[Freelance] My Love Story (Chapter 5)

MLS [5] (2)

By Cherryoong

Romance,sad|PG-15

This story is mine .I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat, please. And keep RCL!

Cast :

  • Im Yoona a.k.a. Roxanne Im
  • Oh sehun a.k.a. Steven Oh
  • Kwon Yuri a.k.a. Jennifer kwon
  • Choi minho a.k.a Elias Choi
  • Kim Jong in a.k.a. Alexander Kim
  • Park Chanyeol a.k.a. Richard Park
  • Kim taeyeon a.k.a. Nathalie kim
  • Choi Sooyoung a.k.a. Summer Choi
  • Jung soo yeon a.k.a. Jessica Jung
  • Hwang mi young a.k.a. Tiffany Hwang

“Cinta itu memang sangat sulit !”

~

“ kau ingin tahu saja . apa kau suka padaku?” goda Steven.

“ Percaya dirimu tinggi sekali, tuan” ucap Roxanne sambil tertawa.

“ haha itu bagus” balas Steven.

***

Part 5

Awan hitam masih menghiasi langit yang sangat luas. Air hujan yang berasal dari langit terus menerus turun begitu derasnya. Hawa pun menjadi sangat dingin, seakan dingin itu menusuk tulang manusia. Karena hujan itu sangat lebat, dua orang berbeda jenis kelamin itu terjebak dalam koridor kampusnya. Si gadis terus menggesekkan kedua telapak tangannya berusaha mencari kehangatan disana. Namun nihil, nyatanya dia masih menggigil. Buku jari-jarinya memutih perlahan. Bibir tipisnya yang awalnya berwarna merah delima menjadi putih pucat. Giginya semakin kuat untuk beradu satu sama lainnya, hingga suara bising keluar dari dalamnya.

Sedangkan si pria masih menatap langit yang tak kunjung terang. Kemudian si pria menoleh kearah gadis blonde disampingnya karena suara bising dari bibir mungil milik gadis blonde itu memasuki ke indra pendengarannya. Menurut kacamata pria berambut hitam itu, gadis disampingnya sudah menggigil karena hawa dingin menerpa kulit halusnya. Hal itu membuat si pria melepaskan jaketnya dan menaruhnya dibahu gadis blonde itu. membuat gadis blonde itu mengernyitkan dahinya. Seakan tahu apa pertanyaan yang tersirat dari manik madu milik gadis blonde itu , si pria langsung mengeluarkan suara beratnya.

“ Aku tahu kau kedinginan, Pakailah. Setidaknya bisa menghangatkan tubuhmu walau sedikit”ujar pria berambut hitam itu dengan jambulnya yang membuat dia tampak keren dan tampan.

“ Tapi bukan aku saja yang kedinginan disini, kau juga Steven” balas gadis itu.

“ sudah pakai saja”

“Tapi kau-“

“Shut your mouth, Don’t care about me!” Suara pria berambut hitam itu naik satu oktaf. Hal itu mampu membuat gadis berambut blonde disampingnya bungkam tak berani mengeluarkan sepatah kata pun yang keluar dari bibir tipisnya.

Suasana hening dan canggung bercampur menjadi satu. Dapat membuat siapa saja gerah karenanya. Termasuk dua insan yang sedang berdiri menunggu hujan reda namun tak kunjung juga. Hingga suara berat milik Steven lah yang berusaha mematahkan keheningan terkutuk itu.

“Maaf soal tadi”

“it’s okay”

“ Um… mungkin hujan tidak akan berhenti sampai nanti malam. Mau pulang bersamaku?” tawar Steven dengan tatapan menghadap langit yang luas diatas sana.

“Tidak, terimakasih atas tawarannya. Tapi aku akan menunggu hujan reda”tolak Roxanne dengan nada halus.

“Ayolah jangan menolak terus. Kau sudah menggigil bahkan bibirmu sudah pucat” kesal pria itu karena Roxanne selalu membantahnya.

“ ah.. ikuti saja aku… menunggu kepastianmu sangat lama” Paksa Steven lalu menarik pergelangan tangan mulus milik Roxanne. Membuat si empu sedikit meringis. Mengapa semua orang senang sekali memaksa dirinya,sih? Pikir gadis itu. Kemudian mereka menuju mobil Steven yang terpakir didekat taman luas didepan kampus itu. karena tempatnya adalah tempat terbuka. Jadi mau tak mau mereka harus menerobos hujan yang lebat itu. Steven menarik jaket yang berada dibahu milik gadis blonde itu, dia menariknya dengan sangat mudah karena memang gadis blonde itu hanya menaruhnya dibahunya, tidak ia pakai sepenuhnya.

Pria berambut hitam itu melebarkan jaket itu diatas kepala gadis blonde disampingnya agar gadis itu tidak kehujanan. Sedangkan pria itu ? ia tidak memakai apapun untuk menutupi kepalanya. Mereka berlari menuju mobil Steven, disana hanya ada mobil Steven saja. Karena semuanya mungkin sudah pulang kerumahnya masing-masing dan menikmati minuman hangat dikala hawa dingin seperti ini.

Dipertengahan jalan, Roxanne mengatakan sesuatu pada Steven yang sedang berusaha melindunginya dari air hujan, dan tidak mementingkan dirinya yang sudah basah kuyup.

“Mendekatlah agar kau tidak kehujanan. Maksudku, setidaknya kau mempunyai penutup kepala” ucap Roxanne dengan pelan, sebenarnya suaranya sudah sangat kencang jika irama hujan lebat tidak mengiringinya.

Meskipun irama hujan lebat menjadi sedikit hambatan dalam indra pendengaran Steven, akan tetapi dia masih bisa mendengar perkataan gadis berambut blonde disampingnya. Otaknya masih mencerna perkataan gadis yang menurutnya mirip dengan gadis masa kecilnya itu. Hingga ia membalasnya dengan kerutan didahinya tanda ia masih belum mengerti.

Karena Steven tak kunjung mendekat, padahal hujan semakin mengguyur mereka begitu lebat , akhirnya Roxanne menarik pergelangan tangan kekar milik Steven dan karena ia menarik dengan perasaan sedikit kesal, itu membuat dia menarik Steven terlalu kencang. Sampai-sampai hal tersebut mengikis jarak diantara mereka. Lagi-lagi suasana canggung menghinggapi mereka, bagaimana tidak ? hanya beberapa sentimeter lagi mereka akan… yah kalian tahu sendiri jika kalian sering menonton drama.

Steven menjauhkan tubuhnya dari Roxanne, karena itu terlalu dekat. Jika saja Steven tidak menjaga keseimbangannya tadi, maka dia akan menimpa tubuh kurus milik Roxanne. Itu sangat berbahaya baginya, apalagi ditengah hujan yang lebat seperti ini.

Setelah bangkit dari lamunan masing-masing, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju mobil Steven. Melangkahkan kaki jenjang mereka diatas genangan air akibat hujan mengguyur. Melangkahkan kaki memang mudah bagi mereka berdua, namun menyamakan langkah mereka ? itu akan sedikit sulit. Langkah Steven panjang-panjang karena ia seorang pria, sedangkan Roxanne ? ia harus berlari kecil untuk menyamakan langkah kaki pria berambut hitam itu. itu membuatnya kelelahan. Hingga rasa lelah itu menghilang ketika mereka berada didalam mobil.

Roxanne merasa kakinya pegal. Untungnya dia tidak memakai High heels seperti sahabat-sahabatnya. Roxanne memang sedikit tomboy, setiap hari selalu memakai sneakers kekampusnya. Beda dengan sahabat-sahabatnya yang memakai sepatu wanita pada umumnya. Ya, walaupun dia tak se-tomboy Jennifer. Padahal saat SMA dia tidak tomboy. Apa karena pengaruh teman? Memang Roxanne dan sahabat-sahabatnya sangat dekat. Tapi dia lebih dekat dengan Jennifer. Mungkin itulah yang membuatnya tertular sikap tomboy dari Jennifer.

Hawa dingin semakin menjadi-jadi ketika udara dingin yang berasal dari AC mobil sport milik Steven menerpa kulit mulus Roxanne. Menggigil ? sudah pasti. Bahkan sekarang kepala Roxanne menjadi pening. Dia terus menggesekkan kedua telapak tangannya, seakan mengerjainya hawa dingin itu terus menghinggapinya. Pria berambut hitam pekat itu melihat kearah bajunya yang basah kuyup karena hujan.

‘untungnya aku tidak jadi memakai kaos berwarna putih tadi’ batin Steven karena mungkin saja, jika ia memakai kaos berwarna putih tadi, kaos itu akan tembus pandang dan memperlihatkan abs-nya. Dia tidak ingin mempamerkan itu, apalagi dengan gadis berambut blonde disampingnya , dia tidak bisa membayangkan reaksi apa yang akan diberikan gadis itu bila melihat abs-nya yang menggoda.

“Kenapa kau suka sekali memaksaku,sih? “ tanya Roxanne sambil berusaha menghangatkan tubuhnya yang kedinginan akibat hujan yang mengguyurnya.

“Karena kau selalu membantahku dan kau keras kepala”

‘Cih, membantah ? memangnya kau siapa? Kau hanya seniorku , itu pun juga baru mendapat jabatan itu. Jangan mentang-mentang aku Juniormu , kau bisa menyuruhku ini itu’ batin Roxanne dengan bibirnya yang mengerucut.

“Bukan karena aku seniormu, tapi sepertinya bila kau menanyakan hal yang sama pada sahabat-sahabatmu , kuyakin pasti mereka akan menjawab dengan jawabanku tadi” Ucap Steven membuat Roxanne terkejut.

‘apa dia bisa membaca fikiran orang lain? Atau mendengar suara hati orang lain . apa hanya tebakan?’ batin Roxanne.

“Cih, memangnya kepalaku sekeras apa sih?” ucap gadis itu sembari memukul kepalanya sendiri dengan pelan seakan meledek ucapan yang Steven lontarkan.

“Kau itu sekeras baja, kau tahu ? perlu proses yang lama untuk melunakkanmu “ Timpal pria berambut hitam itu.

“Memangnya aku Ironman ? aku tidak sekeras itu. “

“ Terserah tapi memang itu sikapmu. Kau paling hebat dalam berdebat, sama seperti fans girlband atau boyband yang hobi fanwar. Kenapa kau mengambil jurusan bisnis ? seharusnya kau mengambil jurusan yang ahli dalam berdebat atau beradu argument? Seperti pengacara misalnya” oceh Steven membuat Roxanne semakin pening karena ocehan Steven.

“Tapi aku tidak sekeras itu, tuan menyebalkan. Aku memang fangirl tapi aku tidak menyukai fanwar. Dan kenapa kau jadi mengatur hidupku ? aku ini yang memilih masuk jurusan mana, kau tidak punya hak untuk mengatur itu” balas Roxanne.

“Pantas saja. Rupanya kau Fangirl. Dan aku tidak mengatur hanya memberi saran”

“memberi saran seperti itu. itu bukan memberi saran namanya”

“terserahmu gadis keras kepala”

“ aku tidak keras kepala, pria menyebalkan”

“ lihat ! kau bahkan tidak mau mengalah haha” tawa Steven mengisi suasana diantara mereka. Roxanne terdiam. Memang benar apa yang dikatakan oleh Steven. Roxanne memilih diam karena tak tahu harus mengelak apa.

“ Kenapa terdiam ? kau tersadar bahwa kau itu keras kepala?” tanya Steven dengan nada menggoda Roxanne sedangkan tatapannya masih menatap depan.

“Tidak. Hanya saja aku kedinginan” ucap gadis blonde itu. Roxanne tak tahu harus mengelak seperti apa , otaknya juga tak bisa berfikir jernih karena pening melandanya. Hingga otaknya menyuruh mulutnya untuk mengeluarkan perkataan tadi. Yang membuat dirinya semakin terlihat konyol didepan Steven. Perkataan menjijikan itu terlihat seperti seorang gadis yang mengkode kekasihnya untuk memeluknya.

‘Kau bodoh’ Rutuk Roxanne pada dirinya sendiri sambil menggigit bibir bawahnya. Detik kemudian keluar suara dari mulut Steven dan Roxanne melihat bahwa Steven sedang menahan tawanya dengan menggigit bibir bawahnya dan suara tawa yang tertahan.

Lihat ! dia bahkan sedang menahan tawanya’batin gadis berambut blonde itu. Ruam merah mucul dibalik pipinya. Menandakan bahwa ia sangat malu.

“Why are you laughing? is it funny ?” tanya Roxanne jengkel karena Steven yang seakan mengejeknya.

“Nope. Kau ingin turun dimana?” Pria berambut hitam itu masih menahan tawanya.

“Wait, aku akan tanya Nathalie dulu” ucap Roxanne sembari mengeluarkan Iphonenya dari saku celananya.

Roxanne: kali ini akan menginap dirumah siapa?

Nathalie : Diapartement Tiffany . cepatlah kita sudah berada disini. Hujan juga semakin lebat

Roxanne : baiklah aku sedang diperjalanan

Bunyi notification dari aplikasi Line terus menerus berdering. Hingga dimana Nathalie hanya Read pesan dari Roxanne , yang membuat Roxanne kesal.

‘memangnya pesanku itu Koran yang hanya dibaca tanpa membalasnya. Setidaknya balaslah dengan emotikon atau ucapan hati-hati. Huh sikapnya tak pernah berubah’ batin Roxanne. Mereka – Roxanne, Tiffany, Jessica, Summer, Nathalie dan Jennifer memang sering menginap diapartement mereka secara bergantian. Membuat hubungan persahabatan mereka semakin dekat. Dan saling memahami sikap dari mereka masing-masing.

“Jadi, kau ingin turun dimana?” tanya Steven.

“Di apartement Tiffany, aku akan mengarahkanmu nanti” jawab Roxanne. Lalu Steven membalasnya dengan anggukan tanda bahwa ia mengerti apa yang diucapkan Roxanne.

Keheningan kembali singgah di suasana antara mereka berdua. Steven masih mengendarai mobilnya diatas jalanan aspal yang licin , wipe mobil sportnya terus bergerak kekanan dan kekiri untuk menghapus jejak air hujan dikaca mobil itu . Namun seakan mengerjai Wipe mobil itu, air hujan itu terus menerus jatuh ditempat yang sudah dibersihkan oleh wipe mobil itu. Jika wipe itu bicara, mungkin dia akan berteriak sekencang-kencangnya karena kesal akibat perbuatan air hujan padanya.

Gadis blonde itu sudah sangat menggigil , rasanya dia sangat ingin cepat-cepat sampai Apartement Tifanny dan mandi dibawah shower yang berada dalam kamar mandi apartement itu. Kemudian tidur nyenyak untuk menghilangkan Rasa pening yang semakin menjadi-jadi.

***

Sesampainya di Basement apartement Tiffany. Mereka – Roxanne dan Steven terdiam sejenak. Roxanne merasa pening dikepalanya membuat wajahnya pucat pasi. Steven yang masih belum menyadari bahwa Roxanne sakit pun mengeluarkan suara beratnya.

“Sudah sampai bukan? Kenapa kau tidak turun ?” ucap Steven lalu menoleh kearah Roxanne yang sedang menahan rasa peningnya.

“Hey ! kau sakit ?” tanya Steven.

“Tidak”jawab Roxanne.

“Berusaha mengelak ? sudahlah jujur saja. Apa perlu kuantar kau sampai depan pintu apartement temanmu itu ?” tawar Steven.

“Jangan!. Aku akan menelpon sahabatku untuk menjemputku”

“Kau seperti menjadikan mereka pembantumu”

Lalu Roxanne merogoh sakunya dan kembali berkutat dengan Iphonenya itu. Angka-angka serta icon tertata rapih diatas layar handphone itu. Jarinya menari-nari diatas layar touch screen untuk menghubungi temannya yang mungkin sedang bersantai.

“Halo.. unnie.. bisakah kau menjemputku di Basement ? kepalaku pusing, aku tidak kuat berjalan ke apartemenmu”

            “Baiklah. aku akan segera kesana. Kau pulang sendirian?”

            “Tidak”

            “Kau bersama siapa?”

            “Teman. Sudahlah unnie.. aku sangat pusing sekarang”

Sambungan telepon terputus. Roxanne menempatkan kembali benda berbentuk persegi panjang itu kedalam saku celananya. Sesekali Roxanne memijat keningnya untuk mengurangi rasa pening dikepalanya yang semakin menjadi-jadi. Jaket yang diberikan Steven masih melekat dibahunya. Dan ia teringat, pertanyaan yang akan ia sampaikan untuk Steven.

“Oh iya, Jaketmu-?” ucapan Roxanne terpotong karena Steven memotongnya.

“Untukmu saja” balas Steven. Untuknya ? ini gila. Bagaimana bisa Roxanne simpan? Seorang gadis memakai jaket pria ? komentar apa yang akan ia dengar dari sahabatnya terutama Tiffany yang selalu memperhatikan fashion sahabat-sahabatnya. Terlebih lagi itu jaket Steven, jika Roxanne menyimpannya dan sahabatnya tahu, maka mereka akan memikirkan hal yang tidak-tidak. Apalagi jika mereka menganggap Roxanne sudah memiliki hubungan dengan Steven, ah itu akan berbahaya baginya.

“Tapi aku ini wanita , tidak mungkin aku menyimpan jaket pria ?! dan-“ lagi-lagi ucapan Roxanne terhenti ketika dia menoleh kearah Steven yang sedang mendengarkan lagu menggunakan Earphonenya. Berarti daritadi Steven tidak mendengarkan ucapannya ?

“aish ! Pria menyebalkan !” pekik Roxanne. Lalu ia merapihkan tasnya yang berada disampingnya dan sedikit merapihkan rambut blondenya dengan kuncir kuda itu , namun basah karena hujan mengguyurnya. Kemudian tangan mulusnya membuka pintu mobil sport milik Steven. Steven yang menyadari bahwa Roxanne keluar dari mobilnya pun akhirnya melepas Earphonenya dan juga mengikuti Roxanne untuk keluar dari mobil.

“Kenapa keluar ? temanmu bahkan belum sampai sini?” tanya Steven.

“bahaya jika mereka tahu aku pulang bersamamu. Terimakasih atas tumpangannya dan .. jaketnya. ” balas Roxanne sembari menunjukkan jaket Steven yang ia gantung dilengannya.

‘bahaya? Maksudnya?’batin Steven seraya mengernyitkan alisnya.

“Kau bisa pulang sekarang, aku akan ke lift” ucap Roxanne .

“Kau mengusirku ?”

“Bukan seperti itu , bahaya jika sahabatku tahu kalau aku pulang bersamamu”

“Bahaya apa?”

“Sudahlah-“

“Hey Roxanne ! “ Panggil sahabat-sahabat Roxanne.

“Ah tuh kan… cepat sembunyi “ bisik Roxanne, lalu dia mengisyaratkan Steven untuk bersembunyi didalam mobil. Sedangkan Steven yang tidak tahu apa tujuannya pun hanya mengikutinya.

“Dimana temanmu itu ?”

            “Kau sakit ?”

            “Kau bersama siapa? “

            “Kau tidak apa-apa?”

            “Kenapa kau lama sekali pulangnya? “

Berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabat-sahabat Roxanne itu memengangkan telinga Roxanne, gadis bermarga Im itu merasa Peningnya sudah tak bisa ditahan lagi ketika suara nyaring sahabat-sahabatnya menyambutnya dan parahnya keluar bersamaan.

“Unnie.. ayolah, aku semakin pusing mendengar pertanyaan kalian semua” keluh Roxanne dengan wajah pucatnya yang bisa saja tumbang sekarang.

“baiklah, tapi dimana temanmu itu ?” tanya Summer.

“ Dia sudah pulang” jawab Roxanne sembari memutarkan bola matanya karena tak mau larut dengan topik pembicaraan yang menyangkut Steven.

“Lalu ini mobil siapa ? pintunya tak tertutup rapat. Berani sekali orang itu meninggalkan mobilnya dengan pintu tak tertutup seperti ini” tanya Tiffany yang masih menatap mobil sport disamping Roxanne. Dengan pintunya yang sedikit terbuka , karena sesuatu yang mengganjal didalamnya. Tiffany melangkahkan kakinya mendekat kearah mobil itu. Berniat untuk menutup rapat mobil itu.

Jika Roxanne bisa teleportasi sekarang, dia akan menyeret Steven dan memaki pria berambut hitam itu habis-habisan karena kebodohannya yang tidak ahli dalam bersembunyi.

“Sepertinya aku mengenal mobil ini, ini seperti mobil milik… “ gumam Jessica. Roxanne semakin panik, keringat terus bercucuran dari dahinya. Bagaimana kalau ketahuan? Roxanne harus menghindari itu semua dengan mengalihkan mereka ke Apartemen Tiffany.

“teman-teman , be-begini.. umm.. kepalaku semakin pusing. Bagaimana kalau kita langsung ke apartemen?” ucap Roxanne dengan gugup. ‘sial, kenapa gugup seperti ini?’. Perkataan Roxanne membuat teman-temannya terdiam dan mendengarkan perkataannya. Nathalie, Summer dan Jennifer yang hanya memerhatikan Tiffany dan Jessica beraksi pun akhirnya menyetujui perkataan Roxanne. Roxanne bernafas lega, karena mereka sudah menyetujuinya.

“baiklah, tapi aku akan menutup mobil ini dulu” balas Tiffany sembari melangkahkan kakinya mendekat kearah mobil itu. Tangannya sudah menyentuh pintu mobil. Ayolah, Roxanne mengakui kalau Tiffany sangat peduli dengan orang lain, tapi jangan seperti ini juga. Sedangkan Jessica, yang tadinya berada didekat mobil itu untuk mengingat nama pemilik mobil itu pun akhirnya mendekat kearah sahabatnya yang lain dan melupakan kegiatan yang ia lakukan tadi.

“Tapi, tiff” cegah Roxanne. Namun sudah terlanjur, Tiffany sudah menutup pintu itu dengan pelan. Namun pintu itu belum tertutup sepenuhnya. Tiffany kembali menutup pintu itu dengan kencang sekarang, namun nihil pintunya juga belum tertutup karena ada yang mengganjal disana.

Steven meringis pelan ketika kakinya terhimpit pintu mobilnya. Sedangkan Roxanne, dengan menggunakan manik rusanya dia masih menatap kaki Steven yang terjepit. Sekarang Roxanne merasa bersalah. Pasti itu sakit, Roxanne bahkan merasakan ngilu juga pada kakinya.

“Gadis gila !” gumam Steven dengan ringisan kecilnya.

“Tiff, ayolah. Siapa tahu ada orangnya didalam, jika ada kau akan dibentaknya. Bagaimana jika dia seorang Physcopat ? atau seorang pengganggu ?” cegah Roxanne.

“tidak mungkin, disini dijaga ketat oleh keamanan. arghh, kenapa susah sekali!!” pekik Tiffany sembari menendang pintu itu dengan sangat kencang.

BLAMMM

ARRRGGGHHH !!

“mati sudah” batin Roxanne. Keringat terus bercucuran dari dahinya. Telapak tangannya menjadi dingin. Kakinya melemas tak tahu akan tumbang kapan. Roxanne sudah menutup matanya dengan rapat. Pikiran aneh kembali menelusuk kedalam otaknya. Pikiran tentang berapa banyak darah yang keluar dari sana ? atau adakah kaki yang terputus disana ? Bagaimana jika Steven meninggal dan Tiffany akan menjadi tersangka ? tentu saja Roxanne tidak mau semuanya terjadi. Roxanne sangat takut dengan hal itu, ditambah teriakan orang yang sangat kesakitan.

“Steven maafkan aku” batin Roxanne.

“Tiffany kabur !!” Pekik salah satu sahabat dari Roxanne , yang ia yakini itu suara Summer. Lalu suara orang berlari juga memasuki telinganya namun tidak hanya satu orang, ini sekelompok. Hembusan angin juga menerpa wajah pucat Roxanne, karena orang-orang yang berlari itu melewatinya dengan sangat kencang sedangkan Roxanne masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya rapat-rapat.

“Roxanne cepat kabur !!”

“kalian kemana ? teman-teman jangan tinggalkan aku !” ucap Roxanne resah karena antara takut dan merasa bersalah menggandrunginya sekarang. Dia ingin meninggalkan tempat itu, tapi kakinya tak bisa ia gerakkan, tubuhnya membeku. Dengan wajah yang masih tertutup kedua telapak tangannya.

“ kalian jahat !” gumam Roxanne. Posisinya masih sama seperti sebelumnya. Terlihat seperti anak kecil yang sangat ketakutan ketika dia menonton film horror.

Lalu dalam pendengaran Roxanne terdengar suara langkah kaki. Roxanne merasa bulu kuduknya berdiri semua. Betapa sialnya dia hari ini. Telapak tangan gadis berambut blonde itu semakin dingin, antara takut, pusing , dan cemas. Semua dilebur menjadi satu.

Tap.. tap.. tap..

Suara langkah kaki itu semakin dekat. Hingga Roxanne merasakan ada seseorang didepannya. Dengan penuh penasaran sekaligus ketakutan, dia dengan perlahan mengintip dari sela-sela jarinya untuk melihat siapa didepannya. Pertama yang ia lihat adalah kaki sepasang namun dihiasi dengan cairan berwarna merah. Roxanne berpikir sejenak .

‘apa itu darah ? jangan-jangan ini zombie dari Steven … tapi tidak mungkin ada Zombie. Tap-tapi aku merinding’

Pandangan Roxanne lama-lama naik keatas. Seseorang didepannnya memakai celana jeans dan kaos hitam. Hingga ia melihat tangan orang didepannya, dia semakin merinding ketika melihat tangan itu juga dihiasi oleh cairan berwarna merah itu. Dan pandangannya sekarang berada di leher orang didepannya.

‘ada jakun disana. Berarti dia pria, apa ini steven’

            Dan Roxanne berdoa semoga ini bukan Steven. Dan detik-detik menuju wajahnya, dia menelan salivanya kuat-kuat berusaha membunuh perasaan takut itu.

AAAAAAAAAA!!!!!

Teriakan Roxanne terdengar sangat nyaring di basement itu.Yang tadinya tangannya berada didepan wajahnya sekarang secara refleks turun disamping badannya. Namun matanya terpejam erat, telapak tangannya mengepal ingin lari dari sana tapi tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Masih teringat jelas rupa orang yang ada dihadapannya, seseorang yang berlumuran dengan cairan berwarna merah itu. membuatnya tak mau berhenti berteriak dengan mata tertutup.

Hingga teriakan itu sedikit tertahan ketika sebuah telapak tangan berusaha menutup mulut gadis berambut blonde itu.

“Kau harus bertanggung jawab”kata orang dihadapannya.

‘apa? Bertanggung jawab ? jadi ini benar Zombie Steven ?siapa pun katakan ini mimpi’ gadis blonde itu terus membatin.Namun gadis itu juga masih berteriak.

“Berhentilah berteriak ! And open your eyes” Perintah orang itu. mau tak mau Roxanne mengikuti perintah orang itu. Teriakan nyaringnya berhenti seketika. Perlahan manik berwarna hitam jernihnya terlihat dari balik kelopak matanya.

“Sudah puas berteriak seperti tarzannya? “ kesal orang itu dengan berkacak pinggang. Roxanne sesekali mengerjapkan matanya. Berusaha menetralkan pandangannya yang tadinya sedikit kabur karena terpejam.

‘kenapa banyak orang disini ?’ batin Roxanne lalu dia menatap keatas , ini seperti di Apartement Tiffany.

“Kau membuatku panik tadi , berteriak seperti orang kesurupan saja . kau mengigau?” tanya Nathalie.

‘jadi tadi hanya mimpi ? kenapa nyata sekali ?’

“Zombie itu kemana ? “ tanya Roxanne. Pertanyaan yang aneh, mungkin dia masih terbawa dengan mimpi tadi. Semua yang berada disana tertawa. Bahkan perut mereka sampai sakit karena terlalu banyak tertawa setelah mendengar perkataan Roxanne.

“Hahaha zombie ? kami semua Zombie. Mau kabur ? kau terlalu banyak nonton film horror” jawab Jennifer dengan nada bercanda. Tawa dari sahabat-sahabat Roxanne pun kembali menggelegar seisi ruangan itu. Roxanne yang tadinya berbaring sekarang menjadi duduk. Lalu dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sangat malu sekarang.

“Kau sakit tadi, hingga kau pingsan. Mungkin karena kehujanan. Jadi seseorang yang mengantarkanmu kesini” Jelas Nathalie.

“Siapa?” tanya Roxanne.

“Steven”

Flashback on

            Gadis blonde itu sudah sangat menggigil , rasanya dia sangat ingin cepat-cepat sampai Apartement Tifanny dan mandi dibawah shower yang berada dalam kamar mandi apartement itu. Kemudian tidur nyenyak untuk menghilangkan Rasa pening yang semakin menjadi-jadi.

            Sesampainya di Basement apartement Tiffany. Mereka – Roxanne dan Steven terdiam sejenak. Roxanne merasa pening dikepalanya membuat wajahnya pucat pasi. Steven yang masih belum menyadari bahwa Roxanne sakit pun mengeluarkan suara beratnya.

            “Sudah sampai bukan? Kenapa kau tidak turun ?” ucap Steven lalu menoleh kearah Roxanne yang sedang menahan rasa peningnya.

            “Hey ! kau sakit ?” tanya Steven.

            “Tidak” Jawab Roxanne.

            Namun perlahan mata rusa milik Roxanne pun tertutup, membuat Steven panik. Kemudian Steven menepuk pelan kedua pipi mulus milik Roxanne.

            “Hey ! sadarlah”

            Roxanne pingsan. Saat Steven menyentuh pipi milik Roxanne terasa panas baginya. Kemudian dia menyentuh kening Roxanne.

            “Aww.. panas sekali. Dia demam” pekik Steven saat menyentuh kening itu. Tindakan Steven selanjutnya, dia membuka Seatbelt yang melilit ditubuhnya dan tak lupa dia juga melepas seatbelt yang Roxanne pakai.

            Lalu Steven keluar dari mobilnya dan berlari kecil mengitari mobilnya. Kemudian membuka pintu mobil disebelah jok kemudi. Dan mengeluarkan tubuh Roxanne didalamnya yang sedang menutup matanya rapat-rapat. Dia membopong tubuh kurus namun berat itu ala bridal style. Dengan menggunakan kaki kanannya , Steven menutup pintu mobilnya kembali namun karena terlalu mengeluarkan energi, suara pintu mobilnya terlalu kencang.

            Steven berlari kecil. Lalu menaiki lift, dia tidak tahu dilantai berapa temannya Roxanne tinggal. Tapi dia memencet tombol lift kelantai 1. Karena menurutnya, lebih baik dilantai 1 daripada di basement tadi.

            Sesampainya dilantai 1, dia-Steven seperti orang gila. Berlari kesana tapi kembali ketempat asalnya dan terus begitu hingga seseorang memanggil gadis yang sedang ia bopong.

            “Roxanne ? Kenapa dia?” tanya Nathalie sesekali membenarkan posisinya yang sedang membawa 3 dus yang entah apa isinya, namun terlihat berat.

            “Tadi dia pingsan saat ingin turun dari mobilku, Apa kau temannya ?” ujar Steven.

            “ah iya,bolehkah aku meminta tolong ? tolong bopong dia sampai Apartement milik sahabatku, ya?. Maaf aku tak bisa membantumu, aku sedang membawa kardus-kardus ini” mohon Nathalie.

            “baiklah”

            Lalu mereka berdua-maksudnya bertiga, namun yang satu sedang pingsan. Berjalan menuju lift dan Nathalie memencet tombol angka 8.

‘jadi rumah temannya itu dilantai 8?’ batin Steven. Suasana disana hening. Steven memasang wajah datarnya dan tak mau mengeluarkan suaranya sedikit pun hanya deru nafasnya yang terdengar. Sedangkan Nathalie juga tak mau mempermasalahkan itu karena dia sudah tau sifat Steven dari orang-orang. Lift itu berjalan naik, hingga bunyi lift itu terdengar, menandakan bahwa mereka sudah berada dilantai 8. Nathalie lebih dulu melangkahkan kakinya keluar dari lift diikuti Steven dibelakangnya.

Sesampainya mereka didepan pintu apartement yang Steven yakini bahwa itu apartement milik temannya Roxanne, Nathalie memencet bel, kemudian keluarlah sosok gadis dengan rambut blondenya sama seperti Roxanne namun warnanya lebih pucat. Gadis itu menatap bingung kearah Steven. Seperti tatapan ‘mengapa ada dia?’. Nathalie membalas dengan tatapan ‘sudahlah, akan aku jelaskan’.Lalu Nathalie mengajak Steven masuk kedalam untuk menaruh Roxanne disofa yang tak jauh dari pintu masuk tadi.

Steven menaruh tubuh kurus Roxanne diatas sofa putih. Kemudian dia merenggangkan otot-otot yang tadi hampir terasa kram. Steven pikir, Roxanne itu sangat ringan. Namun kenyataannya, dia sangat berat. Tubuh Roxanne menipu Steven, Roxanne pintar sekali menyembunyikan tentang berat badannya dibalik tubuh kurus seperti tengkorak.

“Terimakasih sudah membantuku” ucap Nathalie diambang pintu karena Steven sudah ingin pulang darisana.

“Ya” ucapan singkat keluar dari bibir tipis Steven, dengan senyum yang sangat tipis itu, dia sedikit menunduk sebagai pamitan. lalu dia melenggang pergi dari apartement itu. Nathalie sangat ingin berteriak kepada Steven.

“bisakah kau mengucapkan banyak kalimat” Nathalie sangat sangat ingin berteriak seperti itu kepada Steven. Ya, Nathalie sudah tahu bahwa sikap Steven sangat dingin dan cuek dengan keadaan sekitar tapi bisakah dia mengucapkan kalimat yang sedikit panjang?

            Nathalie menggeleng pelan dengan sikap Steven. Kemudian menutup pintu dan menjelaskan semuanya kepada sahabat yang sedang menerkamnya dengan berbagai pertanyaan. Sebagai balasan penjelasan itu, sahabat-sahabatnya membantu Nathalie mengobati Roxanne.

Flashback off

“Steven ? mengantarku ? kukira itu sebagian dari mimpi burukku” ujar Roxanne.

“lalu.. bagaimana bisa kau pulang bersamanya? Ayo ceritakan pada kami semua” celetuk Jessica yang langsung disetujui oleh sahabatnya yang lain. Selalu saja Jessica yang menjadi kompor jika menyangkut Steven, Roxanne menggerutu kesal didalam hatinya. Jika Roxanne disuruh memilih antara menceritakan latar belakang Steven mengantarkannya atau mimpi tadi menjadi nyata, dia akan memilih mimpi itu menjadi nyata.

“Ceritakan ! Ceritakan” seru sahabat-sahabatnya seperti fangirl yang menyuruh idolanya dance atau aegyo.

“CERITAKAN ! CERITAKAN !” pekikkan mereka semakin kencang membuat Roxanne menutup telinganya rapat-rapat mencegah untuk suara nyaring sahabat-sahabatnya masuk kedalam telinganya.

“Hentikan !” teriak Roxanne tak kalah kencang, hingga sahabat-sahabatnya bungkam menunggu penjelasan dari Roxanne. Namun yang menjadi pusat perhatian hanya terdiam.

“Ayo ceritakan !” Suruh Summer.

“Tidak akan. Sudahlah aku ingin mandi, kalian membuat kepalaku semakin pusing ” jawab Roxanne lalu bangkit dari tempat tidur serba pink itu. Dan melangkahkan kaki jenjangnya masuk kedalam kamar mandi yang isinya serba pink, tiffany memang pantas disebut pink monster. Sedangkan sahabat-sahabatnya yang Roxanne tinggalkan begitu saja hanya menggerutu kesal karena merasa diberi harapan palsu.

Roxanne POV

Aku memasuki kamar mandi serba pink yang berada didalam kamar Tiffany. Lihat saja isinya, dimulai dari bathup nya, Tirai yang menutup bathup, shower, handuk, Shower cap, Shower puff, Sikat gigi, pasta gigi, toilet, Shampo, sampai isi sabun cair juga berwarna pink. Tiffany terlalu maniak dengan warna pink.

Aku menyeburkan diri kedalam Bathup yang berisikan air hangat itu. Merendam tubuhku yang sudah lengket akibat keringat yang bereksperimen dengan air hujan tadi. Rasa hangat menjalari tubuhku yang sedang tidak sehat. Kemudian aku menutup manik rusaku dengan kedua kelopak mataku. Menikmati bagaimana air hangat ini yang menenangkanku, dan menghilangkan rasa peningku tadi. Air yang terus menerus turun dari shower selalu menerpa wajahku yang kudongakkan. Air shower itu mengalir seakan menghapus semua beban dipikiranku.

Namun tidak dengan ingatanku tentang peristiwa yang terjadi tadi. Semuanya terjadi dalam 1 hari ? bagaimana bisa secepat itu?sangat cepat tapi dapat mengobrak-abrik perasaanku sampai begitu kacau. mulai dari hukuman itu, lalu Steven yang mennyusulku kelantai 6, kemudian aku yang secara reflek memeluknya, kami berdua terjebak dalam koridor, dia yang memberikan jaketnya, lalu masih banyak kejadian yang ia lakukan padaku. Tentu saja aku tak tertarik dengannya, seperti perkataan yang dilontarkan oleh sahabat-sahabatku.

Tapi perilaku Steven padaku tadi sepertinya dapat membuat gadis-gadis lain terpesona olehnya, selain aku tentunya. Cih, dia sok Cassanova. Namun sifatnya sangat jauh berbeda dengan sifat-sifat yang diucapkan oleh sahabat-sahabatku, lebih tepatnya Jessica.

“….Sifatnya dingin terhadap gadis lainnya tapi kurasa akan berubah ketika dia sudah mempunyai pasangan.”

Perkataan Jessica ketika mendeskripsikan Steven pun terngiang-ngiang. Membuat aku kembali membedakan sifat Steven yang tadi dengan sifat Steven yang dibilang Jessica. Tapi tetap saja, kesimpulanku masih sama. Sifat Steven tidak seperti yang dibilang Jessica. Jessica pasti mengelabuiku.

“ah.. untuk apa aku memikirkan itu? membuat pusing saja. Lebih baik aku memikirkan EXO” aku memukul air yang bergenang didalam bathup itu. membuat air itu terciprat mengenai wajahku. Aku melampiaskan kekesalanku pada air yang tak bersalah. Aku mencoba melupakan kejadian seharian ini, namun tak bisa. Membuatku harus kembali merasakan kesal.

“mungkin terlalu lama aku mandi” aku bangkit dari bathup itu, dan memakai mantel mandi yang bergantung disamping bathup.

***

Hari berganti menjadi malam. Dimana ada seribu bintang bertabur dilangit untuk menghiasi malam yang gelap ditemani oleh rembulan. Namun sepertinya tidak untuk hari ini, hari ini tetesan air langit masih turun dengan deras. Empat orang pria tampan itu berada diruangan yang sama. Namun kegiatan yang mereka lakukan berbeda-beda. Si pria berambut hitam selaku tuan rumah hanya berbaring dan memejamkan matanya namun dirinya masih terjaga. Sedangkan kedua sahabatnya yang bernama lengkap Alexander kim dan Richard park sedang bermain playstationnya, jika kalian lihat cara mereka bermain, maka kalian akan mengatakan bahwa mereka seperti bocah. Dan satu pria yang berambut coklat itu , sedang sibuk dengan makanan yang ia genggam sekarang, dia sedang menunggu salah satu yang bermain playstation itu kalah, jika salah satu dari mereka kalah maka pria yang bernama lengkap Elias choi itu akan mendapat giliran.

Pria berambut hitam itu akhirnya terduduk karena sesuatu mengusiknya.

“Kalian berisik sekali, mengganggu mimpi indahku saja” decak Steven.

“Mimpi indah? Melakukan ‘itu’ dengan Miranda kerr?” goda Alexander yang masih bermain playstation.

“ck, otakmu penuh dengan pikiran kotor seperti itu”

Pria bernama lengkap Steven Oh itu akhirnya bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Mengambil sebuah kalung yang terputus dari bedside nya. Kalung yang sama dengan kalung yang ia pakai, yaitu berbentuk S&Y. Tentunya kalung yang sangat berharga dan bersejarah bagi pemiliknya. Tapi entah mengapa Steven sangat yakin bahwa kalung itu milik Roxanne. Dimulai setelah Roxanne menabraknya dan ia menemukan kalung itu, lalu nama korea Roxanne pun juga sama seperti gadis masa kecilnya.

Pria berambut hitam itu pun akhirnya keluar dari kamarnya, dan kembali keruangan yang ia pijaki sebelumnya. Kemudian berbaring lagi diatas sofa putih yang empuk itu. lalu tangannya menggantungkan kalung yang tadi diudara. Meneliti kalung itu dengan sangat-sangat jeli. Elias choi yang tak sengaja menangkap kegiatan aneh Steven oleh rentinanya pun akhirnya membuka suaranya.

“apa itu?”

“apa kau sudah mulai rabun, hyung?”tanya Steven balik dengan sedikit candaan.

“Haha sepertinya. Kalung punya siapa itu?” tanya Elias

“ck, Segera periksakan kedokter. Entahlah, aku menemukannya dikampus tadi”

“Bukankah kalungnya sama sepertimu?”

“Hmm.. kuyakin kau pasti sudah lupa dengan cerita tentang kalung yang kupakai”cibir Steven. Elias choi mendongakkan kepalanya dan menatap langit-langit rumah megah milik Steven, gerak-geriknya seperti orang yang sedang mengingat sesuatu.

“Aha! Aku ingat. Yoona bukan?”

“Kukira kau sudah lupa dengan cerita itu”

“Jangan meremehkan daya ingatku,Stev. Jangan mentang-mentang saat kau SMA mengikuti kelas Akselerasi, jadi kau bisa meremehkan aku” canda Elias. Ya, Yang dikatakan oleh Elias memang benar, Steven dulu mengikuti kelas akselerasi. Jika kalian yang melihat tampang Steven maka kalian tidak akan percaya dengan hal itu. beribu orang yang pernah bertemu dengan Steven pun tidak percaya. Lihat saja, bagaimana bisa tampang seorang Playboy dan malas-malasan seperti Steven bisa masuk kelas Akselerasi? Orang akan berpikir seribu kali untuk itu. Tapi apa boleh buat ? memang kenyataannya seperti itu.

“Jangan membahas itu”jawab Steven.

“Oh iya, apa kalian tahu Roxanne?”tanya Steven.

“Roxanne? Yeaa, aku tahu dia dari ask.fm. Dia sahabatnya Summer..” jawab Richard yang masih sibuk dengan Playstationnya. Ucapan Richard membuat Steven terduduk dan bersiap mendengarkan penjelasannya.

“ Summer kekasihmu itu? kau tahu apa saja tentang Roxanne?” tanya Steven dengan semangat membuat sahabat-sahabatnya memandangnya dengan tatapan menginterogasi. Sampai-sampai Richard dan Alexander pun mem pause permainan itu. Sedangkan yang menjadi pusat perhatian pun hanya memasang wajah datarnya.

“Kenapa? Aku tampan? Jangan menatapku seperti itu, jika kalian suka padaku jangan menyalahkan wajahku” canda Steven.

“cih, aku masih normal” gerutu Alexander.

“Mengapa kau menanyakan tentang Roxanne ? dia jadi korban penyakit playboy mu?” tanya Richard.

“Kau masih ingat kan? Cerita tentang gadis masa kecilku?” tanya Steven balik.

“yess…. So what? Hubungannya dengan Roxanne?”

“Setelah Roxanne menabrakku dikampus tadi, aku menemukan kalung ini”

“itu seperti punyamu” ucap Richard.

“Yang ber IQ tinggi pasti akan mengetahui maksudku”

“Lalu?”tanya sahabat-sahabatnya.

“Kalian ingin membantuku?” mohon Steven.

“Membantu apa?”

~To be continued ~

Author’s Note: pertama-tama aku ucapin terimakasih buat temen-temen yang udah mau baca ff abal bin absurd ini yang hanya terinspirasi dari pengalaman pribadi. Oh iya, aku sengaja pampangin nama-nama cast + western yang main di chapter ini doang. Soalnya kalau aku tambahin nama luhan diatas nanti kalian nanya ‘kemana luhan?’. Buat yang nanya itu, tenang aja luhan masih ada dicerita selanjutnya kok, tapi mungkin emang deket-deket sama ending cerita ini. Oh iya, sebagian besar ff ini adalah imajinasiku yang terinspirasi dari pengalaman pribadi.         Yang punya ask.fm. follow ya.. @adelineputri21*kokpromote? Siapa tau kita bisa ngobrol gitu :3 haha yaudah tetep komentar ya J

42 thoughts on “[Freelance] My Love Story (Chapter 5)

  1. thorr chapter 6nya gk dilanjut? Aku nyari-nyari tapi gk ada. Hwaa sayang banget ini ceritanya seru bangett. 😭

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s