[Freelance] Yeoboseyo

yeoboseo

YEOBOSEYO ?

Fururu fuyu present

Cast : Im Yoona – Oh Sehun

Other cast : Sooyoung, Kris, Tiffany, Hyoyeon, Yuri, Jessica

Genre : School-life, Friendship, and Romance

Length : Oneshoot

Rating for : PG-17

Disclaimer : Im Yoona and Oh Sehun is not mine

Ayo! GG! Yeah yeah..

Bunyi dering ponsel memecah keheningan pagi di sebuah ruangan bermeja makan –yeah ruang makan, tangan lentik milik satu satunya penghuni apartemen menggapai ponsel yang ia simpan disamping gelas susu di atas meja makan, dengan roti dimulut gadis itu –Yoona, mengernyit saat netranya menangkap sederet nomor ber identitaskan ‘Unknown’ di ponselnya, tak mau mati penasaran gadis itu mengangkat panggilannya.

“yeoboseo ??”

Bisakah kau cepat sedikit, aku bosan menunggumu

DEG salah satu organ tubuh Yoona berkontraksi mendengar suara di seberang telepon, ia seperti hapal suara itu,milik seseorang. dia..

“Kau bicara apa?” Walau terkejut dan bingung tak dipungkiri dia ‘pun penasaran siapa pemilik suara bariton yang mampu menggetarkan salah satu organ vitalnya di pagi ini, “dan kau siapa?”

Terdengar seseorang disebrang sana mendengus

Jangan bercanda! Cepatlah gunakan kaki panjangmu itu untuk melangkah, aku bosan disini menunggumu

“Siapa juga yang bercanda, dan siapa suruh kau menungguku!” Hilang sudah rasa penasaran dan harapannya, perasaan hangat yang tadi hinggap di dadanya kini menguap entah kemana tergantikan oleh rasa dongkol dan sebal. Harinya yang tenang terganggu oleh telepon salah sambung, gadis itu juga kesal seseorang disebrang telepon sana berbicara dengan intonasi yg tinggi. Sudah salah sambung tidak sopan pula.

Ayolah soo tidak ada waktu untuk bercanda, kita hampir terlambat jika kau tetap diam”

Dan apa lagi ini soo ? benarkan kataku dia salah sambung. Soo ? jelek sekali namanya.cih

Kau salah sambung bodoh!” Yoona segera memutuskan panggilan tersebut. Membanting ponselnya ke atas meja, mengambil segelas susu dan menegaknya sampai tak tersisa. Entah angin darimana dia merasa begitu emosi dan tenggorokannya sangat kering. Shit. Gara gara penelepon sialan itu pagi Yoona begitu terasa melelahkan, padahal itu hanya bercakap-cakap sedikit tapi terasa begitu menguras tenaga.ck

Ayo! GG! Yeah yeah..

Ponselnya kembali berdering saat tangan gadis beriris madu itu hendak menyentuh pintu. Ia menghentikan pergerakannya, meraih ponsel, dan lagi lagi ia kembali berdecak kesal. Dengan menggeser gagang telepon di screen nya ia menerima panggilannya.

“Apa kau tidak mendengarku, ku bilang kau salah sa-“

“Dengar Sooyoung! Leluconmu sangat tidak lucu. Sekarang kau cepat keluar dari rumah dan berlari kencang ke halte, aku tidak ingin di hukum oleh Han seonsaengnim karena terlambat, kau tau kan guru botak itu sangat kejam”

Melangkahkan kaki, gadis itu keluar dan menutup pintu apartemennya, dengan wajah yang kelewat jengkel ia mendesis.

“Dan dengarkan aku juga ‘orang asing’-yoona menekan suaranya- aku tidak peduli kau mau terlambat lalu di hukum oleh guru botak yang kau sebut-sebut itu karena aku tidak mengenalnya, dan aku tidak peduli mau guru botak itu kejam seperti Voldemort atau tampan seperti Edward Cullen, aku tidak peduli. Dan yang membuatku lebih tidak peduli adalah AKU TIDAK MENGENALMU SAMA SEKALI. Sudah !” Yoona memutuskan panggilan, dan nafasnya terengah-engah saking panjangnya ia berbicara dan dalam satu tarikan nafas.

Ayo! GG! Yeah yeah..

Sederet nomor asing yang sama, barisan angka yang sama dengan yang menggangu ketenangan pagi indahnya, menguras emosi, jiwa dan raganya. Mau apa lagi sih dia?

“Kau itu bodoh atau apa ? sudah kubilang salah sambung!”

Ada jeda sejenak dari ujung sana sebelum kata ‘oh’ terdengar di sebrang line.

“Ya” singkat, padat dan jelas, sejelas jelasnya kata ‘ya’ menjadi jawaban gadis bersurai cokelat madu itu.

Hening

“eum..”

Yoona kira si penelepon sudah menutup panggilannya, tapi ketika tangan gadis itu hendak menjauhkan benda persegi panjang dari jangkauan telinganya seseorang di sebrang sana bergumam. Mungkin orang itu akan minta maaf, fikir Yoona.

“Memangnya benar kau tidak tau ? Han seonsangnim, dia sangat kejam loh! Dia bahkan lebih kejam dari Voldemort jika kau tau, minggu lalu aku di hukum keliling lapangan 20 putaran saat aku terlambat masuk kelasnya, padahal Cuma telat 10 menit. Benar kau tidak tau?” Pertanyaan yang terkesan innocent itu membuat darah di kepala gadis itu mendidih .

“TIDAKK” Dan itu adalah jawaban final seorang Im Yoona sebelum memutuskan panggilannya. Poor

Yoona berjalan santai keluar dari kawasan apartemennya, sesekali mengecek jam di pergelangan tanganya, oh baru jam 07.45, batin Yoona santai. Tunggu! Tapi gadis itu merasa ada yang aneh, di cek lagi benda yang berdetak di pergelangan tangannya. Dan mata bulat itu semakin membulat saat dibuat terbelalak .”OH TIDAK DEMI KOLOR SEQUIDWORD!, 15 menit lagi gerbang ditutup, AKU KESIANGAAANN”

Dan gadis itu berlari kesetanan menuju halte bus, mulutnya tak lupa komat kamit mengutuk sang penelepon salah sambung yang membuatnya kesiangan begini.

Meanwhile

Seorang gadis jangkung berpipi tembem tak henti-hentinya tertawa, membuat lelaki pirang di sebelahnya jengah sekaligus kesal karena menjadi objek tawa si gadis jangkung.

“Shut up or get out of my car now, soo!”

“hahah baiklah, demi menyelamatkan uang jajanku, aku diam “ ucap sang gadis tertahan menahan tawa mati-matian.

“tapi..yang benar saja, berani sekali dia menyebutmu bodoh, metode mu benar-benar konyol mate” si gadis jangkung bersuara lagi.

Si pirang berdesis tak suka “Diamlah, atau kucabut kotak tertawamu agar kau tak bisa tertawa lagi seumur hidup, Sooyoung!” ia kesal sekaligus malu diledek seperti itu bahkan oleh sahabatnya sendiri. Ia tahu, sangat tahu malah, apa yang dilakukannya itu benar-benar konyol. Tapi ia tak peduli.

“ouch, kau kejam sekali mate” si gadis meringis mendengar nada dingin dari sahabatnya.

whatever”

Jam makan siang, suasana cafetaria di sekolah Parang High School terlihat begitu ramai, para murid sibuk bercengkrama dengan murid lainya, tak tertinggal juga 5 gadis di meja pojok bagian cafetaria, ekspresi yang mereka hasilkan berbeda-beda. Ada yang wajahnya merah seperti kepiting rebus karena menahan malu –Yuri, ada yang berwajah dingin –Jessica, ada yang tertawa keras sampai wajahnya ikut memerah seperti yuri –Hyoyeon, ada pula yang memukul-mukul meja sebagai pelampiasan tawanya –Yoona, dan ada juga yang memegangi perutnya, sakit perut terlalu banyak tertawa –Tiffany. Intinya mereka semua sedang bahagia, yeah anggap saja begitu.

“bwhahaha..jadi kau menciumnya di kencanmu semalam jes ?” pertanyaan terlontar dari gadis ber-eyesmile yang sedang memegangi perutnya.

“Yeah begitulah, tak kusangka bibir yuri manis juga” meskipun di ucapkan dengan mimic stoic andalanya, tapi jawaban ice princess itu membuat wajah yuri terbakar saking malunya.

“Sialan kau jess! Aku bersumpah tidak akan pernah mau pura-pura jadi pasangan lesbimu lagi, brengsek”

“Tidak akan yuri sayang, kemarin yang terakhir, mama sudah menyerah menjodoh-jodohkan ku dengan anak kolega bisnisnya karena melihat kita kemarin, terimakasih ya,” Jessica tersenyum tipis, tipis sekali. Walau bagaimanapun gadis es itu berterima kasih pada sahabatnya karena telah membantu membodohi ibunya, ia terpaksa melakukan itu karena tak tahan sang ibu terus saja mengirimnya ke kencan buta bersama anak kolega bisnis ibunya, ia jengah.

“Sayang kepalamu botak! Aku malu setengah mati bodoh! Kau mengambil first kiss ku terlebih disana ada suho”

“phahahah..suho? suho ketua osis favorit kamu yul? Haha..kau keterlaluan jess..haha..” itu yoona yang telah berhenti dari kegiatan –mari-memukul-meja-sepuasnya-.

Ayo! GG! Yeah yeah..

Perhatian yoona teralihkan pada bneda persegi panjang yang bordering di saku blazernya, kebiasaan Yoona mengangkat telepon tanpa melihat Id peneleponnya

“Yeoboseyo ?”

“Cepat keluar aku ada di depan kelasmu soo-ah” suara baritone itu lagi

Yoona mengecek ulang nomor yang tertera di layar ponselnya untuk memastikan, benar. Sederet nomor asing yang sama dengan yang meneleponnya tadi pagi.

Karena terlalu berisik dengan tawa dari teman-temannya mebuat suara si penelepon terdengar tidak jelas, yoona member kode kepada teman-temanya ijin untuk mengangkat telepon, setelah mendapat respon berupa anggukan dari Hyoyeon, yoona pun pergi ke tempat yang tidak terlalu ramai.

“Ya tuhan, tadi di halte sekarang di kelas, nanti dimana lagi, di kamar hah? “ sembur gadis itu begitu sampai ditempat agak sepi

“ cepatlah soo, aku lapar ingin ke cafetaria” suara baritone itu merengek, yoona merinding dibuatnya.

“Aku memang sudah diluar kelas bodoh!, jangan pernah menghubungi nomor ini lagi, aku bahkan tidak tau kau siapa, kelasmu pun aku tidak tahu!” gadis itu menggerutu sepanjang perjalanan menuju meja yang di huni teman-temanya.

“siapa?” Tanya hyoyeon heran melihat air muka sahabat gembulnya keruh

“salah sambung menyebalkan” jawab yoona santai sambil menyedot susu strawberry pesanannya.

Ponsel di saku blazernya kembali berdering, tapi kali ini bukan suara penyanyi favorit gadis itu yang terdengar, melainkan hanya suara ‘Ting’, menandakan sebuah pesan yang masuk. Si penelepon salah sambung tadi yang mengirimnya pesan.

Soo-ah, aku tidak percaya kau lupa dengan kelas sahabatmu sendiri, sahabat macam apa kau😦

 

XI B sebelah kelasmu soo

Yoona hanya membacanya sekilas, sebelum kembali memasukan ponsel ketempatnya semula. Kelas XI B yah ? batin yoona, mengingatnya membuat yoona tersenyum sendiri, kelas XI B memang memiliki sesuatu dengan yoona, yah bukan sesuatu yang magis dan membahana maksudku, lebih tepatnya din kelas itu ada seseorang yang ‘sesuatu’ bagi yoona, sesuatu yang special mungkin.

“Ayo!” gadis itu tersentak dari alam bawah sadarnya ketika satu persatu sahabatnya berdiri meninggalkan meja cafetaria.

“eh kemana?” Tanya gadis bersurai madu masih belum pulih dari masa transnya

“ke kelas lah, kemana lagi, cepat kau belum mengerjakan pr matematika, kita nyontek pr seohyun” ucap tiffany si gadis ber-eyesmile.

“eh iya, sebentar” yoona menenggak susu strawberry yang tinggal separuh itu hingga habis.

Gadis itu berdiri hendak pergi dari meja cafetaria jika saja sosok yang tengah berjalan ke arahnya tidak membuat gadis itu memaku.

“Permisi, kau sudah selesai kan, aku dan teman-temanku ingin duduk disini” si pemuda pirang tersenyum kecil.

Suara khas pemuda itu membuat tubuh yoona merinding, dadanya bertalu talu begitu kontrasnya dengan gelitikan perutnya yang semakin menjadi saat ia melihat senyum tipis pemuda itu. Kaki yoona tidak kuat lagi, yoona meleleh. Demi sepongebob! Seseorang tolong selamatkan yoona sekarang juga.

“Ayo yoong, cepat kita harus menyalin pr matematika seohyun dulu keburu bel masuk” dan spongebob nampaknya sangat menyayangi gadis ini, buktinya sang pahlawan Tiffany datang menyelamatkan.

Wajah yoona memerah layaknya bintang laut bikini bottom menyadari perkataan dari sahabat seperjuangan menyonteknya. ‘sialan tiffany! Memalukan! Kenapa dia bicara seperti itu di hadapan Edward Cullen-ku sih’ inner yoona mengutuk.

Wajah gadis itu kian memerah parah saat terdengar kekehan geli dari 3 orang di hadapannya. Ingin rasanya ia mengubur diri di tengah tengah hutan belantara yang tak seorang pun pernah kesana, ya ampun yoona malu sekali, rusak sudah imagenya di hadapan sang pujaan hati.

10.00 pm. Yoona sudah tertidur pulas di singgasana empuknya, dia tengah bermimpi indah tentang si Edward Cullen versi yoona, memimpikan si lelaki dingin itu menciumnya dan menjadikannya kekasih. Seharusnya di mimpi itu yoona sudah menerima si Edward Cullen, ya seharusnya begitu jika saja –

Ayo! GG! Yeah yeah..

­-sesorang tidak meneleponnya, lagi. Yoona mengangkat panggilannya tanpa melihat ID si penelepon –ingat kebiasaan.

“Yeoboseyo ?” suara yoona serak

“soo-ah kau tidak jadi main ke rumahku mala mini ?” suara baritone itu lagi

“nggh” Yoona bergumam tidak jelas, teralalu mengantuk untuk meladeni orang asing tidak jelas yang selalu salah sambung.

“Ya! Setidaknya telepon atau kirim pesan kalau tidak jadi datang, jangan membuatku menunggu seperti orang bodoh”

“kau kan memang bodoh” Yoona memperbaiki posisi tidurnya sembari sesekali menguap dengan ponsel menempel di telinganya.

“kau sudah mengantuk yah?” ada nada kecewa dari suara baritone tersebut.

“hmm..kau bahkan membangunkanku yang sedang tidur” Yoona memejamkan mata

“tapi aku tidak bisa tidur” suara baritone itu merengek, lagi-lagi yoona merinding.

“lalu ?” sungguh yoona mengantuk sekali, bisa-bisanya ia mengangkat telepon dari orang tidak jelas, mengganggu kualitas tidur cantiknya saja.

Ada jeda yang di isi keheningan antar sambungan telepon tersebut, yoona berfikir mungkin si penelepon sudah memutuskan panggilannya, karena itu dia mulai memejamkan matanya. Tapi matanya kembali terbuka saat seseorang di sebrang telepon berbicara.

“eum..nyanyikan aku lagu penghantar tidur, twinkle-twinkle little star” minta si penelepon lirih.

“mmm” gadis itu bergumam sebelum bersiap siap mengaktifkan mode speaker pada ponselnya, ia letakan benda persegi panjang itu di sisi bantal, lalu ia sendiri berbaring menghadap ponselnya, sedikit mendengus sebentar kemudian bernyanyi.

Enath karena teralalu baik atau karena terlalu mengantuk untuk berteriak –menolak permintaan si penelepon, yoona menurutinya. Ia tahu mungkin ia jelmaan dewi karena terlalu baik pada orang lain, tapi tak apa, fikirnya berbuat baik sebelum tidur tidak ada salahnya, mungkin dengan begitu Edward Cullen-nya akan datang kemimpinya lagi jika dia berbuat baik. Pemikiran yang mulia.

Gadis itu diam sesaat saat nyanyianya selesai, yoona tidak kuat lagi. Ia mengantuk, matanya terpejam, kesadarannya setengah hilang terlelap bersama sang bulan, sebelum kesadaranya sepenuhnya hilang suara baritone itu menyuara “gomawo, jalja” .di sadari atau tidak gadis bersurai madu itu tersenyum di dalam tidurnya, mungkin Edward Cullen benar-benar datang ke dalam mimpinya.

Ayo! GG! Yeah yeah..

­

Lagi. Keheningan pagi gadis bersurai madu itu terganggu oleh suara dering telepon, Yoona sudah memperkirakan pastilah sederet nomor-asing-sialan tanpa ID itu lagi yang mengganggu sarapan cantiknya.

Dengan roti di mulut, Yoona meraih ponsel, menggeser icon gagang telepon di layar untuk menerima panggilan.

“apa lagi sekarang ?”

“aku sedang bosan menunggu sooyoung” ucap suara baritone itu sedikit merajuk

“memang siapa yang tanya ?” tanya yoona ketus tapi tak di indahkan sang baritone

“sooyoung mana ya, aku bosan menunggunya terus” ia mendengus

“kalau bosan kenapa tidak duluan saja ?” yoona meneguk susunya

 

“kalau aku meninggalkannya, dia akan marah-marah, dia sangat menyeramkan saat marah. Seperti Mr.Snape temannya voldemort itu” bisa dibayangkan Yoona si penelepon pasti sedang bergidig ngeri.

“hey Mr.Snape itu bukan temannya voldemort. Diam saja jika tidak tahu! Eh, kau tidak menganggapku sooyoung lagi. Lalu untuk apa kau menghubungiku ? dasar bodoh!.”

“ah, itu Sooyoung. Sudah dulu yah”

Sepeninggal sambungan telepon yang terputus Yoona memandang aneh ponselnya.

“Dasar aneh !” Yoona mengatai ponselnya yang ditujukan untuk si penelepon.

Yoona selesai dengan sarapan cantiknya. Membuka knop pintu dan menguncinya.ia melirik sebentar ke arah jam tangan. 07.26, aman.

Menjelang sore. Dengan tas punggung Rilakuma yang tersampir di bahunya, Yoona berjalan seorang diri di koridor sekolahnya, di temani keheningan Yoona melangkah cepat cepat. Walau bagaimana pun Yoona itu penakut jika kau ingin tau. Yoona menyalahkan para sahabat yang mencampakannya, jika saja Yuri dan Hyoyeon tidak rapat osis, jika saja Tiffany tidak terburu-buru pulang, jika saja si ice princess bukan ratu tidur pasti mereka bisa pulang bersama, Yoona juga menyalahkan dirinya yang tidak punya kegiatan seperti sahabat-sahabatnya.

Ayo! GG! Yeah yeah..

Mungkin Yoona sudah menghilangkan kebiasaannya. Kali ini ia melihat dulu ID penelepon saat ponselnya berdering. Tertera ‘unknown’ di layar touch screen-nya. Alis gadis itu naik sebelah, mau apa lagi dia ? inner yoona.

“jangan katakana kau sedang bosan menunggu Sooyoung, menanyakan dia dimana. Aku bukan cenayang jika kau tidak tahu. Aku bahkan tidak tidak tahu namamu, bahkan kelasmu dimana pun aku tidak tahu, jadi jangan bertanya yang tidak penting!,” Sembur Yoona.

“Eh ? aku kan sudah memberitahumu kelasku kemarin”

“Aku lupa, lagi pula untuk apa aku mengingat kelas orang asing yang tidak ku kenal, aku bahkan tidak tahu kau sekolah dimana.” Ucap Yoona cuek.

Eww, aku beritahu sekali lagi. Aku sekolah di Parang High School, kelas XI B, namaku.. eh ?” Tut..tut.. ucapan si penelepon terpotong dengan terputusnya sambungan telepon.

Gadis itu mengernyitkan dahi, “dia sekolah di Parang ? kelas XI B ? berarti sebelah kelasku?” Yoona mengedikan bahu tanda ia tak peduli. Hmm selain penakut ternyata dia juga pelupa.

Ia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, tapi baru beberapa langkah ia tempuh kakinya kembali berhenti. Tubuhnya mematung, jantungnya bertalu talu sangat keras sampai-sampai ia merasa ngilu di bagian alat pendetaknya, seluruh persendian gadis itu benar-benar lumpuh, matanya memandang lurus kedepan diamana pemandangan yang membuat nafasnya tercekat tersaji. Seorang lelaki pirang tengah memeluk erat seorang gadis yang juga balas memeluknya erat. Yoona kenal gadis yang di peluk Edward Cullen-nya, gadis yang sama yang ia lihat di cafetaria kemarin bersama Edward Cullen-nya dan seorang lelaki berwajah angry bird di sampingnya.

Tes..tes..

Tanpa permisi cairan bening turun dari pelupuk matanya, Yoona sesak. Ia lemah, karena itu ia berlari meninggalkan koridor itu sebelum cairan beningnya turun lebih banyak, membuatnya terlihat sangat lemah.

“Kau kenapa soo-ah ?” Tanya Sehun kaget saat tiba-tiba Sooyoung datang dan menghambur ke pelukannya, terpaksa ia memutuskan percakapan line teleponnya sepihak.

“Hun.. kris.. dia..hiks” suara lirih sooyoung di sela-sela isak tangisnya di dada Sehun.

“Kris, kenapa dia? Apa dia menyakitimu ?” dan jiwa protektif seorang kakak itu muncul saat orang yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu menangis, dia akan menghajar orang yang berani menyakiti adik tembemnya, meskipun sahabatnya sekalipun, kris.

“dia akan pergi ke Canada hiks.. dia akan meninggalkanku..hiks” Sehun mengelus saying kepala Sooyoung, berharap gadis itu akan tenang dengan perlakuannya.

“Ssstt..tenanglah.. dia tidak akan meninggalkanmu soo, bukankah dia hanya akan pergi 2 tahun, setelah itu dia akan kembali ke sini, bersama kita,” Mendengar penuturan sahabat lelakinya, tangis Sooyoung mereda.

Sehun melepaskan pelukannya pada Sooyoung. Menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya, ibu jarinya meneluri pipi tembem sooyoung menghapus jejak-jejak air mata di sana.”sudah angan menangis lagi, lebih baik kita pulang, oke.” Sehun tersenyum teduh, sempurnanya seorang kakak. Sooyoung hanya mengangguk lemah.

“jangan pernah menangis lagi, pipimu tambah tembem saat kau menangis” mata yang teduh itu berubah berkilat jahil.

“Sialan kau” Sooyoung berdesis

“Serius. Kau tambah jelek tau”

“Diam kau!” Sooyoung kembali berdesis. Walau begitu ia tetap berjalan, kepala tertunduk dan langkah diseret-seret.Ugh, betapa ini membuat Sehun gemas. Baru di tinggal segitu saja sudah seperti kehilangan semangat hidup. Drama

“Soo kau lamban sekali, sini ku gendong.”

“Seperti anak kecil saja,” Sooyoung bersungut.

Ani ! dimataku kau malah terlihat seperti nenek jompo yang menjada jika seperti ini” ucap si lelaki pirang tanpa dosa. Ooowww

“OH SEHUUUNN !!!!!!!!!” dan jeritan sayang dari si tembem menyadarkan Sehun, ia lupa satu fakta. Bodoh seharusnya bertahun-tahun bersahabat dengan sooyoung, gadis itu paling benci ada yang mengatainya jompo atau sesuatu yang merujuk pada kata ‘Tua’. Terakhir kali kris menyebutnya seperti pasien lansia saat dia jatuh sakit adalah badan kris remuk semua menjadi sasaran empuk bogem gadis itu. Seseorang panggil ambulans untuk sehun sekarang juga!

Yoona menggigit bibir bawahnya, mata yang sebening Kristal itu kini terlihat memerah, di tambah kelopak mata yang membesar, sembab. Di atas kasur, di lantai, dimana-mana tisu berserakan. Sungguh kondisi yang mengenaskan. Kacau mungkin salah satu kata yang menggambarkan keadaan Yoona pasca tragedy di koridor sore tadi.

Di saat ia terpuruk tak ada satu orang pun yang menemaninya apalagi menghibur. sungguh miris. Tiffany sedang ke luar negeri bersama keluarganya, ponselnya pun tidak aktif. Hyoyeon dan Yuri masih belum pulang rapat. Jessica? Tak ada harapan jika gadis itu sedang tidur.

Sudah pasti gadis itu sedih, dan ia butuh sandaran. Butuh tempat curhat ataupun seseorang yang menghiburnya. Sial, kenapa Yoona baru sadar bahwa kontak di ponselnya begitu sepi, hanya ada beberapa nomer disana. Nomor para sahabatnya, keluarganya, dan satu nomer asing. Ah yeah si unknown.

keluarga ? rasanya Yoona harus berfikir ribuan kali untuk bercerita tentang laki-laki pada keluarganya. Ia tak mau saat pulang nanti nyawanya habis terbakar oleh ledekan-ledekan sepupu-sepupunya. Mereka itu terlalu berlebihan. Sedangkan ayah dan ibunya, dia terlalu malu.

Dengan berat hati bermodalkan tidak tahu malu. Akhirnya gadis itu menghubungi satu-satunya kontak yang menjadi pilihan terakhir. Biar saja Yoona dikatakan tidak punya muka, urat malunya sudah putus saat tadi dia berteriak di tengah tangisnya. Toh, lagipula orang yang akan di telepon Yoona juga sama tidak tahu malunya dengan dia. Menurut mu menelepon malam-malam minta dinyanyikan lagu penghantar tidur itu tahu malu ? tidak.

“Yeoboseyo ? orang paling tampan di planet bumi ada disini, ada yang bisa saya bantu ?” setelahnya suara baritone itu terkekeh dengan candaan narsisnya sendiri.

“hiks..hiks..” Yoona kembali terisak

“Hey kau kenapa? Apa yang terjadi ?” suara baritone itu terdengar khawatir.

 

“Kenapa? Ceritalah”               

“Sesuatu telah terjadi hiks..hiks..” gadis itu semkin menggigit bibirnya.

“aku tidak tahu harus bercerita pada siapa lagi, semua sahabatku sedang sibu dengan urusan masing-masing, tapi aku butuh tempat curhat. Aku tahu mungkin kau menganggap kiu tidak tahu malu atau urat malu ku putus, tapi aku hanya ingin bercerita, anggap saja sebagai ganti kau yang memintaku menyanyikan lagu penghantar tidur untukmu, jangan ceritakan pada siapa siapa aku pasti akan-“

“ceritalah.” Potong si baritone

“huweee..aku sedang patah hati..hiks..tadi di sekolah aku melihatnya..hiks..dia memeluk pacarnya..-jeda untuk bernafas- bodoh sekali aku, harusnya aku tahu, orang sekeren dia pasti sudah punya pacar hiks.. bodohnya aku menyukainya bertahun tahun hiks”

Hening, yang terdengar hanya isak tangis yoona

“Memangnya siapa yang kau sukai itu ?” suara baritone itu kembali terdengar setelah tenggelam dalam tangisan

“Oh sehun, teman sekolahku yang mirip Edward Cullen.” Nyaut Yoona tanpa sadar. Orang di sebrang sana terdiam untuk beberapa saat. Mungkin terkejut. Dan tangis gadis itu semakin pecah.

“Aku juga menyukaimu” bagai di tekan tombol stop, tangis Yoona langsung berhenti.

“Eh ?”

“Aku juga menyukaimu Im Yoona, dan yang tadi kupeluk itu Sooyoung, sahabatku.” Tukas suara di sebrang sana.

Yoona sadar dari masa trans-nya, jantungnya dag dig dug was-was, otak kecilnya sibuk mengingat-ingat apakah sekarang tanggal satu april, tapi dia yakin ko’ sekarang itu bulan juli. Apa April mop berubah jadi Jully mop? Tidak mungkin. Lalu, apakah ? Oh My God demi tubuh kecil plankton, apakah yang saat ini tengah ia telepon ini adalah..

“Sehun ?”

“Ya.”

Matilah aku

END

-GARIS

EPILOG

Terdengar suara seorang perempuan yang tengah bernyanyi di sebrang telepon. Suaranya indah, tidak salah lelaki itu meminta dinyanyikan lagu penghantar tidur. Suara merdunya membuai pemuda itu kea lam mimpi. Barulah setelah nyanyian itu selesai pemuda itu tersadar, berkat lagu penghantar tidur –atau mungkin seseorang yang menyanyikan-nya, lelaki itu jadi mengantuk. Jadilah ia memutuskan sambungan telepon-nya, tak lupa sebelum menutup panggilan-nya ia menggumamkan kata “gomawo, jalja”

“Sejak kapan Oh Sehun jadi se-cheesy itu ?” Eksistensi Kris hampir saja terlupakan karena Sehun terlalu sibuk menelepon. Sehun yang ditanya hanya mengedikan bahu dan tersenyum pada Kris.

“Siapa dia ?” tanya Kris penasaran

“Im Yoona”

“Wow, anak kelas sebelah yang selalu kau perhatikan itu ?” antusiasme Kris.

“Iya, dia.” Kris bertepuk tangan heboh, sungguh OOC

“Whoaa.. kau hebat” sehun menarik selimut sampai batas dada.

“aku tahu, sudah. Ayo tidur.”

“hey..hey..aku memaksa menginap disini karena ada sesuatu yang ingin ku beri tahukan padamu, bukan semata-mata ingin tidur satu ranjang dengan mu. Ayo cepat bangun”

“Sudah besok saja, aku benar-benar mengantuk”

“ck”

Bener- bener END

A/N : Anyeong! Aku freelance disini, maaf banyak kekurangannya, typo berserakan, aku berharap ada senior yang mau ngoreksi ff ini, seengganya sehabis baca. Itu juga kalo ada yang mau baca he..

96 thoughts on “[Freelance] Yeoboseyo

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s