Bab II His Wedding Organizer

His Wedding22 copy

His Wedding Organizer

Prolog. Bab I. Bab II

            Tek, tek

            Ia lagi-lagi membenturkan bolpointnya ke Laptop dihadapannya, tangan kanannya ia gunakan untuk menopang dagunya. Ia menghela nafas, bodoh!. Pikirannya masih menguar pada kejadian kemarin malam, seharusnya ia tidak bersikap pengecut, seharusnya ia bisa menghadapi situasi malam itu, seharusnya- dan seharusnya.

            “Cale..” Darahnya berdesir, meskipun suara itu begitu pelan namun kedua telinganya mampu mendengarnya dengan jelas. Yoona masih mematung, entah mengapa seluruh badanya seolah membeku. Sedangkan matanya sesekali memejam, ia kehilangan kendali. Sampai akhirnya Yoona merasa kakinya melemas saat melihat sepasang sepatu hitam mengkilap ada dihadapannya. Ia mendongak, pria dihadapannya menarik kedua ujung bibirnya ia tersenyum.

            “Ternyata benar ini kau..” Yoona mengangguk canggung, tidak ia harus pergi. Ia memejamkan mata sebentar memikirkan sebuah ide kemudian. Ting!

Yoona merogoh kedalam tasnya berharap menemukan sebuah benda yang ada dalam idenya. Yes!, Yoona menjerit dalam hati. Kemudian meletakkan handphonenya ditelinga.

            “Oh Ya..” sahutnya yang entah berbicara pada siapa, ia melirik pria dihadapannya takut-takut. Benar saja pria itu memandang aneh kearahnya. “Aku ada di halaman belakang Sayang, baiklah. Ia aku akan kesana”

            Aku sudah gila, sahutnya dalam hati. Kemudian ia menekan sembarang layar handphonenya, lalu memandang pria dihadapannya. “Aku harus pergi, senang bertemu denganmu”

            Satu, dua, tiga, Yoona membalikkan badannya. Ia menarik kakinya yang masih terasa berat, sampai akhirnya sebuah genggaman hangat dirasakan dipergelangan tangannya. “Kau lupa sesuatu..” pria itu berucap.

            Kemudian merogoh saku celananya dan terdengar suara dentingan lonceng kecil yang membuat dahi Yoona mengerut. Lalu pria itu memasangkan sebuah gelang manis yang begitu Yoona kenal, gelang miliknya dulu. Gelang yang pernah ia buang saat dia dan pria itu harus berpisah. “Itu milikmu, tidak seharusnya benda itu berada ditangan orang lain..”

            Genggaman pria itu terlepas, ia tersenyum manis sebelum akhirnya ia yang pergi meninggalkan Yoona yang masih diam memandang gelang ditangannya.

His Wedding Organizer

            Yoona mendesah, ia menggeleng. Kemudian memandang gelang ditangannya. Ia sangat ingat gelang itu. Gelang favoritnya saat ia masih bersama pria itu. kemudian ia menyandarkan tubuhnya bangkunya, tiba-tiba ingatan tentang eskpresi khawatir Kim terlintas dibenaknya.

            “Astaga Yoona..” suhu dingin yang sejak tadi dia rasakan menghilang seketika saat kedua lengan kekar melingkar ditubuhnya menariknya kedalam pelukan pria berdada bidang itu. Yoona sesekali menyesap aroma parfum yang digunakan pria itu. “Aku mencarimu sejak tadi Yoona, kau membuatku khawatir”

            Pria itu mengeratkan pelukannya, membuat Yoona semakin membenamkan wajahnya di dada bidang itu. “Kim, kau membuatku se-sak”

            “Jangan lakukan itu lagi Yoona,” Pria itu mengabaikan ucapan Yoona. Membuat wanita itu mendesah kesal. “Apa?”

            “Membuatku khawatir..”

His Wedding Organizer

            “Aku tau Yoona, aku memang tampan” Hyaa, sejak kapan dia ada disini? Batin Yoona. Pria yang baru saja muncul di benaknya kini sudah berdiri dihadapannya dengan gaya yang casual dan rambut ikal yang sudah di tata sedemikian rupa. “Kau! Aish bisa tidak, kau berhenti membuatku jantungan sekali saja Kim”

            “Hei- salahmu sendiri, sejak tadi aku melihatmu tersenyum sendiri dan menyebut namaku” jelas pria itu. Yoona mendelik, ia mencubit lengan pria itu. “Aw- sakit Yoon!”

            “Jadi apa yang kau lakukan disini Kim?” Pria itu menghempaskan tubuhnya ke sofa dan mengangkat kakinya ke meja. Yoona mengelus dadanya, huh sabar Yoona. “Bukankah semalam kau memintaku mengantarmu ke Nami? Dan sekarang kau dengan wajah bodohmu itu malah bertanya aku sedang apa? Ya Tuhan, betapa beruntungnya kau memiliki aku yang sungguh penyabar”

            “Ayo kita berangkat..” akhir Yoona. Ia malas meladeni ucapan ngaco temannya itu.

His Wedding Organizer

“Kurasa disini cocok,” gumam Yoona. Ia memandang gulungan ombak dihadapannya dari tempatnya berdiri. Kemudian ia mengambil bolpoint dan note untuk mencatat dan menggambar apa-apa saja yang diperlukannya. Ia tersenyum, dan semoga saja model itu puas. Batinnya.

            Kemudian ia melangkah mendekati bibir pantai, membiarkan gulungan ombak kecil mengenai kakinya. Dari kejauhan ada beberapa pasangan muda-mudi yang sedang bermain di dalam air. Ia lag-lagi tersenyum, sejak setengah jam tiba di Nami. Kim, pria itu sudah menghilang entah kemana. Pandangannya lurus kedepan hingga ia tidak memperhatikan langkahnya sampai akhirnya..

            “Aww-” Yoona memekik kencang, tubuhnya terduduk karna kakinya menginjak sesuatu. Mata rusanya membulat saat melihat cairan berwarna merah membuat pasir disekitarnya ikut berwarna merah. Pelan Yoona menarik kaki kanannya yang terluka, ditelapak kakinya ada sebuah pecahan kerang yang menancap cukup dalam. Yoona ingin menangis tapi tidak ada orang disekitarnya. Ya Tuhan, ini perih sekali. Yoona menyeka air matanya sendiri. Ia perlahan berdiri namun terjatuh lagi, hingga ia mencoba berdiri sekali lagi dan kehilangan keseimbangan sampai sebuah tangan mendarat di pinggangnya.

            “Kakimu terluka cukup parah..” Deg! Yoona mengenal suara itu. tapi ia tidak berani menoleh, ia takut dugaannya memang benar. “Kau baik-baik saja Cale?”

            Dan ketika nama itu disebut, kaki Yoona sungguh melemas hingga ia tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Membuat si pemilik suara itu menggendongnya ala bridal. Tuhan aku mau mati saja sekarang, pinta Yoona dalam hati. Ia memejamkan matanya, bibirnya ia tutup rapat-rapat hingga akhirnya ia dibawa ke sebuah gazebo pinggir pantai.

            “Tunggu sebentar..” si pemilik suara itu berlari meninggalkan Yoona dan 5 menit kemudian kembali dengan kotak P3K di tangannya. Yoona dapat melihat jika pria itu tidak memakai kaos atasan sehingga kulitnya yang putih begitu berbinar. Butiran keringat di wajah pria itu membuat Yoona menelan ludah berkali-kali. Dengan lihai, Yoona melihat pria itu mencabut pecahan karang yang masih menancap di telapak kakinya. “Arrgh-”

            Yoona menjerit sembari menggigit kerah kemejanya, pria itu melirik kearah Yoona kemudian tersenyum tipis. Saat pria itu membalutkan perban ke kaki Yoona, wanita itu menghentikannya sejenak. “Ada apa Cale?”

            Wajah Yoona pucat, pria itu masih ingat jika wanita dihadapannya itu memang takut dengan darah, bahkan darahnya sendiri. “Jangan ditekan, kau tau itu”

            Pria itu mengangguk, “Oh, Baiklah..” kemudian ia melihat pergelangan tangan Yoona, gelang itu masih dikenakan gadis itu. ia semakin tersenyum manis. “Selesai!”

            Yoona memperhatikan kakinya yang dibalut perban, kemudian melirik pria yang duduk didepannya. “Apa yang kau lakukan disini?”

            “Menikmati Nami, Kau?” tanya pria itu balik. “Aku sedang men-survey tempat untuk pernikahan klienku. Dan dia memilih disini” jelas Yoona. Tanpa disadari Yoona, iris pria itu menggelap. Raut wajahnya berubah sendu, “Jadi kau sekarang sudah mendapatkan impianmu?”

            Yoona mengangguk, “Tentu saja.. dan astaga, aku harus pergi”

Yoona hendak berdiri, namun tangan pria itu menahannya. “Lukamu cukup parah Cale, aku akan membantumu, bagaimana?”

            Ia menggeleng, cukup. Dan ia berfikir ini harus menjadi pertemuannya yang terakhir dengan pria itu. “Tidak terima kasih, tapi aku masih sanggup sendiri”

His Wedding Organizer

            Ia memandang tubuh Yoona yang semakin menghilang dari padangannya. Tadi saat dia sedang berjalan menikmati suasana Nami, ia melihat sosok yang ia kenal. Dan ternyata benar wanita itu, tanpa ba-bi-bu ia segera menolong wanita itu dan menggendongnya ala bridal. Senyumnya mengembang mengingat hal itu. Drrt-Drrt

            Ia merogoh boxernya, dilayar handphonenya terpampang foto wanita yang sangat cantik. Senyumnya masih mengembang. “Hallo,”

            “Hei sayang, kau dimana?” suara nyaring itu menyambutnya di sebrang. Ia terkekeh sembari mengelus telinganya yang pekak. “Aku di Nami Steph, aku akan kembali kerumah sore ini. Dan aku akan menjemputmu besok, bukan begitu?”

            “Tentu saja, lagipula kau ini. Kenapa tidak langsung saja pulang ke rumah. Malah memilih Nami untuk menginap?” cecar wanita itu. “Sudahlah, sampai ketemu besok Steph”

“Huh, kau ini. Baiklah I Love You” Flip! Ia memutuskan percakapan singkat itu. kemudian ia merebahkan tubuhnya menatap langit-langit gazebo meski matahari mulai tenggelam.

            “Senang bisa melihatmu lagi Calista..”

His Wedding Organizer

            “Bagaimana bisa? Kau ini apa jalan tidak memakai mata huh?” Yoona mendengus, benar dugaannya. Pasti si pria jangkung itu akan mengintograsinya seperti seorang tersangka. “Kau sudah menanyakan itu ribuan kali Kim, dan akupun sudah menjawabnya. Haruskah aku memaksamu menghentikan mobil dan aku kembali kerumah dengan taxi?” ancam Yoona. Pria itu langsung menutup mulutnya rapat-rapat.

.

.

.

.

            “Apa yang terjadi? Yoona kakimu?” tanya Yuri menatap Yoona dan Kim bergantian. Yoona tersenyum tipis, Kim masih merangkulnya. “Unnie, dimana Christine dan Calista?”

            “Dia sudah tidur dikamarnya Yoona” jawab Yuri. Yoona mengangguk, melepaskan rangkulan Kim dibahunya. “Aku bisa sendiri Kim..”

            Yoona melangkah dengan kaki pincang menuju kamarnya. Langkahnya terhenti saat melihat pintu berwarna merah muda masih terbuka. Ia melangkah menuju pintu itu dan melihat dua orang gadis mungil yang tengah tertidur lelap di kasurnya. Senyum terpeta di wajahnya. Perlahan ia melangkah mendekati gadis kecil itu dan duduk di sebelahnya.

            “Christine..” ia membelai surai pirang gadis itu. Kemudian mengecup dahi gadis itu, lalu ia melangkah pada gadis yang memakai piyama rilakkuma disebelahnya. Ia membelai wajah tanpa berdoa itu. “Calista..”

Sedetik kemudian ia terisak. Yuri menghela nafas melihat Yoona menangis, ia tau sangatlah berat jika ia berada di posisi Yoona. Bahkan ia tetap memilih disamping adiknya meski ayahnya sangat menentangnya.

            “Calista! Kau ini sudah sangat membuat malu Appa!” Plak. Aku dan Umma hanya bisa menangis melihat Yoona di hajar oleh Appa. Yoona hanya diam meski Appa terus saja memarahinya. “Katakan siapa yang melakukannya? Siapa?!”

            “Dia sudah pergi Appa, aku tidak menemukan dimana dia berada. Dia sudah meninggalkan aku” ucap Yoona. Aku melihat kedua tangannya terkepal. “Aku tidak bisa membiarkanmu mempermalukan keluargaku. Lebih baik kembali ke Korea sekarang!!”

            “Aku akan melakukannya..” Yoona berjalan menuju ke kamarnya. Setengah jam kemudian ia kembali sambil menarik koper besarnya. Aku menggeleng. Tidak

            “Tidak Appa, kau tidak bisa membiarkannya menanggung ini sendiri. Yoona tidak boleh sendiri” aku masuk ke dalam kamarku dan memasukkan bajuku ke dalam koper. Kemudian aku menyusul Yoona. Sejak saat itu kami berdua mulai hidup bersama di Korea, membangun semuanya dari awal. Dan aku akan berjanji mendampinginya apapun yang terjadi

            Yuri menghapus air matanya kemudian melangkah mendekati Yoona. Di belai lembut bahu adiknya itu. Yoona mendongak menatap Yuri kemudian tersenyum tipis. “Aku bertemu dengannya Unnie-ya

            Yuri agak menghentikkan gerakannya, Dia yang dimaksud Yoona mungkin sama dengan yang dipikirkannya. Namun ia berpura-pura tidak paham. “Dia siapa maksudmu Yoona?”

            “Ayah dari Christine dan Calista” Ucap Yoona.

His Wedding Organizer

            Pria itu memandang bulan yang berbentuk lingkaran penuh atau mereka sering menyebutnya Bulan Purnama. Pikirannya kembali pada wanita yang ditemuinya tadi siang. Wanita yang dulu mengisi hari-harinya selama 2 tahun yang lalu. Dia sangat bersyukur, wanita itu masih sama dengan postur tubuh dan suara lembutnya yang khas. Tapi ada satu yang dia sadari telah berubah, wanita itu selalu menunjukkan senyum yang dia tunjukkan saat terakhir kali mereka bertemu.

            Aku mengeratkan baju hangatku dan berjalan menembus dinginnya Kota Paris. Di sudut jalan, tepatnya disebuah taman aku melihat wanita-ku sedang duduk manis dan berusaha melawan hawa dingin yang mencoba membunuhnya. Aku mempercepat langkahku, ia menoleh saat aku mendekat padanya. “Hei-”

            “Kau sudah lama menunggu?” potongku. Ia mencoba mengangguk meski tubuhnya bergetar. Aku mendudukkan diriku disebelahnya. “Kau kedinginan?”

            “Jangan mencoba mengalihkannya, aku tau kau punya tujuan meminta bertemu denganku malam ini” ucapnya tegas. Aku tersenyum tipis, wanita-ku memang seperti ini. Sangat to the point dan tidak suka bertele-tele. “Kita berdua sama-sama tau Cale, kita tidak akan pernah bisa bersama”

            Ia memandangku dengan tatapan sendunya. Oh tidak, aku pasti menyakitinya. Ia tersenyum, namun senyum yang tidak pernah ia tunjukkan padaku selama ini.

            “Jadi inilah akhirnya?” Pedih. Aku merasakan seolah ada ribuan pisau menusuk jantungku dan mencoba merobeknya. Tidak! Ini bukan mauku Cale. Ia masih menatapku, yang bisa kulakukan hanya diam. Aku ingin memeluk tubuh mungilnya, membawanya dalam kehangatan namun aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkannya tersakiti lebih lagi.

            “Ini sudah limitku Cale. Aku tidak bisa berjalan berdampingan denganmu lagi. Kisah kita selesai sampai disini” bohong. Ia hanya diam, suasana diantara kami mendadak hening beberapa menit. Kemudian kudengar ia menghela nafas. “Senang pernah bersama denganmu Drew”

            Kami berjabat tangan, berpisah dengan baik-baik. Ia tersenyum meski aku tau itu bukan senyum dari hatinya. Bukankah setiap orang pasti mengalami hal ini?

            “Kau melamun?” ia menoleh dan mendapati wanita berambut pirang berdiri didepan pintu kamarnya. Wanita itu melangkah masuk ke dalam kamarnya. “Ceritakan padaku!”

            “Jessica Noona,” rengeknya. Wanita –Jessica Oh- itu mendengus. Menatap adik laki-lakinya yang mencoba mengalihkan pembicaraan. “Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu Oh Sehun?”

 

His Wedding Organizer

 

            “You an asshole! Aish!” Jessica memekik kesal sembari memukul bahu Sehun kesal, ia tidak menyangka adiknya akan menjadi pria bejat seperti itu. “Hei- sakit. Noona hentikan, aww-”

            “Hentikan katamu? Jadi kau berpacaran dengan Calista lalu memutuskannya setelah kalian melakukan hubungan itu? Kau itu Brengsek Oh Sehun!” Jessica terus saja memekik dan memukulinya. Sehun meringis. “calm woman”

            “she’s pregnant?” Sehun hanya diam, seingatnya saat mereka melakukan hal itu, wanitanya sedang dalam masa subur. Tapi saat pertemuan terakhir mereka, wanita itu tidak menyinggung soal hamil atau apapun tu. “isn’t she?

            “I don’t know” jawab Sehun.

            “liar” ketus Jessica. Ia mendorong bahu Sehun sehingga pria itu terpental membentur sofa. Sehun mendengus kesal, “Apa kau juga sekasar ini pada Kris Hyung?”

            “Nope, aku bersikap seperti ini hanya pada asshole

            Raut wajah Sehun berubah dingin. “Tapi aku jujur Noona, ia tidak mengatakan apapun bahkan dipertemuan terakhir kami

His Wedding Organizer

            Yoona mendongak menatap langit-langit ruang kerjanya, Jika Drew ada disini. Itu berarti aku harus membatasi intensitasku keluar rumah selain ke Butik. Ia mengangguk kemudian memejamkan matanya. Seandainya hari ini ia tidak memiliki janji dengan si model terkenal itu, ia memilih menghabiskan waktunya bersama gadis kembar dirumahnya dan menonton animasi frozen. Untung saja ruangannya itu berlapis kaca, jadi dia bisa melihat jika ada tamu yang datang.

            Ting! Bel pintu berbunyi dan pintu terbuka, tampak Soo Young masuk dengan tangan penuh dengan banyak bahan pakaian. “Sibuk sekali dirimu Soo”

            “Jika kau berdiri disana dan hanya meledekku, lebih baik tutup mulutmu Yoon!” Yoona menahan tawanya dan melangkah menuju Soo Young dan membantunya. “Apa ini?”

            “Pesanan Cho Ahjumma, kau taukan?” ah ya. Yoona hampir melupakan pernikahan sepupunya minggu depan, untung saja Soo Young bisa diandalkan, bayangkan jika tidak ada Soo Young, mungkin ia akan sangat kerepotan. “Coba letakkan ini di manekin sebelah sana, aku ingin melihatnya”

            Soo Young mengangguk, dan mulai memakaikan manekin itu gaun setengah jadi. Sementara Yoona menyusun beberapa berkas untuk meetingnya besok. Kemudian ia menuju manekin yang sudah di pakaikan gaun oleh Soo Young. “Tidak, ini harusnya tidak seperti ini”

            Ia menarik sedikit bagian samping gaun itu dan mengangkatnya, kemudian meletakkan beberapa jarum pentul pada bagian gaun yang diangkat tadi. Kemudian ia memutar langkah ke arah kiri, menarik belahan baju yang terlihat terlalu sensual dimatanya. Ia memotong sedikit bagian leher gaun sehingga membentuk huruf O sempurna. Yoona tersenyum manis.

            Ting! Bel pintu kembali berbunyi, ia menoleh mendapati seorang wanita dengan kaca mata hitam dikenakannya masuk kedalam butik. “Selamat dat-”

            Ucapannya terhenti ketika melihat sosok jangkung dibelakang wanita itu, meski mengenakan kaca mata Yoona yakin dia adalah.. dengan cepat ia membalik tubuhnya dan berjalan menuju ruangannya, namun. “Hei Im Yoona-ssi

            Yoona sedikit mengumpat dan menghentikkan langkahnya. Terdengar suara sepatu wanita itu menghampirinya. “Im Yoona-ssi. Sesuai dengan janji kita minggu yang lalu. Aku datang bersama calon suamiku. Aku sudah membatalkan…”

            Yoona membalikkan tubuhnya menghiraukan ucapan wanita itu, matanya menangkap sosok jangkung yang masih berdiri di depan pintu. Calon apa? “Hei kau mendengarku tidak?”

            “Tentu saja, aku mendengarmu Stephanie-ssi. Jadi inikah calon suamimu itu?” Yoona tersenyum melangkah mendekati pria yang sama terkejut dengan dirinya. Ia mengulurkan tangan memulai perkenalan. “Saya Im Yoona, WO yang akan menangani pernikahan kalian”

            Pria itu melepaskan kaca matanya dan kini keduanya saling berpandangan. Pria itu membalas jabatan tangan Yoona. “Aku Sehun, Oh Sehun. Senang bertemu lagi denganmu Im Yoona-ssi

            Apa yang dikatakannya? Bertemu lagi? Yoona menoleh kearah Stephanie yang sepertinya mengabaikan perkenalan mereka –Yoona & Sehun- memilih berjalan mengamati butik milik Yoona yang dipenuhi dengan berbagai desain gaun pengantin. “Sehun-ah, menurutmu gaun seperti apa yang pantas aku gunakan pada Pernikahan kita nanti?”

            Yoona memilih melangkah mundur meski tahu tatapan pria itu masih mengikutinya. “Apapun yang kau gunakan, kau pasti akan sangat cantik Steph”

            Damn! Yoona hampir saja meludah saat mendengar ucapan Oh Sehun memuji Stephanie, bagaimana bisa pria itu masih menatapnya sedangkan dengan manis ia menjawab ucapan calon istrinya?. Terserah. Yoona memilih kembali ke ruangannya, mengambil beberapa desain yang baru saja ia buat kemarin. kemudian mendapati hanya Sehun -agaknya ia sangat susah jika memanggil pria itu dengan nama Sehun- duduk di sofa sambil membaca majalah. “Dimana Stephanie-ssi? Aku ingin menunjukkan beberapa gaun yang baru saja dibuat”.

His Wedding Organizer

            “Bagaimana bisa?” Yoona menunduk menatap Sehun yang duduk depannya. Dia merasa telinganya memang kurang beres belakangan hari ini. Sehingga, ia perlu mencermati beberapa kali apa yang diucapkan orang lain padanya. “Apa?”

            “Bagaimana bisa kau menjadi Wedding Organizer pernikahan mantan kekasihmu sendiri?” kali ini runtuh sudah semuanya. Saat Sehun menekankan kata mantan kekasih seolah-olah ia keberatan jika Yoona yang mengurus pernikahannya.

            “Oh Sehun-ssi apa yang kau bicarakan? Lebih baik aku menc-”

            “Jangan berpura-pura bodoh Calista!” pekik Sehun. Ekor mata Yoona dapat menangkap jika Soo Young keluar dari ruangannya saat mendengar pekikan pria itu. Yoona melambaikan tangannya menyuruh tidak ikut campur. Kemudian Soo Young mengangguk dan kembali keruangannya. “Atau aku bisa memanggilmu Im Yoona”

            “Sehun-ssi, jangan seperti ini. Kita tidak saling mengenal” ucap Yoona tegas. Sehun berdiri melempar majalah yang sedari tadi dipegangnya. Menatap wanita dihadapannya seolah ia siap menghunus jantung wanita itu dan merobeknya. “Jadi kau merubah seluruh identitasmu. Pantas aku tidak pernah menemukan dirimu sejak saat itu”

            Menemukan? Dia mencariku? Yoona menggeleng mencoba tidak terpengaruh dengan ucapan Sehun. Yoona melangkah mundur saat Sehun mendekat padanya, ia sungguh berharap saat ini siapapun datang, dan menghentikan pria gila dihadapannya ini.

            “Hanya satu yang ingin aku tanyakan padamu Yoona” Sehun melihat raut wajah Yoona yang bingung, ia tersenyum tipis. “mungkin aku bertanya pada orang yang salah. Jadi Calista, apa yang ingin kau katakan terakhir saat kita bertemu?”

            Yoona mencoba menerawang. Ia mengingat memori-memori yang dulu mati-matian ia lupakan.

            “Tidak mungkin..” aku menangis menatap test pack ditanganku yang menunjukkan garis dua. Aku tidak mungkin hamil, bagaimana bisa? Bahkan aku masih sangat muda. Aku harus memberitahukan ini padanya. aku mengambil handphone dan mendapati sebuah pesan.

 

            Temui aku di taman dekat rumahmu Cale,

 

            Aku tersenyum manis dan mengetikkan balasan pesanku segera. Ia memang benar-benar memiliki alarm ketika aku dalam keadaan sulit.

 

            Baiklah Tuan Oh, aku juga ingin membicarakan sesuatu padamu. Jangan penasaran

 

            Kemudian aku mengambil handukku dan segera bersiap-siap menemuinya.

            “Are you pregnant?” tanya Sehun blak-blakan. Membuat Yoona sontak melotot kearahnya. Sehun curiga melihat tingkah Yoona. “Are you pregnant Yoona-ssi?” ulangnya.

            “Apa yang kau katakan aku tid-“

            Ting! Pintu butik kembali terbuka.

“Umma..”

            Mereka berdua menoleh pada dua gadis kecil yang memiliki wajah serupa. Sehun menatap Yoona yang sedang menggigit bibirnya gelisah. “Mereka..?”

Cut!

Sory for late post darl. hope you’ll like it.

See ya!

107 thoughts on “Bab II His Wedding Organizer

  1. Jadi dulu yo0nhun mntan kekasih n skarang yo0ngNie punya anak ma hunpPa tp malah mau nikah ma fany unN
    dichap ini sdikit dbuat bingun cos gak ada pmbeda buat masa kini n flashbacknya . .
    Ijin baca next chap nya unN

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s