IN FRAME (Pt. 2)

in-frame1

IN  F R A M E

by
Clora Darlene

Main Casts
Kim Jongin | Im YoonA

Supporting Casts
Oh Sehun | Calista Im | Huang Zi Tao | Others

Length | Rating | Genre
2shots | PG-13 | School Life

postercredit; KaiHwa @ ArtFantasy1st

After Story of No One Realize The Series (Pt. 1 | Pt. 2 | Pt. 3)

[Im Yoona dan Calista Im adalah orang yang berbeda]

“Yoong?” Yoona dan Yuri bersamaan menoleh pada sumber suara. Ada sosok Kai tengah berjalan menuju Yoona dan ikut berdiri di hadapan Yuri. Raut wajah laki-laki itu mendadak berubah―terkejut. “Yuri?”

Bibir sexy Yuri masih mengatup. Matanya memandang Kai yang berdiri di sebelah Yoona lalu beralih pada Yoona lagi. “Kuharap kau benar-benar serius atas apa yang baru saja kau ucapkan, Yoona-ssi.” Yuri lalu pergi begitu saja.

Yoona terdiam di tempatnya berdiri. Oh, bodoh sekali kau, Yoona, batinnya.

“Apa yang kau katakan kepadanya?” Tanya Kai.

Yoona mendesah. “Tidak ada.” Elaknya lalu duduk. Ia butuh udara segar. Yoona mengusap wajahnya dengan kedua tangannya lalu menghela nafas panjang. “Kurasa kau harus makan dulu.” Gumam Kai.

Yoona memandang Kai yang duduk di hadapannya. “Apa yang terjadi di antara kau dan Sehun?” Tanya Yoona langsung mengubah topik pembicaraan.

“Kau sepertinya tidak menyukai basa-basi. Setidaknya kau harus makan dulu.” Kai bersikeras sembari seorang pelayan menaruh pesanan mereka dan menatanya di atas meja. Well, Yoona bahkan belum menyebutkan apa yang ingin ia makan tetapi dengan begitu saja berbagai makanan―yang tepatnya adalah makanan kesukaannya―sudah disuguhkan di depan matanya.

“Kau memesankanku?” Tanya Yoona melirik Kai.

“Aku juga mengetahui dirimu, Im Yoona-ssi.” Balas Kai dengan sebuah seringaian yang memamerkan dua gigi taring panjangnya.

Yoona tersenyum kecil lalu mengangkat bahunya. “Baiklah,” Tidak ada lagi yang dapat Yoona ucapkan. Sejenak keduanya sibuk melahap makanan masing-masing, hingga Yoona akhirnya sudah tidak tahan dengan perasaanya keinginantahunya. “Bagaimana kau dan Sehun bisa menjadi saudara tiri? Adopsi?”

Kai menggeleng. “Ibuku menikah dengan ayahnya. Jadi, aku dan Sehun berbagi darah ayah kami.”

Yoona menaruh gelasnya di atas meja, lalu keningnya mengerut. “Bukankah kau lebih dulu lahir ketimbang Sehun?”

Kai mengangguk. “Ya, kau benar,” Ia lalu menelan makanannya. “Ibu Sehun tidak dapat hamil setelah menikah. Entah karena apa, aku kurang mengerti. Mungkin karena riwayat kesehatan. Lalu ayahnya menikah dengan ibuku dan akhirnya ibuku mengandungku. Namun, tiba-tiba, setelah beberapa minggu kehamilan ibuku, ibu Sehun mengumumkan kehamilannya―mengandung Sehun. Jadi jarak umurku dan Sehun tidak terpaut jauh,” Jelas Kai. “Kelahiran Sehun dianggap sebagai keajaiban, mukjizat? Karena dokter telah memvonis ibunya tidak bisa hamil. Itu mengapa Sehun sangat ‘diagungkan’ di keluarganya.”

“Aku tidak pernah melihatmu di rumahnya. Maksudku, rumah yang ditempati oleh Sehun sekarang ini.”

“Aku dan ibuku tinggal di sebuah rumah yang dibelikan secara khusus. Tapi semenjak sepeninggal ayah kami, aku dan ibuku tinggal satu atap dengan Sehun.”

“Apa Sehun bersikap baik dengan kepadamu? Secara teknis kau adalah anak pertama dan warisan perusahaan diberikan kepadamu. Bu―”

Kai mengangguk ringan seraya tertawa kecil. “Aku mengerti pertanyaanmu. Malah sebaliknya, kini Sehun yang memimpin perusahaan. Bukan aku.”

“Apa? Sehun? Memimpin perusahaan?” Suara Yoona memang tidak meninggi, tetapi kilatan tak percaya terang sekali dipancarkan oleh matanya.

Kai kembali tertawa. “Reaksimu di luar ekspektasiku.”

“Tetapi kalian berdua tidak memberitahu siapapun mengenai hubungan kalian.”

Kai tertawa kecil. “Tidak mungkin kami membeberkannya, Yoong.”

“Lalu,” Yoona menggantungkan ucapannya. “Apa kau tahu mengapa Sehun pindah sekolah?”

“Dia harus memimpin perusahaan,” Kai meraih serbet putih yang disediakan di atas meja lalu membersihkan pinggiran bibirnya. “Dia tidak akan pergi ke sekolah lagi, itu mengapa dia akan melaksanakan sistem long distance education. Ayah kami mewariskan perusahaannya kepadaku dan Sehun dengan bagian yang sama besar, tapi aku memberikan milikku kepadanya. Aku tidak tertarik dengan dunia bisnis dan akademik Sehun lebih mendukung ketimbang diriku―wait, aku tidak sebodoh yang baru saja kau pikirkan.”

“Jadi, Sehun memegang seluruh aset perusahaan?” Tanya Yoona memastikan.

“Seluruhnya,” Jawab Kai mantap. “Tanpa terkecuali.”

“Kau sangat kejam kepada adikmu sendiri dengan memberikan bagianmu untuk diurusnya.” Yoona terkekeh pelan.

Kai lalu menggeleng pelan. “Aku tidak pernah tertarik dengan hal seperti itu. Kau tahu dengan pasti aku tertarik dengan apa.”

Dance,” Sela Yoona cepat lalu mengangguk mengerti. “Dan para perempuan sexy juga.”

Kai tertawa mendengar jawaban Yoona. “Aku lebih tertarik dengan yang terakhir.”

“Dengan Zoe, maksudmu?” Alis kiri Yoona terangkat.

Kai mengerang pelan. “Oh, Zoe yang malang, aku belum mengembalikan underwear miliknya.”

Yoona langsung memukul bahu Kai keras. “Ya! Kau bahkan belum minta maaf kepadaku.”

Laki-laki berkulit tan dengan senyuman manis itu tertawa lagi. “Aku tidak bermaksud bermain di belakangmu saat itu, tapi Zoe terlalu menggoda untukku, Yoong. Kuharap kau mengerti. Oh, ya, dan aku minta maaf.”

Iris madu Yoona terputar jengkel.

            Kai tengah duduk menonton TV saat Sehun baru pulang. Wajah laki-laki itu terlihat lesu dan badannya tampak mengurus di balik mantel hitam panjang yang dikenakannya.

“Berhentilah menonton film dewasa, Jongin-ah.” Kim Minseok―Chief Executive Officer perusahaan―datang menghampiri lalu duduk di sebelah Kai.

Iris chestnut brown-nya terputar kesal. Oh, ayolah, jelas sekali yang sedang ia tonton sekarang adalah Cartoon Network. “Aku sedang menonton kartun sekarang.”

“Tapi, kau tetap sering menonton film dewasa, bukan?” Tebak Minseok lalu merebut remote TV dari genggamannya. Well, Minseok dan dirinya sudah dekat sekali, bisa dikatakan ‘teman’ walaupun umur mereka tarpaut cukup jauh.

“Apa hyung baru saja pergi bersama Sehun?” Tanya Kai.

Minseok mengangguk. “Ne, wae?”

“Kemana?”

Minseok terdiam sejenak lalu ia menaruh remote tersebut. “Mengantarnya pergi menemui psikiater.”

Kening Kai membentuk beberapa lapisan dalam yang menumpuk. “Apa dia gila?”

Minseok melirik Kai tajam. “Dia hanya depresi. Stress, frustasi, something like that.”

“Seharusnya dia hanya perlu meminum obat antidepresan tanpa perlu pergi berkonsultasi ke psikiater.” Kai memberikan sarannya dengan santai.

“Jika obat antidepresan dapat membantunya, dia tidak akan pergi ke psikiater untuk berkonsultasi, Jongin.” Kini bolamata Minseok yang berputar.

Kai memandang Minseok―si laki-laki yang masih mengenakan kemeja beserta dasi. “Aku tidak mengerti.”

Minseok menghela nafas. “Ini adalah kali ketujuh Sehun menemui psikiater. Dia juga telah meminum tiga jenis obat antidepresan yang berbeda, tetapi obat-obat tersebut tidak dapat membantunya dan malah membuatnya lebih depresi. Obat antidepresan bahkan tidak dapat membantunya.”

“Apa kata dokter? Kata psikiater?”

“Beban pikirannya kini sangat berat karena dia telah menjadi pimpinan perusahaan. Banyak yang harus dipikirkannya untuk menjalankan dan memajukan perusahaan. Kau tahu, dia bahkan belum lulus SMA. Mentalnya tidak siap menerima ini semua,” Jelas Minseok dengan raut wajah prihatinnya. “Aku harus pulang.”

“Kapan Sehun kembali berkonsultasi ke psikiater?”

“Besok, pukul delapan pagi. Wae?”

            Kai mengotak-atik ponselnya untuk menemukan lokasi dimana psikiater yang biasa Sehun datangi berada melalui GPS. Well, dan ternyata berada di sebuah rumah sakit yang berada di pusat kota. Tidak akan sulit, pikir Kai.

Mata Kai melirik saat ia mendengar suara langkah kaki―itu pasti Sehun. Dengan sekali tarikan, Sehun membuka pintu mobilnya dan terlonjak saat menemukan Kai telah duduk di balik kemudi mobil pribadinya. “Apa yang kaulakukan?”

“Aku akan mengantarmu ke psikiater-mu.” Jawab Kai santai.

“Kau tidak pergi ke sekolah?” Suara Sehun meninggi.

“Aku bosan.” Timpal Kai.

Sehun mendengus. “Aku mengeluarkan banyak uang untuk sekolahmu dan kau dengan mudahnya bolos?”

“Aku akan mengganti uangmu untuk hari ini,” Iris chestnut brown-nya terputar. “Masuklah, kau menjadi pemarah akhir-akhir ini.” Kai memasang seatbelt-nya lalu menyalakan mesin mobil. Menunggu hingga Sehun akhirnya duduk di kursi penumpang di sebelahnya lalu menancap gas.

“Siapa yang memberitahumu?”

“Kau terlalu mudah dibaca.” Elak Kai lalu memutar setir mobil.

“Kau tahu darimana?” Sehun mengulangi pertanyaannya.

“Kau terlalu mudah dibaca, tidakkah kau punya telinga untuk mendengar?” Tanya balik Kai kesal. Jika yang ia gunakan kini adalah mobil pribadinya, sudah dipastikan tanpa berpikir panjang ia akan menendang Sehun keluar ke jalanan. Tanpa belas kasih sedikitpun.

Sehun berdecak pelan. “Pasti Minseok hyung.” Gumam Sehun seakan ia berbicara kepada dirinya sendiri.

“Kau memanggil Minseok dengan sebutan ‘hyung’ tetapi tidak denganku?”

“Aku selalu mengelak bahwa kita memiliki satu aliran darah yang sama.” Bantah Sehun.

“Oh, itu sangat sadis, saudaraku.”

“Aku bukan saudaramu.”

“Kita terlahir dari sperma yang sama, tidakkah kau ingat?”

“Mejijikkan.” Iris pure hazel Sehun terputar.

“Itu tidak menjijikkan.” Bantah Kai ringan.

“Itu menjijikkan.” Sehun menegaskan.

“Aku saudaramu, bodoh.”

“Berterimakasihlah padaku, jika aku lebih dulu lahir, kau tidak akan pernah ada.”

Kurang dari sedetik, Kai langsung memukul kepala Sehun dan membuat laki-laki berambut tembaga itu berteriak dan meringis. “YA! Apa kau akan terus seperti itu hingga kau mati nanti?!”

“Aku bersumpah tidak akan pernah memanggilmu dengan sebutan ‘hyung’ seumur hidupku,” Ucap Sehun lalu keluar dari mobil. Ia tampak kesal. Kai melihati punggung saudaranya itu yang lama-kelamaan menjauh. Ia menghela nafas lalu keluar dari mobil, mengikuti Sehun.  Sehun berjalan begitu cepat di depannya hingga laki-laki itu berhenti di depan sebuah pintu dan berbalik lalu memandangnya. “Tunggulah di sini, jangan masuk.”

What?” Alis kiri Kai terangkat dan keningnya mengerut.

“Itu yang biasa Minseok hyung lakukan. Dia tidak masuk.” Sehun segera masuk ke dalam ruangan tersebut bahkan sebelum Kai membuka mulutnya. Kai mendengus lalu duduk di sebuah bangku panjang. Well, kini ia terlihat seperti babu Sehun.

Mau, tidak mau―ia akhirnya menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Delapan menit.

Sebelas menit.

Dia tidak dapat menunggu lebih lama―atau ia akan mati kebosanan. Kai memutar knop pintu lalu masuk. Seorang perempuan menengadah memandangnya dengan raut wajah bertanya-tanya.

Kai membungkuk, memberikan salam hormatnya. “Annyeonghaseyo, Kim Jongin imnida.”

Senyum perempuan itu melebar. “Ah, kau pasti kakak Sehun.”

“Bagaimana Anda tahu?” Tanya Kai lalu menutup pintu.

“Sehun menceritakan segalanya,” Jawab perempuan itu singkat dan di sebelahnya terbaring Sehun yang…tertidur? Perempuan itu mengikuti arah lirik Kai, lalu mengerti. “Dia hanya terhipnotis.”

“Hipnotis?”

“Terapi Hipnotis.” Perempuan itu membenarkan.

“Maafkan aku sebelumnya,” Kai menelan salivanya dengan susah payah. “Bukankah Anda seorang psikiater?”

Perempuan itu terkekeh pelan. “Aku seorang hypnotherapist, tapi kau juga boleh menyebutku sebagai psikiater. Silakan duduk, aku harus melanjutkan terapinya.”

“Ah, ya. Maaf mengganggu.” Ucap Kai kikuk lalu duduk di sebuah sofa. Ia masih belum mengerti dengan gagasan Terapi Hipnotis dan Hypnotherapist, itu mengapa ia dengan wajah dungunya memerhatikan perempuan dengan rambut sebahu itu dengan intens.

“Prioritasmu yang utama sekaranglah adalah perusahaan. Utamakan perusahaan di atas apapun―waktu istirahat, hangatnya rumah, teman, perempuan―”

“Perempuan?” Sela Kai tak sengaja. Oh, Tuhan, maafkan ia, tapi pertanyaan itu reflex keluar dari mulutnya. Sungguh, tidak ada unsur kesengajaan.

Perempuan itu kembali menoleh. “Apa ada masalah?”

“Apa dia bisa menyukai perempuan?” Pertanyaan itu tak bisa dihentikan Kai dan membuat perempuan berambut cokelat itu tertawa mendengarnya.

“Selama tiga tahun.” Jawabnya.

“Selama tiga tahun? Anda yakin? Aku bahkan mengira dia gay.” Kai tidak dapat mengedipkan matanya setelah mendengar penuturan perempuan itu―Choi Sooyoung.

Sooyoung kembali tertawa. “Sehun menceritakan segalanya.”

“Apa Sehun menyebut nama perempuan itu?” Tanya Kai. Well, untuk ini Kai sungguh bertanya-tanya. Hey, adiknya normal, and thanks God, batin Kai.

“Yoona. Im Yoona,” Jawab Sooyoung. “Kau mengenalnya juga?”

Mulut Kai terkatup sejenak. Wajah Yoona tiba-tiba muncul di dalam otaknya dan memenuhi pandangannya. Iris chesnut-nya menghindari tatapan Sooyoung. “Ya, aku mengenalnya.” Kai tersenyum hambar. Ia akhirnya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.

 

“Jauhi dia, atau aku yang akan menjauhkan kalian berdua.”

 

Oh, semuanya masuk akal sekarang. Mengapa Sehun begitu marah saat ia berkencan dengan Yoona, mempermainkan perempuan itu―Kai mengerti.

Kai masih berdiam di dalam ruangan tersebut seraya mendengar berbagai kalimat yang diucapkan oleh Sooyoung kepada Sehun. Mengatakan bahwa Sehun harus mengutamakan perusahaan di atas apapun yang ada saat ini―intinya. Kai tidak pernah mengira bahwa Sehun akan seperti ini―laki-laki itu stress, depresi dan tertekan di waktu yang bersamaan. Wajah Sehun tidak pernah seceria dulu, tersenyumpun sekarang kadang, mengurus, pipinnya menirus―dan Kai mulai merasa bersalah karena menjadi egois. Sangat egois. Ia membiarkan adiknya itu mengurus tanggung jawabnya, melimpahkan kewajibannya untuk menjalankan bisnis ayahnya kepada Sehun hanya untuk mengejar impiannya seorang diri.

Sedangkan Sehun?

Laki-laki itu tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengejar apa yang ia inginkan.

“Kim Jongin-ssi?” Panggilan Sooyoung berhasil membuat Kai terbangun dari lamunannya.

Ne?”

“Apa kau bisa keluar? Aku akan membangunkan Sehun dan kurasa Sehun tidak akan suka jika dia tahu bahwa kau ada di ruangan ini selama dia melakukan terapi.” Sooyoung tersenyum kecil.

Kai mengangguk pelan kemudian bangkit dari duduknya. “Tentu saja, maafkan aku karena telah mengganggu.” Kau tersenyum kecil lalu berjalan ke arah pintu dan memutar knop. Ia kembali duduk di bangku panjang tadi, seakan-akan ia telah menunggu Sehun yang sedang terapi selama berabad-abad lamanya.

“Kai?”

Kai menengadah saat seorang perempuan mengenalinya dan memanggilnya. Mata Kai untuk sejenak tak berkedip. Nafasnya tertahan di dadan dan otaknya berhenti bekerja. “Hey, Hyo.” Kai seketika berdiri dengan mata yang tidak dapat ia alihkan dan sebuah senyuman kikuk yang terlihat tolol.

“Sudah lama tidak bertemu denganmu.” Kim Hyoyoyen―si perempuan berambut pirang bahkan nyaris emas―tersenyum manis menatapnya. “Bagaimana kabarmu?”

Memburuk saat kau memutuskan untuk meninggalkanku, tentu saja.

“Kau bisa lihat sendiri, aku baik-baik saja,” Kai tersenyum manis. “Bagaimana denganmu?”

“Senang mendengarnya. Aku juga baik-baik saja,” Jawab Hyoyeon. “Kau datang ke sini sendirian?”

Kai menggeleng. “Tidak―”

“Hyoyeon nuna?”

Keduanya bersamaan menoleh, memandang Sehun yang baru saja keluar dari ruangan Sooyoung dan memanggil Hyoyeon. “Sehun-ah! Sudah lama tidak bertemu denganmu.” Hyoyeon melebarkan tangannya lalu memeluk Sehun hangat.

“Aku juga,” Sehun tersenyum kecil. “Bagaimana keadaan nuna? Kuharap baik-baik saja.”

“Harapanmu terkabul, Sehun-ah.” Hyoyeon tertawa kecil.

Rasanya ada kupu-kupu sekarat yang bersarang di perut Kai saat melihat tawa kecil Hyoyeon. Kupu-kupu itu ingin terbang dan membuatnya kegelian namun lebih memilih mati karena sudah tidak memiliki harapan hidup.

“Kapan-kapan kita harus makan malam bersama,” Sehun masih menyunggingkan senyumannya lalu memandang Kai. “Bagaimana?”

“Ya, Sehun ada benarnya.” Jawab Kai pelan.

“Akan kupikirkan,” Hyoyeon kembali tertawa. “Aku harus pergi dulu. Bye, Kai, Sehun-ah.” Hyoyeon melambaikan tangannya lalu punggung itu semakin lama semakin mengecil dan akhirnya tidak tampak lagi.

“Cinta pertamamu?” Kai menoleh saat Sehun kembali membuka suaranya. “Cinta pertamamu.”

“Kau terdengar sangat sok tahu.” Bantah Kai.

Sehun mendekatkan wajahnya dan menyipitkan matanya. “Sebelum sejauh matahari, kita pernah sedekat nadi. Aku mengetahui dirimu.”

Kai mendengus. “Kau terdengar seperti seorang gay.” Lalu beranjak pergi.

Selama perjalanan, tak ada dari mereka yang membuka suara. Kai ingin meminta penjelasan mengenai ‘terapi hipnotis’ tetapi di sisi otaknya yang lain wajah Hyoyeon masih terbayang-bayang, sedangkan Sehun sibuk dengan ponselnya dan terkadang bernyanyi mengikuti lagu yang terputar di stereo mobil.

Sehun masuk ke dalam rumah lebih dulu lalu diikuti Kai. “Aku tidak mengerti mengapa kau harus melakukan terapi hipnotis.” Kai akhirnya membuka suaranya mengenai hal tersebut.

Langkah Sehun terhenti lalu ia berbalik. Iris pure hazel-nya menyorot Kai tajam. “Kau masuk ke dalam ruangan tadi?”

“Seantero Korea Selatan tahu bahwa Choi Sooyoung adalah seorang hypnothereapist.” Elak Kai.

“Itu bukan urusanmu.”

“Apa Yoona tahu?” Tanya Kai, membuat kening Sehun mengerut.

“Tahu apa?”

“Kau menyukainya? Mencintainya? Selama tiga tahun. Wow.”

Sehun terdiam. Rahangnya mengeras lalu menggertak. Matanya menyorot Kai intens. Ada amarah di dalamnya namun akhirnya tak Sehun keluarkan. “Sama sepertimu, masih mencintai Hyoyeon.”

Kai memandang Sehun lama. Tapi, akhirnya ia tersenyum. “Mungkin. Bukalah pintunya.” Ucapnya saat bel rumah berdering.

            Yoona berdiri di depan pintu rumah tersebut dengan membawa sebuah jaket yang terlipat rapih di tangannya. “Anny―” Mulut Yoona tertutup saat menatap seseorang yang membukakannya pintu. Matanya tak berkedip karena masih terkejut dan kakinya mendadak melemas tak mampu menompang tubuh kecilnya. Akhirnya ia mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap Sehun terlalu lama lalu membasahi bibirnya. Yoona menelan salivanya dengan susah. “Apa Kai ada?”

“Tunggulah.” Ucap Sehun lalu kembali menghilang.

 

“Kau bisa, bukan? Datang ke rumahku untuk mendongengiku tentang People and Ideas on the Move dan First Age of Empire?”

            “Kelas musik jauh lebih mudah. Kau tentu bisa, kan?”

            “Kau bisa menelponku kapan saja yang kauinginkan, Yoong.”

           

Ada bagian dalam dirinya yang merindukan sosok laki-laki itu―yang kini telah berubah menjadi seorang laki-laki yang tak pernah dikenalnya. Yoona menarik nafas penjang lalu menghelanya―berharap rasa sakit itu juga akan ikut keluar dari dalam tubuhnya, namun percuma.

“Yoong?”

Lamunan Yoona terbuyarkan dengan suara bass Kai. “Aku ingin mengembalikan jaketmu,” Yoona menyodorkan jaket marun milik Kai. “Sebenarnya aku ingin mengembalikannya saat di sekolah tadi, tapi kau tidak masuk.”

“Aku memiliki urusan mendesak.” Kai tersenyum kecil.

“Baiklah, aku harus pergi.”

“Kemana?”

“Sekolah,” Yoona menaikkan kedua bahunya lalu memperlihatkan tas kamera yang menggantung di pundaknya. “Klub Teater sedang melaksanakan gladiresik untuk pementasan minggu depan dan mereka memintaku untuk mendokumentasikan mereka.”

Kai mengangguk mengerti. “Baiklah, akan kuantar kau.”

“Apa?” Kening Yoona mengerut.

“Aku sangat bosan di rumah. Kajja.”

            Yoona sedang asik melakukan hobinya―memotret. Sedangkan Kai hanya duduk di kursi audiens theater hall sembari menonton Klub Teater bersiap-siap berlatih. Mereka akan menampilkan pertunjukan ‘Snow White’ dengan cerita yang lebih fresh dan ditambahkan bubuk-bubuk komedi.

“Yoona!” Miss Kylee―pembina Klub Teater―berlari kecil menghampiri Yoona. “Oh aku sangat beruntung bertemu dengamu.”

“Apa ada yang bisa kubantu, Miss?” Tanya Yoona.

Kai hanya melirik namun mendengarkan dengan baik. “Apa kau bisa menggantikan Seohyun sebagai Snow White untuk pertunjukan minggu depan? Seohyun masuk rumah sakit dan harus menjalankan operasi karena Tonsillitis.”

Mata Yoona terbelalak. “A-Aku?”

Miss Kylee mengangguk cepat. “Ya, kau. Kau pintar berakting dan sangat cocok untuk menjadi Snow White. Kumohon, Yoona-ya, kita tidak punya Snow White ‘cadangan’ dan pementasan akan digelar sebentar lagi.”

“Tap―”

“Kesempatan emas tidak pernah datang dua kali, Yoong.” Sela Kai membuat Yoona kembali menutup bibirnya.

Miss Kylee menjentikkan jarinya. “Kai, kau sangat pintar.”

Yoona memandangnya dengan tatapan bertanya-tanya―apa aku harus melakukannya?

Kai hanya bisa tersenyum sebagai jawabannya. Yoona akhirnya menghela nafas. “Baiklah, miss. I’ll try my best.”

God, thanks! Kajja, Yoong!” Miss Kylee langsung menarik tangan Yoona, membuat Yoona terkejut dan langsung memberikan kameranya kepada Kai. Kai hanya terkekeh pelan saat melihat Yoona yang ditarik Miss Kylee hingga naik ke atas panggung. Yoona pasti akan sangat kesusahan menghafal skenario dan berlatih dengan waktu yang terbatas―Oh, ayolah, satu minggu adalah waktu yang terlalu singkat untuk berlatih menjadi Snow White.

Kai mengangkat kamera Yoona lalu melihat dari balik lensa. Memfokuskan lensa kameranya pada wajah Yoona yang kebingungan.

Oh, sangat lucu.

Kai terkekeh pelan lalu, klik!

Lama-kelamaan, Yoona mulai dapat beradaptasi dan diberi arahan, sedangkan Kai masih asik memotret apapun yang bisa ia potret―well, biasanya yang menjadi targetnya adalah wajah derp Yoona. Oh, dia sangat jahat sekali.

Kai masih melihat dari balik lensa. Ia men-zoom wajah sempurna Yoona. Ia ingin menekan tombol untuk mengabadikannya, namun tangannya terasa kaku saat perempuan itu menatapnya, membalas tatapannya dari balik kamera seakan kini mereka sedang bertatap mata. Iris madu Yoona terlihat terang sekali, membuat iris chestnut brown milik Kai terasa kaku dan tak mampu berkedip.

Klik.

Kai masih terdiam. Matanya belum berkedip dan jantungnya mendadak berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia melihat foto terakhir yang ia ambil―foto Yoona.

Perempuan tepat menatap lensa kamera. Iris madunya tampak bersinar dan bibir tipisnya tergambar sempurna.

            Seminggu ini Kai―dengan sukarela―menemani Yoona berlatih. Mengantarnya ke theater hall, atau hanya membantu perempuan itu berlatih dialognya. Hal-hal seperti itu seakan telah menjadi kebiasaan Kai―dan ia menyukai kebiasaan barunya itu tanpa alasan yang jelas. Ia akan senang jika akan pergi dengan Yoona, menemani perempuan itu, makan bersama, berlatih dialog atau hanya sekedar membuat tenang dan menyemangati perempuan itu―segalanya bersama perempuan itu akan membuatnya tersenyum lebar dengan mata yang berbinar.

Kai selalu asik dengan kamera Yoona saat perempuan itu tengah berlatih di atas panggung. Harus Kai akui, Yoona terlalu hebat dalam hal akting. Perempuan itu bisa menghafal seluruh skenarionya dalam waktu dua hari―enam puluh satu jam, lebih tepatnya.

Kai memakirkan mobilnya di garasi rumah setelah mengantar Yoona pulang dari latihan terakhirnya―well, besok adalah d-day. Kai membawa sebuah undangan berwarna putih gading mengkilap dengan nama saudaranya tertera di atasnya. Untuk Oh Sehun sebagai pimpinan perusahaan sekaligus sebagai pemilik Asia Pacific International School―dan sialnya, Kai baru tahu jika ayahnyalah yang membangun sekolah tersebut.

“Untukmu,” Kai melempar undangan tersebut dan reflex Sehun menangkapnya. “Aku baru tahu jika APIS berada di bawah naungan perusahaan.”

“Aku juga baru tahu tiga menit lalu,” Timpal Sehun tak acuh lalu membuka undangan tersebut. “Pertunjukan Snow White?”

“Kau harus datang, setidaknya untuk formalitas.” Gumam Kai lalu meraih segelas jus strawberry di atas meja yang entah milik siapa ia tidak peduli.

“Akan kupikirkan.”

“Yoona berperan menjadi Snow White.” Beritahu Kai singkat. Mulut Sehun langsung terkatup rapat saat mendengar nama perempuan yang baru saja disebut Kai. Garis rahangnya menegas dan ia kembali memandang undangan tersebut lalu berpaling memandang Kai dan terus seperti itu hingga beberapa kali. “Kau mengubah pikiranmu? Karena aku sudah.”

Kening Sehun mengerut tidak mengerti ucapan Kai. Apa maksud laki-laki ini?

“Aku menyukainya. Aku menyukai Yoona. Im Yoona. Benar-benar menyukainya.” Ucap Kai.

END

Jadi, ini sebenernya uda lama kelarnya, malah barengan sama Part 1. Tapi karena (entahlah) baru dipost sekarang. Aku tau ceritanya rada…pasaran (atau pasaran banget) dan dialognya di sini rada maksa dan kekurangan lainnya, maaf banget.

Semoga suka!❤

47 thoughts on “IN FRAME (Pt. 2)

  1. Ending nya sehun ama yoona aja thor😦
    Kasian sehun, kesel juga sih ama yoona yg sia-siain sehun.
    Kangen sehun yang dulu u.u
    ditunggu kelanjutannya thor❤

  2. Huwa >00< belibet bgt dech :v YoonHun YoonHun YoonHun!! *bkr menyan(?), kasian beb gw, kan dia yg pertma suka ama Yoongie huhuhu ;-( Hun ama gw nyokk😉 *plak *d.kubur Whirlwinds :v d.tnggu part 3 nya thor😀 bnyakn moment YH ne😉 *nodong golok *author lempar granat :v FIGHTING!

  3. Lhoh kaka, Kenapa udah END???

    Sumpah, Gantungg bangett masa’ -_-” Plissssss, Lanjutt dong, qw sih YoonKai shipper. tp disini, lebih berharap YoonHun😄

    Ditunggu next chap.

  4. Lah? 😮loh?😰 kok gantung? 😱 aduh sehun sama siapa ini?😮 terus yoona sama siapa? Kai sama siapa?😮 kan yang suka sehun kok yoona sama kai, kasian sehunnya 😭😭😭
    Sehun sama yoona aja 😳😳😳

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s