(Freelance) Multichapter : Married Without Love (Chapter 7)

poster - Copy (2)

Married Without love
Main Cast : GG’s Im YoonA
Other Cast : Wu Yi Fan a.k.a Kris, EXO’s Sehun, GG’s Kwon Yuri as Im Yuri, EXO Park Chanyeol, EXO DO Kyungsoo, GG’s Tiffany.
Rating : PG 17+
Genre : Married Life, Romance, Sad.
Sorry for typo(s), Hope you’ll enjoy it. . .


Chapter 7
Author P.O.V
Kris masih fokus pada pantulan dirinya di cermin. Kedua tangannya sibuk melilitkan dasi, sedangkan kedua matanya senantiasa fokus mengawasi pergerakan tangannya di leher. Pagi ini ia nampak biasa, seakan sebotol wishkey yang ia teguk sendirian semalam tak mempengaruhi kesadaran nya sama sekali. Ia memang peminum yang hebat, bahkan minuman dengan kadar alcohol 50 % itu tak berbekas sedikit pun di wajahnya.
Kris menghembuskan nafasnya gusar. Ia ingat, biasanya Yoona lah yang akan melakukan hal ini, memilihkan sekaligus memasangkan dasi untuknya, bahkan gadis itu pulalah yang memilihkan pakaian kerja Kris setiap hari. Walau pun Kris seorang pecinta fashion, tapi ia tak pernah protes barang sekalipun saat Yoona mengambil alih semua tugas yang biasa ia lakukan sendiri. Ia suka, ia hanya suka saat mendengar Yoona mengomel karena warna dasi yang Kris pakai tak sesuai dengan kemeja biru muda yang telah Kris pilih lebih dulu, ia juga suka saat Yoona mendengus ketika Kris memilih jas hitam untuk rapat pemegang saham perusahaan miliknya ‘Oppa, apakah kau seorang mafia? Kenapa oppa selalu memakai pakaian hitam? Gunakan lah ini!’ Kris bahkan masih ingat ketika Yoona mengganti jas hitam di tubuh Kris dengan jas merah marun pilihannya.
Kris menghela nafas sekali lagi. Ternyata pengaruh Yoona dalam hidupnya sudah terlalu jauh. Ia sudah terbiasa dan sudah terlanjur bergantung pada gadis itu. Ia tahu, tapi ia tak cukup berani untuk mengakui apa yang saat ini hatinya rasakan.
Kris melepas kemeja, dasi dan juga jas yang sudah melekat pada tubuhnya, lalu mengganti semua pakaiannya dengan kemeja putih, dasi biru tua dan jas berwarna biru langit. Ia ingin tampil beda hari ini. Menggunakan pakaian berwarna hitam, membuat mood nya semakin buruk.
.
“Wow..” Tiffany berdecak kagum saat melihat Kris berpenampilan berbeda dari hari hari biasanya. Jas hitam dan kemeja putih telah ia tanggalkan, berganti warna yang lebih cerah dan segar. Dan harus Tiffani akui, kini pria itu terlihat lebih muda dan tampan, rambut yang biasa ia tata ke atas, kini ia biarkan jatuh menutupi keningnya yang indah.
Kris memamerkan sederet gigi rapinya sebelum duduk di hadapan Tiffany. Sedangkan gadis itu masih terpaku dengan perbedaan penampilan yang Kris lakukan hari ini.
“Sudah pesan makanan?”
Sepersekian detik Tiffany bisa merasakan tubuhnya di tarik paksa dari negeri dongeng yang biasa ia baca saat kecil, menyadarkannya dari lamunan jika Kris bukanlah pangeran dari salah satu cerita fiksi favoritnya.
Tiffany menggeleng seraya memperlihatkan eye smile nya yang menawan. “Belum, aku menunggumu,” Tiffany menjulurkan buku menu kepada Kris, lalu beralih menatap ponselnya yang tiba tiba bergetar. Nickhun, kekasihnya baru saja mengiriminya pesan. Ia baru saja memberi tahu Tiffany jika ia sudah sampai di LA. Memiliki kekasih seorang model, mau tak mau membuatnya menahan hasrat untuk sering bertemu.
“Apakah hari ini hari spesial?”
Kris memberikan buku menu kepada seorang pelayan sesaat setelah memberitahukan pesanannya. “Tidak. Kenapa?”
Tiffany memandang Kris lalu menaruh dagunya di tangan kanan yang bertumpu pada meja. “Hari ini kau terlihat tampan.” Jujur Tiffany tanpa ada kebohongan sedikitpun. Ia sudah mengenal Kris cukup lama, yang ia tahu selama ini Kris lebih menyukai warna hitam dan putih, ia tak pernah mau menggunakan warna lain apalagi warna cerah seperti saat ini. Apakah semua ini karena Yoona? Wow ternyata wanita itu hebat juga. Puji Tiffany dalam hati.
Tawa Kris meledak mendengar ucapan Tiffany. Apa ia tak salah dengar? Tiffany tak pernah memujinya, bahkan dulu saat masih sama sama menuntut ilmu di Amerika, Tiffany tak pernah meyebutya tampan atau keren. Wanita itu memiliki selera yang tinggi terhadap pria, dan hal itu lah yang membuat Kris sedikit ragu untuk mengakui ketampanannya. “Bukankah aku memang selalu tampan?”
Tiffany hanya bisa mencibir, Kris memang narsis, itulah kalimat pertama yang melintas di otaknya. Setampan apapun Kris dulu, ia akan mencoba menahan diri untuk tak mengatakannnya, ia hanya tak mau melihat ke narsisan Kris yang semakin meninggi setiap harinya. “Apakah Yoona baik baik saja?”
Sontak pertanyaan yang Tiffany ajukan berhasil mengalihkan fokus Kris, ia tak ingin membicarakannya, ani, Kris belum siap membicarakannya. Mendengar nama Yoona saja sudah berhasil membuat hatinya resah.
“Ah, bukankah kau ingin menunjukkan rancanganmu? Jika kerja sama ini berhasil, kurasa minggu depan kita sudah bisa melakukan pemotretan.” Kris memaksakan seulas senyum kepada Tiffany. Sungguh, hatinya belum siap membicarakan gadis itu.
Tiffany tahu, mengenal Kris lebih dari enam tahun membuatnya sedikit mengerti tabiat pria itu. Kris sedang tak ingin membicarakan Yoona, itulah hal yang dapat Tiffany simpulkan saat ini.
.
.
.
Yoona tak bisa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, ada sesuatu hal yang mengganggu fikirannya. Ini sudah hari kedua ia meninggalkan rumah, semua terasa aneh bagi nya.
Ia begitu mengharapkan permintaan maaf dari pria itu, tapi hatinya juga terasa tak mau kalah ketika terus berbisik untuk menghubunginya terlebih dahulu dan meminta maaf. Tapi sayang, ego yang tumbuh semakin besar di tubuhnya tak mengijinkan hal itu terjadi. Ia harus memberi pelajaran pada pria itu, Yoona bukanlah gadis murahan, itulah yang selalu coba ia doktrinkan pada hati serta fikirannya.
Yoona mendesah gusar. Ia kalut, sejak semalam hati dan ego nya terus berdebat untuk memilih hal terbaik yang harus ia lakukan. ‘haruskah aku mengalah demi pria itu? ahh.. tidak, tidak boleh.’ Yoona menggelengkan kepalanya tak setuju.
Tapi ia tak bisa berbohong lagi, walau tak ingin mengakuinya, tapi Yoona yakin ia sedikit merindukan pria itu. ‘ya tuhan… apa yang harus aku lakukan?’ Yoona terus berteriak dalam hati. Perdebatan sengit yang terjadi semalam belum bisa ia rampungkan hingga saat ini.
“Kenapa? Kau merindukan suamimu?” Suara Kyungsoo berhasil menyentak fokusnya.
“Ah, ne?” Yoona mengedipkan kedua matanya polos. Begitu lucu dan menggemaskan.
Kyungsoo hanya terkekeh melihat reaksi Yoona yang malah nampak linglung. Entah ia terlalu kalut atau memang ia sedikit melamum, tapi saat ini ia benar benar terlihat lucu.
“Aku takut ponselmu akan berlubang jika kau terus menatapnya seperti itu.”Kyungsoo meletakkan se piring nasi kare di hadapan Yoona.
“kare?! Uwaaa…” Kedua mata Yoona nampak berbinar. Kare buatan Kyungsoo memanglah yang terbaik, ia menyuapkan sesendok penuh ke dalam mulutnya, tapi segera ia menautkan kedua alis ketika indra perasanya mulai menyecap. Rasanya tidak sama dengan apa yang ia inginkan. “Kenapa tidak pedas?”
Kyungsoo menatap Yoona, sebelum berhasil menyuapkan sesendok kare ke dalam mulutnya. “Kau punya masalah lambung, kau lupa?”
Yoona mendengus kesal. Selalu saja, Kenapa semua oppanya bertingkah berlebihan? Mereka selalu melarang Yoona melakukan apapun yang mereka anggap dapat membahayakan Yoona. Dan bukankah ini terlalu berlebihan? Yoona tak akan mati, ini hanyalah Kare, bukan racun. “Oppa, lambungku tidak akan membusuk hanya dengan memakan makanan pedas. Kenapa kalian semua selalu bertingkah berlebihan padaku?” Yoona mendorong piringnya kesal.
“Kami terlalu sayang pada mu Yoong.” Kyungsoo mengacak rambut Yoona sayang.
Yoona mendengus mendengar alasan dari Kyungsoo. Memang benar jika alasan mereka yang selalu bertingkah ‘berlebihan’ terhadap Yoona hanya semata mata karena mereka sayang kepadanya, tapi, ayolah… Yoona bukanlah Yoona yag dulu, gadis kecil yang lemah, cengeng dan perlu di lindungi. Dia sudah dewasa dan menikah. “Oppa, aku sudah 24 tahun. Aku bukan anak kecil lagi,” Yoona merengut, terkadang ia juga merasa risih dengan sikap para oppa nya. “jangan bersikap berlebihan kepadaku.”
Yoona mamandang ponsel sekali lagi, dan hal itu berhasil membuat mood nya semakin buruk. “Aku sudah menikah oppa…” tiba-tiba Yoona menangis, meraung layaknya anak kecil. Entah apa yang terjadi kepadanya, ia juga tidak tahu. Ia hanya merasa sesak dan butuh pelampiasan. Sebenarnya ia sudah terlalu biasa dengan sikap para oppa nya, ia tak keberatan, hanya saja melihat ponselnya tiba tiba membuat suasana hatinya memburuk, dan tanpa bisa ia cegah air matanya jatuh begitu saja.
Kris, pria dingin itu. Yoona sebal pada nya, seharusnya Kris menelponnya, seharusnya Kris minta maaf padanya, seharusnya Kris menjemputnya, dan seharusnya… seharusnya Yoona tak bertingkah kekanakan dengan pergi dari rumah, hingga menyebab kan hatinya kacau seperti ini.
Kyungsoo kelimpungan, ia tak tahu jika hanya karena kare bisa membuat gadis di hadapannya menangis layaknya anak kecil. “Yoong… kau kenapa?” Kyungsoo mencoba meraih bahu Yoona yang menunduk di atas meja makan. “maafkan oppa, eoh. Maaf aku tak bermaksud seperti itu.”
Yoona tak bergeming, tangisannya semakin keras dan hal itu berhasil membuat dahi Kyungsoo semakin berkeringat karena gugup.
.
.
.
“lalu bagaimana dengan oppa? oppa masih mencintainya kan?”
Untuk beberapa saat keheningan menyelimuti cerahnya cuaca siang ini. pertanyaan yang Yoona lontarkan terakhir kali mampu membuat otak seorang Zhang Yi Xing beku. Mencintai nya ? Benarkah Lay masih mencintai wanita itu?
“benarkan…” Yoona menarik nafasnya dalam dalam seraya menyandarkan punggungnya yang terasa sedikit menegang akibat terlalu lama menunggu jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir Lay. “kau masih mencintainya oppa.” Yoona terkekeh geli mendapat tatapan terkejut dari pria di hadapannya. Bukankah ekspresi itu terlalu lucu untuk ukuran pria berusia 26 tahun? Oh ayolah…
“Lihatlah, bahkan matamu mengatakan kau masih sangat mencintainya.”
Kedua mata Lay membulat. Benarkah? Sejelas itu? batin Lay sedikit tak percaya.
“Sepertinya kau sangat mengenalku Im Yoona. Jangan bilang selama ini kau benar benar jatuh cinta padaku.”
Lay sudah bersiap menaruh kedua tangannya di atas kepala, berjaga kalau kalau Yoona memukul kepalanya dengan sendok atau apapun yang ada di hadapan gadis itu. Terlihat berlebihan memang, tapi Lay sudah terlanjur mengenal Yoona, dan kepalanya sudah terlalu sering mendapatkan hadiah dari tangan cantik Yoona itu. “Oh sepertinya tubuhnmu sudah menghafal semuanya oppa, lihatlah aku bahkan belum sempat berfikir untuk memukul kepala cantik mu itu, tapi reaksi tubuhmu sungguh berlebihan.” Kekeh Yoona sedikit tak percaya.
“itu karena kau terlalu sering memukulku.”
“benarkah? Apakah selama ini aku terlihat seperti seorang iljin?” Lalu kedua nya larut dalam tawa yang tiada henti. Tawa yang beberapa saat berhasil meleburkan kegundahan hati keduanya.
“Maaf aku terlambat.”
Suara seorang pria -lain- berhasil mengalihkan perhatian mereka berdua, Yoona nampak terkejut dengan pria yang kini tengah berdiri di sampingnya, tubuhnya menegang seketika. Berbeda dari Yoona, Lay malah nampak tenang, ia bahkan sempat melemparkan senyum kepada Yoona. “Sepertinya aku sudah selesai, Sehun bisakah kau menemani Yoona dan mengantarkannya pulang?”
Pria itu-Sehun- mengangguk, lalu menepuk bahu Lay pelan. “Gomawo hyung.” Lay menatap Yoona dengan tatapan ‘maaf’ sebelum meninggalkan mereka berdua dalam keheningan.
Kecanggungan yang mereka buat sendiri semakin ketara saat Yoona memilih mengaduk aduk makanannya, di bandingan dengan pria tampan di hadapannya yang terus menatapnya sendu.
Sehun terdiam, sedikit menyadari jika wanita yang begitu ia cintai memilih untuk diam dibandingkan melontarkan candaan konyol seperti yang mereka lakukan dulu. Ia tak tahu harus memulai dari mana. Meminta maaf atau bertanya tentang kabar Yoona, Sehun merasa semua kata-kata yang telah ia susun sejak semalam terhenti begitu saja di tenggorokan.
.
.
Sebuah sedan hitam tengah melaju dengan kecepatan tinggi, membelah lalu lintas kota Seoul yang mulai lengah malam hari ini. Yoona menambah kecepatan mobilnya kala nama kakaknya-Im Yuri- terpampang di layar ponsel, ia baru saja mencoba untuk merebahkan tubuhnya yang lelah karena pergi seharian, tapi tiba tiba saja Yuri menghubunginya. Dan… entahlah, Yoona tak tahu apa yang terjadi. Hanya suara tangisan yang mendominasi percakapan mereka tadi.
Setelah lebih dari dua puluh menit menelusuri jalanan kota Seoul, akhirnya ia sampai di rumahnya, rumah Kris. Ia sedikit ragu untuk masuk. Apakah Kris sudah pulang? Lalu apa yang akan ia lakukan nanti? Haruskah ia kembali ke rumah Kyungsoo? Atau membuang egonya, lalu masuk dan meminta penjelasan pada kakaknya?
Setelah lama berdebat dengan hatinya, akhirnya Yoona memutuskan untuk turun. Gadis itu berjalan perlahan, lengkap degan raut wajah yang tak terbaca- bercampur antara cemas dan takut.
Yoona memutar knop pintu ragu, sekali ini dalam hidupnya ia merasa tidak ingin bertemu dengan seseorang yang saat ini tengah menunggunya di dalam. Ia sungguh terkejut tadi saat kakak perempuannya mengubunginya dengan serak bekas tangis di suaranya.
“Kau dimana? Bisakah kau pulang sekarang? Aku sedang berada di rumahmu,“ kurang lebih seperti itu lah ucap Yuri beberapa menit lalu saat menghubungi Yoona. Dan jika tidak salah dengar, Yoona sempat mendengar nama kakak iparnya, Yuri sebut. Kenapa dengan Jong In? apakah mereka sedang bertengkar? Lalu kenapa Yuri mencarinya?
“Eonni!” teriak Yoona kala mendapati Yuri tengah meneguk minuman langsung dari botolnya. Keadaannya begitu berantakan, air mata meleleh membasahi kedua pipinya yang tirus, sedangkan rambut hitam nya begitu acak acakan. Yuri tersenyum kala mendapati adiknya menatapnya penuh kekhawatiran.
“eonni, ada apa?” Tanya Yoona tak sabaran. Ia bahkan tak memperdulikan pria di samping Yuri yang kini tengah diam mematung. Pria itu-Kris-, nampaknya belum begitu siap menghadapi Yoona. Ia bahkan tak tahu jika Yuri menghubungi Yoona dan memintanya untuk pulang.
“Kris minumlah bersama kami.” suara Yuri menyentak kesadaran Kris, beberapa saat ketika kedua mata Kris dan Yoona saling bertemu, Kris merasakan letupan hebat di dadanya. Tiga hari tak bertemu dengan gadis itu, membuatnya menahan rindu yang teramat dalam. Andai saja malam itu ia tak begitu kasar kepada Yoona, pastilah saat ini ia tak harus menghadapi kecanggungan yang begitu luar biasa.
Tak jauh berbeda dari Kris, Yoona juga merasakan hal yang sama. Entah sejak kapan Yoona merasakan perasaan sesak ketika tak menatap kedua manik mata hazel milik suaminya itu. Garis rahang yang tegas, dan bibir merahnya yang begitu menggoda, ia merindukannya. Sungguh. Yoona menelan ludahnya saat ciuman paksa yang di lakukan Kris beberapa hari yang lalu, muncul secara tiba tiba di otaknya. Oh tunggu! Jangan bilang Yoona menginginkannya lagi?!
‘tidak, apa yang sedang aku fikirkan!’ Yoona menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan fikiran mesum yang secara tak sengaja melintas di kepalanya
.
“eonni, sebenarnya apa yang telah Jong In lakukan padamu?” Tanya Yoona tak sabar. Terlalu menyakitkan melihat kakaknya menangis seperti ini. Sebelumnya, Yuri tak pernah se hancur saat ini ketika menghadapi masalah dengan Jong In. Kakaknya adalah seorang wanita dewasa yang selalu menyeselaikan permasalahan dengan kepala dingin. Begitu pula dengan Jong In, sebenci apapun Yoona pada Jong In, tapi ia tak bisa memungkiri satu hal, yaitu Jong In begitu mencintai kakaknya. Dan itu menjadi satu satunya alasan untuk Yoona rela melepaskan kakaknya pada Jong In. lalu apa permasalahannya saat ini? Separah itu kah masalah mereka berdua?
Yuri hanya menggeleng, lalu menuangkan minuman ke dalam gelas milik Yoona dan Kris, mengajaknya bersulang dan menghabiskan malam bersama.
“eonni!” pekik Yoona, ia benar benar tak sabar dengan sikap kakaknya. “ada apa dengan Jong In? apa yang telah pria brengsek itu lakukan padamu?” Teriak Yoona. Ia sudah tak tahan melihat kakaknya seperti ini, ia bersumpah akan menghajar Jong In jika pria itu benar benar telah melakukan hal buruk pada kakaknya.
Yuri memandang cairan merah di gelasnya, seakan hanya cairan itulah yang bisa mengobati luka di hatinya.“Jong In..” Yuri menggoyang gelasnya sekali lagi sebelum meneguknya kembali. “Aku melihatnya dengan wanita lain…”
Bagai tersengat listrik, Yoona tak bisa begitu saja mempercayai pendengarannya. Apa? Jong In bersama wanita lain? Jong In selingkuh? Lama ia mengenal Jong In, tapi benarkah Jong In? Pria itu begitu mencintai kakaknya, jadi tidak mungkin pria itu berselingkuh. Terlebih Jong In pernah berjanji kepadaYoona saat ingin menikahi Yuri dulu, dan gilanya-Yoona, ia sangat mempercayai semua itu.
.
“eonni, sebaiknya kalian bercerai saja.” baru satu gelas wine yang Yoona minum, tapi efeknya begitu luar biasa. Ia sudah merancau tidak jelas. Awalnya Yoona menolak permintaan kakaknya untuk minum, tapi melihat kakaknya yang terus memohon untuk menemaninya, mau tak mau membuatnya luruh.
Yoona memang tidak bisa minum. Dan semua orang, kecuali Kris-mungkin- tahu itu. Yoona akan berubah menjadi aneh, ia tak akan berhenti berbicara atau menangis saat minuman beralkohol itu memasuki tubuhnya. Tapi lebih parah dari itu, Yoona bisa saja berubah menjadi byuntae jika ia meminum lebih dari dua gelas, dan hal itu pernah terjadi dulu.
Waktu itu mereka semua-Yoona, Yuri, Jong In dan semua oppanya- tengah berkumpul di villa milik Chanyeol untuk merayakan ulang tahun Chanyeol ke 22. Dan tanpa sepengetahun semua orang, Yoona meneguk soju lebih dari dua kaleng. Dan hal yang paling mengerikan itu pun terjadi. Tanpa di duga, tiba tiba saja Yoona mengelus dada Chanyeol dan mencium bibir pria itu sebelum jatuh tak sadarkan diri.
Dan lagi, pernah suatu hari saat libur musim panas, mereka semua mengadakan acara summer camp. Padahal Yoona hanya minum tiga gelas kecil soju, dan tanpa di duga secara tiba tiba ia menyentuh bokong para oppanya, itu-Joon Myeon dan Kyungsoo lah korbannya.
Mengingat kejadian itu membuat Yoona merasa jijik dan membuatnya berfikir berakali kali saat ada yang menawarinya minum.
“Kris bisakah kau mengambilkan anggur lagi?” pinta Yuri pada Kris. di antara mereka bertiga hanya Kris lah yang masih terlihat segar, walaupun Yuri kuat minum, tapi Kris mematahkan semua kenyataan itu. lihatlah, Kris- ria itu masih nampak normal seakan tak ada sedikitpun alkohol yang masuk ke tubuhnya. Padahal Yuri ingat betul, Kris sudah menghabiskan lebih dari lima gelas sejak kedatangan Yuri tadi.
“eonni, kenapa eonni tidak menceraikan pria itu?” Yoona meraih botol wine di hadapan Yuri, menuangkan isinya dalam gelas hingga habis. “semua pria itu sama. mereka semua brengsek!”
“jadi menurutmu, itukah hal terbaik yang harus aku lakukan?” Yuri memijat pelipisnya yang mulai terasa pening.
“kau seharusnya menjaga suamimu agar tak berselingkuh seperti suamiku.” Mendengar itu, Yuri terkejut, tapi ia berusaha bersikap normal. Ia kembali membenarkan posisi duduknya, kepalanya sudah terasa begitu pening, tapi ia yakin, ia belum kehilangan fokus sama sekali.
“Selingkuh?” Tanya Yuri hati hati. Ia hanya ingin memastikan jika pendengarannya masih bekerja dengan baik. Karena ia yakin, ia sempat mendengar kata cerai dan selingkuh dari bibir adiknya.
Yoona terkekeh geli. Benar, ia harus menjaga Kris dari incaran wanita wanita seksi di luar sana. Tiba tiba saja wajah Tiffany muncul di kepalanya saat memikirkan hal itu. Tiffany? Benar. Dia adalah kekasih Kris. fikir Yoona.
“eonni, Kris, suamiku. Sepertinya dia sudah berselingkuh dariku. Dua hari yang lalu… hug!” sepertinya Yoona sudah benar benar mabuk. Ia bahkan sudah mulai cegukan. Lihatlah, ia sudah nampak kacau saat ini. “aku melihatnya membawa seorang wanita ke sini. Wanita itu sangat cantik dan seksi. Kulitnya putih, dan dia memiliki dada yang besar.” Yoona menyentuh ke dua buah dadanya dengan kedua tangan. Menatapnya dengan prihatin. Benar, jika di bandingkan Tiffany, Yoona memang tak ada apa apanya. Di bandingkan seksi, Yoona memiliki tubuh yang cenderung kurus.
Yuri bersandar pada sofa, memperhatikan setiap kata yang Yoona ucapkan dengan seksama. Oh ayolah, sepening apapun ia saat ini, tetap saja ia tak boleh kehilangan fokusnya. “aku rasa dia balas dendam padaku, karena dia melihatku berciuman. Hahaha” tawa Yoona meledak, teringat adegan ciumannya bersama Sehun. Yoona kembali meneguk minumannya. “eonni, kau ingin mendengar rahasiaku?”
“apa?” Tanya Yuri dengan lipatan di dahinya. Sebentar lagi, ia akan mengetahui semuanya.
“Sebenarnya kami-“
“ini anggurnya Yul.” Suara Kris menyela perbincangan Yoona dengan Yuri. Tubuh Kris sedikit menegang, lalu berjalan semakin cepat, meletakkan botol anggur di atas meja dan menjatuhkan tubuhnya di sisi Yoona. “sepertinya kau sudah mabuk. Aku antar kau kekamar.” Kris mencoba menarik tubuh Yoona, tapi segera Yoona tampik.
“anio!” Ia mendorong tubuh Kris menjauh, lalu mengibaskan tangannya di depan wajah. Menolak kesimpulan Kris. Yoona yakin jika ia masih sadar, ia tak mabuk. “aku tidak mabuk oppa, aku masih sadar.”
“lihatlah eonni, ia bertindak seolah olah dia suamiku,” Yoona menunjuk Kris yang semakin gugup dengan jari telunjuknya, sedangkan kedua matanya menatap Yuri penuh keyakinan. “padalah kami hanya menikah kontrak,”
Dan BAAM! Pukulan keras itu menampar Kris. Hancur sudah semuanya. Saat ini hanya satu yang Kris inginkan, yaitu membungkam mulut Yoona dan segera membawanya pergi sebelum semunya terbongkar.
“omo omo, lihatlah kenapa pria ini bersikap seolah olah kami adalah pasangan nyata?” Yoona merancau tidak jelas. Rambut panjangnya sudah acak acakan, ia bahkan sudah tak sanggup lagi mengangkat kepalanya dengan tegak.
“Yoong, kau mabuk,” Kris meraih tubuh Yoona, mencoba mengangkat tubuh kurus itu dan tak melanjutkan rancauannya lagi. Kris sempat tercekat tadi, ketika Yoona menyebut kata kontrak, tapi setidaknya ia masih bisa bernafas lega karena kondisi Yuri tak kalah buruknya dengan Yoona. Ia yakin, Yuri akan melupakan semua yang terjadi malam ini. “Yul, tolong jangan dengarkan Yoona, sepertinya dia sudah benar-benar mabuk. Kau tidurlah di kamar itu.” Kris menunjuk kamar di dekat ruang tamu, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengangkat Yoona.
“oh, baiklah.” Yuri mengangguk mengerti. Sedangkan kedua matanya masih mencoba fokus, mengamati setiap pergerakan yang Kris coba lakukan pada Yoona. Yoona memang sangat menyebalkan, ia bahkan jauh lebih menyebalkan dalam keadaan mabuk seperti saat ini. lihatlah betapa kuwalahannya Kris saat mencoba mengangkat tubuh Yoona yang terus mencoba memberontak.
.
.
.
Kris menyelimuti tubuh Yoona hingga sebatas leher, memandangi wajah malaikat itu lamat lamat. Harus Kris akui, ia begitu merindukan wajah cantik Yoona. Tiga hari tak bertemu dengannya, telah berhasil membuat hatinya gusar, ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya jika ia tak melihat wajah Yoona lebih lama lagi. Mungkin ia bisa gila, atau lebih parahnya ia bisa mati. Kris terkekeh geli membayangkan ia akan benar benar gila karena merindukan gadis menyebalkan di hadapannya ini.
Setelah puas, ia segera beranjak berniat meninggalkan Yoona dan memastikan kondisi Yuri baik baik saja. Tapi sesuatu mengusik batinnya, Kris berbalik dan detik itu juga kedua matanya berhasil membulat sepurna.
Ia berteriak dalam hati, mengeram pelan lalu berjalan cepat kearah Yoona yang telah berhasil membuka kemejanya dan membuangnya sembarang.
“Ya! Apa kau sudah gila? Apa yang sedang kau lakukan?”
Kedua mata Yoona menyipit, mengamati sosok rupawan yang kini tengah berdiri tepat di hadapannya. Ia tersenyum sekilas sebelum tangannya meraih kancing celananya. “Sangat panas, apakah kau tidak menyalakan pendingin ruangan?”
“Ya!” Kris meraih pergelanga tangan Yoona yang hampir bisa meloloskan resleting jeans nya.
“Wae?”
Kris menelan ludahnya dengan susah payah. Setengah dari kesadaranya telah hilang bersama wine yang ia teguk beberapa saat lalu. Tapi setidaknya ia masih sedikit sadar, dan bisa menahan hasratnya untuk menyentuh Yoona, meskipun pada kenyataanya Yoona terlihat begitu menggoda. “Kau sedang mabuk Yoong.”
Yoona mengangkat tangannya, lalu berjalan mendekat kearah Kris yang nampak semakin gugup. Ia meletakkan tangan kanannya tepat di dada bidang Kris, bergerak sensual hingga sebatas perut. Tak lupa tatapan nakal yang terus ia pertontonkan pada Kris, begitu menggoda hasrat kelelakiannya.
“Wae? Bukankah kita suami istri?” Yoona menarik tangan Kris, hingga tubuh Pria itu ambruk di atas tempat tidur. Yoona tersenyum seduktif sebelum meraih bibir pria itu rakus. Otak Kris terasa kosong, tak tahu harus berbuat apa. Hatinya terus menolak, tapi tubuhnya seakan bergerak di luar kendali. Letupan letupan hebat di dadanya seakan sudah cukup menggambarkan betapa ia merindukan dan menginginkan wanita ini di hidupnya. Dan di luar kehendakknya Kris membalas ciuman Yoona tak kalah bergairah.
Kris mengeram dalam ciumannya saat tanpa sengaja kaki Yoona menyentuh kejantanannya. “Akh.. Yoong.”
Kris bahkan tak menyadari jika saat ini ia lah yang memimpin permainan. Mengukung Yoona di bawah kendalinya, mencium bibir mungil wanita itu tanpa ampun. Tangannya menjelajah punggung terbuka gadis itu dengan gerakan sensual. Menuntut, hingga membuat tubuh keduanya bergetar, terbakar oleh hasrat. Persetan dengan apa yang akan terjadi besok pagi. Yang ia tahu saat ini adalah hasrat kelelakiannya dapat terpenuhi.
.
“Yoong.. Kau sudah bangun?!” teriakan Yuri dari arah dapur berhasil menginteruksi Yoona untuk berhenti. Dalam keraguan ia memberanikan diri, memutar tubuhnya dan memaksakan seulas senyum untuk kakaknya.
“Kau akan bekerja?” Tanya Yuri kembali. Keningnya berkerut memandang jam dinding yang terpasang di atas Tv ruang keluarga. “Sepagi ini?” oh ayolah, jarum pendek baru saja menunjuk angka 6, dan ini masih terlalu pagi untuk beraktivitas.
“ne, eon-ni.” Gagap Yoona, tanpa beralih sedikitpun dari tempat nya berdiri.
“wae? Ada yang salah denganmu?” lama lama Yuri tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya juga. Adik kecil nya ini adalah gadis rakus yang akan meminta makan sesaat setelah matanya terbuka, dan lihatlah, meja ini penuh dengan makanan lezat, tapi gadis itu masih berdiri linglung di tempatnya. “apakah ada yang salah denganmu? Kau merasa tak enak badan? Atau kau masih sedikit mabuk?”
Yoona menggeleng, sedikit ragu mulai melangkah kearah kakaknya dengan sesekali mengerutkan keningnya. Rasa nyeri di pangkal paha serta dadanya, benar benar membuatnya merasa tak nyaman.
“Kau bekerja dengan penampilan seperti ini?” Yuri melirik Yoona dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sedikit aneh, adiknya adalah pecinta fashion dan berangkat ke kantor tanpa make up sedikitpun di tambah rambut basah yang belum ia tata sama sekali adalah kelasahan fatal yang tak mungkin Yoona lakukan. Dan Yuri tahu betul itu. “Kau menggunakan syal di cuaca sepanas ini?” apakah Yoona sakit? Ini musim panas, dan adiknya itu menggunakan syal di cuaca seperti ini, apakah gadis ini sudah gila? Fikir Yuri.
Yoona menyentuh syal yang melilit di leher jenjangnya. Tanpa ia sadari, wajahnya menghagat, desiran panas semalam berhasil merasuki tubuhnya kembali. Tertawa kikuk sebelum meraih segelas susu hangat di hadapannya lalu segera pergi tanpa berkata apapun sebelum kakaknya mengetahui semua yang ia lakukan bersama Kris semalam.
Tanpa Yoona ketahui, Yuri memandang punggung Yoona hingga menghilang di balik pintu seraya tersenyum bahagia, lalu meraih ponselnya dan menekan beberapa tombol.
“Chanyeol-ah, aku rasa recana kita berhasil.” Bangga Yuri. Ia ingat, tiga hari yang lalu Chanyeol memintanya untuk bertemu, menceritakan tentang Yoona yang kabur dari rumah karena bertengkar dengan Kris, belum lagi kenyataan yang Chayeol temukan saat merawat Yoona yang saat itu tengah sakit. Pernikahan kontrak? Lupakan itu, ia hanya berharap Yoona segera hamil dan hidup bahagia bersama dengan Kris.
.
.

Kkeut!!!

68 thoughts on “(Freelance) Multichapter : Married Without Love (Chapter 7)

  1. Baru ingat pernah baca ff ini pas smp, gara2 sibuk tugas gak sempat baca. Pas sekarang sma baru sempat. Kangen daah, jadi baca lagi dari awal. Wkwkwkw

  2. Wuahhhh . .
    Pasti bahagia banget dah tu ortu nya yoonkris kalau tahu mereka bakal dapet cucu
    Hehehe
    Next chapter nya ditunggu unn

  3. ff ini bener2 keren,nikah kontrak ya yoona ma kris,lanjut dong thor,,,plis?apakh yoona kn hamil…q tunggu kelanjutnya.

  4. Suka dgn ff ini, karakter kris yg cool memanf cocok disandingkan dgn karakter yoona yg ceria dan polos
    Oy nunggu kisah lanjutannya nih thor, sepertinya sdh lama ya ga da lanjutannya atau jd di protect nih, sy pembaca baru dan langsung suka dgn ff ini

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s