(Freelance) Precious (Chapter 1)

Precious C1

PRECIOUS

ROXXIDITE
Sehun || Yoona || Chanyeol
Sad|| Romance || AU || Little bit comedy?
Story is MINE

◊◊◊

Paparan terik matahari pagi menelusup melalui gorden jendela, memberikan kilau terindahnya untuk menyorot langsung ke permukaan wajah Yoona, membuat Gadis itu perlahan dan pasti akan segera membuka mata. Ia mengerang pelan, berguling ke kanan, ke samping kiri, lalu diam beberapa saat― mencoba beradaptasi dengan keadaan. Dan ketika kakinya telah menyentuh lantai, itu menjelaskan bahwa Yoona sudah dalam kesadaran penuh.
Ia melangkah gontai. Hal pertama yang diingatnya setelah terbangun adalah cermin. Dan benar saja, pantulan bayang Yoona cukup membuktikan jika dirinya tampak menakutkan. Kantung mata yang sudah bisa mengalahkan panda, kulit yang memucat seperti mayat, atau tubuhnya yang sedikit lebih kurus.
Yoona memejamkan pandangan tak percaya, kebiasaan berjaga semalaman memang harus di hentikan. Siapa sih yang ingin disambut monster setiap pagi?

“Sarapan?”

Oh, hari ini masuk dalam blacklistnya, hari sial.
Hari di mana otaknya sedang dalam masa buntu, Hari di mana tidur nyenyaknya habis dilahap waktu, dan hari di mana Lelaki itu kembali datang tanpa di undang.

Park Chanyeol.

Tak ada cara bagi Yoona untuk mengungkapkan seberapa besar cintanya pada sang pemilik nama, perasaan itu begitu besar memenuhi ruang hati. Percayalah.
Karena Yoona terlalu mencintainya, sangat.
Gadis itu meraih cardigan di atas kursi, tak nyaman dengan suhu rendah yang mengelilingi. “Aku akan makan sendiri.” Mata mereka bertemu menampakan sorot berbeda.
“Makanlah churros buatanku, kau pasti lelah karena bekerja semalaman.” Chanyeol bertipikal keras tak akan mau mengalah sekalipun Yoona menolak mati-matian. Dan Yoona masa bodo dengan si bejat itu. Ia lelah dan pikirannya tak bisa diajak kompromi, setan kecil kini sedang bertengger nyaman mendampingi dan Yoona juga malas tercebur dalam emosi hanya karena menanggapi tindak-tanduk Chanyeol.
Langkahnya menjauh, berjalan menuju dapur hingga berhenti sejenak memandangi beberapa batang churros tergeletak manis di atas dua piring, dan.. Jangan lupakan cokelat hangat sebagai pelengkap.
Senyum miring melekat, mempercantik ukiran wajah Yoona.

Apa dia sedang menyogok? Dengan makanan Spanyol? Yang benar saja..

“Aku tak makan ini. Melihatnya saja ingin muntah.”
Tepat menusuk ulu hatinya. Chanyeol melempar tawa hambar, tawa sakit hati. “Kukira makanan ini favoritmu.” Ucap Chanyeol yang sudah berdiri di belakang Yoona, menyenderkan sebagian tubuhnya pada dinding pembatas. Berusaha tampak tenang.
“Aku lebih suka wine.”
Yoona mengambil sebotol white wine dari lemari dapur. Sedetik kemudian langsung di rebut lantas membuatnya hanya bisa mengeluarkan decih kesal. Gadis itu tetap tak bergerak dari tempat. Persetan dengan Chanyeol, Yoona lebih memilih minum wine setiap hari sampai lambungnya hancur di banding bersama Lelaki itu seharian penuh, melakukannya sama saja melempar diri ke neraka!
Tanpa sadar nafas Chanyeol memburu. “Kau menenggak minuman ini tiap pagi? Kau mau mati?!” Intonasi bicaranya terkontrol, walaupun masih menyiratkan kecemasan. Chanyeol memang keras, tapi Yoona lebih keras dari apapun.
Gadis itu beranjak, iris madunya menantang iris kelabu Chanyeol. “Aku minum segelas white wine di pagi hari, menghabiskan berbotol-botol red wine di malam hari. Aku tidak makan nasi seharian dan ramyeon adalah makananku. Kau puas?!”

“Aku puas?! Apa wajahku menunjukan kepuasaan?! LALU KENAPA AKU DI SINI UNTUK MEMPERBAIKI HIDUPMU??!! J.. ―”

“KAU MENGHANCURKANKU, BODOH!!”

Ini salah, Yoona salah, hatinya salah. Di satu sisi ia mempercayai Chanyeol, melihat lelaki itu sebagai seorang wanita. Namun, Jiwa iblisnya masih membekas― jiwa iblis yang kembali bangkit, makin menyeruak― bagai api yang berkobar, tak menerima pemikiran Yoona. Bimbang menemaninya, membuat fokusnya tak dapat lagi di gerakan― terkunci sirat tajam Chanyeol, di dalam mata kelabu yang memerah menahan amarah.
Yoona tidak pernah berbohong, dia terlahir untuk memegang perkataan. Dan semua kalimat yang terlontar dari mulut kecil berbisa itu seakan membutakan Chanyeol. Tak memberikannya waktu untuk berpikir jernih. Jiwanya hampir terganggu karena Yoona, semua karena tingkah Gadis itu.
Yoona memutus tali pandang mereka, membuang tatapan― asal tak bertemu manik Chanyeol yang bergetar. Udara pun seolah memaksa Yoona untuk menangis, memompa air matanya naik, sesak di dada.
Tarikan udara masuk teratur melalui organ pernapasan Chanyeol, tarikan nafas pasrah. Ia menahannya sebentar, lalu menghembuskannya pelan-pelan. “Makan makananmu, aku pergi.” Postur tegapnya berbalik, meninggalkan Yoona sendiri di dalam apartement yang dingin. Chanyeol kalah, kalah sebelum berperang.

Dan saat itulah, kaki jenjangnya meluncur, berat badannya meringan, Yoona terduduk. Tangisnya pecah tak terkendali.

◊◊◊

“Aku gila karena tugas-tugas ini.”

Dua jam tanpa sedikitpun melewatkan waktu Yoona meringkuk nyaman di depan Laptop. Sudah beratus-ratus word yang ia ketik namun berakhir mengenaskan dengan tombol backspace. Idenya mengalir sederas air terjun saat ini, tapi setengah paragraf bahkan belum mampu ia olah menjadi kalimat rapi di ms.word.
Yoona selalu menghindari wabah ini dan akhirnya mau tak mau terkena juga. Writer’s block telah menyerang kemampuan otaknya. Sekarang, ia tak lebih dari seseorang yang kehilangan arah dalam dunia menulis.

“Yak, kau masih di sana ‘kan? Jangan mengabaikanku!”

Baekhyun sedang di paris, menyelesaikan bisnis keluarga. Dan jangan menyuruh Yoona untuk tidak tersenyum ketika Lelaki imut itu menelpon tengah malam, itu sulit dilakukan. Yoona tidak akan bosan malam ini, sepupunya bakal menemani.
“Mian. Kau tidak kerja? bukannya di paris sudah.. ―” Yoona melirik jam dinding yang menggantung di dekat lukisan mozaic. Bibirnya berkomat-kamit tanpa suara menghitung jarak waktu antara Korea dan Paris. “Sudah jam 7 pagi?” Lanjutnya.
Terdengar kekehan geli dari ujung sana. “Minggu bukan hari untuk bekerja, minggu diciptakan untuk bersantai.” Tutur Baekhyun.
“Kupikir tak ada hari minggu dalam kalender mu.” Yoona merubah posisi, tangannya meraih segelas red wine, membiarkan lidahnya dimanja oleh cairan jenis dolcetto itu.
“Jabatanku hanyalah sebagai bawahan Eomma, dan aku masih muda. Minggu adalah hariku, jadi tak ada yang bisa menghalangiku bersantai hari ini.”
“Hahahahahaha..”
Tawa itu tidak hidup―tawa yang di paksakan, sangat jelas dan Baekhyun mudah mengerti. Percakapan mereka bahkan terdengar tidak santai, terkesan kaku, tidak ada unsur lucu. Setidaknya otaknya yang masih berjalan normal memberitahukan semua, sebuah petunjuk yang mengatakan Yoona tidak baik-baik saja.
Gadis itu menerawang memandangi rintik hujan dari kaca jendela panjang tepat di depan. Wajah kosong menjadi topengnya, terlalu kosong hingga membuatmu tak akan mampu menebak apa maksud dari raut itu. Ekspresinya seakan terbawa angin malam, terbang entah ke mana.

“Aku merindukanmu…”

Dia― Yoona― sedang dalam keadaan buruk, Baekhyun bertaruh. Seperti kode, rangakaian kode. Kata-kata itu, Yoona tak akan mengungkapkannya saat berbahagia, dia tertekan. Air muka Baekhyun perlahan berubah, bayang-bayang khawatir menghampiri.
“Kau ada masalah?”
Dan Yoona setuju kalau seseorang mengatakan Baekhyun memahami dirinya lebih dari Yoona sendiri.
Tak ada alasan bagi Yoona untuk diam, pita suaranya bahkan tak bisa ditahan lagi. “Chanyeol menemuiku, sejak 5 hari yang lalu.” Ungkapnya. Ia ingin menceritakan semua pada Baekhyun, tanpa ada satupun yang ditutup-tutupi.
Yoona tak betah dengan kehadiran Chanyeol. Ia bahkan masih bingung dengan dirinya yang tiba-tiba cengeng di depan Lelaki itu, terlebih tadi pagi karena air matanya tetap tak mau berhenti bahkan setelah beberapa menit Chanyeol pulang dari apartementnya. Hanya untuk saat itu ia tak mampu memahami dirinya, jiwanya melemah di tangkapan Chanyeol.
“Apa dia mengatakan hal penting.. ― Sesuatu yang penting?” Yoona menggeleng lemah.
“Dia hanya mengganggu, dan meretas password apartementku.” Suaranya parau, ia mendesah berat.
“Aku lelah berhubungan dengannya.”
Kesunyian meniup beberapa detik waktu mereka. Baekhyun tak kunjung membalas curhatan Yoona. Lelaki itu justru ikut bungkam, ada banyak hal yang berkelit di pikirannya.
“Baekhyun-ah.. ―” Kalimat yoona tertahan, agak ragu untuk melayangkan pertanyaan ini, ia menimang-nimang sejenak.

“―…Kenapa aku membenci Chanyeol? Beritahu aku. Kau selalu mengelak tiap kali aku menanyakan ini.”

Baekhyun di cegat, Yoona menggenggamnya sekarang. Dapat Baekhyun rasakan otot perutnya kini tertarik menciptakan sensasi aneh, apa dia… Takut?
Mematikan sambungan bukanlah jalan satu-satunya dan menjawab adalah jalan lurus bagi Baekhyun.
Lelaki itu menjilati bibir keringnya, Yoona tak memberikan pilihan bagus.”Kau sendirian di sana. Jika aku memberitahukan semuanya padamu, itu sama saja menempatkanmu dalam bahaya.” Baekhyun menarik nafas. “Aku tak ingin kau terluka, aku tak ingin kejadian lalu terulang lagi.”
Cairan merah mengalir lembut menyapu tenggorokan Yoona, satu gelas wine habis di tenggaknya sekali minum. Baekhyun benar, sampai mati pun Yoona tak akan mengetahui dasar kebenciannya. Sekalipun Lelaki itu ada di samping Yoona.
Bibirnya melengkung tipis membentuk senyum kasat mata. “Gwaenchana, aku mengerti. Ku pikir moodku makin buruk. Aku harus tidur sekarang, ada banyak pekerjaan besok.” Siapa yang tidak kecewa? Yoona jelas kecewa, Ia yang mengalaminya. Tapi, kenapa tak ada satupun yang jujur? Apa ia akan terkena kutukan setelah mengetahui itu? Apa dirinya akan mati sia-sia? Era Joseon bahkan tak sedramatis ini.
Berlebihan.
Tungkai kaki itu di paksa bergerak, ia buru-buru masuk ke kamar kemudian menghempaskan tubuh di atas ranjang. Berusaha untuk terlelap dan melawan insomnianya. Tak peduli lagi dengan sebotol red wine yang masih penuh ataupun ponselnya yang belum menunjukan tanda putus sambung dengan Baekhyun.
Setidaknya ia ingin tidur, sekedar untuk meredakan rasa penasarannya yang meluap.

◊◊◊

Udara tak bersahabat dalam ruangan ini. Semuanya tertutup dan tidak memungkinkan oksigen untuk menyebar rata. Air conditioner yang berdiri tegak di sudut ruangan pun tampak tak memiliki fungsi penting, hanya pajangan pelengkap, penyempurnaan semata.
Suasana seperti ini tak begitu asing, mengingatkannya pada… sauna?
Jika memang sauna, Irene yang anti dengan hal-hal panas tidak akan sungkan berlama-lama. Sekalipun diberi kesempatan keluar, tak akan ia gubris. Sungguh.
Ya… Irene tak mungkin mengatakan bualan jika tak ada hal yang membuat seluruh perhatiannya berporos pada satu tujuan. Dan tujuan itu tak jauh-jauh dari satu kata.
LELAKI
Benar, ada Lelaki tampan. Dengan tubuh dialiri keringat setelah melakukan beberapa olahraga berat di ruangan itu, rambut hitam yang basah, dan membuatnya tampak… Seksi? Hahaha, kelakuan Irene sekarang bahkan tampak seperti wanita bermata keranjang.
Irene masih kokoh dengan posisi tak bergeming jika saja si tengik Jongin tidak muncul dari belakang dewa tampan. Sontak aksi pemujaannya terhenti, mengubah sikapnya yang seperti batu menjelma menjadi cacing kepanasan― salah tingkah ketika suara teguran Jongin masuk menggelitik telinga, menjijikan.

“Ah, aku membawakan dokumen yang kau minta.”

Lelaki itu― Sehun― menyambut lembaran kertas yang Irene berikan, ia membaca sekilas. Sebelum akhirnya menatap heran Jongin saat Lelaki berkulit tan itu berucap keras, terdengar memerintah.
“Ada apa lagi? Kau tidak pergi?”
Semburat merah muncul di kedua tangkup pipi Irene, nyaris menyerupai apel di pohon neneknya. Kim Jongin terkutuk, umpatan itu hampir melesat keluar dan untungnya tuhan berpihak pada kebaikan, Irene masih terkontrol dan masih dapat dikontrol. Gadis itu menggigit bibir bawah, menatap dengan mata elangnya yang jujur mengalahi keseraman tatapan ayah Jongin, lalu menunduk beberapa senti― memberi hormat pada Sehun.
Dan setelah suara dentum pintu menggema ―pertanda bahwa Gadis cantik itu sudah pergi― Jongin teringat sesuatu, lantas berbalik memaki diri sendiri. Mengingat bahwa statusnya kali ini bukanlah pemegang takhta penting melainkan hanya karyawan magang di perusahaan keluarga Sehun, makin ketimpa sial karena status Irene lebih tinggi dua tingkat dari Jongin.
Alkohol… Efek alkohol benar-benar menyerang pusat pengendalian sadarnya.
“Aish, Appa selalu berulah. Kenapa mengirimku ke sini?!” Jongin mengacak surainya frustasi. “Aku pasti disemburnya”
Nyamuk tak akan mengganggu konsentrasi Sehun, Lelaki itu justru duduk tenang di samping Jongin yang terus mengeluarkan rentetan kutukan keji. Iris gelap itu terpaku dengan isi profil yang terpampang. Sedikit menarik perhatiannya, ini menyenangkan.
“Profil siapa? Kau mencurinya lagi?” Jongin melirik, ada banyak tulisan tentang riwayat hidup di sana.
“Ahli psikologiku, mereka mengutus yang lebih muda.” Jawab Sehun seadanya.
Jongin ikut membaca salinan profil lain. Duduk saling menghadap di antara meja yang memisahkannya dengan Sehun. Dan ya, ia tahu apa yang menjerat keantusiasan Sehun pada lembar kertas tak berarti ini, lembar kertas yang berhasil menambah kecepatan debar jantung Sehun.

“Soojung? Dia mirip Soojung. Sekretaris Kim benar-benar..”

Soojung? Gadis ini mirip Soojung? Sehun tahu cara macam apa yang di pakai Sekretaris Kim untuk membuatnya sembuh. Mereka merubah haluan, menggunakan cara baru. Dan Sehun… Dia tidak menyukainya.
“Mereka menggunakan Gadis ini untuk menghapus ingatanmu tentang Soojung. Jadi kau dapat beralih padanya dan berangsur-angsur mampu menyeimbangkan emosimu karena Soojung yang berpengaruh membuat keadaanmu tidak stabil.”
Jongin mengatakan semuanya dan Sehun terlanjur muak. “Metode ini pernah di pakai Ibuku, dan Boom! Beberapa pasien dinyatakan sembuh. Kupikir cara ini akan berjalan baik untukmu…” Jongin memang bodoh jika menyangkut soal bisnis sejenis perusahaan. Tapi, yeah, psikologi adalah bidangnya.
Jongin beralih menatap Sehun. Aura Lelaki itu berubah, kecanggungan seakan membunuh kebebasan mereka.
Dia paham situasi, hela nafas menyeruak dari ruang mulutnya. “Mereka ingin kau sembuh, dan kau juga ingin sembuh. Lihatlah, Sekretaris Kim bahkan mencari Gadis yang hampir persis dengan Soojung. Kau harus menghargainya.”
“Dan membuatku makin gila?! Tidak mungkin..”
“Ini tidak membuatmu gila. Jadi, kuburlah Soojung yang kau cintai. Dia parasit sekarang! Apa salahnya beralih pada Gadis ini jika itu dapat menyembuhkanmu!”
Jongin seolah-olah menyuruhnya terbang ke langit tanpa pesawat, dan balon merupakan penghantar terbaik. Terdengar tidak logis untuk Sehun lakukan, dan tak akan sudi untuk ia lakukan.
Wajah Sehun sudah dingin, menekuk malas. Ia merasa Jongin berpindah pihak, bukan di sampingnya.
“Aku membencinya.” Koreksi Sehun.
“Kau mencintainya, semua orang tahu.” Tekan Jongin, tidak mau mengalah.
“Kau salah.”
“Kau yang salah. Lalu kenapa kau menolak Gadis ini membantumu? Apa kau ingin menghentikannya?”

“AKU BENCI SEMUA YANG BERHUBUNGAN DENGAN SOOJUNG!! APA ITU MENJELASKAN?!”

Finally, Jongin berhasil memecah level emosi Sehun hingga meledak. Ia terlalu larut dalam adu mulut ini, melupakan fakta bahwa apapun yang dikatakannya tak akan membuat Lelaki itu membuka mata, ditampik dan akan terus ditampik, mantra penyadar berputar balik kembali lagi padanya. Sehun keras dan ia sedikit lebih lunak. Jongin menyerah dalam pertarungan menebak Sehun, Sehun yang penuh teka-teki.
“Aku seharusnya tak di sini.” Lelaki itu meninggalkan jejak, menghilang begitu saja dari penglihatan Sehun. Jika seperti ini, menjauh adalah jawabannya.
Terjangan kuat menghempas meja, teriakannya beradu bersama bunyi botol champagne yang membentur menghantam lantai, menyihir bentuk indah botol tak lebih dari sekedar sampah berkepingan runcing. Ia kalap, hanya satu wanita dan itu cukup mengubah Sehun layaknya orang kesetanan.
Apa salah jika membenci Soojung? Gadis itu bukan satu-satunya yang tersakiti, Sehun jauh lebih sakit. Dia yang membuat Sehun makin terperosok masuk ke dalam perangkap. Sebisa mungkin ia menjangkau luar dan Soojung seperti jamur di otaknya, di cabut dan akan terus tumbuh tanpa kenal henti. Dia menghantui Lelaki itu di malam hari, membuatnya jengah karena tak bisa memejamkan mata, merasuki tubuhnya di saat pertahanannya runtuh. Gadis itu seakan melampiaskan rasa sakit pada Sehun dan Sehun akui ia lelah.
Lalu apa mau mereka? Ingin ia merajut hubungan dengan Yoona? Im Yoona? Bullsh*t…
Yoona adalah Soojung, Soojung adalah Yoona. Mereka sama..
Ia tahu betul dan pasti Gadis itu tak lama lagi akan berada di sisinya― Ini perintah Sekretari Kim, susah untuk dilawan. Jadi, apa kau tahu jawaban dari ‘apa yang diperbuat seseorang ketika risih dengan sesuatu?’ Tentu saja, Sehun akan menyajikan ‘perlakuan khusus’ tersebut pada Yoona..

◊◊◊

Chanyeol bukanlah tipe seorang penunggu pintu masuk yang terkunci, dia lebih suka menendangnya hingga terbuka sekalipun harus berurusan dengan security akibat menerobos masuk secara paksa ke kediaman orang lain.
Sekarang, siapa yang sibuk menekan bel apartementnya tanpa henti? Anak-anak tetangga tak sejahil ini dan nama Chanyeol sebagai ‘tersangka’ sudah ia coret diawalan.
Mengurung kemauan untuk membukakan pintu adalah sebuah pilihan salah karena bunyi bel makin menggila dengan jeritan-jeritan yang mampu membuat keinginan sepintas terjun dari balkon apartement nyaris Yoona lakukan. Telinganya sensitif dan Yoona tak berniat kehilangan indra pendengaran di umur yang masih terbilang muda.
Yoona berjalan setengah hati menghampiri pintu masuk, tak ada pilihan selain membiarkan pintunya terbuka lebar. Dua hari lagi kuliahnya akan berjalan, masih ada setengah dari skripsi yang belum tuntas. singkatnya, siapaun tamunya hari ini, Yoona harus meminta maaf sebab tak ada pelayanan sejenis minuman, cemilan, atau lain-lain. Ia terlalu sibuk untuk memikirkan cara membuat ini itu di dapur.
Gagang pintu tertarik ke dalam, pintu pun mulai melebar memberikan celah bagi si penekan bel untuk masuk. Dan, ia terlalu kaget untuk berkata-kata ketika sepasang mata itu saling bertubruk pandang.

“Yoona-ah!!! Aku merindukanmu!!! Peluk aku!!!”

◊◊◊

“Kau pergi tanpa di suruh, datang tanpa di minta. Maumu apa?!”
Irene meringis , tersenyum kecut mendengar teman lamanya mengamuk. Sejak awal ia memang keterlaluan. Yoona yang notabene partner kerjanya dalam mencari uang di internet melalui artikel yang mereka ketik, Ia tinggalkan sendiri setelah dirinya tanpa diduga lolos masuk ujian pegawai di Ohcorp. Wajar dan tak bisa dipungkiri lagi kemarahan Yoona sehebat ini.
“Mianhae, waktu luangku sedikit. Jam tidurku bahkan berkurang banyak. Mereka benar-benar penyiksa.” Jelas Irene dibuat-buat, suaranya menurun.
Yoona memutar mata bosan. “Bahkan untuk mengirim pesan? Ya ampun, kau pasti sangat sibuk. Itu mengerikan.” Dan Yoona tak kalah berlebihan merespon Irene, nada bicaranya jengkel.
Mulut Yoona terlalu pedas, dan sudah takdir Irene untuk tidak macam-macam. Gadis itu hanya mengatup mulut sebelum akhirnya menghela nafas berat.
“Aku punya tujuan.” Yoona yang sempat mengalihkan perhatiannya, kembali menoleh menatap Irene. Wajah bayi itu berubah serius.

“Sebenarnya, perusahaan mengirimku kesini.”

Perusahaan? Yoona tak pernah berhubungan dengan perusahaan manapun sebelumnya, sekedar mengirimkan dokumen lamaran saja ia tak berminat. Apa lagi sekarang?
“Atasanku― salah satu dari banyak atasanku― sedang mengalami gangguan mental. Bukan gila, tapi hanya gangguan. Ia mengidap bipolar disorder II.” Irene menutup kelopak matanya sejenak, Ia sangat berharap.
“Kau…”
Yoona menumpahkan seluruh perhatiannya, menuntut Irene untuk melanjutkan.
“Perusahaan membutuhkan orang sepertimu, mereka membutuhkanmu.” Pinta irene memelas. Dia berbelit-belit dan cukup lama bagi Yoona untuk menemukan kemana arah pembicaraannya.
Dan Kilat mata Yoona memberitahukan. Iris madunya menahan Irene, menatap Irene tak percaya. Membuat Gadis itu hanya bisa memanjatkan doa seangkatan anak tk ―berdoa jika ada sebuah keajaiban terjun dari langit.
“Mereka ingin aku merawat atasanmu? huh?” Yoona menekan kepercayaan dirinya sampai ke bawah, dan Irene terlalu bodoh menerima tawaran ini. Seharusnya ia tak menguping percakapan Sekretaris Kim, seharusnya ia tak ikut terlibat dalam percakapan itu dan mengatakan bahwa ia kenal dekat dengan Yoona. Dirinya pasti tak akan berakhir di sini, bersama Yoona tentunya.
“Kau mau? Setidaknya kau bisa melepas diri dari artikel memuakan itu.”
“Ini tidak benar. Aku tak pernah bermimpi menjadi pengasuh ataupun semacamnya, tidak.”
“Kau bukan pengasuh, kau ahli psikologinya!” Yoona tak akan menyanggupi tawarannya mentah-mentah, sudah Irene duga. “Ayolah, mereka akan memberimu jaminan. Artikel di internet tak ada apa-apanya dibanding tawaran ini.” Ia terus membujuk. “Aku tak diizinkan kembali jika belum membawamu ke hadapan mereka. Yoona, bantulah aku kali ini.”
Yoona mendengus kesal, Irene benar-benar.. “Percakapan ini tak masuk akal. Kupikir kau sedang menipuku.” Yoona bangkit, kakinya datang menghampiri Irene lalu menangkap lengannya yang masih bertahan. Beberapa kali ia harus mendorong tubuh itu dan akhirnya berhasil menendangnya keluar.
Yoona menutup daun pintu. Terus menutupnya hingga tangan Irene masuk dari celah pintu, mencegah Gadis itu untuk melancarkan aksinya. Yoona sedang tak berniat menambah persoalan, tapi ia jauh tak ingin terlibat kasus dalam peran seorang pelaku pemutus tangan manusia polos.

“Beri aku kesempatan, aku akan menjelaskannya dengan sangat detail. Kau pasti akan berubah pikiran.”

◊◊◊

“Aku menelponnya malam tadi, ia mengadu kalau kau mengganggunya.”
Chanyeol tertawa, getir. Merasa tak nyaman mendengar penuturan tersebut langsung dari belahan bibir Baekhyun. Terasa pahit, dan Chanyeol benci sesuatu yang pahit.
“Jadi, apa yang membawamu ke sini? Kau mau aku menjauhi Yoona? Begitu?” Chanyeol menghembuskan nafasnya kuat, memasang seringai sinis. “Bagaimana denganmu? Apa kau perisainya? Pengecut tetaplah pengecut.”
Pengecut telah menjadi penyusun sifatnya, dan jalan hidup terlahir sebagai pengecut tingkat rendahan memang spesial tercipta untuk Baekhyun. Tapi, Chanyeol tak harus melontarkan rangkaian kalimat kasar itu sebab mereka sama-sama pengecut di sini. Mereka dipertemukan karena memegang status yang sama, pelarian yang sama, pengecut dalam ruang yang sama. Lelaki itu kurang lebih seperti saudaranya yang tumbuh dari rahim berbeda.
Dasar…

“Kasus dulu, mereka kembali membukanya.”

Terselip rasa takut tak terbendung, jelas sekali. Chanyeol mempusatkan titik sadarnya pada Baekhyun. Sesuatu yang buruk akan terjadi. “Kasus sudah di tutup sejak tahun lalu. Aneh jika mereka kembali membukanya hanya karena tidak memiliki kerjaan.”
Baekhyun kalut, Akal sehatnya bahkan sudah seperti air keruh. Ia menyesap americano di atas meja, sekedar untuk menetralkan perasaan. “Kasus ini terselesaikan secara mudah, tanpa penyelidikan,tanpa pengadilan, semua berakir begitu saja ―seperti tak pernah terjadi. Seseorang yang tak terlibat pasti meminta izin untuk menyelidiki lagi.”
Terjebak dalam labirin bukanlah sebuah kabar bagus, itu buruk, sangat buruk. Kepalanya hampir pecah memikirkan masalah ini dan tujuan utama untuk menceritakan persoalan yang sudah melebur adalah Park Chanyeol.
Chanyeol yang selalu menyimpulkan seluruh perkataannya pada hal negatif, membalasnya sarkatis, dan itu yang disukai Baekhyun. Semakin meracau Chanyeol semakin nyaman ia mengeluarkannya. Walaupun tak menutup kemungkinan jika Chanyeol kapan saja bisa membocorkan semua rahasia.
Sayangnya, Chanyeol bukan tipe manusia pengumbar gosip, Lelaki itu lebih suka diam daripada memperpanjang jangkuan masalah. Alasan lain kenapa Baekhyun semakin lengket dengan Chanyeol, dan Chanyeol tak masalah dengan itu.
“Eomma akan mengurusnya. Kupastikan kabar ini tak sampai ke telinga Yoona.” Baekhyun tampak tak berdaya, membuat Chanyeol merasa mendapat kerugian lebih banyak setelah mendengar dongeng Baekhyun. Sekarang lebih transparan, semua tampak nyata tanpa ada tembok yang menghalang.

“Kupikir ini tidak adil. Yoona hanya mengingat lukanya yang kubuat. Dan kau, ia bahkan tak tahu siapa kau sebenarnya. Menggelikan..”

Kepedihan Yoona terlalu menyakitkan. Chanyeol bahkan harus menahan diri untuk memperjelas masalah yang menjadi pemisah hubungannya dan Yoona. Sejujurnya ia takut, takut jika Yoona kembali menyelami masa lalu, takut jika Yoona makin membencinya karena penjelasan tak akan jadi sebuah obat baginya, takut jika Yoona mencoba melakukan hal gila.. ―
Takut jika Yoona hilang.
Kejadian beberapa bulan lalu, Chanyeol masih dalam tahap berusaha menyingkirkan memori itu. di saat melihat Yoona di ambang kematian, membahayakan diri karena mulutnya. Walau setelah terbangun Gadis itu tak mengingat apa-apa. Hanya mengingat Chanyeol sebagai orang yang dia hindari tanpa tahu alasan― lebih tepat melupakannya, melupakannya seperti menghapus coretan di whiteboard.

“Ini adil. Kau melakukan kesalahan dengan sengaja, dan aku berbeda denganmu.”

Entahlah, hubungan mereka dilewati garis besar ambigu. Tampak seperti teman dekat namun banyak perbedaan.Berbeda tapi sama.
Sama-sama melindungi masalah masing-masing dari jangkauan Yoona.

◊◊◊

Irene bertekad kuat tahan banting dengan sikap Yoona kemarin. Berkali-kali dia di tendang, berkali-kali pula Yoona diserang vertigo dadakan. Kuliahnya sudah berjalan sejak 3 hari yang lalu, dan Irene masih betah dengan posisinya― menjadi penguntit amatir Yoona.
Puncaknya ia risih dengan segala tingkah Irene, terpaksa membiarkan Gadis berukuran mini size itu kini duduk nyaman di depannya. Tersenyum penuh kemenangan setelah sukses melumpuhkan Yoona.

“Sekarang apa?”

Sekarang apa? Tentu persoalan kemarin. Irene memajukan posisinya, menghapus jarak.
Tak mau berbasa-basi, ia langsung menuju ke point utama. “Yoona, atasan sangat membutuhkanmu. Emosinya sulit diatur akhir-akhir ini, dan ahli psikologi sebelumnya hanya makan gaji buta― tidak berpengaruh sama sekali.”
Lagi-lagi…
Yoona menggulirkan tatapannya, tepat menilik manik mata Irene. Gadis itu melipat tangan.

“Bagaimana jika aku juga makan ‘gaji buta’? Aku hanya mahasiwa S2 yang belum punya pengalaman. Aku yakin atasanmu itu pintar, berpendidikan tinggi. Tapi, ia bodoh memilihku. Kau tahu?”
“Tidak, pilihan mereka benar, tepat sasaran.”

Yoona mengikuti gerak Irene, terlihat sibuk dengan ransel peachnya.Kesibukan itu berakir setelah selembar kertas ia sodorkan, dagunya bergerak mengintruksi Yoona untuk melihat. Yoona hanya menurut, tanpa penolakan.
“Kau mirip seseorang, seseorang yang dia cintai. Gadis itu meninggal karena kecelakaan dan penyakitnya makin memburuk setelah insiden itu.” Terang Irene.

“Aku tidak mencari informasi tentang Gadis itu. Kau tidak akan membutuhkannya.”

“Lalu mereka ingin aku jadi peralihan? Dia mungkin akan membenciku karena ini!” Ia paham, pengobatan tak bisa di lakukan seenak hati. Pasien juga harus menerima dan Sehun…
Lelaki itu menolak, Yoona yakin.
Kehilangan kata-kata, Irene tak tahu lagi apa yang harus di perbuatnya. Ia juga tak mau melepas nama dengan lapang dada sebagai pegawai di perusahaan hanya kerena gagal menarik Yoona. Jadi, siapa yang harus disalahkan? Irene tak sepenuhnya salah!

“Kenapa kau selalu menolak?! Bukannya ini cita-citamu?! Aku masih belum siap dipecat dari Ohcorp!”

Ohcorp?

“Tunggu..” Tahan Yoona, Dahinya berkerut bingung.”O-ohcorp? Kau bekerja di sana?”
Dia bekerja di Ohcorp dan tak pernah bilang pada Yoona? jawabannya adalah anggukan. Irene sudah menjabat di sana selama 4 bulan .

“Seberapa ingin mereka memperkerjankanku?”

“Seberapa banyak tetesan air di dunia? Kira-kira sebanyak itu.”

Yoona punya peluang. Peluang besar, peluang besar yang tak boleh di sia-siakan.
“Aku mungkin akan menerima tawaranmu…”
Ada apa dengan Yoona?

“Asal buat Chanyeol tak ada di sekitarku.Buat Lelaki itu menghilang. Katakan itu pada atasanmu.”

◊◊◊

Chanyeol bekerja di Ohcorp, yang ia tahu Lelaki itu adalah anak pendiri perusahaan. Kau mengerti maksud Yoona? Perusahaan menginginkan Yoona, mengabulkan apapun yang Yoona mau sampai keinginan mereka terpenuhi. Ya, Yoona tak peduli apa hubungan Sehun dengan Chanyeol, yang ia pedulikan bagaimana cara membius mereka supaya pergi beriringan bersama permintaan tak ber-standar itu!
Meminta menjaga Sehun? Anggap Lelaki itu seperti keluarga sendiri? Cih.. Sehun punya keluarga, kenapa malah dirinya yang disangkut kaitkan? Apa mereka ingin membuat drama percintaan?
Skripsi Yoona sudah tuntas, tapi Irene… Ia belum selesai dengan Gadis ini.

“Kenapa kau selalu menolak?! Bukannya ini cita-citamu?! Aku masih belum siap dipecat dari Ohcorp!”

“Ohcorp!”

“Ohcorp!!”

“OHCORP!!!”

Kebetulan atau takdir? Yoona kelewat beruntung mendengar pernyataan itu! Chanyeol bukan orang main-main di sana, Lelaki pemegang jabatan tertinggi, penguasa, Raja! Tidak ada yang berani menentang Raja, apalagi menghilangkannya.
Yoona sudah mengatakan syarat, hilangkan Chanyeol. Dan tangannya dengan ringan menggoreskan pena di atas kontrak jika syarat itu bisa dilaksanakan. Sejujurnya, ia tak sungguh-sungguh, hanya mulutnya yang berucap tanpa persetujuan dirinya. Tapi, apa gunanya penyesalan? Irene bahkan tak nampak lagi 4 hari kedepan ini. Rencananya berhasil!! Menembus batas kekuasaan mereka!!

“Yoona-ah!!!”

Atau tidak sama sekali…

Irene datang untuk apa lagi? Mengibar bendera putih? Menyatakan kekalahan? Mungkin…
“Kau menyelamatkanku!! Chanyeol , syaratmu itu, selesai! Kau senang?! Kau pasti senang!” Yoona masih blank. Apanya yang selesai?
S-syaratnya berhasil mereka lakukan? Itu gila!
Irene merekah senyum, memamerkan kebahagiannya sedetik setelah Yoona menghampiri. “Bagaimana bisa? Apa yang kalian la… ―”

“Di Jepang sedang banyak masalah, dan Chanyeol yang ahli kami kirim untuk menyelesaikan. Agak sulit,tapi hasilnya memuaskan.” Irene, Gadis itu bahkan terdengar seperti mempresentasikan proses pengiriman barang, tidak sedikitpun menyertakan embel-embel hormat pada petingginya.
“Tak selamanya Chanyeol disana, mungkin beberapa bulan. Tapi itu cukup membuatnya menghilang darimu ‘kan?”

Chanyeol workaholic, sosok yang lebih memperdulikan pekerjaan dibanding perutnya yang kelaparan. Lalu, bagaimana Lelaki itu bisa menelantarkan pekerjaan yang pentingnya melebihi makanan? Ya ampun, nasib Yoona dipertanyakan.
“Lalu aku? Aku bagaimana?” Tanya Yoona kikuk. Termakan omongan? Yoona baru tahu rasanya tak seenak ini.
Segelas air putih ia teguk.”Kau bagaimana? Tetap jalankan kontrak, seperti yang sudah dijanjikan.” Yoona tak mengharapkan jawaban itu.
Ini menyangkut soal atasan, Yoona tak bisa membatalkan perjanjian seenak jidat. Terlebih Chanyeol sudah berada di Jepang.
Ia memang membenci Chanyeol, muak dengan Lelaki itu, stress karena Lelaki itu. Tapi, cara menghilangnya Chanyeol yang paling ia benci sekarang. Namanya tanpa sengaja terlilit masalah ini, berkat ulahnya sendiri. Perfect…
“Yoona-ah.” Irene memandang Yoona lembut, selembut kapas. “Aku memang salah, meninggalkanmu karena egoku.”

“Sebenarnya, aku tak hanya mengajukan satu syarat yang kau berikan… ―”

Atmosfir berganti, Irene yang bersikap lebih dewasa mengubah semuanya. Memendam pikiran-pikiran yang bekecamuk di kepala Yoona. Hening.
“Aku meminta Sekretaris Kim mencarikanmu pekerjaan setelah S2 mu tamat. Dokter psikolog di rumah sakit pusat Seoul, kau sudah mendapat tempat di sana.” Cairan itu akhirnya menenggelamkan rasa malunya, Irene menangis penuh haru pada Yoona.
Dokter psikolog? Irene berpikir sejauh itu? Yoona tak tahu. Keadaan macam apa yang sedang di laluinya?
“Hanya ini hadiah yang bisa kuberikan, ku harap kau senang.”
Irene tidak bohong, mata kucingnya menyiratkan segalanya, murni terjelaskan. Yoona, Yoona bukan ahlinya berbohong, ia tak bisa menahannya, ia tak bisa membendungnya, ia tak bisa membiarkan air matanya tak jatuh.
Pelukan hangat menyelimuti tubuhnya, kembali memutar ingatan masa-masa menyenangkan bersama Gadis itu. Menggantikan semua beban yang sesaat memberatkannya.

Tak ada alasan untuk menghindar kali ini, Irene.. ― Gadis itu tetaplah sahabatnya..

◊◊◊

“Mereka tidak ingin menemuiku? Atau… Apalah?”
Irene melirik dari ujung mata, Gadis itu menggeleng mantap. “Untuk apa bertemu mereka? Mereka tak lebih dari pria tua berkepala lima. Tak memiliki pesona sama sekali. Lupakan saja.” Celotehnya sembarang.
Lelucon, lagi.
Sudah berapa kali ia bertanya, dan jawaban tak memuaskan hanya bisa menambah kemasaman wajah Yoona. Irene yang berasal dari antah berantah memapah sekarung candaan pengeras hati setelah kemarin mereka baru bertangis-tangis ria. Lihatlah tangan Yoona, betapa ingin sekepal tisu ini ia sumpal ke tenggorokan Irene, berteriak histeris pada Gadis itu bahwa dirinya sedang gugup lengkap dengan kata sangat di awalannya. Sangat gugup.
Eumm, jika Yoona ingin dikenal sebagai manusia berotak miring, apapun akan dilakukannya untuk menyiarkan kegugupan yang melanda pikirannya.
Koper moccasin Yoona sudah tak sabar minta diseret, membawa benda yang beratnya tiga kilo itu ke apartement Sehun, Oh Sehun― Tuan Oh.

Yap, hari ini Irene menyeretnya kabur dari rumah dengan mengatakan tidak mau mengulur waktu tentang perjanjian Yoona dan perusahaan.

Irene tidak mengatakan apa-apa tentang hal berbau ‘Menginap-sementara-di-rumah-sehun’, dan Yoona tak pernah mengira apapun mengenai itu. Tau-tau dirinya sudah duduk manis di salah satu bangku cafe tepat menghadap apartement Sehun.Ia melakukan apapun yang disuruh seperti orang linglung, tak lagi ada rasa paranoid, tak ada lagi rasa curiga, semua sikap-sikap waspadanya seakan telah terobek, tercerai berai, lenyap.
Yoona ingin berdiskusi, ingin memastikan dengan Sekretaris Kim― yang selalu Irene ungkit tiap kali membahas perjanjian― walau tampaknya Lelaki tua itu berkelakuan arrogant seolah-olah jijik mengangkat panggilan dari Yoona. Hampir dua puluh kali ia menelpon dan jelas-jelas bahwa operator mengatakan telpon diputus sepihak. Ia juga tak bisa berpikiran pendek, kemungkinan Lelaki itu sedang rapat atau apalah. Tapi, Irene sudah bilang Sekretaris Kim tidak punya job di minggu kedua bulan november ini.
Yeah, You know that? Pemikiran jelek tak terhindar berkelebat, mencemoh Sekretaris Kim tanpa lelah.
Dan beginilah nasibnya, berkiblat pada Irene si peta yang menunjukan kemana dan harus apa nantinya Yoona. Sejujurnya ia malas mengakui kalau Irene memang di butuhkan dalam kondisinya yang penuh tanya, seperti sekarang.

“Aku selesai. Ayo, Sehun pasti menunggumu.”

Yoona mengeluh setelah menyadari kerjaan otaknya berpikir tentang pelarian jenis apa yang akan digunakan untuk kabur dari masalah telah kandas tak tersisa. Menyebalkan.
Tring Tring Tring
Dering ponsel Yoona mencengkram langkah Irene. Tangannya terangkat mengisyaratkan Irene untuk menunggu sebentar. Yoona melihat layar ponselnya.

Byun Baekhyun.
Nama yang tertera di layar panggilan masuk.

Sudahlah, ia tahu apa topik dari obrolan mereka nantinya. Yoona tidak suka sesuatu yang mudah ditebak.
“Yak, bayar minumannyaa!”
Yoona memutus sambung, memasukan ponsel ke dalam saku, dan langsung mengejar Irene yang berdiri santai di lubang pintu. Menarik Gadis itu kembali ke kasir karena lupa untuk membayar.

◊◊◊

Tak terhitung berapa kali tapak kakinya bergerak dalam rute yang sama di depan Apartement Sehun. Mematung sesaat lalu sedetik kemudian memijit pelipisnya bersama kegelisahan tak terkira. Dia tak bisa berdiri di sini seharian non-stop. Kakinya sudah letih dan pulang ke apartementnya sendiri hanya akan membuang waktu.
Yoona dilema…

“Aku hanya mengantarmu. Tugasku menumpuk di kantor dan aku harus segera menyelesaikannya. Aku janji akan langsung menemuimu setelah semua beres.”

Gadis itu―Irene― dengan entengnya berjalan pergi, meninggalkan Yoona setelah mengatakan pesan perpisahan. Yoona akan berbahagia menerima pesan itu asal tidak disaat-saat ia kehilangan tujuan seperti ini. Irene, Gadis pendek itu selalu berhasil menciptakan drama sempurna di situasi yang salah.
Jari Yoona perlahan mendekat pada tombol bel, bersiap menekannya. Ia ambil resiko, walau tak ada resiko sama sekali setelah dirinya mencoba.
‘Hanya tekan lalu masuk dengan sopan, hanya tekan lalu masuk dengan sopan, hanya tekan lalu masuk dengan sopan.’ Kalimat itu mengiang, memberikan motivasi.
Dirinya bukan dirinya, ia berbeda untuk kali ini. Yoona bukanlah seorang dengan kegugupan tinggi atau tipe manusia pemalu dalam menghadapi situasi. Tapi, situasi ini lain dari yang lain, sikapnya otomatis mengalami perubahan. Kegugupan menguasainya, menyulut seluruh pegangan kendali Yoona.
Ia tak lebih seperti robot, butuh seseorang untuk memegang remote pergerakannya. Yoona seakan mati rasa sekarang.
“Hanya tekan, lalu masuk dengan sopan. Ayo lakukan Im Yoona..”
Tekan saja belnya, itu mudah.

CLICK

Tubuhnya seakan berhianat, niatan ingin pulang baru saja menghampiri dan nyaris membuat ia berubah pikiran untuk masuk ke apartement Sehun. Dan, ia terlalu cepat menekan bel. Apa ini penyesalan? Atau ungkapan lega? Yoona bahkan merasa waktu yang berlalu memanah kesadarannya.

“Sehun, Lelaki itu pria berumur 40 tahun. Sedang mengalami depresi berat belakangan ini, jadi jangan kaget saat kau menemukan mata memerah seperti ingin menerkam saat ia membuka pintu nanti.”

Fakta yang Irene ucapkan mampu membuatnya bergidik ngeri. Pria 40 tahun? Yoona kira Sehun sebayanya, sebelumnya Irene tak memberikan informasi pribadi tentang Lelaki itu.
Dengan mata memerah seperti ingin menerkam? Lelaki itu pasti dalam keadaan jauh dari kata baik.

CKLEK

“Kau datang juga. Sudah kutebak.”

Itu kebohongan kejam yang berpura-pura menjadi fakta. Mata memerah seperti ingin menerkam? Ironisnya, Lelaki itu tampak seperti phsycopat yang selalu siap menusuk Yoona.
Pria berumur 40 tahun?
Apa Irene rabun?! Sehun yang ia kira sekarang, tanpa ada penelitian Lelaki itu sudah masuk dalam jajaran Pria berumur 20 tahunan, wajah tampan tak bisa berdusta.
Irene menipunya…

“Kuharap kau nyaman di sini”

Setidaknya Yoona tak ingin tertipu lagi. Kuharap kau nyaman di sini? Ia juga harap begitu, karena Iris Sehun seakan menegaskan bahwa Yoona salah berada di sisi Lelaki pucat itu…
Sehun… Tidak menyukainya…
Perkiraan Yoona benar..

◊◊◊

Ampun, ampun! Ini chaptered tersusah sepanjang hidupku!! #LebaygakKetulungan
Kalimatnya itu loh, menurutku kesannya maksa, absurd gila, aku akui. Kena writers block buat aku ngerasa kalau ini bukan gaya penulisanku, jadi sensitif banget liat kata-kata gak ngena di hati.
Gak tau deh gimana reaksi kalian yang nunggu ni ff. Ya, aku minta maaf jika nih ff alurnya aneh, atau kecepatan. Bukan maksud membuat jelek ff, tapi memang gaya bahasaku yang ancur . Aku usahain untuk chapter selanjutnya bakal lebih baik dari yang ini. T___T
Ah, bagi yang udah komen di teaser sebelumnya atau ada yang nyempatin nonton video teaserku, Makasih banget, makasih banget. Akunya ampe nangis lihat komen kalian, makasih banget #???
Ada lagi kembaran-kembaran terpisahku yang setuju ama kegantengan Sehun dan Chanyeol yang buat mimisan #BAPER #HighFiveyangMerasadisebutkan #Maafyangpuasa #JanganingatChanhunjikatakinginbatal
Ok, kalimat penutupku bahkan lebih panjang dari ffnya. Bye Bye!!!! See You in next chapter!!!! Love you all!!! #Abaikan

70 thoughts on “(Freelance) Precious (Chapter 1)

  1. Masih rada bingung sma ffnya tapi jga penasaran apa yg chanyeol baekhyun lakuin. Trus jga sehun nya, yoona jga aku masih bingung ini sebenernya knp ?
    Nextchap jgn lama2 yaaaa.m.
    Keep writing thor..

  2. huahh emangnya chanyeol ngapain yoona koq dia sampe benci bgt sih sama chanyeol :-\ duhh yoonhun <3<3 part1 nya aja udah.keren banget😄 ditunggu kelanjutannyaaa

  3. Wah iya kalimatnya tinggi haha, tapi aku tetep suka sama ceritanya, dan bener2 gak ngerti sama masalah ChanBaekYoon(?) obrolan ChanBaek masih terlalu ambigu buat aku, sebenernya ada apa sama masa lalu mereka bertiga? Apa jangan2 diem2 Yoona juga lagi ngalamin depresi sama kayak Sehun cuma gak separah Sehun? *maksudnya?*

    Anyway maksud Sehun dengan ‘perlakuan khusus’ ke Yoona gimana? Apa yg terjadi selanjutnya dengan YoonHun di apartemen Sehun?

    Next chap soon ya klo bisaaa ^O^ fighting!!

  4. OH MY GOD!!!!! FFNYA KEREEEENNN!!! GILAAA!!

    Bahasanya SAMA SEKALI NGGAK ANCUR!! Justru, bahasanya paling aku suka loh, suweerr… Pakek Majas apa gimana?? gilaaaa, bahasanya bagus bangeeett enak dibaca *Loekiramakanan?

    ADUUUHH ADDUUHH

    Author jadi favorit aku deh, Ffnya KEREN! idenya KEREN! 1000 Jempol deh buat author-nim!!!

    Btw, qw blum baca teasernya + lihat videonya.. Tapi BENER BENER KEREEENNN!!!!!

    Author!!!! Te Amo!!! Yo Te Amo!! Forca Preciouso!! Visca Preciouso!!!

  5. bahasanya aga susah d mengerti cz berbelit2 sih, but overall ceritanya bgs bgt, dan sukses bkn penasaran.
    nect chap d tunggu chingu..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s