BEFORE WE GO

Before We Go

 

Oh Sehun – Im Yoona

Based on Before We Go the movie

BEFORE WE GO

 

*

“Ketika kedua orang yang tidak saling kenal di pertemukan oleh takdir di Kota New York..”

 

The burdens on this chest
The vessel of these words
Sinking under tension
Drew afterthoughts and hurt

Sehun – side

            Aku memainkan saxophone sambil memejamkan mata, berbagai klise hubunganku dengan Yuri seperti film dokumenter yang terputar begitu saja dalam fikiranku. Tidak, aku tidak bisa terjebak dalam kenangan bersama Yuri selamanya, akhirnya aku membuka mata dan mendapati sepasang suami istri yang sudah berusia paruh saling memeluk. Aku tersenyum tipis masih dengan memainkan saxophone-ku.

            “Jaga dirimu Carolline, sampaikan salamku pada Jennie katakan bahwa aku sangat mencintainya” mereka saling melepaskan pelukann, lalu istrinya berjalan meninggalkan pria paruh baya itu yang terus saja melambai. Aku terpaku, hingga tersadar pria paruh baya itu menatapku dan tersenyum sambil mengeluarkan dompetnya mengambil beberapa uang kertas dan meletakkannya di tas-ku (yang memang sudah disediakan olehku) “Setiap orang akan merasakan perpisahan yang begitu sakit nak, hingga lupa bahwa itulah resiko dari sebuah pertemuan”

            Aku tersenyum tipis lalu mengangguk, kemudian pria paruh baya itu berjalan meninggalkanku. Pertemuan dan Perpisahan? Bukankah dibalik sebuah pertemuan selalu ada perpisahan?

*

            Aku memilih beristirahat mendudukan diriku dilantai dingin Grand Central Station, ia aku berada di New York, jauh dari tempat kelahiranku. Tanganku sibuk menyetel suara saxophoneku yang sedikit nyaring tadi, tapi kegiatanku terhenti mengingat pembicaraan dengan Park Chanyeol sahabatku beberapa jam yang lalu.

            Hey kawan, dimana kau?

            Masih di Grand Central, Dia disana?

            Aku memutar kunci saxophone sambil sesekali meniupnya. Sambil sesekali menatap orang-orang yang berlalu lalang disini.

            Dia disini, tapi dia bersama seseorang.

            Dia bersama dengan Xi Luhan. Maafkan aku kawan, kau akan tetap datang?

            Memejamkan mataku, mencoba menetralisir rasa sakit yang perlahan menjalar di ulu hatiku.

            Entahlah Hyung

            Mengacak rambutku lalu menghembuskan nafas gusar.

            Oke baiklah, akan ku kirim alamatnya lewat pesan. Aku berharap kau akan datang Sehun-ah

            Xi Luhan, aku masih ingat jika pria keturunan China itu sudah mengincar Yuri sejak kami duduk dibangku kuliah. Pria itu bahkan rela mengambil mata kuliah tambahan demi mengenal Yuri lebih lagi. Aku menggeleng sambil tertawa, kini dia bisa mendapatkan Yuri dan aku yang kehilangan Yuri. Suasana disini semakin sepi karna waktu juga sudah menunjukkan pukul tengah malam. Lagi- aku memejamkan mataku, mendengar deru langkah pengunjung yang berjalan meninggalkan tempat ini hingga sebuah suara langkah kaki berlari membuatku membuka mata, aku melihat seorang wanita berlari dari kejauhan dengan nafas yang sudah terengah, dia melewati ku hingga tanpa sadar dia menjatuhkan sesuatu dari sakunya.

            “Permisi,” aku mencoba memanggilnya, namun wanita itu terus berlari membuatku mendengus kesal dan mengambil barangnya yang terjatuh ternyata adalah handphonenya. Lalu aku mengikutinya menuju stasiun kereta melihatnya berlari kesana kemari seperti orang bingung.

*

Yoona – Side

            Aku berlari menerobos beberapa orang yang berlalu-lalang. Tak jarang ada yang memakiku bahkan menceramahiku, aku hanya membungkukkan badanku meminta maaf. Grand Central dua blok lagi dari sini, sialnya aku harus terjebak macet hingga sekarang aku disini, memutuskan untuk berlari mengejar keretaku kembali ke Seoul. Ya tuhan, seandainya aku tidak mengiyakan Taeyeon sahabatku agar aku menemaninya ke bar mungkin aku tidak akan terlambat. Aku tersenyum saat melihat Grand Central ada diseberangku, segera aku berlari memasukinya sesekali aku menabrak beberapa orang yang berpapasan denganku. Kulirik arlojiku, oh tidak.

            Drrt drrt aku mengabaikan getaran di sakuku, disini hanya tinggal beberapa orang, tentu saja karna ini sudah tengah malam. Drrt drrt- aku mengambil karcis disaku dan mengambil handphoneku. Aku tidak melihat apa yang ada didepanku hingga membuat kakiku saling tersandung hingga aku menjatuhkan handphoneku. Tidak, tapi aku tidak bisa berhenti aku harus mengejar kereta ku.

            “Permisi,” aku bahkan mengabaikan orang yang berteriak memanggilku, karna jelas hanya ada aku disini. Aku tersenyum lega dan berlari pelan menuruni tangga saat melihat kereta ku masih disana. Tet! Jantungku berdegup kencang saat suara terompet kereta pertanda akan segera berangkat, kereta itu mulai berjalan dan aku nyaris memekik “Tidak, tidak”

            Aku mencoba mengejar kereta itu namun nihil. Semua orang pasti tahu tidak ada yang bisa mengejar kereta, aku melangkah menuju loket karcis namun tulisan Close terpajang didepannya. Nafasku masih terengah, aku bingung. Bagaimana aku bisa pulang?

            Dikarenakan kebijakan keamanan stasiun, stasiun akan ditutup sekarang. Ini akan dibuka kembali pukul 05.30 pagi” Tutup? Astaga tidak, aku harus kembali aku harus mendapatkan keretaku. Aku menghampiri seorang pria paruh baya yang mendorong beberapa peralatan kebersihan dengan rodanya. “Permisi, apa maksudnya dengan dibuka kembali?”

            “Itu artinya kau harus pergi nona” ucap pria paruh baya itu. Ia kembali berjalan, dan aku terus mengikutinya. “Apakah kau mau membeli tiketku? Aku harus membeli tiket di stasiun berikutnya”

            “Maafkan aku nona, tapi stasiun Penn juga tutup. Ini kebijakan baru. Lebih baik kau pergi sekarang dan menaiki bus” ucapnya kemudian pergi meninggalkanku sendirian. Aku mengacak rambutku frustasi, bagaimana aku bisa pulang? Aku membalikkan tubuhku mendapati seorang pria jangkung menatapku dengan tatapan anehnya. Kemudian berjalan menuruni tangga menghampiriku, memberikanku sesuatu –oh tentu saja itu handphoneku yang tadi terjatuh. “Ini sudah rusak, maafkanku”

            “Tidak apa,” aku tersenyum tipis lalu berjalan meninggalkan Grand Central. Meninggalkannya, tubuhku terasa lemas seketika. Hilang sudah kesempatanku kembali Ke Seoul pagi ini.

*

Sehun – Side

            Aku memasukkan saxophoneku kedalam tas. Dan berjalan meninggalkan stasiun, melihat dari kejauhan wanita yang sejak tadi kebingungan mengejar keretanya. Langit sangat gelap saat aku keluar dari Grand Central, aku menoleh ke kanan dan kiri mendapati wanita itu berdiri disana, masih dengan wajah bingungnya. Meski ragu, aku mencoba menghampirinya. “Kau ada masalah nona?”

            “Kau dari Korea?” ah, aku bahkan tidak menyadari wajahnya jika dia berasal dari Korea sama sepertiku. Aku mengangguk sambil tersenyum. “Apa yang terjadi? Kau ada masalah?”

            Ia menatapku sekilas kemudian mengangguk. “Ya, aku harus kembali ke Seoul pagi ini”

            “Kebijakan ini baru ditetapkan kemarin, seluruh stasiun disini akan tutup saat tengah malam” jelasku. Ia mengangguk sepertinya paham, aku mengamati wajahnya lamat-lamat. Kulitnya yang putih matanya yang membulat dan iris madu itu, siapa yang tidak terpesona olehnya?

            “Tunggu, mungkin aku bisa membantu” aku segera menaikan tanganku berharap ada taxi yang berhenti dan menolong wanita itu. Dan benar saja, tidak butuh waktu lama sebuah taxi berhenti dihadapanku. “Ada yang bisa ku bantu?”

            Aku tersenyum logat inggrisku memang tidak seberapa tapi untung aku masih bisa mengimbangi pembicaraan ringan dengan orang-orang disini. “Bisakah kau mengantarnya ke Penn? Dia harus kembali kerumahnya”

            “Maaf Tuan aku tidak bisa” jawab supir taxi itu. Aku mendesah lalu menoleh pada wanita itu yang masih menatap pembicaraan kami –aku dan supir taxi- dengan wajah cemas. “Aku akan membayarmu. Katakan berapa biayanya?”

            “1000 Dollars, dan aku akan mengantarkan wanita itu ketempat yang dia inginkan” 1000 dollar? Astaga aku tidak yakin aku memiliki uang sebanyak itu. Aku kembali menoleh menatap wanita itu dan tersenyum tipis, mengeluarkan dompetku lalu memeriksa isinya. Hanya tinggal 80 dollar. Lalu dengan ragu aku mengambil kartu kreditku. “Tolong di coba”

            Supir taxi itu mengambil Kartu Kreditku lalu mencobanya, ia menggeleng. “Tidak bisa, kartumu ditolak”

            “Aku punya satu lagi” aku memberikan kartuku yang satunya lalu supir taxi itu kembali mencobanya. Supir taxi itu kembali menggeleng, “Sama, mungkin ini sudah kadarluwasa”

            Aku nyaris terhuyung saat wanita itu mendorong tubuhku tidak sabaran. Kemudian ia mencoba membujuk supir taxi itu. “Kau hanya mengantarku ke Monallise Hotell dan aku akan membayarmu disana”

            “Apa jaminannya kau akan membayarku?” tanya supir itu kesal.

            “Aku memiliki seorang teman disana, kumohon kau harus menolongku” pintanya. Aku menatap supir taxi itu, wajah tengilnya mulai terlihat. Ia tersenyum nakal. “Kau bisa membayarku dikamar hotel”

            “Shit!” aku menutup kembali pintu taxi itu dan menyuruh untuk pergi, wanita itu menatapku dengan tatapan tak percaya bercampur kesal.

            “Kenapa kau melakukannya?” pekiknya kesal, aku berbalik menatap bingung padanya. Kenapa dia marah padaku? Jelas supir taxi itu akan melakukan sesuatu jika ia naik ke mobilnya. Dia menatapku tajam. “Kurasa kau tidak bisa membantuku”

            Ia berjalan meninggalkanku sendiri. Aku tertawa pelan, wanita aneh.

*

Yoona –side

            Aku mengumpat kesal, apa-apaan dengan pria itu? Seenaknya saja dia menyuruh taxi itu pergi. Astaga Yoona, ini adalah hari kesialanmu. Semua ini karna Taeyeon dan aku sekarang tidak memiliki apa-apa, handphoneku rusak karna jatuh tadi dan aku kehilangan dompetku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku baru menyadari bahwa aku berjalan melewati jalanan yang begitu sepi, hanya ada beberapa kendaraan. Jantungku berdegup kencang saat melihat segerombolan pemuda yang sedang merusak mobil-mobil dan merusak apapun yang ada dihadapannya.

            Aku menghentikan langkahku, menahan nafas kemudian mengangguk. Kau pasti bisa Yoona, mereka tidak akan melakukan apapun. Terus jalan dan jangan melihatnya. Aku kembali melangkah pelan tanpa mengalihkan perhatian mereka. Tapi sial, salah satunya melihatku dan memberi tahu pada teman-temannya. “Hei, ada wanita cantik disana”

            Aku sekali lagi menahan nafas, mereka berjalan mendekatiku. Jantungku bsemakin berdegup kencang tapi seketika perasaanku berubah menjadi lega saat sebuah lengan tersampir dibahuku dan suara berat itu mendesah ditelingaku membuat bulu kudukku merinding. “Sayang, maaf aku terlambat”

            Aku tersenyum lalu mengangguk dan melewati gerombolan itu. “Ini sudah biasa terjadi, tetap fokus kedepan dan jangan melihat mereka”

            Seperti tersihir aku mengikuti ucapannya membiarkan dia merangkulku dan membawaku pergi dari tempat itu. Kemudian aku merasakan sesuatu yang aneh saat dia melepaskan rangkulannya padaku, kami berhenti di dekat sebuah toko pakaian. “Kau baik-baik saja?”

            Aku mengangguk, aku merasa tidak enak sudah berprasangka buruk padanya. Dia masih menatapku. Membuat aku sedikit salah tingkah, jika diperhatikan pria ini sangat tampan. Tapi mengapa dia bisa keliaran malam-malam begini. “ Maafkan atas sikapku tadi”

            “Aku tahu, semua sering terjadi pada seseorang yang sedang panik” gumamnya. Lalu ia menghela nafas, aku masih menatapnya memperhatikan garis-garis rahangnya yang mengeras membuatnya terlihat lebih cool. “Jadi kau akan kemana? Apakah ingin menginap di hotel?”

            Aku menatapnya tak percaya. Dia ini.. “Excusme?”

            “Ah, bukan untuk kita. Maksudku untukmu” ralatnya. Aku tersenyum melihat wajahnya yang merasa tidak enak padaku. “Aku kehilangan seluruh barang-barangku saat menuju ke stasiun. Sepertinya tertinggal di taxi yang aku tumpangi tadi”

            “Itu buruk, seandainya aku bisa meminjamkanmu uang untuk kembali. Percaya atau tidak sebenarnya pagi tadi kartu ku masih berfungsi. Aku adalah seorang pengamen saxophone di Grand Central penghasilanku tidak seberapa” ucapnya. Jadi, dia adalah seorang musisi. Aku mengangguk paham. “Aku Im Yoona, siapa namamu?”

            “Sehun- Oh Sehun”

*

Sehun – side

            Wanita itu bernama Yoona, ia kini berjalan disampingku lalu sesekali tertawa mendengar leluconku. Aku tidak mengerti banyak wanita yang aku temui begitu anggun dan menjaga sikapnya, tapi wanita ini? Dia bahkan tidak malu tertawa dengan sangat lebar didepan pria asing sepertiku.

            “Kau tau, kurasa lebih baik kau menjadi komedian daripada menjadi musisi” guraunya. Aku tertawa pelan, lalu mengangguk mengiyakan ucapannya. Aku terdiam sejenak, dompetnya hilang di taksi bukan? Kurasa aku tau dimana bisa menemukannya. Yoona menyenggol bahuku saat menyadari perubahan eskpresiku- mungkin-. “Ada apa? Apa wanitamu meminta kau menemuinya?”

            “Dimana terakhir kali kau turun dari taxi­-mu?” tanyaku. Ia menghentikan langkahnya kemudian memejamkan matanya, sepertinya ia sedang berfikir. Kemudian saat kedua mata itu terbuka aku merasakan iris madu itu kembali mengunciku. “Dua blok dari sini, em, aku tidak yakin”

            “Kau ingat plat nomornya?”

            “Ya Tuhan, aku bahkan tidak ingat seperti apa wajah supirnya” jelasnya. Aku terkekeh, dia menggerutu kesal tapi tetap ikut tertawa seperti ku. “Aku tidak begitu yakin, tapi aku tau dimana kau bisa menemukan dompetmu”

            Aku menarik pergelangan tangannya agar dia terus berjalan mengikutiku. Sejauh ini dia hanya diam dan menuruti semua perkataanku hingga akhirnya kami berhenti disebuah sudut lorong gelap, dan aku bisa yakin didalam sana pasti sangat berbahaya. “Disini?”

            “Ya, aku akan kedalam. Disebrang sana ada bar namanya Gravity, kau bisa menungguku disana” ucapku. Dia menoleh dan memandang bar disebrang kami kemudian kembali menoleh padaku. Tatapannya seolah menyelidik. “Tidakkah kita harus menelfon polisi?”

            “Di New York? Kau bercanda” tawaku. Ia masih menatapku dengan tatapan menyelidik. Aku berdehem sembari menghentikan tawaku. “Ini bukan Korea Yoona, Polisi akan datang kamis depan jika kau menelfon mereka”

            “Apa maksudmu?”

            “Tidak, hanya aku akan masuk kedalam kau tidak perlu khawatir. Dan kau menunggu disana” aku kembali menunjuk Bar itu. Ia menghela nafas ragu-aku mengetahuinya- kemudian lagi-lagi ia menatapku kali ini dengan lebih intens. “Apa ciri-ciri dompetmu?”

            “Merah marun, bermerk Prada. Kau yakin akan ke sana? Maksudku. Setelah kau mendapatkan dompetku bukankah kau akan lari?”

            Aku tersenyum. “Tentu saja”

*

Yoona – Side

            Aku menggigit bibir bawahku, Sehun- pria yang menolongku bahkan rela membahayakan dirinya demi menolongku. Aku merogoh saku-ku dan mendapati beberapa koin logam, senyumku mengembang ketika di ujung lorong aku melihat kotak telefon. Aku memasukkan dua koin dan menekan beberapa nomor. Angkat kumohon.

            “Kings Hotel, ada yang bisa dibantu?”

            “Tolong sambungkan ke kamar Tn. Lee Donghae” Aku menunggu beberapa saat sebelum suara serak itu terdengar ditelingaku. “Hallo..”

            Oppa, ini aku”

            “Yoona, apa yang terjadi sayang?”

            “Tidak, hanya saja aku tidak bisa tidur. Aku sangat merindukanmu”

            “Apa kau mendapatkan pesanku?”

            “Apa? Dengar, handphoneku rusak Oppa

            “Oh jadi ini alasan kau menggunakan telefon hotel. Kau baik-baik saja?”

            “Ya, tentu. Kau tahu aku hanya ingin mengatakan aku sangat mencintaimu”

            “Aku juga mencintaimu Yoona, aku akan pulang malam ini. Jadi aku akan tiba sebelum jam 8 dirumah. Jadi kita bisa melewati sarapan pagi bersama” Aku memijat keningku. Pulang?

            “Tidak, bukankah ini masih larut? Oppa, lebih baik kau ikut penerbangan pagi. Maksudku, kau bekerja sangat keras bagaimana jika tidurmu kurang?”

            “Aku akan tidur dipesawat Yoona. Aku tidak ingin disini lebih lama dari seharusnya”

            “Kau serius, maksudku kau tidak harus”

            “Hey Yoona, terlambat. Aku sudah memesan tiketnya. Aku akan segera pulang. I love you”

            Aku menutup telefon, keningku kembali berkedut. Aku harus pulang sebelum dia kembali. Ya Tuhan, jantungku berdegup kencang saat mendengar suara sirine mobil polisi. Dan pikiranku makin kalut saat mengetahui Sehun belum juga kembali. Seseorang harus menolongnya!

*

Sehun – Side

            Aku mengetuk pintu berwarna putih pucat dan sedikit berkarat. Sesekali kuhembuskan nafas berat, seseorang pasti akan menertawakanku saat aku mengatakan bahwa aku rela mempertaruhkan nyawaku hanya demi seorang wanita yang kukenal belum dalam waktu 24 jam. Kriet! Aku memundurkan langkahku saat decitan itu terdengar sedetik kemudian seorang pria bertubuh gempal berkulit hitam menatapku tajam. “Aku Sehun, yang menelfon tadi”

            Pria itu mengangguk kemudian menyuruhku masuk. Kami berjalan melewati sebuah ruangan seperti tempat semua bahan pakaian ada disana, kemudian berhenti disebuah pintu jeruji dan saat aku memasukinya hal yang kulihat pertama kali adalah berbagai tas dan barang mewah yang hilang ada disini. “Jadi apa yang kau cari kawan?”

            Aku menoleh sembari tersenyum dan mencari dompet milik Yoona, “Dompet Prada

            Aku menemukan salah satu dompet dan mendapati foto seorang wanita dengan seorang pria disebelahnya. Ini Yoona, dan.. “Apakah itu yang kau maksud?”

            “Oh, Tentu saja. aku ambil ini. Berapa penawaranmu?”

            “340 ribu dollars” apa? Apa yang dia bilang?

            “Kurasa ini pemerasan, aku akan membayar 50 ribu dollars dan biarkan aku memiliki dompet ini” ucapku dan mencoba memasukkan dompet Yoona kedalam saku jaketku. Tapi seseorang dari mereka menahanku. “Seratus ribu dollar, aku setuju. Jika tidak aku akan menelfonnya”

            “Kawan, tunggu..” Teet! Teet dari sebuah monitor cctv terlihat beberapa petugas kepolisian berdiri didepan pintu. Aku memekik pelan saat kedua pria gempal itu langsung menyerangku tanpa aba-aba. Aku mencoba berlari sekuat tenaga meninggalkan ruangan itu, meninggalkan tempat itu.

            “Ya Tuhan!” tubuhku nyaris melayang saat mendengar suara jernih itu, dan yang kulihat hanya ada Yoona yang berdiri memaku di hadapanku dengan kedua tangan menutupi mulutnya.

            “Kau terluka? Ayo aku akan mengobatimu” ia menarik lenganku untuk mengikutinya, kami akhirnya memilih beristirahat di Gravity Bar’s. “Maafkan aku, maaf seharusnya aku tidak melibatkanmu Sehun”

            “Kau hanya berutang satu penjelasan padaku Yoona, sebenarnya apa alasanmu ingin pulang lebih cepat? Lebih cepat dari siapa maksudmu?”

            “Kurasa aku tidak bisa lagi merahasiakannya.” Ucap Yoona, aku merasakan tubuhku seketika menegang. Yoona memandang lurus ke depan.

            “Aku di sini bukan hanya kebetulan Sehun, maksudku. Aku adalah seorang archieve (Pengumpul lukisan) dan aku mendengar dari seorang temanku yang tinggal disini-”

            “Tunggu, kau punya teman disini?” potongku cepat. Yoona mengangguk. “Kim Taeyeon, sejujurnya dia sudah hampir 2 tahun disini. Tapi aku tidak pernah mengetahui dia tinggal dimana, kami hanya membuat janji bertemu disuatu tempat. Dan alasan mengapa aku harus segera kembali ke Seoul, karena aku harus datang lebih dulu dari suamiku”

            “Jadi kau sudah menikah?” tanyaku. Yoona lagi-lagi mengangguk. “Tentu saja”

            Aku mendelik menatapnya ragu. Ia menggumam pelan, “Aku sudah menikah, dan kurasa aku mengerti mengapa kau meragukan aku. Cicin pernikahanku tertinggal dirumah. Itu sebabnya aku harus segera kembali, selain itu seandainya kau bisa mengambil dompetku aku akan menunjukkan foto suamiku”

            Aku percaya padanya, hanya saja Yoona adalah seorang wanita yang termasuk polos untuk mudah percaya pada pria asing sepertiku. “Kau percaya padaku?”

            Ya mengangguk, itu saja? ia sangat mudah percaya padaku. “Kenapa?”

            “Apa maksudmu dengan kenapa?”

            “Kau percaya padaku dengan mudah Yoona, ayolah. Aku adalah seorang pria brengsek dan kau dengan mudahnya percaya padaku. Apa kau tidak takut jika suatu saat aku bisa saja menyerangmu?” tanyaku.

            Ia tertawa, “Kau orang baik, dan kau bahkan rela mempertaruhkan nyawamu untukku”

            Ada sedikit perasaan lega saat mendengar ucapannya. Aku tersenyum manis, aku akan coba membantunya. Aku berjanji.

            “Sebenarnya, ada seseorang yang bisa membantu kita”

            “Siapa?” tanya Yoona, ia menatapku penasaran. Aku tidak yakin ini berhasil. Jika aku melakukannya itu berarti aku akan bertemu dengan Yuri.

            “Kita akan menemui temanku di Hill Avenue” tukasku.

*

Yoona – Side

            Sehun bertanya mengapa aku dengan mudah mempercayainya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku, saat aku bertemu dengannya pertama kali, aku sudah memasang tameng untuk melindungi diriku sendiri. Namun saat iris hazel itu menatapku jauh ke dalam, aku tahu ia pria yang baik, ia tulus menolongku itu sebabnya aku mempercayainya. Kini aku bahkan membiarkan Sehun menggenggam lenganku selama kami berjalan menuju Hill Avenue. Banyak pertanyaan dibenakku tentang dirinya, tapi aku tidak bisa menanyakan langsung padanya. Sehun mendesah nafas berat, jelas sekali terdengar ditelingaku.

            “Apa semuanya baik-baik saja?” tanyaku. Sehun tersenyum tipis, kami sudah berdiri didepan Hill Avenue. Namun aku merasa tubuh Sehun mendadak kaku. “Ya, aku baik-baik saja”

            “Kau yakin? Tidak mau menceritakannya padaku?”

            “Baiklah, ini hanya semacam “mantan”. Sejujurnya hari ini aku harus datang ke pesta, tapi temanku mengatakan bahwa dia ada disana, dengan kekasih barunya. Aku.. aku hanya tidak terbiasa melihatnya” jelas Sehun. Aku melangkah dan berdiri dihadapannya, pria ini jangkung hingga tinggi tubuhku hanya sebatas bahunya saja. “Kau tidak harus melakukannya Sehun”

            “Tidak, inilah satu-satunya cara menolongmu” ucapnya. Aku tersenyum lalu memeluk tubuhnya dengan erat, rasa nyaman menjalar diseluruh tubuhku saat Sehun membalas pelukanku dengan sangat erat. “Kita akan menghadapi ini bersama oke? Aku bersedia menjadi pacar pura-puramu jika itu diperlukan”

            “Tidak semudah itu Yoona” Oh baiklah, aku mendesah lalu tertawa sambil melepaskan pelukan kami. Kemudian aku berjongkok dihadapannya. “Oh Sehun, maukah kau menjadi pacar pura-pura untuk Im Yoona malam ini? Tolong katakan iya”

            “Kau baru saja memohonku dengan paksaan? Oke, aku bersedia Im Yoona” aku mengangguk lalu mengulurkan tanganku, Sehun ikut mengangguk dan menyambut uluran tanganku. Kami masuk kedalam. Saat pintu yang terbuat dari emas itu terbuka suara dentuman Dj begitu menggema memekakkan telinga. Aku mengedarkan pandanganku ke setiap sudut, tidak ada seorang pun yang aku kenal. Tidak ada. Sehun melepaskan genggaman tangan kami, kemudian ia berjalan menuju seorang pria yang sedang tertawa terbahak dengan segelas bir ditangannya. “Hyung!”

            Pria itu menoleh lalu berteriak. “Sehun, astaga aku pikir kau tidak akan datang”

            Sehun menarik lengan pria itu menuju kearahku. Pria itu melirik pada Sehun dan aku bergantian. “Siapa wanita cantik ini?”

            “Ah, kenalkan namaku Im Yoona” pria itu membulatkan matanya kemudian tersenyum.

            “Kau dari Korea? Namaku Park Chanyeol. Kau bisa memanggilku Chanyeol” ucapnya sambil tersenyum. Kemudian melirik Sehun yang menatap jengkel kearah kami.

            “Jadi ini alasanmu tidak ingin datang? Aku sangat bahagia Sehun”

            “Hyung, sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu” Sehun melirik kearahku. “Yoona harus kembali ke Korea pagi ini, aku tidak tau mengapa tapi kartuku tidak berfungsi tadi. Jadi bolehkah aku meminjam uang 5000 Dollar, beserta handphone dan kamarmu?”

            “Wo-ow, kau baru saja memerasku Sehunnie? Hehe aku tidak punya uang sebanyak itu. Dengar, aku hanya punya 1500 Dollar. Dan soal handphone dan kamar aku tidak keberatan. Tapi kuharap kalian memakai ini” ia menyerahkan sesuatu yang ku tahu itu adalah pengaman. Maksudku pengaman dalam arti negatif. Aku dan Sehun lantas menggeleng. “Hyung, kami tidak akan melakukannya. Maksudku tidak dengan wanita yang sudah taken

            “Jadi kau sudah menikah?” tanya Chanyeol tak percaya. Aku lalu mengangguk.

            “Itu alasan mengapa dia harus segera kembali ke Korea” jawab Sehun.

            Chanyeol mengacak rambutnya. “Tapi kalian sangat cocok. Astaga maksudku, Sehun kau tidak harus kesini. Dia ada disini, dan itu sangat buruk jika kau melihatnya” dan benar saja, saat Chanyeol selesai mengucapkan itu, Sehun terpaku dengan pandangan lurus menatap seorang wanita berambut panjang berkulit kecoklatan yang sedang tertawa terbahak-bahak. Diakah?

*

Sehun – Side

            Apa-apaan Chanyeol hyung ini. Memberikan sesuatu yang membuatku merasa tidak enak pada Yoona, maksudku. Aku dengan susah payah mencoba meyakinkan wanita itu untuk percaya padaku aku tidak ingin karna Chanyeol dia salah paham.

“Tapi kalian sangat cocok. Astaga maksudku, Sehun kau tidak harus kesini. Dia ada disini, dan itu sangat buruk jika kau melihatnya” dan saat aku memandang lurus sesuatu lebih tepatnya seseorang mengunci pandanganku. Dia Yuri, gadis berambut panjang dengan kulit kecoklatan yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan pria tampan disebelahnya. Aku mencoba mengalihkan pandanganku namun sia-sia. “Sehun-ah”

Aku baik-baik saja, Yuri adalah masa laluku. Aku mengerjapkan mataku saat mendengar suara renyah Yoona mengalihkan perhatianku. “Kau tidak apa-apa?”

Aku mengangguk. “Hyung terima kasih. Aku akan mengembalikannya padamu segera”

“Aku akan melakukan apapun untukmu Sehun-ah” dia memelukku erat. Kemudian segera melepaskannya. Aku dan Yoona pamit meninggalkan pesta itu, karna sejujurnya aku tidak bisa berlama-lama disana. Aku tau, selama diperjalanan menuju hotel Yoona memandangku dengan rasa bersalah yang begitu besar. Untung saja hotel tempat Chanyeol hyung menginap tidak begitu jauh. Sehingga tidak butuh waktu lama kami tiba. Sesampainya dikamar hotel Yoona masuk kekamar mandi dan aku merebahkan tubuhku di kasur. Aku masih tidak bisa menghapus kenangan Yuri, sejauh ini wanita itu masih tetap bisa membuat aku nyaris sulit bernafas dan aku sangat tidak menyukainya.

Hampir 30 menit Yoona bersih-bersih saat wanita itu keluar dari kamar mandi, dia sudah mengenakan handuk serba putih. Kami berpapasan dan tersenyum, kemudian aku masuk kedalam kamar mandi. Aku memandang pantulan diriku di cermin, ada yang aneh saat aku melihat Yoona tersenyum dan tertawa. Ada salah satu bagian sudut hatiku yang ikut melayang saat senyuman itu terpeta, aku tidak mungkin kan menyukai Yoona?

*

Yoona – Side

            Aku memandang Kota New York lewat jendela kamar hotel. Sebagai pembatas diriku dengan dunia luar, pikiranku berkecamuk pada kejadian beberapa jam sebelumnya. Perasaan ingin kembali ke Seoul perlahan menghilang dan entah mengapa aku ingin selalu disini. Aku memejamkan mataku, berbagai klise kehidupan pernikahanku mulai tergambar. Bahkan morning kiss yang selalu kulakukan dengan Donghae oppa masih terasa menyakitkan dibenakku.

            “Ehm,” aku nyaris melompat saat mendengar deheman Sehun yang ternyata sudah berdiri disebelahku. Aku menoleh lalu tersenyum tipis. “Sedang bernostalgia?”

            “Kau tau Sehun-ah, mengapa kita ditakdirkan mencintai pada seseorang yang tidak mencintai kita?” Sehun menarikku dan duduk dimeja yang ada di pojok ruangan. Kemudian ia duduk di pinggiran bed. “well, kadang kita membenci apa yang kita cintai. Tapi ingatlah sejatinya hakikat cinta adalah saling percaya”

            “Kau tau, aku sedikit berbohong tentang mengapa aku berada disini. Sejujurnya hubunganku dengan Donghae belakangan ini memburuk. Selain itu Hyena (anak tiriku) selalu bersikap buruk padaku. Kau tau-lah. Semuanya berawal sejak pagi itu, saat aku mendapati sebuah pesan singkat di handphone Donghae yang berisi, aku menunggumu di tempat biasa” aku menghela nafas, Sehun masih diam, mungkin membiarkan aku meneruskan kembali ceritaku.

            “Saat itu aku mencoba positive jika itu dari kliennya. Namun keesokan harinya aku mendapati pesan itu lagi. Dan Donghae mulai pulang larut malam, mengatakan bahwa kinerja perusahaan sedang menurun. Aku mencoba bertanya pada Donghae dan dia mengakui jika wanita itu adalah temannya dan mereka sering jalan bersama. Aku mencoba memaafkannya karna kupikir Donghae mencintaiku. Namun saat ia izin pergi ke Maroko, aku mendapati pesan itu lagi namun ini melalui email. Dan aku tau mereka menghabiskan waktu bersama disana” aku tak dapat menahan air mataku. Sehun menatapku dengan sendu kemudian berdiri menghampiriku dan memeluk tubuhku.

            “Berhenti Yoona, jangan menceritakannya lagi” ucapnya. Namun aku mengabaikannya.

            “Aku harus kembali karna aku menulis sebuah surat yang sengaja aku letakkan diatas kasurku agar Donghae bisa melihat dan membacanya, dalam surat itu aku.. aku meminta Donghae menceraikanku” aku semakin terisak dan kurasakan Sehun semakin memelukku erat. Dia membelai rambutku kemudian menuntunku ke kasur dan menarikku agar tidur disampingnya. Seandainya, aku bertemu dengan Sehun lebih dulu, mungkin aku akan memilih menjadi pendampingnya. Ah Yoona, kau terlalu mengkhayal.

*

Sehun – Side

            Aku melirik jam diatas nakas yang menunjukkan pukul 4 pagi, Yoona masih terlelap dengan dengkuran halus yang terdengar darinya. Aku tersenyum manis, bagaimana wanita seperti Yoona harus memiliki kisah hidup yang rumit. Aku lebih tidak mengerti dengan yang terjadi padaku, aku ingin melindunginya. Aku ingin melindungi Yoona.

            Aku memejamkan mataku saat Yoona menggeliat, “Sehun-ah?”

            “Ehm,”

            “Jam berapa sekarang?” tanyanya. Aku terkekeh tanpa suara. “Jam 4 Yoona, sebaiknya kau tidur lagi”

            “Tapi aku tidak bisa tidur lagi” rengeknya. Aku menatapnya lembut.

            “Apa yang ingin kau lakukan Tuan Putri?” Yoona tersenyum manis.

            “Sebenarnya ada yang ingin lakukan, hal yang tidak pernah aku lakukan dengan Donghae” Yoona bangkit dan berdiri dihadapanku kemudian wanita itu perlahan melepaskan tali bajunya hingga sebagian tubuhnya terlihat olehku. Aku menelan salivaku. “Yoona, apa yang kau lakukan?”

            “Maafkan aku Sehun-ah, hanya ini caranya agar aku bisa terlepas dari Donghae” ia mendekatiku dan mencium bibirku lalu melumatnya, kemudian kami melakukannya. Dengan pelan tanpa ada paksaan sedikitpun.

*

Yoona – Side

            Aku memandang wajah Sehun yang masih terlelap, Sehun memang sangat tampan. Bahkan saat terlelap seperti ini memang sangat tampan. Kedua lengannya masih mengunci tubuhku, aku tahu ini gila. Aku adalah seorang wanita yang sudah bersuami, namun saat ini aku seperti wanita jalang yang haus belaian pria. Aku mengecup bibir Sehun sebelum akhirnya aku mencoba melepaskan pelukannya padaku. Kemudian memunguti pakaianku yang berserakan dimana-mana.

            “Maafkan aku Sehun-ah, maaf aku melibatkanmu” gumamku. Membiarkan pancuran air mengguyur seluruh tubuhku. Aku harus segera kembali ke Seoul. Aku harus segera menemui suamiku.

*

Sehun – Side

            Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, tanganku meraba kasur sebelahku dan kosong. Yoona tidak ada ditempatnya, aku segera bangun dan mendapati hanya tinggal pakaianku yang berserakan. Kemana wanita itu? Aku mencoba mengenakan pakaianku seperlunya, dan perasaan lega seketika kurasakan saat suara pancuran terdengar dari kamar mandi lalu beberapa menit kemudian dimatikan dan pintu itu terbuka. “Oh, kau sudah bangun?”

            Aku mengabaikan pertanyaannya dan memeluknya. “Jangan pergi seperti ini. Aku kira kau meninggalkanku”

            Dia mencoba melepaskan pelukanku dengan terpaksa aku melepaskannya. “Aku disini Sehun-ah. Aku hanya perlu mandi, tubuhku sangat lengket tadi. Lebih baik kau mandi saja”

            “Baiklah” aku mengangguk sebelum aku mencium bibirnya dan berlari masuk kedalam kamar mandi.

.

.

.

            Aku memandang tak mengerti pada Yoona, semalam jelas bahwa wanita itu memohon melakukan sesuatu agar dia bisa terlepas dari suaminya. Namun sekarang dia memandangku memelas meminta agar dia bisa kembali ke Korea. “Aku harus pergi Sehun-ah, cepat atau lambat aku harus kembali. Kau orang asing bagiku. Bukankah sejak awal kita seperti itu?”

            Aku memang pernah patah hati, dan itu karna Yuri. Tapi definisi patah hati yang ditorehkan oleh Yoona lebih menyayat hatiku, tidak tapi menyayat seluruh tubuhku. Aku dan Yoona hanyalah orang asing, kami bertemu hanya karna kebetulan bukan apa-apa.

*

Yoona – Side

            Disinilah kami akhirnya, aku dan Sehun berdiri berdampingan tanpa bersuara sedikitpun. Sejak pembicaraan sensitif kami tadi, Sehun jadi lebih banyak diam. Aku tau aku menyakitinya. Aku melirik arlojiku saat suara bel kereta berbunyi, aku harus pergi.

            “Sehun/Yoona” kami saling tersenyum.

            “Jadi inilah akhirnya?” tanyanya dengan suara parau. Aku tersenyum tipis lalu mengangguk. Sehun ikut tersenyum, meski matanya mulai memerah. Lalu pandangannya beralih pada kotak telefon di sampingnya. Ia mengangkat gagang telefon itu lalu menaruhnya ditelinga.

            “Hai Sehun” ucapnya lalu melihat kearahku. “Dengar, aku ingin memberimu sedikit saran”

            Aku menggigit bibirku menahan tangis. “Kau akan bermain disuatu malam di Grand Central, memikirkan seluruh alasan dunia untuk tidak bertemu dengan wanita yang membuatmu patah hati. Lalu kau akan bertemu dengan seseorang, dan sekarang pada awalnya dia akan terlihat kaku. Dan dia akan segera tahu dia akan ada dalam masalah, dia akan mengambil semua uangmu. Lalu membuatmu mendapat pukulan diwajahmu. Tapi satuhal, tetaplah bersamanya. Kau akan membutuhkannya lebih daripada dia membutuhkanmu. Dan dipenghujung malam kau terasa seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi jangan. Jangan rusak itu. Tak ada yang tidak dia ketahui, cukup berikan dia pelukan dan berharap dia selalu beruntung. Dan berterima kasih padanya, karena kau sudah ditunjukan bahwa bisa mencintai lebih dari satu orang dalam hidupmu” Sehun memandangku, kemudian dia menjauhkan gagang telfon dari telinganya dan ingin meletakkannya kembali. Tapi aku menahannya.

            “Tunggu!” aku menatap Sehun dan meletakkan gagang telfon ditelingaku. “Sehun? Jangan pernah membayar tagihan kartu kreditmu dibulan itu”

            Sehun tersenyum tipis.

            “Baiklah” aku meletakkan gagang telfon kembali pada tempatnya.

Kami saling memandang. “Dia mengatakan tidak akan melakukannya”

sebelum akhirnya Sehun memeluk tubuhku erat, aku membalas pelukannya dan mulai terisak.

            “Hati-hati” bisik Sehun, lalu aku mengangguk. Kami saling melepaskan pelukan.

            “Semoga kau beruntung”

            Aku mengangguk, “Terima kasih Sehun”

            Aku membalikkan tubuhku dan berjalan membelakanginya. Ku usap air mataku yang sejak tadi keluar, langkahku terhenti dan membalikkan tubuhku. Masih mendapati Sehun berdiri disana. Aku langsung berlari berhenti didepannya lalu mengecup bibirnya. “Yoona-”

            “Jangan katakan apapun Sehun-ah. Jangan” gumamku. Ia mengangguk.

            “Jika nanti kita bertemu kembali. Semoga semua yang ada dalam harapanmu terwujud” ucapku. Kemudian aku berbalik dan berjalan menjauhinya.

*

“Awalnya kukira malam itu adalah hari sialku, namun aku salah. Pertemuan kami di Grand Central membuka mataku, bahwa hidupku seharusnya bukan bersama pria yang menungguku dirumah. Dan bertemu dengannya membuat aku tahu pada siapa aku hidup di masa depan nanti” – Yoona

 

“Kita membenci sesuatu yang kita cintai, aku selalu berfikir seperti itu. Hingga aku bertemu dengannya, aku akan mengubah cara pandangku. Jadi kita hanya mencintai sesuatu yang memang kita cintai” – Sehun

 

END

Holla! selamat bertemu lagi. maaf buat yang nunggu His Wedding karna ada kendala jadi kupending sampe minggu depan. See Ya!

 

 

50 thoughts on “BEFORE WE GO

  1. Ahh so sweet sekalii ~😦
    kenapaa nggak happy ending coba
    -,-
    suka banget sama penulisannya,
    cara penulisan ngungkapin
    perasaan masing2 itu aku suka
    Karakter sehun disini juga jempol
    bgt. Ini ada sequel kah thor?
    Semangat yah nulisnya :))

  2. Semoga yoona sama sehun bisa kembali lagi ya dan ngejalanin hubungan deh hehe, ending nya kenapa pas mereka pisah thor?😞 need sequel nih hehe. Keep writing(:

  3. yaaahh jangan gantung gini dong… need sequel niihh. plissss huhuu, ff nya keren, tp aku nya msh butuh liat YoonHun bersatuuu… sequel ya ya ya?? hehe

    keep writing and fighting!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s