(Songfic) Jatuh Hati

Jatuh hati copy

Jatuh Hati

Im Yoona ‖ Kim Jongin

Terinspirasi Video Klip Raisa – Jatuh Hati-

 

Ada ruang hatiku yang kau temukan
Sempat aku lupakan kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati

 

            Aku merapihkan helaian rambutku yang tertiup angin, kemudian aku mendudukkan diriku di sebuah taman dekat cafe tempatku bekerja. Ku pejamkan mataku menikmati hembusan angin yang menggelitik wajahku. Ssrukk..ssrukk. Aku kembali membuka mata saat mendengar suara bising disekitarku, segera aku menoleh kesampingku dan mendapati seorang anak laki-laki sedang mencoba menarik kakinya yang tersangkut di rerumputan kering. “Ish, aduh”

            Aku melangkah kearahnya kemudian berjongkok dihadapannya. “Hey, bolehkan noona membantumu?”

            Ia menatapku ragu, kemudian mengangguk. Aku tersenyum kemudian perlahan melepaskan rerumputan yang melilit kakinya. Dan tadaaa, tidak butuh waktu satu menit kakinya sudah terbebas dari rumput itu. “Terima kasih noona..”

            Aku mengangguk lalu mengacak rambutnya. “Ngomong-ngomong kau mau kemana? Membawa buku, memangnya disini ada sekolah?”

            Sebenarnya aku tidak tau sejak kapan disini ada sekolah anak-anak. Bahkan sejak aku kerja hampir 3 bulan disini, aku tidak pernah mendengar ada sekolah disini. Tanpa menjawab pertanyaannku dia malah menarikku agar mengikutinya. Kami berjalan menuju pusat taman yang ku tahu bahwa disana berdiri sebuah gazebo (tempat beristirahat). Dari kejauhan aku bisa mendengar suara ramai anak-anak. Ternyata di gazebo itu berkumpul banyak anak-anak yang sedang asik tertawa sambil bermain dengan yang lainnya.

            Anak itu menghentikan langkahnya di depan gazebo yang membuat ku ikut menghentikan langkahku. “Hei Jino-ya, kenapa kau terlambat hm?”

            Seorang pria bertubuh jangkung mungkin berusia 4 tahun dibawahku. Tersenyum pada anak laki-laki didepanku ini. “Maafkan aku Jongin hyung, aku-aku tadi tersangkut rumput kering disana”

            Pria itu mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya padaku. Sejenak tatapan mata kami bertemu, aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku tapi pandangan mata itu adalah pandangan mata yang membuatku langsung merasa nyaman saat melihatnya. “Kau?”

            “Ah- aku Im Yoona, aku tadi menolong anak ini” aku menunjuk anak laki-laki yang bernama Jino itu. Masih dengan senyum diwajahnya dia mengangguk seakan mengerti penjelasanku, mungkin dia sedikit tidak suka ada orang lain disini. Mungkin. Ia mengulurkan tangannya padaku.

“Kim Jongin, kau bisa memanggilku Jongin” ucapnya tegas. Membuatku tersenyum malu menatapnya.

 

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu,tapi bolehkah ku selalu di dekatmu?

 

            Keesokan harinya aku kembali beristirahat ditaman sebrang cafe, seharian ini banyak sekali pelanggan yang datang ke cafe hingga membuat kami kekurangan tempat, untungnya mereka bersedia menunggu hingga pelanggan lain ada yang telah selesai. Aku mengusap peluhku, matahari terasa menyengat kulitku. Aku memejamkan mataku yang terasa silau oleh pancaran sinar matahari. Tidak lama aku merasakan teduh seketika, aku membuka mataku dan mendapati seorang pria berdiri dihadapanku menyodorkan minuman kaleng padaku sambil tersenyum manis. “Ku rasa kau butuh ini”

            “Ah,” aku menggumam, lalu mengambil minuman kaleng itu dari tangannya. Ingat Kim Jongin? Pria yang kutemui di pusat taman? Dia kini ada dihadapanku dengan berdiri dengan senyuman manisnya. “Bolehkah aku duduk em, noona?”

            Sontak aku langsung bergeser dan membiarkannya duduk disebelahku. Kami sama-sama diam meski cuaca begitu panas namun hembusan angin juga lumayan kencang.

            “Em, Kim Jongin­-ssi?” ucapku ragu, ia menoleh kearahku lalu akhirnya kami saling bertatapan. Yang membuatku sangat begitu menyukai tatapannya sejak awal. “Ya?”

            “Anak-anak itu, maksudku apa yang kau lakukan dengan anak-anak itu?” tanyaku.

            Ia tertawa ringan seperti tidak pernah ada beban dalam hidupnya. Aku masih menatapnya penasaran, ia menghentikan tawanya saat menyadari aku semakin menatapnya. “Aku adalah seorang mahasiswa, aku sedang dalam tahap uji skripsi

            “Lalu apa hubungannya dengan anak-anak itu?” tanyaku bingung.

            Ia tersenyum manis dan kembali menatapku, membuatku harus susah payah mengalihkan pandanganku darinya. “Aku sangat menyukai anak-anak, dan kebetulan aku mengambil tema tentang pendidikan anak-anak. Jadi aku mengajarkan sesuatu pada mereka yang tidak pernah mereka pelajari disekolahnya”

            “Apa yang kau ajarkan pada mereka?” ups, rupanya aku semakin kelewatan bertanya. Aku tidak mengerti bagaimana mungkin dia saja yang masih berusia sangat muda begitu peduli pada anak-anak. Padahal diluar sana masih banyak orang tua yang bahkan tega menelantarkan anaknya sendiri. “Kehidupan, aku mengajarkan pada mereka bagaimana kita bertahan di dunia yang bahkan orang-orang saja coba untuk menjatuhkan kita”

            Dia kemudian melirik arlojinya, “Kurasa aku harus pergi”

            Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku, tapi saat dia mengatakan pergi wajahku berubah sendu. Seolah tahu bahwa aku kecewa dia harus pergi, dia tersenyum lalu menggenggam jemariku begitu erat. “Kita akan bertemu lagi, bukan begitu noona?”

            Aku mengangguk, ada kupu-kupu yang seolah berterbangan diperutku. Im Yoona apa yang terjadi padamu? Apa kau menyukainya? Dia melepaskan genggaman tangannya padaku. Kemudian melangkah mundur sebelum melemparkan senyum manisnya dan melambaikan tangannya lalu berjalan menjauh dariku.

 

Ada ruang hatiku kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati

 

            “Yoona, tolong layani meja nomor 2” aku mengangguk saat mendengar Soo Young berteriak. Aku merapihkan pakaianku dan tak lupa memegang note pemesanan untuk mencatat pesanan calon pelanggan. Langkah kakiku terhenti di meja nomor 2 yang telah di duduki oleh seorang pria memakai hoodie berwarna hitam. Pria itu sedang asik membaca bukunya. “Em, maaf Tuan. Anda ingin pesan apa?”

            “Buatkan aku 2 Cappucino Late” gumamnya. Aku mengernyit, dia memesan 2? Jelas-jelas dia sendirian, apa mungkin dia sedang menunggu seseorang? Tapi aku seperti mengenal suaranya. “Apa ada lagi Tuan?”

            Ia menggeleng masih fokus dengan bukunya. Aku mengangguk lalu meninggalkan meja itu. Menghampiri meja pemesanan. “Yuri unnie, 2 Cappucino Late

            “Oke Yoona!” Hampir 15 menit akhirnya pesanan pria itu selesai, aku berjalan pelan menuju mejanya dengan tangan memegang nampan berisikan 2 Cappucino Late pesanannya. “Silahkan Tuan, pesanan anda sudah siap”

            Ia mengangguk. “Baiklah terima kasih, kalau begitu duduklah”

            Apa? Dia menyuruhku apa tadi? “Apa?”

            Aku bisa mendengar helaan nafas gusar darinya. “Aku menyuruhmu duduk disana”

            Ia menunjuk bangku di depannya dengan dagunya. Aku tidak mengerti, apa maunya sih pelanggan ini? “Maaf Tuan, anda tidak bisa seenaknya menyuruhku duduk disana. Aku disini adalah karyawan, dan aku tidak bisa duduk bersama pelangganku”

            “Bagaimana jika aku yang menyuruhmu noona?” ia mendongak lalu menatapku dengan penuh kemenangan. Dia? Jongin, bagaimana? Tapi?

            “Ah- aku tau kau pasti terkejut” dia berdiri kemudian mendekatiku dan menarikku duduk di kursinya tadi. Aku masih diam dengan ekspresi terkejutku, ia berjongkok di depanku hingga posisinya menjadi lebih rendah daripada aku. “Kau baik-baik saja noona?”

            Aku mengerjapkan mataku, lalu mengangguk cepat. Ia seperti menghela nafas lega, kemudian segera duduk dihadapanku. “Kenapa kau bisa disini?”

            “Aku adalah pemilik cafe ini. Kurasa hanya kau yang tidak tahu tentang itu” Pemilik Cafe ini? Bukankah saat itu Soo Young bilang pemilik cafe ini adalah seorang pria paruh baya yang sudah tua renta? Aish. Jongin masih menatapku dengan ekspresi khawatirnya, aku mengangguk tanda aku baik-baik saja. “Jadi bisakah kau menemaniku menikmati Cappucino Late ini?”

            Apa aku bisa menolaknya? Tentu saja tidak.

 

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu,tapi bolehkah ku selalu di dekatmu?

 

            Aku melirik arlojiku, seperti pembicaraanku dengan Jongin kemarin. ia akan mengajakku melihatnya mengajar anak-anak. Dengan senang hati aku mengiyakannya, dan untung saja Yuri unnie berbaik hati memberikanku cuti sehari. Senyumku mengembang saat melihat Jongin berlari dengan terburu-buru menghampirimu. Tidak ada tampilan mewah khas seorang pria biasanya. Ia hanya mengenakan celana jeans dan T-shirt berwarna putih polos dipadukan dengan hoodie berwarna dark blue. “Apa kau sudah menunggu lama noona?”

            Aku langsung menggeleng, bukan mencoba agar membuatnya tidak merasa bersalah. Tapi karna aku yang terlalu bersemangatnya sehingga aku lebih memilih datang lebih dahulu dan menunggunya. Ia mengangguk lalu tersenyum, kemudian tangannya menggenggam tanganku erat. Kami berjalan menuju pusat taman, tidak sampai setengah jam kami tiba dan aku sudah melihat anak-anak sudah berkumpul menunggunya.

            “Jongin hyung..” sontak mereka berteriak bersamaan. Beberapa dari mereka menyadari bahwa Jongin tidak datang sendiri. Kemudian menanyakan pada pria itu siapa yang diajaknya, aku tersenyum malu. Kualihkan pandanganku dan mendapati Jino, anak yang waktu itu aku tolong menatapku kemudian tersenyum. “Apa ini adalah wanita spesialmu itu hyung?”

            Apa yang baru saja dikatakannya? Spesial? Aku sontak menoleh pada Jongin yang berdiri disebelahku dengan wajah yang mulai memerah. Ia menggaruk tengkuk kepalanya. Jino masih menatap pada Jongin dan aku bergantian. Kemudian seorang gadis kecil menarik dress-ku membuatku menoleh padanya. “Apa unnie kekacihnya Jongin oppa?”

            Baru saja aku akan membuka mulut Jongin menyela. “Hei Alexa, siapa yang mengajarkanmu berbicara seperti itu? Dan juga kau Choi Jino, jangan bertanya yang tidak-tidak”

            Jongin kemudian menggendong gadis kecil bernama Alexa itu, aku merasakan ada yang tidak beres dengan diriku. Mana mungkin aku berharap menjadi wanita spesialnya, sedangkan kami baru bertemu beberapa kali. Seperti ada sebuah batu yang menyumbat pernafasanku berkali-kali aku menarik nafas walau terasa berat, Jongin mengalihkan pandangannya padaku. Mungkin ia menyadari apa yang baru saja kulakukan.

            “Kau tidak apa noona?” aku langsung menggeleng, kemudian aku mendudukan diri di pojok gazebo itu, saat Jongin duduk didepan anak-anak dengan papan tulis kecil berada disebelahnya. “Baiklah, ada yang ingin bercerita padaku hari ini?”

            Seorang anak yang berada di depan Jongin mengacungkan jarinya. “hyung, tadi saat disekolah teman-temanku mengejekku mengatakan bahwa ibuku adalah seorang pelacur. Apa itu pelacur, hyung?”

            Jongin tersenyum tipis. Ia menarik nafas sebelum menjelaskannya. “Suho-ya, dengarkan hyung mau?”

            Anak yang bernama Suho itu langsung mengangguk. Jongin mengacak rambutnya kemudian mengalihkan pandangannya menatapku, menyadari hal itu aku segera mengalihkan pandanganku. Kurasa benar-benar ada yang tidak beres padaku. Aku haru segera mengeceknya ke dokter. “Kita hanya terlahir memiliki 2 tangan, kedua tangan itu tidak bisa kita gunakan untuk menutup ribuan mulut yang mencemooh kita. Tapi tenang saja, kita bisa menggunakan kedua tangan kita untuk menutup telinga kita dari ucapan yang negatif untuk kita. Disaat seseorang mengejek sesuatu yang berhubungan dengan kita atau orang-orang disekitar kita. Kau hanya mempunyai 2 pilihan, menerimanya tapi tidak perlu membalas dan mengejeknya balik. Atau kau menolaknya dan kau mengejeknya balik. Kurasa kalian tahu pilihan mana yang harus kalian ambil. Bukan begitu?”

            “benar hyung/oppa..” koor mereka bersamaan.

            “Ambilah ucapan yang bernilai positif untukmu, tapi jangan melupakan ucapan yang bernilai negatif untukmu. Karna ucapan negatif bisa dijadikan sebagai pacuan. Dan Suho-ya, jangan pernah bertanya makna pelacur pada siapapun, karna Tuhan akan menghukummu ketika kau mengatakan itu mengerti?”

            Dan saat Jongin mengakhiri ucapannya ia kemudian kembali memandangku, sialnya sekarang aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Ia mengunci pandanganku, hingga senyum manis terukir diwajahnya. Dan saat itu juga aku seolah telah berada disebuah tempat entah dimana.

 

Katanya cinta, memang banyak bentuknya

Ku tahu pasti, sungguh aku jatuh hati

 

            Selepas mengajar anak-anak, Jongin mengajakku berkeliling ke Sungai Han. Menikmati matahari terbenam pemandangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Aku duduk di bawah sebuah pohon besar, menunggu Jongin yang mengatakan akan membelikan minuman untuk kami. Benar saja, tidak sampai 1 menit pria itu kembali dengan nafas yang terengah-engah. “Kau ini biasa berlari seperti itu ya?”

            Ia tertawa, “Tidak, aku hanya tidak ingin gadis secantik noona menungguku lama”

            Blush, aku yakin wajahku kini pasti bersemu merah. Aku hanya menundukkan kepalaku. Hingga Jongin memegang daguku membuat kami saling berpandangan lagi. Seperti tersihir aku membalas pandangannya. Seperti biasanya, matanya yang teduh seolah berkata bahwa : aku-akan-aman-selama-bersama-nya.

            Wajah kami perlahan saling mendekat, dan saat itu pula aku merasakan bibirnya mengecup bibirku dengan lembut. Bukan ciuman menuntut tapi dengan ritme yang mengalun layaknya sebuah melodi. Hingga saat kami tersadar, kami saling menjauh. Aku yang berdehem mencoba mencairkan topik dan Jongin yang menggaruk tengkuknya gugup.

            “Maafkan aku bersikap lancang noona” ucapnya penuh sesal. Aku tersenyum tipis lalu mengangguk. Jantungku masih berdegup kencang, dan saat itu pula aku memilih berjalan menjauh meninggalkannya.

 

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu,tapi bolehkah ku selalu di dekatmu?

 

            Hari ini aku benar-benar tidak konsen bekerja, bahkan beberapa kali Soo Young menegurku. Aku tidak bisa melupakan kejadian kemarin saat Jongin menciumku. Bagaimana bisa aku membiarkan pria asing menciumku? Membiarkannya merebut first kiss-ku? Aish. Aku menggelengkan kepalaku. “Yoona, ada paket untukmu”

            Aku berlari menghampiri Soo Young yang berdiri di meja kasir. Ia memberiku sebuah kotak kecil berwarna merah jambu polkadot dengan pita berwarna biru diatasnya. Aku mengernyit, dan membukanya perlahan. Dan aku menemukan sebuah note yang bertuliskan:

 

            Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku selalu didekatmu?

 

            Aneh, aku memandang berkali-kali note itu tapi tulisannya tidak berubah. Siapa yang mengirim ini padaku? Apa ini paket salah alamat? Kemudian aku merogoh kotak itu dan menemukan gantungan kunci berbentuk namsan tower dengan tulisan kecil :

 

            Temui aku di Namsan Tower pukul 8. Aku akan menunggumu sampai kau datang.

 

            “Yoona, dari siapa?” tanya Soo Young penasaran. Aku mengindikkan bahu tak peduli. Kemudian memberikan kotak itu pada Soo Young yang masih memandangku bingung. “Aku tidak tahu Soo, mungkin itu paket salah alamat”

            Tak berapa lama, aku melihat Henry yang sibuk membawa sebuket bunga matahari. Aku menatapnya bingung, Jelas Soo Young bukanlah penyuka bunga matahari. Sebagai kekasihnya seharusnya Henry mengerti itu. Tapi kenyataannya Henry menyodorkan buket bunga itu padaku. Aku menatapnya bingung. “Hei, apa ini?”

            Henry mengindikkan bahunya. “Entahlah noona, aku menemukan ini di depan”

            Masih dengan bingung aku mengambil buket bunga itu, sebuah tulisan tertulis disana:

 

Aku bukan jatuh cinta, namun aku jatuh hati..

 

            Ergh, siapa sih yang sedang mencoba bermain teka-teki denganku? Aku memutuskan untuk menemui siapa pengirim bunga dan kotak ini. “Dia mengajakku bertemu, di namsan tower

            Soo Young memekik. “Kau tidak boleh datang sendiri. Bisa jadi itu hanya orang iseng yang berniat jahat padamu. Aku akan meminjamkan Henry untuk menjagamu. Kau maukan sayang?”

            Henry langsung mengangguk. “Yoona noona sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Jadi aku akan menjaganya dengan baik”

 

Tapi bolehkah ku slalu didekatmu?

 

            Aku dan Henry berjalan dalam diam menuju namsan tower. Kemudian Henry berdehem membuatku menatapnya. “Ada apa denganmu?”

            “noona, apa kau mengenal Kim Jongin?” Deg! Aku menghentikan langkahku tiba-tiba, Jongin. Aku bahkan hampir melupakannya sejak aku penasaran dengan Seseorang yang mengirimkan paket padaku hari ini. “Kau ini kenapa noona?”

            “Tidak, dan aku mengenalnya. Kim Jongin, dia pemilik cafe tempat kita bekerja bukan?” jawabku mencoba bersikap biasa. Henry mengangguk mengiyakan ucapanku. “Kudengar ia akan segera menikah”

            Aku sontak menggenggam tangan Henry dengan kencang. Apa benar yang dikatakan Henry? Jongin akan menikah? Jadi.. jadi.. aku tidak mengerti mengapa aku tidak bisa menahan isakannku dan detik berikutnya aku menangis sekencang-kencangnya. Aku tahu ada yang tidak beres denganku dan aku begitu menyadari bahwa penyebabnya adalah pria itu. Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu padahal dia akan menikah? Bagaimana bisa dia merebut first kiss­-ku sedangkan dia sudah memiliki wanita yang akan mendampingi hidupnya?

            “noona kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?” Maafkan aku Henry-ah aku membuatmu khawatir. Tapi sungguh aku tidak bisa menahan tangisanku. Ini seperti aku sudah mencoba menahan tangisku selama mungkin kemudian akhirnya ia pecah. Ya, tangisku pecah saat aku mengetahui bahwa aku sudah dipermainkan. “noona..

            Aku tahu itu bukan suara Henry, tapi aku tidak peduli. Mungkin beberapa pengunjung disini menyadari aku sedang menangis. Dan mungkin kini aku sudah menjadi pusat perhatian mereka. “Im Yoona.”

            Aku merapatkan bibirku mencoba meredam tangisanku saat mendengar suara renyah itu. Suara yang belakangan ini memenuhi indra pendengaranku. Kemudian aku merasakan sepasang tangan memegang pipiku dan mengangkat wajahku membuat aku bisa melihat pemilik suara itu. Dan saat itu kakiku melemas, aku bahkan tidak bisa menopang tubuhku sendiri membuat pemilik suara itu memegang pinggangku menahannya.

*

            “Apa- apa yang kau lakukan disini?” tanyaku dengan suara serak. Aku masih berada hampir dipelukannya. Ia menunduk menatapku, aku bahkan melupakan Henry yang tadi bersamaku. “Henry-ah

            Aku menoleh dan mendapati tidak ada seorang pun selain aku dan dia disini. Kemana Henry? Sebenarnya apa yang sedang terjadi?. “Kau menangis?”

            Aku mencoba menjauhkan tubuhku darinya, tapi ia masih menahan agar aku berada di dalam kendalinya. “Im Yoona, apa kau menangis?”

            “Apa kau akan menikah?” aku merutuki diriku sendiri saat pertanyaan itu meluncur bebas dari bibirku. Bodoh! Ia tersenyum manis lalu mengangguk. Aku memejamkan mataku saat nyeri didadaku kembali terasa. Ia jelas akan menikah, dan masih berani bersikap seperti ini padaku!. Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuhnya agar menjauh dari tubuhku.

            “Hei-” ia mencoba melangkah mendekat padaku. Aku memberi kode agar ia berhenti. Aku menatap tajam kearahnya. “Aku.. aku tidak mengerti. Kau bersikap manis padaku, kau.. kau bahkan menciumku dan sekarang kau mengaku bahwa.. bahwa kau akan menikah. Kau jahat!”

            Ia melangkahkah kakinya yang lebar menuju kearahku. Meski aku melarangnya namun ia mengabaikannya. Kemudian ia menarikku kembali kedalam pelukannya. “Aku tidak akan menikah sampai mempelai wanitaku bersedia menikah denganku”

            “Apa maksudmu?” kepalaku sudah terlalu pusing dengan teka-teki dan semua kejadian ini. Aku ingin membenci Jongin, aku ingin membencinya. Aku mencoba memberontak dalam pelukannya namun ia menahanku. Terang saja, tenagaku kalah kuat dengan tenaganya. “Seorang wanita yang sejak awal sudah memenuhi ruang hatiku. Dia wanita yang sangat cantik, itu sebabnya aku selalu ingin berada disisinya”

            Apa-apaan dia ini, memuji calon istrinya dihadapanku. Dia pikir aku ingin mendengarnya. Dia pikir aku senang mendengarnya. Ia meletakkan dagunya diatas kepalaku, mencoba menyesap aroma dirambutku. Membuatku merinding seketika.

            “Aku menyukainya sejak Yuri noona mengenalkan sepupunya padaku. Seorang wanita yang berusia 4 tahun lebih tua dariku, tapi masih bersikap seolah dia adalah anak muda. Aku tidak berani mendekatinya hingga aku menyuruh Yuri noona mengajaknya bekerja di cafe milikku. Dan seperti Dewi Fortuna sedang berpihak padaku, ia menerima tawaran bekerja di cafeku. Selama ini aku hanya melihatnya dari kejauhan hingga takdir membuatku kembali bertemu dan berbicara dengannya. Aku menyukai saat dia tertawa, saat dia menolong murid kesayanganku tanpa pamrih. Saat dia tersenyum bahwa memastikan bahwa dia baik-baik saja, dan aku menyukai saat aku.. menciumnya dengan lembut” ucapnya panjang lebar. Aku hanya melongo, semua yang dia ucapkan. Mengapa persis seperti aku? Aku adalah satu-satunya sepupu Yuri unnie.

            “K-kau?” ucapku tergagap. Kemudian ia melepaskan pelukannya lalu berjongkok di hadapanku, tangan kanannya merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah lalu membuka kotak itu. Ada dua buah cincin dan dapat kulihat bahwa masing-masing cincin terukir nama. Im Yoona – Kim Jongin. “Jadi, apakah kau bersedia menjadi wanita yang akan selalu mendampingiku sehidup semati noona?”

            Aku mengerjapkan mataku, Jongin. Dia melamarku. Akulah wanita yang dia pilih menjadi teman hidupnya. Aku.. aku..

            “Hei Yoona, sampai kapan kau akan membiarkan Jongin seperti itu? Lihat wajahnya, ia seperti sedang berada dalam titik antara hidup dan mati” celetuk seseorang, dan kini aku melihat Soo Young, Henry dan Yuri unnie. mengelilingi kami. Aku menggigit bibir bawahku, “Yoona, kau pantas bahagia”

            Aku tersenyum bahkan hampir menangis saat Yuri unnie mengucapkan itu. Aku tidak memiliki siapapun didunia ini selain Yuri unnie, dia adalah kakak sepupu yang sudah kuanggap seperti kakak-ku. “noona, kau sungguh tidak sopan. Jangan lupakan jika Jongin adalah bosmu”

            Aku menunduk menatap Jongin yang begitu gugup. Kemudian aku menarik kedua ujung bibirku dan tersenyum manis. “Ya, aku bersedia Jongin-ah

            Dan detik berikutnya aku merasakan sepasang lengan hangat menarikku kedalam pelukannya. Dan berbisik mengucapkan “Aku mencintaimu, aku mencintaimu”

            Aku memejamkan mata dan bergumam. “Aku juga mencintaimu”

 

Epilog

 

            Setelah menunda pernikahan kami selama 2 bulan, akhirnya kami melangsungkan pernikahan setelah Jongin sudah lulus kuliah. Aku menatap diriku dipantulan cermin, sejak kecil aku selalu bermimpi akan pernikahan indah yang aku lakukan saat dewasa. Dan kini bersama Jongin, bahkan semuanya jauh lebih indah. “umma dan appa­-mu akan menyukai ini. Benarkan Yoona?”

            Aku mengangguk mengiyakan ucapan Yuri unnie, ia menatapku dengan mata yang memerah kemudian kami saling berpelukan. “Aku sangat menyayangimu Yoona”

            “Aku juga sangat menyayangimu, unnie” kemudian pintu ruangan terbuka dan menampakkan Jongin dengan balutan tuxedo berwarna putih senada dengan gaunku. Kemudian ia melangkahkan masuk menghampiri aku dan Yuri unnie.

            “Seharusnya aku membuat larangan agar calon pengantin tidak bisa saling bertemu” celetuk Yuri unnie. Jongin tersenyum manis kemudian memeluknya dan berkata. “Maafkan aku noona, bolehkan aku meminjam Yoona sebentar?”

            Dengan berat hati Yuri unnie mengangguk. “Baiklah tapi jangan melakukan apapun yang membuat make up-nya berantakan. Aku akan menendangmu Jongin­-ah

            Aku tersenyum dan Jongin mengangguk. Kemudian Yuri unnie meninggalkan kami. Jongin mengalihkan pandangannya menatapku. “Kau sangat cantik noona

            Aku menunduk malu. “Aku sangat senang akhirnya aku bisa memilikimu noona. Setelah beberapa tahun aku menahan diri untuk mengenalmu, memilih menjadi secret admirermu”

            Menjadi pengagum rahasiaku? Bahkan selama ini aku yang menganggap bahwa akulah pengagum rahasianya. “Terima kasih telah memilihku Jongin-ah

            Ia mengangguk lalu mengecup bibirku singkat. “Ayo, aku akan menunjukkan pada mereka betapa cantiknya calon istriku”

.

.

.

            Aku dan Jongin berdiri dihadapan Bapak Pastur, yang merapalkan beberapa doa sebelum memulai sumpah janji sehidup semati kami. “Kim Jongin, apakah kau bersedia menerima Im Yoona menjadi istrimu, ibu dari anak-anakmu dan mendampinginya saat susah maupun senang?”

            Jongin mengangguk sambil tersenyum. “Ya, aku bersedia”

            Kemudian Bapak pastur mengalihkan pandangannya padaku. Jantungku berdegup kencang. “Dan Im Yoona, apakah kau bersedia menerima Kim Jongin menjadi suamimu, ayah dari anak-anakmu dan mendampinginya saat susah maupun senang?”

            Aku menarik nafasku sebelum mengucapkan. “Ya, aku bersedia”

            Kemudian Jongin mengecup bibirku singkat, lalu kami menatap tamu undangan yang terharu. Yuri unnie dan Soo Young melambaikan tangannya padaku. Aku dan Jongin saling bertatapan lalu tersenyum. Aku bukan jatuh cinta padanya, namun aku benar-benar jatuh hati padanya.

 

END

Holla! ini buat selingan aja, direkomendasiin banget dengerin lagu Raisa itu. selain easy listening, dia cantik banget hehe. oiya, Mohon maaf kalo aku punya banyak salah, Minal aidin walfaidzin. See Ya!

24 thoughts on “(Songfic) Jatuh Hati

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s