[Freelance] You’ve Fallen For Me

You've Fallen For Me

You’ve Fallen For Me

Artposter and fanfiction by Nawafil

PG13

Romance, School life

Oneshoot

Starring by EXO’s Sehun | GG’s Yoona

Disclaimer : All cast belong to god, but the plot of the story is mine. This story is not true, just a fiction. DO NOT PLAGIARISM!

Just enjoy reading.

Kisah ini sebenarnya bukan kisah tentang orang dewasa dengan berbagai macam permasalahan yang pelik, bukan pula tentang anak kecil yang hanya memiliki masa – masa menyenangkan disetiap harinya. Persahabatan, mungkin? Bisa disebut begitu.

Tidak rumit, sama seperti cerita lainnya. Sangat lazim dan tidak asing. Berawal ketika Yoona kecil kebetulan terjatuh dari sepeda dan seorang anak lelaki tiba – tiba mengulurkan tangannya.

Namanya Oh Sehun.

Dia tetangga baru Yoona, baru saja pindah.

Keduanya sering bermain bersama sejak saat itu—8 tahun lalu tepatnya. Sekarang mereka bukan lagi anak kecil berusia 10 tahun yang kesehariannya menaiki sepeda, bermain ayunan dan permainan anak kecil lainnya. Yoona dan Sehun yang sekarang adalah lelaki dan perempuan berusia 18 tahun.

“Sehun-ah!” Yoona berteriak dari luar rumah Sehun. Kedua tangannya dilipat di depan dadanya dan rambutnya dibiarkan terurai. Tak lama berselang, Sehun keluar dari pintu rumahnya dan membuka pintu pagar dengan tergesa – gesa.

Mian. Kau lama menunggu, ya?” Sudah telat, rambutnya belum disisir, terlebih seragamnya belum disetrika dan kusut. “Apa kau tidak punya sisir dirumah? Tidak punya setrika juga?” Yoona berdecak, namun kemudian ia merogoh sisir dari dalam tasnya.

Yoona maju selangkah untuk mengatur rambut Sehun. “Semua laki – laki seusiamu mempunyai hairspray dan gel rambut dirumahnya. Tapi lihatlah, jangankan hairspray dan gel rambut, sisir pun kau tidak punya.”

Setelah membuat rambut hitam Sehun rapi dan teratur Yoona pun tersenyum. Karena gaya rambut yang baru ia buat, mungkin?

“Kau terlihat lebih cocok dengan poni seperti ini. Jangan lagi membuat rambutmu rancung ke atas seperti bulu ayam.”

Pardon me? Untuk membuat rambutku rancung, aku memerlukan hairspray dan gel rambut, nona. Jadi jangan berkata seolah aku ini tidak tahu gaya.” Yoona terkekeh dengan komentar Sehun mengenai ejekannya tadi. Bagian dari diri Sehun yang sedang diperlihatkan sekarang adalah Sehun yang lucu dan menggemaskan.

“Terserah padamu. Yang penting kita berangkat sekarang, oke?”

Sehun dan Yoona berjalan berdampingan. Ritme langkah mereka menyatu menjadi suatu kesatuan yang beriringan dan enak dipandang. Jarak menuju sekolah mereka tidak jauh, dapat ditempuh dalam waktu 10 menit.

Tidak ada yang mengeluarkan suara sepanjang perjalanan, keduanya sibuk dengan pikiran masing – masing, atau mereka hanya terlalu malas untuk berbincang. Karena sekalinya ada yang membuka pembicaraan, akan berakhir dengan perdebatan.

“Sehun!” Tinggal beberapa langkah lagi menuju gerbang, panggilan itu membuat Sehun terpaksa harus menoleh. Gadis dengan bandana kucing tersenyum dan menghampirinya. “Kau punya waktu? Aku ingin mengenalkanmu pada bandku.”

Sure.” Sehun mengalihkan pandangannya pada Yoona. Yoona mengerti dan menganggukan kepalanya. Setelah Sehun berlalu pergi, Yoona bertanya – tanya dalam hatinya. Apa hubungannya Sehun dengan bandnya Sora?

Namun ia segera menggelengkan kepalanya. Masa bodohlah, pikirnya. Yoona pun melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah.

Bunyi bel terdengar ke segala penjuru sekolah, membuat para guru mengakhiri kelasnya dan para siswa bersorak sorai. It’s lunch time!

“Kau ingin ke kantin, Sehun?” Sora menghampiri meja Sehun dan Yoona. Sehun mendongak, kemudian melihat Yoona yang berada di samping kirinya. “Kau ingin ke kantin, Yoong?”

Merasa namanya dipanggil, Yoona yang tadinya asik memakan coklat memandang wajah Sehun. “Tidak, aku sedang diet. Kau pergi saja dengan Sora.” Sora mengangguk semangat, akan tetapi Sehun langsung menggeleng dan memberi jawaban, “Kalau begitu tidak, aku tidak lapar. Maaf, Sora”

Tak mempedulikan ekspresi wajah Sora yang kecewa, Sehun pun berbalik menatap Yoona kembali. “Hei, sejak kapan kau suka diet? Aku tidak ingat kau tipe perempuan yang tergila – gila dengan tubuh ideal.”

Dengan mulut berlumuran coklat, Yoona memandang wajah Sehun yang datar. “Karena kau berkata aku gendut, bodoh.” Jawabnya.

“Jika aku berkata bahwa kau jelek, kau akan mengubah wajahmu?”

Yoona meremas coklatnya dan menatap Sehun tajam. “YAK! Selama ini tidak pernah ada yang mengatakan aku jelek! Kau yang jelek, Oh Sehun!”

Sehun memutar bola matanya dan menyeringai. “Semua perempuan di sekolah ini tergila – gila padaku, asal kau tahu. Kau adalah wanita beruntung yang bisa dekat denganku.”

“Yoona?” Perdebatan mereka berhenti saat suara lembut seorang pria memanggil nama Yoona.

“Luhan? Ada apa?” Luhan tersenyum dan mengacungkan buku mata pelajaran matematika. “Apa kau punya waktu luang untuk mengerjakan tugas kita?”

Yoona mengangguk. “Ya, tentu saja. Dimana kita bisa mengerjakannya?”

Luhan terlihat berfikir sebelum akhirnya kembali tersenyum pada Yoona. “Di kantin. Kau tidak keberatan ‘kan? Aku belum makan siang.”

Yoona pun beranjak berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan dengan Luhan dan tersenyum beberapa kali karena percakapan mereka. Sedangkan Sehun yang sedari tadi berada ditengah – tengah mereka memasang poker face-nya. Yang benar saja, perempuan tengil itu meninggalkannya? Setelah ia mengorbankan perutnya yang malang?

Suara jeritan dari perut Sehun terdengar jelas, oh tuhan. “Sial!” Senyum manis Luhan juga benar – benar membuatnya ingin muntah. Dan tunggu, sejak kapan mereka akrab? Menyebalkan!

Masuk! Three point!

Masih dengan seragam sekolahnya yang kusut tadi, Sehun bermain basket di lapangan sekolah. Sudah 1 jam semenjak jam sekolah berakhir, dan hanya ada beberapa atau mungkin tidak ada orang sama sekali—kecuali penjaga gerbang.

Sehun mendribble bola basketnya dan kembali memasukkannya ke ring dengan gaya lay up. Tubuhnya telah penuh dengan keringat yang bercucuran dan rasanya sangat panas. Oh, nafasnya sekarang semakin tidak teratur.

Ia berjalan ke pinggir lapangan untuk sekedar mengambil minum dari tasnya dan membasahi mulut serta kerongkongannya. Lalu kembali lagi ke lapangan untuk memainkan bola bundar itu.

Sehun-ah, kau bisa pulang sendiri? Luhan mengajakku untuk pulang bersama.

Sehun berdecak kesal dan memantulkan bola basketnya keras. Nafasnya yang terengah – engah serta keringat itu akan membuat semua wanita berdecak kagum, sungguh. Permainannya basketnya? Jangan ditanya. Dia adalah kapten basket terbaik yang pernah ada di sekolahnya. Timnya berhasil menyumbangkan berbagai trophy kejuaraan bagi sekolahnya.

Ia menyisir rambutnya dengan jarinya dan terduduk ditengah lapangan. Ah, perkataan Yoona tadi tidak bisa hilang dipikirannya. Selama 8 tahun terakhir, Yoona tidak pernah sekalipun pulang dengan orang lain selain dengan dirinya. Tidak pernah.

“Memangnya aku kalah tampan dari Luhan? Sepertinya Yoona bisa takluk dengan mudah oleh Luhan.” Sehun seolah – olah berbicara pada dirinya sendiri.

“SEHUN!” Teriakan keras itu membuat Sehun menoleh.

Bagus, Yoona sekarang berada di sudut lapang dan Sehun yakin Yoona akan segera menghampirinya.

“Kau belum pulang daritadi? Ibumu mengkhawatirkanmu, tahu!”

“Jadi, kau tidak?”

Yoona menghembuskan nafasnya dan berkacak pinggang. “Apa itu penting, hah? Seharusnya kau bersyukur masih ada ibu yang sangat perhatian padamu, bodoh!”

“Lagi? Bodoh lagi?!” Sehun berdiri dari posisinya dan berjalan meninggalkan Yoona.

“Makanya kau harus pintar seperti Luhan. Kau tidak punya keinginan belajar sama sekali.” Yoona berjalan di samping Sehun, berusaha mengimbangi langkah Sehun yang cepat.

“Aku tidak peduli dengan Luhan.” Jawabnya ringan. Ia sedikit membungkuk untuk mengambil tasnya dan kembali melangkahkan kakinya.

“Predikat siswa terpopuler disekolah akan diambil Luhan jika kau terus seperti ini.” Sehun tersenyum tipis mendengar ucapan Yoona. Lagi – lagi anak pindahan itu, menyebalkan.

“Jika kau ingin tetap berjalan di sampingku, diamlah.”

Yoona memutar pulpen dengan jarinya, buku yang ada dihadapannya dibiarkan begitu saja. Ia menatap ke luar jendela, hujan cukup deras.

“Apa Sehun sudah menyetrika bajunya? Dia tidak akan melewatkan tugasnya lagi ‘kan? Apa lebih baik aku telpon dia saja?”

Yoona mengambil ponselnya dan mencari ID Sehun dikontaknya, ia pun menekan tombol call. Teleponnya tersambung, butuh beberapa detik sebelum Sehun mengangkatnya.

Yoboseyo?

“Kau sudah menyetrika bajumu? Tugas dari Park saem sudah kau kerjakan?”

Desahan pelan terdengar dari sebrang sana. “Kenapa kau menanyakan hal semacam itu malam – malam begini? Membuatku pusing aja.”

“Ayolah, jawab aku.” Desak Yoona.

“Belum. Semuanya belum. Kau puas?”

“Aish, kau ini. Jangan dulu tidur, aku akan ke sana!”

Seperti yang Yoona katakan, ia menghampiri Sehun. Dan sekarang di sinilah dia, dikamar seorang flower boy sekolahnya. Yoona sempat mengajarkan Sehun agar ia bisa mengerjakan tugasnya, setelah itu sibuk dengan menyetrika seragam kusutnya. Jika dipikir – pikir, Yoona sudah seperti ibu kedua saja untuk Sehun.

Yoona membuka lemari Sehun dan menggantungkan seragamnya. “Kau tidak bisa melakukan apa – apa selain main basket, Sehun-ah?”

Kemudian merapikan beberapa pakaian Sehun yang berantakan. “Setidaknya rapikan lemarimu ini, kau harus sedikit berguna.” Ia pun berbalik. “Sehu—”

Pria itu sudah dalam keadaan mata terpejam. Semoga saja ia mengerjakan tugasnya. Yoona menghampirinya dan mengecek buku yang menjadi alas kepalanya tertidur di meja. Beberapa detik kemudian, lengkungan senyum terbentuk. Tangan Yoona terangkat untuk mengelus puncak kepala Sehun. “Kerja bagus, Sehun.”

Iris matanya terfokus pada wajah Sehun yang tertidur damai. Hei, ini adalah wajah tertampan Sehun yang pernah ia lihat. Dibanding dengan wajah mengejeknya itu yang membuat Yoona kesal sendiri kalau melihatnya.

Yoona mengelus pipi Sehun, kulit porselennya sangat lembut. Terkadang Yoona bertanya – tanya, perawatan seperti apa yang Sehun lakukan? Laki – laki ini begitu sempurna.

Yoona duduk di kursi tepat di samping Sehun. Ia menyangga dagunya untuk melihat ciptaan terindah tuhan yang pernah ia lihat. “Tapi ketampananmu itu masalahnya, banyak sekali wanita yang menyukai dirimu.”

Yoona menghela nafasnya. “Bahkan saat Luhan mengajakku pulang kau sama sekali tidak terlihat mau mencegah. Kang Sora juga terus saja mengikutimu. Bukan hanya Kang Sora, tapi Jung Soojung, Bae Suzy, Irene, Sulli, Park Jiyeon, Chorong dan semua gadis itu selalu mengikutimu, tahu!”

Yoona mengambil nafas dan lenguhan Sehun membuat Yoona bisa lebih tenang. “Yah, bagaimana bisa kau menyukaiku di saat semua gadis cantik mengelilingimu setiap saat.”

Pintu kamar Sehun terbuka, menampilkan sosok seorang wanita yaitu ibu Sehun. Yoona sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri semenjak ibu kandungnya meninggal dunia. “Ahjumma.”

“Maaf karena Sehun selalu merepotkanmu, Yoona.” Yoona menggeleng. “Tidak, kok, ahjumma. Sepertinya Sehun sudah tertidur pulas, kalau begitu Yoona pulang dulu, ahjumma.” Yoona berdiri dari posisinya.

“Tapi, ini masih hujan, Yoona. Tidak ada payung di sini, Sehun merusak semuanya karena semua itu pemberian ayahnya. Kau tahu ‘nak, Sehun sangat membenci ayahnya karena meninggalkan kami demi perempuan lain.” Tatapan sendu ibu Sehun membuat Yoona merasa tidak enak juga, ia tidak bermaksud mengangkat cerita itu keluar. Ia tahu betul perasaan ibu Sehun.

Yoona memegang tangan ibu Sehun. “Gwaenchana, ahjumma. Aku akan berlari menerobos hujan. Kau tahu aku gadis yang kuat.”

Seperti biasanya, Sehun terlambat bangun dan mengerjakan semuanya secara tergesa – gesa. Tapi setidaknya, kali ini rambutnya rapi begitu juga seragamnya. Ia keluar dari rumah dengan lebih santai, tapi keheranan memenuhi dirinya ketika tidak ada Yoona yang menunggu di depan gerbang.

“Apa dia telah berangkat? Awas saja jika Luhan menjemputnya, ku pastikan kau habis, Lu.” Sehun mengambil ponselnya dan menelepon Yoona.

Tersambung, tapi tidak diangkat.

“Kurasa tebakanku tepat sekali.” Sehun melenggang keluar rumah dan sekali lagi menelepon Yoona. Ia berhenti di depan rumah Yoona. “Lampu rumahnya menyala.”

Rasa penasarannya semakin besar karena gerbang rumahnya tidak terkunci, Sehun masuk dan kini telah berada di depan pintu masuk rumah Yoona. Tangannya memegang kenop pintu dan..

Cklek.

Oh tuhan, apa yang ada dipikiran gadis ini? Bahkan ia tidak mengunci pintu rumahnya.

“Yoong, kau di dalam?” Ah, kenapa seorang perempuan seperti dia harus tinggal sendiri? Seharusnya ia pergi ke rumah bibinya setelah kedua orang tuanya tiada.

Ruang tengah, dapur dan kamar mandi sudah dilihatnya. Tinggal kamar Yoona saja yang belum. Sehun membuka pintu kamar Yoona perlahan, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Yoona masih tertidur dengan keringat yang cukup banyak mengaliri wajahnya. Sehun setengah berlari menghampiri Yoona. Dahi Yoona adalah tempat dimana telapak tangan Sehun mendarat.

“Kau demam.”

Yoona membuka kelopak matanya perlahan. “Se.. hun?”

Sehun segera berlari keluar, selang beberapa menit ia kembali dengan semangkuk air beserta sapu tangan di dalamnya. Sehun memeras sapu tangan itu lalu meletakannya dikening Yoona. Ia menarik selimut Yoona hingga lehernya.

Yoona tersenyum dengan sedikit tenaga yang ia punya. “Kau harus sekolah, Sehun.”

“Dan meninggalkanmu? Jangan bodoh, Im Yoona.”

Yoona mendesah berat dan meneguk salivanya secara perlahan. “Ibumu akan mengkhawatir—”

“Aku mengkhawatirkanmu, Yoong. Tolong jangan memaksaku pergi.” Sehun menggenggam tangan Yoona dan menatapnya. “Aku akan berada di sini dan menemanimu. Tidak ada protes.”

“Kau keras kepala.”

“Aku belajar darimu mengenai itu.”

Kekehan pelan lolos dari mulut mungil Yoona, membuat Sehun yang melihatnya juga ikut tersenyum. “Kalau begitu, kau tidurlah dulu. Aku akan membuat sup untukmu.”

“Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan di dapur ini?” Sehun menggaruk tengkuknya, kebingungan melihat semua peralatan dapur yang sungguh terasa asing dimatanya. Demi apapun, ia belum pernah menyentuhnya sejak ia dilahirkan ke dunia ini.

Dan dalam keadaan seperti ini, hanya internet yang bisa membantunya.

Ponselnya sudah ada ditangannya dan ia siap mencari resep supnya. Tapi…

“Sup apa ya?” Berpikirlah Oh Sehun, kau bahkan hampir memakan sup setiap hari tapi tidak tahu namanya.

“Ah! Sup kacang saja, kurasa mudah.”

Ta-da!” Sehun membuka pintu kamar Yoona dengan kakinya karena tangannya memegang nampan. Langkahnya sangat pelan hingga ia bisa mencapai kursi yang akan didudukinya. Sehun meletakkan nampannya dimeja kecil dan memasukkan sebagian nasi dari mangkuk ke mangkuk sup kacang itu.

“Yoong?” Sehun mengguncangkan tubuh Yoona dengan lembut. Dengan perlahan Yoona membuka matanya. “Sup kacangnya siap!” Sehun tersenyum riang.

Kening Yoona mengkerut. “Sup kacang untuk orang sakit?”

“Sudahlah, jangan berkata apapun. Aku bersusah payah membuat ini untukmu. Kau ‘kan harus minum obat secepatnya.” Yoona mengangguk. “Arasseo.”

Sehun mengambil sesendok nasi dan supnya kemudian mengarahkannya pada mulut Yoona, dan perempuan itu langsung melahapnya. Ia mengunyahnya dan merasakan masakan Sehun. “Sehun-ah, supnya keasinan.”

“Benarkah? Padahal aku sudah mengikuti resepnya dengan benar.” Sehun mengambil sesendok lagi dan memasukkannya pada mulutnya sendiri. Sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah. Tepat, supnya tidak hanya asin tapi sangat.

“Benarkan?” Tanya Yoona.

“Tak apa, garam bagus untuk orang sakit.” Alibi Sehun sangat bagus. Sejak kapan garam bagus untuk orang sakit?

“Setidaknya perutmu terisi.”

Selama beberapa saat, scene yang terlihat hanyalah Sehun yang menyuapi Yoona. Tidak bagus jika mengeluarkan suara saat makan.

Namun, suara ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya. Sehun meletakkan mangkuknya dan mengisyaratkan pada Yoona bahwa ia akan melihat siapa yang datang. Sehun keluar dari kamar dan membuka pintu rumah.

“Luhan?” Tidak membalas ucapan Sehun, Luhan hanya berlalu dengan begitu cepat dan sepertinya ia menuju kamar Yoona. Jangan tanya, Sehun langsung berdecak kesal dan mengikuti Luhan dari belakang.

Saat ia sampai dikamar Yoona, hei, Luhan menyuapi Yoona?!

Sehun menahan kesabarannya melihat obrolan mereka berdua. Perhatian! Sehun masih ada di sana dan tidak ada satupun yang mengajaknya bicara. Berulang kali ia melirik jam ditangannya dan rasanya waktu terasa sangat lambat. “Kapan dia akan pergi? Mengganggu saja.” Gumamnya pelan.

“Kau tak apa jika aku kembali ke sekolah?”

Yoona mengangguk menjawab pertanyaan Luhan. “Kau harus kembali sekarang. Ada Sehun di sini.”

Luhan berdiri dari tempatnya dan mengecup kening Yoona. “Baiklah. Kau harus lekas sembuh, oke? Kita akan bertemu besok di sekolah. Sampai jumpa.”

Sehun yang berdiri diambang pintu segera menutup pintunya kala Luhan sudah pergi. Dengan wajah kesal ia kembali duduk. “Kenapa dia bisa ke sini? Kau menyuruhnya? Apa aku saja tidak cukup? Terlebih dia mengecup keningmu.”

Aku saja tidak pernah. Batin Sehun.

Yoona tertawa agak keras dan menepuk bahu Sehun. Oh lihat, sepertinya ia sudah punya banyak tenaga sekarang. “Kenapa Luhan bisa ke sini?” Ulang Yoona. “Aku tidak menyuruhnya, aku hanya memberitahunya. Kau saja sudah cukup, Sehun. Tapi karena Luhan datang, ku pikir itu bagus. Dan aku tidak tahu tentang kecupan itu, aku tidak memintanya.”

“Akting polosmu selalu saja bagus, nona.”

Keesokan harinya, Yoona sudah lebih baik dan ia memaksa agar Sehun mengizinkannya masuk sekolah. Jika ia tidak masuk, tugas yang menumpuk akan membuatnya benar – benar gila.

“Yoong, kau sudah lebih baik? Aku dengar dari Luhan bahwa kau sakit.” Yuri langsung mendekati Yoona yang sedang berjalan dikoridor sekolah bersama Sehun. “Ya, aku lebih baik sekarang. Gomawo.

“Kurasa Luhan menyukaimu, Yoong.” Sehun melirik Yoona dengan ekor matanya, ia berdehem kecil. Yoona malah menatap Sehun dan menjitak kepalanya. “Apa yang kau bicarakan, Sehun? Aneh – aneh saja.”

“Kurasa juga begitu.” Timpal Yuri. “Bagaimana kalau dia menyatakan perasaannya, Yoong?” Lanjutnya.

Sehun menoleh dan melihat wajah Yoona. “Pria jenius dan kaku sepertinya bukan tipeku, Yuri. Lagipula aku sudah punya seseorang yang aku sukai.”

“Siapa?” Bukan Yuri, tapi Sehun. Pertanyaan itu tiba – tiba terlontar dari mulutnya.

“Bukan urusanmu, tuan Oh. Meh-rong~” Yoona menjulurkan lidahnya kemudian berlari bersama Yuri menuju kelasnya.

“Siapa pria yang disukainya?”

Fisika.

Yah, sangat tidak beruntung. Masih pagi sekali dan otak harus penuh dengan rumus – rumus fisika yang… kalian sudah tahu bagaimana. Sehun lebih memilih memejamkan matanya dan meletakkan kepalanya di atas meja. Beruntung mereka duduk dibarisan belakang.

Yoona melihatnya, tapi ia tidak berusaha membangunkan Sehun.

“Sehun, kau lelah, ya?” Bisik Yoona pada telinga Sehun.

“Untuk kemarin, aku berterima kasih.” Lanjutnya lagi.

Sehun membuka kelopak matanya dan tersenyum—dan itu mengagetkan Yoona. “Apa kau tidak berpikir bahwa ucapan terima kasih saja tidak cukup?” Yoona keheranan dan mengerutkan dahinya. “Memangnya kau menginginkan apa?”

“Beritahu aku, siapa pria itu?”

“YAK!” Ups, Yoona berteriak. Seisi kelas mengalihkan perhatiannya hanya pada mereka berdua sekarang. Sehun mendengus kesal, thanks to Yoona.

“Kalian tahu apa hukuman bagi siswa yang mengobrol dipelajaran saya.” Kim sonsaengnim memandang Yoona dan Sehun dengan tajam. Ia menuju pintu dan membukanya. “Keluar!”

“Bagus, kau membuatku tidak bisa mengikuti pelajaran.” Omel Yoona. Sehun mencubit pipi Yoona kemudian tertawa kecil. “Kita tidak akan dikeluarkan jika kau tidak teriak. Itu bukan salahku.”

“Aku teriak karena dirimu, bodoh.”

Sehun mengedikkan bahunya tidak peduli, toh ketinggalan satu pelajaran saja tidak akan membuat mereka tidak naik kelas. “Jadi, siapa?”

Yoona yang semula melihat ke dalam kelas melalui jendela mengalihkan pandangannya pada Sehun. “Siapa apanya? Akhir – akhir ini kau sedikit aneh, Oh Sehun.” Yoona kembali melihat ke dalam kelas dan berusaha menangkap apa yang diajarkan Kim saem meski suaranya tidak terdengar sangat jelas.

“Jangan berpura – pura. Aku tahu kau tahu maksudku. Siapa dia?”

Merasa tak ada jawaban, Sehun memperjelas pertanyaannya. “Siapa pria yang kau sukai?”

Yoona memutar bola matanya bosan, ia menghela nafas dan berusaha mengabaikan Sehun dengan tetap memperhatikan Kim saem. Meski kenyataannya ia tidak bisa konsentrasi sama sekali karena Sehun.

Sehun mendekatkan wajahnya pada wajah Yoona hingga hembusan nafasnya terasa mengenai pipi Yoona—Yoona berusaha untuk tidak menoleh, oh tuhan, Sehun membuat degupan jantungnya semakin kencang.

“Apa Kim saem lebih menarik dariku sehingga kau lebih memilih memandangnya, hm?” Tidak Oh Sehun, nada manjamu membuat Yoona hampir saja menoleh dan ingin mencubitmu.

“Aku akan mencium pipimu jika kau tidak juga menoleh.” Yoona segera mengangkat tangannya untuk menutupi pipinya, namun sial, tangan Sehun lebih cepat dari yang ia kira.

Pada akhirnya, Yoona menoleh. Yoona berusaha keras agar rona wajahnya tidak terlalu lihat karena jarak antar wajah mereka yang terlampau sangat dekat. “Semua orang akan memperhatikan kita karena wajahmu yang sedekat ini denganku.”

Sehun tersenyum manis. “Nafasmu harum mint.”

“Aku tidak memintamu mencium nafasku, Oh Sehun.” Ya tuhan, apa yang membuat Sehun menjadi seperti ini? Apa ia belajar trik menggoda atau semacamnya?

“Kau memintaku untuk mencium apa?” Sehun mendekatkan wajahnya, dekat dan semakin dekat. Yoona segera memalingkan wajahnya, tapi tangan Sehun menangkup wajahnya dengan lebih cepat. Yoona tidak bisa berbuat apa – apa selain memegang roknya erat – erat dan memejamkan matanya.

CHU~

Bibir keduanya saling bertemu.

Dalam perjalanan pulang, Yoona diam saja, begitu juga Sehun. Tindakan nekat Sehun tadi sungguh tidak bisa hilang dari pikiran Yoona. Oh Sehun, kenapa kau selalu membuat Yoona gila?

Yoona memegang bibirnya, dan gerakan itu ditangkap oleh iris mata Sehun. Ia berdehem pelan, berusaha santai karena sebenarnya ia juga agak gugup. “Aku tidak akan menciummu tadi jika kau memberitahuku siapa dia.”

“Itu bukan alasan yang bagus, Sehun.”

Sehun merangkul Yoona dan tertawa, tentu saja tawa yang dibuat – buat. “Itu hanya ciuman, oke? Lagipula kenapa kau marah? Luhan mencium keningmu dan kau tidak marah sama sekali. Anggap saja ciuman itu sebagai ucapan terima kasih karena aku telah merawatmu kemarin.”

“Kau mencium bibirku, kau mengambil first kissku.” Yoona melempar tatapan tajam pada Sehun. Sebenarnya ia tidak marah, sungguh. Hanya saja ia sangat malu. Ayolah, siapa yang tidak mau orang yang kau cintai mencium dirimu? Tapi tidak begini caranya. Yoona ingin Sehun mencium dirinya karena ia mencintainya. Bukan hanya asal cium seperti tadi, bahkan Yoona yakin Sehun sudah mencium banyak gadis dengan bibirnya itu. Ah, pikiran itu jadi mengganggunya sekarang.

“Kau terlihat baik – baik saja karena kau telah mencium banyak gadis sebelum aku, tapi ini yang pertama kalinya bagi—”

“Ini juga yang pertama bagiku.” Tukas Sehun. Ia menatap Yoona dengan tatapan serius. Keduanya berhenti berjalan dan saling bertatap muka untuk waktu yang cukup lama. Sehun tersenyum dan mangacak rambut Yoona. “Maafkan aku untuk ciumannya. Sekarang masuklah, kita sudah sampai di depan rumahmu.”

Yoona menoleh ke belakang, ia tidak sadar kalau mereka sudah sampai. Tanpa berkata apapun, Yoona membuka pintu gerbang dan berjalan perlahan dengan pandangan yang terus melihat sepatunya. “Ini yang pertama baginya juga?”

Yoona tersenyum dan semburat merah tomat menghiasi pipinya. “Jadi, aku yang pertama untuk Sehun?”

“Kau juga akan menjadi yang terakhir.” Langkah Yoona terhenti, ia segera membalikkan badannya karena suara Sehun yang tiba – tiba memasuki pendengarannya. “K-kau belum pergi?”

Sehun berdecak dan menyisir rambutnya dengan jari secara terburu – buru. “Sebenarnya aku tidak berniat mengungkapkannya sekarang, tapi, yasudahlah.” Sehun mengambil nafas dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan.

Ia memberanikan dirinya untuk menatap Yoona dan menggenggam kedua tangan gadis itu. “Aku tidak ingin Luhan mengambilmu dariku.”

DEG. DEG. DEG.

Jantung Yoona berdetak sangat cepat! Yoona meneguk salivanya dan berusaha untuk tetap tenang. “Apa.. maksudmu?”

“Sejak pertama kali kita bertemu, ku pikir kau sangat istimewa.. dan cantik. Kau sangat cantik, Yoong. You’re the most beautiful girl I’ve ever met, I swear.” Sehun memberi jeda sebelum kalimatnya berlanjut. “Kau pernah dengar love at first sight? I know it’s make nonsense. Tapi..” Sehun menghembuskan nafasnya.

“Tapi aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu.”

Yoona awalnya tersenyum kecil, tapi lama – lama ia tertawa. “Kau tidak bercanda ‘kan, Oh Sehun? Jangan mempermainkan aku.”

“Aku serius, Yoong. Jadi, apa jawabanmu?”

Yoona terperanjat. Im Yoona! Ini adalah saat – saat yang sangat kau harapkan selama ini, ayo jawab sekarang. Kata ‘ya’ itu seperti menyangkut ditenggorokannya. “Aku harap pernyataan cintaku ini tidak akan mengubah persahabatan kita jika kau menolak—”

“Ya. Aku juga mencintaimu, Sehun.”

Sehun tersenyum puas. Ia berteriak untuk mengekspresikan kebahagiaannya. “AAAAA! Kau serius ‘kan, Yoong? Jadi kita sepasang kekasih sekarang? YEAY!” Sehun memeluk Yoona beberapa kali dengan erat.

Sehun melepasnya dengan wajah berseri – seri, pendaran cahaya dari matanya sangat menyilaukan. Tangannya yang awalnya memegang bahu Yoona kini beralih meraih wajah Yoona. “Sekarang aku bebas menciummu ‘kan?”

Yoona lagi – lagi tertawa, namun kemudian ia mengangguk. Dengan cepat, Sehun menempelkan bibirnya pada bibir Yoona. Bukan kecupan, tapi ciuman lembut—tidak memaksa dan kasar. Sehun mempelajari berbagai jenis ciuman dari drama yang ia tonton hanya untuk belajar bagaimana caranya mencium Yoona. Agak memalukan, sebenarnya.

So this is.

T H E E N D.

Hei, guys. Long time no see😄 haha. /no one was waiting for me/. Hampir satu bulan lebih sejak ngirim ff yang ‘Run Away’ dan sampe sekarang stuck karena writer’s block. Setiap ada depan laptop diem aja ngelamun. Apa yang mau ditulis, nid? Haha. Setidaknya bisa nulis fanfic dengan konflik sederhana kaya gini lah ya. Semoga suka!

But, so far, there’s two fanfiction I’ve prepared. And Yoonhun is a pairing on one of that fanfiction. Although it’s maybe take a little bit more time to finish it, but i’ll try my best. Terima kasih sudah membaca. Comments are very welcome~

59 thoughts on “[Freelance] You’ve Fallen For Me

  1. Critanya bgus..
    Suka dgn karakter Sehun d.sini.
    Truz critanya ringan, gk ad konflik bsar gtu..
    Suka deh pkoknya😉

    keep writting thor!

  2. Yang dicium Yoona, tapi KENAPA AKU YANG NGE-FLY?????

    Yang Cemburu Sehun, kenapa aku juga nge-fly??

    Njayy, Feel-nya dapett bangett dah.. Oh mi gode, ffnya cooo cweettt banget… sempet takut2 sih, kalo endingnya nanti Sad.. trnyata ttp happy-end (Yeay)

    Aduuuhh… KEREN deh, ffnya.. So sweetnya minta ampunn!!!

    Ditunggu ff lainnya

  3. Sweet banget elah..bikin senyum2 sendiri.
    Ff nya simple tpi sweet bgt, feel nya dpt.
    Ff nya juga lucu hehe
    Ditunggu ff-ff selanjutnya
    Keep writing thor….

  4. Baca fanfictmu bikin senyum2 gaje chingu..
    Konfliknya ringan. Bahasanya bagus. Alurnya juga gak kecepetan.. Ini bagus!
    Apalagi castnya YoonHun.. Keren ini mah..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s