Who Are You? – 2

CYMERA_20150511_205749

by FN

cast : Yoona, Kai, Sehun, Yuri and others

genre : family, friendship, complicated

all rated

desclaimer : ada bagian dari cerita yang mengambil dari drama, film, anime dsb. bukan menjiplak hanya terinspirasi. ini cuma cerita fiksi buat hiburan. kalo nggak suka gausah ngebash langsung close tab aja

note : jika ada salah tanda baca, typos yang nggak bisa dihindari dan bahasa yang cukup amburadul.

T | 1

—-

mungkin kau memang berbeda….

—-

Sehun berlari kekelasnya, dia mendapati Kai yang tengah terdiam seperti biasanya. Lelaki itu tampak tak memiliki minat pagi ini berbeda dengan Sehun yang seperti menang bermain poker. Well, sesuatu memang sedang membuat suasana hatinya berbunga-buna sejak tadi. Keluarganya sendiri bahkan merasa aneh karena Sehun tak berhenti tersenyum.

“kau baru saja menang taruhan?” tanya Kai tak tertarik

“bukan. Gadis beatbox itu—dia bukan Im Yoona” jawab Sehun

“jinja?” tanya Kai, “darimana kau tahu?”

“aku seorang pencari informasi yang handal jangan lupakan itu”

“tapi—aku sangat mengingatnya, Hun”

“dia memakai topeng” ralat Sehun

“bukan itu bodoh, sorot matanya. Kau tahu bukan, aku mengenali seseorang dari kilatan matanya?”

Sehun menaikkan pundaknya, wajahnya tampak tak peduli. Kai terlalu banyak bicara akhir-akhir ini dan Kai juga sering menelpon Sehun untuk hal yang amat sangat tak penting tetapi sebagai sahabat tentu Sehun tak akan tega pada Kai. Meskipun kadang Sehun akan mengumpat habis-habisan karena Kai mengurangi jatah tidurnya

“kenapa kau sangat penasaran?”

“sudah aku katakan karena dia mengambil apa yang seharusnya menajdi milikku” jawab Kai

“ayolah Kai, tanpa bayaran dari klub kau sudah memiliki banyak uang” Sehun berkata malas

“beda, ini hasil keringatku sendiri dan aku tak semudah itu membiarkan orang mengambil hakku”

“Kai, hanya setengah dan besok adalah hari terakhir gadis itu. Boss mu juga mengatakan padaku, selama kau tak bekerja bukan gadis itu yang menggantikanmu tetapi DJ lain. Gadis itu hanya melakukan beatbox saja” terang Sehun.

Kai mempercayai perkataan Sehun. Dia mulai melepas rasa penasarannya pada Yoona meskipun tak sepenuhnya dan gadis itu juga tampak sedikit leluasa tanpa pertanyaan-pertanyaan dari Kai yang hampir menjadi makanannya setiap hari.

Kai melakukan kegiatannya seperti biasa. Bermain basket, menari, bermain skateboard dan mendengarkan music. Sama halnya dengan Sehun yang tampak amat sangat tenang dengan kertas gambarnya yang membuatnya semakin menjadi maniak. Jangan lupakan pilox yang selalu ada didalam tasnya.

“aku dengar ada festival music satu bulan lagi”

“music?”

“music jalanan. Kita hanya perlu datang dan menikmati tanpa harus membayar”

“jinja?”

“ah! Aku dengar juga ada battle BeatBox disana!”

BeatBox?

“bagaimana jika kita berangkat bersama. Aku lama sekali tak melihat BeatBox secara langsung”

Gadis itu pasti datang!

“pukul 5, acaranya pukul 6 di sekitar daerah monument”

Aku tentu harus datang!.

Yuri terus memperhatikan Kai dari jauh. Yuri pintar membaca raut wajah dan Yuri tahu Kai sedang bahagia akan sesuatu tapi Yuri tak tahu dari sesuatu yang membuat lelaki idamannya menjadi bahagia. Ingin Yuri menanyainya tapi Yuri tak memiliki hak untuk melakukannya

“kau menatapnya terus”

DUAK!

Sooyoung menarik pergelangan tangan Yuri yang dia gunakan untuk menopang dagunya dan tentu saja itu membuat dagu Yuri membentur meja kantin juga diiringi dengan tawaan kecil dari teman-temannya yang tak sengaja mengetahui hal itu

stupid Choi Sooyoung!” jerit Yuri dengan suara dolphin yang diturunkan Jessica padanya

“kau terlalu lembek, kenapa tak kau dekati sekalian?” Sooyoung mengacuhkannya cepat dan itu membuat raut wajah Yuri berubah

I’m a girl and a girl never do something like that. Kau ingin membuatku malu?”

“Ya Tuhan! You are one of  five the most beautiful girl in this school mana mungkin seorang lelaki menolakmu terutama si hitam tersayangmu itu” kali ini Hyoyeon menyambung, rambut cokelat miliknya telah berubah menjadi blonde sejak kemarin

“namanya Kim Jongin atau bisa kau panggil Kai bukan si hitam” Yuri mendecih tak terima

“gigih sekali kau membelanya” Hyoyeon tertawa kecil mengaduk jus jeruk miliknya

“setidaknya Hyoyeon benar. Aku setuju” Sooyoung mengangguk-angguk tetap sibuk dengan ramen ke dua setelah dia memakan semangkuk pertama

“sebelum dia tahu tentang kembaranmu”

Sooyoung tersenyum mengejek, “mereka berbeda Hyo, jangan lupakan dan Yuri lebih dari segalanya dibandingkan dengan Yoona. Kecil, kurus, kulitnya pucat seperti mayat”

“berisik” tegur Yuri, “jangan membahas kembaranku disini”

Sooyoung langsung terdiam dan kembali menikmati makanannya sedangkan Hyoyeon hanya mengangkat bahu tak peduli. Dia sangat tahu tentang si kembar cermin. Maksudnya hanya pada sisi Yuri dan Hyoyeon tahu seberapa besar rasa benci yang dimiliki Yuri pada Yoona.

Malamnya Kai tak menikmati jobnya. Sudah ada orang lain di atas panggung yang menggantikan tempatnya tetapi matanya mencari-cari sesuatu. Seperti ada yang kurang di panggung itu. Tepukan pelan membuatnya menolah dan hampir terperanjat kaget. Teman satu kelasnya, Victoria memincingkan matanya menatap Kai

“KAU KAI BUKAN?” teriaknya, suaranya teredam oleh dentuman music yang mengisi seluruh ruangan

“SEDANG APA KAU DISINI?” balas Kai

“MEREFRESH OTAK. AKU PUSING DENGAN PELAJARAN SEKOLAH”

“BAGAIMANA KAU BISA MASUK KEMARI?” Kai sangat tahu di klub ini sangat menjunjung tinggu aturan bahwa anak SMU tak akan diperbolehkan masuk

Victoria tersenyum kecil, dia mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya. Ada dua buah kartu seperti kartu ATM, dia menunjukkannya pada Kai. Kai menganga tak percaya ketika dia selesai membacanya. Gadis ini ternyata cukup cerdas untuk membodohi bodyguard didepan sana. Sebenarnya kata ‘licik’ jauh lebih tepat untuknya

bad girl” sinisnya

Bukan tersinggung Victoria justru tertawa keras, “SANTAI SAJA. KAU MENJADI DJ DISINI, BUKAN? JIKA KAU MERAHASIAKAN KEBENARANKU MAKA AKU AKAN MERAHASIAKAN KEBENARANMU”

“KAU MENGANCAMKU?” Victoria mengangguk dengan santai

“AKU MEMILIKI BUKTI MENGUATKAN UNTUK AKU LAPORKAN KE KEPALA SEKOLAH” Victoria menyeringai

Kai memutar bola matanya malas, “ARRASHEO! PERGILAH!” usir Kai

Victoria menepuk pipi Kai dengan senyum penuh kemenangan diwajahnya. Kai tentu tak akan mau mengambil konsekuensi dilaporkan pada kepala sekolah apalagi jika pekerjaan serampangannya ini diketahui oleh kedua orang tuanya yang memiliki pikiran sensitive yang sangat tinggi.

Malam ini dia sendirian, si tengil Sehun tak mau diajak karena dia sedang memiliki ide untuk menggambar di tembok pinggir jalan yang tak sengaja dia temukan kemarin ketika pulang sekolah. Dan untuk Tao, lelaki itu sibuk dengan tugas dari guru Kang. Padahal deadline pengumpulannya kemarin tetapi Tao lupa mengumpulkannya dan dia mencapat ceramahan panjang dari guru killer itu.

“sendirian DJ? Ingin aku temani?” seorang wanita cantik mendekati Kai

“ee—tidak, terima kasih” jawab Kai gugup, jujur saja, ini kali pertama dia didekati oleh wanita yang ada di klub malam ini—selain bartender bar dan juga petugas lain

“sebagai teman bicara?”

“dia bersamaku” suara Tiffany mengancam tajam, gadis itu tanpa menjawab langsung melenggang pergi

“gumawo, noona”

“sejak kapan kau memanggilku ‘noona’?”

“sekitar 50 detik yang lalu” jawaban Kai mengundang kekehan kecil Tiffany yang sedang membersihkan gelas-gelas bening itu

“kau menunggunya?” Kai mengkerut tak mengerti, “gadis beatbox”

Kai mengangkat bahunya, “aku masih penasaran”

“arah pukul 1” kata Tiffany dan Kai terlalu bodoh untuk mengerti

“arah pukul 1” ulang Tiffany

Butuh waktu bagi Kai untuk mengerti dan mengikuti petunjuk yang diberikan Tiffany. Disana—ada gadis dengan topeng dan topi yang menutupi wajahnya. Penampilannya cukup berbeda, dia menggunakan hotpans ketat tak seperti biasanya yang cenderung menggunakan celana panjang. Gadis yang menjadi tujuan Kai. Gadis yang membuat Kai penasaran setengah mati hingga dia hampir gila menyangka salah satu teman sekolahnya adalah gadis itu.

Kai membiarkan gadis itu melakukan pekerjaannya. Seperti yang diduga sorak sorai mulai bergemuruh ketika gadis itu menaiki panggung. Luhan dan Lay juga berada dilantai dansa bersiap dengan dance break mereka.

Mereka bertepuk tangan riuh ketika gadis itu bersama Lay dan Luhan menyelesaikan pekerjaannya. Sebelum Kai kehilangan lagi dia berlari menghampiri gadis itu, tapi langkahnya harus tersendat karena terlalu banyak orang yang menghalangi jalannya

BRAK!!

Kai menutup pintu besi klub malam itu dengan amat keras. Jalanan dibelakang klub benar-benar sangat sepi tapi dia sangat lihai melihat bayangan seseorang tengah berjalan ditengah keremangan lampu

“tunggu!”

Gadis itu berhenti tanpa menoleh

“siapa kau sebenarnya?”

Gadis itu tak menjawabnya dan melanjutkan jalannya. Kai dengan sigap langsung mendekat dan menarik pergelangan tangan gadis itu tapi responnya dia hanya menunduk dan itu membuat Kai cukup kesal

“siapa kau sebenarnya?” ulang Kai

Gadis itu tetap diam seperti tadi

“siapa namamu?”

“bisakah kau angkat wajahmu ketika aku sedang berbicara?”

Kai mendengus kesal, gadis didepannya ini tetap diam membisu dan terus menunduk tanpa sepatah kata pun menjawab pertanyaan Kai

“kau mengambil pekerjaanku dan kau tak merasa bersalah akan hal itu? Memalukan sekali” dengusnya, “kau mengambil satu-satunya mata pencaharianku!” desak Kai, dia mulai tak sabar

Terdengar kekehan kecil dari gadis didepannya. Kekehan meremehkan yang sangat terdengar jelas oleh Kai tapi Kai tetap diam menunggu hingga gadis itu mengucapkan hal lain

“aku tak peduli” katanya, “dan itu bukan urusanku”

DEG

Gadis itu beranjak pergi tapi sekali lagi Kai menariknya

“siapa kau sebenarnya?” tanya Kai

Gadis itu tersenyum mengejek

“aku hanya bertanya sebenarnya kau siapa?!” bentak Kai

“seperti julukan yang kau berikan padaku, ‘gadis BeatBox’. Salamat malam” jawabnya

“bagaimana aku harus memanggilmu?”

Kenapa aku justru menanyakan hal ini?

Kekehan kecil itu kembali terdengar, “memanggilku pelacur pun aku tak peduli”

Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya. Tenang dan santai yang membuat Kai sempat berdiri diam ditempatnya tadi.

Gadis itu tersenyum manis, dia memang sangat pintar menyembunyikan dirinya dibalik topeng dan juga topinya. Tak ada yang tahu tentang kebenaran tentang dirinya yang selama ini dia sembunyikan

Sreett!!

Gadis itu terhentak kaget, Kai menarik tangannya yang membuatnya hampir bertabrakan dengan tubuh Kai tapi untung dia memiliki kaki yang kuat untuk menahannya berdiri ditempatnya tanpa terjadi kejadian yang sangat canggung nantinya.

Mereka berdua sama-sama terdiam, tak ada yang memulai pembicaraan. Kai terus menatap intens mata wanita didepannya, begitu juga sebaliknya. Tangan kanan Kai terangkat, amat sangat pelan menyentuh topeng perak milik gadis BeatBox

“kau tak bisa membongkar rahasia terbesar milik seorang wanita” perkataan itu langsung membuat Kai membeku ditempatnya

“kau penasaran denganku, ‘kan?”

“tidak” sanggahnya

Gadis itu tertawa kecil, “lalu untuk apa kau mengikutiku hingga kemari? Dan selalu menatapku ketika aku sibuk dengan pekerjaanku?”

Skak mat!

“aku hanya—”

“penasaran?” potongnya

“bodoh. bukan, aku hanya ingin tahu” jawab Kai

“baiklah. Aku beritahu, aku sama seperti gadis pada umumnya hanya saja aku diberi kelebihan untuk melakukan BeatBox dan kadang juga menjadi seorang DJ sama sepertimu. untuk bayaranmu, aku bisa menggantinya” terangnya tersenyum manis

“tak perlu” tolak Kai

“aku dengar kau tak terima dengan gajimu?”

“tidak, aku bisa menghasilkan lebih darimu jadi itu hal yang tak penting bagiku” jawab Kai

“wow… sombong sekali” tawa gadis itu lepas

“bisa kau beritahu aku namamu?” tanya Kai lagi

“gadis BeatBox dan selamat malam, Kai”

DEG!

Sesuatu yang gila tengah dilakukan oleh gadis itu. Tangan kanannya mengelus pipi Kai pelan yang mampu membuat Kai jauh lebih membeku daripada ketika dia berhadapan dengan kecoa terbang. Ekor matanya mengikuti perginya gadis tadi, tepat dibelokan gang, dia menghilang

Omo! Dia benar-benar gila!.

Yoona pov

Aku mengacak-acak rambutku entah sudah berapa hari aku tak mencucinya

Brak!

“bisakah eonni pelan-pelan?” dengusku, aku hampir kena serangan jantung karenanya

“tak bisa untuk orang lemot sepertimu. cepat bersiap dan sarapan!” perintahnya tegas

Aku menarik nafasku dalam. Membakar semua rasa kesal karenanya. Aku benar-benar tak tahu kenpa Yuri dan Jessica eonni sangat membenciku. Sebelum Yunho oppa kemari mereka tak akan pernah memperhatikanku sedikitpun, apalagi untuk urusan sarapan seperti ini. Tak pernah. Tapi mungkin karena Yunho oppa yang menyuruhnya untuk membangunkanku, padahal aku benar-benar masih mengantuk karena aku harus mengerjakan setengah tugas matematika dari guru Kang.

Yunho oppa tersenyum menatapku, aku langsung bergabung bersama mereka bertiga, tentu saja Yuri dan Jessica eonni terlibat percakapan hebohnya tentang baju model baru di mall yang sering mereka kunjungi. Aku hanya melirik mereka sekilas dan Yunho oppa tampak tak peduli, tetap melanjutkan makannya.

“Yuri kau berangkat bersama Yoona. Jessica kau harus ikut denganku”

“tap—”

“tak ada bantahan” potong Yunho oppa tajam

Aku melihat Jessica eonni mengomel sedangkan Yuri tampak berdumel meskipun tak kentara dimataku. Yuri memang tak suka menaiki bus karena bus akan merusak penampilannya disekolah dan dia juga tak diizinkan oleh Yunho oppa dijemput oleh Sooyoung karena merepotkan orang lain.

“jika kau tak menaiki bus Yunho oppa tak akan melarangku dijemput Sooyoung” aku hanya diam tak menanggapi

“heh! aku benar-benar tak ingin memiliki kembaran sepertimu”

“terserah, jangan usik hidupku dan aku tak tertarik dengan hidup bahkan nyawamu sekalipun” jujur aku benar-benar mulai muak dengannya

“ternyata kau mulai berani semenjak ada Yunho oppa” ejeknya

Aku langsung beranjak keluar lebih dulu dari dalam bus. Aku sedang tak ingin berdebat. Hey! Ini masih pagi! Aku tentu tak ingin membuang tenagaku hanya untuk berdebat dengan Yuri yang aku yakin tak akan pernah ada ujungnya.

“annyeong!!”

“annyeong!!”

“annyeong!!”

Aku hanya mendengar suara ocehan anak-anak yang saling bersapa setiap hari. Bukan aku sombong tetapi siapa yang akan mengenalku di sekolah ini? Jika Yuri tentu aku percaya, gadis itu sangat pintar di olah raga dan tak ragu banyak guru yang memujinya

“astaga!” kagetku ketika aku akan menabrak seseorang yang ada didepanku

“Sehun?” dia tersenyum menatapku dan mengangguk

“bagaimana pagimu, Yoong?”

Yoong? Sejak kapan kami sedekat itu?

“kau mengatakan aku boleh memanggilmu apa saja” aku mengangkat bahu tak peduli dan berjalan meninggalkannya tapi beberapa detik setelahnya dia sudah berada disebelahku lagi

“tak ada gadis yang meninggalkanku seperti tadi, kebanyakan aku yang meninggalkan mereka terlebih dahulu”

“aku pengecualian” sahutku

“menarik” ucapnya

“menarik?” tanyaku

“tentu. Manusia alien sepertimu” aku meliriknya sebal, kami tak dekat dan dia sudah berbicara begitu berani padaku

“ehm…. Apa genre music kesukaanmu?” aku mengernyitkan dahiku

Sehun adalah teman Kai dan Kai adalah teman Sehun. Kenapa mereka menanyakan hal yang sama? Dan apa pentingnya genre musik yang aku suka?

“apa kalian sedang bertransformasi menjadi petugas sensus? Aku harus kekelas dan jangan ikuti” ancamku meninggalkannya dengan wajah datarnya.

Sehun pov

Sensus? Apa dia sedang bercanda? Dan kalian? Siapa yang dia maksud?

Kai? Dia juga menanyakan hal yang sama?

PLAK!

“YA—”

“wae? apa yang sedang kau lakukan disini? Bel sudah berbunyi dan kau masih berkeliaran di lorong sekolah. Kelas berapa?”

“jwesonghamnida” aku membungkuk rendah dan langsung berlari menghindari hukuman yang bisa menjadi perhitungan nilaiku. Aku mendengar penjaga sekolah itu berteriak padaku tapi masa bodoh daripada aku harus mendapat hukuman yang tak setimpal dengan lariku saat ini. Lagipula aku yakin guru Seo pasti datang telat.

Tepat seperti dugaanku, kelas masih ramai, segera aku menghampiri Kai, ingin menanyakan kebenarannya tetapi melihat tatapn mata Kai yang terlihat kosong aku langsung mengurungkan niatku.

Aku keluar lebih dulu meninggalkan Kai dan lagipula aku melihatnya tampak sibuk bersama Yuri bersama kedua temannya, aku malas untuk bergabung. Gadis itu sedikit menyebalkan menurutku, terlalu banyak berbicara dan ya aku akui dia memang pandai tapi dia telalu over. Aku hanya berjalan-jalan sendirian, lelaki China itu absen hari karena dia ingin menghindari ceramahan guru Kang karena dia telat mengumpulkan tugas.

Tapi mungkin dewi fortuna sedang berpihak padaku. Aku bertemu Yoona—yah… sekedar untuk mengganggunya. Aku tak kenal Yoona sejak dulu, yang aku kenal hanyalah Yuri karena kami satu kelas sejak kelas 1. Aku tahu mereka kembar baru beberapa hari yang lalu karena Kai mengira gadis itu adalah gadis dengan topeng perak di klub

“hai” sapaku

Aku melihatnya baik-baik. Dia sedang memakai headset rupanya. Aku melongok kearah ponselnya yang menyala

Zedd feat. Foxes Clarity, gumamku

Aku tersenyum kecil dan langsung menarik sebelah headsetnya seperti biasa. Bisa dibayangkan bagaimana kagetnya dia saat itu. Aku mendengarnya mendengus dan tetap melanjutkan kegiatan mewarnainya

“aku kaget kau menyukai hal kekanakan seperti itu” dia tak merespon

“setidaknya kau sudah berusia 17 tahun” dia tetap tak merespon

“sedikit aneh aku melihat seorang berumur sepertimu melakukan hal yang dilakukan oleh anak TK” dia tetap berkutat pada kegiatan mewarnainya

“jadi, nona Im apa genre music kesukaanmu?” tanyaku

“aku rasa aku tak perlu menjawabnya” jawabnya acuh

“tapi aku ingin tahu” desakku

“kau sudah mengetahuinya dengan membaca setiap judul lagu yang sedang aku mainkan di ponselku”

Aku tersenyum kecil

“dan ini bukan hal kekanakan” dia menambahkan

“benarkah?” tanyaku

“setidaknya kau akan merasa lebih baik jika kau melakukan suatu hal yang sangat kau sukai”

“kau sedang dalam masalah?” tanyaku curiga

Dia kembali tak merespon dan memasangkan headsetnya. Aku tersenyum kecil memikirkan sebuah ide. Aku melepas sebelah headsetnya dan memakainya ditelingaku. Dia tak protes sedikitpun dan aku juga menikmati music hip hop yang ada di ponselnya. Oh… I Love Music!

Yoona pov

Aku menatap aneh kearah semua orang yang melihatku dengan tatapan mereka yang tergolong memberi kesan membenci. Apa memang yang sudah aku lakukan? Aku merasa tak melakukan sesuatu yang salah?

“Yoona-ya” aku mengangkat wajahku menatap Seohyun—teman sekelasku

“kau ada hubungan apa dengan Sehun?”

Sehun?

“Sehun 12E?” dia mengangguk otomatis

“kami tak ada hubungan apapun” jawabku enteng

“semua orang membicarakanmu dengan Sehun” kata Seohyun pelan

“memang ada apa denganku dan Sehun?”

Dan Seohyun menjelaskan semuanya. Oh my mereka memang benar-benar berlebihan. Hanya karena masalah satu headset mereka langsung membicarakanku.

—-

Aku langsung pulang, aku tak mungkin menunggu kembaranku itu. Selain membuang waktuku sendiri pasti dia sudah pulang bersama Sooyoung dengan mobil mewahnya itu tapi sialnya bus yang biasa aku tumpangi belum saja datang. Aku benar-benar ingin sampai rumah dan makan masakan bibi Jo yang lezat itu

Tin…tin

Sebuah mobil mewah berhenti didepanku. Kaca mobilnya diturunkan hingga aku bisa melihat siapa yang ada didalamnya. Aku hanya memandang mereka diam

“mian, aku tak mau naik bus sepertimu” kata Yuri

“sampai jumpa nanti dirumah kembaran dan aku percaya kau tak akan mengatakan hal ini pada Yunho oppa”

Aku tak menatapnya sebagai jawaban. Terlalu melelahkan meladeni seseorang seperti Yuri yang entah kenapa benar-benar sangat menyebalkan. Aku menghembuskan nafasku pelan, memukul dadaku sekuatnya, menahan perasaan yang entah darimana muncul menghinggapiku hingga aku ingin menangis

Appa, eomma… tak bisakah kalian kembali?

Aku menutup wajahku dengan telapak tanganku. Aku tak menangis sungguh. Aku hanya menahan sesuatu yang bergejolak mengusikku

“Yoona?”

Segera aku melepaskan tanganku, menatap wajah lelaki yang sangat tak asing. Aku tak mengenalnya, aku hanya mengetahui namanya karena kejadian tempo hari yang menyebabkanku harus meminta maaf pada lelaki dengan harga diri selangit didepanku

“gwenchana?” dia mengendikkan kepalanya berusaha menatapku

“ya” singkatku menarik pandanganku dengan jalanan, berharap bus sialan itu segera datang dan membuatku terbebas dari lelaki ini

“ingin aku antar?” aku melengos

“ayolah, Yoona”

“aku tidak mengenalmu” jawabku

“benarkah? Bahkan kau sudah tahu namaku”

“tidak, terima kasih” tolakku

“kau menolak seseorang yang berbuat baik? Astaga, kau akan benar-benar berdosa jika begitu”

Kai—lelaki ini entah kenapa benar-benar sangat meyebalkan. Tak ada bedanya dengan Sehun. Dan mereka selalu memiliki pertanyaan yang sama. Genre music dan mereka mulai sok kenal padaku padahal sebelumnya kami tak pernah kenal satu sama lain

“Yoona?” aku benar-benar ingin menonjok muka lelaki ini

Aku menarik nafasku pelan dan menyerah. Sebenarnya aku sedikit beruntung dengan uang sakuku tapi jika yang memboncengku bukan bocah ini tentu akan setuju tanpa menimang-nimang terlebih dahulu.

Author pov

Kai kembali memasuki club RockTN dengan pakaian casualnya. Hari gadis BeatBox itu sudah berakhir dan tentu saja ini akan menjadi bagian Kai untuk seterusnya. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan hal lain. Dia masih penasaran dengan gadis bertopeng perak itu

“Fany-ah” panggil Kai, wanita cantik itu langsung menoleh dan memberikan sebuah minuman berwarna oranye pada Kai

“jus jeruk” kata Tiffany tersenyum, Kai langsung meneguknya

“kau melakukan dengan baik tadi” puji Tiffany

“tentu, aku merasa senang karena tak ada lagi pengganggu” Tiffany tersenyum kecil memandang Kai

“lagipula permainannya juga tak kalah bagus denganmu Kai”

Kai mendengus, “ehm… noona”

“sudah aku katakan jangan panggil aku noona” jawab Tiffany

“ehm—kau tahu tentang gadis itu?” tanya Kai pelan

“gadis?”

Kai menepuk dahinya, “BeatBox” ralat Kai

“ahh… kau masih penasaran?” pertanyaan itu mengundang godaan Tiffany

PLOK…PLOK

Suara tepukan itu mengalihkan Kai, sebuah kode untuk Kai memulai pekerjaannya lagi. Dan Kai merasa terselamatkan akan hal itu. Terbebas dari pertanyaan Tiffany yang membuatnya tak bisa menjawabnya.

“noona” Tiffany tersenyum menatap Sehun yang baru saja datang

“gadis itu tak datang lagi?”

“pertanyaanmu sama seperti Kai. Ya… mungkin dia tak akan datang lagi kecuali bos yang memintanya” jawab Tiffany

“jadi, maksud noona bos mengetahui nomor ponsel gadis itu?” Tiffany mengangguk pasti

Sehun melirik kearah Kai dan tersenyum, “bisakah noona memintanya untukku?”

“itu hal yang mudah. Tunggu sebentar. Krystal!!” seorang bartender cantik lain datang mendekat

“tolong gantikan sebentar” pinta Tiffany, gadis cantik itu hanya mengangguk sebagai jawaban.

—-

Kai berdiri di pintu gerbang sekolahnya. Tangannya sibuk dengan ponselnya dan matanya sedikit melirik kearah gerbang jika ada seseorang yang tengah ditunggunya muncul. Beberapa saat menunggu gadis yang ditunggunya datang. Kai langsung mensejajari langkahnya

“hari yang cerah” ucap Kai

Yoona hanya melirik sekilas dan mempercepat jalannya tapi Kai menarik tangannya

“aku ingin bertanya padamu” Yoona hanya mengangguk sebagai jawaban

“genre music apa yang kau sukai?”

“bukankah aku sudah mengatakannya padamu?” tanya Yoona balik

“ehm—itu—”

“apa pentingnya sih? Sudahlah, berhentilah menganggangguku dan katakan juga pada temanmu untuk tidak menggangguku” kesal Yoona

Teman?.

Kai berlari memasuki kelasnya dan lelaki yang dicarinya sudah duduk disana santai dengan headset menggantung ditelinganya. Kai langsung menarik salah satu headset Sehun, Sehun hendaknya akan marah tetapi ketika ia tahu Kai yang melakukannya dia mengurungkan niatnya

“apa yang kau tanyakan pada Yoona?” tanya Kai to the point

“tentang music kesukaannya?” tanya Sehun mengerti apa yang dimaksud Kai. “ya… aku ingin membantumu” lanjutnya

Kai langsung mendesah kecewa, “aku belum mendapatkan informasi apa-apa darinya”

“apa kau yakin gadis BeatBox itu Yoona?” Sehun bertanya sekali lagi

“tentu dan aku yakin akan hal itu” jawab Kai

“bukankah aku sudah memintamu agar tidak–”

“aku tahu tapi aku merasa tak ingin menyerah” potong Kai

“tapi sepertinya Yoona bukan tipe gadis yang suka dengan hal-hal berbau BeatBox ataupun Disc Jockey?”

Kai terdiam dalam pikirannya. Semalam sebenarnya dia menanti agar bertemu gadis itu lagi tetapi Tiffany mengatakan padanya bahwa kemungkinan gadis itu datang hanya sepersekian persen karena bosnya sudah kembali memperkerjakannya

“ini” Sehun menyerahkan sesobek kertas pada Kai

“maksudmu?” Kai meraihnya tak tahu

“itu nomor telepon gadis BeatBox itu. Aku mendapatkannya dari Tiffany noona” jawab Sehun terdengar bangga

“Tiffany memiliki nomer ponselnya?”

“bos bukan Tiffany noona, aku meminta bantuan Tiffany noona agar membantuku”

“daebaakk!!” seru Kai menonyor kepala Sehun

“YA!” seru Sehun tak terima, “kau seharusnya berterima kasih!”

“gumawo, Sehun-ah” Kai nyengir dan langsung menyalin nomor ponsel itu ke ponselnya sedangkan Sehun hanya tersenyum mengejek memandang Kai

“eh… tapi siapa namanya?” tanya Kai

Sehun mengangkat bahunya, “Tiffany noona tak memberitahuku. Bos juga berkata itu rahasia”.

“Kai, annyeong” Yuri tersenyum manis pada Kai yang bersama Sehun, Kai hanya membalasnya dengan senyuman sewajarnya, tetapi ketika dia akan melangkahkan kakinya untuk pergi tangannya ditarik oleh seseorang yang tak lain adalah Yuri

“bisakah aku berbicara dengan Kai?” pinta Yuri menatap Sehun memohon

Sehun mengangkat bahunya tak masalah dan meninggalkan Kai bersama Yuri.

“jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Kai

Yuri terlihat gugup, tangannya bergetar dan dia terus menundukkan wajahnya. Dia ingin mengungkapkan perasaannya pada Kai, sebenarnya dia tak ingin tetapi karena dorongan dari Sooyoung akhirnya dia menyerah. Disisi lain dia takut jika Kai akan menyukai Yoona karena dia melihat sendiri dengan mata kepalanya Kia mengantar Yoona pulang kemarin

“aku—aku—ehm—sebenarnya—”

“bicara yang jelas, Yul” potong Kai

Yuri menggaruk kepalanya, dia benar-benar sangat gugup sekarang

“ehm…sebenarnya aku—ehm—”

“Kaii!!!”

Mereka berdua menoleh dan mendapati Tao berlari kearah mereka

“sedang apa kalian berdua?” tanya Tao menatap wajah Yuri yang tampak pucat

“kau sedang sakit?”

Yuri menggeleng kaku

“aku ingin memberitahumu sesuatu” tarik Tao dan Kai hanya menuruti apa yang dilakukan Tao

Dan kedua kalinya Yuri kembali kecewa. Dia menghembuskan nafasnya kasar. Sooyoung dan Hyoyeon yang sudah berada didekatnya hanya menepuk pundaknya pelan. “kami akan membantumu, tenang aja” kata Sooyoung.

Kai mengikuti tarikan Tao, bocah satu ini memang sering sekali absen sekolah. Entah karena bangun kesiangan, kelelahan dan malas sekolah tapi anehnya dia termasuk salah satu murid dengan nilai yang baik meskipun jarang masuk sekolah

“apa yang ingin kau katakan?” tanya Kai

“aku mengungkapkan perasaanku tadi malam” jawab Tao

Kai mengernyitkan dahinya, “nugu?”

Tao memutar bola matanya, “kau tak tahu? Astaga!”

Kai tampak berpikir, menerka-nerka siapa gadis kurang beruntung yang baru saja mendapat pengakuan cinta dari seorang Huang Zi Tao yang sangat cengeng ini

“jangan katakan—” kata-kata Kai menggantung dan mendapat anggukan semangat dari Tao

“astaga! Aku harus menanyakannya nanti malam” imbuh Kai.

Kai dan Tao berjalan menuju cafeteria sekolah mereka. Bisa langsung ditebak banyak anak mengantri dan juga berdesak-desakan agar cepat mendapatkan makanan, biasanya ajhumma kantin akan menyiapkan satu makan special dan tentu gratis bagi 30 murid pertama yang mengambil makanan

“kau tak makan?” tanya Tao

“aku ingin makanan kecil saja” jawab Kai melenggang kebagian café kedua yang tak begitu ramai

Kai dan Tao memberi beberapa bungkus roti dan makanan kecil tak lupa coke yang selalu menjadi minuman favorit mereka.

“kalian tak makan?” tanya Sehun yang hanya melihat beberapa bungkus roti dimeja mereka bertiga

“Kai malas dan aku juga sedang tak mood untuk mengantri disana” tunjuk Tao.

Sehun pov

Aku memainkan ponselku. Mengetik sebuah pesan disana dan perlu menunggu waktu lama untuk mendapatkan balasan dari orang itu. Dia hanya menyetujui tentang perkataanku dan tentu saja setuju untuk rencana yang aku buat

“ya! Kenapa kau senyum-senyum?” tanya Kai

Aku menggeleng, tak mengalihkan sedikit pandanganku dari lelaki didepanku ini

“aku curiga padamu” kata Tao, “kau—sudah memiliki kekasih kan?”

“UHUK!”

Aku menegak minumanku dan menonyor kepalanya, “sok tahu. I’ll never do that” bantahku

never? Apa kau ingin menjadi lelaki tua tanpa pasangan? Don’t be crazy Oh Sehun”

“aku akan melakukannya but not now, maybe someday

Kai menatapku tampak mengintimidasi, “wae?” tanyaku

Kai hanya mengangkat bahunya. Aku membereskan barangku dan beranjak pergi meninggalkan mereka. Berjalan ketempat biasanya Yoona berada dan tentu mereka tak akan tahu tentang hal itu. Sesuai dugaanku, gadis itu sedang menikmati makan siangnya dengan headset yang menggantung ditelinganya. Kali ini aku tak akan mengganggunya, sungguh

“ah… terlihat enak” kataku melongok kearah kotak bekalnya

Dia melirikku sekilas dan tetap sibuk dengan makan siangnya

“bolehkan aku—”

“tidak” potongnya

“ayolah… aku tak pernah merasakan masakan rumahan. Kedua orang tuaku sama-sama memiliki pekerjaan”

Dia menghentikan gerakan sumpitnya dan menatapku. Aku hanya tersenyum manis padanya. Dia meletakkan sumpitnya dan memberikan kontak bekalnya padaku tapi aku tak menerimanya. Karena aku mengharapkan sesuatu yang lain

“cepatlah” perintahnya

“aku ingin kau menyuapiku”

Matanya melotot kearahku. Aku mendengarnya menggeram karena tingkahku tapi masa bodoh dengannya. Ketika aku bertemu dengannya aku merasa harus selalu mengerjainya

“aku tak akan melakukan hal itu” dengusnya

“maka aku akan setiap hari mengganggumu—bersama Kai”

Dia menatapku horror dan aku tahu dia mulai kesal padaku. Dia memainkan lagi sumpitnya dan menyuapiku kue beras. Aku mengunyahnya perlahan, benar-benar sangat enak tapi aku merasakan sesuatu yang aneh dalam masakannya, sesuatu yang meledak begitu saja didalam mulutku. Aku mencoba mencernanya sekuat mungkin tapi aku tak bisa menahan lidahku yang terasa panas

“ah!” seruku

“wae?” tanyanya bingung

“aiell”

Aku tak suka pedas! Dan kue beras ini benar-benar membakar mulutku. Aku mengedarkan pandanganku berharap gadis ini membawa air mineral, meskipun tak bisa menyembuhkan pedasnya dengan cepat tapi setidaknya tenggorokanku teraliri oleh air yang dingin

“aieell!!!” kataku lebih kencang

Dia menyerahkan botol minumnya padaku tanpa babibu aku langsung menegaknya hingga habis. Aku menjulurkan lidahku, tak kuat menahan rasa pedas yang masih bertengger disana. Juga mengipaskan tanganku

Aku menoleh pada Yoona yang sedang terkikik geli. Dia menutup mulutnya untuk meredam tawanya yang bisa saja sangat keras tapi apa yang aku lakukan? Aku justru terdiam karena tingkahnya. Dia tak pernah tertawa seperti ini sebelumnya

“ya! Kau benar-benar!” kataku

“kau yang memintanya jadi jangan salahkan aku” acuhnya dan kembali memakan makanannya lahap

“kenapa kau tak mengatakan makanan itu pedas?!”

“kau hanya meminta ingat”

“setidaknya kau memberitahuku, bodoh!”

“laki-laki macam apa yang tak menyukai masakan pedas” cibirnya

Aku hanya mendengus. Aku melupakan sesuatu dikantongku. Permen, aku memilikinya, permen sisa aku beli kemarin. Segera aku merogoh kantongku dan menemukannya dengan wajah puas. Aku membuka bungkusnya dan langsung memakannya.

Duk!

Mulutku yang siap dengan permen itu terpaksa harus menelan pahit

“Yoona, kau!” seruku tak terima

Dia hanya tersenyum kearahku. Dia benar-benar tak memiliki perasaan. Aku benci pedas dan saat ini aku sedang berusaha menghilangkan rasa membakar di lorong mulutku yang belum hilang sejak tadi

“aiish!” kesalku mengedarkan pandanganku

Aku merasakan bajuku ditarik oleh seseorang. Ketika aku menoleh, sebuah permen lollipop berada didepan wajahku. Aku melirik kearahnya yang masih sibuk dengan makanannya

“tak mau? Aku masuk—”

Langsung saja aku tarik permen itu dari tangannya. Masa bodoh dia mentertawaiku, yang aku pikirkan hanya menghilangkan rasa meledak ini. Sesudahnya aku terdiam menunggunya. Dia tak mengucapkan sepatah katapun padaku dan aku menyimpulkan untukku sendiri bahwa Yoona bukanlah gadis yang banyak bicara seperti Yuri. Yuri sangat talk active di kelas bahkan aku sempat menghardiknya karena dia terlalu berlebihan.

“kau berbeda dengan Yuri” kataku memulai pembicaraan setelah cukup lama kami terdiam

Tapi bukanlah jawaban yang aku dapatkan, dia justru hanya terdiam membisu. Membereskan kotak bekalnya dan merenggangkan tangannya bebas

“ya, memang saudara kembar tak harus memiliki watak yang sama tapi kau benar-benar berbanding terbalik dengan Yuri”

Aku mendengar desahan nafasnya pelan, “semua orang mengatakan hal itu”

Gadis ini benar-benar menatapku. Tatapannya halus dan cukup membuatku terbius beberapa saat setelah dia memalingkan wajah kembali

“dan—hubungan kalian terlihat tak baik?” tanyaku pelan, takut menyinggung perasaannya

“semua orang tahu tentang hal itu. Lagipula kami juga bukan kembar identik”

KRIINGGG….KRIIINGG…KKRIIINGGG

Yoona beranjak dari tempatnya, membersihkan bagian belakang roknya dan melangkah pergi tanpa menoleh kearahku. Aku juga melakukan hal yang sama berdiri, mengacak rambutku agar terlihat sedikit berantakan. Aku memperhatikan punggungnya yang semakin menjauh. Gadis ini… ada sesuatu yang membedakannya dengan gadis yang lain tapi aku tak tahu itu apa.

to be continued

haii!! aku gatau ada yang masih inget sama ini ff apa nggak😀 yang masih inget makasih banyak dan buat yang nggak inget baca lagi aja ffnya😀 . hope you like it aja deh buat ini chapter😀

see yaaa😀

70 thoughts on “Who Are You? – 2

  1. Ahayyyy YOONHUN SUKA BANGET.
    Kayanya yuri benci pasti ada alasannya,
    Gadis nya siapa seeh, kaya yoona tapi ntar jangan2 malah si yuri lagi

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s