[Freelance] Stalker

STALKER

Sequel Of “Fiction” STALKER

Cast : Im Yoona – Kai
Genre : Romance and Family
Length : Oneshoot
Rating for : PG-17
Disclaimer : Semua cerita dibawah hanya fiksi semata dan murni hasil karangan author. Oh ya, sebenernya kalo gak baca ff yang fiction juga masih nyambung kok hehe.
HAPPY READING.. ^^

Di dalam sebuah kamar Rumah Sakit yang terbilang mewah, terlihat sosok gadis yang terbaring lemah tak sadarkan diri dengan jarum infus yang menancap di salah satu tangannya. Wajahnya terlihat sangat pucat. Pasien itu bernama Im Yoona, gadis yang dua hari lalu dilarikan ke Rumah Sakit oleh seseorang karena kekurangan banyak cairan dalam tubuhnya.

Beberapa saat setelah itu Yoona tersadar, ia membuka matanya perlahan dan mengamati keadaan sekitarnya.

“Apa aku sudah meninggal? Jongin-ah, apa sekarang aku bisa bertemu denganmu?”, ucap gadis itu dalam hati. Suatu hal yang amat sangat diharapkan olehnya.

Namun keinginannya seakan musnah ketika ia melihat Sang Dokter bersama suster masuk ke dalam ruangan dan mendekati dirinya. Yoona mendengus pasrah, ia belum meninggal.

“Selamat siang Ny Im Yoona..”, sapa seorang dokter yang terlihat berumur 45 tahun.

Yoona tak menjawab apapun, ia baru saja tersadar, belum ada kekuatan untuk menjawab pertanyaan yang sangat tidak penting untuknya.

Dokter itu memeriksa perkembangan kebaikan tubuh Yoona, lalu setelah itu ia pamit pergi. Seorang suster yang terlihat seumuran dengan Yoona tersenyum ramah ke arahnya.

“Kau sudah baikan, tapi kau tidak bisa pulang hari ini.. Bersabarlah seminggu lagi.. Aah bersyukurlah ada seorang pria tampan yang membawamu dengan cepat..”, ucap suster itu yang tak lama kembali meninggalkan Yoona seorang diri.

“Siapa pria bodoh yang menyelamatkan nyawaku? Aish!!”, decak kesal Yoona dalam hati.
Satu Minggu Kemudian…
Rumah Sakit, Seoul
Pukul 15.00

Hari ini adalah hari kepulangan Yoona. Ia sedang berjalan di koridor Rumah Sakit bersama dengan seorang suster yang selama ini merawat dirinya sehingga kini mereka menjadi dekat. Selagi ia berjalan, banyak sekali pertanyaan yang muncul di otaknya, hal itulah yang membuat dirinya seolah menjadi wartawan gadungan yang sedang mewawancarai narasumber seorang suster.

“Yak,, dimana pria yang membawaku ke Rumah Sakit ini?”, tanya Yoona sembari terus berjalan.

“Mungkin saja dirumahnya”, jawab suster itu yang mendapat respon kurang baik dari Yoona.

“Bukan itu maksudku! Selama aku dirawat, aku tidak pernah melihatnya, lalu bagaimana dia bisa tahu aku sedang sekarat dirumahku? Apa dia orang terdekatku? Jika iya, mengapa ia tidak menjengukku?”, tanya Yoona beruntut.

Suster itu tersenyum, disaat yang bersamaan taksi yang sempat dipesan sudah menunggu. Suster itu membukakan pintu untuk Yoona.

“Kau akan tahu nanti, beristirahatlah yang cukup, jangan melakukan hal bodoh lagi..”, suster itu menutup pintu taksi, lalu mundur beberapa langkah dan membungkuk sopan.

“Yak! Beritahu aku sekarang!”, pinta Yoona yang mengeluarkan kepalanya dari jendela.

“Dia… Menjengukmu setiap hari.. Selamat tinggal..”, suster itu membungkuk kembali dan berjalan pergi masuk ke dalam Rumah Sakit.

“Apa? Yak!!”, teriakan Yoona tak membuat suster itu berbalik arah, ia pun pasrah dan membiarkan taksi itu membawanya pulang ke rumah.
Rumah Im Yoona
Pukul 08.00

Tiga hari berlalu, kehidupan Yoona masih tidak jelas, ia terus menerus berada di rumah, sekalinya keluar hanya untuk membeli makanan dari uang tabungannya yang mulai menipis.

Ia mulai berpikir, bukan kehidupan seperti ini yang diinginkan kekasihnya. Jika kemarin tanggungan kehidupannya di tanggung oleh Jongin, beda hal nya dengan sekarang. Ia harus bekerja untuk melanjutkan hidupnya dan membuat Jongin tersenyum dari tempat yang jauh di sana.

Yoona melihat dirinya di dalam cermin, memandangnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dengan menggunakan celana jins dipadukan dengan kaos putih pendek dibalutkan blazer berwarna coklat, kini ia siap melangkah maju. Ia menyemangati dirinya sendiri.

“Im Yoona!! Fighting! Jongin-ah.. Bantu aku…”, ucapnya dengan semangat.

Yoona memakai flatshoes berwarna hitam dan mulai melangkahkan kakinya dengan lebar, tujuan pertamanya adalah tebing dimana abu Jongin ditebarkan.

Di jalan menuju tebing, Yoona menemukan lowongan pekerjaan di sebuah kafe dan persyaratannya sangat mudah. Ia mengambil selembaran lowongan itu lalu memasukkannya ke dalam tas.

“Kau lihat ini Kim Jongin? Terimakasih banyak..”, ucap Yoona dengan senang lalu melanjutkan langkahnya kembali.
Tebing, Seoul
Pukul 10.00

Yoona berjalan di atas rurumputan hijau, ia seperti mendaki gunung, karena tempat yang akan dituju berada di atas, entah apa yang membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Namun hal itu tak membuatnya ragu untuk cepat sampai di tujuan.

Tak lama, Yoona sampai di tujuan, ia berdiri di tepian yang dibawahnya terdapat lautan yang luas. Ia menghela nafasnya, seolah ia masih berat menerima kenyataan bahwa kekasihnya telah tiada karena mengidap kanker darah.

“Jongin-ah annyeong..”, suara Yoona terdengar pelan.

“Maafkan aku, ku tahu kau sangat marah padaku saat ini.”

“Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi Jongin-ah.. Aku berjanji.”, setetes air mata membasahi pipinya.

“Aku akan hidup bahagia mulai saat ini… Tetaplah berada disisiku sampai aku bertemu denganmu nanti…”, Yoona mengusap air mata yang terus mengalir.

“Hyung, kau dengar, dia sudah berjanji, aku yang menjadi saksinya. Kau tidak bisa berbohong Yoona-ssi!”, tiba-tiba terdengar suara pria dari arah belakang Yoona.

Yoona terkejut bukan main, ia tidak langsung menoleh ke arah belakang, hal itu juga membuat jantungnya semakin berdegup kencang.

Ia merasa sangat mengenali suara itu, suara yang sangat tidak asing di telinganya. Rasa penasarannya pun semakin memuncak, perlahan namun pasti ia menoleh ke arah belakang.

“Ahh..”, ia berteriak saat matanya melihat sesosok pria itu, sontak tubuhnya terlontar ke belakang karena saking terkejutnya, pantatnya lebih dulu mendarat ke batu besar.

Tubuhnya gemetaran, tangannya mengeram rerumputan hijau dan matanya terus menatap pria tinggi yang ada dihadapannya.

“Jo.. Jongin..ah”, panggilnya terbata, dan kepalanya terasa pening, perlahan penglihatannya kabur dan Yoona hilang kesadaran.

1 TAHUN KEMUDIAN…
Rumah Im Yoona
Pukul 06.00
KRING!! KRING!!

Dering alarm dari ponsel Yoona terdengar, segera ia mematikan alarm itu dan bersiap untuk berangkat bekerja. Yoona diterima bekerja di Dream Cafe sekitar satu tahun yang lalu, lowongan kerja yang ia temukan benar-benar membantunya.

Setelah berpakaian rapih, Yoona berjalan keluar rumah. Setiap harinya ia harus berhadapan dengan pemandangan yang sekitar satu tahun ini mengganggunya. Ya, amat sangat mengganggunya, ya sekiranya sekarang sudah lain cerita.

Pria yang selalu menguntit kegiatan dirinya, dialah Kai, saudara kembar Jongin. Kim Kai, Yoona menganggap pria itu awalnya adalah Jongin, karena dari postur dan wajah tidak ada perbedaan. Namun setelah mengetahui sifatnya, tidak butuh waktu lama untuk mengklaim bahwa pria berpostur tinggi itu bukanlah Jongin.

Menurut Yoona, sifat Kai sangat bertolak belakang dengan Jongin, bagaikan langit dan bumi. Salah satunya adalah butuh waktu bertahun-tahun bagi Jongin meyakinkan hatinya untuk menjadi kekasih Yonna, tetapi tidak dengan Kai yang hanya dalam waktu 3 bulan pria itu sudah mengatakan cinta pada mantan kekasih Kakaknya itu.

Dari kejauhan Yoona sudah melihat Kai berada dihalaman depan rumahnya, jika dulu kehadiran Kai akan membuat moodnya memburuk, lain hal nya sekarang, ia lebih bisa mengendalikan moodnya karena sudah terbiasa.

Seperti biasa, Kai sudah ada di atas kap mobil hitamnya dan tersenyum seperti orang gila ke arah Yoona. Bagaimana Kai tidak dianggap gila, kalau ternyata yang di ajak senyum mengabaikannya. Walaupun seperti itu, ia tetap konsisten dengan satu tahun terus menerus melakukan hal itu.

“Yak!! Im Yoona.. Untuk yang kesekian kalinya apa kau akan terus menolak ajakanku?”, teriak Kai dari atas kap mobilnya.

Kai berkali-kali menawarkan tumpangan kepada Yoona, dan berkali-kali juga ia selalu mendapat penolakan. Tujuan ia melakukan itu hanya satu, ia ingin Yoona membuka hatinya untuk pria lain, seperti janji dirinya pada kakaknya sebelum Jongin meninggal.

Yoona mengabaikan teriakan Kai, ia terus berjalan melewati Kai begitu saja. Teriakan seperti itu sudah terbiasa di telinga Yoona, mungkin telinganya kini sudah kebal.

Kai sudah menduganya, lalu ia berlari mengejar Yoona dan merangkulnya dengan cepat. “Baiklah,, aku ikut berjalan saja denganmu… Bukankah ini lebih romantis? Kekek”, ucapnya dan berjalan beriringan dengan Yoona.

DEG!
Jantung Yoona berpacu semakin kencang ketika Kai merangkulnya. Ia sudah menyadari hal itu sekitar tiga bulan yang lalu, dan sampai saat ini ia masih tidak mengerti dengan kondisinya.

“Minggir!!”, Yoona buru-buru menyingkirkan tangan Kai yang ada di pundaknya.

“Yak.. Kenapa pukulanmu kali ini terasa pelan sekali? Tidak biasanya kau seperti ini? Eeei apa kau mulai menikmati ski..”

“YAK!!”, teriak Yoona yang tak ingin mendengar kalimat lanjutan dari Kai.

Kai terdiam menatap gadis yang sudah ia sukai ketika kakaknya selalu menceritakannya itu, wajahnya terlihat polos seperti anak kecil yang tidak tahu dosa.

“Wajahmu mirip dengan Jongin ketika saat seperti itu. Aah tidak! Tidak! Tidak! Tidak ada kemiripan diantara mereka!”, ucap Yoona dalam hati. Ia menyangkal adanya kemiripan antara Jongin dan Kai, sekalipun dengan wajahnya.

“Berhenti menggangguku!”, bentak Yoona lagi padanya.

“Kapan aku mengganggumu? Aku hanya ingin kau menerima kehadiranku… Bertemanlah denganku, lalu kita berkencan..”, ucapnya dengan memarkan deretan gigi putihnya ke arah Yoona. Kai adalah pria yang to the point. Jika ia sudah menargetkan sesuatu, sebisa mungkin ia harus mendapatkannya.

“Kau GILA!!”, ucap Yoona dengan penuh tekanan dan akhirnya ia melanjutkan jalannya lagi.

Kai menatap punggung Yoona tajam. “Kenapa? Kenapa kau bersikap seperti ini? Apa aku begitu mengingatkanmu akan mendiang kakakku?”, tanya Kai, ia masih berdiam di tempat semula.

Mendengar itu, Yoona kembali berhenti. Ia menghadap ke arah belakang dan menatap Kai dengan kesal. “Dengar baik-baik, tidak ada sedikitpun darimu yang menyerupai Jongin. SAMA SEKALI TIDAK ADA! Jangan pernah menyamakan dirimu dengannya!”

“Syukurlah.. Bukankah itu lebih mudah untukmu menerimaku? Atau kau sedang memastikan bahwa pria yang kau cintai sekarang adalah Kai dan bukan Jongin?”, tanya Kai sembari melangkah mendekati Yoona.

Mendengar pertanyaan Kai yang terdengar seperti pernyataan, Yoona merasa hal itu benar adanya, namun ia tetap menyangkal bahwa perlahan hatinya mulai menerima kehadiran Kai. Bagaimana tidak, hampir 1 tahun ini Kai hadir di setiap harinya. Benar-benar penguntit.

Bukannya menjawab, Yoona justru berbalik badan. “Sekali ini saja, jangan mengikutiku! Kumohon!”, Yoona berjalan pelan dengan tatapan mata ke arah bawah.

“Pikirkan perkataanku dengan baik Im Yoona!!”, teriak Kai, lalu ia memandangi tubuh Yoona yang semakin jauh darinya.

Tebing, Seoul
Pukul 09.00

Kai tengah berada di tebing. Ia sering kali pergi ke tempat itu hanya untuk melaporkan apa yang sudah terjadi dengan dirinya dan Yoona.

“Hyung… Aku menyukainya,, gadis itu benar-benar membuatku jatuh hati.. Ah Hyung.. Maaf karena aku sudah menyukainya ketika kau masih bersamanya, maafkan aku hyung.. Aku berjanji akan menjaganya, untukmu, untuknya dan untukku.”

Kai membungkuk sedikit sebagai simbol permohonan maaf. Lalu ia melanjutkan. “Hyung.. Jiwon dan Ibu tidak lagi di Korea, mereka sengaja aku kirimkan ke Amerika, sesuai perintahmu Hyung.. Dan Yoona, aku akan membawanya dan akan kuperkenalkan pada mereka bahwa dia calon istriku.. Kekekek. Hyung,, Bagaimana? Kau menyetujuinya kan?”

“Tapi Jongin-ah, aku takut, aku takut dia akan merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya, karena yang ku tahu, kanker darah itu turun menurun di keluarga kita.. Nenek, Ayah lalu Kau, bukan tidak mungkin kan jika gen kanker itu berada di tubuhku juga?”

“Ahh.. Apa yang harus ku khawatirkan jika kau terus disisiku Kim Jongin! Berjanjilah!!”, Kai tersenyum hangat.

Dream Cafe
Pukul 12.00
Dream Cafe adalah sebuah tempat bersantai yang biasa digunakan para pegawai kantoran untuk makan siang maupun sekedar hangout pelajar maupun mahasiswa. Cafe itu terbilang sederhana, dan sangat ramai pengunjung.

Yoona berdiri di hadapan sebuah komputer dengan wajah yang ramah. “Selamat datang, apa yang anda ingin pesan tuan?”, sapanya sembari menyanyakan pesanan kepada seorang pembeli.

Senyum dan ramah sudah jadi kewajiban bagi para pegawai di sana, jika hal itu dilanggar sebuah konsekuensi pasti akan di dapat.

Setelah selesai melayani pelanggan tadi, Yoona hendak malayani pelanggan yang selanjutnya. “Selam….”, ucapannya terhenti ketika ia melihat Kai adalah pelanggan selanjutnya. Sudah bisa dipastikan apa yang akan Kai lakukan, ia tidak akan membeli kecuali menganggu.

Benar saja, bukannya memesan Kai justru memandangi Yoona dan terus manatap matanya.

“Sudah kesekian kalinya aku tidak mendapatkan pelayanan yang ramah, ckckck.”, ucap Kai sembari terus menatap Yoona.

Yoona mendengus kesal. “Selamat datang tuan, apa yang anda ingin pesan?”, tanya Yoona dengan super ramah.

Jongin tersenyum. “Apa aku bisa memesan sesuatu yang tidak ada di menu?”, tanyanya sembari melihat menu makanan dan minuman.

Yoona sudah menduganya. “Anda bisa pergi ke cafe lain tuan, terimakasih..”, Yoona membungkuk singkat.

Tiba-tiba Kai menarik tangan Yoona, sontak seluruh pasang mata yang tengah mengantri memandang ke arah Yoona. “Aku ingin membeli waktumu, ahh sudahlah aku pasti tidak bisa mendapatkan itu.. Annyeong”, ucapnya lalu berlaih pergi.

Yoona menjadi terdiam dan tubuhnya membeku, tak pernah Kai berbisik di telinganya sedekat itu, sampai-sampai pelanggan selanjutnya yang menyadarkan kesadarannya.

“Nona..”, tegur seorang Ahjumma.

“Ahh.. Maaf, maafkan aku.. Selamat datang, apa yang ingin anda pesan?”, walaupun belum sadar sepenuhnya ia harus tetap profesional.

Jam 5 sore, waktunya pergantian shift kerja. Yoona pergi ke belakang, mengganti bajunya, karena diluar hujan sangat lebat. Yoona tak lupa memakai pakaian yang super tebal yang sengaja ia simpan di loker tempatnya bekerja. Namun percuma saja, ia tidak membawa payung. Mau tidak mau dia harus menunggu sampai hujan reda.

Yoona merasa bosan dengan berdiam diri di depan cafe, seperti ada yang kurang. Yoona terlihat berkali-kali menengok ke segala arah seperti sedang mencari atau menunggu seseorang.

“Dimana dia?”, tiba-tiba ia berucap pelan.

Kai, pria yang senantiasa menunggu Yoona pulang bekerja dan akan menemani Yoona kembali ke rumah walau dipenuhi dengan pertengkaran, kini tak terlihat batang hidungnya. Tidak biasanya seperti itu.

Sampai hujan reda pun Yoona tak melihat sosok yang ia cari. Entah kenapa, moodnya menjadi memburuk dan seperti tidak semangat untuk pulang ke rumahnya.

“Apa dia baik-baik saja? Aku mengkhawatirkannya karena dia adik Jongin, bukan karena aku mulai menyukainya…”, ucapnya pelan lalu berlari untuk segera sampai ke rumahnya.
Keeseokan harinya.

Rumah Yoona.
Pukul 05.30

Tidak biasanya Yoona bangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi, sejak tadi ia memandang ke arah luar jendela, apa yang ia harapkan tidak terwujud. Ia tidak melihat sosok Kai yang duduk di atas kap mobilnya. Yoona seperti kehilangan sesuatu sejak semalam.

Kring!! Kring!!
Alarm ponselnya berdering. Ia melangkahkan kakikanya ke arah kamar mandi.

Tak beberapa lama, Yoona berlari keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan handuk, lagi-lagi ia melihat ke arah jendela. Nihil. Ia tak melihat apa yang ingin dilihat.

“Kai-ssi.. Kau dimana? Apa kau mulai lelah dengan semua ini?”, Yoona menatap nanar jalanan di luar yang tampak sangat kosong. Ia teringat akan sikapnya yang selalu mengabaikan kehadiran Kai. Namun sebenarnya ia sangat berterimakasih dengan kehadiran Kai, karena tanpa disadari, Kai banyak membantu dan memberinya perhatian layaknya seorang kekasih.

“Benar, aku memang sedang memastikan bahwa yang aku sukai adalah dirimu Kai, bukan kau yang dibawah bayang-bayang Jongin.. Kau hadir di saat waktu yang tepat, karenamu hidupku menjadi lebih berwarna, bertengkar denganmu menjadi hobiku yang sangat aku sukai, tapi untuk memulai suatu hubungan denganmu.. Aku takut…”, Yoona berucap dalam hati dan tanpa diduga ia meneteskan air matanya.

Kini perasaannya bercampur aduk, ia merasa takut akan kembali merasa kesepian tanpa Kai yang selalu menganggunya, ia takut akan menyakiti Kai nantinya, karena ia takut yang ia cintai tetap Jongin yang berada dalam tubuh Kai, tapi di dalam hatinya ia yakin, bahwa dirinya menyukai Kai yang telah menemaninya selama satu tahun terakhir.
Rumah Kai, Seoul
Pukul 15.00

Susanana rumah yang sederhana, tidak begitu luas dan tidak sempit, halaman yang cukup asri dengan tumbuhan bunga dan pohon-pohon yang rindang. Satu buah mobil warna hitam terpakir rapih.

Terlihat seorang wanita paruh baya berkisar berumur 50 tahun sedang memandangi Kai yang terbaring di atas tempat tidur, wajahnya terlihat pucat.

Tak berapa lama, Kai terbangun dengan sedikit merasakan pusing. Ia bangun dari tempat tidurnya.

“Syukurlah kau baik-baik saja Kai-ah..”, ucap Ahjumma, lalu memeluk tubuh Kai.

Kai yang baru bangun tentu saja bingung, tentu saja dirinya baik-baik saja, ia baru saja bangun dari tidur siangnya.

“Ahjumma.. Kau ini kenapa? Ahahha kau lucu sekali..”, Kai tertawa terbahak.

“Yak! Kukira kau mati”, ucap Ahjuma menyudahi pelukannya.

“Apa? Ahjumaa!! Kau mendoakan ku mati? Eoh?”, Kai bangkit dari kasur dan berdiri berhadapan dengan Ahjumma. Kai yang memiliki tubuh jauh tinggi dibandingkan dengan Ahjumma, membuat dirinya harus menunduk untuk melihat Ahjumma yang sudah merawatnya selama ia di Korea.

“Kau tidur dari kemarin dan tidak bisa dibangunkan, apa namanya kalau bukan mati?”, Ahjumma berucap sembari mendengak ke atas.

“Aku? Maksudmu apa Ahjumma?”, tak lama Kai tersadar, buru-buru ia mengambil ponselnya dan melihat tanggal beserta jam yang tertera di layar ponselnya.

Ia terdiam sesaat. Benar, kemarin setelah pergi menemui Yoona di Dream Cafe, ia merasa kepalanya terasa sangat pusing, dan memutuskan kembali ke rumah untuk beristirahat sebentar dan berencana mengunjungi Yoona lagi di malam hari.

“Dokter bilang kau harus segera memeriksakan dirimu, kau pingsan begitu lama”, lanjut Ahjumma.

“Ahjumma..”, panggil Kai pelan.

“Hem..”, saut Ahjumma.

“Jangan kabarkan pada Ibuku tentang kejadian ini”, pinta Kai seraya memohon.

“Ibumu bilang, kau harus cepat menemuinya atau kau akan di jemput paksa”, lapor Ahjumma.

“AHJUMMA!!”, kesal Kai.

“Pingsan seperti itu sudah biasa dialami jika kelelahan, kau tahu bagaimana Ibu menjadi super protektif setelah kematian Jongin”, keluh Kai.

“Apa kau tidak merindukan Ibu dan Adikmu? Pergilah temui mereka!”, saran Ahjumma.

“Aku tidak mau sebelum aku mendapatkannya, lagian jika aku pergi ke Amerika aku tidak punya tempat yang nyaman lagi untuk menumpahkan isi hatiku”, setelah itu Kai pergi dan masuk ke dalam kamar mandi. Tempat yang dimaksud Kai adalah tebing yang sering ia datangi.

Dream Cafe
Pukul 16.45

Banyak pelanggan yang berdatangan hari ini, tapi Yoona belum menemukan pelanggan sejatinya. Semua itu terlihat di wajahnya yang tampak suram, berkali-kali melihat ke arah pintu berharap tamu yang datang selanjutnya adalah penguntitnya.

“Kau sedang menunggu seseorang?”, tanya rekan kerja Yoona, yakni Luna yang berdiri di sebelahnya.

“Hem..”, jawab Yonna.

“Ahh.. Kau mulai jatuh hati padanya yaa?”, goda Luna sembari menyenggol pundak Yoona.

Senggolan Luna menyadarkan lamunan Yoona. “Hemm? Kau bertanya apa tadi?”, Yoona bertanya kembali.

“Eeii,, kau bilang kau merindukan pria itu, emm Kai jika aku tidak salah menyebutkan namanya..”, goda Luna lagi.

“Aish! Kau bercanda? Eoh? Mana mungkin aku merindukan pria seperti itu! Syukurlah dia tidak muncul lagi dalam kehidupanku!”, elak Yoona dan pergi meninggalkan temannya karena bertepatan dengan jam ganti shift.

“Mengaku saja! Wajahmu tidak bisa berbohong!”, teriak Luna sembari menyusul Yoona.

Seperti biasa Yoona menunggu di tempat ia biasa menunggu hujan reda, ada yang aneh dengan dirinya, hujan sedang tidak turun, lalu untuk apa dia menunggu di tempat itu?

Dua jam berlalu.. Akhirnya hujan lebat pun turun.. Entah untuk alasan apa, ia sangat bersyukur.

Yoona masih duduk terdiam menunduk, ia berharap hujan tidak berhenti sampai Kai datang menemuinya. Ia berpikir bahwa ada yang tidak beres dengan Kai, tidak biasanya Kai menghilang sampai 2 hari. Kai juga tak menelponnya, Yoona tidak menyimpan nomornya, tiap kali Kai menelpon, saat itu juga ia menghapus panggilan masuk di ponselnya.

“Dimana kau? Begitukah dirimu? Menghilang begitu saja.. Apa yang aku takutkan benar terjadi..”, ucapnya dalam hati.

“Kau menungguku?”, ucap Kai yang ternyata sudah duduk di sebelah Yoona beberapa menit lalu.

Mendengar suara itu, Yoona menoleh cepat. “KAI-ssi?”, kagetnya, karena tiba-tiba Kai sudah berada di sampingnya.

“Woahh.. Daebak, tunggu sebentar emm kau sudah memanggil namaku sebanyak…. Tiga kali.. Woahhh daebak!!”, Kai mengangkat ketiga jarinya dan menunjukannya pada Yoona.

Buru-buru Yoona memalingkan wajahnya, entah disadari atau tidak, bibirnya tersenyum manis, ia merasa tenang, ya walau senyuman itu hanya bertahan sebentar dan dilanjutkan dengan pertengkaran.

“Kau mengagetkanku! Tidak bisakah kau muncul seperti orang biasa saja? Eoh?”, bentak Yoona.

“Apapun alasanmu, aku sangat senang kau menyebut namaku kekekke”, ucap Kai dan secara tidak sadar merangkul Yoona.

Yoona sadar bahwa tangan Kai kini berada di pundaknya, untuk kali ini ia tidak berniat menjauhkan tangan Kai, tidak sama sekali, ia merasa nyaman dengan rangkulan itu, rangkulan yang akan membuatnya tetap aman bersama dengan Kai.

Kai sadar, Yoona tidak lagi keberatan dengan rangkulannya, hal itu membuat senyum di bibirnya tak pernah luntur.

“Aku datang ke rumahmu tadi, tapi sepertinya kau belum pulang, jadi aku berlari meninggalkan mobilku dan menemuimu disini”, lapor Kai pada Yoona.

“Kenapa kau meninggalkan mobilmu?”, Yoona menyauti pembicaraan Kai, hal yang sangat tidak mungkin terjadi di waktu sebelumnya.

Lagi-lagi Kai tersenyum, ia menoleh ke arah samping dan menatap wajah Yoona, ia senang sekali karena Yoona memperlakukannya berbeda hari ini.

Yoona yang sadar dipandangi terus menerus oleh Kai merasa gugup, buru-buru ia berdiri agar Kai tidak mengetahuinya.

“Temanku tadi bilang, hujan tidak akan reda sampai besok pagi, aku duluan!”, Yoona berlari meninggalkan Kai menembus hujan.

“Yak!! Kau pikir temanmu peramal? Tunggu!”, Kai baru saja ingin melangkah, namun ia melihat atap dari tempatnya kini berdiri adalah sebuah payung besar, segera ia mengangkatnya dan membawanya pergi.

Dengan bersusah payah ia membawa payung raksasa itu, karena angin yang terus berlawanan arah. Ketika sudah mendekati Yoona, Kai menarik tangan Yoona.

“Bantu aku, ini berat sekali”, sontak Yoona tertarik ke belakang dan salah satu tangannya mengggenggam payung yang sudah lebih dulu digenggam Kai, lain kata tangan mereka saling bertumpukan.

“Yak! Kau gila? Kau bisa dianggap pencuri”, kaget Yoona setelah mengetahui payung yang sedang digunakan.

“Tenang saja, aku bisa membeli lebih dari 1000 payung seperti ini”, jawab Kai asal.

Kai marangkul Yoona dan menariknya dalam pelukannya. “Mendekatlah agar kau tidak basah!”

Yoona sadar, payung sebesar itu tidak akan membasahi tubuhnya, kecuali kakinya. Namun ia tidak menolak Kai, karena ia nyaman berada dalam pelukan Kai.

Rumah Yoona
Pukul 19.45
Yoona dan Kai tiba di depan rumah Yoona, memang tidak perlu kendaraan untuk sampai di Dream Cafe, itulah keuntungan ia bekerja disana.

“Kenapa rumahmu terasa begitu dekat? Aish!! Masuklah..”, ucap Kai.

Yoona menjauh dari sisi Kai, ia meoleh ke arah Kai untuk berterimakasih. Namun sebelum ia mengucapkan kalimat itu, ia kembali terkejut dengan adanya darah yang keluar dari hidung Kai. “Kai-ssi, hidungmu..”

“Wae?”, Kai meraba hidungnya, ia pun mencium bau amis dan merasakan basah di tangannya, lalu ia melihat jemarinya dan benar, ada darah di sana. “Ahh ini,, ahahha, aku lelah karena terus mendapatkan penolakan darimu.”

Tiba-tiba Yoona teringat akan mendiang Jongin yang pernah mengalami hal serupa. Segera ia menarik payung yang di pegang Kai lalu membuangnya, ia menarik Kai cepat masuk ke dalam rumahnya.

“Angkat kepalamu ke atas! Cepat!”, Yoona berjalan menggandeng Kai, dan tangan satunya memegang kepala Kai agar tetap menghadap ke atas.

Yoona membaringkan Kai di sofa. “Tetap hadapkan kelapamu ke atas, tunggu aku!”

Tak lama Yoona kembali dengan membawa handuk tipis dan kecil berwarna putih, ia memasukkan handuk itu kedalam lubang hidung Kai agar darah berhenti.

Ketika Yoona dilanda kepanikan bukan main, Kai justru tersenyum senang, sangat senang. Ia terus tersenyum walau darah masih terus keluar dari hidungnya.

“Terus seperti itu!”, pinta Yoona agar Kai tetap mendongakkan kepalanya.

“Ini kedua kalinya aku masuk kedalam rumahmu”, ucap Kai sambil melirik Yoona yang tengah memegangi handuk di hidungnya.

“Benar dugaanku, kau yang membawaku pergi ke rumah sakit itu kan?”, Yoona sudah menduga Kai lah yang menolongnya, setelah tahu Kai adalah kembaran Jongin.

Kai mengangguk.

“Lalu kenapa kau tidak pernah memunculkan dirimu dihadapanku?”, pertanyaan yang sudah sejak lama ia ingin tanyakan.

“Dalam keadaan sehat saja kau pingsan ketika pertama kali melihatku, bagaimana jika kau dalam keadaan sekarat seperti itu? Bisa-bisa kau benar-benar pergi menemui Kakakku”, jawab Kai yang mendapat lirikan tajam dari Yoona.

“Darahmu sudah berhenti”, Yoona menarik handuk itu lalu mendengus pelan, ia merasa tenang sekarang.

“Apa kau sakit?”, Yoona bertanya serius dengan tatapan yang serius.

“Wae? Apa kau takut aku akan mengikuti jejak Jongin Hyung?”, Kai berbalik tanya.

Kematian Jongin meninggalkan jejak luka yang mendalam untuk Yoona, manusia mana yang ingin merasakan luka yang sama.

Yoona tidak menjawab, ia terus menatap Kai meminta jawaban yang sebenarnya.

Mendapati tatapan yang mengerikan dari Yoona, Kai segera menjawab pertanyaan Yoona. “Aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan, sudah kubilang tadi, aku berlari ke Dream Cafe tanpa berhenti, wajar saja jika aku mimisan”, terang Kai panjang lebar.

“Lalu kemana kau dua hari yang lalu?”, Yoona seperti mencium bau kebohongan dan ia merasa Kai menutupi sesuatu.

“Kenapa kau jadi mengintrogasiku?”, elak Kai.

“Ahh.. Kau mulai menyukaiku kan? Kau meperhatikanku sedetail itu, kekek”, canda Kai mencoba mengalihkan pertanyaan.

Ia tahu Yoona sedang khawatir padanya. Namun ia tidak ingin Yoona terus memikirkan dirinya yang sakit, yang ia inginkan Yoona memikirkan dirinya kala bahagia.

“Jawab saja!”, pinta Yoona lagi.

“Kau pemaksa rupanya. Ya, Jongin sudah memberitahuku banyak hal tentangmu, bahkan sebelum dia berkencan denganmu”, jawab Jongin melenceng.

Bukan perbincangan tentang Jongin yang ia inginkan sekarang, ia hanya ingin tahu Kai dalam keadaan yang baik. Ia tahu keluarga Kai memiliki gen kanker, maka ia berpikir bahwa Kai bisa saja menjadi salah satu korbannya. Hal itu juga yang menyebabkan dirinya yakin bahwa kini hatinya telah jatuh pada Kai.

“Kau menutupi sesuatu dariku?”, Yoona masih tetap menunjukan wajah seriusnya. Perasaannya kembali takut.

Mendapati Yoona semakin serius berbicara, Kai merasa sekarang waktunya lah untuk benar-benar serius memperbincangkan hubungannya. “Untuk apa aku memberitahumu semua tentangku? Siapa sebenarnya dirimu untukku?”

DEG!
Pertanyaan yang begitu menusuk relung hati Yoona, ya Yoona tidak memberitahu bagaimana perasaan yang sebenarnya pada Kai. Jadi wajar saja jika Kai bertanya seperti itu.

Yoona mengalihkan tatapan matanya, ia menunduk, meresapi kalimat yang keluar dari mulut Kai.

Kai memegang pipi Yoona lalu mengangkatnya sedikit agar menghadap ke arahnya. “Tatap aku dan jawab pertanyaanku?”

Yoona terdiam lama. Ia memegang tangan Kai yang ada di pipinya lalu menaruh tangan Kai di sofa. Ia tidak bisa menjawabnya sekarang, ia takut dengan konsekuensi yang akan didapat.

“Akan kubuatkan makanan”, Yoona beranjak bangun dan meninggalkan Kai.

Kai mendengus pasrah.

Selang 30 menit, Yoona datang kembali membawa sepanci kecil ramyeon dan kimchi. Ia meletakannya di meja.

“Yak! Cep..”, Yoona menghentikan ucapannya ketika melihat Kai tengah tertidur pulas.

Ia berjalan mendekati sofa, memperhatikan detil wajah Kai yang kalau tertidur mirip sekali dengan Jongin. Namun Yoona masih bisa menemukan perbedaan di wajah itu. Jika ia melihat ketenangan di wajah Jongin, maka yang ia lihat di wajah Kai adalah kebahagian yang akan membawanya dalam kebahagian pula.

Yoona mendekatkan tangannya ke arah wajah Kai, ketika sudah sangat mendekatinya, Yoona hendak menarik tangannya lagi. Namun Kai lebih dulu menggenggam tangan Yoona lalu membuka matanya.

“Jangan biarkan dirimu tenggelam dalam ketakutan, disaat kau takut untuk mencoba, kau akan merasakan bagaimana kegagalan yang menakutkan”, ucap Kai sembari menatap dalam mata Yoona.

Lagi-lagi Yoona terdiam, ia meresapi apa kalimat yang baru diucapkan Kai. Ia sadar, jika ia terus diam, tidak akan menghasilkan apapun, dan tidak akan menyembuhkan ketakutannya.

“Aku tidak takut untuk mencoba lagi, aku hanya takut terluka untuk alasan yang sama”, jawab Yoona tenang.

“Apa alasan itu?”, tanya Kai lagi.

“Kehilanganmu, kehilangan seseorang yang sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupku, Ayahku, Ibuku, lalu Jongin, satu persatu mereka pergi meninggalkanku disaat aku sudah menggantungkan hidupku pada mereka..”, jawab Yoona yang sudah membendung air matanya dan akhirnya mengalir membasahi pipinya.

Kai mengerti maksud Yoona, Kai tahu yang dipikirkan Yoona saat ini adalah dirinya akan pergi lebih dulu meninggalkan Yoona untuk selama-selamanya, seperti yang telah terjadi pada Ayah-Ibunya dan Jongin.

Kai bangkit dari tidurnya dan manarik Yoona agar duduk di sebelahnya. Ia mengusap air mata Yoona.

“Yoona-ah, cepat atau lambat, aku, kau, dan manusia lain akan meninggalkan kehidupan ini, itu satu hal yang pasti dan tidak bisa kau hindari, tinggal bagaimana kau menjalani kehidupanmu agar kau bisa bermanfaat bagi dirimu sendiri maupun orang lain”, Kai mencoba memberi sugesti positif pada Yoona.

Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari bibir mungil Yoona.

“Jika Tuhan mengambil seseorang yang berharga dalam hidupmu, percayalah, DIA akan mendatangkan seseorang yang baik lagi untukmu, dan mungkin akulah orangnya..”, di akhir kalimatnya Kai berucap dengan nada bercanda, ia ingin merubah situasi yang menurutnya kurang nyaman menjadi lebih bersahabat.

Mendengar ucapan terakhir Kai, Yoona menoleh. Ia melihat Kai tengah memamerkan deretan gigi putihnya yang menunjukan ia sedang tertawa. Yoona memasang wajah kesalnya, karena menurutnya Kai bercanda di waktu yang tidak tepat.

“Aish!!”, Yoona hendak bangun dari sofa. Namun lagi-lagi Kai menarik tangannya, sehingga wajah Yoona berada dekat sekali dengan wajahnya.

“Tidak bisakah kau percaya padaku? Aku akan berada disisimu dan tidak akan meninggalkanmu sampai Tuhan mengambil nyawaku, mulailah hidup bahagia bersamaku Im Yoona!”, Kai menjulurkan tangannya ke arah pipi dan leher Yoona.

Yoona terus menatap Kai, ia sadar apa yang baru saja diucapkan Kai benar adanya. Ia harus membuka hatinya sekarang.

Melihat Yoona terdiama, Kai memberanikan diri mendekatkan wajah Yoona ke arahnya, ia pun memiringkan kepalanya dan sedikit memajukan wajahnya juga.

Entah apa yang dipikirkan Yoona, ia menutup matanya ketika bibir mereka hampir saling bertemu.

Kai tersenyum melihat Yoona menutup matanya, lalu ia mengarahkan bibirnya ke telinga Yoona dan berbisik. “Kenapa kau menutup matamu? Jawab aku, kau mau atau sangat ingin menjalani sisa hidupmu bersamaku?”

Saat itu juga Yoona mebelalakan matanya. Ia menatap bengis ke arah Kai. “Yak!! Seharusnya kau sudah tahu jaw”

CUP
Tidak menunggu Yoona menyelesaikan kalimatnya, Kai langsung menyambar bibir Yoona yang tengah berbicara.

Namun baru sekejap, Yoona menarik dirinya menjauh dari Kai. Ia gugup, jantungnya berdegup sangat kencang.

Kai tampak terlihat terkejut, ia tidak menduga akan secepat itu.

“Em..e..e, ramyeon itu, a…, ayo makan!”, Yoona menunjuk meja kecil dibawah lalu ia duduk di lantai dan mulai menyantapnya.

“Seperti ciuman pertama saja!”, sindir Kai lalu ikut duduk di bawah dan menyantap makanan yang sudah disiapkan Yoona.

Yoona langsung melirik tajam ke arah Kai.

Kai tersenyum sembari memamerkan deretan gigi putihnya. Kebiasaan Kai yang sudah dikenali Yoona.

Kai makan dengan lahapnya, sesekali ia melihat ke arah Yoona lalu tersenyum. Seperti orang gila yang sedang jatuh cinta.

Yoona melihat ada kuah ramyeon di sekitar bibir Kai, ia secara reflek mengusap bibir Kai dengan tangannya. Tidak ada maksud melakukan skinship yang direncanakan, ia melakukan itu secara alami, begitulah dirinya ketika sudah dekat dengan seseorang.

Kai terdiam sesaat, lalu melirik Yoona jail.

“Wae?”, tanya Yoona.

“Memang benar apa yang Jongin katakan padaku, kau tahu skinship alami mu itu sangat digemari kakakku, dan aku baru saja menggemarinya kekek”, Kai tertawa.

“Ck, seperti skinship pertamamu saja!”, Yoona balas menyindir Kai.

Mendengar itu Kai tertawa terbahak dan Yoona ikut tertawa juga.

Selang beberapa menit, mereka sudah selesai menyantap makanan. Yoona memulai kembali perbincangan. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan pada Kai, mungkin sekarang waktu yang tepat.

“Aku ragu kau punya hubungan dekat dengan Jongin. Aku tidak melihatmu di pemakamannya. Kau dimana saat itu?”, tanya Yoona.

Kai membuang nafasnya perlahan. Ia merasa tidak ada yang perlu disembunyikan lagi dari Yoona.

“Sebelumnya, kau pasti sudah tahu bahwa keluarga kami memiliki gen kanker”, ucap Kai.

Mendengar itu, Yoona pun menarik nafasnya berat. Rasa takut itu kembali datang. Yoona mendekati Kai dan mengaitkan tangannya ke lengan Kai.

Kai tentu saja bingung. “Wae?”

Yoona menggeleng. Ia menaruh kepalanya di pundak Kai. “Lanjutkan”, pintanya.

Kai kembali tersenyum. Seperti ia tahu apa yang tengah dirasakan Yoona. “Apa kau takut?”

Yoona menggeleng.

Kai meraih tangan Yoona yang satunya lalu menggenggamnya erat. “Dua hari sebelum kepergiannya, aku akan berangkat ke Korea untuk menjenguknya, tapi ketika sampai di bandara aku pingsan, sama seperti tadi, aku banyak mengeluarkan darah dari hidungku, aku tidak bisa melanjutkan penerbangan karena aku tak sadarkan diri selama 3 hari.”

“Dan ketika aku sadar, seorang bibi yang sudah merawatku dari kecil mengatakan padaku bahwa Hyungku sudah tiada, saat itu juga aku pergi Korea dan langsung menuju kemana abu Jongin ditebarkan, Jiwon bilang kau yang memilih tempat itu?”

Yoona kembali menggeleng. “Itu tempat favoritnya, aku gadis pertama yang di bawanya kesana.”

Kai mengangguk mengerti, lalu ia melanjutkan. “Saat tiba ditempat itu, aku teringat akan ucapannya jauh sebelum kematiannya, ia berkali-kali mengatakan bahwa aku harus menjagamu, hal itulah yang menyebabkan aku langsung mencarimu dan aku menemukanmu dalam keadaan yang benar-benar memprihatinkan di rumah.”

Kai menengok ke arah Yoona. “Bayangkan, bagaimana jika kau tidak tertolong saat itu? Apa yang harus aku lakukan lagi? Saudara seperti apa aku ini yang tidak bisa mengabulkan permintaan terakhirnya. Maka dari itu, jangan lakukan hal itu lagi.”

Yoona mengangguk pasti, dan Kai mengusap puncak kepala Yoona.

“Dan 2 hari yang lalu, aku mengalami hal yang sama. Setelah menganggumu di Dream Cafe, aku pulang dan tertidur. Kau tahu, aku bangun keesokan harinya jam 3 sore,, kekekek, rasanya puas sekali aku tertidur”, Kai tertawa.

Berbeda dengan Yoona, tak ada satu kalimat yang keluar dari mulut Kai yang membuatnya tertawa. “Apa itu berarti gen kanker berada di tubuhmu juga?”

Kai mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu, aku sudah memeriksakan tubuhku dan besok hasilnya keluar. Ingat! Jangan beritahu keluargaku kalau aku memakai dokter lain!”

Yoona kembali diam. “Aku berharap semoga hasilnya sesuai permintaanku, kau hanya kelelahan kan? Karena kau sangat aktif wajar saja kau seperti itu.”

Jongin mengangguk pasti dan kembali tersenyum.

Yoona semakin mengeratkan genggaman tangannya. Mencoba menghilangkan rasa takut yang ia rasa, dan akhirnya ia tertidur.
Pukul 07.00

DUG!! DUG!! DUG!!

Yoona yang tengah terlelap tidur mendengar suara ketukan pintu di rumahnya, segera ia berlari ke arah pintu dan membukanya.

“Jiwon-ah..”, Yoona rada terkejut melihat kehadiran Jiwon dirumahnya.

“Eonni..”, panggil Jiwon sembari menangis.

“Ada apa?”, tanya Yoona dengan raut wajah yang bingung.

Bukannya menjawab Jiwon justru menarik tangan Yoona dan membawanya pergi menggunakan mobil ke suatu tempat.

Sampai di sebuah rumah, Jiwon menarik tangan Yoona dan membawana ke sebuah kamar.

DEG!
Jantung Yoona seakan berhenti saat itu juga. Ia melihat tubuh Kai terbaring dan wajahnya pucat di atas tempat tidur. Ia menoleh ke belakang dan Jiwon sudah tidak ada.

Ia menghampiri Kai. “Kai-ssi”, panggilnya pelan.

Tidak ada pergerakan dari tubuh Kai. “Tidak,, Kai-ah.. Bangun!!”, Yoona menggelengkan kepalanya berulang kali.

“KIM KAI!!”, Teriak Yoona yang ingin membangunkan Kai.

“Yak!! Bangun!! Kubilang bangun!!”, teriaknya lagi sembari menggerak-gerakkan tubuh Kai.

“KAIIII!!!~”, Teriak Yonna kencang.
Yoona terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya, nafasnya pun terengah-engah.

Ia memandangi sekitarnya, ia berada dirumah dan tebaring di atas sofa. Ia teringat, semalam ia tertidur bersama Kai ditempat itu.

DEG!
Lagi, jantungnya berdegup kencang saat sadar Kai tidak ada di dekatnya.

“Kai..”, ucapnya pelan.

Masih terbayang akan mimpi buruknya semalam, segera ia berlari keseluruh kamar mencari sosok pria yang sedang dicari.

“Kai!!”

“Kai-ah!!”, jeritnya kencang.

Tidak menemukan Kai di dalam rumahnya, ia berlari kencang ke arah luar rumah. Saat itu, ia melihat Kai baru saja keluar dari mobil hitamnya, langsung ia berlari menghampiri Kai.

“Kai!!”, teriaknya lalu memeluk Kai amat sangat erat.

Yoona menangis dalam pelukan Kai.

Kai kembali memasang wajah bingungnya, ada apa lagi pikirnya. “Wae,, wae?”, tanyanya terbata.

Tak lama, Yoona mendorong tubuh Kai menjauh, dan memukul berkali-kali di dadanya. “Yak!! Aish!! Kau kemana saja? Aish!! Kau menyebalkan!!”

“Aak,, akk,, akk, yaa ini sakit, kau ini kenapa?”, Kai mengusap dada bidangnya yang berkali-kali kena pukul Yoona.

“Yak!!”, teriak Yoona terakhir lalu mengusap air matanya.

Dengan masih memasang wajah bingungnya, Kai kembali bertanya. “Waeyo?”

“Kau darimana? Kenapa tidak memberitahuku?”, tanya Yoona yang sudah menyudahi tangisannya.

“Aku baru mengambil hasil lab-ku”, Kai kembali kedalam mobil dan mengambil amplop besar berwarna putih dan ditunjukkan pada Yoona.

“Bagaimana hasilnya?”, tanya Yoona langsung.

“Tunggu! Kau menangis hanya karena aku pergi beberapa jam saja? Sungguh? Woahhhh daebak! Seberapa besar kau mencintaiku Yoona-ah???”, Kai menggelengkan kepalanya tidak percaya.

Yoona mengangkat bahunya tidak tahu. Kini fokusnya hanya pada hasil lab Kai yang sudah di tangan. “Hasilnya,, bagaimana?”

“Ini,, ayo! Aku akan menjelaskan semuanya di dalam”, Kai menarik tangan Yoona untuk kembali masuk ke dalam rumah.

Kai dan Yoona duduk di sebuah sofa.

“Bagaimana?”, tanya Yoona.

Kai mengeluarkan isi amplop itu. “Hasilnya positif, aku terkena kanker darah stadium 1.”

Cukup lama terdiam, Yoona memikirkan banyak hal, jika ia sedih dengan hasil itu, bagaimana dengan Kai nantinya, setidaknya ia harus bisa menguatkan Kai.

“Kau baik-baik saja?”, tanya Yoona sembari mengelus punggung Kai.

“Tentu saja, aku masih bisa berusaha untuk menghilangkan kanker itu”, jawab Kai pasti.

Yoona mengangguk. “Benar, aku akan membantumu, jangan lelah, jangan menyerah.”

Yoona kembali memeluk Kai. Diam-diam ia kembali menenteskan air matanya. Namun dengan cepat ia menghapusnya. “Kau kuat! Aku tahu itu Kim Kai!”

Kai mengangguk menyetujui ucapan Kai.
1 Minggu Kemudian..

Tebing (tempat dimana abu Jongin ditaburkan)
Pukul 09.00
Yoona dan Kai berjalan beriringan dan bergandengan tangan untuk sampai ke puncak. Tiba di sana, mereka menghirup udara segar.

“Hyung..”, panggil Kai.

“Hyung lihatlah, aku menepati janjiku! Aku datang bersamanya Hyung…”

“Yak!! Kim Jongin!! Kau mendengarku?”, teriak Kai kencang.

“Dia telah berjanji tidak akan lagi membuang air matanya lagi Hyung,, kau pasti bangga padaku kan?”

Kai menoleh ke arah Yoona. Mereka tersenyum bersama.

“Jongin-ah,, terimakasih telah mengirimkan pria penguntit untukku”, ucap Yoona.

“Apa?”, Kai seakan tidak terima.

Yoona menjulurkan lidahnya lalu tersenyum.

“Terimakasih banyak.. Saranghae..”, lanjut Yoona.

Kai merangkul Yoona, Yoona melingkarkan tangannya di pinggang Kai.

“Hyung… Aku akan membawanya pergi ke Amerika, selain untuk menjalani terapi, aku akan menggelar pernikahan disana.. Ibu yang memintanya.. Tapi jangan khawatir Hyung,, aku akan sering mengunjungi tempat ini bersama dengan anak-anakku kelak..”, ucap Kai dengan sedikit berteriak.

“Hyung.. Terimakasih… Terimakasih banyak.. Saranghaeeeee…”, teriak kencang Kai.

Kai dan Yoona kembali tersenyum, senyuman yang terlihat sangat bahagia. Kai dan Yoona saling mendekatkan wajah mereka sampai bibir mereka pun bertemu.

Kai melepasnya sesaat.. “Saranghae..”, ucapnya.

Yoona tersenyum. “Nado.”

Mereka kembali menempelkan bibir mereka, suasana yang sangat damai dengan berdelirnya angin dan sejuk karena pepohonan.
“Memang benar, pihak yang lebih mencintai pihak yang lainnya adalah yang lebih lemah..”
-Yoona-

“Hyung.. Kau seperti sudah menyiapkan dirinya untukku.. Inikah hadiah yang pernah kau janjikan padaku? Terimakasih.. Terimakasih banyak Kim Jongin..”
-Kai-

FINISH… ^_^

Yihaaaaaaaaa,, akhirnya beres juga hihi. Aku juga bingung ya ini ff bisa dibilang sequel atau bukan. Ff yang masih banyak kekurangan, tapi aku bersyukur bisa nuntasin ff abal ini. Jangan lupa kritik dan saran ya gaesss. Terimakasih banyak ^-^ *BOW*

24 thoughts on “[Freelance] Stalker

  1. Aigoo, untng ajah msh stadium awal penyakitnya Kai, msh ad peluang sembuh.
    Ckup Jongin yg perg, jgn dgn Kai.
    Alurnya rada kecepatan gak sih? Tp gk apalah, tetp bgus kok.
    Johaa..

    Keep writting^^

  2. Kerrrreeen romancenya kai sama yoona dapet feelnya. Seneng disini ada perjuangan untuk mengembalikan hati yang rapuh haha. Terimakasih author😊

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s