[Freelance] Red Bean (Chapter 2)

red-bean

Author: Nikkireed

Cast : Im Yoona, Kim Suho, Do Kyung Soo as Kim Kyung Soo, Kim Jongdae, Zhang Yi Xing

Genre : Chaptered 17+ action

Yang dikatakan seorang Im Yoona saat interview adalah kebohongan. Ibunya tidak meninggal, melainkan melarikan diri setelah menemukan ayahnya berselingkuh. Sedangkan Ayahnya yang adalah seorang Presiden Direktur sebuah bank swasta di Seoul, memang bermain dibelakang ibunya.
Tiga hari sebelum Im Yoona mendaftar sebagai agen di Water Office, ia mendapatkan berita dukacita dari ayahnya. Ayahnya meninggal karena serangan jantung mendadak saat berada di kantor. Kasus kematiannya ditutup demi keselamatan perusahaan.
Setelah itu ibunya, yang entah dimana, menelepon Yoona untuk memberitahu sesuatu. Bahwa Yoona mendapat sebuah warisan. Karena ia memang anak tunggal jadi perusahaan bank itu jatuh ke tangan Yoona. Walaupun begitu, Im Yoona tidak terlihat senang.
Pertama, karena ayahnya meninggal secara tiba-tiba. Walau ia curiga seseorang membunuhnya.
Kedua, ibunya yang keberadaannya tidak diketahui itu yang memberitahu Yoona tentang warisan. Itu mengapa ia mencurigai seseorang telah membunuh ayahnya.
Ketiga, warisan tersebut dibawa kabur oleh seseorang. Fakta ini memperkuat dengan asumsi Yoona tentang pembunuhan ayahnya.
Yoona mengurung diri di kamar selama dua hari. Tidak makan tidak minum. Selama dua hari itu juga ia berpikir dan melakukan sesuatu. Ia memang tidak makan tidak minum, tapi ia melakukan sesuatu.
Yoona menulis surat untuk menutup perusahaan bank milik ayahnya, mengirim keluar negri semua karyawannya agar menutup mulut tentang perusahaan, membawa beberapa barangnya dan pindah ke sebuah apartment untuk memulai hidup sendirian.
Sebelum Yoona pindah ke apartment, ia mendaftar ke sebuah agen pencarian. Demi mencari warisan tersebut. Dan demi mencari pelaku yang membunuh ayahnya.
Itu mengapa Yoona harus sangat berhati-hati dalam perannya kali ini.

Suho sudah biasa menerima tamu tanpa ketukan pintu. Adiknya bisa masuk begitu saja tanpa mengetuk. Beberapa tamu penting juga akan masuk tanpa mengetuk pintu karena ia sudah tahu. Tapi tidak dengan Im Yoona yang satu ini.
“Masuklah.” Perintah Suho, mengenal ketukan di pintu ruangannya.
Im Yoona masuk ke ruangannya, tatapannya penuh dengan ke-tidak-percaya-diri-an. Gerakannya juga gelisah, dinilai dari cara Yoona menutup pintu dibelakangnya.
“Bagaimana?” Suho melipat tangannya diatas meja, menantikan jawaban baik dari Yoona.
Yoona berdiri sejauh dua meter dari Suho, tidak berani mendekat. Tangannya tidak bergetar, tapi tubuhnya bergetar. Wajahnya tidak memucat, tapi bibirnya memutih. Suho menahan ketawa melihat sosok Im Yoona yang seperti ini.
“Mendekatlah, Im Yoona.”
Yoona berjalan beberapa langkah, mengurangi jarak antara dirinya dan Suho yang duduk di belakang meja kantornya.
Lalu ia mengulurkan tangannya, yang awalnya masih mengepal. Ia memutar tangannya sambil membuka telapaknya yang menggenggam sebuah miniatur. Itu Terracotta Army.
Suho tidak terkejut karena sudah mengetahui dari Kyung Soo, tapi ia berusaha menampilkan ekspresi terkejutnya di depan Yoona. “Kau mendapatkannya!”
Yoona masih tidak berbicara apa-apa, senyumpun tidak. Ia masih shocked dengan apa yang ia lakukan 45 menit yang lalu, demi sebuah miniatur.
Suho akhirnya memanggil adik-adiknya lewat intercom.
Kyung Soo dan Jongdae masuk ke ruangan. Keduanya datang dengan air muka yang berbeda. Jongdae dengan senyum khasnya, merasa puas dengan tugas pertama Yoona. Sedangkan Kyung Soo terlihat biasa saja, padahal yang ia takutkan adalah bahwa Yoona bisa berhasil dalam tugas pertamanya. Itu bukan yang diinginkan Kyung Soo.
“Bagaimana cara ia melakukannya?” Suho berlagak ingin tahu, bertanya pada siapa saja yang mendengar diruangan itu.
“Ia melakukan dengan baik, Kepala Kim. Aku bahkan tidak menyangka ia sanggup melakukannya.” Jongdae melapor sambil melirik ke arah Im Yoona yang masih terdiam.
Kyung Soo hanya menghela nafas panjang, bersikap biasa saja seolah bukan masalah. Ya, Kyung Soo-lah yang pertama kali memberitahu Suho mengenai keberhasilan misi pertama Yoona. Setelah mendengar suara peluru yang dilepas, PC yang merekam siaran langsung kamar Zhang Yi Xing langsung berubah. Sosok Zhang Yi Xing yang awalnya asik memainkan ponselnya, mati tergeletak begitu saja diatas ranjangnya karena peluru cepat dan tanpa suara yang dilayangkan Yoona.
Walaupun Kyung Soo tidak menyangka Yoona akan melakukannya. Penilaiannya tentang keberanian Yoona berubah saat Yoona kembali ke atas dengan wajah yang pucat. Kyung Soo seolah ingin tertawa karena merasa penilaiannya salah. Ia menilai seorang Im Yoona cukup berani menembaki seseorang demi sebuah patung kecil, tapi nyatanya perempuan ini lemah juga. Terlihat dari cara Yoona mengembalikan pistolnya. Tangannya bergetar hebat walaupun Yoona tidak berbicara apapun sejak ia menggunakan alat itu.
Kyung Soo tak kuat menahan tawanya, akhirnya ia tertawa di hadapan Suho, Jongdae dan terang-terangan menertawai Yoona.
“Aku salah menilainya. Kuharap kau berubah pikiran.” Kyung Soo berkomentar di sela-sela tawanya.
Sedangkan Jongdae, ingin sekali tertawa, tapi demi menghargai perasaan Yoona dan demi kesopanan, ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia bisa menyimpan tawanya nanti saat tidak ada Yoona.
“Tidak. Yoona melakukan tugasnya dengan baik.” Suho menulis sesuatu di kertas, lalu mengangkat kertas tersebut di hadapan mereka semua. Red Bean, K, Chen, kalian hebat.
Yoona masih terdiam sampai akhirnya ia membaca kalimat tersebut, ia menghela nafas legah.

Yoona’s POV
Sesampainya di apartment, aku langsung mencari air dingin. Minum beberapa gelas sampai tenggorokanku bisa berfungsi lagi. Baru aku sadari, aku tercekat. Sehingga tidak mampu berkata apa-apa. Tidak heran jika Kyung Soo tadi menertawaiku.
Aku meletakkan gelas di meja. Memejamkan mata sejenak.
Aku. Membunuh. Seseorang. Demi. Sebuah. Patung. Kecil.
Aku masih ingat bagaimana mayat tadi menatap ke arahku, walaupun persisnya tidak menatap ke arahku. Astaga Im Yoona!
Aku menggeleng. Tidak, ini demi warisanmu, Im Yoona, ini demi Appa.
Tapi mengapa mereka tidak memberitahuku? Mengapa mereka harus mendapatkan barang itu? Apakah tidak bisa jika meminta dengan baik-baik dari pemiliknya?
Aku akan bertanya besok. Kuharap aku bisa menahan keingintahuanku sampai besok.

Aku mengetuk pintu ruangan Kepala Kim.
“Masuk.”
Aku masuk dan menutup pintu dengan pelan, tidak dengan gugup seperti kemarin.
“Aku ingin bertanya.” Kataku.
Kepala Kim menulis sesuatu di kertas lalu ia mengangkat kertas tersebut, Tulislah.
Aku menerima kertas dan pena yang ia berikan kepadaku. Lalu menulis. Untuk apa aku harus membunuhnya? Apakah tidak bisa dengan cara baik-baik?
Lelaki itu tidak terkejut dengan pertanyaanku. Tapi ia bangkit berdiri dari tempat duduknya. “Kita ke Water Room.”

Kami masuk ke Water Room, tidak ada Kyung Soo dan Jongdae disana. Aku berpikir dimana mereka sekarang. Membunuh orang lain demi sebuah boneka? Atau sedang mengelas pisaunya agar lebih tajam untuk membunuh orang lain?
“Ia sudah ditakdirkan mati. Dan Terracotta Army itu sudah dimusnahkan. Demi kebaikan dunia.” Aku tidak mengerti dengan kalimat yang baru diucapkan Kepala Kim.
Ia duduk di salah satu kursi di meja tengah. “Duduklah, Red Bean.”
Aku menurutinya duduk di sisi kirinya, menunggu jawabannya.
“Zhang Yi Xing sudah ditakdirkan mati. Itu mengapa aku memberikanmu kaliber, bukan pistol. Karena kaliber itu memang sudah didesain untuk membunuhnya. Apa Kyung Soo tidak menjelaskan?”
“Jongdae hanya bilang bahwa isi peluru tersebut memang dibuat untuk membunuhnya. Tapi mengapa?” Aku benar-benar tidak mengerti alasan kematiannya, demi mengincar sebuah miniatur.
“Terracotta Army itu harus dihilangkan. Orang lain akan merasa ingin memilikinya jika mengetahui bahwa peninggalan sejarah itu masih ada. Kau bisa menebak harga miniatur Terracotta Army itu?” Kepala Kim bertanya seperti menantangku. Hey, aku ini pemilik bank swasta di Seoul, angka besar bukan masalah untukku.
“Bahkan jika dibayar nyawa anaknya, seorang ayahpun rela memberikannya.” Kepala Kim menjawab sambil menerawang jauh. Ia berbicara seolah pada dirinya sendiri.
Tidak. Aku tidak setuju dengan pernyataannya barusan.
Bukti terkuat, ayahku yang baru saja meninggal itu, yang sebenarnya selingkuh dibelakang ibuku, tidak akan rela membunuhku hanya demi sebuah apresiasi, demi sebuah patung, atau uang apalah itu. Aku bisa yakin.
Tapi aku tidak akan mengatakan ketidaksetujuanku pada Kepala Kim.
“Lalu, kau tahu dari mana sudah takdir Zhang Yi Xing itu harus meninggal?” Tanyaku pelan, sebisa mungkin aku memelankan suaraku agar tidak terlalu seperti menuntut.
Lelaki itu terkekeh pelan, ia menatapku, “Takdir. Takdir yang menginginkannya, Red Bean.”
“Apa selama ini..”
“Ya, selama ini kami bekerja dibawah takdir. Aku menjadi kepala disinipun adalah takdir.” Kepala Kim memotong pertanyaanku.
Aku terdiam. Takdir. Apa benar itu ada.
“Baik, lupakan masalah takdir. Sekarang, apa kau sudah siap dengan tugas keduamu, Red Bean?” Kepala Kim melipat tangannya di depan dada. Ia tersenyum.
Yoona’s POV end

Besoknya, Suho memanggil Yoona, Jongdae dan Kyung Soo untuk ke ruangannya. Mereka bertiga berdiri di hadapan Suho dengan banyak pertanyaan.
“Ini tugas keduamu, Im Yoona.” Suho menyerahkan sebuah amplop coklat lagi pada Yoona.
Yoona menerimanya.
“Tapi kali ini, tidak ada Kyung Soo dan Jongdae.”
Sontak, tiga pasang mata terkejut menatap kalimat yang barusan Suho ucapkan.
“Jika kau berhasil sesempurna tugas pertamamu tanpa bantuan Kyung Soo dan Jongdae, kau selamat.” Suho menekan kata terakhir.
“Tapi, hyung. Apa –“ Jongdae ingin menyela.
Tapi Suho mengangkat selembar kertas dengan tulisan Tidak ada bantahan. “Kau mengerti, Im Yoona?” Suho kembali pada Yoona. Yoona hanya mengangguk kaku.
“Dan kalian,” Suho menunjuk adik-adiknya dengan pena lalu mengangkat kertas lain, Kalian tidak boleh berada di TKP. Kalian hanya boleh membantunya dari jauh.
Kyung Soo mencoba membaca mata Suho, tidak menangkap apa isi pikiran hyung-nya itu. Sedangkan Jongdae berusaha ingin mengatakan sesuatu.
“Bekerjalah.” Suho mengakhiri rapat singkat tersebut.

Kyung Soo, Jongdae dan Yoona langsung menuju Water Room. Mereka berdiri mengitari meja tengah, kemudian Yoona membuka amplop coklat dan mengeluarkan isinya di atas meja tersebut.
Isi amplop tersebut adalah sebuah kartu kredit, kunci hotel dan foto.
Kyung Soo yang pertama meraih foto itu. Mengamatinya sebentar sambil berpikir sosok yang ada di foto tersebut. Sedangkan Jongdae terduduk di kursi, tidak melakukan apapun dan hanya menatap ke arah Yoona. Yang ditatap oleh Jongdae malah mengerutkan kening pada Kyung Soo.
Yoona menangkap perubahan ekspresi Kyung Soo tiga detik setelah ia melihat foto tersebut. Lalu Kyung Soo membalikkan foto tersebut ke arah Jongdae dan Yoona, “Ini sedikit ekstrim.”

Suho memandang kertas hasil tulisan tangannya. Ia tersenyum sebentar, lalu hilang seiring suara pintu kamarnya diketuk.
“Permisi, Tuan Kim. Sudah saatnya makan malam.” Bibi Nam masuk dengan sedikit menunduk.
Suho kembali tersenyum pada Bibi Nam. Beliau sudah mengurusi ia dan adik-adiknya selama belasan tahun. Semenjak ia dan adik-adiknya ditinggal lepas oleh kedua orangtuanya yang sekarang pensiun dan menetap di New York, Bibi Nam yang menjaga mereka.
“Oh, baik. Apa Jongdae dan Kyung Soo sudah dibawah?”
Bibi Nam yang masih menunduk, “Mereka sudah menunggu dibawah, Tuan Kim.”
“Terima kasih, Ahjumma.”
Dan Suho melangkah turun dari kamarnya untuk segera bergabung dengan kedua adiknya yang sudah menunggu di meja makan.
Makam malam Kim kakak-beradik selalu hening. Entah memang karena manner yang mengajarkan bahwa jika sedang makan tidak boleh bicara, atau entah karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, yang sebenarnya banyak pertanyaan yang harus dibicarakan.
Jongdae dan Kyung Soo menyelesaikan pannacota sebagai makanan penutup sedangkan Suho menolak makan hidangan penutup, ia memilih menunggui kedua adiknya memulai pembicaraan sambil memainkan ponselnya.
“Hyung.” Kyung Soo-lah yang akhirnya memulai pembicaraan. Suho masih berpura-pura sibuk dengan ponselnya hanya meng-hem-kan Kyung Soo sebagai sahutannya.
“Hyung, apa yang kau pikirkan tentang Yoona?”
Pertanyaan Kyung Soo menarik perhatian Suho. Akhirnya ia mematikan ponselnya, duduk bersandar santai menatap dua adiknya. Jongdae yang polos masih menikmati pannacota-nya tanpa merasa ada yang salah.
Suho tersenyum, “Yoona seorang yang berani.”
Jongdae mendongak ke arah Suho, “Kau yakin dengannya kali ini?”
Suho mengatupkan bibirnya sambil mengangguk yakin, “Always am. Kasus ini harus ia selesaikan sendiri karena hanya dia yang bisa.”
“Tapi kau yang memintaku mengawasinya. Bagaimana aku bisa mengawasinya jika aku tidak di TKP. Bagaimana jika dia menyebabkan masalah. Bagaimana jika ia terluka.” Kalimat-kalimat tersebut keluar begitu saja dari mulut Kyung Soo. Jongdae yang duduk disebelahnya sampai sedikit tercengang menghadap ke Kyung Soo.
“Sejak kapan kau khawatir dengan si kurus itu?” Suho memajukan diri, melipat tangan di depan dada di atas meja, “Dari awal, kau yang paling tidak menerima dengan kehadirannya.” Suho menelengkan kepalanya pada Jongdae, “Bukankah begitu, Jongdae?”
Jongdae mengangkat bahu cuek, kembali melanjutkan makanan penutupnya.
Kyung Soo menatap lurus-lurus pada hyung-nya. “Aku tidak mengkhawatirkannya. Aku memikirkan nasib Water Office.”
Suho menarik diri dan kembali tersenyum, “Ia tidak akan menyebabkan masalah.” Entah mengapa Suho yakin dengan dirinya sendiri.

“Kali ini, Red Bean,” Jongdae menghela nafas sebelum melanjutkan, “Kali ini, kau harus.. kau harus.. melakukan..”
“Apa? Membunuh orang lagi demi sebuah patung?” Yoona menebak dengan pelan.
“Tidak.” Suara Kyung Soo membuat Jongdae dan Yoona menoleh ke arahnya. Kyung Soo berdiri mengarah ke lemari kaca yang berisi perlatan, membelakangi mereka berdua.
“Kali ini kau harus merelakan harga dirimu.”
Jongdae menatap ngeri ke arah Kyung Soo yang masih berbicara sambil memegang sesuatu ditangannya. Sedangkan Yoona tidak mengerti maksud kalimat Kyung Soo barusan.
“Kau harus mendapatkan sebuah tanda tangan seorang artis.” Kyung Soo akhirnya berbalik dan berjalan mendekati mereka. Ikut duduk dan bergabung bersama Jongdae dan Yoona yang masih dengan penuh pertanyaan.
Kyung Soo menepuk-nepuk foto di meja tersebut, “Ini, Kris. Artis muda yang sedang heboh. Kau harus mendapatkan tanda tangan –“
“Aku bahkan tidak tahu ia siapa. Aku tidak merasa mengidolakannya, buat –“ Yoona menyanggah, tidak mengerti.
“Spelling Manor itu ada padanya.” Kyung Soo kembali memotong pembicaraan Yoona. “Tugas keduamu adalah harus mendapatkan sebuah mansion. Dan Kris ini memiliki kontraknya, Red Bean.”
Yoona jelas semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Kyung Soo. Mansion. Kontrak. Ia mengerutkan kening dan menunggu penjelasan Kyung Soo.
“Suho hyung ingin kita mendapatkan –“
“Kepala Kim.” Jongdae menyela, membuat Kyung Soo memutarkan matanya.
“Ya, Kepala Kim ingin kau mendapatkan tanda tangan Kris ini atas Spelling Manor. Sebuah mansion dengan harga 178 Triliun won. Kontrak itu ada pada tanda tangan Kris. Kau harus mendapatkannya.” Kyung Soo menatap Yoona dan Jongdae bergantian.
“Dengan?” Jongdae yang bertanya. Bukan Yoona.
“Dengan mendekatinya.” Kyung Soo menatap Yoona, menunggu reaksinya.

Yoona dan Jongdae sekarang berada disebuah pusat perbelanjaan besar di Seoul. Dengan modal sebuah kartu kredit dari amplop coklat yang diberikan Suho, mereka diisyaratkan untuk mengubah habis seorang Im Yoona.
“Kurasa yang ini.” Ucap Jongdae setelah memilah-milah sebuah dress hitam ketat yang kelihatannya sempit dipakai itu, lalu menyerahkan pada Yoona.
Sedangkan Yoona yang sedari tadi hanya duduk diam, menunggu Jongdae memilih, menoleh terkejut karena dress pilihan Jongdae.
“Cobalah.” Jongdae menarik Yoona masuk ke fitting room dan menutup tirainya.
Jongdae berusaha melihat kearah yang lain setelah tidak sengaja melihat bayangan Im Yoona yang sedang bertukar pakaian. Bagaimanapun juga ia seorang lelaki. Salahkan butiknya karena memakai tirai berwarna krem transparan.
Tidak lama kemudian keluarlah Im Yoona dengan balutan dress hitam yang memang sempit itu, dengan kerutan di dahinya, “Ini hanya atasan kan?” Yoona menarik-narik bagian bawah dress hitam itu. Bagian brukat yang memang sengaja terlihat menempel di pahanya.
Jongdae menelan salivanya dan menjawab kaku, “Itu dress.”
“Ini atasan. Ugh. Sempit sekali. Seperti kulit kedua.” Yoona masih saja menggerutu karena bagian bawah dressnya yang terlalu pendek dan ketat. Semakin ia menarik bagian brukat itu, semakin bagian atas dadanya tertarik ke bawah. Membuat Jongdae kembali melihat ke arah yang lain.
“Apa tidak ada yang lain?” Yoona bertanya pada Jongdae yang sibuk mengedarkan pandangannya ke arah yang lain.
“Hm. Tidak. Pakailah itu. Ia akan mencurigaimu jika kau berpenampilan biasa saja.” Jongdae beralih pada Yoona, sebisa mungkin fokus pada Yoona. Bukan pada bagian yang lain.
Yoona memutar matanya, “Kuanggap itu sebagai pujian, Jongdae-ssi.”

Setelah berhasil mencari pakaian yang pas, Jongdae membawa Yoona ke sebuah salon ternama. Ia kembali meminta pada pelayan salon untuk mempermak habis seorang Im Yoona agar terlihat lebih menarik dari biasanya.
Dengan memakai balutan dress hitam super seksi dan ketat itu, Yoona, yang baru saja di make over berbalik arah dan tersenyum canggung pada Jongdae. Jongdae yang sedang berbicara sesuatu di telponnya mendadak diam.
“Kyung Soo, kau bisa jemput kami sekarang.” Jongdae menutup ponselnya dan berjalan menuju Yoona.
Ia memberikan coat hitamnya pada Yoona. Yoona menerima dengan kebingungan.
“Pakailah.” Mereka berdua sekarang sedang berdiri diluar gedung. Dan ini selewat tengah malam. Bagaimana angin malam tidak menusuk kulit Yoona, ditambah dengan pakaiannya yang terbuka itu. Jongdae sedikit mengerutkan kening.
“Yoona-ssi, dimana orang tuamu?” Jongdae melipat tangannya didepan dada. Mendatarkan suaranya sebisa mungkin.
Yoona yang baru saja selesai memakai coat hitam Jongdae, menoleh padanya. Yoona menghabiskan tiga detik untuk menelan salivanya ketika ditanya mengenai orang tuanya. Lalu berkedip, “Ibuku meninggal.”
“Maaf. Lalu ayahmu?”
“Aku tidak tahu siapa ayahku. Kurasa ibuku hamil diluar nikah dan ayahku pergi meninggalkannya.” Yoona mengendikkan bahunya. Ekspresinya juga sangat mendukung. Siapa saja yang tidak mengenal Yoona, pasti akan percaya dengan cerita mengenai orang tuanya.
“Jadi kau hidup sendirian?” Jongdae terang-terangan bertanya. Masih dengan keingintahuannya.
Yoona mengangguk, “Benar. Sendirian.”
Sebuah Limo berwarna putih tulang berhenti di depan mereka. “Itu mobilnya. Kajja.” Jongdae dengan sengaja memegang bahu Yoona dan mengajaknya masuk ke mobil.

Klub malam itu ramai. Terdengar suara bising. Musik yang berseru dan dentuman bass yang rendah memenuhi telinga Yoona ketika ia menapaki kakinya masuk kedalam ruangan itu.
Ruangan itu berkelap-kelip. Lampu dansa yang berwarna-warni berputar-putar diatas banyak kepala yang sedang menenggelamkan dirinya dalam alunan lagu. Yoona mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sampai akhirnya ia menemukan sosok yang ia cari.
Jongdae dan Kyung Soo tidak diijinkan berada di TKP. Jadi hanya ada Yoona di ruangan itu. Tapi kenyataannya, Jongdae dan Kyung Soo ada di lantai dua ruangan itu, yang kebetulan menyisakan meja kosong di ujung dekat tangga.
Mereka memang tidak berada di TKP, legally. Tapi hanya dengan cara inilah mereka bisa mengawasi Yoona dan membantu dari jauh.
Sebelum itu, Yoona sudah di pesankan untuk tetap memasang mata. Tugasnya cukup mudah, hanya mencari Kris, mengajaknya bicara baik-baik. Karena hanya dengan cara inilah, Yoona bisa mendapatkan tanda tangan Kris.
Yoona menyipitkan mata sekali lagi mencari sosok Kris. Lalu mendongak ke arah atas dimana Kyung Soo dan Jongdae mengumpat, setelah mendapat acungan jempol dari Jongdae, Yoona berjalan ke salah satu meja bar.
“Permisi, apa aku bisa mendapatkan segelas Margarita dengan sedikit Grand Marnier dan es?” Yoona berbicara pada salah satu bartender yang sedang berjaga disitu. Bartender tersebut tersenyum dan mengangguk sekali, “Oh, tanpa Cointreau.” Yoona melengkapi pesanannya sebelum bartender tersebut berbalik.
Sosok yang duduk di sebelahnya, yang sedang seperti termenung memandangi gelasnya, mendeham sekali. “Anda punya sense yang bagus, nona.” Ia tersenyum pada Yoona.
Yoona dengan sengaja duduk di kursi bar sebelahnya, “Tentu.”
“Sendirian?” Kris bertanya pada Yoona sambil mendongak kiri-kanannya, memastikan.
“Sendirian.”
Tidak lama kemudian bartender tadi datang membawakan pesanan Yoona, “Terima kasih.” Ucap Yoona dan tersenyum pada bartender tersebut.
“Aku Kris.” Yang duduk disebelahnya kembali mengajak Yoona bicara. Kali ini ia sedikit mencondongkan arah kursinya ke Yoona.
Yoona meneguk sedikit minumannya, “Jelas, semua orang mengenalmu.” Yoona tertawa, senatural mungkin.
Kris tertawa, “Kau punya nama?”
“Yoona. Ak – aku Yoona.” Yoona menjawab secepat kilat.
Kris menghela nafas panjang, “Senang mengenalmu, Yoona-ssi.” Kris hampir beranjak, ia sudah berdiri sambil membawa gelasnya.
“Eh, tunggu Kris-ssi. Apa aku boleh bicara denganmu?”

Yoona’s POV
Aku tidak menyangka ternyata yang bernama Kris itu setampan ini. Bagaimana bisa aku tidak meminta tanda-tangannya?
Apa aku gugup? Jelas sekali. Apalagi ketika ia hendak berdiri meninggalkanku di meja bar. Oh ayolah, aku sudah berpenampilan seperti ini agar bisa bicara denganmu, Tuan Kris.
“Eh, tunggu Kris-ssi. Apa aku boleh bicara denganmu?”
Kris berbalik mengarah padaku, “Bicara? Di tempat seperti ini?” Kris menunjuk keramaian. “Bagaimana jika di tempat yang agak hening?” Ia menyeringai. Lalu mengulurkan tangannya padaku.
Aku ragu. Bagaimana jika ia macam-macam. Demi apapun aku akan menyesalinya. Aku menghabiskan minumanku dan berharap akan berpikir jernih setelah meminumnya.
Herannya, setelah aku menerima uluran tangannya, ia membawaku ke tengah lantai dansa. Ia menahan pinggulku agar aku mendekat. Kris terukur pria tampan selain Kepala Kim yang kutemui, tentu saja. Postur tubuh yang tinggi, ia mengenakan jas berwarna maroon dengan kaus hitam berkerah V rendah, membuat dada bidangnya tercetak penuh dan dipadukan dengan celana bahan hitam yang ia kenakan. Aku bahkan bisa merasakan wangi tubuh seksinya karena jarak yang terlalu dekat ini.
“Bicaralah, Yoona-ssi.” Ia mendekatkan wajahnya ditelingaku dan berbisik, “Aku akan mendengarkanmu.” Ia memalingkan senyumnya dan meraba punggungku.
Aku terkesiap karena terbawa suasana, “Aku pikir tempat yang hening, Kris-ssi?” Aku mendekatkan pada telinganya agar ia bisa mendengar suaraku yang agak berteriak ini.
Kris tersenyum padaku, “Kau mau bicara dimana?” Kami masih termakan dengan goyangan-goyangan di klub tersebut. Entah mengapa penglihatanku terlihat semakin kabur.
Tangan Kris masih di punggungku, memaksaku mendekat padanya. Tiba-tiba ia meletakkan wajahnya dipundakku, “Bolehkah aku?” Nadanya meminta ijin.
Oh semoga Surga mencegahku melakukan hal yang tidak-tidak!

Dan ternyata Surga benar-benar mencegahku.
Sekarang aku dan Kris sudah berada di dalam sebuah hotel. Ya, kunci hotel yang diberikan Kepala Kim di amplop coklatku.
Aku berhasil mengundang Kris untuk bicara. Dan kuharap ini bicara baik-baik yang dimaksud.
Kris membuka jas maroonnya dan menyampirkannya pada kursi di pojok kamar. Ia berjalan mengitari ruangan dan membuka tirai jendela kaca yang besar. Kemudian terhamparlah gemerlap kota Seoul di malam hari. Lampu-lampu di gedung bertingkat, lampu-lampu di jalan. Semua indah.
Aku tidak mabuk. Belum. Walaupun penglihatanku sudah semakin kabur. Aku duduk di sofa sejauh mungkin menjauhi Kris.
Yang membuatku menyesal adalah dress pilihan Jongdae yang terlalu pendek, membuatku harus menutupi pahaku saat aku duduk. Kris menatapku yang duduk gelisah, “Pakai itu jika kau tidak nyaman.” Ia menunjuk jas maroonnya dikursi.
Aku terkejut, tidak menyadari bahwa Kris menyadari kegelisahanku, aku mengikuti arah tunjuknya.
“Kau terlalu berlebihan, Yoona-ssi.” Kris berjalan mengambil jas maroonnya dan menyampirkan padaku.
Dengan reflek, arah tubuhku mundur dan menabrak sisi sofa agar menjauhnya. Ia semakin mendekatkan wajahnya padaku. Lalu ia tersenyum, “Aku tidak akan berbuat macam-macam, tenanglah.”
“Ehm.” Aku mendeham, membuatnya menjaga jarak. Tapi ia masih tersenyum, “Boleh aku meminta sesuatu darimu?”
Kris melipat tangan di dada, menungguku melanjutkan.
“Aku ingin meminta tanda tanganmu.”
Aku mengatakan dengan penuh keberanian sambil membuka anting-anting sialan yang membuat telingaku gatal. Aku meletakkan perhiasan tersebut di atas meja kopi.
Kris sempat melirik anting diatas meja tersebut. Ia meraba dagunya, berpikir. Lalu ia berjalan dan duduk di sofa sebelahku, “Kau menggodaku untuk ke hotel ini hanya demi tanda tangan, Yoona-ssi?”
Aku mengangguk meyakinkan, “Ya, aku ingin meminta tanda tanganmu.” Aku mengulurkan tangan kiriku padanya, “Apa kau bisa menandainya disini?”
Kris tertawa khas lelaki dewasa, suaranya berat. “Disini?” Ia menarik tangan kiriku. “Baik, tapi dengan satu syarat.” Kris kembali menyeringai.
Yoona’s POV end

Annyeong Olympians, maafin ya kalo chapter 2 nya kelamaan (semoga dimaafin beneran) karena kayak yang aku bilang, this is not finish yet. terima kasih buat komen ide dan saran kritiknya yang bikin aku bisa lanjut ceritain Red Bean ini. kemungkinan chapter selanjutnya tidak cepat di post juga karena masih banyak yang harus dilengkapi, tapi tetap diusahakan cepat. terima kasih sudah baca ^^

25 thoughts on “[Freelance] Red Bean (Chapter 2)

  1. serius deh.. baru kali ini baca ff ttg yoona eonni yg kaya gini… keren.. mendebarkan.. penasaran.. daebak deh untuk ff authornya… ^^
    apa kris bakaln ngasih tanda tangannya dgn cuma2… atau dia bkln sesuatu sama yoona eonni dengan tanda petik (“) ee…
    dtunggu thor kelanjutannya… fighting ^^

  2. Keluarga yoona semrawut gitu yaa kasian.. Apakah semua tokoh” dri awal akan terlibat smpai akhir thor ? Suka sma YoonKris Couple soalnyaa.. Hahahh menarik chapter ini..

  3. duuuh endingnya gantung bangeeet wkwkwkwk, btw fighting buat lanjutannya. seriusan ini seru abiss, semoga chap 3 nya segera di post😀

  4. Whoa akhirny ff ini update jga ^^
    itu knp yoona bohong soal keluargany,,kan klau cerita sma chen dia bisa bantu. Aq heran sma kyungsoo,, kdng cuek kdng khawatir kdng suka lihat yoona menderita gtu.. Misterius bnget -_-
    astaga chen kmu pilih baju yg gtu amat,,kan kesanny yoona jdi kya anak nakal *ditimpuk chen*
    Knp suho ksih tugas ke Yoona aneh2,,dia mau ngetest yoona aph gmn -_-
    Kris daddy jgn minta macam2 yh😀
    ditunggu chapt slnjutny thor😉
    Keep writing ^^
    FIGHTING !!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s