[Freelance] Enamorada (Chapter 2)

enamorada-by-pinkypark

Title       : Enamorada

Author  : PinkyPark

Cast       : Im Yoona & Oh Sehun

Genre   : Romance

Length  : Chaptered

Rating   : PG-17

Silent Readers please go away

.

“Pertama kau akan mengaguminya, lalu perlahan-lahan kau memiliki sejuta alasan untuk melindunginya.”

***

Kering. Tenggorokannya terasa kering, mungkin karena sebelumnya dia belum meminum apapun setelah berlari menuruni tangga sebanyak lima lantai. Yoona menarik tubuhnya untuk bersandar pada pinggiran ranjang. Walaupun sedikit bingung, dirinya tidak perlu waktu cukup lama untuk menyadari dimana dirinya saat ini. Lampu kamar dimatikan, tapi ada cahaya redup dari lampu kecil di samping ranjang. Yoona menyentuh selimut putih bersih yang kini menutupi sebagian tubuhnya, rasanya sangat halus dan menyenangkan. Gadis itu menatap pada sekitarnya, ada lemari putih berukuran besar di sebelah kanan, di sampingnya ada nakas kecil yang di atasnya ditaruh sebatang lilin aromatherapy berwarna ungu. Yoona menggerakkan kakinya untuk menyentuh lantai, itu terbuat dari marmer dan rasanya sedikit dingin. Dirinya berjalan menghampiri tirai besar berwarna merah tua yang kini tertutup seluruhnya, perlahan-lahan tangannya menyentuh tirai itu lalu sedikit mengintip ke arah sana. Dunia masih gelap—walau di bawah sana banyak sekali lampu berkelap-kelip membuktikan Seoul belum tertidur, Yoona menutup tirai itu lagi—dirinya berjalan dua langkah ke hadapan meja rias yang lagi-lagi berwarna putih, tidak ada apa-apa di atas meja itu, tapi yang menjadi perhatian Yoona adalah pada cermin bulat yang kini berada di hadapannya. Yoona menatap sosok disana, masih dengan setelan baju yang sama seperti sebelumnya. Yoona menyadari dirinya tersenyum kecil, Sehun tampaknya menyadari ekspresi Yoona terakhir kali saat bangun dengan keadaan baju yang berbeda—jadi mungkin pria itu tidak akan berani melakukannya lagi.

Yoona berbalik, dia berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Di luar ruangan tidak begitu terang, hanya ada beberapa pencahayaan kecil dari beberapa sudut. Gadis itu melangkahkan kakinya tanpa menyadari rumah siapa yang kini sedang ia jelajahi—ia hanya ingin mencari tahu—juga mencari segelas air.

Gadis itu menatap pada seluruh tembok di dalam ruangan, hampir semuanya penuh dengan lukisan. Yoona tidak begitu mengerti seni, jadi dirinya hanya bisa menyimpulkan bahwa lukisan itu bagus dan mahal. Dua meter jauhnya, ada sedikit cahaya mengintip dari balik pintu. Yoona mendekat tanpa perlu berpikir panjang, pintu tidak tertutup sepenuhnya, dan lampu dari ruangan itu sangat terang—jadi tangan kanannya terangkat untuk mendorong pintu sedikit saja.

Di dalam ruangan, ada sebuah meja kayu berwarna coklat. Jika kamar yang ditiduri sebelumnya bernuansa putih, ruangan ini justru bernuansa coklat. Ada Oh Sehun di balik meja itu, tampak sedang berbicara melalui telepon sambil melihat setumpuk berkas di atas meja. Raut wajah pria itu keras, dia terlihat jauh lebih tua dengan kaca mata menggantung di hidungnya.

Yoona masih ingin mengamati, tapi mata pria itu baru saja memergokinya. Sehun mengatakan sesuatu pada seseorang di ujung telepon lalu menyimpan ponselnya bersama berkas-berkasnya. Pria itu tampak lelah, tapi dia membuka kaca matanya dan tersenyum.

“Masuklah,” ujarnya.

Yoona mendorong pintu lebih lebar, lalu dirinya berjalan mendekat—masih sempat mengamati rak buku raksasa di samping kiri. Sehun mengamati Yoona dalam diam, pria itu melirik singkat pada arloji di tangannya. Ini pukul setengah tiga pagi. Dan dirinya ingin tahu apa yang membuat gadis di hadapannya terbangun dari tidur nyenyaknya.

Yoona menatap pria yang kini duduk di balik meja dengan tenang, gadis itu tersenyum simpul. “Aku bangun di tempat tidurmu lagi,” kata Yoona.

“Itu memang tempat tidurku, tapi bukan tempat tidur yang secara tekhnis aku gunakan.”

“Maksudmu?”

Sehun tersenyum, “ Itu bukan kamarku, hanya salah satu kamar di rumah ini.”

Yoona mengangguk mengerti, dirinya kini merasa memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada Yuri. Kami tidak berbuat apa-apa! Aku tidak bangun di ranjangnya! Itu hanya salah satu ranjang di rumahnya yang besar!

“Ini ruang kerjamu?” Yoona bertanya sambil menyentuh ujung meja kerja Sehun dengan perlahan—tampak takjub dan terpesona.

Pria itu menaikkan kedua bahunya, “Seperti yang kau lihat, aku menghabiskan waktuku disini.”

Yoona menatap Sehun lagi setelah sebelumnya sibuk menatap lukisan kecil diantara lemari besar di sampingnya, “Apa kau selalu bangun seperti ini? Kau tidak tidur?”

Oh Sehun menemukan senyumannya lagi, pria itu tertawa pelan. “Tentu saja aku tidur, aku melakukan ini untuk hal-hal tertentu saja. Kau tahu, masalah perusahaan.”

“Kalau begitu aku mengganggumu,” gumam Yoona. kepalanya tertunduk menatap jari-jari kurusnya di atas meja kerja Sehun.

“Tentu tidak, aku senang melihatmu baik-baik saja. Dan sebenarnya kau bisa duduk di kursi Yoona, aku kasihan melihatmu berdiri seperti itu.”

Yoona menunjukkan gigi-giginya yang rapi seraya duduk di kursi kayu yang mengarah langsung pada Sehun, gadis itu tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Terlebih karena Oh Sehun kini terus menatapnya, dan masalahnya adalah dia terlihat tampan. Sangat!

“Jadi apa yang kau lakukan hm?”

Suara pria itu membuat Yoona berhenti melihat kesekeliling, gadis itu menggaruk tengkuknya dengan kikuk. “Aku mencari minum, dan tidak sengaja melihatmu tadi.”

“Mau ku ambilkan minum?”

“Aku bisa melakukannya sendiri, terimakasih.”

“Baiklah, nanti aku akan menyusul.”

“Apa?” Yoona bertanya bingung. Sehun mengerti kerutan samar di dahi gadis itu, dia terkekeh lagi.

Katanya,“Nanti aku akan menemuimu setelah pekerjaanku selesai, kau perlu menjelaskan banyak hal padaku.”

“Oh tentu.” Yoona bangkit dari duduknya, lalu menatap Sehun singkat sebelum dirinya berbalik dan menutup pintu dengan perlahan.

Gadis itu baru saja menghabiskan segelas air mineral, dan dirinya kini berjalan ke arah sofa besar yang menghadap dinding kaca. Rasanya menakjubkan karena tirai tidak ditutup dan pemandangan di luar benar-benar luar biasa. Yoona mendaratkan tubuhnya di atas sofa, untuk sesaat merasa terlampau nyaman karena tidak ada yang terjadi. Suasana begitu sepi, dan ada dinding kaca raksasa layaknya televisi yang kini menampilkan pemandangan Seoul dari atas. Yoona meringkuk, menarik kakinya lalu memeluk dirinya sendiri seperti seorang anak kecil. Gadis itu menatap lampu-lampu pijar dari rumah penduduk, juga lampu-lampu dari kendaraan yang bergerak-gerak seakan-akan membuat semuanya menjadi begitu hidup.

Yoona tersenyum simpul, ini adalah salah satu tempat paling nyaman selain sofa jelek kakeknya di Busan. Dulu dirinya sangat senang tidur disana, menggunakan sebuah bantal dan selimut hangat buatan neneknya. Lalu melihat anak-anak bermain dari balik jendela kaca yang tirainya dibiarkan terbuka. Dulu saat umurnya Sembilan tahun Yoona tinggal bersama kakek neneknya sementara ayah dan ibunya menetap di California. Lalu saat Yoona lima belas tahun, orang tuanya kembali dan Yoona tinggal bersama mereka—meninggalkan kakek neneknya di Busan hingga mereka meninggal dunia. Dulu saat umurnya tujuh belas Yoona pernah meminta ayah ibunya untuk membawa sofa kakeknya ke Seoul, tapi karena sofa itu sudah jelek dan ibunya tidak ingin ada barang jelek di rumahnya, sofa itu dipindahkan entah kemana, dan Yoona mogok bicara selama delapan hari.

Yoona tersenyum lebar mengingat masa-masa itu, ini sudah terbilang cukup lama dirinya tidak menyelam ke masa lalu. Hari-harinya biasa dipenuhi dengan pikiran yang mumet dan perasaan yang penat, dan untuk saat ini—dirinya merasa tenang, merasa hidup.

“Kau tersenyum.”

Suara itu tidak membuat Yoona terlonjak kaget, tapi matanya mengikuti sosok tampan yang kini berjalan melewatinya dan duduk di sampingnya—dengan dua cangkir teh yang masih mengepul. Oh Sehun menyeruput tehnya, pria itu menarik nafas panjang lalu menoleh menatap Yoona yang kini terdiam kikuk sambil menatapnya.

“Terimakasih tehnya,” ucap Yoona pelan. Dia membetulkan posisi duduknya lalu mulai meminum sedikit tehnya. “Ini enak.”

“Kau suka teh?”

Yoona menatap cangkir yang dipegangnya sebentar lalu balas menatap Oh Sehun yang masih memperhatikannya, “Aku suka, tapi tidak seperti aku menyukai kopi.”

“Kopi apa yang kau sukai?”

Gadis itu menjawab tanpa berpikir, “Americano, klasik ya?”

“Tidak juga. Kebanyakan hanya meminumnya, tidak menjadikannya daftar favorit.”

Yoona tersenyum sopan, dia menatap Sehun dengan mata memicing, “Kau suka kopi?”

“Aku suka, tapi tidak seperti aku menyukai teh.”

Gadis itu tertawa mendengar jawaban yang baru saja dilontarkan Sehun, dia menyeruput teh nya lagi. “Lain kali akan kutraktir kau minum teh.”

“Lain kali?”

“Ayahku mencintai teh, kau bisa minum teh bersama kami.”

Sehun terkesima untuk sesaat, Yoona awalnya bingung—tapi dia baru saja sadar bahwa ucapannya sangat tidak masuk akal untuk ukuran orang yang baru saja saling mengenal. Lagipula untuk apa pria itu minum teh bersama ayahnya?

Gadis itu enggan berkata lebih lanjut, tidak menyadari senyuman kecil yang terlukis di wajah pria yang kini duduk di sampingnya. Sehun berdeham sambil menaruh cangkirnya di atas meja. Pria itu menyilangkan kakinya dan menatap Yoona yang kini tengah salah tingkah.

“Baiklah, sudah cukup memasang wajah kikuk seperti itu. sekarang kau bisa menjelaskan semuanya padaku?”

Yoona melirik Sehun sebentar, gadis itu mengangguk sembari menaruh cangkirnya di samping cangkir Sehun. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai ceritanya.

“Tunggu, bodyguardmu? Apakah dia bertemu—”

“Ya, Joe melihatnya tadi malam. Dia berdiri di ambang pintu lalu berlari saat Joe mendekatinya. Dan dia adalah—Kris ?”

Yoona merasa ngeri membayangkan Kris yang berdiri di ambang pintu saat dirinya tersungkur di lantai, pria itu mungkin sudah gila—dan Yoona tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. “Ya, dia berdiri di depan apartemenku. Dua hari yang lalu aku dan Yuri mengganti password apartemen kami, mungkin itu sebabnya dia tidak bisa masuk dan menungguku disana.”

Suara Yoona sangat pelan, Sehun tahu dia ketakutan—pria itu tersenyum menenangkan, “Lalu apa yang terjadi?”

“Saat dia melihatku dia segera menghampiriku dan dia mabuk. Kris tidak pernah seperti itu, tapi tadi malam dia membuatku takut sekali. Dan dia memiliki pistol, aku tidak tahu bagaimana dia mendapatkannya. Dia hanya seorang photographer.”

Sehun mengangguk pelan, dia mengamati raut wajah Yoona yang menegang, pria itu tersenyum lagi. Katanya, “Tidak apa Yoona, kau aman disini—kau aman bersamaku.”

Apa yang baru saja dikatakan pria itu hanya kata-kata biasa, tapi rasanya seperti separuh beban di pundak gadis itu terangkat begitu saja. Yoona tersenyum kecil.

“Dia seperti itu mungkin karena malam itu aku memutuskan hubungan dengannya.”

“Bisa kau beritahu aku alasannya?”

Yoona menggigit bibirnya, gadis itu ragu sejenak—tapi menatap Sehun membuat semuanya menjadi hilang. “Aku mencintainya, kami berpacaran selama dua tahun. Kris adalah pria yang baik selama ini, dia seorang pria yang luar biasa.”

“Tapi suatu malam dia meminta sesuatu yang lebih, selama dua tahun ini kami tidak lebih dari sekedar berciuman. Tapi dia menyerangku—dia memaksaku walau aku mati-matian menolaknya,” suara Yoona tercekat saat dirinya mengingat kejadian malam itu. Dia menunduk saat air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, “Aku tidak bermaksud menolaknya, aku sudah meyakinkan diriku berulang kali bahwa aku akan melakukannya dengan Kris, tapi setiap kali itu akan terjadi—aku selalu merasa bahwa itu tidak tepat. Dia—dia bukan orangnya, aku tidak menemukan sesuatu yang membuatku yakin untuk melakukannya bersama Kris. ”

“Yoona tenanglah.” Sehun berkata saat Yoona mulai terisak, pria itu menyentuh pundaknya pelan, membuat Yoona mengangkat kepalanya dan sebuah senyuman sedih terpatri disana.

“Sejak malam itu, dia berubah—hampir setiap hari kami berdebat dan dia tidak sejalan lagi denganku. Dan dia mulai berkencan dengan model-modelnya, itu menjijikan. Terakhir kali aku menemuinya di studio, tapi yang aku temukan hanya dirinya dengan alcohol dan rokok juga jalang yang tertawa seperti iblis. Aku terkejut tentu saja, tapi yang membuatku lebih terkejut adalah—bahwa aku merasakan diriku baik-baik saja, seperti kami hanya akan berakhir dan aku akan melangkah ke depan.”

Sehun mengangguk paham, pria itu menatap Yoona dengan lembut. Suaranya yang rendah mengalun indah saat satu bulir air mata menetes dari pelupuk Yoona. “Kau tahu Yoona, Kris tidak cukup mencintaimu. Aku pria dan aku mengerti betul akan hal itu. Cinta dan hasrat memang berada di satu garis lurus, tapi keduanya benar-benar berbeda arah. ”

***

Yuri menghambur ke pelukan Yoona saat gadis itu baru saja tiba. Yoona tidak menangis, tapi Yuri bersikap berlebihan seperti biasa. Gadis itu meracau tidak jelas dan mengatakan banyak sekali umpatan sementara Yoona tersedak dalam pelukannya.

“Baiklah lepaskan aku dulu.” Yoona berusaha melepaskan diri dan Yuri segera menatapnya dengan khawatir.

“Apa yang terjadi Yoon? Kau baik-baik saja? Apa maksdumu dengan sesuatu terjadi?”

Yoona memutar bola matanya, dia berbalik dan menemukan Sehun berdiri di sana,di belakangnya. Pria itu tampak tampan seperti biasa, menggunakan kemeja berwarna hitam dan celana jeans bagus yang sangat pas dengan tubuhnya. Yoona tersenyum kecil. “Masuklah.”

Yuri baru menyadari bahwa Yoona tidak datang sendirian, ada pria tampan yang kini mengikutinya dan duduk di atas sofa. Yuri berjalan menghampiri mereka—duduk di hadapan Oh Sehun yang kini berdampingan denga Yoona.

Mata Yuri meminta penjelasan, Yoona mengerti dan dia berkata, “Oh Sehun –ssi, ini temanku Yuri. Yuri, ini Oh Sehun.”

Sehun menatap Yuri dan tersenyum sopan, kendati seperti itu Yuri tidak menemukan alasan untuk tersenyum. Gadis itu menyilangkan tangan di depan dada dan menatap keduanya dengan tajam. “Jadi, apa yang terjadi?”

Yoona menyandarkan tubuhnya ke sofa, dia berpikir sejenak lalu mulai bersuara. “Semalam Kris mabuk dan menggangguku, beruntung ada Oh Sehun saat itu, jadi aku baik-baik saja.”

“Bajingan itu datang kesini?”

Oh Sehun mengernyit saat mendengar Yuri bersuara kesal, untuk menghilangkan salah paham—Yuri menambahkan, “Maksudku, Kris datang kesini?”

Yoona menjawabnya dengan anggukan pelan, dia tahu Yuri tidak akan bertanya lebih untuk saat Ini. Mungkin dia akan melemparinya dengan segudang pertanyaan saat Sehun sudah tidak ada disini. Gadis cantik berambut pirang itu tampak menilai untuk sesaat, dia menatap Sehun dengan tajam. “Tapi bagaimana kau bisa ada disini Tuan?”

Semua orang tahu bahwa nada bicara yang digunakan Yuri adalah nada bicara seorang wanita saat tidak menyukai sesuatu,tapi Sehun masih memaksakan senyuman di wajahnya. Dia menjawab, “Aku mengantar Yoona pulang, saat itu kebetulan aku mendapat telepon dari client –ku , jadi kami belum beranjak dari tempat parkir. Tepat saat kami akan pergi, aku menemukan Yoona dan membawanya ke rumahku.”

Jawaban itu sudah menjelaskan semuanya, Yuri mengangguk paham dan mengerti inti permasalahannya. Dia menatap Yoona yang kini memelototinya, gadis itu memasang wajah kusut dan meminta Yuri menghentikkan interogasinya segera. Dengan segala hormat, Yuri tersenyum kepada Sehun untuk pertama kalinya. Walaupun itu bukanlah senyuman terbaiknya.

“Aku ucapkan terimakasih atas bantuanmu Tuan, kukira sekarang semuanya sudah selesai?”

Sehun bingung untuk sesaat, dia menoleh menatap Yoona yang kini juga menatapnya. Yoona berkata, “Kau pasti sangat sibuk, aku baik-baik saja disini. Terimakasih untuk segalanya.”

Itu adalah usiran halus dari dua gadis cantik di ruangan ini, tidak ingin memperumit suasana. Oh Sehun tersenyum dan mengangguk paham. “Baiklah, aku akan pergi kerja. Hubungi aku jika terjadi sesuatu.”

Yoona balas tersenyum, dirinya sempat bertemu pandang dengan Yuri yang kini tengah memasang wajah berpikir. Gadis itu mengantar Sehun hingga pintu, dia melambaikan tangan dengan asal sambil tersenyum kecil. “Maaf sudah merepotkanmu,” ucapnya.

Sehun selalu memiliki senyuman sopan di wajahnya, dia mengangguk saat menatap ekspresi Yoona yang tampak lelah. “Jaga dirimu baik-baik.”

Pria itu berbalik dan pintu ditutup. Yoona menarik nafas panjang dan menemukan Yuri saat dirinya membalikkan badan. Yuri menatapnya dengan tajam, kedua tangan disilangkan di depan dada. Dan Yoona tahu ekspresi apa itu.

“Kau bahkan tidak menawarinya minum Yul!” Yoona bergumam seraya berjalan melewati Yuri dan langsung diikuti olehya.

“Bagaimana kau bisa bertemu dengannya lagi?”

Yoona mendesah, dia duduk di atas sofa lagi lalu bersandar dengan nyaman. “Kupikir dia sudah menjelaskannya tadi.”

“Kau tahu Yoon, itu tidak masuk akal! Bagaimana bisa kalian pulang bersama?”

“Dia tidak sengaja bertemu denganku Yul.”

Yuri sudah bersila di sampingnya, gadis itu masih menekuk wajahnya. “Kau tahu Yoon, dia itu orang sibuk! Kau pikir kau akan dengan mudah menemuinya?”

“Aku tidak menemuinya,” jawab Yoona dengan mata yang masih terpejam. Yuri mencengkram kedua bahunya—membuat kedua mata Yoona terbuka. “Apa lagi?”

“Mungkin yang orang katakan ada benarnya. Saat pria menyukai seorang wanita, semua orang akan tahu kecuali wanita itu. ”

Mata Yoona melebar, “Apa maksudmu?”

“Pakai otak cerdasmu itu! jawabannya hanya ada dua, dia kurang kerjaan atau dia menyukaimu!”

***

Yoona meminum seteguk jus jeruk yang baru saja dituangkan wanita paruh baya berparas cantik. Di sampingnya, sang ayah hanya duduk diam membaca berita terbaru tentang team baseball favoritnya. Waktu menunjukkan pukul Sembilan pagi, dan karena ini akhir pekan—Yoona tidak repot-repot untuk pergi mandi. Gadis itu mengamati ibunya yang mondar-mandir menyiapkan sarapan, kemarin dirinya memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya, selain karena akhir pekan—sudah lama juga dirinya tidak bertemu dengan mereka.

“Ibu? Apa kau ada acara hari ini?”

Sang Ibu menoleh sebentar, lalu kembali sibuk dengan telur dadar di atas penggorengan, dia menjawab, “Tidak ada, ayahmu akan menonton baseball. Tapi aku lebih memilih untuk diam di rumah.”

Yoona tersenyum, “Kau mau keluar bersamaku hari ini?”

Ibunya membalikkan badan, ada kerutan lelah di wajahnya, tapi wanita itu tersenyum lebar. “Tentu saja sayang, kau ingin kita pergi kemana?”

“Aku akan membeli beberapa buku.” Yoona meneguk lagi jus jeruknya, untuk rentang waktu satu detik menatap ayahnya yang tampak tidak tertarik untuk ikut masuk ke dalam pembicaraan.

“Kau selalu membosankan seperti itu, kapan terakhir kali kau membeli baju? Kenapa kau hanya membeli buku?”

Yoona memperhatikkan sejenak saat ibunya menaruh beberapa hidangan di atas meja, dia tersenyum lagi. “Aku hanya menyukainya, aku tidak berpikir pakaian akan membuatku bahagia.”

Sang Ibu selesai menata meja dan duduk di kursinya, dia menatap Yoona dengan tajam. “Setidaknya pakaian akan membuat kekasihmu bahagia. Aku kasihan pada Kris karena berpacaran dengan gadis sepertimu, sesekali kau harus tampil cantik di hadapannya! Pakai beberapa dress dan berdandan sedikit!”

Yoona tertegun mendengar perkataan ibunya, dia menunduk dan menatap nasinya dalam diam. Sang ayah menyadari sesuatu yang salah, dia melipat Koran lalu mulai memegang sumpitnya.

“Jangan berkata seperti itu kepada anakmu! Jika pria itu mencintainya, dia akan menerima apapun tentangnya.”

Yoona semakin menunduk, dia merasakan panas di pipinya. Gadis itu tidak bisa menahan tangisannya, jadi saat itu mulai terdengar isakan kecil. Untuk sesaat ayah ibunya tidak menyadari, tapi isakan itu semakin deras, sang Ibu menghentikkan makannya. Dia merangkul Yoona dalam dekapannya. “Ya Tuhan, apa yang terjadi?” suara ibu terdengar khawatir, tangannya mengusap punggung Yoona yang bergetar.

Yoona menangis dalam pelukan ibunya, sementara Sang Ayah menghentikkan makannya dan berlalu pergi. Terkadang, ada sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh sesama wanita saja. Pelukan seorang ibu mungkin memang yang terbaik, Yoona merasa gelisah belakangan ini—dan dia sadar, yang dibutuhkannya hanyalah sebuah pelukan dari ibunya. Seorang ibu yang akan mengerti seperti apapun keadaan anaknya.

“Kau baik-baik saja?” suara ibu selalu paling lembut, menatap anaknya yang masih berkaca-kaca dengan khawatir.

Yoona menggeleng, hanya kepada ibunya dia tidak bisa berbohong. Sementara tangisannya mulai mereda, Yoona menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. “Kami berpisah.” Jawaban itu cukup menjelaskan semuanya, sang ibu memeluk lagi anaknya dengan hangat. Yoona terdiam untuk beberapa saat, “Aku kira masalahnya ada pada Kris. Tapi aku sadar bahwa masalahnya juga ada padaku.”

Wanita paruh baya itu menatap wajah sendu anaknya, ada satu bulir air mata di pipinya. Sang ibu menghapusnya segera, “Dan kenapa kau berpikir seperti itu?”

“Kau tahu ibu, aku tidak akan pergi jika tidak harus. Tidak akan dan tidak ingin. Tapi malam itu, semua kepercayaanku padanya hilang. Selain marah dan kecewa, aku tidak merasakan apapun. Mungkin sejak malam itu aku sudah kehilangan perasaanku padanya.”

“Apa yang dia lakukan sampai membuatmu menjadi seperti itu?”

Yoona menggeleng lemah, dia tidak ingin menjelaskan detailnya, tapi gadis itu bisa merasakan bahwa ibunya butuh tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Kris mencari sesuatu dari wanita lain yang tidak bisa dia temukan dari diriku.”

Sang Ibu membuka matanya dengan lebar, wanita itu terkejut—tapi menatap anaknya yang tampak sedih, hanya sebuah elusan sayang yang bisa dia berikan. “Sayang, kau ingat perkataanku? Yang mencintaimu akan melindungimu. Yang tidak cukup mencintaimu, akan tidak cukup melindungimu.”

Yoona menatap mata ibunya dengan berkaca, dirinya menangis lagi. Seseorang pernah mengatakan itu sebelumnya, dan mendengar apa yang baru saja dikatakan ibunya. Yoona tahu akan satu hal, pria itu—dia tidak berbohong dengan kata-katanya.

“Kau tahu Yoona, Kris tidak cukup mencintaimu…”

***

Rambut kecoklatan yang dimiliki Yoona berkibar saat angin sore menerpa dirinya. Hari ini dia memakai dress bermotif bunga-bunga hasil pilihan ibunya saat berbelanja akhir pekan kemarin, walaupun itu bukanlah gayanya—sang ibu tadi pagi menelepon dan memastikan jika dirinya memakai baju itu. jadi tidak ada pilihan lain selain menurutinya.

Ini pukul empat sore dan dirinya berdiri sendiri di depan halteu bis yang kosong. Yoona memperhatikan sekelilingnya, ada beberapa orang berjalan di trotoar, sebagian lagi hanya duduk diam di beberapa bangku. Hari ini pekerjaannya cukup membosankan, tapi juga melegakan karena hal itu tidak membuatnya harus bekerja lembur seperti bulan-bulan sebelumnya. Yoona bekerja untuk sebuah majalah, bukan majalah fashion besar seperti Vogue ataupun semacamnya. Hanya majalah lokal yang hampir setiap rubriknya berisi informasi tentang perkembangan industry entertainment di Korea. Bukan pekerjaan yang diperebutkan oleh banyak orang memang, tapi Yoona—menikmatinya dan menjalaninya begitu saja.

“Bagaimana harimu?”

Suara itu tidak asing, Im Yoona menoleh dan menemukan seorang pria tengah tersenyum kepadanya. Dia memakai setelan jas seperti biasa, selalu terlihat begitu rapi dan ekslusif. Pria itu melangkahkan sepatunya untuk mendekat, mengamati Yoona yang masih menatapnya entah dengan terkejut atau bingung.

“Ada apa dengan eskpresi itu?” tanyanya lagi.

Yoona mengerjap, dia memiringkan kepalanya sedikit tampak berpikir untuk sejenak. Gadis cantik itu tidak mungkin untuk tidak membalas senyuman tampan dari si pria, jadi detik selanjutnya dia tersenyum dengan manis. “Kita bertemu lagi Oh Sehun –ssi?”

“Panggil saja aku Sehun, tolong.”

Yoona mengangkat kedua bahunya dengan santai, “Baiklah, mm—Sehun ?”

Oh Sehun terkekeh, terlihat jauh lebih muda dengan seperti itu. “Begitu lebih baik.”

“Tapi apa yang kau lakukan disini?”

Pria itu menggigit bibir bawahnya, menatap Yoona dengan jahil. “Kukira kita ditakdirkan untuk bertemu lagi, aku baru saja bertemu client di dekat sini.”

Yoona agaknya begitu terbuai dengan perkataan yang baru saja dilontarkan pria itu. tapi dia ingat, semalam Yuri menunjukkan padanya foto-foto model dan wanita cantik nan sexy yang dulu pernah mengisi kehidupan pria di hadapannya. Yoona sedikit bingung tentang mengapa pria itu menatapnya dan tersenyum kepadanya seperti itu, dan walaupun Yuri sudah mengatakan beribu kali bahwa Oh Sehun menyukai dirinya—bagi Yoona akan menjadi begitu gegabah untuk mempercayainya. Mengingat foto-foto yang dilihatnya semalam adalah foto dari wanita yang bukan main cantiknya.

“Kau begitu bersinar dengan gaun itu,” Sehun berkata lagi saat Yoona tidak mencoba untuk membangun percakapan lebih jauh. Alih-alih menemukan senyuman di wajah gadis itu, yang Sehun temukan hanya tatapan bingung dan kosong. “Yoona?”

“A –apa ?”

“Kau kenapa?”

“Kupikir seharusnya kau sibuk, dan aku harus pergi.”

Memang bukan sebuah drama, tapi kata-kata itu mengalir saat sebuah bis tiba di halte. Yoona sedikit membungkuk dan pergi meninggalkan Sehun. Pria itu merenggut saat menyadari garis batas yang baru saja gadis itu buat. Tidak ingin kehilangan penjelasan, kakinya melangkah begitu saja.

Dan disanalah dia. Di dalam sebuah bis dengan banyak orang yang menatapnya. Memang banyak yang memakai jas,tapi hanya Sehunlah yang terlihat begitu bersinar. Yoona yang baru saja mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi hanya bengong tak percaya. Itu sangat aneh melihat pria tampan dan kaya berdiri di dalam bis dengan tatapan bingung.

Mengingat cukup banyak hutang budi yang dirinya miliki, Yoona berjalan ke depan dan menunjukkan kartunya kepada sensor. “Untuk dua orang,” ucapnya, dia menatap Sehun yang kini masih kebingungan, “Sekarang kau bisa duduk.”

Yoona berjalan lagi ke kursi yang didudukinya sebelumnya, Sehun mengikuti dan mendapatkan tempat di belakang gadis itu. beberapa orang masih menatap mereka—lebih tepatnya menatap Sehun yang kini tampak seperti berlian di antara setumpuk pasir.

Yoona menoleh untuk menatap pria itu, dan tatapan mereka bertemu. “Apa yang kau lakukan?”

“Naik bis.”

“Tapi kau tidak punya kartu!”

“Tapi kau punya.”

Yoona menghela nafas, “Sekarang kau akan kemana?”

“Kau akan kemana?”

“Tentu saja pulang! Rumahmu berbeda arah dengan rumahku,” suara Yoona tampak sedikit kesal, tapi yang Sehun dengar justru membuat dirinya tersenyum.

“Aku akan turun di halte yang sama denganmu, Joe akan sampai disana.”

Setelah itu Yoona hanya memperhatikkan pria itu memerintah di teleponnya. Pria yang duduk di belakangnya—yang ditatapnya dengan heran itu kini masih berbicara dengan bahasa formal yang berwibawa. Sedikit tidak cocok dengan wajahnya yang tampak begitu muda, juga senyumannya yang terkadang seperti anak kecil. Yoona masih memperhatikkan dan sangat tidak sadar bahwa dirinya kini masih menatap pria itu dalam diam, menunggunya selesai bicara—seperti saat ini.

Oh Sehun memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Pria itu bertemu pandang lagi dengan Yoona lalu menatapnya bingung. “Ada apa?”

“T –tidak,” jawabnya, dengan gerakan membalikkan wajah yang begitu secepat kilat.

Sehun menatap gadis di depannya dalam diam, tidak tahu betul bahwa dirinya kini masih menjadi pusat perhatian.

Dua puluh menit berlalu dan Yoona baru saja berdiri dan turun dari bis—tentu saja diikuti oleh Sehun yang masih membuntutinya dari belakang. Yoona hendak melangkah lagi tapi dia teringat bahwa seorang pria masih berdiri di belakangnya. Dia berbalik, menatap Sehun dengan heran. “Sebenarnya apa yang kau lakukan?”

“Hanya ingin menemuimu.”

Yoona menatap Sehun dengan datar, “Kupikir sudah tidak ada lagi alasan untuk bertemu. Aku berterimakasih atas semua bantuanmu dan akan kupastikan aku tidak akan menyusahkanmu lagi.”

Sehun mengernyitkan dahi setelah mendengar perkataan gadis cantik di hadapannya, sebelumnya gadis ini tersenyum, lalu dia menjadi bingung, lalu dia menjadi semakin jauh. Seperti sejak pertama, gadis ini selalu membuat Sehun penasaran. Apa yang dipikirkannya? Apa dia memikirkan aku? Apa dia menyukai gaya rambutku? Apa dia berpikir tentang cuaca yang bagus? Apa dia marah? Apa dia tidak suka dengan lingkungannya? Itu semua hampir Sehun pikirkan sejak dirinya bertemu gadis itu.

Seperti sekarang ini. Yoona yang kini berdiri di hadapannya adalah sebuah tanda tanya besar yang tidak bisa Sehun temukan jawabannya. Seperti sebuah kotak Pandora yang tidak bisa dibuka, seperti anak kecil yang tidak tahu apa keinginannya, seperti Yoona yang tampak cantik apa adanya dirinya.

Pria itu menggeleng pelan saat pikirannya mulai begitu penuh, dia berjalan mendekat—tanpa memperhatikkan seberapa banyak jarak yang sudah dia potong. Yoona hanya berdiri di tempatnya, baru sadar saat kini Sehun sudah begitu dekat dengan dirinya.

“Alasan itu, aku akan membuatnya,” suaranya rendah, dalam dan menyenangkan. Yoona tidak bisa bahkan hanya untuk berkedip, mungkin terdengar hiperbolis, tapi kata-kata itu sempat berterbangan di telinga Yoona lalu melepasan diri ke udara. Yoona kehilangan ekspresinya, gadis itu menatap Sehun dengan keterkejutan yang nyata. Sementara Sehun tersenyum kecil, Yoona mengamati Pria itu yang hendak berbicara lagi. Katanya, “Alasan kita harus bertemu lagi adalah..karena aku menyukaimu.”

***

Yoona sedang berkutat dengan laptop di pangkuannya, sesekali matanya melirik penasaran pada ponsel yang tergeletak di sampingnya. Kemarin Oh Sehun secara mengerikan meneleponnya dan walaupun Yoona sangat terkejut tentang darimana pria itu mendapatkan nomornya, Sehun hanya menjawab santai bahwa tidak ada yang sulit untuk dirinya.

Setelah pengakuan mengejutkan sore kemarin, Yoona mulai merapikan benang kusut yang selama ini selalu Yuri perdebatkan. Pertemuan pertama mereka memang tidak sengaja, tapi Yoona tidak yakin pertemuan selanjutnya adalah sebuah ketidak sengajaan yang lain. Gadis itu mengingat-ingat setiap detailnya, Sehun selalu ada disaat-saat tidak terduga. Oh Sehun adalah seorang pria sibuk, dan pria sibuk memiliki peluang bertemu secara tidak sengaja yang sangat rendah, mengingat pasti hari-hari yang dilalui pria itu adalah kantor dan beberapa tempat pertemuan yang khusus.

Yoona melompat kaget saat nada dering pesannya menarik dirinya ke alam sadarnya. Gadis itu meraih ponselnya dan melihat pesan masuk yang lagi-lagi membuat dirinya melompat kaget.

Apa kau sudah tidur?

Oh Sehun

Yoona melotot untuk memastikan dirinya tidak salah baca, tapi nama itu benar dan tidak ada yang salah dengan matanya. Dengan ragu Yoona hendak mengetik balasan, tapi Yuri menghambur masuk ketakutan dan segera mengunci pintu dengan tangan gemetar.

“Yuri ada apa?” suara Yoona keras, memperhatikan sahabtnya yang berjalan mendekat.

Tangan Yuri bergetar dan gadis itu menghampiri Yoona dengan cepat, “Cepat hubungi seseorang, Kris disini!” Dalam sedetik Yoona kehilangan darah di wajahnya, gadis cantik itu pucat dan tidak bisa berkata apa-apa, menatap Yuri yang kini juga tidak tahu harus berbuat apa. “Yoona apa yang kau lakukan? Dia ada di luar!” desak Yuri, gadis itu menelan air liurnya, “Maksudku bukan di luar apartemen, tapi di luar kamar ini! Dia berhasil masuk.”

Mulut Yoona membuka, gadis itu menatap Yuri dengan membelalak. Dirinya masih belum bisa bereaksi apa-apa, tapi terdengar ketukan tiga kali pada pintu kamar. Mereka berdua menatap pada pintu dalam jangka waktu tiga detik, lalu saling berpandangan dengan gelisah.

“Yoon kumohon, ponselku tertinggal di luar!”

Yoona pucat pasi, dia segera merogoh ponselnya yang tadi sempat terjatuh. Tangannya gemetar, pikirannya berkecamuk dan tidak ada yang bisa dihubungi. Dan …

Apa kau sudah tidur?

Ya, sms itu! walaupun sebelumnya Yoona berpikir aneh-aneh tentang pria itu, walaupun Yoona pikir semua kebetulan diciptakan oleh pria itu sendiri, Yoona menemukan dirinya menekan tombol call dan mendapati Sehun mengangkat telepon pada dering kedua. Suara Yoona tercekat, tidak tahu harus berbicara apa.

Yoona?”

“Tolong.. d –dia disini..” Yoona berbisik, matanya mulai berair karena takut, Yoona bisa merasakan tangannya bergetar hebat.

Sehun tidak langsung menjawab, tapi terdengar kegaduhan untuk sesaat, detik setelahnya suara Sehun kembali terdengar. “Bertahanlah, aku segera tiba.

Yoona menatap Yuri lagi dan memeluknya, mereka sangat ketakutan karena ketukan di pintu semakin nyaring. Satu kali dua kali tiga kali. Sepertinya Kris mulai mendobrak, dan sepertinya juga pintu itu sudah tidak sanggup menahan dorongan dari pria itu.

Yoona melepaskan pelukannya pada Yuri lalu berjalan menghampiri pintu, dia menatap Yuri untuk meminta bantuan. Seakan mengerti, Yuri menghampiri dengan nafas terengah—keduanya menarik meja kerja Yoona ke belakang pintu, berharap benda itu cukup kuat paling tidak sampai Sehun tiba.

“Yoona! Yoona!” Kris berteriak di balik pintu. Apa pria itu mabuk lagi? Dan—apa pria itu membawa pistol lagi?

“Dia sudah gila Yoona! demi tuhan aku tahu dia sedang mabuk!” suara Yuri tercekat, Yoona hampir lupa bahwa ada Yuri bersamanya, gadis itu sedikit lega, mungkin apapun yang terjadi nanti tidak akan seburuk jika dirinya hanya sendirian seperti malam itu. Tapi tentu saja bisa menjadi sangat buruk jika Yuri ikut terlibat dan dia bisa saja terluka.

Kris berulang kali mendobrak pintu, dia sedang mabuk—jadi mungkin tenaganya tidak sekuat saat dia tengah sadar. Setidaknya itu adalah harapan Yoona. tapi kenyataannya, kunci pintu sudah rusak, dan yang tersisa hanya meja yang kini kedua gadis itu tahan.

“Yoona, kau yakin Sehun akan datang?” bisik Yuri, suaranya teredam oleh kegaduhan yang Kris timbulkan. Yoona tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Yuri. Tapi hatinya menjawab, dan gadis itu menganggukan kepalanya dengan yakin.

Sementara keduanya sedang bertahan untuk menjaga meja tetap pada tempatnya, terdengar keributan lain di luar. Tidak ada dobrakan pintu lagi, tapi sesuatu yang lebih ribut terjadi disana. Kedua gadis saling berpandangan, mungkin Sehun sudah tiba, semoga saja.

Semuanya berlangsung begitu cepat, suara-suara ribut mereda, langkah kaki mendekat—membuat Yoona dan Yuri menegang lagi. Pintu menggeser sedikit, tapi tertahan karena masih ada meja yang menghalangi.

“Tidak apa Yoona, ini aku.”

Seperti disiram air dingin, seakan-akan kembali bernafas, suara itu menghilangkan semua ketakutan Yoona selama beberapa menit terakhir. Yoona dan Yuri menggeser meja dengan perlahan, lalu Sehun muncul dari balik pintu. Pria itu tampak tegang, ada guratan khawatir di wajahnya. Dia berkata, “Kau baik-baik saja?”

“Kami baik-baik saja.”

Matanya yang bening menatap Yoona untuk memastikan, tidak lupa mengamati Yuri yang juga baik-baik saja. Pria itu berkata lega, “Syukurlah. Aku sangat khawatir.”

“Apa yang terjadi?” tanya Yuri sembari melangkahkan kakinya keluar kamar, dia tampak begitu terkejut setelahnya. Yoona mengikuti gadis itu dari belakang, dan ekspresi Yuri sebelumnya kini dimiliki oleh wajah Yoona. gadis itu membuka mulutnya dan menutupnya lagi—ingin berkata tapi tidak memiliki kata-kata.

Kris sudah tergeletak di lantai, kedua tangan dan kakinya diikat oleh tali yang Yoona ingat ada di dalam laci di lemari dapurnya, ada Joe yang berdiri kaku di dekatnya dan juga seorang pria lain berpakaian sama—mungkin bodyguard lainnya.

Saat Sehun keluar dari kamar, saat itu juga Joe semerta-merta menghampirinya. Pria itu berkata, “Tuan, kita perlu pergi ke rumah sakit.”

Suara Joe sontak membuat Yoona juga Yuri yang sedang menelepon membalikkan badannya dan menatap Sehun dengan penuh tanya. Sehun melirik singkat pada Yoona, pria itu menggeleng. “Aku baik-baik saja.”

“Anda terluka.”

“Tidak Joe, ini masih bisa kutangani.”

Yoona menghampiri Sehun dengan bingung, “Apa maksudmu?”

“Aku hanya terluka —”

“Ya tuhan! Darah!” jerit Yoona saat darah segar mulai mengalir di dahi pria itu. warnanya begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Gadis itu menatap Yuri yang langsung melemparkan tisu padanya, dengan gesit Yoona menempelkan beberapa lembar tisu di dahi Sehun. “Apa yang terjadi?” tanya Yoona khawatir.

Sehun hanya tersenyum kecil, “Dia memukulku.”

“Dengan botol itu maksudmu?” suara Yuri nyaring terdengar ke seluruh ruangan. Yoona mengikuti arah pandang Yuri pada pecahan botol wine di lantai. Setelahnya, gadis itu menatap Sehun ngeri, menyadari bahwa luka yang dialami pria di hadapannya tidaklah ringan. Suara Yoona serak dan parau. “Kau baik-baik saja?”

***

TBC.

Hei, kaget juga sih aku udah nyelesain chapter ini. Awal-awal sempet kena serangan males, tapi liat komentar kalian aku kayak dapet semangat lagi! Makasih ya untuk kritik sarannya. Salam kenal juga dari aku. Oh iya, untuk yang ingin tahu apa arti enamorada. Enamorada itu bahasa Spanyol, Enamorado;Enamorada kalau bahasa inggris tulisannya Enamoured. Artinya In Love atau bisa juga kayak terpikat gitu. Entah Yoona apa Sehun yang terpikat disini, doakan saja semoga mereka berdua saling terpikat. Karena apa ? karena bukan tentang dikejar atau mengejar, tapi idealnya adalah saling mengejar. Right? Okay sekian dulu dari aku. Jangan lupa comment nya! Aku sayang kalian!

Pinkypark.

143 thoughts on “[Freelance] Enamorada (Chapter 2)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s