(Freelance) Mutlichapter : The Girl Who Can See Ghost (Chapter 2)

11378389_913536322025669_2090538648_n-1

The Girl Who Can See Ghost II
Irna Cloudaddict’s story
Yoona | Chanyeol | Kai
Romance- Horror
Do’s : Read, Comment, Like
Dont’s : Copy, Plagiarism, Bash
Note : Big sorry for very very very slow update._.
Semoga masih ingat ya ceritanya..
Maaf kalau gak sesuai harapan kalian, tapi inilah alur yang udah aku pikirin dari awal. Sorry for typo, Happy reading…

Previous =>
Kai membuka jendela dan pintu balkon, membuat matahari bebas masuk. Yoona membuka matanya karna silau. Gerakan Yoona membuat Chanyeol ikut terbangun. Keduanya terkejut melihat jemari mereka yang bertautan. Yoona tidak ingat kejadian semalam dan Chanyeol tidak menyangka dia akan tertidur sampai pagi. Mata keduanya bertemu tapi tidak ada yang berinisiatif untuk melepas duluan.
Kai berdeham, membuat Yoona-Chanyeol langsung mengalihkan pandangan kearahnya. “Jadi siapa yang bisa menjelaskan apa yang terjadi?”

+++++++
Kai memandang dua manusia didepannya dengan penuh tanda tanya. Dihadapan mereka tersedia roti yang dibakar seadanya. Sepuluh menit berlalu tapi kedua orang itu belum juga membuka suara.
“Mianhae, semalam kau mengigau tapi aku tidak ingin membangunkanmu. Kau menggenggam tanganku saat aku menarik selimut. Aku membiarkannya karna tidak ingin mengganggumu, tidak kusangka kita akan tetap pada posisi seperti itu sampai pagi.” Jelas Chanyeol.
“Harusnya aku yang minta maaf, bisa-bisanya aku menarik tanganmu, aku benar-benar tidak sadar.” Yoona menunduk menyembunyikan semburat merah pipinya. “Terima kasih karna telah menjagaku semalaman, Juga karna tidak membangunkanku, jika kau melakukannya maka aku tidak akan bisa tidur lagi. Aku setiap malam menggigau seperti itu, jadi lain kali kau tidak perlu menemaniku.”
“Lain kali apanya? Ini terakhir kalinya kalian tidur satu kamar. Yahh kecuali kalian jadi suami-istri.” Kai tersenyum jahil saat mengucapkan kalimat terakhir.
Chanyeol melirik Yoona malu-malu. Yang dilirik masih menunduk.
Kai menghembuskan napas ,”Baiklah, kali ini kumaafkan. Tapi lain kali kalau kalian melakukannya harus kunci pintu dong, kan aku sirik ngeliatnya hahaha.”
ah, kedua orang itu semakin malu.
*******

Yoona mengucir satu rambutnya, menelengkan kepala kemudian melepas ikatannya. Dia memakaikan bandana, sedetik kemudian dilepas kembali karna terlihat kekanakan. Dijepitnya poni kebelakang, dilepas kembali karna terlihat terlalu dewasa. Yoona benar-benar bingung menata rambutnya,tetapi lebih bingung lagi terhadap dirinya sendiri yang bersikap terlalu excited. Ini pertama kali ia mendapati dirinya begitu memperhatikan penampilan. Mulai dari baju, sepatu, tas hingga sekarang rambut.
Hari ini Chanyeol mengajaknya bertemu di tempat pertama kali mereka bertemu- Sungai Han. Yoona tau ini hanya pertemuan biasa yang membahas tentang kerja sama mereka. Tapi tetap saja ini pertama kalinya ia jalan berdua dengan laki-laki yang notabene ‘pacar 10 harinya’. Ah, mengingat fakta itu membuat Yoona semakin gelisah. Setelah mencoba berbagai gaya Yoona memutuskan untuk menggerai rambut coklat panjangnya, ditambah jepitan pink mungil disebelah kiri. She’s ready to go..
Sebenarnya Chanyeol sudah menawarkan diri untuk menjemput ke rumahnya. Tapi Yoona menolak. Dia kan malu diledekin para pelayan dan supirnya, karna selama ini tidak ada laki-laki datang menjemput kerumah.
Sepanjang perjalanan Yoona terus tersenyum, sesekali memegang dadanya yang deg degan. Supirnya dari tadi melirik dari spion. Tidak biasa melihat Yoona seperti ini.
“Nona Yoona sepertinya gembira sekali.”
“Eh?” Yoona agak terkejut mendengarnya. Ternyata sikapnya kentara sekali, bagaimana nanti jika dihadapan Chanyeol? Aduhh..
“Ya seneng lah Pak, jarang-jarang kan Yoona ketemu sama teman begini? Teman Yoona kan cuma bapak.” bukan jarang, tidak pernah malahan.
“Bapak ikut senang liat nona cerita begitu.”

Setelah dua puluh menit berlalu, Yoona sampai di tempat tujuan. Mata Yoona bergerak-gerak mencari Chanyeol. Di kursi kayu tidak ada, di dekat sungai juga tidak. Ketika ia hendak menghubungi Chanyeol, Yoona melihat sosok jangkung itu duduk dibawah pohon dengan kaki lurus ke depan.
Yoona menarik napas kemudian dihembuskanya perlahan-lahan, mencoba mengatur detak jantungnya yang tiga kali lebih cepat dari biasanya. “It’s okay Yoona, it will be fine. Huufftt.” Setelah meyakinkan diri, dia melangkan ke arah Chanyeol.
“Hai.”
“Oh hai Yoong.” Chanyeol tersenyum lebar.
“Aku mencarimu kemana-mana, ternyata disini.”
“Kan sudah kubilang bertemu di tempat pertama kita ketemu, dan disinilah tempatnya. Di bawah pohon ini, tempat kau pingsan dulu.” Yoona mengangguk sambil memegang erat tas selempangnya.
“Ayo duduk.” Chanyeol menepuk-nepuk rumput disampingnya.
Ah, Yoona mengutuk dirinya yang salah memilih outfit. Dia memakai kemeja pink tua tanpa lengan dan hotpant putih. Dia tidak bisa duduk dirumput dengan celana pendek seperti itu, kulitnya yang sensitif langsung gatal-gatal jika bersentuhan langsung dengan rumput. Tapi masa dia menolak? Ahh poor Yoona..
Tapi ternyata Chanyeol menyadari keegganan Yoona. Dia melirik Yoona dari atas kebawah. Yoona terlihat manis dimata Chanyeol. Dia melepas jaketnya dan meletakkannya diatas rumput.
“Duduklah.” Pinta Chanyeol.
“Aku benar-benar merepotkan.” Ucap Yoona setelah mendudukkan diri. Kakinya tetap terasa tidak nyaman diatas jaket Chanyeol.
“Santai aja, aku gak keberatan kok.”
Yoona juga ingin bersikap santai sebenarnya tapi apa daya jantungnya tidak mendukung.
“Jadi apa yang kau inginkan dariku?”
Ah, pemilihan kata yang tidak tepat. Kalimat itu terdengar ambigu. Yoona merutuki dirinya kembali dan benar saja, Chanyeol tertawa disampingnya.
“Hahaha, kata-katamu seperti orang yang sedang disandera penjahat. Hmmm Ceritakan saja apa yang kau mau.”
“Hmm, Kemarin aku melihat pesawat militer yang jatuh itu, secara tidak sengaja aku bertanya kepada pria berpakaian tentara. Aku tidak tau dia hantu. Dia meminta tolong padaku, dan selalu mengikutiku.”
“Jadi apakah dia ada disini?”
Yoona menggeleng. “Sejak kejadian di apartemen mu itu aku tidak melihatnya lagi.”
“Bagaimana dengan hantu-hantu lain?”
“Sebenarnya penglihatanku tidak berfungsi setiap saat, maksudku hanya disaat-saat tertentu saja aku bisa melihat mereka. Ada hantu yang sama sekali tidak seram, wujudnya sama seperti manusia hanya saja tatapan mereka kosong sehingga kadang aku menggangap mereka masih hidup. Tapi aja juga yang benar-benar menyeramkan, buruk rupa. Aku tidak tau mengapa bisa seperti itu, bukankah mereka sama-sama hantu? Tapi sebisa mungkin aku tidak melakukan kontak mata dengan mereka, jika aku melakukannya maka mereka akan menyadari aku bisa melihat mereka dan terus mengikutiku meminta tolong. Aku tidak pernah mengindahkan mereka dan mencoba menganggap mereka tidak ada. Pernah ada hantu yang mengikutiku berbulan-bulan dan karena itu aku sampai dirawat dirumah sakit.” Yoona menjelaskan panjang lebar.
“Jadi apa tidak masalah jika kau berkomunikasi dengan mereka?”
“Aku tidak yakin sih, tapi akan kucoba.” Yoona tersenyum, meyakinkan dirinya sendiri. “Tapi masalahnya beberapa hari ini aku tidak melihat mereka.” Oh apa mungkin ini berhubungan dengan perasaan? Jika aku bahagia aku tidak akan melihat mereka? Ah entahlah.
“Tidak apa, tidak usah memaksakan diri. Ah sebentar ya.” Chanyeol beranjak entah kemana. Dua menit kemudian Yoona dikagetkan oleh deringan bel.
Kring kringgg…
Yoona mendongak dan mendapati Chanyeol diatas sepeda.
“Mau berkeliling?” tanyanya sambil melirik bangku dibelakangnya, mengisyaratkan Yoona untuk naik.
Tanpa pikir panjang, Yoona langsung naik. Dia ingin memegang baju Chanyeol agar tidak jatuh, tapi segan. Akhirnya dia memegang ujung bajunya sendiri.
Chanyeol mulai mengayuh sepeda dengan santai. Mereka mengelilingi Sungai Han sambil mengobrol. Sesekali Chanyeol membuat lelucon dan dibalas Yoona dengan tawa yang kencang.
Tiba-tiba Chanyeol nge-rem mendadak, membuat dada Yoona menghantam punggung didepannya. Chanyeol hampir menambrak seorang anak kecil karena keasikan ngobrol.
“Yaampun, hampir saja.” Yoona menghembuskan nafas lega. “Pelan-pelan saja.” Perintahnya.
“Oke nona, tapi kau tidak akan mati kok kalau cuma jatuh dari sepeda.”
“Eh, siapa bilang? Bagaimana kalau kita jatuh trus kepala kita kena batu dibawah? Bagian tubuh penyebab kematian utama itu otak loh.”
“Haha tapi tidak ada batu disini.”
Yoona melihat jalanan aspal disekelilingnya, sedikit malu tapi tetap mempertahankan argumennya. “Tetap saja kau harus berhati-hati. Aku bisa mati jantungan karena kau rem mendadak. Aku itu orangnya mu.. ahh”
Chanyeol sengaja nge-rem mendadak lagi, untuk menghentikan ocehan Yoona yang membuat gadis itu refleks memeluk punggung Chanyeol.
“Yak! Kau mau membunuhku ya?”
“Mian.” Chanyeol tertawa tanpa suara, dan dengan serigai kecil dia berkata kembali, “Kalau mau selamat jangan lepaskan pelukanmu.”
Perkataan Chanyeol membuat Yoona yang sedari tadi tidak sadar langsung melepaskan back hug nya.
“Oh cari kesempatan ya? Dasar mesum.”
“Ya sudah, yang pasti aku sudah mengingatkan.” Sedetik kemudian Chanyeol mengayuh sepedanya kembali dengan kecepatan tinggi. Menggerakkan stang ke kiri-kanan dengan cepat untuk menghindari orang-orang disekitarnya.
“STOP! HEY STOP! Ini bukan arena balap.” Yoona menutup mata ketakutan. Merasa diacuhkan, Yoona menarik rambut Chanyeol kuat.
“ADUH! Ya yaa sakit .. sakit.. iya iya aku hentikan.”
Chanyeol hanya mengerem ban depan, membuat jidat Yoona berantukan dengan kepala Chanyeol.
“Aw jidatku..”
Yoona meringis, Chanyeol turun dan mencagak sepedanya.
“Gwaenchana?”
“Liat jidatku! Ini semua karenamu.”
“Kan sudah kusuruh pegangan.”
“Kan sudah kusuruh untuk hari-hati.”
Keduanya tertawa. Chanyeol menggeser tangan Yoona yang menutup dahinya sendiri. Dia memegang benjolan di dahi putih itu, membuat si empunya meringis kesakitan.
“Ah, sakit tau.” Yoona menjauhkan diri tapi pria itu menariknya kembali.
“Sebentar.” Chanyeol mendekatkan tubuhnya, menunduk dan meniup pelan jidat Yoona, membuat gadis itu membeku. Orang lain pasti mengira Chanyeol sedang mencium keningnya. Chanyeol tau tindakannya tidak akan menyembuhkan Yoona tapi dia merasa harus melakukan sesuatu.
“Sudah baikan?”
“Hmmm.” Benjolan itu masih berdenyut nyeri tapi masih kalah dibanding denyut jantung Yoona saat ini.
“Iss, gitu aja nangis.”
“Siapa yang nangis?” Yoona menyentuh matanya yang kering.
“Menangis itu bukan hanya ditunjukkan dari air mata aja, tapi dari wajahmu yang kusut itu.”
“Ini bukan nangis namanya tapi marah.”
“Sama aja, paling abis marah bentar lagi nangis.”Chanyeol bersiap mengayuh sepedanya lagi. “Ayo naik.”
Aih, benar-benar tidak ada rasa bersalahnya ini orang. Yoona membuang muka, tidak mengacuhkan Chanyeol.
“Nah kan, tadi marah, sekarang ngambek berani taruhan pasti bentar lagi nangis hahaha.”
Yoona makin menekuk wajahnya, kesal dengan sikap Chanyeol.
“Becanda kok. Jangan marah gitu dong nanti cantiknya hilang.” Tanpa sadar Yoona tersenyum dengan rayuan ringan itu.
“Nah, gitu dong kan cantik kayak bidadari.”
“Emang pernah liat bidadari?”
“Kan bidadarinya didepanku sekarang?”
Yoona memerah. Gombalan gak bermutu sebenarnya tapi tetap saja Yoona malu. Chanyeol sendiri tidak tau mengapa dia bisa menggombal seperti itu. Mungkin karena belajar tidak langsung dari si Playboy Kai.
“Jadi gimana? Mau tidak?”
“Oke tapi kalau aneh-aneh lagi awas, aku masukin ke Sungai.”
“Yang aneh-aneh itu maksudnya yang gimana ya? Jangan masukin ke Sungai lah, nanti populasi orang ganteng berkurang. Masukin aja aku ke hati kamu.” Oke fix Chanyeol mulai gila.
Yoona mencubit pinggang Chanyeol dan memegang kuat ujung baju pria itu. Di depannya Chanyeol tersenyum lebar.
Sepeda mereka berjalan lambat. Angin sore menerbangkan rambut Yoona, membuat gadis itu sedikit mengantuk. Yoona menyandarkan kepalanya pada punggung Chanyeol. Menghirup aroma badan pria itu. Dia tidak pernah merasa senyaman dan sebahagia ini. So, it is just meet up or dating?

Mereka berhenti di pinggir sungai. Chanyeol merentangkan tangannya, membiarkan angin mengeringkan keringat di tubuhnya sementara Yoona memperhatikannya dari samping.
“Menatapku lebih dari 5 detik artinya suka.”
Yoona langsung mendelik dan mengalihkan mata ke pemandangan alam didepannya. Yoona merasa dirinya mulai tidak waras karena merasa lebih suka menatap pria jangkung bermata besar disampingnya dibanding keindahan Sungai Han..
“Oppa..”
Yoona membalikkan kepala mendengar suara teriakan dan mendapati tiga remaja perempuan tak jauh dibelakang mereka. Yoona mengangkat bahu dan ketika berbalik tak sengaja matanya melihat Chanyeol sedang menutup mata, napas nya naik turun dengan tenang, begitu menikmati hembusan angin. Kepala Yoona tidak bisa berpaling dari wajah tampan itu. Untung saja Chanyeol sedang menutup mata sehingga membuat Yoona bebas memandanginya.
“Chanyeol Oppa!”
Kembali terdengar lengkingan dari arah belakang. Merasa dipanggil Chanyeol membalikkan kepala, seketika itu ketiga remaja tadi langsung berteriak histeris. Mereka berlari ke arah Chanyeol membuat Yoona mau tidak mau menggeser posisi sedikit menjauh dan memberi ruang untuk mereka.
“Aku benar benar tidak percaya ini kau! Yaampun ini Chanyeol! Eommaa! Aku ketemu Chanyeol.. yaampun ini pasti mimpi.” Ucap gadis berkaca mata.
“Oppa kami bertiga ini fans mu. Kami punya semua koleksi bukumu. Kami tidak pernah absen saat peluncuran buku atau fansigning mu. Oppa apa kau sering kesini? Kalau iya aku juga akan setiap hati kesini. ” Ucap gadis yang satunya.
“Oppa kenapa kau sangat tampan? Kau harusnya menjadi pemain film atau penyanyi. Oppa kapan karya terbarumu terbit? Kami sudah lama menunggu.”
Mereka mengerubungi Chanyeol, memberi pujian dan melontarkan berbagai pertanyaan yang satupun belum sempat dijawab karena mereka tidak memberi kesempatan Chanyeol berbicara. Yoona melihat takjub orang-orang didepannya. Ia tidak menyangka Chanyeol setenar itu. Entah mengapa Yoona tidak suka melihatnya.
5 menit berlalu dan belum ada tanda-tanda aktivitas didepannya akan berakhir. Tiga remaja itu seolah tidak mau lepas dari ‘Chanyeol-Oppanya’. Yoona kesal karena dari tadi Chanyeol tidak melirik sedikitpun kearahnya, seolah ia tidak ada tapi malah tertawa kepada gadis-gadis itu.
Dasar genit. Merasa dicuekin, Yoona memutuskan pulang.
“CHANYEOL!” teriaknya kencang dan berhasil membuat Chanyeol melihatnya.
“Aku pulang ya.” Chanyeol menaikkan alis, tidak mendengar ucapan Yoona. Gadis itu memberi isyarat dengan tangannya,tersenyum sebentar dan langsung angkat kaki. Chanyeol ingin mengejarnya tapi tidak enak dengan para fansnya.
“Oppa lihat sini.” Salah satu dari mereka mengangkat monopod tinggi-tinggi. Chanyeol mengedipkan sebelah matanya, tangan kanan yang membentuk huruf V diletakan di depannya. Ia memberi pose terbaiknya, karena dia yakin foto ini akan di masukkan ke media sosial.
“Hana.. dul.. set.. cklik.”
Yoona menoleh, berharap Chanyeol mengejarnya tapi yang dia lihat malah membuatnya semakin kesal. Dasar narsis!
*******
Hal pertama yang dilihat Chanyeol ketika membuka pintu apartementnya adalah Kai yang tiduran disofa sambil mengganti-ganti channel tv, kanan kiri dipenuhi sampah makanan.
“Hey kalau hanya menonton tv kan bisa di apartemen mu? Kenapa harus kesini?”
Kai tersentak saat mendengar teriakan dari arah pintu, dia duduk dan mencerca orang yang sudah ditunggunya sedari tadi dengan tidak sabar.
“Bagaimana? Kenapa kau lama pulang? Kau mengantarnya ke rumah ya? Atau kalian makan malam dulu? Kalian tidak canggungkan?”
Chanyeol menarik nafas panjang sebelum bercerita pada Kai.
“Yaampun Chanyeolku sayang! Kenapa kau membiarkan dia pergi sendiri? Dia pasti marah karena dicuekin.”
“Marah? Mungkin saja dia pergi karena tiba-tiba sakit perut? sakit kepala? Atau sakit gigi atau kakinya keseleo atau..”
“Ya ya ya sekalian saja sebutkan segala macam penyakit! Kau benar-benar tidak peka. Kau harus minta maaf jika masih membutuhkannya.”
“Minta maaf ya?” ulang Chanyeol tidak yakin.
“Enggak, minta THR sana!” Kai mulai geram. “ckckck beginilah manusia berumur seperempat abad yang tidak pernah pacaran.”
Hp Kai berdering menandakan pesan masuk. Dia membaca sekilas, menepuk jidatnya dan berdiri.
“Pokoknya kau harus minta maaf, oke? Aku mau pacaran dulu, bye.” Kai mengacak rambut Chanyeol, mengecup puncak kepalanya lalu berlari keluar sambil tertawa kencang.
“MATI KAU KIM JONGIN!”

Dilain tempat, Yoona berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Sudah berjam-jam dia seperti itu, tidak ada niat melakukan apapun. Ia tersenyum memikirkan moment manis tadi sore tapi tak berapa lama ia kembali cemberut. Perasaan apa ini? Apakah begini rasanya galau?
Yoona menutup wajahnya dengan bantal, mencoba menghapus pikiran menyebalkan itu. Hp di sampingnya bergetar. Yoona hampir melompat ketika membaca nama pengirim pesan. Bagaimana tidak? Orang itu yang sudah membuatnya uring-uringan sejak tadi. Yoona memegang dadanya yang berdetak kencang sambil menduga duga apa isi pesan itu. Dia persis seperti anak berumur 13 tahun yang baru mengenal cinta. Setelah menyiapkan hati beberapa menit dia akhirnya memberanikan diri membukanya.
Terima kasih dan maaf untuk hari ini Yoona
I’m really sorry
Yoona mendengus kesal, “Sorry sorry! Emang Super Junior? Ga da tanda baca lagi. Iklas ga sih minta maaf? ” Sungguh, Yoona berharap bukan itu isi pesan Chanyeol. “Apa yang kau harapkan Yoona? Kata-kata cinta?” dia menertawai ucapannya sendiri. “Come on Yoong, You are nothing but friend okay, just friend.” Yoona mengetikkan pesan balasan.
Ok
Hahaha hanya dua huruf, tanpa emot dan tanda baca.

*******
Dua hari berlalu. Tidak ada pertemuan antara mereka. Chanyeol menelepon Yoona setelah gadis itu membalas pesannya kemarin. Suara Chanyeol sangat gugup dan hal itu membuat Yoona tidak bisa berhenti tertawa ditelepon, rasa marahnya hilang seketika dan sejak itu mereka sering berkomunikasi.
“Sudah selesai kuliahnya?” Suara berat itu menemani Yoona berjalan dipelataran kampusnya.
“Barusan saja.”
“Mau ku jemput?”
“Ah tidak usah.”
Mata Yoona mengelilingi tempat parkir, mencari dimana mobilnya. Sebenarnya dia bisa menelepon supirnya tapi dia tidak mau memutuskan sambungan telepon dengan Chanyeol. Tiba-tiba mata Yoona menangkap sosok yang sudah beberapa hari ini tidak mengikutinya sedang menatapnya dari kejauhan. Yoona langsung mengalihkan pandangannya. Ia masih merasa takut.
“Yeoboseyo? Yoong? Kau masih disana?”
Mendengar suara itu membuat Yoona teringat akan kerja samanya. Dia harus berkomunikasi dengan hantu itu, Dia tidak boleh takut, Dia harus tau alasan mengapa hantu itu selalu mengikutinya dan menatapnya seperti itu.
“Chanyeol, aku tunggu di taman belakang dekat tempat parkir.”
Yoona mematikan sambungan dan berjalan pelan. Diam diam dia menoleh kebelakang. Hantu itu masih mengikutinya.
Yoona duduk di bangku kayu, di tempat yang sepi. Dia tidak mau orang mengganggapnya semakin gila karena bicara sendiri.
“Duduklah.”
Yoona mengumpulkan keberanian sekuat tenaga, dia menatap mata hantu yang masih diam disampingnya.
“Aku bicara kepadamu, tuan berpakaian tentara. Duduklah disampingku!”
Bulu kuduk Yoona meremang ketika hantu itu duduk dikanannya. Melihat wajah terbakar hantu itu dari dekat membuatnya pusing. Yoona memijit pelipisnya.
“Yoona gwaenchana?”
Yoona merasa bahunya ditepuk seseorang, Ia mengambil tangan orang itu dan menggenggamnya erat. Dari suaranya Yoona tau itu Chanyeol.
“Kenapa kau selalu mengikutiku?”
Chanyeol mengerutkan kening, Yoona bertanya pada siapa? Chanyeol merasa pertanyaan itu untuknya karena hanya mereka berdua di taman ini,tapi mengapa Yoona tidak melihatnya? Apa Yoona masih marah? Kalau marah mengapa Yoona menggenggam tangannya? Atau jangan-jangan..
“Yoong, kau bicara pada mereka?” Anggukan Yoona membuat Chanyeol membelalakkan mata. Ia tidak tau harus bagaimana jadi dia hanya membalas genggaman tangan Yoona yang bergetar ketakutan.
“Tolong bantu aku.”
Yoona semakin ketakutan ketika hantu itu berbicara, mata mereka bersirobok. Yoona menangkap kesedihan yang begitu dalam di mata itu. Suara hantu itu begitu lembut, selama ini Yoona berpikiran semua tentara itu bersuara tegas dan kuat.
“B-bantu A-pa?”
Hantu itu menunduk dan mulai bercerita….

TBC
Makasih udah baca.. Chapter depan udah ending kog😀

RCL Juseyo \(^o^)/

23 thoughts on “(Freelance) Mutlichapter : The Girl Who Can See Ghost (Chapter 2)

  1. Wah wah,, nice banget nih.. Sweet yah chanyeol sm yoona,semoga aja chanyeol sm yoona nanti jadian.
    tapi kenapa yoona nya dicuekin gitu.. dan
    Akhirnya yoona berani berkomunikasi sm hantunya dan membantu chanyeol
    Ditunggu kelanjutannya thor.. cepet dilanjutin yah thor🙂

  2. Chanyoon moment nya bgus bngttt
    Wkwk, chanyeol gombal nya adeuuh buat aku ngikut ng fly jgak :v
    Pnasaran, apa ya yg mau d critain hntu ny itu? Next ya thor

  3. Oh Yoong kmu yang bsa liat hntu ko aku yang tkut yaa ???
    Tentara itu ngomong apaan Yoong ?? Suaranya lmbut ?? huaaa yang aku tau suara tntara itu kras lohh,
    Ok, dtunggu endingnya !! 3shoOt kan ?
    Fighthing !!

  4. kuprett tbc nyelempit :’D eh udah mau ending ya thor? yaelah ntar kasi squel ya thor/? #maksa’-‘ next chapnya jan lama yaa ntar buluqan aku nunggunya(?)

  5. itu hantu mw cerita apa yach…pny kemampuan ngeliat makhluk halus itu mank ga enak…sering ketakutan…

    chanyoon semoga jadiannya beneran ga cuma 10hr aza…

  6. Wah wah akhirnya dilanjut lagi. Gemess sama chanyoon. Ga sabar juga mau tau itu hantu cerita apa, Kekeke. Btw thor, kayanya lebih bagus pake gaya bahasa yang seperti chapter 1 deh dibanding chapter ini. Tapi chapter ini sukses buat saya senyum senyum😀 oke ditunggu lanjutanya thor, fighting!

  7. Perasaanku aja atw gag,tpi kurasa bahasa yg di pakai sm yg part awal agag beda,dn aku kok pas baca lbh nyaman yg part awal,gag tau deeeh yg part awal bkin penasaran tingkat dewa tpi pas bc part ini dn gaya bhasanya beda jd gag nyaman dn terkesan flat aja.. Maaf yaa??
    Tpi ckp pnasaran sm cerita yg bkal di sampaikn sii hantu..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s