[Freelance] Stand By Me,Lu

Bm3woutCcAAkp4R

Stand By Me, Lu

Moonixie

Im Yoona and Xi Luhan

Romance || Sad

All Rated

 

Pernahkah kau merasa bahwa hidup ini terasa hambar? Seperti kau hanya menghuni bumi ini seorang diri? Aku pernah merasakannya.

-Stand By Me, Lu-

 

Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya tak ada yang berbeda, hanya saja daun-daun di taman belakang mulai berguguran menandakan bahwa musim gugur telah datang, ya seperti itulah yang kulihat dari jendela kamarku.

Meski angin musim gugur berhembus melalui celah jendela dan membuat gorden kamar bergerak lembut, aku tak merasakan dingin menusuk kulitku, mungkin karena cahaya matahari yang ikut masuk membuat udara menjadi hangat.

Inilah yang kusuka dari setiap pagiku. Sinar matahari yang hangat. Selalu berhasil membuatku tersenyum.

Jam weker telah menunjuk keangka 6 dan itu berarti sudah waktunya aku menyiapkan sarapan untuk mereka—anak-anak panti asuhan—yang sudah lama tinggal denganku. Seperti biasa saat menyiapkannya bibi Jung selalu membantuku.

Bibi jung adalah pengasuh sekaligus pemilik panti asuhan ini. Sudah terhitung kurang lebih 14 tahun aku tinggal disini, dimulai sejak umurku 4 tahun. Entah apa yang membuat orangtuaku meninggalkanku di tempat ini, mungkin karena keadaanku, akupun tak tahu pasti.

Tapi aku sangat menikmati tinggal disini, selain anak-anak yang menggemaskan, bibi Jung dan bibi Kim yang sudah seperti ibu bagiku, ada seseorang yang menjadi favoritku. Dia seperti energi yang kubutuhkan untuk memulai hariku.

Dia adalah teman sejatiku. Xi Luhan namanya.

Dirinya juga adalah seorang anak panti asuhan. Aku dan dia termasuk yang terlama tinggal di panti ini. Sebenarnya bisa saja kami meninggalkan tempat ini dengan menerima untuk diadopsi, tapi kami menolak karena janji kami yang telah kami buat beberapa tahun lalu. Kami berjanji bahwa kami akan tetap tinggal hingga dewasa nanti.

Tepat jam 7 kami semua akan memakan sarapan buatanku dan bibi Jung, selepas itu anak-anak akan pergi ke sekolah kecuali si nakal Jongin. Dia selalu menolak untuk pergi ke sekolah dengan beralasan bahwa sekolah itu tidak penting untuk cita-citanya. Karena ia ingin menjadi seorang dancer terkenal yang tidak perlu perhitungan matematika atau yang lainnya untuk menjadi seperti itu—kurang lebih itulah yang pernah dikatakan Jongin—

Jongin lebih suka pergi ke tempat audisi pencari bakat atau klub yang mengadakan perlombaan dance daripada bioskop atau tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh anak-anak seumur dirinya. Jongin terpaut 4 tahun dibawahku juga Luhan, walau seperti itu Jongin cukup dekat dengan kami, aku senang Jongin mempunyai semangat yang tinggi untuk mencapai mimpinya walau sebenarnya dia juga cukup menyebalkan karena terlau sering membuat masalah.

Kurasakan ada seseorang yang menepuk pundakku, dan pada saat aku berbalik aku mendapatkan Luhan yang sedang tersenyum lalu bibirnya membuat pergerakkan yang kuyakini bahwa ia sedang mengatakan ‘Aku menunggumu di tempat biasa’. Akupun menganggukkan kepalaku menandakan bahwa aku mengiyakan ajakannya.

Luhan berjalan menuju pintu dan akupun tak dapat melihatnya lagi saat pintu tertutup rapat. Kuputuskan untuk mengambil sweater pemberian Luhan tahun lalu untuk menghangatkan tubuhku karena angin yang berhembus cukup dingin pada musim ini.

Selalu saja seperti ini, Luhan akan pergi terlebih dahulu ke tempat favorit kami dan aku akan menyusulnya dengan cepat. Aku akan selalu mendapati Luhan sedang menulis sesuatu dan ia selalu saja menyembunyikan tulisan itu dengan menguburnya bersama toples kaca sebagai pelindung. Mungkin ini alasan Luhan selalu pergi lebih dulu agar aku tidak dapat mengambil ‘rahasia’nya itu.

Disinilah kami selalu menghabiskan waktu, disebuah bukit dekat panti dengan sebuah pohon yang menjadi sandaran tubuh kami. Dari sini kami dapat melihat gedung-gedung yang menjulang menghiasi kota ini, sungguh indah terlebih saat malam menjelang, gedung-gedung dan bangunan lainnya akan dihiasi oleh sinar lampu yang berwarna-warni. Aku dan Luhan sangat menyukai tempat ini. Seperti sebuah surga ditengah keramaian kota.

Aku tahu Luhan selalu bernyanyi saat seperti ini, saat kami berada disini. Luhan tidak pernah ingin menunjukkan suaranya didepan orang lain entah karena alasan apa akupun tidak mengetahuinya, Luhan tidak pernah menceritakannya padaku. Tapi maafkan aku karena tak bisa bernyanyi untukmu, Luhan.

Hanya sedikit perbincangan setiap harinya, begitulah kami. Walau seperti itu aku mengetahui cukup banyak tentangnya. Dari mulai dia yang tidak terlalu menyukai sayuran, dia yang tidak suka jika dibangunkan dari tidurnya, dia yang sangat menyukai sepak bola, dia yang sangat mengidolakan Christiano Ronaldo, dia yang selalu ingin pergi ke kampung halamannya di China, dia yang ingin menjadi seorang pilot, sampai dia yang memilki hati bak seorang malaikat.

Hari itu tidak ada yang kami bicarakan sama sekali hingga bulan menggantikan peran matahari di langit. Luhan bangkit dari duduknya dan mencoba membantuku untuk berdiri juga, kami berjalan berdampingan dengan tangannya yang merangkul pundakku. Aku sangat suka itu sungguh.

Aku tidak tahu alasannya mengajakku ke tempat itu setiap harinya, mengapa dia terlihat sangat nyaman di tempat itu dan yang lainnya. Sekalipun aku merasa telah mengenalnya, tetapi dia cukup sulit untuk dimengerti.

-Stand By Me, Lu-

 

Sudah beberapa hari ini Luhan tidak mengajakku pergi ke tempat ‘itu’ lagi, dia juga tidak pergi kesana. Hanya menonton siaran televisi atau bermain dengan anak panti yang lain. Tidak biasanya. Dan juga belakangan ini dia sering berbicara dengan bibi Jung entah apa yang mereka bicarakan, tapi tampaknya mereka berbicara hal serius. Saat ku tanya ‘ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang serius?’ dia selalu berkata bahwa dia baik-baik saja. Itu membuatku semakin mengkhawatirkannya.

Jongin tiba-tiba berada dihadapanku, tersenyum padaku dan mengajakku ke ruang tengah. Jongin mengusir beberapa anak disitu yang membuat mereka melontarkan cibiran padanya.

“Noona, mengapa si hitam itu sangat menyebalkan?!” Aku tertawa saat Sehun mulai merengek, itulah kebiasaannya –bodoh padahal aku tak dapat mendengarnya. Jongin menatap malas pada Sehun, dan itu membuat bocah dengan kulit pucat itu pergi sembari menghentakkan kakinya kesal.

Sehun dan Jongin berada diumur yang sama, tapi Sehun terlihat lebih kekanakan dibanding Jongin, dan Sehun akan selalu mengikuti perintah Jongin seperti tadi. Entah mengapa bocah itu rela diperintah oleh Jongin walau pada akhirnya akan menghujat teman sebayanya itu. Mungkin karena Sehun menganggap Jongin sebagai kakaknya –bagaimanapun Jongin tua beberapa bulan dari Sehun— atau mungkin juga karena Sehun takut dengan si hitam itu, wajar saja karena Jongin akan memakai tinjunya saat ia sedang kesal.

Jongin mengganti channel televisi nya menjadi acara Dance Underground. Aku memperhatikan acaranya, dan sedikit terhibur. Jongin menepuk pundakku dan selanjutnya menunjuk layar persegi itu dengan mata berbinar. Aku langsung memfokuskan pandanganku pada seseorang yang sedang meliukkan badannya itu, aku tahu itu Jongin walaupun ia memakai topi yang sedikit menutup wajahnya.

Aku seperti bukan melihat sosok Jongin yang selalu membuat masalah, Jongin yang selalu membuat Oh Sehun merengek. Aku seperti melihat sosok yang berbeda tapi inilah seorang Kim Jongin. Dia sudah seperti adik kecilku, aku benar-benar menyayanginya.

Ternyata Jongin terlihat beribu-ribu kali lebih tampan jika sedang menari. Aku bangga padanya, semoga saja Jongin dapat meraih impiannya. Aku dapat melihat kebahagiaan saat ia menari dan itu membuatku lega, karena kebahagiaan bagi anak-anak seperti kami adalah sesuatu yang mahal dan kami harus mencarinya sendiri. Bahkan saat kami sedang tertawa pun kami dapat langsung menangis karena satu banyak hal, misalnya rasa tidak diinginkan oleh.. Dunia. Aku bangga padanya, semoga saja Jongin dapat meraih impiannya.

Dia menepuk pundakku lagi saat acara itu selesai, matanya menatapku seolah bertanya ‘Apakah tarianku terlihat keren?’

Aku mengangguk dan mengangkat ibu jariku kehadapannya sambil tersenyum lebar, ia pun ikut tersenyum lebar memamerkan deretan giginya. Tetaplah seperti itu Jongin.

Tak sengaja mataku menatap sosoknya, sosok yang belakangan ini terlihat aneh pada sikapnya. Biasanya Luhan –sosok itu— akan ikut dalam pembicaraanku dan Jongin atau hanya sekedar mengganggu kami. Tapi kali ini ia hanya menatapku tanpa melangkah kearah kami atau bahkan tersenyum padaku. Ia hanya pergi keluar. Hatiku mencelos melihatnya, entah kenapa aku sedih saat ia seolah-olah menjauhiku.

Jongin mengikuti tatapanku. Ia pun menoleh lagi padaku, keningnya mengerut dan mengatakan sesuatu padaku yang aku simpulkan bahwa ia bertanya ‘Mengapa Luhan hyung seperti itu?’. Kutundukkan kepalaku dan menggeleng memberikan jawaban bahwa aku pun tidak tahu. Aku pun menatap Jongin untuk meminta izin menyusul Luhan. Ya, Luhan pasti pergi kebukit itu, aku sangat yakin.

Akupun mulai berlari menyusulnya, walaupun ia terlihat seperti mengacuhkanku, aku yakin bahwa sebenarnya ia membutuhkanku untuk menceritakan semua yang terjadi padanya. Karena hanya aku disini yang tak dapat mendengarnya, aku tahu Luhan bukanlah orang yang akan menceritakan keluh kesahnya. Setidaknya ia dapat menceritakan semuanya padaku karena ia pikir aku tidak dapat mendengarnya. Tapi ia salah, aku tahu apa yang selalu dibicarakannya dengan hanya melihat pergerakan bibirnya. Dan tentu saja.. matanya. Mata seseorang tidak akan pernah berbohong, kan?

Aku sempat berpikir bahwa alasannya mau berteman denganku adalah karena itu, karena aku tak akan pernah mendengar dan tahu apa yang ia bicarakan. Untuk pertama kalinya itulah aku tidak menyalahkan takdir atas keadaanku.

Saat aku sampai di bukit itu, aku melihatnya sedang terduduk dengan mata yang terpejam, menutup penglihatannya kearah pemandangan yang tersaji dengan indah. Rambut hitamnya yang teracak angin lembut, dan wajahnya yang terkena cahaya senja. Membuatnya terlihat tenang, dan aku sangat-sangat menyukai pemandangan ini.

Kakiku seakan beku, tak dapat melangkah untuk mendekati sosok itu. Hanya ingin melihatnya seperti ini, tak ingin mengganggu ketenangannya. Dan aku mengubah keputusanku saat tiba-tiba ia menoleh padaku dan mengatakan ‘Kemarilah’.

Kulangkahkan kakiku mendekatinya, dan ikut mendudukan tubuhku disampingnya. Akhirnya ia berbicara juga padaku. Bibirnya tak juga membuat pergerakan dan itu bertanda bahwa ia tak memulai percakapan diantara kami –walau aku hanya akan menatap matanya—

Ia kembali menatapku. Pandangan kami pun bertemu. Aku dapat melihat mata sendunya dengan jelas, mata rusanya yang sama denganku terlihat sedang bersedih. Ada apa dengannya? Apa ia memiliki masalah yang serius?

Ini pertama kalinya ia menatapku seperti itu. Luhan adalah sosok yang ceria jadi selama ini aku tak pernah melihatnya seperti itu. Sebenarnya aku ingin sekali untuk bertanya apa yang terjadi padanya, tapi kuurungkan niatku saat ia tersenyum padaku dan tangannya terjulur mengacak rambutku.

‘Aku baik-baik saja, jadi tersenyumlah’ itulah yang ia katakan. Tapi matanya mengatakan bahwa ia tidak dalam keadaan baik-baik saja. Jadi ia berbohong. Tak ada lagi yang ia katakan, kami hanya berdiam diri menikmati semilir angin yang menerpa wajah kami. Terkadang aku menoleh padanya dan ia hanya menutup mata indahnya itu. Aku ingin sekali menghentikan waktu saat ini. Tuhan bisakah kau mengabulkannya untukku? Aku merasa nyaman saat berada bersamanya, aku tak ingin dunia merebutnya dariku. Setidaknya walau kau tak menakdirkan kami untuk bersama, biarkanlah aku tetap dapat melihatnya disekitarku.

Karena aku mencintainya. Tuhan.

 

-Stand By Me, Lu-

 

Pagi-pagi sekali aku terbangun saat ada yang mengguncangkan tubuhku pelan, saat kubuka mataku ternyata orang itu adalah Jongin. Wajahnya terlihat panik dan ia segera menarikku dari tempat tidur menuju ke ruang depan, tempat bibi Jung dan bibi Kim menerima tamu. Aku tersentak saat Luhan dan beberapa orang disana terlihat saling berteriak. Siapa mereka? Apa yang terjadi?

Kulihat bibi Jung sedang melerai mereka, saat aku ingin melangkah mendekat, Jongin meraih tanganku, akupun menatapnya dan ia menggelengkan kepalanya menandakan bahwa ia memintaku untuk tidak ikut campur.

Akupun kembali menatap orang-orang itu dan betapa terkejutnya aku ketika Luhan dan beberapa orang itu termasuk bibi Jung dan bibi Kim menatapku. Akupun dapat melihat setetes air mata jatuh dari matanya. Mata yang sangat aku sukai. Mata seorang Xi Luhan. Dan pada saat yang bersamaan orang-orang itu menyeret Luhan keluar dan Luhan pun terlihat memberontak akan perlakuan orang-orang itu. Aku heran mengapa bibi Jung dan bibi Kim membiarkannya. Memang siapa mereka? Mengapa mereka melakukan itu pada Luhan?

Ku langkahkan kaki ini untuk menyusulnya. Melepaskan genggaman Jongin pada tanganku. Kulihat Luhan terus menoleh padaku, aku semakin khawatir padanya. Tapi kuhentikan langkahku saat mereka memasukkan Luhan pada salah satu mobil yang terparkir diluar. Ada dua mobil hitam yang terparkir disana, apakah mungkin itu adalah orang tua kandung Luhan? Dan beberapa bodyguard? Karena aku dapat melihat sepasang pria dan wanita paruh baya memasuki mobil pertama. Dan Luhan masuk ke mobil yang kedua.

Aku masih melihatnya di dalam mobil, iapun menoleh kebelakang. Tatapan kami bertemu kembali, aku dapat melihatnya mengucapkan ‘Aku akan kembali’ dan pada saat yang bersamaan air mata ini jatuh dikedua pipiku. Mobil pun melaju jauh dan semakin jauh. Aku tak ingin mengejarnya. Untuk apa aku berlari mengikuti mobil itu? Mereka tak akan berhenti untuk mempedulikanku, apalagi aku tidak dapat berteriak meminta mereka untuk berhenti.

Mungkin ini yang terbaik baginya. Bagi Luhan. Walau aku tak yakin begitu saat teringat Luhan meneteskan air matanya. Untuk pertama kalinya aku melihat mata itu menitikan air mata pemiliknya. Entah mengapa hatiku berbicara untuk menunggunya. Bukankah ia bilang ia akan kembali? Aku percaya padanya.

Kau akan kembali bukan? Kupastikan aku akan menunggumu.

 

-Stand By Me, Lu-

 

Bibi Jung mengatakan bahwa orang tua Luhan membawanya kembali ke China karena selama ini Luhan memang hanya dititipkan untuk sementara karena beberapa alasan. Aku cukup lega mendengarnya. Aku yakin Luhan akan baik-baik saja, orang tuanya tak akan menyakitinya. Inilah yang terbaik bagi Luhan, hidup lagi bersama keluarganya, bukankah Luhan juga merindukan China? Tapi entah mengapa ada sebagian hatiku yang tak ingin ia pergi, ingin ia tetap tinggal disini.

Ini sudah sepuluh tahun semenjak kejadian itu. Aku tak tahu mengapa aku tetap menunggunya, mungkin karena aku percaya bahwa ia benar-benar akan kembali. Bibi Jung telah tiada sejak 5 tahun yang lalu, anak-anak panti mulai tumbuh dewasa dan pergi dari sini memulai hidup mereka yang baru diluar sana.

Kyungsoo yang bersikeras untuk mencari keluarganya ke penjuru Korea, Joonmyeon yang ingin hidup lebih baik dengan mencari pekerjaan ke Seoul, Chanyeol dan Baekhyun yang membentuk sebuah band dengan beberapa teman sekolah mereka dan pergi ke ibukota untuk mencari peruntungan, Sehun yang telah mendapat beasiswa untuk berkuliah di Seoul dan mungkin sekarang ini bocah yang sering merengek itu telah menjadi seorang dokter. Dan Jongin yang sudah mendapatkan impiannya untuk menjadi seorang Dancer terkenal—well ia menjadi anggota boyband populer— dan anak-anak lainnya yang kebanyakan pergi ke Seoul untuk mencari penghidupan yang lebih layak disana.

Sebenarnya bibi Kim juga menyuruhku untuk pergi ke Seoul karena mungkin kota itu lebih baik, daripada berdiam diri di tempat ini dan menunggu orang itu. Tapi aku menolaknya dengan alasan ingin menemaninya di panti ini. Dari anak-anak lain yang tumbuh bersamaku, hanya akulah yang tetap tinggal di tempat ini, kurasa aku juga tak tega untuk meninggalkan bibi Kim seorang diri mengurus anak-anak yang baru ‘datang’ ini. Walaupun bibi Kim mengatakan akan membayar orang lain untuk membantunya, tetap saja aku bersikeras ingin tetap tinggal. Biarlah, kurasa memang ini tempatku.

Aku memutuskan untuk pergi ke bukit itu lagi. Beberapa tahun ini aku jarang sekali pergi kesana, mungkin dalam kurun satu bulan aku hanya pergi satu atau dua kali, tak sesering saat masih ada dia disini. Tempat ini tak berubah kecuali pohon yang sedikit kehilangan beberapa ranting dan daunnya. Mungkin karena sudah tua.

Hari sudah mulai sore, dan langit sedang menampilkan warna senjanya yang sangat mengagumkan. Bukit ini memang tempat yang terbaik saat aku merindukannya. Ketika aku duduk kembali ditempat ini aku merasa bahwa ia berada disini. Tetap berada disampingku. Aku jadi teringat hari dimana kami mungkin yang terakhir kalinya berada di tempat ini bersama, itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Tapi aku masih mengingatnya dengan jelas dikepalaku.

Ketika dia menutup mata rusanya, ketika rambutnya teracak oleh angin, ketika wajahnya terkena sinar matahari senja, ketika ia terlihat damai dengan pikirannya dan ketika ia tersenyum, aku merindukannya. Sangat merindukan semua tentangnya. Aku mengikuti apa yang dilakukannya dulu, menutup mata dan mencoba merasakan semilir angin. Entah mengapa aku selalu dapat melihat wajahnya saat aku menutup mata ini, dan aku menyukainya.

‘Sudah sepuluh tahun, Lu. Tapi mengapa kau tak kunjung kembali? Aku sudah dewasa begitu pula denganmu, aku juga ingin pergi dari sini mencari hidupku yang lain diluar sana. Tapi mengapa hatiku ragu melakukannya? Mengapa hatiku ingin tetap ditempat ini? Aku terlalu takut mengahadapi dunia tanpamu. Aku merindukanmu. Apakah kau juga merindukanku?’

 

Aku membuka kembali surat yang ada di toples kaca tersebut. Inilah yang Luhan tulis selama ini, tak banyak kata tapi aku tak pernah bosan membacanya. Jadi selama ini Luhan menyukaiku?

Aku menyukai Yoona.

Aku sangat suka senyumnya.

Kuharap suatu hari nanti kau dapat mendengar suaraku… juga nyanyianku.

Tuhan, kuingin mendengar suaranya.

Aku selalu berdoa agar kami dapat hidup bersama selamanya.

Sebenarnya aku ingin tetap tinggal bersamanya.

‘Aku merindukanmu’ kucoba tulis itu pada pohon tempat kami bersandar dulu. Mungkin saja ia akan datang suatu hari nanti saat aku tak ada dan ia akan membacanya, karena aku ingin dia tahu bahwa Im Yoona merindukan Xi Luhan.

-Stand By Me, Lu-

Hari ini seperti biasanya, aku akan memasak dan mengurus hal lainnya bersama bibi Kim. Semuanya telah pergi kesekolah, hanya saja ada beberapa yang tidak, mereka belum bersekolah karena umur mereka yang masih terlalu kecil, jadi aku menemani mereka bermain, dan sesekali kami menonton televisi bersama.

Terkadang disaat seperti ini, aku merindukan anak-anak yang dulu hidup bersamaku, mungkin mereka telah menemukan hidup yang mereka inginkan. Aku merindukan mereka. Aku merindukan Kyungsoo yang selalu membaca buku, Joonmyeon yang giat untuk membersihkan rumah, Baekhyun dan Chanyeol yang selalu berisik, Sehun yang seringkali merengek karena Jongin, dan tentunya si hitam Jongin yang terkadang suka mengatur. Apa kabar mereka?

Bibi Kim membuyarkan lamunanku, dan memberiku sebuah amplop. Ia bilang itu dari Jongin. Ah Jongin, dia masih mengingatku rupanya. Sebenarnya rasa rinduku sedikit terobati saat aku melihatnya di televisi, tentu saja dia sudah menjadi orang yang terkenal. Ku buka amplop itu, didalamnya terdapat sebuah tiket konser, dan sebuah… mungkin kunci apartement. Dan saat aku membuka suratnya ternyata benar bahwa itu sebuah kunci apartement.

Noona, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu, kau harus memahaminya karena aku sedikit sibuk^^. Aku mengirimkan tiket konserku kuharap kau akan datang. Aku juga ingin kau pergi dari sana dan melupakan Luhan hyung. Kau harus melanjutkan hidupmu dengan baik. Tinggalah di apartement itu, aku sudah membelikannya untukmu. Jadi kau harus tinggal disana. Aku mungkin akan datang untuk menemuimu. Sampai jumpa noona.

 

Jongin

 

Mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang padaku, aku harus memulai hidupku dengan lebih baik. Jadi kuputuskan untuk pergi ke Seoul dan melihat dunia. Bibi Kim membantuku untuk berkemas, kulihat ia meneteskan air matanya. Aku memeluknya dan air mata ini pun ikut menetes, sebelumnya ini adalah ‘rumah’ku dan mereka adalah keluargaku, jadi sebenarnya aku sedikit tak rela meninggalkan tempat ini.

Aku menulis sesuatu dikertas, mencoba menyampaikan seseuatu pada bibi Kim.

Terimakasih, aku menyayangimu. Aku akan sering kemari. Hiduplah dengan baik. Dan jika dia datang sampaikan salamku padanya.

Aku pergi dari tempat ini dengan bibi Kim yang menangis tersedu. Melangkah menuju hidupku yang baru. Tempat tinggal yang baru dan orang-orang yang baru pula. Tapi tentu saja aku tidak akan melupakan hidupku yang dulu, semua tentang tempat ini dan tentunya dirimu.

Sahabat sejatiku. Xi Luhan.

Sampai jumpa. Deer. Semoga kita dapat bertemu kembali.

-Stand By Me, Lu-

Jika saat itu aku memiliki kesempatan untuk berbicara padamu, aku ingin mengatakan bahwa aku berharap kau akan tetap berada disampingku. Lu.

 

END

26 thoughts on “[Freelance] Stand By Me,Lu

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s