[Freelance] Red Bean (Chapter 3)

red-bean

Red Bean

Author: Nikkireed | Cast: Im Yoona, Kim Suho, Kim Jongdae, Do Kyungsoo, Wu Yi Fan | Genre: Drama, Action, Romance | Rated for 17+

Yoona menahan nafas ketika Kris mendekatkan wajahnya di telinga Yoona sambil berbisik, “Katakan pada atasanmu untuk segera menemuiku. Jangan menggunakan umpan seorang wanita sepertimu untuk menggodaku.”
Kris menampilkan senyum miring yang khas lalu mengambil pena yang entah ia dapat darimana dan langsung menandatangani lengan kiri Yoona.
Yoona terbelalak dengan kalimat Kris, tidak mungkin. Ia mengenal Kepala Kim? Yoona menggeleng, “Um.. kurasa.. terima kasih.. Kris-ssi.”
Yoona segera bangkit berdiri dan menjauhkan dirinya dari Kris. Ia melepaskan jas yang diberikan Kris dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar ia berbalik sekali, “Terima kasih, Kris-ssi.” Yoona bahkan sempat membungkuk canggung memberi salam lalu melesat keluar secepat mungkin.

“Kami kehilangan kontaknya, hyung. Aku khawatir jika terjadi sesuatu padanya.” Jongdae memutar badan ke arah lain saat sambil menelepon Suho untuk mengabarkan hilangnya Yoona.
Sedangkan Kyung Soo mengerutkan kening melacak signal dari anting-anting Yoona, ya, anting-anting sialan yang membuat Yoona merasa gatal di telinga – hilang kontak saat ia masuk ke hotel itu bersama Kris.
“Tapi hyung, kita akan – oh! Itu!” Jongdae terkejut sontak melihat sosok Yoona berjalan keluar dari hotel. Ia segera menggerakan Kyung Soo yang masih duduk dengan PCnya, “Kyung Soo, itu Yoona!”
“Hyung, Yoona sudah ditemukan. Kurasa ia baik-baik saja. Nanti kutelepon lagi.” Jongdae memutuskan panggilannya dan menghampiri Yoona dengan setengah berlari.
“Kau?”
Kyung Soo yang membuka suara begitu Yoona sampai pada mereka.
Yoona tersenyum canggung, “Ini kan yang dimaksud?” Yoona memperlihatkan lengan kirinya yang sudah tercetak tanda tangan Kris.
Jongdae dan Kyung Soo sama-sama terkejut. Kyung Soo bergerak cepat, “Kita pergi.” Sambil menarik tangan Yoona dan mengambil jas hitam panjangnya. Jongdae yang masih tidak percaya segera menyusul.

Sesampainya mereka di Water Room, Kyung Soo melemparkan beberapa helai kain untuk Yoona. “Pakailah ini jika kau tidak nyaman.”
Yoona terkejut, sambil menunduk ia menyampirkan kain-kain tersebut untuk menutupi potongan bajunya yang minim. “Terima kasih.”
Jongdae datang dengan sebuah kotak putih dan piring stainless steel berisi air. “Kyung Soo, kita harus cepat sebelum kulitnya menyatu.”
Kyung Soo segera memakai sarung tangan ketat dan duduk di sebelah Yoona. Jarak yang terlalu dekat membuat kepala Yoona kosong. Ia bahkan tidak percaya dengan barusan yang terjadi.
“Aw.” Seru Yoona saat Kyung Soo dengan penjepit mencoba untuk melepaskan lapisan kulit sintetisnya di lengan kiri.
“Jongdae, bisa tolong ambilkan lebih banyak alcohol?” Kyung Soo berbicara tanpa menatap lawan bicaranya – masih terfokus dengan kulit Yoona.
“Baik.” Jongdae melesat keluar ruangan.
Hanya ada Yoona yang jantungnya berdetak kencang karena jaraknya yang terlalu dekat dengan Kyung Soo. Dan hanya ada Kyung Soo yang masih serius dengan hati-hati mencoba melepaskan kulit sintetis di tangan Yoona.
“Apa yang kau lihat?”
Pertanyaan Kyung Soo membuyarkan lamunan Yoona, “Ah.. itu.. tidak.”
Kyung Soo tidak melihat Yoona yang sangat melihatnya sekarang. Walaupun ia sadar bahwa Yoona sedang menatapnya sekarang.
“Aku ingin tahu.”
“Mwo?” Kyung Soo menghentikan aktifitasnya untuk melihat Yoona kali ini.
“Kenapa harus ada Water Office?”
Kyung Soo meletakkan penjepit di piring stainless steel dan menghela nafas sekali. “Memangnya kenapa?” Kyung Soo berbalik tanya.
Yoona tertegun karena pertanyaan balasan dari Kyung Soo. “Ah.. aku hanya ingin tahu.”
Kyung Soo melipat tangan di dada, menatap Yoona dengan sinis, “Untuk kebaikan dunia ini. Untuk balas dendam. Untuk berjaga-jaga.” Kyung Soo mendekatkan wajahnya pada Yoona, “Dan untuk menghibur hati seseorang yang pernah terluka.” Ia tersenyum miring lalu menjauhkan dirinya.
Yoona masih mencoba mencerna jawaban-jawaban yang Kyung Soo berikan. Menurutnya, jawaban yang terakhir terlalu emosional.
Kyung Soo menyadari wajah Yoona yang berkerut tidak mengerti. “Wae? Kau bingung?”
Yoona reflek mengangguk lemah, lalu dengan cepat menggeleng, “Aniya..”
Kyung Soo kembali mengambil penjepit dan mencoba melepaskan kulit di tangan kiri Yoona. Yoona merasa canggung, pasrah dengan sakit yang mendidih di kulitnya. Ia menahan erangannya, takut.
“Tidak usah menahan sakit.” Komentar Kyung Soo tanpa menatap Yoona.
“Tidak! AAAAAAW! –“
Kyung Soo dengan sengaja menarik kulit sintetis di tangan kiri Yoona, membuat Yoona berteriak. Tepat setelah Jongdae dan Suho masuk ke ruangan.
“Ada apa?!”
“Kau baik, Yoona-ssi?”
Jongdae dan Suho bertanya bersamaan setelah keduanya mendapati suara Yoona yang berteriak dan Kyung Soo dengan wajah yang datar. Jongdae meletakkan sebotol alcohol dan semangkuk air hangat di meja. Suho segera menghampiri Yoona.
“Ah, tidak. Tadi hanya –“
“Kulitnya tidak terlalu buruk. Ia akan sembuh nantinya.” Lapor Kyung Soo sambil membereskan peralatan yang baru ia gunakan ke dalam kotak putih.
“Kyung Soo, ikut aku ke Water Office.” Perintah Suho sambil berjalan ke pintu, lalu berbalik, “Sekarang.”
Kyung Soo melepaskan sarung tangan ketatnya dan melemparkan pada Jongdae yang reflek ia tangkap. “Bersihkan tangannya dengan alcohol.” Lalu mengambil kulit sintetis yang terdapat tanda tangan Kris.
“Eh?”
Begitu Kyung Soo dan Suho menghilang dibalik pintu, Jongdae menuangkan cairan bening tersebut ke mangkuk air hangat, lalu dengan memakai sarung tangan ketat baru – ia mengambil kapas dengan penjepit stainless steel dan mengobati kulit Yoona yang memerah sekarang.
“Apa masih sakit?” Tanya Jongdae berhati-hati.
“Sedikit.” Jawab Yoona pelan.
“Kyung Soo agak kasar, maafkan.” Jongdae merasa bersalah. Itu aneh untuk Yoona.
Yoona menjawab dengan gelengan, “Tidak, aku yang terkejut ia dengan tiba-tiba menarik kulit sintetis tersebut.”
“Ckh! Seharusnya ia tidak sekasar itu dengan perempuan.” Keluh Jongdae, memutar mata lalu menatap Yoona.
“Kurasa ia hanya memaksakan dirinya.”
Jawaban Yoona membuat Jongdae menghentikan aktifitasnya, “Maksudmu?”
“Tadi aku sempat bertanya padanya, mengapa harus ada Water Office. Dan jawabannya.. jawabannya ia bilang.. kebaikan dunia, berjaga-jaga, balas dendam dan.. untuk.. menghibur hati yang terluka.”
Jongdae tersenyum sebentar, “Tentu saja jawaban terakhir itu dirinya sendiri.”
“Apa?”
“Ia merasa kesepian semenjak Soo Jung meninggal karena bergabung bersama Water Office. Soo jung –“ Jongdae terdiam. Kemudian ia menutup mulut rapat-rapat, “Aku salah bicara. Maafkan aku, Yoona-ssi.”
“Siapa Soo Jung?” Tanya Yoona dengan kening berkerut.
“Ck, ah.. asal kau berjanji tidak memberitahunya kalau aku yang memberitaumu.”
Disambut dengan anggukan cepat dari Yoona, Jongdae menghela nafas panjang. “Soo Jung, pacar Kyung Soo, ah tidak – mantan pacar. Mereka putus 3 jam sebelum Soo Jung meninggal. Ia meninggal karena sedang bertugas. Kyung Soo sudah melarangnya untuk ikut dalam Water Office karena akan membahayakannya, tapi Soo Jung keras kepala. Sampai saat ia sedang bertugas untuk mengambil chip dari komputer milik Byun Baekhyun, ia tertembak. Kyung Soo yang menjaganya dari jauh langsung datang ke TKP untuk membawa Soo Jung pergi. Sampai akhirnya Soo Jung meninggal di perjalanan menuju rumah sakit.”
Yoona terbawa dalam cerita. Ia membayangkan emosi Kyung Soo yang selama ini tertahan, melihat ada agen perempuan yang bergabung dalam Water Office ini membuatnya tidak senang. Yoona mendecak sebal.
“Itu mengapa ia tidak suka ada agen perempuan lagi yang ikut dalam tugas Water Office.” Jongdae menyimpulkan kesimpulan yang sudah Yoona simpulkan.
Yoona mengangguk sekali tanda setuju, “Lalu bagaimana ia bisa bertahan? Apa kalian ketahuan?”
“Saat itu kami berada di Austria, setelah kejadian itu kami memalsukan identitas kami dan pulang ke Korea secepat mungkin. Sesampainya di Korea, Kyung Soo yang pertama meminta tugas, kurasa untuk melampiaskan emosinya. Entahlah.” Jongdae mengendikkan bahu.
“Pasti menyakitkan melihat seseorang yang ia sayangi harus meninggal di depan matanya.”
“Itu resiko, Yoona-ssi.” Jongdae kembali membasahi kapas dengan air alcohol dari mangkuk lalu menempelkan pada tangan kiri Yoona. “Nah, kurasa cukup.” Jongdae membuyarkan suasana.
Yoona memandang kulitnya yang kemerahan itu, “Terima kasih, Jongdae.”

“Yoona.”
Kyung Soo duduk menatap Suho yang berdiri sambil melemparkan sebuah amplop ke atas meja di hadapannya.
Kyung Soo melirik amplop dihadapannya lalu meraih dan mengeluarkan isinya. Potongan koran lama (?)
Lagi-lagi ia mengerutkan kening pada Suho yang menunggunya bereaksi sebelum membaca potongan koran tersebut.
BANK OF KOREA TUTUP KARENA PRESDIR MENGHILANG?
PUTRI DARI PRESDIR BANK OF KOREA MENAMPILKAN DIRI. APA BENAR?
PREDIS BANK OF KOREA DINYATAKAN MENGHILANG, LALU PUTRINYA?
Kyung Soo membelalakan matanya lalu menatap seram pada Suho yang berekspresi wajah kesal. Ia menaikkan sebelah alisnya.
Suho hanya mengangguk lemah.

Kakak beradik Kim pulang bersama kali ini. Banyak yang harus mereka bicarakan, tapi tidak saat ini. Suho keluar dari mobil terlebih dahulu, diikuti oleh kedua adiknya.
“Aku tidak makan malam ini. Kalian saja.” Ucap Suho tanpa nada saat mereka masuk ke lift apartment.
“Hyung.” Jongdae hendak menyela tapi Suho sudah menatapnya terlebih dulu.
“Ada yang ingin aku bicarakan, hyung.”
2 pasang mata menatap pada sumber suara – Kyung Soo. Saat pintu lift terbuka ia langsung menuju meja makan dan duduk.
Suho masih menahan diri di lift, sedangkan Jongdae sudah ikut duduk disamping Kyung Soo. “Hyung?” Panggil Jongdae pelan.
Dengan tidak semangat, Suho berjalan mendekati mereka dan duduk.
“Apa Im Jae Won itu – “ Kyung Soo menggantung pertanyaannya menatap reaksi Suho dan Jongdae.
“Im Jae Won? Suami Nyonya Lee?” Tanya Jongdae dengan polosnya.
“Ya.” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Suho.
Kyung Soo menghela nafas, “Jadi istrinya meminta kita untuk membunuh suaminya demi harta? Lalu bagaimana dengan Yoona? Malang sekali perempuan itu!”
Jongdae mengerutkan kening, “Apa maksudmu? Apa hubungan Im Jae Won dengan Yoona?”
“Im Jae Won dan Im Yoona. Presdir Bank of Korea yang dibunuh oleh..”
“Soo Jung.” Jawab Jongdae melemas, ia sadar akan sesuatu setelah jawaban Kyung Soo. Jongdae menatap hampa. Pikirannya mendidih, tidak percaya. Sesungguhnya ketiga kakak beradik Kim ini tidak ada yang percaya!
“Oh ini sangat tidak dapat dipercaya!” Seru Jongdae dengan sedikit mengacak rambutnya. “Aku akan gila, kurasa.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan, hyung?” Kyung Soo berbicara disela giginya, bertanya pada Suho yang masih terdiam.
“Aku akan memecatnya besok.”
Jongdae reflek bergerak menghadap Suho, “Hyung, yang benar saja!”
“Lalu apa? Apa kita akan tetap memperkerjakan seseorang yang ayahnya baru kita bunuh dan kita akan menyimpan perkara tersebut dengan diam? Atau apa? Mencari ibunya untuk bertanggung jawab? Miliyaran won yang sudah kau habiskan itu bisa kau bayar kembali pada Nyonya Lee?” Pertanyaan bertubi-tubi tersebut membuat meja makan tersebut bergetar. Begitu juga dengan manusia-manusia di dekatnya.
PC Kyung Soo bergetar pertanda panggilan masuk. “Kurasa ia akan segera mengetahuinya.” Kyung Soo mengangkat PCnya untuk Jongdae dan Suho lihat. Tertera nama Im Yoona dengan jelas di layar tersebut.

Yoona’s POV
Saat aku membuka mataku, aku berada di tempat yang berbeda dengan yang terakhir aku ingat. Seharusnya aku ada di kedai makanan milik Bibi Goo, tapi sekarang mataku sedang beradaptasi berusaha menyadari tempat ini.
Sebuah kamar dengan dominasi berwarna putih, kesan kamar yang terang dengan jendela kaca menjulang tinggi dan tanpa tirai.
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali untuk menyadari bahwa ternyata di luar jendela tersebut adalah sebuah kolam renang yang airnya kelihatan biru, dan beberapa bangku taman yang disusun rapi. Tidak sempat menyadari kolam renang, aku memeriksa tubuhku. Berpakaian lengkap sesuai ingatan terakhirku. Bahkan sepatuku masih menempel di kaki.
Detik jam weker di nakas samping kasur yang menyadarkanku bahwa ini sudah pukul 7 lewat 5, pagi. Tidak salah lagi, aku pasti tertidur saat makan di kedai Bibi Goo dan seseorang membawaku kesini.
Perhatianku tertuju pada gelas dan 2 buah pil di samping jam weker dan ponselku.
‘Minum ini setelah kau bangun, dan temui aku di Water Room. Ada yang perlu dibicarakan. – K’
Aku menahan senyum, tentu saja! Semalam aku minum soju, beberapa gelas yang aku ingat, lalu tertidur di meja. Dan mungkin Bibi Goo menelepon Kyung Soo untuk membawaku kesini. Aku meraih pil tersebut dan minum dari gelas dengan cepat. Lalu bangkit untuk memeriksa ponselku, 2 panggilan dari Chen dan 1 panggilan dari Kepala Kim. Baik, ada yang perlu dibicarakan. Aku bergegas untuk keluar dari ruang kamar tersebut dan dengan cepat menuju Water Office.
Yoona’s POV end

Yoona sampai pada langkah terakhir sebelum menuju pintu Water Room. Seharusnya ia tidak perlu mengetuk, atau merasa canggung dengan agen lain yang sudah menunggunya di dalam sana. Seharusnya. Tapi karena merasa malu harus pingsan karena mabuk di depan Kyung Soo dan yang lain, ia pura-pura melongokan kepalanya sebelum masuk sepenuhnya ke dalam Water Room.
Tiga pasang mata langsung tertuju padanya saat ia tersenyum dengan canggung seperti ketahuan mengintip.
Wajah Yoona merona karena menahan malu. Tapi ia tetap berjalan menghampiri tiga sosok yang sudah menunggunya itu.
“Apa kabarmu, Red Bean?” Sambut Jongdae dengan senyum ceria, ia menarik tangan Yoona untuk duduk di salah satu kursi di meja tengah.
Suho juga sudah duduk disana, wajahnya datar menghadap ke meja. Sedangkan Kyung Soo hanya berdiri dan bersandar di dekat lemari kaca sambil melipat tangan di dada.
Setelah berhasil membuat Yoona duduk, Jongdae ikut berdiri di sebelah Kyung Soo.
“Im Yoona?”
Yoona menoleh pada Suho yang memanggilnya tanpa menatap ke arahnya. “Ya, Kepala Kim?”
“Kau Im Yoona?”
Yoona tidak mengerti, ia menoleh bingung pada Kyung Soo yang menatapnya tajam dan Jongdae yang mengendikkan bahu. “Eh – ya, Kepala Kim.”
Akhirnya Suho mengeluarkan sebuah amplop dan meletakkan di atas meja, tepat di hadapan Yoona. “Ini tugas ketigamu. Tanpa Kyung Soo dan Jongdae.”
Amplop di hadapan Yoona itu tampak seperti amplop lain, tapi entah mengapa kali ini Yoona merasa tidak biasa. Ia sedikit gugup menerima amplop tersebut. “Ya, Kepala Kim. Terima kasih.”
Suho bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Water Room.
Setelah hanya menyisakan Kyung Soo, Jongdae dan Yoona diruangan tersebut, Yoona segera menatap lemas pada kedua kakak-adik tersebut.
“Kepala Kim bersikap aneh, hari ini.”
Tapi kometar Yoona tidak dibalas siapapun dalam ruangan tersebut. Jongdae bergerak menghampiri dan duduk di sebelah Yoona, “Coba kita lihat tugas apa yang kau dapat kali ini.” Jongdae mengintip isi amplop Yoona. Lalu mengeluarkannya, selembar foto.
Sesosok perempuan kecil yang tersenyum manis, berambut coklat panjang yang diikat tinggi dengan seragam sekolah khas anak remaja – di belakang foto tersebut terdapat sebuah tulisan ‘Im Yoona, 2000’
Mulut Yoona membulat akibat keterkejutan foto tersebut.

Suho menerima sebuah kotak di mejanya begitu ia kembali ke ruangannya. Kotak berwarna perak seukuran genggaman tangan bertengger manis di meja kayu, membuat si pemilik menghampiri kotak tersebut dengan pertanyaan di otaknya.
Begitu ia buka kotak tersebut, terdapat sepasang anting berwarna emas – milik Yoona, yang ia gunakan untuk tugas keduanya kemarin. Suho mengerutkan kening kemudian dengan cepat memanggil Jongdae lewat intercom.
Jongdae datang begitu mendapat panggilan, ia menghampiri meja hyung-nya.
“Ini milik Im Yoona ‘kan?” Suho mengangkat anting-anting perekam suara tersebut pada Jongdae.
Jongdae menilik lebih dekat dengan benda di tangan Suho, “Benar, tapi bagaimana – ia pasti meninggalkannya disembarangan tempat.”
“Cari tahu siapa pengirim kotak ini dan panggilkan Im Yoona untukku.”

Tersisa Kyung Soo dan Yoona di Water Room, begitu Jongdae mendapat panggilan dari Suho. Yoona menunduk tidak berdaya, ia meremas ujung kemejanya karena gugup.
Terdengar langkah Kyung Soo berjalan mendekat, kemudian ia duduk di kursi sebelah Yoona. “Kau lebih baik?”
Yoona mengangkat kepalanya, “Baik.”
“Aku akan memberitahumu sesuatu jika kau menjawab pertanyaanku. Kepala Kim memang sengaja meninggalkan aku untuk bertanya padamu mengenai satu, siapa dirimu sebenarnya; kedua, mengapa ada foto kecilmu disini; ketiga, mengapa kau membahayakan dirimu semalam.” Kyung Soo melipat tangan, menunggu reaksi Yoona. Matanya tajam meminta jawaban pada Yoona.
Yoona bergerak gelisah, “Aku –“
Kyung Soo masih menunggu dengan sabar.
Yoona menimbang-nimbang mengenai apa yang harus ia beritahu. “Baik. Begini,” Yoona mendeham, “Aku Im Yoona, dan foto itu benar adalah aku. Mengapa ada foto itu disini, aku tidak tahu. Yang aku tahu,” Yoona menarik nafas pelan, “Yang aku tahu, semalam aku minum soju di kedai Bibi Goo dan tertidur.”
Kyung Soo mendatarkan ekspresinya, “Semalam kau – semalam kau mabuk, aku mendapat telepon dari ponselmu dan seseorang berkata kau dalam bahaya. Saat aku dan Jongdae menlacak posisi ponselmu, itu ada pada kedai itu. Kau –“
Jongdae tiba-tiba melesat masuk dengan nafas terburu-buru, “Yoona sepertinya ketahuan oleh Kris!”
Kyung Soo berhenti dan menatap Jongdae dengan alis bertaut, “APA?!”
“Suho hyung memanggilnya untuk pemeriksaan. Aku harus cari tahu pengirimnya siapa.” Jongdae kemudian melesat lagi.
Detik itu juga, PC Kyung Soo mendapat pesan dari Suho. Rumah. Sekarang. Dan bawa Red Bean itu.
“Apa yang harus kulakukan?” Tanya Yoona sedikit menggigit bibir.
“Ikut aku.” Kyung Soo menarik tangan Yoona dan melesat cepat seperti Jongdae.

Sesampainya di apartment Kim bersaudara, Yoona dibiarkan duduk seorang diri di ruang keluarga. Kyung Soo dan Suho berbicara pelan dari lantai atas sambil mengawasi Yoona yang sendirian.
“Ia hanya mengakui bahwa foto itu adalah dia. Hyung, apa seharusnya kita beritahu dia yang sebenarnya?”
Suho menggeleng, “Yang aku takut, ia bahkan sudah tahu yang sebenarnya, Kyung Soo-ah.”
“Lalu, bagaimana dengan perekam suara tersebut?”
“Kyung Soo, kurasa kita harus bergerak cepat.” Suho berjalan menuruni tangga dan menghampiri Yoona yang sedang duduk diam. Sedangkan Kyung Soo mengamati kedua orang itu dari lantai atas.
“Oh, Kepala Kim.” Yoona berdiri dan sedikit menunduk.
“Silakan duduk, ini rumah kami. Jadi jangan sungkan.” Suho mengedarkan senyuman tampan pada Yoona kemudian duduk di salah satu sofa panjang diruangan tersebut. “Yoona-ssi, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Hmm” – Suho menghela nafas, “Apa anting-antingmu tertinggal saat menjalankan tugasmu kemarin?”
Yoona menunduk, merasa bersalah. Ia sebenarnya sudah menyadari kehilangan anting-antingnya sejak kemarin, hanya nyalinya belum cukup untuk memberitahu mereka. Apalagi mengenai Kris yang mengancam Suho lewat Yoona.
“Ehhh – ya, Kepala Kim. Maafkan aku.”
Suho menggeleng cepat, “Tidak, tidak. Tidak perlu meminta maaf. Apakah kau merasa ada yang aneh semenjak kau bertemu dengan Kris?”
“Ya, Kepala Kim.”
“Apa?”
“Kris mengancam dan berkata padaku agar tidak menggunakan umpan wanita untuk menggodanya.”
Suho terdiam. Memandang ke lantai atas – pada Kyung Soo yang mengerutkan kening, “Ah begitu rupanya. Apa ia sempat melakukan hal fisik padamu? Seperti memukulmu atau apa?”
Yoona menggeleng pelan dan tersenyum tipis, “Tidak. Ia memberikanku tanda tangannya dengan mudah. Saat ia..” Yoona teringat pada ciuman pipi dari Kris yang membuatnya terburu-buru keluar dari hotel, “Saat ia selesai memberikan tanda tangan, aku buru-buru keluar. Tapi anting-antingku tertinggal di meja.”
Tepat setelah Yoona menyelesaikan ceritanya, Jongdae datang dengan nafas terburu-buru (lagi). “Hyung, alamat pengirimnya tidak terlacak. Tapi aku menemukan kode ini di bawah kotak tersebut.” Jongdae menyerahkan sebuah potongan kotak tersebut. 123db34n.
Suho memberikan tatapan mematikan pada Yoona, “Ini kode Red Bean.”
Yoona lagi-lagi terkejut. Sama seperti Kyung Soo yang di atas, terburu-buru turun untuk menghampiri mereka.
“APA?!”
“Kau memberikan kodemu pada Kris, huh?”
Yoona menggeleng ketakutan, bibirnya bergetar, “Ti-tidak. Aku – aku tidak tahu. Maafkan aku, maafkan aku.” Yoona berkali-kali meminta maaf dan menunduk.
“CKH! Sudah kubilang, tugas ini tidak boleh diberikan pada seorang wanita.” Kyung Soo sedikit berteriak, membuat suaranya bergema di seantero ruangan. Ia melotot kepada Yoona yang menunduk.
“Kyung Soo!” Bentak Suho. “Apa kau pikir dengan menyalahkan agen wanita akan membuatmu cepat lupa pada Soo Jung, huh?!”
Jongdae terkejut, ia melirik Suho, “Hyung.”
Suho naik emosinya sampai ke kepala karena wajahnya memerah dan sekarang ia menghela nafas panjang ketika Kyung Soo berjalan meninggalkan ruangan. “Pergilah menyusul Kyung Soo, Jongdae. Aku butuh waktu dengan Yoona.”
Kemudian Jongdae beranjak segera menyusul Kyung Soo.

An. Haloooo Olympians, buat yang minta NC maaf banget aku belum bisa kabulkan karena beberapa hal. Jadi ini part 3nya, seperti ini saja. Aku berusaha mempermudah konfliknya, tapi ternyata jadi begini. Jangan bash aku kalo aku sempet ship KyungSoo sama SooJung. Haha, gatau kenapa mereka cocok aja menurut aku. Doain semoga part 4nya cepat kelar, ne? thanks for reading ^^

26 thoughts on “[Freelance] Red Bean (Chapter 3)

  1. hai..aku reader baru..aku suka Yoona ma Suho dan pingin baca ff ini tapi aku kebingungan nyari chapter satunya..pingin banget bacanya..giman caranya aku nemuin chapter satunya..gomawo

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s