[Freelance] Yours

Yours

Yours

By. FLYers

Kris Wu | Im Yoona

Romance-fluff

PG-17

Happy Reading dan jangan lupa tanggapannya.

Sesingkat apapun itu sangat di hargai.

^^

****

Aku berjalan santai melewati koridor kampus setelah baru saja mendapat tempat parkir untuk Audi R8 hadiah dari ibuku di Seoul –mobil yang terlalu berlebihan menurutku. Tapi ada baiknya juga memiliki mobil yang sangat nyaman di gunakan untuk ngebut. Aku memperbaiki tas selempang di bahuku ketika langkahku terhenti tepat di pintu masuk kelas sastra –aku tersenyum mendapati seseorang yang tengah melamun, menopang dagu dengan tangan kanannya. Memberi senyum singkat pada Thomas yang menyapaku di ambang pintu bersama teman gadisnya aku melangkah pasti menuju ke sudut paling belakang di sebelah kiri.

“Tidur nyenyak?” menghempaskan diriku di sampingnya nampaknya membuatnya sedikit terkejut. Lelaki itu memalingkan wajahnya dan membiarkan tangannya jatuh begitu saja di atas meja kayu. Aku tersenyum setelah mengecup singkat pipinya dan mengalihkan perhatian pada ponselku.

“Selamat pagi” ucapnya dengan nada pelan membuatku kembali menatapnya. Matanya masih tertuju padaku namun aku yakin tak menemukan jejak humor di sana. Oh tidak ku rasa ada yang salah lagi di sini.

Aku meletakkan ponselku pelan –mengabaikan email dari ibuku yang belum kubalas. Memiringkan kepala ke kiri aku menatapnya waspada. Apa lagi sekarang? Kesalahan apa lagi yang ku lakukan?

“Kau belum menjawab pertanyaanku” sanggahku berusaha mengalihkan perhatiannya –aku sungguh tak memiliki keinginan untuk berdebat di pagi hari –terlebih sebelum kelas sastra Inggris yang memusingkan dalam kalimatnya dimulai.

“Akan lebih baik jika kau berada di sampingku” apa itu? Sesaat aku bingung namun sedetik kemudian menyadari bahwa ia menjawab pertanyaanku. Kurasa aku memerah dengan kata-katanya. Meremas ujung rok selutut yang kukenakan dan aku menggigit bibir bawahku gugup. Bagaimana mungkin orang ini mampu membuatku seperti ini hanya dengan kalimat bernada datar tanpa ekspresinya.

Aku menunduk berusaha menutupi wajahku. Tuhan! Apa yang lelaki ini lakukan padaku. Padahal dengan nyata aku mengetahui ada yang aneh dengan dirinya –ia marah padaku, aku tahu dari tingkahnya. Namun dalam keadaan seperti ini aku masih bisa memerah karenanya? Bodohnya kau Im YoonA!

“Kau merona” ucapnya mengangkat daguku dengan tangan kirinya. Mataku menemukan matanya yang sedikit menahan geli, bibirnya tersenyum mengejek membuatku berkedip beberapa kali. Seperti biasa moodnya berubah dengan sangat cepat. Orang ini!

“Jadi kenapa kau marah padaku?” butuh tarikan napas yang panjang sebelum aku mampu mengungkapkan itu. Ku tarik tangan yang sebelumnya berada di bawah daguku dan menggenggamnya, sedikit memainkan jam pemberianku sekitar 3 bulan yang lalu yang menggantung di pergelangannya.

“Aku tidak marah padamu” ia mendengus dan aku tahu moodnya kembali memburuk. Okey, ini bukan yang pertama kalinya ia merajuk padaku dan aku yakin aku bisa mengatasinya –seperti yang sebelum-sebelumnya –kupikir.

“Kris kumohon” aku melepas tangannya dan melipat tangan di depan dada “Kita tak saling mengenal dalam 5 menit yang lalu kau tahu?”

“Aku tak pernah mengatakan begitu” jawabnya yang membuatku memutar mata jengah. Kapan lelaki ini mampu menghilangkan sikap kekanak-kanakannya? Ia berpaling, memilih menatap orang-orang di sekeliling kami.

“Kau marah” aku menggeram padanya. Tanpa sadar mulai terpancing emosi.

“Aku tidak, sungguh” lagi-lagi ia tak menatapku. Ada apa dengannya?

“Ayolah Kris, aku tahu kau marah. Nampak jelas dari sikapmu” aku menjatuhkan kepala di atas meja menghadap ke arahnya. Berusaha untuk mencuri perhatian lelaki yang entah dengan alasan apa tengah berada dalam suasana hati yang tak baik padaku. Ia tak menjawab dan juga tak menatapku. Aku mengetuk-ngetukkan jari di atas meja, berpikir tentang kesalahan apa yang mungkin membuatnya bertingkah seperti ini. Seingatku semalam kami baik-baik saja. Ia bahkan mengantarku pulang ke apartemen setelah makan malam bersama ayahnya yang kebetulan memiliki perjalanan bisnis di tempat kami kuliah –kota cinta atau di mata dunia Paris.

Ponsel di hadapanku tiba-tiba bergetar, dengan malas aku mengangkat wajah dan mendapati nama Harry Newton terpampang di sana. Jemariku telah bersiap untuk menggeser tombol hijau pada touchscreen ketika ia bersuara.

“Jangan di angkat!” parintahnya. Aku mengernyit kearahnya dan ia menatapku dengan tatapan yang errrr….

“Jangan di angkat” ia mengulangi dan dengan patuh aku mengabaikan ponsel milikku. Matanya sendu, ada apa dengan suasana ini?

“Kris apa masalahnya?” ia tak menjawab lagi, tapi kali ini masih menatapku. Marah? Sedih? Kesal? Menyesal? Aku tak mampu menebak mata itu –semua seperti campur aduk yang tak kumengerti.

“Kris begini…” aku sedikit menepuk meja –menjaga suaranya tak terlalu keras untuk mengalihkan perhatian penghuni kelas. Ia mengernyit padaku membuat kedua alisnya hampir menyatu dalam pahatan sempurna wajahnya –dalam hati aku kegirangan dengan fakta lelaki ini adalah milikku.

“Aku tak ingin bertengkar denganmu dengan alasan yang tak penting. Jadi mari diskusikan hal ini” ucapku dengan suara pelan –berusaha keras menghilangkan nada kesal dalam suaraku agar tak memancing emosinya yang kurang terkendali dalam pengontrolannya.

“Tak penting katamu?” oke nampaknya aku gagal, nyatanya emosinya telah menampakkan wujud. Matanya melambangkan ketidak-percayaan atas perkataanku. Lalu apa ini penting? Seingatku kami hanya terlampau sering bertengkar dengan hal-hal kecil yang terbilang tak masuk akal untuk diperdebatkan.

“Benarkan kau marah padaku. Kau marah dengan hal yang tak ku ketahui kau pikir aku harus merespon seperti apa?” aku mendengus menatapnya yang juga menatapku tajam. Kami menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk saling mlempar tatapan pertanda perang. Kali ini aku tak akan kalah –tak ingin menyerah untuk memalingkan wajah terlebih dahulu. Aku hanya ingin kejelasan, atas dasar apa ia marah padaku? Aku butuh pencerahan agar aku mengerti masalahnya.

Dan pada akhirnya lelaki dengan dengan rambut kecoklatan ini menutup matanya –memutuskan kontak mata di antara kami. Ia mendesis pelan dan mengacak rambutnya yang jelas menampakkan frustasinya.

“Kris kau kenapa? Aku sungguh tak mengerti, apa aku melakukan kesalahan?” mataku meredup dengan tangan terkepal kuat berusaha menahan diri untuk tak memeluknya yang terlihat kacau. Aku tak bisa melihatnya seperti ini.

“Yoona, kau itu milikku” ia membuka kelopak matanya, alisnya kembali berkedut menyatakan kami sungguh berada dalam topik pembicaraan yang serius –atau mungkin untuknya?

“Hanya aku yang boleh…. hanya aku yang boleh menyentuhmu” ia berucap dengan menggeram membuat kelopak mataku melebar dengan jawaban yang sungguh tak pernah terpikirkan olehku. Apa maksudnya mengatakan hal seperti ini?

“Aku tak segampang itu Kris” terucap sebelum aku mampu menyaringnya, mata Kris berubah sayu. Ada rasa bersalah di dalam sana. Dan aku terdiam secara isyarat memberinya kesempatan untuk lebih memperjelas segalanya. Matanya menatapku fokus –aku menemukan pantulan ekspresi bodohku di sana.

“Seseorang mengatakan padaku…” lagi-lagi ucapannya terpotong, nampak mencari keyakinannya sendiri sebelum melanjutkannya “Si Newton itu mengatakan kau dan dia, kalian telah ….”

“STOP!!” aku membentaknya –tahu persis apa yang akan terucap selanjutnya –atau mungkin hanya khayalanku yang terlalu berfantasi ke arah negatif. Ekspresinya berubah kaget kemudian menatap sekeliling. Saat itu juga aku tersadar aku berbicara terlalu keras –aku bahkan berdiri dari dudukku yang entah kapan ku lakukan. Orang-orang menatapku bingung dan keheningan memenuhi kelas membuatku malu menjadi pusat perhatian –Buruk! Ini buruk!

“Maaf, maafkan aku” aku berbisik pelan pada mereka. Di depan sana aku bahkan menyadari tatapan kurang suka dari salah satu penggemar Kris. Aku menggigit bibirku kurang yakin hingga suara Thomas memecah keheningan dengan teriakan tidak jelasnya yang mengembalikan suasana kelas. Kurasa aku harus berterimah kasih padanya saat kelas selesai.

“Apa yang kau lakukan?” aku hampir saja tersandung ketika Kris secara tiba-tiba menarik pergelangan tanganku. Membawaku keluar ruangan melalui pintu belakang hingga tak menarik perhatian orang-orang lagi.

Menyeret langkah kakiku dengan susah payah menyeimbangkan diriku pada kecepatannya. Kami melalui koridor yang sebelumnya ku lalui ketika menuju ke kelas. Berbelok ke kiri dan mendorong pintu kafetaria, sekilas aku tersenyum pada Tiffany yang tengah menikmati sarapan paginya di kampus. Ku rasa ia melewatkan makan malamnya lagi.

“Kita mau kemana?” aku bertanya dengan suara yang tersenggal-senggal akibat berjalan cepat. Kami baru saja keluar dari pintu lain di kafetaria menuju lantai dua. Aku bahkan merasakan pergelangan kananku telah memerah akibat cengkramannya.

“Ruang musik lama” ia menjawab singkat. Tahu persis tempat itu sangat jarang di kunjungi –tempat yang tepat untuk berdebat, kurasa.

“Sakit” aku berbisik pelan akibat rasa sakit di tanganku –sangat pelan hingga aku berpikir ia takkan mendengarkannya. Namun sedetik kemudian langkahnya terhenti membuatku menginjak bagian tumit dari sepatunya.

“Maaf” ia tak berbalik menatapku. Hanya mengubah letak jemarinya dari pergelanganku ke telapak tanganku hingga menyelipkan jemarinya di jemariku. Aku tersenyum sekilas –sadar ia merasa bersalah telah melukaiku.

Pintu berderit cukup keras ketika tangan kokohnya menarik gagang pintu, memperlihatkan berbagai alat musik yang sebagian besarnya tertutupi oleh kain putih –ini karena benda-benda ini tak pernah lagi di gunakan setelah ruang musik baru di gedung satu di bangun beserta tambahan alat musik yang lebih berkualitas.

Kris menutup pintu setelah tangannya melepaskanku. Membiarkanku menarik salah satu kursi di pojokan dan melepas kain putihnya. Debu sedikit mengganggu pernafasanku ketika aku membiarkan kain itu jatuh begitu saja di lantai yang juga berdebu. Sungguh, apa petugas pembersih tak pernah memperhatikan ruangan ini?

“Baik…” aku bersuara membuat lelaki di hadapanku berbalik menghadapku. Menarik kepalanya hingga miring kesebelah kiri membuatku bertanya-tanya akan ekspresi bingungnya. Bukannya aku yang seharusnya bingung dengan semua ini?

“Kau sungguh baik dalam memilih tempat” ku jatuhkan diriku pada kursi kemudian melipat kakiku. Sedikit memberinya tatapan sinis ku rasa akan sempurna. “Jadi apa yang akan kau bicarakan untuk memperjelas segalanya?” aku melanjutkan. Namun ia terdiam hanya menatapku tanpa suara.

Ada saat dimana aku sungguh tak mengerti lelaki asal China ini. Terkadang membuatku terkagum-kagum dengan kedewasaannya, namun selanjutnya membuatku kesal dengan sikap kekanak-kanakkannya yang tak jelas. Aku merasa kasihan dengan gadis-gadis yang memasukkannya dalam daftar idola mereka –kurasa namanya akan terhapus begitu saja setelah mengenal orang ini lebih dekat.

“Kau jelas tahu aku datang ke kampus untuk mengikuti kelas, bukan untuk beradu pandang denganmu!” aku mengangkat alis, mulai bosan dengan semua ini. Aku tak tahu apa kesalahanku, aku tak mengerti mengapa ia marah padaku –walaupun ia menyangkalnya. Astaga, baby boy-ku. Aku sungguh tak tahan dengan suasana ini. Aku benci untuk marah padanya.

Ia menunduk dan dengan gerakan yang mengejutkan menggenggam tanganku –menarikku berdiri dan memelukku membuat kedua mataku hampir saja meninggalkan tempatnya. Wajahnya tenggelam di antara helaian rambutku yang ku biarkan tergerai dengan dagu yang di topangkannya di bahu kiriku. Nafas beratnya pelan dan tergesa-gesa sedikit menyapu leherku –membuatku meremang dalam ketegangan. Ini bukan pertama kali ia memelukku, namun aku masih saja merasakan sensasi yang sama ketika kontak di antara kami semakin dekat.

“Kau milikku” ia bergumam, menyuarakan hal yang sama berkali-kali lebih pada dirinya sendiri –seolah setiap katanya memberi keyakinan dalam hatinya. Sebelum kusadari kedua lenganku telah membungkus sekeliling punggunggnya –menariknya kepadaku dan membalas dengan gumaman yang bermakna sama.

“Ya, milikmu” aku bisa merasakan senyum dalam diamnya. Membuatku juga tak mampu untuk menahan senyum meski ia tak melihatku. Ku rasa aku berhasil menenangkannya –atau mungkin menenangkan diriku sendiri?

“Harry” masih dengan posisi yang sama ia kembali bersuara setelah beberapa detik yang tenang. Ku rasakan kebingungan kembali menguasai diriku –aku melupakan poin terpenting dari alasan mengapa kami berada di ruangan ini. “Semalam ia menelfonku, kurasa dalam kedalaan mabuk” aku mengangkat alis dan mendorong lengannya untuk menjauh dariku. Namun ia tak membiarkannya –lengannya semakin kuat menahanku.

“Tetap di sana, jangan bergerak. Anak nakal” ia mengecup tengkukku –membuatku kaku di detik yang sama. Dalam hati aku bersuara untuk menenangkan diri. Yoona! Yoona! Jangan biarkan ia menyadari tingkah anehmu! Bukan yang pertama, bukan yang pertama! Tenangkan dirimu nona Im!!

“Lalu apa yang dikatakannya?” aku berusaha kembali ke topik awal meski kepalaku sudah mulai pening.

“Tak banyak, tapi membuatku terbakar amarah” apa? Amarah?

“Yoona” ia bersuara lagi sebelum aku mampu untuk menanggapi “Apa yang kau lakukan padaku?” seharusnya aku yang bertanya itu padamu Kris. Siapa kau? Lelaki yang membuatku untuk pertama kali merasakan sebuah cinta yang dulunya tak pernah ku anggap ada. Siapa kau? Hingga mampu membuatku seperti ini? Siapa? Apa yang telah kau lakukan pada diriku yang dulu? Aku bahkan tak mengenali diriku yang sekarang ini. Sungguh, aku telah terlalu jauh meninggalkan Im Yoona yang ku kenal. Aku berubah setelah kehadiranmu Kris Wu.

“Aku…..” ucapnya terputus “cemburu” APA? Lagi-lagi aku mendorongnya –berniat untuk melepaskan diri agar bisa menatap matanya. Namun lengannya semakin mengencang hampir membuat ujung sepatuku menjadi satu-satunya benda dari tubuhku yang menyentuh lantai.

“Kris” aku bahkan tak tahu ia mampu mendengarku atau tidak.

“Ia bilang ia masih menyukaimu, dan pernah memelukmu sebelum aku datang dalam hidupmu” memelukku? Jadi karena ini ia bertingkah seperti ini? Hanya karena sebuah pelukan yang sungguh terdengar lazim di negri ini?

“Kris, kau tahu itu adalah salam” nafasku sesak, pelukannya membuatku hampir kehabisan nafas.

“Tidak bagiku” ia melepasku kemudian menggenggam kedua lenganku. Matanya menghujam tepat di bola mataku –iseng aku berpikir ‘mungkin ia tahu aku kehabisan oksigen’. “Hanya aku… hanya aku yang boleh menyentuhmu” matanya bersungguh-sungguh. Membuatku dalam keadaan yang tak memungkinkan untuk membuka mulut. Ini pengintimidasian yang membuatku berbunga. Tuhan, aku selalu bersyukur kau memberiku seseorang sepertinya.

“Karena kau milikku” ia menggeram menutup matanya, seolah menahan emosi. Aku ingin terkikik –tingkahnya bocah sekali. Sudah ku katakan kami tak pernah bertengkar dengan masalah besar. Selalu hal sepele yang seharusnya tak berbuah perdebatan.

Aku tersenyum kemudian berjinjit dan menempatkan bibirku di bibirnya. Merasakan keterkejutannya dengan bola mata yang terbuka lebar. Dalam hati aku tersenyum. Lelaki ini selalu mengatakan aku miliknya.

Menarik diriku, aku mendapati ekspresi lucunya. “Ya, aku milikmu” aku tersenyum dan butuh sedetik sebelum ia menemukan kesadarannya dan kedua sudut bibirnya membentuk pelangi terbalik. Memberiku senyuman yang entah sejak kapan menjadi favoritku.

“Ini pertama kalinya kau menciumku terlebih dahulu di bagian bibir” Oh! Benarkah? Aku tak pernah menyadari hal ini.

“Dan kau yang memancingku terlebih dulu, sekarang aku ingin lebih” WHAT!!! Mataku membulat. Buru-buru aku memindahkan tanganku yang berada di lengannya, berjalan mundur namun kalah cepat darinya yang menangkap bibirku –melumatnya lembut sebelum aku siap. Aku kehabisan nafas untuk kesekian kalinya pagi ini.

“Kris!” aku menahan jemarinya yang bergerak ke arah tengkukku –membuat tautan di antara kami dengan terpaksa di lepasnya. Ku tebak ia terganggu.

“Kelas akan di mulai, bisa lain kali?” aku mengingatkan dan matanya yang bersemangat kini berubah kesal. Ia mendengus kemudian menurunkan tangannya dari wajahku dan sedikit memberi jarak. Suasana hatinya seperti biasa –berubah dengan cepat.

“Masalah sudah terpecahkan, jadi kita kembali?” aku menepuk tanganku –berusaha menampilkan sebuah ‘kegembiraan’ layaknya anak yang mendapat permen.

“Sebenarnya aku ingin membolos” ia menekuk wajahnya, tanganku gatal ingin mencubit pipi itu! Tapi aku memilih untuk menggenggam jemarinya dan membawanya menuju kelas. Aku berharap dosen sedikit mendapat hambatan sehingga tak datang tepat waktu dan kami tak terlambat. Itu terdengar sangat sempurna.

“Lain kali-nya aku ingin nanti” Kris berbisik di telingaku ketika kami sedikit lagi mencapai kelas. Sesaat aku berpikir apa maksud dari perkataannya namun melihat senyuman miring di wajahnya membuatku teperanjat. Aku teringat kata-kataku di ruang musik tadi ‘Bisa lain kali?’

“Aku tahu kau bukan orang yang tidak menepati janji, sayang” ia mengecup pipiku sekali lagi kemudian menarik jemarinya dan memindahkannya de bahuku. Merangkulku berjalan menuju pintu kelas yang di dalamnya masih terdengar berisik –dosennya benar-benar terlambat, aku melirik jam di tanganku.

“Maaf, karena marah dengan hal seperti ini. Sebenarnya aku sudah berjanji pada diriku untuk mengabaikannya, tapi entah mengapa setiap memikirkannya selalu membuatku marah. Aku benar-benar tak ingin…..”

“Ssssstttt” aku memotong ucapannya “Aku milikmu” aku menatapnya –memberi keyakinan yang ku miliki padanya. Kris menghentikan langkahnya sekedar untuk menatapku. Ia terdiam cukup lama dengan ekspresi yang tak terbaca.

“Ya, kau milikku. Milikku seorang” dan ia kembali menampilkan senyuman favoritku.

-FIN-

37 thoughts on “[Freelance] Yours

  1. Sweet bgt ya ampun….
    Aku kapan di gituin ?? *dicemburuin mksd nya
    Gila krissss sweet bgt arghhhhjh
    Ff nya bagus bgtttt
    Keep writing…

  2. Ugghh!! Baby Boy?? Cemburuan ceritanya bang Ris ini. Ckckck berasa pacaran sama anakk kecil nih mbak Yoona. Kkk untung aja cakep. Wkwkwkw

    menurutku ffnya sweet bgt.. Apa tidak ada lanjutannya lagi.. Heheh

    next ditunggu ff lainnya. YoonKris lagi ya.. Hihihih

  3. OMO,,Kris kmu cemburuny gtu amat… Itu mslh sepele dibesar2in -_- harus sabar pny cowo kya gtu… YoonKris momentny Sweet bnget.. Keren thor (y)

  4. Astagaaa just a simple chessy romance. Tapiiii bisa bikin envy banget😂 stock cowo kaya karakter diatas semoga tersisah banyaak. Thaanks author keren!

  5. hhahaha kris koyol banget,cuma karna sebuah pelukan (yg disana biasa d pake buat sapaan) dia cembutu bgt..
    jalan ceritanya ringan, aku suka. karna ga usah mikir terlalu berat.
    simpel tapi seru…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s