LOSER

tumblr_inline_nd6v7lNDsG1si59ng

LOSER

apareecium // Lu Han, SNSD Yoona, and an unknown person // Angst // All Rated

Tidak diangkat lagi.

Ini merupakan usaha Luhan yang entah sudah ke berapa kali untuk menghubungi kekasihnya, Yoona. Tapi, tak pernah ada jawaban darinya. Ia meletakkan ponselnya ke atas meja yang berada di hadapannya, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa putih miliknya. Angin berhembus pelan melewati jendela yang tak tertutup dan membuat gorden berwarna putih yang menutup jendela tersebut terkibar pelan. Ia menoleh ke arah jendela tersebut, lalu menjadikan hal tersebut sebagai fokus utamanya.

Sedetik kemudian, fokusnya buyar. Wajah cantik Yoona muncul di benaknya, tapi ada seseorang dibelakangnya. Seorang pria yang berjalan menghampirinya, lalu memeluk tubuh Yoona dari belakang. Sayangnya, pria itu bukan dirinya. Ah, pikiran seperti ini muncul pasti karena pesan dari Baekhyun tadi siang.

Ya, sebenarnya pesan dari Baekhyun-lah yang membuat Luhan bersikeras untuk menghubungi Yoona. Namun, tak pernah ada jawaban darinya hari ini dan hal tersebut semakin membuat Luhan curiga. Ia meraih ponselnya lagi, lalu membuka pesan dari Baekhyun.

Hei, Luhan. Sebenarnya aku tidak ingin memberitahumu, tapi baru saja aku melihat Yoona bersama pria lain di kedai kopi dekat rumah pamanku, dekat sungai Han.

Luhan menutup pesan dari Baekhyun, lalu mengetuk-ngetukkan ibu jarinya ke layar ponselnya. Otaknya memaksa dirinya untuk berpikir jernih, Yoona tidak akan melakukan hal itu. Namun, hatinya berbeda. Hatinya seakan-akan menyuruhnya untuk ‘ah, Luhan, setidaknya kau harus bergerak dari sofa sialan itu’.

“Baiklah,” putusnya.

.

.

.

Pohon besar yang berada di tepi jalan raya menjadi objek penting bagi Luhan. Ia tengah bersembunyi dibalik pohon tersebut sambil memperhatikan kedai kopi yang dimaksud oleh Baekhyun. Ia mengangkat tangan kirinya, lalu melihat arloji yang melingkar di lengannya. Ia mengerutkan bibirnya ketika ia sadar bahwa ia sudah berdiri hampir dua jam. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana yang ia kenakan.

Ia memecat angka satu yang merupakan panggilan cepat ke Yoona. Nada sambung mengisi pendengarannya, tapi tetap saja diakhiri dengan nada panjang yang berarti tak ada jawaban. Ketika ia keluar dari panggilan tersebut, ia melihat wallpaper ponselnya. Wajah cantik Yoona terpampang dengan jelas disana, senyumnya yang lebar, matanya yang bercahaya. Ah, Yoona adalah hidupnya.

Tetesan air turun dari langit yang membuat Luhan sontak melihat ke atas. Hujan. Seketika ia sadar, ia rindu dengan langit. Langit terlihat bebas. Tidak terikat. Ah, ia juga sadar akan sesuatu. Ia selalu menatap ke bawah, ke tanah. Seolah meratapi nasibnya yang dikhianati oleh cintanya. Ya, Luhan memang sudah mengetahuinya lebih dulu. Mengetahui bahwa kekasihnya, Im Yoona bermain di belakangnya selama ini; selingkuh.

Luhan mengeluarkan ponselnya lagi, lalu membuka pesan dari Baekhyun dan melihat kapan ia menerima pesan tersebut. Ia menghela napasnya pelan. Pantas saja. Pesan tersebut sudah ia terima dari jam sebelas pagi dan sekarang sudah jam lima sore. Dengan perasaannya yang kacau, ia melangkah mundur dari tempat yang ia pijaki tersebut.

.

.

.

Luhan melangkah keluar dengan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Baru saja ia menutup pintu kamar mandinya, tapi ponsel yang ia letakkan di meja makannya berdering tanda pesan masuk. Dengan cepat, ia menghampiri ponselnya dan membuka pesan tersebut.

Maaf, ponselku tertinggal. Aku baru saja menyelesaikan proyek dari kampusku dengan teman sekelompok.

Pesan dari Yoona. Pesan dari orang yang ia harap. Pesan dari orang yang ia tunggu. Entah mengapa, tak ada lengungan indah yang muncul dari bibirnya. Rasanya Luhan ingin sekali mengintrogasi kekasihnya ini. Ingin. Sekali. Tapi, ia tidak bisa. Entah apa alasannya. Ia hanya tidak bisa.

Luhan pun membalas pesan dari Yoona.

Baguslah. Bagaimana dengan proyekmu? Berjalan dengan baik?

Ck. Luhan. Seharusnya ia tahu alasan apa yang membuatnya seperti ini. Ia hanya saja tidak ingin mengakuinya.

Tak sesuai dengan dugaannya, Yoona membalas pesan dengan cepat.

Sempurna. Lusa proyekku akan kukumpulkan. Doakan aku, ya?

Luhan membaca pesan tersebut. Ya, Yoona benar-benar seperti Yoona yang biasanya. Bagaimana bisa dia melakukan hal ini semua?

Pasti, Yoong. Btw, besok ada acara’?

Luhan meletakkan ponselnya ke atas meja makan, lalu berjalan ke kuikas yang berwarna putih, membukanya, dan mengeluarkan botol yang terisi air putih dingin. Ia meneguk air putih tersebut hingga habis. Berharap pikirannya bisa dingin sedingin air ini.

Ponsel Luhan berdering lagi.

Ah, maaf sekali, Lu. Aku ada janji dengan adikku untuk menemani dia membeli beberapa keperluan untuk hari pertama di sekolahnya yang baru. Sepertinya bisa dari pagi hingga sore.

Luhan mengangguk paham.

.

.

.

Seoul, 08.00 AM.

Cappuccino yang mulai dingin itu tidak diacuhkan oleh Luhan. Matanya sudah terpaku ke trotar yang terletak tepat di depan kedai kopi yang tengah ia tempati ini. Kedai kopi dekat rumah Yoona. Beberapa detik kemudian, ia melihat wanita yang sangat ia kenal berjalan melewati kedai kopi yang ia tempati bersama pria asing di sebelahnya. Ia menghela napas pelan, lalu bangkit berdiri dan meninggalkan tempatnya beserta cappuccino yang belum disentuh olehnya sama sekali.

Ia keluar dari kedai kopi, berjalan mengikuti Yoona bersama pria asing tersebut. Ia bisa melihat tangan nakal pria asing itu melingkar di pinggang Yoona dengan sempurna. Panas. Ingin seklai ia menghajar pria asing itu hingga babak belur. Hingga tak ada oksigen yang masuk ke pernapasannya. Hingga dadanya berhenti naik-turun menarik napas. Terkesan jahat. Ah, memang jahat. Tapi, pria asing itu lebih jahat. Ia merenggut hidup Luhan.

Luhan mengeratkan jaket kulit hitam yang ia gunakan sambil memutar kedua bola matanya. Ia tak menyangka hal yang ia curigai selama ini, hal yang dilaporkan oleh temannya, hal yang tak pernah ia sangka benar-benar terjadi dan nyata di hadapannya. Yoona benar-benar bersama pria lain. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu menghubungi Yoona lewat panggilan cepat nomor satu.

Ia bisa melihat Yoona yang berjalan tak jauh di hadapannya melirik ke ponsel miliknya, lalu menyimpan ponselnya ke dalam tas selempang. Ia juga bisa melihat Yoona yang menempel mesra ke pria itu. Ia juga bisa melihat bibir pria itu mengecup puncak kepala Yoona.

Pupus.

Hancur.

Sakit.

Ia langsung melangkah mundur menjauhi Yoona. Dengan langkah yang cepat, ia berjalan melewati trotoar yang penuh oleh orang-orang asing. Ia berbelok ke sebuah gang yang cukup sempit yang menembus ke belakang sebuah gedung. Ada mobil berwarna hitam yang terparkir. Ia langsung berlari dan menendang spion mobil itu hingga patah. Terlalu kesal. Orang asing pun menjadi sasarannya.

Alarm mobil tersebut berbunyi sangat nyaring. Luhan tidak kabur. Ia tetap berjalan dengan santai. Jika sang pemilik menangkapnya, ia siap untuk mengganti kerusakan yang dibuat olehnya. Ia berbelok lagi keluar dari belakang gedung ini hingga bertemu dengan jalan yang besar. Seingatnya, sebelah kiri gedung ini adalah rumah Yoona. Ia melangkahkan kakinya ke arah sebelah kiri dan langkahnya terhenti tepat di depan rumah Yoona.

Rumah yang selalu ia sebut sebagai rumah keduanya. Kini tampak asing olehnya. Ia menunduk, meratapi nasibnya. Kenapa harus seperti ini? Ah, semua juga kembali ke dirinya sendiri.

Ia yang dari awal tidak mempunyai keberanian untuk mengatasi kecurigaannya. Ia yang tidak mau melangkah keluar untuk bertindak. Benar, ia tahu betul apa alasan dari semua hal tersebut.

Because he is a loser.

Because he is a loner.

Because he is a coward.

kkeut!

YEHET! Akhirnya FF LuYoon baru. Astaga, udah berapa lama gak buat FF LuYoon cobak. Hahahaha. FF ini terinspirasi dari MV Bigbang – Loser bagian Seungri. Astaga, babang makin ganteng aja. NGAAAAW! :3 Btw, saya tahu FF ini asburd banget jadi mohon pengertiannya yaaaa. Hehehehhee. Thanks for reading!😀

29 thoughts on “LOSER

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s