Confession of a Friend

confessionofafriend

A Confession of a Friend

A Fanfiction by Felicia Rena

.

Casts :

Im Yoon Ah | Zhang Yi Xing (Lay)

Rating : PG 13+

Genre : Friendship, Hurt

Length : Oneshoot

Disclaimer :

I do not own anything except storyline. This story is pure fiction. All casts belongs to God.

Storyline and poster by Felicia Rena

Author’s Note : 

FF ini sudah pernah di publish di blog pribadiku dengan cast LuYoon dan judul yang berbeda. FF ini terinspirasi dari lagu 2AM yang berjudul “A Friend’s Confession” (Confession of a Friend). FF ini juga sudah melewati sedikit perbaikan dari versi originalnya.

Hope you’ll enjoy this fanfic ^^

Please don’t be plagiat

.

You hold my hand and tell me you only have me

Keeping me as a friend

you say it’s a blessing

Whenever you say let’s never change

I had to push my feelings down

(A Confession of a Friend – 2AM)

.

Seorang laki-laki tampak berlari ditengah keramaian kota Seoul di malam hari. Beberapa kali dia menabrak pejalan kaki namun dia tidak berhenti bahkan untuk sekedar meminta maaf. Pikirannya hanya dipenuhi kecemasan pada seseorang. Seorang gadis yang sudah merebut hatinya sejak beberapa tahun lalu.

“Yoona-ya, dimana kau?” Lelaki tersebut mulai tampak frustasi. Rasanya dia sudah berlari berkeliling ke beberapa tempat mencari gadis bernama Yoona itu namun belum mendapatkan hasil apapun.

Ketika lelaki tersebut berlari melewati taman kota, matanya menangkap sosok yang sejak tadi dicarinya.  Seorang gadis duduk di salah satu bangku taman sambil menatap lurus ke arah kolam di tengah taman. Perasaan lega menjalar ke seluruh tubuh lelaki itu setelah memastikan bahwa gadis itu memang orang yang sedang dicarinya.

Lelaki itu berjalan mendekati gadis yang sepertinya tidak menyadari kehadiran orang lain di dekatnya. Gadis itu masih menatap kosong ke arah kolam. Sepertinya dia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Yoona-ya.” Lelaki itu memanggil nama si gadis.

Gadis yang dipanggil Yoona itu menoleh dan tampak sedikit terkejut melihat kehadiran seorang lelaki disebelahnya. “Lay-ah!”

“Apa yang kau lakukan disini? Apa kau tidak tahu kalau eomma-mu sangat mengkhawatirkanmu? Sudah berapa lama kau berada disini?” tanya Lay.

“Sejak pukul satu,” jawab Yoona pelan yang lebih menyerupai bisikan.

Lay mengecek jam tangannya. Sekarang sudah hampir pukul setengah tujuh. Jadi Yoona sudah berada disini selama itu?

“Kenapa kau tidak mengangkat telepon dari eomma-mu? Dia sangat panik dan mengira terjadi sesuatu padamu sampai eomma-ku harus menenangkannya,” kata Lay.

Rumah Lay dan Yoona memang bersebelahan. Letak rumah mereka yang dekat itulah yang membuat Yoona dan Lay akhirnya bersahabat sejak mereka masih kecil. Selain itu, hubungan keluarga mereka juga sudah sangat dekat.

Mianhae.” Hanya itu yang diucapkan oleh Yoona.

Lay mengernyit bingung ke arah Yoona. Gadis itu nampak tidak terlihat seperti biasanya. Yoona yang dikenal Lay adalah gadis yang ceria dan mendekati hyperactive. Yoona hampir tidak pernah berwajah murung seperti sekarang ini.

“Kau ini sebenarnya menunggu siapa?” tanya Lay walaupun sebenarnya dia sudah mengetahui jawabannya.

“Kris,” jawab Yoona.

Dugaan Lay benar. Yoona pasti sedang menunggu kekasihnya, Kris. Lelaki itu tahu benar bahwa sudah hampir setahun ini Yoona menjalin hubungan dengan seorang lelaki bernama Kris. Well, sebenarnya hubungan mereka lebih karena kedua orangtua Yoona dan Kris menjodohkan anak-anak mereka. Suatu hal yang konyol menurut Lay. Namun toh nyatanya Yoona memang mencintai Kris, walaupun lelaki itu tidak terlihat membalas perasaan Yoona bahkan sering mengecewakan gadis itu.

“Kalian berjanji untuk bertemu disini?” tanya Lay lagi yang dijawab dengan anggukan oleh Yoona.

“Dan dia belum datang sampai sekarang?” Lay menatap Yoona tidak percaya. Mereka berjanji untuk bertemu sejak lebih dari lima jam yang lalu dan Yoona masih tetap menunggu lelaki itu sampai sekarang?

“Dia pasti datang,” ucap Yoona.

“Sekarang sudah hampir pukul tujuh, Yoona-ya. Kenapa kau berpikir bahwa dia pasti datang?” Lay mulai terdengar frustasi.

“Dia tidak pernah mengingkari janjinya. Dia pasti datang,” sahut Yoona.

Tidak pernah mengingkari janji? Apa Yoona baru saja terbentur dan mengalami amnesia? Bahkan Lay saja mengingat berapa kali lelaki bernama Kris itu mengingkari janjinya pada Yoona. Misalnya saat Kris berjanji akan menjemput Yoona dari tempat kerjanya, dia tidak pernah muncul sampai akhirnya Lay yang berinisiatif untuk menjemput Yoona. Atau ketika Kris berkata bahwa dia akan menemani Yoona ke pesta pernikahan salah satu temannya. Yoona terus menunggu kedatangan Kris dan akhirnya harus menanggung malu karena lelaki itu tidak datang sementara Yoona sudah berkata pada teman-temannya bahwa kekasihnya akan datang.

Lay mengenal Kris dengan cukup baik. Mereka satu sekolah sejak SMP hingga di bangku kuliah. Awalnya Lay berteman dekat dengan Kris, tetapi sejak Kris menjalin hubungan dengan Yoona dan sering sekali menyakiti gadis itu, hubungan Lay dan Kris-pun mulai merenggang. Lay tahu bahwa Yoona bukanlah gadis yang dicintai oleh Kris. Lay tahu bahwa Kris mencintai orang lain. Tapi bagaimana mungkin Lay tega mengatakan hal itu jika dia sendiri tahu bahwa sahabatnya ini begitu mencintai Kris?

“Pulanglah sekarang, Yoong. Dia tidak akan datang,” bujuk Lay.

“Tidak. Dia pasti datang,” Yoona tetap bersikeras.

Lay menghela napas. Dia tidak tahu bagaimana caranya membujuk gadis itu supaya mau pulang. Lay tahu penantian gadis itu akan berakhir sia-sia. Lelaki brengsek itu tidak akan pernah muncul walaupun Yoona menunggunya selama seabad.

“Apakah kau sudah mencoba menghubunginya?” tanya Lay.

“Sudah, tetapi nomornya tidak aktif,” jawab Yoona.

Lihat kan? Sudah jelas bahwa Kris pasti menghindari Yoona. Hanya saja sepertinya Yoona memang sudah dibutakan oleh cinta.

Lay menatap sedih pada Yoona. Awalnya dia mengira Kris bisa memperlakukan Yoona dengan lebih baik. Sayangnya Lay harus merasakan kekecewaan yang teramat sangat. Kris justru membuat Yoona menangis, sesuatu yang sejak dulu selalu diusahakan oleh Lay supaya tidak pernah terjadi.

Sejak itu Lay berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga Yoona. Menjaga supaya airmata gadis itu tidak perlu lagi mengalir sia-sia demi Kris. Namun seringkali juga usahanya sia-sia karena Yoona nampak begitu mudah meneteskan airmatanya karena Kris.

Akhirnya Lay memutuskan untuk duduk disamping Yoona dan menemani gadis itu. Saat ini menurutnya hal itu lebih baik daripada harus meninggalkan Yoona sendiri disini. Setidaknya dengan berada di samping Yoona, Lay bisa menjaganya supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Yoona.

“Dia tidak akan datang, Yoong,” ulang Lay setelah beberapa menit keheningan menyelimuti mereka.

“Kau benar.” Jawaban Yoona mengangetkan Lay. “Dia tidak akan datang.”

Lay menoleh dengan heran pada Yoona. “Lalu kenapa kau masih disini?”

Yoona menatap sepatunya seolah benda itu adalah benda paling menarik di dunia. “Entahlah. Sebagian dari diriku masih tetap berharap bahwa dia akan datang. Walaupun aku tahu—semua penantianku sia-sia,” ujar Yoona dengan suara tercekat.

Lay melihat butiran airmata sudah mulai turun dari mata cantik Yoona tanpa bisa dicegah. Lelaki itu akhirnya menarik Yoona ke dalam pelukannya dan menyandarkan kepala gadis itu ke bahunya. Tangannya mengelus pundak Yoona dengan gestur menenangkan.

“Katakan saja semua perasaanmu, Yoong. Kau tahu benar bahwa aku selalu ada untukmu. Kau tahu bahwa kau selalu bisa menceritakan apapun padaku,” kata Lay.

“Aku lelah,” bisik Yoona dengan suara bergetar. “Sebenarnya aku sudah lelah dengan semua sikapnya padaku. Aku tahu dia tidak pernah mencintaiku.”

Lay hanya terdiam mendengarkan semua perkataan Yoona. Membiarkan gadis itu mencurahkan semua ganjalannya mungkin memang hal yang terbaik untuk saat ini. Yoona sudah terlalu lama memendam semuanya sendiri. Kali ini saja Lay ingin supaya Yoona membagi semuanya pada dirinya.

“Tapi—“ lanjut Yoona, kali ini diselingi dengan isak tangis. “Aku sangat mencintainya.”

Lay mengeratkan pelukannya pada Yoona, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di bahunya. Selama beberapa menit kedepan, Lay tetap diam dan memeluk Yoona. Sesekali tangannya akan menepuk atau mengelus lembut pundak Yoona sekedar untuk memberikan ketenangan pada gadis itu.

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah sudah lebih baik?” tanya Lay ketika Yoona sudah berhenti menangis. Yoona sudah duduk tegak, tetapi Lay belum melepaskan rangkulannya di pundak Yoona.

“Sudah jauh lebih baik. Gomawo, Lay-ah. Terima kasih karena kau selalu ada di sampingku. Kau adalah sahabat terbaik yang bisa kumiliki,” kata Yoona sambil tersenyum walaupun kedua matanya masih sembap.

Lay berusaha ikut tersenyum walaupun kata-kata Yoona tadi sedikit menohoknya. Yoona hanya menganggapnya sebagai sahabat. Sahabat terbaik yang bisa dimilikinya. Apakah selamanya arti dirinya tidak akan berubah lebih bagi Yoona?

“Lebih baik kita pulang sekarang. Bisa gawat kan kalau sampai eomma-mu lapor polisi?” ajak Lay, kali ini sambil tertawa kecil dan berdiri sambil mengulurkan tangan kanannya pada Yoona untuk membantunya berdiri.

Yoona tersenyum sambil menyambut uluran tangan Lay. Perasaannya sudah jadi lebih baik setelah mencurahkan seluruh isi hatinya pada Lay tadi. Hanya pada Lay-lah Yoona bisa menceritakan semuanya. Yoona benar-benar merasa beruntung memiliki Lay sebagai sahabat yang selalu ada disampingnya. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan sahabat seperti Lay.

Kajja. Kita pulang,” kata Yoona. “Tapi tolong jangan katakan pada eomma bahwa aku menunggu Kris disini sejak siang. Eomma pasti akan jadi sangat khawatir.”

Lay hanya mengangguk. Seperti biasanya, Yoona akan tetap melindungi Kris dan Lay terpaksa harus berbohong bersamanya. Walaupun merasa sedikit kesal, namun Lay akan tetap melakukan apapun demi Yoona. Salahkah jika dia terlalu mencintai gadis itu?

-A-Confession-of-a-Friend-

Keramaian kota Seoul memang tidak pernah padam. Walaupun waktu sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, pusat kota Seoul masih tetap bersinar. Jalanan kota masih tetap dipenuhi kendaraan yang berlalu-lalang. Bahkan pejalan kaki-pun masih tampak menyusuri trotoar.

Lay mengemudikan mobilnya menuju salah satu bar di tengah kota. Jika bukan karena undangan sahabat baiknya yang sedang berulangtahun, Lay tidak akan mau menginjakkan kaki di bar pada jam segini.

Setelah sampai di tempat tujuannya, Lay memarkir mobilnya di tempat parkir yang memajang sederet mobil-mobil mewah lainnya. Bar yang dikunjunginya ini memang salah satu tempat terkenal di Seoul. Karena itu tidak heran jika harga yang tertera termasuk golongan mahal dan hanya bisa dijangkau bagi mereka yang berduit.

Lay langsung mengernyitkan dahinya begitu memasuki bar. Sejak dulu Lay memang tidak suka pergi ke bar. Lampu sorot warna-warni yang ada disana terlalu terang dan menyakitkan mata bagi Lay. Lay kemudian berjalan masuk sambil melindungi kedua matanya dari sorotan lampu yang membuatnya pusing.

“Oi! Lay-ah!

Lay menoleh dan melihat kumpulan lelaki duduk di salah satu meja yang ada di sudut ruangan. Salah satu dari mereka melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. Lelaki itu bernama Luhan, yang hari ini merayakan ulangtahunnya yang ke-26.

“Luhan-ah! Saengil chukhahaeyo!” sapa Lay setelah mendekati Luhan dan menjabat tangan sahabatnya yang paling dekat itu.

Ya! Lay-ah! Kenapa kau lama sekali datangnya?” tanya Luhan sambil menepuk-nepuk pundak Lay dan mengisyaratkan pada lelaki itu supaya duduk di sebelahnya.

Mianhae. Aku tadi masih ada urusan dulu dan di jalan juga sempat macet tadi,” jawab Lay sambil duduk di samping Luhan.

“Lay-ah! Lama tidak berjumpa!” kata lelaki di sisi lain Lay.

“Kenapa kau jarang ikut kumpul bersama kami lagi?” tanya lelaki lain di seberang Lay.

Mianhae, Xiumin-ah, Tao-ya. Kalian selalu memilih waktu untuk berkumpul ketika aku sudah punya jadwal lain,” balas Lay sambil tertawa.

“Ah, apakah kau sekarang sudah mempunyai seorang kekasih sampai-sampai kau tidak memiliki waktu untuk kami lagi?” timpal lelaki yang duduk disebelah Xiumin sambil terkekeh.

Lay balas tertawa. “Bagaimana denganmu, Chen-ah? Apakah kau juga sudah mempunyai seorang kekasih?

Ya! Jangan malah balik bertanya!” sahut Chen sambil memasang wajah cemberut yang membuat Lay semakin tertawa.

Lay melihat ke sekelilingnya. Memang benar, sudah lama sekali dia tidak berkumpul bersama sahabat-sahabatnya ini. Mereka berenam sudah bersahabat sejak masih berada di sekolah menengah, kecuali Lay dan Luhan yang merupakan teman masa kecil.

Karena sudah bersama-sama selama kurang lebih sepuluh sampai sebelas tahun, tidak heran jika hubungan di anatara mereka sudah seperti saudara. Meskipun sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka akan meluangkan waktu setidaknya dua minggu sekali untuk berkumpul bersama seperti sekarang ini. Lay sendiri sekarang jarang hadir karena waktu yang ditentukan biasanya memang tidak mengijinkannya untuk bisa pergi.

Setelah menatap berkeliling, pandangan Lay tertuju pada seorang lelaki yang duduk disebelah Tao. Lelaki itu lebih banyak diam dan hanya tersenyum mendengar candaan dari teman-temannya. Lelaki itu sepertinya menyadari tatapan Lay karena berikutnya dia menatap Lay dengan tatapan yang sulit diartikan. Tidak ingin membuat atmosfir yang ada menjadi canggung, Lay memaksakan seulas senyum pada lelaki itu sebelum memalingkan wajahnya.

Lay memperhatikan ketika lelaki itu bangkit dari kursinya dan menggumamkan bahwa dia perlu ke kamar mandi sebentar. Selama beberapa saat, Lay bertarung dengan pikirannya apakah dia harus mengikuti lelaki itu atau tidak. Sekitar selang lima menit kemudian, Lay ikut bangkit berdiri dari kursinya.

“Lay-ah, kau mau kemana?” tanya Luhan yang baru saja menenggak satu gelas wine.

“Aku mau ke kamar mandi sebentar,” jawab Lay yang hanya dibalas anggukan oleh Luhan.

Lay memperhatikan yang lain tampaknya sudah mulai terbawa pengaruh dari wine yang mereka minum. Walaupun begitu, Lay tahu bahwa teman-temannya ini selalu tahu batas. Mereka tidak akan minum sampai mabuk berat, apalagi mengingat bahwa mereka harus pulang dengan kendaraan masing-masing.

Lay berjalan menuju kamar mandi. Berbeda dengan ruang utama bar yang ramai, suasana di dekat kamar mandi sangat sepi walaupun cahaya yang muncul masih tetap menyilaukan. Lay sudah berbelok di lorong menuju kamar mandi ketika lelaki tadi keluar dari kamar mandi. Untuk beberapa saat, kedua lelaki ini hanya saling bertatapan dengan pandangan yang sama-sama sulit di artikan.

“Kris,” panggil Lay setelah beberapa menit hening dalam tatapan masing-masing. “Ada yang ingin kubicarakan.”

Kris tetap berdiri dalam diam tanpa melepaskan pandangannya pada Lay. Sepertinya lelaki ini sudah mengetahui ke arah mana Lay akan membawa pembicaraan mereka. Kris tampak menimbang apakah dia perlu mendengarkan Lay atau tidak.

“Tentang apa?” tanya Kris akhirnya.

“Yoona,” jawab Lay singkat. Dia menyadari perubahan air muka Kris saat dia menyebut nama Yoona ditengah-tengah mereka.

“Aku tidak akan berbasa-basi. Kau sendiri tahu bahwa aku tidak suka berbasa-basi,” lanjut Lay yang berusaha menjaga dirinya tetap tenang. “Kenapa kau membatalkan janjimu dengan Yoona kemarin dan tanpa pemberitahuan apapun?”

Kris tampaknya sudah mengantisipasi munculnya pertanyaan itu. “Aku ada meeting mendadak di kantor dan baterai ponselku habis, jadi aku tidak bisa mengabari Yoona,” jawab Kris.

“Kenapa kau tidak datang ke tempat perjanjian kalian setelah meeting-mu selesai? Seharusnya kau tahu bahwa Yoona akan terus menunggumu. Dia masih menunggumu sampai jam setengah tujuh malam. Kalau aku tidak menjemputnya, mungkin dia masih akan tetap berada disana sampai sekarang,” sahut Lay.

Lay mulai merasa kesal karena Kris sendiri sama sekali tidak menunjukkan raut wajah bersalah. Seolah-olah bahwa meninggalkan Yoona seperti itu adalah hal yang wajar dan bukan suatu kesalahan.

Kris sendiri sebenarnya tampak agak terkejut mendengar berapa lama Yoona menunggunya, namun dia tidak menampilkan ekspresi terkejut itu di depan Lay. Sebagai gantinya, Kris memasang wajah datarnya yang dia tahu justru akan membuat Lay merasa kesal.

Kris sendiri sebenarnya bukan ingin bermaksud jahat pada Yoona. Apalagi sebelumnya ia memang sudah mengenal Yoona dengan cukup baik. Hanya saja lelaki itu memang tidak menyukai ide perjodohan kedua orangtua mereka. Dia berharap jika dia memperlakukan Yoona dengan buruk, maka gadis itu akan meminta pada orangtuanya supaya membatalkan perjodohan itu. Namun rupanya Kris salah besar. Yoona tetap tersenyum padanya dan tidak pernah sekalipun mengeluhkan sikapnya yang buruk. Walaupun begitu, tetap saja, Kris tidak pernah bisa mencintai Yoona.

“Kenapa kau begitu peduli padanya?” Kris balas bertanya.

“Tentu saja karena dia sahabatku! Kau tahu sendiri bahwa dia sudah seperti saudari bagiku,” jawab Lay.

“Apakah kau mencintainya?”

Pertanyaan yang dilontarkan oleh Kris benar-benar diluar dugaan Lay. Lay bahkan tidak sempat menyembunyikan rasa terkejutnya. Kris sendiri sekarang menatap Lay dengan tatapan penuh kemenangan. Jelas sekali bahwa memang sudah sejak lama, Kris ingin sekali melempar pertanyaan itu pada Lay.

“Apa maksudmu?” sergah Lay. “Bukankah sudah kukatakan bahwa dia itu seperti saudari bagiku?”

“Tapi dia bukan benar-benar saudaramu kan? Aku hanya bertanya, Lay-ah. Tidak perlu bereaksi sekeras itu kalau jawabannya tidak,” sahut Kris sambil tersenyum.

“Kau—“ Lay mulai kehabisan kata-kata.

“Sudahlah, Lay-ah. Kuberitahu satu hal padamu. Kalau memang tidak mencintai Yoona, maka jangan pernah mencampuri urusanku dengan Yoona. Aku tidak peduli apakah kau menganggapnya sebagai saudarimu atau apapun. Aku tidak suka ada orang lain yang mencampuri hubungan kami, sekalipun kau adalah sahabatku” ujar Kris.

“Aku tidak akan pernah membiarkanmu menyakitinya lagi, Kris,” ucap Lay pelan nyaris berupa bisikan namun terdengar tajam di telinga Kris. “Tidak ada yang boleh menyakiti Yoona.”

“Bukan aku yang menyakitinya,” balas Kris. “Dia yang menyakiti dirinya sendiri.”

Setelah berkata seperti itu, Kris berjalan pergi meninggalkan Lay. Ketika Lay kembali ke meja teman-temannya, Tao memberitahunya kalau Kris harus pulang lebih dulu karena merasa tidak enak badan. Lay menghabiskan sisa malamnya dengan lebih banyak diam dan memikirkan percakapan kecilnya dengan Kris.

Mungkin kata-kata Kris ada benarnya. Yoona memang menyakiti dirinya sendiri dengan memberikan harapan-harapan palsu bahwa suatu saat Kris akan merubah sikapnya. Bahwa suatu saat Kris akan mencintainya.

Lay menghela napasnya. Apalagi yang bisa dia lakukan? Dia tidak ingin Yoona terluka, namun gadis itulah yang memegang pisau yang menyayat dirinya sendiri. Lay hanya bisa berharap Kris mau membuka hatinya sedikit saja untuk Yoona. Asalkan Yoona bahagia, Lay rela memberikan semuanya, termasuk mengorbankan perasaannya.

-A-Confession-of-a-Friend-

“Lay-ah, terima kasih kau sudah mau menemaniku hari ini,” kata Yoona.

Yoona dan Lay baru saja keluar dari salah satu pusat perbelanjaan. Hari ini Lay memang menemani Yoona berbelanja macam-macam kebutuhan bayi untuk salah satu sahabat mereka yang baru saja melahirkan. Yoona terlihat sangat senang sekali terutama saat memilih pakaian-pakaian bayi yang lucu. Gadis itu memang sangat menyukai anak kecil, terutama bayi. Dan tentu saja Lay rela membayar dengan apapun demi melihat Yoona tersenyum.

“Tidak apa-apa. Kebetulan aku juga sedang tidak sibuk,” balas Lay.

“Aku sebenarnya tadi mau minta tolong pada Kris untuk menemaniku, tetapi lagi-lagi nomornya tidak aktif. Sepertinya dia sedang sibuk sampai-sampai tidak bisa dihubungi seperti itu,” kata Yoona.

‘Atau mungkin dia sudah mengganti nomor-nya tanpa memberitahumu,’ batin Lay sambil memutar bola matanya.

“Hei, apakah kau mau ikut pergi ketempat Yuri dan Chanyeol? Kau juga sudah lama tidak bertemu dengan mereka bukan?” ajak Yoona.

“Hhmm, benar juga ya. Aku bahkan tidak tahu kalau anak pertama mereka sudah lahir kalau kau tidak memberitahukannya padaku,” kata Lay sambil terkekeh.

“Iya kan? Kalau begitu kau harus ikut denganku ke tempat mereka,” ujar Yoona.

“Bilang saja kalau kau minta ditemani,” sahut Lay yang hanya dijawab Yoona dengan tertawa.

Lay ikut tertawa sambil tetap melangkah sebelum dia menyadari bahwa Yoona tidak lagi melangkah disebelahnya. Menyadari hal itu, Lay berhenti berjalan dan menoleh ke arah Yoona yang tertinggal di belakang.

Yoona menatap lurus ke depan dengan ekspresi aneh. Rasa kaget, sakit hati, kecewa, tidak percaya, tampak bercampur menjadi satu. Lay berjalan mendekati Yoona dan mengikuti arah pandangan gadis itu.

Beberapa meter di depan mereka tampak Kris sedang menggandeng tangan seorang gadis cantik. Lay mungkin akan mencoba berpikir positif bahwa bisa saja gadis itu adiknya jika dia tidak tahu bahwa Kris tidak mempunyai saudara perempuan. Terlebih lagi, cara Kris menatap gadis itu adalah tatapan yang sangat dikenal oleh Lay. Itu adalah tatapan yang sama seperti ketika Lay menatap Yoona.

Lay menoleh dengan khawatir ke arah Yoona yang masih mematung. Yoona sendiri masih berusaha mencerna apa yang dilihatnya barusan. Berikutnya, tanpa bisa dihentikan, setetes airmata mengalir turun dari mata indahnya yang sudah penuh dengan airmata yang siap menerobos turun.

Kajja. Ayo pergi.” Tanpa menunggu persetujuan dari Yoona, Lay langsung menarik tangan Yoona pergi dari tempat itu.

Yoona menurut saja ketika tangannya ditarik oleh Lay. Tetapi walaupun mereka sudah pergi meninggalkan tempat itu, bayangan Kris yang sedang bergandengan tangan mesra dengan seorang gadis terus muncul dalam pikiran Yoona tanpa bisa dicegah. Cairan bening kembali mengalir dari kedua matanya.

Lay membawanya ke taman yang terletak dibelakang pusat perbelanjaan tempat mereka berbelanja tadi. Sesampainya disana, Lay mendudukkan Yoona di salah satu bangku taman. Lay sendiri kemudian berjongkok di depan Yoona dan menatap langsung wajah gadis itu yang tertunduk.

“Jangan menangis,” ucap Lay lembut. Tangan kanannya mengusap pelan wajah Yoona yang sudah basah oleh airmata. “Airmatamu terlalu berharga untuk sekedar menangisinya, Yoong. Dia tidak pantas untuk kau tangisi.”

Yoona masih tetap terisak sampai akhirnya Lay memutuskan untuk memeluknya. Lay tetap diam dan membiarkan Yoona membasahi kemejanya dengan airmata. Mungkin saat ini, menangis adalah jalan yang paling baik bagi Yoona. Lay sadar bahwa Yoona sudah terlalu lama menahan emosinya. Kali ini, Lay harus tetap ada di samping gadis itu. Dia tahu kalau Yoona sedang sangat membutuhkannya saat ini—sebagai sahabat.

-A-Confession-of-a-Friend-

Sejak kejadian dirinya dan Yoona memergoki Kris dengan seorang gadis yang tidak dikenal, Lay belum bertemu lagi dengan Yoona. Gadis itu nampaknya masih cukup terguncang dan Lay tidak mau menambah beban Yoona. Mungkin saat ini Yoona masih ingin sendiri untuk menenangkan pikirannya supaya bisa berpikir jernih.

Walaupun merasa sangat mencemaskan Yoona, namun Lay tetap bertahan dengan tidak menemuinya. Lay tahu bahwa Yoona akan kembali padanya setelah gadis itu sudah siap dan merasa jauh lebih baik.

Hari ini adalah akhir pekan dan Lay memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. Suasana rumah memang cepat membuatnya merasa bosan, apalagi ketika dia sedang tidak memiliki apapun untuk dikerjakan.

Lay membiarkan kakinya memimpinnya melangkah kemanapun yang dia suka. Suasana sore hari ini sangat teduh dan tenang. Suasana seperti ini memang cocok sekali untuk berjalan-jalan menikmati hari.

“Lay-ah.”

Lay langsung berhenti melangkah ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya memanggil lembut namanya. Dia segera berbalik dan menemukan Yoona berdiri beberapa meter dibelakangnya sambil tersenyum.

“Yoona-ah,” balas Lay sambil tersenyum

Lay mengamati Yoona dari atas sampai bawah. Keadaan gadis itu nampaknya sudah lebih baik. Yoona sudah tersenyum seperti biasa walaupun masih ada yang mengganjal dalam sorot matanya.

“Sudah lama tidak bertemu,” lanjut Lay ketika Yoona berjalan mendekatinya.

“Ya. Maaf kalau aku terlalu lama mengurung diri,” ucap Yoona sambil kembali tersenyum manis.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Lay.

“Sudah jauh lebih baik. Ayo kita cari tempat lain. Ada yang ingin kuceritakan padamu,” kata Yoona sambil menarik tangan Lay untuk kembali berjalan.

Lay hanya menurut ketika Yoona menarik tangannya. Sentuhan-sentuhan kecil seperti ini saja sudah bisa membuat jantungnya berdetak dua sampai tiga kali lebih cepat.

Yoona membawanya ke sebuah sekolah dasar yang ada di dekat rumah mereka. Sewaktu masih kecil, Yoona dan Lay suka sekali bermain ke tempat ini. Mereka akan menikmati bermain perosotan bersama atau berlomba siapa yang bisa bermain ayunan paling cepat. Terkadang Yoona sangat merindukan masa-masa itu.

Yoona duduk di salah satu ayunan dan Lay mengikutinya duduk di ayunan di sebelahnya. Selama beberapa saat, Yoona hanya berayun-ayun ditempatnya. Sementara itu, Lay hanya berdiam diri sambil menunggu Yoona untuk memulai ceritanya.

“Aku sudah membatalkan perjodohanku dengan Kris,” kata Yoona akhirnya.

Lay langsung menoleh dengan cepat ke arah Yoona. “Benarkah?”

“Ya. Aku sudah bicara dengan kedua orangtuaku. Mereka terkejut, tentu saja. Karena setahu mereka, hubunganku dengan Kris selama ini baik-baik saja. Tapi aku sudah mengatakan pada mereka bahwa aku dan Kris tidak menemukan kecocokan yang berarti. Untunglah mereka tidak memaksaku,” lanjut Yoona sambil tersenyum kecil.

“Apa kau baik-baik saja dengan hal itu?” tanya Lay sambil menatap Yoona dengan sedikit cemas.

“Aku baik-baik saja. Percayalah,” tambahnya ketika Lay menampilkan ekspresi tidak percaya.

“Aku memang bodoh,” kata Yoona berikutnya. “Ya, aku menyadarinya. Aku seharusnya tidak memaksakan perasaanku padanya. Aku sendiri yang membuat diriku merasakan sakit hati ini.”

“Apa kau masih mencintainya?” Lay memberanikan diri menanyakan pertanyaan yang sangat ingin dia ketahui jawabannya sejak tadi.

Yoona menoleh menatap Lay dengan kedua alis terangkat. Sesaat gadis itu tampak bimbang, namun berikutnya dia kembali tersenyum walaupun matanya tetap tidak menutupi kesedihannya.

“Mungkin masih. Tidak mudah rasanya untuk melupakan orang yang kau cintai dalam sekejap. Aku rasa aku juga butuh waktu untuk bisa melupakannya,” jawab Yoona pelan. Pandangan matanya kembali menerawang ke depan.

“Apa—aku tidak bisa menggantikan posisinya dihatimu?”

Yoona kembali menoleh dengan terkejut ke arah Lay. Matanya melebar dan mulutnya terbuka seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Lay. Beberapa kali Yoona mengerjapkan matanya selagi menatap Lay.

“Apa—maksudmu?”

Lay menghela napasnya. Mungkin sudah saatnya dia mengatakan semuanya pada Yoona. Saatnya dia jujur tentang perasaannya pada gadis itu.

“Lupakan dia, Yoona-ah. Lupakan Kris. Aku berjanji akan selalu menjagamu,” ucap Lay sambil menatap langsung kedua mata Yoona.

Saranghaeyo, Yoona-ah.” Akhirnya Lay mampu mengucapkan kalimat itu di hadapan Yoona, setelah sekian lama dia memendam perasaanya. Lay menatap Yoona dengan lembut walaupun jantungnya berdebar kencang menunggu reaksi gadis itu.

Bukan hanya Lay yang jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, tetapi juga Yoona. Dia tidak pernah menyangka bahwa Lay, sahabatnya, ternyata menyimpan perasaan khusus untuknya. Ah, Yoona jadi bertanya-tanya apakah itu berarti selama ini dia telah menyakiti perasaan Lay?

“Aku tidak akan pernah menyakitimu seperti yang dilakukan lelaki itu padamu. Sejak dulu aku berjanji pada diriku sendiri untuk melindungimu. Aku tidak akan membiarkan siapapun membuatmu menangis,” lanjut Lay pelan namun tegas.

Yoona masih menatap Lay dengan ekspresi terkejut, namun perlahan senyum mulai mengembang di bibirnya. Yoona meraih tangan kanan Lay dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya. Lay sendiri tampak sedikit terkejut ketika Yoona tiba-tiba menggenggam tangannya.

Gomawo, Lay-ah,” kata Yoona. “Terima kasih untuk perasaanmu padaku. Terima kasih untuk selalu berada disisiku. Terima kasih untuk selalu menjagaku.”

Yoona berhenti bicara sambil masih tetap tersenyum. Lay tahu bahwa gadis itu belum selesai bicara, maka dia hanya diam menunggu Yoona melanjutkan kata-katanya.

“Memilikimu sebagai sahabat adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Sejak dulu, aku merasa sangat beruntung bisa memilikimu sebagai sahabat,” lanjut Yoona.

“Bisakah—kita tetap menjadi sahabat?”

Yoona menatap Lay dengan sorot mata lembut namun sedih, begitu pula dengan senyum yang terukir di wajahnya. Bukannya Yoona tidak mencintai Lay. Yoona yakin, jika dia mencoba, akan sangat mudah jatuh cinta pada sahabatnya itu. Namun bagi Yoona, persahabatan mereka jauh lebih penting. Bagi Yoona, persahabatan mereka jauh lebih berharga dari apapun. Dia tidak mau kehilangan Lay karena cinta seperti dia kehilangan Kris.

Mianhae,” kata Yoona setengah berbisik. “Aku hanya tidak ingin kehilanganmu.”

Tangan kiri Lay yang bebas kini balas menggeggam kedua tangan Yoona. Lelaki itu tetap tersenyum lembut, walaupun dia tahu cintanya mungkin tidak akan pernah berbalas.

Gwencanha, Yoona-ah,” balas Lay. “Aku mengerti. Maaf kalau aku membuatmu merasa tidak nyaman. Kita akan tetap bersahabat kan?”

Lay bisa melihat kedua mata Yoona yang perlahan kembali bersinar dan senyum gadis itu yang mengembang semakin lebar. Senyum itulah yang selalu bisa meluluhkan Lay. Senyum itu juga yang sudah membuat Lay jatuh cinta. Bahkan sampai saat ini, terkadang Lay bertanya pada dirinya sendiri, salahkah dia jika jatuh cinta pada senyum itu?

Tanpa peringatan apa-apa, Yoona langsung memeluk Lay. “Tentu saja,” katanya sambil tetap tersenyum. “Kau adalah sahabat terbaikku dan akan selamanya seperti itu. Tidak akan ada yang berubah, Lay-ah.

Lay balas memeluk Yoona sambil menepuk pelan pundak gadis itu seperti setiap kali dia memeluknya. Sebenarnya hatinya terasa sakit ketika dia harus menahan perasaannya pada Yoona dan tetap memainkan peran sebagai sahabat terbaiknya. Setidaknya, Lay tahu bahwa baik dirinya maupun Yoona sama-sama tidak mau kehilangan satu sama lain.

Selama dia masih bisa terus berada di sisi Yoona, itu sudah lebih dari cukup bagi Lay.

-END-

Please leave your comment

18 thoughts on “Confession of a Friend

  1. .yah pdhl aku maunya LaYoong nya pcrn, tp klu shbtn lbh baik utk mereka, gak apalah.
    Neomu joha, daebak thor!

    Keep writting thor!

  2. Huhuhuhu…memang benar klo cinta itu tak harus memiliki,asalkan dia selalu berada d sampingmu itu sdh cukup…
    Nyesek ya walaupun seneng juga,ini pairing LaYoona weh,aku suka aku suka..
    Baguslah mereka jd sahabat selamanya

  3. kris tega banget kaya gitu ama yoona.. coba yoona terima lay aja.. sequel ya thor.. nanti yoona sama lay di jadiin kekasih ya a a

  4. Aihhh kirain endingnya LaYoon jadian, ternyata ehh ternyata,,,
    Need sequel thor !!
    Dtunggu karya selanjutnya thor !!
    FIGHTING !!!
    oh iaa yang WGM YoonHun kpan dlnjut thor ???

  5. Baguuuss nyesek juga,,berharap yoonkris tp kris tega bner…
    Berharap ada seq klo bs yoona sm lay atw bikin kris menyesal nyia2in yoona..

  6. keren thor… tp knp yoona gk jadian ma lay ja thor… bwt yoona nyadari perasaan y… bkn kris nyesel… gantung thor… squel thor..

  7. bagus thor😃 tapi berharap lay sama yoona pacaran😂 sequel ya thor?ceritain yoona pacaran kalo bukan ama lay mungkin bertemu cowok lain:D keep writing author😁

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s