[Freelance] Enamorada (Chapter 1)

enamorada-by-pinkypark

Title : Enamorada
Author : PinkyPark
Cast : Im Yoona & Oh Sehun
Genre : Romance
Length : Chaptered
Rating : PG-17
Silent Readers please go away
.
“Kau tidak bisa memilih kepada siapa kelak kau akan jatuh cinta.”
***


Tidak pernah terbayangkan sedikitpun oleh seorang Oh Sehun untuk jatuh cinta dan menggilai gadis sederhana seperti Im Yoona. Gadis itu—Im Yoona, hanya seorang wanita berperawakan tinggi dengan paras ayu yang tentu saja bukan satu-satunya paras yang pernah Oh Sehun lihat. Dia tidak pernah banyak bicara, pun banyak peduli. Dia hanya menjalani kehidupannya dengan tenang.
Oh Sehun yang memiliki deadline hidup ketat—mengurus seabrek perusahaan besar—tidak menyangka jika ditengah-tengah kehidupannya yang rumit dirinya bisa bertemu dengan sosok itu. Im Yoona bukanlah gadis luar biasa cantik ataupun sexy. Tubuhnya kurus, dan tidak ada lekukan yang selalu Oh Sehun sukai disana. Tapi semuanya berubah, saat malam itu dirinya yang sedang pusing mengurus proyek tiba-tiba saja dikejutkan oleh tatapan cerdas dari seorang wanita berbalut dress abu-abu.
Wanita itu berdiri sempoyongan, walaupun seisi dunia tahu dirinya sedang mabuk, tapi matanya yang nyalang menatap Oh Sehun dengan cara yang sangat cerdas. Dia tersenyum miring, menatap pria di hadapannya secara terang-terangan. Oh Sehun cukup terkejut, dia sedang membaca berkas-berkasnya dan menunggu mobilnya datang, tapi gadis yang baru saja berjalan sembari menunjuk-nunjuknya dengan tangan terangkat membuat dirinya penasaran dan menahan bodyguardnya untuk tidak bergerak.
“Aku sudah melakukan yang terbaik—aku—melakukan—yang—kubisa,” dia bergumam rendah, tapi masih bisa ditangkap oleh pendengaran Sehun. “Kenangan tidak hancur, Kris! Tidak jika kau ingin menyimpannya.”
Kali ini tangan kurusnya terangkat lagi untuk menepuk pundak kanan pria itu sebanyak empat kali. Oh Sehun mengamati sebentar pada pundaknya, lalu menatap lagi gadis mabuk di hadapannya dengan bingung.
“Memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan adalah keputusan untuk tak lagi mencari dan berhenti membandingkan!” ucap Yoona lagi—kali ini dengan nada sedikit keras dengan tatapan yang masih sama.
Oh Sehun berniat menangkap tubuh itu karena sedikit oleng, tapi Yoona menepis tangannya dengan cara yang terlampau kasar. Membuat bodyguard di belakang Oh Sehun bergerak maju—namun kembali mundur saat tangan pria itu terangkat.
Yoona tertunduk, dia menarik nafas panjang, lalu menatap Oh Sehun dengan mata berkaca-kaca. Jika tatapan sebelumnya adalah tatapan cerdas, kali ini adalah tatapan penuh luka—amarah—dan pengkhianatan.
“Kau bilang kau mencintai hujan, tapi kau memakai payung. Kau bilang kau mencintai matahari, tapi kau berlindung dari sinarnya. Kau bilang kau mencintai angin, tapi kau menutup jendela. Jika seperti itu aku takut, aku takut saat kau bilang kau mencintaiku.”
Kata terakhir itu berakhir dengan setetes air mata yang mengalir mulus di pipi putihnya. Setetes air mata itu tidak sendirian, karena segera setelahnya tetes-tetes lain mulai berjatuhan. Yoona menangis cukup hebat, dia menatap sosok di hadapannya dengan putus asa.
Sementara beberapa manusia yang lewat menatap mereka dengan curiga, Im Yoona dalam hitungan ketiga sudah ambruk ke pelukan Oh Sehun. Sebelum memulai acara tidurnya, gadis itu menggumamkan sebuah nama.
“Kris.”
***
Im Yoona tidak ingat pernah memiliki lilin aroma therapy di apartemennya. Mungkin dia masih mabuk, tapi dia yakin betul bahwa aroma itulah yang membangunkannya. Sementara dirinya sedang berkutat dengan matanya yang susah dibuka, samar-samar sebuah siluet memenuhi pandangannya. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali, lalu secara tidak sadar terpesona begitu saja saat sosok tampan tengah duduk di pinggiran ranjang, ada bulir-bulir keringat di tubuhnya—mungkin dia baru saja berolahraga, kulitnya seputih susu, rambutnya yang kecoklatan berkilau terkena sinar matahari dari jendela di belakangnya.
Yoona tersenyum penuh arti—ini sudah lama dia tidak memimpikan pria tampan, gadis itu menutup matanya lagi, berniat untuk segera menghentikkan pemandangan itu sebelum dirinya benar-benar ingin kembali tertidur. Kelopak mata itu terbuka lagi—dan sosok itu enggan pergi, Yoona melakukannya hingga tiga kali, dan sosok itu masih ada—bahkan bersuara.
“Selamat pagi, apakah tidurmu nyenyak?”
Bulu kuduknya meremang seketika, tentu terlalu sempurna jika pria itu adalah hantu, tapi yang membuat Yoona merinding adalah bahwa saat ini seluruh indranya sudah bangun—dan dirinya sadar bahwa semua yang terjadi pagi ini bukankah sebuah mimpi.
Gadis itu melompat bingung, bergerak duduk dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari pria itu. Matanya menelanjangi seluruh ruangan, dan memang betul bahwa ini bukanlah mimpi.
“Kau pasti terkejut sekali.”
Suaranya rendah, perlahan, dan sangat sexy. Yoona menatap pria itu dengan was-was, dia menatap keseluruhan pria itu dan mengerti bahwa memang pria itu baru saja berolahraga.
Bicara tentang olahraga, pria itu mengenakan t-shirt polo berwarna abu-abu. Bicara tentang abu-abu, perlahan dirinya ingat bahwa terakhir kali warna abu-abulah yang dipakainya. Sambil berdoa, tatapan gadis itu turun pada tubuhnya sendiri. Berdoa dan berdoa untuk menemukan warna abu-abu disana.
Tapi lagi! Im Yoona melompat kaget karena yang ditemuinya adalah warna hitam. Sebuah T-shirt hitam kini melekat di tubuhnya, dan dengan perlahan dia menatap pria di hadapannya dengan takut.
“K –kau ?”
Oh Sehun mengangkat kedua bahunya dengan asal, “Kau sangat lengket semalam, jadi aku mengganti semuanya.”
Kata-kata itu mengalir begitu saja dan secara otomatis membuat system pertahanan diri Im Yoona menguat. Gadis itu melotot, tampak marah tapi yang ada hanya ekspresi lucu dari wajahnya. Sehun tertawa, “Tentu saja kita tidak melakukan apapun—well setidaknya belum.”
Yoona mencerna kata demi kata itu layaknya mencoba memecahkan bahasa verbal makhluk asing, wajahnya tampak bingung seketika tapi Oh Sehun berkata lagi, “Nanti kujelaskan lebih lanjut, bagaimana jika sekarang kita sarapan dan kau bisa membuat perutmu berhenti bernyanyi.”
***
Yoona tidak pernah membayangkan dirinya bisa benar-benar melihat penthouse secara langsung. Tentu saja dia pernah melihat di berbagai acara televise—itu menakjubkan! Dan melihatnya secara langsung seperti saat ini adalah luar biasa.
Gaya arsitektur yang apik juga interior modern membuat suasana disini menjadi semakin mahal. Yoona bahkan tidak ingin menyentuh apapun karena dirinya yakin jika sesuatu terjadi—akan banyak uang yang harus dikuras dari tabungannya.
Pria itu sedang duduk di meja bar, mengamati Yoona yang sedang berjalan kesana kemari seperti anak kecil saat pertama kali masuk museum. Gadis itu kini tengah terpukau pada fasad dinding kaca yang melingkupi seluruh ruangan. Seoul yang mulai sibuk tampak terlihat dari atas sini.
Meja bar mengarah langsung pada dapur kering yang kini sedang disinggahi oleh seorang wanita paruh baya bertubuh pendek yang tengah menggoreng sesuatu di atas kompor. Yoona berjalan mendekat, dengan hati-hati duduk di samping Sehun yang masih mengamatinya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Sehun.
“Rumahmu luar biasa.”
Walaupun tanggapan Yoona tidak sinkron dengan pertanyaannya sebelumnya, Oh Sehun tersenyum, “Namamu Yoona Im?”
Yoona menoleh pada pria itu, sedikit bingung tentang darimana pria itu mengetahui namanya. “Ya. Dan kau?”
“Oh Sehun.”
Gadis itu mengangguk-anggukan kepalanya, dia menatap Sehun lagi. Pada kedua matanya yang berbinar, pada hidungnya yang tinggi, pada bibirnya yang merekah, juga pada rahangnya yang bagaikan pahatan pematung terkenal.
Yoona meneguk air liurnya, dia menjatuhkan pandangannya pada kedua tangan di atas paha lalu membuang nafas pelan melalui mulutnya.
“Jadi, siapa Kris itu?”
Kris? Dengan enggan Yoona menelengkan kepalanya, ekspresinya terkejut sekaligus bingung. Dia tidak berniat menjawab, tapi lidahnya berkata begitu saja. “Kurasa itu bukan urusanmu.”
Sehun mengangguk paham, lalu memindahkan tatapannya dari wajah gadis itu—kepada dinding kaca di sebelah utara. “Kau memanggilku dengan nama itu semalam, dan kau—menangis?”
Yoona melotot, mulutnya terbuka dengan sendirinya. Gadis itu berdoa semoga ini masih di dalam mimpi, tapi Sehun menatapnya lagi dan dia tersenyum—dalam sekejap mimpi itu hilang.
“A –aku ? ”
“Ya—kau.”
Dia menggigit bibirnya, bagaimanapun pria itu mengetahui apa yang dilakukannya semalam. “Aku tidak akan pernah mabuk lagi,” gumam Yoona.
Sehun terkekeh, “Kebiasaanmu saat mabuk benar-benar membuat orang tidak percaya diri.”
“Apa maksudmu?”
“Kau memarahiku seakan-akan aku benar-benar bersalah. Apa kau tahu bagaimana orang-orang melihatku?”
Gadis itu tampak menyesal, dia menatap Sehun dengan enggan. “Maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang terjadi—tapi maafkan aku.”
“Kau mau melakukan sesuatu sebagai permintaan maafmu?” Sehun menatap Yoona dengan ketertarikan yang nyata. Pria itu tersenyum kecil, menunggu jawaban dari sosok kurus di sampingnya.
“Apa yang kau inginkan?”
“Kupikir sekarang lebih baik kau makan dulu, nanti akan kuberitahu apa keinginanku.”
Tanpa pikir panjang, tanpa pertimbangan—Yoona menatap Sehun dengan pasrah. “Baiklah.”
***
Yoona menjatuhkan tubuh ringkihnya pada sofa biru donker yang kini diduduki oleh sahabatnya—Yuri. Dia memejamkan matanya, ini baru pukul Sembilan pagi dan walaupun dirinya tidak mengantuk, rasanya tidur adalah cara terbaik untuk melewati hari ini.
“Kau tidak pulang semalam, kau tidur di kantor?” tanya Yuri dengan jari-jari cantik yang kini menari-nari diatas keyboard laptop. Yoona tidak langsung menjawab, gadis itu baru bersuara tiga puluh detik setelahnya.
“Aku berniat berbohong, tapi aku tahu akhirnya akan ketahuan.”
Yuri menghentikkan aktivitasnya, pelan-pelan menoleh menatap Yoona yang masih memejamkan mata. “Maksudmu?”
Mata itu terbuka, Yoona membetulkan duduknya lalu menatap Yuri dengan frustasi. “Aku tahu ini terdengar konyol tapi aku tidak ingat apapun selain saat aku minum dua botol wine tadi malam—”
“Lalu?” mata Yuri memicing.
“Aku terbangun di sebuah penthouse yang sangat besar, dan ada pria tampan yang menjadi penghuninya.”
Yuri yakin Yoona tidak berbicara dengan bahasa alien, tapi kata-kata yang baru saja keluar dari mulut sahabatnya itu justru membuat dirinya tertegun bingung. Tatapan Yuri menjelaskan semua kebingungannya, dia bertanya“Apa kau masih mabuk?”
Yoona menghela nafas. “Aku harap ya.”
“Jadi itu sungguhan? Oh—kau mengatakannya seolah-olah sedang syuting drama.”
“Aku harap aku benar-benar sedang syuting drama, aku harap semuanya tidak benar. Tapi—pria itu bahkan mengantarku tadi.”
Yuri adalah gadis yang cerdas. mereka berteman sejak kelas lima SD. Dan dia tahu bahwa apa yang baru saja dikatakan Yoona adalah sebuah kebenaran. Yuri memiringkan kepalanya, tampak berpikir untuk bereaksi lalu dia tersenyum ragu. “Jadi siapa pria kaya itu?”
“Oh Sehun, dan dia benar-benar kaya,” jawab Yoona seadanya.
Kwon Yuri terkejut saat nama itu disebut,dia buru-buru mencari sesuatu dari laptopnya kemudian menatap Yoona dengan mata membulat. “Apa pria yang kau maksud adalah ini?”
Ada sebuah foto dari pria tampan di layar itu. Oh Sehun berdiri agak miring dengan kedua tangan melesak ke dalam suit mahalnya. Tatapan pria itu benar-benar dingin, dan sama sekali tidak ada senyuman di foto itu. “Itu dia—” ujar Yoona, tapi dia buru-buru berkata lagi, “Tapi darimana kau tahu dia?”
Yuri tampak terkejut bukan main, dia menarik nafas panjang saat Yoona menatapnya bingung, dia berseru, “Ya tuhan Yoona Im ! kau bangun di tempat tidur seorang Oh Sehun dan dia mengantarmu pulang lalu kau duduk disini dengan tidak tahu siapa dia sebenarnya? Kau tidak tahu dia?” suaranya keras dan setengah memekik, membuat Yoona meringgis setelahnya.
“Mengapa aku harus tahu dia?”
Yuri menggelengkan kepalanya, membuat rambutnya yang ikal dan bercat pirang bergerak-gerak mengikuti. “Kau tahu Yoona? Dia itu bujangan paling kaya di Seoul. Dia adalah pemilik dari sejumlah bisnis besar! Aku ditugaskan mewawancarainya bulan lalu,tapi aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya karena dia memiliki banyak sekali jadwal yang lebih penting dari wawancaraku.”
“Begitukah?” hanya itu yang bisa Yoona katakan, selebihnya dia terkejut bukan main.
“Dan kau mabuk lalu berakhir di ranjangnya dan sarapan bersamanya dan satu mobil dengannya. dan itu kau.”
Ada kerutan samar diantara alis Yoona. Gadis cantik itu menatap sahabatnya dengan tidak setuju, “Tapi apa maksudmu dengan aku berakhir di ranjangnya?”
Yuri tergelak keras, “Tentu saja kalian melakukannya.”
Yoona megap-megap, “Tidak!”
“Tidak mungkin tidak maksudmu? Berani taruhan, kau bahkan bangun dengan baju yang berbeda.”
Gadis itu masih tidak terima, tentu saja dia tidak! ya ampun, Yuri salah paham. Sebuah salah paham yang besar. “Kami tidak melakukan apapun.”
Mata Yuri tampak geli, tapi dia menahan tawanya karena tahu Yoona akan marah. “Kau bahkan sudah menyebut kami. Itu tidak masalah Yoona, itu pertama kalinya untukmu dan orangnya adalah bujangan paling kaya di Seoul. Sebenarnya dia yang beruntung apa kau ya?”
Yoona menatap sahabatnya dengan kesal, ingin sekali membungkam bibir jurnalis di sampingnya itu. tapi Yoona masih memiliki secercah rasa sabar untuk sahabatnya, dia duduk dengan tegak. “Kujelaskan padamu, aku tidak melakukan apapun dengannya dan diapun mengatakan hal yang sama padaku. Pertemuan antara aku dan pria itu hanya sebuah ketidakberuntungannya karena bertemu denganku yang sedang mabuk. Selain daripada itu tidak ada.”
Yoona sudah bangkit dari sofa saat terakhir kali dia sadar dirinya harus berangkat kerja, Yuri hanya cekikikan sambil kembali berkutat dengan laptopnya. “Terserah padamu Yoon. Lagipula aku tidak habis pikir bagaimana canggungnya kau saat melakukan itu bersama pria seperti dia.”
“Jangan menertawaiku! Memangnya dia kenapa?”
Yuri berhenti mengetik, dia menatap Yoona tanpa ekspresi. “Lagi-lagi kau tidak tahu, dia memacari seorang model terakhir kali. Bukan model biasa, dan kupikir itu sudah menjelaskan semuanya,” ucap Yuri tenang, dia melanjutkan, “Kupikir dia memang bukan playboy, tapi apa namanya ya untuk pria super kaya seperti dia?”
Dan dalam sekejap, Yoona mengerti semuanya.
***
Ini jam makan siang tapi Yoona tidak lapar, jadi dia hanya menggenggam segelas Americano sambil melangkahkan heelsnya menuju kantor. Rambutnya terikat ekor kuda dengan cara yang sangat Yoona. Dia hanya memakai cardigan abu-abu dan celana jeans lusuh favoritnya.
Gadis itu baru hendak melangkah lagi saat sebuah tangan menahan lengannya. Dia menoleh, dan dari apapun di muka bumi ini, wajah itulah yang paling tidak ingin dia lihat.
Yoona memejamkan matanya lalu bersuara pelan, “Lepaskan tanganmu.”
Tangan itu terlepas, dan berdiri di hadapannya seorang pria tinggi berwajah setara bintang yang kini memakai pakaian serba hitam. “Kita perlu bicara.”
Yoona membuka matanya, menatap pria di hadapannya dengan tatapan datar. “Bagus sekali kau memakai baju hitam, karena di hatiku kau sedang dimakamkan,” ucapnya.
“Berhenti bicara omong kosong Yoon!” suara pria itu meninggi, tapi Yoona seakan sudah terbiasa—dia hanya melemparkan secarik senyuman kecil.
“Kau yang seharusnya menutup mulutmu Kris.”
Kris menyisir rambutnya dengan jari-jari. “Aku minta maaf. Aku salah dan seperti biasa kau benar.”
Yoona kehilangan senyumannya, “Kau bahkan masih bisa berkata seperti itu?” tanyanya heran.
“Malam itu aku tidak tahu apa yang terjadi.”
“Aku tidak peduli lagi Kris, kupikir hubungan kita sudah berakhir.”
“Tidak Yoon! Kau tahu aku tidak bisa tanpamu.”
Yoona tertawa kesal, “Dan kau juga tahu aku tidak bisa denganmu.”
Pria itu berkata dengan gemetar, dia mencoba menjelaskan pada gadis cantik yang kini berdiri di hadapannya—tapi dia merasa bahwa itu akan sia-sia. “Aku tahu ini sudah kesekian kalinya, tapi aku mencintaimu Yoona. tolong jangan seperti ini.”
Yoona mundur selangkah, menatap pria di hadapannya dengan nanar. “Kau tahu Kris, sekarang aku menyadari bahwa aku tidak butuh kau mencintaiku. Aku tidak peduli, jangan ganggu aku.”
Tubuh ringkihnya hendak berbalik, tapi justru Kris menarik Yoona lebih keras. Membuat gadis itu tertarik dan meringgis. “Kau tidak bisa,” gumam Kris geram.
Yoona berusaha melepaskan cengkraman pria itu, tapi tenaga yang dimilikinya tidak sebanding dengan pria itu. “Lepaskan—”
“Kau tidak bisa pergi dariku Yoon.”
“Kau gila Kris! Lepaskan tanganku!”
Yoona menarik tangannya lagi, tapi pria itu menarik lebih dekat—lebih kuat. “Tidak—”
“Dia bilang lepaskan tangannya!”
Suara itu dingin—rendah dan menusuk. Yoona dan Kris menoleh bersamaan. Pada sosok tampan yang kini berjalan mendekat dengan tatapan tidak terbaca. Oh Sehun memakai setelan kerjanya, Yoona tahu itu adalah pakaian yang dipakainya tadi pagi, tapi dirinya tidak tahu bagaimana pria itu bisa ada disini. Langkahnya berhenti cukup dekat, Yoona masih tidak mengerti tapi Kris hanya menatap Sehun dengan marah.
“Lepaskan tanganya.” Sambil berkata, tangan putihnya menarik lengan Yoona dari cengkraman pria itu. Yoona sedikit limbung, tapi Sehun dengan sigap menariknya untuk berdiri di sampingnya. “Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Yoona masih tampak bingung, tapi dia mengangguk pelan.
“Siapa kau?”
Suara Kris lebih pelan, lebih tenang. Dan Yoona tahu bahwa itu bukan hal yang cukup baik—Kris sedang berusaha menahan emosinya.
Sehun tidak repot-repot menjawab dengan tatapan sopan, pria itu sama marahnya—walau entah apa yang membuatnya merasa seperti itu. Dia menjawab, “Jangan ganggu gadis ini lagi. Kau sebaiknya perhatikan sikapmu.”
Itu adalah sebuah peringatan yang nyata, begitu mengintimidasi dan keras. Kris cukup terkejut, tapi pria itu menutupinya dengan sebuah senyuman miring yang menyebalkan. “Dia kekasihku.”
“Kupikir tidak lagi.”
“Kutanya siapa kau?”
“Aku adalah pria yang akan menggantikanmu. Jadi tolong pergi dari sini karena kami masih memiliki urusan lain,” jelas Sehun dengan suara pelan yang masih mengintimidasi. Yoona hanya menyaksikan dengan kebingungan yang membuncah. Dia bilang apa tadi? Entahlah, yang pasti biar Kris pergi dari sini terlebih dahulu.
Kris menjatuhkan tatapannya pada raut wajah Yoona yang tidak tahu apa-apa. Meminta penjelasan, pria itu bertanya, “Beginikah caramu?”
“Hubungan kita sudah berakhir Kris.”
“Dan kau bersama dia sekarang?” Kris dengan nyalang menunjuk Sehun melalui telunjuknya yang tidak sopan. Sehun masih tenang, dengan tatapan dinginnya. “Kau meninggalkanku dan memilih untuk bersama pria ini?”
“Cukup Kris. Kau tidak pantas mengatakan hal itu, aku ingin kau pergi sekarang juga.”
Kris adalah pria yang tampan, tapi ekspresinya saat ini tidak bisa dijelaskan—dia menatap Yoona dan Sehun bergantian lalu berbalik pergi dengan pundak yang menegang. Detik-detik setelahnya berlalu dengan sunyi, Sehun menoleh singkat sembari melesakkan tangan kanan ke dalam saku celana.
“Jadi dia Kris yang kau maksud?”
Yoona menghela nafas, “Dia mantan pacarku, kau puas?”
Pria itu merenggut, tampak berpikir untuk sejenak lalu ekspresinya melembut. “Bagaimana jika kita makan siang agar aku bisa lebih puas?”
“Maaf Tuan tapi aku tidak lapar.”
“Kau ingat tentang permintaan maafmu? Bagaimana jika kau memenuhi keinginanku sekarang?”
Skak.
Yoona menghela nafas lagi, dalam hati dia bersumpah tidak akan pernah mabuk lagi. “Baiklah, dimana kita makan?”
***
Mobil SUV hitam milik Oh Sehun berhenti di pelataran apartemen Yoona untuk kedua kalinya. Ini pukul Sembilan malam dan Yoona mendapatkan kejutan lain untuk hari ini. Oh Sehun kebetulan lewat dan mengantarnya pulang. Kebetulan yang aneh memang, tapi Yoona lebih memilih untuk tidak ambil pusing.
Ada seseorang pria Amerika di depan kemudi, memakai kacamata hitam dan setelan jas yang sangat formal. Nama pria itu Joe, sesekali di perjalanan Sehun memanggilnya untuk menanyakan hal-hal yang tidak Yoona pahami. Joe sangat professional dan dia tidak pernah tersenyum sedetikpun.
“Terimakasih, kupikir kau tidak perlu mengantarku lagi lain kali.”
Sehun menolehkan kepalanya, dia tersenyum kecut. “Kenapa ?”
“Karena tidak ada alasan untuk itu.”
Tangannya terangkat untuk menyentuh sedikit bulu yang tumbuh di dagunya. Sehun tidak bersuara untuk jangka waktu lima belas detik, tapi pria itu menatap Yoona dengan tajam.
“Memang tidak ada, tapi aku bisa membuatnya,” ucapnya perlahan.
Yoona mengedipkan matanya. Dia lebih memilih untuk mengangguk karena selain itu dirinya hanya terkejut, terkejut dan terkejut.
“Aku akan masuk.”
“Hati-hati.”
Tubuh kurusnya keluar dari dalam SUV. Walau Yoona tahu pria itu masih mengawasi dari balik kaca hitam mobilnya, gadis itu lebih memilih melangkah pergi tanpa repot-repot menoleh.
Yoona masih memikirkan kata-kata pria itu. Pria yang tidak dikenalinya, yang bersikap seakan-akan begitu mengenalnya. Oh Sehun memang luar biasa menarik, tapi sejauh ini Yoona tidak menemukan alasan kuat untuk tetap menemuinya. Setidaknya untuk saat ini.
Pintu lift terbuka, Yoona melangkah masuk lalu menekan angka 5. Yuri sedang meliput di daerah Busan—jadi tentu saja dirinya akan sendirian malam ini. Perasaan tidak enak perlahan menggerayami gadis itu. Yoona punya sedikit kemampuan untuk merasakan aura aneh, dan dirinya merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Menekan rasa takut itu, Yoona melangkahkan kakinya saat pintu lift kembali terbuka di lantai lima. Gadis itu membuang nafas berat dan berusaha membuang pikiran-pikiran buruk. Tidak ada yang namanya hantu. Itu konyol, dan Yoona tidak percaya—belum, sampai sosok jangkung kini membuatnya menghentikkan langkah. Sosok itu kurus dan jangkung, dia bukan hantu—tapi caranya menatap Yoona sukses membuat gadis itu merinding.
Kris disana, di depan apartemennya. Tampak sabar menunggu dengan pakaiannya tadi siang.
Kris memang mantan pacarnya. Dan Yoona tahu jelas bahwa pria itu selalu bertindak nekad. Seperti saat ini, pria itu melangkahkan kakinya lebar-lebar—sampai menjulang di hadapan Yoona lalu menariknya mendekat.
“Kau sudah pulang sayang?”
Dia gila! Dia bau alcohol ! Dia bau rokok dan dia menatap Yoona dengan kasar.
“Kris—lepaskan!”
Sekuat apapun Yoona berontak, tenaga Kris selalu menjadi lebih kuat. “Aku mencintaimu, tapi kau memilih pria kaya itu?”
Suaranya rendah—perlahan—dan mengerikan. Bibirnya mendekat dan terus mendekat, tangannya menggerayangi tubuh Yoona yang gemetaran. Lalu satu kecupan berhasil pria itu tanamkan di leher gadis itu.
Yoona semakin berontak, dia hendak menjerit tapi tidak ada suara apapun yang keluar dari tenggorokannya. “Kris kumohon lepas—”
Yoona terdiam, baru saja—dia merasakannya, dari balik saku celana pria itu –ada sesuatu. Keras, dan dingin. Gadis itu bertemu pandang dengan Kris yang kini menatapnya dengan tajam. Pria itu sedang mabuk, dan dia memiliki pistol! Itu pistol, Yoona yakin betul akan hal itu.
“Kau akan kembali padaku kan ?”
“Kris kumohon—” suara Yoona bergetar, itu membuat Kris mengendurkan pelukannya. Yoona mundur selangkah, masih gemetar dengan pikiran yang berkecamuk. Apa yang harus kulakukan?
Kris mendekat lagi, sedikit merunduk dan Yoona bisa merasakan aroma alcohol yang menyeruak dari mulut pria itu. Kris merunduk lebih dekat, beberapa inchi dari bibir Yoona yang gemetar—gadis itu meremas tangannya sendiri, dia tidak bisa berpikir jernih. Tapi, saat satu langkah lagi Kris hendak menciumnya, gadis itu berlari kencang. Dengan sepatu hak tinggi yang menimbulkan suara di sepanjang lorong apartemen. Gadis itu tidak memilih lift karena yakin Kris akan menangkapnya lagi. Dia berlari menuruni tangga darurat. Tidak benar-benar yakin dirinya bisa melewati lima lantai dengan kaki yang berdenyut seperti sekarang ini. Yang pasti, dirinya harus terus berlari—terlebih karena saat ini suara sepatu lain menggema di belakangnya.
Yoona terus berlari, sesekali terseok karena sepatunya membuat kakinya terkillir. Tanpa sadar air mata menuruni pipinya, Yoona selalu menangis setiap kali ketakutan, dan ketakutan terburuknya adalah Kris dengan pistol di celananya. Tidak perlu banyak berpikir tentang apa yang akan dilakukan pria itu. Dia sudah gila, dan dia bisa melakukan apa saja pada Yoona.
Sedikit lagi, dan Yoona menyentuh pintu keluar. Dia sedikit merutuk karena pintu itu membawanya ke tempat parkir. Tentu itu akan lebih baik jika dirinya berakhir di lobi, tapi yang dipikirkannya saat ini adalah melarikan diri. Jadi dengan tenaga yang masih tersisa, Yoona berlari keluar pintu lalu terjatuh saat sebuah mobil nyaris menabraknya.
Bukan terkejut yang dia rasakan, melainkan perasaan lega luar biasa. Setidaknya ada seseorang disini—dan Kris tidak bisa melakukan sesuatu kepadanya. Tidak jika pria itu masih waras, sayangnya sepertinya itu tidak benar.
Suara mobil berdecit, Yoona menunggu pintu mobil terbuka dengan secercah harapan. Sebelum kepalanya bertambah pening, pintu mobil terbuka lebar. Dan saat itu juga dirinya merasa ini benar-benar takdir tuhan. Dengan apapun dirinya akan berterimakasih kepada tuhan. Oh Sehun disana, dia melangkah dengan cepat, berlutut di hadapan Yoona yang kini masih menangis pelan.
“Apa yang terjadi?” teriaknya.
Yoona menangis lebih keras, Joe keluar dari dalam mobil di detik selanjutnya. Pria itu berlari menuju tangga darurat dengan pistol di tangannya. Dalam waktu lima detik, pria itu kembali lagi. Berlari menghampiri Sehun dan Yoona dengan terengah-engah. “Seseorang ada disini, sebaiknya kita pergi terlebih dahulu.” Tanpa banyak kata, Sehun meraih Yoona ke dalam pelukannya lalu membawa gadis itu ke dalam mobil.
Mobil melesat cepat, Yoona masih terlihat shock, dia hanya menatap kosong pada jalanan dengan air mata yang masih mengalir. Sehun tidak berani mengatakan apapun, dirinya luar biasa terkejut—tapi untuk saat ini dia memilih untuk menunggu Yoona tenang.
Pelan-pelan, kepala Yoona menoleh. “Bagaimana bisa kau masih disana?”
Sehun menggeleng, “Itu tidak penting sekarang. Kau bisa menjelaskan padaku apa yang terjadi?”
Yoona tidak ingin mengingat kejadian tadi, dia tidak ingin merasakan ketakutan seperti itu lagi. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi yang keluar hanyalah air mata dan dirinya menangis lagi. Sehun merapatkan tubuhnya pada Yoona, tanpa ragu tangannya terangkat untuk menarik tubuh Yoona ke dalam pelukannya. Yoona masih menangis, tapi sesuatu menengangkannya.
Pelukan pria itu sangat hangat. Cukup hangat untuk membuatnya tertidur.
***
TBC.
Hai readers. Lama ya aku post ini? Maaf banget yaa, kemarin-kemarin aku cuti dulu soalnya sibuk ngurus ini itu buat ke Universitas. Ini Chapter pertama, maaf sekali lagi karena postnya sangat ngaret. So, Enjoy this Fic. Walau aku agak bête sama silent readers tapi aku berterimakasih banyak kepada pembaca setia yang gak keberatan untuk mengutarakan pendapatnya tentang Fic ini. Tolong tunggu chapter selanjutnya ya! Semoga bisa aku post secepatnya. I love you!

139 thoughts on “[Freelance] Enamorada (Chapter 1)

  1. woaaaaaaa #tepuk tangan plakkk.. hihihi mian trlalu senang. akhrx ktm castx sehun kereeeennn boooo! authorx daebakkk….

  2. Waow, kaya fsog tokohnya. Sehun sang pengusaha kaya dan yoona perempuan sederhana yg punya temen jurnalis, tapi tenang beda kok thor, lebih sweet karna yoonhun pair favoritku hehe

  3. Salam kenal thor,,aku reader baru nih..
    Bingung juga mau komen apa hehe, tp sumpah ini ff nya DAEBAK !!
    Pokonya aku suka nih ff titik.
    Apalagi karakter sehunnya duh bener” bikin melting..
    Aku langsung bayangin sehun itu si Mr.Grey si stalker tampan dari Seattle.

  4. Daebak, baru chapter pertama aja aku udah tertarik dan terkesima dg alur ceritanya. Mungkinkah kris seorang psikopat dg obsesinya thd yoona? Aku berharap sehun menjadi guardian angel yoona. Disaat scene yoona lari dari kris dan bertemu sehun, lagu ost yongpal k.will yg come to me sungguh cocok, karena disaat membaca bagian itu aku sedang mendengarkan lagu itu. Good job thor ^^b

  5. baru chapter satu aja aku udah terkesima sama alur ceritanya.. mungkinkah kris seorang psikopat? dan terobsesi dg yoona. ah semoga sehun jd guardian angel bagi yoona.. waktu baca di cerita yoona lari dr kris dan ketemu sehun pas bgt dg lagu yg sedang aku dengarkan yaitu ostnya yongpal, k-will yg come to me. cocok bgt hahaha.. good job thor🙂

  6. hiks hiks aku terharu, udah lama ga nemu bacaan bagus yg pairingnya sehun yoona :’)
    aku excited bangeett😀 nungguin kelanjutannya..
    walaupun aku telat ya bacanya..
    pokoknya ceritanya kereenn

  7. Kereenn thorr, maap ya baru baca ff ini. betewe si yoona keknya udh agak nyaman sama sehun, ditunggu chap selanjutnya yaa^^

  8. Wah, keren thor. Sehun disini perannya cool banget mana perhatian banget lagi sm yoona padahal baru kenal semalem itu juga grgr yoona nya mabuk. Haduh bingung deh mau komen apalagi yang jelas ff nya keren abizzss deh thor hehe

  9. akhirnya ada bacaan yg bagus, kangen sehun yoona,
    jadi sehun itu bkn playboy kan? suka beneran kan sm yoona? dan yoona udh lupain aja kris, fall in love sm sehun aja,
    mungkin ini msh chapter awal jd msh ringan gitu bahasannya,
    lanjutin deh nulis ff nya, fighting!!!!

    oh ya lupa, salam kenal saya reader baru,

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s