[Freelance] The Vow (1)

tumblr_mgjla7lymR1s1xv4uo2_250

The Vow [1]
by GreenAngel

Main Cast
Im Yoona

Genre
Drama | Romance | Marriage Life

Rating | Length
PG16 | Chapter

Disclaimer
Based on my mind. Don’t claim as yours! Happy reading 
…….

Hal yang pertama kali dilihatnya adalah sesuatu yang berwarna putih. Ia meringis pelan. Merasakan denyutan kesakitan yang tiba-tiba menghantam kepalanya. Tangannya tergerak menyentuh kepalanya. Teramat menyakitkan hingga denyutan itu berangsur-angsur hilang.
Ia mencoba bangkit dari posisi tidurnya dan duduk bersandar pada ranjang yang ditempati. Perlahan ia melepas masker oksigen yang setelah itu tercium aroma yang menusuk hidung. Bau khas rumah sakit.
Dirinya mengernyitkan dahi berusaha berpikir apa yang menyebabkannya terbaring di ranjang rumah sakit. Pandangannya tertuju pada lelaki yang duduk tertidur di ranjangnya. Ia tak dapat melihat wajah lelaki itu karena wajahnya tersembunyi dibalik kedua tangannya.
Cukup lama ia mengamati lelaki itu hingga akhirnya lelaki itu bangun sambil menguap dan mengusap kedua matanya. Lelaki yang ia pandangi sedari tadi menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri masih dengan memejamkan matanya. Tak lama setelah itu lelaki itu membuka kedua matanya. Wanita itu dapat melihatnya. Mata indah milik lelaki itu terbuka lebar dan menatapnya terkejut.
“Kau sudah sadar?” lelaki itu berdiri dan menyentuh lengannya lembut.
Wanita itu berdehem pelan. Mengumpulkan suara di tenggorokannya. “Ya.”
“Tunggu sebentar, akan ku panggilkan dokter.” Setelah mengatakan hal tersebut lelaki itu sedikit berlari keluar dari ruangan.
Beberapa menit kemudian, lelaki itu masuk ke ruangan dengan seorang dokter. Dokter tersebut tersenyum ramah sebelum ia mengeluarkan benda kecil sejenis senter dan mengarahkannya ke kedua mata milik wanita itu. Selanjutnya dokter tersebut memeriksa wanita itu.
“Bagaimana keadaannya, Dokter?” lelaki tersebut bertanya dengan nada cemas.
“Sejauh ini kondisi Nyonya Yoona baik-baik saja. Akan tetapi masih perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.” Dokter tersebut menjawab dengan raut muka sedikit khawatir.
Kemudian pandangan Dokter tersebut beralih pada wanita yang sedari tadi tak bersuara. “Apa kau merasakan sakit pada anggota tubuh mu?”
Wanita itu berdehem lagi. “Tidak. Aku hanya merasa pusing.”
“Apa kau ingat nama mu?”
Wanita itu diam. Raut wajah wanita itu bingung dan terkejut. Selanjutnya ia menggeleng pelan.
Dokter tersebut menghela napas dan beralih menatap lelaki itu. “Aku harus melakukan pemeriksaan secepatnya untuk mengetahui kondisi pasti Nyonya Yoona.”
***
Wanita itu menatap bingung pada lelaki yang duduk di samping ranjangnya. Beberapa saat lalu, lelaki itu masuk ke dalam ruangannya. Dengan senyum di wajahnya, lelaki tersebut bertanya apa ia baik-baik saja. Sejujurnya wanita itu bosan mendengar pertanyaan yang sama sejak kemarin. Kemarin Dokter Kim melakukan berbagai macam tes kepadanya dan tak lupa menanyakan apakah ia baik-baik saja. Sungguh, ia benar-benar sangat bosan dengan pertanyaan itu!
“Aku baik-baik saja. Bisakah kau berhenti menanyakan apakah aku baik-baik saja?” nada wanita itu datar.
“Maaf.” Lelaki itu meringis sambil mengusap tengkuknya.
Cukup lama mereka berdua terdiam. Membiarkan hening melingkupi sekitar mereka. Hingga akhirnya wanita itu membuka suaranya. “Maaf, kau siapa? Apa aku mengenalmu?”
Sorot mata lelaki itu berubah sedih dan beberapa detik kemudian sebentuk senyum muncul di wajahnya. “Aku suami mu.”
***
Suara dentang jam terdengar di telinga wanita itu. Ia menoleh ke sumber suara dan menyadari bahwa waktu telah menunjukkan pukul dua pagi. Ia tidak bisa tidur. Ia menyandarkan kepala diantara tekukan lututnya. Berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Semenjak ia terbangun, ia tak bisa mengingat apapun. Setidaknya ia masih bisa mengingat hal-hal yang umum seperti nama benda dan lain sebagainya, tapi tidak dengan ingatannya. Ia masih mengingat dengan jelas apa yang Dokter Kim ucapkan padanya kemarin. Dokter Kim mengatakan bahwa ia mengalami kecelakaan hebat dan mengalami koma selama enam bulan. Selama rentang waktu tersebut, Dokter Kim – Dokter yang merawatnya selama ini – merasa khawatir mengingat luka di bagian kepala wanita itu cukup parah. Pasalnya luka dalam di bagian kepalanya cukup beresiko yang dapat menyebabkan ia mengalami amnesia. Dan ternyata apa yang di khawatirkan Dokter Kim benar-benar terjadi. Wanita itu, Im Yoona mengalami amnesia.
Yoona menghembuskan napasnya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia bingung, sedih, dan marah. Bingung atas pertanyaan-pertanyaan lelaki itu yang tak bisa ia jawab. Sedih karena ia bisa merasakan frustasi yang dirasakan lelaki tersebut dan marah karena ia benar-benar tak bisa mengingat apapun. Ia marah pada dirinya sendiri.
Akhirnya wanita itu berbaring. Memejamkan matanya berusaha untuk tidur. Untuk sementara ia tak ingin memikirkan segala hal. Ia hanya ingin beristirahat sejenak. Sedikit berharap jika saat ia terbangun nanti ingatannya akan pulih.
***
Lelaki itu sudah disana sejak satu jam yang lalu. Duduk sambil memandangi wajah cantik milik Yoona. Tangannya tergerak mengusap surai halus milik Yoona. Ia segera menarik tangannya tatkala wanita itu menunjukkan gelagat akan terbangun dari tidurnya.
“Selamat pagi.” Ucap lelaki itu sambil tersenyum.
Yoona sedikit terkejut saat melihat lelaki itu. “Pagi.”
“Kau harus sarapan. Ku dengar dari perawat dari kemarin kau tak menyentuh makanan mu.”
“Aku tidak lapar.”
“Aish. Kau ini. Kau harus makan teratur agar kau cepat sembuh.”
Tak ada balasan dari gadis itu. Lelaki itu hanya bisa menghela napas.
“Aku ingin ke taman.” Secara tiba-tiba, wanita itu bersuara. Yang dibalas dengan senyuman di wajah lelaki itu.
“Baiklah. Aku akan mengambil kursi roda. Tunggu sebentar.”
Lelaki itu menghilang dari hadapannya dan tak lama ia kembali sambil mendorong sebuah kursi roda. Lelaki itu segera membantu Yoona duduk di kursi roda. Wanita itu memang masih belum bisa berjalan dengan baik mengingat ia koma selama enam bulan dan selama itu ia tidak menggerakkan tubuhnya. Akibatnya otot-otot tubuhnya menjadi melemah.
Setelah ia mendudukkan Yoona, lelaki itu segera mendorong kursi roda menuju taman rumah sakit. Sesampainya di taman, Yoona bisa melihat pasien-pasien lain yang sekedar duduk atau berjalan-jalan mengitari taman. Lelaki itu mendorong kursi roda menuju bangku taman yang kosong. Kemudian lelaki itu membantu Yoona untuk duduk di bangku tersebut.
“Udaranya sangat segar sekali.” Ucap lelaki itu saat ia mendudukkan dirinya disebelah Yoona. Yoona hanya tersenyum mengiyakan perkataan lelaki itu.
Sepertinya lelaki itu benar-benar merasa senang. Terbukti dengan ia yang bersenandung pelan sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.
“Aku ingin menanyakan sesuatu.” Ucap Yoona pelan yang membuat lelaki di sebelahnya mengarahkan tatapan padanya.
“Silahkan.”
“Apa kau benar-benar suami ku?”
Lelaki itu diam. Terpancar kesedihan dari iris brown soft miliknya. “Ya. Apa kau benar-benar tak mengenal ku?”
“Maaf. Aku tidak mengenal mu.”
Lelaki itu menghembuskan napas. Berpikir bagaimana cara untuk meyakinkan wanita ini bahwa ia adalah suaminya. Pandangannya tak sengaja jatuh pada jemari milik wanita itu. Ia tersenyum kemudian tangannya menggenggam tangan wanita di sampingnya.
“Kau masih meragukan ku?” tanya lelaki itu lembut. Ia tahu bahwa wanita ini terkejut saat ia meraih tangannya. Terbukti dengan tangan wanita itu yang bergerak gelisah mencoba untuk lepas dari genggaman miliknya. Tapi ia tak akan membiarkan genggaman mereka terlepas begitu saja.
Setelah tak lagi merasakan penolakan dari Yoona. Lelaki itu melepas genggaman tangan mereka. Tak melepas seutuhnya, ia hanya memegang jemari Yoona lembut seraya berkata, “Kau lihat ini?”
Yoona mengarahkan tatapannya mengikuti arah tatapan lelaki itu. Dahinya berkerut samar melihat sebentuk benda kecil berbentuk lingkaran yang mengitari jari manisnya. Ia menatap lama cincin tersebut.
“Aku juga memilikinya.”
Lelaki itu menunjukkan cincin yang memiliki bentuk serupa dengan cincin di jemarinya. Lelaki itu kembali berkata, “Im Yoona, kau adalah istri ku dan aku adalah suami mu.”
Yoona terpaku menatap iris dihadapannya. Tatapan pria itu yang lembut seakan menguncinya. Ia mengalihkan pandangannya pada cincin di jemarinya dan pada jemari milik lelaki itu. Dengan sedikit keraguan yang menyelimuti hatinya, ia perlahan menggangguk. Lelaki itu tersenyum kemudian memeluk wanita itu.
Lelaki itu berbisik pelan di telinganya, “Kau hanya perlu mempercayai ku, Yoona.”
Entah bagaimana Yoona merasa nyaman dengan pelukan lelaki itu. Ia melingkarkan tangannya di pinggang lelaki itu sambil mengangguk.
***
Lelaki itu dengan telaten menyuapkan sesendok makanan ke wanita. Sambil mengunyah pelan, Yoona sedikit mencuri pandang padanya. Lelaki itu akhirnya menyadari kemudian tersenyum, “Kau kenapa?”
Yoona tergagap dan hal itu membuatnya tersedak. Dengan cekatan lelaki itu segera mengambil segelas air putih dan menyodorkan pada Yoona. Gelas itu segera diraih oleh Yoona. Sesekali lelaki itu akan mengusap lembut punggungnya.
“Aku sudah kenyang.” Ucap Yoona setelah ia merasa baikan. Lelaki itu menaruh mangkuk di atas nampan.
“Kau harus melatih otot-otot mu agar kau bisa beraktivitas seperti biasa. Apa kau mau aku menemani mu latihan?” lelaki itu bertanya sambil mengusap pelan sisa makanan di mulut Yoona.
Yoona hanya menggangguk. Lelaki itu kemudian berdiri dan membantu Yoona turun dari ranjangnya. Ia memapah Yoona dan berjalan perlahan. Menyusuri lorong bangsal rumah sakit. Cukup satu putaran karena ia yakin Yoona akan kelelahan setelah itu.
Sambil berjalan pelan. Yoona sesekali melirik lelaki disampingnya. “Aku tahu wajah ku sangat tampan, sayang. Tenang saja. Kau bisa menghabiskan waktu seumur hidup mu untuk memandangi wajah ku.”
Lelaki itu berucap dengan senyum lebar diwajahnya sambil tertawa pelan. Sontak Yoona segera mengalihkan pandangannya. Entah kenapa ia menjadi gugup sekarang. “Tidak. Aku tidak memandangi mu.”
Lelaki itu memasang raut wajah jahil. “Aku tidak mengatakan bahwa kau memandangi ku, sayang.”
Hal tersebut membuat wajah Yoona memerah dan ia harus mengakui bahwa wajah lelaki disampingnya memang tampan.
***
“Selamat malam, Nyonya. Aku akan mengecek kondisi kesehatan mu.” Seorang perawat masuk ke dalam ruangan tempat Yoona dirawat sambil tersenyum. Perawat tersebut mengecek tensi, membenarkan infuse dan melakukan hal-hal yang lain kemudian menuliskannya pada kertas yang ia bawa.
“Kau sungguh beruntung memiliki suami seperti dia.” tiba-tiba perawat itu berucap.
“Apakah lelaki itu benar-benar suami ku?” Yoona bertanya dengan ragu pada perawat itu.
Perawat itu tersenyum. “Tentu saja. Aku masih bisa mengingat dengan jelas. Sejak hari kecelakaan mu, suami mu selalu datang menjenguk. Bahkan ia mengajak mu berbicara saat kau mengalami koma.”
Yoona tidak tahu harus membalas apa. Hingga akhirnya perawat itu kembali berbicara. “Aku dapat merasakannya bahwa suami mu benar-benar mencintaimu.”
Setelah itu perawat itu tersenyum dan mengucapkan selamat malam.
Sepeninggal perawat itu, Yoona kembali memikirkan perkataannya. Ia ingin mempercayai ucapan perawat itu, namun entah mengapa di sudut hatinya ia masih meragukan lelaki yang berstatus suaminya.
***
Sama seperti hari-hari sebelumnya, lelaki itu akan menemani Yoona sekedar untuk mengajaknya ke taman rumah sakit atau menemaninya melemaskan otot-ototnya yang kaku. Bahkan ia sudah hafal kapan lelaki itu akan mengunjunginya.
Setiap pagi saat Yoona terbangun, lelaki itu sudah duduk di sampingnya dengan seragamnya yang rapi. Kemudian lelaki itu akan pergi bekerja –Yoona tidak tahu apa pekerjaan lelaki itu– dan akan kembali pada saat jam makan siang. Kemudian kembali bekerja dan pada sore harinya lelaki itu akan menjenguk Yoona. Sesekali lelaki itu juga menginap di rumah sakit.
Yoona melihat jam yang tergantung di dinding kamar rumah sakit. Biasanya jam segini lelaki itu akan menjenguknya setelah pulang bekerja. Tak lama setelah itu, pintu ruangan terbuka dan lelaki itu muncul. Lelaki itu berjalan menuju ranjang Yoona dan mengusap kepalanya.
“Apa kabar?”
Yoona tertawa pelan, “Ayolah. Kau tau bahwa aku baik-baik saja. Bahkan kita baru saja bertemu kurang dari lima jam yang lalu.”
Lelaki itu memasang muka yang menggemaskan, “Kau tahu? Bahkan satu jam tidak melihatmu terasa seperti bertahun-tahun lamanya.”
“Aish. Gombal.” Ucap Yoona sambil memukul pelan lengan lelaki itu.
Terdengar suara ketukan di pintu. Keduanya menoleh ke asal suara dan mendapati bahwa Dokter Kim baru saja masuk ke kamar inap Yoona.
“Apa kau sudah merasa baikan Yoona?” tanya Dokter Kim.
Yoona mengangguk, “Ya, Dokter. Aku hanya sesekali merasa pusing.”
“Pusing yang kau alami merupakan hal yang wajar karena bagaimana pun kau hanya amnesia sementara. Dalam kurun waktu tertentu, ada kemungkinan ingatan mu akan kembali.”
“Apa itu benar, Dokter?” Yoona tersenyum dan melihat lelaki itu. Ia dapat merasakan ada sesuatu yang disembunyikan di balik iris brown soft milik lelaki itu.
“Aku akan memberikan mu beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit di kepala mu jika suatu waktu kau merasakannya.” Ucapan Dokter Kim mengalihkan pandangan Yoona dari lelaki itu.
“Terima kasih Dokter.” Kali ini lelaki itu yang berucap. “Kapan Yoona bisa pulang?” lanjutnya.
“Aku sudah memantau kondisi mu beberapa hari terakhir. Kau juga sudah bisa berjalan dengan lancar. Jadi kau bisa pulang besok dan jangan lupa sesekali kau harus memeriksakan kondisi mu.” Ucap Dokter Kim pada Yoona.
Yoona mengangguk dan tersenyum senang.
***
Keesokan harinya lelaki itu datang dan merapihkan pakaian milik Yoona. Rumah sakit memang menyediakan pakaian untuk pasien, tetapi Yoona tidak suka memakainya. Yoona selalu berkilah bahwa pakaian rumah sakit tidak nyaman digunakan dan ia meminta lelaki itu untuk membawakannya beberapa potong pakaian.
Yoona terduduk di pinggir ranjang. Melihat lelaki itu memasukkan pakaiannya ke dalam tas besar. Seketika ia diliputi perasaan takut. Selama beberapa hari terakhir ia sudah beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit. Tapi bagaimana dengan lingkungan tempat tinggal mereka nanti? Apakah ia akan merasa nyaman? Bagaimana jika ia tidak merasakan atmosfer yang menenangkan di rumah mereka nantinya?
Hal-hal tersebut terus berkelebat dalam pikirannya. Ia mulai menyesali mengapa ia mengalami hilang ingatan seperti ini. Raut wajah gelisah yang terpancar dari Yoona tak urung membuat lelaki itu menghentikkan aktivitasnya. Ia melangkah mendekati Yoona saat wanita itu meringis dan memegang kepalanya.
“Sayang? Kau tak apa?” Dipeluknya tubuh Yoona dengan kedua tangannya sambil sesekali mengelus punggungnya. Berusaha sedikit mengurangi rasa sakit yang diterima Yoona. Tangan wanita itu mulai turun dari kepalanya. Rasa sakit yang diterimanya secara tiba-tiba membuat tubuhnya lemas. Ia menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.
“Apa aku bisa mempercayai mu?” tanya Yoona lirih nyaris menyerupai bisikan.
Lelaki itu tertegun. Ia semakin memeluk Yoona erat. “Ya, sayang. Kau bisa mempercayaiku.”
.
.
.
TBC

Author’s note:
Hai. Aku membawa cerita baru. Dan disini other castnya belum aku perlihatkan, termasuk lelaki itu. alasannya simple, karena aku pengen aja hehehe. Aku gatau ini sampe berapa part karena ada banyak hal yang belum terungkap disini. Oiya, dari judulnya mungkin kalian akan teringat film The Vow. Lets play game! Who’s that guy?😀 Aku harap kalian gak kecewa kalo cast laki-lakinya tidak sesuai dengan harapan kalian.
Part 1 ini emang belum kerasa apa-apa. Namanya juga masih pengenalan cerita. Aku sudah mulai memperingatkan di part 1 ini kalo nantinya aku memprotect part-part tertentu yang isinya bener-bener nggak terduga *semoga aja nggak terduga*. Aku rasa sebagai reader yg baik kalian pasti tahu gimana cara dapetin passwordnya.
Aku sangat menghargai kalian yang memberi komentar, kritik dan saran buat aku. Terima kasih😀

107 thoughts on “[Freelance] The Vow (1)

  1. Mampir ke blog ini dan ada update-an ff ini dgn covernya si yeol tp aku telat karna udh smpe part 3, jd aku cari part 1nya biar ngerti ceritanya.
    Jd udh tau deh cast cowonya siapa.. jd yoona amnesia grgr kecelakaan dan ada chanyeol yg ngaku jd suaminya dan para readers yg comment pada curiga klo yeol sbnrnya bukan suami yoona? Huwaaa menarik bgt nih ceritanya. Lanjut ah ke part 2

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s