[Freelance] Lucky Loser

PicsArt_1438009075985-1

Author: Catur Anggraheni
Length: Oneshot
Rating: PG 13
Genre: School-Life
Main Cast: Im Yoon Ah , Oh Sehun, Lu Han, Zhang Yixing, Wu Yi Fan
Disclaimer : All cast belong to God. 

Yoona melangkahkan kakinya dengan malas ke arah gudang yang jaraknya kini hanya beberapa meter dari tempatnya melangkah. Lagu Loser dari Bigbang masih mengalun dari earphone yang dipasangnya. Ia benar benar suka lagu ini. Sangat menggambarkan dirinya. Gadis berkacamata dan tak banyak bicara yang sering dianggap sebagai pencundang dan orang yang aneh.
Tapi ya sudahlah, lagipula ia juga tak begitu mempedulikan apa yang dikatakan orang orang tentangnya.
Dalam hati, ia tidak henti hentinya merutuki si cantik Seulgi yang membuatnya harus kena hukuman untuk membersihkah gudang yang Yoona rasa sudah tak pernah dibersihkan selama 100 tahun. Oke, ia tahu ia hiperbola.
Langit senja berwarna jingga menerobos masuk ketika ia dengan sangat-niat membuka pintu berwarna coklat tua tersebut. Tak banyak yang ia temukan, satu lemari berisi bola basket yang beberapa sudah kempes, 1 lemari berisi peralatan kebersihan yang sudah sangat kotor, dan 1 buah pintu yang Yoona tak yakin berisi apa. Ia tak akan mengecek atau membukanya, ia niatkan itu dari awal masuk. Ia takut sekali ketika ia membukanya ia akan menemukan mayat atau sejenis itu.Lagi pula akan susah untuk memminta tolong seandainya itu benar benar terjadi. Yang tersisa di sekolah saat ini hanyalah kakak kelas tingkat akhir dan mereka semua berada di gedung di sisi lain. Ia benci dirinya yang terlalu penakut, tapi ia sangat mencitai daya imajinatif dari otaknya.
Dengan hati hati, ia mengambil sebuah sapu dan mulai menggerakkan sapunya di lantai. Tak ada yang aneh sampai ia menyadari bahwa ada sebuah suara yang berasal dari pintu yang ia hindari. Ia merinding, badannnya menegang, dengan segera ia keluar ruangan sambil berlari terengah engah. Mencoba untuk mencari pertolongan. Tapi sial, sampai di sisi gedung lainnya, ia tak menemukan satupun orang yang bisa ia mintai tolong. Semua kelas yang ia lewati sibuk belajar untuk ujian nanti. Ia tak ingin mengaggu, tiba tiba saja datang pikiran bahwa suara yang ia dengar tadi hanyalah halusinasinya. Ia tak ingin dianggap tolol nantinya.
Jadi, dengan langkah sok berani ia kembali ke gudang dan mendekati pintu tersebut. Semakin ia mendekat semakin aneh suara yang ia dengar. Ia masih mengeryitkan dahinya bingung sampai ia menyadari bahwa itu bukan suara hantu yang sedang cekikikan atau semacamnya.
!@#$%^&* IT.
Itu suara desahan.
Ya Tuhan, ia rasa telinganya tak lagi polos. Ia kemudian melangkahkan kakinya keluar. Ia harus meninggalkan ruangan kotor ini. Harus. Persetan dengan Kim Songsaenim yang mungkin akan marah marah besok. Ia doakan besok guru tersebut mengalami gangguan pencernaan sehingga tak dapat hadir. Tapi langkahnya terhenti seketika ketika pintu tersebut terbuka.
Tubuhnya lagi lagi menegang, dengan takut ia berbalik.
2 sosok nyaris sempurna, dengan baju acak acakan melihat ke arahnya dengan pandangan aneh.
MATI KAU, IM YOONA.
.
.
.
Matanya berkedip pelan, jantungnya ia dapat rasakan berhenti bekerja. Kakinya seakan lumpuh dan tak bisa di gerakkan. Apa yang harus ia lakukan? Lari? Ya. Sebaiknya lari dan berpura pura tidak tahu apa apa. Kakinya sudah siap untuk mengambil langkah seribu ketika ia merasakan ada tangan besar yang menarik pergelangan tangannya.
DEG
“Kau mau kemana?” Yoona kemudian berbalik menghadap keduanya dan menghela pasrah. Ia lalu memberikan sedikit senyuman.
“Aku benar benar tidak tahu apa-apa” Ucap bibirnya begitu saja. Im Yoona Bodoh! Sekarang jelas sekali terlihat kalau kau tahu semuanya.ia merutuki dirinya sendiri.
Laki laki berwajah imut lalu mulai menggerakan tangannya diatas jas yang Yoona kenakan. Yoona tersentak, baru saja ia mau mengomel ketika tau bahwa laki laki itu hanya ingin mengambil nametag nya. Cara nya melalukan hal tersebut sangat sopan, Yoona yakin jika ada orang yang meilhatnya, orang tersebut akan menduga yang tidak tidak.
“Im Yoona?” baca laki laki imut tadi, matanya mengarah ke nametag nya. Yoona hanya terdiam kaku saat lelaki bertubuh tinggi yang tadi memegang pergelangan tangannya mulai melepas genggamannya secara perlahan.
“Murid baru? Wajahmu asing” ucap laki laki disampingnya. Yoona tidak menjawab, ia tahu ia memang tak populer.
“Tunggu, ” laki laki imut itu kemudian mencoba untuk memasangkan nametag Yoona kembali, tapi Yoona menolaknya.
“Tidak apa apa. Aku bisa sendiri” ucap Yoona mencegah tangannya, tapi ia tetap memaksa.Yoona harus menahan laki laki itu lebih keras, tapi yang terjadi adalah ia yang secara tidak sengaja jatuh ke pelukan laki laki di depannya. Yoona mematung. Untuk seperkian detik, seperti adegan di film film yang ia tonton, gerakan slow motion dimulai.
Ia kemudian sadar dan cepat cepat melepas diri. Lelaki itu masih menatapnya.
“Luhan-ah, sebaiknya kita cepat pergi” Oh Sehun lalu menarik tangan Lu Han, membawanya pergi.
Luhan segera mengikuti Sehun dan kedua laki laki itu meninggalkan Yoona yang masih terdiam mematung.
.
.
.
Yoona menggigit roti isi keju yang sudah disipkan oleh ibunya pagi ini dengan malas. Pikirannya masih melayang ke kejadian kemarin. Senja kemarin benar benar seperti mimpi.
Bagaimana Luhan dan Sehun…?
2 lelaki tertampan dan terkaya seantero sekolah….
Dikenal karna kedermawanan orang tua masing masing, dan karena sifat dingin mereka yang sedingin kutub es.
Gay?
Ia bergidik ngeri membayangkan bagaimana mereka menjalani semuanya. Bukan, ia bukan orang yang menentang keras hubungan sesama jenis seperti itu. Bagaimanapun juga itu pilihan mereka dan Yoona tidak berhak untuk mencampuri apalagi mengomentari urusan mereka. Urusan hidupnya sendiri saja sudah membuatnya pusing. Mau memikirkan urusan orang lain? Mati saja.
“Yak!” Yoona tersentak. Tetangganya Zhang Yixing, entah sejak kapan sudah berada di hadapannya. Memperhatikan wajahnya yang ia yakin sudah semerah kepiting rebus sekarang.
“Apa yang sedang kau lamunkan?” tanyanya.
“Tidak ada”
“Kau sedang memikirkan hal yang jorok ya?” Yixing berbicara lagi. Kalau sudah begini, ingin rasanya ia menabok pipi mulus pria di hadapannya sekarang.
“Mau mati ya? Lagi pula, mengapa pagi pagi begini kau sudah ada disini?” tanya Yoona bodoh. Ia kemudian menyadari bahwa Yixing memang selalu menjemputnya setiap pagi ntuk berangkat sekolah bersama.
“Aish. Kau ini bicar-” Yoona segera menutup mulut laki laki yang sering mengakui dirinya segai Lee Min Ho tersebut.
“Ayo berangkat. Oh iya, ambil rotimu di dapur. Eomma sedang menyiapkannya”
.
.
.
“Yixing-ah” panggil Yoona setelah mereka turun dari bus. Tinggal jalan sedikit dan mereka akan sampai. Lelaki disampingnya yang sedang asik mengutak atik handphonenya langsung menoleh. Langkahnya terhenti. Otomatis, langkah kaki Yoona juga ikut terhenti. Raut wajahnya lalu berubah.
“Sudah kubilang panggil saja aku Lay.Lee Min Ho juga boleh…Yang penting jangan Yixing” Ups, Yoona lupa kalau Yixing paling tidak suka dipanggil Yixing. Aneh. Padahal menurut Yoona namanya unik.
“Namamu kan memang Yixing, bodoh” Tak sampai sedetik ia langsung merasakan jitakan kasar yang mendarat dengan mulus di kepalanya.
“Yak! Yixing, apa yang kau lakukan?”
“Menjitakmu”
Aish, kalau sudah bertengkar dengan Yixing,pasti tak ada habisnya. Yoona sampai lupa tujuan awal ia memanggil lelaki itu.Yoona kemudian melanjutkan langkahnya menuju sekolah. Yixing mengikutinya.
“Yixing-ah, waktu di Sekolah Menengah Pertama dulu, kau sekelas dengan Luhan dan Sehun kan?” tanya Yoona pelan. Yixing menoleh ke arahnya, tapi tetap melanjutkan langkahnya. Ia tak langsung menjwab, laki laki disampingnya terlihat sedang berpikir. Meski Yoona ragu apakah ia memiliki kemampuan berpikir atau tidak.
“Nde, mengapa?” Yoona meliriknya sekilas. Lalu memandang berbagai macam baju untuk musim panas yang tergantung indah di toko toko pinggir jalan. Kebanyakan terbuka, Yoona membayangkan kalau ia memakai salah satu dari baju baju tersebut. Pasti ia terlihat kutilang –kurus tinggal tulang-.
“Tidak apa apa. Hanya iseng.” Ucap Yoona singkat,lalu segera berlari meninggalkan Yixing. Tadinya ia mau bertanya, tapi sepertinya ia memang tak di restui untuk bertanya, karena dari kejauhan sayup sayup bel telah berbunyi.
“Yak! Im Yoona! Dasar orang aneh. Tunggu aku!” Yoona bisa mendengar Yixing memanggilnya, logat China nya yang kental membuat suaranya terdengar lucu. Dalam larinya, ia tertawa.
.
.
.
Yoona mengerjap pelan, bel istirahat telah berbunyi artinya pelajaran sejarah dari Choi Songsaenim telah selesai. Semua murid mulai bangun dari tidur lelap mereka. Waktunya makan siang. Yoona lalu bangkit dari tempat duduknya. Yixing tidak bisa menemaninya makan siang karna dispensasi untuk pertandingan basket melawan SMA Yeoju.
Tarik nafas. Buang.
“Tidak apa Im Yoona, sudah biasa juga kan sendirian seperti ini?” gamamnya pelan. Ia memang sering meyakini dirinya sendiri. Lebih tepatnya membohongi dirinya sendiri. Berusaha meyakini sesuatu yang baik yang padahal belum tentu bisa berjalan denan benar benar baik.
Sepanjang perjalanan menuju kantin sekolah, ia merasa aneh. Ia rasa semua orang memperhatikannya. Ia lalu menoleh ke kanan dan kiri. Tidak, tidak ada orang terkenal di dekatnya. Yang berarti dialah yang benar benar menjadi pusat perhatian.
Dan, bukan hanya memperhatikannya, mereka juga berbisik bisik sesuatu tentangnya. Yang Yoona yakin merupakan hal buruk.
Oh ia benci ini. Sungguh.
Ia benci menjadi pusat perhatian.
“Yoona yang itu ya? Wajahnya biasa saja”
“Apa yang membuatnya menarik?”
“Terlihat polos, tapi ternyata berbisa. Ck”
“Wajahnya terlihat lugu.Tidak mungkin dia”
“Selera mereka… rendah”
“Dari Krystal Jung ke Im Yoona? Yang benar saja”
“Tapi mengapa bisa ya mereka? Jadi sebenarnya cinta segi apa ini?”
Dalam hati Yoona bertanya, sebenarnya mereka bicara apa? Dan apa salahnya? Setau Yoona ia tak pernah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.
Yoona diam saja, ia tetap melanjutkan langkahnya menuju kantin. Walaupun perasaannya saat ini waspada dan khawatir, tapi tetap saja tidak mempengaruhi perutnya yang sudah bernyanyi minta diisi.
Yoona melihat ke seluruh penjuru kantin. Tidak ada bangku yang tersisa kecuali bangku bekas muntahan seorang siswa bernama Jongdae, orang itu sama seperti Yoona. Sama pengecutnya. Kemarin, ia di labrak oleh Chanyeol dan teman temannya yang menyebalkan hanya karena pagi itu ia lupa membawa pekerjaan rumah milik Chanyeol. Hanya digertak, tapi feedback yang diberikan luar biasa. Nasi yang ada di mulutnya muncrat kemana mana. Membuat orang yang berada di sekelilingnya memberikan pandangan jijik sekaligus prihatin.
Ah, ia sampai lupa kalau kemarin ia juga dikerjai oleh Seulgi. Kadang ia merasa prihatin kepada orang lain, padahal dirinya sama saja. Malah mungkin lebih parah. Ia juga bingung kenapa ia bisa bertahan sampai sekarang, pasalnya dari Sekolah Dasar ia selalu menjadi bahan bullying oleh teman temannya. Hanya karena ia tidak mau melakukan hal yang mereka perintahkan.
Mungkin karna Yixing. Benar juga. Selama ini Yixing yang selalu melindinginya. Tapi sial, sekarang tak ada Yixing.
Mau tidak mau, ia duduk di bangku itu, lagipula ia yakin bahwa bangku itu pasti sudah bersih. Bahkan ketika ia makan pun orang orang itu masih berbisik padanya. Ini benar benar tak nyaman, tapi ia mencoba untuk tetap fokus dan tak mempedulikan mereka.
Tiba tiba saja ia merasa ada yang duduk di bangku kosong di depannya. Ketika ia mendongak, ia hampir tak percaya. Lu Han. Sedang duduk di depannya.
Dan kalau ia tidak salah lihat.
Orang itu sedang memperhatikannya makan sekarang.
Yoona lagi lagi hanya bisa terpaku. Begitupun orang orang di sekelilingnya. Seakan akan sedang menonton perang antar Korea Selatan dan Utara, wajah mereka begitu tegang.
“Hei” suara berat itu memecahkan keheningan yang sudah seperkian detik menyelimuti. Mata orang orang itu main khusuk melihat ke arah mereka.
“Bajumu tadi malam tertinggal di rumahku. Lain kali hati hati. Oke?” Setelah itu lelaki berwajah imut itu menaruh kantung yang terbuat dari karton yang setelah Yoona lirik sekilas memang berisi baju.
Yoona masih belum paham apa yang Luhan katakan, sampai akhirnya ia mendengar orang orang mulai berbisik lagi.
Bahkan ketika Ayahnya pergi meninggalkan rumah ia tak merasa sebingung ini.
.
.
.
Apa? Baju? Baju apa? Ya Tuhan, sebenarnya apa kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu. Mengapa…
Sekarang ia bisa menebak apa yang orang orang bayangkan tentang ia dan Sehun. Bayangkan saja-seorang-gadis-yang-meninggalkan-bajunya-dirumah-lelaki lain-
Pasti pikiran mereka negatif semua.
Huft..
Gadis itu berjalan lesu meninggalkan kantin, kantung dari Luhan masih ia bawa. Sebenarnya ia juga tak tahu kenapa ia masih membawanya.
Ia sengaja untuk memilih jalan melewati lapangan karena saat jam jam seperti ini lapangan sepi. Siapa yang mau bermain di lapangan saat matahari sedang berada di puncaknya? Tapi ternyata ia salah. Ia baru menyadari bahwa hari ini sekolahnya bertanding melawan SMA Yeoju.
Bodoh.
Awalnya karena terlalu ramai ia pikir ia bisa melewati lapangan dengan lancar. Tidak mungkin ada yang menyadarinya. Pilihannya ada dua, ia berbelok ke kiri atau ke kanan. Jika ia berbelok ke kiri ia akan melewati tumbuhan markisa yang melilit pagar lapangan sehingga kemungkinan kehadirannya disadari 0.00001 persen. Apalagi semua orang yang ada disini terlihat sangat sibuk. Sedangkan kalau ia berbelok ke kanan, sudah pasti gadis gadis anggota cheerleaders dengan gemas akan menghentikannya dan mananyainya macam macam.
Orang bodoh sekalipun tahu mana jalan yang harus dipilih.
Ia mencoba berjalan dengan santai sebelum akhirnya ia mendengar Oh Sehun, si anak basket sekaligus salah satu dari orang yang dari kemarin selalu Yoona pikirkan, berteriak kencang memanggil namanya.
“IM YOONA!”
Dalam hitungan detik semua mata langsung menatapnya.
Otaknya memerintah untuk segera lari. Tapi kakinya lumpuh.
“Kau sedang menonton? Mengapa tidak duduk di bangku penonton?” Oh Sehun yang sedang menghampirinya lalu mengajukan pertanyaan tolol.
Ya. Kenapa ia tidak duduk di bangku penonton? Karena aku memang tidak sedang menonton bodoh, ucap Yoona kesal. Tentu saja hanya dalam hati. Walau ia tak yakin apakah hatinya itu bisa berbicara.
Yoona diam. Semua orang yang ada di lapangan diam. Keheningan yang sama seperti saat di kantin.
“Lain kali, jika mau menyaksikan aku bermain, duduk saja di bangku penonton” Yoona merinding mendengar Sehun berkata begitu. Lalu secara tiba tiba laki laki itu mencium lehernya singkat.
FOR GOD SAKE!
LEHERNYA!
.
.
.
Bisa tidak sih ia menghilang saja di dari planet ini? Ia sangat malu dan kesal. Sebenarnya maksud mereka berdua apa? Mengapa bertindak aneh? Memangnya apa salahnya? Ya Tuhan ia tidak pernah meminta untuk di lahirkan apabila akan menjadi seperti ini.
Tiba tiba saja nada dering ponselnya berbunyi. Lagu Photograh dari Ed Sheraan mengaun lembut.
Dari Yixing. Dengan malas ia mengangkat telepon, awas saja kalau ia menelpon untuk hal hal yang tidak penting. Seperti misalnya, apa kata terakhir yang Yoona katakan pada Yixing atau mungkin apakah seharusnya ia operasi plastik saja agar wajahnya mirip Lee Min Ho. Ia bersumpah untuk menyuruh ibunya tidak memberikan Yixing sarapan lagi jika ia begitu.
“Halo Im, Kau dimana?”
“Di sekolah.”
“Aku tahu bodoh”
“Tepatnya dimana?”
“Di bawah pohon maple dekat perpustakaan”
“Cepat ke mading sekarang”
“Ada apa sih?”
“CEPAT!” ketika Yixing membentaknya seperti ini, itu berarti ada sesuatu yang sangat penting. Ia segera berlari menuju Mading.
.
.
.
Yixing benar. Sesampainya di Mading ia melihat sesuatu yang harusnya tak dilihat olehnya. Karena melihatnya hanya membuat dirinya merasa tambah buruk. Sekolah sudah sepi, dan tanpa Yoona sadari tangannya mulai bergetar, diikuti oleh bibir dan kakinya.
Ap-apa ini?
Foto pertama : Terlihat ia yang sedang di genggam tangannya oleh Sehun, ia terlihat sedang menatap ke arah laki laki itu begitu juga sebaliknya.
Foto kedua : Luhan dan dirinya yang terlihat sedang berpelukan.
Ah ia ingat, ia jatuh ke pelukan laki laki itu kemarin.
Sebenarnya kedua foto itu normal. Tetapi foto terakhir…
Lu Han dan Oh Sehun terlihat sedang bergandengan. Erat. Sehun terlihat sedang memerhatikan Luhan dan Luhan terlihat sedang berbicara.
Tentu saja ada yang ganjil dari foto ini. Sesama lelaki? Bergandengan tangan? Di saat sekolah sudah sepi? Aneh.
Ketika Yoona menggeser matanya ke kolom komentar yang terletak tepat di bawahnya, tanpa ia sadari air matanya jatuh. Begitu banyak komentar pedas yang membuatnya ingin pindah saja dari Korea.
Dasar bit*h! Im Yoona memang parah
Kita punya julukan baru untuknya, “Im Yoona si penjahat lelaki” pantas bukan?
Mendekati Oh Sehun dan Luhan secara sekaligus, ia pasti benar benar membutuhkan uang
Aku kasihan pada Orangtuanya, mereka pasti sangat malu mempunyai anak seperti dia.
Ia terisak. Tangisannya yang sedari tadi ia coba pertahankan akhirnya pecah juga. Ia hanya tak mau hal seperti ini terulang kembali. Bertahun tahun menjadi bahan bullying bukanlah hal yang diinginkan setiap orang.
“Im..”
Yoona menoleh cepat Yixing berdiri di belakangnya dengan pandangan khwatir. Ia segera menghapus air matanya. Ia tidak boleh terlihat cengeng.
“Tak usah menyembunyikan kesedihanmu”
“Tidak. Aku tidak sedih. Hanya sedikt khawatir saja…”. Yixing menggeleng sambil tersenyum, lalu mengusap sisa air matanya.
“Kau seharusnya tidak perlu merasa khawatir. Mereka pasti lebih khawatir. Mereka terlihat seperti gay bukan?”
Yoona tidak mengerti apa yang dikatakan Yixing sampai ia melihat ke komentar yang terletak agak di bawah.
Sehun dan Luhan, maaf saja.. tapi mereka terlihat seperti gay
Aduh, jika mereka benar benar gay, aku kecewa sekali T.T
Sudah pasti mereka gay, cara Sehun menatap Luhan menunjukan segalanya
Wah, tidak kusangka aku salah menyukai orang
Yoona terdiam. Gila. Benar benar gila.
“Aku sepertinya mengerti mengapa mereka mendekatimu..” Yixing berucap
“Untuk mengusir gosip aneh itu”Yoona berkata pasrah.
Yoona rasa hidupnya tak akan pernah sama lagi.
.
.
.
Hidupnya memang berbeda sejak hari itu. Kini cibiran dan omongan kasar semakin banyak terdengar. Tentu saja itu semua ditunjukan untuknya. Luhan dan Sehun tak pernah berhenti untuk mempermainkannya. Selalu ada cara cara yang mereka lakukan yang membuat orang di sekelilingnya bisa menggeleng pelan tak percaya.
Ia hanya bisa diam. Ia tahu dengan ia hanya diam seperti ini orang orang akan semakin membencinya. Tapi ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Lagipula, tak bisa Yoona pungkiri Sehun dan Luhan mempunyai pesona yang luar biasa memikat. Juga, ketika Sehun atau Luhan berada di dekatnya, tak ada yang berani menganggunya.
Luhan yang setiap pagi menjemputnya pergi ke sekolah.
Sehun yang mengantarnya pulang ke rumah.
Luhan dan Sehun yang menemaninya makan di kantin.
Luhan yang membawakannya minum saat pelajaran olahraga.
Sehun yang membawakan tasnya.
Rasanya seperi mimpi. Mereka berlebihan, Yoona tahu mereka berlebihan. Tapi, ia juga tak kuasa menolak. Seluruh wanita di dunia juga tak ada yang sanggup. Lagipula, ia mulai suka melihat tatapan penuh iri yang ditujukan kepadanya. Rasanya seperti seluruh dendam dan kekesalan yang ia pendam selama ini menguap.
“Yoong, bagaimana kalau nanti malam kita buat popcorn saja? Tidak usah beli.Lebih hemat bukan? Aku sudah tahu cara membuatnya.” Yixing berbicara pelan ketika jam istirahat tiba. Suasana di kelas lenggang, hanya ada beberapa orang yang asyik dengan urusannya masing maisng.
“Hmm, kau terlambat beberapa detik dari mereka. Kurang cepat” jawab Yoona datar. Nada suaranya terdengar seperti bersalah. Ia lalu menatap lembut pada wajah Yixing yang berada di sampingnya. Laki laki itu diam, setiap malam jum’at mereka mempunyai kebiasaan menonton film. Tapi sepertinya minggu ini tidak.
.
.
.
Yoona menelan salivanya sekali lagi. Ia tak menyangkan bahwa ajakan iseng dari Sehun yang mengajaknya makan malam akan menjadi seperti ini. Yoona kira hanya makan malam biasa. Biasa disini maksudnya, makan malam di café, ngobrol, dan melakukan hal tak penting lainnya. Nyatanya, mereka kini sedang makan malam canggung di rumah Sehun, eomma dan appa dari anak itu tak berhenti memberikan tatapan menilai pada Yoona.
Dan demi apapun itu, Yoona hanya mengenakan jeans biru tua yang sobek di beberapa bagian (itu karna modelnya) dan kemeja kotak kotak berwarna merah yang dilapisi oleh sweater dengan warna sama. Hanya saja lebih muda sedikit.
Ia baru berniat untuk memakan sup nya ketika dari arah kanan Luhan datang sambil membawa seikat bunga. Yoona tidak tahu Luhan akan datang. Ia terlihat super tampan dengan kemeja birunya. Sepatu kets putih yang melekat di kakinya menambah beberapa persen ketampanannya. Sesaat ia seakan lupa dengan fakta bahwa ia gay.
“Hai Hun, Hai Yoong” ucap Luhan sambil tersenyum kemudian dengan santainya langsung duduk. Belum di persilahkan. Nyonya dan Tuan Oh sepertiny sudah kenal dekat dengan Luhan. Sehingga hanya tersenyum melihat tingkahnya. Ia bertanya tanya apakah kedua orang itu tahu bahwa Luhan adalah kekasih dari anak mereka. Memikirkannya membuat kepalanya jadi sedikit berdenyut. Ada perasaan tidak rela disana. Ah, ia pasti mulai gila karna tequila yang barusan ia minum.
“Jadi kau Im Yoona?” tanya Nyonya Oh setelah dessert dihidangkan. Yoona terserang panik yang luar biasa. Caranya menjawab pasti akan sangat berpengaruh pada penilaian kedua orang tua Sehun. Setidaknya, jika ia tak bisa berpenampilan mewah ia harus mempunyai cara bicara yang cerdas.
“Nde~” Ia menjawab dengan nada selembut mungkin. Suaranya berubah 180 derajat. Yoona bisa merasakan itu. Sehun menyunggingkan senyum ketika mendengarnya.
“Sehun banyak cerita tentangmu” ucap Nyonya Oh beberapa detik kemudian.
“Benarkah?” Yoona menjawab gugup.
“Kau gadis pertama yang diceritakan olehnya”
Yoona terkesiap. Benarkah? Ia sedikit bangga sekaligus malu. Ah, jadi seperti ini rasanya. Menyenangkan sekali. Sudah lama ia bermimpi untuk ini.
Sehabis makan malam, mereka bertiga –Luhan, Yoona, dan Sehun memutuskan untuk duduk santai di gazebo khas korea yang terletak tepat di belakang rumah.
“Ah, perutku terasa penuh sekali~” Yoona memulai percakapan karna kelihatannya tak ada satu diantara 2 laki laki itu yang breniat mengeluarkan suara.
“Yoong” Sehun memanggil nama Yoona dari sebelah kiri. Yoona bergumam memberi respon. Luhan yang duduk di sebelah kanan mulai memasang raut serius. Begitupun dengan Sehun. Yoona lalu mengeryit bingung.
“Yak! Ada apa? Mengapa raut wajah kalia-” Yoona belum selesai mengucapkan perkataannya ketika dengan tiba tiba kedua bibir pria itu menempel di pipinya. Tepat di pipinya.
Yoona membeku. Apa yang dua orang ini lakukan? Bibir mereka masih menempel di pipi Yoona. Rasanya hangat dan nyaman. Aish, Im Yoona apa yang kau pikirkan? Gumamnya pelan. Sampai akhirnya bibir itu mulai menjauh perlahan. Yoona meringis. Tak tahu harus berbuat apa.
“Kami jatuh cinta padamu” ucap Sehun akhirnya. Terus terusan kaget dan tak percaya juga tak ada gunanya. Jadi, Yoona memutuskan untuk mendengarkan seksama apa yang dua orang ini mau katakan selanjutnya.
Tapi rupanya mereka tidak mengeluarkan mau berbicara lagi. Yoona juga masih bingung terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Sehun dan Luhan…. Mereka sudah seperti sahabat bagi Yoona, yah walau kadang apa yang mereka lakukan membuat detak jantungnya jadi tak stabil.
“Kau harus memilih” kata Luhan. Yoona sebenarnya tahu pasti ini tujuan mereka mengatakan cinta. Untuk memilih. Yah hidup juga sebenarnya tentang memilih. Tapi rasanya pilihan yang ini mengapa sulit sekali sih?
“Anu.. bukannya kalian saling mencintai? Mengapa jadi memperebutkanku seperti ini? Aku kira kalian hanya main main, ini hanya candaan bukan? ” Yoona tak sepenuhnya yakin dengan ucapnnya barusan. Yoona lalu tertawa sedikit. Berusaha agar tidak canggung, jujur saja saat ini jantungnya masih berdegup tak karuan.
Duh, kata katanya barusan terkesan sombong sekali. Memperebutkannya? Ayolah.
Kalau sudah begini rasanya kisah kami seperti lelucon. Dua lelaki gay yang super tampan jatuh cinta kepada seorang gadis aneh seperti Yoona. Sekarang dimana letak masuk akalnya?
“Awalnya aku juga tak sadar perasaanku telah tumbuh-“ Sehun berucap,
“Awalnya kami hanya ingin mempermainkanmu” Luhan memotong.
“Kami kira kau terlibat dalam foto foto itu.” Ketika Sehun mengucapkan itu, Yoona menggeleng geleng kuat. Ia baru saja mau menyangkal ketika Luhan sudah lebih dulu berbicara.
“Kami tahu kau tak terlibat. Tak usah panik begitu. Haha”
Setelah mendengarnya Yoona merasa lega. Sekarang ia tak tahu apa yag harus ia lakukan atau ucapkan, semua nya terasa canggung. Yoona yakin Sehun dan Luhanpun merasakan hal yang sama. Cukup lama mereka menciptakan keheningan. Sampai akhirnya Sehun mengeluarkan sebuah suara “Ekhem” dari mulutnya.
“Maaf sebelumnya, tapi bisakah aku bertanya beberapa pertanyaan? Setelah itu aku berjanji akan mengambil keputusan. Meskipun aku tak janji bisa sekarang” Setelah Yoona mengucapkan hal tersebut, bisa ia rasakan kedua orang itu angsung menatap serius kerahnya.
Akhirnya mereka mengangguk.
“Aku tahu ini tidak sopan. Tapi dari awal aku sudah sangat penasaran.” Yoona berkata, Luhan memberikan pandangan yang seolah bicara “tidak apa-apa” sedangkan Sehun hanya menatapnya dalam.
“Mengapa kalian bisa sampai menyukai sesama jenis? Maksudku kalian sangat sempurna kecuali masalah orientasi itu. Gadis gadis bisa mati kecewa karna hal ini.” Yoona meruntuki dirinya sendiri. Im Yoona mulutmu ini kalau berkata suka seenaknya saja.
“Ada yang perlu diluruskan disini,”
“Aku dan Luhan bukan gay Yoong” ucap Sehun. Yoona kaget melebihi perasaan kagetnya saat tau dua orang ini menyukainya. Lantas suara desahan itu? Pegangan tangan? Tatapan mata? Tanpa sadar mulutnya membentuk huruf “o” dengan lebar.
.
.
.
Yoona pulang dengan perasaan kacau. Sehun dan Luhan memaksa untuk mengantarnya sampai depan rumah, tapi Yoona memilih untuk naik bus. Untung saja masih ada bus yang beroperasi. Entahlah, ia hanya rindu. Rindu saat saat menaiki bus bersama Yixing, ah tidak! Bukan hanya itu, ia juga rindu saat saat berjalan kaki dengan Yixing, bertelepon sampai larut malam, kegiatan menonton film di hari jum’at. Ah ia rupanya rindu lelaki itu. Yoona baru sadar bahwa akhir akhir ini mereka agak sedikit jauh.
Ia harus berjalan kaki sebentar agar sampai di rumahnya, ia belum memberikan keputusan pada Sehun dan Luhan. Toh, mereka juga tak begitu mendesaknya.
“Sehun kembali dipukuli malam sebelumnya. Oleh ayahnya sendiri, dan Sehun sialnya tak pernah mau bilang. Padahal di punggungnya banyak memar yang sudah parah sekali. Dan sialnya lagi, aku baru menyadarinya ketika pulang sekolah. UKS tutup, lalu aku teringat perkataan Kyungsoo tentang obat cadangan yang terletak di gudang.Aku lalu mengobati lukanya. Dan.. yah, jika kau kesakitan kau akan mendesah”
Ucapan Luhan tergiang di kepalanya.Yoona tak pernah menyangka Tuan Oh yang kelihatannya ramah dan berwibawa itu ternyata seorang tukang pukul.
Sama seperti ayahnya.
Ia bergidik ngeri membayangkan Sehun yang tengah dipukuli. Saat mendengar cerita itu bukannya merasa kasihan,ia justru merasa marah dan sedih. Ingin rasanya ia mendobrak pintu dan melabrak Tuan Oh. Lalu ia tersadar bahwa ia ini bukan siapa siapa.
Kemudian Luhan menjelaskan tentang gandengan tangan mereka .
“Sehun menarikku ingat? Kami tidak bergandengan tangan. Lagi pula mengapa memang jika kami bergandengan tangan? Aku sudah menganggap Sehun sebagai adikku sendiri.”
Soal tatapan itu, Luhan malah menyalahkan angel pengambilan gambarnya.
“Dan aku tidak memperhatikan Luhan bicara!” Sehun menambahkan.
Kalau Yoona pikir pikir semua itu memang masuk akal. Ia menghembuskan nafas lega. Setidaknya , mereka bukan gay.
Dari kejauhan bisa ia lihat warna biru muda pada rumah di depan rumahnya –rumah Yixing- Yixing hanya tinggal berdua dengan kakaknya, orang tua mereka pindah menetap ke China dua tahun lalu. Yixing tidak ikut karna bilang ingin terus berada di dekat Yoona. Sebagai rasa terima kasih karena ingin selalu dekat dengannya, Yoona dan Ibunya memberikan sarapan gratis untuk Yixing di setiap pagi.
“Baru pulang?” Suara itu mengagetkan Yoona. Ia segera menoleh dan melihat Zhang Yixing tak jauh darinya.
“Jam 11 dan baru pulang?” ucap Yixing lagi, kadang laki laki ini memang agak protektif.
Yoona terkekeh.
“Kau sendiri? Jam segini masih berkeliaran? Kau bisa jadi santapan ahjuma kesepian” Yoona berkata tanpa beban. Lalu sedikit tertawa.
Yixing mengerutkan alisnya. Gadis ini kalau bicara suka seenaknya saja.
“Rumahku sudah di depan mata, aku duluan Yixing-ah” Setelah mengucapkan hal tersebut, tubuh kurus itu perlahan hilang dari pandangannya.
Yixing lalu tersenyum kecil.
Padahal, aku menunggunya.
.
.
.
Pagi ini ia tidak pergi sekolah dengan Luhan. Ia yang meminta pada lelaki itu untuk tidak menjemput. Ia memutuskan untuk pergi naik bus.”Yixing-ah, Yixing-ah,” Yoona berteriak memanggil nama sahabatnya tersebut. Pasalnya, laki laki China itu tadi tidak ke rumahnya untuk sarapan.
Errrrr…
Yoona baru menyadari bahwa laki laki itu sudah tak sarapan di rumahnya beberapa hari terakhir. Yoona jadi merasa bersalah, bagaimana kalau laki laki itu sakit karna tak sarapan? Batin Yoona. Yixing pernah bilang kalau ia jarang sarapan karena kesiangan. Aduh pasti kebiasaan lamanya itu kambuh kembali.
Lama Yoona berada di depan pintu rumah Yixing sampai akhirnya, pagar tersebut terbuka. Menampilkan sosok Yi Fan –kakak Yixing-.
“Yixing sudah pergi Yoona-ya. Aish mengapa dia meninggalkanmu sih?” ucap Yi Fan menggerutu. Yoona tersenyum tipis. Lalu mengangguk angguk. Bersiap untuk pergi.
“Kalau begitu aku pergi du-”
“Kau kuantar saja. Tunggu sebentar” belum sempat Yoona menolah, Yi Fan sudah masuk ke dalam rumah. Duh, jadi merepotkan. Ia jadi ingat waktu kecil ia, Yixing, dan Yi Fan sering bermain di tempat ia berdiri sekarang. Yi Fan akan jadi ayah, Yoona jadi ibu, dan Yixing menjadi anak yang lucu. Tapi, Yixing sering tak setuju, ia berkata ia juga pantas menjadi ayah. Lalu, Yi Fan membantah dengan mengatakan bahwa tak ada anak yang lebih tinggi dari ayahnya.
Yoona tertawa kecil.
Ia juga baru sadar bahwa frekuensinya bertemu dengan Yi Fan berkurang dari hari ke hari. Yi Fan mulai sibuk saat kuliah, sehingga tak ada waktu untuk berleh leha dengannya dan Yixing.
“Ayo berangkat.” Tanpa basa basi laki laki itu segara menarik Yoona ke dalam mobilnya. Yoona hanya bisa pasrah.
.
.
.
Kepalanya pusing memikirkan pembuatan keputusannya semalam, sehingga rasanya pagi ini tak ada satupun materi pelajaran yang masuk. Ketika istirahat ia memutuskan untuk tetap tinggal di kelas. Ia tak membawa bekal. Tapi, ia toh juga tak begitu lapar.
Saat di kelas tadi, ia tak melihat Yixing. Ia baru ingat bahwa Yixing punya pertandingan siang ini. Ah, itu pasti penyebab ia meninggalkannya tadi.
Kelas sepi. Hanya ada dirinya. Ia tak takut karena sudah terbiasa terhadap keheningan. Sebenarnya, ia memilih untuk tetap tinggal di kelas karena tak ingin bertemu dengan Sehun dan Luhan. Ia sudah mengambil keputusan –setelah menyadari bahwa itu hal yang harus dilakukannya secepat mungkin- tapi ia tak tahu harus bagaimana menyampaikannya.
Di tengah keputusasaanya, ia bisa mendengar pintu kelas dibuka. Kepalanya yang tadi menelungkup segera ia tarik ke atas. Benar saja dugaannya, sudah ada Sehun dan Luhan disana. Yoona tersenyum singkat, Luhan lalu duduk di kursi di depan Yoona, sedangkan Sehun disampingnya. Untung saja di kelas dan di luar ruangan sedang sepi, sehingga ia tak harus pura pura menutup telinga ketika ada yang bergunjing tentang dirinya.
Yoona lalu melepas kacamatanya pelan.
“Maaf” Yoona mengawali pembicaraan.
.
.
.
10 years later
Kalau ia mengingat masa SMA nya dulu, ia tak bisa berhenti tertawa. Anak satu satunya, Ryeon. Akan tertawa dengan sangat sangat keras dan akan berkata.
“Eomma, sangat bodoh”
Yoona juga menyadarinya sih. Ia sangat bodoh.
“Padahal jodoh eomma sudah di depan mata (ia tertawa lagi) Jadi Eomma sempat berpacaran dengan Luhan ahjussi? Dan Sehun ahjussi?” tanya anaknya polos. Di matanya, ada rasa ingin tahu yang teramat besar.
“Nde, dan saat kuliah eomma juga sempat berpacaran dengan akiu – mu” ucap Yoona dengan mimik wajah serius. Anaknya malah tertawa.
“Yoong, cepat. Kita bisa terlambat ke rumah nainai.” Yoona segera berlari masuk ke mobil. Ryeon mengikuti dengan patuh.
Setelah duduk di dalam mobil, suaminya lalu berkata.
“Dan tolong berhenti menceritakan kisah cintamu yang rumit kepada anak kita yang polos.”
“Nde, Yixing-ssi” ucap Yoona bercanda.
Ryeon tertawa. Karena tawa menular, Yoona dan Yixing kemudian juga ikut tertawa.
Lihat orang yang ada di dekatmu dan sadarilah. Mereka bisa saja jadi orang yang menemanimu sampai akhir.
Selesai.
.
.
.
*nai nai = nenek
*akiu = paman
Hai, aku kembali . ga tau kenapa malah nulis ff kaya gini. Ini sebenarnya sudah lama, tapi sempat terbengkalai gara gara ga punya ide hehe. Oh iya, mohon maaf lahir batin ya semua. Maafin author kalo banyak salah. xD

30 thoughts on “[Freelance] Lucky Loser

  1. Duh ini mah gak bisa disebut loser loser amat wkwk malah beruntung bangeet. Enak gitu ya imagine jadi yoona, dikelilingi sama cowo cowo tampan. Lol
    THANKS Author!😊

  2. Wahh tak kira yoona bakalan gak milih salah satu dri sehun ato luhan kekek ehh ternyat sama yixing hihihi seru thor

  3. Wihh bner bner lucky,, Yoong jdi rebutan, dipacarin stu* lagi,, huaaa Yoong mntannya ckep ckep..
    Dtunggu krya slnjutnya !!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s