[Freelance] Multichapter : Special Girl (Chapter 4)

Special Girl - Poster

Chastell present

Im Yoon Ah | Oh Sehun | Kris Wu

School life, romance, fluff

Poster by Xoshinki

 

Seorang yeoja sedang berbaring di atas sebuah kasur besar berwarna biru langit. Kedua kelopak matanya yang semula tertutup rapat kini telah terbuka secara perlahan-lahan. Ia melihat ke sekelilingnya dengan tatapan yang kosong, kemudian memposisikan dirinya untuk duduk di atas kasur, “bukankah ini adalah kamarku?”

Pandangan yeoja ituYoonateralihkan oleh sebuah jam dinding Duc d’Orleans Breguet Sympathique—jam dinding dengan harga 54 miliar yang dibelikan Tn.Im sebagai hadiah ulang tahun Yoona yang ke-lima belas. Jarum pendek jam tersebut berada di antara angka sebelas dan angka dua belas, sedangkan jarum panjangnya berada di angka tiga. Yeoja itu memandang jam itu lama, hingga tiba-tiba ia sadar akan satu hal, “Astaga! Ini sudah siang dan aku belum ke sekolah?!” Teriak Yoona sambil berjalan pelan keluar kamar karena badannya masih lemah.

“Anthony!” Panggil Yoona sambil menuruni tangga.

“Ada apa, nona?” Tanya Anthony yang sudah berada di depan tangga.

“Mengapa aku tidak dibangunkan?” Tanya Yoona sedikit panik.

“Nona benar-benar tidak ingat akan kejadian kemarin malam?” Tanya Anthony hati-hati.

Yoona terdiam sejenak berusaha untuk mengingat kejadian kemarin malam, “Ahh, kemarin malam aku terkunci di ruang kesenian dantunggu dulu, bagaimana aku bisa berada di rumah?”

“Kemarin malam James menunggu nona di depan pintu gerbang sekolah tapi nona tak kunjung-kunjung keluar. Jadi James bertanya kepada seorang murid namja yang kebetulan baru keluar dari gedung sekolah.” Jelas Anthony.

*flashback*

“Permisi tuan, apakah anda kenal dengan seorang murid yeoja bernama Im Yoona?” Tanya James pada seorang murid namja.

“Im Yoona? Hm, mungkin. Ada apa?” Tanya namja itu.

“Saya adalah supir pribadi nona Yoona, saya sudah menunggu lebih dari satu jam dari waktu yang diperintahkan nona untuk menjemputnya, tetapi nona tak kunjung keluar dari gedung sekolah,” jelas James.

Namja itu tampak sedikit kaget, “tunggulah sebentar, saya akan mencarinya,” ucap namja itu kemudian langsung berlari tergesa-gesa ke dalam gedung sekolah.

Setelah setengah jam menunggu, namja tadi keluar dari gedung dengan menggendong Yoona yang tidak sadarkan diri. James yang kaget langsung menghampiri namja tersebut dan membantu membawa Yoona masuk ke dalam mobil.

“Apa yang terjadi tuan?” Tanya James cemas.

“Saya juga kurang tahu. Tadi saya menemukannya terkunci di dalam ruang kesenian. Saat saya membuka pintunya dengan kunci yang sudah saya pinjam, Yoona sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai,” jelas namja itu sambil menutup pintu mobil setelah memasukan Yoona ke dalam mobil.

“Apa ruangan itu gelap?” Tanya James.

“Iya,” jawab namja itu.

“Ahh, nona Yoona sangat takut dengan kegelapan. Nona akan pingsan dan demam tinggi apabila ketakutannya berlanjut terus-menerus—Terima kasih tuan. Jika tidak ada anda, mungkin keadaan nona Yoona akan semakin memburuk,” ucap James sambil membungkuk ke arah namja itu.

“Pulanglah dan rawatlah Yoona dengan baik,” ucap namja itu sambil membungkuk pelan kemudian pergi meninggalkan James.

*flsahback end*

“Siapa namja itu?” Tanya Yoona penasaran.

“Saya juga kurang tahu. Nona bisa menanyakan hal itu pada James nanti, sekarang nona harus makan terlebih dahulu karena nona baru sadar sejak kemarin malam dan wajah nona masih pucat, kemudian nona harus meminum obat lalu beristirahat,” ucap Anthony panjang lebar.

Yoona hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Anthony. Yoona sudah menganggap Anthony sebagai keluarganya sendiri, dari kecil Anthony selalu mendampingi Yoona hingga sekarang. Ketika kedua orangtuanya tidak ada, Anthonylah yang akan merawat dan menjaga Yoona. Bagi Yoona, Anthony sangatlah berharga.

«««

Kris sedang bersandar di depan sebuah tembok dekat perpustakaan. Ia memejamkan matanya sambil memikirkan sesuatu. Ia memikirkan Yoona. Ya, Kris masih kesal dengan perlakuan Yoona yang melukai Seohyun. Kris bahkan sengaja tidak mengangkat telepon dari Yoona kemarin malam. Kris merasa sangat tidak enak pada Seohyun mengingat Seohyun pernah menolong eommanya.

Oppa!” Panggil sebuah suara.

Ah, kenapa Seo?” Tanya Kris memandang ke arah Seohyun.

“Temani aku ke kantin, eoh?” Pinta Seohyun sambil memeluk lengan Kris.

Kris hanya mengangguk pelan kemudian berjalan berdampingan dengan Seohyun ke arah kantin, “Apa oppa tau mengapa murid-murid di sini memandangi kita seperti itu?” Tanya Seohyun saat sudah sampai di kantin.

“Tidak, memangnya kenapa?” Tanya Kris sambil meminum orange juice yang tadi ia pesan.

“Itu karena seorang namja tampan dan seorang yeoja innocent terlihat sedang bersama,” ucap Seohyun sambil tersenyum manis.

“Tampan? Innocent?” Tanya Kris tak mengerti.

“Kau tampan, oppa. Dan banyak orang mengataiku innocent dan aku mengakui itu,” jawab Seohyun sambil menatap Kris dengan mata innocentnya dan dibalas dengan kekehan pelan dari Kris.

Kris sedang fokus menghabiskan orange juice yang ada di depannya sekarang hingga ia melihat seseorang, “Sehun­-ssi,” panggil Kris.

Sehun yang merasa dipanggil menoleh ke arah Kris, “apa?” Tanya Sehun singkat.

“Sampaikan pada Yoona untuk menemuiku sepulang sekolah,” ucap Kris yang dibalas dengan tatapan tak suka dari Seohyun.

Eh? Kris oppa kenal dengan Sehun?” Tanya Seohyun mengalihkan perhatian Kris dan Sehun.

“Iya, tapi aku hanya tahu kalau dia adalah teman sekelas Yoona,” jawab Kris.

Oh, Sehun, duduklah di sini bersama kami,” ajak Seohyun dengan nada memelas.

“Tidak,” jawab Sehun singkat kemudian berjalan pergi.

“Sehun­-ssi, jangan lupa sampaikan pada Yoona ya,” ucap Kris sedikit berteriak yang menyebabkan Sehun memutar balik badannya.

“Yoona tidak masuk hari ini,” jawab Sehun singkat langsung pergi dari kantin.

Kris yang kaget mendengar berita bahwa Yoona tidak masukpun berdiri besiap untuk mengejar Sehun untuk meminta penjelasan, “Oppa mau ke mana?” Tanya Seohyun sambil menahan tangan Kris.

“Aku ingin berbicara dengan Sehun sebentar,” jawab Kris.

“Ta—aww,” rintih Seohyun tiba-tiba.

“Ada apa, seo?” tanya Kris yang sedikit kaget.

Ah, tiba-tiba kakiku yang terluka kemarin sakit lagi,” jawab Seohyun yang membuat Kris berjongkok dan melihat kondisi kaki Seohyun yang terluka.

“Mau kubawa ke UKS?” Tanya Kris menatap Seohyun cemas.

Seohyun hanya mengangguk pelan, “Tapi, aku tidak bisa berjalan dengan baik, oppa,” jawab Seohyun.

Kris yang mengerti maksud dari ucapan Seohyun langsung membantu Seohyun berdiri dan merangkulnya untuk pergi ke UKS.

.

.

“Sehun-ssi!” Panggil Kris di depan kelas 11-A saat pulang sekolah.

“Apa?” Tanya Sehun yang merasa terganggu dengan kehadiran Kris.

“Mengapa Yoona tidak masuk hari ini?” Tanya Kris to the point.

“Sakit,” jawab Sehun singkat.

“Sakit?! Sakit apa?” Tanya Kris panik.

Sehun menghela napas kasar karena malas menjawab pertanyaan Kris, “Kemarin ia terkunci di ruang kesenian dan saat aku menemukannya, ia sudah pingsan tergeletak di lantai.”

“Apa?! Kapan kejadian itu terjadi?” Tanya Kris yang tak dapat menahan rasa kagetnya.

“Kemarin malam, setelah pulang sekolah,” jawab Sehun kemudian langsung pergi ke luar kelas.

Kris terdiam sejenak, ‘Jangan-jangan Yoona meneleponku kemarin untuk meminta pertolonganku?’ batin Kris.

Kris langsung berlari keluar kelas dengan dilanda rasa bersalah, dengan segera ia masuk dan menyalakan mobilnya kemudian dijalankan dengan kecepatan tinggi.

.

.

TING TONG TING TONG

Bel rumah Yoona yang terus saja berbunyi tanpa henti membuat Anthony dengan cepat keluar rumah dan membuka pintu gerbang.

“Ada apa, Tuan Kris?” Tanya Anthony.

“Di mana Yoona?” Tanya Kris.

“Ada di kamar, tuan,” jawab Anthony.

“Bolehkah aku masuk?” Tanya kris sambil sesekali melihat ke arah dalam rumah.

“Tentu saja, tuan,” jawab Anthony yang langsung membuat Kris lari terburu-buru ke dalam rumah Yoona.

TOK TOK TOK!

Mendengar pintu kamarnya diketuk, Yoona berjalan ke arah pintu dan memutar ganggang pintunya, “Kris?”

Kris tanpa basa-basi langsung menarik Yoona ke dalam dekapanannya.

“Apa yang kau lakukan?” Jerit Yoona yang langsung mendorong tubuh Kris agar menjauh, tetapi Kris malah semakin mempererat pelukannya.

“Maafkan aku, yoong..” Bisik Kris lembut.

Yoona yang semula meronta-ronta kini terdiam, “untuk apa?”

“Maafkan aku untuk tidak mengangkat telepon saat kau sedang sangat membutuhkanku,” ucap Kris yang hampir menangis karena merasa bersalah.

Yoona hanya diam tak merespon ucapan Kris, “aku tidak mengangkat teleponmu karena aku masih kesal denganmu yang melukai Seohyun. Maafkan aku Yoong. Maafkan aku,” ucap Kris sambil menitikkan dua butir air mata.

“Maafkan aku yang tak bisa menepati janjiku untuk selalu melindungimu,” lanjut Kris.

Yoona melepaskan pelukan mereka kemudian menghapus air mata Kris, “tidak apa. Seharusnya aku yang menjaga diriku sendiri, bukan kau.”

“Tidak, yoong. Aku juga harus menjagamu. Kau sangat berharga bagiku,” jawab Kris sambil mengelus wajah Yoona.

“Lalu mengapa kau lebih percaya dengan Seohyun daripada aku?” Tanya Yoona tiba-tiba.

“Apa maksudmu?” Tanya Kris.

“Aku tidak pernah mendorong Seohyun,” jawab Yoona dengan mata yang berkilat menandakan kesungguhannya dalam mengatakan hal itu.

“Tetapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kau mendorong Seohyun, yoong. Kau melukai orang yang telah menyelamatkan eomma-ku, yoong,” jawab Kris dengan lembut.

“Menyelamatkan eomma-mu?” Tanya Yoona.

“Beberapa minggu lalu, eomma hampir tertabrak mobil dan Seohyunlah yang menyelamatkan eomma,” jawab Kris.

Oh, untunglah ahjumma selamat. Tapi, aku benar-benar tidak mendorongnya Kris,” tegas Yoona sekali lagi.

“Sudahlah, Yoong. Let’s forget it, hm?” Ucap Kris sambil mengacak-acak rambut Yoona yang hanya dapat menghela napas pasrah.

«««

Setelah merapikan seragamnya, Yoona mengambil tasnya kemudian berjalan turun ke lantai bawah. Seperti biasa, Yoona sarapan terlebih dahulu.

“Terima kasih atas makanannya, Robert!” Ucap Yoona sambil tersenyum.

Semua pelayan dan koki membungkukkan badan mereka saat Yoona berjalan keluar untuk pergi sekolah.

“Hati-hati di jalan, nona,” ucap Anthony sambil tersenyum.

Okay,” jawab Yoona membalas senyuman Anthony yang membungkuk ke arah Yoona.

Good morning, miss,” sapa James yang dibalas dengan senyuman Yoona, “Good morning, James,” ucap Yoona sambil masuk ke dalam mobil.

James menyalakan mesin mobil kemudian mulai menyetirnya dengan hati-hati menuju ke sekolah, “James?”

“Ya, nona?” Sahut James yang masih fokus dengan acara menyetirnya.

“Apa kau tahu siapa yang menolongku di sekolah kemarin?” Tanya Yoona penasaran.

Hm, kalau tidak salah namanya.. Oh Sehun,” jawab James.

“Sehun?” Ulang Yoona sekali lagi karena kaget sekaligus bingung.

“Iya, nona,” jawab James yang dibalas dengan anggukan pelan dari Yoona.

.

.

Seperti biasa, Yoona selalu pergi ke atap sekolah setiap dia ada waktu. Tetapi, kali ini Yoona ada maksud tertentu. Ia menunggu seseorang. Lebih tepatnya, berharap agar orang itu bisa datang ke atap sekolah.

Sambil menunggu Yoona memasang earphone di telinganya, ia duduk bersandar di sebuah dinding dengan kedua mata yang dipejamkan. Ia menikmati angin pagi sejuk yang menerpa wajah halusnya dan tanpa ia sadari, ia tertidur karena itu.

Tak berapa lama, datanglah seseorang yang ditunggu Yoona, siapa lagi kalau bukan orang yang menyelamatkannyaSehun. Sehun duduk di sebelah Yoona kemudian memandang wajah Yoona dalam. Kemudian, ia mengarahkan tangannya ke wajah Yoona untuk menyelipkan rambut Yoona ke belakang telinganya agar tidak mengganggu tidurnya.

Sehun menatap Yoona lama dengan tatapan yang lembut, “Hng,” lenguh Yoona yang perlahan-lahan membuka matanya.

Sehun yang kagetpun langsung menghadap ke arah lain pura-pura melihat pemandangan, “Sehun?” Panggil Yoona.

“Apa?” Tanya Sehun singkat.

“Sejak kapan kau di sini?” Tanya Yoona.

“Sejak tadi,” jawab Sehun seadanya.

Hm, terima kasih Sehun,” ucap Yoona sembari tersenyum pada Sehun.

Sehun mengernyitkan dahinya, “untuk?”

“Karena telah menolongku saat aku terkunci di ruang kesenian, aku merasa berhutang budi padamu,” ucap Yoona yang menatap ke langit.

Oh, you’re welcome. Tapi, hutang budi harus dibayar bukan?” Ucap Sehun yang membuat Yoona menoleh kaget ke arahnya.

“Kau mau apa?” Tanya Yoona takut-takut, “kau tak akan melakukan hal yang aneh-aneh padaku kan? Aku tak akan mau walaupun aku berhutang padamu,” lanjut Yoona sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

YAK! Memangnya kau kira aku ini namja bejat?” Teriak Sehun yang tak terima kalau ia dikira macam-macam.

“Bisa jadi ‘kan…” Jawab Yoona pelan sambil melepaskan kedua tangannya dari depan dadanya.

Sehun memberikan tatapan tajam pada Yoona yang membuat Yoona bergidik ngeri, “Iya, iya. Tak usah menatapku seperti itu. Kau mau apa?”

Sehun mengganti tatapannya menjadi tatapan yang santai, “aku masih belum memikirkannya,”

“Apa?” Tanya Yoona.

“Berikan aku waktu sebentar untuk berpikir,” jawab Sehun.

“Pikirkanlah nanti, tidak sekarang,” ucap Yoona.

“Kenapa?” Tanya Sehun.

“Karena satu menit lagi bel masuk pelajaran akan berbunyi,” jawab Yoona sambil melepaskan earphone dari telinganya kemudian siap untuk pergi.

Sedangkan Sehun hanya menghela napas pelan, “Ayo pergi bersama.”

Hanya tersisa beberapa langkah hingga Sehun dan Yoona menginjakkan kaki mereka ke kelas mereka sebelum seseorang menginterupsinya.

“Sehun-ah!” Panggil sebuah suara yang membuat Sehun menoleh malas.

“Apa?” Tanya Sehun ketus pada yeoja tersebut.

“Aku dari tadi mencarimu, tetapi kau tidak adaIm Yoona?” Ucapan yeoja itu alias Seohyun terputus karena kaget melihat Yoona yang berdiri di samping Sehun.

Sehun hanya diam tak menghiraukan Seohyun, sedangkan Yoona menatap dingin Seohyun, “Kudengar kalau kau sakit? Untunglah kau sudah sembuh, aku senang karena itu,” ucap Seohyun sambil tersenyum manis.

Yoona hanya membalasnya dengan tatapan tajam kemudian langsung masuk ke dalam kelas diikuti oleh Sehun. Setelah mereka masuk ke dalam kelas, terdengar kasak-kusuk dari murid-murid yang menyaksikan perbincangan singkat antara Seohyun dan Yoona.

“Gadis itu benar-benar tidak sopan! Seohyun begitu baik memperhatikannya, tetapi dia hanya membalas dengan tatapan tajam?”

“Kasihan sekali Seohyun. Dia pasti sedih niat baiknya dibalas seperti itu.”

“Yoona pasti akan kena ganjarannya karena sudah melukai perasaan Seohyun!”

.

.

“Saya rasa kalian sudah tahu tentang akan diadakannya sebuah festival untuk memeriahkan ulang tahun sekolah ini,” ucap Park songsaengnim—wali kelas 11-A.

Ne, saem,” jawab anak-anak kelas 11-A serempak.

“Jadi, tiap dua kelas akan digabung dan akan menampilkan drama musikal yang nantinya akan ditampilkan saat festival nanti. Kelas ini akan bergabung dengan kelas sebelah, yaitu 11-B,” ucap Park songsaengnim mejelaskan.

Murid-murid kelas 11-A mendengar dengan cermat tanpa ada yang berkomentar, “Setelah ini, kalian akan berkumpul bersama mereka dan pikirikan cerita apa yang akan kalian gunakan serta penokohannya. Saya ingin penampilan kalian lebih bagus dari kelas-kelas lain, bisa?” Tanya Park songsaengnim.

Yes, saem!” Jawab mereka dengan semangat.

“Baiklah, sekarang saem tinggalkan kalian. Berdiskusilah tentang dama musikal, jangan berdiskusi tentang hal lain. Sebentar lagi anak kelas 11-B akan datang ke kelas ini untuk berdiskusi. Keluarkanlah ide kalian, mengerti?” Tanya Park songsaengnim yang sedang menyusun barang-barangnya.

“Mengerti, saem!” jawab mereka semangat lagi.

“Bagus, selamat pagi,” ucap Park songsaengnim meninggalkan kelas.

“Selamat pagi dan terima kasih, saem!” jawab mereka serempak.

Tak berapa lama, anak-anak kelas 11-B masuk ke dalam kelas 11-A dan mereka mulai berdiskusi.

“Jadi kita akan menampilkan drama musikal Cinderella, yang akan menjadi pangerannya adalah Oh Sehun. Sekarang kita harus memilih Cinderellanya,” jelas Seohyun yang memimpin proses diskusi.

“Kamu saja, Seo!” Ucap seorang namja berambut agak botak.

“Iya, kamu sangat cocok!” Ucap murid lain lagi.

“Tapi, aku tidak pandai berakting,” jawab Seohyun dengan wajah yang innocent.

“Kamu pasti bisa, Seo! Ayo!” Ucap beberapa murid untuk menyemangati Seohyun.

“Baiklah…” Ucap Seohyun sambil tersenyum malu.

Jawaban Seohyun membuat seisi ruangan berteriak gembira hingga seseorang mengangkat jarinya, “Ada apa, Sehun-ah?” Tanya Seohyun tersenyum manis.

“Tak bisakah kalau aku sendiri yang memilih Cinderellanya?” Tanya Sehun yang membuat Seohyun sedikit kaget.

“Bisa-bisa saja, tapi sudah hampir seluruhnya memilihku sebagai Cinderella, jadi… Memangnya kau mau memilih siapa?” Tanya Seohyun penasaran.

“Im Yoona,” jawaban singkat Sehun itu membuat Yoona membelalakan matanya dan menatap tajam Sehun yang mengartikan bahwa ‘aku tidak mau.’

Sehun pun memandang Yoona dengan tenang kemudian menggerakan bibirnya tanpa mengeluarkan suara tapi dapat ditangkap dengan jelas oleh Yoona, ‘hutang budi.’

Semua murid yang semula berisik karena Sehun memilih Yoona sebagai Cinderella kini menjadi diam karena Seohyun berbicara di depan kelas, “tapi, mereka memilihku sebagai Cinderella, Sehun-ah. Kalau kau tiba-tiba mengganti, aku tidak tahu apakah mereka akan setuju atau tidak,” lanjut Seohyun.

“Jadi, apakah ada yang tidak setuju kalau Yoona menjadi Cinderella?” Tanya Sehun dengan suara yang datar.

Tidak ada satu muridpun yang menjawab maupun menagangkat tangan, “Baik, kuanggap semuanya setuju.”

“Tapi—” Ucapan Seohyun terhenti karena Sehun memotongnya, “berarti sekarang sisa memilih pemeran lainnya. Kemudian kita akan memikirkan naskah serta waktu latihannya.”

“Ta” Ucapan Seohyun terpotong lagi saat seseorang menginterupsinya, “karena Seohyun yang awalnya berperan sebagai Cinderella diganti, bagaimana jika Seohyun yang menjadi kakak tirinya?”

“Iya, memang wataknya sangat berbeda dengan Seohyun yang baik hati. Tapi, Seohyun pasti bisa memerankannya karena dia jago akting,” ucap murid lainnya.

Seohyun memasang senyuman manis, “baiklah. Aku sebenarnya tidak ingin berperan terlalu banyak dalam drama musikal. Tapi, karena kalian memintaku, maka akan kuturuti.”

Jawaban Seohyun membuat seisi ruangan berteriak gembira, kemudian mereka mulai membicarakan tentang hal-hal yang lain selama kurang lebih dua jam.

Seohyun sedang sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya dengan tampang cemas. Setelah mencari di dalam tasnya, ia mulai berkeliling kelas untuk melihat kolong meja dan lantai. Hal ini membuat beberapa temannya bingung dengan tingkah Seohyun.

“Ada apa Seo?” Tanya seorang yeoja bernama Hyoyeon.

Handphone-ku hilang,” jawab Seohyun yang mulai panik.

“Bagaimana bisa? Dimana terakhir kali kamu meletakannya?” Tanya yeoja lain bernama Sooyoung.

“Di dalam tas,” jawab Seohyun masih mencari-cari di sekitar kolom meja.

“Teman-teman, apa ada yang melihat handphone Seohyun? Casing-nya berwarna pink pastel,” ucap Hyoyeon yang membuat seisi ruangan menjadi tambah ribut.

Sudah satu menit mereka mencari handphone Seohyun, tetapi tidak menemukannya. Seohyun perlahan-lahan meneteskan air matanya, “bagaimana ini? Itu adalah hadiah dari appa.”

Murid-murid lain yang melihat Seohyun menangis merasa sangat kasihan dan tak tega, “Jangan-jangan ada yang mencurinya?” Tanya salah seorang murid.

“Iya, bisa jadi. Mari kita lakukan penggeledahan tas dan badan,” ucap Sooyoung.

Sooyoung dan Hyoyeon mulai menggeledah tas dan badan murid-murid yang ada di dalam kelas, “bukankah ini handphone Seohyun?” Tanya Hyoyeon.

Seohyun langsung menoleh ke arah Hyoyeon yang sedang memegang sebuah handphone, “Iya! Itu handphone-ku!” Ucap Seohyun girang.

Seisi kelas langsung menjadi sangat ribut mengetahui siapa pelakunya, “Im Yoona, mengapa kau mengambil handphone-nya?” Tanya Hyoyeon berani walaupun sebenarnya ia takut pada Yoona.

Yoona menatap tajam ke arah semua murid yang ada di kelas, “aku tidak pernah mengambilnya dan aku tidak tahu bagaimana handphone itu bisa berada di dalam tasku.”

“La, lalu memangnya siapa yang mau meletakkan handphone Seo di dalam tasmu?” Tanya Hyoyeon yang sedikit bergidik karena tatapan Yoona.

“Aku tidak tahu,” jawab Yoona.

“Kau sudah ketahuan mencuri, Yoona. Tidak usah mengelak lagi. Jelas-jelas handphone Seohyun ada di dalam tasmu. Aku akan melaporkan ini pada Park songsaengnim,” ucap Sooyoung mencoba untuk berani.

“Iya! Laporkan saja!”

“Ternyata dia adalah orang jahat!”

“Tadi ia sudah melukai perasaan Seohyun dan sekarang ia mau mencuri barang milik Seohyun?”

“Sungguh rendah! Apalagi ia membuat Seohyun menangis.”

Seperti itulah ucapan-ucapan para murid yang sampai ke telinga Yoona, “tidak apa-apa, jangan melaporkannya. Mungkin Yoona tidak sengaja mengambilnya,” ucap Seohyun lembut.

“Kau terlalu baik, Seohyun!” Ucap salah seorang murid.

“Iya! Jangan membelanya lagi. Aku akan melaporkannya kepada Park—” Ucapan Sooyoung dipotong oleh Sehun, “Apa kalian mempunyai bukti bahwa Yoona yang mencurinya?”

“Tentu saja. Kita baru saja menyaksikan bahwa handphone Seohyun ada di dalam tas Yoona,” tegas Hyoyeon.

“Itu jika kalian memandangnya secara subjektif, cobalah berpandangan objektif. Memangnya hanya karena handphone itu berada di dalam tas Yoona berarti Yoona yang mencurinya? Memangnya ada yang melihat Yoona mencuri handphone tersebut dan memasukannya ke dalam tas? Jika memang kalian sangat yakin, coba berikan bukti itu padaku,” ucap Sehun panjang lebar yang membuat semua murid yang semula berisik menjadi diam tanpa komentar.

“Mengapa tidak menjawab? Tidak bisa memberikan bukti? Kalau begitu mengapa kalian langsung sembarang menghakimi orang?” Tanya Sehun sedikit menaikkan suaranya.

Semua murid diam tak berani berkata-kata hingga Sooyoung membuka pembicaraan, “bagaimana kalau kita lakukan pemeriksaan sidik jari pada handphone Seohyun. Kalau terbukti ada sidik jari Yoona di dalamnya, maka Yoona yang bersalah.”

“Ide bagus,” jawab Sehun singkat.

“Ti, tidak usah. Hanya masalah kecil seperti ini tidak usah dibuat menjadi rumit,” ucap Seohyun sedikit gugup.

“Tidak apa-apa Seo, kita akan tahu siapa pelakunya dengan melaku” Ucapan Hyoyeon dipotong oleh Seohyun, “tidak apa. Aku tidak peduli dengan siapa pelakunya. Yang penting sekarang aku sudah menemukan handphone-ku,”

“Baiklah…” Ucap Hyoyeon pasrah.

“Sepertinya waktu berdiskusi sudah habis, mari kita kembali ke kelas kita masing-masing,” ucap Seohyun riang yang membuat semua orang tersenyum.

Murid-murid kelas 11-B keluar dari kelas 11-A dan kembali ke kelas mereka lagi, sedangkan murid-murid kelas 11-A masih sibuk membicarakan kejadian tadi sembari mempersiapkan pelajaran berikutnya.

“Terima kasih, Sehun,” ucap Yoona pelan.

“Sama-sama. Kau berhutang lagi padaku,” ucap Sehun sambil mengeluarkan smirk-nya.

Yoona membelalak ke arah Sehun, “apa?”

«««

TING!

Yoona yang semula fokus membaca buku sekarang teralihkan dengan suara dari handphone-nya yang menandakan ada pesan yang masuk. Dengan segera Yoona mengambil handphone-nya dan membuka pesan itu.

From  : Kris

Yoong, kudengar dari Seohyun bahwa handphonenya yang hilang ditemukan di dalam tasmu. Jadi, aku mau kau jujur, mengapa kau melakukannya?

Yoona menghela napas kasar membaca pesan dari Kris itu. Dengan malas Yoona mengetikkan balasan untuk Kris.

To    : Kris

Aku tidak pernah melakukannya.

Tidak butuh satu menit, handphone Yoona sudah berbunyi lagi dan dengan malas Yoona membuka pesan itu.

From  : Kris

Aku mau percaya padamu, Yoong. Tapi, handphone-nya ada di dalam tasmu… Itu cukup untuk membuktikan bahwa kau yang mengambilnya. Jadi, bisa kau jelaskan?

Saat ini Yoona sangat malas dan kesal, malas dengan perbuatan Seohyun yang menjelek-jelekannya dan kesal pada Kris yang dengan mudah percaya pada orang yang baru ia kenal dibandingkan dengan sahabatnya dari kecil.

To    : Kris

Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas aku sudah berkata jujur dan tidak ada yang perlu dijelaskan. Sudahlah, aku lelah. Selamat malam.

Setelah mengirimkan pesan balasan untuk Kris, Yoona mematikan handphone-nya dan kemudian melanjutkan acara membacanya.

.

.

Besok paginya, seperti biasa Yoona pergi ke atap sekolah, tetapi kali ini sedikit berbeda. Atap sekolah yang biasanya kosong kini telah ditempati oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Yoona tak suka.

Hey, mengapa seakan-akan kalau atap ini milikmu dan aku tidak boleh berada di sini,” jawab Sehun.

“Ya, kau tidak boleh ada di sini karena aku tidak suka kau di sini, karena aku benci padamu,” jawab Yoona ketus.

“Apa?” Tanya Sehun yang kaget dengan pernyataan Yoona.

“Aku… Hanya bercanda,” ucap Yoona sambil tertawa lepas dan itu membuat Sehun terdiam.

Hey,” ucap Yoona sambil melambaikan tangannya di depan wajah Sehun karena Sehun tak kunjung bergerak.

Sehun sedikit menggerakkan kepalanya tanda ia sudah sadar dari lamunannya, “kau cantik saat tertawa lepas seperti tadi.”

Yoona terdiam karena kaget untuk beberapa detik, “a, apa?”

“Lupakan,” jawab Sehun sambil tersenyum.

Yoona memandang Sehun dengan wajah penuh tanda tanya, “kau barusan mengatakan aku cantik?”

Sehun menganggukan bahunya berpura-pura tidak tahu yang membuat Yoona memanyunkan bibirnya.

Oh ya, aku mau membicarakan tentang hutang budi,” ucap Sehun.

“Apa?” Tanya Yoona penasaran.

“Aku mau tahu tentang dirimu,” jawab Sehun sambil menatap Yoona dalam.

“A, apa?” Tanya Yoona yang sedikit kaget dengan permintaan Sehun.

“Aku mau kau menceritakan segala sesuatu tentang dirimu,” jawab Sehun tanpa melepaskan tatapannya dari Yoona.

“Ta, tapi untuk apa? Itu kan tidak ada hubungannya denganmu,” jawab Yoona yang sedikit gugup.

“Ini permintaanku. Hutang budi harus dibayar kan?” Tanya Sehun sedikit memaksa.

Yoona terdiam untuk beberapa menit kemudian membuka mulutnya, “apa kau bisa menjaga rahasia?”

“Memangnya aku terlihat seperti orang yang akan membeberkan rahasia orang?” Tanya Sehun.

Yoona terdiam sebentar kemudian mengangkat jari kelingkingnya, “Apa kau janji tidak akan memberitahukannya pada siapapun?”

Sehun mengangkat jari kelingkingnya dan menautkannya pada jari kelingking Yoona, “aku janji. Jika aku melanggar… Bunuh saja aku.”

Yoona tertawa kecil mendengar ucapan Sehun, “baiklah, kita mulai dari mana?”

Sehun menatap intens Yoona, “Mari kita mulai dari penampilanmu. Aku penasaran, sebenarnya apa yang kau sembunyikan.”

Yoona menghela napas berat dan mengumpulkan keberanian untuk membuka dirinya untuk pertama kali setelah sekian lama. Entah mengapa Yoona merasa sangat nyaman ketika berasama Sehun dan Yoona begitu mudah untuk percaya pada Sehun.

“Seperti yang kau sudah ketahui, aku mengalami kelainan heterochromia iridum, mata sebelah kiriku berwarna biru sedangkan mata sebelah kananku berwarna ungu,” jelas Yoona, sedangkan Sehun masih serius mendengarkan.

“Dan, sebenarnya selama ini aku menutupi rambut asliku dengan wig. Karena rambut asliku aneh…” Lanjut Yoona.

“Aneh? Maksudmu?” Tanya Sehun tak mengerti.

“Rambut asliku… Berwarna biru,” jawab Yoona sambil menundukan kepalanya.

“Apa?” Tanya Sehun kaget.

TBC.

Haaaiii! Aku balik lagi sama chapter 4 ini! Chapter 4 ini yang paling panjang di antara chapter lainnya loh, soalnya banyak yang bilang kependekan. So, i make it longer—kuharap emang jadi lebih panjang, wkwkwk.

Aku minta maaf banget sama typo yang mengerikan di chapter 3 T.T, i’m really careless. Jadi, aku akan berusaha agar lebih teliti lagii dan malu banget pas tahu hikss T.T

Ditunggu chapter 5 nya yah! Leave comment, please! Don’t be silent reader yah… And thanks for reading this absurd fanfic! J

 

82 thoughts on “[Freelance] Multichapter : Special Girl (Chapter 4)

  1. Lama kelamaan si seohyun bikin ngeselin bnget, dan kris kok lbh percya seohyun,ktnya mencintai yoona tapi gak percya sma yoona, tp aku seneng moment yoonhun

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s