[Freelance] The Girl Who Can See Ghost

PicsArt_1436176265086

The Girl Who Can See Ghost

Irna Cloudaddict’s story

Yoona | Chanyeol | Kai

Romance- Horror

Do’s : Read, Comment, Like

Dont’s : Copy, Plagiarism, Bash

Sorry for typo, Happy reading

Kai berhenti di depan lemari kaca. Matanya mengamati satu persatu piagam yang dibingkai serta piala-piala didalamya. Best author of the year, Best thriller story, Best selling author dan penghargaan sejenis lainnya. Kemudian dia beralih pada rak buku disampingnya.

“Aku selalu penasaran mengapa novel-novelmu selalu jadi best seller dan kau bisa meraih banyak penghargaan,padahal lihatlah ini..” Kai mengambil salah satu novel dengan cover seorang gadis penuh darah yang memegang pisau di tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang sebuah boneka kelinci yang lehernya hampir putus. Kai menatapnya jijik dan ketika dia menbaca judulnya, Kai langsung terlonjak dan cepat-cepat mengembalikannya ke rak-kill you is my pleasure.

“Aku tidak akan membacanya sekalipun kau membayarku.” Kai mengambil komik lalu membaringkan diri di kasur.

Chanyeol sama sekali tidak tersinggung dengan kata-kata sahabatnya. Kai sudah sering menghinanya seperti itu dan selalu dibalas dengan “ Hanya orang berselera tinggi dan kelas atas yang mengerti novelku jadi kau yg selera rendah better shut up.” tapi kali ini Chanyeol tidak berniat sama sekali membalasnya. Dia tidak mau menghancurkan moodnya dan ingin fokus pada laptop dihadapannya. Sedari tadi dia mengetikkan berbaris kalimat, membacanya ulang, menggeleng lalu menghapusnya, otaknya tidak bisa merangkai kalimat yang baik. Putus asa, diapun mengacak rambutnya lalu memukul meja kerjanya.

“Aarrgghh,” geramnya frustasi.

Writer’s block lagi huh? Aku kira best author sepertimu tidak akan mengalaminya.”

“Heol, penulis juga manusia tau. Kenapa susah sekali sih menulis cerita horror?!”

“Bukanya kau sudah sering menulis genre seperti itu? Psikopat, pembunuhan? Mutilasi?”

“Thriller, mystery dan horror itu berbeda.” Sungut Chanyeol. Berbicara dengan Kai tidak memberi solusi sama sekali. “Aku ingin sekali menulis novel tentang seseorang yang bisa melihat hantu, eottheokhae?”

“Mwo? masih yang itu? yaampun Chanyeol. Sudah lupakan saja, buat yang lain.”

“Sayang, sudah dua draft.”

“Enam bulan hanya jadi dua draft? Hmm menulis itu tidak hanya butuh ide, tapi inspirasi. Kurasa satu-satunya cara adalah mencari orang yang benar-benar bisa melihat hantu.”

“Tapi bagaimana cara menemukannya? kau ada ide?”

“Gampang saja. Tulis di SNS ‘Aku Park Chanyeol, penulis terbaik di Korea mencari seseorang yang bisa melihat hantu untuk menjadi inspirasiku menulis novel baru. Imbalannya menjadi pacarku 10 hari.’ hahahaha” Kai menertawakan idenya sendiri.

“Haha lucu sekali.” ucap Chanyeol tanpa ekspresi.

“Kau mau yang lebih lucu? pergi ke cermin lalu lihat wajah frustasimu itu.”

Chanyeol semakin kesal. Ia menarik napas, mengumpulkan moodnya yang hilang. Seketika ia mendapat ide. Dengan cekatan ia mengetikkannya.

BOOMM

“Suara apa itu?” Kai terduduk mendengar suara ledakan kuat, sementara Chanyeol masih asik mengetik.

“Tikus mungkin.”

“Heol, masuk akal tidak ada tikus di lantai 16 apartment elite? kau sudah kehilangan akal sehat karna novelmu ckckck.”

Penasaran, Kai berjalan menuju balkon. Dia kaget setengah mati.

“Chan.. Chanyeol lihat itu. Palli Palli.”

Dengan malas Chanyeol beranjak dan menghampiri Kai, “Ada apa sih? ahh astaga…”

Belum sempat Kai menjawab, Chanyeol sudah dikejutkan oleh asap hitam tebal dan besar yang bergumpal dilangit.

“Pesawat.. jatuh?”

*******

Yoona bersandar di jok belakang sesekali ia terkekeh membaca Meme lucu dari handphonenya. Kakinya bergoyang mengikuti alunan musik dari siaran radio yang sedang memutar top chart billboard. Ia kemudian tersadar bahwa dari tadi mobilnya tidak jalan. Ia memutar kepala dan mendapati kendaraan disekelingnya juga diam ditempat.

“Pak macet ya?” tanyanya pada supir pribadinya.

“Ia nona, sudah hampir setengah jam. Sepertinya ada demo atau kecelakaan.”

“Aishh aku ingin cepat pulang padahal.” Yoona memijat bahunya. Mata kuliah hari ini berat ditambah dosen yang membosankan membuatnya ngantuk.

“Kita bisa terjebak sampai berjam-jam disini. Nona Yoona jalan saja kerumah. Sudah dekat kok.”

Yoona mengangguk. Dengan berat hati ia membuka pintu mobil lalu berjalan dari pinggir melewati ratusan kendaraan yang tidak bisa bergerak sambil mendengarkan musik. Setelah berjalan hampir 1 kilometer lautan manusia mulai terlihat mengelilingi sesuatu. Yoona mendekat, membuka earphone wireless nya dan seketika itu ia mendengar suara sirine ambulan dan pemadam kebakaran. Dia berlari mendekat, menerobos kerumunan dengan tubuh mungilnya.

“Ya Tuhan.”

Yoona menutup mulutnya untuk menahan teriakannya. Ia menggeleng tidak percaya. Didepannya terdapat puing-puing pesawat besar. Pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang masih membakar badan pesawat. Asap hitam mengepul penuh sesak, hawa panas, teriakan histeris masyarakat yang masih shock, Bangunan tinggi ikut hancur, polisi bergerak memasang police line agar warga tidak mendekat. Yoona yakin pesawat menabrak gedung tinggi itu. Gadis itu terkejut setengah mati. Ini pertama kalinya ia melihat langsung kejadian seperti ini. Pesawat jatuh merupakan hal langka di Korea.

“Chogiyo , kapan pesawatnya jatuh?” tanya Yoona pada seorang pria yang memakai pakaian tentara didepannya. Tapi orang itu hanya diam dan tidak mengalihkan pandangannya. Yoona mengikuti arah pandang orang itu dan Yoona terkejut. Rasanya ia ingin mati saat itu juga. Ia menutup mulutnya tidak percaya dan mulai menangis. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri mayat manusia utuh gosong didepannya . Ia kembali melihat orang yang ditanyanya barusan sambil menggeleng. Pria tersebut juga sedang menatap Yoona. Kali ini Yoona tidak bisa menutupi keterkejutannya ia berteriak kencang. Wajah pria itu penuh darah dan setegah wajahnya gosong.

“Ya Tuhan, dia bukan manusia.”

Yoona berjalan mundur. Kepalanya terus menggeleng tidak percaya. Yoona lupa bahwa dia punya penglihatan ganda. Tidak seharusnya dia berada ditempat seperti ini. Yoona dilanda ketakutan luar biasa. Ia melihat sekeliling. Ia tidak tau lagi membedakan mana manusia dan mana yang bukan. Yoona berjalan cepat sambil menutup telinganya, tidak tahan mendengar suara sirine yang meraung-raung. Ia menangis tanpa henti. Ia melihat sekilas kebelakang dan orang itu ah tidak, hantu itu terus mengikutinya.

“JANGAN IKUTI AKU!” teriak Yoona. Tidak peduli dengan tatapan aneh orang.

“Agasshi, tuajuseyo.”

“ANDWAE ANDWAE.” Yoona tidak percaya hantu itu berbicara padanya. Yoona langsung berlari kencang menuju rumahnya. Sebenarnya dia kasihan dengan hantu yang mati tiba-tiba seperti itu. Arwahnya pasti masih terkejut. Baru beberapa menit lalu ia benapas tak berapa lama ia melihat langsung mayat tubuhnya sendiri, pasti sangat sakit. Tidak hanya sekali dua kali Yoona dimintai tolong oleh arwah-arwah seperti itu tapi Yoona tidak pernah mau. Yoona takut. Ia masih belum bisa menerima kenyataan. Ia merasa lebih baik terlahir buta daripada punya penglihatan seperti itu.

Napas Yoona masih memburu walau sudah sampai di rumah. Di ruang keluarga ia melihat para pembantunya sedang berkumpul menonton berita di tv. Yoona melirik sekilas ‘Pesawat Militer Korea Selatan Jatuh Setelah Take-off 2 menit.” Yoona berteriak dan langsung lari ke kamar, menutupi dirinya dengan selimut, dan memasang musik keras-keras berharap hantu itu tidak mengikutinya lagi.

*******

Sebenarnya Yoona tidak suka berada di tempat ramai. Ia tipe introvert yang penyendiri. Tapi kali ini ia duduk di kantin kampus yang tidak pernah sepi. Ia berusaha menyibukkan diri agar tidak teringat kejadian semalam. Yoona masih takut, tapi apa yang bisa dia lakukan? Orang tuanya terlalu sibuk untuk mendengarkan ceritanya dan malah menyuruhnya ke psikiater. Ia tidak punya teman curhat. Seluruh mahasiswa kampus mengganggapnya aneh dan mungkin tidak waras karna sering berteriak sendiri tiba-tiba, seperti hari ini.

Yoona mencari Meme selucu mungkin untuk mengalihkan perhatiannya dan ternyata berhasil. Yoona tertawa keras dan hal itu membuat orang-orang disana mengira dia gila tapi tiba-tiba wajah ceria itu memucat. Hantu itu berada di depan pintu kantin, sedang memandang Yoona dengan tatapan memohon.

“Ahhhhhh………….” Yoona berlari keluar dari pintu lain.

“Kasian, cantik-cantik tapi setengah gila.” ucap salah satu laki-laki disana.

Yoona langsung menemui supirnya dan menyuruh mengantarkannya ke tempat yang lebih ramai. Sungai Han menjadi pilihannya.

Semakin sore, Sungai Han semakin ramai. Yoona duduk dibawah pohon sambil memperhatikan sekelilingnya. Banyak sepasang kekasih yang berkencan, anak-anak berlarian, orang dewasa duduk-duduk melepas penat sambil melihat keindahan sungai. Yoona bersyukur karna hantu itu tidak mengikutinya.

“Sepertinya ini tempat yang pas.”

Yoona hanyut dalam buku bacaannya. Ia melihat jam tangan. Sudah pukul 5 sore. Matahari mulai kembali ke peraduannya. Langit menunjukkan garis-garis oranye. Yoona menutup bukunya, hendak kembali tapi sedetik kemudian dia berteriak keras. Hantu itu duduk di sampingnya.

“AAAAHHHHH.”

*******

Sebenarnya Chanyeol tidak pernah suka menulis di tempat yang ramai. Itu membuatnya susah berkonsentrasi. Tapi Kai bersikeras menyuruh Chanyeol menemaninya lari sore di Sungai Han.

“Kau butuh refreshing. Kau tidak akan mendapat inspirasi jika duduk dirumah terus.”

Setiap penulis punya ‘singgasana’nya tersendiri. Ada yang suka menulis di café, di taman, di balkon bahkan di depan televisi dan bagi Chanyeol singgasananya adalah meja kerja di kamarnya, tempatnya melahirkan masterpiece selama bertahun-tahun. Tapi kali ini Chanyeol harus mengakui Kai benar. Karna selama 2 jam disini dia berhasil menambah tiga bab baru novelnya. Aktivitas orang disekitarnya memberinya ide terkhusus seorang gadis yang duduk di bawah pohon tak jauh dari kursi kayu yang didudukinya saat ini. Chanyeol sudah ada disana saat gadis itu datang. Gadis itu hanya membaca buku sedari tadi, tidak terusik oleh kebisingan sekitarnya. Mereka hanya berjarak beberapa meter sehingga setiap Chanyeol mengangkat kepala dari laptop, pandangannya mau tak mau bertumpu pada gadis itu.

Chanyeol mengangkat kedua tangannya, merelaksasikan badannya yang duduk sedari tadi. Ia melihat Kai sedang duduk bersama dua perempuan di pinggir sungai dan dia hanya tertawa menanggapi sikap playboy sahabatnya itu sambil memasukkan barangnya ke ransel. Gadis didepannya tadi bersiap pergi juga ternyata.

“AAAAHHHHH.”

Chanyeol mencari sumber suara. Ternyata teriakan gadis itu. Ia mendekat dan menepuk bahu gadis itu dengan ragu.

“Gwaencahana?”

Perempuan itu pucat. Napasnya naik turun. Dia menatap mata Chanyeol, seperti meminta pertolongan sedetik kemudian mata itu terpejam diikuti kakinya yang lemas. Dengan sigap Chanyeol menangkap tubuh gadis itu. Dia pingsan.

*******

Yoona mengerjap matanya beberapa kali. Matanya memicing, menahan cahaya lampu diatasnya. Seingat Yoona, lampu kamarnya tidak berada tepat diatas tempat tidur. Ketika kesadarannya terkumpul dia baru menyadari bahwa dia berada di tempat asing. Ini bukan kamarnya. Dimana aku?

“Gwaenchana?”

Yoona mengalihkan pandangan ke asal suara. Dia terlonjak melihat dua laki-laki berdiri disamping tempat tidurnya. Refleks dia menyilangkan tangan didepan dadanya.

“Jangan takut. Kami bukan orang jahat. Tadi kau pingsan di Sungai Han.”

Yoona menyaring pelan-pelan perkataan pria itu dan seketika dia teringat kejadian tadi. Ah hantu itu. Dia ingin berterima kasih pada mereka tapi Yoona malah menjerit ketika melihat dua pemuda disampingnya. Reaksi Yoona membuat mereka bingung. Chanyeol duduk dipinggir tempat tidur, berusaha menenangkan.

“I..ituu di….disana menyeramkan sekali, di..dia hitam.”

Suara Yoona bergetar ketakutan sambil menunjuk sesuatu. Dia mencengkram selimut kuat-kuat.

“Yak! memangnya kenapa kalau aku hitam?” Kai merasa tersinggung. Baru kali ini dia dibilang seram. Dia merasa terhina.

“Di…dia terbakar.”

“Hey Agassi. Aku memang hitam. Tapi ini bawaan sejak lahir. Bukan karna terbakar matahari. Asal kau tau ya, aku paling benci berjemur. Sementang kulitmu putih bersih jangan asal mengejek orang dong.”

Chanyeol tertawa kuat, membuat Kai semakin jengkel.

“PERGI! JANGAN IKUTI AKU LAGI.”

“ Yak, beraninya kau mengusirku. Kau benar-benar tidak tau diri ya. Ingat kami telah menyelamatkan nyawamu. Kalau tidak ada kami kau mungkin sudah dibawa lelaki jahat.Kemudian kau diperkosa, dibunuh, dimutilasi dan sete-“

Ucapan Kai terhenti ketika Yoona mulai membuka selimutnya. Gadis itu menoleh kekanan-kiri. Merasa aman, dia menarik napas lega.

“Dia sudah pergi.” Yoona menatap Kai dan Chanyeol satu persatu. “Terima kasih ya.”

“Siapa yang pergi? kami masih disini?” tanya Chanyeol heran.

“Laki-laki berpakaian tentara, wajahnya terbakar setengah.”

“A-apa? tidak ada yang seperti itu disini.” Kai mendekat “Kau yakin dia waras?” tanya Kai pelan pada Chanyeol.

“Ah tidak. Aku normal kok. maafkan aku.” Yoona menunduk, dia terlalu shock sehingga tidak sadar telah mengatakan hal itu.

“Jadi kenapa kau tadi berteriak? tentara apa? dan kenapa kau pingsan di Sungai? Kau juga berteriak sebelum pingsan.” tanya Chanyeol bertubi-tubi.

Yoona menarik napas. Haruskah ia bercerita? orang didepannya pasti tidak percaya. Tapi apa yang harus dia jawab? sudahlah, jujur saja.

“Sebenarnya … A-aku bisa melihat makhluk halus. Dia mengikuti beberapa hari ini dan ketika dia menampakkan diri aku selalu berteriak.”

Kai terkejut. Bulu kuduknya meremang. Matanya mengelilingi kamar Chanyeol. Melihat tingkah aneh Kai, Yoona berkata, “tenang saja, dia sudah pergi.”

Berbeda dengan Kai. Chanyeol malah tersenyum lebar seperti menemukan harta karun. Ya inilah harta karun yang dicarinya selama ini. Akhirnya dia menemukannya.

“Kau benar-benar bisa melihat roh halus?” Mata pria itu berbinar. Dia mengambil notes dan bolpoin lalu bertanya kembali. “Bagaimana bisa kau melihatnya? sejak kapan? hantu seperti apa saja yang pernah kau lihat? kau bisa berkomunikasi dengan mereka?”

Dihujam oleh banyak pertanyaan seperti itu, terlebih mengenai tema yang paling dibencinya, membuat Yoona takut. Dia menarik selimutnya hampir menutupi setengah kepalanya.

“Paboya. Kau membuatnya takut tau!”

Kai menjitak kepala Chanyeol.

“Hei Kai, bukankah ini takdir? baru semalam kita membicarakannya dan hari ini kita menemukannya.”

“Tapi bukan berarti kau langsung memanfaatkannya bodoh. Liatlah dia sangat ketakutan. Dia juga barusan pingsan. Dia tidak akan bisa cerita dalam keadaan seperti itu.”

Chanyeol mengangguk. Dia beralih ke gadis disampingnya. “Aku Chanyeol, dia Kai. Kau siapa?”

“Yo..yoona.”

“Baiklah Yoona, kau jangan takut ya. Kami akan menjadi temanmu.”

“Ah begini saja. Bagaimana kalau kita makan malam diluar, sekalian kenalan lebih dalam. Mau kan Yoona? Chanyeol akan mentraktir kita pakai uang royaltinya. Ide yang bagus kan?”

Chanyeol melemparkan death glare nya yang dibalas Kai dengan senyum tiga jari.

*******

Awalnya mereka hanya akan makan di restaurant tidak jauh dari apartment, tapi Kai yang menyetir dengan berbagai alasan malah membawa mereka ke mall.

“Kau benar-benar tidak kenal aku?” Tanya Chanyeol pada Yoona yang berada di tengah-tengah dirinya dan Kai ketika sedang berjalan masuk..

“Kita belum pernah bertemu sebelumnya.”

“Bukan begitu maksudku. Aku PARK CHANYEOL. “ ucapnya penuh penekanan.

“Aku tau, kita kan sudah kenalan tadi?”

“Apa kau tidak pernah melihat namaku di tv, buku , majalah, internet?”

Yoona menggeleng pelan membuat tawa Kai meledak.

“Kau itu cuma penulis, bukan Rain, Brad pitt atau Robert Pattinson sehingga semua orang mengenalmu.”

“Oh, kau penulis ya?” Yoona memang suka membaca dan punya ratusan koleksi buku tapi tetap tidak mengenal Chanyeol.

“Kau belum pernah membaca karyaku pasti.”

Kai menahan tawa dengan menutup mulutnya. Kalau tidak ada Yoona diantara mereka, Chanyeol pasti sudah meninju sahabatnya itu.

“Eh, kalian mau kemana?” Yoona heran melihat Kai yang berbelok ke kanan sedangkan Chanyeol belok ke kiri.

“Ke toko buku.” Jawab Chanyeol.

“Ah, masa toko buku, Let’s have fun In time zone.”

“Bukannya kita mau makan ya?” Yoona menengahi.

“Begini saja, kita ke toko buku dulu, lalu ke time zone dan makan. Oke?” Yoona mengangguk dan Kai berjalan malas mengikuti mereka.

Chanyeol tersenyum melihat novel-novelnya berada di meja depan toko buku dengan label ‘best seller’ dan ‘book of the month’.

“Ini karyaku, yang itu juga, yang disana juga, dan yang diposter itu juga. Itu novel debutku, sudah cetakan ke duapuluh.” Chanyeol memamerkannya dengan bangga.

Kai berbisik ke Yoona, “ Itu sebabnya aku tidak mau kesini. Dia pasti pamer.”

“Kau hebat Chanyeol-ssi. Membuat satu novel saja sudah big achievement apalagi sampai menjadi best seller seperti ini, kau pasti bekerja keras. Novelmu thriller, pantas aku tidak pernah membacanya. Aku takut dengan genre seperti itu.”

Kemudian mereka menyebar. Kai di bagian komik, Chanyeol tetap di bagian novel dan Yoona melangkah ke bagian non fiksi. Dia sering ke toko buku tapi tetap tidak mendapat buku yang dia cari. Ia ingin buku tentang orang yang berpenglihatan ganda seperti dirinya. Ia ingin tau bagaimana kehidupan orang tersebut, apakah menderita seperti dirinya atau sebaliknya. Tak berapa lama Kai menarik lengannya keluar.

“Aku tidak pernah suka tempat yang ramai.” Keluh Chanyeol pada Yoona. Mereka berdua sudah 10 menit duduk dan hanya memperhatikan Kai main Dance Dance Revolution.

“Aku juga.”

“Benarkah?”

“Hei, ayo naik! Kita kesini bukan untuk duduk saja.”

“Tidak terima kasih , melihatmu saja sudah membuatku capek.”

“Eh, siapa juga yang mengajakmu?” Kai menarik Yoona dan gadis itu mengikut saja. Mereka berdua mulai menari. Yoona memang tidak selincah Kai tapi dia bahagia. Dia hanya tertawa sambil melompat-lompat. Merasa terasing sendirian, Chanyeol menghampiri mereka.

“ DDR hanya untuk dua orang, minggir.” Kai mendorong Chanyeol.

“Kalau begitu kau yang minggir, gantian dong.” Chanyeol menarik Kai turun.

Oh please kau tidak bisa menari Chanyeol. Jangan mempermalukan diri.”

“Siapa bilang? Aku bisa kok.”

“Hei hei ada apa ini? Ayo main yang lain.” Yoona turun dan melangkah ke tempat lain.

“Main sana!” Kai melirik DDR.

Chanyeol mendengus dan berjalan mengikuti Yoona. “ Sudah tidak mood.”

Mereka berhenti di depan ring basket dan bermain beberapa kali. Tapi Chanyeol-Kai yang tinggi menguasai permainan. Yoona ditengah keduanya hanya tertawa melihat kedua sahabat itu saling menyombongkan kehebatan mereka. Setelah itu mereka foto box, bermain mobil-mobilan, tembak-tembakan dan bowling. Yoona tidak pernah merasa sebahagia ini. Seumur hidup dia tidak pernah ke tempat seperti ini bersama teman seusianya. Dia selalu mengurung diri di tempat sepi. Chanyeol dan Kai tak henti membuatnya tertawa dan mereka sangat memperhatikan Yoona. Meskipun baru kenal beberapa jam yang lalu, Yoona langsung merasa akrab dan nyaman bersama keduanya.

“Mau berapa kali lagi kau mencoba?” Kai heran melihat Chanyeol yang begitu semangat mengambil boneka dari dalam box.

“Namanya juga usaha.”

“Tapi aku sudah lapar.”

“Sekali lagi. Ini yang terakhir.”

Chanyeol menatap kaca didepannya penuh konsentrasi. Menggerakkan tombol dengan perlahan dan Binggo!

Yeayy finally!” Dia mengambil boneka teddy pink yang didapatnya dan menyerahkan pada Yoona, “Untukmu.”

“Ah, tidak usah. Kau sudah berusaha keras mendapatkannya.”

“Kau pikir untuk apa aku susah-susah mendapatkannya jika buka untukmu? Mana mungkin aku menyimpan boneka.”

Yoona tersentuh mendengarnya,. Matanya berkaca-kaca. Dia tidak pernah diberi hadiah oleh temannya. “Gomawo Chanyeol.”

Oke oke stop this drama. Let’s go!” Kai berjalan meninggalkan mereka.

“Terima kasih ya untuk hari ini. Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya.” Yoona membuka percakapan ditengah makan malam mereka.

“Kan sudah kubilang tadi, kami akan jadi temanmu.”

Yoona menunduk, menarik napas lalu mulai bercerita, “Sewaktu kecil aku orang yang ceria. Hidupku baik-baik sampai aku kecelakaan saat berumur 12 tahun. Aku koma sebulan dan entah mengapa setelah sadar aku bisa melihat makhluk yang seharusnya tidak kulihat. Sejak itu hidupku berubah-menjadi lebih menderita pastinya. Aku tumbuh sendirian, orang tuaku sibuk bekerja, teman mainku hanya pelayan dirumah. Tidak ada yang mau berteman denganku karna sering berteriak histeris tanpa sebab. Mereka semua menganggapku gila. Ini benar-benar menyiksaku.” Yoona hampir menangis.

Chanyeol menurunkan sumpitnya dan berkata, “Mulai hari ini kau akan punya teman jika mau berkerja sama denganku. Hmmm maksudku, aku ingin menulis novel tentang orang yang bisa melihat hantu. Aku hampir menyerah tapi entah kenapa aku merasa seperti ada sesuatu yang mengharuskanku menyelesaikannya. Kemudian kita bertemu. Aku merasa kau seperti malaikat untuk menolongku. Kau mau kan membantuku? Menceritakan semua kisahmu dan berinteraksi dengan mereka?”

Yoona membulatkan matanya. Dia menggeleng tidak percaya,” K..kau menyuruhku berbicara dengan mereka? Ya Tuhan. Itu sama saja dengan membunuhku. Aku takut. Aku tidak akan pernah sanggup. Membayangkannya saja aku tidak bisa. Kenapa harus aku yang mengalami cobaan seperti ini?”

Chanyeol menggeser mangkuknya tanda sudah selesai. Ia meraih kedua tangan Yoona. Menggenggamnya sambil menatap dalam gadis itu.

“Itu bukan cobaan, itu anugerah Yoona. Banyak orang yang ingin berada di posisimu. Salah satunya aku. Aku ingin sekali berjumpa kembali dengan kedua orang tuaku. Mereka meninggal tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Aku rela menukar segalanya asal bisa melihat mereka lagi, apalagi berkomunikasi dengan mereka. Tuhan memberimu anugrah untuk membantu arwah itu, membantu orang lain, membantuku.”

Chanyeol menarik napas, dadanya mulai sesak. “ Kau tau mengapa aku selalu memakai genre thriller? Sewaktu berumur 8 tahun, ada perampok masuk ke rumahku. Eomma menyuruhku bersembunyi di balik lemari. Perampok itu masuk ke kamar. Mereka menikam ayahku dan menusuk ibuku yang mencoba menghalangi mereka. Aku melihat kejadian itu dengan mata kepalaku sendiri dari celah lemari. Tanpa berkata apapun, tanpa angin apapun orangtuaku meninggal. Aku shock luar biasa. Aku menyesal karna tidak bisa berbuat apapun. Karna itu aku bisa menulis novel thriller dengan baik. Karna aku pernah merasakannya.”

Yoona tidak menyangka dibalik sikap ceria itu, Chanyeol menyimpan masa lalu yang kelam. “T..tapi aku tidak yakin bisa.”

“Itu karna kau belum mencobanya. Ini bukan hanya untukku tapi untukmu juga. Kau tidak boleh terjebak selamanya seperti ini. Kau harus berani. Kau itu cantik, baik tapi orang menganggapmu gila. Apa kau mau seperti itu terus sampai tua?”

“Tapi aku takut Chanyeol.”

“Ada aku Yoona. Aku akan selalu disampingmu. Kita hadapi mereka bersama.”

Yoona merasa ucapan Chanyeol benar. Ia tidak mau begini terus. Kalau dia menolak Chanyeol berarti dia juga akan kehilangan teman.

“Baiklah.”

Satu kata itu memberi efek luar biasa baik bagi Chanyeol. Dia hampir berteriak tapi ditahan karna tidak mau mengganggu pengunjung lain. Akhirnya ia menumpahkan kebahagiaannya dengan memeluk Kai disampingnya.

“YA hentikan! Kau membuatku malu Aihh!” Chanyeol melepasnya tapi tidak berhenti senyum seperti idiot.

“Ah iya.” Kai menyentikkan jari. “Kau tau Yoona, Chanyeol semalam bilang, jika dia menemukan perempuan yang mau membantunya akan dijadikan pacar sepuluh hari. Berhubung kau sudah setuju otomatis kau sekarang jadi pacar Chanyeol haha chukkhae.”

“Hey itukan idemu – Auuu.” Kai menginjak kaki Chanyeol.

“Benarkah?” Yoona menatap Chanyeol dengan senyum jahil. Yang ditatap malah mengusap tengkuk dan melempar pandangan keluar, salah tingkah.

“Aku tidak keberatan.” Well, Yoona bukan gadis murahan, dia hanya iseng ingin tau ekspresi Chanyeol dan sekarang pria itu merah seperti kepiting rebus. Yoona sudah 22 tahun dan sekali pun dia belum pernah pacaran. Karna itu ia ingin mencoba, main-main saja.Toh hanya sepuluh hari kan.

Kai tidak bisa mengerem tawanya. Chanyeol makin malu. Yoona sumringah.

“Aku bisa menginap di apartment kalian hari ini? Aku bosan dirumah.”

“Tentu saja boleh. Kau kan pacar Chanyeol.”

*******

“Kau yakin mau tidur disini?” Kai bertanya. “Chanyeol sering menulis tentang pembunuhan, mutilasi, mana tau dia butuh percobaan?”

“Ya! Jika aku mau dari dulu kau sudah kujadikan percobaan.”

“Kau tidak akan tega menyakiti sahabatmu yang mirip Taylor Lautner ini.” Kai mencibir. “Oke Yoona, berhubung kau pacar Chanyeol aku tidak punya hak untuk melarangmu. Aku tinggal disebelah kalau ada apa-apa langsung panggil aku.” Kai pergi meninggalkan mereka berdua. Uh, tidak ada Kai mengapa suasana langsung canggung begini?

“Kamar tamu dimana?”

“Kau tidur dikamarku saja ya? Aku lupa dimana meletakkan kuncinya hehe.” Jelas saja Chanyeol bohong. Kamar tamu sudah sama kotornya dengan gudang dan Chanyeol terlalu malas membersihkannya.

“Jadi kau tidur dimana?”

“Kau tau? Tempat tidur itu hanya pajangan saja. Aku lebih sering tidur di sofa karena ketiduran setelah mentonton bola.” Chanyeol bohong lagi.

“Oke kalau begitu. Aku tidur dulu ya. Have a nice dream Chanyeol.”

Chanyeol mengangguk dan mulai merebahkan diri di sofa. Semenit.. sepuluh menit… tiga puluh menit…

Chanyeol tidak bisa tidur. Mungkin karna faktor tidak biasa tidur di sofa, mungkin juga karna faktor hatinya yang berdebar karna mengingat ini pertama kalinya ia di apartment bersama seorang gadis atau mungkin karna hari ini ia mendapat pacar? Ya pacar pertama Chanyeol. Selama ini dia terlalu hanyut dalam novelnya sehingga tidak punya waktu mengenal wanita. Dia merasa jika sudah punya pacar dia akan melupakan novel-novelnya.

Belum sampai 2 jam, Chanyeol terbangun. Kali ini bukan karna sofanya melainkan karna suara menggigau yang dia yakini berasal dari kamarnya.

“Yoona?”

Dengan gesit pria tinggi itu masuk ke kamar dan mendapati Yoona gelisah di ranjang. Gadis itu mengigau sesuatu yang tidak jelas. Chanyeol bingung harus bagaimana. Setaunya jika orang mimpi buruk harus dibangunkan. Tapi entah kenapa hati kecil Chanyeol melarangnya.

Chanyeol mengelap keringat dingin di dahi Yoona dengan tisu lalu menarik selimut hingga menutupi dada. Saat itu juga tangan Yoona bersentuhan dengan Chanyeol. Pria itu menggenggam telapak tangan Yoona. Hal itu membuat Yoona sedikit tenang.

“Eerrghh.” Yoona mengerang ketika Chanyeol hendak melepaskan tangannya.

Chanyeol duduk di lantai, kepalanya bersandar di tepi tempat tidur, tangannya masih menggenggam Yoona. Ia memejamkan mata.

Good night Yoong.”

*****

Pukul delapan pagi Kai terbangun dan langsung menuju apartment Chanyeol. Sudah menjadi rutinitas Kai dan Chanyeol sarapan bersama. Lebih tepatnya Chanyeol yang memasak dan Kai tinggal makan.

‘Kau benar-benar parasit.’ Ucapan Chanyeol setiap kali Kai datang. Tapi Kai malah mengartikan hinaan itu dengan ‘Kau boleh datang tiap hari, Aku senang ada yang suka masakanku.’

Kai sering bangun kesiangan seperti hari ini, itu membuatnya merasa bersalah karna Chanyeol tidak akan sarapan sebelum Kai datang. Chanyeol selalu menunggunya, meski tidak mengakuinya. Chanyeol malah beralasan dia belum lapar, makanya belum sarapan.

Kai mengetik kode kunci apartment Chanyeol diikuti bunyi Bip tanda pintu terbuka.

Hello, anybody home?”

Biasanya Kai akan disambut oleh suara tv bervolume tinggi dan kebisingan yang diciptakan Chanyeol di dapur. Tapi kali ini hening, seperti tidak ada tanda kehidupan.

Tempat pertama yang Kai datangi adalah dapur. Tapi tidak ada Chanyeol disana. Bahkan piring kotor dan piring bekas cucian pun tak ada.

Dia melangkah ke kamar dan terkejut melihat pandangan manis didepannya.

“HEY KALIAN BERDUA. APA YANG KALIAN LAKUKAN.”

Teriakan Kai tidak membuat dua manusia itu bergerak. Ide jahil mulai muncul. Kai mengambil ponsel dan mengabadikan moment itu.

Kai membuka jendela dan pintu balkon, membuat matahari bebas masuk. Yoona membuka matanya karna silau. Gerakan Yoona membuat Chanyeol ikut terbangun. Keduanya terkejut melihat jemari mereka yang bertautan. Yoona tidak ingat kejadian semalam dan Chanyeol tidak menyangka dia akan tertidur sampai pagi. Mata keduanya bertemu tapi tidak ada yang berinisiatif untuk melepas duluan.

Kai berdeham, membuat Yoona-Chanyeol langsung mengalihkan pandangan kearahnya. “Jadi siapa yang bisa menjelaskan apa yang terjadi?”

TBC

Hello.. Thank You for reading this bad fanfict yaa J

FF ini terinspirasi dari jatuhnya pesawat Hercules kemarin yang kebetulan cuma 1 km dari rumah. Kemaren sempat ngira itu suara tikus karna konsen nonton drama It’s Okay It’s Love (Pengen liat Dio dan baru sempat nonton sekarang) :p

Sebenernya ini oneshoot loh Cuma kepanjangan pasti.. pengen dipost dari kemarin tapi posternya gada T_T. Udah request di blog khusus poster gitu tapi ga da yang respon -_- yaudah terpaksa buat seadanya lah pake picart hehe..Adakah Artworker yang mau membuatkan poster untuk pacar Sehun ini??? *gada *nangisdipojokan *abaikan

Okelah, banyak bacot dari tadi. See u next chapter yaww.. RCL Juseyo … \(^o^)/

61 thoughts on “[Freelance] The Girl Who Can See Ghost

  1. Yah tbc mengganggu
    Sumpah lucu bgt pas yoona bilang hitam, dan kai langsung ngerespon😀 bikin ngakak
    ditunggu cerita selanjutnya ya author🙂

  2. Auuthor keren keren, sedikit mirip ya sama master sun jadinya bisaa imagine yang sesuai gitu sama alurnya wkwk awalnya gak mau baca kirain bakal thriller yang tragedy gituuu tapi ternyata this the beginning of sweety romance kayaknyaa hehe. Authoor semangat terus ngelanjutin ceritanya, sangat dinanti natikan!

  3. Aaaaaaaaaa keren thorr chanyoon sweeet bgt,,
    Lanjut yaa,, tumben bgt aku nemuin ff beegenre horror,, hahaha
    Sering2 buat yg kek gini ya thor..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s