[Freelance] Real Eyes to Realize

tumblr_static_girl_window_inspiration_back_dark_hair_woman-8e148f1b9d41d95791a0ae830037b577_h

Real Eyes to Realize

Author: Nikkireed

Cast: Im Yoona, Huang Zi Tao

Genre: Angst

“Kau yakin tidak apa Ibu tinggal?”
Yoona hanya mengangguk sekali. Ia tersenyum saat tangan Ibunya menyentuh lembut dahinya.
“Kau baik-baik, eoh. Nanti sore Ibu kembali.”
Ibunya mencium kening Yoona sebelum pergi meninggalkan ruangannya.
Dan Yoona sendirian, tidak. Sesekali akan ada dua atau tiga orang suster yang akan bergantian memeriksa keadaannya. Ia memang tidak sakit parah. Hanya usus buntu yang menyerangnya 3 bulan lalu yang memaksanya harus mengoperasikan bagian ususnya yang bermasalah itu.
Yoona meraih ponselnya, memeriksa notification yang masuk – hanya beberapa pesan dari Wendy yang menanyakan kabarnya atau Seulgi yang menanyakan bagaimana operasinya. Ia tersenyum sambil membalas pesan dari sahabatnya itu.
Yoona sudah berbaring di bangsal rumah sakit itu selama 2 hari. Pasca operasi tersebut membuatnya tidak boleh terlalu banyak bergerak. Bahkan berjalanpun masih tidak diperbolehkan. Oleh karena itu, tidak heran gadis aktif itu merasa bosan. Apalagi karena tuntutan pekerjaan Ibunya yang seorang auditor yang mengharuskannya untuk datang pagi-pagi sekali dan pulang tengah malam. Tapi karena keadaan putrinya pasca operasi, Ibunya mengambil ijin untuk pulang lebih awal. Tetap saja Yoona merasa bosan seharian di bangsal rumah sakit ini.
Pintu ruangannya bergeser. Seorang suster masuk dan tersenyum ceria, nametag-nya bertulisan Kwon Yuri, “Selamat pagi, Yoona-ssi. Kelihatannya kau senang hari ini?” Suster Kwon meletakkan nampan di atas meja disamping bangsal Yoona.
Yoona mengangguk menjawab pertanyaan Suster Kwon. “Ya, teman-temanku bertanya kapan aku diperbolehkan pulang.”
Suster Kwon tersenyum lagi, “Secepatnya, Yoona-ssi. Kau harus cepat sembuh jika ingin pulang.” Suster Kwon membantu Yoona untuk duduk di bangsalnya. “Oleh karena itu, kau harus makan banyak supaya cepat sembuh.” Ia menyajikan semangkuk bubur putih pada Yoona saat Yoona meletakkan ponselnya.
Yoona menyendokkan bubur itu ke dalam mulutnya. Hambar. Yoona lebih suka bubur dengan sedikit kulit ikan goreng atau dengan campuran sayur-sayuran. Yoona mengernyit tidak suka, cepat-cepat Suster Kwon menyerahkan segelas air untuknya sambil menahan senyumnya.
“Kenapa pasien diberikan makanan seperti ini? Ini benar-benar tidak enak, Suster.” Meski Yoona menggerutu tapi ia masih tetap menyendokkan bubur itu ke dalam mulutnya.
“Lalu makanan seperti apa yang enak, Yoona-ssi?” Suster Kwon memeriksa tabung infuse Yoona.
“Hmm.. chicken and beer, yaampun, Suster! Kau membuatku mengidamkan makanan itu.”
“Kalau begitu, kau harus cepat sembuh supaya bisa makan chicken and beer.” Suster Kwon kembali tersenyum saat selesai menuliskan sesuatu di atas kertas yang ia bawa. “Kau habiskan ini ya.”
Suster Kwon beralih memutari bangsal Yoona. Lalu berjalan dan menutup tirai pembatas yang tidak terlalu rapat sehingga menimbulkan celah.
Ternyata ada pasien di sebelah bangsal Yoona! Dan Yoona tidak sadar. Ia merasa bahwa ia hanya sendirian di ruangan tersebut.
Atau mungkin karena efek obat yang membuat Yoona tidur dan tidak sadar dengan keadaan sekitarnya.
Tapi Yoona tidak bisa melihat siapa pasien dibalik tirai tersebut. Dan kenyataan bahwa Suster Kwon adalah Suster yang ramah, tidak mungkin ia tidak mengajak bicara pasien tersebut.
Atau mungkin pasien tersebut masih tidur.
Tapi kenapa Suster Kwon hanya membawa satu nampan untuk Yoona padahal jelas ada 2 pasien dalam satu ruangan yang sama. Bukankah semua pasien tetap harus disediakan makanan walaupun pasien masih tidur?
Yoona merasa perlu bertanya pada Suster Kwon.
Suster Kwon kembali pada Yoona setelah selesai dengan pasien ditirai sebelah, “Sudah selesai, Yoona-ssi?”
Yoona sudah menghabiskan buburnya, walaupun tidak enak tapi salahkan perut Yoona yang merasa lapar. Ia mengangguk sekali, “Kenapa pasien disebelah tidak sarapan, Suster?”
Suster Kwon merapihkan meja bantu Yoona lalu membantunya untuk sedikit bersandar. “Ia tidak mau makan.” Ada nada sedih dari jawaban Suster Kwon.
“Tapi bukannya tetap harus diberikan makanan?”
“Sudah, tapi ia tidak akan mau makan.”
“Memangnya pasien itu sakit apa? Sama denganku?”
Suster Kwon meraih nampan dan siap berjalan menuju pintu, “Tidak. Sekarang, kau istirahat ya, Yoona-ssi. Semoga cepat sembuh.” Suster Kwon tersenyum dan menghilang dibalik pintu geser.
Yoona merasa semakin penasaran dengan pasien disebelahnya. Tentu saja, bagaimana jika pasien sebelah adalah orang tua yang tidak bisa apa-apa dan butuh bantuan, atau bagaimana jika pasien sebelah adalah anak kecil yang sakit parah dan kesepian, atau bagaimana jika pasien sebelah adalah seseorang yang bernasib sama dengannya.
Yoona sedikit sampai meraih tirainya. Lalu mengintip dari celah.
Ternyata semua tebakan Yoona salah. Yang Yoona lihat, pasien tersebut tidak berbaring di bangsalnya. Melainkan sedang duduk di kursi roda menghadap ke jendela.
Yoona memberanikan diri untuk semakin menarik tirai pembatas tersebut, “Ehmm.” Yoona mendeham pelan.
Pasien yang ternyata adalah seorang lelaki itu menoleh pada Yoona, lalu tersenyum tipis. Yoona sedikit terkejut karena keadaan lelaki itu yang terlihat santai dan tidak sesakit yang ia bayangkan. Yoona membalas senyumnya.
“Annyeonghasseo. Im Yoona imnida.” Sapa Yoona pelan. Aneh memang, mengajak berkenalan tapi tanpa berjabat tangan. Tapi karena keadaan Yoona yang tidak boleh berjalan dan ia tetap harus berbaring di atas bangsal dan lelaki itu yang duduk di kursi roda, maka mereka berkenalan sambil saling melempar senyum.
“Huang Zi Tao.” Lelaki itu tidak lagi tersenyum. Kembali memandang keluar jendela.
Yoona mengikuti arah pandangnya, hanya pancaran sinar matahari yang masuk melalui kaca. “Kau sakit apa, Hwang Ci Thao-ssi?”
“It’s Huang.. Zi.. Tao.. not Hwang Ci Thao. Ck.. panggil saja Tao.”
Yoona menunduk, merasa bersalah karena salah mengucapkan namanya, astaga wajahnya sedikit merona, “Maaf, Tao-ssi.”
2 hal kesan pertama Yoona terhadap lelaki itu : Pertama, lelaki itu berbicara tanpa melihatnya. Kedua, suaranya tidak seperti orang sakit parah.
Karena pertanyaan ‘kau sakit apa’ Yoona tidak dijawab, maka Yoona bermaksud tidak ingin melanjutkan pembicaraannya dengan lelaki itu lebih jauh lagi. Ditambah rasa malu karena salah mengucapkan namanya.
Yoona hendak menutup tirainya.
“Kau sakit apa?”
Yoona tidak jadi menutup tirai karena Tao kembali bertanya, walaupun ia masih membelakangi Yoona. Yoona menghela nafas, “Usus buntu. Dan baru operasi kemarin.”
“Sudah lebih baik?”
“Lebih baik, walaupun sedikit nyeri dibagian pinggang.”
Percakapan itu terhenti karena Tao tidak merespon dan Yoona yang biasanya mudah akrab menjadi kaku.
“Aku ingin tahu ada apa diluar sana, sedari tadi kulihat kau memandang ke jendela.” Yoona mencoba mencari topik. Mengingat ia penasaran dan ingin bersosialisasi karena kesepian.
Tao menoleh pada Yoona dengan lekungan tipis dibibir, “Diluar sana ada hal luar biasa. Ada taman belakang, kolam renang, bunga mawar, kupu-kupu, sinar matahari.”
Yoona merasa suara Tao lebih hidup dari percakapan sebelumnya. Cara Tao menceritakannya seolah ia berada di taman tersebut. “Aku ingin lihat, tapi masih belum boleh berjalan.”
“Kau harus cepat sembuh supaya bisa melihatnya.”
Kemudian pintu ruangan tersebut bergeser dan Yoona reflek menarik tirai pembatas itu agar kembali menutup. Dua orang suster masuk, satu membawa nampan berjalan menuju Yoona dan yang lain beralih menuju Tao.
Suster Kwon yang berjalan membawa nampan untuk Yoona, “Sekarang waktunya minum obat, Yoona-ssi.”
Yoona cemberut melihat Suster Kwon menyodorkan sepiring obat berisi 2 butir pil dan segelas air. “Kau harus cepat sembuh jika ingin pulang.” Suster Kwon mengingatkan Yoona kembali, sedikit membujuk gadis itu agar mau minum obat.
Dengan berat Yoona menelan obat tersebut dan langsung minum habis air di gelas.
Suster Kwon membantu Yoona menidurkan posisinya. “Sekarang kau istirahat, oke?” Ia menyelimuti Yoona. Lalu tersenyum sebelum keluar dari ruangan setelah Yoona terlelap.
Yoona merasa jantungnya berdegup kencang, tidak tahu mengapa. Efek obat, mungkin. Tapi ia merasa tidak nyaman, ia bergerak gelisah. Dan beberapa titik keringat muncul di dahinya.
“Yoona? Yoona?”
Yoona membuka mata dan sinar lampu masuk dalam penglihatannya, “Ibu?” Ibunya sudah berdiri disampingnya memegan tangan kanannya.
“Kau mimpi buruk? Tidurmu lama sekali hari ini.” Ibunya menyelipkan rambut Yoona di belakang telinga, tangannya menghapus titik keringat di dahi Yoona.
“Sudah lebih baik, Yoona-ssi? Apa perutmu masih sakit?” Suster Kwon memeriksa tabung infuse Yoona.
Yoona mengangguk sekali, “Sudah, eh tidak. Aku ingin bertanya, apakah pasien –“
“Tidak. Besok ia akan dipindahkan ke ruangan lain.” Suster Kwon seolah bisa membaca pertanyaan Yoona. Ia menggeleng pelan, “Ia tidak akan bertahan. Dokter bilang ia sudah di stadium akhir.”
Yoona seketika membelalakan matanya, tidak percaya dengan jawaban Suster Kwon, “Apa?! Apa ia pengidap kanker?”
Suster Kwon tersenyum sedih, “Bukan, Yoona. Ia buta. Kornea matanya tidak berfungsi.”
Yoona yakin bola matanya hampir melesat keluar dari matanya. Ia membuat bentuk O sempurna di mulutnya, wajahnya terkejut bukan main. Jelas, karena ia merasa baru saja bertanya tentang keadaan diluar jendela pada seseorang yang buta.
“Memangnya, mengapa Yoona-ya?” Tanya Ibu Yoona sedikit heran, “Apa ia mengganggumu?”
Yoona menggeleng cepat sambil menatap horror ibunya, “Tidak, aku sempat berbicara padanya. Dan menanyakan tentang apa yang ia lihat di luar jendela sana. Dan ia menjawab ada hal yang luar biasa diluar sana.”
“Pasien Zi Tao memang begitu, ia selalu merasa ada harapan untuk dirinya. Walaupun kecil, ia masih percaya ada keajaiban. Tapi..” Suster Yuri menggantung kalimatnya dan menggigit bibir bawahnya dengan cemas.
“Tapi apa, Suster?” Desak Yoona ingin tahu.
“Tapi baru tadi siang, ia menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggal sebelum jadwalnya besok pagi akan dipindahkan ke rumah sakit di Los Angeles.”
Kembali Yoona merasa bodoh, atau gila, atau keduanya. Ia baru saja berbicara tentang sesuatu yang visual pada seseorang yang buta, dan pembicaraan itu menjadi pembicaraan pertama dengan terakhir dengannya. Yoona menggeleng, “Padahal aku baru saja ingin berteman dengannya. Lalu, bagaimana dengan keluarganya?”
“Keluarganya memang sudah melepaskan pasien Zi Tao semenjak ia sakit.” Suara Suster Kwon menjadi kecil.
“Sudahlah, Yoona-ya. Pikirkan kesehatanmu.” Ibu Yoona mengelus lembut rambut Yoona, mencoba menghilangkan kesedihan Yoona.
“Aku ingin pergi ke pemakamannya, Bu.”
“Asal kau cepat sembuh, Yoona-ya.”
A week later..
Yoona dan ibunya berjalan menyusuri jalan setapak dengan pakaian serba hitam – payung hitam, kacamata hitam, tas hitam. Hanya sebuket bunga putih yang dibawa Yoona berwarna cerah. Mereka berjalan dengan hati-hati dan perasaan iba pada batu nisan di kiri kanan mereka. Dua hari lalu Yoona diperbolehkan pulang oleh dokter, karena memang sudah lebih baik. Tapi Yoona tetap tidak diperbolehkan terlalu banyak berjalan. Karena takut terjadi apa-apa (dan Yoona memaksa untuk pergi mengunjungi pemakaman Zi Tao), akhirnya Ibunya memaksa Yoona menggunakan kursi roda.
Mereka sampai pada sebuah batu nisan dengan tanda Salib dari kayu berwarna putih dengan tulisan Huang Zi Tao dalam huruf Mandarin dan Korea.
Yoona meletakkan buket bunga di depan batu nisan tersebut, “Aku baru saja mengenalmu, Zi Tao-ssi. Tapi aku sudah menganggapmu teman. Semoga kau bahagia disana dan benar-benar melihat sesuatu yang luar biasa nantinya.”
Ibu Yoona hanya meremas pelan bahu putrinya yang tengah duduk di kursi roda. Ia menunduk sambil menutup mata sejenak.
“Kita pergi, Yoona-ya.”
“Aku pergi, Zi Tao-ssi.” Ucap Yoona sedikit senyum tipis, tepat sebelum Ibunya mendorong kursi roda yang ia duduki menjauhi batu nisan tersebut.

an. ini terinspirasi dari salah satu post di timeline sosmed aku, dan katanya sih cerita nyata. tapi endingnya aku bikin sedih karena cukup prihatin sama solo debutnya Tao #authorbaper tapi tetep doain yang terbaiklah untuk Tao. terima kasih sudah membaca.

8 thoughts on “[Freelance] Real Eyes to Realize

  1. ff nya kereen banget kak.. Suka.. Banget.. feelnya dapet.. Nyesek baca ff nya tao..
    Di tunggu ff selanjutnya ya.. Keep writing^^

  2. huaa sad ending !!!!
    aku kira tao sakit usus buntu juga …
    hmm tao aku selalu mendukung yg terbaik untuk mu dan juga exo , fighting ne!! untuk T.A.O

  3. huaa sad ending !!!!
    aku kira tao sakit usus buntu juga …
    hmm tao aku selalu mendukung yg terbaik untuk mu dan juga exo , fighting ne!! untuk T.A.O
    ditunggu fanfic nya yang lain eoh? fighting! !!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s