18 [4]

 

zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

By Cicil

Main cast: Yoona and Jongin. Support cast: d’other in tagGenre: ini tentang siapakah pelakunya? Length: Chaptered.

*

“Rahasia…. lagi,”

*

Prolog || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3

 

 

Jongin mungkin bisa dibilang mampu berpikir cepat, tapi menurut Yoona, laki-laki itu selalu saja mengambil keputusan impulsif tanpa memedulikan akibatnya. Seperti sekarang, begitu Yoona berbisik pelan, menggumamkan nama Pak Jang,  keduanya menyadari bahwa pria itu memang benar-benar guru mereka, kendati bukannya menyapa sopan tapi Jongin sudah menariknya untuk berlari keluar dari ruangan.

Agak kurang ajar memang, tapi Jongin berpikir mereka harus cepat-cepat menghilang dari pandangan sebelum Pak Jang benar-benar 100 persen sadar, dan menghukum mereka, memasukan keduanya ke ruang BK, dan ya masalah akan menjadi sepanjang tol antar kota, mungkin.

Yoona tidak memiliki peluang selain bergegas mengimbangi langkah kakinya. Mereka mulai menaiki anak tangga menuju koridor kelas 11 sembari berharap tidak akan bertemu dengan Yixing, atau guru mata pelajaran lainnya.

Namun harapan mereka kemungkinan besar tidak didengar oleh Dewi Fortuna, mereka memang tidak bertemu Yixing atau Pak Jang tapi yang terjadi malah lebih buruk. Yoona bertabrakan dengan sahabatnya sendiri; Hani. Dalam hati, kalau boleh, Im Yoona ingin dunia menelannya sekarang juga.

“Oh, Yoong! Kau ke mana saja, hmm??” Hani mulai mengeluarkan jurus intimidasinya, dan Yoona benar-benar merasakan efek kelebihan yang dimiliki sahabatnya itu. Ia gugup, dengan terbata membalas, “A-aku.. aku.. a-aku pergi ke toilet dulu tadi. Sedang apa kau di sini, mencariku?”

“Tentu saja!” Pekiknya kecil, ketiganya berdiri melingkar di tengah koridor, tepatnya di jeda antara kelas 11E dan 11D.

Hani mulai berkacak pinggang. Oh, jangan bilang ia tidak menyadari keberadaan laki-laki yang disebut-sebut paling mempesona satu sekolah itu, bahkan tadi pagi ia baru saja berhasil memenangkan tender besar; dapat nomor telepon Kim Jongin. “Kau lama sekali, sampai permainan yang kami mainkan sudah berakhir dan kami masih menunggumu.”

Yoona memasang wajah bersalahnya. Kedua alisnya menurun sempurna dan matanya yang berkaca-kaca (ditambah efek memerah sehabis menangis sedari tadi) akhirnya meluluhkan sedikit dari amarah Hani. “Oh, baiklah. Aku kalah dalam permainan terakhir, jadi aku menyusulmu dan membantu membawa barang titipan. Ayo, kita ke kelas–”

“Jangan!” Yoona langsung menahan Hani, begitu juga dengan Jongin yang bergerak ke samping dan menghalangi jalannya. Bahkan keduanya menerikan kata yang serupa di saat yang sama. Katakan mata Hani bisa saja mulai malfungsi karena pada momen ini ia baru menyadari ada Kim Jongin di depannya. Saking terkejutnya ia mengambil selangkah mundur.

Hani tidak bisa berkata-kata, tenggelam dalam rasa kaget yang menghanyutkan, jadi Yoona mengambil kesempatan itu untuk memberikan segala macam alasan dari berbagai benua yang bisa ia pikirkan supaya sahabatnya itu tidak jadi membantu. “Tidak usah. Jangan. Aku sibuk–bukan, bukan, aku tidak kerepotan. Tapi.. oh, tentu saja aku pasti kerepotan. Tapi kau tidak perlu. Tidak usah.. eugh!” Yoona menggerang kesal, sama sekali gagal mendeskripsikan alasan-alasan yang ada di otaknya, sekelebat ia berpikir ternyata hari ini masih jadi hari tersial untuknya, ya.

Hani terbengong mendengarnya, “Kau…. bilang…. apa?” Kali ini suaranya kedengaran lebih lembut, tentu Yoona bisa membaca pikiran gadis itu. Hani pasti tidak ingin terlihat buruk di mata Jongin, lagipula semua siswi yang sudah seperti memujanya itu pasti melakukan hal serupa, tidak ada yang ingin tampak kurang saat berhadapan dengan orang yang disukai.

“Biar aku saja yang membantu Yoona. Kau pasti lelah, bergabung saja dengan yang lain. Dalam sekejap barang titipannya pasti sudah sampai.” Jongin menginterupsi dengan tenang, Yoona akui suara bassnya lumayan mempesona. Aksaranya ibarat seorang tukang pos yang salah mengirim paket dan bersedia kembali untuk mengambilkan barang yang tepat.

Hani tak bisa berkutik lagi, ia langsung saja menyetujui saran Jongin dan menganggukan kepalanya…. atau mungkin memberi sedikit timpalan “You do care, tapi ada beberapa titipan tambahan dari yang lain sementara kalian tidak tahu. Aku harus ikut.”

Hani melangkah maju, namun lagi-lagi lekas ditahan oleh Yoona dan Jongin. “Beritahu saja apa tambahannya.” Tutur Yoona memaksa, sementara Hani memandangnya jengkel. Ia seperti mengirim sinyal ingin-lebih-lama-berada-satu-radius-dengan-Jongin lewat mata pada Yoona, tapi diabaikan dan hanya dibalas ringisan kecil, apalagi melihat gestur wajah Jongin yang amat setuju.

Hani menyerah. Tampang Jongin kini sudah seperti posisi kepala sekolah di hati dan pikiran Hani, apapun yang dikatakan Jongin, ingin selalu ia setujui. “Yasudah, aku kembali ke auditorium dulu, ya. Jangan lupa, Taehyung minta diambilkan buku matematikannya dan Jimin mau–ehm.. kau ambil saja satu-satunya pena di mejanya. Dan jangan lama-lama, oke?” Tekannya di kalimat terakhir untuk Yoona. Hani mulai berjalan mundur sembari melambaikan tangan pada Yoona dan Jongin, walaupun memang sebenarnya lebih tertuju pada Jongin.

Setelah Hani menghilang di balik belokan koridor. Keduanya langsung mendesah lega. Lebih lega dari selesai mengerjakan ujian matematika yang kesulitannya tingkat dewa.

Karena bingung harus mencari bukti ke mana lagi, akhirnya Jongin memutuskan untuk kembali ke kelas Yoona dan mengecek apa saja yang ada di sana. Lagipula paling lama 30 menit lagi Yoona sudah harus ke ruang auditoriun dan mengantar barang titipan lalu membuat alasan sedemikian rupa supaya bisa keluar lagi dari sana. Atau teman-temannya bakal marah dan tidak ingin meminjamkannya buku pr atau membantunya saat ulangan lagi, itu kemungkinan yang buruk, atau seperti bencana juga untuk Yoona.

Jongin menarik Yoona masuk ke kelas 11.A lewat pintu depan. Setelah masuk, ia langsung saja menguncinya, katanya kemungkinan ada orang lain yang masuk dan Jongin tidak ingin itu terjadi. Yoona mengangguk setuju-setuju saja lalu tubuhnya bermuara di tempat duduk paling depan sementara Jongin sibuk mengaduk-aduk isi laci meja guru.

Beberapa menit berlalu hingga Jongin menyerah, menjauh dari meja guru dan menarik bangkunya untuk duduk berhadapan dengan Yoona. Ada rasa geli mencubit hatinya saat melihat gestur gadis itu menjadi kaku seketika. Jongin tidak bisa menyangkal bahwa pribadinya yang sulit menerima situasi serius itu tidak bisa dihentikan, di saat seperti ini ide jahil malah bermunculan di kepalanya. Jongin ingin sekali melakukan semua ide jahilnya, tapi diurungkan begitu matanya menangkap selintas sosok Byun Baekhyun.

Setelah menggigit bibir ragu, akhirnya ia hanya menaruh kedua tangannya yang jemarinya telah saling bertaut di atas meja. Dengan lumayan jahil, ia malah makin mendekatkan wajahnya pada Yoona. Membuat wajah mereka hanya terpaut beberapa senti.

“Ya!”

Jongin lagi-lagi terkikik mendengar sentakan Yoona. Ia mengibaskan tangannya sejenak, memberi maksud bahwa ia hanya bergurau tadi. “Yoong, kalau Baekhyun pergi karena pukulan berkali-kali di area pelipisnya..”

Yoona melanjutkan, “Dia pasti melawan di saat pukulan pertama dan beberapa berikutnya. Tidak mungkin ‘kan hanya duduk dan menyerah?”

Jongin tersenyum, menganggukan kepalanya. Lantas tangan kanannya mulai mengusap dagu selagi berpikir.

Berpikir yang serius maksudnya, remaja berusia 17 tahun sepertinya tentu sudah mampu membedakan momen tegang dan bercanda. “Pasti ada beberapa lebam juga di sekujur tubuhnya karena melawan.” meski kalau ingin jujur, ia sama sekali tidak ingin memeriksa keadaan sahabatnya, ia bangkit dan mendekati meja belakang, merasakan perih mengecut sisi demi sisi perasaannya tiap kali ia memperhatikan laki-laki bermarga Byun itu.

Yoona ragu, jantungnya mulai berdegup cepat kala mengikuti arah pandang Jongin. Tak lama kemudian keduanya bertemu dalam satu garis lurus, gadis itu menggelengkan kepalanya, merasa apa yang mereka lakukan ini berakhir pada jalan buntu.

Namun, kelas yang sekarang sunyi tidak mungkin bisa menghasilkan suara derit pintu bergeser dengan sendirinya. Disusul dengan bunyi khas mengunci pintu sepersekian detik kemudian. Keduanya menoleh singkat ke pintu belakang kelas, tentu saja karena Jongin hanya mengunci pintu di bagian depan, sementara ia melupakan fakta bahwa kelas selalu memiliki 2 pintu.

Kalau di sana tidak ada orang, Yoona akan percaya yang melakukanny adalah makhluk dari dimensi lain. Tapi kenyataannya memang ada seorang yang sengaja melakukannya, orang itu bertubuh tegap, Yoona hanya bisa memandangi punggungnya yang terbalut jas abu-abu.

Detik kian melambat sepanjang Yoona mengamati pria itu memijat bahunya sejenak, selayaknya saat melakukan pemanasan. Dalam hati ia sama sekali tidak siap mengetahui siapa gerangan sosok itu, Yoona tidak ingin pria itu berbalik dan mengacaukan semuanya. Yoona tidak ingin tahu dia siapa–

Sebelum Jongin berbisik karena mengenali ciri rambutnya, “Pak Jang..” kronologi yang sempurna bersamaan dengan sosoknya yang membalikan badan dan tersenyum miring. Wajahnya tidak lagi mengantuk, pakaiannya kian merapih, namun surainya masih tetap berantakan dan berkat itu Jongin mampu mengenalinya dari belakang.

Jang Xiumin, membuka mulutnya yang mungil, melontarkan sebuah pertanyaan, “Kalian tahu kenapa aku mengunci pintunya?” suaranya ibarat teriakan dari malaikat gelap yang hendak mencekik siapa saja yang tidak sependapat dengannya. Im Yoona mulai lupa bagaimana caranya bernapas, menyaksikan Xiumin menengok ke belakang beberapa detik, lalu kembali menatap keduanya dingin dan mulai menaruh telunjuknya di depan bibir yang setia menyunggingkan senyum. “Sstt, karena aku akan memberitahu sebuah rahasia.”

 

***

 

Note: HAHAHA gpp gue seneng nih kalo nyampe sini, kayak klimaks tapi bukan klimaks. Kemaren gue janjiin bakal update dalam kurun waktu seminggu, tapi gabisa gue tepatin. Sori banget. tapi gue balik dengan bawa  sebuah chapter yang niatnya nggak mau bikin bingung lagi sih hehe. Thanks for reading and comment are really wellcome!

 

31 thoughts on “18 [4]

  1. Makin pensaran tapi Kata TBC muncul. Cepatan publish next chap thor. Penasran rahasianya . Maaf baru komen thor

  2. Yahhh,,pngen tau rhasianyaa
    Napa tbc sih .. -_
    Mkin bngung nih,,mkin kereeen jga,, wah pnsarann bngt sma plkunya,,
    Nexttt

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s