satu oktaf.
Gadis itu menarik oksigen dan memasukkannya ke paru-paru dengan kasar. “Bertindaklah egois. Kau harus mementingkan dirimu sendiri, untuk apa kau mempedulikan orang lain yang justru tidak mempedulikanmu sama sekali?”
Sehun menatap wajah Yoona yang memerah karena marah dan kesal. Sehun menunduk, ia memikirkan kalimat yang telah dilontarkan Yoona. bolehkah Sehun bertindak egois? Bolehkah Sehun membenci mereka?
Sehun tersenyum tipis, “Benar.. itu benar.. t-tapi tidak, itu tidak baik.” Ujar Sehun.
Yoona menghela nafas kesal, “Aku tidak akan selalu bisa melindungimu Sehun-ah. Kau lihat tadi! Aku tidak ada ketika kau dihancurkan oleh mereka. Bagaimana dengan selanjutnya? bagaimana bisa kau memukul mereka dengan kayu didepan semua orang? Bagaimana jika aku tidak bisa melindungimu lagi? Dan Bagaimana jika aku harus pergi suatu saat nanti?” tanya gadis itu bertubi-tubi.
Sehun menatap wajah cantik yang disinari oleh rembulan. Ucapan Yoona sangat menancap dihatinya. Bagaimana jika Yoona pergi? Sehun menutup kedua matanya sambil menghela nafas perih. Ia menggenggam tangan Yoona.
“Jangan… jangan… pergi.. tidak.. tidak boleh.” Ujar Sehun sambil menggeleng kuat.
Yoona menghela nafas kecil, ia memeluk lelaki bertubuh besar itu dengan erat. Jujur gadis itu sangat bingung sebenarnya apa yang ada dihati Sehun? Emas? Permata? Batu mulia? Mutiara? Yoona tidak tau apa isinya.
Yoona bisa merasakan jika pelukan Sehun semakin erat. Lelaki itu seolah tidak mau kehilangan dirinya. Sehun juga menenggelamkan kepalanya dipundak Yoona. ia merasa tenang ketika disamping Yoona. lelaki itu tidak mau Yoona pergi meninggalkannya.
Karena Sehun sadar jika Yoona seperti heroin. Yang bisa menenangkannya,
**~~**~~**
Dua orang lelaki itu mengaduh kesakitan karena sudut bibir mereka berdarah. Belum lagi tubuh mereka yang terasa sakit. Namun tidak dengan satu orang diantara mereka, lelaki bermarga Do itu hanya diam ketika ia melihat tindakan diluar batas yang dilakukan oleh kedua temannya.
“Apa itu tadi tidak keterlaluan?” tanya lelaki bernama Kyungsoo.
Kedua orang yang lebih tinggi darinya dan berstatus sebagai sahabatnya itu menoleh pada lelaki bermata bulat itu. Seorang sahabatnya berwajah imut mendecih dengan kalimat yang telah dilontarkan Kyungsoo.
“Ah.. Apakah kau mulai merasa kasihan padanya Kyungsoo-ah? Apa kau tidak berpikir jika idiot itu sudah berani dengan kita? Apa kau tidak merasa kesakitan dengan pukulan yang diberikan olehnya?” tanya Baekhyun.
Kyungsoo terdiam, ia memikirkan perkataan Baekhyun. Lelaki bermata bulat itu menggeleng, tidak. Ia tidak mungkin merasa kasihan pada Sehun. “Bukan itu maksudku, tapi pesta Yoona hancur ketika semua undangan–”
Kalimat yang Kyungsoo lontarkan terputus ketika seorang lelaki bertubuh besar menyelanya. “Kau tidak perlu memikirkan itu, lagi pula aku tau jika hari ini bukanlah ulang tahunnya.”
Kedua sahabatnya membelalak ketika mendengar penuturan lelaki bermarga Park itu. Baekhyun dan Kyungsoo menatap bergantian, tentu saja otak mereka telalu bingung dengan apa yang dikatakan oleh Chanyeol.
“Bagaimana bisa?” tanya mereka bersamaan.
Chanyeol memutar kedua bola matanya kesal, ia mengangkat bahunya acuh. Chanyeol memilih untuk tidak memberi tahu kenapa ia tau jika hari ini bukanlah hari ulang tahun Yoona. sebenarnya, Chanyeol maupun Yoona sudah saling mengenal sejak kecil. Selain itu, hari ulang tahun Yoona bukanlah tanggal 29 Mei tetapi tepat pada esok hari.
**~~**~~**
Terlihat dua orang tengah tidur dengan posisi terlentang menghadap ribuan bintang yang menampilkan sinarnya. Seorang gadis diantaranya memejamkan matanya erat dan merasakan nuansa alam saat di malam hari. Tangan porselen milik gadis itu menyentuh rerumputan yang sangat lembut.
Seorang lelaki yang terus bermain dengan jari tangannya sendiri. Seluruh perhatiannya terfokus pada jemari yang terkadang berbentuk seperti burung, domba, harimau, serigala, ah jangan lupa hewan kesukaannya yang satu itu. yakni gajah.
“Kau tau kenapa aku mengajakmu kesini Sehun-ah?”
Lelaki jenius itu berhenti memainkan jarinya sendiri. Ia bangkit dari posisi tidurnya dan mengubahnya menjadi duduk. Lelaki itu menggeleng sambil menatap Yoona dengan raut kebingungan.
Gadis cantik bak dewi itu membuka matanya perlahan, lalu ia memposisikan dirinya menjadi duduk bersila. Wajah cantik itu menatap raut kebingungan yang tercipta dari wajah tampan Sehun. Gadis bermarga Im itu tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya pada langit hitam yang sangat indah.
“Kau tau bintang itu?”
Sehun menatap kearah langit dan mengikuti arah yang Yoona tunjuk, sebuah bintang yang bersinar dengan sangat terang. Bintang yang Sehun yakini sering dipanggil Cyanosure. Sehun mengangguk mengerti,
“B-Bintang kutub hanya akan terlihat dengan sangat jelas ketika langit sedang gelap gulita dan tidak ada cahaya sedikitpun, bintang ini merupakan rasi ursa minor. Biasanya, terletak di dekat kutub langit utara, bintang ini merupakan jenis bintang yang paling terang karena ukurannya raksasa atau biasa disebut Maha raksasa berkelas Sprektum F7II atau F7Ib” ujar Sehun dengan logat kejeniusannya.
Yoona memutar kedua bola matanya kesal. Memang pantas jika Sehun disebut jenius, pertanyaan yang ia lontarkan saja dibalas dengan kalimat seorang ilmuwan. Gadis itu mendecih pelan, mungkin otak miliknya tidak cukup untuk mengerti bahasa angkasawan milik Sehun.
“Bukan itu maksudku,”
Sehun menatap Yoona dengan pandangan yang sulit diartikan. Pertanyaan yang dilontarkan oleh Yoona sangat berbeda dengan hukum newton tiga yakni hubungan aksi-reaksi. Bukankah Yoona tadi bertanya ‘Kau tau bintang itu?’ tentu saja Sehun akan menjawab sesuai hukum reaksi yang ia berikan. Dan Yoona justru menimpal ‘Bukan itu maksudku,’ siapa yang bodoh saat ini?
Helaan nafas dari bibir cherry milik Yoona terdengar masuk ke telinga Sehun. lelaki itu juga bisa melihat raut kesal dari wajah cantik milik Yoona.
“Aku menyukai bintang yang bersinar terang itu. Dark in my eyes light up in the sky. Kau pernah mendengarnya?”
Lelaki itu mengangguk tanda mengerti apa yang Yoona maksud. Hanya saja Sehun tidak mengerti apa makna dibalik peribahasa cantonese yang Yoona ucapkan. Pelajaran tentang bahasa sangat membosankan menurut Sehun. pelajaran itu mengandalkan ilmu tafsir dan bukan ilmu pasti.
Yoona menunjuk bintang yang bersinar itu. “Kau tau, aku hanya diam ketika eonniku meninggal karena penyakit yang dideritanya. Aku hanya diam ketika aku membenci seseorang, aku hanya diam ketika seluruh kegelapan memenuhi mataku. Namun, Bintang masih menunjukkan sinarnya dan langit masih menunjukkan sisi cerahnya. Aku mendapat cahaya dari satu titik diatas langit ketika semua terasa gelap”
Sehun mengangguk paham. Kini ia bisa mengerti apa itu filosofi cahaya bintang dan kegelapan dalam mata. Sehun merasa filosofi itu sangat cocok untuknya, ia menatap bintang yang indah itu. Yoona benar, kini seluruh kegelapan ada dimata Sehun, namun satu hal Sehun masih bisa merasakan satu titik cahaya dilangit yang menerangi matanya.
Sehun tau jika cemoohan dan hujatan itu adalah sebuah kegelapan sedangkan Ibunya, Jung Ahjumma adalah satu titik cahaya diatas langit itu. lelaki jenius itu tersenyum tipis. Lalu ia mengambil sebuah emas dibalik saku celananya.
Lelaki jenius itu menggenggam lingkaran emas itu dalam tangannya. Namun deringan handphone milik Yoona mengagetkannya,
“Pukul 00.00. hari ini tepat ulang tahunku Sehun-ah, sebenarnya pesta tadi bukanlah ulang tahunku.” Jujur Yoona.
Sehun cukup terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Yoona. lalu untuk apa Yoona membuat pesta pada tanggal 29? Kenapa tidak hari ini atau malam nanti? Lelaki itu mengendikan bahunya pelan lalu menyodorkan lingkaran emas pada gadis disampingnya.
“I-ini.. untukmu.. Saengil cukha h-hamnida.. Sehun senang, Sehun bahagia.” Ujarnya.
Yoona menatap Sehun terkejut, ia mengalihkan pandangannya ke cincin emas yang disodorkan oleh Sehun. sebuah cincin yang indah walau tanpa ada permata ataupun berlian. Cincin itu dihiasi oleh pantulan cahaya bulan yang membuatnya berkilauan.
“Apa kau membelinya? Seharusnya kau tidak perlu membelinya, bukankah kau tau jika kau harus membayar–”
Perkataan Yoona terputus ketika Sehun mendaratkan telunjuknya di bibir Yoona. lelaki penderita savant syndrome itu tersenyum tipis lalu menggeleng. “Bukan.. Eomma Sehun meninggal.. Sehun diberi… tapi tidak memakainya” ujarnya dengan logat idiotnya.
Yoona menerima cincin itu dengan senang hati lalu ia memakainya di jari manisnya. Gadis itu tersenyum ketika melihat emas bundar itu melekat di jari manisnya.
“Gomawo… Kau sahabat idiotku yang aneh.” Ujar Yoona sambil memeluk Sehun dari arah samping.
Yoona memeluk erat Sehun, begitu juga dengan Sehun yang membalas pelukan hangat milik Yoona. lelaki jenius itu bisa merasakan kesejukan dalam hatinya ketika ia berada disaping Yoona, namun ada suatu hal yang aneh dalam dadanya.
Sehun menatap wajah cantik bak dewi dari arah samping. Detak jantung milik Sehun mulai bergetar tak karuan. Lelaki itu kembali menyentuhdadanya dan memukulnya pelan. Sehun merasa sesak,
Yoona menatap Sehun yang tiba-tiba memukul dadanya sendiri. Gadis itu juga bisa melihat jika wajah Sehun memucat, peluh juga mengalir di dahi milik Sehun.
“Waeyo?” tanya Yoona.
Sehun menggeleng sambil tersenyum tipis. Mungkin besok ia harus memeriksakan kondisi jantungnya. Biasanya, Sehun bisa memprediksi penyakit yang ada di tubuhnya. Namun ini aneh, Sehun tidak pernah menderita penyakit jantung.
Lalu apa yang terjadi dengan Sehun?
END For This Series.
Aku nggak tau ini ff itu Series apa chapter. Yang jelas series berkelanjutan/?
Untuk kali ini, author harap kalian meninggalkan jejak. Buat penyemangat author aja, karena author lagi stuck ide dan kena Writer’s block! Belum lagi Bad Mood! Oh my godness.
May I password for next series?
Terima kasih udah mau baca.

106 thoughts on “(Freelance) Series: Don’t Call Me Idiot : Yoona’s Birthday

  1. Duh kok sehun dibully lg sih, sehun jg terlalu baik orgnya. Niat yoona yg awalnya baik jadi ancur gara2 chanyeol dkk.
    Chap ini termasuk chap yg aku baca ulang2 loh..
    Pengen deh org2 pada ngertiin sehun, ga nganggep sehun monster lg..
    Keren bgt deh ni cerita thorr ..

  2. sehun kaya anak tiri di jahatin dirumah malahan hyung sama bpknya aja gak mau ngakui. Sehun kuat sehun kuat. Yeay. Niat yoona baik tapi gegara big gangsterjadi gagal kan. Coba berjln lncar apa jdnya yaah. Cerita tuh seru-seru sukaaaaa. Neomu choaa ahahha

  3. Ff yg awalnya malas aku baca eh akhirnya baca jugak kan -_-
    Sori nih bru ngecomment kini,tapi ff ny bagus kyak ada asin* nya gitu/? ,Berasa kayak baca novel melow aj dah hiks..
    Pokoknya semangat tetap bekarya
    See you…jalja

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s