[Freelance] Don’t Call me Idiot : Camp Nou

dont-call-me-idiot

Series Don’t Call Me Idiot : Camp Nou

Author : AlienGator02

Main Cast : Im Yoona, Oh Sehun, Big Gangster, Xi Luhan,

Other Cast : Find it by Your self

Genre : Fiction, AU, Sad, Naughtiness

Length : Series

Poster : kryszelnut @Indofanfiction

Rating : General

Disclaimer : This story is pure my idea.

A/n : Please Keep RCL! Sebelum saya memutuskan untuk memprotect ff ini!

Happy Reading

Camp Nou

 

Langit yang hitam ditemani dengan taburan bintang di awan membuat nuansa malam yang cukup kelam digunakan untuk sebuah rutinitas yang sering di lakukan di Sekolah internasional Coreland. Suhu dingin yang dibawah 160 Celcius memaksa banyak siswa berkumpul di sekolah terbaik seantero Seoul itu. ratusan siswa datang ditemani kedua orang tuanya.

Beberapa peralatan yang akan dibawa oleh siswa Coreland dimasukkan ke tas ransel mereka. Saat ini adalah kegiatan yang bisa dikatakan social, karena Coreland akan melihat keindahan alam dibalik ketinggian Sierra Madre.

Seluruh siswa kelas XI dan juga kelas XII, harus bersiap-siap karena besok mereka akan pergi ke Meksiko. Dan hari selanjutnya, mereka akan mendaki gunung tinggi itu. Salah satu gunung yang sangat dikenal di masyarakat latin itu.

Seorang lelaki berkaca mata tebal memasuki sekolahnya, ia membenarkan kaca mata besarnya itu. Kepalanya tertunduk ketika melihat mobil-mobil besar mengeluarkan sesosok ibu dengan anak mereka, dan juga sang ayah yang setia menemani sang anak.

Jika boleh jujur, Sehun tidak mau mengikuti acara ‘Camp Nou’ ini. Apalagi sang Appa dan Hyungnya melarang keras ia ikut Camping ini. Sehun tau kenapa mereka tidak membolehkan Sehun ikut, tentu saja Luhan tidak mau liburannya rusak karena kehadiran Sehun.

Tapi disisi lain, sekolah menyuruhnya untuk mewakili kelas social. Karena semua anak kelas social tidak ada yang ikut di acara Camp Nou ini. Apalagi, Sehun diancam akan dikeluarkan dari sekolah.

Sehun mendesah, tiba-tiba sebuah mobil hitam melaju dengan kencangnya hampir menyerempet Sehun. Ia tau siapa yang ada dibalik kemudi itu, kedua iris hazelnya menatap mobil itu. Dan tak lama kemudian seorang lelaki berwajah mirip dengannya keluar diikuti oleh pria paruh baya yang sangat Sehun kenal.

“Jaga dirimu baik-baik Luhan-ah,”

Kalimat itu seolah menyesakkan bagi Sehun. Ia menutup kedua telinganya erat, hatinya sakit ketika mendengar kalimat yang dikeluarkan dari bibir sang ayah. Sehun ingin sekali menangis disaat itu juga, ia juga ingin mendengar kalimat ‘Jaga dirimu, Sehun-ah’.

Namun, Sehun hanya bisa pasrah. Ia menoleh sedikit kearah ayahnya yang tengah mengusap pelan rambut sang kakak, namun ketika ayahnya menatap jika ada anaknya yang tengah berdiri diam. Ayahnya memberi tatapan ‘Apa-yang-kau-lakukan-disana?-Cepat-pergi!’

Tanpa berkata apapun, Sehun menjauh dari kedua orang yang tidak mau mengakuinya. Ia memilih untuk naik keatap sekolah dan menghabiskan waktu sejenak. Lagi pula siapa yang mau menghabiskan dengan anak idiot seperti Sehun? Bahkan sebelum Sehun menginjakkan kakinya di lantai depan dorm, ia pasti sudah diusir terlebih dulu.

Sehun menatap cahaya yang dipancarkan oleh bintang. Lelaki itu tersenyum tipis mengingat rentetan kalimat peribahasa Cantonese. ‘Dark in my eyes light up in the sky’

Lelaki bermarga Oh itu menengadahkan kepalanya menatap langit yang menunjukkan sisi kebahagiaan dan sisi kesedihan dengan bersamaan. Kedua matanya berkaca-kaca melihat salah satu bintang yang paling terang, bintang yang selalu memancarkan sinarnya untuk menerangi kegelapan dimata Sehun. ‘Sirius star’

Sehun mempercayai sebuah tahayul yang selalu ia yakini dalam hati, air matanya jatuh menatap pantulan sinar bintang itu. ia menggumam dengan kalimat yang menyayat hatinya, “Eomma… Bogoshipeoyo.” Rintihnya dengan jutaan kesakitan.

 

Camp Nou

Seorang gadis menatap pemandangan Seoul pada malam hari dari balik kaca jendela mobil miliknya. Gadis bermata rusa itu menghela nafas pelan, sebenarnya ia sangat malas mengikuti acara tahunan dari sekolah milik ibunya.

Perjalanan yang mewajibkan seluruh siswa Coreland mengarungi derasnya aliran air di Sierra madre. Belum lagi semua siswa harus berperang dengan dinginnya suhu gunung juga lebatnya hutan dengan kayu pinus itu.

Yoona mengalihkan pandangannya pada seorang lelaki tua dengan rambut putih dengan tongkatnya duduk disampingnya. Yoona memeluk erat sang kakek dari arah samping, “Kakek, aku tidak tega meninggalkan kakek sendiri dirumah.” Ujarnya.

Tuan Im selaku kakek Yoona tersenyum tipis pada cucu semata wayangnya ini. Kakek Im sangat mengerti jika cucunya itu memang menghawatirkannya. Tangan keriputnya mengelus rambut pirang milik Yoona lalu ia tersenyum dengan kerutan diwajahnya, “Kau tidak perlu menghawatirkan kakek, aku baik-baik saja.” Ujar Kakek Im.

Van putih itu menyusuri jalanan Seoul pada malam hari. Suatu hal yang mungkin terdengar sangat aneh ketika siswa pergi ke sekolah pada malam hari. Namun inilah Coreland, semua siswa tidak perlu khawatir dimana mereka akan tidur. Karena Coreland memiliki ratusan dorm yang bisa menampung ribuan murid.

Mobil itu berhenti tepat didepan pintu gerbang Coreland. Yoona memeluk kakeknya erat lalu ia keluar dari mobil elegan itu. tak lupa ia melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan pada kakeknya itu.

Yoona menatap kepergian van putih dengan helaan nafas kecil. Gadis itu menyeret kopernya dan berjalan dengan pelan. Yoona memang tinggal dengan kakeknya semenjak ia kehilangan kakaknya yang meninggal karena penyakit yang cukup langka.

Gadis itu lebih memilih tinggal di rumah kakeknya dari pada tinggal di bersama orang tuanya. Lagi pula, orang tua Yoona sama sekali tidak mempunyai waktu luang untuk anak semata wayang mereka.

 

Camp Nou

Seorang lelaki tengah duduk disebuah balkon sekolah. Udara dingin masuk ke tulangnya, ia segera mengeratkan jaket yang ia pakai. Kepulan asap dingin menguar dari bibirnya, seharusnya ia masuk ke kamar dorm dan beristirahat sebentar dengan pemanas ruangan selagi bus belum datang,

Tapi tidak, lelaki itu duduk di balkon sekolah sendirian. Seolah hanya dia yang ada di dunia ini, ia kedinginan, Sehun tidak mempunyai jaket lagi. Ia hanya memakai dua jaket, itupun ia ambil dari balik kamar Hyung-nya. Tentu saja kakaknya yang satu itu tidak tau,

Lelaki itu bangkit dari duduknya lalu ia berdiri menatap pemandangan dibawah sana. Ratusan siswa ditemani dengan orang tua mereka. Jangan lupa dengan mobil mereka yang berharga ratusan juta atau mungkin milyaran.

Tanpa Sehun sadari, seorang gadis cantik berdiri dibelakangnya. Gadis bermata rusa itu menyentuh pundak Sehun hingga membuat lelaki itu menoleh dan menatapnya dengan pandangan terkejut. Yoona tersenyum tipis lalu ia mengacak rambut milik Sehun gemas.

“Y-Yoona-sshi…” sapa Sehun.
Yoona hanya tersenyum tipis mendengar sapaan Sehun. lalu ia mengalihkan pandangannya pada bintang yang bersinar dengan terang. Bintang yang membuatnya merasa sedikit lebih tenang, “Sehun-ah, apa kau yakin akan mengikuti camp nou ini?” tanya Yoona.

Sehun menatap gadis yang berwajah bak dewi itu. Sehun mengangguk pelan sebagai tanda jika ia akan mengikuti Camp nou. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada pemandangan dibawah sana, puluhan bus datang bersiap akan melahap semua siswa Coreland.

Sehun menggenggam tangan Yoona, lalu ia menunjuk bus yang sudah datang. “Kajja-yo.. Sehun naik bus.. bus.. naik,” ujarnya.

Yoona hanya diam ketika Sehun menarik tangannya dengan cukup keras. Namun sama sekali tidak menyakitkan, gadis itu tersenyum lebar ketika melihat tingkah Sehun yang seperti anak kecil. Sehun terus tersenyum sambil berkata, “Sehun senang.. Bus datang..”

Camp Nou

 

Helaan nafas tercipta dari bibir tebalnya, ia menatap semua siswa di sekelilingnya. Banyak sekali pria maupun wanita paruh baya memeluk sang anak dengan erat. Kedua iris brown-nya berhenti pada sebuah titik, dimana salah seorang sahabatnya tengah mendapat pelukan hangat dari sang ibu.

Jujur saja, lelaki ‘giant’ itu iri. Ia selalu berharap agar ibunya memeluknya dan menanyakan kabarnya. Namun, Chanyeol hanya berpikir bahwa itu semua hanyalah mimpi. Tak lama setelah itu terdengar suara lengkingan yang masuk ke pendengaran Chanyeol.

“Hei! Chanyeol-ah! Apa kau sudah bersiap-siap?” tanya seorang lelaki bermata bulat siapa lagi kalau bukan Do Kyung Soo dan dibalas anggukan oleh Chanyeol.

Tak lama setelah itu, sesosok lelaki ber-eyeliner tebal membawa sebuah tas yang berukuran sangat besar, bahkan Kyung Soo yang melihat lelaki itu berpikir jika Tas ransel yang ia bawa jauh lebih besar dibandingkan tubuh lelaki ber-eyeliner itu.

“Hya! Kau ini mau Camping atau pergi ke angkasa! Tasmu bahkan jauh lebih besar dari pada tubuhmu itu, Baek!” sindir seorang Kyung Soo.

Baekhyun membalas perkataan Kyung Soo dengan decihan kecil, “Eomma yang menyuruhku membawa ini. Kupikir ia sangat sayang padaku, ia membawakan seluruh perlengkapan yang aku butuhkan. Memangnya eomma-mu menyuruhmu membawa apa?” ejek Baekhyun.

Kyung Soo tersenyum sinis, “Kau pikir hanya Eomma-mu yang peduli padamu! Eomma-ku juga bodoh! Dia menyuruhku membawa semua peralatan dirumah! Tapi aku tidak mau! Itu sangat menjijikkan!”

Chanyeol hanya tersenyum miris mendengar ucapan sahabatnya. Terkadang ia iri pada sahabatnya yang diberikan perhatian lebih dari orang tuanya, jika boleh memilih lebih baik Chanyeol lahir dari keluarga miskin dibandingkan lahir di keluarga kaya.

Chanyeol berdehem, “Lebih baik kita segera berkumpul di aula.” Ajaknya sambil berlalu pergi,

Kyung Soo menepuk jidatnya pelan, bagaimana mungkin ia menunjukkan kasih sayang ibunya didepan Chanyeol? Ia sangat mengerti jika Chanyeol tengah iri atau mungkin sakit hati. Lihat saja, bahkan lelaki ceria itu kehilangan senyumnya.

“Ini semua karenamu Baekhyun-ah! Jika saja kau tidak memancingku untuk mengatakan itu, mungkin Chanyeol masih bisa tersenyum saat ini.” Kyung Soo mendorong Baekhyun hingga tas besar itu menimpa tubuh Baekhyun.

“Hya! Apa yang telah kulakukan? Cepat bantu aku berdiri! Aku tidak bisa berdiri karenamu Kyung Soo! Ya! Hey!! Jangan pergi!”

Baekhyun hanya melongo ketika Kyung Soo meninggalkannya. Mungkin Kyung Soo benar, jika membawa tas besar sangat merepotkan. Lihat saja, bahkan Baekhyun tidak bisa berdiri karena tertimpa oleh tas besar itu. Kasihan sekali kau Baekhyun!

Camp Nou

 

Ribuan siswa Coreland berkumpul didepan mading sekolah. Mereka melihat denah bus, kali ini sekolah yang mengatur dimana mereka akan duduk bersama. Tiga orang lelaki itu menyerobot tempat yang paling depan agar bisa melihat denah dengan jelas.

Umpatan kesal terdengar dari bibir milik Kyungsoo. Lelaki itu mendesah pelan ketika ia harus menerima fakta jika ia harus duduk bersama dengan Baekhyun dalam bus dan juga dalam pesawat. Padahal ia berharap jika ia akan duduk dengan Chanyeol.
“Kau bersama siapa Chanyeol-ah?” tanya Kyungsoo.

Chanyeol terdiam ketika ia melihat denah tersebut. Ia menghela nafas kecil, ia tidak bisa duduk dan menghabiskan waktu dengan kedua sahabatnya. Mungkin hari ini adalah hari sial bagi Chanyeol, lelaki itu harus duduk dengan orang yang tidak ia sukai.

Di sisi lain, dua orang berbeda gender menghela nafas satu sama lain. Lalu keduanya bertatapn sejenak, sang gadis cantik itu berkata dengan nada kecewanya, “Kita tidak satu bus, tapi untungnya kita masih satu pesawat Sehun-ah.”

Lelaki berkaca mata harry potter itu mengangguk, ia menatap kembali denah tersebut. Sehun akan duduk dengan orang yang sangat suka mengganggunya, siapa lagi jika bukan Park Chanyeol. Lelaki itu menghela nafas kecil, ia sudah siap dengan kemungkinan yang terjadi.

Sehun menatap Yoona dari samping, lelaki itu menggenggam tangan Yoona. tangannya mulai berkeringat menandakan jika ia sedang gugup dan mungkin takut. “Yoona-sshi, siapa? Dengan siapa?” tanya Sehun.

Gadis bermata rusa itu menghela nafas, “Sialnya aku harus duduk bersama Luhan sunbae. Lelaki sombong itu,” ujar Yoona pelan.

Sehun membelalakkan matanya, lidahnya seolah kelu. Sehun khawatir jika Luhan akan mengejek Yoona, tidak. Sehun tidak mau hal itu terjadi. “Jangan… tidak boleh,” ujar Sehun hingga membuat gadis bermata rusa itu menatapnya.

Yoona tersenyum tipis, “Kau tidak perlu khawatir karena aku akan baik-baik saja, lalu kau dengan siapa?” tanyanya.

Sehun menundukkan kepalanya lalu menatap Yoona dengan raut ketakutan, “Chanyeol, iya Chanyeol.”

Yoona menepuk pundak Sehun, lalu ia menangkup kedua pipi lelaki tampan itu. “Jika ada sesuatu buruk yang terjadi, kau hanya perlu menghubungiku.” Ujarnya dan dibalas anggukan oleh Sehun.

Camp Nou

 

Seorang lelaki duduk dalam bus dengan wajah angkuhnya. Ia menghela nafas, mungkin hari ini hari yang cukup buruk bagi orang setampan dan sekaya dirinya. Lelaki itu mendecih, seharusnya ia langsung ke bandara Incheon kalau begini.

Ia menatap pemandangan betapa banyaknya siswa Coreland yang mengikuti acara tahunan Camp Nou dari balik kaca bus disampingnya. Lalu ia memutar kedua bola matanya kesal, sebenarnya Luhan sangat malas mengikuti acara sampah ini. Membuang-buang waktu dalam hutan di luar negri,

Sialnya, ayahnya memaksa Luhan untuk mengikuti acara ini. Lelaki itu tidak tau apa yang direncanakan oleh ayahnya. Yang jelas, Luhan hanya bisa berkata ya dan tidak bisa mengatakan apa yang ia inginkan.

“Itu tempatku Tuan, bisakah kau sedikit menggeser posisimu?”

Suara itu membuat Luhan menoleh. Seorang gadis dengan rambut pirang yang cukup panjang dan dikuncir kuda berdiri disampingnya. Luhan terkejut lalu ia mendecih. “Kenapa gadis aneh sepertimu disini? Apa tidak ada gadis yang lebih baik?”

Wajah merah milik Yoona seolah menahan amarah, lalu tangannya menjambak rambut Luhan dengan brutal. “Kau pikir aku takut denganmu? Kau pikir hanya kau yang bisa memukul Sehun? aku juga bisa memukulmu Tuan Oh Luhan-sshi!”

Luhan terkejut lalu ia menarik tangan Yoona dan mencengkramnya, ia menarik tubuh Yoona hingga gadis itu terduduk disampingnya. Jarak antara mereka sangat dekat, hingga Yoona bisa merasakan nafas Luhan yang menerpa kulit indahnya. Luhan mendekat kearah Yoona dan membisikkan kalimat tepat di telinga Yoona, “Sial, kau berani padaku. Lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya.” desisnya,

Yoona melepaskan cengkraman erat tangan Luhan dengan kasar. Gadis bermata rusa itu mendecih, “Sayangnya, aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu Tuan.”

Camp Nou

Di bus lain, seorang lelaki menggigiti kukunya dengan takut. Pandangannya tidak bisa terfokus pada satu hal. Ia terus menoleh ke samping kiri dan samping kanan dengan tubuh yang gemetaran.

Sehun duduk di kursi yang terakhir dan berada di sudut. Namun ia bisa merasakan jika ruangan ini sangat menyesakkan baginya. Hingga seorang lelaki dengan kaca mata hitamnya mendekat kearah Sehun.

“Sial, aku harus satu kursi dengan idiot ini!” umpatnya namun masih bisa di dengar oleh Sehun.

Chanyeol duduk disamping Sehun, lelaki bermarga Park itu bisa melihat raut ketakutan dari wajah Sehun. ia menghela nafas kecil lalu mendengus, “Kau tidak perlu takut idiot! Aku tidak akan memakanmu, juga tidak menjahilimu! Untung saja Baekhyun tidak ada disini jika tidak kau akan habis. Lagi pula kau itu monster,” ujarnya.

Sehun terdiam mendengarnya lalu ia berdiri dan membungkuk, “Gamsa-Gamsahabnida.” Ujarnya dan dibalas decihan oleh Chanyeol.

Lelaki penderita savant syndrome itu tidak mengerti apa yang direncanakan oleh tuhan. Bagaimana mungkin seorang malaikat bisa duduk dengan seorang berhati iblis ataupun satan? Sehun tidak bisa menjawabnya,

Sehun mengeluarkan sebuah mainan yang sudah sangat usang dari tas ranselnya. Sebuah mobil yang terbuat dari kayu, satu-satunya hadiah yang akan Sehun jaga hingga ia mati.

Sebuah hadiah yang diberikan oleh ayahnya ketika ia masih berumur empat tahun. Sehun tidak tau apa yang ada dipikiran ayahnya. Saat itu, ayahnya membawa empat buah mainan untuk Luhan.

Tapi Luhan sangat membenci mobil kayu ini karena menurutnya mainan ini sangat jelek. Biasanya, Ayahnya akan langsung membuangnya. Tapi tidak dengan hari itu, ayah yang sangat ia sayangi memberikan sebuah hadiah yang sangat indah menurut Sehun.

Sehun menempelkan roda mobil kayu di kaca bus sebelahnya. Lalu ia menarik mobil itu dari utara ke selatan lalu dari barat ke timur, lalu sembarang arah.

“Jugjugujug jug jug… brum… brum…”

Lagi, ia sampai berdiri karena ingin menggerakkan mobilnya itu dengan luas.

Chanyeol menatap tingkah idiot Sehun. untunglah mereka berdua duduk di sudut, jika tidak mungkin banyak siswa Coreland akan merasa terganggu. Chanyeol mengendikkan bahunya acuh ketika melihat tingkah kekanakan Sehun. ia memejamkan matanya karena lelah dan memutar lagu dengan sangat kencang.

“Jugujugjug .. brum… brum..”

Lelaki yang tak lain cucu presiden korea selatan itu tersenyum sedih. Hari ini adalah hari yang akan membuatnya lebih sabar. Volume lagu yang ia putar sudah sangat kencang, namun suara lagu el dorado tidak bisa mengalahkan suara aneh Sehun.

Chanyeol melepas headsetnya, lalu ia mengepalkan tangannya dan meninju pundak Sehun dengan keras hingga lelaki itu merintih kesakitan. Chanyeol menatap Sehun dengan wajah melasnya, “Kumohon.. hentikan suaramu, aku bisa tertular virus idiotmu itu.” pinta Chanyeol dengan sangat ramah.

Sehun terdiam, lalu ia kembali memposisikan dirinya untuk duduk dengan benar dan baik. Ia memasukkan mobilnya kembali ke tas ranselnya. Lalu ia memjamkan matanya erat, tidak berani menoleh kearah Chanyeol. Karena Sehun takut jika lelaki disampingnya itu merusak mainan tercintanya.

Camp Nou

Detik demi detik cepat berlalu bagaikan angin yang menghembus diwajah Sehun. lelaki itu membuka kedua matanya pelan ketika ia merasa ada tangan yang mengguncang tubuhnya. Sehun menguap karena masih terlalu mengantuk, ia menatap Chanyeol yang sibuk berkemas.

“Cepat! Kita akan segera tiba di bandara.” Ujar Chanyeol.

Sehun mengeluarkan senyum bahagianya. Setidaknya lelaki yang ‘selalu’ mengganggunya mau membangunkan Sehun ketika ia ketiduran. Sehun segera memeluk Chanyeol dari arah samping hingga membuat lelaki bermarga Park itu melonjak kaget.

“Ya tuhan, apa yang telah aku lakukan?” ujar Chanyeol ketika Sehun mengeluarkan senyum idiotnya.

Bus berhenti tepat di pintu masuk Incheon air port. Sehun membawa tasnya ranselnya dan berjalan dibelakang Chanyeol. Lelaki jenius itu tidak sabar melihat banyaknya mobil terbang yang dibuat oleh Wright brothers pada tahun 1903.

Menurut buku yang pernah dibaca oleh Sehun. dua orang amerika bersaudara yakni Orvile dan Wilbur dicatat dunia sebagai penemu pesawat terbang karena mereka berhasil membangun pesawat terbang yang pertama kali berhasil diterbangkan dan dikendalikan oleh manusia pada tanggal 17 Desember 1903.

Walaupun mereka berdua bukanlah orang yang pertama membuat percobaan pesawat atau experiment, Wright bersaudara adalah orang yang pertama menemukan kendali pesawat terbang dengan sayap yang dipasang kaku.

Kedua orang tersebut duduk di perguruan tinggi tetapi tidak satupun dari mereka yang mendapat ijasah. Bahkan Orvile pernah dikeluarkan dari sekolah. Sebuah keajaiban bukan?

Sehun tersenyum lebar ketika ikan terbang itu berada diatasnya. Ini bukanlah pertama kalinya Sehun menaiki pesawat. Dulu ia pernah naik pesawat ketika ia pindah untuk menetap beberapa saat di Amerika.

Sebuah tangan halus menyentuh pundak Sehun. lelaki itu menoleh dan melihat seorang gadis dengan rambut pirangnya tersenyum lebar kearahnya. Jari telunjuk Sehun terangkat dan menunjuk salah satu pesawat, “Terbang.. Sehun bisa terbang dengan Yoona.” ujarnya.

Yoona tersenyum tipis mendengar kalimat Sehun. lalu ia menarik Sehun menuju tempat tunggu. Keduanya tak sabar segera menaiki alumunium terbang dan menjelajah lebatnya hutan di Sierra madre.

Camp Nou

Tiga orang lelaki berjalan menuju tempat lepas landas pesawat. Seorang diantaranya masih mampu mendengar bunyi ponsel yang bergetar di saku jasnya. Sebelum itu, ia menyuruh kedua sahabatnya untuk berjalan terlebih dahulu.

Chanyeol membuka ponselnya dan melihat pesan yang tertera. Lelaki itu menghela nafas kecil ketika sebuah nama yang tidak lain adalah Yoona mengirim pesan padanya, lalu ia membuka pesan tersebut.

Aku sedikit kecewa ketika kau masih memukulnya. Tapi setidaknya kau tidak mengganggunya, kuharap kejadian itu bukan hanya bisa terjadi dalam bus. Tapi seterusnya, Terima kasih kau mau mendengar permintaanku.

Lelaki itu tersenyum tipis membaca pesan tersebut. Tadi pagi sebelum ia masuk kedalam bus. Yoona memanggilnya dan meminta Chanyeol untuk tidak mengganggu Sehun. tapi, lelaki itu mengacuhkan apa yang dikatakan oleh Yoona dan berlalu begitu saja.

Chanyeol menaiki sebuah tangga untuk mencapai pintu pesawat. Lelaki itu duduk didekat jendela pesawat. Dan Kyungsoo duduk diantara Baekhyun dan Chanyeol. Penerbangan telah dimulai, ketiganya memejamkan kedua mata mereka karena merasa sangat lelah.

Camp Nou

 

Menit telah bergulir dengan sangat cepat. Lelaki bernama Sehun membuka matanya ketika mendengar suara pramugari yang mengatakan dengan bahasa inggris jika mereka akan segera sampai di bandara internasional Meksiko.

Sehun melenguh pelan karena badannya yang sangat letih. Belum lagi pundaknya terasa sangat nyeri, lelaki itu menoleh kesampingnya dan menemukan seorang gadis cantik yang tertidur dan bersender di pundaknya.

Sehun bisa melihat wajah yang cantik, tanpa poles make up dan bibir merah cherrynya. Kembali, Sehun merasakan dadanya yang bergemuruh. Lelaki itu tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, yang jelas ketika ia berada didekat Yoona rasa aneh akan menghampirinya.

Yoona melenguh pelan dan membuat Sehun mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Gadis itu menatap sekelilingnya seolah linglung dengan apa yang terjadi, ia menatap Sehun. “Apa kita sudah sampai Sehun-ah?”

Sehun mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Yoona. lelaki itu segera mengambil tas ranselnya dan menggantungkannya di pundak. Sehun masih senantiasa menunggu Yoona memepersiapkan barang bawaannya. Lelaki itu tidak peduli jika hanya tinggal mereka berdua dan beberapa pramugari yang ada.

Yoona sibuk merapikan rambutnya yang acak-acakan, ia menyisir rambutnya lalu menguncirnya kuda. Setelah itu keduanya turun dari pesawat dan langsung menuju bus untuk pergi ke Sierra madre.

Camp Nou

Kepulan asap terkuar dari bibir Luhan. Lelaki itu mendesah ketika suhu udara di pegunungan Sierra madre menusuk tulangnya. Luhan berpikir jika mungkin Coreland berencana untuk membunuh mereka semua dengan suhu yang sangat dingin.

Lelaki itu mengeluarkan botol yang berisi ginseng merah yang bisa menghangatkan badannya. Luhan tidak sadar jika Sehun yang membawakannya tujuh botol ginseng merah. Lelaki itu berpikir jika Ahn ahjumma –pembantu dirumahnya- yang membawakan minuman itu untuk Luhan.

Lelaki itu melangkahkan kakinya mengekori dua sahabatnya yang ada didepan. Luhan, Kris, Kai mendapat urutan terakhir ketiga untuk menjelajah lebatnya hutan pinus dan jati di Sierra madre.

Langkah demi langkah mereka telusuri untuk menembus dinginnya malam. belum lagi kaki mereka terasa beku untuk menapakkannya di rumput basah.

“Empat kilometer lagi kita akan sampai di camp nou.” Ujar Kai sambil terus membaca denah petanya.

Kris mengangguk lalu ia mengeratkan jaket tebalnya.lelaki itu mendesah karena udara yang semakin menusuk tulangnya. Dengan mulut yang gemetar ia berbicara dengan nada menggigil, “Sial, bagaimana mungkin kita berjalan empat kilometer lagi sedangkan udara sangat dingin.” Umpatnya.

Luhan mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Kris. Dua belokan ada didepan mereka, ke kiri atau ke kanan. Luhan menatap Kai yang sibuk membaca denah. “Apa yang harus kita lakukan? Ke kiri atau ke kanan?” tanya Luhan pada Kai.

Kai menentukan arah lewat petanya. Jika ke kiri mereka akan menemukan hutan yang sangat lebat dan akan sangat membahayakan, tapi jarak yang mereka tempuh akan lebih sedikit. Kai menatap Luhan, “Kita akan ke kanan. Lihat ada penunjuk jalan disana,” tutur Kai sambil menunjuk penunjuk jalan.

“Siapa yang berada di urutan kedua terakhir?” pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulut Kris.

Luhan dan Kai saling berpandangan, ide jahil muncul diotak mereka. Mungkin sedikit greek gift tidak apa kan?

“Chanyeol dan Big gangster, Lalu idiot itu dengan gadis aneh,” jawab Kai sekenanya.

Luhan tersenyum sinis, ia mempunyai sebuah rencana jahat untuk membalas jambakan Yoona yang masih terasa di kepalanya. Lelaki bermarga Oh itu mendesis, “Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya.” desisnya.

Camp Nou

Tiga orang lelaki berjalan sangat lambat. Mereka merasa sangat lelah, perjalanan menuju Camp Nou masih sangat jauh. Sekitar tujuh atau delapan kilo meter lagi. Ketiganya memutuskan untuk berhenti sejenak,

“Gila, mereka menyuruh kita berjalan sebanyak lima belas kilo meter dan tidak memberikan waktu isitirahat sama sekali?” umpat seorang Do Kyung soo.

Kedua sahabatnya yakni Chanyeol dan Baekhyun tidak menjawab karena nafas mereka terengah-engah. Udara yang sangat dingin, dan tubuh yang dipaksa untuk berjalan menelusuri hutan-hutan yang lebat.

Chanyeol menidurkan dirinya ke rerumputan basah. Tak peduli jika rumput itu membasahi jaket dan rambutnya. Dengan nafas yang masih terengah-engah Chanyeol terus mengumpat, “Sial, sial, sial.”

Chanyeol bangkit dari tidurnya dan memposisikan duduk sama seperti kedua sahabatnya. “Bukankah kelompok terakhir adalah Yoona dan idiot itu?” tiba-tiba Chanyeol mengejutkan kedua sahabatnya dengan pertanyaan itu.

Kyung soo dan Baekhyun saling bertatapan. Keduanya merasa aneh dengan sikap Chanyeol belakangan ini, biasanya Chanyeol akan sangat bersemangat jika berhubungan dengan Bully Sehun ataupun Yoona. tadi ketika Baekhyun menawarkan rencana untuk menjahili Sehun. Chanyeol justru membentaknya,

“Aku tidak tau apa yang ada di pikiranmu saat ini.” Timpal Baekhyun.

Kyungsoo mengangguk lalu ia menatap Chanyeol dengan tatapan mengintimidasinya, “Sebenarnya ada apa denganmu? Biasanya kau yang paling bersemangat untuk membully Sehun. lalu kenapa kau tadi melarang Baekhyun untuk mengganti penunjuk arah agar mereka berdua tersesat? Apa kau baik-baik saja?” tanya Kyungsoo bertubi-tubi.

Baekhyun mendekat kearah Chanyeol lalu ia membisikkan kalimat, “Aku juga masih bingung kenapa kau mengajak kami di pesta itu. padahal, kami tidak diundang dalam ulang tahun Yoona. lalu, bagaimana kau tau jika hari itu bukanlah ulang tahun Yoona?” bisik Baekhyun yang masih mampu didengar di telinga Kyungsoo maupun Chanyeol.

“Apa kau kekasih Yoona?” tiba-tiba Kyungsoo menyimpulkan.

Chanyeol meneguk salivanya dalam-dalam ketika mendengar rentetan pertanyaan yang diungkapkan oleh kedua sahabatnya itu. ia menatap kedua sahabatnya yang memberikan tatapan intimidasi yang sangat tajam padanya.

Camp Nou

Sehun dan Yoona terus menelusuri rerumputan yang lebat itu. mereka terus bergandengan tidak mau melepaskan satu sama lain. Yoona berjalan didepan Sehun, lelaki itu terus mengekori Yoona kemanapun gadis itu melangkah.

Ada dua belokan didepan mereka ke kanan dan ke kiri. Yoona menautkan kedua alisnya, ia sedikit bimbang mana yang harus ia pilih. Yoona menatap Sehun, “Sehun-ah. Bisakah kau menerangi jalan ini?” tanya Yoona.

Lelaki jenius itu mengangguk. Lalu menyenteri sekelilingnya dengan lampu senter yang ia bawa. Ada penunjuk jalan yang menunjuk arah ke kiri. Gadis itu tersenyum tipis lalu segera menarik Sehun ke belokan kiri.

Suara hewan serangga masuk ke telinga mereka. Langkah demi langkah mereka telusuri, gadis itu bisa menyadari jika rerumputan semakin lama semakin tinggi. Ia juga menyadari jika tidak ada satu peneranganpun dalam jalan yang mereka tempuh.

“Aku tidak tau jika kita harus melewati hutan.” Ujar Yoona.

Sehun tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh Yoona. yang jelas lelaki itu hanya mengekori Yoona. telapak tangan milik Sehun basah karena keringat, lelaki itu terlanjur ketakutan dan tidak bisa memikirkan apapun.

Yoona membawa Sehun masuk kedalam hutan dengan pencahayaan senter yang terus menemani mereka. Gadis itu menggigil karena dinginnnya malam dan hanya cahaya bulan yang bisa membantunya.

Rentetan hutan pinus dengan akar yang kuat juga beberapa pohon beringin yang berdiri di sekitar Yoona membuat gadis itu menghentikan langkahnya, Yoona menatap Sehun yang masih mengamit lengannya dan menyembunyikan badannya dibelakang Yoona.

“Kita tersesat.”

Kalimat yang dikeluarkan oleh Yoona mampu membuat Sehun membeku, ia sama sekali tidak tau apa yang harus ia lakukan. Bahkan menatap sekelilingnya saja Sehun tidak berani, suasana malam yang mencekam ditambah dinginnnya suhu sierra madre.

Sehun hanya mengikuti Yoona melangkah dan terus melangkah tanpa pernah mempedulikan jika gadis itu sedikit kebingungan membaca peta dan menebak arah. Lelaki itu melepas genggamannya pada tangan Yoona,

“Sehun salah… tidak tau… maaf,” ujarnya sambil membungkuk beberapa kali.

Yoona terkejut ketika melihat tingkah laku Sehun. ia tersenyum tipis dan mengangguk lalu menarik tangan Sehun untuk mengikutinya.

Rerumputan, senter, malam, bulan dan pohon yang lebat terus menemani langkah mereka. Hingga gadis itu menemukan sebuah gubuk yang masih bisa ditempati untuk beristirahat sejenak. Yoona menggenggam tangan Sehun dan berjalan mendekati gubug itu.

“Kita akan melanjutkan perjalanan besok. Mustahil jika kita tetap memaksakan diri untuk segera sampai di Camp nou malam ini.” Ujar Yoona.

Sehun duduk tepat disamping Yoona. lelaki itu terus berterima kasih pada Tuhan karena tuhan masih mau menolong Sehun dengan cara mengirimkan Yoona padanya. Lelaki itu tidak tau apa jadinya ia tanpa Yoona.

Gadis itu menggigil karena semakin malam udara semakin dingin, padahal ia sudah menggunakan tiga lapis jaket. Sepertinya penyakitnya yang tidak tahan dengan suhu ekstrem menyerangnya.

Sehun melepas salah satu jaketnya, lalu ia memberikan jaket hitam itu pada Yoona. sebenarnya lelaki itu hanya menggunakan dua lapis jaket, tapi ia tidak mau melihat Yoona menggigil kedinginan.

“Sehun memakai empat… untuk Yoona,” bohongnya.

Gadis itu tersenyum lalu ia memakai jaket yang diberikan oleh Sehun. empat lapis jaket, namun gadis itu masih merasa kedinginan. Yoona memang tidak pernah tahan dengan suhu yang ekstrem. Suhu hutan sierra madre tidak cocok untuk tubuhnya.

Sehun melihat Yoona masih menggigil, lelaki itu menarik kedua tangan Yoona lalu ia meniup tangan Yoona agar tidak merasa kedinginan. Gadis itu terenyuh dengan perhatian yang diberikan oleh Sehun. ia tidak pernah melihat orang sebaik Sehun. tidak pernah,

Yoona tak henti tersenyum ketika Sehun meniup tangannya. Terkadang gadis itu melihat Sehun dengan berbagai sikap. Sehun sering bersikap layaknya anak kecil yang terus merengek, Sehun juga sering bersikap layaknya seorang pria dewasa.

“Kau tidak perlu melakukan ini, aku sudah tidak kedinginan.” Ujar Yoona sambil melepas tangan Sehun.

Sehun mengangguk, entahlah kini Sehun merasa dirinya sendiri yang menggigil kedinginan. Lelaki itu tetap mempertahanakan senyum idiotnya agar tidak terlihat kedinginan. Sehun tidak mau melihat Yoona khawatir.

Entahlah saraf dalam otak Sehun menyuruhnya untuk melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yoona. lelaki itu memeluk Yoona dari arah samping dan membuat Yoona cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Sehun.

“Kau kedinginan Sehun-ah, kau tidak bisa membohongiku.” Ujar Yoona sambil memeluk Sehun erat.

Camp Nou

Lelaki itu tidak bisa berkutik ketika kedua sahabatnya menatap tajam dirinya. Chanyeol menghela nafas pelan, sebenarnya ia malas untuk membahas masa kecilnya. Karena dimasa itu Chanyeol masih bisa merasakan pelukan hangat dari sang ibu dan sang ayah.

“Yoona adalah teman kecilku.” Ujar Chanyeol tanpa memandang kedua sahabatnya sama sekali.

Baekhyun mendengarkan dengan jeli, “Jika kau berteman dengannya semasa kecil kenapa kau sekarang menjadi musuhnya?” tanya Baekhyun penasaran.

Chanyeol menghela nafas pelan lalu menggeleng, “Aku meralat kata ‘teman’ lebih tepatnya adalah musuh. Waktu kecil, kami sering bertemu tapi salah satu diantara kami tidak pernah bertegur sapa. Yoona adalah gadis yang ceria semasa kecil, gadis yang cerewet yang sangat kubenci. Bukankah kalian tau jika aku sangat membenci dengan orang yang banyak bicara?” sindir Chanyeol secara tidak langsung pada kedua sahabatnya.

Lalu ia melanjutkan, “Pernah suatu ketika Yoona masih berumur delapan tahun, ia menangis karena jatuh dari sepeda. Aku yang melihatnya langsung menolongnya,”

Kyungsoo mencerna apa yang dikatakan oleh Chanyeol, ia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. “Lalu kau menolongnya dan kalian berdua berteman.” Tebak Kyungsoo dan disambut gelengan oleh Chanyeol.

“Tidak mudah seperti itu, Yoona menolak bantuanku dia bilang dia tidak mau mendapat pertolongan dariku karena aku orang yang jahat.” Ujar Chanyeol.

Baekhyun menimpali, “Apa hanya karena itu kalian berdua menjadi musuh? Hanya alasan bodoh anak kecil?”

Lagi Chanyeol menggeleng, “Bukan karena itu, ketika Yoona berumur dua belas tahun gadis itu mengalami shock yang berkepanjangan. Yoonji noona yang tidak lain adalah eonninya sendiri menginggal karena penyakit yang aneh dan juga langka.” Chanyeol mengambil nafas,

“Tepat ketika ia menangis, aku menghampirinya dan menenangkannya. Yoona hanya diam, ia bahkan tidak mau berbicara pada siapapun selama satu bulan. Kudengar, Yoona dan eonninya sangat dekat. Dan hubungan kami semakin menjauh karena suatu kejadian.”

Kyungsoo mendengarkan cerita itu dengan teliti, ia seolah tidak peduli jika hari mulai menggelap dan mereka terlalu banyak menghabiskan waktu di rerumputan basah. “Apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Kyungsoo.

Inilah yang paling Chanyeol sesali dalam hidupnya, “Aku melihatnya murung, lalu aku mempunyai ide untuk menjahilinya. Aku merebut boneka rusa yang ada ditangannya, lalu membuangnya tepat dijalan aspal. Yoona sangat marah dan menampar pipiku dengan keras bahkan aku bisa merasakannya sampai sekarang, Yoona berusaha mengambil boneka itu dan aku mencegahnya karena ada mobil yang lewat. Dan seperti yang kalian duga, boneka itu rusak. Aku tidak tau jika itu adalah boneka kesayangan kakaknya, Semenjak itu kami tidak pernah saling berbicara, kupikir itu memang salahku.” Ujar Chanyeol panjang lebar.

Baekhyun mendengus, “Lalu kau tidak pernah meminta maaf padanya?” tanya Baekhyunn.

Chanyeol mengangguk, “Tentu saja, aku pernah meminta maaf padanya. Tapi ia justru mengusirku dan membentakku dengan kasar, ia juga meminta agar aku tidak pernah mendekatinya.”

Kyungsoo terdiam, ia tau besar apa saja yang bisa terjadi ketika ia membullying Sehun. lelaki bermata bulat itu terdiam, mungkin sebaiknya ia berhenti untuk membullying Sehun. karena itu tidak baik, cukup Chanyeol yang pernah merasakan itu.

“Lalu kenapa kau datang ke pesta ulang tahun Yoona?” tanya Kyungsoo.

Chanyeol tersenyum tipis, “Dia mengirim pesan padaku untuk datang ke pestanya. Itu adalah pertama kalinya ia mau berbicara padaku, sebenarnya ada beberapa keluarga konglomerat seperti keluargaku, Luhan sunbae, dan lainnya. Seperti rekan bisnis lainnya, mereka berbincang tentang saham. Di pesta itu Yoona meminta agar semua orang dipesta itu menghormati si idiot itu.. tapi rencana itu gagal karena kita,” jawab Chanyeol panjang lebar.

Chanyeol berdiri sudah cukup ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Lelaki itu memutuskan untuk segera sampai di Camp Nou.

Ketiganya berjalan dengan cepat, karena sebentar lagi mereka akan sampai ke Camp Nou. Namun ada suatu hal yang membingungkan Baekhyun, lelaki imut itu menyuruh kedua temannya berhenti sejenak.

Baekhyun menyenteri arah panah yang ada di depannya. Lalu ia kembali membaca peta, “Tunggu! Arah panah itu menunjukkan jika kita harus belok ke kiri. Tapi di peta kita harus belok ke kanan.” Ujar Baekhyun

Chanyeol mendengus melihat kebodohan Baekhyun, “Ikuti peta ini! Jika kita belok ke kiri, ada hutan lebat disana. Bisa saja ini adalah akal busuk kelompok sebelumnya atau mungkin anak yang jahil.” Jawab Chanyeol.

Ketiganya berbelok ke kanan untuk menempuh jalan yang lebih aman.

Camp Nou

Udara yang semakin dingin merasuk ketubuh lelaki yang sedang memejamkan matanya itu. ia membuka kedua matanya dan merasakan rasa sakit ditubuhnya. Tubuhnya menggigil, ia juga bisa merasakan jika ia sedang demam saat ini.

Lelaki bermarga Oh itu menoleh kesampingnya dan melihat seorang Yoona dengan wajah merah dan mata yang terpejam. Sehun terkejut ia mengerti apa yang terjadi pada Yoona saat ini. Gadis itu mengalami alergi dingin atau sering disebut Utikaria Cold.

Penyakit ini sering menyerang remaja, anak-anak bahkan orang tua. Penderita utikaria dingin akan mengalami gatal-gatal, hilang kesadaran, bahkan pembengkakan pada tenggorokan dan lidah sehingga sulit bernafas.

Sehun terdiam, lalu ia segera melepas satu-satunya jaket yang ia pakai dan memakaikannya pada tubuh Yoona. sehun segera mengguncangkan Yoona takut jika alerginya semakin parah.

“Y-Yoona-sshi, gwaenchanayo?” tanya Sehun ketika melihat Yoona mulai membuka matanya.

Gadis itu menggeleng, “Sepertinya penyakitku kambuh Sehun-ah, aku tidak baik-baik saja.”

Sehun kebingungan, lelaki itu juga demam tapi kondisi Yoona lebih membahayakan dibandingkan demamnya. Sehun segera berjongkok didepan Yoona dan menyuruh gadis itu naik ke punggungnya.

Sehun menggendong Yoona dengan sisa tenaga yang ia punya. Lalu ia menatap bintang yang ada dilangit. Ia mencari sebuah bintang yang mempunyai sinar yang terang dan bintang yang paling besar. Yaitu bintang Cyanosure (Bintang kutub utara)

Lelaki itu menemukan bintang yang ia cari. Bintang yang mampu menunjukkan arah utara, Sehun berjalan menelusuri hutan itu dengan membawa gadis di punggungnya. Ia seolah tidak peduli jika udara yang semakin menusuk cahaya yang sangat remang.

Sehun berjalan sempoyongan, tubuhnya tidak kuat menggendong Yoona. peluh mulai mengalir di dahinya. Namun Sehun tidak peduli jika kondisi fisiknya yang semakin memburuk, tubuhnya demam dan wajahnya pucat.

Rerumputan liar yang sewaktu-waktu ada ular disana tidak membuat Sehun takut sama sekali, yang ada di pikirannya hanya keselamatan Yoona. hanya seorang gadis yang lemas tak berdaya di punggung Sehun.

Lelaki itu bisa merasakan jika langkahnya mulai melambat, nafasnya juga tidak beraturan, belum lagi tubuhnya kedinginan karena ia tidak memakai jaket satupun. Ia hanya menggunakan kaus biru panjang dan jeans ketat,

Dalam hati lelaki itu terus berdo’a pada Tuhan agar ia bisa menemukan Camp Nou dengan bantuan bintang utara. Tak lupa ia juga terus bedo’a agar Yoona bisa diselamatkan. Karena Sehun sangat tau Utikaria dingin bisa menyebabkan sesak nafas dan berujung kematian, dan Sehun tidak mau hal itu terjadi.

Sehun melihat sebuah pohon yang bisa ia gunakan untuk bersandar. Lelaki itu membaringkan Yoona dipohon itu sejenak. Sehun mengambil nafas panjang lalu ia mengontrol detak jantungnya yang tidak karuan karena kelelahan.

Merasa lebih baik, Sehun bangkit dari duduknya dan kembali menggendong Yoona dipunggungnya. Sehun juga menyuruh Yoona agar gadis itu mengalungkan tangannya di leher Sehun.

Demi tuhan!

Sehun menghentikan langkahnya ketika ia sadar jika mobil kesayangannya tertinggal di gubuk tadi. Lelaki itu tetap berjalan terus tidak mempedulikan jika hatinya tersayat karena satu-satunya mainan yang sangat ia sayangi harus tertinggal di gubuk tadi.

Dengan air mata yang menggenang, Sehun meredam egonya untuk kembali ke tempat semula dan mengambil mainannya itu. biarkan Sehun menangis seharian ketika ia sampai di Camp Nou nanti, karena keselamatan Yoona lebih penting dari pada mainannya itu.

Dengan keringat dingin, wajah pucat karena sakit, juga air mata yang sudah jatuh dari pelupuknya Sehun tetap melanjutkan langkahnya. Lelaki itu menyerahkan semuanya pada Tuhan, jika mobil itu berjodoh dengannya pasti akan bertemu lagi.

Cahaya meremang masih bisa Sehun lihat dari kaca mata Harry potternya itu. lelaki itu tersenyum dan bersyukur pada tuhan. Ia yakin jika cahaya remang dibalik hutan itu adalah Camp Nou.

Lelaki jenius itu segera mempercepat langkahnya, senyuman tak kunjung berhenti dari bibirnya ketika cahaya merah itu semakin mendekat. Dan Sehun bisa mendengar gelak tawa dari siswa-siswi Coreland.

Hingga Sehun melihat mereka berkumpul bersama di api unggun. Seolah mereka lupa jika ada dua orang siswa yang tersesat, mereka lupa dengan orang yang membutuhkan bantuan diluar sana. Mereka terlalu mementingkan ego sendiri dan tidak mempedulikan Sehun dan Yoona yang tengah kesakitan,

Dan untuk pertama kalinya, Sehun benar-benar membenci mereka semua.

Camp Nou

Tiga orang itu berkumpul bersama di dekat tenda mereka yang sangat besar dan penuh akan makanan. Dua dari mereka bertiga sibuk dengan gadget yang mereka bawa. Seorang lelaki diantara mereka merasa gusar.

“Kenapa idiot itu dan Yoona belum kembali? Apa mereka tersesat?” tanya Kyungsoo.

Chanyeol dan Baekhyun yang semula sibuk dengan layar didepan mereka menatap Kyungsoo, “Lihat saja didepan, mungkin idiot itu sudah kembali.” Jawab Baekhyun sekenanya,

Lelaki bertubuh jangkung itu berdiri, “Ayo kita lihat mereka.” Ajaknya dan dibalas anggukan oleh Kyungsoo,

Baekhyun menggeleng, ia tidak mau membuang-buang waktu hanya untuk keluar dan melihat seorang anak idiot dan gadis aneh. Baekhyun bergidik, “Tidak akan, kalian saja.” Ujarnya dan kembali terfokus pada gadget yang ia pegang.

Chanyeol mengangguk, lalu ia keluar tenda bersama Kyungsoo dan melihat jika ratusan siswa berkumpul tepat di api unggun dan bernyanyi bersama. Chanyeol mendengus, lalu ia mengalihkan pandangannya pada seorang lelaki yang berjalan dengan gadis dipunggungnya.

Lelaki itu membelalak dan menepuk pundak Kyungsoo, “Sehun dan Yoona. kenapa dengan mereka?” ujar Chanyeol.

Lelaki itu segera mendekat kearah Sehun yang memberikan tatapan tajam padanya. Namun Chanyeol mengacuhkannya, ia melihat Yoona yang pingsan dalam gendongan Sehun. “Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Chanyeol.

Sehun tidak membalasnya, ia segera membawa Yoona ke tempat pemeriksaan darurat. Lalu ia membaringkan Yoona ke kasur empuk tersebut. Di sisi lain, Kyungsoo segera memanggil dokter darurat.

Chanyeol mendekat kearah Sehun yang terus menggenggam tangan Yoona, “Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kalian tersesat?”

Sehun menatap Chanyeol tajam, lalu ia bangkit berdiri. “Karena kau kami tersesat! Kau yang membuat kami salah arah! Aku tidak tau kenapa kau sangat membenciku, tapi kenapa kau juga membully Yoona! BISAKAH KAU PERGI SEKARANG JUGA?” Bentak Sehun kasar.

Chanyeol membeku seumur hidupnya ia tidak pernah mendengar orang membentaknya kecuali Yoona, dan Noonanya. Lelaki itu terkejut dengan perubahan drastis Sehun, “A-apa maksudmu? Aku tidak melakukan apapun.” sanggah Chanyeol.

Sehun marah untuk pertama kalinya, saraf dalam otaknya menyuruhnya untuk mendorong Chanyeol. Lelaki yang tak lain adalah cucu seorang presiden korea selatan itu tersungkur ke tanah. Namun Sehun tidak mempedulikannya dan tidak ingin meminta maaf.

“CEPAT PERGI PARK CHANYEOL!” Bentak Sehun.

Sehun menstabilkan emosinya, ia yakin jika ada yang merubah arah penunjuk jalan. Dan Sehun juga yakin jika yang melakukan itu adalah gang Chanyeol. Karena kelompok mereka berada didepan Sehun. lelaki itu sama sekali tidak tau jika yang mengubah arah adalah Luhan. Hyungnya sendiri,

Sehun mendekat kearah Yoona dan melihat gadis itu terbaring lemas. Sehun marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Yoona dengan baik. Sehun menggenggam tangan Yoona lalu menciumnya,

Air matanya jatuh, “J-Jangan pernah tinggalkan Sehun.” pintanya.

Tak lama setelah itu seorang dokter datang dan melihat kondisi Yoona. dokter tersebut mengambil suntikan jarum steril lalu dokter itu menusukkannya ke kulit Yoona. setelah itu sang dokter memasang infus di tangan Yoona,

“Kau tidak perlu khawatir Sehun-ah. Dia baik-baik saja, besok pasti Yoona akan siuman.” Ujar uisa-nim.

Sehun membungkuk beberapa kali, “Gamsa-Gamsa habnida.” Ujar Sehun.

Lelaki itu kembali duduk disebelah Yoona, lalu tangan Sehun menggenggam tangan Yoona. Sehun tidak peduli jika dia tengah demam sekarang, Sehun juga tidak memakai jaket. Yang hanya dipikirkan oleh Sehun adalah Yoona, hanya Yoona.

Camp Nou

Mentari yang bersinar menyinari Sierra madre membuat gadis yang tengah tertidur itu melenguh pelan. Kedua mata rusanya mulai mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menetralisir cahaya yang masuk ke indra penglihatannya.

Gadis itu merasakan kepalanya yang berat dan tubuhnya terasa sakit dan kaku, lalu ia bangkit dari tidurnya. Yoona menatap sekelilingnya dan melihat seorang lelaki berambut coklat yang tertidur disampingnya.

Yoona menyentuh tangan Sehun dan mengguncang badannya pelan, “Sehun-ah,” panggilnya.

Lelaki yang tak lain adalah Sehun membuka kedua matanya, ia melihat Yoona yang sudah sadar. Sehun segera bangkit dan memeluk Yoona dengan penuh kasih sayang. “Yoona-sshi, kau.. bangun.. Sehun senang,” ujarnya.

Yoona hanya tersenyum tipis ketika melihat tingkah laku Sehun. namun ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya, “Bagaimana kita sampai disini? Bukankah kemarin kita ada di gubuk itu?” tanya Yoona pada Sehun.

Sehun mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Yoona, “Kemarin Yoona sakit… Sehun tidak tau… lalu Sehun menggendong Yoona.” ujarnya.

Yoona mengacak rambut Sehun gemas, “Ternyata kau kuat menggendongku rupanya.” Pujinya.

Sehun menggenggam tangan Yoona erat, lalu ia mengelusnya. “J-Jangan tinggalkan Sehun sendiri. Tidak… Yoona tidak boleh sakit,” pinta Sehun.

Gadis bermata rusa itu mengangguk, “Aku tidak akan meninggalkanmu.” Ujar Yoona.

Tanpa mereka berdua sadari terlihat tiga orang lelaki yang bersembunyi di dekat tenda mereka. Ketiganya menatap dua orang berbeda gender itu. “Kau tau, kemarin idiot itu seperti monster garang.” Ujar seorang Chanyeol hampir seperti berbisik sayangnya tidak dihiraukan oleh kedua sahabatnya,

Kyungsoo mengintip Yoona dan Sehun dibalik kain tenda yang tersampir itu, ia seolah melupakan apa yang telah dikatakan oleh Chanyeol. “Setidaknya mereka tidak berbuat apa-apa semalam.” Ujarnya tiba-tiba.

Baekhyun menautkan kedua alisnya ketika mendengar ucapan Kyungsoo, “Mwo? apa kau kemarin malam menunggu mereka berdua?” tanya Baekhyun penuh selidik.

Chanyeol memelototkan kedua matanya ketika Kyungsoo tidak sengaja membocorkan apa yang terjadi kemarin malam, “Ya, aku dan Kyungsoo sejak kemarin terus berjaga disini. Kemarin Yoona sakit, dan Sehun berubah seperti monster. Lelaki idiot itu berani membentakku!” jelas Chanyeol

Gelak tawa terdengar di mulut Baekhyun dan Kyungsoo, mereka tertawa karena seorang lelaki dingin dan cuek seperti Chanyeol ‘takut’ karena bentakan Sehun, seorang idiot dari Coreland.

Chanyeol memutar kedua bola matanya kesal, lalu ia mendengus “Aku tidak bercanda, kemarin dia marah dan menuduh jika kita membuat mereka tersesat.”

Kyungsoo dan Baekhyun saling berpandangan, lalu mereka teringat sesuatu. “Ah ya, pasti penunjuk jalan itu yang membuat mereka tersesat.” Ujar Baekhyun.

“Jika bukan kita yang melakukannya, lalu siapa?” tanya Kyungsoo dan Chanyeol bersamaan.

 

END/TBC

 

Aku nggak protect ff ini karena aku lagi nggak pengen. But, kalo next series aku nggak tau bakal protect apa nggak. Yang jelas, itu semua tergantung readers. Dan kemarin yang buat poster, langsung kirimin aja nggak apa-apa. Aku malah seneng banget, di Alliengator1028@gmail.com

I Gracias! Yo Te A Mo! Visca El YoongEXO!

117 thoughts on “[Freelance] Don’t Call me Idiot : Camp Nou

  1. waow. Sehun rela berkorban, lagi sakit juga demi yoona sampe mobil2an ksayangannya yg ktinggalan pun diabaikan.sehun jelas jatuh cinta sama yoona, jadi chan itu temen masa kecilnya. Disisi kejamnya chan ternyata dia bisa takut juga ahahah Part sehun mainin mobil di samping chanyeol lucuu. Ffnya beneran deeh bikin aku naksir. Pengen baca ff series terbarunya semoga kisahnya tambah menyenangkan. Tambah seru jadii di tunggu ya🙂

  2. yaampun luhan and the gang jahat bgt sih sma sehun ‘-‘ ,ohh jdi si yoona ama chanyeol pernah temenan tpi ya gitu deh ,suka pas dibagian akhirnya !cepet dilanjut thor !

  3. Luhan benci bgt sih sama sehun -_-
    Kesel jadinya wkwkwk
    Seneng deh yoona tetep disamping sehun
    Hehehehe
    Yoona baikan sama chanyeol dong😐
    Bagus thor ffnya, keren bgt hehe
    Ditunggu chapter slanjutnya ya thor🙂

  4. pas nyeliat judulnya aku kurang tertarik mau baca series ini tapi lama lama aku tertarik mau baca. aku pikir ceritanya membosankan…. eh malah ceritanya berbalik 100000% dari yg aku pikir jadi jgn di protect ya thor yg slanjutnya soalnya aku suka banget dgn jaln ceritanya… unik dan paling beda dengan yg lain… lanjut terus ya thor, semangat….

  5. Cie. . .sehun-ah lu bikin gw pengen dip0sisi y0ona,

    dan akhirnya perubahan sehun ada! Gak tau, penasaran aja kalo ampek sehun tau yg buat kesesat itu si rusa china. Sehun bkal bereaksi seperti apa , apa dia bkal panggang si luhan?
    chanyeol sebenernya punya perasaan gak sih ke y0ona? Bikin greget aja gtu, dan aku penasaran luhan bakal dijadi’in pepes gak ama ci chanyeol

    oke author see you dinext part ye, aku TUNGGU lanjutannya.
    Kalaupun di proteck. Jangan lupa kasih tau cra dapetin PW. UKEEE😀

  6. oke hati sehun itu terbuat dari berlian kekeke….
    sosweet banget waktu ngeliat bintang…
    susahnya kalo punya penyakit savant syndrome gk bisa bedain getaran cinta ama penyakit jantung ya….
    ya udah lanjut…
    keep writing and FIGHTING ne^^

  7. uwaaaa sehun harus tau kalo yang ngubah arah jalan itu luhan!! jangan salahin chanyeol:”D entah kenapa aku pengen banget chanyeol sama sehun damai terus jadi temen deket:”D
    anw jangan di protect dong thor:”D

  8. aaa keren ceritanyaaa. Di sini Luhan jahat banget. Untungnya Yoona sama Sehun bisa selamat. Pas Sehun marah ke Chanyeol, dia ngomong kayak orang normal. Apa Sehun bisa normal nantinya? Gak sabar baca chapter berikutnya. Next ditunggu ^.^

  9. Oh my god aku kira bakal membosankan bacanya..but..oh aku suka like it ><
    Eh,masih yoongeonni enggak ada shabat ya selain si sehun?? Argh….kzl luhan paboya! Luhan yg imut kemana!!tpi dpt semua kok peran masing*, hehe..
    Pokoknya lanjut…kepengen sih chanyeol balikan ama yoona bolehkah ?? ^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s