18[3]

 

zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

By Cicil

Main cast: Yoona and Jongin. Support cast: d’other in tagGenre: ini tentang siapakah pelakunya? Length: Chaptered.

*

“Mau kuberi tahu sebuah rahasia?”

*

Prolog || Chapter 1 || Chapter 2

 

“Hai,”

Satu kata. Satu sapaan. Satu suara. Tak ayal langsung membuyarkan segalanya. Yoona berteriak saking terkejutnya karena ia mengenali suara itu. Sementara Jongin menengok dengan cepat, lantas terlihatlah sosok laki-laki sedang melangkah mendekati mereka. Tampangnya polos, senyumnya manis, lesung pipinya menggoda. Yes, that’s right, he is Zhang Yixing.

“Sedang apa kalian dengan..” Begitu langkahnya makin mendekat, Yixing menggantungkan kalimatnya di udara, matanya berkilat mencoba mencerna apa yang sedang 2 remaja sebayanya itu lakukan.

Jongin menggenggam lebih erat handphone Yixing, dengan agak gemetar ia mengangkatnya hingga hampir sejajar dengan wajahnya dan menunjukannya pada Yixing, “Is this yours?” yang ditanya mengerutkan keningnya sejenak, sempat irisnya melirik Yoona–gadis cukup populer bersama teman-temannya–dan dia seperti ketakutan.

“Apa itu punyaku?”

Jongin mengumpat, setengah mati sebal dengan tampang tidak mengerti itu, atau mungkin bisa saja pura-pura tidak mengerti. Wajah Yixing berpotensial, sangat, untuk ukuran berperan sebagai penjahat bermuka tidak berdosa. Oh, baiklah, pikirannya mulai keluar dari logika. “Berhenti bermain-main denganku..” Desis Jongin begitu rendah karena suaranya terlalu ditekan, kenyataannya ia sedang menahan diri untuk tidak meninju seseorang di depannya.

Begitu mendengar kalimat Jongin, sontak saja raut wajah Yixing mendingin, lesung di pipinya memudar berikut dengan senyumnya. “Okay, itu memang punyaku, lalu apa?” Jongin memilih diam, tangannya yang memegang handphone Yixing sedikit digoyangkan agar pemiliknya mengerti maksudnya untuk melihat lebih dalam ke layar handphone itu, di mana terpampang percakapan grup LINE.

Sampai Yixing menyipitkan matanya, lalu beberapa detik setelahnya laki-laki itu berdecak dengan senyum, malah hampir ingin bertepuk tangan, kalau ia lupa sekarang sedang jam pelajaran. “Kenapa kau bisa meninggalkan handphonemu sendiri di loker?”

“Karena aku lupa.”

Yoona makin gemetar, kedua telapak tangannya meremas ujung kemeja sekolah Jongin, bersamaan dengan Yixing yang mengambil selangkah lebih dekat dengan mereka. Gadis itu punya firasat Yixing ingin merebut kembali handphonenya. Barang bukti yang berharga, untuk saat ini.

Yoona mulai menarik lengan Jongin untuk mundur perlahan, “A-apa yang kau lakukan, jam 8.25 sampai 9 tepat?” tanyanya lagi, Yixing sudah menangkap basah mereka sedang mencari sesuatu dan kalau benar Yixing pelakunya, mereka tidak akan sempat lagi bertanya pada laki-laki itu secara baik-baik. Kalau ada kesempatan menginterogasi, sekaranglah waktunya.

“Aku minta ijin tidak ikut latihan sebentar, karena handphoneku tertinggal di loker. Kau tidak tahu, ya, kalau berjalan dari gedung sebelah ruangan paling atas sampai ke gedung ini memakan banyak waktu?” Saking panjangnya kata yang Yixing ucapkan, kakinya memiliki kesempatan untuk kian melangkah pelan mendekati Jongin, atau lebih tepatnya mengincar sang handphone.

“Kita bertemu, dan kau bilang Pak Jang memanggilku.” Yoona mendapat bisikan kecil dari Jongin setelah laki-laki itu mengumumkan sesuatu yang ganjil yang Yixing lakukan, Jongin menyuruhnya untuk bersiap-siap berlari kencang. Sepertinya, ia tidak akan membiarkan Yixing mengambil handphonenya dengan mudah.

Mendengar pernyataan tersebut, Yixing mengumpat kecil, dan saat itulah kesabarannya pupus. “Ow, shit, berikan handphonenya padaku!” Yixing mengambil langkah panjang, menerjang Jongin. Namun dengan cekatan dua remaja itu mengelak dan langsung berlari menjauh.

Kalau permainannya tidak sepenting menyangkut masa depan, Yixing hanya akan berdiam tanpa berniat mengejarnya. Tapi ini berbeda, ini tentang hidup seseorang, bukti yang tersimpan, dan kasus yang belum terungkap. Mau tidak mau Yixing ikut berlari.

***

Jongin memacu kedua tungkainya dengan cepat, sesekali menengok ke belakang memastikan Yoona berada di sana. Tangannya yang erat menggenggam tangan Yoona, sedangkan yang sebelahnya lagi bertekad untuk tidak akan melepaskan handphone Yixing.

Lari mereka mengarah ke gedung bagian barat, tempat di mana lapangan belakang berada. Jongin menerobos pintu masuk lapangan indoor tersebut, tanpa pikir panjang ia menarik Yoona ke salah satu sudut ruangan tersebut, di mana terdapat banyak keranjang penyimpanan bola.

Yoona lekas berjongkok, punggungnya membentur tembok yang membentuk sudut siku-siku. Ya, keduanya bersembunyi di balik keranjang bola paling ujung. Ia sibuk mengatur napasnya sembari menunduk, tadi ia sempat mendengar Yixing meneriakkan nama mereka dan menyuruh berhenti.

Lambat laun, Yoona mendongakan wajahnya karena merasa risih, sepertinya daritadi Jongin menatapnya. Dan benar saja, ketika ia melihat Jongin, mata mereka bertemu di satu garis lurus. Layaknya seuntai benang layang-layang yang mengalirkan listrik kecil namun mampu mencubit pelan hatinya. Laki-laki itu masih bernapas menderu, tapi senyumnya keluar tanpa bisa diduga.

Entah mengapa, Yoona ingin sekali ikut tersenyum membalasnya. Tapi begitu memikirkan keadaan mereka sekarang, ia lantas mengulurkan tangannya dan mencubit pinggang Jongin.

“Aw–” Jongin langsung saja membekap mulutnya, tidak ingin teriakannya menggema ke seluruh ruangan dan menyebabkan Yixing menemukan mereka. Sepertinya laki-laki berlesung pipi itu tengah kehilangan jejak. Berita bagus.

“Yak, jangan bercanda di saat-saat seperti ini, kau gila, ya?” Yoona berbisik sambil memelototkan matanya pada Jongin, setelah itu ia sibuk melihat ke berbagai arah, memastikan apakah mereka aman.

Saat Yoona sedang melihat ke arah yang berlawanan dengan keberadaan Jongin, yang berarti ia membelakanginya, Yoona malah mendengar suara kikikan kecil yang khas. Khas sekali milik pemuda bermarga Kim yang dulu sempat dekat dengannya. Yoona menolehkan kepalanya dan melihat dia tersenyum lagi, tampak seperti orang bodoh.

“Ya, mwohaneungeoya?” ia mulai menatap horror laki-laki itu karena tersenyum tanpa sebab dalam frekuensi waktu yang cukup panjang. Bisa jadi Jongin menggila karena tekanan di udara terasa begitu berat baginya, atau lebih tepatnya, untuk menghadapi semua ini, sama sekali tidak mudah.

Tiba-tiba bunyi pintu yang terbuka dan langkah sepatu yang pelan, melenyapkan semua alasan Jongin tersenyum konyol sedari tadi. Yoona langsung saja menunjukan kepalanya ke bawah, berusaha melihat lewat kolong keranjang bola yang beroda. Tampak sepasang tungkai dengan sneakers dan celana panjang sekolah.

Disusul dengan suara dering handphone, Yoona mengalihkan pandangannya lantas melihat Jongin merogoh kasar saku celananya dan segera mengangkatnya. “Aku sudah ada di lapangan belakang,” terdengar suara berat menggema ke seluruh ruangan, Laki-laki bersespatu sneakers yang dilihat Yoona pasti adalah Chanyeol, dan dia menelepon Jongin karena tidak kunjung meihat batang hidungnya.

Jongin langsung menepukan telapak tangannya di punggung tangan Yoona beberapa kali, mengisyaratkan agar gadis itu tetap diam di tempat. Lalu ia berdiri keluar dari persembunyiannya, dan mendapat langsung dihadiahi guyonan dari Chanyeol, “Kau sedang mencari tikus di dalam sana?”

Dengan langkah santai, Jongin tidak membalasnya, mengingat kenyataan bahwa ia sedang bersembunyi dari Zhang Yixing. Rasanya alasan ia tersenyum panjang tadi telah menguap ke udara begitu saja, kini Jongin yang dihadapi Chanyeol adalah Jongin berkepribadian tenang dan lumayan jahil, seperti sehari-harinya. “Chanyeol-a, apa yang kau lakukan jam 8.25 sampai jam 9 tepat?”

“Aku? Tentu saja di kelas,  kau tidak tahu seberapa menderitanya mendapat 2 jam pelajaran sekaligus bersama malaikat maut itu?”

Jongin berdecak, mengumpat dalam hati bagaimana ia bisa lupa Chanyeol sedang pelajaran Ms.Goya, padahal tadi mereka sempat mengintip kelasnya. “Apa kau yakin?”

Belum sempat mendengar jawaban Chanyeol, Jongin mengeluarkan selembar sapu tangan yang ia simpan di saku celananya. “Is this yours?” Dan tentu saja Chanyeol dapat menangkapnya dengan baik.

Yoona yang mengintip di balik bola-bola basket yang menggunung dapat melihat gerakan tubuh Chanyeol yang kaku, agak terkejut saat Jongin memperlihatkan sapu tangan yang mereka temukan. Namun dalam hitungan detik, raut muka Chanyeol melembut, dengan tenang ia menggelengkan kepalanya.

“Memangnya kau pernah lihat aku mengantongi sapu tangan ke mana-mana seperti anak ingusan?” Sarkastis Chanyeol, lantas membuat Yoona berpikir; anak-anak populer seperti Chanyeol, Jongin, dan Baekhyun memang berkemungkinan kecil membawa sapu tangan. Lama kelamaan gadis itu makin mengasumsikan bahwa sapu tangan itu memang tidak sengaja jatuh, entah milik siapa. Tapi ekspresi Chanyeol pada awalnya agak mencurigakan. Ah, semua ini makin membingungkan.

Jongin tampak berpikir sejenak. Tentang apa alasan Chanyeol bisa membenci Baekhyun, seperti yang dia katakan di grup chat itu. Jongin memasukan tangannya ke kantong celana, di mana ia menyembunyikan handphone Yixing. Semakin lama berpikir, laki-laki itu mengasumsikan sahabatnya akan makin curiga. Bahkan sepertinya ia sudah berdiam selama 1 menit.

“Tunggu sebentar, sebenarnya ada urusan apa kau memanggilku ke sini? Masih ada banyak pr yang harus aku salin.”

Jongin membasahi bibirnya ragu mendengar ucapan Chanyeol. “Akhir-akhir ini aku melihatmu dekat dengan Yixing dan Kyungsoo. Apa kalian bisa menjadi teman dan sedekat itu?”

Beruntungnya ide seorang sahabat yang cemburu sahabatnya dekat dengan orang lain melintas begitu saja di dalam otak Jongin. Ia pun buru-buru memasang tampang masam sebagai alat pendukung.

Chanyeol memutar matanya, “Bukannya kita selalu main basket saat istirahat? Lalu darimananya aku bisa dekat dengan mereka?”

Jongin mulai memutar otak lagi, gestur tubuh Chanyeol sangat tenang, seolah semuanya itu benar. Tapi memang benar, sih, mereka selalu main basket setiap jam istirahat. Lalu sedekat apa mereka sampai membuat grup chat? Lagipula mengapa satu-satunya topik yang ditemukan hanya tentang Baekhyun?

“Sudah?” Chanyeol bertanya melanjutkan, sambil sesekali melirik handphonenya. Sejenak kembali menatap Jongin dan mendapat jawaban ‘belum’.

“Chanyeol-a, apa kau membenci Baekhyun?”

Yoona yang bersembunyi di balik keranjang, yang hanya bisa mengintip dari celah kecil pun tahu pertanyaan dari Jongin amat telak jika kenyataannya benar. Mungkin terasa seperti sebuah palu besar menggentok hatimu sampai benjol.

Berbeda dengan posisi Yoona yang sibuk menerka, Jongin dapat melihat dengan jelas kegelisahan Chanyeol. Sahabatnya itu biasa menunduk jika hatinya sedang gundah, dan itu yang dilakukannya saat ini. Chanyeol menggigit bibirnya sedetik lalu berujar, “Baiklah, akhir-akhir ini aku membencinya.”

Jongin kehabisan kata. Mengetahui Chanyeol benar-benar membenci Byun Baekhyun bagaikan diterpa angin ribut. Dengan kekuatan yang tersisa, ia bertanya, “Why?

“Kau tahu ‘kan kami sangat, sangat dekat? Suatu hari aku memberitahunya sebuah rahasia yang bahkan tidak ada orang yang tahu, termasuk kau. Rahasia itu berisi aibku, aku berpikir Baekhyun akan mendukungku terus untuk bangkit tapi ternyata dia malah menganggapnya enteng dan sempat ingin membeberkannya.” Chanyeol menatap sahabatnya itu, seolah mengharapkan Jongin mengerti apa yang ia rasakan.

Tapi harapannya pupus saat Jongin diam saja, dan amarahnya mulai mengumpul. Pikiran singkat; Jongin sama saja seperti Baekhyun. Dengan kesal, Chanyeol mulai melangkah mundur, berniat meninggalkan lapangan tersebut sebelum emosinya tersulut dan mereka jadi saling memukul.

Jongin tidak mengejarnya. Tapi di titik terakhir Chanyeol pergi, laki-laki itu berbalik dengan cepat, tatapannya tajam tapi tenang. “Mau kuberitahu sebuah rahasia? Baekhyun punya ayah angkat, dan orang itu adalah guru kita; Pak Jang.”

Begitu Chanyeol benar-benar lenyap dari pandangan, Yoona berdiri dan mendekati Jongin. Matanya bergetar ketika mereka sama-sama mengetahui suatu rahasia lagi. Kalau Baekhyun benar anak angkatnya Pak Jang, lalu mengapa marganya tidak berubah? Kenapa? Kenapa? Kenapa?

“Ini semua menggila,” Yoona menggelengkan kepalanya, suatu kata yang disebut kacau agaknya amat tepat untuk mendeskripsikan keadaannya. Tidak mendengar balasan apa-apa dari gumamannya, bisa jadi laki-laki di depannya ini sedang melamun, atau apalah. Yoona tidak begitu peduli. Satu sisi dirinya ingin menyerah, dan yang lainnya ingin terus berjuang bersama Jongin. Gadis itu mengusap matanya pelan agar air mata tidak lagi jatuh, “Jadi sekarang kita harus melakukan ap–”

Suaranya berubah menjadi tercekat saat keduanya mendengar sebuah erangan layaknya baru bangun tidur. Apakah itu makhluk-makhluk halus setempat? Lagipula siapa yang mau tidur di lapangan indoor yang lumayan banyak debunya sebab jarang dipakai?

Yoona menyapu pandang ke seluruh sudut. Walaupun ia tahu Jongin menggenggam pergelangan tangannya erat, mengalirkan sensasi hangat yang amat berfungsi saat-saat ini, Yoona tidak terlalu ambil pusing lagi.

Kecurigaannya bahwa ada seseorang lain di dalam ruangan pun terbukti dengan munculnya sosok laki-laki dari tumpukan matras di salah satu sudut.

Sosok itu agak kurang terdeteksi karena posisinya yang membelakangi Yoona dan Jongin. Dia memakai kemeja biasa lengkap dengan tali pinggang yang masih tersemat apik. Rambutnya berwarna cokelat dan dipangkas lumayan pendek, mungkin setinggi 3 semut yang saling menggendong.

Di sisi lain, Jongin takut kalau pria itu seorang guru. Karena dengan begitu mereka akan dipulangkan ke kelas masing-masing, dan runyamlah semuanya saat kejadian di kelas 11.A itu terungkap.

Detik yang berlalu terasa lebih lama dari laju kereta api. Jantung Yoona makin berdegup kencang saat pria itu membalikan badannya.

Ketika Yoona mengenalinya, ia hampir berteriak kaget. Dengan bergetar Yoona berbisik, “Bukankah itu Pak Jang….?”

 

***

 

a/n: setelah sekian lama gak apdet HAHA. itu karena kemaren lagi galau” gakjelas padahal sebenernya chapter ini udah setengah jadi dari taon kapan. tapi baru sempet diselesaikan sekarang. Aku berharapnya sih masih ada yang nunggu… huhu. Chapt selanjutnya janji nggak bakal lama, kode: di update lagi minggu ini. See you, guys!

Ohya, gue lupa, Xiumin as Mr.Jang atau bisa jadi Jang Xiumin

 

 

37 thoughts on “18[3]

  1. Pyusing eyke, aduh gua bingung siapa pembunuhnya thor. Btw thor ceritanya seru, gua berasa ada disana ngeliat semua itu *eaa

  2. Yaampun, feel nya dpt bgt thor
    Serius deh, baca ini sampe deg deg an sendiri loh😐
    Bagus bgtttt
    Duh, siapa sih sebenernya yg bunuh baekhyun…
    Penasaran hehehe
    Ditunggu chapter slanjutnya ya thor😀

  3. Bagus banget thorr, menegangkan, sekaligus misterius, jadi penasaran the next chapter, lanjut next chapter!! Semangat authorr!!

  4. wah makin penasaran sama si pelakunya, cz makin bikin bingung aja. ditambah ada fakta2 baru..
    next part d tunggu ya chingu..

  5. Kyaa~ jd pusing pala bebi pala bebi ow ow ow >0< jd yg ngbunuh Cabe ini nugu? Smua.a mencrigakn:/ d.tnggu chap 4 nya thor, FIGHTING!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s